Anda di halaman 1dari 11

KEDOKTERAN NABI, AL-THIBB AL-NABAW (MEDICINE OF THE PROPHET)1 Oleh Saharawati Mahmouddin PENGANTAR Ilmu kedokteran (`Ilm al-thibb)

adalah suatu keahlian yang mempelajari tentang tubuh manusia dari segi sakit dan sehat, serta hal-hal yang terkait dengannya. Dan hasilnya ialah memelihara kesehatan orang sehat, serta menolak penyakit pada orang yang sakit.2 Dalam sejarahnya, ilm al-thibb merupakan ilmu yang sudah eksis terdapat pada orang Arab dan tidak ditemukan pada orang-orang pra-Arab; ia diambil dari pengalaman orang-orang Umm (tajrib al-Ummiyyn) atau orang orang Baduwi, dan tidak dibangun berdasarkan ilmu-ilmu tabiat yang telah ditetapkan oleh para pendahulunya.3 Dalam konteks inilah, `ilm al-thibb muncul dalam syariat, namun dalam bentuk global (`al wajhi jam`i-n syfi-n), dan hanya sedikit yang tampak sebagai ajaran atau prinsip kesehatan. Prinsip-prinsip ini terdapat seperti firman Allah tentang perintah makan dan minum dan larangan berlebih-lebihan dalam keduanya (baca QS. al-A`rf: 31) dan juga dalam hadis tentang pengenalan beberapa obat-obatan, seperti madu, yang bermanfaat untuk sebagian penyakit, serta menolak obat yang dikategorikan terlarang, seperti berobat dengan khamr dan jampi-jampi yang memuat hal-hal yang tidak diperkenankan syara`. 4

1 Bahan Kuliah disampaikan pada perkuliahan di Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, September 2008. 2 Lihat Ibnu Khaldn, al-Muqaddimah: Ibn Khaldn, terj. Ahmadie Toha, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005), h. 475, dan 675. 3 Lihat al-Sythib, al-Muwfaqt f Ushl al-Syar`ah, Editor, `Abdullh Darrz (Beirut: Dr al-Kutub al-`Ilmiyyah, 2003), jilid I, h. 54-57. Bandingkan dengan Ibnu Khaldn, al-Muqaddimah, h. 677. 4 Lihat al-Sythib, al-Muwfaqt, h. 54-57, dan Achmad `Aly MD, Islam itu Sehat: Syari`ah dan Ghairah Kesehatan (Jakarta: CePDeS, 2008), h. 96-97.

PENGERTIAN Thibb al-Nabaw Islam di samping sebagai petunjuk bagi semua faset kehidupan manusia, juga menaruh perhatian yang besar kepada prinsip-prinsip umum kedokteran dan higiene (kebersihan). Beberapa ayat al-Quran ada yang membahas masalah medis yang sifatnya masih sangat umum; ada pula ucapan Rasul yang banyak berhubungan dengan kesehatan, penyakit, higiene dan masalah lain yang terkait dengan bidang kedokteran, antara lain penyakit kusta, radang selaput dada (pleuritis) dan radang mata (ophtalmia); pengobatannya dianjurkan dengan dibalut, dibakar dan memakai madu. Kumpulan ucapan Nabi tentang hal medis ini disusun secara sistematis oleh penulis Muslim kemudian dan dikenal sebagai Thibb al-Nab (kedokteran Rasul/Nabi). Bagian awal kumpulan hadis Nabi riwayat al-Bukhr, jilid ke-4, merupakan salah satu sumber yang paling dapat dipercaya dan terdiri dari 2 buku dengan 80 bab; ditemukan ucapan Nabi tentang penyakit, pengobatan, orang sakit dan lain-lain. Di samping itu terdapat juga buku-buku medis yang bersifat religius, terutama karya medis yang dianggap berasal dari imam ke-6 Sy`ah, Ja`far al-Shadiq.5 Hadis-hadis di atas, karena termasuk semua ucapan Rasul, merupakan panduan bagi kehidupan Muslim yang taat, meskipun secara eksplisit tidak memuat sistem kedokteran, tetapi mempunyai peranan penting dalam menentukan suasana umum lingkungan praktek kedokteran Islam. Petunjuk ini diikuti oleh tiap generasi Muslim selanjutnya dalam waktu berabad-abad lamanya; di mana banyak mengarahkan tentang kebiasaan berdiet dan higiene kaum Muslim. Di samping itu kedokteran Nabi juga merupakan buku pertama yang dipelajari oleh mahasiswa kedokteran sebelum ia memulai tugasnya untuk menguasai ikhtisar sains medis yang biasa. Jadi buku kedokteran Nabi ini selalu memegang peran penting dalam membentuk kerangka pemikiran calon dokter dalam usaha studi medis.6
5 Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam, (New York, Toronto, dan London: A Plume Book from New American Library, 1970), h. 192. 6 Nasr, Science and Civilization in Islam, h. 192-193.

