Anda di halaman 1dari 7

Artikel

Dasar-dasar Kosmetologi Kedokteran


Dr. Ny. Lies Yul Achyar Bagian Kosmetologi Departemen Penyakit Kulit & Kelamin RSPAD Gatot Soebroto Jakarta

PENDAHULUAN Berkembangnya ilmu pengetahuan di segala bidang, kemajuan di bidang teknologi, perkembangan sosial budaya, telah membawa perobahan dalam sikap hidup seseorang. Kemajuan peradaban dan taraf kehidupan manusia, telah membawa manusia kearah pemenuhan kebutuhan, baik bersifat primer maupun bersifat sekunder. Pada zaman modern ini, kelainan kulit estetik telah merupakan problema yang mendapat perhatian khusus dalam kehidupan manusia. Pemakaian kosmetika merupakan hal yang sangat diperlukan oleh seseorang, sejak usia bayi- sampai usia lanjut, tidak terkecuali pria maupun wanita dengan tujuan untuk mendapatkan kulit yang sehat, wajah yang cantik, penampilan pribadi yang baik dan kepercayaan pada diri sendiri. Perhatian yang berlebihan terhadap masalah kulit estetik, meluasnya pemakaian kosmetika oleh masyarakat dengan segala dampak positif dan negatif yang diterima oleh kulit, telah membawa perkembangan pula dalam ilmu Kedokteran pada umumnya, di bidang Dermatologi pada khususnya. Dokter Ahli Kulit tidak hanya mengembangkan ilmunya dalam bidang Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, tetapi juga telah mengembangkan ilmu di bidang kulit estetik yang meliputi penyakit kulit dengan keluhan estetik, kelainan-kelainan kulit akibat penggunaan-penggunaan kosmetika, teknik perawatan kulit dan penggunaan kosmetika, mempelajari segala sesuatu tentang kosmetika, baik mengenai bentuk dan bahanbahannya, maupun absorpsi dan efeknya pada kulit dan Ilmu Bedah Kulit Estetik. Demikian pula dengan penderita yang datang kepada seorang Dokter Ahli Kulit pada saat ini, tidak hanya dengan
*) Dibawakan pada simposium Kosmetika pada tanggal 7 September 1985. Penyelenggara P.A.D. V.I. JA YA.

keluhan tentang penyakit kulit, tetapi juga dengan segala problema kulit estetik, pertanyaan-pertanyaan tentang perawatan kulit, penggunaan kosmetika dan lain-lain. Dibentuknya Sub Bagian Kosmetologi di FKUI RSCM pada tahun 1970 dan sampai saat ini telah berkembang di beberapa Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin lainnya di Indonesia, telah memegang peranan penting dalam menangani segala masalah yang menyangkut bidang kulit estetik tersebut di atas. SEJARAH KOSMETOLOGI DAN KOSMETIKA Dalam sejarah kosmetologi dan kosmetika, ilmu kedokteran telah ikut mengambil peranan sejak zaman kuno. Data-data diperoleh ,dari penyelidikan antropologi, aerkologi, dan etnologi di Mesir dan India dengan ditemukannya salep-salep aromatik, bahan-bahan pengawet mayat dan lain-lain yang dapat dianggap sebagai bentuk awal dari kosmetika. Seorang bapak ilmu kedokteran HIPPOCRATES (460 370 S.M.) dan kawan-kawan telah membuat resep-resep kosmetika dan menghubungkannya dengan ilmu kedokteran. Ilmu Kedokteran bertambah luas dan kosmetologi terus berkembang, maka diadakan pemisahan kosmetologi dari Ilmu Kedokteran (HENRI de NODEVILI 1260 1325), dikenal 2 bentuk kosmetika : 1. Kosmetika untuk merias (decoratio) 2. Kosmetika untuk pengobatan kelainan patologi kulit. GOODMAN, H. (1936), seorang dermatolog telah mempelajari secara mendalam tentang kosmetika baik mengenai sifat-sifat fisika, kimia, fisiologi dari bahan-bahannya, maupun tentang pemakaian dan akibat-akibatnya pada kulit. Penulis mengemukakan perlunya latar belakang dermatologi dalam masalah kosmetika, yang , pengetahuan yang lengkap tentang kulit dan fungsinya, pengalaman yang luas tentang penggunaan dan pemakaian remedial kosmetika pada kulit, penelitian lebih
Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986 3

