Anda di halaman 1dari 89

Ahlul Bayt

Di Kerajaan Islam Pasai Aceh


&
Peranannya Dalam Penaklukkan
Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit
(Sebuah Kajian Terhadap Peran Wali Songo Dalam Islamisasi Jawa)

Proposal Penelitian
Bidang Studi Sejarah Alam Melayu
Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)
Malaysia

Oleh
Dr. Hilmy Bakar Almascaty, MBA

2008/2009

1
Abstraksi
Sejarah adalah cerminan masa lalu sebuah bangsa yang akan menjadi spirit dalam
membangun kegemilangan masa kini dan juga masa depan. Bangsa yang tidak memiliki masa
lalu, akan sulit untuk menentukan masa depannya, atau terpaksa mengkait-kaitkan dengan
sejarah masa lalu bangsa lain. Bangsa besar seperti Amerika yang tidak memiliki sejarah masa
lalu, terpaksa mengaitkan sejarah kegemilangan bangsanya dengan dunia Eropa bahkan
dengan imperium Romawi, demi untuk mengabsahkan keberadaan dan jati diri bangsanya.
Sebuah bangsa yang tidak mengetahui sejarah masa lalunya sama dengan seseorang yang
tidak mengetahui asal usul nenek moyangnya. Bangsa Aceh memiliki sejarah agung, terutama
setelah agama Islam menyinarinya dengan hidayah dan petunjuk Allah menuju kegemilangan
peradaban. Pada satu episode sejarah Islam di Asia Tenggara, bangsa Aceh telah menjadi
pelopor kebangkitan sebuah peradaban baru yang berdasarkan kepada ajaran Islam. Aceh
pernah menjadi bintang Islam di Timur yang melahirkan peradaban Islam-Melayu, gabungan
dari kearifan peradaban lokal dengan keagungan peradaban Islam yang telah berkembang di
Arab, Afrika, Asia Tengah, Persia, India bahkan Cina dan Jepang. Karena letak geografis Aceh
di ujung utara pulau Sumatra yang sangat strategis sebagai wilayah transit para pedagang
internasional dengan peradaban yang mereka kembangkan. Kerajaan-kerajaan Islam yang
berdiri di Jeumpa, Perlak, Lamuri, Pidie, Pasai, Aceh Darussalam dan lainnya telah menjadi
pelopor Islamisasi di Asia Tenggara. Kerajaan Islam Pasai yang bangkit bersamaan dengan
kehancuran pusat-pusat peradaban Islam di dunia Arab dan Afrika pada pertengahan abad 13
M (1258 M), telah menjadi pusat pengkajian Islam tingkat tinggi di Asia Tenggara dan
mempelopori gerakan Islamisasi yang menghubungkan dunia Islam Arab, India dengan dunia
Islam Cina. Sebagaimana di catat Ibn. Batutah, Kerajaan Pasai di bawah pemerintahan para
Sultan yang alim seperti Sultan Malik al-Saleh, Sultan Malik al-Zahir, Sultan Malik al-Zahir II
telah berkembang menjadi Kerajaan Islam yang makmur dan menjadi tempat berkumpul para
Ulama, Maulana, Auliya dan Cendekiawan Muslim dari seluruh penjuru dunia. Pada masa
inilah intensitas Islamisasi ke tanah Jawa mengalami puncaknya, terutama setelah bangkitnya
para pendakwah yang kemudian dikenal dengan Wali Sembilan (Wali Songo). Gerakan Wali
Songo yang dipelopori keluarga besar keturunan Ahlul Bayt yang dipimpin Maulana Sayyid
Hussein Jamadil Kubra (Maulana Hussein al-Akbar) yang didukung oleh para Sultan dan
kerabat istana Pasai telah berhasil mendirikan beberapa Kerajaan Islam sebagai perwakilan
Kerajaan Pasai dari Indo-Cina, Thailand, Malaya, Borneo, Celabes, Sulu, Mindanao sampai
Maluku. Prestasi terbesar Kerajaan Pasai dan gerakan Wali Songo adalah keberhasilannya
dalam meruntuhkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit sebagai pelindung utama Hindu dan
penghalang Islamisasi di Nusantara dengan mendirikan Kerajaan Islam Demak sebagai pusat
baru pemerintahan di tanah Jawa yang berdasarkan ajaran Islam. Para Penggerak Wali Songo
yang telah menjadi petinggi dan penasihat spiritual Demak selanjutnya Cirebon dan Banten
terbukti tetap memelihara hubungan dengan Kerajaan Islam Pasai. Ketika Kerajaan Pasai
dalam ancaman penjajah Portugis, gabungan armada Islam di bawah komando Demak-
Cirebon-Banten mengadakan ekspedisi Jihad I & II ke Malaka dipimpin Sultan II Demak
bernama Pati Unus yang syahid di Malaka dan selanjutnya dipimpin Maulana Fadhilah Khan
Al-Pasee (Fatahillah Tubagus Pasai), putra Ulama besar Pasai Makhdum Patakan Ibrahim.
Akhirnya Portugis dapat dikalahkan Sang Pangeran Pasai di Sunda Kelapa (Jakarta).

2
Urgensi Kajian Peran Ahlul Bayt Di Pasai Dalam Islamisasi Jawa
Para peneliti sejarah, khususnya di wilayah Aceh kurang memberi perhatian terhadap
peranan Ahlul Bayt atau keturunan Nabi Muhammad saw di Kerajaan Islam Pasai dalam
gerakan Islamisasi di Jawa. Lebih khusus pada peranan Kerajaan Islam Pasai sebagai pusat
Islamisasi di Asia Tenggara yang telah mempengaruhi geo-politik di tanah Jawa dengan
berdirinya Kerajaan Islam Demak yang telah meruntuhkan Kerajaan Hindu terbesar Majapahit
yang selama ini menjadi patron utama masyarakat Hindu Jawa dalam menentang Islamisasi.
Padahal sejarah telah membuktikan bahwa keruntuhan Majapahit adalah awal dari proses
Islamisasi besar-besaran di tanah Jawa, terutama Islamisasi dalam bidang politik.
Para peneliti, baik dari kalangan orientalis Belanda maupun Inggris lebih terfokus pada
penelitian dan diskusi masalah proses Islamisasi atau sekitar awal masuknya Islam yang
terjadi di wilayah Aceh sebagaimana yang dilakukan oleh Snouck maupun Raffles dan para
peneliti sesudahnya seperti Arnold dan Van Leur. Sementara para peneliti lokal seperti al-
Attas, Hasymi, Zuhri dan Hamka masih merespon teori yang dikemukakan pendulunya
sekitar masalah masuknya Islam di wilayah Aceh.
Sampai saat ini belum ada yang mengadakan penelitian secara mendalam tentang
peranan Kerajaan Islam Pasai yang digerakkan Ahlul Bayt dalam meruntuhkan Kerajaan
Hindu Majapahit di Jawa dengan segala dampak politisnya yang telah mengakibatkan
terjadinya proses Islamisasi besar-besaran kepada masyarakat Jawa. Sementara para peneliti di
Jawa sendiri masih mendiskusikan asal usul para penggerak Wali Songo, sehingga
menimbulkan kerancuan sejarah kaum Muslimin. Diharapkan dengan adanya pengkajian dan
penelitian masalah peran Kerajaan Pasai melalui gerakan para pendakwahnya yang dikenal
dengan Wali Songo, maka akan dapat mengoreksi beberapa teori tentang Islamisasi, peran
Pasai dan asal usul Wali Songo yang masih menjadi polemik di kalangan ahli sejarah Asia
Tenggara. Dengan mengemukakan beberapa fakta, data dan teori baru yang bersumber dari
berbagai rujukan, diharapkan teori tentang peranan Pasai dalam meruntuhkan Majapahit
dapat diterima sebagai sebuah teori ilmiah. Dengan demikian sejarah Islam di Asia Tenggara
dapat diluruskan dan mendekati kebenarannya.

Pembatasan Kajian
Kajian ini tidak meliputi sejarah Islamisasi di seluruh Asia Tenggara yang diperkirakan
rentang waktunya sejak pertengahan abad ke VII M, atau di masa Khalifah Islamiyah sampai
dengan abad ke XIII M. Namun kajian yang dilakukan hanya dibataskan di sekitar sejarah
Kerajaan Islam Pasai yang didirikan oleh Sultan Malik al-Saleh (w.1297) dan peristiwa yang
terjadi setelahnya, terutama pada masa pemerintahan Sultan Malik al-Zahir II yang ditengarai
sebagai patron utama gerakan Islamisasi tanah Jawa yang kemudian hari di kenal dengan Wali
Songo. Namun untuk memperkuat argumen, kajian juga dilakukan terhadap beberapa
peristiwa yang berkaitan, seperti teori Islamisasi awal di Asia Tenggara, teori perkembangan
Kerajaan-kerajaan Islam di Thaialand, Malaya, Pilipina Selatan, dan tentunya di Sumatra dan
Tanah Jawa. Lebih khusus kajian ini dibataskan pada sejarah dan peranan para penggerak
Wali Sembilan, seperti Sayyid Hussein Jamadil Kubra, Maulana Malik Ibrahim, Maulana
Rahmatillah (Sunan Ampel) dan beberapa anggota Wali Songo yang memiliki hubungan
dengan Kerajaan Islam Pasai dan pendirian Kerajaan Islam Demak yang telah menaklukkan
Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Di samping itu dikemukakan pula sejarah hidup beberapa
tokoh penting dalam sejarah penaklukan Majapahit ini seperti Putri Jempa Dharawati, Raden

3
Patah anak Brawijaya V dan Syarif Hidayatullah serta hubungannya dengan proses Islamisasi
di tanah Pasundan yang telah melahirkan Kerajaan Islam Cirebon dan Banten.

Latar Belakang Kajian


Para kolonialis dengan segala ambisinya sebagai penjajah telah merancang berbagai
strategi untuk tetap menjadikan bangsa jajahannya sebagai masyarakat yang bodoh, tertinggal,
terbelakang dan tidak memiliki harkat dan martabat. Salah satu cara efektif yang
dilakukannya adalah dengan memanipulasi sejarah bangsa yang dijajahnya, memisahkannya
dari pengetahuan generasi muda sebagaimana dinyatakan Prof. Ismail R. Faruqi. Peninggalan-
peninggalan agung nenek moyang mereka dibawa kabur, dirampok bahkan dihancurkan agar
generasi muda tidak memiliki jati diri lagi. Itulah sebabnya bangsa-bangsa penjajah, baik
Inggris, Pertogis maupun Belanda telah membawa semua bukti peninggalan kegemilangan
Islam di Asia Tenggara ke Eropa dengan alasan pengembangan pengetahuan. Bangsa yang
tidak mengetahui masa lalunya, maka tidak akan memiliki masa depan, seperti ungkapan TS.
Elliot, ”masa lalu dan masa kini akan menjadi kelanjutan masa depan”.
Dengan program tersistematis para penjajah dengan perangkatnya telah berupaya
menghapuskan tapak-tapak kegemilangan sejarah kaum Muslimin masa lalu. Contoh terdekat
adalah seperti yang dilakukan penjajah Belanda terhadap pusat pemerintahan Kerajaan Islam
Pasai yang diketahui pernah menjadi pusat gerakan Islamisasi di Asia Tenggara yang telah
melahirkan Kerajaan Islam dari Campa, Patani, Kelantan, Malaka, Palembang, Demak,
Cirebon, Banten, Makassar, Bugis, Borneo, Sulu, Mindanao sampai Maluku dan Fak-Fak di
Papua. Setelah menguasai Aceh, penjajah Belanda merubah Pusat Kerajaan Pasai di sekitar
daerah Geudong Aceh Utara menjadi pusat pembuangan dan penampungan penderita
penyakit menular seperti lepra. Secara otomatis wilayah ini ditinggalkan penduduk dan
menjadi kota mati, yang mengakibatkan punahnya peninggalan sejarah akibat tidak terawat.
Pada saat yang sama para cendekiawan penjajah Belanda seperti Snouck mengadakan
penelitian mendalam terhadap sejarah dan budaya Aceh sampai ke Mesir dan Mekkah dengan
tujuan utama membalikkan fakta dan menyembunyikan kebesaran Pasai. Snouck telah
mengeluarkan sebuah teori Islamisasi di sekitar Aceh, yang dikatakannya bermula pada abad
ke 12 dan 13 M. Dengan teorinya ini seakan-akan Snouck ingin menyatakan bahwa Islamisasi
di Nusantara bermula seratus tahun sebelum ketibaan penjajah Barat yang membawa agama
Kristen. Padahal fakta menyatakan bahwa sejak awal abad ke 8 M, Islam telah bertapak dan
memiliki sebuah Kerajaan Islam di Jeumpa (Bireuen Aceh) pada tahun 770 M. Sementara bukti
terkini menyebutkan bahwa sebelum Islam tiba, para pedagang Arab telah bermukim di
sepanjang pantai utara pulau Sumatra dan ketika Islam dibawa oleh Nabi Muhammad
langsung tersebar di kalangan pedagang Arab yang sudah hilir mudik selama lebih 500 tahun
sebelum kedatangan Islam.
Para penjajah atau bonekanya akan menjalankan politik belah bambu, satu diangkat
yang satunya diinjak, pecah belah lalu menguasai. Sebagaimana yang mereka telah lakukan
kepada kaum Muslimin di Nusantara. Bangsa terbesar Muslim Nusantara dipecah belah
dengan pendekatan kesukuan dengan meniupkan fanatisme jahiliyah menggantikan ghirah
Islamiyah yang telah disemai para Ulama terdahulu yang telah membuahkan ukhuwah
(persaudaran) Islam. Bangsa yang tidak mau takluk dibawah jajahannya, diadu domba dengan
saudaranya seagamanya sendiri. Penjajah kafir Belanda telah mengadu domba bangsa Padang
dengan bangsa Aceh yang sama-sama diketahui sebagai pilar utama Islam Nusantara. Bangsa

4
Padang direkrut menjadi tentara Belanda yang terkenal dengan Pasukan Marsose, lalu mereka
diperintahkan untuk memerangi bangsa Aceh yang tidak mau tunduk kepada penjajah.
Terjadilah pertumpahan darah sesama Muslim, yang satu menjadi antek Belanda dan yang
satu sebagai pejuang yang berjihad melawan kezaliman Belanda. Berapa banyak mujahidien
fie sabilillah di Aceh yang dibantai pasukan Marsose yang didirikan oleh antek Belanda
bernama M. Syarief, tokoh Padang yang akhirnya mendapat medali penghargaan tertinggi
dari Ratu Belanda karena berhasil membantai saudara Muslimnya di Aceh.
Dengan pendekatan kajian ilmiah, masyarakat Nusantara yang sudah tumbuh
berkembang dengan keagungan peradabannya sejak beribu-ribu tahun lalu, digambarkan oleh
para sejarawan kolonial sebagai sebuah bangsa bar-bar, nomaden, seperti keadaan orang-
orang Papua di Lembah Baliem saat ini, yang telanjang dan tinggal di pohon-pohon. Padahal
kenyataannya sangat jauh berbeda. Karena masyarakat Nusantara adalah salah satu rumpun
bangsa tua yang telah berhasil membangun sebuah entitas budaya dan peradabannya sendiri,
sesuai dengan kemajuan dan perkembangan zaman. Dari penemuan peninggalan-peninggalan
situs sejarah dan benda-benda yang menyertainya dapat diketahui bahwa di wilayah Aceh
sekarang misalnya pernah tumbuh berkembang sebuah peradaban yang digerakkan oleh para
Raja dari Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha seperti Kerajaan Indra Pura, Indra Purba, Indra
Patra dan lain-lainnya.
Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan Taprobana. Nama
Taprobana Insula telah dipakai oleh Claudius Ptolemeus, ahli geografi Yunani abad kedua
Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah ini dalam karyanya Geographike
Hyphegesis. Ptolemeus menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri yang menjadi jalan
ke Tiongkok, sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan
wewangian dari kapur barus. Disebutkan pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer
dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada
zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun lalu. Naskah Yunani tahun
70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse
nesos, atau ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang sekitar Laut Tengah sudah
mendatangi Sumatera mencari emas, kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus
(Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Para pedagang Nusantara sudah
menjajakan komoditas mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, tercantum pada naskah
Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi. Dalam kitab Yahudi, Melakim (Raja-raja),
fasal 9, diterangkan bahwa Raja Solomon, raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram,
raja Tirus yang berada dibawah kekuasaannya. Emas didapatkan dari negeri Ophir. Al-Qur’an,
Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah
yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri
Ophir yang diberkati Allah ? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu
terletak di Sumatera. Kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh.
Ptolemeus pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang
Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16
mencari emas ke Sumatera dengan asumsi bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya King
Solomon.
Perdagangan antara negara-negara Timur dengan Timur Tengah dan Eropa
berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga disebut ”jalur
sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan Turkistan terus ke Laut

5
Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina dan India dengan Eropa,
merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun sebelum Masehi. Sedangkan jalan
laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan Indonesia, melalui Selat Malaka ke India;
dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada yang melalui Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga
yang melalui Laut Merah dan Mesir. Diduga perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina
dan Indonesia sudah berjalan sejak abad pertama sesudah Masehi.
Akan tetapi, karena sering terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan darat di
Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan Timur-Barat melalui laut (Selat
Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal Arab, Persia dan India telah
mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri Cina dengan menggunakan angin
musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapal-kapal Sumatra telah mengambil bagian
dalam perdagangan tersebut. Pada zaman Sriwijaya, pedagang-pedagangnya telah
mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai timur Afrika. Ramainya lalu lintas
pelayaran di Selat Malaka, maka telah menumbuhkan kota-kota pelabuhan yang terletak di
bagian ujung utara Pulau Sumatra. Perkembangan perdagangan yang semakin banyak di
antara Arab, Cina dan Eropa melalui jalur laut telah menjadikan kota pelabuhan semakin
ramai, termasuk di wilayah Aceh yang diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan
yang umumnya terdapat di beberapa delta sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai
kota transit atau kota perdagangan.
Sebuah penelitian ilmiah yang ditulis Prof. Robert Dick-Read berjudul The Phantom
Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Time yang dipublikasikan pada
tahun 2005 telah membuktikan hubungan yang erat antara Nusantara, terutama pulau
Sumatra dengan benua Afrika sejak abad ke 5 masehi dengan kapal layar. Penelitian ini telah
memberikan bukti-bukti mutakhir tentang penjelajahan para pelaut Nusantara di abad ke 5,
atau 2 abad sebelum datangnya Islam. Artinya sebelum Islam datang telah terjadi hubungan
yang sangat erat antara dunia Arab sebagai laluan ke Afrika dengan Nusantara, termasuk
wilayah Aceh sekarang. Peradaban dan teknologi yang berkembang di Romawi, Yunani
maupun Mesir, Persia dan India secara otomatis mempengaruhi perkembangan masyarakat
Sumatra yang menjadi laluan transit menuju pusat peradaban di sebelah timur seperti Cina
dan Jepang.
Ini artinya peradaban masyarakat di ujung barat Sumatra yang sekarang dikenal
dengan Aceh adalah diantara peradaban tua di wilayah Nusantara. Namun belum banyak
bukti yang dapat dikemukakan tentang kegemilangan masa lalu peradaban Aceh, yang
menurut beberapa penelitian para ahli disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya (i) belum
diadakannya menggalian terhadap situs sejarah purba secara serius dan menyeluruh akibat
pertimbangan politik ataupun konflik berkepanjangan (ii) hilangnya situs-situs penting,
terutama dipinggir laut akibat terjadinya beberapa kali gelombang tsunami, sebagaimana
tsunami 26 Desember 2004 lalu yang menghancurkan kota-kota purba Aceh yang umumnya
dipinggir pantai yang berhadapan langsung dengan tsunami (iii) adalah menjadi tradisi
sebagian masyarakat Aceh untuk memusnahkan peninggalan sejarah apabila sudah tidak
dikehendaki penguasanya, contoh terdekat adalah pembakaran buku-buku ilmiyah karya
Hamzah Fansuri dan ulama aliran Wujudiyah di depan Masjid Baiturrahman atas perintah
Sultan Iskandar Tsani berdasarkan fatwa Syekh Nuruddin al-Raniri, atau pembakaran Istana
Super Megah yang didirikan Sultan Iskandar Muda, Darud Dunya akibat terjadinya

6
pemberontakan pada masa Sultanah Inayat Syah. Dan terakhir adalah bumi hangus Istana
pada zaman Sultan Muhammad Daud Syah agar jangan sampai dikuasai penjajah Belanda.
Keadaan revolusioner dan dinamis yang terjadi di Aceh dari waktu ke waktu
sepanjang 500 tahun terakhir telah memecah konsentrasi para pemimpin dan cendekiawan
Aceh dalam memelihara peninggalan sejarahnya sehingga banyak yang terbengkalai, hilang,
musnah bahkan sengaja dihilangkan dengan alasan keamanan. Penulis beberapa kali
mendapatkan alasan ketakutan nara sumber yang memiliki peninggalan berharga berupa
manuskrip penting, karena jika diketahui aparat akan diambil dan mereka dituduh sebagai
pemberontak atau sparatis. Akibatnya banyak manuskrip-manuskrip penting peninggalan
peradaban Aceh tertanam atau hilang.
Namun demikian, dari sumber-sumber sekunder dapat diketahui kembali, walaupun
masih tingkat awal mula, tentang sejarah kegemilangan Aceh, terutama pada masa pra-Islam.
Data-data tersebut sangat penting untuk mengetahui sejauh mana tingkat peradaban dan
pengetahuan masyarakat Aceh pra-Islam, baik zaman pra-Hindu-Budha ataupun sebelumnya.
Mengingat letak geografi Aceh yang strategis sebagai laluan dalam perjalanan menuju pulau
Jawa atau Timur Jauh lainnya dari sumber peradaban tua umat manusia, baik di sekitar Asia
Tengah, Timur Tengah ataupun Afrika. Karena di Jawa atau Kalimantan banyak ditemukan
peradaban manusia yang telah berusia ratusan ribu tahun.
Dari sumber-sumber sekunder, sebagaimana telah disebutkan terdahulu, ternyata Aceh
memiliki peranan penting dalam sejarah peradaban manusia. Salah satu bukti otentik yang
tidak diragukan adalah perjalanan kapur Barus yang telah menembus peradaban Yunani,
Rumawi sampai Mesir klasik. Produk unggulan Barus-Aceh ini telah menjadi komuditas
primadona dunia yang tinggi nilainya, sehingga megantarkan Aceh sebagai salah satu bagian
dari kegemilangan dan ketinggian peradaban klasik pra-Islam. Tentunya kedatangan manusia-
manusia modern pada zaman itu ke Aceh telah membawa perubahan pada pengetahuan dan
kebiasaan masyarakat, sebagaimana pengaruh kedatangan para relawan asing manca negara
saat ini ke Aceh yang membawa berbagai bentuk pengetahuan, ilmu, budaya dan peradaban
yang mempengaruhi pola hidup masyarakat. Kedatangan mereka sudah pasti akan membawa
kemajuan dan kemakmuran kepada masyarakat Aceh, dan tidak diragukan bahwa
kemakmuran akan mengantarkan kegemilangan peradaban umat manusia seperti apa yang
dialami negara-negara maju seperti Amerika, Eropa maupun Jepang, India dan Cina saat ini.
Kegemilangan masyarakat Aceh yang telah berkembang pesat sebelum kedatangan
Islam dengan pencapaian-pencapaian peradabannya telah memudahkan para pembawa Islam
untuk memajukannya secara maksimal. Karena lebih mudah mengajarkan Islam yang
sempurna dan menyeluruh kepada orang-orang yang berperadaban, berpengatahuan dan
menggunakan akalnya untuk berfikir. Itulah sebabnya, saat ini para pendakwah kita lebih
mudah menyebarkan Islam kepada masyarakat modern di Amerika, Eropa ataupun Jepang
dari pada masyarakat di pedalaman Papua atau Kalimantan yang masih hidup telanjang dan
jauh dari peradaban. Sebagaimana tersebar cerita dikalangan pendakwah, jika di Eropa orang-
orang bule cerdik-pandai berlomba-lomba meninggalkan gereja dan masuk Islam karena
alasan rasional dan sesuai dengan perkembangan zaman, tapi di negeri ini orang-orang bodoh
dan tolol bisa diajak masuk gereja karena sebungkus super mie. Sungguh benar sabda Rasul,
kebodohan akan membawa kemiskinan dan kemiskinan akan menjadikan orang mudah
kepada kekafiran.

7
Masuknya Islam telah mengantarkan masyarakat Aceh, baik pada masa Kerajaan
Jeumpa, Perlak, Pasai dan Aceh Darussalam sebagai bagian dari pergerakan internasional
pembebasan umat manusia dari belenggu kegelapan yang membawanya sebagai masyarakat
berperadaban tinggi berdasarkan nilai-nilai keuniversalan dan keagungan Islam. Dalam
Bustanu’l Salatin, Syekh Nuruddin telah menggambarkan bagaimana tingginya pengetahuan
dan pemikiran masyarakat Aceh, baik di kalangan para sultan, pejabat negara sampai kepada
masyarakat umum sehingga banyak ulama yang datang ke Aceh harus kembali belajar agar
cukup pengetahuannya untuk mengajar di tengah masyarakat Aceh yang kosmopolit masa itu.
Itulah sebabnya para pemuka Islam menjuluki Aceh sebagai “Serambi Mekkah”, sebagai
satu-satunya serambi Mekkah di dunia, yang tidak lain bermakna sebenarnya adalah karena
Aceh telah menjadi pusat rujukan ajaran dan fatwa Islam di Nusantara. Tradisi dan
peradaban, terutama pemikiran Islam di Aceh sudah berkembang pesat dan bahkan para
ulama dan cerdik pandainya memiliki kaliber yang sederajad dengan para ulama Hijaz dan
semenanjung Arabia lainnya. Kasus ini dapat dilihat pada diamnya (tawaquf) ulama-ulama
Hijaz di Mekkah atas kepemimpinan wanita selama lebih 50 tahun pemerintahan 4 orang
Sultanah Aceh atas dukungan fatwa Mufti dan Qadhi Malik al-Adhil, Syekh Abdul Rauf al-
Singkili (Maulana Syiah Kuala). Hal ini tidak lain untuk mengormati ijtihad beliau yang
didasarkan pada pengetahuan mendalam dan luas terhadap ajaran Islam. Setiap utusan
Syarief Mekkah yang datang kepada beliau harus mengakui ketinggian ilmunya serta
kesahihan ijtihad dan fatwanya sehingga hujjahnya tak terpatahkan. Namun setelah beliau
wafat, maka Ketua Mufti Mekkah mengeluarkan fatwa yang memakzulkan (memberhentikan)
Sultanah Kamalat Ziatuddinsyah pada 1699 dengan hujjah bahwa syari’at Islam tidak
membenarkan perempuan menjadi pemimpin negara.
Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah saw telah berkata: ”Sebaik-baik kamu pada zaman
jahiliyah, akan menjadi sebaik-baik manusia setelah memeluk Islam”. Ini adalah sebuah ungkapan
yang telah menjadi kenyataan dalam sejarah kegemilangan Islam yang telah dipimpin
Rasulullah saw. Pada zaman pra-Islam, banyak sekali tokoh-tokoh berpotensi, seperti Umar
bin Khattab dan Khalid bin Walid yang secara terang-terangan menentang Islam pada awal
perkembangannya. Umar sendiri sempat mau membunuh Nabi Muhammad karena
dianggapnya sebagai sumber perpecahan masyarakat Mekkah, namun akhirnya masuk Islam
setelah membaca lembaran al-Qur’an yang dirampasnya dari adiknya yang sudah lebih
dahulu masuk Islam. Setelah memeluk Islam, Umar adalah salah seorang pembela Islam yang
berani dan telah menjadi Khalifah yang menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia.
Demikian pula dengan Khalid yang sempat memimpin kaum musyrikin melawan Nabi
Muhammad sehingga kaum Muslim mengalami kekalahan di perang Uhud. Namun setelah
Khalid masuk Islam, akhirnya dia digelar dengan ”Pedang Allah” yang telah menumbangkan
kekuasaan-kekuasaan besar seperti Romawi dan Parsia.
Masyarakat Arab sendiri sebelum kedatangan Islam adalah masyarakat yang
terbelakang dari segi peradaban dan pengetahuan jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa
lainnya, baik Mesir, Rumawi ataupun Persia. Bahkan al-Qur’an sendiri menyebut masyarakat
Arab di sekitar Mekkah sebagai Ummiyun, masyarakat yang tidak memiliki peradaban dan
kekuasaan. Dalam sejarah disebutkan bahwa masyarakat Arab di sekitar Mekkah jika terjadi
musim kemarau panjang, mereka terkadang menjadi pengungsi dan pengemis di sekitar
Kerajaan-kerajaan besar seperti Mesir, Habsyah ataupun Parsia. Masyarakat Arab pra-Islam
digambarkan sebagai sebuah suku bangsa kecil yang terpecah belah, miskin lagi terbelakang

8
dengan hidup yang berpindah-pindah. Namun berkat Islam, bangsa yang kecil dan tidak
diperhitungkan ini, dalam waktu kurang dari 30 tahun sejak kebangkitan Nabi Muhammad,
telah menjadi sebuah bangsa besar yang menggetarkan semua super power, dan akhirnya
sejarah membuktikan bahwa semua super power itu tunduk kepada masyarakat ummy yang
telah mendapatkan pencerahan dan kekuatan spiritualitas dari keagungan nilai-nilai Islam.
Selanjutnya umat Islam menjadi mercusuar peradaban manusia, yang menghubungkan
peradaban klasik paganis menjadi peradaban modern rasionalis.
Hal inilah yang terjadi pada masyarakat Aceh. Jika sebelum Islam mereka adalah
sebuah bangsa yang sudah berperadaban maju, maka kedatangan Islam akan mendorong lebih
kencang kemajuan dan pencapaian peradaban mereka sebagaimana dicatat sejarah. Jika
sebelum Islam masyarakat Aceh hanya sebuah kerajaan-kerajaan kecil dibawah perlindungan
Kerajaan Hindu seperti Sriwijaya, maka setelah Islam datang menyinari masyarakat Aceh,
mereka bangkit menjadi sebuah kekuatan baru yang pada akhirnya menjadi pelopor dan
penggerak Islamisasi di Nusantara. Termasuk menjadi sebab utama tumbang dan lenyapnya
kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, baik di Sumatra, Semenanjung Melayu, Kalimantan, Jawa,
Sulawesi sampai ke Maluku dan Papua serta sampai di Sulu dan Mindanao yang telah mapan
selama ribuan tahun. Pusat Islamisasi Nusantara Aceh digerakkan oleh Kerajaan-Kerajaan
Islam silih berganti yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Dimulai dari berdirinya
Kerajaan Islam Jeumpa pada tahun 770 M oleh Sasaniah Salman, yang dilanjutkan perannya
oleh Kerajaan Islam Perlak tahun 805 M yang didirikan anak Raja Islam Jeumpa bernama
Meurah Syahr Nawi dikembangkan keponakannya Maulana Abdul Aziz Syah dan
keturunannya, disambung oleh Kerajaan Pasai pada abad XII yang didirikan keturunan Raja
Jeumpa dan Perlak bernama Meurah Silu atau Sultan Malik al-Salih. Dan seterusnya yang
mulai mendapat kegemilangan pada masa Kerajaan Aceh Darussalam yang menggabungkan
semua Kerajaan Islam Aceh, menggapai puncaknya keagungannya pada zaman Sultan
Iskandar Muda pada tahun 1607-1636 M yang menguasai seluruh pulau Sumatra dan
Semenanjung Malaya serta menjadi pelindung Kerajaan-Kerajaan Islam lainnya, baik di Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, Maluku sampai Sulu-Mindanao.
Demikian pula para Sultan Aceh ikut berperan aktif mendirikan Kerajaan Islam Jawa
terbesar, baik Demak, Mataram maupun Banten. Kerajaan Islam Perlak dan Pasai secara
teratur dan berkala telah mengirimkan para pendakwah Islam ke tanah Jawa yang digerakkan
oleh para ulama keturunan Nabi Muhammad silih berganti. Yang paling terkenal adalah
sebuah gerakan Islamisasi dengan nama Wali Sembilan atau Wali Songo yang dipimpin oleh
Maulana Malik Ibrahim (Syekh Maghribi) bersama beberapa keluarga dekat dan
keponakannya seperti Sunan Ampel, Sunan Drajad, Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati dan
lainnya yang memiliki satu jalur keturunan dan bermuara pada Imam Ja’far Sadiq. Penaklukan
mereka terhadap Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit yang dominan masa itu, tidak dilakukan
secara perang konfrontatif mengingat kuatnya Majapahit. Penyebaran Islam dilakukan melalui
jalur perdagangan, perubahan sosial-budaya, pendidikan, dakwah dan yang paling strategis
melalui jalur perkawinan.

Ahlul Bayt Dan Sumbangannya Pada Peradaban Islam Aceh-Sumatra


Ahlul Bayt yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah para keturunan
Rasulullah dari keturunan anak beliau Sayyidah Fatimah, Sayyidina Husein bin Ali

9
ataupun dari keturunan Sayyidina Hasan bin Ali, biasanya mereka diberi gelar dengan
Maulana, Habib, Syarief dan lainnya.
Para peneliti telah membuktikan bahwa Ahlul Bayt memiliki peran yang sangat
penting dalam pengembangan Islam di Nusantara sejak awal kedatangannya.
Terutama setelah terjadinya eksodus besar-besaran para keturunan Rasulullah dari
Dunia Arab atau Parsia akibat konflik dan perang saudara yang terjadi dengan
keturunan dari Dinasti Bani Umayyah atau Abbasyiah pada awal abad VIII Masehi.
Karena memiliki garis keturunan dengan Rasulullah saw, berpengetahuan luas,
memiliki kemampuan menggalang pengikut setia, memobilisasi dana serta
kecakapan adminstrasi dan kepemimpinan, maka banyak diantaranya yang menjadi
menantu para raja dan selanjutnya menggantikan kedudukannya sebagai Sultan.
Apalagi ada sebagian faham, terutama faham awal masyarakat Nusantara telah
mewajibkan memberi penghormatan kepada para keturunan Rasulullah berdasarkan
sebuah sabda beliau : ”Aku tinggalkan kepadamu dua perkara, yang jika engkau berpegang
kepada keduanya, maka engkau tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah (al-Qur’an
dan Sunnah) dan Keturunanku”.1 Dalam riwayat lain, Rasulullah saw bersabda: ”Aku
tinggalkan bagi kalian dua hal. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian pasti tidak
akan pernah tersesat. Salah satu dari dua hal itu lebih agung daripada yang lain; Kitabullah,
sebuah tali yang terentang dari langit ke bumi; dan keturunanku, ahlul-baitku. Keduanya tidak
akan terpisah satu sama lain hingga hari Kiamat nanti. Maka, pikirkanlah baik-baik bagaimana
kalian akan berpegang teguh kepada keduanya setelah aku pergi.” Itulah sebabnya para
keturunan Rasulullah saw selalu mendapat kedudukan terhormat dalam strata
masyarakat di Nusantara.2
Menurut penelitian Snouck3, para keturunan Rasulullah yang dipanggil sayyid,
syarief atau habib memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat Aceh sejak
awal kemasukan Islam. Mereka diberikan penghormatan sebagai tokoh agama, hakim,
pengajar bahkan terkadang sebagai pemimpin masyarakat dan pemegang
admnistratur pemerintahan. Sejarah Aceh sendiri telah membuktikan bahwa
Kesultanan Aceh pernah dipimpin oleh beberapa orang Sultan dari keturunan
Rasulullah, seperti Sultan Badrul Alam dan lainnya. Namun Snouck sendiri
menggambarkan para sayyid dan habib sebagai tokoh yang ambisius dan eksploitatif
akibat kedengkiannya kepada Islam dan dorongan tugasnya sebagai agen Kerajaan
Belanda yang akan menaklukkan Aceh Darussalam. Itulah sebabnya tidak
mengherankan ketika dia menggambarkan Habib Abdurrahman Al-Zachir sebagai
tokoh penghianat dan materialis yang rela menjual Aceh dan masyarakatnya kepada
penjajah kafir, yang tidak pernah menjadi tradisi mulia dari keturunan Rasulullah saw
apalagi sebagai seorang Habib yang mengerti dan faham akan ajaran agama.4
1
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori, disebutkan hanya Kitab Allah dan Sunnahku. Namun banyak
yang meriwayatkan dengan bunyi di atas, seperti riwayat dari Imam Muslim dan yang lainnya.
2
Lihat : Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, (Medan: Waspada, 1981).
3
C. Snouck Hurgronje, The Acehnese, (Leiden: AWS. O’Sullivan, 1906).
4
ibid

10
Sejak pertama kali berdirinya Kerajaan Islam di Aceh, baik di Jeumpa, Pasai,
Perlak dan Kesultanan Aceh Darussalam dan selanjutnya, hubungan para Sultan
dengan para keturunan Rasulullah terjalin dengan eratnya. Para Maulana dan Habib
biasanya diberi tugas sebagai penasihat agama dan spiritual para Sultan, bahkan ada
yang diangkat sebagai panglima, mangkubumi, sekretaris negara dan menteri luar
negeri. Namun hubungan yang berdasarkan kepada keagamaanlah yang lebih
dominan. Kedekatan para Sultan dan para Ahlul Bayt dapat juga dibuktikan dengan
kedekatan para Sultan dengan para Syarief Mekkah yang dijadikan sebagai pemegang
otoritas keagamaan atau sumber rujukan kepada masalah-masalah agama. Kedekatan
antara Mekkah dengan Sultan dibuktikan dalam sejarah, ketika Sultan Iskandar Muda
membuat peraturan keimigrasan di Banda Aceh (Kuta Raja) sebagaimana peraturan
keimigrasian di Mekkah, bahwa orang non Muslim tidak diperbolehkan menetap
tinggal di Banda Aceh, kecuali hanya beberapa saat ketika mereka berdagang dan
setelah selesai diperintahkan meninggalkan Banda Aceh atau bermalam di kapalnya.5
Dari waktu ke waktu Syarief Mekkah akan mengirimkan para Ulama dan Habib
ke Aceh untuk mengajarkan agama kepada pemimpin dan masyarakat Aceh. Puncak
hubungan ini terjadi utamanya ketika masyarakat Aceh mengalami perselisihan
internal keagamaan yang memerlukan keputusan seorang figur yang kuat sebagai
mufti atau qadhi. Diriwayatkan dalam Sejarah Melayu, bahwa pada pertengahan abad
ke 13 Masehi, Syarief Mekkah telah mengirim Syekh Ismail dengan beberapa guru
agama, untuk melakukan dakwah Islam di kawasan Aceh. Dalam rombongan tersebut
turun juga Fakir Muhammad dari India.6 Ketika terjadi perselisihan antara para
pengikut Syamsuddin al-Sumatrani dengan Nuruddin al-Raniri yang berkelanjutan di
zaman Maulana Syiah Kuala, Syarief Mekkah telah mengirim beberapa orang Ulama
dan Habib yang ditugaskan untuk mendamaikan perselisihan faham yang tejadi.
Mereka telah berhasil menciptakan pemahaman agama yang toleran dan moderat.7
Pada masa pemerintahan Iskandar Tsani (1637-1641) telah datang seorang
Habib kharismatis yang menjadi pembimbing dan pendidik masyarakat Aceh yang
menjadi utusan Syarief Mekkah bernama Habib Abu Bakar bin Husein Balfaqih
(w.1100 H / 1680 M) yang bergelar Habib Tengku Chik Dianjung yang terkenal dan
dihormati Sultan dan masyarakat Aceh yang maqamnya di Peulimbahan Banda Aceh.
Masih banyak lagi nama-nama para habib, syarif ataupun sayyid yang tidak tercatat
dalam sejarah masyarakat Aceh, terutama dalam mengembangkan ajaran Islam
ataupun dalam membangun peradaban dan budaya masyarakat. 8

5
Lihat misalnya : A.K. Dasgupta, Aceh in Indonesia Trade and Politic 1600-1641. Disertasi, Cornell Univ. 1962
6
TD. Situmorang, op.cit., hlm. 59-61
7
Nuruddin ar-Raniry, Bustanu’l-Salatin, hlm. 32-34. A.H. Johns, “Islam in Southeast Asia: Reflections and New
Directions”, Indonesia, Cornell Modern Indonesia Project, 1975, no.19. hlm. 45
8
Lihat : Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, (Medan: Waspada, 1981).

