Anda di halaman 1dari 34

I.

PENDAHULUAN Polip nasi merupakan mukosa yang mengalami inamasi dan menimbulkan prolaps mukosa di dalam rongga hidung, dapat dilihat melalui pemeriksaan rinoskopi dengan atau tanpa bantuan endoskop. Polip hidung sampai saat ini masih merupakan masalah medis, selain itu juga memberikan masalah sosial karena dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya seperti di sekolah, di tempat kerja, aktifitas harian dsb. Gejala utama yang paling sering dirasakan adalah sumbatan di hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat keluhannya, hal ini dapat mengakibatkan hiposmia sampai anosmia. Bila menyumbat ostium sinus paranasalis mengakibatkan terjadinya sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan hidung berair (Mangunkusumo, 2003). Prevalensi polip hidung dilaporkan 1-2%pada orang dewasa di Eropa (Hosemann dkk,1994) dan 4,3% di Finlandia (Hedman dkk 1999). Dengan perbandingan pria dan wanita 2-4:1 (Drake Lee ,1987). Jarang ditemukan pada anak-anak. Biasanya polip hidung ditemukan pada umur setelah 20 tahun. Di Indonesia studi epidemiologi menunjukkan bahwa perbandingan pria dan wanita 2-3 : 1 dengan prevalensi 0,2%-4,3% (Vento, 2001).

II. LAPORAN KASUS

Identitas pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Pekerjaan Agama Anamnesa Keluhan utama : Hidung sebelah kiri tersumbat sejak 2 bulan yang lalu. Riwayat penyakit sekarang Pasien datang dengan keluhan hidung sebelah kiri terasa tersumbat. Keluhan ini sudah dirasakan pasien semenjak 2 tahun yang lalu dan dirasakan tidak hilang timbul, namun keluhan ini dirasakan makin memberat sejak 2 bulan terakhir. Keluhan ini disertai bersin yang berulang pada pagi hari serta hidung gatal dan mata berair juga dikeluhkan pasien, terutama jika pasien sehabis menyapu atau membersihkan rumah. Pasien mengaku bahwa sering keluar cairan berwarna bening dari hidungnya, terutama dari hidung sebelah kiri. Semenjak keluhan dirasakan memberat, pasien mengeluh indera penciumannya dirasakan menurun pada hidung sebelah kiri, namun pada hidung sebelah kanan masih dirasakan normal. Pasien tidak mengeluh adanya mimisan dan juga tidak ada rasa nyeri di muka. Pasien tidak mencari pengobatan untuk keluhannya ini sampai dirasakan kesulitan untuk bernafas melalui hidung dan pasien mengaku harus bernafas melalui mulut, akhirnya pasien berobat ke RSAY. : Ny. D : 68 tahun : Perempuan : Rumbia : Petani : Islam

Riwayat Penyakit Dahulu Pasien menyangkal pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumnya. Pasien mengaku sering mengalami batuk pilek yang berulang semenjak beberapa tahun terakhir. Pasien menyangkal pernah mengalami trauma yang mengenai wajahnya. Riwayat penyakit darah tinggi dan kencing manis disangkal oleh pasien. Riwayat Penyakit Keluarga Keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan serupa. Tidak ada riwayat penyakit keganasan pada anggota keluarga. Riwayat alergi Pasien mengaku mempunyai alergi makanan terhadap ikan laut dan alergi terhadap debu serta cuaca dingin, namun pasien menyangkal mempunyai alergi terhadap obat-obat tertentu. Pemeriksaan Fisik Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Suhu Pemeriksaan Sistemik Kepala Mata Leher Paru Inspeksi Palpasi : simetris kiri, kanan statis dan dinamis. : fremitus kiri = kanan.
3

: Tampak sakit sedang : Composmentis : 110/80 mmHg : 81 x/menit : 20 x/menit : 37,2 0C

: tidak ada kelainan . : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, tidak ada : tidak ditemukan pembesaran KGB.

gangguan penglihatan, tidak ada proptosis, tidak ada lakrimasi

Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Extremitas Status Lokalis THT Telinga Pemeriksaan Daun telinga

: sonor kiri = kanan. : suara nafas vesikuler normal, rhonki -/-, wheezing -/-. : iktus tidak terlihat . : iktus teraba 2 jari medial LMCS RIC V. : batas jantung normal. : bunyi jantung murni, bising ().

: datar. : hepar dan lien tidak teraba. : tympani. : bising usus + normal. : edem -/-.

Kelainan Kel kongenital Trauma Radang Kel. Metabolik Nyeri tarik Nyeri tekan tragus Cukup lapang (N) liang Hiperemis Edema Massa Ada / Tidak Bau Warna Jumlah Jenis

Dekstra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Cukup lapang (N) Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Sinistra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Cukup lapang(N) Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Dinding telinga

Sekret/serumen

Membran timpani Warna Reflek cahaya Bulging Retraksi Atrofi Jumlah perforasi Jenis Kwadran Pinggir Tanda radang Fistel Sikatrik Nyeri tekan Nyeri ketok Rinne Schwabach Weber Kesimpulan Audiometri Hidung Pemeriksaan Kelainan Deformitas Kelainan kongenital Trauma Radang Massa Dektra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Putih mengkilat (+) arah jam 5 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada (+) Sama dengan Putih mengkilat (+) arah jam 7 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada (+) Sama dengan

Utuh

Perforasi

Mastoid

Tes garpu tala

pemeriksa pemeriksa Tidak ada lateralisasi Normal Normal Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Hidung luar