jauh tentang berbagai efek bahan-bahan kosmetika terhadap kulit. Pada tahun 1700 1900 kosmetika dibagi menjadi : 1. Cosmetic decorative yang lebih banyak melibatkan ahli kecantikan. 2. Cosmetic treatment yang berhubungan dengan ilmu kedokteran dan beberapa ilmu pengetahuan lainnya seperti dermatologi, farmakologi, kesehatan gigi dan lain-lain. Pada abad modern ini kosmetologi dan kosmetika telah melibatkan banyak profesi, seperti dokter ahli kulit, ahli farmasi, ahli kimia, ahli biokimia, ahli mikrobiologi, ahli fotobiologi, ahli imunologi, ahli kecantikan dan lain-lain. PENGERTIAN KOSMETOLOGI DAN KOSMETIKA Kosmetologi Menurut JELLINEX, kosmetologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hukum-hukum kimia, fisika, biologi dan microbiologi tentang pembuatan, penyimpanan dan penggunaan bahan kosmetika. Kosmetika Menurut FEDERAL FOOD AND COSMETIC ACT (1958) sesuai dengan definisi dalam Peraturan Menteri Kesehatan R.I. No.220/Men Kes/Per/IX/76. Kosmetika adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, dilekatkan, dituangkan, dipercikkan atau disemprotkan pada, dimasukkan dalam, dipergunakan pada badan manusia dengan maksud untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tank dan mengubah rupa dan tidak termasuk golongan obat. Zat tersebut tidak boleh mengganggu faal kulit atau kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dalam definisi ini jelas dibedakan antara kosmetika dengan obat yang dapat mempengaruhi struktur dan faal tubuh. Kosmedik Dalam perkembangan kosmetika, saat ini pada beberapa produk tertentu batas antara kosmetika dan obat menjadi kabur. LUBOWE (1955) mengemukakan istilah Cosmedics disusul oleh FAUST (1975) dengan istilah Medicated Cosmetics untuk bentuk gabungan dari kosmetika dan obat. Kosmedik adalah kosmetika yang ke dalamnya ditambahkan bahan-bahan aktif tertentu seperti zat-zat anti bakteri atau jasad renik lainnya, anti jerawat, anti gatal, anti produk keringat, anti ketombe dan lain-lain dengan tujuan profilaksis, desinfektan, terapi dan lain-lain. Kosmetika hipoalergik Kosmetika hipoalergik; adalah kosmetika yang di dalamnya tidak mengandung zat-zat yang dapat menyebabkan reaksi iritasi dan reaksi sensitasi. Kosmetika jenis ini bila dapat terwujud akan merupakan kosmetika yang lebih aman untuk kesehatan kulit. Banyak bahanbahan yang sering menimbulkan reaksi iritasi dan sensitasi telah dikeluarkan dari daftar kosmetika hipoalergik seperti arsenic compounds, aluminium sulfat , aluminium klorida, balsam of peru, fenol, fern)] formaldehide, gum arabic, lanolin,
mercury compounds, paraphenylennediamin, bismuth compounds, oil of bergamot, oil of lavender, salicylic acid, resoi-

Kosmetika tradisional Kosmetika tradisional adalah kosmetika yang terdiri dari bahan-bahan yang berasal dari alam dan diolah secara tradisional. Di samping itu, terdapat kosmetika semi-tradisional, yaitu kosmetika tradisional yang pengolahannya dilakukan secara modern dengan mencampurkan zat-zat kimia sintetik ke dalamnya. Seperti bahan pengawet, pengemulsi dan lain-lain. Kegunaan kosmetika ini dalam ilmu kedokteran baik untuk pemeliharaan kesehatan kulit maupun untuk pengobatan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. PENGGOLONGAN KOSMETIKA Banyaknya kosmetika yang beredar dengan segala macam bentuk dan nama, telah membingungkan baik para pemakai maupun pihak-pihak lain yang berperan serta di dalamnya. Untuk itu para ahli berusaha mengelompokkan kosmetika sesederhana mungkin. Tetapi penggolongan yang dibuat masing-masing ahli ternyata tidak mina satu dengan lainnya, sehingga terdapat beberapa bentuk penggolongan sebagai berikut : Penggolongan menurut Peraturan Menteri Kesehatan R.I. berdasarkan kegunaan dan lokalisasi pemakaian pada tubuh, kosmetika digolongkan menjadi 13 golongan. 1. Preparat untuk bayi; minyak bayi, bedak bayi, dan lainlain. 2. Preparat untuk mandi; minyak mandi, bath capsules, dan lain-lain. 3. Preparat untuk mata; maskara, eye shadow, dan lain-lain. 4. Preparat wangi-wangian; parfum, toilet water dan lainlain. 5. Preparat untuk rambut; cat rambut, hairspray, pengeriting rambut dan lain-lain. 6. Preparat pewarna rambut; cat rambut, hairbleach, dan lain-lain. 7. Preparat make up (kecuali mata); pemerah bibir, pemerah pipi, bedak muka dan lain-lain. 8. Preparat untuk kebersihan mulut; mouth washes, pasta gigi, breath freshener dan lain-lain. 9. Preparat untuk kebersihan badan; deodoran, feminim hygiene spray dan lain-lain. 10. Preparat kuku; cat kuku, krem dan lotion kuku, dan lain-lain. 11. Preparat cukur; sabun cukur, after shave lotion, dan lain-lain. 12. Preparat perawatan kulit; pembersih, pelernbab, pelindung dan lain-lain. 13. Preparat untuk suntan dan sunscreen; suntan gel, sunscreen foundation dan lain-lain. Penggolongan menurut NATER, Y.P. dan kawan-kawan berdasarkan kegunaannya. 1. Higiene tubuh : sabun, sampo, cleansing. 2. Rias : make up, hair color. 3. Wangi-wangian : deodorant, parfum, after shave. 4. Proteksi : sunscreen dan lain-lain. Pembagian yang dipakai di Bagian Kosmetologi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, berdasarkan kegunaan dan cara bekerjanya kosmetika dibagi dalam kelompok. 1. Kosmetika pemeliharaan dan perawatan kulit terdiri dari : a. Pembersih (cleansing) : pembersih dengan bahan dasar

sinol, heksaklorofen
4

dan lain-lain.

Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986

air (face tonic, skin freshener dan lain-lain), pembersih dengan bahan dasar minyak (cleansing cream, cleansing milk, dan lain-lain), pembersih dengan bahan dasar padat (masker). b. Pelembab (moisturizing) : cold cream, night cream, moisturizing, base make up dan lain-lain. c. Pelindung (protecting) : sunscreen, foundation cream, dan lain-lain. d. Penipis (thinning) : bubuk peeling dan lain-lain. 2. Kosmetika rias (decorated cosmetic) : kosmetika yang dipakai untuk make up seperti : pemerah pipi, pemerah bibir, eye shadow dan lain-lain. 3. Kosmetika wangi-wangian : parfum, cologne, deodoran, vaginal spray, after shave dan lain-lain. DASAR-DASAR PENGGUNAAN KOSMETIKA PADA KULIT Kulit merupakan sasaran utama yang menerima berbagai efek, haik positif maupun negatif pada penggunaan kosmetika. Karena itu, semua pihak yang tersangkut di dalamnya perlu mempunyai pengetahuan dasar tentang kulit dan kosmetika. Teori dasar absorpsi bahan melalui kulit Kulit adalah organ tubuh yang hidup berguna untuk : 1. Melindungi organ-organ dalam tubuh terhadap pengaruh luar seperti sinar matahari, trauma mekanis, bahan kimia, infeksi dan lain-lain. 2. Memelihara keseimbangan cairn tubuh dan mempertahankan suhu tubuh. 3. Menyokong penampilan dan kepribadian seseorang, kepentingan estetik, ras dan lain-lain. Faktor-faktor dalarn kulit dan di luar kulit yang dapat mempengaruhi absorpsi bahan-bahan melalui kulit telah banyak diselidiki. Kulit terdiri dari epidermis (kulit ari), dermis (kulit jangat) dan subkutis. Setiap lapisan kulit tidak sama permeabilitasnya, lapisan epidermis lebih impermeabel daripada dermis . Lapisan stratum korneum (lapisan tanduk) pada epidermis merupakan lapisan barrier dari kulit dan merupakan dasar permeabilitas yang selektif dari kulit terhadap berbagai bahan dari luar (SCHEUPLEIN, 1976). Absorpsi dan penetrasi dari bahan-bahan yang digunakan secara topikal dapat terjadi melalui 3 cara : 1. Melalui seluruh permukaan stratum korneum yang utuh yang merupakan 99,7% dari permukaan kulit (transepidermal resorption). 2. Melalui folikel rambut yang merupakan 0,2% dari permukaan kulit (transfollicular resorption). 3. Melalui saluran kelenjar keringat, merupakan 0,04% dari permukaan kulit. Sejumlah bahan-bahan dapat melewati permukaan kulit, karena kulit merupakan media difusi. Difusi melalui lapisan epidermis berlangsung secara lambat dan pasif, difusi melalui folikel rambut berlangsung cepat dan aktif, sedangkan peranan kelenjar keringat sebagai media difusi sangat kecil. Setiap bahan mempunyai keniampuan tertentu untuk berdifusi. Bahanbahan yang larut air mempunyai kemampuan berdifusi lebih kecil dibandingkan bahan-bahan yang larut lemak. Menurut YANET MARKS (1976) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi absorpsi dan penetrasi bahan-bahan melalui kulit.

1. Sifat kimia fisika dari bahan-bahan tersebut. a. esterifikasi (esterifcation) b. daya larut dalam bahan dasar c. daya larut dalam lemak d. kestabilannya (stability) 2. Sifat dasar preparat. a. konsentrasi dari bahan aktif b. susunan dan sifat kimia fisika dari bahan dasar. c. campuran dari bahan-bahan yang tidak sesuai, yang akan menghalangi penetrasi dari bahan-bahan lainnya. 3. Cara aplikasi pada kulit; pemakaian secara oklusi akan meningkatkan daya penetrasi. 4. Sifat-sifat dari kulit. a. keadaan dari stratum korneum, seperti stratum korneum yang rusak, terangkat, menebal, akan mempengaruhi daya penetrasi. b. lokalisasi dari pemakaian, di daerah fleksor, intertriginosa, penetrasi akan lebih baik. c. umur, penetrasi lebih baik pada kulit bayi daripada umur lanjut. Menurut BALSAM (1974), tingkat penetrasi dari bahan-bahan melalui kulit yang utuh tergantung pada : 1. bahan-bahan dasar yang dipakai. 2. ukuran dan bentuk molekul dari bahan-bahan. 3. daya larut bahan-bahan dalam lemak, air dan stratum korneum. 4. konsentrasi dari bahan-bahan aktif. 5. temperatur. 6. keadaan hidrasi dari stratum korneum. Bahan baru akan bermanfaat bagi kulit apabila dapat mencapai bagian terdalam kulit yaitu stratum basale. Meskipun proses resorpsi yang lengkap dan cara mana yang ditempuh oleh masing-masing bahan yang berbeda, belum diketahui dengan pasti, tetapi beberapa penulis telah membuat pengamatan secara umum mengenai penetrasi bahan-bahan melalui kulit sebagai berikut. Transepidermal resorption pada umumnya akan dilalui oleh bahan-bahan yang dapat menembus barrier kulit, yaitu : 1. Semua bentuk gas, termasuk uap air, dan larutan organik yang mudah menguap segera dapat melakukan penetrasi dengan baik. 2. Vitamin-vitamin yang larut lemak, yaitu vitamin A, D, K dan karoten dapat diabsorpsi, sedang vitamin E dan F masih diragukan, dan tidak banyak diketahui tentang absorpsi dari vitamin B dan C yang larut dalam air, kecuali panthanol suatu derivat dari "panthothenic acid yang larut dalam lemak dapat diabsorpsi. 3. Hormon-hormon seperti, testosteron, progesteron, estrogen, disoxicorticosteron dan hydrocortison acetat mudah diabsorpsi, tetapi cortison acetat sangat sukar untuk diabsorpsi. 4. Phenol dan alkaloid bebas dapat diabsorpsi, tetapi garamgaramnya yang larut dalam air dan tidak larut dalam lemak sama sekali tidak diabsorpsi. 5. Beberapa lemak esensial dapat diabsorpsi, lemak hewan lebih mudah diabsorpsi daripada lemak tumbuh-tumbuhan, tetapi bahan-bahan yang sangat hydrophobic seperti minyak mineral tidak dapat menembus barrier kulit. Minyakminyak mineral ini, juga lemak hewan dan tumbuh-tumbuhCermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986 5