11
Teori Islamisasi Aceh: Menolak Teori Gujarat Snaouck
Sehubungan dengan proses Islamisasi di Aceh, ada beberapa teori yang hingga
kini masih sering didiskusikan, baik oleh sarjana-sarjana Barat maupun kalangan
intelektual Islam sendiri. Salah satunya adalah teori masuknya Islam ke Aceh dari
Gujarat, disebut juga sebagai Teori Gujarat. Teori ini berasal dari seorang orientalis
asal Belanda yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk menghancurkan Islam di
Aceh yang tidak mampu dijajah Belanda. Orientalis ini bernama Snouck Hurgronje,
yang demi mencapai tujuannya, ia mempelajari bahasa Arab dan Islam dengan sangat
giat sampai ke Mesir dan Mekkah, mengaku sebagai seorang Ulama Muslim, dan
bahkan mengawini seorang Muslimah, anak seorang tokoh di zamannya. Teori yang
diusung oleh Snouck ini mengatakan Islam masuk ke Nusantara, termasuk Aceh dari
wilayah-wilayah di anak benua India seperti Gujarat, Bengali. Ironisnya Teori ini
masih dipakai dalam buku-buku sejarah sampai sekarang yang menjadi buku
pegangan bagi para pelajar kita, dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan atas,
bahkan di beberapa perguruan tinggi.
Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck menyebutkan teori tersebut
didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada
dalam Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Snouck juga
mengatakan, teorinya didukung dengan hubungan yang sudah terjalin lama antara
wilayah Nusantara dengan daratan India. Sebetulnya, teori ini dimunculkan pertama
kali oleh Pijnappel, seorang sarjana dari Universitas Leiden. Namun, nama Snouck
yang paling besar memasarkan teori Gujarat ini. Salah satu alasannya adalah, karena
Snouck dipandang sebagai sosok yang mendalami Islam. Teori ini diikuti dan
dikembangkan oleh banyak sarjana Barat lainnya.
Teori Gujarat yang dikembangkan bahkan dipaksakan Snouck bersama antek-
anteknya ini telah memberikan pengaruh yang besar terhadap sejarah dan jati di
bangsa Aceh selanjutnya. Pengkerdilan ini telah memutuskan mata rantai spiritualitas
keislaman yang telah berurat berakar pada tradisi, budaya dan peradaban Aceh
sebagai tapak awal Islamisasi Nusantara. Dampak psikologis yang paling kentara
adalah kesan bahwa Aceh adalah salah satu wilayah yang baru tersentuh Islam, yang
maknanya bahwa perkembangan peradaban Islam di Aceh baru beberapa abad.
Untuk mendekonstruksi sejarah sekaligus menguak kepalsuan Teori Gujarat
yang disampaikan antek penjajah Snouck ini, ada beberapa teori yang ingin penulis
sampaikan, diantaranya adalah:

a. Teori Mekkah (Arab)


Salah satu teori Islamisasi Aceh yang paling populer dan memiliki kekuatan
fakta adalah teori yang dikembangkan oleh para pakar dan cendekiawan Muslim dan
mendapat dukungan di kalangan cendekiawan non Muslim, teori ini di kenal dengan
Teori Mekkah (Arab). Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi terhadap teori
Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang menganut teori

12
ini adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander, SMN. Al-Attas, A.
Hasymi, dan Hamka.9
Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka
mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad awal Hijriyah, atau pada abad VII
dan VIII Masehi. Meski tidak terdapat catatan-catatan sejarah, cukup pantas
mengasumsikan bahwa mereka terlibat dalam penyebaran Islam di Indonesia. Asumsi
ini lebih mungkin bila mempertimbangkan fakta-fakta yang disebutkan sumber Cina
bahwa pada akhir perempatan ketiga abad VII M seorang pedagang Arab menjadi
pemimpin sebuah pemukiman Arab di pesisir Sumatera. Sebagian mereka bahkan
melakukan perkawinan dengan masyarakat lokal yang kemudian membentuk
komunitas muslim Arab dan lokal. Anggota komunitas itu juga melakukan kegiatan
penyebaran Islam. Argumen Arnold di atas berdasarkan kitab `Ajaib al-Hind, yang
mengisaratkan adanya eksistensi komunitas muslim di Kerajaan Sriwijaya pada Abad
X. Crawfurd juga menyatakan bahwa Islam Indonesia dibawa langsung dari Arabia,
meski interaksi penduduk Nusantara dengan muslim di timur India juga merupakan
faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sementara Keizjer memandang
Islam dari Mesir berdasarkan kesamaan mazhab kedua wilayah pada saat itu, yakni
Syafi’i. Sedangkan Nieman dan De Hollander memandang Islam datang dari
Hadramaut, Yaman, bukan Mesir. Sementara cendekiawan senior Nusantara, SMN.
Al-Attas menolak temuan epigrafis yang menyamakan batu nisan di Indonesia dengan
Gujarat sebagai titik tolak penyebaran Islam di Indonesia. Batu-batu nisan itu diimpor
dari Gujarat hanya semata-mata pertimbangan jarak yang lebih dekat dibanding
dengan Arabia. Al-Attas menyebutkan bahwa bukti paling penting yang perlu dikaji
dalam membahas kedatangan Islam di Indonesia adalah karakteristik Islam di
Nusantara yang ia sebut dengan “teori umum tentang Islamisasi Nusantara” yang
didasarkan kepada literatur Nusantara dan pandangan dunia Melayu.10
Menurut Al-Attas, sebelum abad XVII seluruh literatur Islam yang relevan tidak
mencatat satupun penulis dari India. Pengarang-pengarang yang dianggap oleh Barat
sebagai India ternyata berasal dari Arab atau Persia, bahkan apa yang disebut berasal
dari Persia ternyata berasal dari Arab, baik dari aspek etnis maupun budaya. Nama-
nama dan gelar pembawa Islam pertama ke Nusantara menunjukkan bahwa mereka
orang Arab atau Arab-Persia. Diakui, bahwa setengah mereka datang melalui India,
9
Masalah Islamisasi Nusantara, lihat misalnya : S.M.N. Al-Attas, “Prelimenary Statement on A General
Theory of the Islamization”, dalam Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan
Pustaka, 1969,. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, Medan: Panitia Seminar, 1963. T.D.
Situmorang dan A. Teeuw, Sejarah Melayu, Jakarta: Balai Pustaka, 1958, hlm. 65-66. Mohammad Said, Aceh Sepanjang
Abad, Medan: Waspada, 1981. Teuku Iskandar, De Hikayat Atjeh, (S-gravenhage: NV. De Nederlanshe Boek-en
Steendrukkerij V. H.L. Smits, 1959). Husein Djajaningrat, Kesultanan Aceh: Suatu Pembahasan Tentang Sejarah
Kesultanan Aceh Berdasarkan Bahan-bahan Yang Terdapat Dalam Karya Melayu, Teuku Hamid (terj.) (Banda Aceh:
Depdikbud DI Aceh. 1983). Siti Hawa Saleh (edt), Bustanus as-Salatin, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka,
1992). Denys Lombard, Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636, (terj), (Jakarta: Balai Pustaka,1992). C.
Snouck Hurgronje, Een- Mekkaansh Gezantscap Naar Atjeh in 1683”, BKI 65, (1991). Azyumardi Azra, Jaringan Ulama
Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 196. A. Hasymi, 59 Aceh
Merdeka Dibawah Pemerintah Ratu (Jakarta: Bulan Bintang, 1997).
10
Azra, op.cit. hal. 28

13
tetapi setengahnya langsung datang dari Arab, Persia, Cina, Asia Kecil, dan Magrib
(Maroko). Meski demikian, yang penting bahwa faham keagamaan mereka adalah
faham yang berkembang di Timur Tengah kala itu, bukan India. Sebagai contoh
adalah corak huruf, nama gelaran, hari-hari mingguan, cara pelafalan Al-Quran yang
keseluruhannya menyatakan ciri tegas Arab.11
Argumen ini didukung sejarawan Azyumardi Azra dengan mengemukakan
historiografi lokal meski bercampur mitos dan legenda, seperti Hikayat Raja-raja Pasai,
Sejarah Melayu, dan lain-lain yang menjelaskan interaksi langsung antara Nusantara
dengan Arabia.12
Hamka dalam pidatonya di acara Dies Natalis Perguruan Tinggi Agama Islam
Negeri (PTAIN) ke-8 di Yogyakarta pada tahun 1958, melakukan koreksi terhadap
Teori Gujarat. Teorinya disebut “Teori Mekah” yang menegaskan bahwa Islam berasal
langsung dari Arab, khususnya Mekah. Teori ini ditegaskannya kembali pada Seminar
Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17-20 Maret 1963. Hamka menolak
pandangan yang menyatakan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke
13 dan berasal dari Gujarat. Hamka lebih mendasarkan teorinya pada peranan bangsa
Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia. Gujarat hanyalah merupakan tempat
singgah, dan Mekah adalah pusat Islam, sedang Mesir sebagai tempat pengambilan
ajaran. Hamka menekankan pengamatannya kepada masalah mazhab Syafi’i yang
istimewa di Mekah dan mempunyai pengaruh besar di Indonesia. Sayangnya, hal ini
kurang mendapat perhatian dari para ahli Barat. Meski sama dengan Schrike yang
mendasarkan pada laporan kunjungan Ibnu Bathuthah ke Sumatera, Hamka lebih
tajam lagi terhadap masalah mazhab yang dimuat dalam laporan Ibnu Batutah. Selain
itu Hamka, juga menolak anggapan Islam masuk ke Indonesia pada abad XIII. Islam
sudah masuk ke Nusantara jauh sebelumnya, yakni sekitar Abad VII.13
Pandangan Hamka sejalan dengan Arnold, Van Leur, dan Al-Attas yang
menekankan pentingya peranan Arab, meski teori Gujarat tidak mutlak menolak
peranan Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara. Arnold sendiri telah mencatat
bahwa bangsa Arab sejak abad kedua sebelum Masehi telah menguasai perdagangan
di Ceylon (Srilangka). Memang tidak dijelaskan lebih lanjut tentang sampainya ke
Indonesia. Tetapi, bila dihubungkan dengan kepustakaan Arab kuno yang
menyebutkan Al-Hind (India) dan pulau-pulau sebelah timurnya, kemungkinan
Indonesia termasuk wilayah dagang orang Arab kala itu. Berangkat dari keterangan
Arnold, tidaklah mengherankan bila pada abad VII, telah terbentuk perkampungan
Arab di sebelah barat Sumatera yang disebut pelancong Cina, seperti disebutkan
Arnold dan Van Leur.14
b. Teori Champa (Jeumpa) Versi Raffles
11
Al-Attas, op.cit. hal. 54-55
12
Azra, op.cit. hal.30
13
Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia;
Bandung; Mizan; 1995; hal. 81.
14
Op.cit, hal. 92-93

14
Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang
peneliti sosial, Sir TS. Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebutkan bahwa
Campa yang terkenal di Nusantara, bukan terletak di Kambodia sekarang
sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Tapi Campa adalah nama daerah
di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Campa adalah
ucapan atau logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”. Jeumpa (Cempa) biasanya
dihubungkan dengan sebuah peristiwa pada zaman kerajaan Majapahit, terutama
pada masa pemerintahan Brawijaya V yang memiliki seorang permaisuri yang dikenal
dengan ”Puteri Campa”. Ada yang berpendapat bahwa Puteri inilah yang melahirkan
Raden Fatah, yang kemudian menyerahkan pendididikan putranya kepada seorang
keponakannya yang dikenal dengan Sunan Ampel di Surabaya. Sejarah mencatat,
Raden Fatah menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam
pertama di tanah Jawa yang mengakhiri sejarah Kerajaan Hindu-Jawa Majapahit.
Jeumpa yang dinyatakan Raffles sekarang berada di sekitar daerah Kabupaten Bireuen
Aceh.15
Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim
Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang
benar keberadaannya pada sekitar abad ke VIII Masehi yang berada di sekitar daerah
perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng
Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng
yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu
Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga
merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala
Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh
kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah
Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu
besar).16
Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai
tapak Maligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket
Teungku Keujereun, ditemukan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam
mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam
cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang
tangan. Di sekitar daerah ini pula ditemukan sebuah bukit yang diyakini sebagai
pemakaman Raja Jeumpa dan kerabatnya yang hanya ditandai dengan batu-batu besar
yang ditumbuhi pepohonan rindang di sekitarnya.
Berdasarkan silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh
Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa
pada 154 Hijriah atau tahun 770 Masehi dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsia

15
Sir Thomas Stamford Raffles, The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of
Mahomedanism. Published by John Murray, Albemarle-Street. 1830. Vol II, 2nd Ed, Chap X, hal. 74. 122
16
Lihat : Modus, No.15/TH.V/23-29 Juli 2007 hal.31

15
(India Belakang ?) yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang
kawin dengan Puteri Mayang Seulodong dan memiliki beberapa anak, antara lain
Shahri Poli, Shahri Tanti, Shahri Nawi, Shahri Dito dan Puteri Makhdum Tansyuri
yang menjadi ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak. Menurut peneliti sejarah
Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, Shahri adalah gelar pertama yang digunakan
keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah,
Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri
Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Shahri Banun, anak Maha Raja Parsia terakhir.
Mengenai keberadaan Shahri Nawi ini, disebutkan oleh Syekh Hamzah Fansuri.
Syekh ini adalah Ulama Sufi dan sastrawan terkenal Nusantara yang berpengaruh
dalam pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam, yang juga merupakan guru
Syamsuddin al-Sumatrani yang dikenal sebagai Syekh Islam Kerajaan Aceh
Darussalam pada masa Iskandar Muda. A. Hasymi menyebutkan beliau juga adalah
paman dari Maulana Syiah Kuala (Syekh Abdul Rauf al-Fansuri al-Singkili). Syekh
Fansuri dalam beberapa kesempatan menyatakan asal muasalnya dan hubungannya
dengan Shahri Nawi. Diantaranya syair :

Hamzah ini asalnya Fansuri


Mendapat wujud di tanah Shahrnawi
Beroleh khilafat ilmu yang ’ali
Daripada ’Abd al-Qadir Jilani

Hamzah di negeri Melayu,


Tempatnya kapur di dalam kayu

Dari rangkaian syair ini, maka jelaslah bahwa ada hubungan antara bumi
Shahrnawi (Shahr Nawi) dengan Fansur yang menjadi asal muasal kelahiran Syekh
Hamzah Fansuri dan tempat yang terkenal kafur Barus. Sebagaimana disebutkan di
atas, Shahrnawi atau Syahr Nawi adalah anak daripada Pangeran Salman (Sasaniah
Salman) yang lahir di daerah Jeumpa, di Aceh Bireuen saat ini. Syahrnawi adalah salah
satu tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan Kerajaan Islam Perlak, bahkan
beliau dianggap arsitek pendiri kota pelabuhan Perlak pada tahun 805 yang
dipimpinnya langsung, dan diserahkan kepada anak saudaranya Maulana Abdul
Aziz. Kerajaan Islam Perlak selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Islam Pasai dan
mendapat kegemilangannya pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.
Maka tidak mengherankan jika Syekh Hamzah Fansuri, mengatakan
kelahirannya di bumi Sharhnawi yang merupakan salah seorang generasi pertama
pengasas Kerajaan-Kerajaan Islam Aceh yang dimulai dari Kerajaan Islam Jeumpa.
Menurut beberapa data dan analisis yang akan dikemukakan nanti, bahwa hubungan
antara Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh berkaitan satu dengan lainnya. Pernyataan

16
Syekh Hamzah Fansuri ini juga menjadi hujjah yang menguatkan teori bahwa Jeumpa,
asal kelahiran Shahrnawi adalah Kerajaan Islam pertama di Nusantara.

c. Teori Hubungan Dagang Arab-Cina


Peter Bellwood dalam Reader in Archaeology Australia National University,
telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.
Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima
masehi, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan
kepulauan Nusantara dengan Cina. Dia menulis “Museum Nasional di Jakarta
memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu,
banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir
masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London....”.
Sifat perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang,
tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan
dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang
berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967;
Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di
beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai
catatannya.17
Perdagangan antara negara-negara Timur dengan Timur Tengah dan Eropa
berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga disebut
”jalur sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan Turkistan terus
ke Laut Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina dan India dengan
Eropa, merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun sebelum Masehi.
Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan Indonesia,
melalui Selat Malaka ke India; dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada yang melalui
Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga yang melalui Laut Merah dan Mesir. Diduga
perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina dan Indonesia sudah berjalan sejak
abad pertama sesudah Masehi.18
Seringnya terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan darat,
terutama di sekitar di Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan Timur-
Barat melalui laut (Selat Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal
Arab, Persia dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri
Cina dengan menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapal-
kapal Sumatra telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman
Sriwijaya, pedagang-pedagangnya telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan

17
Lihat juga: Peter Bellwood, Man’s Conquest of the Pacific. The Prehistory of Southeast Asia and
Oceania, New York: Oxford University Press. 1979. Peter Bellwood, Prehistory of the Indo-Malaysian
Archipelago, Orlando, Florida: Academic Press. 1985.
18
D.H.Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm.
15.)

17
pantai timur Afrika. Ramainya lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, maka telah
menumbuhkan kota-kota pelabuhan yang terletak di bagian ujung utara Pulau
Sumatra. Perkembangan perdagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan
Eropa melalui jalur laut telah menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di
wilayah Aceh yang diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya
terdapat di beberapa delta sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai kota
transit atau kota perdagangan.19
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan
Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G.R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah
orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para
pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada
zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara
negeri Arab dengan Nusantara saat itu. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Sumatra
telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina
sejak abad kelima Masehi,” 20
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang
seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah
Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah
berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera
sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan
wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang
menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun
674 M telah menemukan sekelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di
pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah
mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air.
HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para
pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.21
Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah
mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab,
pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang
sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan
untuk Amirul Mukminin. Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan
bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti
kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan
Khalifah Utsman bin Affan.
Para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di Cina saja, tapi juga
terus menjelajah sampai di Timur Jauh. Jauh sebelum penjelajah dari Eropa punya
19
M.A.P. Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago. The Hague:
Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 345 (catatan 122)
20
Tibbetts; Pre Islamic Arabia and South East Asia, JMBRAS, 19 pt. 3, 1956, hal. 207. Dr. Ismail Hamid
“Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam” .Jakarta: Pustaka Al-Husna cet. 1, 1989, hal. 11).
21
Prof. Dr. HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama; Jakrta: Pustaka Panjimas; cet.III; 1996; Hal. 4-5.

18
kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari Arab dan Timur
Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang cukup padat. Pada
masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang ke Cina. Pada
Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada pertengahan abad ke-7
sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau Kanton.
Setelah abad ke-7 M, Islam sudah berkembang pesat, misalnya menurut laporan
sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali
(Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di
Nusantara (Kerajaan Islam Perlak). 22

d. Teori Barus-Fansur Aceh


Barus-Fansur adalah tempat yang dikaitkan dengan penghasil kayu kamper
sebagai penghasil kapur (kamfer atau al-kafur dalam bahasa Arab) terdapat dalam
banyak sumber asli Arab, Persia, dan China dalam berbagai buku perjalanan, botani,
kedokteran, dan pengobatan. Kapur, yang dalam bahasa Latin disebut camphora,
merupakan bagian dalam (inti) kayu kamfer yang padat berisi minyak yang harum.
Masyarakat pra-Islam telah mengenal kafur yang masyhur itu, hal ini dibuktikan
dengan penemuan penggunaan kata kafur yang disebut berkali-kali dalam syair-syair
Arab sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.23
Dalam karya dua orang sejarawan, Ibn al-Atir (wafat tahun 1233 M), dan Ibn al-
Baladuri (wafat tahun 1473) tercatat bahwa pada tahun 16 H/637 M, sewaktu
perebutan ibu kota Dinasti Sassanid, yaitu Ctesiphon, orang-orang Arab menemukan
kamper/kafur yang dikira garam di antara rempah-rempah dan wangi-wangian.24
Ibn Gulgul, abad ke-10 M, seorang ahli biobibliografi dan ilmu kedokteran dari
Andalusia, mencata kafur atau kamfer dalam 63 bahan obat-obatan baru yang belum
dikenal sebelumnya sebagai obat, kecuali hanya pewangian dan alat-alat ritual semata
di agama-agama paganisme. Ibn Sarabiyun pada abad ke-10 juga mulai
memperkenalkan zat yang sangat ampuh ini. Ibn al-Baytar yang mengutip Ishaq ibn
Imran yang hidup awal abad ke-9 M juga melakukan hal yang sama. Ketiganya
melalui serangkaian eksperimen yang dilakukan berhasil menjelaskan berbagai fungsi
dan kegunaan kafur dengan berbagai campuran untuk khasiat yang berbeda-beda.
Fungsinya dalam berbagai bentuk olahan diantaranya adalah, sebagai balsem,
penghobatan kandung empedu, radang hati, demam tinggi, berbagai penyakit mata,
sakit kepala akibat liver, memperkuat organ dan indra, mengontrol syaraf, pembiusan
alami, pendarahan, menguatkan gigi, dan lain-lain.
Al-Kindi, salah seorang intelektual Arab, menyebutkan kapur barus sebagai
salah satu unsur penting untuk membuat wangi-wangian. Sekitar abad ke-8, kapur
22
F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries,
St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159.
23
Lihat: artikel "Kafur", A. Dietrich, Ensiklopedia Islam (E.I) 2 hal: 435-436.
24
W. Heyd, Histoire du commerce du Levant [Sejarah Pergadangan di Kawasan Syria-Libanon], edisi Prancis
yang disusun kembali oleh Furcy Raynand, Amsterdam: Adolf M, Hakkert, 1967, tambahan I, hal 590).

19
barus merupakan salah satu dari lima rempah dasar dalam ilmu kedokteran Arab dan
Persia. Empat unsur yang lain adalah kesturi, ambar abu-abu, kayu gaharu, dan
safran. Pada zaman Abbasiyah, hanya orang kaya dan para pemimpin saja yang
menggunakan pewangi dari air kapur barus untuk cuci tangan selepas perjamuan
makan.
Ibnu Sina atau yang dalam literatur Eropa dikenal sebagai Aveceena, dalam
bukunya yang terkenal tentang ensiklopedia pengobatan dan obat-obatan, al-Qanun Fi
al-Tib, mencatat manfaat kamfer sebagai obat penenang dan mendinginkan suhu
badan yang tinggi. Kamfer juga dipakai sebelum dan sesudah pembedahan, sebagai
obat liver, obat diare, sakit kepala, mimisan, dan sariawan. Aviceena menulis: "Jika
kafur dipakai sedikit, maka obat ini dapat membantu menenangkan, karena bahan ini
dingin. Kadang kala obat ini menurunkan suhu badan yang tinggi akibat badan
kurang sehat karena lemah. Efek yang menguatkan dan menenangkan ini disertai efek
harumnya. Efek pendinginannya dikurangi dengan kasturi dan ambar, dan
kekeringannya dikurangi dengan minyak wangi dan pelunaknya, misalnya minyak
cengkeh dan minyak bunga berwarna ungu lembayung. Kafur merupakan penangkal
racun, khususnya racun panas. Berkat kafur pikiran menjadi lebih tajam dan terang;
oleh karena itu kafur menguatkan dan menyenangkan. Efeknya serupa ambar kuning,
tetapi lebih kuat dan lebih bermanfaat."25
Selain bangsa Arab, bangsa Persia juga berdatangan untuk meneliti kegunaan
kafur dari Fansur ini. Buku tertua mengenai ilmu kedokteran yang ditulis dalam
bahasa Persia adalah buku Muwaffak al-Din Abu Mansur Ali al-Harawi (abad ke-10
M), yang berjudul Kitab al-Abniya 'an haqa'iq al-Adwiya [Buku mengenai dasar dan
kebenaran obat-obatan asli]. Dalam bukunya yang berjudul Hidayat al-muta'alimin fi
al-tibb (Panduan untuk mahasiswa ilmu kedokteran), al-Bukhori (abad ke-10) seorang
mahasiswa Harawi dan dokter terkenal al-Razi (abad ke-9 dan 10 M) berhasil
mengembangkan kafur dalam berbagai bentuk resep, sebanyak 31 resep. Salah satunya
adalah dalam penanggulanagn penularan penyakit pes.
Orang-orang Yunani telah terlibat secara intens dalam pengembangan ilmu
kedokteran. Salah satu buku yang berhasil ditemukan seperti catatan Actius dari
Amide dari abad ke-6 dan ke-7 M, menyebutkan kafur dalam karyanya Libri
Medicinales.
Salah satu surat pertama dari riga surat karya al-Kind yang berjudul al-rasail al-
hikmiyya fi asrul al-ruhaniyya [Risalah-risalah Hukum tentang Rahasia-Rahasia
Batin], dikatakan bahwa kafur milik Devi Venus dan digunakan dalam pengasapan
yang dipersembahkan kepadanya. "Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan Venus
dari cahaya dan kecerahan; Venus memberi kebaikan dalam semua posisinya … di
antaranya batu maha yang dimilikinya; dalam badan manusia, perut dan usus yang
dimilikinya; dalam abjad tiga huruf yang dimilikinya ('ain, ha dan kaf); di antara

25
Ibn Baytar, Traite des Simples par Ibn el-Beithar. Terj. Dr. L. Leclerc, 3 jil. –Paris: 1881-1887.

20
bahan murni untuk pengasapan yang dimilikinya terdapat: ambar abu-abu, qust,
tanaman fagara, kafur, bunga mawar kering, laudanum."26
Dijelaskan di Alf Layla wa layla (Seribu Satu Malam) oleh Sindbad, sang
petualang yang terkenal: "Sesudah bangun keesokan harinya, kami pergi melewati
gunung-gunung tinggi ke Pulau Riha yang kaya dengan pohon kafur. Setiap pohon
dapat membayangi lebih dari 100 orang. Puncak pohonnya ditoreh dan air yang
mengalir darinya dapat mengisi beberapa wadah. Kafur mulai menetes dan tetesannya
mirip lem. Sesuadah itu kafur tidak meleleh lagi dan pohonnya menjadi kering." Riha
adalah berarti kafur yang bermutu tinggi yang berarti al-Kafur al-Fansuri. Jadi Pulau
Riha yang dimaksud adalah daerah Fansur.
Kapur barus juga dipakai untuk memandikan jenazah sebelum dikuburkan.
Variasi penggunaan kapur barus ini menyebabkan nilai jualnya sangat tinggi. Manfaat
kapur barus ini kemudian menyebar ke Yunani dan Armenia karena pada periode
tersebut ilmu kedokteran dari Arab dan Persia menjadi acuan dunia.
Di akhir abad ke-4 M, istilah "P'o-lu" yang berarti Barus mulai dikenal oleh
Bangsa Cina. Istilah ini diketahui sebagai rujukan kepada seluruh wilayah utara
Sumatera. Barulah pada akhir abad ke-9, seorang ahli geografi Arab, Ibn Khurdadhbih
menyebutkan nama Ram(n)i: "Di belakang Serendib terletak daerah Ram(n)I, dimana hewan
badak dapat ditemukan… Pulau ini menghasilkan pohon bambu dan kayu Brazil, akar-akar
yang dapat digunakan sebagai obat anti racun-racun mematikan…Di negeri ini juga tumbuh
pohon-pohon kapur yang tinggi,"27
Kira-kira pada abad yang sama, sebuah buku Akhbar al-Sin wa al-Hind juga
menyebutkan nama Ramni: "Ramni (yang) terdapat didalamnya gajag-gajah dalam jumlah
yang banyak berserta kayu Brazil dan bambu. Pulau itu dikelilingi oleh dua lautan..Harkand
dan dan Salahit" . Nama Ramni atau Ram(n)I, kemungkinan besar, dengan melihat peta
dan posisi Sri Lanka atau Serendib, adalah Sumatera bagian utara dan lebih tepatnya
lagi timur laut Aceh. (The sea of Harkand was the Bay of Bengal. Salaht (or Salahit) is
believed to be derived from the Malay word selat or Straits, i.e., what is now known as
the Selat Melaka).28
Abu Zaid Hasan pada tahun 916 M, saat dia menjelaskan penguasa Maharaja
Zabaj (Sriwijaya) menyebut juga Ranmi: "nama pulau tersebut adalah Rami (Ramni) yang
luasnya delapan ratus parasangs (From the Persian farsakh, it was approximately 3 Y2
miles in extent) di daerah tersebut. Di sana dapat ditemukan kayu Brazil, kapur dan
tumbuhan lainnya."29
Pada tahun 943, Masudi mencatat: “Kira-kira seribu parasangs (dari Serendib)
masih terdapat sebuah pulau yang bernama Ramin (yakni Ramni) yang dihuni dan

26
G. Celentano, L.V. Vaglieri, "Trois Epitres d'al-Kindi: textes et traduction avec XIX plaches facsimile des trois
epitres", dalam Annali dell Istituto universitario Orientale di Nipoli, jil 34, buku 3 (1974) hal 523-562.
27
Tibbetts, Arabic Texts, hal. 27-28.
28
Wolters, Early Indonesian Commerce, hal. 178)
29
Tibbetts, Arabic Texts, hal. 30

21
diperintah oleh raja-raja. Daerah tersebut penuh dengan tambang emas, dan dekat
dengan tanah Fansur, yang menjadi asal kapur fansur, yang hanya dapat ditemukan
di Fansur dengan jumlah yang besar dalam tahun-tahun yang penuh dengan topan
dan gempa bumi.30
'Ajaib al-Hind', yang ditulis tahun 1000 M, menjelaskan banyak referensi
mengenai Lambri. Muhammad ibn Babishad melaporkan: ”Di Pulau Lamuri terdapat
zarafa yang tingginya tidak terkira. Dikatakan bahwa pelaut-pelaut yang terdampar
di Fansur, terpaksa harus pindah ke Lamuri. Mereka mengungsi di waktu malam
karena takut dengan zarafa; karena mereka tidak muncul di siang hari… Di pulau ini
juga terdapat semut-semut raksasa dalam jumlah besar, terutama di kawasan Lamuri
”.... "Lububilank, yang merupakan sebuah teluk, (Tibbetts identifies this with Lho'
Belang Raya (Telok Balang), 5°32f N, 95°17' E. Ibid., p. 141) terdapat orang-orang yang
memakan manusia. Orang-orang kanibal ini mempunyai ekor, dan menghuni tanah
antara Fansur dan Lamuri." 31
Lambri dalam karya para ahli geografi Arab tidak dijelaskan lebih lanjut. Ramni
juga disebutkan oleh Biruni pada tahun 1030. Nama tersebut juga ditulis dalam teks
Dimashqi di tahun 1325 dalam buku Cowan,"Lamuri," hal. 421.
Satu-satunya sumber India menyebutkan Lambri dalam transkrip Tanjore dari
Bangsa Tamil dalam pemerintahan Rajendra Cola, dimana nama "Ilamuridesam yang
sangat murka terlibat dalam perang" disebutkan bersama toponim lain sebagai daerah
target-target penggempuran mereka pada tahun 1025.32
Ahli geografi Cina Chou Ch'u-fei menulis, pada tahun 1178, nama Lan-li
dimana kapal-kapal dari Canton atau Guangdong sering merapat sambil menunggu
bulan purnama untuk memudahkan mereka berlayar menuju Lautan India tepatnya
Sri Lanka dan India.33
Hampir lima puluh tahun kemudian, Chau Ju-kua menyebut Lan-wu-li, dan
melaporkan bahwa; "Hasil-hasil produksi kerajaan Lan-wu-li adalah kayu sapan
(Brazilwood (Caesalpinia sappan, Linn.), gading gajah dan rotan putih. Penduduknya
menyukai perang dan sering menggunakan panah beracun. Dengan angin utara,
pelaut dapat berlayar selama dua puluh hari ke Silan…."34
Dia selanjutnya mendukung informasi yang diberikan oleh Chou Ch'u-fei:
”Ta-shi terletak di Timur Laut dari Ts'uan-chou dengan jarak yang sangat jauh, jadi
kapal-kapal asing kesulitan untuk melakukan pelayaran langsung. Setelah kapal-kapal
tersebut meninggalkan Ts'uan-chou mereka akan berlayar terlebih dahulu selama
empat puluh hari ke Lan'li, dimana mereka akan menyempatkan diri untuk

30
Ibid, hal. 37-38
31
Ibid, hal. 44-45
32
K. A. Nilakanta Sastri, History of Srivijaya (Madras: University of Madras, 1949), hal. 80, 81.
33
Almut Netolitzky, Das Ling-wai Tai-ta von Chou-chu-fei,( Weisbaden: Heiner Verlag, 1977), hal. 40-41)
34
Friedrich Hirth and W. W. Rockhill, Chau Ju-kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth
and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi (St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences, 1911), hal. 72).

22
berdagang. Tahun berikutnya akan kembali ke laut, dengan dukungan angin mereka
akan menghabiskan enam puluh hari untuk melanjutkan perjalanan.35
Marco Polo, sekembalinya dari Cina ke Eropa tahun 1292, menyebutkan, selain
Perlak yang sudah memeluk Islam, nama Lambri bersama lima kerajaan kafir lainnya.
Dia menulis bahwa; "Penduduknya penyembah berhala, dan menyebut dirinya hamba
Kaan yang agung. Mereka memiliki kapur dalam jumlah yang besar dan sejumlah
spesis lainnya. Mereka juga memiliki kayu brazil dalam jumlah yang besar…" Di tahun
1284 dan juga tahun 1286, Lambri dilaporkan mengirimkan upeti kepada Dinasti Yuan
di China.36
Seorang musafir Persia, Rashiduddin, pada tahun 1310 menulis bahwa para
saudagar dari berbagai negara sering datang ke Lamori, dan pada tahun 1323, Friar
Odoric dari Pordenone menjelaskan bahwa Lambri merupakan pusat perdagangan di
mana para saudagar dari negara-negara yang sangat jauh, dan kapur, emas dan pohon
gaharu juga tersedia. Di sini dia kehilangan pandangan terhadap bintang utara.37
Wang Ta-yuan pada tahun 1349, menulis tentang Nan-wu-li, yang katanya:
”Tempat ini merupakan pusat perdagangan yang sangat penting di Nan-wu-li.
Pegunungan raksasa bak gelombang terdapat dibelakangnya, terletak di pinggiran
laut Jih-yueh wang yang sangat diragukan di sana ada tanah. Penduduk setempat
hidup di sepanjang bukit, setiap keluarga tinggal di rumah masing-masing. Masing-
masing lelaki dan wanita menggulung rambut mereka dalam sanggul di atas namun
membiarkan bagian atas tubuh mereka terbuka, dan bagian bawah dibungkus sarung.
Buminya sangat tandus, panennya sangat jarang, dan iklimnya sangat panas. Sebagai
kebiasaan, mereka tunduk kepada bajak laut seperti orang-orang di Niu-tan-his
(Tumasek). Komoditas lokal adalah sarang burug, cangkang kura-kura, cangkang
penyu dan kayu laka, yang sangat bermutu dalam hal aroma. Komoditas yang
biasanya diperdagangkan di sini adalah emas, perak, aksesoris besi, bunga mawar,
muslin merah, kapur, porcelin dengan desain biru dan putih dan lain-lain.”38
Pada tahun 1365, Kronik Jawa, Negarakrtagama, menggambarkan Lamuri
sebagai negara yang tergantung kepada Majapahit.39
Ma Huan yang menulis pada awal tahun 15 M, menyebutkan Nan-po-li, yang
dikunjungi oleh kapal induk dinasti Ming, dengan nakhoda Cheng Ho: ”Kerajaan ini
terletak di samping laut, dan penduduknya terdiri dari hanya seribu keluarga.
Semuanya Muslim, dan mereka sangat jujur dan tulus. Di bagian timur teritori itu,
terletak sebuah negeri bersama Li-tai, dan di bagian barat dan utara terletak lautan
luas; jika anda pergi ke selatan, terdapat pegunungan; dan di bagian selatan
pegunungan tersebut terletak lagi lautan. Ma Huan juga menyebutkan nama Pulau

35
Ibid, hal.114
36
Henry Yule and Henri Cordier, The Book of Ser Marco Polo, 2 vols. (Reprint, Amsterdam: Philo Press, 1975),
2:299)
37
Ibid, hal. 300
38
ibid
39
Th. C. Th. Pigeaud, Jam in the Fourteenth Century, 5 vols. (The Hague: Nyhoff, I960), 1:11

23
Wei, sebuah pulau sekitar sembilan mil lauty di lepas pantai Timur Laut Aceh yang
juga terdapat pelabuhan alami yang bagus, sekarang terdapat pelabuhan Sabang.
Pulau Wei sering disebutkan dalam sumber-sumber sejarah dan dalam terjemahan
bahasa Cina bernama "pulau Hat". Ch'ieh-nan-mao, sebuah daerah penghasil kayu
gaharu.40
Ma Huan menggambarkan Pulau Wei: ”Terletak di arah laut Timur Laut
Lambri, dimana terdapat pegunungan raksasa yang sangat curam, yang dapat dicapai
dengan setengah hari perjalanan; namanya pegunungan Mao. Di bagian barat
pegunungan ini, juga, terdapat lautan luas; ini namanya Samudra Barat yang disebut
Samudra Nan-mo-li, kapal-kapal yang datang dari Samudra dari arah barat berlabuh
di sini, dan mereka melihat pegunungan ini sebagai petunjuk arah. Di laut yang
dangkal, sekitar dua cang dalamnya, di pinggir pegunungan, tumbuh pohon-pohon
laut; penduduk di sana mengumpulkannya dan menjualnya sebagai komoditas yang
berharga. Ini namanya karang. Kerajaan ini tunduk kepada jurisdiksi kerajaan Nan-po-
li.41
Awal abad ke-16 M, Tome Pires memberikan gambaran yang lebih tepat
mengenai lokasi Lambri. Dia mengatakan bahwa; "Aceh merupakan negara pertama di
bagian pulau Sumatera, dan Lambri benar-benar di bagian kanannya, yang terletak
menjorok ke darat dan tanah Biar (45) terletak antara Aceh dan Pidie, dan sekarang
negeri-negeri ini tunduk kepada Aceh dan memerintah di kedua wilayah tersebut
dan dialah raja satu-satunya di sana. Raja ini adalah Moo…".42
Istilah Lambri dan beberapa versi lainnya biasanya ditujukan kepada seluruh
pantai utara Aceh, nampaknya hal tersebut di atas menunjukkan pada titik tertentu
yang menjadi informasi kepada pelayaran yang aman dari ombak Teluk Bengal,
sebuah sumber air segar. Buku Hikayat Atjeh juga memberikan petunjuk. Pada halaman
17 dari manuskrip tersebut, diterbitkan oleh Teuku Iskandar, terdapat sebuah
petunjuk mengenai Lambri, "teluk Lambri".43
Chau Ju-kua tidak menyebutkan kapur diperdagangkan di Lambri, tapi diduga
bahwa Ujung Pancu dan Kuala Pancu di Lhok Lambro dekat banda Aceh
kemungkinan besar sangat berhubungan dengan Fansur. Kapal-kapal yang harus
memutar di Ujung Pancu, harus melalui Lambri ke Barus. Nama Lambri dan Barus,
makanya, sering dibingungkan dalam pelayaran kuno karena eratnya kedua kota ini.
Sementara Chia Tan yang menulis buku pada era awal abad ke-8, menyebutkan
pelabuhan P'o-lu, merupakan daerah yang kaya dengan emas, mercury dan kapur.
Pelabuhan tersebut merupakan titip kepergian bagi kapal-kapal yang datang dari Sriwijaya
barat melalui Samudera India ke Sri Langka.

