Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Di Indonesia, penyakit infeksi merupakan masalah kesehatan yang cukup serius. Salah satu diantara penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat, yang menduduki urutan ke-10 dari urutan prevalensi penyakit di Indonesia. Infeksi sistem saraf pusat tersebut merupakan keadaan yang bisa membahayakan kehidupan anak dan berpotensial menyebabkan kerusakan permanen pada pasien yang hidup.1,2 Diagnosis dini masih merupakan persoalan, karena kadang-kadang sulit membedakan apakah penyebabnya virus(aseptik) atau bakteri bila hanya dengan pemeriksaan fisik saja. Oleh karenaitu perlu penting diketahui tentang batasan, etiologi, patogenesis, gambaran klinisdan penatalaksanaan meningitis aseptik dalam upaya menekan komplikasi yangtimbul lebih lanjut. Meningitis bakterial merupakan salah satu jenis penyakit infeksi pada selaput pembungkus otak atau meningen serta cairan yang mengisi ruang subarakhnoid. Meningitis bakterial merupakan penyakit yang serius atau penyakit kedaruratan medik apabila tidak ditangani dengan baik dan tepat. Etiologi atau penyebab dari meningitis sebagian besar disebabkan oleh bakteri dan selebihnya disebabkan oleh virus, parasit, serta jamur. Bakteri penyebab meningitis terbanyak disebabkan oleh Hemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Definisi Meningitis bakterial adalah suatu peradangan pada selaput otak ( araknoid dan piamater ), yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman nonspesifik dan nonvirus. Meningitis bakterial ditandai dengan peningkatan jumlah sel polimorfonuklear dalam cairan serebrospinal dan terbukti adanya kuman penyebab infeksi pada cairan serebrospinal.2,3 1.2 Etiologi Meningitis bakterial disebabkan oleh kuman nonspesifik dan nonvirus. Sebagai kuman penyebab ialah jenis Pneumococcus, Haemophilus influenzae, Staphylococcus, Streptococcus, E.coli, Meningococcus dan Salmonella. Di Jakarta penyebab terbanyak ialah Pneumococcus dan Haemophilus influenzae. Di Amerika penyebab terbanyak Meningococcus, sedangkan di Jakarta jarang ditemukan. Pada neonatus meningitis bakterial disebabkan oleh Group B Streptococcus ( 49 % ), E coli ( 18 % ), Listeria monocytogenes ( 7 % ). Pada bayi dan anak anak dapat disebabkan oleh Haemophilus influenzae ( 40 60 % ), Neisseria meningitidis ( 25 40 % ), Pneumococcus ( 10 20 % ).3,4 1.3 Epidemiologi Meningitis bakterial pada bayi dan anak masih sering dijumpai di Indonesia. Angka kejadian tertinggi terjadi pada umur antara 2 bulan 2 tahun. Umumnya terjadi pada anak yang distrofik, yang daya tahan tubuhnya rendah, dan hidup di lingkungan sosial ekonomi rendah. Di Amerika Serikat pada tahun 1994 angka kejadian untuk anak anak di bawah 5 tahun berkisar 8,7 per 100.000 sedangkan pada anak di atas 5 tahun 2,2 per 100.000. Lebih sering terjadi pada laki laki dibandingkan pada perempuan dengan perbandingan 1,7 3 : 1. Sekitar 80 % dari seluruh kasus meningitis bakterial terjadi pada anak dan 70 % dari jumlah tersebut terjadi pada anak berusia 1 sampai 5 bulan.2,3

1.4 Patogenesis Meningitis bakterial umumnya sebagai akibat komplikasi penyakit lain. Umumnya penyebaran bakteri secara hematogenous yang berasal dari infeksi di tempat lain seperti faringitis, tonsilitis, endokarditis, pneumonia, infeksi gigi. Bakteriemia biasanya mendahului meningitis atau terjadi dalam waktu yang sama, sehingga sering didapatkan biakan kuman yang positif pada darah, yang sesuai dengan kuman yang ada dalam cairan otak. Saluran napas merupakan port of entry utama bagi banyak penyebab meningitis purulenta. Kuman dapat masuk dalam bentuk aerosol atau droplet dan kemudian melekat pada sel epitel mukosa nasofaring untuk melakukan kolonisasi. Kuman kemudian masuk ke dalam aliran darah dengan menembus mukosa dan memperbanyak diri di dalam aliran darah yang dapat menimbulkan bakteriemia. Dari aliran darah kuman masuk ke dalam cairan serebrospinal, kemudian memperbanyak diri sampai akhirnya menimbulkan peradangan pada selaput otak. Meningitis juga bisa terjadi karena perluasan langsung infeksi yang letaknya berdekatan dengan selaput otak seperti sinusitis, mastoiditis, otitis media, abses otak, dan trombosis sinus cavernosus. Atau bisa juga infeksi terjadi secara langsung pada keadaan seperti trauma kepala terbuka, tindakan bedah otak, dan pungsi lumbal yang kurang steril. Kuman atau bakteri yang ada pada saluran genital ibu sangat mudah menginfeksi bayi baru lahir pada saat ketuban pecah. Group B streptococcus dan Listeri monocytogenes dapat menginfeksi janin secara transplasental. Keadaan ini dapat menimbulkan sepsis dan kemudian meningitis. Resiko meningkat jika bayi lahir prematur atau dengan BBLR.1,2,5 1.5 Patofisiologi Patofisiologi meningitis bakterial merupakan proses yang kompleks, komponen komponen bakteri dan mediator inflamasi berperan dalam menimbulkan respon radang pada selaput otak ( meningen ) yang kemudian menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial dan penurunan aliran darah otak yang dapat menimbulkan gejala sisa. Umumnya otak dilindungi oleh sistem imun dan sawar darah otak pada selaput darah otak yaitu antara aliran darah dengan otak. Jika bakteri dapat lolos masuk ke dalam cairan otak maka bakteri akan memperbanyak diri dengan mudah dan cepat oleh karena kurangnya pertahanan humoral dan aktivitas fagositosis dalam cairan otak. Bakteri yang 3