Sinus paranasal Pemeriksaan Nyeri tekan Nyeri ketok Rinoskopi Anterior Pemeriksaan Vestibulum Kelainan Vibrise Radang Cukup lapang (N) Sempit Dekstra Ada Tidak ada + Sinistra Ada Tidak ada + Dekstra Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada

Cavum nasi

Lapang Jenis Jumlah Bau Ukuran Warna Permukaan Edema Ukuran Warna Permukaan Edema Cukup lurus/deviasi Permukaan Warna Spina Krista Abses Perforasi Lokasi

Serous Sedang Tidak ada Eutrofi Merah muda Rata Tidak ada Tidak bisa dinilai Merah muda Rata Tidak ada Cukup lurus Rata, licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Meatus medius, belum menutupi cavum nasi Bulat lonjong Tidak bisa dinilai, tetapi lebih kecil dari yang kiri

Serous Banyak Tidak ada Tidak bisa dinilai Merah muda Rata Tidak ada Tidak bisa dinilai Merah muda Rata Tidak ada Cukup lurus Rata, licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Hampir menutupi seluruh cavum nasi Bulat lonjong tidak bisa dinilai, hampir menutupi seluruh cavum nasi Licin, rata Putih keabu-

Sekret Konka inferior

Konka media

Septum

Massa

Bentuk Ukuran

Permukaan Warna Konsistensi

Licin, rata Putih keabu-abuan Lunak, rapuh,

abuan tidak Lunak, tidak tidak rapuh, tidak mudah berdarah (+) Tidak ada

Mudah digoyang Pengaruh vasokonstriktor


Konka inferior

mudah berdarah (+) Tidak ada

Konka superior Septum nasi Polip nasi

Nares Anterior

Rinoskopi Posterior : sukar dinilai Pemeriksaan Koana Kelainan Cukup lapang (N) Sempit Lapang Warna Edem Jaringan granulasi Dekstra Sinistra -

Mukosa

Konka inferior Adenoid Muara tuba eustachius

Ukuran Warna Permukaan Edem Ada/tidak Tertutup sekret Edem mukosa Lokasi Ukuran Bentuk Permukaan Ada/tidak Jenis

Massa Post Nasal Drip

Orofaring dan mulut Pemeriksaan Palatum mole + Arkus Faring Dinding faring Kelainan Simetris/tidak Warna Edema Bercak/eksudat Warna Permukaan Ukuran Warna Permukaan Muara kripti Detritus Eksudat Perlengketan dengan pilar Warna Edema Abses Lokasi Bentuk Ukuran Permukaan Konsistensi Warna Bentuk Deviasi Massa Dekstra Simetris Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin T1 Merah muda Rata Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Merah muda Normal Tidak ada Tidak ada Sinistra Simetris Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin T1 Merah muda Rata Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Merah muda Normal Tidak ada Tidak ada

Tonsil

Peritonsil

Tumor

Lidah

Pemeriksaan Kelenjar getah bening leher : tidak ada pembesaran KGB Inspeksi Palpasi Diagnosis : Tidak terlihat adanya pembesaran kelenjar getah bening. : Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar getah bening. : Polip nasal dupleks e.c susp Rhinitis alergika Inverted papiloma Konkha polipoid Tumor ganas cavum nasi

Diagnosa Banding :

Pemeriksaan Anjuran :
Foto polos sinus paranasal dengan posisi waters serta PA dan lateral untuk melihat adanya polip dan air fluid level jika benar gejala sakit pada kepala dan pipi oleh karena sinusitis. Naso-endoskopi, untuk melihat letak dari polipnasi. Transluminasi, untuk melihat adanya sinusitis Pemeriksaan Alergi Biopsy untuk pemeriksaan PA

Terapi : 1. Antibiotik Amoksisilin (oral): 500 mg 3 x 1, selama 5 hari dihabiskan. Glukokortikoid Deksametason (oral) : 0,5 mg 2 x 1 selama 3 hari. Dekongestan Pseudoefedrin (oral) 60 mg 3 x 1 selama 3 hari, pengunaan dihentikan jikagejala hidung tersumbat sudah menghilang. 2. Pembedahan Polipektomi nasal, untuk menghilangkan polip yang menutup jalan nafas dan drainase mukus dari sinus paranasal. 3. Edukasi Untuk menghabiskan Antibiotik dan tepat waktu dalam konsumsi obat. Menghindari faktor pencetus alergi untuk menghindari kekambuhan Prognosis :

Farmakologi

Non Farmakologi

Quo ad vitam Quo ad fungtionam Quo ad sanationam

: ad bonam : ad bonam : dubia ad bonam

Resume Anamnesa: Pasien datang dengan keluhan hidung sebelah kiri terasa tersumbat. Keluhan ini sudah dirasakan pasien semenjak 2 tahun yang lalu dan dirasakan tidak hilang timbul, namun keluhan ini dirasakan makin memberat sejak 2 bulan terakhir. Keluhan ini disertai bersin yang berulang pada pagi hari serta hidung gatal dan mata berair juga dikeluhkan pasien, terutama jika pasien sehabis menyapu atau membersihkan rumah. Pasien mengaku bahwa sering keluar cairan berwarna bening dari hidungnya, terutama dari hidung sebelah kiri. Semenjak keluhan dirasakan memberat, pasien mengeluh indera penciumannya dirasakan menurun pada hidung sebelah kiri, namun pada hidung sebelah kanan masih dirasakan normal. Pasien tidak mengeluh adanya mimisan dan juga tidak ada rasa nyeri di muka. Pasien tidak mencari pengobatan untuk keluhannya ini sampai dirasakan kesulitan untuk bernafas melalui hidung dan pasien mengaku harus bernafas melalui mulut, akhirnya pasien berobat ke RSAY. Pemeriksaan Fisik: Status Generalis Status THT Telinga Daun Telinga Liang Telinga Belakang Telinga Membran Timpani Tes Pendengaran Hidung Hidung Bagian Luar : dalam batas normal
10