an lainnya lebih mudah mengadakan transfollicular resorption.

6. Bahan-bahan anorganik seperti sulfur, mercury, jodium boric acid, potasiumcuanate dan garam-garam yang larut, 2+ lemak dari Hg 2+ , Bi 3+ , Pb dan Cu e+ semua dapat melakukan penetrasi dengan baik. 7. Bahan-bahan aromatik parfum seperti oil of thyme, eucalyptus oil, linalyl geranyl acetate dan lain-lain juga diabsorpsi dengan cepat. 8. Semua garam-garam yang larut dalam air, semua zat-zat padat, gula, juga protein yang bermolekul besar tidak diabsorpsi oleh kulit. Efek Kosmetika Preparat kosmetika 95% terdiri dari bahan dasar dan hanya 5% bahan aktif, bahkan kadang-kadang tidak mengandung bahan-bahan aktif. Jadi sifat dan efek dari preparat kosmetika tidaklah ditentukan oleh bahan aktifnya, tetapi terutama oleh bahan dasarnya (JELLINEK, 1975).
Efek dari bahan dasar

4. Ikut membantu pembentukan keratin mikrofibril pada stratum korneum yang punya peranan dalam proses absorpsi dan penetrasi. Menurut LEITZ, komposisi lemak yang terdapat pada tubuh/ kulit berbeda dengan lemak yang terdapat di alam (lemak pada kosmetika). Jadi tidak mungkin secara fisiologis/biologis lemak disuplai dari luar ke dalam kulit untuk menggantikan fungsi metabolisme dari lemak kulit. Meskipun lemak dapat diabsorpsi oleh kulit, tetapi sejauh mana absorpsi dapat terjadi, dan setelah absorpsi bagaimana fungsinya di dalam tubuh, belum dapat dijelaskan dengan pasti, karena adanya pendapat yang berbeda antara para penulis. Jadi jelaslah bahwa kegunaan lemak dalam preparat kosmetika hanya diharapkan untuk membentuk lapisan pelin dung pada permukaan kulit dan memberi kesan berlemak pada kulit.
AIR

Dari golongan kosmetika ternyata bahan dasar yang terbanyak dipakai adalah lemak/minyak, selain itu dipakai pula air, alkohol dan lain-lain.
LEMAK

Pemakaian lemak pada preparat kosmetika disenangi karena lemak mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai bahan dasar dan punya efek tertentu pada kulit yaitu : a. beberapa bentuk lemak seperti : lemak hewan, lemak turnbuh-tumbuhan dan malam, mudah diabsorpsi oleh kulit, sehingga adalah merupakan bahan dasar yang baik untuk mengantarkan bahan-bahan aktif ke dalam kulit. b. lemak dapat membentuk lapisan tipis di permukaan kulit yang berfungsi sebagai lapisan pelindung (protective film) untuk menghalangi penguapan air, sehingga mencegah kekeringan pada kulit. c. mempunyai sifat pembasah (wetting effect) terhadap keratin, sehingga berguna untuk menjaga dan memeliharakan elastisitas kulit yang menyebabkan kulit menjadi lembut dan halus. d. dapat melarutkan kotoran-kotoran yang larut lemak seperti sisa-sisa make up, sehingga merupakan bahan dasar yang baik pada preparat pembersih. e. lemak hewan dan tumbuh-tumbuhan, mengandung sejumlah bahan aktif seperti vitamin, hormon, lecithin dan lainlain yang mempunyai efek tertentu pada kulit. Lemak kulit (skin surface lipid) diproduksi oleh kelenjarkelenjar sebum, sel-sel epidermis dan sedikit oleh kelenjar keringat. Lemak kulit ini berfungsi untuk : 1. Mempertahankan kondisi kulit (skin conditioner), yaitu sebagai pelumas (lubrikan) dari lapisan tanduk, sehingga dapat melembutkan atau melemaskan permukaan kulit. 2. Membentuk lapisan lemak tipis permukaan kulit (surface lipid film) yang dapat merupakan lapisan pelindung terhadap penguapan air, sehingga dapat mencegah kekeringan kulit. 3. Merupakan proteksi kimiawi terhadap mikro-organisme dari luar.
6
Cermin Dunia Kedokteran No. 41,1986

