Anda di halaman 1dari 69

LAPORAN PENELITIAN

Istilahnya jangan penelitian tapi penyidikan, krn isinya terlalu sederhana bila kamu sebut penelitian Kmd nanti lap dalam bentuk power point saja, saat presentasi pp tsb kamu perbanyak utk peserta Oya jangan pakai makan, tapi snack saja Format PP sederhana saja, latar belakang tujuan sdkt tinjauan pustaka, Hasil dan Saran

HUBUNGAN PENGETAHUAN SIKAP, DAN PERILAKU TERHADAP KEBERADAAN JENTIK NYAMUK DI DUSUN GEBLAKAN DAN NGRAME

Disusun Oleh :

Nur Aini Abd R. Balafif Khodimatur Rofiah Dyah Prativi Kusumawardhani

KEPANITRAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER FK UMY PUSKESMAS KASIHAN 1 2011
BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH Berdasarkan laporan dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia, sampai pertengahan tahun 2001 kasus penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) sudah menjadi masalah endemis di 122 kabupaten, 605 kecamatan dan 1800 desa/kelurahan di Indonesia, sehingga sering terjadi berjangkit penyakit DBD di berbagai wilayah di Indonesia hampir disepanjang waktu dalam satu tahun. Tercatat bahwa pada tahun 2002, 2003, 2004 dan 2005 terjadi kasus dalam jumlah masing-masing 40.377, 52.000, 79.462 dan 80.837. Kejadian Luar Biasa (KLB) terjadi pada tahun 2005, dengan Case Fatality Rate (CFR) mencapai 2%. Tahun 2006, total kasus DBD di Indonesia sudah mencapai 104.656 kasus dengan CFR = 1,03% dan tahun 2007 mencapai angka 140.000 kasus dengan CFR = 1%.1

Data kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas Kasihan I bantul dari tahun 2009 sampai dengan 2010 meningkat. Tercatat pada tahun 2009 terdapat 72 kasus DBD, sedangkan pada tahun 2010 tercatat 92 kasus dengan angka kematian sebanyak 3 kasus. Sampai saat ini masih belum ditemukan obat dan vaksin yang efektif untuk penyakit DBD. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) merupakan cara pengendalian vektor sebagai salah satu upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit DBD. Kampanye PSN sudah digalakkan pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan dengan semboyan 3M, yakni menguras tempat penampungan air secara teratur, menutup tempat-tempat penampungan air dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk.2 Kegiatan tersebut sekarang berkembang menjadi 3M plus yaitu kegiatan 3M diperluas dengan mengganti air vas bunga, tempat minum burung atau tempat lainnya yang sejenis seminggu sekali, memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar, menutup lubang lubang pada potongan bambu/pohon, menaburkan bubuk larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, memasang kawat kassa, mengupayakan pencahayaan dan ventilasi ruangan yang memadai4. Kegiatan 3M plus juga diperluas dengan upaya meningkatkan kebiasaan pada masyarakat untuk menggunakan kelambu pada saat tidur siang, memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk, dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian dalam ruangan rumah. Dalam setiap persoalan kesehatan, termasuk dalam upaya penanggulangan DBD, faktor perilaku senantiasa berperan penting. Perhatian terhadap faktor perilaku sama pentingnya dengan perhatian terhadap faktor lingkungan, khususnya dalam hal upaya

pencegahan penyakit. Selain kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, upaya lain dalam pengendalian vektor untuk mencegah kejadian DBD dilakukan dengan menghindari terjadinya kontak dengan nyamuk dewasa. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan memperhatikan faktor kebiasaan keluarga diantaranya kebiasaan tidur siang, penggunaan kelambu siang hari, pemakaian anti nyamuk siang hari dan kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai yang dapat diubah atau disesuaikan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kasus DBD terhadap salah satu anggota keluarga6.

B. PERUMUSAN MASALAH Pemberantasan sarang nyamuk merupakan salah satu upaya penanggulangan vector penyakit DBD dengan menghilangkan jentik sebagai sasaran utama. Selain itu kebiasaan sehari-hari yang dapat mengurangi kontak dengan nyamuk dewasa juga menjadi upaya mencegah kejadian DBD, maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini adalah: Apakah ada hubungan tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku tentang jentik nyamuk penyebab demam berdarah pada Dusun Geblakan dan Dusun Ngrame?

C. TUJUAN PENELITIAN Untuk mengetahun hubungan antara pengetahuan , sikap dan perilaku responden terhadap jentik nyamuk penyebab demam berdarah.

D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Instasi Puskesmas dan Dinas Kesehatan

Sebagai informasi dan bahan pertimbangan dalam pemecahan masalah pada program kesehatan bidang penyakit menular, khususnya masalah pencegahan DBD agar dapat sebagai monitoring dan evaluasi program pemberantasan penyakit menular (P2M) 2. Bagi Masyarakat Sebagai dasar pengetahuan dan pemikiran serta menjadi informasi dalam upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD 3. Bagi Peneliti lain Menambah pengetahuan dan pengalaman khusus dalam melakukan penelitian terhadap jentik nyamuk penyebab demam berdarah BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

Penyakit Demam Berdarah Dengue adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang ditandai dengan demam mendadak 2 sampai 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah atau lesu, gelisah, nyeri ulu hati, disertai tanda perdarahan di kulit berupa bintik perdarahan (petechie), lebam (echymosis), atau ruam (purpura), kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau renjatan (shock)10. Demam dengue (DF) adalah penyakit febris-virus akut, seringkali ditandai dengan sakit kepala, nyeri tulang atau sendi dan otot, ruam, dan leukopenia sebagai gejalanya. Demam berdarah dengue (Dengue Haemoragick Frever/DHF) ditandai dengan empat gejala klinis utama: demam tinggi, fenomena hemoragi, sering dengan hepatomegali dan

pada kasus berat disertai tanda tanda kegagalan sirkulasi. Pasien ini dapat mengalami syok yang diakibatkan oleh kebocoran plasma5 . Syok ini disebut sindrom syock dengue (DSS) dan sering menyebabkan fatal.

B. EPIDEMIOLOGI DEMAM BERDARAH DENGUE Epidemi dengue dilaporkan sepanjang abad kesembilan belas dan awal abad ke dua puluh di Amerika, Eropa selatan, Afrika Utara, Mediterania Timur, Asia dan Australia, dan beberapa pulau di Samudra India, Pasifik Selatan dan tengah serta Karibia7. DF dan DHF telah meningkat dengan menetap baik dalam insiden dan distribusi sepanjang 40 tahun, dan pada tahun 1996, 2500 3000 juta orang tinggal di area yang secara potensial beresiko terhadap penularan virus dengue. Setiap tahun diperkirakan terdapat 200 juta kasus infeksi dengue dan mengakibatkan kirakira 24 juta kematian. Di Thailand, wabah pertama terjadi di Bangkok dalam pola siklus 2 tahun, kemudian selanjutnya dalam siklus yang tidak teratur ke area penyebaran penyakit di seluruh negeri. DHF kemudian menjadi endemik di banyak kota besar di Thailand dan akhirnya menyebar ke kotakota kecil dan desa desa selama periode epidemik. Pola serupa terlihat di Indonesia, Myanmar dan Vietnam.4 Selama pengalaman 40 tahun dengan dengue di wilayah Pasifik Barat dan Asia Tenggara, dua pola epidemiologik telah ditemukan. Pertama DHF/DSS telah timbul paling sering di area di mana terdapat endemik serotype dengue multiple
5, 11, 18

. Pola

umum adalah bahwa kasus sporadik atau wabah kecil di area perkotaan yang ukurannya meningkat dengan tetap sampai terjadi wabah besar yang membuat penyakit menjadi perhatian pejabat kesehatan masyarakat.

Penyakit tersebut biasanya membentuk pola aktivitas epidemik setiap 2-5 tahun. Selain itu DHF/DSS secara khas menyerang pada anak-anak, dengan usia saat dirawat 46 tahun. Pola kedua terlihat di area endemisitas rendah. Serotype dengue multiple dapat ditularkan pada laju infeksi yang secara relative rendah (di bawah 5% populasi pertahun). Pada area ini, orang dewasa yang sebelumnya terinfeksi rentan terhadap infeksi dengue, dan anak-anak serta dewasa muda, dengan usia 6-8 tahun juga mudah terkena.4,5,6 1. Virus Dengue Virus dengue merupakan bagian dari famili Flaviviridae. Keempat serotype virus dengue yang disebut DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4 dapat dibedakan dengan metodologi serologi. Infeksi pada manusia oleh salah satu serotype menghasilkan imunitas sepanjang hidup terhadap infeksi ulang oleh serotype yang sama, tetapi hanya menjadi perlindungan sementara dan parsial terhadap serotype yang lain. Virus-virus dengue menunjukkan banyak karakteristik yang sama dengan flavivirus lain, mempunyai genom RNA rantai tunggal yang dikelilingi oleh nukleotida ikosahedral dan terbungkus oleh selaput lipid. virionnya mempunyai panjang kirakira 11 kb (kilobases), dan urutan genom lengkap dikenal untuk mengisolasi keempat serotype, mengkode nukleokapsid atau protein inti (C), protein yang berkaitan dengan membrane (M), dan protein pembungkus (E) dan tujuh gen protein nonstruktural (NS). Domain-domain bertanggung jawab untuk netralisasi, fusi, dan interaksi dengan reseptor virus berpengaruh dengan protein pembungkus. Urutan dari pengkodean protein adalah 5_C-prM(M)-E-NS1-NS2A-NS2B-NS3-NS4A-NS4BNS5-3.4,5,6

2. Manusia Sebagai Pejamu

Pada manusia, masing-masing dari keempat serotype virus dengue mempunyai pengaruh dengan DF dan dengan DHF. Studi di Kuba dan Thailand telah menunjukkan pengaruh secara konsisten antara infeksi DEN-2 dan DHF/DSS, tetapi epidemik pada tahun 1976-1978 di Indonesia, 1980-1982 di Malaysia, dan 1989-1978 di Tahiti, dan dari 1983 seterusnya di Thailand, DEN-3 adalah serotype predominan yang ditemukan dari pasien dengan penyakit berat. Pada wabah tahun 1984 di Meksiko, 1986 di Puerto Riko, dan 1989 di El Salvador, DEN-4 paling sering diisolasi dari pasien DHF19, 21. DSS terjadi dengan prekuensi yang lebih tinggi pada dua kelompok yang mempunyai keterbatasan secara imunologis: anak-anak yang telah mengalami infeksi dengue sebelumnya, dan bayi dengan penyusutan kadar antibodi dengue maternal. Fase akut infeksi, diikuti dengan inkubasi 3-14 hari, berlangsung kira-kira 5-7 hari dan diikuti dengan respon imun. Infeksi pertama menghasilkan imunitas sepanjang hidup terhadap serotype penginfeksi tetapi merupakan perlindungan sementara terhadap ketiga serotype lainnya, dan infeksi sekunder atau sekuensial mungkin terjadi setelah waktu singkat. Penularan virus dengue dari manusia terinfeksi ke yamuk penggigit ditentukan oleh besarnya dan durasi viraemia pada hospes manusia; individu dengan viraemia tinggi memberikan dosis virus infeksius yang lebih tinggi ke nyamuk penggigit, biasanya menyebabkan presentase nyamuk penggigit yang terinfeksi menjadi lebih besar meskipun kadar virus yang sangat rendah dalam darah mungkin infeksius bagi beberapa nyamuk vektor.4,5,6

