Anda di halaman 1dari 37

BAB 1. PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,1 juta pada tahun 2000 menjadi 273,2 juta pada tahun 2025. Walaupun demikian, pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2000-2025 menunjukkan kecenderungan terus menurun. Dalam dekade 1990-2000, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,49% per tahun, kemudian antara periode 2000-2005 dan 2020-2025 turun menjadi 1,34% dan 0,92% per tahun. (BKKBN,2006) Seiring dengan peningkatan pertambahan jumlah penduduk tersebut maka perlu adanya upaya dan dukugan dari berbagai pihak baik dari pemerintah maupun dari masyarakat, guna mengendalikan jumlah penduduk yang semakin meningkat. Pertambahan penduduk yang cepat akan berdampak negatife terhadap kesehatan, pendidikan, sosial ekonomi dan pangan bahan kesejahteraan sosial masyarakat akan terhambat. Salah satu upaya untuk menangani jumlah penduduk adalah melalui kontrol terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi laju pertumbuhan penduduk. Salah satu cara yang ditempuh untuk menekan laju pertumbuhan penduduk adalah dengan Program Keluarga Berencana untuk mengendalikan fertilitas. Akan tetapi terjadinya kenaikan tingkat Fertility rate (TFR) disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya masih banyak (PUS) yang tidak ber KB, laju pertumbuhan penduduk yang tinggi dan tingginya unmet need (SDKI, 2008). Jika unmet need terpenuhi maka fertilitas akan menurun, semua ini merupakan indikator-indikator untuk mengukur keberhasilan pelaksanaan Program Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berencana. Kebutuhan keluarga berencana yang belum terpenuhi unmet need di definisikan sebagai suatu kesenjangan antara niat wanita usia reproduksi dengan perilaku penggunaan kontrasepsi. Unmet need adalah (PUS) yang tidak menginginkan anak, menginginkan anak dengan jarak 2 tahun atau lebih tetapi tidak menggunakan alat
1

kontrasepsi. Kelompok unmet need merupakan sasaran yang perlu menjadi perhatian dalam pelayanan program KB. Kelompok unmet need ini mencakup wanita hamil, yang kehamilanya tidak diinginkan, wanita yang belum haid, setelah melahirkan anak, belum haid setelah melahirkan dan tidak memakai kontrasepsi tetapi ingin menunggu dua tahun atau lebih sebelum kelahiran berikutnya; wanita yang belum memutuskan apakah ingin anak lagi tapi belum tahu kapan juga termasuk dalam kelompok unmeet need. (BPPKB,2011) Program Keluarga Berencana yang kini disebut dengan gerakan KB tidak lagi berorientasi kepada kuantitas melainkan pada kualitas. Perubahan paradigma dalam gerakan KB ini mengakibatkan kualitas layanan KB menjadi isu yang semakin krusial. Tinggi rendahnya partisipasi masyarakat dalam gerakan KB secara langsung di pengaruhi oleh kualitas layanan yang disediakan. Kualitas layanan KB yang disediakan oleh penyedia layanan sedikit banyak akan akan mempengaruhi unmet need. Menurut Bruce (1990) kualitas pelayanan KB dapat dinilai dari beberapa indikator yang semuanya merupakan unsur dari suatu layanan yakni ketersediaan pilihan kontrasepsi, kualitas informasi, kemampuan teknik, hubungan interpersonal, mekanisme untuk mendorong layanan lanjutan dan ketetapan korelasi pemberian layanan . Proporsi unmet need yang tinggi dapat terjadi karena beberapa faktor yang dapat digolongkan kedalam faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal dalam hal ini berupa kondisi ekonomi keluarga yang memiliki unmeet need, faktor administratif, faktor kongnitif, dan faktor psikososial. Selain faktor eksternal KB terdapat juga faktor internal yang memberi kontribusi terhadap prevalensi unmet need antara lain adalah ketersediaan jenis alat kontrasepsi, tingkat kemampuan teknis pemberi pelayanan, ketersediaan informasi tentang sumber sumber layanan, ketersediaan informasi tentang keunggulan dan kelemahan tiap tiap jenis alat kontrasepsi, ketersediaan informasi tentang keamanan metode terpilih terhadap kesehatan klien, tingkat kepuasan yang dilaksanakan oleh klien terhadap layanan yang diberikan dan pemberian motivasi oleh pemberi layanan.

Dari data Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia

SDKI 2007 proporsi

unmet need di indonesia mencapai 9.1% yang meningkat dari SDKI 2002/2003 sebesar sebesar 8,6 % dari (PUS). Menurut hasil SKDI 2007 sasaran RPJMN 2014 di harapkan turun hingga 5,0%. (BKKBN, 2011) Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai unmet need yang tinggi, pada tahun 2007 dan 2008 unmet need di Provinsi ini mencapai 15,44%, pada tahun 2009 unmet need di Provinsi Jawa timur mengalami penurunan yakni sebesar 14,89%, serta pada tahun 2010 mengalami penurunan sebesar 14,19% dan pada tahun 2011 mencapai 13,44 % walaupun dari tahun ke tahun unmet need di Provinsi Jawa Timur sudah mulai menurun akan tetapi Profinsi Jawa Timur masih memegang tingkat unmet need yang cukup tinggi dibandingkan dengan provinsi lain (BKKBN, 2011). Kabupaten Jember merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Timur yang mempunyai unmet need yang cukup tinggi berkisar 17,94% dengan rincian : ingin anak tunda (IAT) 42,993%, tidak ingin anak lagi (TIAL) 50,039% (BKKBN, 2011). Berdasarkan data dari Badan Pemberdayaan Perempuan pada tahun 2011 Kecamatan Sumberjambe merupakan kecamatan yang memiliki angka prevalensi unmet need tertinggi dibandingkan dengan kecamatan lain yakni sebesar 28, 76 % terhadap PUS. Sedangkan prevalensi unmet need terendah terdapat pada kecamatan Semboro yakni sebesar 9,54 %, terhadap PUS. (BPPKB,2011) Guna menurunkan proporsi unmet need perlu di lakukan upaya agar PUS yang kebutuhannya tidak terpenuhi dapat menjadi partipasian aktif dalam gerakan KB. Untuk itu faktorfaktor yang mempengaruhi unmet need penting untuk dikaji agar dapat diidentifikasi intervesi yang dapat diterapkan dalam usaha menurunkan proporsi unmet need di Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah faktor eksternal apa saja yang berhubungan dengan unmet need di Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember.

1.3 Tujuan

1.3.1

Tujuan Umum

Mengkaji faktor faktor eksternal yang berpengaruh terhadap prevalensi unmet need di Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember. 1.3.2
a. b.