telah berkembang biak akan tersebar ke seluruh ruang subaraknoid secara pasif karena aliran cairan serebrospinal. Bakteri pada waktu berkembang biak atau pada waktu mati akan melepaskan dinding sel atau komponen komponen membran sel ( endotoksin, teichoic acid ) yang menyebabkan kerusakan jaringan otak serta menimbulkan peradangan diselaput otak. Bakteri Gram negatif pada waktu lisis akan melepaskan lipopolisakarida/ endotoksin, dan bakteri Gram positif akan melepaskan asam teikoat. Adanya komponen bakteri yang dilepaskan oleh bakteri akan menstimulasi sel Endotel dan sel makrofag sistem saraf pusat untuk melepaskan mediator mediator inflamasi seperti Interleukin-1 ( IL-1 ) dan tumor necrosis factor ( TNF ). Mediator mediator ini kemudian menginduksi Prostaglandin E2 yang menyebabkan peningkatan permeabilitas sawar darah otak. Meningkatnya permeabilitas kapiler ini menyebabkan cairan intravaskular akan merembes keluar ke dalam ruang ekstraselular ( edema vasogenik ). Permeabilitas kapiler selaput otak mempermudah migrasi neutrofil, sel fagosit, polimorfonuklear sehingga terjadi pleositosis pada cairan serebrospinalis yang menyebabkan gangguan permeabilitas membran sel sehingga terjadi pengumpulan cairan di dalam neuron, glia, dan sel endotel yang menyebabkan pembengkakkan sel tersebut ( edema sitotoksik ). Terjadinya proses fagositosis bakteri oleh sel polimorfonuklear di ruang subaraknoid menyebabkan terbentuknya debris sel dan eksudat dalam ruang subaraknoid yang dapat menyumbat saluran cairan serebrospinalis. Keadaan ini dapat menyebabkan tekanan hidrostatatik ruang subaraknoid meningkat sehingga terjadi pemindahan cairan dari sistem ventrikel ke jaringan otak ( edema interstisial ). Ketiga macam edema serebri ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan intrakranial. IL-1 dan TNF juga menyebabkan interaksi antara endotel dengan leukosit dengan akibat terjadinya kerusakan endotel dan kemudian meningkatkan permeabilitas sawar darah otak. Mediator diatas juga menginduksi produksi platelet-activating factor ( PAF ) yang dapat menimbulkan trombosis yang dapat mengganggu aliran darah ke otak. Tekanan intrakranial yang meningkat juga menyebabkan penurunan aliran darah ke otak sehingga otak kekurangan O2 untuk metabolisme sehingga terjadi gangguan fungsi metabolik yang menimbulkan ensefalopati toksik yaitu peningkatan kadar asam laktat dan penurunan pH cairan serebrospinal dan asidosis jaringan yang disebabkan metabolisme anaerobik.2,3 4

