Anda di halaman 1dari 31

II.

1 ANATOMI DAN HISTOLOGI TELINGA Anatomi telinga telinga terbagi menjadi 3 bagian :

telinga luar telinga tengah telinga dalam

Gambar 1 : pembagian telinga II.1.a. TELINGA LUAR terdiri dari : (2) 1. daun telinga : terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit 2. liang telinga : panjang 2,5 3 cm - 1/3 bagian luar : terdiri dari tulang rawan dan banyak terdapat kelenjar serumen ( modifikasi kelenjar keringat )dan rambut - 2/3 bagian dalam : terdiri dari tulang dan ditemukan sedikit kelenjar serumen telinga luar berfungsi : mengumpulkan suara dan mengubanya menjadi energi getar sampai ke gendang telinga 1

II.1. b. TELINGA TENGAH telinga tengah berbentuk kubus dengan batas:(2)


luar depan bawah Atas dalam


: membran timpani : tuba austachii : vena jugularis ( bulbus jugularis) : tegmen timpani ( meningen / otak ) : berturut turut terdiri atas kebawah : kanalis semisirkularis horizontal kanalis fasialis tingkap lonjong ( oval window ) tingkap bundar ( round window ) Promontorium

belakang : aditus ad antrum , kanalis fasialis pars vertikalis

Gambar 2. Sediaan diseksi auris medis II.1. b. 1 Membran Timpani (1,2) jika dilihat dari arah liang telinga berbentuk bundar cekung ,dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga, dengan luas permukaan + 55 milimeter kuadrat .terdiri 2

dari : - pars flasid (membran sharpnell): dibagian atas terdiri dari 2 lapis : Bagian luar : epitel kulit liang telinga Bagian dalam : dilapisi oleh sel kubus bersilia ( mirip epitel saluran nafas) - pars tensa: dibagian bawah terdiri dari 3 lapis : lapisan luar dan dalam mirip pada pars flasid , bagian tengah teridiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin .yang berjalan radier( dibagian luar ) dan sirkuler ( dibagian dalam ) penonjolan bagian bawah maleus pada membaran timpani disebut umbo . Dari umbo inilah bermula suatu reflek cahaya ( cone of light ) kearah bawah :

pukul 7 untuk membran timpani kiri pukul 5 untuk sebelah kanan

reflek cahaya ini di timbulkan oreh serat radier dan sirkuler yang terdapat pada membran timpani . membran timpani terbagi menjadi 4 kuadran:

Gambar 3 : membran timpani miringotomi dilakukan di bagian bawah belakang membran timpani sesuai arah serabut membaran timpani, dimana didaerah tersebut tidak terdapat tulang tulang pendengaran . 3

II.1. b. 2 TULANG TULANG PENDENGARAN (5.6 )


Kesesuaian impedansi oleh sistem osikuler setiap gerakan tulang , Amplitudo gerakan wajah stapes adalah tangkai maleus hal ini menjelaskan mengapa sistem pengungkit osikular mengurangi pergerakan stapes tapi justru meningkatkan tenaga pergerakan sampai 1, 3 X jarak

luas daerah permukaan timpani adalah 55 mm2sedangkan wajah stapes + 3,2 mm 2 rasio perbandingan 17 X lipat ini dibandingkan 1,3 X dari sistem pengungkit sebabkan penekanan 22 kali cairan pada cokhlea

karena inersia cairan lebih besar dari udara maka dibutuhkan peningkatan jumlah tekanan untuk menimbulkan getaran pada cairan dicohlea .

Gambar 4 : sendi dan pengikat tulang pendengaran

kerja M.tensor timpani dan M.stapedius M.tensor timpani berkerja menarik tangkai maleus kearah dalam , sedangkan M.stapedius menarik stapes kearah luar kerja dua muskulus yang berlawanan ini berfungsi : (3,5) 1. untuk melindungi koklea dari getaran yang merusak yang disebabkan oleh suara yang sangat keras.karena otot otot yang berlawanan kerjanya ini 4

akan berkerja meredam getaran membran timpani yang berlebih akibat suara yang keras . ket : kelumpuhan m.stapedius ( misal karena kerusakan Nervus fasialis ) akan menyebabkan pendengaran yang sangat tajam ( hiperakusis ) .hal ini terjadi akibat gerakan stapes yang tidak terkendali. 2. untuk menutupi suara berfrekusensi rendah pada lingkaran suara yang keras dan Menurunkan sensitivitas pendengaran seseorang memperkecil aplitudo pendengaran . II.1. b. 3. TUBA AUDITIVA saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan udara luar melalui muaranya di nasofaring. Normalnya saluran ini selalu tertutup dan terbuka jika mengunyah atau menelan sebagai kontraksi otot tensor veli palatini . (2) Fungsi tuba : (2) 1. ventilasi menjaga agar tekanan udara dalam telinga tengah sama dengan tekanan udara luar 2. drainase sekret 3. menghalaing masuknya sekret dari nasofaring ke telinga tengah sehingga seseorang dapat berkosentrasi pada suara suara tertentu .kedua otot

II.1.c TELINGA DALAM (LABIRIN) Labirin ( telinga dalam ) mengandung organ pendengaran dan keseimbangan, terletak pada pars petrosa os temporal Labirin terdiri dari :( 2, 3 ) 1. Labirin bagian tulang, terdiri dari : kanalis semisirkularis, vestibulum dan koklea. 2. Labirin bagian membran, yang terletak didalam labirin bagian tulang, terdiri dari : kanalis semisirkularis, utrikulus, sakulus, sakus dan duktus endolimfatikus serta koklea. 3.