40
Mills, Ma Huan, hal 122-123.
41
Ibid, hal. 123-124
42
ibid
43
T. Iskandar, Hikayat Atjeh, op.cit. hal. 17

24
f. Teori Kaafuro Dalam al-Qur’an
Hubungan erat Aceh-Melayu dengan dunia Arab juga dapat ditelusuri dari
beberapa kata di dalam al-Qur’an. Sebagaimana diketahui al-Qur’an adalah kumpulan
wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui
perantaraan malaikat Jibril as sejak pertama diangkat menjadi Nabi di Gua Hira’
sampai beliau wafat di Madinah pada tahun 10 Hijriah. Sampai saat ini tidak ada
satupun manusia yang dapat menyanggah bahwa al-Qur’an dengan segala
kemukjizatannya bukan berasal dari Allah Sang Pencipta. Karena mana mungkin
seorang yang buta huruf seperti Nabi Muhammad dapat membuat sebuah kitab agung
yang memiliki gaya bahasa Arab tertinggi dan tidak mampu dijangkau oleh seorang
pujangga teragung sekalipun. Karena al-Qur’an bukan hanya kitab sastra, tapi kitab
hukum, undang-undang, pengetahuan, politik dan seterusnya yang disampaikan
dengan untaian indah. Terlalu banyak makhluk yang tertegun dengan keindahan al-
Qur’an. Telah disepakati para Ulama, bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa
Arab, sebagaimana dinyatakan al-Qur’an sendiri. Namun bahasa Arab al-Qur’an
adalah bahasa Arab tertinggi yang telah melahirkan gramatika bahasa Arab
kontemporer. Para ulama juga berpendapat ada beberapa kata al-Qur’an yang bukan
berasal dari bahasa Arab asli, namun bahasa non Arab yang sudah banyak digunakan
dan dimengerti oleh masyarakat Arab.44
Salah satu bahasa Aceh-Melayu yang sudah tersebar di dunia Arab, termasuk
Mesir sejak zaman kekuasaan Ramses (Fir’aun) adalah kafur. Sebagaimana dijelaskan
terdahulu dalam teori kafur Barus, bahwa kafur min barus adalah sebuah komuditas
mewah wangi-wangian yang berasal dari inti kayu kamfer yang dalam bahasa latin
dikenal dengan champora. Tidak diragukan bahwa penghasil terbesar kapur zaman itu
adalah wilayah yang terletak di ujung barat pulau Sumatera, yang sekarang berada di
wilayah Aceh. Bahkan dalam teori terdahulu telah disebutkan banyak dalil tentang
Barus-Fansur awal, yang berada di sekitar Lamuri-Aceh.
Pada al-Qur’an surat al-Insan (76) ayat ke 5 menyebutkan: Sesungguhnya orang-
orang yang berbuat kebajikan akan meminum dari gelas, minuman yang dicampur kafur.
Kebanyakan mufassirin dalam tafsirnya masing-masing seperti Ibn. Abbas, Jalalain, al-
Qurthubi, Ibn Katsir dan lain-lainnya, mengartikan kafur sebagai campuran dari
minuman yang merehatkan, nikmat, yang dapat membuat tenang dan biasanya
dijadikan obat. Walaupun ada yang menyebutkan sebagai nama mata air di syurga.
Pendapat pertama lebih banyak dirujuk mengingat penggunaan kafur yang sudah
umum sebagai bahan obat-obatan, wangi-wangian dan bahan perisa di dunia Arab
pra-Islam seperti di Alexenderia Mesir dan lainnya. Namun hampir semuanya sepakat
44
Lebih terinci lihat misalnya : Dr. Subhi Shaleh, Mabahits fi ‘ulum al-Qur’an, Beirut : Dar Ilm li al-Maliyin, tt.
Syaikh Muhammad Ali al-Shabuni, al-Tibyan fi ‘ulum al-Qur’an, Damsyik : Maktabah al-Ghazaly, Thabaah
Tsalist, 1981. Dr. M. Ali al-Hasan, al-Manar fi ‘ulum al-Qur’an, Amman : Matbaah al-Syuruq, 1983. Dr. Shabir
Thayyimah, Hazha al-Qur’an, Bairut : Dar al-Jiil, 1989. Syaikh Muhammad Rasyid Ridho, al-wahy al-
Muhammady, Bairut : Dar al-Fiqr, 1968.

25
bahwa kata ini bukan asli bahasa Arab, sebagaimana disebutkan Ibn Manzhur dalam
Lisan al-Arab karena tidak ditemukan dalam bahasa Arab Jahiliyah atau bahasa Arab
purba. Maka dengan demikian, tidak diragukan bahwa kata kafur yang dimaksudkan
al-Qur’an adalah kapur dari Barus sebagai lambang kemewahan pada zaman itu .
Kata "kafur", menurut Karel Steenbrink, secara pasti bukan istilah Arab. Akar
kata "kafara" bisa berarti menghindari atau tidak berterima kasih. Sedangkan kata
"kafur", yang berarti kapur barus atau kamper, berasal dari bahasa Melayu. Steenbrink
menyimpulkan bahwa kata "kafur" bukan hanya penghubung secara etimologis antara
al-Qur'an dan Nusantara, tetapi juga komoditi yang sejak abad ke-7 telah dibawa oleh
pedagang Muslim dari Nusantara.45
Dengan terdapatnya kata kafur di dalam al-Qur’an, maka dapat diartikan
bahwa daerah penghasil kafur yang paling populer di seluruh dunia, seperti Barus,
Fansur, Lamri dan sekitarnya di wilayah Aceh, tentu telah berhubungan erat dengan
masyarakat tempat al-Qur’an diturunkan, yaitu masyarakat Arab. Saking populernya
kafur dalam masyarakat Arab sebagai sebuah simbol kenikmatan, sehingga
dimasukkan sebagai kata dalam al-Qur’an. Jika kita boleh mengambil hikmah
dimasukkannya kata kafur ke dalam al-Qur’an, Sang Sumber al-Qur’an mudah-
mudahan bermaksud untuk memberi perhatian dan kehormatan pada asal benda ini,
Aceh, sebagai kawasan yang memiliki peranan penting dalam penyebaran agama-Nya.
Dan memang sejarah telah membuktikan bahwa Aceh telah menjadi tapak persemaian
penting Islam di Nusantara yang telah melahirkan Kerajaan-Kerajaan Islam yang
sangat berpengaruh dalam proses Islamisasi dan menggusur peran Hindu-Budha.
Hanya Allah Yang Maha Tahu..........

f. Teori Korespondensi Khalifah Abdul Aziz-Raja Sri Indravarman


Ibn Abd Al Rabbih dalam karyanya Al Iqd al Farid sebagaimana dikutip
Azyumardi Azra dalam bukunya Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan
Nusantara Abad XVII dan XVIII menyebutkan ada proses korespondensi yang
berlangsung antara raja Sriwijaya kala itu Sri Indravarman dengan khalifah Umar bin
Abdul Azis yang terkenal adil tersebut.
“Dari Raja di Raja [Malik al Amlak] yang adalah keturunan seribu raja; yang istrinya juga
cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di
wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu, bumbu-bumbu wewangian, pala
dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada
Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan
kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi
sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat
mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya,”

45
Karel Steenbrink, Pondok Pesantren, Jakarta: LP3ES,

26
Diperkirakan hubungan diplomatik antara kedua pemimpin wilayah ini
berlangsung pada tahun 100 Hijriah atau 718 Masehi. Tak dapat diketahui apakah
selanjutnya Sri Indravarman memeluk Islam atau tidak. Tapi hubungan antara
Sriwijaya dan pemerintahan Islam di Arab menjadi penanda babak baru Islam di
Nusantara. Jika awalnya Islam masuk memainkan peranan hubungan ekonomi dan
dagang, maka kini telah berkembang menjadi hubungan politik keagamaan. Dan pada
kurun waktu ini pula Islam mengawali kiprahnya memasuki kehidupan raja-raja dan
kekuasaan di wilayah-wilayah Nusantara.46

g. Teori Kerajaan Islam Perlak


Perlak pada tahun 805 Masehi adalah bandar pelabuhan yang dikuasai
pedagang keturunan Parsi yang dipimpin seorang keturunan Raja Islam Jeumpa
Pangeran Salman al-Parsi dengan Putri Manyang Seuludong bernama Meurah Shahr
Nuwi. Sebagai sebuah pelabuhan dagang yang maju dan aman menjadi tempat
persinggahan kapal dagang Muslim Arab dan Persia. Akibatnya masyarakat
Muslim di daerah ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sekali
lantaran banyak terjadinya perkawinan di antara saudagar Muslim dengan wanita-
wanita setempat, sehingga melahirkan keturunan dari percampuran darah Arab dan
Persia dengan putri-putri Perlak. Keadaan ini membawa pada berdirinya kerajaan
Islam Perlak pertama, pada hari selasa bulan Muharram, 840 M. Sultan pertama
kerajaan ini merupakan keturunan Arab Quraisy bernama Maulana Abdul Azis
Syah, bergelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Menurut Wan
Hussein Azmi, pedagang Arab dan Persia tersebut termasuk dalam golongan Syi'ah.47
Wan Hussein Azmi dalam Islam di Aceh mengaitkan kedatangan mereka dengan
Revolusi Syi'ah yang terjadi di Persia tahun 744-747. Revolusi ini di pimpin
Abdullah bin Mu'awiyah yang masih keturunan Ja'far bin Abi Thalib. Bin
Mu'awiyah telah menguasai kawasan luas selama dua tahun (744-746) dan mendirikan
istana di Istakhrah sekaligus memproklamirkan dirinya sebagai raja Madian, Hilwan,
Qamis, Isfahan, Rai, dan bandar besar lainnya. Akan tetapi ia kemudian dihancurkan
pasukan Muruan di bawah pimpinan Amir bin Dabbarah tahun 746 dalam
pertempuran Maru Sydhan. Kemudian banyak pengikutnya yang melarikan diri ke
Timur Jauh. Para ahli sejarah berpendapat, mereka terpencar di semenanjung
Malaysia, Cina, Vietnam, dan Sumatera, termasuk ke Perlak.
Pendapat Wan Hussein Azmi itu diperkaya dan diperkuat sebuah naskah tua
berjudul Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlah w'l-Fasi, karangan Abu Ishak Makarni al-
Fasy, yang dikemukakan Prof. A. Hasjmi. Dalam naskah itu diceritakan tentang
pergolakan sosial-politik di lingkungan Daulah Umayah dan Abbasiyah yang kerap
menindas pengikut Syi'ah. Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-

46
Azyumardi Azra, op.cit.
47
Wan Huseein Azmi, Islam di Aceh, Kuala Lumpur: UKM. hal.

27
Rasyid (813-833), seorang keturunan Ali bin Abi Thalib, bernama Muhammad bin
Ja'far Shadiq bin Muhammad Baqr bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi
Thalib, memberontak terhadap Khalifah yang berkedudukan di Baghdad dan
memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang berkedudukan di Makkah.
Khalifah Makmun berhasil menumpasnya. Tapi Muhammad bin Ja'far Shadiq
dan para tokoh pemberontak lainnya tidak dibunuh, melainkan diberi ampunan.
Makmun menganjurkan pengikut Syi'ah itu meninggalkan negeri Arab untuk
meluaskan dakwah Islamiyah ke negeri Hindi, Asia Tenggara, dan Cina. Anjuran
itu pun lantas dipenuhi. Sebuah Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang
pimpinan Nakhoda Khalifah yang kebanyakan tokoh Syi'ah Arab, Persia, dan Hindi
---termasuk Muhammad bin Ja'far Shadiq--- segera bertolak ke timur dan tiba di
Bandar Perlak pada waktu Syahir Nuwi menjadi Meurah (Raja) Negeri Perlak. Syahir
Nuwi kemudian menikahkan Ali bin Muhammad bin Ja'far Shadiq dengan adik
kandungnya, Makhdum Tansyuri. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama
Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H dilantik menjadi Raja dari
kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah.
Dari beberapa teori di atas, dapatlah disimpulkan bahwa proses Islamisasi ke
Aceh sudah terjadi sejak awal perkembangannya, ketika Nabi Muhammad saw masih
hidup yang dilakukan oleh para saudagar Arab yang memang sudah hilir mudik
berdagang dari Mesir, Aden, Muscat, Parsia, Gujarat ke Cina melalui Barus-Fansur
yang dipastikan terletak di ujung barat pulau Sumatera. Para saudagar Arab pra-Islam
diketahui sudah memiliki perkampungan di sekitar pesisir pulau Sumatera,
terbentang dari Barus-Fansur, Jeumpa, Perlak sampai di Palembang pada zaman
Kerajaan Hindu Sriwijaya.
Islamisasi Aceh mengalami puncaknya pada zaman Khalifah al-Rasyidin,
terutama di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab yang gencar
mengirimkan para duta yang merangkap sebagai pendakwah Islam sampai ke negeri
Cina, pada sekitar awal abad ke VII Masehi. Cina menjadi tujuan dakwah para
Khalifah berkaitan dengan sebuah hadits Nabi yang populer: tuntutlah ilmu walau
sampai ke negeri Cina. Karena Cina pada zaman itu telah mencapai keemasaanya,
sebagaimana Rumawi, Yunani ataupun Mesir dan Parsia sebagai pusat-pusat
perdagangan, peradaban dan kemakmuran dunia yang jejaknya masih terekam jelas
pada peta jalur sutera (silk road). Jalur ini kemudian dipindahkan ke jalur laut karena
berkembang pesatnya teknologi kelautan dengan kapal-kapalnya yang mampu
berlayar lama.
Para pembawa Islam datang langsung dari Semenanjung Arabia yang
merupakan utusan resmi Khalifah atau para pedangan profesional Islam yang
memang telah memiliki hubungan perdagangan dengan Aceh, sebagai daerah
persinggahan dalam perjalanan menuju Cina. Hubungan yang sudah terbina sejak
lama, yang melahirkan asimiliasi keturunan Arab-Aceh di sekitar pesisir ujung pulau
Sumatra, telah memudahkan penyiaran Islam dengan bahasa asal mereka, yaitu

28
bahasa Arab yang dengan al-Qur’an diturunkan. Pengaruh bahasa Aceh-Melayu
dalam al-Qur’an dapat dijumpai pada kata kafuro, yang tidak pernah ada dalam bahasa
Arab pra-Islam.
Hubungan baik antara masyarakat Aceh dengan pendatang dari Arab telah
mendorong tumbuhnya perkampungan yang membesar menjadi Kerajaan-Kerajaan
Islam sebagai pengganti Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Islam pertama di
Aceh, yang juga merupakan Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan
Islam Jeumpa yang didirikan oleh salah satu keturunan Nabi Muhammad yang
melarikan diri dari Persia bernama Sasaniah Salman al-Parsi pada tahun 154 Hijriah
atau sekitar tahun 770 Masehi. Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat Islamisasi di
Nusantara, khususnya Aceh. Salah seorang Pangeran Jeumpa, Shahrnawi, yang
namanya disebut oleh Syekh Hamzah Fansuri, menjadi pelopor pedirian Kerajaan
Islam Perlak pada tahun 805 Masehi, dan mengangkat anak saudaranya, Maulana
Abdul Aziz cicit dari Imam Ja’far Sidiq sebagai Sultan pertama Kerajaan Perlak pada
tahun 840 M.
Maka jelaslah kebohongan Teori Gujarat yang dipopulerkan Snouck bersama
antek-anteknya. Karena ternyata Islam berkembang sejak awal abad ke VII Masehi,
lebih awal 600 tahun dari yang dikemukakan Teori Gujarat Snouck. Selanjutnya
diharapkan para cendekiawan Muslim dapat mengadakan penelitian yang lebih
mendalam lagi tentang sejarah masuknya Islam di Nusantara, terutama Aceh sebagai
serambi Mekkah.

Syahriansyah Salman Al-Farisi : Ahlul Bayt Pendiri Kerajaan Islam Pertama


Teori tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara sampai saat ini masih
banyak diperdebatkan oleh para peneliti, baik cendekiawan Muslim maupun non
Muslim. Umumnya perbedaan pendapat tentang teori ini didasarkan pada teori awal
mula masuknya Islam ke Nusantara. Mengenai teori Islamisasi di Nusantara, para ahli
sejarah terbagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu pendukung (i) Teori Gujarat (ii) Teori
Parsia dan (iii) Teori Mekah (Arab). Bukan maksud tulisan ini untuk membahas teori-
teori tersebut secara mendetil, namun dari penelitian yang penulis lakukan, maka
dapat disimpulkan bahwa Teori Mekkah (Arab) lebih mendekati kebenaran dengan
fakta-fakta yang dikemukakan. Teori Mekkah (Arab) hakikatnya adalah koreksi
terhadap teori Gujarat dan bantahan terhadap teori Persia. Di antara para ahli yang
menganut teori ini adalah T.W. Arnold, Crawfurd, Keijzer, Niemann, De Holander,
SMN. Al-Attas, A. Hasymi, dan Hamka.48

48
Masalah Islamisasi Nusantara, lihat misalnya : S.M.N. Al-Attas, “Prelimenary Statement on A General
Theory of the Islamization”, dalam Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan
Pustaka, 1969,. Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, Medan: Panitia Seminar, 1963. T.D.
Situmorang dan A. Teeuw, Sejarah Melayu, Jakarta: Balai Pustaka, 1958, hlm. 65-66. T. Ibrahim Alfian (ed). Kronika
Pasai, Yogjakarta: Gajah Mada University Press, 1973, hlm. 100. Mohammad Said, Aceh Sepanjang Abad, Medan:
Waspada, 1981. Teuku Iskandar, De Hikayat Atjeh, (S-gravenhage: NV. De Nederlanshe Boek-en Steendrukkerij V. H.L.
Smits, 1959). Husein Djajaningrat, Kesultanan Aceh: Suatu Pembahasan Tentang Sejarah Kesultanan Aceh Berdasarkan
Bahan-bahan Yang Terdapat Dalam Karya Melayu, Teuku Hamid (terj.) (Banda Aceh: Depdikbud DI Aceh. 1983). Siti

29
Arnold menyatakan para pedagang Arab menyebarkan Islam ketika mereka
mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad awal Hijriyah, atau pada abad VII
dan VIII Masehi. Meski tidak terdapat catatan-catatan sejarah, cukup pantas
mengasumsikan bahwa mereka terlibat dalam penyebaran Islam di Indonesia. Asumsi
ini lebih mungkin bila mempertimbangkan fakta-fakta yang disebutkan sumber Cina
bahwa pada akhir perempatan ketiga abad VII M seorang pedagang Arab menjadi
pemimpin sebuah pemukiman Arab di pesisir Sumatera. Sebagian mereka bahkan
melakukan perkawinan dengan masyarakat lokal yang kemudian membentuk
komunitas muslim Arab dan lokal. Anggota komunitas itu juga melakukan kegiatan
penyebaran Islam. Argumen Arnold di atas berdasarkan kitab `Ajaib al-Hind, yang
mengisaratkan adanya eksistensi komunitas muslim di Kerajaan Sriwijaya pada Abad
X. Crawfurd juga menyatakan bahwa Islam Indonesia dibawa langsung dari Arabia,
meski interaksi penduduk Nusantara dengan muslim di timur India juga merupakan
faktor penting dalam penyebaran Islam di Nusantara. Sementara Keizjer memandang
Islam dari Mesir berdasarkan kesamaan mazhab kedua wilayah pada saat itu, yakni
Syafi’i. Sedangkan Nieman dan De Hollander memandang Islam datang dari
Hadramaut, Yaman, bukan Mesir. Sementara cendekiawan senior Nusantara, SMN.
Al-Attas menolak temuan epigrafis yang menyamakan batu nisan di Indonesia dengan
Gujarat sebagai titik tolak penyebaran Islam di Indonesia. Batu-batu nisan itu diimpor
dari Gujarat hanya semata-mata pertimbangan jarak yang lebih dekat dibanding
dengan Arabia. Al-Attas menyebutkan bahwa bukti paling penting yang perlu dikaji
dalam membahas kedatangan Islam di Indonesia adalah karakteristik Islam di
Nusantara yang ia sebut dengan “teori umum tentang Islamisasi Nusantara” yang
didasarkan kepada literatur Nusantara dan pandangan dunia Melayu.49
Menurut Al-Attas, sebelum abad XVII seluruh literatur Islam yang relevan tidak
mencatat satupun penulis dari India. Pengarang-pengarang yang dianggap oleh Barat
sebagai India ternyata berasal dari Arab atau Persia, bahkan apa yang disebut berasal
dari Persia ternyata berasal dari Arab, baik dari aspek etnis maupun budaya. Nama-
nama dan gelar pembawa Islam pertama ke Nusantara menunjukkan bahwa mereka
orang Arab atau Arab-Persia. Diakui, bahwa setengah mereka datang melalui India,
tetapi setengahnya langsung datang dari Arab, Persia, Cina, Asia Kecil, dan Magrib
(Maroko). Meski demikian, yang penting bahwa faham keagamaan mereka adalah
faham yang berkembang di Timur Tengah kala itu, bukan India. Sebagai contoh
adalah corak huruf, nama gelaran, hari-hari mingguan, cara pelafalan Al-Quran yang
keseluruhannya menyatakan ciri tegas Arab.50

Hawa Saleh (edt), Bustanus as-Salatin, (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992). Denys Lombard, Kerajaan
Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636, (terj), (Jakarta: Balai Pustaka,1992). C. Snouck Hurgronje, Een-
Mekkaansh Gezantscap Naar Atjeh in 1683”, BKI 65, (1991). Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan
Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 196. A. Hasymi, 59 Aceh Merdeka Dibawah
Pemerintah Ratu (Jakarta: Bulan Bintang, 1997).
49
Azra, op.cit. hal. 28
50
Al-Attas, op.cit. hal. 54-55

30
Argumen ini didukung sejarawan Azyumardi Azra dengan mengemukakan
historiografi lokal meski bercampur mitos dan legenda, seperti Hikayat Raja-raja Pasai,
Sejarah Melayu, dan lain-lain yang menjelaskan interaksi langsung antara Nusantara
dengan Arabia.51
Hamka dalam pidatonya di acara Dies Natalis Perguruan Tinggi Agama Islam
Negeri (PTAIN) ke-8 di Yogyakarta pada tahun 1958, melakukan koreksi terhadap
Teori Gujarat. Teorinya disebut “Teori Mekah” yang menegaskan bahwa Islam berasal
langsung dari Arab, khususnya Mekah. Teori ini ditegaskannya kembali pada Seminar
Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17-20 Maret 1963. Hamka menolak
pandangan yang menyatakan bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke
13 dan berasal dari Gujarat. Hamka lebih mendasarkan teorinya pada peranan bangsa
Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia. Gujarat hanyalah merupakan tempat
singgah, dan Mekah adalah pusat Islam, sedang Mesir sebagai tempat pengambilan
ajaran. Hamka menekankan pengamatannya kepada masalah mazhab Syafi’i yang
istimewa di Mekah dan mempunyai pengaruh besar di Indonesia. Sayangnya, hal ini
kurang mendapat perhatian dari para ahli Barat. Meski sama dengan Schrike yang
mendasarkan pada laporan kunjungan Ibnu Bathuthah ke Sumatera, Hamka lebih
tajam lagi terhadap masalah mazhab yang dimuat dalam laporan Ibnu Batutah. Selain
itu Hamka, juga menolak anggapan Islam masuk ke Indonesia pada abad XIII. Islam
sudah masuk ke Nusantara jauh sebelumnya, yakni sekitar Abad VII.52
Pandangan Hamka sejalan dengan Arnold, Van Leur, dan Al-Attas yang
menekankan pentingya peranan Arab, meski teori Gujarat tidak mutlak menolak
peranan Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara. Arnold sendiri telah mencatat
bahwa bangsa Arab sejak abad kedua sebelum Masehi telah menguasai perdagangan
di Ceylon (Srilangka). Memang tidak dijelaskan lebih lanjut tentang sampainya ke
Indonesia. Tetapi, bila dihubungkan dengan kepustakaan Arab kuno yang
menyebutkan Al-Hind (India) dan pulau-pulau sebelah timurnya, kemungkinan
Indonesia termasuk wilayah dagang orang Arab kala itu. Berangkat dari keterangan
Arnold, tidaklah mengherankan bila pada abad VII, telah terbentuk perkampungan
Arab di sebelah barat Sumatera yang disebut pelancong Cina, seperti disebutkan
Arnold dan Van Leur.53
Berdasarkan Teori Mekkah inilah kemudian, para ahli sejarah Islam
menyimpulkan bahwa Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan Perlak.
Di antaranya adalah sebagaimana dikemukakan pakar sejarah peradaban Islam asal
Aceh, Prof. A. Hasymi. Berdasarkan naskah Idhar al-haqq fi Mamlakat Ferlah wal
Fasi, karangan Abu Ishak Al-Makarani Al-Fasi, Tazkirat Tabaqat Jumu Sultanul
Salatin karya Syaikh Syamsul Bahri Abdullah Al-Asyi, dan Silsilah Raja-raja Perlak
dan Pasai, A. Hasymi menyatakan bahwa Kerajaan Perlak, Aceh adalah kerajaan
51
Azra, op.cit. hal.30
52
Ahmad Mansur Suryanegara, Menemukan Sejarah Wacana Pergerakan Islam di Indonesia;
Bandung; Mizan; 1995; hal. 81.
53
Op.cit, hal. 92-93

31
Islam pertama di Nusantara yang didirikan pada tanggal 1 Muharam 225 H (840 M)
dengan raja pertamanya Sultan Alaudin Sayyid Maulana Abdil Aziz Syah. Teori ini
kemudian banyak didukung oleh cendekiawan Nusantara dan dimasukkan dalam
buku teks pengajaran Perguruan Tinggi.54
Teori yang dikemukakan A. Hasymi dan para pendukungnya sampai saat ini
tentang Kerajaan Perlak sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara hanya
didasarkan pada sumber-sumber literatur yang sangat terbatas. Terutama sumber-
sumber yang ditulis oleh para pakar sejarah Islam tanpa melibatkan pakar-pakar lintas
pengetahuan yang telah mengadakan penelitian masalah tersebut atau yang
berhubungan dengannya dengan berbagai pendekatan, baik secara geografis,
antropologis, sosiologis, etimologis, dan bidang-bidang keilmuan lainnya yang telah
berkembang dengan pesatnya saat ini.
Sebagai sebuah teori yang dikemukakan pada zamannya, maka pendapat
A.Hasymi dengan para pendukungnya tidak dapat disalahkan, mengingat sangat
terbatasnya referensi pada zaman beliau. Demikian juga akibat menurun drastisnya
minat intelektualisme terhadap kajian-kajian tentang Islam di Aceh menyusul keadaan
konflik yang berkepanjangan. Bahkan tidak sedikit para cendekiawan Muslim yang
tengah mengadakan penelitian tentang keislaman di sekitar Aceh dicurigai oleh aparat
keamanan dengan berbagai alasan yang dicari-cari, seperti apa yang diceritakan Prof.
Hasbi yang hanya mengadakan penelitian tentang dayah, harus berhadapan dengan
aparat. Apalagi sejak Aceh bergolak, para peneliti asing sangat dibatasi kegiatannya di
Aceh yang telah mengakibatkan mundurnya penelitian ilmiyah dalam segala bidang,
termasuk tentang sejarah Islam di Aceh.
Bersamaan dengan perkembangan zaman, terutama kemajuan teknologi, teori-
teori tentang sejarah akan terus berkembang, sebagaimana teori-teori pengetahuan
lainnya dengan ditemukannya teori-teori baru yang didukung oleh argumentasi yang
dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiyah. Sebagaimana halnya teori-teori tentang
masuknya Islam ke Nusantara terdahulu yang terus menerus dikoreksi dari Teori
Gujarat dikoreksi Teori Persia dan terakhir dikoreksi dengan Teori Mekah atau Arab.
Maka dengan ditemukannya data-data terbaru yang lebih akurat, berdasarkan kajian
dari berbagai sumber bidang ilmu pengetahuan, maka teori tentang Kerajaan Islam
pertama di Nusantara perlu dipertanyakan lagi keabsahannya. Apakah memang
Kerajaan Perlak yang didikan oleh Maulana Abdul Aziz pada tahun 804 adalah
kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Studi Terhadap Beberapa Teori Berkaitan Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara

54
A. Hasymi, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia: Kumpulan prasaran pada seminar di
Aceh, Bandung:al-Ma'arif, 1993, cet. 3, , hal. 7; . lihat juga A. Hasymi, Sejarah Kebudayaan Islam di Indonesia,
Jakarta: Bulan Bintang, 1990. hal.146.

32
Sebagaimana lazimnya pengembangan pengetahuan ilmiyah, teori baru
biasanya lahir berdasarkan teori-teori yang telah dikembangkan terlebih dahulu oleh
para cendekiawan dengan dalil-dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka
dalam membahas permasalahan yang sedang diteliti, akan dikemukakan beberapa
teori yang sudah umum dikenal sebagai dasar dalam mengembangkan sebuah teori
tentang kerajaan Islam pertama di Nusantara. Diantaranya adalah :

1. Teori Hubungan Dagang Arab-Cina


Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan Taprobana.
Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Claudius Ptolemeus, ahli geografi Yunani
abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah ini dalam
karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana
terdapat negeri yang menjadi jalan ke Tiongkok, sebuah bandar niaga bernama
Barousai (Barus) yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Disebutkan
pula bahwa kapur barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke
Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun
sejak Ramses II atau sekitar 5000 tahun lalu. Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes
Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, atau
‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang sekitar Laut Tengah sudah
mendatangi Sumatera mencari emas, kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus
(Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Para pedagang
Nusantara sudah menjajakan komoditas mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika
Timur, tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.
Dalam kitab Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Raja Solomon, raja
Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang berada dibawah
kekuasaannya. Emas didapatkan dari negeri Ophir. Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81,
menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami
berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha). Di manakah gerangan letak negeri Ophir
yang diberkati Allah ? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu
terletak di Sumatera. Kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari
Timur Jauh. Ptolemeus pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari
seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada
abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan asumsi bahwa di sanalah
letak negeri Ophir-nya King Solomon.55
Sementara perdagangan antara negara-negara Timur dengan Timur Tengah dan
Eropa berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga
disebut ”jalur sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan
55
N.J. Krom, Zaman Hindu, terjemahan Arief Effendi, Jakarta: Pembangunan, 1956, hal. 10-12.
(Nicholaas Johannes Krom, “De Naam Sumatra”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, deel 100, 1941).
William Marsden, The History of Sumatra, Oxford University Press, Kuala Lumpur, cetak ulang 1975. D.G.E.
Hall, A History of South East Asia, London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H. Burger dan Prajudi,
Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.

33
Turkistan terus ke Laut Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina
dan India dengan Eropa, merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun
sebelum Masehi. Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan
Indonesia, melalui Selat Malaka ke India; dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada
yang melalui Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga yang melalui Laut Merah dan
Mesir. Diduga perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina dan Indonesia sudah
berjalan sejak abad pertama sesudah Masehi.56
Akan tetapi, karena sering terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan
darat di Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan Timur-Barat melalui
laut (Selat Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal Arab, Persia
dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri Cina dengan
menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapal-kapal Sumatra
telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman Sriwijaya,
pedagang-pedagangnya telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai
timur Afrika. Ramainya lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, maka telah
menumbuhkan kota-kota pelabuhan yang terletak di bagian ujung utara Pulau
Sumatra. Perkembangan perdagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan
Eropa melalui jalur laut telah menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di
wilayah Aceh yang diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya
terdapat di beberapa delta sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai kota
transit atau kota perdagangan.57
Peter Bellwood dalam Reader in Archaeology Australia National University,
telah melakukan banyak penelitian arkeologis di Polynesia dan Asia Tenggara.
Bellwood menemukan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa sebelum abad kelima
masehi, beberapa jalur perdagangan utama telah berkembang menghubungkan
kepulauan Nusantara dengan Cina. Dia menulis “Museum Nasional di Jakarta
memiliki beberapa bejana keramik dari beberapa situs di Sumatera Utara. Selain itu,
banyak barang perunggu Cina, yang beberapa di antaranya mungkin bertarikh akhir
masa Dinasti Zhou (sebelum 221 SM), berada dalam koleksi pribadi di London....”.
Sifat perdagangan pada zaman itu di Nusantara dilakukan antar sesama pedagang,
tanpa ikut campurnya kerajaan, jika yang dimaksudkan kerajaan adalah pemerintahan
dengan raja dan memiliki wilayah yang luas. Sebab kerajaan Budha Sriwijaya yang
berpusat di selatan Sumatera baru didirikan pada tahun 607 Masehi (Wolters 1967;
Hall 1967, 1985). Tapi bisa saja terjadi, “kerajaan-kerajaan kecil” yang tersebar di
beberapa pesisir pantai sudah berdiri, walau yang terakhir ini tidak dijumpai
catatannya.58
56
D.H.Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm.
15.)
57
M.A.P. Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago. The Hague:
Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 345 (catatan 122)
58
Lihat juga: Peter Bellwood, Man’s Conquest of the Pacific. The Prehistory of Southeast Asia and
Oceania, New York: Oxford University Press. 1979. Peter Bellwood, Prehistory of the Indo-Malaysian

34
Adanya jalur perdagangan utama dari Nusantara—terutama Sumatera dan
Jawa—dengan Cina juga diakui oleh sejarahwan G.R. Tibbetts. Bahkan Tibbetts-lah
orang yang dengan tekun meneliti hubungan perniagaan yang terjadi antara para
pedagang dari Jazirah Arab dengan para pedagang dari wilayah Asia Tenggara pada
zaman pra Islam. Tibbetts menemukan bukti-bukti adanya kontak dagang antara
negeri Arab dengan Nusantara saat itu. “Keadaan ini terjadi karena kepulauan Sumatra
telah menjadi tempat persinggahan kapal-kapal pedagang Arab yang berlayar ke negeri Cina
sejak abad kelima Masehi,” 59
Sebuah dokumen kuno asal Tiongkok juga menyebutkan bahwa menjelang
seperempat tahun 700 M atau sekitar tahun 625 M—hanya berbeda 15 tahun setelah
Rasulullah menerima wahyu pertama atau sembilan setengah tahun setelah Rasulullah
berdakwah terang-terangan kepada bangsa Arab—di sebuah pesisir pantai Sumatera
sudah ditemukan sebuah perkampungan Arab Muslim yang masih berada dalam kekuasaan
wilayah Kerajaan Budha Sriwijaya. Temuan ini diperkuat Prof. Dr. HAMKA yang
menyebut bahwa seorang pencatat sejarah Tiongkok yang mengembara pada tahun
674 M telah menemukan sekelompok bangsa Arab yang membuat kampung dan berdiam di
pesisir Barat Sumatera. Ini sebabnya, HAMKA menulis bahwa penemuan tersebut telah
mengubah pandangan orang tentang sejarah masuknya agama Islam di Tanah Air.
HAMKA juga menambahkan bahwa temuan ini telah diyakini kebenarannya oleh para
pencatat sejarah dunia Islam di Princetown University di Amerika.60
Dalam kitab sejarah Cina yang berjudul Chiu T’hang Shu disebutkan pernah
mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih, sebutan untuk orang Arab,
pada tahun tahun 651 Masehi atau 31 Hijirah. Empat tahun kemudian, dinasti yang
sama kedatangan duta yang dikirim oleh Tan mi mo ni’. Tan mi mo ni’ adalah sebutan
untuk Amirul Mukminin. Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan
bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti
kepemimpinan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa kepemimpinan
Khalifah Utsman bin Affan. Para pengembara Arab ini tak hanya berlayar sampai di
Cina saja, tapi juga terus menjelajah sampai di Timur Jauh. Jauh sebelum penjelajah
dari Eropa punya kemampuan mengarungi dunia, terlebih dulu pelayar-pelayar dari
Arab dan Timur Tengah sudah mampu melayari rute dunia dengan intensitas yang
cukup padat. Pada masa Dinasti Umayyah, ada sebanyak 17 duta Muslim yang datang
ke Cina. Pada Dinasti Abbasiyah dikirim 18 duta ke negeri Cina. Bahkan pada
pertengahan abad ke-7 sudah berdiri beberapa perkampungan Muslim di Kanfu atau
Kanton.61

Archipelago, Orlando, Florida: Academic Press. 1985.