1.6 Gejala Klinis Gejala klinis meningitis bakterial bervariasi tergantung umur penderita, lamanya sakit sebelum mendapat perawatan, dan jenis bakteri. Tidak ada gejala yang spesifik dimana gejala meningitis juga bisa ditemukan pada anak anak yang tidak menderita meningitis. Ada 3 gejala yang umum terjadi pada meningitis bakterial yaitu gejala infeksi akut seperti anak tampak lesu, panas, dan anoreksia. Gejala tekanan intrakranial yang meningkat seperti sering muntah, nyeri kepala, tangis yang merintih ( pada neonatus ), kesadaran menurun dari apatis sampai koma, kejang, ubun ubun besar menonjol dan tegang. Gejala rangsangan meningeal seperti kaku kuduk, tanda tanda spesifik seperti Kernig, Brudzinsky I dan II positif, kadang ada nyeri punggung. Berdasarkan umur akan didapatkan gejala klinis meningitis yang bervariasi. Pada neonatus tanda tanda rangsangan meningeal jarang ada dan jika ada sulit untuk di evaluasi. Biasanya pada neonatus didapatkan gejala demam, gelisah, nafsu makan menurun, tangis yang merintih, dan muntah. Pada anak yang berumur 1 18 bulan tanda dan gejala sering kali tidak spesifik yaitu terdiri dari demam, gelisah, apatis sampai somnolen, muntah, nafsu makan menurun, nangis jika dipegang, ubun ubun besar menonjol, dan kejang. Pada anak yang lebih tua gejala yang timbul terdiri dari demam, sakit kepala, tanda tanda rangsangan meningeal, kejang, muntah, gelisah sampai somnolen, dan jika sampai koma menandakan prognosisnya jelek.2,6 1.7 Diagnosis Diagnosis meningitis bakterial dapat ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan cairan serebrospinalis yang didapatkan dengan pungsi lumbal. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan gejala dan tanda yang akut, fulminan, dengan tanda-tanda khas "trias klasik" (3 tanda klasik) yang berupa: demam, kaku kuduk dan penurunan kesadaran. Tanda-tanda kaku kuduk biasanya sulit ditemukan pada keaadaan tertentu seperti pada neonatus. Selain tiga tanda diatas mual, muntah, kejang, fotofobia dan gejala klinis lainnya yang sudah dijelaskan diatas juga dapat ditemukan. Pada bayi sering ditemukan bulging (benjolan) pada fontanela bayi atau neonatus. Untuk mencari adanya iritasi pada selaput meningen harus dilakukan tes kaku kuduk, tanda 5

brudzinki dan kernig. Pemeriksaan kesadaran pasien, pemeriksaan saraf-saraf kranial dan tepi, serta dilakukan pemeriksaan pada mata yaitu untuk melihat apakah telah terjadi udem pada papil. Diagnosis meningitis tidak dapat dibuat hanya dengan melihat gejala dan tanda saja. Karena tanda dan gejala seperti tersebut diatas bisa juga ditemukan pada anak anak yang tidak menderita meningitis bakterial. Diagnosis pasti dari meningitis bakterial hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan cairan serebrospinalis melalui pungsi lumbal. Oleh karena itu pungsi lumbal harus dilakukan jika dicurigai meningitis bakterial dari tanda dan gejala yang didapat. Pada fase awal penyakit bisa saja hasil pemeriksaan cairan serebrospinalis normal, maka dari itu jangan sampai menghilangkan kewaspadaan terhadap penderita yang dicurigai meningitis bakterial dengan hasil pemeriksaan cairan serebrospinalis normal. Pada meningitis bakterial umumnya cairan serebrospinalis berwarna opalesen sampai keruh. Dari pemeriksaan cairan serebrospinalis pada penderita meningitis bakterial akan ditemukan pleositosis ( 500 10.000/mm3 ) dimana sel yang dominan adalah polimorfonuklear yaitu neutrofil dan granulosit sampai sekitar 95 %. Dengan perjalanan penyakit ada kenaikan bertahap limfosit dan sel mononuklear yang besar dan adanya pengobatan antibiotik sebelum pungsi lumbar dapat mengacaukan gambaran cairan serebrospinalis. Glukosa menurun < 40 mg/dl kurang dari setengah kadar glukosa serum. Protein meningkat biasanya diatas 75 % tapi perlu diperhatikan kadar protein normal yang berbeda menurut umur. Reaksi Nonne dan Pandy umumnya positif kuat. Kultur dan uji resistensi bakteri pada cairan serebrospinalis baru ada hasil setelah 24 72 jam. Hasil dari kultur dan uji resistensi akan mengarahkan kita pada pengobatan yang tepat. CT scan diperlukan untuk evaluasi kontra indikasi pungsi lumbal dan komplikasi - komplikasi yang mungkin terjadi.2,3,4,6 1.8 Diagnosis banding Ada beberapa penyakit yang memiliki gejala dan tanda yang hampir sama dengan meningitis bakterial seperti meningitis aseptik, meningitis tuberkulosa, meningitis fungi, meningoensefalitis, abses otak. Untuk membedakannya diperlukan pemeriksaan cairan serebrospinalis dan jika perlu pemeriksaan foto roentgen.5