Gambar 4 : vestibulum dsn koklea Antara labirin bagian tulang dan membran terdapat suatu ruangan yang berisi cairan perilimfe yang berasal dari cairan serebrospinalis dan filtrasi dari darah.Didalam labirin bagian membran terdapat cairan endolimfe yang diproduksi oleh stria vaskularis dan diresorbsi pada sakkus endolimfatikus.(3)

Gambar 5 labirin membarnosa didalam labirin ossea

Gambar 6 . Labirin bagian tulang

Gambar 7 . labirin bagian membaranosa II.1 c 1.Vestibulum Vestibulum adalah suatu ruangan kecil yang berbentuk oval, berukuran 5 x 3 mm dan memisahkan koklea dari kanalis semisirkularis. Pada dinding lateral terdapat foramen ovale ( fenestra vestibuli ) dimana footplate dari stapes melekat disana. Sedangkan foramen rotundum terdapat pada lateral bawah. Pada dinding medial bagian anterior terdapat lekukan berbentuk spheris yang berisi makula sakuli dan terdapat lubang kecil yang berisi serabut saraf vestibular inferior. Makula utrikuli terletak disebelah belakang atas daerah ini. Pada dinding posterior terdapat muara dari kanalis semisirkularis dan bagian anterior berhubungan dengan skala vestibuli koklea.(3,9)

Gambar 8 .vestibuli , sakulus dan Utriculus Sakulus dan utrikulus Terletak didalam vestibulum yang dilapisi oleh perilimfe kecuali tempat masuknya saraf didaerah makula. Sakulus jauh lebih kecil dari utrikulus tetapi strukturnya sama. 7

Sakulus dan utrikulus ini berhubungan satu sama lain dengan perantaraan duktus utrikulosakkularis yang bercabang menjadi duktus endolimfatikus dan berakhir pada suatu lipatan dari duramater pada bagian belakang os piramidalis yang disebut sakkus endolimfatikus. Saluran ini buntu.(3) Sel-sel persepsi disini sebagai sel-sel rambut yang dikelilingi oleh sel-sel penunjang yang terletak pada makula. Pada sakulus terdapat makula sakuli dan pada utrikulus terdapat makula utrikuli. (3) II.1.c 2.Kanalis Semisirkularis Terdapat 3 buah kanalis semisirkularis : superior, posterior dan lateral yang membentuk sudut 90 satu sama lain. Masing-masing kanal membentuk 2/3 lingkaran, berdiameter antara 0,8 1,0 mm dan membesar hampir dua kali lipat pada bagian ampula. Pada vestibulum terdapat 5 muara kanalis semisirkularis dimana kanalis superior dan posterior bersatu membentuk krus kommune sebelum memasuki vestibulum.(1,3) II.1 c 3.COHLEA Gambar 9. Histologi telinga dalam

ket : (4)

labirin tulang cohlea berpilin mengelilingi sumbu sentral tulang spons yang disebut modiulus., ganglion spiralis terbenam di dalam modiulus, ganglion ini terdiri dari neuron bipolar aferen dimana akson panjang dari sel bipolar menyatu membentuk Nervus kokhlearis, sedangkan dendrit yang lebih pendek menginervasi sel rambut organo corti .

Labirin tulang dibagi menjadi dua rongga utama oleh lamina spiralis oseosa dan membran basalis lamina spiralis oseosa menjulur dari modiulus sampai setengah lumen kanalis cohlearis . Membran basalis berlanjut danri lamina spiralis oseosa ke ligamen spiralis ligamen spiralis merupakan penebalan periosteum dinding tulang luar cohlea tempat pertemuan cairan perilimfe skala vestibuli dan skala timpani disebut helikoterma

histologi skala media

Gambar 10.Telinga dalam :Duktus koklea (skala media ).pulasan hematoksilin 9

eosin.pembesaran sedang Ket :(4)

dinding bagian luar skala media dibentuk oleh area vaskular yang disebut stria vaskularis strria vasikular ini ditutupi oleh epitel berlapis yang mengandung jalinan kapiler intra epitel yang dibentuk oleh pembuluh yang memasok jaringan ikat ligamen spiral.

Ligamen spiral terdiri dari serat pembuluh darah

kolagen , fibroblas berpigmen dan banyak yang merupakan penebalan

lantai skala media dibentuk oleh limbus spiralis dari jaringan ikat periosteum

cabang perifer ( aferen ) dari sel sel bipolar ganglion spiralis berjalan melalui saluran saluran di lamina spiralis oseosa dan bersinap dengan sel sel rambut didalam organo corti skala vestibuli dan skala timpani berisikan cairan perilimfe dan berhubungan langsung dengan ruang subarachnoid disekitar otak sehingga perilimfe hampir sama dengan cairan serebrospinal sedangkan skala media berisikan cairan endolimfe yang mungkin disekresi oleh stria vasikuler ( daerah dipinggir skala media ).(5) sehingga cairan endolimfe mengandung kosentrasi kalium yang tinggi dan Natrium yang rendah .(seperti cairan intrasel ) sedangkan perilimfe sebaliknya ( seperti cairan extrasel )(5) membran basalis (4,5)

terdiri dari serat serat basalis yang keluar dari modiulus /pusat penulangan koklea , satu sisi serat ini terfiksasi pada modiulus sedangkan sisi yang lain bebas, panjang serat ini meningkat dari basis keapek , tapi diameternya justru mengecil , sehingga serat yang berada dibasal ( dekat fenestra ovalis ) kaku dan pendek dan cenderung bergetar pada frekuensi tinggi , sedangkan yang diapex seratnya panjang dan lentur sehingga cenderung bergetar pada frekuensi rendah.

10

Histologi Organ Korti

Gambar 11.Histologi organ korti

pada organocorti terdapat 2 tipe sel rambut yang merupakan reseptor sensorik yaitu :(4,5)

1 baris sel rambut interna ( inner) 3- 4 baris sel rambut ekterna ( outer) setiap basis dan samping sel rambut ini bersinap dengan jaringan saraf yang mengarah ke ganglion spinal corti.