Tujuan Khusus Mengetahui karakteristik responden Menganalisis hubungan faktor eksternal dengan status pemakaian alat kontrasepsi PUS Menganalisis hubungan karakteristik responden dengan unmetneed Menganalisis hubungan faktor eksternal dengan unmetneed

c. d.

1.4 Manfaat

1.4.1

Manfaat Teoritis Penelitian ini di harapkan dapat mengembangkan pengetahuan kesehatan

masyarakat dalam bidang keluarga berencana . 1.4.2 Manfaat Praktis berencana


b. Sebagai bahan masukan bagi pemberi pelayanan kesehatan khususnya petugas

a. Sebagai bahan masukan kepada pengelola program dalam bidang keluarga

KB untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja KB

c. Sebagai pedoman awal bagi peneliti lain yang akan mengkaji bahan unmet need

di Kabupaten Jember.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Batasan Pasangan Usia Subur Entjang (2000) mengkategorikan batasan pasangan usia subur sebagai berikut: a. Pasangan Usia Subur (PUS) Pasangan suami istri yang pada saat ini hidup bersama, baik bertempat tinggal resmi dalam satu rumah atupun tidak, dimana umur istrinya antara 15 tahun sampai 44 tahun. Batasan umur pasangan usia subur yang digunakan di sini adalah 15 sampai 44 tahun dan bukan 15 sampai 49 tahun. Hal ini tidak berarti berbeda dengan perhitungan fertilitas yang menggunakan batasan 15-49 tahun, tetapi dalam kegiatan keluarga berencana mereka yang berada pada kelompok 4549 tahun bukan merupakan sasaran keluarga berencana lagi. Hal ini dilatarbelakangi oleh pemikiran bahwa mereka yang berada pada kelompok umur 45-49 tahun kemungkinan untuk melahirkan lagi sangat kecil. b. Pasangan usia subur hamil Adalah pasangan usia subur yang istrinya sedang hamil. c. Pasangan usia subur bukan peserta KB ingin anak Adalah pasangan usia subur yang sedang tidak menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi dan masih menginginkan anak. d. Pasangan usia subur bukan peserta KB tidak ingin anak Adalah pasangan usia subur yang sedang tidak menggunakan salah satu alat/cara kontrasepsi dan tidak ingin anak. 2.2 Kontrasepsi 2.2.1 Pengertian Kontrasepsi Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti mencegah atau melawan, dan konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari atau 6

mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas (Hanifa, 1994 dalam Pribadi, 2008). 2.2.2 Macam Metode Kontrasepsi Macam-macam metode kontrasepsi menurut Hartanto (2004), dikelompokkan sebagai berikut :
a. Metode Sederhana, yaitu : metode kalender, suhu badan basal, lendir

serviks, coitus interruptus, kondom, dan spermisid. b. Metode modern dibagi menjadi 3, yaitu : 1) Kontrasepsi Hormonal terdiri dari pil KB, suntikan, dan implant
2) Intra Uterine Devices (IUD)

3) Kontrasepsi Mantap : Metode Operasi Pria (MOP) dan Metode Operasi Wanita (MOW) Sebagian besar alat kontrasepsi digunakan oleh wanita, hanya beberapa alat kontrasepsi yang penggunaannya pada pria. Akibatnya sebagian besar wanita sebagai akseptor KB merasakan efek samping alat kontrasepsi. Adapun jenis alat kontrasepsi menurut Saifuddin ( 2003), adalah sebagai berikut :
a. Kondom

Kondom merupakan selubung atau sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet plastik (vinil) atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintesis yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti putting susu. Berbagai bahan telah ditambahkan pada kondom baik untuk meningkatkan efektifitasnya (misalnya penambahan spermisida) maupun sebagai aksesoris aktifitas seksual. Kondom merupakan salah satu alat kontrasepsi pria

yang paling mudah dipakai dan diperoleh baik di apotik maupun toko-toko obat dengan berbagai merek dagang. cara kerja kondom adalah untuk mencegah pertemuan antara spermatozoa dengan ovum pada waktu bersenggama sehingga penghalang kontak langsung dengan cairan ejakulasi. Kondom memiliki suatu keuntungan dan kerugian antara lain : 1). Keuntungan kondom yaitu: a) b) c) a) b) c) d) e) Mudah, mudah didapat, tidak perlu resep dokter Mudah dipakai sendiri Dapat mencegah penularan penyakit kelamin Harus selalu memakai kondom baru Selalu ada persediaan Pada penggunaan yang tidak benar kemungkinan dapat sobek Mengganggu kenyamanan bersenggama Tingkat kegagalan cukup tinggi

2). Kerugian kondom yaitu :

f)Kadang-kadang menimbulkan alergi b. Pil KB Pil adalah obat pencegah kehamilan yang diminum. Pil yang telah diperkenalkan sejak tahun 1960. Pil diperuntukkan bagi wanita yang tidak hamil dan menginginkan cara pencegahan kehamilan sementara yang paling efektif bila diminum secara teratur. Pemakaian pil dilakukan setelah masa keguguran, setelah menstruasi, atau pada post-partum bagi para ibu yang tidak memiliki bayinya. 1) Jenis pil KB
a) Pil KB Ekpluton, pil KB yang dapat dipergunakan ibu yang sedang

menyusui sampai sekitar 2 tahun. Kekurangan mungkin terjadi perdarahan yang tidak teratur atau tidak menstruasi

b) Pil KB sekuensial, kenaikan hormonal estrogen dan progesteron dalam setiap pil KB, sesuai dengan hormonal dalam tubuh wanita. Dengan beradaptasi baik pada wanita, mempunyai efek samping yang ringan dan pola menstruasi berjalan baik. c) Pil KB kombinasi, sejak pil pertama sudah terdapat kombinasi antara derivat progesteron dan estrogen. Pemberian estrogen komponen dimaksudkan agar wanita dapat menstruasi semu, sedangkan pelepasan telur tetap tidak terjadi. Efek samping dalam bentuk mual sampai muntah, mungkin terjadi kenaikan berat badan. Pil ini dapat dipilihkan oleh dokter 2) Efektifitas Memiliki efektifitas tinggi (hampir menyerupai efektifitas tubektomi), bila digunakan setiap hari yaitu 1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun pertama penggunaan 3) Cara kerja a) b) c) d) Menekan ovulasi Mencegah implantasi Lendir servik mengental sehingga sulit dilalui sperma Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan

sendirinya akan terganggu 4) Keterbatasan a) b) c) d) e) Mahal dan membosankan karena harus menggunakan setiap hari Mual, perdarahan bercak atau perdarahan sela terutama pada 3 Pusing, nyeri payudara, berat badan sedikit naik dan tidak boleh Pada sebagian kecil perempuan menimbulkan depresi dan Dapat meningkatkan tekanan darah dan retensi cairan sehingga

bulan pertama diberikan pada perempuan menyusui (mengurangi ASI) menurunkan keinginan untuk hubungan seks beresiko pada perempuan usia diatas 35 tahun