Dengan demikian, kedokteran Nabi secara sederhana didefinisikan sebagai kumpulan ucapan Nabi tentang hal medis yang disusun secara sistematis oleh penulis Muslim kemudian. Ada suatu pemahaman yang mendefinisikan kedokteran Nabi (al-Thibb alNabawi) sebagai usaha medis untuk menyembuhkan (medical treatments) dari berbagai penyakit, serta menjaga dan mempromosikan kesehatan berikut aspekaspek spiritual yang dianjurkan Nabi kepada para sahabatnya. Apa saja yang tidak berasal dari Nabi, tidak dianggap sebagai kedokteran Nabi. Menurut mazhab pemikiran (aliran kalm) di atas, sikap ini terjadi karena adanya pengertian, bahwa melaksanakan al-Tibb al-Nabaw, , adalah bagian dari mengikuti sunnah Nabi S.a.w., karena itu, mereka yang mengikuti metode-metode pengobatan yang lain, dianggap tidak mengikuti sunnah Nabi dan mungkin juga ajaran Islam.7 Dalam tradisi Islam tampak bahwa penafsiran tentang kedokteran Nabi itu, hampir tidak berpegang pada pemaknaan yang benar tentang konsep kesehatan dan kedokteran. Dalam sejarah tentang studi-studi medis Islam, secara signifikan ditemukan beberapa komentar (syarah) kitab Shahh al-Bukhar yang populer, Fath al-Br Syarh Shahh al-Bukhar karya Ahmad bin `Al Ibn Hajr al7 al-Sunnah atau al-Hadts (j. ahadits), menurut kalangan Muhadditsn, dibagi kepada tiga bagian: al-qawliyyah, tradisi-tradisi yang merupakan statement-statemen dan ucapan (sabda) Nabi; kedua al-filiyyah yaitu tradisitradisi yang diturunkan dari perbuatan-perbuatan Nabi, dan ketiga, altaqrriyyah (tradisi-tradisi berupa persetujuan diam), berasal dari adanya pendiaman Nabi atau pengakuannya terhadap perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan pengetahuannya. Koleksi hadis secara resmi dimulai dengan instruksi Khalifah Umayah, Umar Ibn Abdul `Aziz (d. 101/720), pertama kali pada masa Abu Bakr b. Muhammad b. Amr b. Hazm, al-Zuhri dan lainnya untuk mengumpulkan hadis Nabi s.a.w. al-Zuhri adalah orang pertama yang merekam hadis. Kemudian, pada abad ke-3 Hijrah, para ulama hadis mencurahkan hidup dan energinya dalam sinaran hadis untuk menguji para perawi dan menjaga otentisitas mereka dalam menyiapkan hadi-hadis Nabi s.a.w. Dari pertengahan hingga akhir abad ke-3 H, terdapat beberapa koleksi hadis. Koleksi-koleksi ini dikenal dengan koleksi sembilan kitab hadis yang lengkap, yaitu yang dinisbatkan pada Imam Bukhari (d. 256/ 870), Imam Muslim (d. 261/875), Abu Daud (d. 275/888), al-Tirmidhi (d. 279/892), al-Nisai (d. 303/915), Ibn Majah (d. 273/886) dll. (Selengkapnya, lihat M.M. Azami, Studies in Early Hadith Literature (Indiana: American Trust Publications, 1978); M. Hamidullah, Early Compilation of Hadith, Islamic Review, May, 1949), dikutip dalam http://www.e-imj.com/Vol3-No2/Vol3-No2-E1.htm 3