: Dalam Batas Normal

: dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal : dalam batas normal

Pemeriksaan Rhinoskopi Anterior Pemeriksaan Vestibulum

: Dekstra Ada Tidak ada + Serous Sedang Tidak ada Eutrofi Merah muda Rata Tidak ada Tidak bisa dinilai Merah muda Rata Tidak ada Cukup lurus Rata, licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Meatus medius, belum menutupi cavum nasi Bulat lonjong Tidak bisa dinilai, tetapi lebih kecil dari yang kiri Sinistra Ada Tidak ada + Serous Banyak Tidak ada Tidak bisa dinilai Merah muda Rata Tidak ada Tidak bisa dinilai Merah muda Rata Tidak ada Cukup lurus Rata, licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Hampir menutupi seluruh cavum nasi Bulat lonjong tidak bisa dinilai, hampir menutupi seluruh cavum nasi Licin, rata Putih keabu-

Cavum nasi

Kelainan Vibrise Radang Cukup lapang (N) Sempit Lapang Jenis Jumlah Bau Ukuran Warna Permukaan Edema Ukuran Warna Permukaan Edema Cukup lurus/deviasi Permukaan Warna Spina Krista Abses Perforasi Lokasi

Sekret Konka inferior

Konka media

Septum

Massa

Bentuk Ukuran

Permukaan Warna Konsistensi

Licin, rata Putih keabu-abuan Lunak, rapuh,

abuan tidak Lunak, tidak tidak rapuh, tidak mudah berdarah


11

mudah berdarah

Mudah digoyang Pengaruh vasokonstriktor

(+) Tidak ada

(+) Tidak ada

Konka superior Septum nasi Konka inferior Polip nasi

Nares Anterior

Pemeriksaan Sinus Paranasal Pemeriksaan Rhinoskopi Posterior Tenggorokan Uvula Mukosa Tonsil : Dalam batas normal : Dalam batas normal : Dalam batas normal

: dalam batas normal : tidak dilakukan

Leher Inspeksi Palpasi Diagnosis : Tidak terlihat adanya pembesaran kelenjar getah bening. : Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar getah bening. : Polip nasal dupleks e.c susp Rhinitis alergika Inverted papiloma Konkha polipoid Tumor / keganasan cavum nasi

Diagnosa Banding :

12

Pemeriksaan Anjuran :
Foto polos sinus paranasal dengan posisi waters serta PA dan lateral untuk melihat adanya polip dan air fluid level jika benar gejala sakit pada kepala dan pipi oleh karena sinusitis. Naso-endoskopi, untuk melihat letak dari polipnasi. Transluminasi, untuk melihat adanya sinusitis Pemeriksaan alergi

-Biopsi jaringan untuk dilakukan pemeriksaan PA untuk menyingkirkan keganasan.

Terapi : 1. Farmakologi Glukokortikoid Deksametason (oral) : 0,5 mg 2 x 1 selama 3 hari. Dekongestan Pseudoefedrin (oral) 60 mg 3 x 1 selama 3 hari, pengunaan dihentikan jika gejala hidung tersumbat sudah menghilang. Antibiotik Amoksisilin (oral): 500 mg 3 x 1, selama 5 hari dihabiskan. 2. Pembedahan

Polipektomi nasal, untuk menghilangkan polip yang menutup jalan nafas dan drainase mukus dari sinus paranasal.

3.

Non Farmakologi

Edukasi pengunaan obat Untuk menghabiskan Antibiotik dan tepat waktu dalam konsumsi obat.

Prognosis :

Quo ad vitam

: ad bonam
13

Quo ad fungtionam Quo ad sanationam

: ad bonam : dubia ad bonam

PEMBAHASAN KASUS Polip nasi merupakan mukosa yang mengalami inamasi dan menimbulkan prolaps mukosa di dalam rongga hidung, dapat dilihat melalui pemeriksaan rinoskopi dengan atau tanpa bantuan endoskop. Gejala utama yang paling sering dirasakan adalah sumbatan di hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat keluhannya, hal ini dapat mengakibatkan hiposmia sampai anosmia. Jarang ditemukan pada anak-anak. Biasanya polip hidung ditemukan pada umur setelah 20 tahun. Di Indonesia studi epidemiologi menunjukkan bahwa perbandingan pria dan wanita 2-3 : 1 dengan prevalensi 0,2%-4,3% (Vento, 2001).

Menurut Nizar (2007), penegakan diagnosis polip nasi dapat melalui beberapa tahap, seperti : 1. Anamnesis Keluhan utama penderita polip nasi adalah hidung rasa tersumbat dari yang ringan sampai yang berat, rinore dari yang jernih sampai purulen, hipoosmia atau anosmia. Mungkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri dihidung disertai sakit kepala didaerah frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin didapati post nasal drip dan rinore purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul adalah bernafas melalui mulut, suara sengau, halitosis, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup. Dapat menyebabkan gejala pada saluran napas bawah, berupa batuk kronik dan mengi, terutama pada penderita polip nasi dengan asma. Selain itu harus ditanyakan riwayat rhinitis alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan alergi obat lainya serta alergi makanan.
14

Dari hasil anamnesis yang dilakukan terhadap pasien ini, didapatkan beberapa gejala klinik dan data yang menunjang ke arah polip nasi, seperti :

hidung tersumbat sejak 2 tahun yang lalu dan dirasakan tidak hilang timbul, namun keluhan ini dirasakan makin memberat sejak 2 bulan terakhir.

bersin yang berulang pada pagi hari serta hidung gatal dan mata berair juga dikeluhkan pasien, terutama jika pasien sehabis menyapu atau membersihkan rumah.

sering keluar cairan berwarna bening dari hidungnya. indera penciumannya dirasakan menurun pasien kesulitan untuk bernafas melalui hidung dan pasien mengaku harus bernafas melalui mulut Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien mengaku sering mengalami batuk pilek yang berulang semenjak beberapa tahun terakhir. Pasien menyangkal pernah mengalami trauma yang mengenai wajahnya.