10

f)

Tidak mencegah PMS Perdarahan terjadi bercak-bercak darah (spotting) diantara masa Pusing, mual-mual pada minggu awal pemakaian Jumlah ASI akan berkurang untuk pil jenis yang mengandung Kloasme/flek hitam pada muka

5) Efek samping
a)

haid pada awal pemakaian b) c) d) c. Suntik


1) Menurut Manuaba (1999) jenis suntik KB dibedakan menjadi :

estrogen

a) Depoprovera mengandung progesteron sebanyak 150 mg dalam bentuk partikel kecil. Suntikan setiap 12 minggu. Keuntungan datang setiap 3 bulan, kerugian sering terjadi kelambatan datang bulan sekalipun telah menggunakan suntikan. Juga dapat terjadi perdarahan berkepanjangan diluar menstruasi, perdarahan yang tidak teratur, badan terasa panas dan liang senggama kering.
b)

Glycofem mengandung progesteron sebanyak 50 mg dan estrogen,

disuntik tiap bulan. Diharapkan dapat menstruasi setiap bulan karena komponen estrogen. Kerugiannya, sering terjadi kegagalan menstruasi yang diharapkan setelah pemakaian beberapa bulan dan efeknya hampir sama dengan Depoprovera. c) Norigest merupakan turunan dari testosteron, disuntikan setiap 8 minggu. Kerugiannya hampir sama dengan Depoprovera. 2) Efektifitas Sangat efektif (0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama penggunaan 3) Cara kerja
a)

Menekan ovulasi

11

b)
c)

Lendir servik mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi

terganggu
d)

Menghambat transportasi gamet oleh tuba Perubahan pola haid seperti tidak teratur, perdarahan bercak atau Mual, sakit kepala, nyeri payudara akan hilang setelah suntikan Ketergantungan klien terhadap suatu pelayanan kesehatan (klien Dapat terjadi efek samping serius, seperti: penyakit jantung, stroke, Efektifitas berkurang jika digunakan bersamaan dengan obat-obat Tidak mencegah Penyakit Menular Seksual (PMS) Kadang menstruasi tidak keluar selama 3 bulan pertama Kadang-kadang terjadi perdarahan yang lebih banyak pada saat Keputihan Perubahan berat badan.

4) Keterbatasan a) b)
c)

perdarahan sampai 10 hari ketiga harus datang setiap 30 hari untuk mendapatkan suntikan)
d)

bekuan darah pada paru dan otak dan mungkin tumor hati e) f) a) b) c) d) epilepsi (feniton dan barbiturat) atau obat tuberkulosis (rinfamisin) 5) Efek samping

menstruasi

d. Implant/Susuk

1) Jenis suntik Implant


a) Norplant terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4

cm dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 36 levenogestrel dan lama kerjanya 5 tahun

12

b) Implan terdiri dari satu batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm, dan diameter 22 mm yang diisi dengan 68 mg 3-keto-desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun
c) Jadena dan indoplant terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg

levenogestrel dengan lama kerja 3 tahun. 2) Efektifitas Sangat efektif yaitu 0,2-1 kehamilan per 100 perempuan 3) Cara kerja
a) Menekan ovulasi

b) Lendir servik mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma c) Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi d) Mengurangi transportasi sperma 4) Keterbatasan Pada kebanyakan klien dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan bercak (spotting), hipermenorea atau meningkatnya darah haid serta amenorea. 5) Kerugian a) Harus dilakukan oleh petugas yang terlatih b) Dapat menyebabkan pola haid berubah c) Pemakai tidak menghentikan pemakaian sendiri 6) Efek samping a)
b)

Gangguan siklus haid Keluar bercak-bercak darah/perdarahan yang lebih banyak selama Komplikasi Pusing/mual Perubahan berat badan

menstruasi c) d) e)

13

e. IUD IUD merupakan alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang bentuknya bermacam-macam, terbuat dari plastik yang dililit tembaga. IUD memiliki tingkat keberhasilan mencapai 90% dengan waktu penggunaan hingga 10 tahun. Cara kerja IUD yaitu dengan cara : a) b) Mencegah masuknya spermatozoa/sel mani kedalam saluran tuba Lilitan logam menyebabkan reaksi anti fertilitas fallopii Alat kontrasepsi IUD memiliki berbagai keuntungan dan kerugian, adapun keuntungan alat kontrasepsi IUD adalah sebagai berikut.: a) Praktis dan ekonomis b) Efektifitas tinggi (angka kegagalan kecil) c) Kesuburan segera kembali jika dibuka d) Tidak harus mengingat seperti kontrasepsi pil e) Tidak mengganggu pemberian ASI Kerugian alat kontrasepsi IUD yaitu dapat keluar sendiri jika IUD tidak cocok dengan ukuran rahim. Adanya suatu keuntungan dan kerugian pada alat kontrasepsi IUD tidak memungkinkan alat kontrasepsi IUD memiliki efek samping. Adapun efek samping dari penggunaan IUD, antara lain : a) Terjadi perdarahan yang lebih banyak dan lebih lama pada masa menstruasi
b) Keluar bercak-bercak darah (spotting) setelah 1-2 hari pemasangan

c) Keputihan d) Kram/nyeri selama menstruasi Menurut Hartanto (2004) efek samping dan komplikasi IUD dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu:
a) Pada saat insersi, yaitu : rasa sakit/nyeri, muntah, keringat dingin, dan

syncope, dan perforasi uterus. b) Efek samping dan komplikasi di kemudian hari

14

1) Rasa Sakit dan Pendarahan Pendarahan yang bertambah banyak dapat berbentuk volume darah haid bertambah, pendarahan yang berlangsung lama, dan pendarahan bercak/spotting diantara haid.
2) Embedding dan Displacement