59
Tibbetts; Pre Islamic Arabia and South East Asia, JMBRAS, 19 pt. 3, 1956, hal. 207. Dr. Ismail Hamid
“Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam” .Jakarta: Pustaka Al-Husna cet. 1, 1989, hal. 11).
60
Prof. Dr. HAMKA, Dari Perbendaharaan Lama; Jakrta: Pustaka Panjimas; cet.III; 1996; Hal. 4-5.
61
Lihat: W.P. Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source, Jakarta:
Bharata, 1960. B. Schrieke, Indonesian Sociological Studies, Part Two, The Hauge-Bandung: W. Van Hoeve Ltd, 1957,
.Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan, terjemahan dan edisi J.V.G. Mills, Hakluyt Society, 1970,

35
Setelah abad ke-7 M, Islam sudah berkembang pesat, misalnya menurut laporan
sejarah negeri Tiongkok bahwa pada tahun 977 M, seorang duta Islam bernama Pu Ali
(Abu Ali) diketahui telah mengunjungi negeri Tiongkok mewakili sebuah negeri di
Nusantara (Kerajaan Islam Perlak). 62

2. Teori Barus-Fansur Aceh


Barus-Fansur adalah tempat yang dikaitkan dengan penghasil kayu kamper
sebagai penghasil kapur (kamfer atau al-kafur dalam bahasa Arab) terdapat dalam
banyak sumber asli Arab, Persia, dan China dalam berbagai buku perjalanan, botani,
kedokteran, dan pengobatan. Kapur, yang dalam bahasa Latin disebut camphora,
merupakan bagian dalam (inti) kayu kamfer yang padat berisi minyak yang harum.
Masyarakat pra-Islam telah mengenal kafur yang masyhur itu, hal ini dibuktikan
dengan penemuan penggunaan kata kafur yang disebut berkali-kali dalam syair-syair
Arab sebelum lahirnya Nabi Muhammad SAW.63
Dalam karya dua orang sejarawan, Ibn al-Atir (wafat tahun 1233 M), dan Ibn al-
Baladuri (wafat tahun 1473) tercatat bahwa pada tahun 16 H/637 M, sewaktu
perebutan ibu kota Dinasti Sassanid, yaitu Ctesiphon, orang-orang Arab menemukan
kamper/kafur yang dikira garam di antara rempah-rempah dan wangi-wangian.64
Ibn Gulgul, abad ke-10 M, seorang ahli biobibliografi dan ilmu kedokteran dari
Andalusia, mencata kafur atau kamfer dalam 63 bahan obat-obatan baru yang belum
dikenal sebelumnya sebagai obat, kecuali hanya pewangian dan alat-alat ritual semata
di agama-agama paganisme. Ibn Sarabiyun pada abad ke-10 juga mulai
memperkenalkan zat yang sangat ampuh ini. Ibn al-Baytar yang mengutip Ishaq ibn
Imran yang hidup awal abad ke-9 M juga melakukan hal yang sama. Ketiganya
melalui serangkaian eksperimen yang dilakukan berhasil menjelaskan berbagai fungsi
dan kegunaan kafur dengan berbagai campuran untuk khasiat yang berbeda-beda.
Fungsinya dalam berbagai bentuk olahan diantaranya adalah, sebagai balsem,
penghobatan kandung empedu, radang hati, demam tinggi, berbagai penyakit mata,
sakit kepala akibat liver, memperkuat organ dan indra, mengontrol syaraf, pembiusan
alami, pendarahan, menguatkan gigi, dan lain-lain.
Al-Kindi, salah seorang intelektual Arab, menyebutkan kapur barus sebagai
salah satu unsur penting untuk membuat wangi-wangian. Sekitar abad ke-8, kapur
barus merupakan salah satu dari lima rempah dasar dalam ilmu kedokteran Arab dan
Persia. Empat unsur yang lain adalah kesturi, ambar abu-abu, kayu gaharu, dan
safran. Pada zaman Abbasiyah, hanya orang kaya dan para pemimpin saja yang

62
F. Hirth dan W. W. Rockhill (terj), Chau Ju Kua, His Work On Chinese and Arab Trade in XII Centuries,
St.Petersburg: Paragon Book, 1966, hal. 159.
63
Lihat: artikel "Kafur", A. Dietrich, Ensiklopedia Islam (E.I) 2 hal: 435-436.
64
W. Heyd, Histoire du commerce du Levant [Sejarah Pergadangan di Kawasan Syria-Libanon], edisi Prancis
yang disusun kembali oleh Furcy Raynand, Amsterdam: Adolf M, Hakkert, 1967, tambahan I, hal 590).

36
menggunakan pewangi dari air kapur barus untuk cuci tangan selepas perjamuan
makan.
Ibnu Sina atau yang dalam literatur Eropa dikenal sebagai Aveceena, dalam
bukunya yang terkenal tentang ensiklopedia pengobatan dan obat-obatan, al-Qanun Fi
al-Tib, mencatat manfaat kamfer sebagai obat penenang dan mendinginkan suhu
badan yang tinggi. Kamfer juga dipakai sebelum dan sesudah pembedahan, sebagai
obat liver, obat diare, sakit kepala, mimisan, dan sariawan. Aviceena menulis: "Jika
kafur dipakai sedikit, maka obat ini dapat membantu menenangkan, karena bahan ini
dingin. Kadang kala obat ini menurunkan suhu badan yang tinggi akibat badan
kurang sehat karena lemah. Efek yang menguatkan dan menenangkan ini disertai efek
harumnya. Efek pendinginannya dikurangi dengan kasturi dan ambar, dan
kekeringannya dikurangi dengan minyak wangi dan pelunaknya, misalnya minyak
cengkeh dan minyak bunga berwarna ungu lembayung. Kafur merupakan penangkal
racun, khususnya racun panas. Berkat kafur pikiran menjadi lebih tajam dan terang;
oleh karena itu kafur menguatkan dan menyenangkan. Efeknya serupa ambar kuning,
tetapi lebih kuat dan lebih bermanfaat."65
Selain bangsa Arab, bangsa Persia juga berdatangan untuk meneliti kegunaan
kafur dari Fansur ini. Buku tertua mengenai ilmu kedokteran yang ditulis dalam
bahasa Persia adalah buku Muwaffak al-Din Abu Mansur Ali al-Harawi (abad ke-10
M), yang berjudul Kitab al-Abniya 'an haqa'iq al-Adwiya [Buku mengenai dasar dan
kebenaran obat-obatan asli]. Dalam bukunya yang berjudul Hidayat al-muta'alimin fi
al-tibb (Panduan untuk mahasiswa ilmu kedokteran), al-Bukhori (abad ke-10) seorang
mahasiswa Harawi dan dokter terkenal al-Razi (abad ke-9 dan 10 M) berhasil
mengembangkan kafur dalam berbagai bentuk resep, sebanyak 31 resep. Salah satunya
adalah dalam penanggulanagn penularan penyakit pes.
Orang-orang Yunani telah terlibat secara intens dalam pengembangan ilmu
kedokteran. Salah satu buku yang berhasil ditemukan seperti catatan Actius dari
Amide dari abad ke-6 dan ke-7 M, menyebutkan kafur dalam karyanya Libri
Medicinales.
Salah satu surat pertama dari riga surat karya al-Kind yang berjudul al-rasail al-
hikmiyya fi asrul al-ruhaniyya [Risalah-risalah Hukum tentang Rahasia-Rahasia
Batin], dikatakan bahwa kafur milik Devi Venus dan digunakan dalam pengasapan
yang dipersembahkan kepadanya. "Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan Venus
dari cahaya dan kecerahan; Venus memberi kebaikan dalam semua posisinya … di
antaranya batu maha yang dimilikinya; dalam badan manusia, perut dan usus yang
dimilikinya; dalam abjad tiga huruf yang dimilikinya ('ain, ha dan kaf); di antara
bahan murni untuk pengasapan yang dimilikinya terdapat: ambar abu-abu, qust,
tanaman fagara, kafur, bunga mawar kering, laudanum."66

65
Ibn Baytar, Traite des Simples par Ibn el-Beithar. Terj. Dr. L. Leclerc, 3 jil. –Paris: 1881-1887.
66
G. Celentano, L.V. Vaglieri, "Trois Epitres d'al-Kindi: textes et traduction avec XIX plaches facsimile des trois
epitres", dalam Annali dell Istituto universitario Orientale di Nipoli, jil 34, buku 3 (1974) hal 523-562.

37
Dijelaskan di Alf Layla wa layla (Seribu Satu Malam) oleh Sindbad, sang
petualang yang terkenal: "Sesudah bangun keesokan harinya, kami pergi melewati
gunung-gunung tinggi ke Pulau Riha yang kaya dengan pohon kafur. Setiap pohon
dapat membayangi lebih dari 100 orang. Puncak pohonnya ditoreh dan air yang
mengalir darinya dapat mengisi beberapa wadah. Kafur mulai menetes dan tetesannya
mirip lem. Sesuadah itu kafur tidak meleleh lagi dan pohonnya menjadi kering." Riha
adalah berarti kafur yang bermutu tinggi yang berarti al-Kafur al-Fansuri. Jadi Pulau
Riha yang dimaksud adalah daerah Fansur.
Kapur barus juga dipakai untuk memandikan jenazah sebelum dikuburkan.
Variasi penggunaan kapur barus ini menyebabkan nilai jualnya sangat tinggi. Manfaat
kapur barus ini kemudian menyebar ke Yunani dan Armenia karena pada periode
tersebut ilmu kedokteran dari Arab dan Persia menjadi acuan dunia.
Di akhir abad ke-4 M, istilah "P'o-lu" yang berarti Barus mulai dikenal oleh
Bangsa Cina. Istilah ini diketahui sebagai rujukan kepada seluruh wilayah utara
Sumatera. Barulah pada akhir abad ke-9, seorang ahli geografi Arab, Ibn Khurdadhbih
menyebutkan nama Ram(n)i: "Di belakang Serendib terletak daerah Ram(n)I, dimana hewan
badak dapat ditemukan… Pulau ini menghasilkan pohon bambu dan kayu Brazil, akar-akar
yang dapat digunakan sebagai obat anti racun-racun mematikan…Di negeri ini juga tumbuh
pohon-pohon kapur yang tinggi,"67
Kira-kira pada abad yang sama, sebuah buku Akhbar al-Sin wa al-Hind juga
menyebutkan nama Ramni: "Ramni (yang) terdapat didalamnya gajag-gajah dalam jumlah
yang banyak berserta kayu Brazil dan bambu. Pulau itu dikelilingi oleh dua lautan..Harkand
dan dan Salahit". Nama Ramni atau Ram(n)I, kemungkinan besar, dengan melihat peta
dan posisi Sri Lanka atau Serendib, adalah Sumatera bagian utara dan lebih tepatnya
lagi timur laut Aceh. (The sea of Harkand was the Bay of Bengal. Salaht (or Salahit) is
believed to be derived from the Malay word selat or Straits, i.e., what is now known as
the Selat Melaka).68
Abu Zaid Hasan pada tahun 916 M, saat dia menjelaskan penguasa Maharaja
Zabaj (Sriwijaya) menyebut juga Ranmi: "nama pulau tersebut adalah Rami (Ramni) yang
luasnya delapan ratus parasangs (From the Persian farsakh, it was approximately 3 Y2
miles in extent) di daerah tersebut. Di sana dapat ditemukan kayu Brazil, kapur dan
tumbuhan lainnya."69
Pada tahun 943, Masudi mencatat: “Kira-kira seribu parasangs (dari Serendib)
masih terdapat sebuah pulau yang bernama Ramin (yakni Ramni) yang dihuni dan
diperintah oleh raja-raja. Daerah tersebut penuh dengan tambang emas, dan dekat
dengan tanah Fansur, yang menjadi asal kapur fansur, yang hanya dapat ditemukan
di Fansur dengan jumlah yang besar dalam tahun-tahun yang penuh dengan topan
dan gempa bumi.70
67
Tibbetts, Arabic Texts, hal. 27-28.
68
Wolters, Early Indonesian Commerce, hal. 178)
69
Tibbetts, Arabic Texts, hal. 30
70
Ibid, hal. 37-38

38
'Ajaib al-Hind', yang ditulis tahun 1000 M, menjelaskan banyak referensi
mengenai Lambri. Muhammad ibn Babishad melaporkan: ”Di Pulau Lamuri terdapat
zarafa yang tingginya tidak terkira. Dikatakan bahwa pelaut-pelaut yang terdampar
di Fansur, terpaksa harus pindah ke Lamuri. Mereka mengungsi di waktu malam
karena takut dengan zarafa; karena mereka tidak muncul di siang hari… Di pulau ini
juga terdapat semut-semut raksasa dalam jumlah besar, terutama di kawasan Lamuri
”.... "Lububilank, yang merupakan sebuah teluk, (Tibbetts identifies this with Lho'
Belang Raya (Telok Balang), 5°32f N, 95°17' E. Ibid., p. 141) terdapat orang-orang yang
memakan manusia. Orang-orang kanibal ini mempunyai ekor, dan menghuni tanah
antara Fansur dan Lamuri." 71
Lambri dalam karya para ahli geografi Arab tidak dijelaskan lebih lanjut. Ramni
juga disebutkan oleh Biruni pada tahun 1030. Nama tersebut juga ditulis dalam teks
Dimashqi di tahun 1325 dalam buku Cowan,"Lamuri," hal. 421.
Satu-satunya sumber India menyebutkan Lambri dalam transkrip Tanjore dari
Bangsa Tamil dalam pemerintahan Rajendra Cola, dimana nama "Ilamuridesam yang
sangat murka terlibat dalam perang" disebutkan bersama toponim lain sebagai daerah
target-target penggempuran mereka pada tahun 1025.72
Ahli geografi Cina Chou Ch'u-fei menulis, pada tahun 1178, nama Lan-li
dimana kapal-kapal dari Canton atau Guangdong sering merapat sambil menunggu
bulan purnama untuk memudahkan mereka berlayar menuju Lautan India tepatnya
Sri Lanka dan India.73
Hampir lima puluh tahun kemudian, Chau Ju-kua menyebut Lan-wu-li, dan
melaporkan bahwa; "Hasil-hasil produksi kerajaan Lan-wu-li adalah kayu sapan
(Brazilwood (Caesalpinia sappan, Linn.), gading gajah dan rotan putih. Penduduknya
menyukai perang dan sering menggunakan panah beracun. Dengan angin utara,
pelaut dapat berlayar selama dua puluh hari ke Silan…."74
Dia selanjutnya mendukung informasi yang diberikan oleh Chou Ch'u-fei:
”Ta-shi terletak di Timur Laut dari Ts'uan-chou dengan jarak yang sangat jauh, jadi
kapal-kapal asing kesulitan untuk melakukan pelayaran langsung. Setelah kapal-kapal
tersebut meninggalkan Ts'uan-chou mereka akan berlayar terlebih dahulu selama
empat puluh hari ke Lan'li, dimana mereka akan menyempatkan diri untuk
berdagang. Tahun berikutnya akan kembali ke laut, dengan dukungan angin mereka
akan menghabiskan enam puluh hari untuk melanjutkan perjalanan.75
Marco Polo, sekembalinya dari Cina ke Eropa tahun 1292, menyebutkan, selain
Perlak yang sudah memeluk Islam, nama Lambri bersama lima kerajaan kafir lainnya.
Dia menulis bahwa; "Penduduknya penyembah berhala, dan menyebut dirinya hamba
71
Ibid, hal. 44-45
72
K. A. Nilakanta Sastri, History of Srivijaya (Madras: University of Madras, 1949), hal. 80, 81.
73
Almut Netolitzky, Das Ling-wai Tai-ta von Chou-chu-fei,( Weisbaden: Heiner Verlag, 1977), hal. 40-41)
74
Friedrich Hirth and W. W. Rockhill, Chau Ju-kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth
and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi (St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences, 1911), hal. 72).
75
Ibid, hal.114

39
Kaan yang agung. Mereka memiliki kapur dalam jumlah yang besar dan sejumlah
spesis lainnya. Mereka juga memiliki kayu brazil dalam jumlah yang besar…" Di tahun
1284 dan juga tahun 1286, Lambri dilaporkan mengirimkan upeti kepada Dinasti Yuan
di China.76
Seorang musafir Persia, Rashiduddin, pada tahun 1310 menulis bahwa para
saudagar dari berbagai negara sering datang ke Lamori, dan pada tahun 1323, Friar
Odoric dari Pordenone menjelaskan bahwa Lambri merupakan pusat perdagangan di
mana para saudagar dari negara-negara yang sangat jauh, dan kapur, emas dan pohon
gaharu juga tersedia. Di sini dia kehilangan pandangan terhadap bintang utara.77
Wang Ta-yuan pada tahun 1349, menulis tentang Nan-wu-li, yang katanya:
”Tempat ini merupakan pusat perdagangan yang sangat penting di Nan-wu-li.
Pegunungan raksasa bak gelombang terdapat dibelakangnya, terletak di pinggiran
laut Jih-yueh wang yang sangat diragukan di sana ada tanah. Penduduk setempat
hidup di sepanjang bukit, setiap keluarga tinggal di rumah masing-masing. Masing-
masing lelaki dan wanita menggulung rambut mereka dalam sanggul di atas namun
membiarkan bagian atas tubuh mereka terbuka, dan bagian bawah dibungkus sarung.
Buminya sangat tandus, panennya sangat jarang, dan iklimnya sangat panas. Sebagai
kebiasaan, mereka tunduk kepada bajak laut seperti orang-orang di Niu-tan-his
(Tumasek). Komoditas lokal adalah sarang burug, cangkang kura-kura, cangkang
penyu dan kayu laka, yang sangat bermutu dalam hal aroma. Komoditas yang
biasanya diperdagangkan di sini adalah emas, perak, aksesoris besi, bunga mawar,
muslin merah, kapur, porcelin dengan desain biru dan putih dan lain-lain.”78
Pada tahun 1365, Kronik Jawa, Negarakrtagama, menggambarkan Lamuri
sebagai negara yang tergantung kepada Majapahit.79
Ma Huan yang menulis pada awal tahun 15 M, menyebutkan Nan-po-li, yang
dikunjungi oleh kapal induk dinasti Ming, dengan nakhoda Cheng Ho: ”Kerajaan ini
terletak di samping laut, dan penduduknya terdiri dari hanya seribu keluarga.
Semuanya Muslim, dan mereka sangat jujur dan tulus. Di bagian timur teritori itu,
terletak sebuah negeri bersama Li-tai, dan di bagian barat dan utara terletak lautan
luas; jika anda pergi ke selatan, terdapat pegunungan; dan di bagian selatan
pegunungan tersebut terletak lagi lautan. Ma Huan juga menyebutkan nama Pulau
Wei, sebuah pulau sekitar sembilan mil lauty di lepas pantai Timur Laut Aceh yang
juga terdapat pelabuhan alami yang bagus, sekarang terdapat pelabuhan Sabang.
Pulau Wei sering disebutkan dalam sumber-sumber sejarah dan dalam terjemahan
bahasa Cina bernama "pulau Hat". Ch'ieh-nan-mao, sebuah daerah penghasil kayu
gaharu.80
76
Henry Yule and Henri Cordier, The Book of Ser Marco Polo, 2 vols. (Reprint, Amsterdam: Philo Press,
1975), 2:299)
77
Ibid, hal. 300
78
ibid
79
Th. C. Th. Pigeaud, Jam in the Fourteenth Century, 5 vols. (The Hague: Nyhoff, I960), 1:11
80
Mills, Ma Huan, hal 122-123.

40
Ma Huan menggambarkan Pulau Wei: ”Terletak di arah laut Timur Laut
Lambri, dimana terdapat pegunungan raksasa yang sangat curam, yang dapat dicapai
dengan setengah hari perjalanan; namanya pegunungan Mao. Di bagian barat
pegunungan ini, juga, terdapat lautan luas; ini namanya Samudra Barat yang disebut
Samudra Nan-mo-li, kapal-kapal yang datang dari Samudra dari arah barat berlabuh
di sini, dan mereka melihat pegunungan ini sebagai petunjuk arah. Di laut yang
dangkal, sekitar dua cang dalamnya, di pinggir pegunungan, tumbuh pohon-pohon
laut; penduduk di sana mengumpulkannya dan menjualnya sebagai komoditas yang
berharga. Ini namanya karang. Kerajaan ini tunduk kepada jurisdiksi kerajaan Nan-po-
li.81
Awal abad ke-16 M, Tome Pires memberikan gambaran yang lebih tepat
mengenai lokasi Lambri. Dia mengatakan bahwa; "Aceh merupakan negara pertama di
bagian pulau Sumatera, dan Lambri benar-benar di bagian kanannya, yang terletak
menjorok ke darat dan tanah Biar terletak antara Aceh dan Pidie, dan sekarang
negeri-negeri ini tunduk kepada Aceh dan memerintah di kedua wilayah tersebut
dan dialah raja satu-satunya di sana. Raja ini adalah Moo…".82
Istilah Lambri dan beberapa versi lainnya biasanya ditujukan kepada seluruh
pantai utara Aceh, nampaknya hal tersebut di atas menunjukkan pada titik tertentu
yang menjadi informasi kepada pelayaran yang aman dari ombak Teluk Bengal,
sebuah sumber air segar. Buku Hikayat Atjeh juga memberikan petunjuk. Pada halaman
17 dari manuskrip tersebut, diterbitkan oleh Teuku Iskandar, terdapat sebuah
petunjuk mengenai Lambri, "teluk Lambri".83
Chau Ju-kua tidak menyebutkan kapur diperdagangkan di Lambri, tapi diduga
bahwa Ujung Pancu dan Kuala Pancu di Lhok Lambro dekat banda Aceh
kemungkinan besar sangat berhubungan dengan Fansur. Kapal-kapal yang harus
memutar di Ujung Pancu, harus melalui Lambri ke Barus. Nama Lambri dan Barus,
makanya, sering dibingungkan dalam pelayaran kuno karena eratnya kedua kota ini.
Sementara Chia Tan yang menulis buku pada era awal abad ke-8, menyebutkan
pelabuhan P'o-lu, merupakan daerah yang kaya dengan emas, mercury dan kapur.
Pelabuhan tersebut merupakan titip kepergian bagi kapal-kapal yang datang dari Sriwijaya
barat melalui Samudera India ke Sri Langka.84
Sebuah peta kuno yang dibuat oleh Claudius Ptolomeus, salah seorang ahli
Georafi dan Gubernur Kerajaan Yunani yang berpusat di Aleksandria Mesir, pada
abad ke-2 Masehi, juga telah menyebutkan bahwa di pesisir barat Sumatera yang
menjadi jalan ke Tiongkok terdapat sebuah bandar niaga bernama Barousai (Barus)

81
Ibid, hal. 123-124
82
ibid
83
T. Iskandar, Hikayat Atjeh, op.cit. hal. 17
84
Friedrich Hirth and W. W. Rockhill, Chau Ju-kua: His Work on the Chinese and Arab Trade in the
Twelfth and Thirteenth Centuries, Entitled Chu-fan-chi (St. Petersburg: Imperial Academy of Sciences, 1911),
hal. 72). W.P. Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source, Jakarta:
Bharata, 1960, hlm. 280.

41
yang dikenal menghasilkan wewangian dari kapur barus. Disebutkan pula bahwa kapur
barus yang diolah dari kayu kamfer dari kota itu telah dibawa ke Mesir untuk
dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses
II atau sekitar 5000 tahun lalu.85

3. Teori Kaafuro Dalam al-Qur’an


Hubungan erat Aceh-Melayu dengan dunia Arab juga dapat ditelusuri dari
beberapa kata di dalam al-Qur’an. Sebagaimana diketahui al-Qur’an adalah kumpulan
wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui
perantaraan malaikat Jibril as sejak pertama diangkat menjadi Nabi di Gua Hira’
sampai beliau wafat di Madinah pada tahun 10 Hijriah. Sampai saat ini tidak ada
satupun manusia yang dapat menyanggah bahwa al-Qur’an dengan segala
kemukjizatannya bukan berasal dari Allah Sang Pencipta. Karena mana mungkin
seorang yang buta huruf seperti Nabi Muhammad dapat menbuat sebuah kitab agung
yang memiliki gaya bahasa Arab tertinggi dan tidak mampu dijangkau oleh seorang
pujangga teragung sekalipun. Karena al-Qur’an bukan hanya kitab sastra, tapi kitab
hukum, undang-undang, pengetahuan, politik dan seterusnya yang disampaikan
dengan untaian indah. Terlalu banyak makhluk yang tertegun dengan keindahan al-
Qur’an.86
Telah disepakati para Ulama, bahwa al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab,
sebagaimana dinyatakan al-Qur’an sendiri. Namun bahasa Arab al-Qur’an adalah
bahasa Arab tertinggi yang telah melahirkan gramatika bahasa Arab kontemporer.
Para ulama juga berpendapat ada beberapa kata al-Qur’an yang bukan berasal dari
bahasa Arab asli, namun bahasa non Arab yang sudah banyak digunakan dan
dimengerti oleh masyarakat Arab.87
Salah satu bahasa Aceh-Melayu yang sudah tersebar di dunia Arab, termasuk
Mesir sejak zaman kekuasaan Ramses (Fir’aun) adalah kafur. Sebagaimana dijelaskan
terdahulu dalam teori kafur Barus, bahwa kafur min barus adalah sebuah komuditas
mewah wangi-wangian yang berasal dari inti kayu kamfer yang dalam bahasa latin
dikenal dengan champora. Tidak diragukan bahwa penghasil terbesar kapur zaman itu
adalah wilayah yang terletak di ujung barat pulau Sumatera, yang sekarang berada di
wilayah Aceh. Bahkan dalam teori terdahulu telah disebutkan banyak dalil tentang
Barus-Fansur awal, yang berada di sekitar Lamuri-Aceh.
Pada al-Qur’an surat al-Insan (76) ayat ke 5 menyebutkan: Sesungguhnya orang-
orang yang berbuat kebajikan akan meminum dari gelas, minuman yang dicampur kafur.
Kebanyakan mufassirin dalam tafsirnya masing-masing seperti Ibn. Abbas, Jalalain, al-
Qurthubi, Ibn Katsir dan lain-lainnya, mengartikan kafur sebagai campuran dari
85
N.J. Krom, Zaman Hindu, terjemahan Arief Effendi, Jakarta: Pembangunan, 1956, hal. 10-12. D.G.E.
Hall, A History of South East Asia, London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H. Burger dan Prajudi,
Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.
86
Lihat misalnya, al-Wahyu al-Muhammady, oleh M. Rasyid Ridha
87
Lihat misalnya, Mafhum fie Ulum al-Qur’an, Ash-Shabuni

42
minuman yang merehatkan, nikmat, yang dapat membuat tenang dan biasanya
dijadikan obat. Walaupun ada yang menyebutkan sebagai nama mata air di syurga.
Pendapat pertama lebih banyak dirujuk mengingat penggunaan kafur yang sudah
umum sebagai bahan obat-obatan, wangi-wangian dan bahan perisa di dunia Arab
pra-Islam seperti di Alexenderia Mesir dan lainnya. Namun hampir semuanya sepakat
bahwa kata ini bukan asli bahasa Arab, sebagaimana disebutkan Ibn Manzhur dalam
Lisan al-Arab karena tidak ditemukan dalam bahasa Arab Jahiliyah atau bahasa Arab
purba. Maka dengan demikian, tidak diragukan bahwa kata kafur yang dimaksudkan
al-Qur’an adalah kapur dari Barus sebagai lambang kemewahan pada zaman itu .
Kata "kafur", menurut Karel Steenbrink, secara pasti bukan istilah Arab. Akar
kata "kafara" bisa berarti menghindari atau tidak berterima kasih. Sedangkan kata
"kafur", yang berarti kapur barus atau kamper, berasal dari bahasa Melayu. Steenbrink
menyimpulkan bahwa kata "kafur" bukan hanya penghubung secara etimologis antara
al-Qur'an dan Nusantara, tetapi juga komoditi yang sejak abad ke-7 telah dibawa oleh
pedagang Muslim dari Nusantara.88

4. Teori Champa (Jeumpa) Versi Raffles


Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga seorang
peneliti sosial, Sir TS. Raffles dalam bukunya The History of Java, menyebutkan bahwa
Champa yang terkenal di Nusantara, bukan terletak di Kambodia sekarang
sebagaimana dinyatakan oleh para peneliti Belanda. Tapi Champa adalah nama
daerah di sebuah wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Champa
adalah ucapan atau logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”, karena penyebutannya inilah
banyak ahli yang keliru dan mengasosiasikannya dengan Kerajaan Champa di wilayah
Kambodia dan Vietnam sekarang. Jeumpa yang dinyatakan Raffles sekarang berada di
sekitar daerah Kabupaten Bireuen Aceh. 89
”Champa” biasanya dihubungkan dengan sebuah peristiwa pada zaman
kerajaan Majapahit, terutama pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya V yang
memiliki seorang istri yang dikenal dengan ”Puteri Champa” sebagaimana disebutkan
dalam Babad Tanah Jawi, yang nama lainnya Anarawati (Dwarawati) yang beragama
Islam. Puteri inilah yang melahirkan Raden Fatah, yang kemudian menyerahkan
pendididikan putranya kepada seorang keponakannya yang dikenal dengan Sunan
Ampel (Raden Rahmat) di Ampeldenta Surabaya. Sejarah mencatat, Raden Fatah
menjadi Sultan pertama dari Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah
Jawa yang mengakhiri sejarah Kerajaan Hindu-Jawa Majapahit.90
Banyak ahli sejarah yang konfius dengan ”Champa”, yang pada akhirnya
menimbulkan kegelapan dan kerancuan luar biasa pada sejarah Islam Nusantara.
Kekaburan ini umumnya disebabkan para ahli hanya mengutip mendapat-pendapat
88
Karel Steenbrink, Pondok Pesantren, Jakarta: LP3ES,
89
Sir Thomas Stamford Raffles, The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of
Mahomedanism. Published by John Murray, Albemarle-Street. 1830. Vol II, 2nd Ed, Chap X, hal. 74. 122
90
JJ. Meinsma,. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. S'Gravenhage, 1903

43
yang sudah ada tanpa mengadakan pengkajian lebih dalam dan lebih mendetil dari
berbagai aspek. Kemalasan intelektual ini hanya memahami Champa sebagai sebuah
kata yang sudah bercampur dengan berbagai mitos, legenda dan cerita masyarakat
yang tidak berdasarkan fakta ilmiyah. Bukan Champa sebagai sebuah realitas sejarah
berdasarkan penelitian sejarah berbagai aspek yang berkaitan dengannya.
Mari kita peras sedikit logika kita untuk mengungkap kegelapan Champa yang
sudah berabad-abad dipercayai sebagai kebenaran sejarah. Para ahli sejarah
memperkirakan Maulana Malik Ibrahim berada Champa sekitar 13 tahun, antara
tahun 1379 sampai dengan 1392.91 Untuk memastikan dimanakah Champa yang telah
ditinggali Maulana Malik dan saudara iparnya ”Putri Champa”, maka perlu diselidiki
bagaimanakah keadaan Champa waktu itu, baik yang berada di Aceh maupun
Kambodia.
Menurut beberapa catatan, Champa di Kambodia masa itu sedang di perintah
oleh Chế Bồng Nga antara tahun 1360-1390 Masehi, dikenal dengan The Red King
(Raja Merah) seorang Raja terkuat dan terakhir Champa. Tidak diketahui apakah Raja
ini Muslim atau Budha sebagaimana mayoritas penduduk Kambodia masa ini dengan
banyak peninggalan kuil-kuilnya. Beliau berhasil menyatukan dan mengkordinasikan
seluruh kekuatan Champa pada kekuasaannya, dan pada tahun 1372 menyerang
Vietnam melalui jalur laut. Champa berhasil memasuki kota besar Hanoi pada 1372
dan 1377. Pada penyerangan terakhir tahun 1388, dia dikalahkan oleh Jenderal
Vietnam Ho Quy Ly, pendiri Dinasti Ho . Che Bong Nga meninggal dua tahun
kemudian pada 1390. Tidak banyak catatan hubungan Penguasa Champa ini dengan
Islam, apalagi tidak didapat bekas-bekas kegemilangan Islam, sebagaimana yang
ditinggalkan para pendakwah di Perlak, Pasai ataupun Malaka.92
Sementara menurut catatan sejarah, yang terkenal dengan Sultan Cam atau
Champa adalah Wan Abdullah atau Sultan Umdatuddin atau Wan Abu atau Wan Bo
Teri Teri atau Wan Bo saja, memerintah pada tahun 1471 M - 1478 M. Menurut silsilah
Kerajaan Kelantan Malaysia, silsilah beliau adalah : Sultan Abu Abdullah (Wan Bo) ibni
Ali Alam (Ali Nurul Alam) ibni Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra )
ibni Ahmad Syah Jalal ibni Abdullah ibni Abdul Malik ibni Alawi Amal Al-Faqih ibni
Muhammas Syahib Mirbath ibni ‘Ali Khali’ Qasam ibni Alawi ibni Muhammad ibni Alawi
ibni Al-Syeikh Ubaidillah ibni Ahmad Muhajirullah ibni ‘Isa Al-Rumi ibni Muhammad Naqib
ibni ‘Ali Al-Uraidhi ibni Jaafar As-Sadiq ibni Muhammad Al-Baqir ibni ‘Ali Zainal Abidin
ibni Al-Hussein ibni Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW. Jadi beliau adalah anak
saudara dari Maulana Malik Ibrahim, yaitu anak dari adik beliau bernama Ali Nurul
91
Lihat :Umar Hasyim, Riwayat Maulana Malik Ibrahim. Semarang:Menara Kudus. 1980.
92
(Lihat misalnya: D.R. SarDesai,Vietnam, Trials and Tribulations of a Nation. 1988. ppg 33-34,. David P.
Chandler, A History of Cambodia (Boulder: Westview Press, 1992.) George F. Hourani "Arab Seafaring" Princeton
University Press, New Jersey, 1979. Nicholas Tarling, "The Cambridge History of Southeast Asia" vol.1 Cambridge
University Press, Cambridge, 1992. Lafont, P. B., "Aperçu sur les relations entre le Campa et l'Asie du Sud-Est,"
Actes du Séminaire sur le Campa organisé à l'Université de Copenhague, le 23 mai 1978 (Paris: 1988b) hal. 71-
82. Manguin Pierre Yves, "Etudes cam II; l'introduction de l'Islam au Campa," Bulletin de l'Ecole Française
d'Extrême-Orient, Vol. LXVI (1979) hal.. 255-287.

44
Alam. Wan Bo atau Wan Abdullah ini juga adalah bapak kepada Syarief Hidayatullah,
pengasas Sultan Banten sebagaimana silsilah yang dikeluarkan Kesultanan Banten
Jawa Barat: Syarif Hidayatullah ibni Abdullah (Umdatuddin) ibni Ali Alam (Ali Nurul
Alam) ibni Jamaluddin Al-Hussein (Sayyid Hussein Jamadil Kubra) ibni Ahmad
Syah Jalal dan seterusnya seperti di atas.93
Pertanyaannya, kapan dan dimana sebenarnya Kerajaan Champa yang
dipimpin oleh Raja Champa yang menjadi mertua Maulana Malik Ibrahim, yang
menjadi ayah kandung ”Puteri Champa”. Padahal jika dikaitkan dengan fakta di atas,
mustahil mertua Maulana Malik atau ayah ”Puteri Champa” itu adalah Wan Bo (Wan
Abdullah) karena menurut silsilah dan tahun kelahirannya, beliau adalah pantaran
anak saudara Maulana Malik yang keduanya terpaut usia 50 tahun lebih. Raden
Rahmat (Sunan Ampel) sendiri lahir pada tahun 1401 di ”Champa” yang masih
misterius itu. Boleh jadi yang dimaksud dengan Kerajaan Champa tersebut bukan
Kerajaan Champa yang dikuasai Dinasti Ho Vietnam, tapi sebuah perkampungan kecil
yang berdekatan dengan Kelantan?. Inipun masih menimbulkan tanda tanya,
dimanakah peninggalannya?. Bahkan ada pula yang mengatakan Champa berdekatan
dengan daerah Fatani, Selatan Thailand berdekatan dengan Songkla, yang merujuk
daerah Senggora zaman dahulu.94
Untuk mendukung Teori Raffles bahwa Champa yang dimaksud bukan di
Vietnam sekarang, tetapi di wilayah Jeumpa Bireuen Aceh, ada beberapa dalil yang
dapat dikemukakan, antara lain; (i) Sebuah Martin Van Bruinessen telah memetik
tulisan Saiyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad, dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren
..“Putra Syah Ahmad, Jamaluddin dan saudara-saudaranya konon telah mengembara
ke Asia Tenggara..... Jamaluddin sendiri pertamanya menjejakkan kakinya ke Kemboja
dan Aceh, kemudian belayar ke Semarang dan menghabiskan waktu bertahun-tahun
di Jawa, hingga akhirnya melanjutkan pengembaraannya ke Pulau Bugis, di mana dia
meninggal.” (al-Haddad 1403 :8-11). Diriwayatkan pula beliau menyebarkan Islam ke
Indonesia bersama rombongan kaum kerabatnya. Anaknya, Saiyid Ibrahim (Maulana
Malik Ibrahim) ditinggalkan di Aceh untuk mendidik masyarakat dalam ilmu
keislaman. Kemudian, Saiyid Jamaluddin ke Majapahit, selanjutnya ke negeri Bugis,
lalu meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi
adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”. Jadi tidak diragukan bahwa yang ke
Kamboja itu adalah ayah Maulana Malik Ibrahim, Saiyid Jamaluddin yang menikah di
sana dan menurunkan Ali Nurul Alam. Sedangkan mayoritas ahli sejarah menyatakan
Maulana Malik Ibrahim lahir di Samarkand atau Persia, sehingga di gelar Syekh
Maghribi. Beliau sendiri dibesarkan di Aceh dan tentu menikah dengan puteri Aceh
yang dikenal sebagai ”Puteri Raja Champa”, yang melahirkan Raden Rahmat (Sunan
Ampel).