Ujung bawah rambut menempel pada serat basilaris , sedangkan bagian atasnya berupa stereosilia yang terfiksasi pada lamina lentikularis .(5) Pergerakan serat basalis kearah atas akan mengguncang lamina lentikularis keatas dan kedalam kearah modiolus , sedangkan pergerakan serat basalis kebawah akan menyebakan lamina lentikularis terguncang ke bawah dan luar . (5)

Gerakan kedepan dan kebelakang ini menyebakan sterosilia( rambut )terpotong kedepan dan kebelakang tehadap membran tektorial(5) 90 % serat saraf auditorik dirangsang oleh sel bagian dalam (inner cell) tapi jika terjadi kerusakan pada sel outer akan memberikan pengaruh yang besar pada pendengaran , karena sel outer berfungsi mengatur sensitifitas sel inner . (5)

11

II.1.d. PERSARAFAN TELINGA daun telinga dan liang telinga luar menerima cabang cabang sensoris dari cabang aurikulotemporal saraf ke 5 (N. Mandibularis ) dibagian depan , dibagian posterior dari Nervus aurikuler mayor dan minor , dan cabang cabang Nervus Glofaringeus dan Vagus .Cabang Nervus Vagus dikenal sebaai Nervus Arnold .Stimulasi saraf ini menyebabkan reflek batuk bila teliga luar dibersihkan .Liang telinga bagian tulang sebelah posterior superior dipersarafi oleh cabang sensorik Nervus Fasial .(1) Tuba auditiva menerima serabut saraf dari ganglion pterygopalatinum dan saraf saraf yang berasal dari pleksus timpanicus yang dibentuk oleh Nervus Cranialis VII dan IX. M.tensor timpani dipersarafi oleh Nervus Mandibularis ( Nervus Cranial V3 ).sedangkan M.Stapedius dipersarafi oleh Nervus Fasialis .(3) Korda timpani memasuki telinga tengah tepat dibawah pinggir posterosuperior sulkus timpani dan berjalan kearah depan lateral ke prosesus longus inkus dan kemudian kebagain bawah leher maleus tepat diatas perlekatan tendon tensor timpani .setelah berjalan kearah medial menuju ligamen maleus anterior , saraf ini keluar melalui fisura petrotimpani . (3) II.1.e. VASKULARISASI TELINGA Perdarahan telinga terdiri dari 2 macam sirkulasi yang masing masing secara keseluruhan berdiri satu satu memperdarahi telinga luar dan tengah , dan satu lagi memperdarahi telinga dalam tampa ada satu pun anastomosis diantara keduanya (3) telinga luar terutama diperdarahi oleh cabang aurikulo temporal a.temporalis superficial di bagian anterior , dan dibagian posterior diperdarahi oleh cabang aurikuloposterior a.karotis externa.(3) Telinga tengah dan mastiod diperdarahi oleh sirkulasi arteri yang mempunyai banyak sekali anastomosis . Cabang timpani anterior a.maxila externa masuk melalui fisura retrotimpani . Melalui dinding anterior mesotimpanum juga berjalan aa.karotikotimpanik yang merupakan cabang a.karotis ke tympanum .dibagian superior ,a meningia media memberikan cabang timpanik superior yang masuk ketelinga tengah melalui fisura petroskuamosa .A.meningea media juga memberikan percabangan a. petrosa superficial yang berjalan bersama Nervus petrosa mayor memasuki kanalis fasial pada hiatus yang berisi ganglion genikulatum . Pembuluh pembuluh ini beranastomose dengan suatu cabang a.auricula posterior yaitu a.stilomastoid , yang memasuki kanalis fasial dibagian inferior melalui foramen stilomastoid .satu cabang dari arteri yang terakhir ini , a.timpani posterior 12

berjalan melalui kanalikuli korda timpani .Satu arteri yang penting masuk dibagian inferior cabang dari a.faringeal asendenc.arteri ini adalah perdarahan utama pada tumor glomus jugular pada telinga tengah .(3) Tulang tulang pendengaran menerima pendarahan anastomosis dari arteri timpani anterior , a.timpani posterior , suatu arteri yang berjalan dengan tendon stapedius , dan cabang cabang dari pleksus pembuluh darah pada promontorium .pembuluh darah ini berjalan didalam mukosa yang melapisi tulang tulang pendengaran , memberi bahan makanan kedalam tulang .proses longus incus mempunyai perdarahan yang paling sedikit sehingga kalau terjadi peradangan atau gangguan mekanis terhadap sirkulasinya biasanya mengalami necrosis .(3) Telinga dalam memperoleh perdarahan dari a. auditori interna (a. labirintin) yang berasal dari a. serebelli inferior anterior atau langsung dari a. basilaris yang merupakan suatu end arteri dan tidak mempunyai pembuluh darah anastomosis. Setelah memasuki meatus akustikus internus, arteri ini bercabang 3 yaitu : (3)

Arteri vestibularis anterior yang mendarahi makula utrikuli, sebagian makula sakuli, krista ampularis, kanalis semisirkularis superior dan lateral serta sebagian dari utrikulus dan sakulus.

Arteri darikoklea.

vestibulokoklearis,

mendarahi

makula

sakuli,

kanalis

semisirkularisposterior, bagian inferior utrikulus dan sakulus serta putaran basal

Arteri koklearis yang memasuki modiolus dan menjadi pembuluh-pembuluh arteri spiral yang mendarahi organ Corti, skala vestibuli, skala timpani sebelum berakhir pada stria vaskularis. Aliran vena pada telinga dalam melalui 3 jalur utama. Vena auditori interna mendarahi putaran tengah dan apikal koklea. Vena akuaduktus koklearis mendarahi putaran basiler koklea, sakulus dan utrikulus dan berakhir pada sinus petrosus inferior. Vena akuaduktus vestibularis mendarahi kanalis semisirkularis sampai utrikulus. Vena ini mengikuti duktus endolimfatikus dan masuk ke sinus sigmoid.

