Anda di halaman 1dari 13

KECERDASAN EMOSIONAL I. PENDAHULUAN Setiap manusia mempunyai kemampuan untuk mempelajari berbagai macam hal.

Kemampuan yang memungkinkan manusia melakukan hal tersebut adalah karena manusia memiliki kecerdasan. Kecerdasan dalam arti umum merupakan suatu kemampuan yang di miliki seseorang dalam memahami dan menyadari terhadap apa yang dialaminya baik melalui pikiran,perkataan, dan perbuatan Kecerdasan atau kemampuan manusia sebenarnya sangat beragam.

Secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu Kecerdasan Emosional (Emotional Quotient), Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotient) dan Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient). Kebanyakan masyarakat, seringkali hanya mengukur kemampuan manusia dari segi kognitif semata, yaitu hal-hal yang dapat diukur dengan angka. Contohnya adalah ketika masa sekolah banyak orang yang dianggap cerdas bila memiliki nilai rapor yang gemilang. Kecerdasan yang berhubungan dengan kognitif inilah yang kita sebut dengan Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotient). Lebih sempit lagi, pada usia dini kecerdasan hanya diukur dari kelancaran baca-tulis, kelancaran berbicara dan berhitung.. Selama ini banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih kesuksesan dalam belajar dan bekerja diperlukan Kecerdasan Intelektual (IQ) yang juga tinggi. Namun, menurut hasil penelitian terbaru dibidang psikologi membuktikan bahwa IQ bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi prestasi seseorang, tetapi ada banyak faktor lain yang mempengaruhi salah satunya adalah kecerdasan emosional (emotional quotient).Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain. Kecerdasan emosional sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Untuk mencapai kesuksesan tersebut seseorang tidak terlepas dari pergaulannya dengan orang lain, oleh karena itu diperlukan keseimbangan antara kemampuan

intelektual

dan

kemampuan

mengenali

emosi

yang

dapat

membantu

perkembangan intelektual dan emosi seseorang menjadi lebih baik agar dapat meraih sukses baik dalam pekerjaan maupun dalam pergaulan sehari-hari II. DEFINISI

1. Pengertian emosi Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995 Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta). Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu: a. Amarah b. Kesedihan : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi diri, putus asa c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
2

d. Kenikmatan

: bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga

e. Cinta

: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih

f. Terkejut g. Jengkel h. malu

: terkesiap, terkejut : hina, jijik, muak, mual, tidak suka : malu hati, kesal

Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi) Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gayagaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya 2. Pengertian kecerdasan emosional Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari

University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai : himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. (Shapiro, 1998:8)

Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10) Sebuah model pelopor lain yentang kecerdasan emosional diajukan oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tututan dan tekanan lingkungan (Goleman, 2000 :180) Gardner dalam bukunya yang berjudul Frame Of Mind (Goleman, 2000 : 50-53) mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik,

matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai kecerdasan emosional

Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif. Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi itu mencakup kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain. Dalam kecerdasan antar pribadi yang merupakan kunci menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan akses menuju perasaan-perasaan diri seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut, Salove memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal untuk dijadikan sebagai dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial

III.

KOMPONEN KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) Goleman mengutip Salovey (2002:58-59) menempatkan menempatkan

kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya dan memperluas kemampuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu : a. Mengenali Emosi Diri Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 64) kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi b. Mengelola Emosi Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani

perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita (Goleman, 2002 : 77-78). Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau

ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan c. Memotivasi Diri Sendiri Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan

mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri d. Mengenali Emosi Orang Lain Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman (2002 :57) kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain. Rosenthal dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih mampu menyesuiakan diri secara emosional, lebih populer, lebih mudah beraul, dan lebih peka (Goleman, 2002 : 136). Nowicki, ahli psikologi menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi dengan baik akan terus menerus merasa frustasi (Goleman, 2002 : 172). Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain. e. Membina Hubungan Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi (Goleman, 2002 : 59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain. Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena
7

kemampuannya berkomunikasi (Goleman, 2002 :59). Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan dengan orang lain. Sejauhmana kepribadian siswa berkembang dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya. Komponen-komponen utama dan prinsip-prinsip dasar dari kecerdasan emosional sebagai faktor untuk mengembangkan instrumen kecerdasan emosional

IV.