1.9 Penatalaksanaan Pasien meningitis purulenta pada umumnya kesadarannya menurun dan seringkali disertai muntah dan atau diare. Oleh karenanya untuk membina masukan yang baik, penderita perlu langsung mendapat cairan intra vena dan jika terjadi asidosis diperlukan cairan yang mengandung korektor basa. Bila anak kejang dapat diberikan diazepam 0,5 mg/kgBB/kali intravena yang dapat diulang dengan dosis yang sama 15 menit kemudian bila kejang belum berhenti. Apabila kejang berhenti dilanjutkan dengan pemberian fenobarbital dengan dosis awal 10 20 mg/kgBB IM, dua puluh empat jam kemudian diberikan dosis rumat 4 5mg/kgBB/hari. Pada penelitian pemberian steroid dapat mengurangi produksi mediator mediator radang, sehingga dapat mengurangi kecacatan seperti paresis dan tuli. Diberikan 10 20 menit sebelum terapi antibiotika. Kortikosteroid yang memberikan hasil baik ialah deksametason dengan dosis 0,6 mg/kgBB/hari selama 4 hari. Pemberian antibiotik terdiri dari 2 fase, yaitu fase pertama sebelum ada hasil biakan dan uji sensitifitas. Pada fase ini pemberian secara empirik. Karena penyebab terbanyak H. influenzae dam Pneumococcus maka digunakan kombinasi ampisilin dan kloramfenikol secara intravena. Dosis ampisilin 200 300 mg/kgBB/hari dibagi dalam 6 dosis, kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis, pada neonatus 50 mg/kgBB/hari. Paada bayi dan anak pengobatannya selama 10 14 hari, dan pada neonatus selama 21 hari. Pengobatan secara empirik lain adalah pada neonatus digunakan kombinasi antara ampisilin dengan aminoglikosid ( gentamisin ) atau ampisilin dengan cefotaxim. Pada umur 3 bulan 10 tahun digunakan kombinasi ampisilin dengan cefotaxim atau ampisilin dengan seftriakson, atau ampisilin dengan kloramfenikol. Pengobatan fase kedua dilakukan setelah ada hasil biakan dan uji sensitifitas disesuaikan dengan kuman penyebab dan obat yang serasi. Berdasarkan identifikasi jenis kuman, antibiotik yang digunakan untuk meningitis purulenta karena H. influenzae adalah ampisilin, kloramfenikol, seftriakson dan sefotaxim. Jika penyebabnya S. pneumoniae diberikan penisilin, kloramfenikol, seftriakson, cefuroksim, dan vankomisin. Jika penyebabnya N. meningitidis dapat diberikan penisilin, kloramfenikol, sefuroksim, dan seftriakson. Dosis antibiotika pada meningitis purulenta : ampisilin 200 300 mg/kgBB/hari, kloramfenikol 100 mg/kgBB/hari, cefuroksim 250 mg/kgBB/hari, cefotaksim 200 mg/kgBB/hari, seftriakson 100 mg/kgBB/hari, gentamisin neonatus ( 0 7

7 hari ) 5 mg/kgBB/ hari, ( 7 28 hari ) 7,5 mg/kgBB/hari. Pungsi lumbal ulangan dilakukan apabila klinis membaik pada hari ke-10 pengobatan, dan jika keadaan laboratorium membaik pengobatan diteruskan 2 hari lagi, kemudian dipulangkan. Pada neonatus lamanya pengobatan 21 hari.2,3 1.10 Prognosis Ada banyak faktor yang menentukan prognosis dari meningitis bakterial diantaranya umur pasien, jenis bakteri penyebab, berat ringannya infeksi, lamanya sakit sebelum mendapat pengobatan, dan kepekaan bakteri terhadap antibiotik yang diberikan. Prognosis buruk pada bayi yang berumur dibawah 6 bulan. Angka kematian meningitis bakterial yang disebabkan oleh H. influenzae adalah 6,5%, N. meningitidis 12%, dan S. pneumoniae 28%. Apabila infeksi yang terjadi disertai kejang kejang lebih dari 4 hari, DIC, dan coma menunjukkan prognosis yang buruk. Apabila pengobatan terlambat dan tidak adekuat dapat menimbulkan kematian dan kecacatan yang permanen. Infeksi yang disebabkan bakteri yang resisten terhadap antibiotik bersifat fatal. Terapi antibiotik yang tepat dan pengobatan supportif dapat menurunkan angka kematian meningitis bakterial pada masa setelah neonatus yaitu dibawah 10%.2,6,7

BAB III LAPORAN KASUS I. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Suku Bangsa Agama Alamat MRS : Chandra Maharani : 8 bulan : Bali : Indonesia : Hindu : Jalan Angsoka 2 No. 28 Denpasar : Rabu 7 Maret 2012 ( pukul 15:30 WITA di Jempiring )