Aliran vena telinga luar dan tengah dilakukan oleh

pembuluh pembuluh darah yang

menyertai arteri v. emisari mastoid yang menghubungkan kortek keluar mastoid dan sinus lateral.Aliran vena telinga dalam dilakukan melalui 3 jalur aliran .dari koklea putaran tengah dan apical dilakukan oleh v.auditori interna.Untuk putaran basiler koklea dan vestibulum anterior dilakukan oleh v.kokhlear melalui suatu saluran yang berjalan sejajar dengan 13

akuadutus kokhlea dan masuk kedalam sinus petrosa inferior .Suatu aliran vena ketiga mengikuti duktus endolimfa dan masuk ke sinus sigmoid .pleksus ini mengalirkan darah dari labirin posterior .(3) II.2 FISIOLOGI II.2 .a FISIOLOGI PENDENGARAN (5)

daun telinga menangkap energi bunyi , lalu dihantarkan menuju membran timpani , getaran suara dari membran timpani diteruskan ketangkai maleus yang melekat pada pusat membran timpani , setiap pergerakan maleus selalu diikuti oleh pergerakan incus sebab maleus dan incus dihubungkan oleh ligamen.

Ujung dari incus berartikulasi dengan stapes, dan bagian lain( permukaan wajah ) dari stapes berhubangan dengan fenestra ovalis pada cohlea melalui lig. anularis yang relatif longgar .

Sehingga setiap pergerakan maleus diikuti oleh incus yang menyebabkan stapes terdorong kedepan pada ciaran cohlea, lalu getaran suara memasuki skala vestibuli dari permukaan wajah stapes pada fenestra ovalis, dan diteruskan ke skala media melalui membran Reisner ( membran ini begitu halus dan mudah bergerak sehingga sama sekali tidak menghalangi jalannya getaran suara dari skala vesibuli ke skala media . Oleh karena itu begitu konduksi suara terjadi skala vestibuli dan skala media dianggap sebagai ruang tunggal )

getaran pada skala media menyebabkan getaran pada membran basilar yang diikuti dengan depolarisasi sel rambut, lalu impuls berjalan menuju ke ganglion spiralis corti .

mekanisme pendengaran sentral implus berjalan dari ganglion spiral corti, menuju ke nukleus kokhlaris ventral dan dorsal lalu menuju nukleus olivarius superior pada salah satu sisi, lalu menuju lemnikus lateral ke kolikulus inferior lalu ke nukleus genikulatum medial , tempat semua serabut bersinaps . Lalu menuju berlanjut melalui radiasio auditorius ke kortek auditorius yang terletak pada girus superior lobus temporalis .

14

II.2 .b FISIOLOGI VESTIBULER

(5)

Kanalis semisirkularis merupakan alat keseimbangan dinamik dan terangsang oleh gerakan yang melingkar, sehingga kemana saja arah kepala, asal gerakan itu membentuk putaran, maka gerakan itu akan tertangkap oleh salah satu, dua atau ketiga kanalis semisirkularis bersama-sama. Pada manusia, kanalis semisirkularis horizontal yang mempunyai peran dominan oleh karena manusia banyak bergerak secara horizontal. Utrikulus dan sakulus merupakan alat keseimbangan statik, yang terangsang oleh gerak percepatan atau perlambatan yang lurus arahnya, dan juga oleh gravitasi.Utrikulus terangsang oleh gerakan percepatan lurus dalam bidang mendatar, sedangkan sakulus terangsang oleh gerakan percepatan lurus dalam bidang vertikal. Dalam keadaan diam, gravitasi berpengaruh terhadap utrikulus maupun sakulus. Hubungan sistem vestibuler dengan otot-otot mata erat sekali, sehingga semua gerakan endolimfe selalu diikuti oleh gerakan bola mata. Sistem vestibuler berhubungan dengan sistem tubuh yang lain, sehingga kelainan sistem vestibuler bisa menimbulkan gejala pada sistem tubuh yang bersangkutan. II.3 TULI PERSEPTIF II.3. a. DEFINISI Gangguan pendengaran berupa berkurangnya pendengaran dikarenakan kelainan pada telinga tengah , Nervus vestibulochohlear( N. VIII) atau pada proses sentral diotak (11). Ketulian adalah salah satu gejala dari suatu penyakit telinga, dan disebut Tuli syaraf (sensorineural), bila proses kelainannya di telinga dalam atau di syarafnya, dan pada umumnya irreversible.(17) II.3. b EPIDEMIOLOGI 876 anak yang diperiksa diperoleh tuli saraf berat unilateral / bilateral:

<1 tahun : 37 ( 4,2 %) 1- 3 tahun :165(18,8%) 3-5 tahun :136 ( 15,5 %) > 5 tahun :103 (11,7%)

( sumber departemen THT komunitas FKUI/RSCM ( 2004 juli 2005)(15)

prevalensi tuli saraf yang disebabkan oleh presbikusis bervariasi, diperkirakan terjadi pada 30-45% orang dengan usia di atas 65 tahun. Menurut WHO pada tahun 2005 15