MENGUKUR KECERDASAN EMOSIONAL Bila kita berbicara mengenai pengukuran kecerdasan emosional

(Emotional Quotient), kita merujuk pada skala, seperti Mayer, Salovey, Caruso Emotional Intelligence atau MSCEIT, Penilaian eqi BarOn, tes kecerdasan emosional umum atau GEIS. Terdapat beberapa macam skala yang ada, sama seperti pada pengukuran kecerdasan intelektual Mayer-Salovey-caruso Emotional Intelligence Test (MSCEIT)

Mayer-Salovey-caruso Emotional Intelligence Test (MSCEIT) adalah sebuah tes kemampuan yang didesain untuk mengukur keempat cabang dari model kecerdasan emosional mayer dan salovey Tes ini bisa dilakukan pada umur 17 tahun keatas. Biasanya tes ini memakan waktu 30-45 menit. MSCEIT bisa digunakan pada perusahaan, instansi pendidikan dan penelitian. Tes ini ideal dalam menilai individu dalam hal pelatihan dan pengembangan, perkembangan karir dan perkembangan tim. Empat cabang dari kecerdasan emosional Mayer dan Salovey : 1. Mengenali emosi : kemampuan untuk mengenali emosi pada diri sendiri dan orang lain serta pada benda, seni, cerita, music dan sebagainya 2. Memfasilitasi pemikiran : kemampuan untuk mengembangkan,

menggunakan dan merasakan emosi yang diperlukan untuk menyampaikan perasaan dan menggunakannya untuk proses kognitif lainnya.
8

3. Mengerti emosi : kemampuan untuk mengerti emosi, untuk mengerti bagaimana emosi bisa menyatu dan berkembang melalui transisi hubungan, dan untuk menghargai makna emosional seperti itu. 4. Mengelola emosi : kemampuan untuk membuka perasaan dan untuk mengaturnya dalam diri sendiri dan orang lain sehingga meningkatkan pertumbuhan dan pengertian personal.

Emotional Quotient-Inventory (EQ-i Emotional Quotient Inventory (EQ-I) adalah penilaian kecerdasan

emosional pertama di dunia yang telah terbukti secara ilmiah dan palinga banyak digunakan. Berdasarkan penelitian selama 20 tahun di seluruh dunia, EQ-I mengukur sosial individu serta kekuatan dan kelemahan emosi Hal-hal yang dinilai dalam EQ-i yaitu kemampuan intrapersonal, interpersonal, mengelola stress, kemampuan beradaptasi, Keadaan perasaan secara umum, pandangan positif dan indeks konsisten Selain itu, tes lain yang berhubungan adalah Team, emotional and social intelligence Surve (TESI) untuk mengukur kecerdasan emosional dan social

dan menggunakan informasi untuk secara strategis meningkatkan kinerja dan kesuksesan. The Attentional and Interpersonal Style Inventory (TAIS) untuk menilai kepemimpinan, control emosi, dan kinerja dibawah tekanan dalam berbagai situasi

V. MENUMBUHKAN KECERDASAN EMOSIONAL Masa anak-anak adalah masa yang amat penting dalam perjalanan hidup seseorang. Perkembangan perilaku kehidupan pada masa kanak-kanak akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan perilaku pada saat dewasa nanti. Glueks sampai pada suatu kesimpulan bahwa remaja yang berpotensi menjadi nakal dapat diidentifikasi sedini usia dua atau tiga tahun karena perilaku antisosialnya.

Pentingnya usia anak-anak inilah yang seharusnya memacu kita untuk memahami perkembangan moral, social, kreativitas, bicara, emosi, keperibadian, bermain, pengertian, dan sebagainya. Masa kanank-kanak merupakan gambaran awal manusia, sebagai seorang manusia, tempat di mana kebaikan dan sifat buruk tertentu yang dengan lambat namun jelas berkembang dan mewujudkan dirinya. Sekolah memegang peranan penting dalam upaya pembentukan kepribadian anak sejak dini Lingkungan pertama dan utama yang dikenal anak adalah lingkungsn keluarga. Orangtua adalah guru, pembimbing, sekaligus pendorong yang paling utama bagi anak-anak. Orangtua hendaknya dapat memetakan langkah-langkah anak demi keberhasilan mereka di masa datang. Orangtua yang melatih emosi dapat menolong anak mereka berkembang menjadi orang dewasa yang lebih sehat, memperoleh nilai lebih tinggi secara akademis, dan lebih sukses.Anak-anak bergauk lebih baik dengan temantemannya dan tidak banyak mengalami masalah tingksh laku dan tidak begitu gampang melakukan tindakan kekerasan serta kurang mengalami ketegangan jiwa Penelitian mengenai perkembangan tubuh menyarankan bahwa membantu anak mengembangkan keahlian emosional dan social yang baik sejak dini membuat perbedaan yang besar dalam hal kesehatan jangka panjang mereka. Penelitian telah menunjukkan bahwa fungsi emosional dan sosial anak mulai stabil pada umur 8 tahun, dan bisa menggambarkan keadaan kelakuan dan mental di masa depan. Dengan kata lain, jika anak belajar untuk megekspresikan emosi dan perhatian dan saling menghargai sebelum dan selama mereka tingkat sekolah yang rendah, merka akan terhindar dari depresi, kekerasan, dan masalah kesehatan mental lainnya ketike merka tumbuah dewasa Lima keahlian dasar atau kompetensi, yang bisa secara sistematis ditanamkan di rumah dan sekolah yang berhubungan dengan kecerdasan emosional :