Jenis Kelamin : Perempuan

Tggl Pemeriksaan : Selasa 20 Maret 2012 (pkl 10.30 WITA) II. ANAMNESIS ( Heteroanamnesis ) Keluhan Utama : Demam Penderita kiriman dari dokter umum ke Bag. Anak RS Sanglah. Penderita diantar orang tua dikeluhkan demam sejak tanggal 6 Maret 2012 pukul 02.00 WITA yaitu 1 hari SMRS. Demam dikatakan mendadak tinggi, timbul sepanjang hari, dan turun dengan obat penurun panas. Namun setelah beberapa jam pasien demam lagi. Panas badan saat diukur di dokter umum mencapai 39 C. Riwayat kejang dan menggigil disangkal. Sebelum mengalami demam, penderita dikatakan pilek sejak 4 hari SMRS, keluar sekret encer, namun sudah sembuh sejak satu hari SMRS. Riwayat batuk, mual, dan muntah disangkal. Tanda perdarahan, mimisan, gusi berdarah, bintik-bintik merah di kulit tidak ada. Makan/minum normal. Buang air besar dan buang air kecil normal seperti biasanya. Setelah dua hari dirawat dirumah sakit, ternyata demamnya tetap muncul setelah beberapa jam pemberian obat penurun panas. Pasien bertambah rewel, terkesan gelisah, dan menangis terutama saat dipegang akan diangkat dari tempat tidur oleh ibunya. Hingga pasien sulit untuk tidur. Makan.minum berkurang dari biasanya. Keluhan lain disangkal oleh ibu pasien.

Riwayat Pengobatan 1 hari SMRS sempat dibawa ke praktek dokter umum. Di sana diberikan obat penurun panas dan panas mau turun. Sore harinya penderita demam lagi dan dibawa ke dokter lagi. Penderita disarankan melakukan pemeriksaan darah lengkap pada tanggal 7 Maret 2012. Setelah ada hasil pasien kemudian dirujuk ke Bag. Anak RSUP Sanglah untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Riwayat Persalinan Lahir di RS dengan persalinan normal, ditolong oleh dokter Sp OG, BBL : 3000 gram, PBL : 50 cm, segera menangis. Riwayat Nutrisi ASI : 0 - sekarang Riwayat Imunisasi BCG, Polio 4 kali, Hepatitis B 4 kali, DPT 3x III. PEMERIKSAAN FISIK (saat pasien masuk) Status Present : Keadaan umum : Sakit sedang Kesadaran Nadi Respirasi Temp Aksila Status gizi Status General : Kepala Mata : Normocephali : Anemis (-), ikterus (-), refleks pupil (+/+) isokor Dolls eye movment (-), nistagmus (-), strabismus (-), deviation Conjugee (-) THT Leher : NCH (-) cyanosis (-) : Kaku kuduk (-) pembesaran kelenjar (-) 10 : Compos Mentis : 120 x/ menit : 43 x/ menit : 37,60C : 109,7 % ( gizi lebih ) Panjang Badan : 69 cm Berat Badan : 9 kg

Thorax Abdomen Ekstremitas

: Cor : S1 S2 normal, reguler, murmur (-) Po : BV +/+, Rh -/-, Wh, -/: Distensi (-), BU (+) normal, hepar/lien tidak dapat teraba : akral hangat (+), cyanosis (-) Reflek fisiologis (+) untuk keempat ekstremitas, reflek patologis (-) untuk keempat ekstremitas, Kernig dan Brudzinki I dan II (-) / sulit dievaluasi, tonus normal.

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Darah Lengkap ( 7 / 3 / 2012 ) WBC HB HCT PLT MCV MCH MCHC NS1 : 14,38 K/ uL : 9,8 g/dl : 29,7 % : 34,6 K/ uL : 76,8 : 35,3 : 32,90 : Negatif

Lumbal pungsi (10/3/2012) Warna None Pandy Sel leukosit PMN MN Erytrosit Glukosa : jernih : negatif : positif (+1) : 486 : 50% : 50% : 0-1 / LPB : 20,88 mg/dL

Total protein : 82,72 mg/dL

11

VI. USULAN PEMERIKSAAN Kultur LCS, Blood Smear VII. DIAGNOSIS KERJA Meningitis bakterial + Gizi lebih VIII. PENATALAKSANAAN - Kebutuhan cairan maintenance 900 cc per hari - IVFD D5 NS 500 cc/hari 5 tetes makro per menit - Cefotaxim 200 mg/kg BB/hari ~ 4 x 500 mg IV - Dexametason 0,6 mg/kg BB/hari ~ 4 x 5 mg IV (30 menit sebelum antibiotik) - Paracetamol bila temperatur axilla lebih dari 380C + kompres hangat FOLLOW UP PENDERITA DI RUANGAN TGL 7/3/2012 S Demam (+), muntah (-), Kejang (-), minum baik O St Present sedang -Kes: CM -HR:120X/mnt, -RR:30X/mnt -Tax : 38,80C St. Generalis -Kepala : N cephali, UUB:datar -Mata: an (-), ikt(-) Rp +/+ isokor.doll eye movment (-), (-), 12 nistagmus A Susp. bakteri dengan P - Kebutuhan cairan hari - IVFD D5 NS 500 menit - Paracetamol Cth I