93
Lihat : Tun Suzanna Tun Hj.Othman dkk. Dinast-Dinastii Quraysh (Hasyimy) di Alam Melayu, Johor:tt.
94
Lihat : Wan Muhammad Shagir Abdullah, Syekh Muhammad Arifin Syah, Utusan Melayu, 24 Juli 2006

45
(ii) Keadaan Champa Kambodia ketika zaman Maulana Malik Ibrahim sedang
huru hara dan terjadi pembantaian terhadap kaum Muslim yang dilakukan oleh
Dinasti Ho yang membalas dendam atas kekalahannya pada pasukan Khulubay Khan,
Raja Mongol yang Muslim sebagaimana disebutkan terdahulu. Keadaan ini sangat
jauh berbeda dengan keadaan Jeumpa yang menjadi mitra Kerajaan Pasai pada waktu
itu yang menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus,
Fansur dan Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat
pengembangan dan dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari
seluruh penjuru dunia. Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar
berbahas tentang masalah-masalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama
besar dari Persia, India, Arab dan lain-lain, sementara mereka mendapat
penghormatan mulia dan tinggi.95 Dan Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala
orang Samudra (Pasai) pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab.96.
(iii) Populeritas Jeumpa di Nusantara, yang dihubungkan dengan puteri-
puterinya yang cerdas dan cantik jelita, buah persilangan antara Arab-Parsi-India dan
Melayu, yang di Aceh terkenal dengan Buengong Jeumpa, gadis cantik putih kemerah-
merahan, tidak lain menunjukkan keistimewaan Jeumpa di Aceh yang sampai saat ini
masih menyisakan kecantikan puteri-puterinya, gadis Bireuen. Pada masa
kegemilangan Pasai, istilah puteri Jeumpa (lidah Jawa menyebut ”Champa”) sangat
populer, mengingat sebelumnya ada beberapa Puteri Jeumpa yang sudah terkenal
kecantikan dan kecerdasannya, seperti Puteri Manyang Seuludong, Permaisuri Raja
Jeumpa Salman al-Parisi, Ibunda kepada Syahri Nuwi pendiri kota Perlak. Puteri
Jeumpa lainnya,Makhdum Tansyuri (Puteri Pengeran Salman-Manyang
Seuludong/Adik Syahri Nuwi) yang menikah dengan kepala rombongan Khalifah
yang dibawa Nakhoda, Maulana Ali bin Muhammad din Ja’far Shadik, yang
melahirkan Maulana Abdul Aziz Syah, Raja pertama Kerajaan Islam Perlak. Mereka
seterusnya menurunkan Raja dan bangsawan Perlak, Pasai sampai Aceh Darussalam.
Kecantikan dan kecerdasan puteri-puteri Jeumpa sudah menjadi legenda di antara
pembesar-pembesar istana Perlak, Pasai, Malaka, bahkan sampai ke Jawa. Itulah
sebabnya kenapa Maharaja Majapahit, Barawijaya V sangat mengidam-idamkan
seorang permaisuri dari Jeumpa. Bahkan dalam Babat Tanah Jawi, disebutkan
bagaimana mabok kepayangnya sang Prabu ketika bertemu dengan Puteri Jeumpa
yang datang bersama dengan rombongan Maulana Malik Ibrahim dan para petinggi
Pasai. Dikisahkan Sang Prabu meminta agar Puteri Jeumpa bersedia menjadi
Permaisurinya dan menikahlah mereka yang melahirkan Raden Fatah.
(iv) Secara umum, wajah orang Champa Kambodia lebih mirip dengan Cina,
kecil-kecil dan memiliki kulit seperti orang Kelantan sekarang, sementara bahasanya
susah dimengerti karena dialeknya berbeda dengan rumpun bahasa Melayu yang

95
A.H. Johns, “Islam in Southeast Asia: Reflections and New Directions”, Indonesia, Cornell Modern
Indonesia Project, 1975, no.19 (April). Hal. 8
96
TD. Situmorang dan A. Teeuw, Sejarah Melayu, op.cit. hal. 168-173

46
menjadi bahasa pertuturan dan pengantar Nusantara saat itu. Muka-muka Arab,
seperti wajah Maulana Malik Ibrahim, Raden Rahmat ataupun gelar mereka, Sayyid,
Maulana, dan lainnya jarang adanya dan tidak seperti rata-rata orang Perlak, Pasai,
Jeumpa ataupun umumnya orang Aceh yang lebih mirip ke wajah Arab, India atau
Parsia. Sebagaimana diketahui, Maulana Malik Ibrahim dan Raden Rahmat
memberikan pelajaran agama kepada orang Jawa menggunakan bahasa Melayu
Sumatera yang banyak digunakan di sekitar Perlak, Pasai, Lamuri, Barus, Malaka,
Riau-Lingga dan sekitarnya, sebagaimana dalam manuskrip agama yang dikarang
para Ulama terkemudian seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani,
Nuruddin al-Raniri, Raja Ali Haji dan lainnya.
(v) Sejarah pergerakan dakwah Islamiyah Nusantara abad ke IX-XV Masehi,
sebagaimana yang disepakati para ahli sejarah Islam Nusantara, tidak pernah
menyebutkan berpusat di sekitar daerah Vietnam atau Indo-China sekarang, namun
sebaliknya tercatat berpusat diantara Perlak, Pasai, Malaka, Lamuri, Barus, ataupun
Fansur di wilayah Aceh, yang di tengah-tengahnya terdapat Jeumpa, yang menjadi
laluan dan tempat persinggahan yang banyak menyisakan kegemilang Islam.
Sementara di Vietnam telah dibuktikan tidak banyak ditemukannya Sayyid, Syarief
atau Maulana dan Makhdum serta Ulama-Ulama besar yang umumnya menjadi
penggerak Islamisi. Juga tidak didapati peninggalan-peninggalan situs yang
berhubungan dengan kegemilangan Islam, apakah berupa istana, maqam, ataupun
skrip keislaman yang menjadi ciri khas peninggalan jejak peradaban Islam. Di samping
itu, tidak didapatkan dalam sejarah bahwa Islam pernah gemilang di sekitar sana
dengan mendirikan sebuah kerajaan Islam yang berperan. Karena tradisi dari para
pendakwah akan mendirikan sebuah kerajaan atau mengislamkan kerajaan tersebut,
atau menaklukkannya sebagaimana sejarah Perlak, Pasai, Malaka, Aceh Darussalam,
Demak dan lainnya. Ada kemungkinan di Champa pernah tumbuh perkampungan
muslim, namun hal ini tidak dapat dijadikan pegangan, karena yang dikatakan ”Puteri
Champa” tentulah anak Raja Champa, demikian pula disebutkan bahwa Maulana
Malik Ibrahim menikah dengan salah seorang puteri Raja di Champa yang melahirkan
Raden Rahmat (Sunan Ampel)
(vi) Dari segi geografis dan taktik-strategi perjuangan, kelihatannya mustahil
para pendakwah, khususnya gerakan Para Wali yang akan menaklukkan pulau Jawa
bermarkas di sebuah perkampungan Muslim minoritas dekat Vietnam. Apalagi pada
masa itu Champa sepeninggal Raja terakhirnya, Che Bong Nga (w.1390), sepenuhnya
dikuasai Dinasti Ho yang Budha dan anti Islam berpusat di Hanoi. Maulana Malik
Ibrahim adalah Grand Master para Wali Songo, jika sasaran dakwahnya adalah pulau
Jawa, sebagai basis kerajaan Hindu-Budha yang tersisa, terlalu naif memilih Champa
sebagai markas pusat pergerakan baik menyangkut dukungan logistik, politik
maupun ketentaraan. Sebagaimana dicatat sejarah, pada masa itu para Sultan dan
Ulama, baik yang ada di Arab, Persia, India termasuk Cina yang sudah dipegang
penguasa Islam memfokuskan penaklukkan kerajaan besar Majapahit sebagai patron

47
terbesar Hindu-Budha Nusantara. Kaisar Cina yang sudah Muslimpun mengirim
Panglima Besar dan tangan kanan dan kepercayaannya, Laksamana Cheng-Ho untuk
membantu gerakan Islamisasi Jawa. Sementara hubungan dakwah via laut pada saat
itu sudah terjalin jelas menunjukkan hubungan antara Jawa-Pasai-Gujarat-Persia-
Muscat-Aden sampai Mesir, yang diistilahkan Azra sebagai Jaringan Ulama
Nusantara. Yang artinya, wilayah Aceh Jeumpa lebih mungkin berada di sekitar pusat
gerakan dan lintasan jaringan tersebut daripada Champa Kambodia.
(vii) ”Puteri Champa” ibunda Raden Fatah adalah bibi dari Sunan Ampel
(Raden Rahmat) yang juga lahir di ”Champa”, sementara Raden Rahmat adalah putra
dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang anak dari Sayyid Jamaluddin Akbar al-
Husein atau juga disebut Sayyid Hussein Jamad al-Kubra, dan seterusnya hingga
bersambung di Imam Ja’far Sadiq, cucu Nabi Muhammad saw. Dari analisis ini,
artinya bahwa Puteri Champa adalah keluarga atau bersaudara dengan istri Maulana
Malik Ibrahim yang juga Puteri Raja Jeumpa, yang tidak diragukan adalah keturunan
Ahlul Bayt dari Sasaniah Salman ataupun Maulana Abdul Aziz. Sebagai seorang
Sayyid atau Maulana, yaitu keturunan Nabi saw yang alim dan fakih, serta pejuang
aktif, tentulah Maulana Malik Ibrahim tetap menjaga tradisi dan kesucian yang
menjadi warisan Ahlul Bayt. Apalagi diketahui bahwa keluarga Ahlul Bayt sejak awal
sudah menjadi penguasa di sekitar Jaumpa, Perlak maupun Pasai. Bahkan menurut
silsilahnya, Meurah Silu atau Malik al-Saleh adalah keturunan dari Imam Ja’far Shadiq
juga yang berarti masih satu turunan dengan Maulana Malik Ibrahim. Adapun silsilah
lengkap Maulana Malik Ibrahim adalah : Husain bin Ali, Ali Zainal Abidin,
Muhammad al-Baqir, Ja'far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-
Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi
ats-Tsani, Ali Khali' Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul
Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Syah Jalal, Jamaluddin Akbar al-
Husain (Maulana Akbar), dan Maulana Malik Ibrahim.97
(viii) Adalah hal yang mustahil, seorang Wali sekelas Maulana Malik Ibrahim,
bapak dan pemimpin para Wali di Jawa, yang telah berhasil membangun jaringan di
Nusantara, setelah 13 tahun di Champa tidak dapat membangun sebuah kerajaan
Islam atau meninggalkan jejak-jejak kegemilangan peradaban Islam, atau hanya
sebuah prarasti seperti pesantren, maqam atau sejenisnya yang akan menjadi jejaknya.
Bahkan Raffles menyebutnya sebagai orang besar, sementara sejarawan G.W.J. Drewes
menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang
sebagai wali di antara para wali. ''Ia seorang mubalig paling awal,'' tulis Drewes dalam
bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana,

97
(Lihat :Umar Hasyim, Riwayat Maulana Malik Ibrahim. Semarang:Menara Kudus. 1980. Al-Murtadho, H.
Sayid Husein, dan KH Abdullah Zaky Al-Kaaf, Drs. Maman Abd. Djaliel, 1999. Keteladanan Dan Perjuangan
Wali Songo Dalam Menyiarkan Islam Di Tanah Jawa. CV Pustaka Setia, Bandung. Nasab-Alwi (Ammu al-
Faqih), Situs Asyraaf Malaysia (Situs Persatuan Alawiyyin Malaysia) Martin van Bruinessen, 1994.
Najmuddin al-Kubra, Jumadil Kubra and Jamaluddin al-Akbar: Traces of Kubrawiyya influence in early
Indonesian Islam, Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde 150. 305-329.

48
yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein
Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya
diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.
(ix) Maulana Malik Ibrahim memiliki seorang saudara yang terkenal sebagai
ulama besar di Pasai, bernama Maulana Saiyid Ishaq, sekaligus ayah dari Raden Paku
atau Sunan Giri. Menurut cacatan sejarah, beliau adalah salah seorang ulama yang
dihormati di kalangan istana Pasai dan menjadi penasihat Sultan Pasai di zaman
Sultan Zainal Abidin dan Sultan Salahuddin. Sebelum bertolak ke tanah Jawa,
ayahanda beliau, Jamaluddin Akbar al-Husain (Maulana Akbar), yang juga datang
dari Persia atau Samarqan, tinggal dan menetap juga di Pasai. Jadi menurut analisis,
beliau bertiga datang dari Persia atau Samarqan ke Kerajaan Pasai sebagai pusat
penyebaran dakwah Islam di Nusantara, pada sekitar abad ke 13 Masehi, bersamaan
dengan kejayaan Kerajaan Pasai di bawah Sultan Malik al-Salih, yang juga keturunan
Ahlul Bayt. Sementara Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang dikatakan lahir di
Champa, kemudian hijrah pada tahun 1443 M ke Jawa dan mendirikan Pesantren di
Ampeldenta Surabaya, adalah seorang ulama besar, yang tentunya mendapatkan
pendidikan yang memadai dalam lingkungan Islami pula. Adalah mustahil bagi Sang
Raden untuk mendapatkan pendidikannya di Champa Kambodia pada tahun-tahun
itu, karena sejak tahun 1390 M atau sepuluh tahun sebelum kelahiran beliau, sampai
dengan abad ke 16, Kambodia dibawah kekuasaan Dinasti Ho yang Budha dan anti
Islam sebagaimana dijelaskan terdahulu. Apalagi sampai saat ini belum di dapat jejak
lembaga pendidikan para ulama di Champa. Namun keadaannya berbeda dengan
Jeumpa Aceh, yang dikelilingi oleh Bandar-Bandar besar tempat pesinggahan para
Ulam dunia pada zaman itu. Perlu digarisbawahi, kegemilangan Islam di sekitar Pasai,
Malaka, Lamuri, Fatani dan sekitarnya adalah antara abad 13 sampai abad 14 M.
Kawasan ini menjadi pusat pendidikan dan pengembangan pengetahuan Islam
sebagaimana digambarkan terdahulu.
(x) Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah saw bersabda
agar pengikutnya berpegang teguh kepada dua perkara supaya tidak sesat selama-
lamanya, yaitu Kitab Allah (al-Qur’an dan Sunnah) dan Itrah (keturunannya). Dua
perkara inilah yang menjadi penghubung antara Rasulullah dengan umatnya,
sehingga mereka diwajibkan membaca shalawat untuk beliau dan keluarga
keturunannya. Karena Ahlul Bayt diamanahkan sebagai benteng utama Islam oleh
Allah dan Rasul-Nya dan ummat diperintahkan untuk mencintai, menghormati dan
berpegang teguh kepadanya, maka sejak awal kebangkitan Islam para Itrah Rasul
mendapat kehormatan dan kedudukan, termasuk di alam Nusantara. Itulah sebabnya
ahli sejarah telah mencatat beberapa dinasti Kerajaan Ahlul Bayt Nusantara, baik di
wilayah Sumatera, Semenanjung Melayu, Borneo-Kalimantan, Jawa, Sulawesi sampai
ke Maluku dan Papua sekarang. Ditengarai, generasi awal datang dari Persia sekitar
akhir abad pertama Hijriah atau sekitar abad VII Masehi, yang mendirikan kerajaan di
sekitar Aceh-Sumatra, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Perlak dan Pasai. Jika dirut

49
silsilah para Sultan di Nusantara, sebagian besar akan bertemu pada jalur Imam Ja’far
Sadiq yang sampai kepada Sayyidina Husein bin Sayyidah Fatimah binti Rasulullah
saw, baik Maulana Abdul Aziz Syah (Perlak), Sultan Malik al-Shalih (Pasai), Mughayat
Syah (Aceh), Syarif Hidayatullah (Banten), Sultan Wan Abdullah (Kelantan) dan lain-
lainnya. Dan tidak diragukan, sebagaimana diperintahkan Allah dan Rasul-Nya,
diantara mereka senantiasa memelihara kekerabatan dan saling topang menopang
dalam menegakkan Islam dalam sebuah jaringan Ahlul Bayt. Tokoh-tokoh Ahlul Bayt
yang sudah memegang kekuasaan segai akan memberikan bantuan kepada yang
lainnya. Nah pada zaman Maulana Malik Ibrahim masih muda, yang tengah berkuasa
dan berkibar adalah Dinasti Ahlul Bayt Pasai di Aceh. Itulah sebabnya ayahanda
beliau, Saiyid Jamaluddin menitipkan dan mempersiapkan anaknya pada patron yang
kuat, Kerajaan Pasai, yang para Rajanya adalah persilangan antara turunan Ahlul Bayt
dari Kerajaan Perlak dengan Kerajaan Jeumpa. Sebagai seorang pendidik pejuang,
mustahil seorang Ulama setingkat Saiyid Jamaluddin akan meninggalkan anaknya di
Champa yang tengah dikuasai Kerajaan Hindu Budha.
Dengan demikian, maka jelaslah bahwa Champa yang dimaksud dalam sejarah
pengembangan Islam Nusantara selama ini, yang menjadi tempat persinggahan dan
perjuangan awal Maulana Malik Ibrahim, asal ”Puteri Champa” atau asal kelahiran
Raden Rahmat (Sunan Ampel), bukanlah Champa yang ada di Kambodia-Vietnam
saat ini. Tapi tidak diragukan, sebagaimana dinyatakan Raffles, ”Champa” berada di
Jeumpa dengan kota perdagangan Bireuen, yang menjadi bandar pelabuhan
persinggahan dan laluan kota-kota metropolis zaman itu seperti Fansur, Barus dan
Lamuri di ujung barat pulau Sumatra dengan wilayah Samudra Pasai ataupun Perlak
di daerah sebelah timur yang tumbuh makmur dan maju..

Data Awal Mengenai Kerajaan Jeumpa Aceh


Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim
Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang
benar keberadaannya pada sekitar abad ke VIII Masehi yang berada di sekitar daerah
perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng
Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng
yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu
Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga
merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala
Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh
kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah
Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu
besar).98
Menurut hasil observasi terkini di sekitar daerah yang diperkirakan sebagai
tapak Maligai Kerajaan Jeumpa sekitar 80 meter ke selatan yang dikenal dengan Buket
98
Lihat: Modus, No.15/Th.V/23-29 Juli 2007

50
Teungku Keujereun, ditemukan beberapa barang peninggalan kerajaan, seperti kolam
mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam
cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang
tangan. Di sekitar daerah ini pula ditemukan sebuah bukit yang diyakini sebagai
pemakaman Raja Jeumpa dan kerabatnya yang hanya ditandai dengan batu-batu besar
yang ditumbuhi pepohonan rindang di sekitarnya.
Sebelum kedatangan Islam, di daerah Jeumpa sudah berdiri salah satu Kerajaan
Hindu Purba Aceh yang dipimpin turun temurun oleh seorang Meurah. Datang
pemuda tampan bernama Abdullah yang memasuki pusat Kerajaan di kawasan Blang
Seupeueng dengan kapal niaga yang datang dari India belakang (Parsi ?) untuk
berdagang. Dia memasuki negeri Blang Seupeueng melalui laut lewat Kuala Jeumpa,
sekitar awal abad ke VIII Masehi dan negeri ini sudah dikenal di seluruh penjuru dan
mempunyai hubungan perdagangan dengan Cina, India, Arab dan lainnya.
Selanjutnya Abdullah tinggal bersama penduduk dan menyiarkan agama Islam.
Rakyat di negeri tersebut dengan mudah menerima Islam karena tingkah laku, sifat
dan karakternya yang sopan dan sangat ramah. Dia dinikahkan dengan puteri Raja
bernama Ratna Kumala. Akhirnya Abdullah dinobatkan menjadi Raja menggantikan
bapak mertuanya, yang kemudian wilayah kekuasaannya dia berikan nama dengan
Kerajaan Jeumpa, sesuai dengan nama negeri asalnya di India Belakang (Persia) yang
bernama ”Champia”, yang artinya harum, wangi dan semerbak. Sementara Bireuen
sebagai ibukotanya, berarti kemenangan, sama dengan Jayakarta (Jakarta) dalam
bahasa Jawa.99
Berdasarkan silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh
Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa
pada 154 Hijriah atau tahun 777 Masehi dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsia
(India Belakang ?) yang bernama Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang
kawin dengan Puteri Mayang Seulodong dan memiliki beberapa anak, antara lain
Shahri Duli, Shahri Tanti, Shahri Nawi, Shahri Dito dan Puteri Makhdum Tansyuri
yang menjadi ibu dari Sultan pertama Kerajaan Islam Perlak. Menurut penelitian pakar
sejarah Aceh, Sayed Dahlan al-Habsyi, Shahri adalah gelar pertama yang digunakan
keturunan Nabi Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah,
Habib, Sayid, Syarief, Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri
Sayyidina Husein bin Ali, Puteri Shahri Banun, anak Maha Raja Parsia terakhir.
Mengenai keberadaan Shahri Nawi ini, disebutkan oleh Syekh Hamzah Fansuri.
Syekh ini adalah Ulama Sufi dan sastrawan terkenal Nusantara yang berpengaruh
dalam pembangunan Kerajaan Aceh Darussalam, yang juga merupakan guru
Syamsuddin al-Sumatrani yang dikenal sebagai Syekh Islam Kerajaan Aceh
Darussalam pada masa Iskandar Muda. A. Hasymi menyebutkan beliau juga adalah
paman dari Maulana Syiah Kuala (Syekh Abdul Rauf al-Fansuri al-Singkili). Syekh

99
Ibid

51
Fansuri dalam beberapa kesempatan menyatakan asal muasalnya dan hubungannya
dengan Shahri Nawi. Diantaranya syair :
Hamzah ini asalnya Fansuri
Mendapat wujud di tanah Shahrnawi
Beroleh khilafat ilmu yang ’ali
Daripada ’Abd al-Qadir Jilani

Hamzah di negeri Melayu,


Tempatnya kapur di dalam kayu

Dari rangkaian syair ini, maka jelaslah bahwa ada hubungan antara bumi
Shahrnawi (Shahr Nawi) dengan Fansur yang menjadi asal muasal kelahiran Syekh
Hamzah Fansuri dan tempat yang terkenal kafur Barus. Sebagaimana disebutkan di
atas, Shahrnawi atau Syahr Nawi adalah anak daripada Pangeran Salman (Sasaniah
Salman) yang lahir di daerah Jeumpa, di Aceh Bireuen saat ini. Syahrnawi adalah salah
satu tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan Kerajaan Islam Perlak, bahkan
beliau dianggap arsitek pendiri kota pelabuhan Perlak pada tahun 805 yang
dipimpinnya langsung, dan diserahkan kepada anak saudaranya Maulana Abdul
Aziz. Kerajaan Islam Perlak selanjutnya berkembang menjadi Kerajaan Islam Pasai dan
mendapat kegemilangannya pada masa Kerajaan Aceh Darussalam.
Maka tidak mengherankan jika Syekh Hamzah Fansuri, mengatakan
kelahirannya di bumi Sharhnawi yang merupakan salah seorang generasi pertama
pengasas Kerajaan-Kerajaan Islam Aceh yang dimulai dari Kerajaan Islam Jeumpa.
Pernyataan Syekh Hamzah Fansuri ini juga menjadi hujjah yang menguatkan teori
bahwa Jeumpa, asal kelahiran Shahrnawi adalah Kerajaan Islam pertama di
Nusantara.
Keberadaan Kerajaan Islam Jeumpa ini dapat pula ditelusi dari pembentukan
Kerajaan Perlak yang dianggap sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara. Perlak
pada tahun 805 Masehi adalah bandar pelabuhan yang dikuasai pedagang keturunan
Parsi yang dipimpin seorang keturunan Raja Islam Jeumpa Pangeran Salman al-Parsi
dengan Putri Manyang Seuludong bernama Meurah Shahr Nuwi. Sebagai sebuah
pelabuhan dagang yang maju dan aman menjadi tempat persinggahan kapal
dagang Muslim Arab dan Persia. Akibatnya masyarakat Muslim di daerah ini
mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama sekali lantaran banyak
terjadinya perkawinan di antara saudagar Muslim dengan wanita-wanita setempat,
sehingga melahirkan keturunan dari percampuran darah Arab dan Persia dengan
putri-putri Perlak. Keadaan ini membawa pada berdirinya kerajaan Islam Perlak
pertama, pada hari selasa bulan Muharram, 840 M. Sultan pertama kerajaan ini
merupakan keturunan Arab Quraisy bernama Maulana Abdul Azis Syah, bergelar

52
Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Menurut Wan Hussein Azmi,
pedagang Arab dan Persia tersebut termasuk dalam golongan Syi'ah.100
Wan Hussein Azmi dalam Islam di Aceh mengaitkan kedatangan mereka dengan
Revolusi Syi'ah yang terjadi di Persia tahun 744-747. Revolusi ini di pimpin
Abdullah bin Mu'awiyah yang masih keturunan Ja'far bin Abi Thalib. Bin
Mu'awiyah telah menguasai kawasan luas selama dua tahun (744-746) dan mendirikan
istana di Istakhrah sekaligus memproklamirkan dirinya sebagai raja Madian, Hilwan,
Qamis, Isfahan, Rai, dan bandar besar lainnya. Akan tetapi ia kemudian dihancurkan
pasukan Muruan di bawah pimpinan Amir bin Dabbarah tahun 746 dalam
pertempuran Maru Sydhan. Kemudian banyak pengikutnya yang melarikan diri ke
Timur Jauh. Para ahli sejarah berpendapat, mereka terpencar di semenanjung
Malaysia, Cina, Vietnam, dan Sumatera, termasuk ke Perlak.
Pendapat Wan Hussein Azmi itu diperkaya dan diperkuat sebuah naskah tua
berjudul Idharul Haqq fi Mamlakatil Ferlah w'l-Fasi, karangan Abu Ishak Makarni al-
Fasy, yang dikemukakan Prof. A. Hasjmi. Dalam naskah itu diceritakan tentang
pergolakan sosial-politik di lingkungan Daulah Umayah dan Abbasiyah yang kerap
menindas pengikut Syi'ah. Pada masa pemerintahan Khalifah Makmun bin Harun al-
Rasyid (813-833), seorang keturunan Ali bin Abi Thalib, bernama Muhammad bin
Ja'far Shadiq bin Muhammad Baqr bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi
Thalib, memberontak terhadap Khalifah yang berkedudukan di Baghdad dan
memproklamirkan dirinya sebagai khalifah yang berkedudukan di Makkah.
Khalifah Makmun berhasil menumpasnya. Tapi Muhammad bin Ja'far Shadiq
dan para tokoh pemberontak lainnya tidak dibunuh, melainkan diberi ampunan.
Makmun menganjurkan pengikut Syi'ah itu meninggalkan negeri Arab untuk
meluaskan dakwah Islamiyah ke negeri Hindi, Asia Tenggara, dan Cina. Anjuran
itu pun lantas dipenuhi. Sebuah Angkatan Dakwah beranggotakan 100 orang
pimpinan Nakhoda Khalifah yang kebanyakan tokoh Syi'ah Arab, Persia, dan Hindi
---termasuk Muhammad bin Ja'far Shadiq--- segera bertolak ke timur dan tiba di
Bandar Perlak pada waktu Syahir Nuwi menjadi Meurah (Raja) Negeri Perlak. Syahir
Nuwi kemudian menikahkan Ali bin Muhammad bin Ja'far Shadiq dengan adik
kandungnya, Makhdum Tansyuri. Dari perkawinan ini lahir seorang putra bernama
Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H dilantik menjadi Raja dari
kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis
Syah.101
Jadi jelaslah bahwa keberadaan Kerajaan Perlak, tidak terlepas dari peranan 2
orang tokoh sentralnya pendirinya, yaitu Meurah Syahri Nuwi dan saudarinya
Makhdum Tansyuri yang keduanya berasal dan dilahirkan di Kerajaan Jeumpa yang
dipimpin dan didirikan oleh ayahnya, Pangeran Salman al-Farsi. Sebelum Kerajaan
Perlak ada, maka lebih dahulu telah muncul Kerajaan Jeumpa, yang menjadi sebab

100
Wan Huseein Azmi, Islam di Acheh, Kuala Lumpur:
101
ibid

53
musabab keberadaan Kerajaan Perlak. Maka dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa Kerajaan Islam pertama di Nusantara bukanlah Kerajaan Perlak sebagaimana
dinyatakan A. Hasymi dengan para pendukungnya. Namun dari fakta dan data yang
dikemukakan tersebut, sudah ada kerajaan yang lebih awal, yaitu Kerajaan Jeumpa
yang terletak di sekitar Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen NAD saat ini.

Sebuah Hipotesa Dan Kesimpulan Awal


Dari beberapa teori dan data awal yang dikemukakan di atas, dapatlah
disimpulkan bahwa proses Islamisasi ke Aceh sudah terjadi sejak awal
perkembangannya, ketika Nabi Muhammad saw masih hidup yang dilakukan oleh
para saudagar Arab yang memang sudah hilir mudik berdagang dari Mesir, Aden,
Muscat, Parsia, Gujarat ke Cina melalui Barus-Fansur yang dipastikan terletak di ujung
barat pulau Sumatera. Para saudagar Arab pra-Islam diketahui sudah memiliki
perkampungan di sekitar pesisir pulau Sumatera, terbentang dari Barus-Fansur,
Jeumpa, Perlak sampai di Palembang pada zaman Kerajaan Hindu Sriwijaya.
Islamisasi Aceh mengalami puncaknya pada zaman Khalifah al-Rasyidin,
terutama di zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab yang gencar
mengirimkan para duta yang merangkap sebagai pendakwah Islam sampai ke negeri
Cina, pada sekitar awal abad ke VII Masehi. Cina menjadi tujuan dakwah para
Khalifah berkaitan dengan sebuah hadits Nabi yang populer: tuntutlah ilmu walau
sampai ke negeri Cina. Karena Cina pada zaman itu telah mencapai keemasaanya,
sebagaimana Rumawi, Yunani ataupun Mesir dan Parsia sebagai pusat-pusat
perdagangan, peradaban dan kemakmuran dunia yang jejaknya masih terekam jelas
pada peta jalur sutera (silk road). Jalur ini kemudian dipindahkan ke jalur laut karena
berkembang pesatnya teknologi kelautan dengan kapal-kapalnya yang mampu
berlayar lama.
Para pembawa Islam datang langsung dari Semenanjung Arabia yang
merupakan utusan resmi Khalifah atau para pedangan profesional Islam yang
memang telah memiliki hubungan perdagangan dengan Aceh, sebagai daerah
persinggahan dalam perjalanan menuju Cina. Hubungan yang sudah terbina sejak
lama, yang melahirkan asimiliasi keturunan Arab-Aceh di sekitar pesisir ujung pulau
Sumatra, telah memudahkan penyiaran Islam dengan bahasa asal mereka, yaitu
bahasa Arab yang dengan al-Qur’an diturunkan. Pengaruh bahasa Aceh-Melayu
dalam al-Qur’an dapat dijumpai pada kata kafuro, yang tidak pernah ada dalam bahasa
Arab pra-Islam.
Hubungan baik antara masyarakat Aceh dengan pendatang dari Arab telah
mendorong tumbuhnya perkampungan yang membesar menjadi Kerajaan-Kerajaan
Islam sebagai pengganti Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha. Kerajaan Islam pertama di
Aceh, yang juga merupakan Kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Kerajaan
Islam Jeumpa yang didirikan oleh salah satu keturunan Nabi Muhammad yang
melarikan diri dari Persia bernama Sasaniah Salman al-Parsi pada tahun 154 Hijriah

54
atau sekitar tahun 770 Masehi. Kerajaan Jeumpa menjadi salah satu pusat Islamisasi di
Nusantara, khususnya Aceh. Salah seorang Pangeran Jeumpa, Shahrnawi, yang
namanya disebut oleh Syekh Hamzah Fansuri, menjadi pelopor pedirian Kerajaan
Islam Perlak pada tahun 805 Masehi, dan mengangkat anak saudaranya, Maulana
Abdul Aziz cicit dari Imam Ja’far Sidiq sebagai Sultan pertama Kerajaan Perlak pada
tahun 840 M.

Kerajaan Jeumpa Aceh Adalah Kerajaan Islam Pertama Di Nusantara


Sebagaimana dikemukakan terdahulu, bahwa sebelum Nabi Muhammad saw
membawa Islam, Dunia Arab dengan Dunia Melayu sudah menjalin hubungan
dagang yang erat sebagai dampak hubungan dagang Arab-Cina melalui jalur laut
yang telah menumbuhkan perkampungan-perkampungan Arab, Parsia, Hindia dan
lainnya di sepanjang pesisir pulau Sumatera. Karena letak gegrafisnya yang sangat
strategis di ujung barat pulau Sumatra, menjadikan wilayah Aceh sebagai kota
pelabuhan transit yang berkembang pesat, terutama untuk mempersiapkan logistik
dalam pelayaran yang akan menempuh samudra luas perjalanan dari Cina menuju
Persia ataupun Arab. Hadirnya pelabuhan transito sekaligus kota perdagangan seperti
Barus, Fansur, Lamri, Jeumpa dan lainnya dengan komuditas unggulan seperti kafur,
yang memiliki banyak manfaat dan kegunaan telah melambungkan wilayah asalnya
dalam jejaran kota pertumbuhan peradaban dunia. ”Kafur Barus”, ”Kafur Fansur”,
”Kafur Barus min Fansur” yang telah menjadi idiom kemewahan para Raja dan
bangsawan di Yunani, Romawi, Mesir, Persia dan lainnya. Kedudukan Barus-Fansur
lebih kurang seperti kedudukan Paris saat ini yang terkenal dengan inovasi minyak
wangi mewahnya.
Hadirnya komuditas unggulan ini telah melahirkan berbagai teknologi
pengolahan dalam penangannya. Karena sangat dibutuhkan sebagai bahan obat-
obatan, wangi-wangian ataupun sebagai barang sakral dalam ritual keagamaan pagan,
menjadikan asal kafur dan wilayah sekitarnya berkembang pesat. Tentu dari para
petani, pedagang sampai para pengolah, peneliti, tabib sampai tukang sihir terlibat
dalam proses pembuatan kafur yang bermutu. Tentu hal ini mengakibatkan hadirnya
para pakar ke kota penghasil kafur dan membuat komunitas baru sesuai dengan peran
masing-masing. Itulah sebabnya wajah orang Aceh berbeda dengan wajah orang Jawa,
Makassar ataupun Melayu. Wajah mereka lebih kosmopolit yang merupakan
perpaduan dari keturunan Arab, Cina, India, Parsi dan tentunya Eropa. Dan
perpaduan ini telah berjalan berabad-abad sebelum kedatangan Islam di wilayah ini.
Sehubungan dengan penyebaran Islam, tentu perkampungan para keturunan
Arab lebih dominan mudah menerima kedatangan Islam, dengan beberapa alasan (i)
sumber utama al-Qur’an dan pengajarannya menggunakan bahasa Arab, yang tentu
lebih mudah difahami oleh mereka yang sudah terbiasa dengan bahasa Arab seperti
keturunan Arab yang sudah menyebar di sepanjang Barus-Fansur-Lamuri, (ii) hukum,
budaya, pola hidup ataupun tradisi yang dibawa Islam lebih dekat dengan kebiasaan

55
orang Arab yang memang sudah dilaksanakan sejak zaman Nabi Ibrahim as dan Nabi
Ismail as yang merupakan bapak kaum Arab, sehingga keturunan Arab pra-Islam ini
mudah langsung mengikutinya karena sudah menjadi kebiasaan hidupnya, (iii)
semangat kekeluargaan dan kesukuan sangat tinggi di kalangan bangsa Arab,
termasuk Arab pra-Islam yang sangat menghormati dan menghargai sesamanya,
itulah sebabnya banyak orang Arab yang membela Rasul walaupun tidak masuk
Islam, inilah yang terjadi pada keturunan perantauan Arab ini, ada kebanggaan
kesukuan memeluk agama Islam yang dibawa dari tanah leluhurnya daripada
mengikuti ajaran lain, (iv) tentu ajaran Islam yang rasional, adil, menawarkan
persamaan kedudukan dan status menjadi daya tarik bagi masyarakat kosmopolit
yang telah berbaur dengan berbagai peradaban besar sebagaimana yang dialami
keturunan Arab (v) disamping kepandaian dan ketampanan para pembawa Islam
keturunan Arab telah membuat jatuh hati para Raja dan Meurah, mengangkat mereka
jadi menantu, penasihat atau panglima dan ada yang menggantikan kedudukan Raja
atas dukungan komunitas Arab yang memang sudah mapan dan memiliki kedudukan
terhormat.
Jadi dengan demikian, tidak diragukan bahwa Islam telah tumbuh berkembang
di Aceh, terutama di pesisirnya bersamaan dengan perkembangannya di semenanjung
Arabia dan Parsia. Penyiaran ini utamanya dilakukan para pedagang Muslim asal
Aceh yang bergagang ke Arab, ataupun pedagang Arab, Persia, India, Cina atau
lainnya yang memang telah hilir mudik antara Dunia Arab Mesir sampai ke Tiongkok
Cina melalui sebuah daerah yang oleh Claudius Ptolemaeus, disebut bernama
”Barousai”, yang tidak diragukan maksudnya adalah Barus di dekat Lamuri wilayah
Aceh.102
Penyebaran Islam juga dilakukan oleh para diplomat yang di utus para Khalifah
yang menggantikan kedudukan Nabi Muhammad, terutama di zaman Khalifah Umar
bin Khattab yang terbukti telah mengutus beberapa orang shahabat ke Cina yang
meninggal di sana. Di samping untuk berdakwah tentu untuk memberikan sebuah
tawaran umum para Khalifah kepada semua Raja: ”Engkau memeluk Islam, artinya
bersaudara dengan kami, jika tidak engkau membayar jizyah sebagai tanda
ketundukan pada Islam, jika engkau menolak keduanya, berarti akan terjadi
peperangan, karena sabda Nabi saw : ”Aku diperintah memerangi manusia pembangkang
sehingga mereka mengakui tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya”.
Cina menjadi salah satu tujuan dakwah Islam, karena pada masa itu Cina sudah
menjadi salah satu Kerajaan besar. Tentu sebelum sampai ke Cina, para diplomat itu
akan singgah di sekitar pesisir pantai Sumatra dan mencari perkampungan Arab
dengan komunitasnya.
102
D.G.E. Hall, A History of South East Asia, London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H. Burger
dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15. Ma Huan, Ying-yai
Sheng-lan, terjemahan dan edisi J.V.G. Mills, Hakluyt Society, 1970, hlm. 120. W.P. Groeneveldt, Historical Notes
on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source, Jakarta: Bharata, 1960, hlm. 209. B. Schrieke, Indonesian
Sociological Studies, Part Two, The Hauge-Bandung: W. Van Hoeve Ltd, 1957, hlm. 17.