10

1. Kesadaran diri : mengidentifikasi pemikiran, perasaan, dan kekuatan, dan mengakui bagaimana hal tersebut mempengaruhi pilihan dan tindakan 2. Kesadaran sosial : mengidentifikasi dan mengerti pikiran dan perasaan orang lain, mengembangkan empati, dan mampu menerima pandangan orang lain. 3. Mengelola diri : mengelola emosi sehingga emosi bisa memfasilitasi dan bukan ikut campur dalam tugas, menentukan tujuan jangka panjang dan pendek; dan mengatasi rintangan yang menghalangi. 4. Membuat keputusan yang bertanggungjawab : mengaplikasikan dan mengevaluasi solusi yang positif dalam suatu masalah dan

mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari tindakan yang dilakukan utuk diri sendiri dan orang lain. 5. Keahlian hubungan : katakan tidak pada tekanan negatif untuk menyelesaikan masalah dengan tujuan kesehatan dan hubungan individu dan grup. Ketika keahlian emosional dan social diajarkan dan dikuasai, keahlian tersebut akan membantu kesuksesan anak tidak hanya di sekolah, tapi dalam segala aspek hidup. Banyak penelitian yang menemukan bahwa

generasi muda yang memiliki keahlian emosional dan sosial faktanya lebih bahagia, lebih percaya diri, dan mampu sebagai siswa, anggota keluarga, teman dan pekerja. Dan dalam waktu yang bersamaan mereka jauh dari penggunaan alkohol dan obat-obatan, depresi dan kekerasan Ketika orangtua dan anak melatih dan menggunakan keahlian ini dirumah, efeknya kan dua kali lebih menguntungkan. Tidak hanya anak menguasai keahlian ini, tetapi juga hubungan denga keluarga cenderung meningkat ketika anggota keluarga mendengarkan satu sama lain secara terbuka dan menyelesaikan maslah bersama-sama. Anak jadi menghargai bahwa belajar adalah proses seumur hidup, bukan sesuatu yang berhenti ketika mereka meninggalkan sekolah

11

V.

KESIMPULAN Kecerdasan emosional sangat penting dalam kehidupan manusia.

Kecerdasan emosional membantu kita untuk dapat mengatasi berbagai situasi dalam kehidupan yang berkaitan dengan emosi dan bagaimana membina hubungan dengan orang lain. Saat ini, kecerdasan emosional sudah dianggap berperan dalam menentukan kesuksesan seseorang. Kesuksesan bukan lagi diukur dari seberapa pintar seseorang di sekolah dan seberapa tinggi nilai yang didapatkan seseorang saat masa sekolah tetapi yang juga menetukan kesuksesan seseorang adalah seberapa baik orang tersebut berhubungan dengan orang lain, mengerti dan memahami emosi orang lain dan bagaimana memotivasi dirinya sendiri. Begitu banyak orang yang sangat cerdas disekolah dalam memiliki nilai yang terbaik tetapi gagal setelah lulus. Ini artinya bahwa pada saat ini, selain kecerdasan intelektual, kita juga harus mengembangkan kecerdasan emosional dalam diri kita. Kecerdasan emosional dan intelektual serta spiritual harus kita kembangkan dalam diri kita. Karena ketiga kecerdasan ini saling melengkapi. Sangat penting membangun kecerdasan emosional sejak dini. Kecerdasan emosional bisa ditanamkan di lingkungan keluarga dan juga lingkungan sekolah. Orangtua dan guru yang berperan membangun kecerdasan emosional anak. Jika anak memiliki kecerdasan emosional sejak dini, kedepannya pun mereka akan terhindar dari kesakitan mental, kekerasan dan penggunaan obat-obat terlarang serta alkohol. Dan bila seseorang telah memiliki kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual dan juga spiritual akan mempengaruhi kesuksesan seseorang kedepannya.

12

IV.

DAFTAR PUSTAKA

1. Sawitri, Amalia. (2004) Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Prestasi Belajar Pada Siswa Kelas II SMU Lab School Jakarta Timur. Skripsi : Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia. 2. Universitas Gunadarma. Kontribusi Perilaku Asertif Terhadap Kecerdasan Emosi. 2007 3. Al. tridhonanto melejitkan kecerdasan emosi (EQ) buah hati.2009. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta 4. Wharam,Jane. Emotional Intelligence : Journey To The Centre Of Yourself. Jane Wharam. 2009. Published by O books 5. Mayer, J.D. Salovey, P. Caruso, D.R. Mayer-Salovey-Caruso intelligence Test (MSCEIT) 2002, Toronto, Ontario : Multi-Health system, inc 6. Mayer, J.D. Salovey, P. Caruso, D.R. Mayer-Salovey-Caruso intelligence Test (MSCEIT). 7. Bar-On, Rauven. EQ-i : Emotional Quotient-Inventory. Acces on www.mhs.com 8. Lantieri, Linda. Building Emotional Intelligence. 2008. Canada.

9. Efendi, anwar. Mengembangkan Kecerdasan Emosional Anak melalui Kebiasaan Bercerita (Dongeng). 2006.

13