`Asqaln (w. 852/1449) dan `Umdat al-Qri Syarh Shahh al-Bukhar karya Ab Muhammad Mahmd Ahmad al-`Ain (w. 855/1452). Keduanya hidup pada saat literatur medis tersebar luas dan muncul bersamaan dengan seluruh ilmu disiplin lain; mereka ini khusus membahas tentang pengertian medis. Mungkin akibat konsekuensi dari pembacaan terhadap literatur-literatur hadis, mereka berpendapat bahwa kedokteran Nabi, sebagaimana halnya ilmu kedokteran yang lain sangatlah luas (umum), yakni, bukan hanya merujuk pada hal-hal yang telah disabdakan dan dipaktekkan pada masa Nabi, namun juga berkembang dan mencakup setiap lapangan penelitian kedokteran, aktifitas dan pemikiran manusia pada semua zaman. Untuk memahami ilmu kedokteran, seseorang harus mengetahui masalah dan penyebab yang jelas dari suatu penyakit, lalu, harus berusaha memecahkannya dengan mengambil nasehat hadis-hadis Nabi S.a.w., serta menghubungkannya dengan ilmu kedokteran, baik melalui buku-buku kedokteran kuno maupun yang bersifat kontemporer dan di samping itu kedokteran Nabi tersedia pada saat sistem kedokteran diperkenalkan dan dipraktekkan secara luas oleh kaum Muslimin. Dalam pengertian umum, Ibn Hajr dan Ibn Ahmad al-`Ain sangat konsisten dalam memberikan cakupan terhadap kedokteran Nabi, khususnya ketika mereka menemukan bahwa Imam Bukhr lebih memilih untuk memberi nama salah satu bagian dari kitabnya (j. kutub, m. kitb) sebagai kitb al-thibb (buku kedokteran) dari kitb al-thibb al-nabaw (buku kedokteran Nabawi).8 Dengan memberikan pemaknaan ini, mereka mengklarifikasi kata al-thibb dalam perspektif linguistik dan medis. Ibn Hajr, berpendapat bahwa kata thibb dalam bahasa Arab digunakan untuk menunjuk arti al-hadhaq bi al-syai`
8 Kitb al-Thibb nya Sahih Bukhari (194-256/ 810-870) terdapat dalam kitab yang ke-76, yang terdiri dari 58 bab dengan 104 hadis. Judul setiap bab menampilkan gambaran dan muatan hadis-hadis yang membahas kedokteran dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Ini menunjukkan karya imam Bukhari sangat luas pengetahuan kesehatan dan kedokteran sebagaimana yang dipraktekkan pada masa Nabi s.a.w dan setelahnya. Jadi, kita memahami bahwa kedokteran Nabi itu bukan hanya otentisitasnya yang menjadikan koleksi partikular ini semakin diminati oleh sarjana-sarjana Muslim, tetapi juga peran vitalnya dalam pengembangan konsep kesehatan, kedokteran, perawatan dan penyembuhan penyakit yang relevan dengan masa ini.