akan terdapat 1.2 milyar orang akan berusia lebih dari 60 tahun, dari jumlah tersebut 60 % diantaranya tinggal di negara berkembang. Menurut perkiraan WHO pada tahun 2020 populasi dunia berusia diatas 80 tahun juga akan meningkat sampai 200 %. Pada Survei Kesehatan Indera Penglihatan - Pendengaran tahun 1994 -1996 di 7 Propinsi (Sumatra Barat, Sumatra Selatan , Jawa Tengah, NTB, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara) dengan 19,375 responden didapatkan prevalensi presbikusis sebesar 2.6 % atau sekitar 6.7 % dari seluruh pasien THT yang didiagnosa dengan Presbikusis Di Indonesia jumlah penduduk berusia lebih dari 60 tahun pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 19.9 juta atau 8.48 % dari jumlah populasi. Pada tahun 2025 jumlah tsb akan meningkat menjadi 4 kali lipat dari jumlah tahun 1990, dan merupakan jumlah tertinggi di dunia. Juga terjadi peningkatan usia harapan hidup dari usia 59.8 tahun ( 1990 ) menjadi 71.7 % pada tahun 2020. (12 ,16) prevalensi tuli saraf yang disebabkan oleh NHIL (noiseinduced) pada sebuah pabrik bajai adalah 31,55% (sundari 1997). diperusahan plywood tanggerang 31,81 % .penelitian Zuldidzan (1995) pada anak pesawat helikopter TNI AD dan AU prevalensi tulinya adalah 27,16 % .(15) II.3.c ETIOLOGI (11,15,17,) Periode prenatal 1. Faktor genetik 2. Bukan faktor genetik Terutama penyakit-penyakit yang diderita ibu pada kehamilan trimester pertama minggu ke 6 s/d 12 yaitu pada saat pembentukan organ telinga pada fetus. Penyakit-penyakit itu adalah rubella, morbili, diabetes mellitus,nefritis, toksemia dan penyakit-penyakit virus yang lain Obat-obatan yang digunakan waktu ibu mengandung seperti salisilat, kinin, talidomid, streoptomisin. Periode perinatal Penyebab ketulian disini terjadi waktu ibu sedang melahirkan, misalnya trauma kelahiran dengan memakai forseps, vakum ekstraktor, letak-letak bayi yang tidak normal juga pada ibu yang mengalami toksemia gravidarum.

16

Periode postnatal 1. Penyebab yang berupa faktor genetik atau keturunan misalnya pada penyakit familiar perception deafness. 2. Penyebab yang bukan berupa faktor genetik atau keturunan - Penyakit-penyakit infeksi pada otak, misalnya meningitis dan ensefalitis - Penyakit infeksi umum : morbili,varisela,parotitis(mumps), influenza, demam tipoid,pneumonia,pertusis,difteri. - Pemakaian obat-obat ototoksik pada anak-anak b. Pada orang dewasa - Kolesterol yang tinggi - Gangguan pada pembuluh-pembuluh darah koklea dalam bentuk perdarahan, spasme (iskemia), emboli dan trombosis - Diabetes mellitus - Penyakit-penyakit ginjal karena mengalami gangguan ekskresi obatobat yang dipakainya. - Influenza oleh virus - Obat-obat ototoksik, masalnya dihidrostreptomisin, salisilat, kinin, neomisin, gentamisin, arsenic, antipirin, atropine, barbiturate, tibium. - Defisiensi vitamin - Trauma akustik - Faktor alergi, diduga terjadi suatu gangguan pembuluh darah pada koklea. - Presbikusis - Tumor, akustik neurinoma - Penyakit meniere - Trauma kapitis

Pada anak-anak:

etiologi dapat juga dibagi berdasarkan :(17,18) konginental Aplasia kokhlea Kelainan kromosom Kolesteatom conginental

17

Didapat 1. Proses inflamasi ;


Labiryinitis Mumps Meningitis Measles Syphilis Aminoglikosid ( tersering :tobramycin ) Loop diuretic ( tersering : furosemid) Antimetabolik ( methotrexate) Salisilat ( aspirin )

2. Obat obatan yang bersifat ototoxic:


3. Trauma Rudapaksa/kecelakaan yang dapat mengakibatkan rupture labirin atau komosio labirin. 4. Operasi : karena kurang hati-hatinya operatorpemakaian alat : bor frekuensi tinggi. 5. Noise induce ( trauma suara ): sering terpapar dengan suara yang keras dalam waktu yang lama (>90 db) dapat menyebabkan SNHL 6. Factor usia ( presbyacusis) 7. Tuli tiba tiba ( sudden hearing loss) bias disebabkan oleh : Idiopatic Pembuluh darah yang Iskemic di telinga dalam Fistula perilimfa : yang biasanya disebabkan karena rupturnya

tingkap lonjong atau bulat yang berakibat pada bocornya perilimfe. 8. Autoimun : seperti Wegener's granulomatosis 9. Tumor

acustik neuroma (Vestibular schwannoma) tumor sudut "cerebellopontine" Meningioma

10. penyakit lain - penyakit meniere sebabkan tuli perspektif nada rendah ((125 Hz to 1000 Hz) - measles( jika terjadi kerusakan pada saraf pendengaran ) - fetal alkohol syndrom ( efek ototoxic) 18

- otitis media supurativ kronik yang berlanjut penyakit sistemik kronik yang lain diabetes II.3.d PATOFISIOLOGI mekanisme terjadinya tuli perseptif tergantung pada faktor penyebab penyakit yang menimbulkan :(1,2,14,16) 1. presbikus pada kasus ini terjadi perubahan struktur coklea dan Nervus akustic , berupa atrofi dan degenerasi sel sel penunjang organocorti , disertai perubahan vaskuler pada stria vaskularis , dimana jumlah dan ukuran sel sel ganglion dan saraf berkurang . 2. Tuli akibat bising ( noise induced tuli yang terjadi diakibatkan oleh bising dengan intensitas 85db atau lebih yang mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran corti di telinga dalam terutama yang berfrekuensi 3000 -6000 Hz 3. Tuli mendadak penyebab paling sering dari tuli mendadak ini adalah iskemia koklea yang berakibat pada degenerasi yang luas pada sel sel ganglion stria vasikularis dan ligamen spiral. Yang kemudian diikuti dengan pembentukan jaringan ikat dan penulangan . Pada kasus ini kerusakan sel rambut yang terjadi tidaklah luas dan membran basal jarang terkena 4. Tuli akibat obat -obatan yang ototosik seperti aminoglisida obat ini menyebabkan tuli yang biasanya bersifat bilateral dan bernada tinggi dikarenakan hilangnya sel rambut pada putaran basal koklea.sedangkan obat obat deuretik menyebabkan tuli yang sebagian besar bersifat sementara dengan cara menyebabkan perubahan komposisi elektrolit cairan dalam endolimfe. 5. Penyakit Meniere Tuli yang terjadi adalah tuli nada rendah , disebabkan karena adanya hidrops endolimfa pada koklea dan vesbulum.hidrops ini dapat disebabkan karena : - meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri - berkurangnya tekanan osmotik didalam kapiler , dan meningkatnya tekanan osmotik extrakapiler