56
Sejak dahulu perdagangan antara negara-negara Timur dengan Timur Tengah
dan Eropa berlangsung lewat dua jalur: jalur darat dan jalur laut. Jalur darat, yang juga
disebut ”jalur sutra” (silk road), dimulai dari Cina Utara lewat Asia Tengah dan
Turkistan terus ke Laut Tengah. Jalur perdagangan ini, yang menghubungkan Cina
dan India dengan Eropa, merupakan jalur tertua yang sudah di kenal sejak 500 tahun
sebelum Masehi. Sedangkan jalan laut dimulai dari Cina (Semenanjung Shantung) dan
Indonesia, melalui Selat Malaka ke India; dari sini ke Laut Tengah dan Eropa, ada
yang melalui Teluk Persia dan Suriah, dan ada juga yang melalui Laut Merah dan
Mesir. Diduga perdagangan lewat laut antara Laut Merah, Cina dan Indonesia sudah
berjalan sejak abad pertama sesudah Masehi.103
Akan tetapi, karena sering terjadi gangguan keamanan pada jalur perdagangan
darat di Asia Tengah, maka sejak tahun 500 Masehi perdagangan Timur-Barat melalui
laut (Selat Malaka) menjadi semakin ramai. Lewat jalan ini kapal-kapal Arab, Persia
dan India telah mondar mandir dari Barat ke Timur dan terus ke Negeri Cina dengan
menggunakan angin musim, untuk pelayaran pulang pergi. Juga kapal-kapal Sumatra
telah mengambil bagian dalam perdagangan tersebut. Pada zaman Sriwijaya,
pedagang-pedagangnya telah mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Cina dan pantai
timur Afrika.104
Ramainya lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, telah menumbuhkan kota-kota
pelabuhan yang terletak di bagian ujung utara Pulau Sumatra. Perkembangan
perdagangan yang semakin banyak di antara Arab, Cina dan Eropa melalui jalur laut
telah menjadikan kota pelabuhan semakin ramai, termasuk di wilayah Aceh yang
diketahui telah memiliki beberapa kota pelabuhan yang umumnya terdapat di
beberapa delta sungai. Kota-kota pelabuhan ini dijadikan sebagai kota transit atau kota
perdagangan.105
Maka berdasarkan fakta sejarah ini pulalah, keberadaan Kerajaan Islam Jeumpa
Aceh yang diperkirakan berdiri pada abad ke 7 Masehi dan berada disekitar
Kabupaten Bireuen sekarang menjadi sangat logis. Sebagaimana kerajaan-kerajaan
purba pra-Islam yang banyak terdapat di sekitar pulau Sumatra, Kerajaan Jeumpa juga
tumbuh dari pemukiman-pemukiman penduduk yang semakin banyak akibat
ramainya perdagangan dan memiliki daya tarik bagi kota persinggahan. Melihat
topografinya, Kuala Jeumpa sebagai kota pelabuhan memang tempat yang indah dan
sesuai untuk peristirahatan setelah melalui perjalanan panjang.
Kerajaan Jeumpa Aceh, berdasarkan Ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim
Abduh, yang disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa adalah sebuah Kerajaan yang
benar keberadaannya pada sekitar abad ke 7 Masehi yang berada di sekitar daerah
perbukitan mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng
103
D.H.Burger dan Prajudi, Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia, Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15.
104
M.A.P. Meilink-Roelofsz, Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago. The Hague:
Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 345 (catatan 122)
105
Ibid

57
Peusangan di sebelah timur. Istana Raja Jeumpa terletak di desa Blang Seupeueng
yang dipagari di sebelah utara, sekarang disebut Cot Cibrek Pintoe Ubeuet. Masa itu
Desa Blang Seupeueng merupakan permukiman yang padat penduduknya dan juga
merupakan kota bandar pelabuhan besar, yang terletak di Kuala Jeumpa. Dari Kuala
Jeumpa sampai Blang Seupeueng ada sebuah alur yang besar, biasanya dilalui oleh
kapal-kapal dan perahu-perahu kecil. Alur dari Kuala Jeumpa tersebut membelah
Desa Cot Bada langsung ke Cot Cut Abeuk Usong atau ke ”Pintou Rayeuk” (pintu
besar).
Menurut silsilah keturunan Sultan-Sultan Melayu, yang dikeluarkan oleh
Kerajaan Brunei Darussalam dan Kesultanan Sulu-Mindanao, Kerajaan Islam Jeumpa
dipimpin oleh seorang Pangeran dari Parsia (India Belakang ?) yang bernama
Syahriansyah Salman atau Sasaniah Salman yang kawin dengan Puteri Mayang
Seulodong dan memiliki beberapa anak, antara lain Syahri Poli, Syahri Tanti, Syahri
Nuwi, Syahri Dito dan Makhdum Tansyuri yang menjadi ibu daripada Sultan pertama
Kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada tahun 805 Masehi. Menurut penelitian Sayed
Dahlan al-Habsyi, Syahri adalah gelar pertama yang digunakan keturunan Nabi
Muhammad di Nusantara sebelum menggunakan gelar Meurah, Habib, Sayid, Syarief,
Sunan, Teuku dan lainnya. Syahri diambil dari nama istri Sayyidina Husein bin Ali,
Puteri Syahribanun, anak Maha Raja Parsia terakhir yang ditaklukkan Islam.
Sampai saat ini, penulis belum menemukan silsilah keturunan Pengeran Salman
ke atas, apakah beliau termasuk dari keturunan Nabi Muhammad saw atau keturunan
raja-raja Parsia. Karena di silsilah yang dikeluarkan Kesultanan Brunei dan Kesultanan
Sulu tidak disebutkan. Namun menurut pengamatan pakar sejarah Aceh, Sayed
Hahlan al-Habsyi, beliau adalah termasuk keturunan Sayyidina Husein ra. Karena (i)
beliau memberikan gelar Syahri kepada anak-anaknya, yang jelas menunjuk kepada
moyangnya (ii) beliau mengawinkan anak perempuannya dengan cucu Imam Ja’far
Sadiq, yang menjadi tradisi para Sayid sampai saat ini (iii) anak beliau, Syahri Nuwi
adalah patron dari rombongan Nakhoda Khalifah, bahkan ada yang menganggap
kedatangan rombongan ini atas permintaan Syahri Nuwi untuk mengembangkan
kekuatan Ahlul Bayt atau keturunan Nabi saw di Nusantara setelah mendapat
pukulan di Arab dan Parsia. Itulah sebabnya, hubungan Syahri Nuwi dengan
rombongan Nakhoda Khalifah yang bermazhab Syi’ah sangat dekat dan menganggap
mereka sebagai bagian keluarga.
Yang perlu dicermati, kenapa Pangeran Salman al-Parsi memilih kota kecil di
wilayah Jeumpa sebagai tempat mukimnya, dan tidak memilih kota metropolitan
seperti Barus, Fansur, Lamuri dan sekitarnya yang sudah berkembang pesat dan
menjadi persinggahan para pedagang manca negara? Ada beberapa kemungkinan, (i)
beliau diterima dengan baik oleh masyarakat Jeumpa dan memutuskan tinggal di
sana, (ii) beliau merasa nyaman dan sesuai dengan penguasa (meurah), (iii) keinginan
untuk mengembangkan wilayah ini setingkat Barus, Lamuri dan lainnya dan (iv)
menghindar dari pandangan penguasa.

58
Alasan terakhir ini, mungkin dapat diterima sebagai alasan utama. Mengingat
Pangeran Salman adalah salah seorang pelarian politik dari Parsia yang tengah
bergejolak akibat peperangan antara Keturunan Nabi saw yang didukung pengikut
Syiah dengan Penguasa Bani Abbasiah masa itu (tahun 150an Hijriah). Beliau bersama
para pengikut setianya memilih ujung utara pulau Sumatera sebagai tujuan karena
memang daerah sudah terkenal dan sudah terdapat banyak pemeluk Islam yang
mendiami perkampungan-perkampungan Arab atau Persia. Kemungkinan Jeumpa
adalah salah satu pemukiman baru tersebut. Untuk menghindari pengejaran itulah,
beliau memilih daerah pinggiriran agar tidak terlalu menyolok. Itulah sebabnya,
Pangeran Salman juga dikenal dengan nama-nama lainnya, seperti Meurah Jeumpa,
atau ada yang mengatakan beliau sebagai Abdullah.
Di bawah pemerintahan Pangeran Salman, Kerajaan Islam Jeumpa berkembang
pesat menjadi sebuah kota baru yang memiliki hubungan luas dengan Kerajaan-
Kerajaan besar lainnya. Potensi, karakter, pengetahuan dan pengalaman Pangeran
Salman sebagai seorang bangsawan calon pemimpin di Kerajaan maju dan besar
seperti Persia yang telah mendapat pendidikan khusus sebagaimana lazimnya
Pangeran Islam, tentu telah mendorong pertumbuhan Kerajaan Jeumpa menjadi salah
satu pusat pemerintahan dan perdagangan yang berpengaruh di sekitar pesisir utara
pulau Sumatra. Jeumpa sebagai Kerajaan Islam pertama di Nusantara memperluas
hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan Kerajaan-Kerajaan lainnya, baik di
sekitar Pulau Sumatera atau negeri-negeri lainnya, terutama Arab dan Cina. Banyak
tempat di sekitar Jeumpa berasal dari bahasa Parsi, yang paling jelas adalah Bireuen,
yang artinya kemenangan, sama dengan makna Jayakarta, asal nama Jakarta yang
didirikan Fatahillah, yang dalam bahasa Arab semakna, Fath mubin, kemenangan yang
nyata.
Untuk mengembangkan Kerajaannya, Pangeran Salman telah mengangkat
anak-anaknya menjadi Meurah-Meurah baru. Ke wilayah barat, berhampiran dengan
Barus-Fansur-Lamuri yang sudah berkembang terlebih dahulu, beliau mengangkat
anaknya, Syahri Poli menjadi Meurah mendirikan Kerajaan Poli yang selanjutnya
berkembang menjadi Kerajaan Pidie. Ke sebelah timur, beliau mengangkat anaknya
Syahr Nawi sebagai Meurah di sebuah kota baru bernama Perlak pada tahun 804.
Namun dalam perkembangannya, Kerajaan Perlak tumbuh pesat menjadi kota
pelabuhan baru terutama setelah kedatangan rombongan keturunan Nabi yang
dipimpin Nakhoda Khalifah berjumlah 100 orang. Syahr Nuwi mengawinkan adiknya
Makhdum Tansyuri dengan salah seorang tokoh rombongan tersebut bernama Ali bin
Muhammad bin Jafar Sadik, cicit kepada Nabi Muhammad saw. Dari perkawinan ini
lahir seorang putra bernama Sayyid Abdul Aziz, dan pada 1 Muharram 225 H atau
tahun 840 M dilantik menjadi Raja dari Kerajaan Islam Perlak dengan gelar Sultan
Alaiddin Sayyid Maulana Abdul Azis Syah. Melalui jalur perkawinan ini, hubungan
erat terbina antara Kerajaan Islam Jeumpa dengan Kerajaan Islam Perlak. Karena

59
wilayahnya yang strategis Kerajaan Islam Perlak akhirnya berkembang menjadi
sebuah Kerajaan yang maju menggantikan peran dari Kerajaan Islam Jeumpa.
Setelah tampilnya Kerajaan Islam Perlak sebagai pusat pertumbuhan
perdagangan dan kota pelabuhan yang baru, peran Kerajaan Islam Jeumpa menjadi
kurang menonjol. Namun demikian, Kerajaan ini tetap eksis, yang mungkin berubah
fungsi sebagai sebuah kota pendidikan bagi kader-kader ulama dan pendakwah Islam.
Karena diketahui bahwa Puteri Jeumpa yang menjadi ibunda Raden Fatah adalah
keponakan dari Sunan Ampel. Berarti Raja Jeumpa masa itu bersaudara dengan Sunan
Ampel. Sementara Sunan Ampel adalah keponakan dari Maulana Malik Ibrahim, yang
artinya kakek, mungkin kakek saudara dari Puteri Jeumpa. Maka dari hubungan ini
dapat dibuat sebuah kesimpulan bahwa, para wali memiliki hubungan dengan
Kerajaan Jeumpa yang boleh jadi Jeumpa masa itu menjadi pusat pendidikan bagi para
ulama dan pendakwah Islam Nusantara. Namun belum ditemukan data tentang
masalah ini.
Setelah berdirinya beberapa Kerajaan Islam baru sebagai pusat Islamisasi
Nusantara seperti Kerajaan Islam Perlak (840an) dan Kerajaan Islam Pasai (1200an),
Kerajaan Islam Jeumpa yang menjalin kerjasama diplomatik tetap memiliki peran
besar dalam Islamisasi Nusantara, khususnya dalam penaklukkan beberapa kerajaan
besar Jawa-Hindu seperti Majapahit misalnya. Di kisahkan bahwa Raja terakhir
Majapahit, Brawijaya V memiliki seorang istri yang berasal dari Jeumpa (Champa),
yang menurut pendapat Raffless berada di wilayah Aceh dan bukan di Kamboja
sebagaimana difahami selama ini. Puteri cantik jelita yang terkenal dengan nama
Puteri Jeumpa (Puteri Champa) ini adalah anak dari salah seorang Raja Muslim
Jeumpa yang juga keponakan dari pemimpin para Wali di Jawa, Sunan Ampel dan
Maulana Malik Ibrahim. Mereka adalah para Wali keturunan Nabi Muhammad yang
dilahirkan, dibesarkan dan dididik di wilayah Aceh, baik Jeumpa, Perlak, Pasai,
Kedah, Pattani dan sekitarnya. Dan merekalah konseptor penaklukan Kerajaan Jawa-
Hindu Majapahit dengan gerakannya yang terkenal dengan sebutan Wali Songo atau
Wali Sembilan. Perkawinan Puteri Muslim Jeumpa Aceh dengan Raja terakhir
Majapahit melahirkan Raden Fatah, yang dididik dan dibesarkan oleh para Wali, yang
selanjutnya dinobatkan sebagai Sultan pada Kerajaan Islam Demak, yang ketahui
sebagai Kerajaan Islam pertama di pulau Jawa. Kehadiran Kerajaan Islam Demak
inilah yang telah mengakhiri riwayat kegemilangan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit.
Sejarah ini dapat diartikan sebagai keberhasilan strategi Kerajaan Islam Jeumpa
Aceh yang kala itu sudah berafiliasi dengan Kerajaan Islam Pasai yang telah
menggantikan peranan Kerajaan Islam Perlak dalam menaklukkan dan mengalahkan
sebuah kerajaan besar Jawa-Hindu Majapahit dan mengakhiri sejarahnya dan
menjadikan pulau Jawa sebagai wilayah kekuasaan Islam di bawah Kerajaan Islam
Demak yang dipimpin oleh Raden Fatah, yang ibunya berasal dari Kerajaan Jeumpa di
Aceh. Jadi dapat dikatakan bahwa, Kerajaan Jeumpa Acehlah yang telah mengalahkan
dominasi Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit dengan strategi penaklukan lewat

60
perkawinan yang dilakukan oleh para Wali Sembilan, yang memiliki garis hubungan
dengan Jeumpa, Perlak, Pasai ataupun Kerajaan Aceh Darussalam.
Setelah Kerajaan Islam Perlak yang berdiri pada tahun 805 Masehi tumbuh dan
berkembang, maka pusat aktivitas Islamisasi nusantarapun berpindah ke wilayah ini.
Dapat dikatakan bahwa Kerajaan Islam Perlak adalah kelanjutan atau pengembangan
daripada Kerajaan Islam Jeumpa yang sudah mulai menurun peranannya. Namun
secara diplomatik kedua Kerajaan ini merupakan sebuah keluarga yang terikat dengan
aturan Islam yang mengutamakan persaudaraan. Apalagi para Sultan adalah
keturunan dari Nabi Muhammad yang senantiasa mengutamakan kepentingan agama
Islam di atas segala kepentingan duniawi dan diri mereka. Bahkan dalam silsilahnya,
Sultan Perlak yang ke V berasal dari keturunan Kerajaan Islam Jeumpa.

Kerajaan Islam Pasai


Kerajaan Islam Pasai yang juga terkenal dengan Samodra Pasai adalah sebuah
Kerajaan Islam di pesisir utara pulau Sumatra. Bahkan menurut ahli sejarah, perkataan
Sumatra sendiri berasal dari perkataan Samodra, yang dalam loghat Arab berbunyi
Samutra, dan ketika bangsa Eropa datang menyebutnya dengan Sumatra. Sejak itulah
pulau besar ini disebut dengan Sumatra yang juga menjadi bagian dari wilayah
kekuasaan Kerajaan Samodra yang berpusat di Pasai, ada yang mengartikan sebagai
Pase (Pasir), pohon Pase atau lebih mendekati Parsi (Persia), sebagai kebiasaan orang
dulu untuk menamakan kampung halamannyanya jika menempati wilayah baru.
Secara silsilah kekeluargaan, tidak diragukan bahwa Kerajaan Islam Pasai
adalah kelanjutan dari Kerajaan Islam Perlak yang terlebih dahulu telah didirikan oleh
Meurah Shahri Nuwi putra Sharianshah Salman al-Farisi (Raja Islam Jeumpa tahun 760
M di Bireuen). Dimana Kerajaan Perlak mulai mengalami kejayaan sejak dipimpin
oleh Maulana Abdul Aziz Syah pada tahun 225 H atau 840 M. Salah seorang
keturunan dari Sultan Perlak dari garis Shahri Nuwi, bernama Meurah Silu yang
dikenal dengan Sultan Malik al-Salih (w. 1297 M) mengembangkan sebuah kawasan
perdagangan baru di antara Kerajaan Jeumpa dengan Kerajaan Perlak, kemudian
berkembang menjadi kekuatan politik baru dengan berdirinya Kerajaan Islam Pasai.
Perkembangan yang cepat Kerajaan Pasai pada akhirnya menggantikan peranan
Kerajaan Islam Perlak yang mulai menurun peranannya pada awal abad ke 13 Masehi.
Di sini perlu diluruskan beberapa legenda yang menyatakan bahwa Meurah
Silu bukan terlahir sebagai seorang Muslim, namun dia menganut Islam sesudah
menjadi Raja Pasai. Realitas ini sungguh bertentangan dengan fakta sejarah, karena
jelas silsilah Meurah Silu (Malik al-Salih) menyambung kepada keturunan Ja’far
Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Sayyidina Husein bin
Sayyidah Fatimah binti Muhammad saw. Dengan demikian jelas beliau adalah salah
seorang Ahlul Bayt Nabi Muhammad yang memiliki hubungan dekat dengan para
Sultan Kerajaan Perlak maupun Jeumpa yang menjadi penggerak Islamisasi
Nusantara. Itulah sebabnya tidak mengherankan apabila Sultan Malik al-Salih begitu

61
tampil memimpin Kerajaan Pasai, kemudian memproklamirkannya sebagai pusat
Islamisasi Nusantara menggantikan peranan Kerajaan Perlak atau sebelumnya
Kerajaan Jeumpa.
Sebelumnya Pasai adalah sebuah perkampungan yang menjadi bandar transit
bagi para pedagang yang menggunakan kapal layar dari negeri Arab menuju Cina
ataupun sebaliknya. Namun dengan kemunculan Kerajaan Pasai pada awal abad 13
Masehi yang dipimpin Sultan Malik al-Salih, telah terjadi perubahan drastis dalam lalu
lintas perdagangan di selat Malaka. Aceh yang dahulunya dikenal sebagai daerah
penghubung, kini menjadi lebih aktif dalam perdagangan. Kerajaan Pasai menjadi
pusat perdagangan dalam mengekspor hasil-hasil hutan dan pertanian. Komuditas
Lada adalah diantara hasil pertanian yang sangat digemari oleh orang-orang Eropa,
Arab dan Cina, yang telah menaikkan nama Kerajaan Pasai di seluruh dunia yang
mendorong hadirnya saudagar-saudagar asing dari seluruh dunia. Berbagai kapal
dagang dari seluruh dunia datang membawa bermacam-macam dagangan untuk
diperjual-belikan di pelabuhan Pasai.1
Di bawah kepemimpinan Sultan Malik al-Salih yang memiliki kemampuan
besar kepemimpinan serta berpegang teguh pada ajaran Islam, Kerajaan Pasai
berkembang pesat bukan hanya sebagai bandar pelabuhan yang mengimpor berbagai
komuditas di kawasan Selat Malaka pada saat itu, namun beliau mendorong
rakyatnya menguasai berbagai teknologi. Dan terbukti masyarakatnya tergolong
memiliki teknologi yang maju, khususnya dalam teknologi pertanian. Itulah sebabnya
Kerajaan Pasai menjadi salah satu negeri pengekspor berbagai bentuk hasil pertanian,
seperti lada, bawang, semangka, pisang, tebu, jeruk dan lain-lainnya.2

Pasai Sebagai Pusat Khilafah Islamiyah


Bersamaan dengan kebangkitan Kerajaan Islam Pasai sekitar tahun 1250an M,
pusat-pusat Khilafah Islamiyah yang berada di Bagdad, Persia, dan sekitarnya sedang
mengalami masa-masa tersulit akibat penyerangan demi penyerangan yang dilakukan
oleh pasukan bar-bar Mongolia yang dipimpin Jenghis Khan yang terkenal sadis dan
haus darah. Setelah berhasil menguasai daratan Cina, maka pasukan bar-bar Mongolia
Jenghis Khan menyerang pusat-pusat peradaban Islam yang tengah mengalami
kelalaian akibat kemegahan yang mereka alami.
Pada mulai tahun 1258 M, Bagdad sebagai pusat Khilafah Islamiyah jatuh ke
tangan tentara Mongol dan mengalami penghancuran demi penghancuran. Para ahli
sejarah menggambarkan Sungai Tigris dan Eufrat berubah menjadi hitam bercampur
merah akibat darah kaum muslimin dan tinta dari buku-buku yang mengandung
peradaban Islam yang mengalir ke sungai tersebut. Sementara pasukan Mongol tidak
berhenti sampai di Bagdad, namun terus menguasai wilayah-wilayah Islam lainnya.
Dan hampir semua dunia Islam Arab bertekuk lutut kepada kekejaman tentara bar-bar

62
Mongol. Bahkan tentara bar-bar berhasil menguasai pusat-pusat peradaban Barat di
Roma, Yunani dan lainnya. Itulah sebabnya Jenghis Khan dijuluki sebagai penakluk
terbesar dengan wilayah jajahan 4 kali lebih besar dari jajahan yang dilakukan
Alexander The Great (Iskandar Zulkarnain) ataupun penaklukan Muslim.
Keadaan ini telah mendorong hijrah besar-besaran kaum muslimin, baik para
pemimpin, ulama, cendekiawan, ilmuawan dan lainnya ke negeri muslim yang lebih
aman dari pembantaian tentara Jenghis Khan. Salah satu pilihan terbaik adalah
berhijrah ke Kerajaan Islam Pasai yang memang sudah menjadi bagian penting dari
jaringan Khilafah Islamiyah yang diwariskan turun temurun oleh Kerajaan Islam di
Sumatra sejakan zaman Khalifah Umar bin Khattab. Apalagi sebelumnya, para Raja
Muslim di Sumatra, termasuk di Pasai adalah berasal dari negeri Arab dan Persia yang
memiliki hubungan kekerabatan dengan para penguasa di tanah Arab, terutama yang
memiliki garis keturunan dengan Bani Quraisy, baik keturunan Rasulullah (Ahlul
Bayt), Bani Umayyah ataupun Abbasyiah.
Dengan datangnya para pemimpin, ulama, cendekiawan, ilmuawan dan
lainnya ke Pasai, maka secara otomatis Pasai bangkit menjadi sebuah kekuatan baru di
Pulau Sumatra. Kedatangan para Muslim dari Bagdad dan pusat-pusat peradaban
Islam disekitarnya seperti Samarkand, Bukhara dan lainnya telah memberikan
kedudukan baru kepada Pasai sebagai sebuah pusat pertumbuhan peradaban Islam di
kawasan alam Asia Tenggara, yang terbentang dari Sumatra, Semenanjung Melayu,
Borneo, Cilabes, Mindanao, Maluku sampai ke Australia dan Kepulauan Hawai.
Kepemimpinan Sultan Malik al-Saleh yang didukung oleh kaum muslimin
terbaik yang hijrah ke Pasai telah membangkitkan Kerajaan Pasai menjadi pusat
sentral kekuatan dunia Islam di sebelah timur, baik kekuatan politik, ekonomi
sekaligus sebagai pusat kebangkitan peradaban Islam, sebagai kelanjutan dan
kesinambungan dari peradaban Islam yang telah berkembang di dunia Arab, baik
Syam, Persia, Bagdad dan lainnya. Dan akhirnya, dengan kemajuan-kemajuan yang
digapainya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Kerajaan Islam Pasai menjadi Pusat
Khilafah Islamiyah yang menggantikan peranan Bagdad, terutama sebagai pusat
pengembangan kekuatan politik, pertahanan, ekonomi dan peradaban. Realitas inilah
yang telah mengkwatirkan Kerajaan Hindu Jawa-Majapahit sehingga berniat untuk
menyerang dan menaklukkan Pasai. Namun menaklukkan Pasai di puncak
kegemilangannya dengan sumber daya manusia unggul dari penjuru dunia, bukanlah
perkara mudah. Kegagalan Majapahit dalam menaklukkan Pasai inilah yang
selanjutnya mendorong para pemimpin Kerajaan Pasai untuk menaklukkan Majapahit
yang semakin melemah.
Pada tahap awal, menaklukkan Jawa-Majapahit bukanlah menjadi prioritas dari
Kerajaan Islam Pasai yang kini telah menjadi Pusat Khilafah Islamiyah di timur.
Prioritas utama adalah menyelamatkan dunia Muslim Arab, khususnya Mekkah al-
Mukarramah dari ancaman pasukan bar-bar Mongol yang haus darah. Sekaligus
mengkonsolidasi kekuatan dunia Muslim dengan menggalang kerjasama dengan para

63
pemimpin Islam, baik di dunia Arab, Persia sampai ke daratan Cina kecil. Berkat
persatuan aliansi Kerajaan Islam di Dunia Arab, Persia dan Cina dengan pusat
kordinasi di Pasai, maka kekuatan Mongolpun dapat dijinakkan, sekaligus
mengislamkan pemimpinnya, Timur Lank, cucu dari Jenghis Khan. Dan sejak saat itu,
kekuatan Islam terbentang dari dunia Afrika, Arab, Persia, Asia Tengah, Mongolia
sampai ke Cina, dan tentu Pasai sebagai salah satu poros kekuatan di Asia Tenggara
yang dikenal bangsa Arab dengan bilad Tahta Jawi atau Negeri Bawah Angin, yang
akhirnya sisebut Jawi saja atau Jawa sekarang.
Kebesaran dan kemegahan Kerajaan Islam Pasai, yang dikenal dengan Samudra
Pasai, juga telah mempengaruhi nama dari pulau yang sekarang bernama Sumatra.
Sebagaimana diterangkan terdahulu, Samudra, jika dibaca dengan lidah asing akan
terdengar sebagai Samutra, yang akhirnya berevalusi menjadi Sumatra, yang menjadi
sebutan bagi pulau besar sebelah barat, yang terbentang sepanjang Salahit atau Selat,
yang sekarang dinamakan dengan Selat Malaka.
Letak georafi Kerajaan Pasai yang strategis, yang di dukung oleh alamnya yang
subur, digerakkan oleh masyarakat kosmopolit dizamannya yang berhijrah pasca
kejatuhan Bagdad serta dukungan kebijakan penguasa, telah mengantarkan Pasai
menjadi salah satu bintang kebangkitan Islam di timur. Kebesaran nama Pasai telah
mendorong kedatangan para cerdik pandai Muslim dari negeri Arab, Persia, India dan
lainnya untuk membangun kekuatan baru, baik secara politik maupun ekonomi.
Sepeninggal Sultan Malik al-Salih, Kerajaan Pasai berkembang dengan pesatnya
di bawah kepemimpinan keturunan beliau yang tetap menjalankan kebijakan yang
telah digariskan para pendahulunya, bahwa Pasai sebagai penggerak dan pusat
Islamisasi Nusantara. Ibnu Batutah, seorang musafir dan peneliti sosial asal Maroko
telah mengunjungi Kerajaan Pasai antara tahun 1345-1346 Masehi. Dia menyebutkan
dalam catatannya bahwa kerajaan ini sudah maju dalam perdagangan; hubungan
dagang telah diadakan secara luas dengan Tiongkok dan India. Sultan Malik al-Zahir,
yang memerintah Kerajaan Pasai pada waktu itu, adalah seorang sultan yang saleh
lagi sangat taat kepada agama. Ia bermazhab Syafie dan sangat gemar mengadakan
pertemuan ilmiah, dengan para ulama untuk berdiskusi tentang masalah-masalah
agama. Setiap hari jum’at ia pergi ke masjid dengan berjalan kaki. Ibnu Batutah juga
menyebutkan sejumlah ulama menjadi pembesar istana, antara lain: Amir Daulasa dari
Delhi, Qadi Amir Said dari Shiraz dan ahli hukum Tajudin dari Isfahan.
Pengamatannya menyimpulkan bahwa pada saat itu, Kerajaan Pasai dalam
kemakmuran dan kedamaian yang luar biasa. Hal ini dibuktikan ketika Sultan
mengadakan acara pernikahan putra beliau yang menggambarkan kebesaran dan
kemewahan istana Kerajaan Pasai.3
Perkembangan pesat Kerajaan Pasai yang telah mengantarkan kemakmuran
dan kebesaran masyarakatnya, dan terutama kemampuannya sebagai pelopor dan
penggerak Islamisasi di Nusantara, telah menimbulkan hasud dan dengki kerajaan-
kerajaan lainnya, terutama kerajaan Budha Thailand yang bekerjasama dengan

64
kerajaan Jawa-Hindu Majapahit yang telah merancang penyerangan dan
penghancuran Kerajaan Pasai dengan berbagai cara agar melemahkan semangat
Islamisasi di Nusantara. Pada pertengahan abad ke 14 Masehi Kerajaan Majapahit
melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Pasai yang mendapat perlawanan hebat
dari para mujahidin Pasai yang telah mendapat pendidikan kerohanian dari para Wali,
sehingga banyak menimbulkan korban di kedua belah pihak. Bahkan dikabarkan,
Mahapatih Gadjah Mada yang memimpin penyerangan ke Pasai telah menjadi korban
dan terbunuh ketika melarikan diri. Itulah sebabnya Kerajaan Pasai tetap eksis dan
bangkit kembali menjadi salah satu Kerajaan Islam yang terkuat di Asia Tenggara.4
Kemakmuran dan kebesaran Pasai dalam abad-abad berikutnya, bukan saja
telah menjadikannya sebagai pusat penyebaran agama Islam dengan mengirimkan
para muballigh ke tempat-tempat yang diperlukan, terutama ke Patani, Malaka,
Borneo, Jawa sampai Mindanao dan Maluku. Tetapi juga sebagai pusat pengajian
tinggi Islam di mana berkumpul berbagai ulama dan sarjana yang mengajar dan
membahas masalah-masalah agama serta menjawab pertanyaan-pertanyaan
keagamaan yang muncul dan datang dari daerah-daerah sekitar Asia Tenggara.
Disebutkan dalam Sejarah Melayu bahwa seorang ulama sufi dari Mekkah, Syekh Abu
Ishak telah menulis sebuah buku berjudul Durr al-Manzum, yang terdiri dari dua bab,
pertama tetang zat Allah dan kedua tentang sifat Allah. Atas anjuran muridnya
Maulana Abu Bakar, kitab tersebut ditambah bab ketiga tentang af’al Allah (perbuatan
Allah). Kemudian Maulana Abu Bakar membawa kitab tersebut ke Sultan Malaka,
Sultan Mansyur Syah. Sultan menerima kitab tersebut dengan upacara khusus
kebesaran seperti menyambut tamu kehormatan Kerajaan. Selanjutnya kitab tersebut
dikirim ke Pasai untuk diberi penjelasan lebih mendalam oleh seorang ulama Pasai
bernama Makhdum Patakan. Pemahaman keislaman para Sultan, Ulama,
Cendekiawan dan rakyat Pasai pada saat itu berkembang pesat, yang tidak hanya
membahas aspek-aspek fiqih dan hukum semata, namun sudah mencapai pembahasan
yang bersifat ”esoterik” sebagaimana yang dibuktikan dengan beberapa jawaban
Ulama Pasai bernama Makhdum Muda kepada Sultan Malaka yang telah mengutus
Tun Bija Wangsa.5
Kebesaran dan kemakmuran Kerajaan Pasai akhirnya telah mengantarkannya
sebagai pusat rujukan dan pengembangan pemikiran Islam di timur jauh, tempat
berkumpul para Ulama dan Cendekiawan membahas masalah-masalah keagamaan
dan tentunya sebagai pusat pendidikan tingkat tinggi keislaman. Itulah sebabnya
Kerajaan Pasai dianggap oleh daerah-daerah lain di Nusantara sebagai pusat rujukan
dan fatwa yang berwenang dalam menyelesaikan masalah-masalah agama. Hal ini
memang sangat memungkinkan, sebagaimana disebutkan Ibnu Batutah, bahwa di
Kerajaan Pasai telah tinggal beberapa jenis Ulama dan Cendekiawan, seperti ahli
hukum Islam, para penyair, para hukama (ahli filsafat) dan lain-lain.6
Peran sentral Kerajaan Pasai sebagai motor penggerak Islamisasi di Nusantara,
terutama menjelang abad ke 15 Masehi semakin menonjol, sehingga banyak menarik

65
minat para Cendekiawan Muslim dari seluruh penjuru dunia untuk datang. Di antara
tokoh yang nantinya sangat berpengaruh dalam Islamisasi Nusantara, khususnya
Islamisasi Jawa yang masih di bawah dominasi Kerajan Hindu-Budha, adalah Saiyid
Hussein Jamadul Kubra dengan dua orang anaknya, Maulana Ishak dan Maulana
Malik Ibrahim yang datang dari derah Samarkand, Parsia. Kedatangan tokoh-tokoh
Ulama dan Cendekiawan besar dunia Islam, baik dari Yaman, Hadramaut, Maroko
(Maghribi), Persia maupun India dan lain-lainnya, benar-benar telah menjadikan Pasai
sebagai poros baru peradaban Islam, khususnya dalam pengembangan pemikiran
keislaman atau selanjutnya berperan dalam melahirkan gerakan-gerakan seperti Wali
Sembilan yang telah mengislamkan tanah Jawa dengan pendekatannya yang khas.

Legenda Para Auliya: Dari Pasai Menaklukkan Jawa-Hindu Majapahit


Bumi Aceh sangat terkenal dengan bumi para auliya. Dari anak-anak sampai
artis seperti Rafly-pun senantiasa mendendangkan keutamaan bumi Serambi Mekkah
ini sebagai tanah para wali yang diberkahi. Namun tidak banyak di antara orang-
orang Aceh sendiri yang dapat menyebutkan nama-nama para wali yang telah
berperan mengembangkan Islam sehingga menjadikan Aceh sebagai bangsa maju dan
besar, sehingga menjadi pelopor dalam dakwah Islamiyah. Ironisnya, ada di antara
auliya yang berasal dari tanah Aceh, namun tidak dikenal oleh bangsa asalnya, namun
sangat terkenal di tanah Jawa.
Misalnya Wali Sembilan, auliya sikureung, yang di tanah Jawa sangat terkenal
dengan sebutan Wali Songo. Mereka adalah para tokoh penggerak Islamisasi di
Nusantara yang telah berperan aktif dalam pendirian Kerajaan Demak, sebagai
Kerajaan Islam pertama yang telah mengakhiri riwayat kegemilangan Kerajaan Jawa-
Hindu Majapahit, simbol kemegahan masyarakat Hindu Jawa. Disamping itu mereka
juga telah mendirikan Kerajaan Islam dari Pattani, Champa, Kelantan, Brunei, Sulu,
Mindanao, Pontianak, Banten, Makassar sampai Maluku dan Fak-Fak Papua. Namun
tidak banyak yang mengetahui, dari manakah asal para auliya ini dan dimanakah
pusat gerakan mereka dalam mengislamisasikan Nusantara.
Sampai sekarang banyak para peneliti, baik yang Muslim dan non Muslim
berbeda pendapat tentang asal-usul mereka. Ada yang menyatakan mereka berasal
dari negeri Cina, Turki, Bukhara (Rusia) dan lain-lainnya sehingga menimbulkan
kekeliruan sejarah yang berdampak buruk pada kebenaran sejarah Islam yang
sepatutnya menjadi teladan dan pengajaran generasi masa kini. Maka untuk
meluruskan kekeliruan tersebut, diperlukan sebuah penelitian menyeluruh terhadap
peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan sejarah para wali ini.