C. PATOLOGI DEMAM BERDARAH DENGUE

Pada autopsi, semua pasien yang telah mati karena DHF menunjukkan suatu tingkatan hemoragi; berdasarkan frekuensi, hemoragi ditemukan pada kulit dan jaringan subkutan, pada mukosa saluran gastrointestinal, dan pada jantung serta hati. Hemoragi gastrointestinal mungkin hebat, tetapi hemoragi subaraknoid atau serebral jarang terjadi. Efusi serosa dengan kandungan protein tinggi (kebanyakan albumin) umumnya terdapat pada rogga pleural dan abdomen, tetapi jarang terjadi pada rongga perikardial.6 Pemeriksaan mikroskop cahaya terhadap pembuluh darah tidak menunjukkan adanya perubahan bermakna pada dinding vaskular. Kapiller dan venula pada system organ terkena dapat menunjukkan perdarahan ekstravaskular oleh diapedesis dan hemoragi perivaskular, dengan infiltrasi perivaskular oleh limfosit dan sel-sel mononuklear. Adanya morfologis dari pembentukan bekuan intravaskuler di pembuluh darah kecil telah ditemukan pada pasien dengan perdarahan berat.5 Pada kebanyakan kasus fatal, jaringan limfosit menunjukkan peningkatan aktivitas sistem limfosit-B, dengan poliferasi aktif sel-sel plasma dan sel-sel limfoblastoid, dan pusat germinal aktif. Terdapat bukti yang menunjukkan terjadinya poliferasi imunoblas besar dan pergantian limfosit yang sangat besar. Pergantian limfosit ini dimanifestasikan oleh reduksi pulps splenik putih, limfositolisis, dan fagositosis limfositik nyata.4,5 Pada hati, terdapat nekrosis dari sel-sel hepar, pembengkakan, adanya badan councilman dan nekrosis hialin dari sel-sel kupffer. Poliferasi leukosit monoklulear, dan (jarang terjadi) leukosit polimorfonukleun, terjadi pada sinusoid dan kadang-kadang pada area portal. Lesi di hepar secara khas menyerupai 72-96 jam setelah infeksi dengan virus demam kuning, bila sel parenkim yang rusak terbatas. Pada autopsi, antigen virus dengue telah ditemukan terutama di hepar, limpa, timus, nodus limfa, dan sel-sel paru. Virus juga

telah diisolasi pada autopsi dari sumsum tulang, otak, jantung, ginjal, hati, paru, nodus limfa, dan saluran gastrotestinal.4,5 Pemeriksaan patologis terhadap sumsum tulang, ginjal, dan kulit telah dilakukan pada pasien yang mengalami DHF non-fatal. Pada sumsum tulang, tampak depresi semua sel-sel hematopoeitik, yang secara cepat membaik dengan penurunan demam. Studi pada ginjal telah menunjukan tipe glomerulonefritis kompleks-imun yang ringan, yang akan membaik setelah kira-kira 3 minggu dengan tidak adanya perubahan residual. Biopsi terhadap ruam kulit telah menunjukkan edema perivaskular dari mikrovaskuler terminal papilla derma dan infiltrasi limfosit dan monosit. Fagosit mononuclear pembawa antigen telah ditemukan pada sekitar edema ini. Deposisi komplemen serum, imunoglobin dan fibrinogen pada dinding pembuluh darah juga telah ditemukan.4,5,6 D. DIAGNOSIS KLINIK Infeksi virus dengue dapat asimptomatis atau dapat menimbulkan demam undifferentiated, demam dengue (DF) atau demam berdarah dengue (DHF). Dengan rembesan plama yang dapat menimbulkan syok (sindrom syok dengue, DSS).4,5,6 a) Demam dengue Gambaran klinis dari DF sering tergantung pada usia pasien. Bayi dan anak kecil dapat mengalami penyakit demam undifferentiated, sering dengan ruam maklopapuler. Anak yang lebih besar dan orang dewasa dapat mengalami baik sindrom demam atau penyakit klasik yang melemahkan dengan mendadak demam tinggi, kadang-kadang dengan 2 puncak (punggung sadel), sakit kepala berat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan tulang atau sendi, mual dan muntah, dan ruam. Perdarahan kulit (petekie) tidak umum terjadi. Biasanya ditemukan leukopenia dan
10

mungkin tampak trombositopenia. Pemulihan mungkin berpengaruh dengan keletihan dan depresi lama, khususnya pada orang dewasa. Pada beberapa epidemik, DF dapat disertai dengan komplikasi perdarahan, seperti epitaksis, perdarahan gusi, perdarahan gastrointestinal, hematuria, dan menoragia. Selama wabah infeksi DEN-1 di Taiwan, Cina, studi telah menunjukkan bahwa perdarahan astrointestinal berat dapat terjadi pada orang dengan penyakit ulkus peptikum yang ada sebelumnya. Biasanya perdarahan berat dapat menyebabkan kematian pada kasus ini. Namun demikian, angka fatalitas kasus DF adalah kurang dari 1%. Akan penting artinya untuk membedakan kasus DF dengan perdarahan tak lazim dari kasuskasus DF dengan peningkatan permeabilitas vaskular, yang terakhir ditandai dengan hemokonsentrasi. Pada banyak area endemis, DF harus dibedakan dari demam chikungunya, penyakit virus lain yang ditularkan oleh Vektor epidemiologi serupa.4,5,6 b) Demam Berdarah Dengue Kasus khas DHF ditandai oleh empat manifestasi klinis mayor: demam tinggi, fenomena hemoragis, dan sering hepatomegali dan kegagalan sirkulasi.

Trombositopenai sedang sampai nyata dengan hemokonsentrasi secara bersamaan, adalah temuan laboratorium klinis khusus dari DHF. Perubahan patofisiologis utama yang menentukan keparahan penyakit pada DHF dan yang membedakannya dengan DF adalah rembesan plasma seperti dimanifestasikan oleh peningkatan hematokrit (hematokonsentrasi, efusi serosa atau hipoprotemia). Anak-anak dengan DHF umumnya menunjukkan peningkatan suhu tiba-tiba yang disertai kemerahan wajah dan gejala konstituional non spesifik yang menyerupai DF, seperti anoreksia, muntah, sakit kepala, dan nyeri otot, atau tulang dan sendi.
11

Beberapa pasien mengeluh sakit tenggorok, dan nyeri faring sering ditemukan pada pemeriksaan, tetapi rhinitis dan batuk jarang ditemukan. Nyeri konjungtiva mungkin terjadi. Ketidanyamanan epigastrik, nyeri tekan pada margin kosta kanan, dan nyeri abdominal generalisata umum terjadi. Suhu biasanya tinggi (>39C) dan menetap selama 2-7 hari. Kadang suhu mungkin setinggi 40-41 C; konfulsi virus debris dapat terjadi terutama pada bayi.4,5,6 Fenomena perdarahan paling umum adalah test tourniket positif, mudah memar dan perdarahan pada sisi fungsi vena. Tampak pada kebanyakan kasus adalah petekie halus meneyebar pada ekstremitas, aksila, wajah dan platum lunak, yang biasanya terlihat selama fase demam awal. Epistaksis dan perdarahan gusi jarang terjadi; perdarahan gastrointestinal ringan dapat terlihat selama periode demam. Hepar biasanya dapat diraba pada awal fase demam dan bervariasi dalam ukuran hanya teraba sampai 2-4 cm dibawah margin kostal. Meskipun ukuran hepar tidak berpengaruh dengan keparahan penyakit, pembesaran hepar terjadi lebih sering pada kasus-kasus syok daripada kasus nonsyok. Hepar nyeri tekan, tetapi ikretik tidak selalu terlihat. Splenomegali jarang ditemukan pada bayi; namun, limpa dapat tampak menonjol pada pemeriksaan roentgen. Tahap kritis dari perjalanan penyakit dicapai pada akhirfase demam. Setelah 27 hari demam, penurunan suhu cepat sering disertai dengan tanda gangguan sirkulasi yang beratnya bervariasi. Pasien dapat berkeringat, gelisah, ekstremitas dingin dan menunjukkan suatu perubahan pada frekuensi nadi dan tekanan darah. Pada kasus kurang berat, perubahan ini minimal dan tersembunyi, menunjukkan derajat ringan dari rembesan plasma22,23,24. Banyak pasien sembuh secara spontan, atau setelah

12

periode singkat terapi cairan dan elektrolit. Pada kasus yang lebih berat, bila kehilangan plasma sangat banyak, terjadi syok dan dapat berkembang dengan cepat menjadi syok hebat dan kematian bila tidak diatasi dengan tepat. Keparahan penyakit dapat diubah dengan mendiagnosis awal dan mengganti kehilangan plasma. Trombositopenia dan hemokonsentrasi biasanya dapat terdeteksi sebelum demam menghilang.4,5,6

c) Dengue Syock Sindrom (DSS) Kondisi Pasien yang berkembang kearah syok tiba-tba menyimpang setelah demam selama 2-7 hari. Penyimpanagan ini terjadi pada waktu segera setelah penurunan suhu antara hari ketiga dan ketujuh sakit. Terjadi tanda khas dari kegagalan sirkulasi: kulit menjadi dingin, bintul-bintul, dan kongesti; sinosis sirkumoral sering terjadi; nadi menjadi cepat. Pasien pada awal dapat mengalami letargi, kemudia menjadi gelisah dan dengan cepat memasuki tahap kritis dan syok. Nyeri abdominal akut adalah keluhan sering segera sebelum syok. DSS biasanya ditandai dengan nadi cepat, lemah dengan penyempitan tekanan nadi (<20 mm Hg), tanpa meperhatikan tingkat tekanan, mis., 100/90 mm Hg atau hipotensi dengan kulit dingin dan lembab dan gelisah25. Pasien yag syok dalam bahaya kematian bila pengobatan yang tepat tidak segera diberikan. Pasien dapat melewati tahap syok berat, dengan tekanan darah atau nadi menjadi tidak terbaca. Namun, kebanyakan pasien tetap sadar hampir pada tahap terminal. Durasi syok adalah pendek: secara khas pasien meninggal 12-24 jam, atau sembuh dengan cepat setelah terapi pengantian volume yang tepat. Efusi pleural dan asites dapat

13

terdeteksi melalui pemeriksaan fisik atau radiografi. Syok yang tidak teratasi dapat menimbulkan perjalanan penyakit terkomplikasi, dengan terjadinya asidosis metabolis, perdarahan hebat dari saluran gastrointestinal dan organ lain, dan prognosisnya buruk. Pasien dengan hemoragi intrakranial dapat mengalami konvulsi dan koma. Esefalopati, yang dilaporkan kadang, dapat terjadi dalam pengaruhnya dengan gangguan metabolis dan elektrolit atau perdarahan intrakranial29. Pemulihan pada pasien dengan DSS teratasi adalah singkat dan tidak rumit. Bahkan pada kasus syok berat, jika tealah teratasi, pasien yang dapat bertahan akan membaik dalam 2-3 hari, meskipun efusi pleural dan asites masih tampak. Tanda prognosis yang baik adalah keluaran urine adekuat dan kembali mempunyai nafsu makan.

D. Vektor Penyebar Virus Dengue Aedes aegypti adalah spesies nyamuk tropis dan subtropis yang ditemukan di bumi, biasanya antara garis lintang 35oU dan 35oS, kira-kira berpengaruh dengan musim dingin isotherm 10oC. Meski Aedes aegypti telah ditemukan sampai sejauh 45oU, invasi ini telah terjadi selama musim hangat, dan nyamuk tidak hidup pada musim dingin. Distribusi Aedes aegypti juga dibatasi oleh ketinggian. Ini biasanya tidak ditemukan diatas ketinggian 1000 m tetapi telah dilaporkan pada ketinggian 2121 m di India, pada 2200 m di Kolombia, dimana suhu rerata tahunan adalah 17oC, dan pada ketinggian 2400 di Eritrea. Aedes aegypti adalah salah satu vektor nyamuk yang paling efisien untuk arbovirus, karena nyamuk ini sangat antropofilik dan hidup dekat manusia dan sering hidup di dalam rumah. Wabah dengue juga telah disertai Aedes albopictus, Aedes

14

polynensis, dan banyak spesies kompleks Aedes scutellaris. Setiap spesies ini mempunyai distribusi geografisnya masing-masing; namun, mereka adalah vektor epidemik yang kurang efisien dibanding Aedes aegypti. Sementara penularan vertikal (kemungkinan transovarian) virus dengue telah dibuktian di laboratorium dan di lapangan, signifikansi penularan ini untuk pemeliharaan virus belum dapat ditegakkan. Faktor penyulit pemusnahan vektor adalah bahwa telur Aedes aegypti dapat bertahan dalam waktu lama terhadap desikasi (pengawetan dengan pengeringan), kadang selama lebih dari satu tahun.7,8 Virus dengue ditularkan dari orang keorang lainnya melalui gigitan nyamuk Aedes (Ae) dari subgenus Stegomyta. Aedes aegypti merupakan vektor epidemik yang paling utama, namun spesies lain sepert Aedes albopictus, Aedes polynesiensis, anggota dari Aedes scutellaris complex dan Aedes (Finlaya) nevus juga dianggap sebagai Vektor sekunder. Kecuali Aedes aegypti semuanya mempunyai daerah distribusi geografis sendiri-sendiri yang terbatas. 7,8 Bila penderita DBD digigit nyamuk penular maka virus akan ikut terisap masuk ke dalam lambung nyamuk, selanjutnya akan memperbanyak diri dan tersebar di berbagai jaringan tubuh nyamuk, termasuk kelenjar ludahnya. Nyamuk Aedes yang telah menghisap virus dengue akan menjadi penular atau infektif selama hidupnya. Nyamuk dengan umur panjang berpeluang menjadi vektor lebih besar, karena lebih sering kontak dengan manusia. Penyakit DBD semakin menyebar luas sejalan dengan meningkatnya arus transportasi dan kepadatan penduduk, semua desa/kelurahan mempunyai resiko untuk terjangkit penyakit DBD. 9