19

- jalan keluar sakus endolimfatikus tersumbat , sehingga terjadi penimbunan cairan endolimfa hal hal tersebut menyebabkan pembengkakan pada skala media yang dapat berakibat pada ruptrunya membran Reisner dan terjadilah percampuran cairan endolimfe dan perilimfe 6. Neuroma Akustik pada kasus ini terdapat tumor jinak yang membungkus saraf kedelapan yang berakibat pada tuli sensorineural yang unilateral, dengan gejala mula mula ringan .Tumor ini menyebabkan gangguan pendengaran dengan cara menghancurkan saraf saraf saluran telinga dalam

II.3 .e PEMERIKSAAN PENDENGARAN Pemeriksaan pendengaran dapat dilakukan dengan cara :(2) 1. Tes penala 2. Tes berbisik 3. Audiometri nada murni Secara fisiologis telinga dapat mendengar nada antara 20 18.000 Hz . untuk pendengaran sehari hari paling efektif 500 2000 Hz Tes penala (2) Dengan menggunakan garputala frekuensi 512, 1024, 2048 Hz , pemeriksaan ini bersifat kualitatif . macam macam pemeriksaan garpu tala : Tes Rinne : tes untuk membandingkan hantaran melalui tulang dan udara pada telinga yang diperiksa Tes Weber : tes untuk membandingkan hantaran tulang telinga kiri dan telinga kanan Tes Schwabach : membandingkan hantaran tulang telinga yang diperiksa dengan pemeriksa yang pendengarannya normal. Tes Bing ( oklusi ): cara periksa sama seperti weber tetapi liang telinga ditutup .jika terdapat lateralisasi ke telinga yang ditutup maka telinga tersebut normal, jika bunyi tidak bertambah keras pada telinga tersebut berarti te;ah terjadi tuli konduktif. Tes Stenger : digunakan untuk pemeriksaan tuli anorganik ( stimulasi atau 20

pura pura ) Hasil pemeriksaan :


Tes Rinne Positif Negatif positif Tes Weber Tes Swabach Tidak ada lateralisasi Sama dengan peeriksa Lateralisasi ke telinga yang Memanjang sakit Lateralisasi ke telinga yang Memendek Diagnosis Normal Tuli konduktif Tuli saraf

sehat Cat : pada tuli konduktif < 30 db rinne masih bisa positif

Tes Berbisik (2) Bersifat semi kuantitatif. Digunakan ruangan minimal 6 meter . nilai normal tes berbisik : 5/6 6/6

Audiometri nada murni(2) Alat yang digunakan disuebut audiometer , untuk pemeriksaan ini dipakai grafik AC/ air conduktion /hantaran udara ( dibuat dengan garis lurus penuh , dengan intensitas yang diperiksa : 125 8000 Hz ) , dan grafik BC/bone cunduktion/ hantaran tulang (dibuat dengan garis putus putus , dengan intensitas yang diperiksa : 250 4000 Hz ).untuk telinga kiri dipakai warna biru dan telinga kanan warna merah. Interpretasi yang harus ditulis pada pemeriksaan audiogram :

Telinga mana yang mengalami kelaianan Apa jenis ketuliannya Derajat ketulian Derajat ketulian ISO : 0 25 dB : Normal 26 40 dB : tuli ringan 41 60 dB : tuli sedang 61 90 dB : tuli berat >90 : sangat berat Dikatakan Gap : apabila antara BC dan AC terdapat perbedaan lebih atau sama dengan 10dB, minimal pada 2 frekuensi yang berdekatan . Pemeriksaan masking pada pemeriksaan audiometri dilakukan jika terdapat perbedaan hasil yang mencolok pada kedua telinga .oleh karena AC pada 45 dB 21

atau lebih dapat diteruskan ke tengkorak melalui telinga kontralateral ( yangtidak diperiksa )maka pada telinga kontralateral diberi bising supaya tidak mendengar bunyi pada telinga yang diperiksa. Interpretasi hasil:(2) Pendengaran Normal : AC dan BC < 25 dB, dan Gap tidak ada Tuli sensorineural : AC dan BC > 25 dB, dan Gap tidak ada Tuli konduktif : BC normal , atau < 25 dB. AC > 25 db . Ada Gap antara AC dan BC Tuli campur : BC > 25 dB , AC >BC . ada Gap

Gambar 12 Audiogram telinga 22

Pemeriksan Audiologi Khusus (2) Digunakan untuk membedakan tuli koklea dan tuli retrokoklea , terdiri dari 1. Audiometri khusus Hal yang perlu dipahami : Rekrutmen : suatu fenonema , terjadinya peningkatan sensibilitas pendengaran yang berlebihan diatas ambang dengar . Khas pada tuli koklea Ket : pada pasien tuli koklea ,pasien ini dapat membedakan bunyi 1 dB , sedangkan orang normal baru dapat membedakan bunyi setelah 5 dB .pada orangtua bila mendengar suara berlahan ia tidak dapat mendengar tapi jika mendengar suara keras dirasikannya nyeri pada telinga. Kelelahan : merupakan adaptasi abnormal . Khas pada tuli retrocokhlear, saraf pendenaran akan merasa lelah jika dirangsang terus menerus dan akan kembali pulih jika beristirahat. Jenis pemeriksaan : 1. TES SISI ( short increment sensitivity indek ) Untuk memeriksa tuli koklea dengan memanfaatkan fenonema rekrutmen . 2. Tes ABLB ( alternate binaural loudness balance) Cara : diberikan intensitas bunyi tertentu pada frekuensi yang sama pada kedua telinga, sampai kedua telinga mencapai persepsi yang sama, yangdisebut balance negatif , bila balans tercapai terdapat rekuretmen positif . 3. Tes kelelahan ( tone decay ) 4. Audiometri tutur Pada pemeriksaan ini digunakan kata kata yang telah disusun oleh silabus .pasien diminta untuk mengulangi kata kata yang didengar melalui kaset tape recorder, pada tipe koklea pasien sulit membedakan bunyi S,R,N,C,H,CH.sedangkan pada tuli retrokoklear lebih sulit lagi. 5. Audiometri bekessy pemeriksaan adalah dengan menggunakan nada terputus putus dan terus menerus , bila ada suara masuk pasien memencet tombol

