Anda di halaman 1dari 7

KEGANASAN RONGGA MULUT

Keganasan rongga mulut merupakan keganasan yang sering dijumpai dan merupakan salah satu dari sepuluh keganasan yang paling sering menyebabkan kematian. Di Indonesia, frekuensi relatif kanker rongga mulut diperkirakan 1,5-5% dari seluruh kanker. Kanker rongga mulut dapat berasal dari selaput lendir mulut, lidah (terutama 2/3 bagian depan), bibir atas dan bawah, trigonum retromolar, dasar mulut, palatum durum dan mole serta tulang rahang (maxilla dan mandibulla). Jenis tumor ganas rongga mulut yang paling sering adalah karsinoma sel skuamosa (90%). Sebagian besar penderita (66%) baru berobat pada stadium tiga dan empat. Padahal penyakit ini bila ditemukan pada stadium awal memiliki prognosis yang lebih baik. Salah satu faktor yang berperan yaitu kurangnya perhatian masyarakat terhadap penyakit ini. Etiologi yang pasti belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang dapat memperbesar resiko terjadinya kanker rongga mulut yaitu merokok, menginang, alkohol, higyene mulut yang jelek, infeksi HPV dan usia tua.1,2 Selain itu, kondisi premalignan bila tidak diatasi dapat berkembang menjadi kanker. Lesi premalignan di rongga mulut paling sering yaitu leukoplakia dan eritroplakia. Diagnosis pasti dari penyakit ini ditentukan melalui biopsi dan evaluasi mikroskopik dari sel yang terambil.1-4 Biasanya kanker dimulai dari sel skuamosa pada mukosa mulut yang kemudian menginvasi lapisan di bawahnya. Kanker rongga mulut biasanya pertama kali menyebar ke nodus limfatikus leher, baru kemudian metastasis ke organ yang lebih jauh. Meskipun jarang dijumpai, tetapi tumor maxilla bersifat progresif, destruktif, dan cepat menimbulkan kematian. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan pencegahan, deteksi dini dan penatalaksanaan lesi-lesi premalignan.

I. DEFINISI Tumor (neoplasma) adalah lesi sebagai hasil pertumbuhan abnormal dari sel yang otonom/relatif otonom yang menetap walaupun rangsang penyebabnya telah dihilangkan. Berdasarkan sifatnya tumor diklasifikasikan menjadi tumor jinak dan ganas. Tumor jinak mempunyai kecepatan tumbuh yang lambat, aktifitas mitosis yang rendah, berbatas tegas, tidak menginvasi jaringan sekitarnya dan tidak pernah mengalami metastasis. Sebaliknya tumor ganas tumbuh relatif cepat, mempunyai aktifitas mitosis yang tinggi, berbatas tidak tegas, menginvasi jaringan sekitarnya dan sering mengalami metastasis. Tumor ganas rongga mulut adalah tumor ganas yang terletak mulai dari perbatasan kulit selaput lendir, bibir atas dan bawah sampai ke perbatasan palatum durum palatum mole di bagian atas dan garis sirkumvalata di bagian bawah. Organ yang dimaksud meliputi bibir atas dan bawah, selaput lendir mulut,maxilla, mandibula dan bagian atas trigonum retromolar, lidah bagian 2/3 depan, dasar mulut dan palatum durum.

II. KLASIFIKASI Pengklasifikasian tumor rongga mulut merupakan masalah yang sangat kompleks dan menghadirkan banyak kesukaran bagi para ahli onkologi. Thoma dalam bukunya Oral Pathology telah mengadaptasi tumor mulut dan rahang ke dalam klasifikasi sederhana berdasarkan The Registry of Bone Sarcoma untuk tumor tulang secara umum yaitu: 1. Tumor odontogenik Merupakan tumor tersering dari rahang. Sebagian tumor terbentuk dari sel epitel ektodermal, sebagian lainnya dari mesenchym, sisanya adalah campuran (mixed) odontogenic. Yang termasuk tumor odontogenik berasal dari ektodermal yaitu enameloma, ameloblastoma, adenoameloblastoma, hemangioameloblastoma, melanoblastoma, malignant ameloblastoma. Yang termasuk tumor odontogenik berasal dari mesenkim: myxoma odontogenik fibroma odontogenik dan fibrosarkoma odontogenik. Yang termasuk tumor odontogenik campuran yaitu ameloblastofibroma, ameloblastoodontoma, odontoblastomaa (odontoma), ameloblastosarcoma dan odontoameloblas-tosarkoma. 2. Tumor osteogenik Tumor osteogenk dari rahang sama dengan tumor tulang pada umumnya, berasal dari jaringan tulang. Yang termasuk tumor osteogenik adalah exostosis dan enostosis, osteoma (durum dan spongiosum), condroma, osteogenik myoma, osteogenik fibroma. fibro sarcoma, fibroosteoma, osteogenik sarkoma. 3. Tumor sentral yang bukan berasal dari odontogenik maupun osteogenik Yang termasuk ke dalam jenis ini adalah tumor sentral sel raksasa, tumor sentral neurogenik, central angioma, tumor ewing, multipel myeloma, tumor sentral dari kelenjar ludah, central adenoma dan tumor metastasis.