IUD tertanam dalam-dalam di endometrium atau myometrium. 3) Infeksi Akseptor IUD mempunyai risiko 2 kali lebih besar untuk mendapatkan PID dibandingkan non-akseptor KB. PID adalah suatu istilah luas yang menunjukkan adanya suatu infeksi yang naik dari serviks ke dalam uterus, tuba fallopi dan ovarium. Adapun mekanisme timbulnya infeksi, antara lain : Masuknya kuman-kuman yang biasanya hidup di dalam traktus genitalia bagian bawah ke dalam uterus pada saat insersi. Bertambahnya volume dan lamanya pendarahan haid. Naiknya kuman-kuman melalui benang IUD Berbeda dengan pil oral, IUD tidak melindungi terhadap karsinoma endometrium atau karsinoma ovarium, dan berbeda dengan metode barier (kondom), IUD tidak melindungi terhadap karsinoma serviks. Petugas medis harus selalu ingat, bahwa pendarahan abnormal pada seorang akseptor IUD tidak selalu disebabkan oleh IUDnya, tetapi mungkin merupakan gejala suatu keganasan atau penyakit lain.
f. Metode Operasi Pria (MOP)

4) Komplikasi Lain

MOP adalah salah satu metode kontrasepsi dengan metode operatif bagi pria yang tidak menginginkan anak lagi. MOP hampir sama seperti MOW yakni memiliki tingkat keberhasilan mencapai 99%. Cara kerja MOP yaitu dengan menghambat spermatozoa/jalannya sel mani pria sehingga tidak dapat

15

membuahi sel telur. Sama hanya alat kontrasepsi yang lain MOP juga memiliki suatu keuntungan yaitu : a) b) c) d) Tidak ada mortalitas atau kematian Morbiditas atau komplikasi pentakit lain kecil Pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit Tidak mengganggu hubungan seksual Kerugian alat kontrasepsi MOP adalah sebagai berikut : a) Resiko dan efek samping bedah tetap ada b) Harus memakai kontrasepsi lain seperti kondom, selama 12 kali ejakulasi sampai sel mani menjadi negatif Efek samping MOP adalah sebagai berikut : a) Timbulnya rasa nyeri b) Abses pada luka c) Hematoma/pembengkakan pada kantong biji zakar karena perdarahan g. Metode Operasi Wanita (MOW) MOW adalah salah satu metode kontrasepsi dengan metode operatif bagi wanita yang tidak menginginkan anak lagi. MOW ini juga memilki tingkat keberhasilan mencapai 99%. Cara kerja MOW adalah dengan cara menghambat perjalanan sel telur wanita sehingga tidak dapat dibuahi oleh sperma. Namun MOW juga memiliki beberapa keuntungan antara lain : a) b) c) d) Efektifias langsung setelah sterilisasi Permanen Tidak ada efek samping jangka panjang Tidak mengganggu hubungan seksual

Kerugian MOW yaitu resiko dan efek samping bedah tetap ada. Adanya efek samping tersebut adalah : a) Perubahan-perubahan hormonal b) Pola haid

16

c) Problem ginekologis d) Problem psikologis

2.3 Unmet need 2.3.1 Definisi dan Pengukuran Pasangan usia subur yaitu pasangan yang wanitanya berusia antara 15-49 tahun, Karena kelompok ini merupakan pasangan yang aktif melakukan hubungan seksual dan setiap kegiatan seksual dapat mengakibatkan kehamilan. PUS diharapkan secara bertahap menjadi peserta KB yang aktif lestari sehingga memberi efek langsung penurunan fertilisasi (Suratun, 2008). Pasangan usia subur yaitu pasangan yang istrinya berumur 15-49 tahun atau pasangan suami-istri berumur kurang dari 15 tahun dan sudah haid atau istri berumur lebih dari 50 tahun tetapi masih haid (datang bulan) (BKKBN, 2009). PUS sebagai sasaran program KB di kelompokkan pada dua segmen, yakni segmen yang membutuhkan KB untuk menjarangkan atau membatasi kelahiran dan segmen yang tidak membutuhkan KB. Unmet Need KB didefinisikan sebagai persentase wanita kawin yang tidak ingin punya anak lagi atau ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi. Wanita yangmemerlukan KB dengan tujuan untuk menjarangkan kelahiran mencakup wanita hamil yang kehamilannya tidak diinginkan waktu itu, wanita yang belum haid setelah melahirkan anak yang tidak diinginkan waktu itu, dan wanita lain yang sedang hamil atau belum haid setelah melahirkan dan tidak memakai kontrasepsi tetapi ingin menunggu duatahun atau lebih sebelum kelahiran berikutnya. Wanita yang belum memutuskan apakah ingin anak lagi atau ingin anak lagi tapi belum tahu kapan juga termasuk kelompok ini. Wanita yang memerlukan KB untuk membatasi kelahiran mencakup wanita hamil yang kehamilannya tidak diinginkan, wanita yang belum haid dan yang sudah haid setelah melahirkan anak yang tidak diinginkan, yang tidak memakai kontrasepsi lagi. Ukuran pelayanan KB yang tidak terpenuhi, digunakan untuk menilai sejauh mana program KB telah dapat memenuhi kebutuhan pelayanan. Wanita yang telah disterilisasi termasuk kategori tidak ingin tambah anak lagi (SDKI, 2007).

17

Informasi tentang kejadian unmet need KB di peroleh dengan mengidentifikasi Wanita usia subur menurut beberapa kategori . Rindang Ekawati dan samijo (1992) dari James A palmore dan kawan kawan (1990) menetapkan beberapa tahapan kategori WUS seperti :
1.

WUS yang memakai alat kontrasepsi dan WUS tidak memakai alat kontrasepsi WUS yang tidak memakai alat kontrasepsi di kategorikan WUS hamil (animore) dan WUS tidak hamil WUS hamil (aninore) di kategorikan menjadi kehamilan yang diinginkan (interneed), kehamilan diinginkan kemudian (mistimeed), dan kehamilan yang tidak diinginkan (unwarneed). WUS yang tidak hamil (tidak aninore) di kategorikan menjaadi subur (fecund) dan tidak subur (infecund)

2.

3.

4.

WUS fecund yang tidak hamil (tidak animore) di kategorikan menjadi ingin anak segera, ingin anak kemudian, dan tidak ingin anak lagi . WUS fecund , mistimed dan ingin anak kemudian merupakan unmet need KB untuk tujuan penjarangan kehamilan , sedangkan WUS hamil (aninore) dengan unwanted pregnancy dan WUS fecound tidak ingin anak lagi merupakan unmet need KB untuk tujuan pembatasan kelahiran. Unmeet need KB untuk tujuan penjarangan kelahiran dan unmet need KB untuk tujuan

5.

pembatasan kelahiran dan total unmet need KB . Konsep Unmet Need menunjukkkan suatu keadaan dimana seseorang wanita berharap untuk mencegah atau menunda kehamilan, tetapi di saat yang sama dia tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun. Sehingga konsep ini juga merupakan pengukuran yang bersifat current yang termasuk unmet need adalah semua perempuan yang mempunyai status menikah pada saat survey (Wastof dalam Isa,2009 ) .

