Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH FITOKIMIA

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah fitokimia

Disusun oleh: Ikhsan Budiarto Intan Fauziah Irfan Taufik Maria Ulfa Nia Yuliani Dewi Nur Ikhlas Nur Quratul Ayuni

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2010

METODE PEMISAHAN SENYAWA DALAM CAMPURAN


Pendahuluan Dalam kimia dan teknik kimia, proses pemisahan digunakan untuk mendapatkan dua atau lebih produk yang lebih murni dari suatu campuran senyawa kimia, walaupun kemungkinan masih terdapat matrik yang terkandung namun hal tersebut dapat diminimalisir dari sebelumnya. Sebagian besar senyawa kimia ditemukan di alam dalam keadaan yang tidak murni. Biasanya, suatu senyawa kimia berada dalam keadaan tercampur dengan senyawa lain. Untuk beberapa keperluan seperti sintesis senyawa kimia yang memerlukan bahan baku senyawa kimia dalam keadaan murni atau proses produksi suatu senyawa kimia dengan kemurnian tinggi, proses pemisahan perlu dilakukan. Proses pemisahan sangat penting dalam bidang teknik kimia. Suatu contoh pentingnya proses pemisahan adalah pada proses pengolahan minyak bumi. Secara mendasar, proses pemisahan dapat diterangkan sebagai proses perpindahan massa. Proses pemisahan sendiri dapat diklasifikasikan menjadi proses pemisahan secara mekanis atau kimiawi. Pemilihan jenis proses pemisahan yang digunakan bergantung pada kondisi yang dihadapi. Pemisahan secara mekanis dilakukan kapanpun memungkinkan karena biaya operasinya lebih murah dari pemisahan secara kimiawi. Untuk campuran yang tidak dapat dipisahkan melalui proses pemisahan mekanis (seperti pemisahan minyak bumi), proses pemisahan kimiawi harus dilakukan. Proses pemisahan suatu campuran dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode pemisahan yang dipilih bergantung pada fasa komponen penyusun campuran. Suatu campuran dapat berupa campuran homogen (satu fasa) atau campuran heterogen (lebih dari satu fasa). Suatu campuran heterogen dapat mengandung dua atau lebih fasa: padat-padat, padat-cair, padat-gas, cair-cair, cair-gas, gas-gas, campuran padat-cair-gas, dan sebagainya. Pada berbagai kasus, dua atau lebih proses pemisahan harus dikombinasikan untuk mendapatkan hasil pemisahan yang diinginkan. Ruang Lingkup Kromatografi Kromatografi adalah suatu istilah umum yang digunakan untuk bermacam-macam teknik pemisahan yang didasarkan atas partisi sampel diantara suatu rasa gerak yang bisa berupa gas ataupun cair dan rasa diam yang juga bisa berupa cairan ataupun suatu padatan. Penemu Kromatografi adalah Tswett yang pada tahun 1903, mencoba memisahkan pigmenpigmen dari daun dengan menggunakan suatu kolom yang berisi kapur (CaSO4). lstilah kromatografi diciptakan oleh Tswett untuk melukiskan daerah-daerah yang berwarna yang bergerak kebawah kolom. Pada waktu yang hampir bersamaan, D.T. Day juga menggunakan kromatografi untuk memisahkan fraksi-fraksi petroleum, namun Tswett lah yang pertama diakui sebagai penemu dan yang menjelaskan tentang proses kromatografi. Penyelidikan tentang kromatografi kendor untuk beberapa tahun sampai digunakan suatu teknik dalam bentuk kromatografi padatan cair (LSC). Kemudian pada akhir tahun 1930 an dan permulaan tahun 1940 an, kromatografi mulai berkembang. Dasar kromatografi lapisan tipis (TLC) diletakkan pada tahun 1938 oleh Izmailov dan Schreiber, dan kemudian