23

o Hasil : - Tipe I : normal Nada terputus dan terus menerus ( continue berimpit ) - Tipe II : tuli perseptif koklea Nada terputus dan terus menerus berimpit hanya frekuensi 1000Hz - Tipe III: tuli perseptif retrokohlea Nada terputus dan terus menerus berpisah. 2. Audiometri Objektif(2) Pada pemeriksaan ini pasien tidak harus bereaksi Jenis audiometri objektif : o Audiometri impedansi Pada pemeriksaan ini diperiksa kelenturan membran timpani dengan tekanan tertentu pada meatus acusticus externus .jika lesi dikoklea ambang rangsang refleks stapedius menurun , sedanhkan pada lesi si retrocoklear ambang itu naik. o Elektrokokleografi o Evoked response audiometry Dikenal dengan BERA ( brainstem evoke pesponse audiometri) yaitu suatu pemeriksaan untuk menilai fungsi pendengaran dan fungsi N.VIII. Prinsip : menilai perubahan potensial listrik diotak setelah perangsangan sensorik berupa bunyi . Pemeriksaan ini bermanfaat terutama pada keadaan yang tidak mungkin dilakukan pemerikasaan pendengaran biasa seperti pada bayi, anak dengan gangguan sifat dan tingkah laku , intelegensi rendah , cacat ganda dan kesadaran menurun .

24

II.3.f DIAGNOSIS

Gambar 13. Algoritma SNHL Anamnesis Pasien dengan ketulian sensorineural sering mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan dengan wanita dan anak-anak, karena mereka berbicara dengan frekuensi yang lebih tinggi, atau mengalami masalah dengan kata-kata tertentu berkonsonan tinggi seperti f, s, atau th. Pasien juga sulit mengikuti 25

pembicaraan ketika dua orang atau lebih bicara pada saat yang sama atau sulit mendengar saat berada dalam lingkungan yang bising.(17) Pada penurunan pendengaran bilateral dan sudah diderita lama, suara percakapan biasanya lebih keras dan memberi kesan seperti suasana yang tegang dibanding orang normal. Perbedaan ini lebih jelas bila dibandingkan dengan suara yang lembut dari penderita penurunan pendengaran jenis hantaran, khususnya otosklerosis. Pada tuli sensorineural tipe koklear mempunyai sifat rekruitmen yang berarti bahwa suara yang merangsang makin keras makin tidak tidak dimengerti arti katanya. Sedangkan pada tipe retro koklear, bila dirangsang terus menerus akan cepat menjadi lelah. Di dalam klinik dijumpai bila seseorang diajak bicara mula-mula mendengar dengan baik tetapi lama kelamaan pendengarannya akan menurun.(17) Terdapat tinitus biasanya nada tinggi sebagai suara yang mendering atau menyiut -nyiut. Pada tinitus sensorineural, tinitus menjadi semakin berat dalam lingkungan yang sunyi dimana tidak ada bunyi lain yang mengganggu. Pasien sering kali mengeluhkan tinitus sangat mengganggu pada saat menjelang tidur atau bangun tidur.
(10)

Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan dengan otoskopi didapatkan kanal telinga luar maupun selaput gendang telinga normal. Tes fungsi pendengaran : 1. Tes bisik :(10) - Tidak dapat mendengar percakapan bisik pada jarak 5 meter. - Sukar mendengar kata-kata yang mengundang nada tinggi (huruf konsonan). 2. Tes garputala :(2) - Rinne (+), hantaran udara lebih baik dari pada hantaran tulang. - Tes Weber ada lateralisasi ke arah telinga sehat. - Tes Schwabach ada pemendekan hantaran tulang. 3. Tes audiometri nada murni :(8) - Ada penurunan nilai ambang hantaran udara dan hantaran tulang, biasanya akan lebih berat mengenai frekuensi tinggi. - Hantaran udara berimpit dengan hantaran tulang. 26

- Kadang-kadang disertai adanya suatu dip pada frekuensi tinggi (4000 Hz untuk trauma akustik, obat ototoksik, dsb).

4. Tes audiometri nada tutur :( 8) - Nilai diskriminasi tutur (NDT) tidak dapat mencapai 100% meskipun intensitas suara diperkeras. - Dapat terjadi fenomena recruitment. Untuk membedakan tuli koklea dan tuli retrokoklea diperlukan pemeriksaan audiologi khusus yang terdiri dari audiometri khusus (seperti tes Tone decay, tes Short Increment Sensitivity Index {SISI}, tes Alternate Binaural Loudness Balance (ABLB), audiometri tutur, audiometri Bekessy), audiometri objektif (audiometri impedans, elektrokokleografi, Brain Evoked Reponse Audiometry {BERA}, pemeriksaan tuli anorganik (tes Stenger, audiometri nada murni secara berulang, impedans) dan pemeriksaan audiometri anak.(2) II.3. g PENATALAKSAAN DAN PENCEGAHAN tindakan pertama yang dilakukan adalah mengendalikan etiologi penyebab yang telah diketahui,

jika pasien berkerja pada tempat kerja yang bising maka diperlukan peralatan pelindung dan harus membatasi paparan terhadap suara bising .alat pelindung dapat berupa :(16) 1. Sumbat telinga (earplugs/insert device/aural insert protector) Dimasukkan ke dalam liang telinga sampai menutup rapat sehingga suara tidak mencapai membran timpani. Sumbat telinga bisa mengurangi bising s/d 30 dB lebih. 2.Tutup telinga (earmuff/protective caps/circumaural protectors) Menutupi seluruh telinga eksternal dan dipergunakan untuk mengurangi bising s/d 40- 50 3. Helmet/ enclosure Menutupi seluruh kepala dan digunakan untuk mengurangi maksimum 35 dBA pada 250 Hz sampai 50 db pada frekuensi tinggi dB frekuensi 100 8000 Hz.