Wali Sembilan Awal


Wali Sembilan awal, adalah para wali yang telah berperan menggerakkan
dakwah Islamiyah terutama sebelum lahirnya gerakan Wali Sembilan (Wali Songo)
yang terkenal di tanah Jawa. Menurut sejarahnya, para wali ini sangat berperan dalam

66
mendorong lahirnya gerakan dakwah Islamiyah yang telah melahirkan gerakan Wali
Songo. Boleh dikatakan bahwa wali sembilan awal ini pelopor dan peristis
terbentuknya gerakan yang nantinya dikenal dengan Wali Songo. Bahkan mereka
adalah kakek, bapak atau guru daripada Wali Songo yang telah berhasil mendirikan
Kerajaan Islam Demak, kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri
Kerajaan Hindu Majapahit. Di tanah Jawa memang sejarah mereka tidak banyak
beredar sehingga nama mereka tidak dikenal luas, kecuali beberapa orang seperti
Sayyid Jamaluddin al-Husein dan Maulana Malik Ibrahim. Tapi di Champa, Pattani,
Kelantan dan Semenanjung Malaya nama mereka sangat terkenal, bahkan keturunan
mereka sampai sekarang menjadi Sultan di Malaysia.
Karena dalam tulisan ini hanya membahas peranan para wali di sekitar
Kerajaan Pasai dan yang berperan atau berhubungan dengan gerakan Wali Songo di
tanah Jawa, maka penulis hanya membatasinya dengan tokoh-tokoh yang hidup
disekitar Pasai dan memiliki peranan langsung dengan Wali Songo. Menurut
penelitian penulis, mereka yang dapat dikategorikan sebagai Wali Sembilan Awal
adalah: (1).Sayyid Jamaluddin Syah Jalal, (2).Sayyid Qamaruddin Syah Jalal, (3).Sayyid
Majduddin Syah Jalal, (4).Sayyid Tsanauddin Syah Jalal, (5).Maulana Malik Ibrahim,
(6).Maulana Sayyid Ibrahim Sayyid Jamaluddin, (7).Sayyid Wan Abdullah Sayyid
Jamaluddin (Wan Bo/Raja Champa), (8).Sayyid Ali Nurul Alam Sayyid Jamaluddin
(Raja Kelantan), (9). Sultan Malik Al-Zahir II (Sultan Pasai).
Martin Van Bruinessen telah memetik tulisan Sayyid ‘Al-wi Thahir al-Haddad,
dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren ..“Putra Syah Ahmad, Jamaluddin dan
saudara-saudaranya (wali no 1 sd no 6) konon telah mengembara ke Asia Tenggara.....
Jamaluddin sendiri pertamanya menjejakkan kakinya ke Aceh (Pasai) dan Kamboja,
Pattani kemudian belayar ke Semarang dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di
Jawa, hingga akhirnya melanjutkan pengembaraannya ke Pulau Bugis, di mana dia
meninggal.” (al-Haddad 1403 :8-11). Diriwayatkan pula anaknya, Sayyid Ibrahim (wali
no 6) ditinggalkan di Aceh (Pasai) untuk mendidik masyarakat dalam ilmu keislaman.
Kemudian, Sayyid Jamaluddin ke Majapahit, selanjutnya ke negeri Bugis, lalu
meninggal dunia di Wajok (Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi
adalah 1452M dan tahun wafatnya 1453M”. Inilah tokoh utama Wali Sembilan Awal,
atau yang menjadi jalan lahirnya Wali Sembilan atau Wali Songo yang terkenal di
tanah Jawa.
Sayyid Syah Ahmad atau ayahanda Sayyid Jamaluddin adalah seorang
Gubernur di zaman Maharaja India dari Kesultanan Delhi yang bernama Sultan
Muhammad Taghlug yang memerintah pada tahun 1325-1351. Beliau adalah
keturunan dari Sayyid Ahmad Isa Al-Muhajir dari jalur Sayyid Abdul Malik Alawi
yang lahir di kota Qasam, Hadramaut yang berhijrah ke India dan mendapat
kedudukan terhormat di Kesultanan Islam India masa itu. Pada pertengahan abad 14
M, anak Sayyid Syah Ahmad yang bernama Sayyid Jamaluddin Al-Hussein
meninggalkan India untuk mengembangkan dakwah Islamiyah ke sebelah timur,

67
menuju Kerajaan Islam Pasai yang telah berkembang menjadi pusat Islamisasi
Nusantara dan telah menggantikan peranan Bagdad yang hancur lebur akibat
penyerangan tentara bar-bar Mongolia.
Adapun silsilah lengkap Sayyid Jamaluddin adalah : Jamaluddin Al-Husain
(Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin
Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin
Muhammad bin Alawi bini Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi
bin Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin
‘Ali Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah binti Rasulullah SAW.
Rombongan Sayyid Jamaluddin tiba di Kerajaan Islam Pasai diperkirakan pada
zaman pemerintahan Sultan Malik al-Zahir II antara tahun 1360an M. Pada masa inilah
masa-masa puncak kegemilangan Kerajaan Islam Pasai yang terkenal ke seluruh
penjuru dunia sebagai Kerajaan Samodra yang berpusat di Pasai. Kegemilangnnya
Kerajaan Samodra telah mempengaruhi nama dari pulau tempat Kerajaan Islam ini,
Sumatera, (Samodra-Samotra(arab)-Sumatera(eropa). Rombongan para Sayyid dari
Kerajaan Islam Tughlug India ini mendapat sambutan dan penghormatan besar di
Kerajaan Islam Pasai, karena mereka adalah para Ulama dan Maulana yang menjadi
guru pengajaran Islam. Apalagi Sultan Malik al-Zahir II dan ayahandanya, Sultan
Malik al-Zahir atau kakeknya Sultan Malik al-Saleh adalah keturunan dari para Sultan
Perlak (Maulana Abdul Aziz Syah) dan Raja Jeumpa (Syahir Nawi-Shahriansyah
Salman) yang kedua-dunya bertemu pada jalur Ja’far Shadiq, cucu dari Sayyidina
Hussein bin Fatimah binti Rasulullah saw.
Menurut catatan Ibn Batutah dalam Rihlah Ibnu Batutah, jilid II, hal. 185-187 dan
209-210, Sultan Malik al-Zahir II, yang memerintah Kerajaan Pasai pada waktu itu,
adalah seorang sultan yang saleh lagi sangat taat kepada agama dan sangat gemar
mengadakan pertemuan ilmiah, dengan para ulama untuk berdiskusi tentang
masalah-masalah agama. Setiap hari jum’at ia pergi ke masjid dengan berjalan kaki.
Ibnu Batutah juga menyebutkan sejumlah ulama menjadi pembesar istana, antara lain:
Amir Daulasa dari Delhi, Qadi Amir Said dari Shiraz dan ahli hukum Tajudin dari
Isfahan. Pengamatannya menyimpulkan bahwa pada saat itu, Kerajaan Pasai dalam
kemakmuran dan kedamaian yang luar biasa. Hal ini dibuktikan ketika Sultan
mengadakan acara pernikahan putra beliau yang menggambarkan kebesaran dan
kemewahan istana Kerajaan Pasai.
Itulah sebabnya mengapa rombongan Sayyid Jamaluddin dan Maulana Malik
Ibrahim mendapat sambutan dan penghormatan luar biasa oleh Sultan dan para
petinggi Kerajaan Pasai. Karena memang sebelumnya hubungan antara Pasai dengan
Delhi, sebagai negeri asal rombongan Sayyid Jamaluddin, sudah terhubung rapat yang
dibuktikan dengan adanya ulama besar dari Delhi di Kerajaan Pasai, Maulana Amir
Daulasa sebagaimana disebutkan Ibnu Batutah. Mungkin saja kedatangan Sayyid
Jamaluddin merupakan sebuah kelanjutan muhibbah antara Pasai dan Delhi. Maka

68
tidak mengherankan apabila Sayyid Jamaluddin memilih Pasai sebagai tujuannya,
karena kebesaran Pasai sudah menjadi legenda di Kerajaan Delhi.
Sebagaimana kedudukan Maulana Amir Daulasa pada Kerajaan Pasai, maka
tidak diragukan bahwa Sayyid Jamaluddin dengan rombongannya, termasuk Grand
Master gerakan Wali Songo di tanah Jawa, Maulana Malik Ibrahim, juga mendapat
kedudukan terhormat di Kerajaan Pasai. Mereka telah menjadi tokoh-tokoh utama dan
sentral yang mempengaruhi kebijakan Kerajaan Islam Pasai, khususnya pada zaman
pemerintahan Sultan Malik al-Zahir II, atau penggantinya Sultan Zainal Abidin dan
Sultan Salahuddin. Peranan mereka bukan hanya sebagai tokoh agama saja, tapi juga
mengurusi masalah-masalah politik internasional, membangun jaringan politik
internasional yang menghubungkan antara dunia Arab, Parsia, India, Cina dengan
dunia Islam Nusantara yang berpusat di Kerajaan Islam Pasai. Di antara fokus mereka
adalah mengembangkan kekuasaan Kerajaan Islam Pasai ke seluruh Nusantara agar
menjadi patron bagi Kerajaan Islam di seluruh Nusantara. Karena dengan semakin
besarnya kekuasaan dan wilayah Kerajaan Pasai akan mempermudah gerakan
Islamisasi Nusantara, termasuk startegi jitu untuk meredam perkembangan Kerajaan
Budha Thailand di sebelah barat dan Kerajaan Hindu Majapahit di sebelah timur.
Sayyid Jamaluddin menikah dengan salah seorang puteri di Kerajaan Pasai
yang dikenal dengan ”Putri Jeumpa”, yang juga saudara ipar dari Sultan Malik al-
Zahir II, Sultan Pasai. Jadi Sayyid Jamaluddin dengan Sultan Malik al-Zahir II
sepengambilan (biras). Pernikahan Sayyid Jamaluddin ini melahirkan putera yang
bernama Sayyid Ibrahim al-Akbar (bukan Maulana Malik Ibrahim). Selanjutnya Sayyid
Ibrahim mendapat pendidikan dari Maulana dan Ulama Kerajaan Pasai. Beliau
menikah dengan kerabat bangsawan Kerajaan Pasai, yang dikenal dengan julukan
”Putri Jeumpa” bernama Candra Wulan. Puteri inilah bersaudara dengan ”Puteri
Jeumpa” dari kerabat Kerajaan Pasai yang terkenal bernama Darwati (Dwarawati)
yang menjadi Maha Ratu dari Raden Brawijaya V dari Kerajaan Jawa-Majapahit.
Perkawinan Sayyid Ibrahim dengan Putri Candra Wulan telah melahirkan dua orang
putera yang menjadi Ulama besar, yaitu Maulana Sayyid Ishaq yang menjadi Ulama
dan penasihat utama Sultan Pasai di zaman Sultan Zainal Abidin dan Sultan
Salahuddin, dan beliau juga sekaligus ayahanda dari Raden Paku atau Sunan Giri,
anggota Wali Songo. Putra yang lain adalah Maulana Sayyid Rahmatullah yang di
tanah Jawa terkenal dengan Raden Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel yang menjadi
pemimpin utama Wali Songo di tanah Jawa. Beliau lahir pada tahun 1381 M di
lingkungan istana Kerajaan Pasai.
Setelah mempersiapkan diri dengan berbagai perlengkapan dakwah di Kerajaan
Islam Pasai, maka berangkatlah ke arah barat, Sayyid Jamaluddin Syah Jalal bersama
beberapa Maulana untuk mengislamkan negeri Siam (Thailand), Cina Kecil dan
Semenanjung Melayu. Beliau berhasil mengislamkan beberapa kawasan seperti
Champa, Senggora, Pattani, Kelantan, Kedah dan sekitarnya. Kemudian beliau
mendirikan Kerajaan Islam di Champa dan mengangkat anaknya bernama Wan Bo

69
atau Wan Abdullah menjadi Sultan Champa pertama. Selanjutnya beliau mendirikan
Kerajaan Islam di Pattani dan Kelantan. Walaupun secara politik beliau tidak dapat
menaklukkan Kerajaan Budha Siam (Thailand) yang memiliki kekuatan besar, namun
beliau telah meletakkan dasar-dasar dakwah Islamiyah di wilayah tersebut. Di
Kelantan Sayyid Jamaluddin menikah dan memiliki putra bernama Sayyid Ali Nurul
Alam. Sementara Sayyid Ali Nurul Alam memiliki dua orang putera yang menjadi
Sultan, yaitu Syarif Hidayatullah yang dibesarkan di Pasai dan menjadi Sultan
Kerajaan Islam Banten-Jawa Barat pertama dan Sultan Ba’abullah yang menjadi Sultan
Ternate-Maluku. Selanjutnya Sayyid Jamaluddin berangkat ke Majapahit mendukung
perjuangan Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu mengembangkan dakwah.
Setelah beberapa lama beliau ke negeri Bugis, lalu meninggal dunia di Wajok
(Sulawesi Selatan). Tahun kedatangannya di Sulawesi adalah 1452M dan tahun
wafatnya 1453M”.

Maulana Malik Ibrahim Dan Grand Strategi Penaklukan Majapahit


Di antara para auliya, nama Maulana Malik Ibrahim adalah yang paling
terkenal, khususnya di tanah Jawa. Karena beliau adalah tokoh Wali Sembilan Awal
yang berdakwah ke timur (Jawa-Majapahit). Sang Maulana, keturunan ahlul bayt ini
adalah tokoh paling senior dan Grand Master dalam gerakan para Wali yang di tanah
Jawa dikenal dengan Wali Songo. Namun masih banyak di antara para peneliti sejarah
yang belum yakin dengan hubungan erat antara para auliya sembilan awal, seperti
Maulana Malik Ibrahim dengan Kerajaan Pasai. Hal ini karena terjadinya kesalahan
dalam memahami dearah Cempa yang disebut-sebut tempat tinggal dan pusat
gerakan mereka. Para ahli sejarah memperkirakan Maulana Malik Ibrahim berada
”Champa” sekitar 13 tahun, antara tahun 1379 sampai dengan 1392. Untuk
memastikan dimanakah ”Champa” yang telah ditinggali Maulana Malik, maka perlu
diselidiki bagaimanakah keadaan Cempa waktu itu, baik yang berada di Aceh
maupun Kambodia.
Menurut beberapa catatan, Champa di Kambodia masa itu sedang di perintah
oleh Chế Bồng Nga antara tahun 1360-1390 Masehi, dikenal dengan The Red King
(Raja Merah) seorang Raja terkuat dan terakhir Champa. Tidak diketahui apakah Raja
ini Muslim, atau memang Budha sebagaimana mayoritas penduduk Kambodia sampai
sekarang dengan banyak peninggalan kuil-kuilnya namun tidak ada masjid. Beliau
berhasil menyatukan dan mengkordinasikan seluruh kekuatan Champa pada
kekuasaannya, dan pada tahun 1372 menyerang Vietnam melalui jalur laut. Champa
berhasil memasuki kota besar Hanoi pada 1372 dan 1377. Pada penyerangan terakhir
tahun 1388, dia dikalahkan oleh Jenderal Vietnam Ho Quy Ly, pendiri Dinasti Ho. Che
Bong Nga meninggal dua tahun kemudian pada 1390. Tidak banyak catatan hubungan
Penguasa Champa ini dengan Islam, apalagi tidak didapat bekas-bekas kegemilangan
Islam, sebagaimana yang ditinggalkan para pendakwah di Perlak, Pasai ataupun
Malaka.

70
Sementara sejarah pergerakan dakwah Islamiyah Nusantara abad ke IX-XV
Masehi, sebagaimana yang disepakati para ahli sejarah Islam Nusantara, tidak pernah
menyebutkan berpusat di sekitar daerah Vietnam atau Indo-China sekarang, namun
sebaliknya tercatat berpusat di antara Perlak, Pasai, Malaka, Lamuri, Barus, ataupun
Fansur di wilayah Aceh, yang di tengah-tengahnya terdapat Jeumpa, yang menjadi
laluan dan tempat persinggahan yang banyak menyisakan kegemilang Islam.
Sementara di Vietnam telah dibuktikan tidak banyak ditemukannya Sayyid, Syarief
atau Maulana dan Makhdum serta Ulama-Ulama besar yang umumnya menjadi
penggerak Islamisasi. Juga tidak didapati peninggalan-peninggalan situs yang
berhubungan dengan kegemilangan Islam, apakah berupa istana, maqam, ataupun
skrip keislaman yang menjadi ciri khas peninggalan jejak peradaban Islam. Di samping
itu, tidak didapatkan dalam sejarah bahwa Islam pernah gemilang di sekitar sana
dengan mendirikan sebuah kerajaan Islam yang berperan. Karena tradisi dari para
pendakwah akan mendirikan sebuah kerajaan atau mengislamkan kerajaan tersebut,
atau menaklukkannya sebagaimana sejarah Perlak, Pasai, Malaka, Aceh Darussalam,
Demak dan lainnya. Ada kemungkinan di Champa Kambodia pernah tumbuh
perkampungan muslim, namun hal ini tidak dapat dijadikan pegangan sebagai pusat
Islamisasi Nusantara.
Dari segi geografis dan taktik-strategi perjuangan, kelihatannya mustahil para
pendakwah, khususnya gerakan Para Wali yang akan menaklukkan pulau Jawa
bermarkas di sebuah perkampungan Muslim minoritas dekat Vietnam. Apalagi pada
masa itu Champa sepeninggal Raja terakhirnya, Che Bong Nga (w.1390), sepenuhnya
dikuasai Dinasti Ho yang Budha dan anti Islam berpusat di Hanoi. Maulana Malik
Ibrahim adalah Grand Master para Wali Songo, jika sasaran dakwahnya adalah pulau
Jawa, sebagai basis kerajaan Hindu-Budha yang tersisa, terlalu naif memilih Champa
sebagai markas pusat pergerakan baik menyangkut dukungan logistik, politik
maupun ketentaraan. Sebagaimana dicatat sejarah, pada masa itu para Sultan dan
Ulama, baik yang ada di Arab, Persia, India termasuk Cina yang sudah dipegang
penguasa Islam memfokuskan penaklukkan kerajaan besar Majapahit sebagai patron
terbesar Hindu-Budha Nusantara. Kaisar Cina yang sudah Muslimpun mengirim
Panglima Besar dan tangan kanan dan kepercayaannya, Laksamana Cheng-Ho untuk
membantu gerakan Islamisasi Jawa. Sementara hubungan dakwah via laut pada saat
itu sudah terjalin jelas menunjukkan hubungan antara Jawa-Pasai-Gujarat-Persia-
Muscat-Aden sampai Mesir, yang diistilahkan Azra sebagai Jaringan Ulama
Nusantara. Yang artinya, wilayah Aceh Jeumpa lebih mungkin berada di sekitar pusat
gerakan dan lintasan jaringan tersebut daripada Champa Kambodia.
Adalah hal yang mustahil, seorang Wali sekelas Maulana Malik Ibrahim, bapak
dan pemimpin para Wali di Jawa, yang telah berhasil membangun jaringan di
Nusantara, setelah 13 tahun di Champa tidak dapat membangun sebuah kerajaan
Islam atau meninggalkan jejak-jejak kegemilangan peradaban Islam, atau hanya
sebuah prarasti seperti pesantren, maqam atau sejenisnya yang akan menjadi jejaknya.

71
Bahkan Raffles menyebutnya sebagai orang besar, sementara sejarawan G.W.J. Drewes
menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang
sebagai wali di antara para wali. ''Ia seorang mubalig paling awal,'' tulis Drewes dalam
bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana,
yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein
Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya
diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.
Setelah melaksanakan tugas dakwahnya di Semenanjung Malaya dan
kepulauan Sumatra, pada awal abad ke 15 M, beliau berangkat ke tanah Jawa dan
memusatkan gerakan dakwahnya di daerah pelabuhan sekitar kota Gresik dan Tuban
Jawa Timur, berdekatan dengan pusat Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Namun
dakwahnya tidak mendapat sambutan akibat besarnya pengaruh Kerajaan Hindu-
Majapahit terhadap rakyatnya, karena Raja Majapahit dianggap titisan Dewa oleh
rakyatnya, sehingga mereka tidak berani untuk menentang atau berbeda pendapat
dengan Maha Raja. Maulana Malik hanya dapat mengislamkan rakyat jelata dari kasta
rendah, sementara kalangan istana Majapahit menolak dakwahnya.
Sebagai seorang pejuang dan pendakwah Islam kawakan sekaligus sebagai
utusan Kerajaan Islam Pasai, Maulana Malik tidak pernah berputus asa untuk
berdakwah. Beliau bersama dengan para pendakwah lainnya mendirikan pusat
Islamisasi dan pendidikan seperti sistem pondok pesantren untuk mendidik para
pendakwah Islam Gresik Tuban Jawa Timur. Beliau juga mempelajari seluk beluk
masyarakat Jawa secara mendalam, dan berkesimpulan bahwa dakwah Islam akan
mudah diterima apabila telah dianut oleh kalangan Kerajaan Majapahit. Maka atas
nama Kerajaan Pasai beliau datang sebagai utusan diplomatik sekaligus sebagai
pendakwah Islam. Beliau juga merancang agar salah seorang Puteri Kerajaan Pasai
terbaik yang sudah muslimah dan bertaraf kader dakwah dapat menjadi Permaisuri
Kerajaan Majapahit. Tujuannya jelas agar Sang Puteri Pejuang ini dapat memberi jalan
bagi perkembangan dakwah Islamiyah ke dalam istana Kerajaan Hindu-Majapahit
kelak. Maka bersama-sama dengan para alim ulama dan Sultan, diputuskan Puteri
terbaik itu jatuh pada Putri Jeumpa Darwati (Dwarawati), saudara ipar dari Sayyid
Ibrahim al-Akbar atau saudara ibunda Maulana Sayyid Rahmatullah (Sunan Ampel).
Dipilihnya Putroe Darwati sebagai pejuang garda terdepan dakwah Islamiyah
ke jantung kekuatan Kerajaan Hindu terbesar Majapahit, tentu bukan asal-asalan, tapi
tentu dengan pertimbangan fatwa agama dan politik tingkat tinggi. Karena tidak
dimungkinkan seorang wanita muslimah untuk menikah dengan seorang Hindu. Tapi
fatwa telah diputuskan oleh Ulama dan Maulana dari Kerajaan Pasai dengan
pertimbangan fiqh yang lebih luas dan tingkat tinggi, demi untuk kepentingan
dakwah dan perkembangan Islam.Berkat diplomasi ulungnya, maka Maha Raja
Majapahit, Raden Prabu Brawijaya V, menikah dengan Putroe Darwati (Dwarawati),
Puteri Jeumpa yang telah menjadi keluarga besar Kerajaan Islam Pasai. Kelak Putroe

72
inilah yang memberikan perlindungan kepada para pendakwah dari Pasai yang
datang ke Majapahit, terutama Maulana Rahmat atau Sunan Ampel.
Maulana Malik Ibrahim meninggal tahun 1419 di Gresik, Tuban Jawa Timur.
Raffles menyebutnya sebagai orang besar, sementara sejarawan G.W.J. Drewes
menegaskan, Maulana Malik Ibrahim adalah tokoh yang pertama-tama dipandang
sebagai wali di antara para wali. ''Ia seorang mubalig paling awal,'' tulis Drewes dalam
bukunya, New Light on the Coming of Islam in Indonesia. Gelar Syekh dan Maulana,
yang melekat di depan nama Malik Ibrahim, menurut sejarawan Hoessein
Djajadiningrat, membuktikan bahwa ia ulama besar. Gelar tersebut hanya
diperuntukkan bagi tokoh muslim yang punya derajat tinggi.
Peran terbesar dari Wali Sembilan Awal ini adalah memperkuat sistem di
Kerajaan Islam Pasai sehingga menjadi sebuah Kerajaan yang menjadi poros dan pusat
Islamisasi di Nusantara. Kehadiran mereka memperkuat Kerajaan Islam Pasai yang
sudah mulai mengalami kegemilangan di zaman Sultan Malik al-Saleh dan
penggantinya Sultan Malik al-Zahir. Dengan pengetahun dan pengalaman yang
mereka miliki di Kerajaan Delhi, para wali telah menjadi guru bagi bangsawan Pasai.
Demikian pula, mereka telah berhasil mendirikan perwakilan atau jaringan Kerajaan
Pasai di Champa (Kambodia), Pattani, Senggora (Thailand), Kedah, Kelantan, Malaka
(Malaya) dan sampai ke Borneo dan Sulu-Mindanao di Filipina. Walaupun mereka
tidak berhasil menaklukkan Kerajaan Budha Siam (Thailand), namun mereka sudah
mengepung Kerajaan Budha ini dari sebelah barat dengan berdirinya Kerajaan
Champa dan dari sebelah timur dengan berdirinya Kerajaan Pattani dan Senggora.
Sehingga Kerajaan Budha Siam akan berpikir panjang untuk menyerang kembali
Kerajaan Pasai sebagai jantung Islamisasi Nusantara. Maka tugas untuk
menyempurnakan dakwah dan perjuangan mereka kini diembankan kepada generasi
sesudah mereka yang di kemudian hari di kenal dengan Wali Songo.

Darwati : Putro Jeumpa Sang Penakluk Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit


Tidak banyak yang mengenal apalagi mengetahui sejarah hidup Darwati
(Dharawati), seorang Putro Jeumpa yang secara tidak langsung bertanggungjawab atas
penaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit. Sejarah agung kehidupannya dapat
dikenal dengan mengungkap misteri keberadaan seorang putri yang di tanah Jawa di
kenal dengan ”Putri Cempa”.
”Putri Cempa” biasanya dihubungkan dengan istri Prabu Brawijaya V yang
dalam Babad Tanah Jawi, disebutkan bernama Anarawati atau Dwarawati (Darawati)
yang beragama Islam. Menurut sebuah pendapat, Putri inilah yang melahirkan Raden
Fatah, yang kemudian menyerahkan pendididikan putranya kepada salah seorang
keponakannya yang lahir di Pasai yang dikenal dengan Sunan Ampel (Raden Rahmat)
di Ampeldenta Surabaya. Sejarah mencatat, Raden Fatah menjadi Sultan pertama dari
Kerajaan Islam Demak, Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa yang mengakhiri sejarah
kegemilangan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit.7

73
Menurut Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Kerajaan Inggris yang juga
seorang peneliti sosial, Sir TS. Raffles dalam bukunya The History of Java menyebutkan
bahwa Cempa bukan terletak di Kambodia, tapi Cempa adalah nama daerah di sebuah
wilayah di Aceh, yang terkenal dengan nama ”Jeumpa”. Cempa adalah ucapan atau
logat Jeumpa dengan dialek ”Jawa”, karena penyebutannya inilah banyak ahli yang
keliru dan mengasosiasikannya dengan Kerajaan Cempa di wilayah Kambodia dan
Vietnam sekarang. Jeumpa yang dinyatakan Raffles sekarang berada di sekitar daerah
Kabupaten Bireuen Aceh. 8
Keadaan Jeumpa di sebelah barat pada masa kegemilangan Kerajaan Pasai
menjadi jalur laluan dan peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan
Lamuri dari Pasai ataupun Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan
dakwah Islam yang memiliki banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia.
Sementara para sultan adalah diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalah-
masalah agama, di istananya berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab
dan lain-lain, sementara mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi.9 Dan
Sejarah Melayu menyebutkan bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu
semuanya tahu bahasa Arab.10
Jeumpa terkenal dengan putri-putrinya yang cerdas dan cantik jelita, buah
persilangan antara Arab-Parsi-India dan Melayu, yang di Aceh sendiri sampai saat ini
terkenal dengan Buengong Jeumpa, gadis cantik putih kemerah-merahan. Sampai saat
ini Jeumpa masih menyisakan kecantikan putri-putrinya yang sekarang berada di
sekitar Kabupaten Bireuen. Pada masa kegemilangan Pasai, istilah putri Jeumpa
(Cempa) sangat populer, mengingat sebelumnya ada beberapa Putri Jeumpa yang
sudah terkenal kecantikan dan kecerdasannya. Putri Manyang Seuludong,
Permaisuri Raja Muslim pertama Jeumpa asal Persia, Shahrianshah Salman al-Parisi,
yang juga ibunda kepada Syahri Nuwi pendiri kota Perlak. Putri Jeumpa lainnya, Putri
Makhdum Tansyuri (anak Pengeran Salman-Manyang Seuludong/Adik Syahri
Nuwi) yang menikah dengan kepala rombongan Nakhoda Khalifah, Maulana Ali bin
Muhammad bin Ja’far Shadik, yang melahirkan Maulana Abdul Aziz Syah, Raja
pertama Kerajaan Islam Perlak. Mereka seterusnya menurunkan Raja dan bangsawan
Perlak, Pasai sampai Aceh Darussalam. Demikian pula keturunan Syahri Nuwi dari
Sultan Perlak bergelar Makhdum juga disebut sebagai Putri Jeumpa, karena beliau
lahir di Jeumpa.
Kecantikan dan kecerdasan putri-putri Jeumpa sudah menjadi legenda di
antara pembesar-pembesar istana Perlak, Pasai, Malaka, bahkan sampai ke Jawa.
Itulah sebabnya kenapa Maharaja Majapahit, Barawijaya V sangat mengidam-idamkan
seorang permaisuri dari Jeumpa. Bahkan dalam Babat Tanah Jawi, disebutkan
bagaimana mabok kepayangnya sang Prabu ketika bertemu dengan Putri Jeumpa
yang datang bersama dengan rombongan Maulana Malik Ibrahim dan para petinggi
Pasai yang datang untuk berdakwah ke pusat Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit.

74
Pada masa hidup Putro Darwati dari Jeumpa, Kerajaan tempatnya tinggal di
Pasai sudah menjadi pusat Islamisasi Nusantara dan sangat berkepentingan untuk
menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu Majapahit karena ia adalah satu-satunya
penghalang utama untuk pengislaman tanah Jawa secara menyeluruh. Maka para
Sultan dan para Ulama serta cerdik pandai Kerajaan Pasai telah menyusun strategi
terus menerus dengan segala jaringannya untuk menaklukkan Kerajaan Jawa-Hindu
ini. Bahkan Kekaisaran Cinapun yang telah dikuasai Muslim ikut andil dalam
Islamisasi ini, terbukti dengan mengirimkan Penglima Besar dan kepercayaan Kaisar
yang bernama Laksamana Cheng Ho. Jalan peperangan tidak mungkin ditempuh,
mengingat jauhnya jarak antara Pasai dengan Jawa Timur sebagai pusat Kerajaan
Majapahit. Maka ditempuhlan jalan diplomasi dan dakwah para duta dari Kerajaan
Pasai.
Grand Master Wali Sembilan (Aulia Sikurueng), Maulana Malik Ibrahim sebagai
utusan senior para pendakwah yang berpusat di Kerajaan Pasai, menemukan sebuah
cara yang dianggap bijak, yaitu melalui jalur perkawinan. Maka dikawinkanlah
iparnya yang bernama Dwarawati atau Putri Jeumpa yang cantik jelita dan cerdas
tentunya, dengan Prabu Brawijaya V, yang konon masih memeluk Hindu. Kenapa
Sang Bapak Para Wali Songo ini berani mengambil kebijakan itu. Tentu hanya Allah
dan beliau yang tahu. Dan akhirnya sejarah kemudian mencatat, anak perkawinan
Putri Jeumpa Dwarawati dengan Prabu Brawijaya V, bernama Raden Fatah adalah
Sultan Kerajaan Islam Demak pertama yang telah mengakhiri dominasi Kerajaan Jawa-
Hindu Majapahit dan Kerajaan-Kerajaan Hindu lainnya.
Mungkin pertimbangan Maulana Malik Ibrahim menikahkan iparnya Putri
Jeumpa berdasarkan ijtihad beliau setelah mengadakan penelitian panjang terhadap
tradisi dan budaya orang Jawa yang sangat menghormati dan patuh bongkokan
kepada Raja atau Pangeran yang selama ini dianggap sebagai titisan para Dewata,
sebagaimana cerita-cerita pewayangan di Jawa. Jika ada seorang Raja atau Pangeran
yang masuk Islam, maka akan mudah bagi perkembangan Islam. Karena Jawa adalah
salah satu daerah yang sangat sulit diislamkan sampai saat itu, mengingat kuatnya
dominasi Kerajaan Hindu Majapahit. Itulah sebabnya, ketika Putri Jeumpa telah hamil,
dia ditarik dari istana Majapahit, dihijrahkan ke wilayah Islam lainnya, kabarnya ke
Kerajaan Melayu Palembang. Setelah lahir anaknya, Raden Fatah, Putri Jeumpa
kembali ke Jawa Timur, tapi bukan ke istana Majapahit, tapi ke Ampeldenta Surabaya,
ke tempat anak saudaranya Raden Rahmat (Sunan Ampel) untuk mendidik Raden
Fatah agar menjadi pemimpin Islam. Setelah dewasa, karena masih Raden Pangeran
Majapahit, maka Raden Fatah berhak mendapat jabatan, dan beliau diangkat sebagai
seorang Bupati di sekitar Demak. Saat itulah para Wali Sembilan yang sudah mapan
mendeklarasikan sebuah Kerajaan Islam Demak, di Bintaro Demak, sebagai Kerajaan
Islam pertama di Jawa. Karena Raden Fatah adalah titisan Raja Majapahit, maka
orang-orang Jawapun dengan cepat mengikuti agamanya dan membela
perjuangannya sebagaimana dicatat sejarah dalam buku Babat Tanah Jawi.

75
”Darwati Putro Jeumpa Penakluk Majapahit” ini adalah wanita luar biasa. Dia
adalah seorang ibu yang tabah, besar hati, penyayang namun mewarisi semangat
perjuangan yang tidak kalah hebat dengan wanita-wanita agung Aceh seperti
Laksamana Malahayati, Tjut Nya’ Dhien, Tjut Mutia dan lainnya. Bagaimana tidak, dia
harus berpisah jauh dari lingkungannya ke tanah Jawa yang asing baginya, tiada
handai tolan, hidup dilingkungan masyarakat Jawa-Hindu yang berbeda budaya dan
tradisi dengan negeri asalnya, bahkan ada yang menyatakan suaminyapun masih
beragama Hindu dalam tradisi Kerajaan Majapahit yang feodalis. Namun karena para
Ulama-Pejuang sekelas Maulana Malik Ibrahim atas dukungan para Sultan Muslim
menugaskannya berdakwah dengan caranya, wanita agung inipun ikhlas melakoni
peran perjuangannya. Demi kelanjutan agamanya, dia rela meninggalkan
kegemerlapan istana Majapahit sebagai permaisuri agung untuk memastikan putranya
dapat pendidikan terbaik agar menjadi seorang pemimpin Islam di Jawa. Raden Fatah
kecil mendapat kasih sayang serta bimbingan ibundanya bersama para Wali yang
dipimpin sepupunya Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang juga dilahirkan di Kerajaan
asal ibunya.
Putro Darwati dari Jeumpa telah sukses gemilang menjalankan tugas
agamanya, dia seorang ibu pendidik agung (madrasat al-kubra), pejuang suci (mujahidah
fi sabilillah), pendakwah Islam (da’i) sekaligus sebagai penyebab (asbab) keruntuhan
sebuah dinasti Hindu terbesar yang menjadi lambang keagungan dan kebesaran Jawa,
dengan Mahapatih sadis Gadjah Mada itu. Dari sisi manapun kita nilai, wanita ini
adalah wanita besar, namun terhijab peran agungnya oleh wanita selir Jawa sekelas
RA. Kartini, seorang selir Bupati Rembang yang dijadikan tokoh wanita hanya karena
bisa bahasa penjajah Belanda dan dekat dengan penjajah kaphe. Siapa Kartini jika
disandingkan dengan Ratu Tajul Alam Syafiatuddin, Sultanah Aceh yang memimpin
masyarakat kosmopilit masa itu dan memiliki kekuasaan seluruh Sumatra dan
Semenjang Melayu?