18

WANITA USIA SUBUR

WUS DALAM STATUS KAWIN

PUS PAKAI ALKON

PUS TIDAK PAKAI ALKON

HAMIL/AMNORE

TIDAK HAMIL / TIDAK AMNORE

INWANTED

MISTIMED

UNWANTED

FECUND

INFECUND

INGIN ANAK SEGERA

INGIN ANAK TUNDA

TIDAK INGIN ANAK LAGI

UNMET NEED UNTUK PENJARINGAN KELAHIRAN

UNMET NEED UNTUK PEMBATASAN KELAHIRAN

TOTAL UNMET NEED

Gambar. 2.1 Bagan Analisa Unmet Need KB

19

Sumber : Palmore,A dalam Isa ,2009

Konsep unmet need menunjukkan suatu keadaan dimana seorang wanita berharap untuk mencegah atau menunda kehamilan, tetapi di saat yang sama dia tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun, sehingga konsep ini juga merupakan pengukuran yang bersifat saat ini (current) (Westoff dan Bankole,1995) Menurut westoff dan ochoa (1991) yang termasuk dalam unit observasi unmet need adalah semua perempuan yang mempunyai status menikah pada saat survei. Selanjutnya didefinisikan juga bahwa pihak yang tidak termasuk dalam perhitungan unmet need adalah wanita yang tidak menikah, wanita yang menggunakan kontrasepsi, kegagalan penggunaan kontrasepsi, wanita hamil yang dilaporkan inteltional, wanita tidak subur dan wanita subur yang menginkan kelahiran anak berikutnya dalam jangka waktu kurang dari 2 tahun. Ada beberapa sanggahan yang di sampaikan mengenai pengkatagorian seperti yang disebutkan di atas, diantaranya Dixon-mueler dan Germain (1992) yang menilai bahwa seharusnya semua orang yang aktif secara seksual walaupun tidak menikah juga dimasukkan kedalam perhitungan unmet need. Pendapat ini kemungkinan besar di dasari oleh budaya di Negara barat dimana pasangan dan kepemilikan anak seringkali tidak didasari oleh ikatan pernikahan dan seharusnya yang menggalami kegagalan atau kesalahan dalam penggunaan alat kontrasepsi juga di masukkan kedalam penggunaan alat kontrasepsi juga di masukkan dalam perhitungan unmet need. Argumen yang disampaikan adalah bahwa perhitungan unmet need seharusnya tidak hanya menghitung perempuan saja tetapi juga menyertakan kaum pria. 2.4.2 Faktor-Faktor yang menyebabkan Unmet Need Dalam memenuhi kebutuhan, PUS sering mengalami hambatan dalam pemanfaatan layanan KB sehingga akses mereka terbatas, bahkan tertutup sama sekali. Hal ini mengakibatkan mereka tidak menggunakan alat / cara kontrasepsi padahal seenarnya mereka membutuhkan

20

Berdasarkan penelitian Shepshenson dan Henrik (2004) menyatakan bahwa secara umum terdapat 5 faktor yang menyatakan peranan penting yaitu :
1.

Faktor Administratif

Merupakan suatu persepsi terhadap mutu layanan atas dasar pengalaman dari orang lain. Faktor administratif yang merupakan persepsi seseorang terhadap suatu komonditas akan mempengaruhi suatu keputusan dalam melakukan pemilihan terhadap barang dan jasa. Bertrand et al. (1995) menegaskan bahwa akses, kualitas pelayanan dan hambatan medis merupakan faktor kunci dalam mengadopsi kontrasepsi. Kualitas pelayanan mempengaruhi individu dalam memutuskan untuk menerima atau menoloak pemakaian kontrasepsi. Hambatan medis merupakan praktik medis yang secara rasional tidak dapat dijustifikasi secara ilmiah, namun dapat menjadi penghalang pemakaian kontrasepsi. Aspek kualitas pelayanan mengacu pada 6 komponen sebagaimana yang dikenalkan oleh Bruce (1990), yaitu: ketersediaan metode, kompetensi teknis petugas, informasi yang diberikan kepada klien, hubungan antara petugas dan klien, mekanisme follow up dan suasana tempat pelayanan. Persepsi terhadap kondisi layanan yang mengacu, orang lain mungkin saja merupakan faktor penghambat sehingga menyebabkan seseorang PUS tidak bersedia / menolak menggunakan salah satu metode kontrasepsi.
2.

Faktor Kongnitif

Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Jadi pengetahuan adalah apa yang telah diketahui oleh setiap individu setelah melihat, mengalami sejak ia lahir sampai dewasa. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh dari mata dan telinga. Pengetahuan adalah komponen dari prilaku yang mencakup di dalam Cognitive. Dalam penelitian ini Terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan KB. Bruce (1995) menciptakan pengetahuan indeks yang menggabungkan kemampuan untuk mengidentifikasi dan spontan

21

menyebut nama kontrasepsi modern, pengetahuan tentang sumbernya, dan pendapat tentang efek samping. Penelitian ini mendefinisikan pengetahuan sebagai jumlah metode kontrasepsi yang dikenal oleh responden. Logikanya untuk menggunakan definisi ini adalah bahwa kesadaran bukan hanya satu atau dua metode tapi tentang berbagai alat kontrasepsi adalah penting untuk pilihan informasi. Dengan pengetahuan yang lebih luas tentang kontrasepsi, seorang wanita bisa lebih mudah memilih kontrasepsi yang tepat untuk hidup-siklus panggung dan dapat diterima pasangannya. Pengetahuan tentang berbagai metode juga memastikan bahwa dapat lebih mudah beralih ke metode lain harus ia menjadi tidak puas dengan metode saat ini.
3.

Faktor Psikososial

Pada faktor ini umumnya di hubungkan dengan norma dan budaya yang berlaku, agama, penolakan personal serta penolakan dari orang orang terdekat. Casterline (1995) menjelaskan bahwa buruknya komunikasi antar pasangan dan keluarga dalam permasalahan kontrasepsi akan menimbulkan potensi unmet need di dalam rumah tangga tersebut. Posisi agama untuk menggunakan kontrasepsi bukanlah alasan utama untuk kebutuhan yang belum terpenuhi di sebagian besar negara. Casterline dan rekan (1995) mencapai kesimpulan ini secara mendalam studi mereka di Filipina. Di Bangladesh, Nigeria, Pakistan, dan Senegal, Namun, data survei menunjukkan bahwa oposisi agama dirasakan menghambat beberapa wanita dari mengadopsi kontrasepsi. Di negara-negara, lebih dari 10% dari wanita dengan unmet need tidak berniat untuk menggunakan kontrasepsi karena alasan agama
4.