diperhalus oleh Stahl pada tahun 1958. Hasil karya yang baik sekali dari Martin dan Synge pada tahun 1941 (untuk ini mereka memenangkan Nobel) tidak hanya mengubah dengan cepat kroinatografi cair tetapi seperangkat umum langkah untuk pengembangan kromatografi gas dan kromatografi kertas. Pada tahun 1952 Martin dan James mempublikasikan makalah pertama mengenai kromatografi gas. Diantara tahun 1952 dan akhir tahun 1960 an kromatografi gas dikembangkan menjadi suatu teknik analisis yang canggih. Kromatografi cair, dalam praktek ditampilkan dalam kolom gelas berdiameter besar, pada dasarnya dibawah kondisi atmosfer. Waktu analisis lama dan segala prosedur biasanya sangat membosankan. Pada akhir tahun 1960 an, semakin banyak usaha dilakukan untuk pengembangan kromatografi cair sebagai suatu teknik mengimbangi kromatografi gas. Berbagai metode kromatografi memberikan cara pemisahan paling kuat dilaboratorium kimia. Metode kromatografi, karena pemanfaatannya yang leluasa, dipakai secara luas untuk pemisahan analitik dan preparatif. Biasanya, kromatografi analitik dipakai pada tahap permulaan untuk semua cuplikan , dan kromatografi preparatif hanya dilakukan juka diperlukan fraksi murni dari campuran. Pemisahan secara kromatografi dilakukan dengan cara mengotak-atik langsung beberapa sifat fisika umum dari molekul. Sifat utama yang terlibat ialah : (1) Kecenderungan molekul untuk melarut dalam cairan (kelarutan), (2) Kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk halus (adsorpsi, penjerapan), dan (3) Kecenderungan molekul untuk menguap atau berubah ke keadaan uap (keatsirian) . (1) Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan terutama dilakukan dengan menggunakan salah satu dari empat teknik kromatografi atau gabungan teknik tersebut. Keempat teknik kromatografi itu adalah : Kromatografi Kertas (KKt), Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Kromatografi Gas Cair (KGC) dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). (2) Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat kelarutan dan keatsirian senyawa yang akan dipisah. KKt dapat digunakan terutama bagi kandungan tumbuhan yang mudah larut dalam air (karbohidrat, asam amino dan senyawa fenolat), KLT merupakan metode pilihan untuk pemisahan semua kandungan yang larut lipid (lipid, steroid, karotenoid, kinon sederhana dan klorofil), KGC penggunannya terutama untuk senyawa atsiri (asam lemak, mono- dan seskuiterpen, hidrokarbon dan senyawa belerang), cara lain yaitu KCKT, dapat memisahkan kandungan yang keatsiriannya kecil. KCKT adalah suatu metode yang menggabungkan keefisienan kolom dan kecepatan analisis. (2) Pada bagian selanjutnya akan dibahas mengenai beberapa metode isolasi serta penggunaan kromatografi kolom baik kolom konvensional maupun kolom vakum. Jenis-Jenis Kromatografi Kromatografi padatan cair (LSC) Teknik ini tergantung pada teradsorpsinya zat padat pada adsorben yang polar seperti silika gel atau alumina. Kromatografi lapisan tipis (TLC) adalah salah satu bentuk dari LSC. Dalam KCKT kolom dipadati atau dipak dengan partikel-partikel micro or macro particulate or pellicular (berkulit tipis 37 -44 ).Sebagian besar dari KCKT sekarang ini dibuat untuk mencapai partikel-partikel microparticulate lebih kecil dari 20 . Teknik ini biasanya digunakan untuk zat padat yang mudah larut dalam pelarut organik dan tidak terionisasi. Teknik ini terutama sangat kuat untuk pemisahan isomer-isomer.