15

E. SIKLUS PENULARAN DAN PENYEBARAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE Nyamuk Aedes betina biasanya terinfeksi virus dengue pada saat menghisap darah dari seseorang yang sedang berada pada tahap demam akut (viraemia). Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik selama 8 sampai 10 hari, kelenjar ludah Aedes akan menjadi terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika nyamuk menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya kedalam luka gigitan ke tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi instrinsik selama 3-14 hari (rata-rata selama 4-6 hari) timbul gejala awal penyakit secara mendadak, yang ditandai dengan demam, pusing, myalgia (nyeri otot), hilangnya nafsu makan dan berbagai tanda atau gejala non spesifik seperti nausea (mual-mual), muntah dan rash (ruam pada kulit). 6,7 Viraemia biasanya muncul pada saat atau persis sebelum gejala awal penyakit tampak dan berlangsung selama kurang lebih 5 hari setelah dimulainya penyakit. Saatsaat tersebut merupakan masa kritis dimana penderita dalam masa sangat infektif untuk vektor nyamuk yang berperan dalam siklus penularan. Penularan DBD antara lain dapat terjadi di semua tempat yang terdapat nyamuk penularnya, tempat yang potensial untuk penularan penyakit DBD antara lain: 1. Wilayah yang banyak kasus DBD atau rawan endemis DBD. 2. Tempat-tempat umum yang merupakan tempat berkumpulnya orang, oran datang dari berbagai wilayah sehingga kemungkinan terjadinya pertukaran beberapa tipe virus dengue cukup besar seperti sekolah, pasar, hotel, puskesmas, rumah sakit dan sebagainya.

16

3. Pemukiman baru di pinggir kota, karena dilokasi ini, penduduk umumnya berasal dari berbagai wilayah, maka memungkinkan diantaranya terdapat penderita atau karier yang membawa tipe virus dengue yang berlainan dari masing-masing lokasi asal.

F. DISTRIBUSI PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE Distribusi penderita DBD menurut Thomas Suroso (2000), dapat digolongkn menjadi :10 1. Distribusi menurut umur, jenis kelamin dan ras 2. Berdasarkan data kasus DBD yang dikumpulkan di Ditjen P2M & PLP dari tahun 1968 1984 menujukkan bahwa 90% kasus DBD terdiri dari anak berusia kurang dari 15 tahun. Rasio perempuan dan laki-laki adalah 1,34 : 1. Data penderita klinis DHF/DSS yang dikumpulkan di seluruh Indonesia tahun 1968 1973 menunjukkan 88% jumlah penderita adalah anak-anak dibawah 15 tahun. Faktor ras pada penderita demam berdarah di Indonesia belum jelas pengaruhnya. 3. Distribusi menurut waktu
4. Dari data-data penderita klinis DBD/DSS 1975 1981 yang dilaporkan di

Indonesia diperoleh bahwa musim penularan demam berdarah pada umumnya terjadi pada awal musim hujan (permulaan tahun dan akhir tahun). Hal ini dikarenakan pada musim hujan vector penyakit meningkat populasinya dengan bertambahnya sarang-sarang nyamuk di luar rumah sebagai akibat sanitasi lingkungan yang kurang bersih, sedang pada musim kemarau Aedes aegypti bersarang di bejana-bejana yang selalu terisi oleh air. 5. Distribusi menurut tempat

17

6. Daerah yang terjangkit demam berdarah pada umumnya adalah kota/wilayah yang

padat penduduknya. Hal ini disebabkan di kota atau wilayah yang padat penduduk rumah-rumahnya saling bedekatan, sehingga lebih memungkinkan penularan penyakit demam berdarah mengingat jarak terbang Aedes aegypti yang terbatas ( 50 100 m). Di Indonesia daerah yang terjangkit terutama kota, tetapi sejak tahun 1975 penyakit ini juga terjangkit di daerah sub urban maupun desa yang padat penduduknya dan mobilitas tinggi.

G. MORFOLOGI DAN SIKLUS HIDUP NYAMUK AEDES AEGYEPTI Nyamuk Aedes aegypti berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran nyamuk rumah (Culex), mempunyai warna dasar yang hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian badannya, terutama pada kaki dan dikenal dari bentuk morfologi yang khas sebagai nyamuk yang mempunyai gambaran lire (Lyre form) yang putih pada punggungnya. Probosis bersisik hitam, palpi pendek dengan ujung hitam bersisik putih perak. Oksiput bersisik lebar, berwarna putih terletak memanjang. Femur bersisik putih pada permukaan posterior dan setengan basal, anterior dan tenga bersisik putih memanjang. Tibia semuanya hitam. Tarsi belakang berlingkaran putih pada segmen basal kesatu sampai keempat dan kelima berwarna putih. Sayap berukuran 2,5 3,0 mm bersisik hitam. Nyamuk Aedes albopictus, sepintas seperti nyamuk Aedes aegypti, yaitu mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian dadanya, tetapi pada thorax yaitu bagian mesotoumnya terdapat satu garis longitudinal (lurus dan tebal) yang dibentuk oleh sisik-sisik putih berserakan. Nyamuk ini merupakan penghuni asli Negara Timur, walaupun mempunyai kebiasaan bertelur di tempat-tempat yang alami di

18

rimba dan hutan bambu, tetapi telah dilaporkan dijumpainya telur dalam jumlah banyak di sekitar tempat pemukiman penduduk di daerah perkotaan.11,12

H. METAMORFOSA AEDES AEGYPTI Seperti halnya jenis nyamuk lainnya, Aedes aegypti mengalami metamorfosis sempurna yaitu: telur larva pupa nyamuk dewasa. 1. Stadium Telur. Aedes aegypti suka bertelur di air jernih yang tidak berpengaruh langsung dengan tanah dan lebih menyukai kontainer yang di dalam rumah dari pada di luar rumah. Hal ini disebabkan suhu di dalam rumah relative lebih stabil. Seekor nyamuk selama hidupnya dapat bertelur 4-5 kali dengan rata-rata jumlah telur berkisar 10 100 butir dalam sekali bertelur. Jumlah telur yang dapat dikeluarkan oleh 1 ekor nyamuk betina seluruhnya antara 300-700 butir.13,14 Pada waktu dikeluarkan, telur berwarna putih dan berubah menjadi hitam dalam waktu 30 menit, peletakan telur biasanya segera sebelum matahari terbenam telur diletakkan satu persatu pada permukaan lembab tepat diatas air, tidak saling melekat tetapi bergerombol. Telur ini berukuran kecil (+50 mikron) berbentuk lingkaran dengan anterior lebih besar dari posterior dan bagian yang besar tersebut panjangnya dua kali panjang ujung telur (mattingly). Telur akan menetas dalam waktu 75 jam atau 3 sampai 4 hari dalam temperature antara 25-30o C dengan kelembaban nisbi antara 75%-93%. Daya tahan telur terhadap pengaruh temperature sangat berarti, pada temperature 40oC telur mampu bertahan selama 25 jam dan pada temperatur -17 oC dapat bertahan

19

selama 1 jam. Menurut WHO, dan Dep. Kes RI. 2000 setelah perkembangan embrio sempurna telur dapat bertahan pada keadaan kering dalam waktu yang lama (lebih dari satu tahun) dan akan menetas bila wadah tergenang air.8,10\

2. Stadium Jentik dan Pupa. Setelah menetas, telur akan berkembang menjadi larva atau jentik. Pada stadium ini kelangsungan hidup larva dipengaruhi oleh suhu, PH air, cahaya serta kelembaban disamping fertilitas telur itu sendiri. Dalam kondisi optimal waktu yang dibutuhkan sejak telur menetas hingga menjadi nyamuk dewasa adalah tujuh hari termasuk dua hari masa pupa, sedang pada suhu rendah dibutuhkan waktu beberapa minggu.15 Ciri-ciri khas larva Aedes aegypti adalah: a. Adanya corong udara pada segmen terakhir b. Pada segmen-segmen abdomen tidak dijumpai adanya rambut-rambut berbentuk kipas (palmate hairs) c. Pada corong udara terdapat pektin d. Adanya sepasang rambut serta jumbai pada corong udara atau siphon
e. Pada setiap sisi abdomen segmen ke delapan ada comb scale sebanyak 8-21

atau berjejer 1 sampai 3


f. Bentuk individu dari comb scale seperti duri

g. Pada sisi torax terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva dan ada sepasang rambut di kepala. Ada 4 tingkat (instar) sesuai dengan pertumbuhan larva tersebut yaitu:

20

1. Instar I : berukuran paling kecil, yaiu 1-2 mm. 2. Instar II : berukuran 2, 5 -3,8 mm 3 Instar III : berukuran lebih besar sedikit dari larva instar II 4. Instar IV : berukuran paling besar 5 mm Larva instar IV akan berubah menjadi pupa yang berbentuk bulat gemuk menyerupai koma. Untuk menjadi nyamuk dewasa diperlkan waktu 2-3 hari. Suhu untuk perkembangan pupa yang optimal sekitar 27-30oC, tidak memerlukan makanan tetapi memerlukan udara. Pada stadium pupa ini akan dibentuk alat-alat tubuh nyamuk seperti sayap, kaki, alat kelamin, dan bagian tubuh lainnya29.

3. Stadium Dewasa. Setelah keluar dari selongsong pupa, nyamuk akan diam beberapa saat di selongsong pupa. Beberapa saat setelah itu, sayap meregang menjadi kaku, sehingga nyamuk mampu terbang untuk mencai mangsa darah. Perkawinan nyamuk jantan dengan betina tejadi biasanya pada waktu senja dan hanya sekali, sebelum nyamuk betina pergi untuk menghisap darah31. Umur nyamuk jantan lebih pendek dibanding umur nyamuk betina. Nyamuk betina lebih menyukai darah manusia (antropofilik), sedang nyamuk jantan hanya makan cairan buahbuahan dan bunga. Nyamuk betina memerlukan darah untuk mematangkan telurnya agar jika dibuahi oleh sperma nyamuk jantan dapat menetas. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan perkembangan telur, mulai nyamuk menghisap darah sampai telur dikeluarkan biasanya 3-4 hari. Waktu tersebut disebut siklus gonotropik. Eksistensi Aedes aegypti di alam dipengaruhi oleh lingkungan fisik

21

dan biologik, nyamuk ini tersebar diantara garis isotherm 20 oC antara 45 oLU dan 35 oLS pada ketinggian kurang dari 1000 m dari permukaan air laut30. Jangka hidup nyamuk dewasa di alam sulit ditentukan, nyamuk Aedes aegypti dapat hidup rata-rata 1 bulan. 7

I. BIONOMIK NYAMUK AEDES AEGYPTI Pengetahuan tentang bionomik vektor sangat diperlukan dalam perencanaan dan pengendaliannya. Bionomik adalah bagian dari ilmu biologi yang menerangkan pengaruh anataraborganisme hidup dengan lingkungannya Pengetahuan bionomik nyamuk meliputi stadiumbpradewasa (telur, jentik, pupa) dan stadium dewasa. Hal ini menyangkut tempat dan waktubnyamuk meletakkan telur, perilaku perkawinan, perilaku menggigit (bitting behaviour), jarakbterbang (fight range) dan perilaku istirahat (resting habit) dari nyamuk dewasa dan faktor-faktorblingkungan seperti suhu, kelembaban, iklim, curah hujan, yang mempengaruhi kehidupan nyamuk34.