Faktor Ekonomi

Faktor ini menggambarkan kemampuan suatu pihak yang membutuhkan layanan secara ekonomi. Masyarakat yang kondisi ekonominya relatif baik cenderung memiliki akses yang lebih tinggi terhadap layanan KB. Harga alat kontrasepsi sering kali merupakan faktor penyebab terjadinya jurang antara preferensi dengan penggunaan yang nyata metode kontrasepsi. Stehenshon dan hendrik

22

menyatakan bahwa responden yang tidak menggunakan alat kontrasepsi umumnya bersal dari golongan lemah atau berpendapatan rendah sehingga tidak dapat memanfaatkan layanan KB. Analisis ekonomi mikro mengasumsikan bahwa setiap pasangan mempunyai informasi yang lengkap, akurat dan sempurna tentang keuntungan dan biaya kontrasepsi dan biaya anak. Berdasarkan asumsi dasar tersebut, pasangan akan memutuskan menambah anak, jika ketika mendapat keuntungan dari anak atau mendapat aliran keuntungan lebih besar di masa mendatang dari pada investasi di bidang lain. Pendekatan ekonomi mikro juga berbasis pada premis bahwa pasangan mempunyai anak untuk tujuan memaksimalkan fungsinya. Pada kenyataannya, ada perbedaan mendasar antara perilaku konsumen dengan perilaku reproduksi. Konsumen tidak akan memiliki sebuah barang sampai dia secara sadar memutuskan membutuhkan barang tersebut. Sementara pasangan kemungkinan mempunyai anak atau tidak mempunyai anak jika secara aktif mereka melakukan pencegahan (Bhushan, 1997). 5. Karakteristik KB Karakteristik KB merupakan faktor internal dari adanya prevalensi unmet need karakteristik KB ini meliputi ketersediaan jenis alat kontrasepsi, tingkat kemampuan teknis pemberi pelayanan ketersediaan informasi tentang sumber sumber layanan, ketersediaan informasi tentang keunggulan dan kelemahan tiap tiap jenis alat kontrasepsi, ketersediaan informasi tentang keamanan metode terpilih terhadap kesehatan klien, tingkat kepuasan yang dilaksanakan oleh klien terhadap layanan yang diberikan dan pemberian motivasi oleh pemberi layanan 2.4 Tinjauan Empiris Unmet Need Pada studi studi yang berkaitan dengan penelitian unmet need yang pernah dilakukann diperoleh gambaran bahwa dari beberapa faktor yang diteliti, ternyata hambatan utama terdapat pada akses layanan KB hal ini terkait dengan faktor psikososial. Menurut penelitian Dewi Manuati (2006) berbagai alasan dikemukakan

23

pada wanita yang masih merasa ragu dan sedang mempertimbangkan untuk menggunakan alat kontrasepsi dan ada yang merasa yakin tidak perlu menggunakannya. Sebagian besar responden yang diwawancarai menyatakan tidak menggunakannya karena yakin tidak akan hamil dan sebagian besar diantaranya mendasari keyakinan tersebut dengan usia. Banyak studi, terutama di negara-negara yang sedang berkembang member gambaran bahwa faktor psikososial memegang peranan penting sebagai penyebab tingginya prevalensi unmet need. Faktor tersebut dapat berupa ketidak sesuaian program KB dengan ajaran agama yang dianut dan penolakan, baik dari suami maupun secara personal dari si wanita sendiri. Sebagian besar wanita yang melaporkan kondisi tersebut adalah mereka yang miskin, tidak berpendidikan dan tinggal serumah dengan mertua yang umumnya memiliki keterbatasan kekuatan dalam pengambilan keputusan (Stepshenson dan Hennik 2004) Faktor kongnitif yang merupakan suatu faktor tentang pengetahuan penggunaan layanan KB bukan merupakan suatu hamatan bagi seorang wanita untuk berperan dalam suatu layanan KB. Menurut Penelitian Dewi Manuati 2006 mereka tidak menggunakan alat kontrasepsi karena ketidak tahuan tentang metode yang tersedia dan sumber penyediaan alat kontrasepsi dan sebagian dari mereka berasal dari golongan yang berpendidikan rendah dan memiliki akses media masa. Radio , dan televisi yang rendah (Stephensoen dan Hennik dalam Dewi Manuati 2006) Selain faktor yang telah diuraikan, faktor lain juga sering kali merupakan sumber hambatan akses pelayanan KB adalah faktor ekonomi. Seperti yang dinyatakan Dilip dan Dunggal (2004) bahwa kemampuan ekonomi sangat mempengaruhi akses seseorang dalam memanfaatkan layanan kesehatan. Dibandingkan dengan wanita yang berasal dari rumah tangga dalam pendapatan tinggi dan menengah, mereka yang berasal dari rumah tangga yang memiliki skor pendapatan lebih rendah cenderung melaporkan bahwa mereka mengalami hambatan dan pemanfaatan layanan KB. Faktor administratif yang merupakan persepsi seseorang terhadap sesuatu komoditas akan mempengaruhi keputusan dalam melakukan pemilihan terhadap barang jasa. Faktor administratif ini merupakan salah satu faktor penghambat hingga

24

menyebabkan seseorang menolak menggunakan alat kontrasepsi. Dari hasil Dewi Manuati 2006 penelitian menunjukkan bahwa 44 % responden menyatakan tidak menggunakan alat kontrasepsi karena takut terhadap efek samping yang mungkin ditimbulkan. Banyak PUS yang menyatakan bahwa dari informasi yang mereka dengar, alat kontrasepsi yang menyebabkan kegemukan, badan menjadi kurus, menimbulkan bintik-bintik hitam pada wajah dan infeksi pada rahim. 2.5 Kerangka konseptual
Variabel Bebas Faktor Eksternal Variabel Antara PUS tidak memakai Alkon Variabel Terikat UNMET NEED 1. Penjarang an kelahiran 2. Pembatasa n kelahiran

Faktor Administratif Faktor kongnitif Faktor Psikososial Faktor Ekonomi

1.

IAT (Ingin Anak Tunda) 2. TIAL(Tidak Ingin Anak Lagi)

Kerangka konsep adalah hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati dan di ukur melalui penelitian yang dilakukan . Berdasarkan kerangka konsep di atas dapat diketahui. dalam penelitian ini variabel di bagi menjadi tiga, yaitu variabel vaktor eksternal atau variabel bebas, variabel antara yaitu PUS, variabel terikat yaitu unmet need selain itu terdapat variabel luar yaitu tingkat individu dari responden.