Kromatografi partisi Teknik ini tergantung pada partisi zat padat diantara dua pelarut yang tidak dapat bercampur salah satu diantaranya bertindak sebagai rasa diam dan yang lainnya sebagai fasa gerak. Pada keadaan awal dari kromatografi cair (LSC), rasa diamnya dibuat dengan cara yang sama seperti pendukung pada kromatografi gas (GC). Fasa diam (polar atau nonpolar) dilapisi pada suatu pendukung inert dan dipak kedalam sebuah kolom. Kemudian rasa gerak dilewatkan melalui kolom. Bentuk kromatografi partisi ini disebut kromatografi cair cair (LLC) Untuk memenuhi kebutuhan akan kolom-kolom yang dapat lebih tahan lama, telah dikembangkan pengepakan fase diam yang berikatan secara kimia dengan pendukung inert. Bentuk kromatografi partisi ini disebut kromatografi fase terikat (BPC = Bonded Phase Chromatography). BPC dengan cepat menjadi salah satu bentuk yang paling populer dari KCKT. Kromatografi partisi (LLC dan BPC), disebut "fase normal" bila fase diam lebih polar dari fase gerak dan "fase terbalik" bila fase gerak lebih polar dari pada fase diam. Kromatografi penukar ion (IEC) Teknik ini tergantung pada penukaran (adsorpsi) ion-ion di antara fase gerak dan tempat-tempat berion dari pengepak. Kebanyakan mesin-mesin berasal dari kopolimer divinilbenzen stiren dimana gugus-gugus fungsinya telah ditambah. Asam sulfonat dan amin kuarterner merupakan jenis resin pilihan paling baik untuk digunakan Keduanya, fase terikat dan resin telah digunakan. Teknik ini digunakan secara luas dalam life sciences dan dikenal untuk pemisahan asam-asam amino. Teknik ini dapat dipakai untuk keduanya kation dan anion. Kromatografi eksklusi Teknik ini unik karena dalam pemisahan didasarkan pada ukuran molekul dari zat padat. Pengepak adalah suatu gel dengan permukaan berlubang-lubang sangat kecil (porous) yang inert. Molekul-rnolekul kecil dapat masuk dalarn jaringan dan ditahan dalam fase gerak yang menggenang (stagnat mobile phase). Molekul- molekul yang lebih besar, tidak dapat masuk kedalam jaringan dan lewat melalui kolom tanpa ditahan. Kromatografi eksklusi rnernpunyai banyak nama, yang paling umum disebut permeasi gel (GPC) dan filtrasi gel. Apapun namanya, mekanismenya tetap sama. Dalam bidang biologi, Sephadex, suatu Cross-linked dextran gel, telah digunakan secara luas, hanya pengepak keras dan semi keras (polistiren, silika, glass) yang digunakan dalam KCKT. Dextran gel lunak tidak dapat menahan kinerja diatas 1 atau 2 atmosfer. Tenik ini dikembangkan untuk analisis polimer-polimer dan bahan-bahan biologi, terutama digunakan untuk rnolekul-molekul kecil. Kromatografi pasangan ion (IPC) Kromatogtafi pasangan ion sebagai penyesuaian terhadap KCKT termasuk baru, pemakaian pertama sekali pada pertengahan tahun 1970. Diterimanya IPC sebagai metode baru KCKT merupakan hasil kerja Schill dan kawan-kawan dan dari beberapa keuntungan yang unik. Kadang-kadang IPC disebut juga kromatografi ekstraksi, kromatografi dengan suatu cairan penukar ion dan paired ion chromatography (PIC). Setiap teknik-teknik ini mempunyai dasar yang sama.