Klasifikasi TNM tumor rongga mulut menurut UICC 2002 sebagai berikut: T ( tumor primer ) : T0 Tis T1 T2 T3 T4a : tidak ditemukan : carcinoma in situ : 2 cm : 2 - 4 cm : > 4 cm : tumor sudah menyerang organ-organ lain seperti kortek tulang, n.alveolaris inferior,

otot-otot lidah (ekstrinsik/deep), sinus maxilla dan kulit T4b Tx : infiltrasi ruang masticator, pterygoid plate, dasar tengkorak, a. Carotis interna : tumor primer tidak dapat ditentukan

N ( kelenjar limfe regional ) N0 N1 N2a N2b N2c N3 Nx : tidak teraba pembesaran kelenjar, : single,ipsilateral, 3cm : single, ipsilateral, > 3 6 cm : multiple, ipsilateral, 6cm : bilateral / kontralateral 6cm : > 6 cm : pembesaran kelenjar limfe regional tidak dapat ditentukan

M ( metastase ) M0 M1 Mx : tidak ada metastase : terdapat metastase jauh : metastase tidak dapat ditentukan

Stadium kanker rongga mulut I. II. III. IVA. IVB. IVC. T1 N0 M0 T2 N0 M0 T3 N0 M0 , T1 N1 M0 , T2 N1 M0 , T3 N1 M0 T4 N0 M0 , T4 N1 M0 , T4 N2 M0 T1-4 N3 M0 T1-4 N1-3 M1

III. ETIOLOGI Seperti halnya keganasan pada umumnya, etiologi keganasan pada rongga mulut tidak diketahui secara pasti dan bersifat multifaktorial. Faktor-faktor resiko terjadinya kanker rongga mulut antara lain : 1. Merokok, menginang Merokok dan penggunaan tembakau seperti menginang berkaitan dengan sekitar 75% kasus kanker mulut, disebabkan oleh iritasi mukosa mulut dari rokok dan panas saat menghisap rokok atau cerutu. Tembakau mengandung karsinogenik yang poten seperti nitrosamine (nicotine), polycyclic aromatic hydrocarbons, nitrosodicthanolamine, nitrosoproline dan polonium. 2. Alkohol Tiga dari empat orang yang menderita kanker mulut dan tenggorokan sering mengkonsumsi alkohol. Orang yang sering minum alkohol memiliki resiko 6 kali lebih besar terjadinya kanker rongga mulut. Sedangkan orang yang minum alkohol dan merokok memiliki resiko yang lebih

besar dibandingkan dengan orang yang hanya menggunakan tembakau. Penggunaan alkohol dan tembakau mempunyai efek sinergistik. Alkohol sebagai suatu zat yang memberikan iritasi, secara teori menyebabkan terjadinya pembakaran terus-menerus dan meningkatkan permeabilitas selaput lendir. Hal ini menyebabkan penyerapan zat karsinogen yang ada di alkohol maupun tembakau. 3. Infeksi HPV (Human Papilloma Virus) Infeksi HPV, terutama tipe 16, merupakan faktor resiko dan faktor penyebab kanker mulut (Gilsion dkk. Johns Hopkins). Kanker oral karena virus ini cenderung pada tonsil dan peritonsil, dasar lidah dan orofaring. 4. Oral higiene yang jelek Oral higiene yang jelek meningkatkan resiko terjadinya infeksi kronis yang dapat menyebabkan transformasi sel epitel. Iritasi kronis dari tambalan gigi, gigi yang tajam atau alat yang lain diduga dapat meningkatkan resiko. 5. Usia Kanker rongga mulut biasanya timbul pada usia > 40 tahun, kemungkinan disebabkan karena menurunnya sistem imunitas karena bertambahnya usia, akumulasi dari perubahan-perubahan genetik dan lamanya terpapar oleh insisiator dan promotor keganasan (meliputi iritan kimia dan fisik, virus, efek hormonal, penuaan sel dan penurunan imunitas. 6. Jenis kelamin Kanker rongga mulut lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan wanita, dengan perbandingan 3:2 sampai 2:1.