25

2.6 Hipotesis Penelitian


a.

Terdapat karakteristik responden dengan unmetneed.

hubungan

b.

Terdapat hubungan faktor eksternal dengan unmetneed Terdapat hubungan

c.

hubungan faktor eksternal dengan status pemakaian alat kontrasepsi PUS

26

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian analitik karena mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi , dan kemudian melakukan analisis korelasi antara fenomena baik anatara faktor resiko dengan faktor efek (Notoadmodjo, 2005). Selanjutnya data yang diperoleh akan dikumpulkan , diolah, disajikan , diterprestikan sesuai dengan tujuan penelitian (Budiarto, 200 Berdasarkan jenis pendekatan yang digunakan, penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional karena pengumpulan data variabel bebas maupun variabel terikat dilakukan pada suatu saat atau suatu periode tertentu pada waktu yang bersamaaan (Budiarto, 2003) 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian adalah 9 Desa di wilayah Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember, yaitu Desa Jambearum, Plerean, Randuagung, Sumberjambe, cumedak, Pringgodani, Gunung Malang, Sumber Pakem, Rowoasri pada tahun 2011 3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi Penelitian Populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi pada penelitian ini adalah PUS yang mengalami unmet need Kecamatan Sumberjambe yaitu sebanyak 4.890

27

27 3.3.2 Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian populasi yang diambil dari keseluruhan obek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Arikunto, 2006). Sampel dalm penelitian ini adalah responden yang terpilih dari populasi penelitian . Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahap sebagai berikut :
a.

Berdasarkan dari data R1/KS kecamatan sumberjambe diketahui pada tahun

2011 terdapat 17001 PUS. Menurut Rea dan Paker dalam Eriyanto (2007) untuk menentukan besar sampel dengan populasi yang diketahui menggunakan rumus :

n=

291

Keterangan : Z N n p : mengacu pada nilai z (tingkat kepercayaan). Tingkat kepercayaan yang digunakan 95%, maka nilai z adalah 1,96 : besarnya populasi : besar sampel : proporsi persentase yaitu 0,28

1-p : proporsi di dalam populasi Berdasarkan perhitungan tersebut maka sampel penelitian yang digunakan sebanyak 291 .
b.

Peneliti memilih wilayah yang akan diteliti dengan pengambilan sampel

secara (stratified random sampling) pada Kecamatan Sumberjambe terbagi

28

berdasarkan beberapa kelompok yang mempunyai karakteristik dan masingmasing kelompok dipilih secara random dengan perhitungan sebagai berikut:

Tabel 3.1 Jumlah Sampel tiap Desa


No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Desa Sumberjambe Rowoasri Gunungmalang Cumedak Randuagung Sumberpakem Plerean Pringgodani Jambearum Jumlah Populasi 532 397 615 624 551 401 545 515 710 4890 Jumlah Sampel 32 24 36 37 33 24 32 31 42 291

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel penelitian dalam penelitian ini adalah:
a.

Faktor administratif yang terdiri atas : 1. 2. Rasa takut terhadap efek samping Alasan kesehatan Faktor kongnitif , yakni pengetahuan tentang manfaat alat kontrasepsi Faktor psikososial antara lain :
1.

b. c.

Norma sosial yang berlaku di masyarakat. Kondisi ekonomi keluarga yang mengalami unmet need Unmet Need

d.

e.

Definisi Operasional merupakan suatu definisi yang di berikan kepada variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikan kegiatan

29

ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur kostrak atau variabel tersebut (Natzir,2005)

Tabel 3.2 Variabel dan Definisi Operasional


no 1. Variabel Faktor Administratif persepsi terhadap a. Rasa takut efek mutu layanan baik secara personal samping maupun atas dasar pengalaman orang lain adanya infomasi mengenai efek samping dari alkon , yaitu menyebabkan gemuk, flek hitam, menyebabkan kurus Wawancara Dengan Kuesioner 1. ya 2. tidak Definisi operasional Instrumen Klasifikasi Skala data

nominal

Alasan kesehatan

Wawancara Dengan Kuesioner

1. ya 2. tidak

2.

Faktor kongnitif

Segala sesuatu yang diketahui respondenden tentang KB Menurut BKKBN (2006), program keluarga berencana adalah suatu program yang dimaksudkan untuk membantu para pasangan dan perorangan dalam mencapai tujuan reproduksi mereka,

Wawancara Dengan Kuesioner

1. Rendah 2. Sedang 3. Tinggi

a.

KB

Ordinal

30

mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan mengurangi insiden kehamilan berisiko tinggi, kesakitan dan kematian, membuat no variabel Definisi operasional instrumen klasifikasi Skala data

31

b. c.

pelayanan yang bermutu, terjangkau, diterima dan mudah diperoleh bagi semua orang yang membutuhkan, meningkatkan mutu nasihat, komunikasi, informasi, edukasi, konseling dan pelayanan, meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab pria dalam praktik KB, dan meningkatkan pemberian ASI untuk penjarangan kehamilan Merupakan Jenis Jenis kontasepsi Efek yang diinginkan dari alat tidak

Jenis Alkon

Efek samping

Faktor Psikososial

Hubungan dengan norma yang berlaku, agama, penolakan personal serta penolakan dari orang orang terdekat Menggambarkan kemampuan suatu pihak yang membutuhkan layanan secara ekonomi

Wawancara Dengan Kuesioner

1 mendukung 2. tdk mendukung

4.

Faktor Ekonomi

Wawancara Dengan Kuesioner

1. 1. sangat miskin 2. 2. Miskin 3. 3. Menengah 4. 4. Kaya 5. Sangat kaya

Interval

3.4 Data dan Sumber Data

32

Data adalah bahan keterangan tentang sesuatu objek penelitian (Bungin, 2001). Data primer merupakan data yang didapat dari sumber pertama yaitu individu atau perseorangan (Nazir, 2003). Data sekunder merupakan data primer yang diperoleh dari pihak lain atau data primer yang telah diolah atau disajikan, baik oleh pengumpul data primer maupun oleh pihak lain yang pada umumnya disajikan dalam bentuk tabel atau diagram. Data sekunder pada umumnya digunakan oleh peneliti untuk memberikan gambaran tambahan, gambaran pelengkap ataupun diproses lebih lanjut (Notoatmodjo, 2002). 3.5 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data 3.5.1 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematis dari standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Secara umum metode yang digunakan dalam pengumpulan data dibagi atas beberapa kelompok yaitu metode dengan menggunakan pertanyaan, metode pengamatan langsung dan metode khusus (Nazir, 2003). Data penelitian ini akan dikumpulkan dengan cara sebagai berikut: a. Wawancara Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan interiew guide (panduan wawancara). Teknik wawancara secara mendalam dilakukan peneliti dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan penyelidikan untuk menggali lebih lanjut suatu keterangan. Teknik wawancara dilakukan dengan memberikan pertanyaan yang bersifat mengarah pada kedalaman informasi serta dilakukan dengan cara tidak formal guna menggali pandangan subjek yang diteliti tentang banyak hal yang sangat bermanfaat untuk menjadi dasar bagi penggalian informasi secara lebih jauh .(Nazir, 2003).
b.