Popularitas IPC muncul terutama sekali dari keterbatasan IEC dan dari sukanya menangani sampel-sampel tertentu dengan metode-metode LC lainnya (seperti senyawa yang sangat polar, senyawa yang terionisasi secara kompleks dan senyawa basa kuat). IPC dapat dilaksanakan dalam dua tipe yaitu fase normal dan fase balik. Fase diam dari rase balik IPC dapat terdiri dari suatu pengepak silika yang disilanisasi (misalnya C8 atau C18 Bonded Phase) atau dari suatu pengepak yang diperoleh secara mekanik, fase organik yang tidak dapat bercampur dengan air seperti 1 pentanol. Fase diam yang dipakai adalah Cs atau CIS BPC Packing. Fase gerak terdiri dari suatu larutan bufer (ditambah suatu kosolven organik seperti metanol atau asetonitril untuk pemisahan fase terikat) dan suatu penambahan ion tanding,yang muatannya berlawanan dengan molekul sampel. Sebagai contoh, untuk pemisahan suatu kelompok asam-asam karboksilat menggunakan suatu fase gerak yang dibufer pada pH 7,0 supaya semua senyawa- senyawa sampel berada dalam bentuk RCOO (dilambangkan dengan R). Ion tanding dalam hal ini bisa berupa tetrabutyl ammonium ion, BU4N+ (atau TBA+).Dalam hal yang paling sederhana dari IPC, dapat dianggap bahwa sampel dan ion tanding dapat lama hanya dalam fase gerak air, dan pasangan ion yang dibentuk dari ion-ion ini dapat larut hanya dalam fase diam organik. Dalam hal ini dapat ditulis persamaan untuk distribusi sampel R- diantara dua fase : pasangan Ion Tulisan aq dan org menunjukkan fase air dan rase organik. Konstanta ekstraksi E selanjutnya ditetapkan dengan persamaan :

Dimana E adalah konstant untuk suatu sistem IPC khusus, tetapi bervariasi dengan pH fase gerak dan kekuatan ion, konsentrasi dan jenis kosolven organik didalam fase gerak (misal metanol atau asetonitril) dan suhu. Kapasitas faktor k3,berhubungan dengan E sebagai berikut :

Maka harga k3 untuk semua senyawa-senyawa sampel (untuk unit bermuatan negatif) diduga sebanding dengan konsentrasi ion tanding TBA+. Catatan bahwa koefisien distripbusi K berhubungan dengan E sehingga.

Variasi dari (TBA+)aq memberikan suatu cara untuk mengontrol kekuatan solven dalam selektifitas. Dalam sistem fase balik, kekuatan solven dengan mudah dapat divariasi dengan mengubah ion tanding atau konsentrasinya. Untuk sistem fase balik pemisahan samapel anion atau sampel kation dapat dirumuskan dengan :

Disini konsentrasi (C+) dan (C-), berturut-turut menunjukkan konsentrasi ion tanding kation dan konsentrasi ion tanding anion, dan E adalah konstan walaupun kondisi-kondisi lainnya diubah. Maka bertambahnya konsentrasi dari ion tanding dalam fase gerak menyebabkan bertambahnya k3 untuk IPC fase batik ( dan berkurang pada JPC fase normal). Persamaan (6) dan (7) untuk ion-ion sampel terionisasi tunggal. Untuk ion-ion sampel bivalen atau trivalen, k berubah berturut-turut menjadi (C+)2 atau (C+)3. Dalam IPC fase normal, k' dapat divariasi dengan mengubah konsentrasi ion tanding dalam fase diam. Namun, hal ini kurang tepat karena berarti harus mengubah fase diam (mengisi kembali kolom = reloading the column). Dalam operasional fase normal ataupun fase balik IPC, k' dapat juga divariasi dengan mengubah jenis ion tanding (misalnya mengganti pentan sulfonat dengan heptan sulfonat). Penambahan satu gugus CH2 kepada molekul ion tanding menghasilkan suatu faktor sampai 2,5 kali (efek lebih besar pada ion tanding dengan konsentrasi rendah), molekul-molekul ion tanding yang lebih besar memberikan harga k' lebih kecil pada IPC fase normal. Kekuataan solven baik dalam fase normal ataupun fase balik IPC dapat juga divariasi dengan merubah polaritas fase gerak. Untuk sistem fase balik IPC tanpa penambahan fase diam organik, campuran air dengan salah satunya metanol atau asetonitril biasanya digunakan sebagai fase gerak. Bila persentase air dikurangi, maka pelarut menjadi lebih kuat dan harga k' sampel berkurang. Selain dari pada menaikkan konsentrasi ion tanding, menaikkan kekuatan ionik didalam fase air biasanya mengurangi pembentukan pasangan-pasangan ion, sebagai suatu hasil kompetisi dari ion-ion sekunder dalam membentuk pasangan- pasangan ion dengan ion tanding. Maka suatu kenaikan/pertambahan kekuatan ion akan menurunkan harga k' pada IPC fase balik dan akan meninggikan harga k' pada rase normal IPC. Satu studi membuktikan bahwa 2 sampai 3 kali lipat perubahan k' untuk setiap menggandakan kekuatan ion. Ion-ion sekunder yang muatannya sama dengan muatan ion sampel (misal : kationik atau anionik) mempunyai efek yang paling besar pada harga k' sampel. Dalam suatu studi meliputi pemisahan anion-anion sampel dengan IPC, efek dari ion-ion sekunder terhadap k' bertambah dalam urutan NO3<Br<C1<SO4-2