Air dapat diabsorpsi oleh kulit, tetapi air dan bahan-bahan yang larut air lebih sulit mengadakan penetrasidaripada lemak dan bahan-bahan larut lemak. Tingkat penetrasi bahan-bahan yang larut air tergantung pada jumlah (water content) dari stratum corneum. Sehingga air bukanlah bahan dasar yang baik untuk mengantarkan bahan aktif ke dalam lapisan kulit. Air sebagai bahan dasar banyak dipakai pada preparat pembersih, karena air mudah berhubungan dengan semua bagian tubuh, dapat melunakkan stratum corneum dan membesihkan kotoran yang dapat larut di dalamnya. Tetapi air tidak punya daya membasahkan kulit yang sempurna (wetting effect), dan juga bakteri dan sebagian besar kotoran tidak dapat larut dalam air. Untuk mendapatkan efek pembersih yang sempurna ke dalam bahan dasar air, perlu ditambahkan bahan dasar lainnya, seperti minyak (cleansing cream), alkohol 20 40% (skin freshener, face tonic), surfactant (sabun, detergen lainnya).
ALKOHOL

Pemakaian bahan-bahan aktif dalam pelarut organik seperti alkohol, aseton, ether, chloroform dan lain-lain tidak dianjurkan karena efek iritasinya pada kulit. Pemakaian alkohol 20 40% pada preparat pembersih bertujuan untuk mendapatkan efeknya yaitu : 1. dapat meninggikan permeabilitas kulit terhadap air. 2. mengurangi tegangan permukaan kulit sehingga daya pembasahan oleh air lebih baik. 3. memperbaiki daya larut kotoran berlemak. 4. bersifat sebagai astringen dan desinfektan.
Efek dari bahan aktif

Pemakaian preparat topikal yang mengandung bahan aktif akan bermanfaat bila : 1. bahan tersebut dapat diabsorpsi oleh kulit sekurang-kurangnya sebagian dari padanya. 2. tidak mudah teroksidasi. 3. ada khasiatnya pada kulit. 4. pemberian secara oral tidak mungkin dilakukan atau efeknya merugikan. Bahan-bahan aktif yang biasanya ditambahkan ke dalam preparat kosmetika antara lain vitamin, hormon, protein, enzim, ekstrak binatang dan tumbuh-tumbuhan.

VITAMIN

Vitamin A 1 Vitamin A pada kulit antara lain berguna untuk mempertahankan pertumbuhan normal dari sel epitel yaitu sebagai anti keratinisasi. Pemakaian vitamin A secara topikal dibenarkan karena : 1. larut dalam lemak dan mudah diabsorpsi oleh kulit. 2. punya efek lokal yang baik, yaitu melicinkan, melunakkan kulit. Dalam dermatologi derivat vitamin A1 yaitu vitamin A acid (tretinoin) dipakai sebagai anti keratinisasi pada penderita akne, penyakit - penyakit hiperkeratosis dan penyakit difisiensi vitamin A lainnya. Kesulitan penggunaan vitamin A pada kosmetika adalah karena mudah teroksidasi sehingga harus diberikan dalam bentuk ester alkohol yang lebih stabil, dan dilindungi dari cahaya matahari. Vitamin B kompleks. Defisiensi vitamin B kompleks dapat menimbulkan berbagai kelainan kulit dan rambut. Laporan tentang absorpsi dari vitamin -vitamin ini oleh kulit sangat sedikit, sehingga penambahan vitamin B kompleks pada preparat kosmetika tidak dianjurkan, meskipun vitamin ini larut dalam air dan stabil terhadap oksidasi. Beberapa bentuk vitamin B kompleks yang pernah dianjurkan untuk dipakai yaitu : panthathenic acid, nicotinic acid, pyridoxintripalmitate, yang digunakan dalam preparat - preparat rambut. Vitamin C (ascorbic acid) Vitamin C berfungsi pada pembentukan kolagen dan proses pigmentasi, vitamin C dapat diabsorpsi oleh kulit. Tetapi pemakaian vitamin C dalam preparat kosmetika tidak dianjurkan karena sangat mudah teroksidasi. Vitamin D Tidak ada indikasi untuk pemakaian vitamin D secara topikal dan tidak ada kelainan kulit yang spesifik karena defisiensi vitamin D. Vitamin E (d-tocopherol) Vitamin E antara lain berguna untuk regenerasi sel-sel epitel kulit (peremajaan kulit). Belum ada data-data mengenai efek dari pemakaian vitamin E secara topikal, efek pada kulit dengan pemberian per oral lebih menguntungkan. Dalam preparat kosmetika vitamin E dipakai sebagai bahan pelengkap yaitu sebagai antioksidan, pada preparat yang mudah teroksidasi, seperti preparat yang mengandung vitamin A.
HORMON