Pengamatan (Observasi)

33

Observasi adalah kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra (Arikunto, 2006). Pengamatan memungkinkan peneliti merasakan apa yang dirasakan dan dihayati oleh subjek sehingga memungkinkan pula peneliti menjadi sumber data (Moleong, 2009). 3.5.2 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang digunakan sebagai sarana yang dapat diwujudkan dalam bentuk benda (Riduan, 2005). Instrumen dalam penelitian ini adalah interiew guide (panduan wawancara) yang digunakan untuk metode pengumpulan data 3.6 Teknik Penyajian dan Analisis Data 3.6.1 Teknik Penyajian Data Penyajian data adalah salah satu kegiatan pembuatan laporan hasil penelitian yang telah dilakukan agar dapat dipahami, dianalisis sesuai dengan tujuan yang diinginkan, dan kemudian ditarik kesimpulan sehingga menggambarkan hasil penelitian (Suyanto, 2005). Teknik Penyajian data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : a. (editing) Editing dilakukan sebelum pengolahan data . Data yang telah dikumpilkan dari kuesioner perlu dibaca dan diperbaiki, apabila terdapat hal-hal yang salah atau masih meragukan, misalnya melihat lengkap tidaknya kuesioner yang diisi, keterbacaan tulisan, kejelasan makna dan jawaban, dan kesesuaian antara pertanyaan yang lain. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki kualitas data serta keraguan data. Pemeriksaan Data

b.

Pemberian scor (skoring)

34

Untuk menentukan skor atau nilai dari jawaban responden , dengan nilai tertinggi sapai terendah dari kuesioner yang dilakukan. c. tabel-tabel sesuai dengan variabel yang diteliti. 3.6.2 Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini diuji dengan melakukan interpretasi nilai p hasil uji statistik. Untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dilakukan uji statistik Regresi dengan tingkat kemak-naan 5 % ( = 0,05). Dalam melakukan analisis ini menggunakan bantuan program SPSS 11.5 Tabulasi (Tabulating) Kegiatan ini dilakukan dengan cara memasukkan data yang diperoleh kedalam

3.7 Alur Penelitian


Start

Pengambilan Data Awal di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Jember

35

Memilih masalah yaitu tingginya proporsi unmet need di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Merumuskan Masalah dan Tujuan Menentukan populasi dan sampel penelitian yaitu PUS yang mengalami Unmet Need

Menentukan dan Menyusun Instrumen berupa lembar wawancara dan lembar observasi

Mengumpulkan data primer melalui wawancara

Mengolah dan menyaikan data Melakukan pembahasan, menarik kesimpulan dan memberikan saran

Stop Gambar 3.1 Alur Penelitian DAFTAR PUSTAKA Arikunto.S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Bumi Aksara.

36

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatam Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. Budiarto, E. 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta: EGC. Bungin, B. 2009. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana BKKBN, 2009. Pedoman Substansi Program KB se jawa timur. Surabaya : BKKBN. BKKBN, 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. BPPKB, 2010. Data Umpan Balik Program KB-KS tahun 2010. Jember: BPPKB BPPKB, 2011. Evaluasi Hasil Pencapaian Program Keluarga Berencana Nasional Januari-Desember 2010 Kabupaten Jember : BPPKB BPS & Macro International (2007) Survei demografi dan kesehatan Indonesia 2007, Calverton, Maryland, USA: BPS, Macro International. Bruce, J. 1990. Fundamental Elements of the Quality of Care: A Simple Framework. Studies in Family Planning 21(1): 61-91. Casterline, J.B., A.E. Perez, Biddlecom, A. E. 1995. Factors Underlying Unmet Need for Family Planning in the Philippines. Presented at the Annual Meeting of the Population Association of America, San Francisco, April 6-8. Dixon-Mueller, R. & Germain, A. (1992) Stalking the elusive "unmet need" for family planning. Studies in Family Planning, Dewi.M.G.A,2006 faktor-faktor Eksternal yang berpengaruh terhadap prevalensi Unmet Need di profinsi Bali. Universitas Udayana: Buletin studi Ekonomi: {serionline}www.isjd.pddi.lipi.go.id/admin/jurnal/11206138149.pdf [18 Oktober 2012] Entjang, Indan. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. Hartanto, Hanafi. 2004. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Isa.Muhamad,2009. Determinan Unmet Need KB Keluarga Berencana di Indonesia(analisis data SDKI tahun 1997). Universitas Indonesia: FE

37

universitas Indonesia {seri online} www.digital_126978-6683-determinan unmet-HA.pdf [18 Oktober 2012] Manuaba, Ida B.G. 1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: Arcan. Moleong, L. J. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Nazir, M. 2003. Metode Penelitian Cetakan V. Jakarta: Ghalia Indonesia. Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta Pribadi, Anggun. 2008. Profil Penggunaan Kontrasepsi pada Pasangan Usia Subur (PUS) di Wilayah Kecamatan Nguter Kabupaten Sukoharjo. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. [Serial Online]. http://etd.eprints.ums.ac.id/2228/1/K100020209.pdf. [18 Oktober 2012] Riduwan,2005. Dasar-Dasar Statistika.Bandung: Alfabeta Saifuddin, A.B. 2003. Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo. Spethenson,R,and M.Henrik.2004. Barrier to family Planing Service Use among The Urban Poor in Pakistan. Asia Pasific population Journal19(2) Suratun, Heryati, Manurang, Raenah, 2008. Pekayanan keluarga berencana dan pelayanan kontrasepsi. Jakarta : Trans Media Suyanto, B. 2005. Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana Westoff, C. & Ochoa, L. H. (1991) Unmet need and the demand for family planning. DHS Comparative Studies No. 5, Columbia, Maryland: Institute for Resource Development Westoff, C. F. & Bankole, A. (1995) Unmet Need: 1990-1994. DHS Comparative Studies No. 16, Calverton, Maryland: Macro International Inc.