(pengetahuan sempurna tentang sesuatu dan skill atau keahlian mengerjakannya); sehingga mereka yang memiliki kemampuan mengobati penyakit Thabb.9 Kata thibb juga berlaku untuk arti yang lain seperti merubah, memperbaiki (memulihkan), mengatur, memperbaiki, membenarkan, seperti halnya jasa (kebaikan hati, kindness), keahlian (expertise), kebijaksanaan (judiciousness), kemahiran/keterampilan (skillfulness), kepanjangan akal daya (resourcefulness) dan kompetensi (competence), kedewasaan (maturity). Juga kebiasaan (habit), praktik reguler, kecerdasan atau ketajaman pemandangan (perspicacity), inteligensia (intelligence), pengalaman dalam soalsoal duniawi (sophistication), kebersihan (cleverness), efisiensi (efficiency), kemampuan bernegosiasi (ability to negotiate), penguasaan dengan kemampuan dalam penyelesaiannya (penyempurnaan, mastering with consummate skills), kecakapan atau kecekatan (finesses), mempunyai aspirasi dan berita yang baik. Setelah menggunakan pemahaman ini, Ibn Ahmad al-Ain menggarisbawahi bahwa medis (kedokteran) adalah pengetahuan tentang keadaaan tubuh manusia (Ahwl Badn al-Insn) dari segi sehat dan terserang sakit; yang bertujuan untuk memelihara kesehatan dan menjaga kebutuhankebutuhan yang sesuai dalam memulihkan keadaan sehat dari keadaan sakit (althibb huwa `ilm yu`raf bihi ahwal al-badn al-insan min jihhat ma yashihhu wa yazulu `anhu al-shihhat li tahfizu al-shihhah hshiluhu wa tastariddu radz`iluhu).10 Penekanan ini menunjukkan kepada kita bahwa kedokteran dapat dibagi ke dalam tiga bagian utama: memelihara kesehatan (promotion of health), menjaga diri dari penyakit (prevention of illness), dan mengobati penyakit (restoration of disease). Di antara hal yang sangat menarik perhatian yaitu berasal dari pembacaan definisi al-thibb oleh Ibn al-Ain, yaitu penekanannya pada kesehatan melampui penekanan pada penyakit. Memelihara kesehatan harus ditempatkan sebagai objek utama kedokteran di mana seorang dokter harus memberikan perhatian terhadap
9 Ibn Hajr, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, 13 vols. (Beirut: Dar alkutub al-`ilmiyyah, 1989), 10: 165; Al-Ayni, Umdah al-Qari Sharh Sahih alBukhari, 25 vols. (Beirut: Dar Ihya al-Turath al-`Arabi, n.d), 21: 229. 10 Al-`Ain, `Umdah al-Qari Sharh Sahih al-Bukhari, 21: 229, dikutip dalam http://www.e-imj.com/Vol3-No2/Vol3-No2-E1.htm.

dinamakan

kesehatan, dan bukan terhadap penyakit. Sepanjang peradaban Islam, tujuan utama sistem kedokteran Islam adalah lebih untuk menjaga kesehatan daripada mengobati penyakit. atau memulihkan kesehatan ketika terserang penyakit. Hal ini selaras dengan tujuan hukum Islam yang menyatakan bahwa memelihara kesehatan itu lebih baik daripada mengobati penyakit (al-wiqyah khair min al-`ilj; that keeping health is better than the treatment of disease).11 Islam. Penekanan besar yang diberikan pada pencegahan penyakit dalam sistem kedokteran Islam adalah merupakan konsekuensi langsung dari ajaran Syar`ah Islam. Bagi seorang Muslim, adalah suatu keharusan memelihara dan menghargai kesehatan diri, yang merupakan pemberian Tuhan, sebelum ditimpa oleh penyakit. Tanggapan demikian melibatkan semua aspek eksistensial, spiritual, psikologis, dan fisik seseorang. Ajaran-ajaran Islam mengenai penyakit dalam segala dimensinya, khususnya spiritual, psikologis, medis, dan sosial telah memungkinkan masyarakat Muslim untuk menghasilkan ekologi manusia atau lingkungan sosiokultural yang sehat, di mana orang sakit dan yang menderita dibantu oleh berbagai bentuk bantuan psikologis dan ekonomis.12 Dengan ungkapan lain, tujuan nyata dari ilmu kedokteran adalah memelihara kehidupan manusia dan meningkatkan penjagaan diri dari penderitan hidup.13 Ini tidak berarti bahwa kedokteran terapis (pengobatan) tidaklah penting.
11 Lih. Wahbah al-Zuhail, al-Fiqh al-Islm wa Adillatuh (Damaskus: Dr al-Fikr, 1989), Juz I, h. 89, `Aly MD, Islam itu Sehat, h. 99. 12 Lihat Osman Bakar, Tauhid & Sains: Esai-esai tentang Sejarah dan Filsafat Sains Islam, terj. Yuliani Liputo, (Bandung: Pustakan Hidayah, 1995), h. 125-126. 13 Pembahasan ini menarik dikaitkan dengan perumpamaan yang dibuat Ibn Jazlah (d. 493/1100), bahwa ia menyamakan antara kekuatan atau sehat tubuh dengan bekal-bekal bagi musafir (turis). Orang tersebut harus menyiapkan bekalnya untuk perjalanan sesuai yang dibutuhkan, karena itulah bekal habis sebelum sampai tujuan dicapai, musafir itu akan mati. Bagaimanapun juga, jika bekal itu cukup memenuhi kebutuhan selama perjalanan itu, ia akan aman. Ini pararel dengan kesehatan manusia. Jika tubuh mempunyai kekuatan yang cukup, ia akan mampu menghadapi sakit, namun, kekuatan itu tidak cukup dan tubuh enjadi lemah sebelum akhir sakit (sakitnya sembuh), seseorang akan berada dalam bahaya dan menghadapi