Riwayat alergi: Pasien mengaku mempunyai alergi makanan terhadap ikan laut dan alergi terhadap debu serta cuaca dingin.

2. Pemeriksaan fisik Polip nasi yang massif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung tampak mekar karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan. Pembagian stadium polip menurut Valerie (2008)
15

a. Stadium 1: polip masih terbatas dimeatus medius b. Stadium 2: polip sudah keluar dari meatus medius, tampak dirongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung c. Stadium 3: polip yang massif

Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien ini, didapatkan hasil bahwa tidak terdapat deviasi hidung dari pemeriksaan hidung luar, namun pada pemeriksaan rhinoskopi anterior didapatkan massa pada kedua cavum nasi yang berwarna putih keabu-abuan dengan konsistensi lunak dan permukaan licin dan rata, massa tersebut mudah digerakan dan tidak mudah berdarah dan pada pemberian zat vasokonstriktor topikal seperti adrenalin, massa tersebut tidak mengecil ukurannya. Terlihat banyak sekret yang keluar dari cavum nasi. Jika dilihat dari stadiumnya, polip pada cavum nasi sinistra berada pada stadium 3 karena sudah menyumbat total cavum nasi sinistra dan pada cavum nasi dekstra polip berada pada stadium 2 karena sudah keluar dari meatus medius namum belum menyumbat secara total cavum nasi dekstra. 3. Naso-endoskopi Adanya fasilitas endoskop akan sangat membantu diagnosis kasus polip yang baru. Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi. Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila. Namun pada kasus ini tidak dilakukan pemeriksaan ini karena polip nasi sudah dapat terlihat pada pemeriksaan rhinoskopi anterior.

16

Berdasarkan anamnsesis serta pemeriksaan fisik sudah dapat ditegakkan diagnosa pada pasien ini adalah polip nasi duplek, walaupun diagnosis pasti hanya dapat ditegakan berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi dan juga untuk menyingkirkan kemungkinan keganasan yang timbul pada benjolan cavum nasi tersebut. Pemeriksaan radiologi di anjurkan untuk memastikan penyebab dari terjadinya polip nasi tersebut apakah dari penyakit sinusitis atau bukan. Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhankeluhan, mencegah komplikasi dan mencegah rekurensi polip. Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi medikamentosa. Dapat diberikan topical atau sistemik. Pada pasien ini diberikan glukokortikoid Deksametason (oral) : 0,5 mg 2 x 1 selama 3 hari. Kortikosteroid oral adalah pengbatan paling efektif untuk pengobatan jangka pendek dari polip nasi, dan kortikosteroid oral memiliki efektivitas paling baik dalam mengurangi inflamasi polip (Valerie, 2008). Kemudian di berikan dekongestan seperti Pseudoefedrin (oral) 60 mg 3 x 1 selama 3 hari, pengunaan dihentikan jika gejala hidung tersumbat sudah menghilang. Dan untuk mengantisipasi jika penyebab polip tersebut adalah infeksi dan mencegah terjadi inya infeksi sekunder maka diberikan antibiotic Amoksisilin (oral): 500 mg 3 x 1, selama 5 hari dihabiskan. Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat massif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi) menggunakan senar polip atau cunam dengan analgesi local, etmoidektomi intra nasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid, operasi Caldwell_Luc untuk sinus maksila (Bechara, 2008)

TINJAUAN PUSTAKA

17

1. Anatomi Hidung

Gambar 1. Anatomi Hidung ( Punagi, 2005) A. Hidung Luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke bawah : 1. Pangkal hidung (bridge) 2. Dorsum nasi 3. Puncak hidung 4. Ala nasi 5. Kolumela 6. Lubang hidung (nares anterior) Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi (Snell, 1997) Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh : Superior : os frontal, os nasal, os maksila - Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayorb dan kartilago alaris minor

18

Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel. (Snell, 1997) B. Kavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Batas batas kavum nasi : Posterior : berhubungan dengan nasofaring Atap : os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus sfenoidale dan sebagian os vomer Lantai : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal, bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum. Medial : septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela. Lateral : dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid (Snell, 1997). C. Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring.
19

Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat obatan. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan (Mangunkusumo, 2007). D. Sinus Paranasal Polip nasi sering dihubungkan dengan sinusitis. Sinus paranasal ada empat buah yaitu sinus maksila, sinus etmoid, sinus frontal, dan sinus sphenoid. 1. Sinus maksila terdapat dilateral hidung, dasar sinus maksila adalah processus alveolaris gigi, atap sinus maksila berhubungan dengan dasar orbita. Pstium sinus maksila berhubungan dengan meatus media. 2. Sinus etmoid seperti sarang tawon (honeycomb). Dibagi menjadi dua bagian anterior dan posterior. Terletak antara dinding lateral hidung dan dinding medial orbita (lamina papirasea). Atap sinus etmoid berhubungan dengan sinus frontal dan fossa kranii anterior. Di inferolateral sinus etmoid berhubungan dengan sinus maksila. Sinus etmoid posterior berhubungan dengan sinus sphenoid. 3. Sinus frontal terletak pada tulang frontal. Dinding posterior sinus frontal membentuk dinding anrerir fosa kranii. Di inferior sinus ini berbatasan dengan orbita dan sinus etmoid. Drainase sinus ini melalui duktus nasofrontal langsung ke hidung atau melalui infundibulum etmoid. 4. Sinus sphenoid terletak di garis tengah. Dibagi dua oleh septum. Di superior berbatasan dengan hipofisa, lobus frontal dan sinus kavernosus. Di posterior terletak pons cerebri dan arteri basilaris, di inferior terletak nasofaring. Arteri karotis terletak di lateral sinus ini (Mangunkusumo, 2007).
20

Gambar 2 : Anatomi sinus (Zulfadli, 2007) 2. Polip Nasi Polip nasi merupakan kelainan mukosa hidung berupa massa lunak yang bertangkai, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabuan, dengan permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Polip nasi bukan merupakan penyakit tersendiri tapi merupakan manifestasi klinik dari berbagai macam penyakit dan sering dihubungkan dengan sinusitis, rhinitis alergi, fibrosis kistik dan asma (Nizar, 2007) Berdasarkan jenis sel peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2 : 1. Polip eusinofilik Polip jenis ini biasanya disebabkan proses hipersensitivitas atau alergi. 2. Polip neutrofilik Polip jenis ini biasanya disebabkan oleh proses inflamasi non-alergi. (Punagi, 2005).

Epidemiologi

21

Polip nasi ditemukan 1-4 % dari populasi, 36 % penderita dengan intoleransi aspirin, 20% pada penderita fibrosis kistik, 7% pada penderita asma. Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma non alergi (13%) dibanding penderita asma alergi (5%). Polip nasi terutama ditemukan pada usia dewasa, hanya kurang lebih 0.1% ditemukan pada anak-anak, lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding dengan wanita dengan rasio 2:1 atau 3:1 dan dapat ditemukan pada seluruh kelompok ras dan kelas ekonomi. Angka mortalitas polip nasi tidaklah signifikan, namun polip nasi dihubungkan dengan turunnya kualitas hidup seseorang. Polip multipel yang jinak biasanya timbul setelah usia 20 tahun dan lebih sering pada usia diatas 40 tahun. Polip nasi jarang ditemukan pada anak usia dibawah 10 tahun (Valerie, 2008) Etiologi dan Faktor Resiko Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai etiologi polip nasi, terdapat sejumlah hipotesis mengenai asal dari polip nasi eosinofilik dan neutrofilik yang berkisar dari predisposisi genetik, variasi anatomi, infeksi kronis, alergi inhalan, alergi makanan, sampai ketidakseimbangan vasomotor. Namun saat ini yang banyak digunakan, yaitu : teori infeksi dan teori inflamasi (Nizar, 2005) Etiologi yang pasti belum diketahui tetapi ada 3 faktor penting pada terjadinya polip menurut Blumenthal (1997), yaitu : 1. Adanya peradangan kronik yang berulang pada mukosa hidung dan sinus. Infeksi: infeksi berulang pada sinus predisposisi pada mukosa menjadi perubahan polipoid. Alergi : alergi telah di implikasikan sebagai penyebab, sejak sekresi hidung mengandung eosinofil dan pasien mempunyai gejala alergi, sering dikaitkan dengan asma dan atopi. 2. Adanya gangguan keseimbangan vasomotor. Gangguan keseimbangan otonomik di duga mungkin sebagai penyebab pada individu non atopi.

22

Juga di kaitkan dengan mediator inflamasi, faktor anatomi lokal, dan tumor. Predisposisi genetik diketahui sebagai penyebab polipoid pada fibrosis kistik. 3. Adanya peningkatan tekanan cairan interstitial dan edema mukosa hidung. Fenomena Bernoulli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui tempat yang sempit akan mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya. Jaringan yang lemah akan terhisap oleh tekanan negatif ini sehingga mengakibatkan edema mukosa dan pembentukan polip. Fenomena ini menjelaskan mengapa polip kebanyakan berasal dari daerah yang sempit di kompleks ostiomeatal (KOM) di meatus medius. Walaupun demikian polip juga dapat timbul dari tiap bagian mukosa hidung atau sinus paranasal dan seringkali bilateral dan multipel. Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip menurut Ernest (2009) antara lain : . 1. Alergi terutama rinitis alergi. 2. Sinusitis kronik. 3. Iritasi. 4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka. Patofisologi Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh

23

darah. Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang pada anak anak. Pada anak anak, polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis. Banyak faktor yang mempengaruhi pementukan polip nasi. Kerusakan epitel merupakan patogenesa dari polip. Sel-sel epitel teraktivasi oleh alergen, polutan dan agen infeksius. Sel melepaskan berbagai faktor yang berperan dalam reson inflamasi dan perbaikan. Epitel polip menunjukan hiperplasia sel goblet dan hipersekresi mukus yang berperan dalam obstruksi hidung dan rinorea (Nizar, 2007) Polip dapat timbul pada hidung yang tidak terinfeksi kemudian menyebabkan sumbatan yang mengakibatkan sinusitis, tetapi polip dapat juga timbul akibat iritasi kronis yang disebabkan oleh infeksi hidung dan sinus. Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama dan berulang. Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu yang lama, vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip. Biasanya terjadi di sinus maksila, kemudian sinus etmoid. Bila proses ini berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian tururn kedalam rongga hidung sambil membentuk tangkai yang akan turun ke kavum nasi kebanyakan terjadi di daerah meatus medius. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam kavum nasi, polip akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media (Nizar, 2007) Gejala Klinis Pasien dengan polip yang masif biasanya mengalami sumbatan hidung yang meningkat, hiposmia sampai anosmia, perubahan pengecapan, dan drainase post nasal persisten. Sakit kepala dan nyeri pada muka jarang ditemukan dan
24