1. Tempat perindukan (Breeding Places) Tempat perindukan Aedes aegypti berupa genangan-genangan air yang tertampung di suatu wadah yang biasa disebut kontainer (bukan genangan-genangan air tanah) seperti tempayan, drum, bak air, WC/kamar mandi, tempat air burung piaraan, barang-barang bekas, lobang-lobang di pohon, pelepah daun dan sebagainya. Macam kontainer Termasuk bahan kontainer, volume kontainer, penutup kontainer dan asal air dari kontainer. Penelitian oleh Sumadji (1998) menemukan bahwa jenis

22

bahan kontainer atau tempat penampung air yang disukai Aedes aegypti sebagai tempat perindukan yaitu : 1) Bahan semen : 45% 2) Bahan Porselin : 14,6% 3) Bahan tanah : 2,9% 4) Bahan Plastik : 36,8% 5) Bahan Logam/besi : 0,3%

2. Kebiasaan Menggigit Kebiasaan menggigit/ waktu menggigit nyamuk Aedes aegypti lebih banyak pada waktu siang hari dari pada malam hari, lebih banyak menggigit pukul 08.00 12.00 dan pukul 15.00 17.00 dan lebih banyak menggigit di dalam rumah dari pada diluar rumah. Setelah menggigit selama menunggu waktu pematangan telur nyamuk akan berkumpul di tempat-tempat di mana terdapat kondisi yang optimum untuk beristirahat, setelah itu akan bertelur dan menggigit lagi. Tempat yang disenangi nyamuk untuk hinggap istirahat selama menunggu waktu bertelur adalah tempattempat yang gelap, lembab, dan sedikit angin, nyamuk Aedes aegypti biasa hinggap beristirahat pada baju-baju yang bergantungan atau benda-benda lain di dalam rumah yang remang-remang31.

3. Jarak Terbang Pergerakan nyamuk dari tempat perindukan ke tempat mencari mangsa dan aelanjutnya ke tempat untuk beristirahat ditentukan oleh kemampuan terbang

23

nyamuk. Pada waktu terbang nyamuk memerlukan oksigen lebih banyak, dengan demikian penguapan air dari tubuh nyamuk menjadi lebih besar. Untuk mempertahankan cadangan air di dalam tubuh dari penguapan maka jarak terbang nyamuk menjadi terbatas. Aktifitas dan jarak terbang nyamuk dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu: faktor eksternal dan faktor internal. Eksternal meliputi kondisi luar tubuh nyamuk seperti kecepatan angin, temperatur, kelembaban dan cahaya. Adapun faktor internal meliputi suhu tubuh nyamuk, keadaan energi dan perkembangan otot nyamuk. Meskipun Aedes aeegypti kuat terbang tetapi tidak pergi jauh-jauh, karena tiga macam kebutuhannya yaitu tempat perindukan, tempat mendapatkan darah, dan tempat istirahat ada dalam satu rumah36. Keadaan tersebut yang menyebabkan Aedes aegypti bersifat lebih menyukai aktif di dalam rumah, endofilik. Apabila ditemukan nyamuk dewasa pada jarak terbang mencapai 2 km dari tempat perindukannya, hal tersebut disebabkan oleh pengaruh angin atau terbawa alat transportasi.

4. Lingkungan Biologik Pertumbuhan larva dari instar ke instar dipengaruhi oleh air yang ada di dalam kontainer, pada kontainer dengan air yang lama biasanya terdapat kuman patogen atau parasit yang akan mepengaruhi pertumbuhan larva tersebut. Adanya infeksi patogen dan parasit pada larva akan mengurangi jumlah larva yamg hidup untuk menjadi nyamuk dewasa, masa pertumbuhan larva bias menjadi lebih lama dan umur nyamuk dewasa yang berasal dari larva yang terinfeksi patogen atau parasit biasanya lebih pendek.

24

5. Lingkungan fisik18,19 Lingkungan fisik yang mempengaruhi kehidupan nyamuk Aedes aegypti antara lain jarak antar rumah, macam kontainer, suhu udara, curah hujan, pengaruh angina dan kelembaban. a) Jarak antar rumah. Jarak antar rumah mempengaruhi penyebaran nyamuk dari satu rumah kerumah yang lain. Semakin dekat jarak antar rumah semakin mudah nyamuk menyebar ke rumah yang lain. b) Suhu udara Suhu udara merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan Aedes aegypti. Nyamuk Aedes akan meletakkan telurnya pada temperature udara sekitar 20oC 30oC. Telur yang diletakkan dalam air akan menetas pada 1 sampai 3 hari pada suhu 30oC, tetapi pada suhu udara 16oC dibutuhkan waktu selama 7 hari. Nyamuk dapat hidup pada suhu rendah tetapi proses metabolismanya menurun atau bahkan berhenti apabila suhu turun sampai dibawah suhu kritis. Pada suhu lebih tinggi dari 35oC juga mengalami perubahan dalam arti lebih lambatnya proses-proses fisiologi, rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25-27oC. Pertumbuhan nyamuk akan terhenti sama sekali pada suhu kurang dari 10oC atau lebih dari 40oC. Kecepatan perkembangan nyamuk tergantung dari kecepatan proses metabolismanya yang sebagian diatur oleh suhu34. Karenanya kejadian-kejadian biologis tertentu seperti: lamanya pradewasa, kecepatan pencernaan darah yang dihisap dan pematangan

25

indung telur dan frekensi mengambil makanan atau menggigit berbeda-beda menurut suhu, demikian pula lamanya perjalanan virus di dalam tubuh nyamuk. c) Kelembaban Udara Kelembaban udara adalah banyaknya uap air yang terkandung dalam udara yang biasanya dinyatakan dalam persen. Dalam kehidupan nyamuk kelembaban udara mempengaruhi kebiasaan meletakkan telurnya. Hal ini berkaitan dengan nyamuk atau serangga pada umumnya bahwa kehidupannya ditentukan oleh faktor kelembaban. Sistem pernafasan nyamuk Aedes aegypti yaitu dengan

menggunakan pipa-pipa udara yang disebut trachea, dengan lubang pada dinding tubuh nyamuk yang disebut piracle. Adanya spirakel yang terbuka lebar tanpa ada mekanisme pengaturnya, maka pada kelembaban rendah akan menyebabkan penguapan air dalam tubuh nyamuk, dan salah satu musuh nyamuk dewasa adalah penguapan. Pada kelembaban kurang dari 60 % umur nyamuk akan menjadi pendek, tidak bisa menjadi vektor karena tidak cukup waktu untuk perpidahan virus dari lambung ke kelenjar ludah28. d) Intensitas Cahaya Cahaya merupakan faktor utama yang mempengaruhi nyamuk beristirahat pada suatu tempat intensitas cahaya yang rendah dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi yang baik bagi nyamuk intensitas cahaya merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi aktivitas terbang nyamuk, nyamuk terbang apabila intensitas cahaya rendah (<20 Ft-cd). Larva dari nyamuk Aedes aegypti dapat bertahan lebih baik di ruangan dalam kontainer yang gelap dan juga menarik nyamuk betina untuk meletakkan telurnya. Dalam bejana yang intensitas cahaya

26

rendah atau gelap rata-rata berisi larva lebih banyak dari bejana yang intensitas cahanya besar atau terang. e) Pengaruh Hujan Hujan akan mempengaruhi kelembaban udara dan menambah jumlah tempat perindukan nyamuk alamiah. Perindukan nyamuk alamiah di luar rumah selain sampahsampah kering seperti botol bekas, kaleng-kaleng, juga potongan bambu sebagai pagar sering dijumpai di rumah-rumah penduduk serta daun-daunan yang memungkinkan menampung air hujan merupakan tempat perindukan yang baik untuk bertelurnya Aedes aeegypti . f) Pengaruh Angin Secara tidak langsung angina akan mempengaruhi evaporasi atau penguapan air dan suhu udara atau konveksi. Angin berpengaruh terhadap jarak terbang nyamuk. Kecepatan angin kurang dari 8,05 km/jam tidak mempengaruhi aktivitas nyamuk, dan aktivitas nyamuk akan terpengaruh oleh angin pada kecepatan mencapai 8,05 km/jam (2,2 meter/detik) atau lebih29.

J. PENYEBARAN NYAMUK AEDES AEGYPTI Aedes aeegypti tersebar luas di daerah tropis dan sub tropis di Asia Tenggara dan ditemukan hampir di semua daerah perkotaan. Penyebaran di daerah pedesaan karena adanya pengembangan sistem penyedian air pedesaan dan sistem transportasi yang lebih luas. Di daerah agak gersang, misalnya di India, Aedes aegypti merupakan vektor di perkotaan dan populasinya berubah-ubah sesuai dengan curah hujan dan kebiasaan penyimpanan air. Di negara-negara Asia Tenggara yang curah hujan tahunannya lebih

27

dari 200 cm, menjadikan populasi Aedes aegypti lebih stabil di daerah perkotaan, semi perkotaan, dan pedesaan. Urbanisasi cenderung meningkatkan jumlah habitat yang cocok untuk Aedes aegypti. Di kota yang banyak pohon, Aedes aegypti dan Aedes albopiktus hidup bersamaan, namun pada umumnya Aedes aegypti lebih dominan tergantung pada keberadaan dan jenis habitat jentik serta tingkat urbanisasi. Di Singapura, indeks Aedes aegypti paling tinggi di perumahan kumuh kemudian rumah toko dan flat bertingkat. Sebaliknya Aedes albopictus keberadaannya tidak tergantung dari jenis rumah namun sering ditemukan hidup di daerah terbuka dengan banyak tanaman28 K. KEPADATAN POPULASI NYAMUK Untuk mengetaui kepadatan populasi nyamuk Aedes aegypti di suatu lokasi dapat dilakukan beberapa survey dirumah penduduk yang dipilih secara acak antara lain: 1. Survei Nyamuk Dewasa Sampling Vektor nyamuk dewasa dapat memberikan data yang berharga untuk mengetahui kecenderungan populasi musiman, dinamika penularan, resiko penularan dan evaluasi terhadap usaha pemberantasan nyamuk28 Beberapa cara untuk survey nyamuk dewasa: Landing Bitting collection (LBR) Survey nyamuk dilakukan dengan cara penangkapan nyamuk dengan umpan orang di dalam atau diluar rumah masingmasing 20 menit per rumah. Angka hasil tangkapan yang menggunakan jarring tangan atau aspirator waktu nyamuk melekat atau hinggap pada umpan disebut landing bitting rate dan penangkapa jam jumlah n x penangkapa Jumlah orang umpan p tertangka betina aegypti Aedes Jumlah LBR = Resting Collection

28

Pada periode inaktif, nyamuk dewasa istirahat di dalam rumah terutama di kamar tidur dan di tempat yang gelap seperti tempat gantungan pakaian dan tempat-tempat terlindung. Jumlah nyamuk dewasa yang tertangkap istirahat dengan aspirator per rumah atau jumlah nyamuk dewasa yang tertagkap istirahat dengan aspirator per jam per per rumah disebut resting rate. diperiksa yang rumah Jumlah aspirator p tertangka yang aegypti Aedes Jumlah rate Resting = x 100% 2. Survei Jentik Survey jentik dilakukan dengan cara:
1. semua tempat atau bejana baik di dalam maupun di luar rumah yang dapa

menjadi tempat perkembang biakan nyamuk aedes aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk mengetahui ada tidaknya jentik. 2. Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap atau airnya keruh digunakan senter.
3. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti adalah20: a) House Index (HI): presentase rumah yang ditemukan jentik terhadap

seluruh rumah yang diperiksa % 100 diperiksa yang rumah jumlah jentik ditemukan yang rumah jumlah HI . =
b) Kontainer Index (CI) adalah presentase antara kntainer yang ditemukan

jentik terhadap seluruh kontainer yang diperiksa % 100 periksa di yang kontainer jumlah jentik positip yang kontainer Jumlah CI . =
c) Breteau Index (BI) adalah jumlah kontainer positif perseratus rumah yang

diperiksa % 100 periksa di yang rumah Jumlah positif yang container Jumlah BI . = House index paling banyak dipakai untuk memonitor kadar investasi