Prinsip preventif ini menjadi paradigma kedokteran

Menurut definisi Thibb dari Ibn al-`Ain, memulihkan kesehatan yang hilang adalah tujuan kedua dari kedokteran Islam. Pada dasarnya dalam sistem tradisional Islam, memulihkan kesehatan sebagai terapi (pengobatan) adalah berbeda dengan pemulihan, khususnya penggunaan madu, cupping dan cauterization (pembakaran dalam sistem tradisional Islam).14 Akhir-akhir ini telah diperkenalkan bermacam-macam obat, terapi psychospiritual, dan intervesi pembedahan oleh kaum Muslimin setelah mereka belajar dari peradaban lain. Sama halnya dengan kedokteran Yunani, kedokteran Islam memberikan perbedaan yang sangat jelas antara obat-obatan yang mufradah (simple) dan murakkabah (compound, campuran). Dalam hal ini, para dokter disarankan, jika mungkin, mengabaikan pengobatan dengan obat-obatan campuran, jika ia berakibat pada lemahnya badan. Ini merupakan sebuah teori sangat atraktif yang secara aktual menyediakan perawatan yang berharga terhadap penyakit, karena yang menggunakan pengobatan campuran mempunyai lebih banyak efek negatifnya. Contoh pada orang yang banyak makan, secara sederhana akan mempunyai beberapa penyakit ringan, dan pengobatan mereka juga konsisten pada kedokteran yang sederhana. Bahkan untuk penduduk kota, mereka menggunakan pengobatan dengan cara mencampur makanan yang dibutuhkan dengan menggunakan berbagai obat yang dibuat dari berbagai bahan campuran.15 Berdasarkan uraian di atas, kedokteran Nabi (al-thibb al-nabaw), pada konteks selanjutnya diperluas cakupannya sebagai Ilmu kedokteran Islam. Ilmu kedokteran Islam inilah merupakan ilmu yang lengkap, bersifat holistik, sintesis, dan ilmiah.16 Dikatakan holistik karena memuat prinsip-prinsip metafisik dan kosmologis yang mencakup kajian tentang kesehatan, penyakit, dan kematian. 17 Kedokteran Islam menempatkan manusia sebagai seorang individu dan masyarakat. Sehingga kesehatan bergantung pada keutuhan dan keterpaduan kolektivitas manusia, di mana masyarakat bertanggung jawab terhadap salah

tantangan-tantangan bersamaan dengan pengobatan yang dilakukan dokter. Lihat Joseph Salvatore, Tabulated Compendium in the Eleventh Century as Represented in the Works of Ibn Jazlah, 55, dikutip dalam http://www.eimj.com/Vol3-No2/Vol3-No2-E1.htm 14 Lih. `Aly MD, Islam itu Sehat, h. 100. 15 Ibn al-Qayyim, al-Thibb al-Nabawi (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1985), h. 146. Nurdeen Deuraseh, AL-THIBB AL-NABAWI (MEDICINE OF THE PROPHET), http://www.e-imj.com/Vol3-No2/Vol3-No2-E1.htm 16 Lih. `Aly MD, Islam itu Sehat, h. 108. 17 Lihat Bakar, Tauhid & Sains, h. 139.