IV.

DIAGNOSIS

a. Anamnesa Keluhan Umumnya penderita tumor ganas mempunyai keluhan-keluhan seperti rasa nyeri waktu menelan, sulit mengunyah dan membuka mulut, bercak keputihan atau kemerahan yang tidak dapat hilang dengan pengobatan, perdarahan spontan, gigi tanggal tanpa sebab, nyeri telinga. Gejala-gejala tersebut bukan merupakan gejala khas pada keganasan, tetapi bisa juga terjadi pada penyakit lain. Perjalanan penyakit Pada tumor yang ganas, perjalanan penyakit bersifat progresif, cepat membesar dalam jangka waktu yang relatif pendek. Faktor resiko Perlu ditanyakan faktor-faktor resiko yang berkaitan dengan kanker rongga mulut. Pengobatan apa yang telah diberikan

Bagaimana hasil pengobatan

b. Pemeriksaan Fisik Status general Pemeriksaan umum tentang keadaan umum pasien dan tanda-tanda metastase di organ lain. Status lokal Pemeriksaan lokal dilakukan dengan inspeksi dan palpasi bimanual. Perabaan lesi rongga mulut dilakukan dengan memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam rongga mulut dan jari-jari lainnya meraba lesi dari luar mulut. Status regional Dilakukan palpasi kelenjar getah bening untuk menentukan adanya pembesaran kelenjar getah bening. Bila terdapat pembesaran, ditentukan lokasi, jumlah, ukuran, konsistensi, dan mobilitasnya. c. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan histopatologi Spesimen untuk pemeriksaan histopatologi dapat diambil dari tumor primer atau pada metastase kelenjar getah bening leher dengan biopsi jarum halus. Biopsi eksisi dapat dilakukan pada tumor yang kecil 1 cm, seperti pada tindakan operasi definitif. Biopsi insisi menggunakan tang aligator bila tumor besar atau inoperabel. Pemeriksaan radiografi X-foto polos X-foto mandibula AP, lateral, Eisler, panoramik, oklusal : pada tumor gingiva mandibula atau tumor yang melekat pada mandibula. X-foto cranial lateral, Waters, oklusal : pada tumor gingival, maksila atau tumor yang melekat pada maksila X-foto Hap : pada tumor palatum durum X-foto thorax : untuk mengetahui adanya metastase ke paru.

Pencitraan USG hepar : untuk melihat metastase ke hepar CT-scan atau MRI : untuk melihat luas ekstensi tumor lokoregional Scan tulang : bila diduga ada metastase ke tulang.

Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium rutin, seperti : darah, urin, SGOT/SGPT, alkali fosfatase, ureum, creatinin, albumin, serum elektrolit, untuk menilai keadaan umum dan persiapan operasi.

V.

PENATALAKSANAAN Penanganan kanker rongga mulut sebaiknya dilakukan secara multidisipliner dengan melibatkan beberapa bidang spesialis yaitu : bedah onkologi, bedah plastik dan rekonstruksi, radiasi onkologi, medical oncologist, dokter gigi, rehabilitasi medis. Anjuran terapi untuk kanker rongga mulut :

Std. I

TNM T1N0M0

Operasi Eksisi radikal /

Radioterapi Kuratif, 50-70 Gy

Kemoterapi Tidak dianjurkan

II

T2N0M0

Eksisi radikal

Kuratif, 50-70 Gy

Tidak dianjurkan

III

T3N0M0 T1-3N1M0

Eksisi radikal Eksisi radikal Eksisi radikal

&

Post-op, 30-40 Gy

(&)

CT

IVA

T4N0-1M0 T1-4N2M0

&

Post-op, 30-40 Gy

(&)

CT

IVB

T1-4N3M0 Operabel Inoperabel

&

Post-op, 30-40 Gy Paliatif, 50-70 Gy

(&)

CT

IVC

Tiap T, Tiap N, M1

Paliatif

Paliatif

Paliatif

Dalam penanganan kanker rongga mulut, perlu diperhatikan eradikasi tumor, pengembalian fungsi rongga mulut serta aspek kosmetik/ penampilan penderita.

DAFTAR PUSTAKA

Delf, Mohlan H. 2000. Major Diagnosis Fisik. Jakarta : EGC Doengoes, Marylin E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC Pedersen, Gordon W. 2002. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta : EGC Sabiston, David C. 2000. Buku Ajar Bedah. Jakarta : EGC Sudiono, Janti. 2008. Pemeriksaan Patologis untuk Diagnosis Neoplasma Mulut. Jakarta : EGC