Anda di halaman 1dari 6

KEBIJAKAN OBAT DI RUMAH SAKIT Kebijakan obat di rumah sakit dibuat, agar dengan biaya yang kurang memadai

tetapi mutu pelayanan farmasi masih dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan. Masalah pokok yang dihadapi rumah sakit pemerintah dalam peleyanan farmasi : Pelaksanaan penggunaan obat generik kurang lancar penyediaan, distribusi, dan jenis obat, serta sering beredar obat generic tidak berlogo Penggunaan antibiotika yang menduduki urutan pertama Tewrbatasnya dana operasional pengadaan obat-obatan Belum terpenuhinya kebijakan pengelolaan obat system satu pintu Kurangnya pendelegasian wewenang Kurangnya manajer yang kompenten Tidak tersedianya anggaran pemeliharaan gedung dan peralatan Meninggkatnya tuntutan masyarakat akan pelayanan yang bermutu Meningkatnya harga obat, barang habis pakai, dan peralatan kedokteran

Menurut Direktur Jenderal POM (1999) , Tujuan Umum Kebijakan Obat Nasional (KONAS), antala lain : Menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat yang dibutuhkan seruh penduduk Menjamin keamanan, khsiat, mutu, dan keabsahan obat yang beredar Meningkatkan kerasionalan penggunaan obat dan mengoptimalkan efektivitas biaya obat Melindungi masyarakat dari penyalahgunaan dan kesalahgunaan obat Meningkatkan peran industri farmasi nasional dan penyediaan obat

Sistem Kesehatan Nasioal 2004 (SKN 2004), didalamnya terdapat 6 sub sistem : 1. Subsistem Upaya Kesehatan 2. Subsistem Pembiayaan Kesehatan 3. Subsistem Sumberdaya Manusia Kesehatan 4. Subsistem Obat dan Perbekalan Kesehatan

5. Subsistem Pemberdayaan Masyarakat 6. Subsistem Manajemen Kesehatan 3 unsur utama dalam Subsistem Obat dan Perbekalan Kesehatan : Jaminan ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan, adalah upaya pemenuhan kebutuhan obatdan perbekalan kesehatan sesuai dengan jenis dan jumlah yang dibutuhkan oleh masyarakat Jaminan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan, adalah upaya penyebaran ob at dan perbekalan kesehatan secara merata dan berkkesinambungan sehingga mudah diperolehdan terjangkau oleh masyarakat Jaminan mutu obat dan perbekalan kesehatan, adalah upaya menjamin khasiat, keamanan, serta keabsahan obat danperbekalan kesehatan sejak dari produksi hingga pemanfaatanya. Ketiganya sangat bersinargi dan ditunjang dengan teknologi, tenaga pengelola serta penatalaksanaan obat dan perbekalan kesehatan

Yang dimaksud Pelayanan Farmasi Klinik, antara lain : 1. Melakukan konseling 2. Monitoring efek samping obat 3. Pencampuran obat suntik secara aseptis 4. Menganalisa efektivitas biaya 5. Penentuan kadar obat dalam darah 6. Penanganan obat sitostatika 7. Penyiapan total parenteral nutrisi 8. Pemantauan penggunaan obat 9. Pengkajian penggunaan obat

Kebijakan obata yang harus dibuat di rumah sakit meliputi : Pengobatan yang rasional Penggunaan antibiotik

Pengelolaan sampah medis, bekas alat infus/suntik dan sampah obat sitostatika dan radioaktif Pendidikan dan pelatihan bagi siswa dan mahasiswa (bagi RS pendidikan)

Peresepan di rumah sakit dapat berupa : Verbal orders, digunakan dalam emergency yaitu ketika tidak cukup waktu untuk menulis resep atau bila dokter sedang menangani pasien, segera setelah keadaan memungkinkan maka resep ditulis Phone orders, dilakukan dokter kepada perawat atau farmasis melalui telepon, diminakan pula resep tertulis ketika dokter visit berikutnya. Keduanya dicatat dengan kode V.O dan P.O Standing orders, pesan dokter yang dilakukan sebelum menangani pasien sampai perintah pembatalan Written orders, peresepan dengan ditulis oleh dokter atau perawat dan diparaf (sign) pada waktu yang sama Logistik di intalasi farmasi adalah perbekalan farmasi, merupakan sediaan farmasi yang terdiri dari obat, bahan obat, obat tradisional, alat kesehatan, reagensia, bahan kimika, kosmetik, dan gas medis, serta semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan

Siklus manajemen obat : Selection : proses ini akan menjawab obat atau perbekalan farmasi apa yang harus ada di rumah sakit Procurement : proses ini menjawab berapa yang diadakan/dibeli, seperti metode kuantititas, pendekatan efisiansi, pendanaan, termasuk kegiatan produksi skala kecil Distribution : bagaimana gudang dibangun, bagaimana penataan perbekalan farmasi, bagaimana penyaluran obat pada pasien rawat jalan dan pada pasien rawat inap Use : bagaimana obat digunakana secara rasional, peningkatan peresepan yang rasional, jaminan dispensing yang baik Pemilihan obat atau kegiatan seleksi mempunyai criteria, msal yang ditetapkan oleh WHO ebagai kriteria obat esensial nasional, yang biasanya diadopsi dan dimodifikasi dengan kondisi negara besangkutan, adalah

Relevansi dengan pola penyakit Efektifitas dan keamanan Data-data penggunaan dalam bebagai setting Bermutu, termasuk bioavaibilitas dan stabilitas Harga murah (total biaya pengobatan) Obat sudah dikenal (sifat farmakokinetik dan sudah diproduksi di dalam negeri) Sediaan tunggal

FORMULARIUM RUMAH SAKIT Beberapa istilah : Obat Esensial, obat yang paling dibuthkan untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. DOEN (Daftar Obat Esensial Nasional) yang terakhir adalah edisi 2005 Obat Generik, adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia dan I.N.N (International Non Propietary Names) dari WHO untuk zat berkhasiat yang dikandungnya Obat Paten, obat dengan nama dagang dan menggunakan nama yang merupakan milik produsen obat yang bersangkutan Komite Farmasi dan Terapi (Panitia Farmasi dan Terapi), suatu tim yang beranggotakan para dokter dan apoteker yang bekerja di rumah sakit yang berfungsi dalam membantu pimpinan rumah sakit untuk menentukan kebijaksanaan penggunaan obat obat dan pengobatan Formularioum Rumah Sakit, daftar obat baku yang dipakai oleh rumah sakit yang dipilih secara rasional dan dilengkapi penjelasan, sehingga merupakan informasi obat yang lengkap untuk pelayanan medik rumah sakit, terdiri dari obat-obatan yang tercantum dalm DOEN dan beberapa jenis obat yang sangat diperlukan oleh rumah sakit serta ditinjau kembali sesuai dengan perkembangan bidang kefarmasian dan terapi serta keperluan rumah sakit yang diperlukan

Tugas Panitia Farmasi dan Terapi : Memberikan rekomandasi dalam pemilihan penggunaan obat-obatan

Menyusun Formularium yang menjdi dasar dalam penggunaan onat-obatn di rumah sakit dan apabila perlu dapat diadakan perubahan secara berkala Menyusun Standar Terapi bersama-sama dengan staf medic Melaksanakan evaluasi penulisan resep dan penggunaan obat generik bersana-sama dengan Instalasi Farmasi Rumah Sakit

Isi Formularium : Informasi tentang obat-obatan yang telah disetujui pengunaannya oleh PFT Informasi pengobatan dasar dari setiap obat yang telah disetujui (dosis, indikasi, kontraindikasi, dan perhatian) Informasi tentang kebjaksanaan dan rosedur rumah sakit yang mengatur penggunaan obat-obatan Informasi yang khusus seperti misalnya peraturan tentang dosis obat, singkatansingkatan yang biasa digunakan di rumah sakit

Penggunaan antibiotika yang tidak rasional dapat menimbulkan dampak merugikan : Efektifitas rendah Timbulnya toksisitas yang tidak perlu Mempercepat timblnya resistensi Menuingkatnya biaya pengobatan

Penggunaan antibiotika dibagi atas 3 kategori : Kategori I : antibiotika yang penggunaanya tidak dibatasi (unristricted) Antibiotik golongan ini sudah terbukti efektif, aman, dan relative murah, dalam arti bahwa : a. Telah digunakan secara umum sejak waktu yang ama sehingga keamanan dan efektifitasnya telah dipahami b. Tidak banyak menimbulkan kekebalan akibat penggunaannya c. Antibiotik tersebut relative murah Kategori II : antibiotika yang penggunaanya dibatasi (restricted) Antibiotik yang termasuk kategori ini adalah antibiotik yang penggunaannya memerlukan pertimbangan dalam hal keamanan, harga dan timbulnya bahaya kekebalan kuman, sehingga dalam penggunaannya memerlukan pembatasan

Kategori III : antibiotika yang tidak digunakan (excludted) Antibiotik yang termasuk kategori ini adalah : a. Yang belum terbukti lebih baik dari antibiotik yang ditetapkan diatas b. Yang merupakan kembarannya c. Yang baru