biasanya pada daerah periorbita dan sinus maksila. Pasien polip dengan sumbatan total rongga hidung atau polip tunggal yang besar memperlihatkan gejala sleep apnea obstruktif dan pernafasan lewat mulut yang kronik. Pasien dengan polip soliter seringkali hanya memperlihatkan gejala obstruktif hidung yang dapat berubah dengann perubahan posisi. Walaupun satu atau lebih polip yang muncul, pasien mungkin memperlihatkan gejala akut, rekuren, atau rinosinusitis bila polip menyumbat ostium sinus. Beberapa polip dapat timbul berdekatan dengan muara sinus, sehingga aliran udara tidak terganggu, tetapi mukus bisa terperangkap dalam sinus. Dalam hal ini dapat timbul perasaan penuh di kepala, penurunan penciuman, dan mungkin sakit kepala. Mukus yang terperangkap tadi cenderung terinfeksi, sehingga menimbulkan nyeri, demam, dan mungkin perdarahan pada hidung (Vallerie, 2008) Manifestasi polip nasi tergantung pada ukuran polip. Polip yang kecil mungkin tidak menimbulkan gejala dan mungkin teridentifikasi sewaktu pemeriksaan rutin. Polip yang terletak posterior biasanya tidak teridenfikasi pada waktu pemeriksaan rutin rinoskopi posterior. Polip yang kecil pada daerah dimana polip biasanya tumbuh dapat menimbulkan gejala dan menghambat aliran saluran sinus, menyebabkan gejala-gejala sinusitis akut atau rekuren (Bechara, 2008) Gejala Subjektif: v Hidung terasa tersumbat v Hiposmia atau Anosmia (gangguan penciuman) v Nyeri kepala v Rhinore v Bersin v Iritasi di hidung (terasa gatal) v Post nasal drip
25

v Nyeri muka v Suara bindeng v Telinga terasa penuh v Mendengkur v Gangguan tidur v Penurunan kualitas hidup Gejala Objektif: v Oedema mukosa hidung v Submukosa hipertropi dan tampak sembab v Terlihat masa lunak yang berwarna putih atau kebiruan v Bertangkai Diagnosis Menurut Nizar (2007), penegakan diagnosis polip nasi dapat melalui beberapa tahap, seperti: Anamnesa Pada anamnesa kasus polip, keluahan utama biasanya ialah: 1. 2. 3. 4. Hidung tersumbat dari yang ringan sampai berat. Sumbatan ini Rinore mulai dari yang jernih sampai purulen Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan Hiposmia atau anosmia menetap, tidak hilang dan semakin lama semakin berat.

sukar membuang ingus. Mungkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai sakit kepala di daerah frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin di dapati post nasal drip dan rinore purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul adalah bernafas melalui

26

mulut, halitosis, nyeri muka, suara nasal (bindeng), telinga terasa penuh, mendengkur, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup. Selain itu juga harus di tanyakan riwayat rhinitis alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan alergi obat serta makanan. Pemeriksaan Fisik 1. Inspeksi Polip yang masif sering sudah menyebabkan deformitas hidung luar. Dapat dijumpai pelebaran kavum nasi terutama polip yang berasal dari sel-sel etmoid. 2. Rinoskopi Anterior Memperlihatkan massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius yang mudah digerakkan. Deformitas septum membuat pemeriksaan menjadi lebih sulit. Tampak sekret mukus dan polip multipel atau soliter. Polip kadang perlu dibedakan dengan konka nasi inferior, yakni dengan cara memasukan kapas yang dibasahi dengan larutan efedrin 1% (vasokonstriktor), konka nasi yang berisi banyak pembuluh darah akan mengecil, sedangkan polip tidak mengecil. Polip dapat diobservasi berasal dari daerah sinus etmoidalis, ostium sinus maksilaris atau dari septum. 3. Rinoskopi Posterior Kadang-kadang dapat dijumpai polip koanal. Sekret mukopurulen ada kalanya berasal dari daerah etmoid atau rongga hidung bagian superior, yang menandakan adanya rinosinusitis. 4. Nasoendoskopi Adanya fasilitas nasoendoskopi akan sangat membantu diagnosis kasus baru. Polip stadium awal tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi. Pada kasus polip koanal juga sering dapat terlihat tangkai polip yang berasal dari ostium assesorius sinus maksila. 5. Pemeriksaan Radiologi
27

Foto polos sinus paranasal ( posisi waters, lateral, Caldwell dan AP) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara cairan di dalam sinus, tetapi sebenarnya kurang bermanfaat pada kasus polip nasi karena dapat memberikan kesan positif palsu atau negative palsu dan tidak dapat memberikan informasi mengenai keadaan dinding lateral hidung dan variasi anatomis di daerah kompleks osteomeatal. Pemeriksaan tomografi computer sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks osteomeatal. Terutama pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi. Biasanya untuk tujuan penapisan dipakai potongan koronal, sedangkan polip yang rekuren juga dipeerlikan potongan aksial. 6. Tes alergi Evaluasi alergi sebaiknya dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat alergi lingkungan atau riwayat alergi pada keluarganya. 7. Laboratorium Untuk membedakan sinusitis alergi atau non alergi. Pada sunisitis alergi ditemukan eosinofil pada swab hidung, sedang pada non alergi ditemukannya neutrofil yang menandakan adanya sinusitis kronis. Stadium Polip Nasal Pembagian stadium polip menurut Vallerie (2008) : Stadium 1 : polip masih terbatas di meatus medius Stadium 2 : polip sudah keluar dari meatus medius tapi belum memenuhi rongga hidung Stadium 3 : polip yang masif