-Ku: Tampak sakit Meningitis maintenance 900 cc per

Gizi Lebih cc/hari 5 tetes makro per

deviation (-)

conjugee

-THT:NCH(-), cyan(-) -Leher : KK (-), PK (-) -Thoraks :Co/po dbn -Abdomen :Distensi (-), BU (+) N, H/L ttb, -Ext : Akral hangat (+), cyan (-) Kernig 8/3/2012 Kejang (-), (+) dan brudzinski (-) St Present sedang -Kes: CM -HR:110X/mnt, -RR:32X/mnt -Tax : 37,30C St Generalis idem 9/3/2012 Kejang (-), demam (-), minum (+) Lab: St Present -Ku:Sedang -Kes: CM -HR:115X/mnt, -RR:35X/mnt -Tax : 37,2 0C St Generalis idem Susp. bakteri dengan - Kebutuhan cairan hari - IVFD D5 NS 500 menit - Cefotaxim 3 x 500 mg IV 10/3/2012 Kejang (-), St Present Meningitis - Kebutuhan cairan 13 Susp. bakteri dengan - Kebutuhan cairan hari - IVFD D5 NS 500 menit

demam , minum -Ku: Tampak sakit Meningitis maintenance 900 cc per

Gizi Lebih cc/hari 5 tetes makro per

Meningitis maintenance 900 cc per

Gizi Lebih cc/hari 5 tetes makro per

demam (-), minum (+)

-Ku: Sakit Sedang bakteri -Kes: CM -HR:115X/mnt, -RR:35X/mnt -Tax : 37,2 0C St Generalis idem Lab DL: WBC: 14,90 () RBC : 3,67 () HGB : 8,20 () HCT : 27,20 () MCV: 74,10 () MCH : 22,30 () MCHC : 30,10 () PLT : 114,00 () Lab Analisa LCS Simpulan: Meningitis Bakteri dengan

maintenance 900 cc per hari cc/hari 5 tetes makro per menit IV mg Dexametason IV (30 0,6 menit mg/kg BB/hari ~ 4 x 5 sebelum antibiotik) Cefotaxim 200 mg/kg/hari ~ 4 x 500 mg

Gizi Lebih - IVFD D5 NS 500

14/3/2012

Demam (-), Kejang (-), muntah (-)

ide

Meningitis Kebutuhan cairan bakteri dengan maintenance 900 cc per hari cc/hari 5 tetes makro per menit IV Dexametason 14 0,6 Cefotaxim 200 mg/kg/hari ~ 4 x 500 mg

Gizi Lebih - IVFD D5 NS 500

mg/kg BB/hari ~ 4 x 5 mg IV (30 menit sebelum antibiotik) 16/3/2012 Kejang (-), demam (-), minum (+) Idem Jawaban Co THT: P/ ulang LP Meningitis I Kebutuhan cairan bakteri maintenance 900 cc per hari cc/hari 5 tetes makro per menit IV mg Dexametason IV (30 0,6 menit mg/kg BB/hari ~ 4 x 5 sebelum antibiotik) Aff infus Stop Dexamethasone injeksi 17/3/2012 Kejang (-), demam (-), minum (+) St Present -Ku:Sedang -Kes: CM -HR:140X/mnt, -RR:40X/mnt -Tax : 37,80C St Generalis idem 18/3/2012 Kejang (-), demam (-), St Present -Ku:Sedang Meningitis Kebutuhan cairan bakterial + maintenance 900 cc per 15 Meningitis Idem bakteri dengan Gizi Lebih Cefotaxim 200 mg/kg/hari ~ 4 x 500 mg

Keadaan THT tenang dengan

Gizi Lebih - IVFD D5 NS 500

minum (+)

-Kes: CM -HR:128X/mnt, -RR:34X/mnt -Tax : 360C St Generalis idem

gizi lebih + diaper rash

hari - IVFD D5 NS 500 cc/hari 5 tetes makro per menit IV mg Dexametason IV (30 0,6 menit mg/kg BB/hari ~ 4 x 5 sebelum antibiotik) -Paracetamol cth I bila Tax > 380C -Hidrocortison zalf di Cefotaxim 200 mg/kg/hari ~ 4 x 500 mg

19/3/2012

Kejang (-), demam (-), minum (+)

St Present -Ku:Sedang -Kes: CM -HR:120X/mnt, -RR:36X/mnt -Tax : 36,50C St Generalis idem

diaper rash Meningitis Kebutuhan cairan Bakterial + gizi lebih maintenance 900 cc per hari - IVFD D5 NS 500 cc/hari 5 tetes makro per menit IV mg Dexametason IV (30 0,6 menit mg/kg BB/hari ~ 4 x 5 sebelum antibiotik) Cefotaxim 200 mg/kg/hari ~ 4 x 500 mg