2. meningkatkan water holding sehingga cell content epidermis bertambah. 3. meningkatkan pembentukan serat-serat elastin sehingga elastisitas kulit bertambah. 4. meningkatkan sirkulasi darah pada kulit. 5. menyebabkan turgor kulit bertambah. Keseluruhannya memberikan gambaran luar kulit menjadi segar dan lebih muda. Efek maksimum pada kulit akan terlihat sesudah hari ke 30 sampai ke 50 setelah pemakaian topikal, berakhir setelah pengobatan dihentikan, dan kulit akan kernbali ke keadaan semula. Jadi efek hormon ini hanyalah bersifat sementara. Pemakaian topikal dari hormon ini tidak dianjurkan karena : a. efeknya pada kulit hanya bersifat sementara. b. tidak ada efeknya pada kulit yang fungsi hormon dan epidermis masih baik (usia muda) hanya berkhasiat pada kulit dengan gejala atrofi senilis (usia lanjut). c. efek topikal pada kulit didapatkan bila dosis lebih dari 15.000 i.u./ounce, dosis ini terlalu tinggi untuk preparat kosmetika yang dipakai bebas dalam jangka waktu lama.
PROTEIN

Pemakaian protein, pepton, peptida dan asam-asam amino dalam preparat kosmetika telah pernah dilaporkan. Asam amino dapat diabsorpsi oleh kulit dan beberapa di antaranya punya fungsi khusus dalam jaringan epidermis misalnya cysteine, cystine, tyrosin. Molekul-molekul protein yang besar tidak diabsorpsi oleh kulit, misalnya casein, lactic protein dan lain-lain. Tidak ada indikasi untuk pemakaian secara topikal, karena sangat tidak menguntungkan bila dibandingkan pemberian per oral dalam makanan dan juga belum ada data-data yang jelas tentang pemakaiannya dalam preparat kosmetika. Pemakaian protein dalam preparat kosmetika bukan sebagai bahan aktif, tetapi antara lain digunakan sebagai : 1. membentuk lapisan film pada protecting cream tertentu, (misalnya casein). 2. bahan pengental pada preparat-preparat masker (misalnya gelatin).
ENZIM

Umumnya terdiri dari protein, yang biasanya aktif bila ada coenzym, karena itu penggunaan sebagai preparat topikal dalam kosmetika tidak dianjurkan, meskipun mempunyai efek menarnbah daya kerja dari bahan-bahan aktif tertentu, seperti yang terdapat pada ekstrak plasenta.
KOMPLEKS BAHAN-BAHAN AKTIF (COMPLEXES OF ACTIVE INGREDIENTS)

Tujuan penambahan hormon dalam preparat kosmetika umumnya untuk memperlambat proses ketuaan, menghilangkan kerutan-kerutan, dan mencegah kekeringan pada kulit, sehingga didapat gambaran wajah yang lebih muda. Hormon - hormon yang biasa ditarnbahkan dalam preparat kosmetika adalah hormon -hormon seks terutama estrogen. Efek hormon estrogen pada kulit yaitu : 1. menyebabkan proliferasi sel-sel epidermis sehingga epidermis jadi menebal.

Ingredients complex adalah sekelompok bahan-bahan aktif alarniah yang berasal dari binatang dan tumbuh -tumbuhan. Efek kosmetika yang dihasilkannya adalah merupakan efek gabungan dari bahan-bahan aktif yang ada di dalamnya. Belum diketahui dengan pasti bentuk dan jumlah bahan-bahan aktif yang terdapat di dalamnya dan masih perlu penelitian lebih jauh mengenai efeknya yang pasti pada kulit. Beberapa bentuk ekstrak tumbuh - tumbuhan dan binatang yang sering ditambahkan ke dalam preparat kosmetika antara lain, royal jelly, ekstrak plasenta, ginseng dan lain-lain.
Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986 7