29

tetapi tidak dapat menunjukkan jumlah kontainer yang positif jentik. Kontainer index hanya memberi informasi tentang proporsi kontainer yang berisi air yang positif jentik. Breteau indeks menunjukkan pengaruh antara kontainer yang positif dengan rumah, dianggap merupakan informasi yang paling baik tetapi tidak mencerminkan jumlah jentik dalam kontainer. 3. Survei dengan Perangkap Telur (Ovitrap) Ovitrap adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi adanya Aedes aegypti dan Aedes albopictus di mana kepadatan populasinya rendah dan survey jentik kebanyakan tidak produktif, misalnya jika BI< 5. Ovitrap standar adalah gelas dengan mulut lebar dengan volume sekitar 0,5 liter, dicat hitam bagian dalamnya dilengkapi dengan hardboard atau kertas filter yang dijepitkan secara vertikal pada dinding gelas. Gelas diisi dengan air sebagian dan diletakkan kira-kira di daerah habitatnya, umumnya di dalam atau di sekitar rumah.4,20 Untuk mengukur kepadatan nyamuk dengan indikator kepadatan telurnya dengan ovitrap, dapat dilakukan dengan cara meletakkan ovitrap di dalam dan di luar rumah di tempat yang gelap dan lembab. Setelah satu minggu dilakukan pemeriksaan ada atau tidak telur nyamuk di kertas filter dan dilakukan pengukuran kepadatan telurnya. Ada tidaknya telur serta banyak sedikitnya telur tergantung faktor bionomik nyamuk.20,21 Untuk mengetahui gambaran kepadatan populasi nyamk penular serta lebih tepat, maka telur-telur tersebut dikumpulkan dan dihitung jumlahnya pada masing ovitrap. 4. Pengukuran Umur Nyamuk Selain dengan indikator kepadatan jentik yaitu angka bebas jentik, resiko terjadinya penularan demam berdarah di suatu wilayah dapat diindikasikan dengan

30

umur nyamuk Aedes aegypti, karena semakin tua rata-rata umur nyamuk Aedes aegypti disuatu wilayah maka nyamuk tersebut akan semakin besar potensi terjadinya penularan di wilayah tersebut. Untuk mengetahui rata-rata umur nyamuk di suatu wilayah, dapat dilakukan pembedahan nyamu-nyamuk yang ditangkap untuk memeriksa keadaan ovariumnya di bawah mikroskop. Apabila ujung-ujung pipa udara (Tracheolus) pada ovarium masih menggulung dan ovarium belum membesar, berarti nyamuk itu belum pernah bertelur (nulli parous) dan apabila pipa-pipa udara sudah terurai/ terlepas gulungannya serta ovarium pernah membesar maka nyamuk itu sudah pernah bertelur (parous). Untuk mengetahui rata-rata umur nyamuk, apakah nyamuk tersebut nyamuk yang baru menetas atau nyamuk yang sudah tua digunakan index parousity (IP) dengan rumus: ovariumnya diperiksa yang aegypti Aedes Jumlah parousity ovarium dengan aegypti Aedes Jumlah IP = x100% Apabila hasil survey entomologi di suatu wilayah parousity ratenya rendah berarti populasi nyamuk di wilayah tersebut sebagian besar masih muda, sedangkan apabila parousity ratenya tinggi menunjukkan bahwa keadaan dari populasi nyamuk di wilayah itu sebagian besar sudah tua. 22 Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perkiraan umur nyamuk secara fisiologis dapat dilihat dari kondisi ovarium nyamuk. Bila terdapat ovarium yang membesar satu berarti nyamuk pernah bertelur satu kali atau sudah pernah mengalami satu siklus gonotropik atau satu dilatasi, bila terdapat dua pembesaran ovarium berarti dua kali siklus gonotropik atau dua dilatasi, dan seterusnya. Satu siklus gonotropik atau dilatasi diperkirakan empat hari, sehingga untuk memperkirakan umur fisiologis nyamuk yang tertangkap yaitu dari jumlah dilatasi dikalikan empat hari.22

31

L. PENCEGAHAN Upaya pencegahan telah banyak dilakukan demi menekan jumlah kasus DBD. Hal ini dipicu oleh realita di mana obat maupun vaksin untuk pengobatan DBD sampai saat ini belum ditemukan ini. Beberapa usaha yang berhubungan dengan pengembangan obat telah dan tengah dilakukan. Crance et al (2003) dalam Utama (2005) mengatakan bahwa dalam satu penelitian dikatakan bahwa interferon, ribavirin, 6-azauridine, and glycyrrhizin menghambat perkembangbiakan flavivirus termasuk virus dengue secara in vitro, tetapi belum dibuktikan secara in vivo. Begitu juga dengan usaha pengembangan antivirus melalui penemuan inhibitor enzim yang diperlukan untuk perkembangbiakan virus seperti protease, helikase, RNA polimerase, dan lain-lain. Semua percobaan baru pada tahap pengujian aktivitas secara in vitro, yang masih jauh dari pengembangan menjadi obat yang bisa digunakan untuk pasien21. Demikian juga halnya dengan pengembangan vaksin. Ada beberapa kesulitan untuk pengembangan vaksin Dengue ini. Di antaranya adalah kompleksnya virus dengue ini. Virus dengue terdiri dari 4 serotipe (DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4), sehingga vaksin yang dikembangkan harus mengandung antigen dari ke-4 jenis serotipe ini. Artinya, agar bisa memproteksi tubuh dari serangan virus dengue, vaksin yang dipakai harus bisa menginduksi antibodi terhadap ke-4 jenis serotipe ini di dalam tubuh (Utama, 2005). Kesulitan yang kedua adalah infeksi virus Dengue ini tidak mengiduksi antibody yang biasa menahan tubuh dari seragan. Pada kebanyakan virus, infeksi akan menginduksi pembentukan antibodiyang bisa menahan tubuh terhadap seragan virus

32

berikutnya. Tapi hal ini berbeda dengan virus Dengue. Infeksi pertama (primary infection) malah mempermudah tubuh untuk mendapatkan serangan berikutnya (secondary infection). Begitu juga gejala yang diakibatkan. Seragan berikutnya menimbulkan gejala yang lebih berat dan fatal. Jika pada serangan pertama hanya

menyebabkan panas (dengue fever/DF), serangan berikutnya bisa menyebabkan panas beserta pendarahan (dengue hemmorhagic fever/DHF) atau bahkan disertai shock (dengue shock syndrome/DSS) (Utama, 2005) Karena itu, pengembangan vaksin harus disertai dengan pertimbangan kemungkinan ini. Artinya, kita harus menemukan kondisi yang optimal agar pemberian vaksin tidak membuat tubuh lebih sensitive terhadap serangan virus Dengue. Diantara kondisi yang harus dipertimbangkan bias berupa jumlah dosis, jumlah vaksin itu sendiri, komposisi masing-masing serotype. Walaupun demikian, karena adanya urgensi pengembangan vaksin ini, beberapa institusi tanpa putus asa tetap melakukan usaha pengembangan vaksin Dengue ini, diantaranya adalah Pusat Peyakit Infeksi FK Unair Surabaya, Mahidol University Bangkok dan Walter Reed Army Institute Amerika Serikat. Namun, kandidat vaksin masih tahap clinical trial (utama, 2005). Cara yang paling efektif untuk mencegah penularan DBD adalah pengendalian vektor DBD yaitu dengan penatalaksanaan lingkungan yang dikenal dengan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (Gertak PSN), penggunaan larvasida (kimia/abatisasi dan biologi/Bti) dan penggunakan insektisida kimia/Fogging/Pengasapan (untuk Aedes dewasa). Hal ini berfungsi untuk mengurangi kontak vektor dengan manusia (WHO, 2002).

33

a)

Penatalaksanaan Lingkungan

1. Perbaikan Suplai dan Penyimpanan Air Pengiriman air yang dapat diminum untuk rumah tangga tidak cukup untuk mengurangi penggunaan wadah penyimpanan air yang memainkan peran dominan dalam perkembangan Ae. Aegypti. Banyak orang tidak menutup wadah airnya karena penutupnya tidak didesain dengan tepat sehingga menyulitkan pengguna untuk mengambil air dari wadah tersebut. Namun, penyimpanan air dapat didesain untuk mencegah penyimpanan telur atau timbulnya nyamuk dewasa, yaitu menggunakan wadah tertutup harus secara rutin dilihat karena meskipun penutup didesain paling baik, layar dapat robek atau rusak pada penggunaan jangka panjang serta selalu mengganti air yang ada dalam kontainer

(a)

(b)

(c)

Gambar 3. Penanggulangan DBD a. Mengganti air dalam vas setiap hari b. Menghilangkan air dari lempeng pot bunga setiap hari
c. Membalik ember dan semua kontainer air

2. Penanganan Sampah padat

34

Upaya pengendalian vektor harus mendorong penganganan sampah yang efektif dan memperhatikan lingkungan dengan meningkatkan aturan dasar mengurangi, menggunakan ulang, dan daur ulang, misalnya gelas dan botol karena hal tersebut dapat menyimpan air hujan sehingga memperbanyak atau menternakkan nyamuk. Selain itu, ban bekas adalah bentuk lain dari sampah padat yang sangat penting untuk pengendalian Aedes perkotaan, sehingga ban bekas ini harus didaur ulang.

Gambar 4. Peenaggulangan Sampah Padat

3. Modifikasi Habitat Larva (3M) Pendekatan yang paling umum harus digunakan untuk mengurangi potensial perkembangan nyamuk Aedes di dalam dan sekitar habitat manusia, misalnya ban bekas dan wadah yang yang disimpan diluar harus tertutup atau posisinya dibaik. Modifikasi habitat larva biasa juga dikenal sebagai gerakan 3 M

(Menutup, Menguras dan Mengubur barang bekas yang bisa menampung air bersih, bak mandi,vas bunga dan tempat penampungan air lainnya)

35

Gambar 5. Modifikasi Habitat Larva

b). Penggunaan Larvasida Kimia (Abatisasi) dan Biologi (B.t.i) 1. Abatisasi (Penaburan Bubuk Abate) Salah satu kegiatan pokok dalam program pemberantasan DBD adalah upaya abatisasi. Yang dimaksud dengan abatesasi adalah penaburan larvasida insektisida bubuk ABATE pada sarang-sarang nyamuk. ABATE (Temephos) merupakan golongan organophosphat yang sekarang digunakan secara meluas terutama untuk pengendalian jentik Ae. Aegypty, Cx. quinquefasciatus. Bubuk Abate mempunyai toksisitas yang tinggi pada larva nyamuk tapi sangat rendah terhadap manusia. Bubuk ABATE biasanya dijual dalam bentuk sand granuler yang dilapisi dengan 1% larutan insektisida yang toksik terhadap larva nyamuk,

36

tidak toksik terhadap manusia sekalipun terdapat dalam air minum (Canyon, Deon, 2001).

Gambar 6. Bubuk ABATE (Temephos 1%) (Anonim, 2005) Biasanya untuk bak air yang besar dan susah dikuras, penggunaan bubuk ABATE diberikan satu persen SG (sand granule) dengan takaran satu gram per 10 liter air. Dalam aplikasinya, untuk air 50 liter ke bawah diberikan 1/2 sendok makan ABATE, sedangkan untuk 50 hingga 100 liter air diberikan satu sendok makan. Apabila air tersebut digunakan sebagai keperluan air minum, hendaknya dibiarkan dulu selama 24 jam sebelum air dimanfaatkan (Nuidja, 2005). Abatisasi diulang setiap 2-3 bulan dan keampuhan bubuk ABATE bisa efektif sampai dua bulan dalam bak yang tidak dikuras. Abatesasi perlu dilakukan hanya pada tempat-tempat air tergenang, seperti bak mandi, jambangan bunga, dan selokan kecil yang airnya tergenang. Yang perlu diketahui pula, bubuk ABATE tidak cocok digunakan untuk sumur. Bubuk ABATE hanya efektif digunakan untuk wadah-wadah air yang lebih kecil volumenya, seperti bak mandi dan tempat penampungan air lainnya. Bubuk ABATE juga baik untuk ditaburkan pada tempat-tempat air yang sulit dikuras

37

atau dibersihkan. Pengertian bahwa bubuk abate dapat membunuh virus penyakit demam berdarah adalah salah. Bubuk ABATE hanya membunuh jentik nyamuk, bukan virus penyebab penyakit demam berdarah. Tindakan abatesasi yang sebenarnya juga bukan ditujukan untuk membunuh nyamuk dewasa tetapi membunuh jentik-jentiknya. Tindakan ini dilakukan untuk memutuskan mata rantai perkembangbiakan nyamuk tersebut. Usaha ini hanya dapat mencapai tujuan bila dilakukan secara serempak oleh warga dari suatu wilayah atau beberapa wilayah yang luas. Oleh sebab itu sangat baik jika dilakukan secara terkoordinasi dalam suatu wilayah tertentu (Rozanah, 2003). Bubuk ABATE tidak terlalu beracun terhadap binatang seperti burung, ikan atau binatang ternak lainnya, tetapi sangat toksik terhadap jentik. Larvasida golongan organophosphat yang bersifat toksik insektisida, residunya dalam air dapat menembus kulit larva sehingga akan terjadi gangguan mekanis transmisi impuls saraf pada larva tersebut. Seperti terjadi impulsive, maka akan dibebaskan acetyl cholyne (CH3-(O)-OCH2-CH2N+-(CH3)3) yang dapat

menimbulkan respon kontraksi otot saraf, maka acetyl cholyne terhidrolisa menjadi asam asetat dan cholyne, sehingga respon dari otot dan kelenjar terhenti akhirnya jentik akan mati. Temephos/abate mempunyai formula empiris C16H20O6P2S3 dengan berat molekul 466,5.