20/3/2012

Kejang (-), demam (-), minum (+)

St Present -Ku:baik -Kes: CM

Meningitis Kebutuhan cairan bakteri dengan maintenance 900 cc per hari 16

-HR:120X/mnt, -RR:36X/mnt -Tax : 36,50C St Generalis idem

Gizi Lebih - IVFD D5 NS 500 cc/hari 5 tetes makro per menit IV mg Dexametason IV (30 0,6 menit mg/kg BB/hari ~ 4 x 5 sebelum antibiotik) Cefotaxim 200 mg/kg/hari ~ 4 x 500 mg

21/3/2012

Keluhan (-)

St Present -Ku:baik -Kes: CM -HR:120X/mnt, -RR:36X/mnt -Tax : 36,50C St Generalis idem

Meningitis Kebutuhan cairan bakteri dengan maintenance 900 cc per hari cc/hari 5 tetes makro per menit IV mg Dexametason IV (30 0,6 menit mg/kg BB/hari ~ 4 x 5 sebelum antibiotik) P/ BPL Cefotaxim 200 mg/kg/hari ~ 4 x 500 mg

Gizi Lebih - IVFD D5 NS 500

17

BAB IIV PEMBAHASAN


Menurut literatur yang ada, pada anak-anak tidak ada gejala yang spesifik untuk mendiagnosis meningitis, dimana gejalanya juga bisa ditemukan pada anak anak yang tidak menderita meningitis. Ada 3 gejala yang umum terjadi pada meningitis bakterial yaitu gejala infeksi akut seperti anak tampak lesu, panas, dan anoreksia. Pada pasien ini didapatkan keluhan demam sejak 1 hari SMRS, tampak lesu, dan anorexia setelah dua hari dirawat dirumah sakit. Gejala lain berupa tanda-tanda tekanan intrakranial yang meningkat seperti sering muntah, nyeri kepala, tangis yang merintih ( pada neonatus ), kesadaran menurun dari apatis sampai koma, kejang, ubun ubun besar menonjol dan tegang tidak ditemukan pada pasien ini. Gejala rangsangan meningeal seperti kaku kuduk, tanda tanda spesifik seperti Kernig, Brudzinsky I dan II positif juga tidak ditemukan, dimana berdasarkan literatur dikatakan pada neonatus tanda tanda rangsangan meningeal jarang ada dan jika ada sulit untuk di evaluasi. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan gejala dan tanda yang akut, fulminan, dengan tanda-tanda khas "trias klasik" (3 tanda klasik) yang berupa: demam, kaku kuduk dan penurunan kesadaran. Pada pasien ini didapatkan gejala demam, dan pasien terlihat seperti gelisah (rewel dan mudah menangis), sedangkan kaku kuduk tidak ditmukan. Tanda-tanda kaku kuduk biasanya sulit ditemukan pada keaadaan tertentu seperti pada neonatus. Selain tiga tanda diatas mual, muntah, kejang, fotofobia dan gejala klinis lainnya yang sudah dijelaskan diatas juga tidak dapat ditemukan. Dari pemeriksaan fisik didapatkan kesadaran komposmentis, denyut nadi 120 x/menit, laju pernafasan 43 x/mnt, temperatur axilla 37,6C, tinggi badan 69 cm, berat badan 9 kg. Status generalis didapatkan dalam batas normal. Tanda-tanda kaku kuduk dan tanda spesifik seperti Kernig, Brudzinsky I dan II tidak ditemukan. Diagnosis meningitis tidak dapat dibuat hanya dengan melihat gejala dan tanda saja. Karena tanda dan gejala seperti tersebut diatas bisa juga ditemukan pada anakanak yang tidak menderita meningitis bakterial. Diagnosis pasti dari meningitis bakterial hanya dapat ditegakkan dengan pemeriksaan cairan serebrospinalis melalui pungsi lumbal. Pada meningitis bakterial umumnya cairan serebrospinalis berwarna opalesen sampai keruh. 18