seorang warganya yang sakit.18 Manusia sendiri adalah satu totalitas, terdiri dari badan dan jiwa yang saling berkaitan erat, keadaan sehat direalisasikan melalui keseimbangan antara harmoni dan ekuilibrium, sehingga kedokteran Islam meliputi kesehatan fisik dan mental di mana keduanya saling berkaitan. Dalam kedokteran Islam, kesehatan mental sangat urgen., sehubungan dengan itu dibentuklah satu cabang tersendiri yang disebut terapi psikologi atau yang dewasa ini dikenal dengan pengobatan psikosomatis. Dokter-dokter Muslim, seperti Ibnu Sn mendalami nilai terapi dari musik, sahabat yang baik, dan pemandangan alam yang indah dalam menangani penyakit-penyakit yang disebabkan oleh ketidaksehatan psikologis atau ketidaksehatan mental.19 Sedangkan kedokteran Islam bersifat sintesis (perpaduan), karena ia dibangun dari al-Quran dan Sunnah sebagaimana yang dirumuskan dari thibb alnab (hadis-hadis dan perbuatan Nabi terkait dengan menjaga kesehatan dan mengobati penyakit), serta dari berbagai teori, metode dan praktek di luar Islam.20 Contoh ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi yang terkait dengan kesehatan yaitu, perintah bersuci, menggunakan air bersih, memakan dan meminum yang baik-baik, halal dan bergizi, serta tidak berlebih-lebihan (Lih. QS. 2: 57; 52: 19; 77: 43; 7: 31), tidak melakukan hubungan seksual ketika seorang isteri sedang haid (QS. 2: 222), anjuran menutup wadah atau bejana tempat minum, tidak buang air kecil di air yang tidak mengalir, dan sebagainya, menjadi landasan dan kerangka penyusunan bagi sistem dan konsep kedokteran Islam.21 Adapun kedokteran Islam dikatakan ilmiah, karena mendasarkan pada ilmu pengetahuan yang telah diuji secara empiris, dan mampu menyerap doktrindoktrin, metode-metode, dan teknik-teknik terbaik dari berbagai sistem medis tradisional yang mereka temui.22
18 Ibid., h. 125-126. 19 Lihat Ibid., h. 130-131. 20 Nasr, Science and Civilization in Islam, h. 188, dan 192-193, Nasr, Sains dan Peradaban, terj. h. 168 dan 173. 21 `Aly MD, Islam itu Sehat, h. 109. Tentang ayat-ayat al-Quran dan hadis-hadis Nabi terkait dengan kesehatan lihat `Aly MD, Islam itu Sehat, h. 58-69. 22 Bakar, Tauhid & Sains, h. 116.

Dengan proses seperti itu, ilmu kedokteran Islam mengalami perkembangan dan kemajuan pesat, baik di dunia Islam maupun di dunia Barat, seperti telah diuraikan di muka.

KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas dipahami bahwa kedokteran Nabi (al-Tibb alNabawi), dalam pengertian yang sebenarnya, adalah sangat luas (umum). Ia tidak hanya mengutamakan pada apa yang dikatakan dan dilakukan dalam masa Nabi, namun juga menjangkau dan memuat semua lapangan penelitian kedokteran, aktifitas dan pemikiran manusia sepanjang waktu. Ini menunjukkan bahwa kedokteran Nabi, seperti halnya disiplin rasional yang lain, bukanlah bersifat statis (baku), namun ia tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi situasi dan lingkungan, yang memerlukan pengalaman dan pengetahuan baru agar ia dapat berkembang secara kontinu. Secara singkat, kedokteran Nabi itu semakin diminati oleh sarjana-sarjana Muslim, karena selain otentisitasnya yang menyebabkan koleksi hadis menjadi terkait dengan kedokteran , tetapi juga karena mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan konsep kedokteran, kesehatan, perawatan dan penyembuhan penyakit yang relevan dengan masa kini.

DAFTAR PUSTAKA Ibn Khaldn, al-Muqaddimah: Ibn Khaldn, terj. Ahmadie Toha, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005. Ibn al-Qayyim, al-Thibb al-Nabawi. Beirut: Muassasah al-Risalah, 1985. Achmad `Aly MD, Islam itu Sehat: Syari`ah dan Ghairah Kesehatan. Jakarta: CePDeS, 2008. http://www.e-imj.com/Vol3-No2/Vol3-No2-E1.htm Osman Bakar, Tauhid & Sains: Esai-esai tentang Sejarah dan Filsafat Sains Islam, terj. Yuliani Liputo. Bandung: Pustakan Hidayah, 1995. Nurdeen Deuraseh, AL-THIBB AL-NABAWI (MEDICINE OF THE PROPHET), http://www.e-imj.com/Vol3-No2/Vol3-No2-E1.htm Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam. New York, Toronto, dan London: A Plume Book from New American Library, 1970. al-Sythib, al-Muwfaqt f Ushl al-Syar`ah, Editor, `Abdullh Darrz (Beirut: Dr al-Kutub al-`Ilmiyyah, 2003), jilid I Wahbah al-Zuhail, al-Fiqh al-Islm wa Adillatuh (Damaskus: Dr al-Fikr, 1989), Juz I.

11