Sunan Ampel: Mendirikan Demak Meruntuhkan Majapahit


Istilah Wali Songo sangat populer di tanah Jawa, namun para ahli berbeda
pendapat tentang asal usul mereka. Perbedaan ini terjadi karena kesalahan dalam
memahami Jeumpa di wilayah Aceh (Bireuen) sebagai Champa yang berada di
Kamboja. Akibatnya banyak penyimpangan sejarah yang terjadi. Bahkan kemudian
ada yang menyimpulkan bahwa para wali berasal dari Cina. Di antara ahli sejarah
yang berpendapat ”Champa” sebagai asal para Wali juga merupakan wilayah yang
terkenal dan berpengaruh pada proses Islamisasi Nusantara adalah Jeumpa di Aceh,
seperti TS. Rafless, Prof. Hamka dan Prof. Saifuddin Zuhri, Prof. A. Hasymi dan lain-
lainnya. Dengan pemahaman ini, maka sejarah dapat diluruskan sebagaimana adanya.
Gerakan dakwah Islamiyah Wali Sembilan Awal yang digerakkan Sayyid
Hussein Jamadil Kubra, yang selanjutnya diteruskan Maulana Malik Ibrahim yang
telah wafat tahun 1419 di Gresik, Tuban Jawa Timur ke wilayah timur Pasai, dari

76
Palembang dan tanah Jawa seterusnya dilanjutkan oleh para sahabat dan muridnya
yang datang silih berganti dari Kerajaan Pasai. Diantara penggantinya yang paling
menonjol adalah keponakan cucu dari Sayyid Hussein Jamadil Kubra bernama
Maulana Sayyid Rahmatullah, anak dari Sayyid Ibrahim yang dikenal di tanah Jawa
dengan Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Beliau lahir pada tahun 1401 M di
lingkungan istana Kerajaan Pasai dari pernikahan Sayyid Ibrahim bin Sayyid
Jamaluddin al Hussein dengan seorang Putri bangsawan Jeumpa di kerajaan Pasai
yang bernama Chandra Wulan.
Adapun silsilah keturunan Maulana Rahmat (Sunan Ampel) adalah : Maulana
Rahmatullah bin Sayyid Ibrahim bin Jamaluddin Al-Husain (Sayyid Hussein Jamadil Kubra )
bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi Amal Al-Faqih bin
Muhammad Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin
Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi bin Muhammad Naqib bin
‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Al-
Hussein bin Sayyidatina Fatimah (Sayyidina Ali bin Abi Thalib) binti Rasulullah SAW.
Pendapat yang menyatakan Raden Rahmat (Sunan Ampel) berasal dari Champa
di Kambodia, perlu diluruskan dengan beberapa fakta, diantaranya adalah keadaan
Champa Kambodia ketika zaman Maulana Rahmatillah (awal abad 15 M) sedang huru
hara dan terjadi pembantaian terhadap kaum Muslim yang dilakukan oleh Dinasti Ho
yang membalas dendam atas kekalahannya pada pasukan Khulubay Khan, Raja
Mongol yang Muslim. Keadaan ini sangat jauh berbeda dengan keadaan Jeumpa yang
menjadi mitra Kerajaan Pasai pada waktu itu yang menjadi jalur laluan dan
peristirahatan menuju kota besar seperti Barus, Fansur dan Lamuri dari Pasai ataupun
Perlak. Kerajaan Pasai adalah pusat pengembangan dan dakwah Islam yang memiliki
banyak ulama dan maulana dari seluruh penjuru dunia. Sementara para sultan adalah
diantara yang sangat gemar berbahas tentang masalah-masalah agama, di istananya
berkumpul sejumlah ulama besar dari Persia, India, Arab dan lain-lain, sementara
mereka mendapat penghormatan mulia dan tinggi. Dan Sejarah Melayu menyebutkan
bahwa ”segala orang Samudra (Pasai) pada zaman itu semuanya tahu bahasa Arab.
Wali Sembilan Awal, Sayyid Hussein Jamadil Kubra, Maulana Malik Ibrahim
ataupun Sayyid Ibrahim, ayahanda Maulana Rahmatullah, menjadikan Kerajaan Islam
Pasai yang sudah berkembang pesat sebagai pusat pengajaran Islam menjadi basis
awal perjuangan mereka dalam mengislamisasikan Nusantara. Apalagi diketahui para
Sultan sejak Sultan Malik al-Salih adalah orang-orang yang alim dan taat beragama
serta memiliki komitmen yang kuat terhadap penyebaran dakwah Islamiyah. Kerajaan
Islam Pasai yang sudah menjadi patron kerajaan-kerajaan Islam yang baru berdiri di
wilayah Nusantara sangat berkepentingan untuk membantu dakwah Islamiyah para
Wali, disamping sebagai tuntutan agama sekaligus menjadi strategi untuk
mempertahankan eksistensi kerajaan Islam dari gangguan penyerangan Kerajaan
Hindu Majapahit yang berambisi menguasai Kerajaan Pasai. Kepentingan Sultan Pasai

77
dan para Wali bertemu pada satu titik utama, mengislamkan Majapahit atau
memeranginya sehingga menjadi wilayah taklukan Kerajaan Islam Pasai.
Gerakan dakwah Islamiyah yang juga sekaligus merupakan gerakan
penaklukan kerajaan-kerajaan Hindu Nusantara dilakukan secara simultan dan
teristematis oleh para Wali dan pengikutnya dengan dukungan penuh penguasa Pasai.
Kebutuhan logistik para Wali sampai militer didukung oleh Kerajaan Pasai. Bahkan
para Sultan dari kerajaan-kerajaan Islam yang baru berdiri, seperti di Champa, Pattani,
Kelantan sampai Sulu, Mindanao, Banten, Makassar dan Maluku adalah para kerabat
dekat istana Pasai yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan para Wali. Akhirnya
memang gerakan dakwah Islamiyah para Wali menyatu dengan misi perluasaan
wilayah kekuasaan Kerajaan Islam Pasai. Sebuah langkah strategis dan jenius yang
telah menjadikan Nusantara sebagai wilayah Islam terbesar di dunia sampai saat ini.
Jadi para Wali yang agung dan mulia ini bukan hanya mengajarkan ajaran
agama semata sebagaimana difahami kebanyakan orang. Tapi mereka benar-benar
telah menegakkan Islam secara menyeluruh sesuai dengan perkembangan zaman dan
masyarakatnya. Mereka bukan hanya memahami Islam sebagai sebuah ritual
kerohanian semata, tetapi mereka menegakkan Islam menjadi sebuah sistem sosial dan
pemerintahan dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang menegakkan syareat
Islam secara bertahap sesuai pemahaman masyarakat zamannya.
Maulana Rahmatullah atau Raden Rahmat yang terkenal di Jawa dengan Sunan
Ampel mendapat pendidikan terbaik dengan sistem terbaik dan termaju saat itu di
Kerajaan Islam Pasai, tempat beliau dilahirkan dan dibesarkan. Karena pada saat itu
Kerajaan Pasai sudah berkembang menjadi sebuah Kerajaan Islam yang kuat dan maju
serta makmur. Kemajuan dan kemakmuran inilah yang telah mendorong datangnya
para ulama dan cendekiawan seluruh dunia, apalagi para Sultan Pasai adalah orang-
orang yang alim dan saleh yang sangat berminat pada pengembangan agama Islam.
Pada awal abad ke 15 M, Kerajaan Pasai telah berkembang menjadi pusat pengajian
tinggi Islam yang berhubungan langsung dengan pusat-pusat peradaban Islam di
Makkah, Mesir, Persia, India, Andalusia dan lainnya. Di bawah asuhan para ulama,
auliya dan cendekiawan besar di Kerajaan Pasai, Maulana Rahmat yang terkenal
cerdas menjadi seorang ulama dan auliya yang disegani dan sangat diandalkan dalam
penyebaran dakwah Islamiyah, khususnya ke tanah Jawa untuk meneruskan
perjuangan kakeknya, Sayyid Hussein ataupun pamannya, Maulana Malik Ibrahim.
Setelah mendapat pendidikan di Kerajaan Islam Pasai, Maulana Rahmat
berdakwah di pulau Sumatera, bersama dengan para auliya lainnya telah
mengislamkan Kerajaan Palembang. Selanjutnya Maulana Rahmat berhijrah pada
tahun 1443 M ke Jawa. Kehadirannya membawa perubahan besar dalam dakwah
Islamiyah di tanah Jawa. Karena kharisma dan ketinggian ilmunya, beliau sangat
disegani oleh para petinggi Majapahit. Pada saat yang sama, saudara ibunya,
Dwarawati sudah menjadi Maha Ratu Majapahit, yang semakin memudahkan gerakan
dakwahnya. Bahkan bibinya inilah yang mengundang Maulana Rahmat datang ke

78
Kerajaan Majapahit di tanah Jawa, karena kerajaan Hindu besar ini tengah mengalami
masa-masa krisis yang ditimpa kemunduran akibat perpecahan, perang saudara,
perbuatan amoral yang melanda masyarakat. Diharapkan dengan kehadiran Maulana
Rahmat dengan ketinggian ajaran moralitas Islam keadaan dapat diperbaiki dan
mengembalikan wibawa dan kegemilangan Majapahit.
Dengan senang hati Maulana Rahmat datang berdakwah ke Majapahit, apalagi
tujuan utama beliau adalah untuk mendirikan sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa
sebagai ekspansi Kerajaan Islam Pasai, yang sekaligus dapat menjadi penaung gerakan
Islamisasi khususnya di tanah Jawa dan sekitarnya. Namun seruannya untuk
menjadikan Kerajaan Hindu-Majapahit sebagai Kerajaan Islam tidak mendapat
sambutan dari Maha Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Maka beliau memulai
gerakan besarnya dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam dengan
sistem pondok pesantren di Ampeldenta Surabaya.
Dalam perjalanannya menuju Ampeldenta dari Majapahit, Maulana
Rahmatullah berdakwah kepada masyarakat luas dan mendapat sambutan yang luar
biasa dari masyarakat Jawa yang tengah merindukan jalan kebenaran. Dengan
pendekatan dakwahnya yang khas, beliau telah mendapatkan murid dan pengikut
setia yang banyak. Karena ketinggian ilmu pengetahuan dan pengaruhnya yang besar,
Bupati Tuban menikahkan beliau dengan putrinya dan Maulana Rahmatullah
mendapatkan gelar Raden. Gelar bangsawan yang akan memudahkan dakwahnya di
tengah-tengah masyarakat Jawa yang masih sangat feodal dan kental dengan budaya
Hindu yang masih memakai sistem kasta.
Lembaga pendidikan Islam model pondok pesantren yang didirikan Maulana
Rahmatullah, berkembang pesat dan dijadikan sebagai basis untuk menggerakkan
dakwah Islamiyah, terutama untuk mengislamisasikan tanah Jawa yang masih
mayoritas beragama Hindu dan Budha. Di lembaga pendidikan ini diajarkan bukan
hanya pelajaran agama dan moral saja, namun juga mengajarkan berbagai
pengetahuan yang berkembang masa itu, termasuk ilmu pemerintahan dan ilmu
kemiliteran. Karena terbukti kemudian lulusan lembaga pendidikan ini adalah para
pemimpin kerajaan dan panglima-panglima perang yang berpengaruh dalam
menaklukkan beberapa kerajaan Hindu.
Di antara murid terkemuka Maulana Rahmatullah adalah Raden Fatah yang
juga anak dari Prabu Brawijaya V. Di samping itu beliau juga mendidik anak-anaknya
sendiri serta beberapa pemuda-pemuda Islam lainnya yang kelak menjadi Sunan,
seperti Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Giri dan lainnya. Setelah gerakan
dakwahnya berkembang pesat dan pengikutnya bertambah banyak, Raden Rahmat
membentuk sebuah gerakan yang beranggotakan para ulama dan auliya, dimana
gerakan ini dikenal dengan Wali Songo atau Wali Sembilan.
Gerakan Wali Sembilan dianggotai oleh : (1).Maulana Rahmatullah bin Sayyid
Ibrahim (Raden Rahmat atau Sunan Ampel), (2).Maulana Makhdum Ibrahim bin
Maulana Rahmatullah (Sunan Bonang), (3).Maulana Syarifuddin Hasyim bin Maulana

79
Rahmatullah (Sunan Drajat), (4).Maulana Jaafar Sadiq bin Maulana Rahmatullah
(Sunan Kudus), (5).Maulana Ahmad Hassan bin Maulana Rahmatullah (Sunan
Lamongan), (6).Maulana Ainul Yaqin bin Maulana Ishaq (Sunan Giri), (7).Syarif
Hidayatullah bin Sayyid Ali Nurul Alam (Sunan Gunung Jati), (8).Raden Mas Syahid
(Sunan Kalijaga menantu Maulana Rahmatullah) dan (9).Raden Umar Said (Sunan
Muria).
Para Wali yang sangat dekat dan menjadi kerabat istana Kerajaan Pasai ini,
setelah berdakwah dan memiliki pengikut setia, akhirnya mempersiapkan berdirinya
sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa. Sebagaimana tradisi masyarakat Jawa yang
menghormati Maha Raja dan keturunannya, maka Raden Rahmat mempersiapkan
murid, anak menantu, anak dari Raden Brawijaya V, Maha Raja Majapahit bernama
Raden Fatah yang telah dididiknya di Pondok Pesantren Ampeldenta Surabaya
sebagai calon Sultan dari Kerajaan Islam pertama di Jawa. Sebagai seorang Pangeran
atau Prabu Majapahit, maka Raden Fatah berhak mendapat wilayah kekuasaan sendiri
di wilayah Majapahit. Maka Raden Fatah diberikan wilayah kekuasaan di Bintaro
Demak.
Setelah mendapat dukungan kuat, Para Wali Sembilan di bawah pimpinan
auliya dan kerabat Kerajaan Pasai, Maulana Raden Rahmat atau Sunan Ampel
memproklamasikan berdirinya Kerajaan Islam Demak sebagai Kerajaan Islam pertama
di tanah Jawa dan mengangkat Raden Fatah sebagai Sultan Kerajaan Islam Demak
dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah pada tahun 1481 M. Selanjutnya Kerajaan
Islam Demak menjadi patron kepada Islamisasi di pusat kekuasaan Kerajaan Hindu
terbesar dan termegah, Majapahit. Berdirinya Kerajaan Demak telah melemahkan
Majapahit yang terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Maka tamatlah
riwayat Kerajaan Hindu-Majapahit dan digantikan perannya oleh Kerajaan Demak
yang menyebarkan Islam ke tanah Jawa. Akhirnya tercapailah cita-cita agung para
auliya di Pasai untuk menaklukkan Kerajaan Hindu terbesar oleh kader terbaiknya
Maulana Rahmat dan murid-muridnya.

Sunan Giri: Dari Pasai Melanjutkan Islamisasi Tanah Jawa


Perkawinan Sayyid Ibrahim bin Sayyid Hussein Jamadil Kubra dengan Putri
Jeumpa di Pasai bernama Candra Wulan telah melahirkan dua orang putera yang
menjadi Ulama besar di Kerajaan Islam Pasai, yaitu Maulana Sayyid Rahmatillah yang
di tanah Jawa terkenal dengan Raden Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel yang menjadi
pemimpin utama Wali Songo di tanah Jawa. Yang satunya bernama Maulana Sayyid
Ishaq yang menjadi Ulama dan penasihat utama Sultan Pasai di zaman Sultan Zainal
Abidin dan Sultan Salahuddin. Beliau adalah juga sekaligus ayahanda dari Raden
Paku atau di tanah Jawa di kenal dengan Sunan Giri, salah satu anggota Wali Songo
yang sangat berperanguh di tanah Jawa.
Jadi Sunan Giri adalah anak keponakan dari Maulana Rahmatillah atau Sunan
Ampel yang menjadi pemimpin dan penggerak utama gerakan dakwah Islamiyah

80
yang terkenal dengan Wali Songo dan telah berhasil mendirikan Kerajaan Islam
Demak yang meruntuhkan dominasi Kerajaan Hindu Majapahit. Nama asli Sunan Giri
adalah Maulana Ainul Yakin, yang lahir dan dibesarkan di Kerajaan Pasai, karena
ayahandanya Maulana Ishaq adalah tokoh dan Ulama besar di Kerajaan Islam Pasai.
Namun menurut Babat Tanah Jawi, Maulana Ainul Yakin atau Sunan Giri lahir di
tanah Jawa dari perkawinan Maulana Ishaq dengan Puteri Raja Blambangan.
Walaupun beliau lahir di Jawa, namun ayahanda beliau, Maulana Ishaq adalah bagian
dari Kerajaan Pasai yang tengah mengatur startegi menaklukkan Kerajaan Hindu-
Majapahit dan mempersiapkan berdirinya Kerajaan Islam di Jawa.
Adapun silsilah keturunan Maulana Ainul Yakin (Sunan Giri) adalah : Maulana
Ainul Yakin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq bin Sayyid Ibrahim bin Jamaluddin Al-Husain
(Sayyid Hussein Jamadil Kubra ) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin
Alawi Amal Al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin ‘Ali Khali’ Qasam bin Alawi bin
Muhammad bin Alawi bin Al-Syeikh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin ‘Isa Al-Rumi
bin Muhammad Naqib bin ‘Ali Al-Uraidhi bin Jaafar As-Sadiq bin Muhammad Al-Baqir bin
‘Ali Zainal Abidin bin Al-Hussein bin Sayyidatina Fatimah (Sayyidina Ali bin Abi Thalib)
binti Rasulullah SAW.
Sunan Giri atau Maulana Ainul Yakin mendapat pendidikan di pesantren yang
dipimpin oleh pamannya Maulana Rahmatillah (Sunan Ampel) di Ampel Denta
Surabaya bersama-sama dengan para calon wali dan sultan di tanah Jawa. Menurut
beberapa catatan sejarah, pesantren Ampel Denta bukan hanya mengajarkan pelajaran
agama saja kepada para santrinya, tapi termasuk ilmu-ilmu duniawi, seperti ilmu
perang, ilmu pemerintahan, bahkan sampai kepada ilmu batin yang berlandaskan
pada ajaran Islam, yang juga dikenal dengan ilmu tasawwuf atau ilmu mistik. Karena
para wali akan berhadapan dengan pemuka-pemuka Hindu yang terkenal dengan
ilmu sihirnya. Di tanah Jawa ilmu ini dikenal dengan ilmu karamah yang akan
didapatkan oleh para wali untuk mengalahkan ilmu sihir, sebagaimana Nabi Musa as
mengalahkan ahli sihirnya Fir’aun.Itulah sebabnya setiap wali memiliki karamah
sendiri-sendiri yang telah dianugrahkan Allah SWT kepada mereka.
Menurut Babat Tanah Jawi, setelah Maulana Ainul Yakin belajar di Ampel Denta
pernah kembali ke negeri Pasai untuk melanjutkan pelajaran keislaman tingkat
tingginya kepada ayahandanya Maulana Ishaq dan beberapa Maulana dan Ulama
yang berada di Kerajaan Islam Pasai. Setelah beberapa tahun belajar di lembaga
pendidikan Islam Pasai, beliau berniat untuk melanjutkan pelajaran ke Mekkah,
namun disarankan ayahandanya yang juga guru serta ulama terkemuka Kerajaan
Pasai, Maulana Ishaq agar segera pulang kembali ke tanah Jawa. Maka setelah
mendapat bekal pengetahuan yang memadai, Maulana Ainul Yakin kembali ke Ampel
Denta untuk membantu perjuangan pamannya Maulana Rahmatillah dalam
menggerakkan dakwah Islamiyah kepada masyarakat Jawa yang masih kental
berpegang kepada ajaran Hindu. Dan sejak saat itu Maulana Ainul Yakin belajar dan
mengajar kembali di Ampel Denta Surabaya.

81
Setelah mendapat pendidikan dan bekal pengetahuan yang cukup di pesantren
Ampel Denta, maka Maulana Rahmatillah mengirim keponakan sekaligus muridnya,
Maulana Ainul Yakin ke wilayah yang berdekatan dengan Kerajaan Majapahit, di
suatu tempat yang bernama Giri. Maka sejak saat itu Maulana Ainul Yakin, anak
daripada Maulana Ishaq salah seorang ulama besar Kerajaan Pasai, mendapat gelar
sebagai Sunan Giri. Beliau mengajar dan mengembangkan ajaran Islam kepada
penduduk yang masih banyak memeluk agama Hindu. Dakwahnya seringkali
dihalang-halangi oleh para pengikut Hindu yang didukung oleh Kerajaan Majapahit
ataupun lainnya. Itulah sebabnya para wali senantiasa memusatkan perhatian agar
segera mendirikan sebuah kerajaan Islam sebagai patron dakwah Islamiyah di tanah
Jawa.
Sunan Giri termasuk anggota Wali Songo yang berperan aktif menggerakkan
dakwah Islamiyah kepada masyarakat Jawa, sehingga pengikutnya sangat banyak dan
memiliki pengaruh luas yang membuat Prabu Brawijaya Maha Raja Majapahit
bimbang. Dalam buku Babat Tanah Jawi diceritakan sebuah kisah tentang ketakutan
Raja Majapahit terhadap Sunan Giri dalam sebuah judul : Runtuhnya Majapahit.
Sang Raja Brawijaya mendengar kabar, bahwa banyak orang takluk kepada Sunan Giri.
Patih Gajah Mada (?) diutus mendatangi Sunan Giri. Orang-orang di sana geger. Waktu itu
Sunan Giri sedang menulis, terkejut mendengar berita didatangi musuh, bermaksud merusak
Giri. Alat tulis yang digunakan untuk menulis lalu dibuang serta berdoa kepada Allah. Kalam
(alat tulis) yang dibuang tadi lalu menjadi keris dan dapat mengamuk sendiri. Orang-orang
dari Majapahit banyak yang tewas. Sisanya lari pulang kembali ke Majapahit.
Kebenaran cerita Babad ini, hanya Allah yang tahu. Namun tidak diragukan
bahwa Sunan Giri adalah salah seorang Wali Allah yang berjuang menegakkan Islam
di tengah-tengah masyarakat mayoritas Hindu yang didukung oleh sebuah Kerajaan
besar dan kuat dengan tentara yang banyak. Persis seperti ketika Nabi Musa as
menghadapi Fir’aun. Maka pada saat seperti itu karamah dan bantuan Allah akan
turun kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Namun Sang Sunan dengan gerakan
Wali Songo bukan hanya sibuk berdakwah dan berdoa saja, tapi bahkan beliau juga
menjadi panglima perang yang gagah perkasa dalam melawan tentara-tentara Hindu
Majapahit ataupun Kerajaan-Kerajaan Hindu lainnya seperti Kerajaan Daha,
Blambangan dan Pajang.
Setelah memiliki pengikut yang banyak, maka Sunan Ampel bersama dengan
para Wali, termasuk Sunan Giri mempersiapkan pendirian sebuah Kerajaan Islam di
tanah Jawa. Daerah yang dipilih sebagai pusat Kerajaan Islam adalah di Demak
Bintaro, sebuah tanah subur di sebelah barat Surabaya. Maka atas dukungan para
Raden dan masyarakat Islam di seluruh tanah Jawa, Wali Songo memproklamirkan
berdirinya Kerajaan Islam Demak yang dipimpin Raden Fatah pada tahun 1481 M.
Sejak saat itu dakwah Islamiyah di tanah Jawa sudah memiliki pelindung yang kuat,
sehingga para juru dakwah dan ulama dengan bebas dapat menjalankan misi
pengembangan agamanya. Demikian pula Kerajaan Demak dengan dukungan dari

82
para wali telah mengadakan ekspansi besar-besaran untuk menaklukkan kerajaan-
kerajaan Hindu lainnya di tanah Jawa sehingga agama Islam tersebar luas.
Prestasi terbesar Kerajaan Islam Demak yang sekaligus merupakan jaringan
dari Kerajaan Islam Pasai adalah keberhasilannya meruntuhkan Kerajaan Majapahit
sebagai patron terbesar agama Hindu. Kehadiran dan perkembangan Kerajaan Demak
yang mendapat dukungan dari para Wali Songo yang dipimpin Sunan Ampel
(Maulana Rahmatillah) telah menimbulkan perpecahan di kalangan Kerajaan
Majapahit, yang akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang dengan mudah dapat
ditaklukkan oleh kekuatan Demak. Selanjutnya Demak menggantikan peranan
Kerajaan Majapahit sebagai Kerajaan yang menguasai tanah Jawa, namun dengan
berdasarkan ajaran Islam.
Sunan Giri atau Maulana Ainul Yakin bin Maulana Ishaq adalah seorang Wali
dan Ulama Ahlul Bayt yang mengikuti tradisi nenek moyang mereka dalam
menyebarkan agama Islam walau sampai ke hujung dunia sekalipun. Tradisi Ahlul
Bayt yang telah melahirkan Kerajaan-Kerajaan besar Islam di seluruh dunia, termasuk
di Aceh seperti Kerajaan Jeumpa yang didirikan Shahrianshah Salman ataupun
Kerajaan Perlak oleh Maulana Sayyid Abdul Aziz Syah.. Tradisi yang telah melahirkan
pengorbanan Sayyidina Husein dalam menentang kezaliman penguasa dan
menegakkan kebenaran Islam. Tradisi pengorbanan untuk kepentingan Islam dan
ummatnya yang terus mengalir kepada generasi sesudahnya, sebagai garda terdepan
Islam sebagaimana disebutkan sebuah Hadits riwayat Muslim: Rasulullah saw
bersabda :Berpengteguhlah kepada Kitab Allah (al-Qur’an dan Sunnah) dan itrah-ku
(keturunanku), niscaya engkau tidak akan tersesat selamanya.
Perintah agama inilah yang telah mendorong Maulana Ainul Yakin (Sunan Giri)
dan juga para wali dan ulama ahlul bayt lainnya melanglang buana, meninggalkan
tanah leluhurnya, baik generasi awal di tanah Arab ataupun tanah Persia dan India
sehingga mereka sampai di bumi Aceh, termasuk di Kerajaan Islam Pasai. Generasi
selanjutnya, seperti Maulana Rahmatillah dan Maulana Ainul Yakin dituntut pula
untuk meninggalkan tanah kelahirannya di Pasai yang sudah maju dan makmur
menuju tanah Jawa yang penuh dengan kekafiran dan kemusyrikan. Namun tugas
agama yang mereka emban untuk menyelamatkan umat manusia telah mendorong
mereka berhijrah ke tanah Jawa mengembangkan ajaran Islam. Inilah jalan hidup dan
perjuangan yang telah mereka wirisi turun termurun sebagai kewajiban agama yang
wajib ditegakkan.
Perjuangan dakwah Islamiyah yang dilakukan oleh Sunan Giri lebih mudah
dan leluasa jika dibandingkan dengan para pendahulunya seperti saudara kakeknya
Maulana Malik Ibrahim ataupun pamannya Maulana Rahmatillah yang telah merintis
Islamisasi di tanah Jawa. Karena pada zaman Sunan Giri, Kerajaan Islam Demak sudah
ada yang menjadi patron dakwah Islamiyah, yang akan memudahkan langkah
perjuangannya menyebarkan ajaran Islam. Demikian pula masyarakat Jawa sudah
banyak yang memeluk agama Islam. Selanjutnya Maulana Ainul Yakin

83
mengembangkan kota Giri sebagai sebuah pusat pendidikan dan dakwah Islamiyah
yang cukup maju di Jawa sebagai kelanjutan dan jaringan perjuangan para
pendahulunya di pesantren Ampel Denta Surabaya ataupun kelanjutan dari misi
Kerajaan Islam Pasai sebagai penaung utama gerakan Islamisasi di seluruh Nusantara.
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, Sunan Giri adalah seorang Wali yang
memiliki banyak sekali karamah dan keutamaan sehingga masyarakat yang tadinya
beragama Hindu berbondong-bondong masuk Islam. Bahkan setelah beliau wafatpun
karamahnya masih tetap ada sebagaimana dikisahkan dalam Babat Tanah Jawi;
Sesudah beberapa waktu lamanya, Sunan Giri meninggal dunia........ Prabu Brawijaya
lalu memerintahkan kepada Gajah Mada (?) bersama para putranya untuk merebut Giri.
Sunan Prapen (cucu Sunan Giri) menghadapi bala tentara Majapahit itu, tetapi kalah..... Putra
Mahkota Majapahit pergi ke makam sunan yang sudah lama meninggal. Lalu memerintahkan
untuk membongkar makam itu. Bala-tentara Majapahit segera bekerja membongkar makam,
tetapi mereka semua jatuh terkapar. Penjaga makam yang pincang diperintah untuk
menggali..... Setelah tanah kuburan sudah dibongkar, papan tutup peti mati lalu dibuka. Lebah
yang tak terkira banyaknya keluar dari dalam kuburan, naik memenuhi angkasa. Suaranya
gemuruh seperti langit runtuh. Lebah-lebah itu lalu menyerang bala tentara Majapahit, mereka
lari tunggang langgang mencari hidup.Sampai di kerajaan Majapahit, lebah itu masih
mendesak. Prabu Brawijaya beserta bala tentaranya meninggalkan kota, mengungsi jauh
karena tidak mampu menolak desakan lebah tersebut.Lebah itupun kembali ke asalnya dan
Prabu Barawijaya berjanji dan berniat tidak akan berbuat jahat lagi terhadap sunan di Giri.

Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit


Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang dibenci dan dicaci
sedemikian hebatnya, selain Raden Fatah (Raden Patah) yang dituduh sebagai anak
durhaka yang melawan orang tua dan menentang tradisi Hindu nenek moyangnnya,
bahkan dituduh meruntuhkan kehebatan peradabannya sendiri di Kerajaan Majapahit
yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Hindu. Raden Fatah dianggap
bertanggung jawab bersama para Wali Songo mengubur peradaban Hindu-Jawa yang
diangung-agungkan selama berabad-abad dan menggantikannya dengan tradisi dan
peradaban Islam. Itulah sebabnya pribadi agung ini senantiasa difitnah dan
didiskreditkan, bahkan segaja disamarkan sejarah hidupnya yang agung dan mulia,
dituduh sebagai anak haram dan durhaka oleh mereka yang dendam terhadap
keberhasilan proses Islamisasi tanah Jawa.
Sebenarnya Raden Fatah adalah anak dari Maha Raja Majapahit Brawijaya V.
Menurut Babat Tanah Jawi, ibunya adalah seorang puteri yang berasal dari Cina yang
sangat cantik dan menjadi istri dari Prabu Brawijaya V, sehingga menimbulkan
kecemburuan Permaisuri Kerajaan yang berasal Cempa (Jeumpa) bernama Darwati
(Dharawati). Ketika sedang hamil, putri Cina tersebut diusir dari Istana Majapahit atas
permintaan Permaisuri, diberikan kepada Aria Damar di Kerajaan Palembang, dan
Raden Patah lahir di Palembang. Namun cerita Babat ini perlu dikritisi kebenarannya.

84
Permaisuri Prabu Brawijaya V yang dikatakan berasal dari Cempa, bernama
Darwati (Dharawati), sebenarnya adalah Puteri Jeumpa dan seorang Muslimah yang
taat, seorang wanita pejuang dari Pasai yang dikirim oleh Maulana Malik Ibrahim dan
para Wali di Pasai untuk memberikan jalan kepada dakwah Islamiyah di Kerajaan
Majapahit. Wanita mulia ini rela berpisah dari sanak saudaranya dan berjuang di
garda terdepan masyarakat Hindu-Majapahit, meninggalkan kepentingan pribadinya
demi untuk pengembangan dakwah Islamiyah. Apakah wanita agung ini memiliki
akhlak yang buruk dan perangai jahat sehingga rela mengusir saudaranya sendiri,
apalagi Puteri Cina itu juga diketahui seorang Muslimah?
Disinilah kejanggalan cerita Babat Tanah Jawi yang ditulis oleh cendekiawan
Jawa ini.Bahkan sudah masuk kepada dataran fitnah terhadap seorang Muslimah
pejuang agung Puteri Jeumpa Darwati yang memang diketahui memberikan
dukungan terhadap Islamisasi Majapahit dan perlindungan terhadap para pendakwah
Islam dari Pasai yang menyebarkan Islam. Wanita agung ini adalah saudara ibunda
Maulana Rahmatillah (Raden Rahmat/Sunan Ampel), beliaulah juga yang
mengundang dan memberikan dukungan kepada Sunan Ampel ini berdakwah ke
tanah Jawa. Putri Jeumpa Darwati adalah kerabat dan kader Kerajaan Islam Pasai yang
ditugaskan untuk memberikan jalan kepada proses Islamisasi Majapahit, atau minimal
mencegah ambisi Majapahit untuk menyerang Kerajaan Pasai. Tidak mungkin seorang
Muslimah yang sudah mengedepankan kepentingan Islam akan berbuat keji seperti
itu.
Itulah sebabnya, sejarah yang dikemukakan Babat Tanah Jawi, yang menjadi
referensi utama masyarakat Jawa harus ditelaah ulang karena mengandung banyak
sekali kejanggalan. Yang menjadi pertanyaan, kenapa dan bagaimana Raden Patah
dapat menjadi murid utama dan menantu dari Sunan Ampel, darimanakah hubungan
ini? Apakah ini terjadi dengan sendirinya dan apa hubungannya dengan grand
strategi para Wali Pasai dalam menaklukkan Kerajaan Majapahit?
Jika memang benar puteri Cina yang tidak jelas identitasnya itu telah
melahirkan Raden Patah, maka Permaisuri Darwati adalah diantara orang yang telah
merancang kepergian puteri Cina ini dari Majapahit menuju Kerajaan Islam
Palembang mitra dari Kerajaan Islam Pasai saat itu, karena disana sudah ada
keponakannya Maulana Rahmatillah yang menjadi Ulama. Sebagaimana diketahui
bahwa masyarakat Jawa sangat patuh kepada Rajanya yang mereka anggap titisan
para Dewa. Untuk menaklukkan Majapahit secara totalitas, harus digerakkan oleh
keturunan dari Maha Raja Majapahit sendiri. Itulah sebabnya sebelum lahir putra
mahkota ini, diungsikan ke Kerajaan Islam dengan harapan akan lahir dan besar
sebagai seorang Muslim. Maka Raden Patahpun lahir di Palembang dan menjadi
seorang Muslim yang taat serta berguru kepada Maulana Rahmatillah (Sunan Ampel),
dan menjadi murid setianya yang ikut ke Ampel Denta Surabaya.
Menurut sumber lain, Raden Patah sebenarnya memiliki hubungan dengan
Sunan Ampel dan juga para Wali Songo, sehingga mendapat kedudukan yang mulia

85
dan terhormat di kalangan mereka. Bahkan Raden Patah dijadikan menantu oleh
Maulana Rahmatillah. Itulah sebabnya ada yang menghubungkan bahwa sebenarnya
yang dikatakan sebagai Puteri Cina itu adalah Puteri Jeumpa (Campa) Darwati sendiri.
Karena sejarah hidup Putri Darwati yang menjadi Permaisuri Majapahit tidak banyak
ditulis di Jawa, termasuk di Babat Tanah Jawi. Kisah hidup dan perjuangannya menjadi
misterius dan tidak dikenal luas oleh masyarakat Jawa. Itulah sebabnya kemudian ada
ahli sejarah yang menghubungkan bahwa Puteri Cina itu adalah Puteri Darwati yang
berasal dari Cempa (Jeumpa). Apalagi di banyak manuskrip Jawa, istilah Cempa
sering diidentikkan dengan Cina.
Ketika kecil, Raden Patah juga dikenal dengan nama Pangeran Jin Bun, sebuah
nama Cina, yang kemudian mengelirukan banyak orang tentang asalnya dari Cina.
Boleh saja nama ini adalah nama panggilan atau nama samaran untuk menghindar
dari hasad orang-orang Majapahit yang percaya kepada ramalan bahwa Majapahit
akan diruntuhkan oleh salah seorang keturunan Majapahit sendiri, sebagaimana
disebutkan Babat Tanah Jawi.
Raden Patah mendapat pendidikan dari Maulana Rahmatillah dan para ulama
di Kerajaan Islam Palembang sebelum beliau hijrah ke tanah Jawa. Ketika Maulana
Rahmatillah sudah mendirikan pesantren di Ampel Denta Surabaya, Raden Patah ikut
menyusul ke tanah Jawa dan tinggal di Ampel Denta berguru kepada Maulana
Rahmatillah atau Sunan Ampel. Setelah memiliki pengetahuan yang memadai, Raden
Patah diperintahkan gurunya untuk mengembangkan dakwah Islamiyah ke sebelah
barat, kawasan hutan dan tanah subur yang bernama Bintara. Di daerah ini Raden
Patah mendirikan pesantren dan mengajarkan Islam, banyak masyarakat yang
memeluk Islam dan tinggal bersamanya sehingga Bintara menjadi ramai dan
berkembang menjadi kota baru.
Babat Tanah Jawi menceritakan perkembangan Bintara: Prabu Brawijaya
mendengar berita bahwa ada orang yang bertempat tinggal di hutan Bintara, terkenal di mana-
mana tentang kebesaran pedukuhan dan kesaktiannya. Raja memanggil para menteri untuk
menanyakan benar-tidaknya kabar itu. Adipati Terung memang benar adanya berita itu. Sang
Prabu lalu memerintahkan untuk memanggilnya……Raden Patah segera berangkat ke
Majapahit. Sang Prabu sangat gembira, jatuh hatinya kepada Raden Patah sebab rupanya
sangat mirip sang Prabu. Lalu diakui sebagai putra, diangkat menjadi adipati Bintara, serta
diberi abdi sepuluh ribu orang….. Lama-lama pedukuhan Bintara (Demak) menjadi semakin
gemah-ripah (makmur-sejahtera).
Setelah memiliki pengikut yang banyak, maka sudah saatnya para Wali dan
pengikutnya untuk mendirikan sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa sebagai
pendukung gerakan dakwah Islamiyah dan sekaligus menjaga Islam dan pengikutnya
dari gangguan Kerajaan Hindu, terutama Majapahit. Karena Bintara yang dipimpin
Raden Patah telah berkembang pesat, maka para Wali memutuskan untuk mendirikan
kerajaan Islam di Bintara, yang dinamakan dengan Kerajaan Islam Demak, sebagai
Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dan mengangkat Raden Patah sebagai Sultan

86
Kerajaan Islam Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah pada tahun 1481 M.
Selanjutnya Kerajaan Islam Demak menjadi patron kepada Islamisasi di pusat
kekuasaan Kerajaan Hindu terbesar dan termegah, Majapahit. Berdirinya Kerajaan
Demak telah melemahkan Majapahit yang terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan
kecil.
Tentang keruntuhan Majapahit, Babat Tanah Jawi dalam Runtuhnya Majapahit,
menceritakan bagaimana proses runtuhnya kerajaan Hindu terbesar di tanah Jawa
tersebut akibat dari penyerangan yang dilakukan oleh para Wali dan Sultan Demak.
Diceritakan bahwa seluruh kaum muslimin dari penjuru Jawa telah berkumpul di
Bintara-Demak dengan kekuatan yang sangat besar. Lalu mereka berangkat menuju
pusat Kerajaan Majapahit. Semuanya lalu bersama berangkat ke Majapahit. Banyaknya
barisan tak terhitung. Kota Majapahit dikepung. Orang Majapahit banyak takluk kepada
adipati Bintara, tak ada yang berani menyambut perang…Dikisahkan selanjutnya Prabu
Brawijaya meninggalkan istana dan Kerajaan Majapahit akhirnya takluk dan runtuh
oleh Kerajaan Islam Demak.
Keruntuhan Majapahit oleh Kerajaan Islam Demak, telah mengakhiri kejayaan
Kerajaan Hindu di tanah Jawa. Sejak saat itu pusat kekuasaan di tanah Jawa telah
beralih dari Kerajaan Majapahit ke Kerajaan Islam Demak. Islamisasi di tanah Jawa
terus dijalankan oleh para Wali dan murid-muridnya yang mendirikan banyak
pondok pesantren di seluruh tanah Jawa. Sejak berdirinya Kerajaan Islam Demak,
maka telah berdiri pula kerajaan-kerajaan Islam lainnya di tanah Jawa yang berafialiasi
ke Kerajaan Demak. Pada saat yang sama, hubungan antara Kerajaan Demak dengan
Kerajaan Palembang, dan khususnya dengan Kerajaan Islam Pasai semakin erat.
Karena para petinggi, khususnya para Sunan yang memegang kendali spiritual di
Kerajaan Demak adalah anak dan cucu dari para petinggi dan ulama di Kerajaan Pasai.
Akhirnya memang tidak dapat dibantah bahwa Kerajaan Islam Pasai telah
memiliki peran sentral dalam mengembangkan dakwah Islamiyah di Nusantara,
terutama dalam melahirkan gerakan para Wali yang telah mendirikan Kerajaan Islam
dan meruntuhkan dominasi Kerajaan Hindu-Majapahit. Maka tidak berlebihan jika
dikatakan bahwa Raden Patah adalah ujung tombak Kerajaan Islam Pasai melalui Wali
Songo dalam meruntuhkan Kerajaan Hindu-Majapahit yang telah menyerang Pasai
sebelumnya.

87
88
1
Ma Huan, Ying-yai Sheng-lan, terj. JVG.
Mills. Hakluyt Society, 1970, hal. 120.
2
W.P. Groeneveldt, Historical Notes on
Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source, Jakarta: Bharata, 1960, hal. 209
3
Rihlah Ibnu Batutah, Kairo, 1322 H, II, hal.
185-187 dan 209-210.
4
Lihat : TD. Situmorang, Sejarah Melayu.
hal. 65-66. T. Ibrahim Alfian (ed). Kronika Pasai, hal.100. Muhammad Yamin, Gajah Mada,. hal. 60.
5
TD. Situmorang, hal. 168-173.
6
Rihlah Ibn Batutah. hal. 187
7
JJ. Meinsma,. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. S'Gravenhage, 1903
8
Sir Thomas Stamford Raffles, The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism.
Published by John Murray, Albemarle-Street. 1830. Vol II, 2nd Ed, Chap X, hal. 74. 122
9
A.H. Johns, “Islam in Southeast Asia: Reflections and New Directions”, Indonesia, Cornell Modern Indonesia
Project, 1975, no.19 (April). Hal. 8
10
TD. Situmorang dan A. Teeuw, Sejarah Melayu, op.cit. hal. 168-173