Dari pemeriksaan cairan serebrospinalis pada penderita meningitis bakterial akan ditemukan pleositosis ( 500 10.000/mm3 ) dimana sel yang dominan adalah polimorfonuklear yaitu neutrofil dan granulosit sampai sekitar 95 %. Glukosa menurun < 40 mg/dl kurang dari setengah kadar glukosa serum. Protein meningkat biasanya diatas 75 % tapi perlu diperhatikan kadar protein normal yang berbeda menurut umur. Reaksi Nonne dan Pandy umumnya positif kuat. Kultur dan uji resistensi bakteri pada cairan serebrospinalis baru ada hasil setelah 24 72 jam. Pada pasien ini hasil pemeriksaan cairan serebrospinalis (10/03/2012) menunjukkan makroskopis yang jernih, reaksi none negative dan pandy positif satu (+1). Jumlah sel 486/mm 3 dimana perbandingannya 50% untuk sel polimorfonuklear, dan 50% untuk sel mononuklear. Protein meningkat yaitu 82,72 mg/dL dan glukosa rendah yaitu 28,08 mg/dL. Hasil ini mengarahkan ke arah diagnosis meningitis bakteri. Penatalaksanaan yang dilakukan pada pasien ini adalah IVFD D5 NS 500 cc/hari 5 tetes makro per menit, Cefotaxim 200 mg/kg BB/hari ~ 4 x 500 mg IV sebagai antibiotik, Dexametason 0,6 mg/kg BB/hari ~ 4 x 5 mg IV (30 menit sebelum antibiotik) sebagai antiinflamasi, Paracetamol sebagai antipiretik bila temperatur axilla lebih dari 380C dan kompres hangat. Pada pasien ini direncanakan pemeriksaan Kultur LCS dan Blood Smear. Monitoring yang dilakukan pada kasus ini adalah keluhan kejang, demam, dan vital sign. Prognosis pasien ini adalah dubius ad bonam.

19

BAB V KESIMPULAN
Meningitis bakterial merupakan salah satu jenis penyakit infeksi pada selaput pembungkus otak atau meningen serta cairan yang mengisi ruang subarakhnoid. Meningitis bakterial adalah suatu peradangan pada selaput otak ( araknoid dan piamater ), yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman nonspesifik dan non virus. Bakteri penyebab meningitis terbanyak disebabkan oleh: Hemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae dan Neisseria meningitidis. Meningitis bakterial pada bayi dan anak masih sering dijumpai di Indonesia. Angka kejadian tertinggi terjadi pada umur antara 2 bulan 2 tahun. Ada 3 gejala yang umum terjadi pada meningitis bakterial yaitu gejala infeksi akut seperti anak tampak lesu, panas, dan anoreksia. Gejala tekanan intrakranial yang meningkat seperti sering muntah, nyeri kepala, tangis yang merintih ( pada neonatus ), kesadaran menurun dari apatis sampai koma, kejang, ubun ubun besar menonjol dan tegang. Gejala rangsangan meningeal seperti kaku kuduk, tanda tanda spesifik seperti Kernig, Brudzinsky I dan II positif, kadang ada nyeri punggung. Komplikasi yang terjadi pada meningitis bakterial dapat terjadi sebagai akibat pengobatan yang tidak sempurna atau pengobatan yang terlambat. Komplikasi bisa akut atau bisa juga timbul dalam waktu yang lama setelah penderita sembuh. Komplikasi akut yang mungkin terjadi ialah acute serebral edema, ventrikulitis, efusi subdural, nekrosis dan destruksi nervus cranialis, DIC, shock dan gagal napas, sekresi ADH yang berlebihan, kejang, hidrosefalus, tuli, abses otak dan bisa juga karena pengobatan. Komplikasi jangka panjang yang bisa terjadi antara lain tuli saraf, kebutaan, sekuele neurologis berupa hemi paresis, hipertonia muskulorum, defisit motorik, epilepsi, retardasi mental, gangguan belajar, gangguan perhatian, dan gangguan bahasa. Perawatan jangka panjang dengan terus mengikuti perkembangan penderita dari dekat merupakan hal yang krusial untuk mendeteksi adanya sekuele secara dini.

20

DAFTAR PUSTAKA 1. Sari I D. Meningitis Bakterialis. Kalbe. 2003. Juni 23. Available from: www.kalbe.Co.id/kf portal. Hsf / o / . Accessed November 18; 2004 2. Soetomenggolo TS, Ismael S. Neurologi Anak. Jakarta. Balai Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2000 3. Hasan R, Alatas H. Ilmu Kesehatan Anak Buku Kuliah II. Jakarta. Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2002 4. Kumar A. Bacterial Meningitis. Emedicine.2004 October,4. Available from: www. Emedicine.com/PED/topic 198. htm 101k Accessed November 10; 2004 5. Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, editors: Nelson Essentials of Pediatrics, ed 16, Philadelphia, 2000, WB Saunders,p. 382 - 385 6. Johnson GM, Wagner GE, Virella G. Meningitis and Encephalitis, in: Microbiology and Infectious Diseases.p. 429 - 434 7. Prober CG. Central Nervous System Infections. In : Nelson Text Book of Pediatrics.p. 2038 - 2044 8 Ngoerah GNGde. Dasar-dasar ilmu penyakit saraf. Cetakan pertama. Surabaya. Penerbit Universitas Airlangga; 1990.hal.259-263.

21

Beri Nilai