BAHAN AKTIF DALAM KOSMETIKA MEDIKATED

Bahan-bahan aktif yang biasanya ditambahkan ke dalam kosmetika medikated antara lain adalah : a. preparat yang mengandung sulfur, selenium dan lain-lain. Bahan ini mempunyai efek sebagai oksidator dan reduktor dan juga sebagai keratolitik. Digunakan pada preparat anti ketombe, anti akne dan lain-lain. b. preparat yang mengandung cantharidin, capsicin, pyrogallol, formic acid. Bahan-bahan ini bersifat iritrasi dan punya efek meningkatkan sirkulasi dan metabolisme pada kulit untuk merangsang pertumbuhan rambut. Digunakan pada preparat-preparat rambut. c. preparat yang mengandung phenol, resorcinol, Q napthol dan berbagai bentuk phenol lainnya. Biasanya dipakai pada preparat rambut sebagai keratolitik desinfektan dan stimulan. d. preparat yang mengandung hexachlorophen, benzolkonium chloride dan lain-lain yang bersifat anti bakteri. Terdapat pula preparat deodoran. e. preparat yang mengandung mercury yodida, tribromo solicyl anilida (TBS), bithional, benzolkonium chlorida dan lain-lain. Digunakan sebagai zat anti bakteri pada sabun-sabun medicated. KULIT PADA BERBAGAI TINGKAT UMUR DAN PERAWATAN DENGAN KOSMETIKA Kulit pada bayi dan anak-anak Kulit bayi dan anak-anak relatif tipis, tebalnya 1 mm. Lapisan epidermis terutama stratum comeum dan lapisan dermis lebih tipis, papila dermis lebih mendatar, lapisan lemak subkutan relatif lebih sedikit. Warna kulit lebih merah karena kurangnya keratohialin. Kulit lebih edema karena banyak mengandung air dan natrium. pH kulit lebih ke arah asam, bervariasi rata-rata antara 3,4 6,5. Diferensiasi apendik kulit belum sempurna, kelenjar sebasea tidak aktif sampai masa remaja sehingga produksi sebum sangat berkurang, karena hal-hal tersebut di atas kulit bayi dan anak lebih mudah mengalami iritasi oleh bahan-bahan kimia yang ditempelkan pada kulit dan mudah mendapat infeksi. Perawatan kulit pada bayi dan anak Pemeliharaan kulit pada bayi dan anak dengan menggunakan kosmetika perlu berhati-hati, mengingat sifat kulit yang mudah teriritasi. Pada penggunaan pembersih, pilih sabun yang lunak dan sedikit mengandung alkali, tidak mengandung parfum yang berat, hindari penggunaan sabun medikated yang mengandung bahan-bahan aktif tertentu seperti hexachlorophen, mercury yodida, tribromo salicyl anilida dan lain-lain. Hindari penggunaan bedak yang mengandung antiseptik seperti perubalsem, asam borat, dan lain-lain. Kurangnya produksi sebum dan kurangnya lapisan lemak kulit, tidak merupakan masalah di daerah tropis, tetapi di daerah beriklim dingin diperlukan penggunaan pelembab untuk mencegah kekeringan kulit. Pemakaian minyak bayi merupakan emolien yang efektif, tetapi bila terus-menerus dipakai dapat menimbulkan miliaria terutama di daerah tropis. Kulit pada remaja dan dewasa muda Pada usia remaja aktivitas pembentukan hormon mening8 Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986

kat, kelenjar sebasea menjadi besar dan aktif, kelenjar apokrin mengadakan sekresi di tempat tertentu. Lapisan lemak kulit bertambah, kulit muka dan rambut jadi berminyak, dan produksi keringat meningkat, kondisi kulit juga terpengaruh oleh siklus menstrual, sering timbul akne 4 7 hari sebelum menstruasi. Diet yang banyak lemak juga mempengaruhi keadaan lemak kulit. Jenis kulit pada remaja kebanyakan jenis kulit berminyak, terdapat pula jenis kulit normal dan kulit kering. Dengan kondisi kulit seperti di atas pada remaja sangat diutamakan pemeliharaan kebersihan kulit. Perawatan kulit pada remaja dan dewasa muda

Kulit berminyak
Pada kulit jenis ini aktivitas kelenjar sebasea berlebihan dengan produksi lemak kulit secara berlebihan, hal ini disebabkan beberapa faktor antara lain faktor hormon, faktor lingkungan yang selalu panas dan lembab yang mempergiat aktivitas kelenjar lemak, faktor heriditer dan lain-lain. Kulit muka lebih berminyak, tampak mengkilat, mudah kotor dan berjerawat. Kulit kepala dan rambut mengkilat, berlemak dan cepat berbau. Perawatan dan pembersihan jenis kulit seperti ini adalah : 1. dianjurkan untuk menggunakan pembersih beberapa kali sehari dengan air hangat dan pembersih dengan bahan dasar air, seperti sabun, cleansing lotion, cleansing milk dan lainlain. 2. perlu dilakukan penipisan dengan serbuk penggosok (peeling) untuk menghilangkan lapisan kotoran berlemak bersama sel-sel kulit yang mati atau yang terlepas dari permukaan. 3. hindari pemakaian kosmetika berlemak misalnya pemakaian berbagai jenis krem, seperti pelembab, foundation cream, pomade dan lain-lain, karena kulit jenis ini menghasilkan lebih dari cukup minyak alamiah yang dapat berfungsi sebagai pelembab, pelindung dan lain-lain.

Kulit normal
Kulit normal adalah kulit dalam kondisi yang sehat, keseimbangan fungsionil terpelihara baik, sehingga kulit cukup elastis, tegang dan berwarna cerah. Sekresi kelenjar lemak cukup, tidak menimbulkan kelebihan lemak kulit yang menyumbat pori-pori, keseimbangan kadar air terpelihara baik. Perawatan pada kulit normal tidak membutuhkan hal yang khusus.

Kulit kering
Kekeringan kulit dapat terjadi pada orang tertentu yang secara genetik mempunyai kecenderungan kulit kering. Tetapi dapat pula terjadi akibat penggunaan sabun yang berlebihan, pembersih kimiawi, pengaruh hormonal dan juga pada dermatosis yang kronis atau gangguan keratinisasi. Kurangnya atau hilangnya lapisan air di kulit berkurang, kulit menjadi kering. Prinsip perawatan pada kulit kering harus mempertahankan lemak kulit yang ada, menjaga kelembaban kulit dengan sedikit mungkin menggunakan bahan-bahan iritan. Dianjurkan pakai pembersih dengan bahan dasar minyak, di samping sebagai pembersih, dapat pula berfungsi sebagai pelumas. Dianjurkan memakai pelembab atau bahan emolien lainnya untuk melindungi evaporasi air dari kulit.