2.

Penggunaan Agen Biologi (B.t.i) Saat ini, telah dikenal organisme yang digunakan sebagai pemangsa larva nyamuk (larvasida). Beberapa diantaranya adalah ikan-ikan pemakan larva

38

seperti ikan kepala timah dan ikan cupang. Penemuan terbaru larvasida biologis jatuh pada bakteri Bacillus thuringensis strain israilensis yang dianggap mampu mematikan larva nyamuk. Keuntungan menggunakan larvasida biologis adalah sifatnya yang spesifik mematikan target dan ramah lingkungan. Bacillus thuringiensis strain israilensis adalah bakteri gram positif yang berbentuk batang, aerobik dan membentuk spora. Banyak strain dari bakteri ini yang menghasilkan protein yang beracun bagi serangga. Sejak diketahuinya potensi dari protein kristal Bacillus thuringiensis sabagai agen pengendali serangga, berbagai isolat Bacillus thuringiensis dengan berbagai jenis protein kristal yang dikandungnya telah teridentifikasi. Sampai saat ini telah teridentifikasi protein kristal yang beracun terhadap larva dari berbagai ordo serangga seperti Diptera (contoh nyamuk). Kebanyakan dari protein kristal tersebut lebih ramah lingkungan karena mempunyai target yang spesifik sehingga tidak mematikan serangga bukan sasaran dan mudah terurai sehingga tidak menumpuk dan mencemari lingkungan (Anonim, 1999).

Gambar 7. Bakteri Bacillus thuringiensis (Deacon, 2000)

39

Bacillus thuringiensis strain israilensis merupakan salah satu bakteri pathogen pada serangga. Bacillus thuringiensis strain israilensis adalah bakteri yang mempunyai sel vegetatif berbentuk batang dengan ukuran panjan 3-5 mm dan lebar 1,0-1,2 mm, mempunyai flagella dan membentuk spora. Sel-sel vegetatif dapat membentuk suatu rantai yang terdiri dari lima sampai enam sel. Sifat-sifat bakteri ini adalah gram positif, aerob tetapi umumnya anaerob fakultatif, dapat tumbuh pada media buatan dan suhu untuk pertumbuhan berkisar antara 15-40C ( Trizelia, 2001). Bacillus thuringiensis strain israilensis ditemukan pertama kali pada tahun 1911 sebagai patogen terhadap ngengat tepung dari provinsi Thuringia, Jerman. Kini telah dikomersilkan dengan berbagai macam nama dagang dan formulasi yang beraneka ragam (Vectobac G formulasi granuler yang diproduksi oleh Abbott Laboratories, ASA). Produk tersebut merupakan salah satu contoh larvasida biologis berisi kristal delta endotoksin dan spora Bacillus thuringiensis strain israilensis (H-14) yang dapat menyebabkan paralisis usus dan mengakibatkan kematian jentik nyamuk dalam waktu 2-12 jam. Kristal protein toksik (delta endotoksin) ini merupakan racun perut bagi serangga sasaran, namun toksin ini tidak menyebabkan timbulnya penyakit pada manusia (Blondine, et.al., 2005). Canyon, Deon (2001) membuat suatu model dari B.t.i. berupa endotoksin. B. thuringensis menghasilkan suatu protein kristal selama proses sporulasi. Ketika itu protein tersebut dicernakan oleh suatu larva serangga, kemudian solubilisasi (larut) di dalam sel-sel usus tengah (midgut) pada saluran

40

pencernaan dari larva dan melepaskan protein yang disebut dengan dendotoxins. Protein ini diubah menjadi senyawa protein yang lebih kecil dan larut dalam kondisi alkali dalam usus larva dan sebagian terhidrolisis. Perubahan protein tersebut menyerang dinding usus akibatnya usus terdifusi dan masuk ke dalam haemolimfa dan akan menyebabkan paralysis, akhirnya jaringan tidak berfungsi dalam 24 jam dan mengakibatkan kematian pada serangga.

Gambar 8. Sporulasi pada midgut B. Thuringensis

Kristal protein yang termakan oleh larva akan larut dalam lingkungan basa pada usus larva, kemudian protein tersebut akan teraktifkan oleh enzim pencerna protein larva. Protein yang teraktifkan akan menempel pada protein receptor yang berada pada permukaan sel epitel usus. Penempelan tersebut mengakibatkan terbentuknya pori atau lubang pada sel sehingga sel mengalami lysis. Pada akhirnya larva akan mengalami gangguan pencernaan dan mati.

41

c). Penggunakan insektisida kimia/Fogging/Pengasapan (untuk Aedes dewasa). Upaya untuk menekan penularan DBD salah satunya adalah pengendalian secara kimiawi melalui pengasapan (fogging). Selama 40 tahun terakhir, banyak produk kimiawi yang digunakan untuk mengendalikan nyamuk. Hal itu menyebabkan banyak bermunculan fenomena resistensi terhadap bahanbahan insektisida tersebut. Bahan-bahan tersebut antara lain, malathion, temephos, fention, permetthrin, profoxur dan fenithrothion.

Gambar 10. Penggunaan Insektisida dalam Pemebrantasan Nyamuk


42

Catatan penting yang harus diketahui adalah pengasapan hanya membasmi nyamuk dewasa saja, efeknya hanya bertahan 2 hari dan insektisida yang digunakan harus diganti secara periodik untuk menghindari resistensi nyamuk Aedes (Ginanjar, 2008).

43

BAB III METODE PENELITIAN

A. DESAIN PENELITIAN Jenis penelitian termasuk penelitian observasional analitik dengan menggunakan rancangan cross sectional. Penelitian ini mencoba untuk melihat gambaran mengenai perbandingan pengetahuan, sikap dan perilaku tentang jentik nyamuk demam berdarah dengue pada Dusun Geblakan dan Dusun Ngrame

B. TEMPAT DAN WAKTU Penelitian ini dilakukan di Dusun Geblakan dan Dusun Ngrame di wilayah

Kasihan Bantul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan bahwa pada Dusun Geblakan memiliki jumlah penderita DBD terbanyak pada tahun 2010 dan pada Dusun Ngrame memiliki jumlah penderita DBD terkecil pada tahun 2010. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2011.

C. SUBJEK PENELITIAN 1. Populasi


a. Populasi target : Semua penduduk di Kasihan b. Populasi terjangkau : Dusun Geblakan dan Dusun Ngrame

2.

Sampel Sampel yang didapatkan dalam penelitian ini adalah 30 responden, yang terdiri dari 15 responden dari Dusun Geblakan dan 15 responden dari Dusun Ngrame.

44

D. KRITERIA 1.
a.

Kriteria inklusi Orang yang tinggal di daerah dusun Geblakan dan dusun Ngrame Usia > 17 tahun Bersedia menjadi responden dalam penelitian

b. c.

2.

Kriteria eksklusi

a. Bukan penduduk asli daerah tersebut b. Tidak bisa membaca dan menulis c. Tidak sehat secara mental

E. VARIABEL PENELITIAN
1.

Variabel Tergantung (dependent) : Jentik nyamuk penyebab demam berdarah


2. Variabel bebas (independent )

: Tingkat pengetahuan sikap dan perilaku

45

1. Definisi Operasional

Tabel 1. Definisi operasional Variabel Sub variabel Perilak keluarga a. Pengetahuan terhadap pencegahan penyakit DBD responden terhadap nyamuk berdarah Definisi Operasional Pengetahuan adalah sesuatu yang Alat diketahui Kuesi Hasil Ukur Skala ukur Baik : apabila Ordinal didapatkan 60% - 100% >

keluarga tentang jentik nyamuk demam berdarah oner jentik dan hal-hal yang berhubungan. demam

Kurang : apabila didapatkan 60% <

46

b. Sikap responden Sikap

yang dimaksud dalam penelitian ini Kuesi

Mendukung apabila didapatkan: Nilai

Ordinal

terhadap nyamuk berdarah

jentik penilaian atau pendapat keluarga terhadap jentik oner demam nyamuk penyebab demam berdarah.

Tidak mendukung apabila didapatkan: Nilai c. Perilaku responden terhadap nyamuk berdarah Perilaku yang dimaksud dalam penelitian ini Kuesi adalah bentuk respon atau reaksi terhadap jentik oner jentik nyamuk demam berdarah termasuk didalamnya dan demam adalah perilaku untuk melakukan pencegahan. obser vasi Cukup > 60% Kurang apabila apabila Ordinal

didapatkan : Nilai

didapatkan nilai < 60%

47

F. INSTRUMEN PENELITIAN Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah : a) Senter b) Kuesioner

G. PROSEDUR PENGUMPULAN DATA Penelitian ini akan dilakukan dalam beberapa tahap, meliputi : 1. Tahap Persiapan a. Menetapkan permasalahan b. Memilih lahan penelitian c. Melakukan studi kepustakaan tentang hal yang berkaitan dengan penelitian d. Permohonan ijin penelitian 2. Tahap pelaksanaan a. Mendapatkan informant consent dari responden b. Melakukan pengumpulan data 3. Tahap akhir a. Pengolahan data dan analisa data b. Penyusunan laporan penelitian c. Penyajian hasil penelitian

H. ANALISIS DATA

48

Analisis data dilakukan melalui tahap penyuntingan, memasukan data, dan melakukan analistik statistik. Untuk menganalisa data hasil penelitian digunakan tabel distribusi frekuensi dengan uji statistik lambda dan correlation pada program SPSS. I. KESULITAN PENELITIAN 1. Kurangnya pengetahuan dan kemampuan peneliti dalam hal

penelitian sehingga penelitian ini mempunyai banyak kekurangan baik dari segi metode penelitian, sumber referensi maupun uji statistik yang digunakan.
2.

Kuesioner pengetahuan sikap dan perilaku tentang jentik nyamuk

menggunakan kuesioner yang pernah digunakan sebelumnya oleh peneliti lain tanpa melakukan modifikasi lagi, sehingga tidak dilakukan uji validitas dan reliabilitas lagi.

J. ETIKA PENELITIAN Sebelum melaksanakan kegiatan penelitian terlebih dahulu meminta izin kepada Kepala Dusun masing-masing serta persetujuan dari para subjek penelitian. Selanjutnya memberikan penjelasan langsung kepada para subjek penelitian tentang maksud, tujuan, dan cara pengambilan data, yang mana semua data dan informasi yang diberikan akan dijaga kerahasiaanya dan tidak akan disebarluaskan baik melalui media elektronik maupun media cetak yang dapat diketahui masyarakat. Kemudian memberikan kuesioner untuk diisi oleh responden sekaligus sebagai permintaan izin kepada responden.

49

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2011. Pengambilan data dilakukan dengan memberikan kuesioner kepada responden di Dusun Geblakan dan Dusun Ngerame, kemudian dilakukan observasi ke sekeliling rumah untuk menemukan jentik nyamuk yang ada . 1. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah setiap warga yang berada dalam rumah saat penelitian berlangsung. Jumlah responden adalah 30 responden yang terdiri dari 15 responden dari dusun Geblakan dan 15 responden dari dusun Ngrame. Distribusi dari jenis kelamin dapat dilihat dari tabel berikut : Judul tabel

Keterangan Perempuan Laki-laki

Ngrame n 13 2 % 86 14 n 9 6

Geblakan % 60 40

Dari tabel diatas diketahui bahwa sebagian besar responden adalah wanita yakni 86% responden dari dusun Ngrame dan 60% responden dari dusun Geblakan. Sedangkan responden laki-laki sebesar 14% dari dusun Ngrame dan 40% dari dusun Geblakan. 2. Tingkat Pendidikan Responden
50

Data mengenai tingkat pendidikan responden didapatkan dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. Distribusi dari tingkat pendidikan responden adalah sebagai berikut : Judul tabel

Keterangan Total Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA Akademi/Perguruan Tinggi

Ngrame N % 2 13,3 3 20 7 46,7 3 20 15 100

Geblakan n % 2 13,3 6 40 6 40 1 6.7 15 100

Total 4 9 13 4 30

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan responden tertinggi adalah Tamat SMA yakni, sebesar 7 responden dari dusun Ngrame dan 6 responden dari dusun Geblakan. 3. Tingkat Pekerjaan Responden Data dari tingkat pendidikan responden didapatkan dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. Distribusi dari tingkat pekerjaan responden adalah sebagai berikut : Judul tabel

Keterangan Total Petani/Buruh PNS Pegawai Swasta Ibu Rumah Tangga

N 1 1 5 8 15

Ngrame % 6.7 6.7 3,3 53.3 100

Geblakan n % 6 40 1 6.7 2 13.3 6 40 15 100

Total 7 2 7 14 30

51

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tingkat pekerjaan responden yang tertinggi adalah sebagai Ibu Rumah Tangga yakni, sebesar 8 responden dari dusun Ngrame dan 6 responden dari dusun Geblakan.