28

Diagnosis Banding Polip didiagnosisbandingkan dengan konka polipoid, yang ciri cirinya sebagai berikut : Tidak bertangkai Sukar digerakkan Nyeri bila ditekan dengan pinset Mudah berdarah Dapat mengecil pada pemakaian

vasokonstriktor (kapas adrenalin). Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan konka polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik, maningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya (Mc Clay, 2007) Penatalaksanaan Karena etiologi yang mendasari pada polip nasi adalah reaksi inflamasi, maka penatalaksanaan medis ditujukan untuk pengobatan yang tidak spesifik. Pada terapi medikamentosa dapat diberikan kortikosteroid. Kortikosteroid dapat diberikan secara sistemik ataupun intranasal (Bechara, 2008) Pemberian kortikosteroid sistemik diberikan dengan dosis tinggi dalam waktu yang singkat, dan pemberiannya perlu memperhatikan efek samping dan kontraindikasi. Kortikosteroid oral adalah pengbatan paling efektif untuk pengobatan jangka pendek dari polip nasi, dan kortikosteroid oral memiliki efektivitas paling baik dalam mengurangi inflamasi polip. Kortikosteroid juga dapat diberikan secara intranasal dalam bentuk spray steroid, yang dapat mengurangi atau menurunkan pertumbuhan polip nasi yang kecil, tetapi secara relatif tidak efektis untuk polip yang masif. Steroid intranasal paling efektif pada periode post operatif untuk mencegah atau megurangi relaps (Valerie, 2008).

29

Pengobatan juga dapat ditujukan untuk mengurangi reaksi alergi pada polip yang dihubungkan dengan rhinitis alergi. Pada penderita dapat diberikan antihistamin oral untuk mengurangi reaksi inflamasi yang terjadi. Bila telah terjadi infeksi yang ditandai dengan adanya sekret yang mukopurulen maka dapat diberikan antibiotic (Ernest, 2009) Pengobatan medis polip nasal menurut Valerie (2008) sebagai berikut :

Steroid oral dan topikal di berikan pada pengobatan pertama pada nasal polip. Antihistamin, dekongestan dan sodium cromolyn memberikan sedikit keuntungan. Imunoterapi mungkin dapat berguna untuk pengobatan rhinitis alergi, tapi bila di gunakan sendirian, ak dapat berguna pada polip yang telah ada, pemberian antibiotik bila terjadi superimposed infeksi bakteri.

Kortikosteroid adalah pengobatan pilihan, baik secara topikal maupun sistemik. Injeksi langsung pada polip menunjukkan berkurangnya pertumbuhan polip dan berkurangnya gejala pada hidung dibandingkan dengan pengobatan intranasal. Injeksi steroid intrapolip ini merupakan pengobatan alternatif yang aman pada pasien tertentu tapi masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Tapi tindakan ini kemudian tidak dibenarkan oleh Food and Drug Administration karena dilaporkan terdapat 3 pasien dengan kehilangan penglihatan unilateral setelah injeksi intranasal langsung dengan kenalog.Hindari injeksi langsung ke dalam pembuluh darah. Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi medikamentosa.Untuk polip stadium 1 dan 2, sebaiknya diberikan kortikosteroid intranasal selama 4-6 minggu. Bila reaksinya baik, pengobatan ini diteruskan sampai polip atau gejalanya hilang. Bila reaksinya terbatas atau tidak ada perbaikan maka diberikan juga kortikosteroid sistemik. Perlu diperhatikan bahwa kortikosteroid intranasal mungkin harganya mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian pasien, sehingga dalam keadaan demikian langsung diberikan kortikosteroid oral. Dosis kortikosteroid saat ini belum ada ketentuan yang baku, pemberian masih secara empirik misalnya diberikan Prednison 30 mg per hari selama
30

seminggu dilanjutkan dengan 15 mg per hari selama seminggu. Menurut van Camp dan Clement dikutip dari Mygind dan, Lidholdt untuk polip dapat diberikan prednisolon dengan dosis total 570 mg yang dibagi dalam beberapa dosis, yaitu 60 mg/hari selama 4 hari, kemudian dilakukan tapering off 5 mg per hari. Menurut Naclerio. pemberian kortikosteroid tidak boleh lebih dari 4 kali dalam setahun. Pemberian suntikan kortikosteroid intrapolip sekarang tidak dianjurkan lagi mengingat bahayanya dapat menyebabkan kebutaan akibat emboli. Kalau ada tandatanda infeksi harus diberikan juga antibiotik. Pemberian antibiotik pada kasus polip dengan sinusitis sekurang-kurangnya selama 10-14 hari.