27

jika telah terjadi gangguan yang bersifat permanen maka dipertimbangkan untuk memakai alat bantu dengar yang diimplantasi .(13) Penanganan khusus pada anak anak yang mengalami gangguan pendengaran sejak lahir , karena ganguan pendengaran yang terjadi dapat menyebabkan ganguan bicara..disini perlu dibedakan anak lahir tuli atau tuli sebelum dapat berbicara .keduanya perlu belajar membaca suara( speech reading )dengan melihat gerakan bibir .(17) Pada tuli sebelum dapat berbicara perlu belajar/latihan mendengar (auditory training). Di sini dapat pula penderita diberi alat bantu dengar bagi penderita kekurangan pendengaran agar sisa-sisa pendengarannya dapat digunakan. Alat bantudengar itu prinsipnya akan menaikkan intensitas (amplitudo) sehingga suara akan lebih keras sehingga pendidikannya tidak perlu berteriak. (17). Pengelolaan pendidikan penderita tuli perlu ditangani oleh ahli audiologi, speech therapeutist, ahli psikologi dan pediatri.Karena anak tuli sering wataknya berubah menjadi seringcuriga, lekas marah (emosional). Sedang pada congenital hearing loss, sering juga ada kelainan organ lain. (12 , 17) Jika tuli disebabkan oleh obat obatan yang bersifat ototoksi maka pemakaian obat perlu dihentikan (15)

II.3.h PROGNOSIS

Kurang pendengaran tipe sensori neural biasanya tidak dapat pulih seperti semula (irreversibel), tidak dapat dikoreksi dengan baik meskipun dengan cara apapun juga. Meskipun demikian dapat juga memakai alat bantu dengar untuk menaikkan intensitas suara.(12 ,13) pada anak yang menderita SNHL yang memperoleh penanganan yang baik ,mereka akan mampu bersosialisi dan berkerja dengan baik seperti orang pada umumnya.(17)

28

BAB III KESIMPULAN Ketulian adalah salah satu gejala dari suatu penyakit telinga, dan disebut Tuli syaraf (sensorineural), bila proses kelainannya di telinga dalam atau di syarafnya, dan pada umumnya irreversible.berdaasarkan letak kelainannya tuli ini terbagi menjadi 2 jenis yaitu tuli koklear dan retrokoklear , dimana keduanya dapat dibedakan dengan menggunakan audiometri khusus. Diagnosis tuli sensorineural didasarakan pada anamesa ,pemeriksaan fisik dan audiometri. Pada anamesa biasanya pasien mengeluhkan kesulitan memahami pembicaran orang lain atau pendengaran menurun ,pada pemerikaan fisik biasanya tidak ditemukan kelainan pada membran timpani dan pada pemeriksaan tes penala ditemukan tuli sensorineual yang berupa tes Rinne positif, Weber lateralisasi ketelinga yang sehat dan schwabach memendek .Sedangakan pada audiometri ditemukan AC dan BC > 25 dB, tidak ada Gap . Tuli ini sebagian besar bersifat ireversible , sehingga dibutuhkan pencegahan dan penanganan yang tepat untuk mengatasi faktor penyebabnya. Pencegahan yang dapat dilakukan berupa proteksi telinga dari suara bising dengan menggunakan alat pelindung jika kita berada pada daerah dengan tingkat kebisingan yang tinggi, deteksi dan terapi dini pasien yang mengalami sudden sensorineural hearing loss, pengawasan yang ketat pada setiap penggunaan obat obat yang dapat mencetuskan tuli, serta edukasi pada orang tua yang anaknya mengalami gangguan pendengaran dini. Dikarenakan sifatnya yang permanen maka pengobatan yang dapat dilakukan sejauh ini masih belum ada . pemasangan implan kohlea adalah salah satu cara yang dapat membantu pasien dalam menghadapi penyakit ini , tetapi itu tudak dapat mengembalikan pendengaran menjadi normal seperti sediakala .alat ini hanya dapat membantu meningkatkan quality of live pasien dalam kehidupan sehari harinya. Sehingga salah satu cara yang paling efektif hanyalah mencegah timbulnya tuli neurosensori ini.

29

DAFTAR PUSTAKA

1. Boies, adams.Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6 . EGC. Jakarta .1997 2. Buku Ajar THT Universitas Indonesia .FKUI.Jakarta.2007 3. Moore,keith L. Anatomi Klinis Dasar.EGC. Jakarta .2002 4. Ereoschenko, Viktor P. Atlas Histologi di Fiore edisi 9.EGC.Jakarta .2003 5. Guyton & hall. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9.EGC. Jakarta.1997 6. Atlas Anatomi Subota edisi 21.EGC.Jakarta .2000 7. http://www.asha.org/public/hearing/disorders/types.htm 8. http://nihseniorhealth.gov/hearingloss/toc.html 9. http://www.bcm.edu/oto/grand/111893.html 10. http://www.healthscout.com/ency/68/532/main.html 11. http://hcd2.bupa.co.uk/fact_sheets/Mosby_factsheets/Hearing_Loss.html 12. http://www.deafnessresearch.org.uk/ 13. http://www.medicineau.net.au/clinical/ent/SNHL.html 14. http://www.hearingawarenessweek.org.au/wordfiles/Causes%20of%20Hearing %20Loss.pdf 15. http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-andrina1.pdf 16. http://www.otojournal.org/search/quick 17. .Cermin Dunia Kedokteran No. 391985 18. www.wikipedia.com 19. www.suaramerdeka.com

30

31