4. Pengetahuan tentang Jentik Nyamuk Penyebab Demam Berdarah Data dari tingkat pengetahuan responden tentang Jentik Nyamuk Penyebab Demam Berdarah didapatkan dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. Tingkat pengetahuan responden terhadap Jentik Nyamuk Penyebab Demam Berdarah adalah sebagai berikut : Judul tabel

Keterangan ? Tingkat pengetahuan - Cukup - Kurang Total

Ngrame N % 15 100 0 0 15 100

Geblakan n % 13 86.7 2 13.3 15 100

Total 28 2 30

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa 15 responden dari dusun Ngrame memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan 13 dari 15 responden di dusun Geblakan memiliki tingkat pengetahuan yang cukup.

5. Sikap terhadap Jentik Nyamuk Penyebab Demam Berdarah Data dari sikap terhadap Jentik Nyamuk penyebab Demam Berdarah didapatkan dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. Sikap responden terhadap jentik nyamuk demam berdarah adalah sebagai berikut :

52

Keterangan - Cukup - Kurang Total

Ngrame N % 15 100 0 0 15 100

Geblakan n % 5 33.3 10 66.7 15 100

Total 20 10 30

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa seluruh responden dari dusun Ngrame (15 responden/100%) memiliki sikap yang cukup baik. Sedangkan responden dari dusun Geblakan, sebanyak 5 responden (33,3%) memiliki sikap yang cukup, sedangkan sebanyak 10 responden (66,7%) memiliki sikap yang kurang.

6. Perilaku terhadap jentik nyamuk penyebab demam berdarah Data dari Perilaku responden terhadap jentik nyamuk penyebab demam berdarah didapatkan dri kuesioner yang telah diisi oleh responden dan observasi yang dilakukan oleh peneliti sebagai cross-check ulang. Perilaku terhadap jentik nyamuk demam berdarah dapat dilihat dari tabel berikut : Judul tabel

Keterangan ? Tingkat perilaku - Cukup - Kurang Total

Ngrame N % 15 100 0 0 15 100

Geblakan n % 5 33.3 10 66.7 15 100

Total 20 10 30 (15

Dari tabel diatas didapatkan seluruh responden dari dusun Ngrame

responden) memiliki perilaku yang cukup baik. Sedangkan dari dusun Geblakan,

53

sebanyak 5 responden (33,3%) memiliki perilaku yang cukup dan 10 responden (66,7%) memiliki perilaku yang kurang. Jelaskan dengan gambar piecard, pengetahuan, sikap atau perilaku apasaja yang kurang yang terdapat pada kuesioner tsb
7. Observasi Jentik Nyamuk di Dusun Geblakan dan Dusun Ngrame

Data dari hasil jentik nyamuk di kedua Dusun baik dari dusun Geblakan dan Dusun Ngrame didapatkan dari observasi yang dilakukan langsung oleh peneliti ke setiap rumah responden. Hasil observasi jentik nyamuk di setiap rumah responden adalah sebagai berikut: Judul tabel

Keterangan ? Keberadaan jentik nyamuk - Ada - Tidak Ada Total

Ngrame N % 0 0 15 100 15 100

Geblakan n % 10 66.7 5 33.3 15 100

Total 10 20 30

Dari tabel diatas didapatkan seluruh rumah yang menjadi responden (15 rumah ) dari dusun Ngrame tidak didapatkan adanya jentik nyamuk baik dari tempat penampungan air yang ada didalam rumah maupun yang ada diluar rumah. Sedangkan hasil observasi yang dilakukan di Dusun Geblakan didapatkan bahwa 5 rumah yang menjadi responden tidak didapatkan jentik nyamuk, dan 10 rumah didapatkan jentik nyamuk. Rata-rata jentik nyamuk didapatkan di bak mandi, baik yang ada didalam rumah maupun di luar rumah.

8. Frekuensi membersihkan Bak Mandi dalam satu Minggu


54

Data tentang frekuensi membersihkan bak mandi dalam waktu satu minggu didapatkan dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. Frekuensi tersebut dapat dilihat dari tabel berikut :

Judul tabel

Keterangan ? - >2x - 2x Total

N 15 0 15

Ngrame % 100 0 100

Geblakan n % 5 33.3 10 66.7 15 100

Total 20 10 30

Dari tabel diatas didapatkan frekuensi warga dusun Ngrame membersihkan Bak Mandi mereka >2x seminggu sebanyak 15 responden (100%). Sedangkan frekuensi membersihkan bak mandi pada warga di dusun Geblakan yakni, sebanyak 5 responden (33.3%) membersihkan 2x/minggu dan sebanyak 10 responden (66.7%) membersihkan >2 x/minggu.

9. Penggunaan Bubuk Abate Data tentang penggunaan bubuk abate didapatkan dari kuesioner yang telah diisi oleh responden. Hasil data penggunaan bubuk abate tersebut dapat dilihat sebagai berikut : Judul tabel

Keterangan ?

Ngrame

Geblakan

Total
55

- Iya ?

- Tidak Total

N 0 15 15

% 0 100 100

n 2 13 15

% 13.3 86.7 100

28 2 30

Dari tabel diatas didapatkan dari seluruh responden hanya 2 responden yang menggunakan bubuk abate (13.3%).

10. Hubungan antara Pengetahuan, Sikap dan Perilaku terhadap Jentik Nyamuk penyebab Demam Berdarah Hubungan antara Pengetahuan terhadap jentik nyamuk Hasil analisis dengan menggunakan uji lambda menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara pengetahuan tentang jentik nyamuk penyebab demam berdarah terhadap adanya jentik nyamuk (p> 0,05) Hubungan antara Sikap terhadap Jentik Nyamuk Hasil analisis dengan menggunakan uji lambda menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara sikap responden terhadap adanya jentik nyamuk (p<0,05) Hubungan antara Perilaku terhadap Jentik Nyamuk Hasil analisis dengan menggunakan uji lambda menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku responden terhadap adanya jentik nyamuk (p<0,05)

B. PEMBAHASAN Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui ada tidaknya hubungan antara Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku (PSP) tentang Demam Berdarah Dengue masyarakat

56

dengan ada tidaknya jentik nyamuk dalam penampungan air yang terdapat di rumahnya. Data yang digunakan diambil dari masyarakat warga dukuh Ngrame dan Geblakan kecamatan Kasihan yang pada penelitian sebelumnya diketahui penderita DBD tertinggi dan terendah di tahun 2010. Sampel dipilih secara random dari beberapa RT yang terletak dalam kedua pedukuhan tersebut. Dari masing-masing RT diambil sample beberapa keluarga yang memenuhi criteria inklusi yang dibuat dalam penelitian ini yaitu orang yang tinggal didaerah dusun Ngrame dan dusun Geblakan, dengan usia lebih dari 17 tahun, dan bersedia menjadi responden dalam penelitian ini. Sedangkan criteria eksklusi dalam penelitian ini adalah orang-orang yang bukan merupakan penduduk asli daerah tersebut, tidak bisa membaca dan menulis, dan tidak sehat secara mental. Penelitian dilakukan dengan cara meninjau langsung keadaan rumah tersebut dan melakukan pencarian untuk mengetahui ada tidaknya jentik nyamuk di bak mandi dan tempat-tempat penampungan air lain yang terdapat dalam rumah tersebut. Selain itu, penelitian juga dilakukan dengan memberikan kuisioner yang berisi daftar pertanyaan untuk dapat menilai pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue dan jentik nyamuk. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu penyakit menular yang sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menimbulkan dampak sosial dan ekonomi serta berkaitan dengan perilaku manusia. Kerugian sosial yang terjadi antara lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian anggota keluarga dan berkurangnya usia harapan hidup penduduk (Depkes RI, 2006). Penyakit DBD disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes

57

aegypty, muncul pertama kali pada tahun 1951 di Filipina dan selanjutnya menyebar ke berbagai negara di dunia termasuk di Indonesia. Di Indonesia penyakit DBD ini pertama kali ditemukan di Surabaya dan DKI Jakarta pada tahun 1986, kemudian menyebar ke berbagai daerah dengan jumlah kasus kematian yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Keadaan ini erat kaitannya dengan peningkatan mobilitas penduduk sejalan dengan semakin lancarnya hubungan transportasi serta tersebar luasnya virus dengue dan nyamuk penularnya di berbagai wilayah di Indonesia.1 Pada penelitian memperlihatkan bahwa pendidikan kesehatan berpengaruh positif terhadap perilaku aktif pada ibu-ibu terhadap pencegahan DBD.3 Penelitian Rumondang (2008) juga memperlihatkan bahwa metode ceramah dan film lebih berpengaruh terhadap peningkatan dan pengetahuan pada dokter kecil dalam pemberantasan sarang nyamuk DBD daripada metode ceramah dan leaflet. Penyuluhan DBD berkaitan erat dengan peran serta masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan DBD. Masyarakat seharusnya memahami bahwa PSN-DBD adalah cara yang paling utama, efektif dan sederhana. Kegiatan ini harus didukung oleh peran serta masyarakat secara terus menerus dan berkesinambungan mengingat nyamuk ini telah tersebar luas di seluruh tempat, baik di rumah-rumah, sekolah dan tempat-tempat umum. Upaya untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD yang paling penting adalah dengan mengendalikan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama. Oleh karena nyamuk tersebut hidup di dalam dan sekitar rumah penduduk, maka partisipasi masyarakat dalam upaya pengendalian vektor Aedes aegypti sangat menentukan keberhasilannya. Cara pencegahan yang disarankan kepada masyarakat adalah program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan cara fisik maupun kimia. 3

58

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Respon atau reaksi manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi dan sikap), maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata atau praktis). Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan lainnya. 6 Dari penelitian yang dilakukan pada kedua dusun tersebut, diketahui bahwa tingkat pengetahuan masyarakat tentang Demam Berdarah tidak berpengaruh terhadap ada tidaknya jentik nyamuk di bak mandi dan tempat-tempat penampungan air di rumah mereka. Yang berpengaruh terhadap hal tersebut adalah justru mengenai sikap dan perilaku warga terhadap Demam Berdarah. Hal ini dapat diketahui dari tetap masih adanya masyaralat yang belum melakukan tindakan yang tepat untuk menanggulangi Demam Berdarah Dengue walaupun telah memiliki pengetahuan yang cukup. Faktor lain yang mungkin mempengaruhi masih adanya jentik nyamuk di rumah warga walaupun telah memiliki pengetahuan yang cukup, mungkin dikarenakan kurangnya sosialisasi mengenai cara melakukan program 3M yang baik. Warga telah mengetahui apa saja itu 3M namun dalam pelaksanaannya masih ada warga yang belum memahami dengan benar bagaimana melakukan 3M tersebut. Selain itu, yang kurang dipahami warga adalah mengenai manfaat dan penggunaan bubuk abate serta cara mendapatkannya. Dalam hal ini, mungkin warga terbentur pada masalah ekonomi sehingga mendapatkan bubuk abate menjadi prioritas kesekian dibandingkan dengan kebutuhannya yang lain. Selain itu mengenai bubuk abate, permasalahan yang timbul mengenai bubuk abate adalah masalah

59

distribusinya. Pada salah satu daerah pernah mendapatkan bubuk abate yang dibagikan secara cuma-cuma, namun tidak semuanya diterima secara merata oleh warga karena pada perangkat dukuh kurang mensosialisasikannya kepada warga sehingga banyak warga yang tidak tahu.9 Selain itu dapat dilihat juga, perbandingan pengetahuan DBD pada kedua pedukuhan dapat dianggap sama, namun pada dukuh Ngrame, keseluruhan sample yang diambil ternyata terbukti tidak memiliki jentik nyamuk di tempat-tempat penampungan airnya walaupun tidak menggunakan bubuk abate. Hal ini didukung dengan sikap dan perilaku masyarakatnya yang baik seperti misalnya kebiasaan menguras bak mandi dan tempat-tempat penampungan airnya minimal 2 kali seminggu. Sementara pada daerah Geblakan, di beberapa rumah sample didapatkan adanya jentik nyamuk walaupun ada penggunaan bubuk abate pada daerah tersebut. Hal ini disebabkan karena perilaku masyarakatnya yang masih kurang baik mengenai upaya menjaga kebersihan dan perilaku untuk menjaga penampungan airnya agar tetap bersih. Oleh karena itu diperlukan peran serta lebih lanjut untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya upaya menjaga kebersihan lingkungan dan terutama tempat-tempat penampungan air.