Respon dengan kortikosteroid tergambar dari ada atau tidaknya

eosinofilia, jadi pasien dengan polip dan rhinitis alergi atau asma seharusnya respon dengan pengobatam ini. Pasien dengan polip yang sedikit eosinofil mungkin tidak respon terhadap steroids. Penggunaan steroid oral jangka panjang tidak direkomendasikan karena efek sampingnya yang merugikan (seperti gangguan pertumbuhan, Diabetes Melitus, hipertensi, gangguan psikis, gangguan pencernaan, katarak, glukoma, osteoporosis)

Banyak penulis menganjurkan pemberian steroid topikal untuk

polip nasal, sebagai pengobatan primer atau pengobatan lanjutan mengikuti pemberian per oral, atau bedah. Banyak steroid nasal (seperti ; flucitason, beclomethasone, budesonide) efektik untuk menurunkan gejala subjektif, dan meningkatkan aliran udara di hidung ketika dipastikan secara objektif. Beberapa penelitian mengindikasikan mempunyai onset yang lebih cepat dan mungkin sedikit lebih baik dari beclomethasone.

Inhibitor Leukotrien : Leukotrien dibentuk selama pemecahan

asam arachidonat oleh enzim 5-lipoxigenase. Mereka merupakan mediator inflamasi yang berperan dalam patogenesis asma, rhinitis alergi, dan polip nasal. Hasilnya mereka menjadi target modulasi terapi. Penelitian barubaru ini mengenai penghambatan sintesis leukotrien menunjukkan peningkatkan aliran udara dalam hidung dan pengecilan polip nasal yang dibuktikan dengan endoskopi dan studi imaging. Penggunaan inhibitor
31

leukotrien ini menunjukkan hasil maksimal pada penderita dengan rhinitis alergi konkomitan dan polip nasal eosinofilik.

Obat-obatan lain : obat-obatan lain yang mungkin digunakan dalam

pengobatan polip nasal adalah antibiotic makrolid, terapi diuretic topical, dan asam asetilsalisilat-lisin intranasal. Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat masif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Pembedahan dilakukan jika Polip menghalangi saluran pernafasan, menghalangi drainase dari sinus sehingga sering terjadi infeksi sinus, atau berhubungan dengan tumor. Terapi bedah yang dipilih tergantung dari luasnya penyakit (besarnya polip dan adanya sinusitis yang menyertainya), fasilitas alat yang tersedia dan kemampuan dokter yang menangani. Macamnya operasi mulai dari polipektomi intranasal menggunakan jerat (snare) kawat dan/ polipektomi intranasal dengan cunam (forseps) yang dapat dilakukan di ruang tindakan unit rawat jalan dengan analgesi lokal; etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid; operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan endoskopi untuk polipektomi saja, atau disertai unsinektomi atau lebih luas lagi disertai pengangkatan bula etmoid sampai Bedah Sinus Endoskopik Fungsional lengkap. Alat mutakhir untuk membantu operasi polipektomi endoskopik ialah microdebrider (powered instrument) yaitu alat yang dapat menghancurkan dan mengisap jaringan polip sehingga operasi dapat berlangsung cepat dengan trauma yang minimal (Ernest, 2009) Tindakan pengangkatan polip atau polipektomi dapat dilakukan dengan menggunakan senar polip dengan anestesi lokal, untuk polip yang besar tetapi belum memadati rongga hidung. Polipektomi sederhana cukup efektif untuk memperbaiki gejala pada hidung, khususnya pada kasus polip yang tersembunyi atau polip yang sedikit. Bedah sinus endoskopik (Endoscopic Sinus Surgery) merupakan teknik yang lebih baik yang tidak hanya membuang polip tapi juga membuka celah di meatus media, yang merupakan tempat asal polip yang tersering sehingga akan membantu mengurangi angka kekambuhan.
32

Surgical micro debridement merupakan prosedur yang lebih aman dan cepat, pemotongan jaringan lebih akurat dan mengurangi perdarahan dengan visualisasi yang lebih baik (Nizar, 2007) Prognosis Polip nasi dapat muncul kembali selama iritasi alergi masih tetap berlanjut. Rekurensi dari polip umumnya terjadi bila adanya polip yang multipel. Polip tunggal yang besar seperti polip antral-koanal jarang terjadi relaps (Valerie, 2008)

33

DAFTAR PUSTAKA 1. Zulfadli. 2007. Polip Nasi. Diakses dari www.solaraid.com. Diakses pada tanggal 02 Agustus 2012 2. Punagi, Abdul Qadar. 2005. Peranan Sitokin Pada Polip Nasi dalam Jurnal Media Nusantara Volume 26 No.4 OktoberDesember 2005. Hal 263-267. 3. Mangunkusumo, Endang. Nizar, Nuty W,. Hidung. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Hidung dan Telinga editor : Eliaty AS, Nurbaiti, edisi ke 6 tahun 2007. Hal 118-122. 4. Snell, Richard S, Kepala dan Leher dalam Anatomi Klinik alih bahasa dr. Jan Tamboyang. EGC 1997 5. Nizar, Nuty W, Endang Mangunkusumo. Polip Hidung. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Hidung dan Telinga editor : Eliaty AS, Nurbaiti, edisi ke 6 tahun 2007. Hal 123-125 6. McClay, Jhon E MD. 2007. Nasal Polyps. di akses dari : www.emedicine.com . Diakses 02 Agustus 2012. 7. Blumenthal MN. Kelainan alergi pada pasien THT. Dalam: Adam, Boies, Higler. BOIES. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta, EGC, 1997. Hal 196-8. 8. Bechara, Y Ghorayeb. 2008. Nasal polyps. Diakses dari www.otolaryngology Houston.htm. Diakses tanggal 02 agustus 2012. 9. Ernest, John. 2009. Polyp Nasal. Diakses dari www.arquivosdeorl.org.br Diakses tanggal 02 Agustus 2012. 10. Valerie, J Lund. 2008.Diagnosis and Treatment of Nasal Polyps. Diakses dari www.otolayngologyhouston Htm. Diakses tanggal 02 agustus 2012.

34