Kulit pada usia lanjut Bertambahnya usia dan terjadinya proses menua, kulit pun mengalami perubahan secara bertahap. Kadar air menjadi sedikit, kolagen menjadi kurang larut, kaku dan kurang lentur dan jumlahnya menurun. Dermal protein berubah jadi amorf, sehingga kulit jadi tipis, kering dan keriput. Produksi kelenjar sebasea menurun, lemak kulit berkurang, kulit lebih mudah mengalami dehidrasi, begitu pula aktivitas pengeluaran keringat berkurang. Pengaruh hormon yang berkurang, mengakibatkan atrofi kulit dan apendiknya, juga terjadi pengurangan jumlah melanosit yang aktif dan berkurangnya kemampuan
thanning.

10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20.

Vaskularisasi yang berkurang dan lapisan lemak yang menipis menyebabkan pengaturan suhu terganggu, kulit mudah mengalami luka, sering terasa gatal, trauma yang ringan dapat menimbulkan kelainan kulit dan lain-lain. Perawatan kulit dengan kosmetika pada usia lanjut ditujukan terutama untuk mengatasi kekeringan. Perawatan kuratif secara medis lebih banyak diperlukan untuk mengatasi rasa gatal, gangguan sirkulasi yang menurun, mengurangi keriput dan kelainan-kelainan kulit lainnya. Mengatasi kekeringan kulit pada usia lanjut sama seperti perawatan kulit kering pada umumnya yaitu dengan menggunakan emolien, memakai pelembab, dan menghindari faktor-faktor yang menambah kekeringan kulit seperti pakai bahan pembersih yang mengandung alkohol, sabun dan detergen lainnya. RANGKUMAN 1. Masalah kulit estetik dan meningkatnya penggunaan kosmetika telah membawa perkembangan baru dalam ilmu kedokteran pada umumnya, di bidang Dermatologi pada khususnya. 2. Perlu ditingkatkan pengetahuan tentang kulit dan kosmetika untuk dapat memilih jenis/bentuk kosmetika yang sesuai, aman, dan terhindar dari bahan-bahan yang merusak kulit. 3. Penggunaan bahan-bahan kimia atau kosmetika secara topikal pada kulit perlu mempertimbangkan kondisi kulit sesuai dengan usia dan lingkungan pemakai.
KEPUSTAKAAN
1. Balsam MS and Sagarin E. Cosmetics science and technology vol. 1, 2nd ed. New York, London, Sydney, Toronto : Wiley Inter science, 1972. 2. Balsam MS and Sagarin E. Cosmetics science and technology vol. 3, 2nd ed. New York, London, Sydney, Toronto : Wiley Interscience, 1974. 3. Faust RE. The Chemistry and Manufacture of Cosmetics, vol IV 2nd ed. Orlando Flourd : Continental Press, 1975. 4. Frost P and Horwitz SN. Principles of Cosmetics for dermatologist. St Louis, Toronto, London : The CV Mosby Co, 1982. 5. Goodman H. Cosmetic Dermatology. New York, London : Mc Graw Hil Book Co, 1936. 6. Yellinex YS. Formulation and function of cosmetics 2nd ed. New York, London : Wiley Interscience, 1970. 7. Karnen B. Reaksi Kulit Terhadap Kosmetika. Rapat Konsultasi Keamanan Kosmetika. Dirjen POM Depkes RI, Jakarta 1979. 8. Leitz G. Cosmetic and the supply of fats to the skin. In : Soap, Perfumery and Cosmetic, vol XLIII 2nd ed, 1968. 9. Marks Y. Clinic 1 pharmacological consideration of general prin-

ciples of treatment. In : Avery's, Drug Treatment. United States of America, 1976. Nater YP, Groot AC and Liam Dli. Unwanted effects of cosmetics and drugs used in dermatology. Amsterdam, Oxford, Princeton Excerpta Medica, 1983. Rigelman S. Pharmacokinetic factors affecting epidermal penetration and percutaneus absorption. Pharmacokinetics 1974; 16 873 83. Sagarin E. Cosmetics science and technology. New York, London, Sydney : John Wiley & Sous lnterscience Publishers, 1975. Scheuplein RY and Roos LW. Mechanism of Percutaneus Absorption. I Invest Dermatol, 1974; 62 : 353 60. Scheuplein RY. Percutaneus absorption after twenty five years old ("Old wine in new wines skin"). I Invest Dermatol. 1979; 67 31 -9. Tranggono RIS. Kosmetika dalam dermatolog. Rapat Konsultasi Peningkatan Keamanan Kosmetika. Dir Jen POM Dep Kes RI Jakarta 1979. Tranggono RIS. Perkembangan dunia kosmetika. Seminar Penggunaan Produk Kosmetika Dalam Negeri. Jakarta 1985. Tregear RT. Physical function of skin. London, New York : Academic Press, 1966. Solomon LM, Esterly NB and Loeffel ED. Adolescent Dermatology. Philadelphia, Toronto : WB Saunders Co, 1978. Weis FW and Lubowe II. Cosmetic and the skin, 2nd ed. New York, Amsterdam, London : Reinhold Book Co, 1969. Weston WL. Practical Pediatric Dermatology. Little Brown and Co, 1979.

Cermin Dunia Kedokteran No. 41, 1986