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH Dalam menanggulangi penyakit DBD ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan penyakit DBD dengan memutus mata rantai penularannya dengan pemberantasan vektor penyakit demam berdarah dengue. Namun yang terdepan dan

60

strategis dalam pelaksanaan pencegahan DBD ini adalah perilaku keluarga dalam memutuskan mata rantai penularan penyakit DBD di lingkungannya. 1

Perilaku keluarga yang dimaksud dalam pencegahan penyakit DBD adalah keterlibatan tanggung jawab mental dan emosional. Keterlibatan tanggung jawab meliputi penyediaan sarana kesehatan lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan misalnya penyediaan tong sampah, pengelolaan sarana yang diadakan agar tetap terjamin dan terpelihara sehingga tidak menjadi perindukan vektor penyakit DBD misalnya memelihara parit dengan tidak membuang sampah kedalamnya, pemantauan dan pengawasan lingkungan rumah tangga dan halaman erat kaitannya dalam pencegahan penyakit DBD. Keterlibatan emosional menyangkut berbagai anjurananjuran kepada anggota keluarga dengan berbuat sesuatu dalam kaitannya dengan penyediaan sarana dan upaya pemberantasan penyakit DBD (, 2005). Menurut Maironah (2005), dalam melakukan pencegahan penyakit DBD ini keluarga perlu melakukan beberapa metode yang tepat yaitu: a. Lingkungan Menurut Maironah (2005) Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk, sebagai contoh keluarga dapat melakukan: 1) Menguras bak mandi/penampungan air satu kali seminggu. 2) Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minuman burungseminggu sekali. 3) Menutup rapat tempat penampungan air.

61

4) Mengubur kaleng bekas, botol-botol, ban, pelastik, kulit kerang, bekas pembungkus makanan yang ada disekitar rumah. b. Biologi Pencegahan penyakit DBD secara biologi antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik jika mempunyai kolam di sekitar rumah. c. Kimiawi Cara pencegahan menurut Depkes 1, antara lain: 1) Pengasapan/fogging berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu. 2) Memberikan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan seperti gentong air, bak mandi, vas bunga, dan kolam sesuai dengan dosis/takaran yaitu 1 gram bubuk abate untuk 10 liter air. 3) Cara lain yang dapat dianjurkan kepada masing-masing keluarga, misalnya: (a) Pakaian sebagai pelindung dapat mengurangi resiko gigitan nyamuk jika pakaian cukup tebal atau longgar dan gunakanlah baju lengan panjang dan celana panjang. (b) Menggunakan racun nyamuk baik obat nyamuk bakar, gosok, maupun yang semprot. (c) Menghindari tidur siang, terutama di pagi hari antara jam 9-10 atau sore hari sekitar jam 3-5, karena nyamuk aedes aegepty mempunyai kebiasaan menggigit pada pada jam-jam tersebut. (d) Menggunakan kelambu saat tidur atau gunakan kipas angin di kamar tidur karena nyamuk pada umumnya tidak suka dilingkungan berangin.

62

(e) Menyingkirkan pakaian-pakaian yang tergantung di balik pintu di dalam kamar, karena nyamuk aedes aegepty senang berada ditempat gelap dan istirahat di pakaian yang bergantungan.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa cara yang paling efektif yang dapat dianjurkan kepada warga sekitar dalam pencegahan penyakit DBD adalah dengan 3M, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa cara pencegahan yang lain seperti memelihara ikan pemakan jentik, memberikan bubuk abate, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kelambu, menyemprot dengan insektisida, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala, dan lain-lain sesuai dengan kondisi setempat.

63

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa : 1. Tidak ada hubungan antara pengetahuan tentang jentik nyamuk penyebab demam berdarah dengan terhadap adanya jentik nyamuk demam berdarah 2. Adanya hubungan antara sikap dan perilaku terhadap adanya jentik nyamuk demam berdarah. 3. Tingkat Pengetahuan, sikap dan perilaku tentang jentik nyamuk demam berdarah di Dusun

B. SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, maka saran yang dapat diberikan adalah :
1. Semoga

dapat diberikan edukasi lebih lanjut kepada warga

masyarakat mengenai sikap dan perilaku untuk menanggulangi Demam Berdarah Dengue.?
64

2. Agar

dapat

diberikan serta

sosialisasi

lebih

lanjut

mengenai abate

cara dalam

penggunaan

manfaat

penggunaan

bubuk

menanggulangi Demam Berdarah Dengue.? Edukasi apa saja ? kurang fokus. Ambil dari kuesioner pengetahuan, sikap dan perilaku apasaj yang kurang

DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan RI. Perkembangan Kasus Demam Berdarah di Indonesia.

http://www.depkes.go.id. 10 Juni 2008. Dinas Kesehatan Kota Medan, Laporan Evaluasi Program Demam Berdarah di kota Medan tahun 2007.Seksi Pemberantasan Penakit Menular, Dinkes, Medan, 2008.
2. Indrawan. Mengenal dan Mencegah Demam Berdarah. Pioner Jaya, Bandung, 2001. World

Health Organisation. Demam Berdarah Dengue, Diagnosis, Pengobatan, Pencegahan, dan Pengendalian. Alih Bahasa oleh Monica Ester. Ed.2. Jakarta : EGC, 1999.
3. Sumarmo. Demam Berdarah (Dengue) pada Anak. UI Press, Jakarta, 2005. 4. Soegeng, S. Demam Berdarah Dengue, Arilangga University Press, Surabaya, 2003. 5. Departemen Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah.

Direktorat Jenderal. PPM & PLP, buku paket B. Jakarta, 1995.

65

6. World Healt Organisation. Insect and Rodent Control Through Environmental Management.

WHO, Genewa, 1992.


7. Departemen Kesehatan RI. Modul Latihan Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam

Berdarah Dengue (PSN DBD). Direktorat Jenderal PPM & PLP, Jakarta ,1996/1997.
8. Suroso T. Dkk. Penyakit Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue. Terjemahan dari

WHO Regional SEARO No. 29 Prevention Control of Dengue and Dengue Haemoragic Fever. WHO dan Depkes. RI. Jakarta, 2000.
9. Sigit, dkk. Hama Permukiman Indonesia Pengenalan, Biologi & Pengendalian, Institut

Pertanian Bogor, 2006.


10. Angarini, S. Penyajian Data Statistik, Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas

Indonesia, Jakarta, 1998.


11. Lee Hill, 1990. Breeding and Factors Affecting Breeding of Larvae in Peninsular Malaysia,

Malaysia : Journal of Bio, Vol 11.


12. World Health Organisation. Manual on Environmental Management for Mosquito Control,

UN, New York, 1988.


13. Departemen Kesehatan. RI. Survey Entomologi Demam Berdarah Dengue. Depkes. RI,

Jakarta 1990.
14. Sumadji. Kesukaan Nyamuk Aedes aegypti pada berbagai Tempat Penampungan air Sesuai

dengan Jenis Bahannya Sebagai Tempat Perindukan. Berita Epidemiologi ISSN 01236 0882, Jakarta 1998.
15. Chapman. R.F, The Insect Structure and Functiona, Elsever, New York,1989. 16. Marston B. The Natural History Of Mosquitos. The Mac Mollon Co. New York, 1949. 17. Nelson and Pnat, Observation on The Breeding Habitat of Aedes aegypti in Jakarta, New

York : Who Vector and Rodent Control Research Unix Vo. 7 No. 3.

66

18. Departemen. Kesehatan. RI. Pendidikan dan Latihan Pemberantasan Sarang Nyamuk

Demam Berdarah Dengue. Direktorat Jenderal PPM & PLP Jakarta 1998.
19. Departmen Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Pemberantasan Penyakit MenularDemam

Berdarah Dengue. Direktorar Jenderal PLP & PPM, Jakarta, 1992.


20. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Departemen Kesehatan RI. Pemberantasan Penyakit

Demam Berdarah. Litbang., Depkes., Jakarta 1992.


21. Departemen Kesehatan RI. Menggerakkan Masyarakat dalam Pemberantasan Sarang

Nyamuk Demam Berdarah. Depkes, Jakarta 1996.


22. World

Health

Organisation.

Demam

Berdarah

Dengue,

Diagnosis,

Pengobatan,

Pencegahan, dan Pengendalian. Depkes. RI, Jakarta, 1999.


23. Machfoedz, I. Pendidikan Kesehatan bagian dari Promosi Kesehatan. Fitramaya, Jakarta,

2003.
24. Notoatmodjo, S. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan.Rineka Cipta, Jakarta 2003. 25. Notoatmodjo, S. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Rineka Cipta. Jakarta, 1997. 26. Notoatmodjo, S. Pengantar Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku Kesehatan. Andi

offset,Yogyakarta, 1993.
27. Sudigdo, S. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Binarupa Aksara, Jakarta, 1995. 28. Lameshow, S, et.al. Adequacy of Sample Size in Health Studies.World Health Organisation,

Antony Row Ltd. Great Britain 1990.


29. Budiyanto, A. Studi Indeks Larva dan Hubungannya Dengan PSP Masyarakat tentang DBD

di Kota Palembang Tahun 2005 http://www.Litbangdepkes.go.id/lokbaturaja/dwnload/artikel %20%kontainer%20%202005 diakses 12 Oktober 2011.


30. Duma, N., dkk. Analisis Faktor Yang Berhubungan dengan Kejadian DBD di Kota Kendari

2007. Analisis, Sept. 2007, Vol. 4 No. 2 : 91 100.ISSN : 0852-8144.

67

31. Stanislaus,S. Pedoman Analisis Data dengan SPSS. Graha Ilmu, Yogyakarta, 2006. 32. Budioro, B. Pengantar Pendidikan (Penyuluhan) Kesehatan Masyarakat. BP Undip,

Semarang, 1998.
33. Notoatmodjo, S. Pendidikan dan Latihan. BP FKM UI, Jakarta, 1989. 34. Green, L.W & Kreuter, M.W. Health Promotion Planning, An Education and

Environmental Approach. Second Ed. May Field Publishing Co., 1991.


35. Fathi, dkk. Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku terhadap Penularan DBD di Kota

Mataram. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 2, No. 1, Juli 2005.


36. Ancok, D. Teknik Penyusunan Skala Pengukuran. Puslitduk, Gadjah Mada University press.,

Yogyakarta, 1985.
37. Yudhastuti, R. Hubungan Kondisi Lingkungan, Kontainer dan Perilaku Masyarakat dengan

Keberadaan Jentik Aedes di daerah Endemis DBD di Surabaya. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 1, No. 2, Januari 2005.
38. Sumekar, DW. Faktor faktor yang Berhubungan dengan Keberadaan Jentik Aedes.
http://www.lemlit.unila.ac.id/file/%20baru%202007/buku%20%/hal.367-512pdf. 2008.

39. Departemen Kesehatan RI. Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah

Denge dan Demam Berdarah. Direktorat Jenderal PPM dan PL Depkes RI, Jakarta, 2001.
40. Arifin, S. Metroseksual. http://www.metroseksual/artikel.htm. 2008. 41. Basuki, B. Aplikasi Metode Kasus Kontrol. Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas

Kedokteran UI, Jakarta, 1999.


42. Gochman, D.S. Healt Behaviour. Emerging Research Perspective. Plenum Press, New York

and London, 1988.


43. Glanz, K.,et al. Health Behaviour and Health Education. Jossey Bass Publisher, San

Fransisco and Oxford, 1990.

68

69