Metode Isolasi Metode pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan terutama dilakukan dengan menggunakan salah satu dari empat teknik atau gabungan teknik tersebut. 1. Kromatografi Kertas (KKt) dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Kedua cara ini serupa dalam hal fase diamnya berupa lapisan tipis dan fase geraknya mengalir karena kerja kapiler. Perbedannya dalam sifat dan fungsi fase diam. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif Proses isolasi yang terjadi berdasarkan perbedaan daya serap dan daya partisi serta kelarutan dari komponen-komponen kimia yang akan bergerak mengikuti kepolaran eluen, oleh karena daya serap adsorben terhadap komponen kimia tidak sama, maka komponen bergerak dengan kecepatan yang berbeda sehingga hal inilah yang menyebabkan pemisahan. Kromatotron Proses isolasi yang terjadi berdasarkan adsorpsi dan partisi. Adsorpsi adalah senyawa kimia dapat terpisah-pisah disebabkan oleh daya serap adsorban terhadap tiap-tiap komponen kimia tidak sama. Sedangkan partisi adalah kelarutan tiap-tiap komponen kimia dalam cairan pengelusi (eluen) tidak sama dimana arah gerakan eluen disebabkan oleh gaya sentrifugal sehingga komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda yang menyebabkan terjadi pemisaha. Kromatografi Kolom, dimana Pelarut (fase gerak) dibiarkan mengalir melalui kolom karena aliran yang disebabkan oleh gaya berat atau didorong dengan tekanan. Pita, senyawa linarut bergerak melalui kolom dengan laju yang berbeda, memisah dan dikumpulkan berupa fraksi ketika keluar dari alas kolom. Kromatografi Gas Cair (KGC). Pemisahan pada kromatografi gas didasarkan pada titik didih suatu senyawa dikurangi dengan semua interaksi yang mungkin terjadi antara solute dengan fase diam. Fase diam berupa gas akan mengelusi solute dari ujung kolom lalu menghantarkannya ke detector. Penggunaan suhu yang meningkat (biasanya pada kisaran 50350C) bertujuan untuk menjamin bahwa solute akan menguap dan karenanya akan cepat terelusi. Ada 2 jenis kromatografi gas : Kromatografi gas-cair (KGC) Pada KGC ini, fase diam yang digunakan adalah cairan yang diikatkan pada suatu pendukung sehingga solute akan terlarut dalam fase diam. Mekanisme sorpsi-nya adalah partisi. Kromatografi gas-padat (KGP) Pada KGP ini, digunakan fase diam padatan (kadang-kadang polimerik). Mekanisme sorpsi-nya adalah adsorpsi. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) KCKT dapat disamakan dengan KGC dalam hal kepekaan dan kemampuan menghasilkan data kualitatif dan kuantitatif dengan sekali kerja saja. Perbedaannya adalah fase diam yang terikat pada polimer berpori terdapat pada kolom baja tahan karat yang bergaris tengah kecil dan fase gerak cair mengalir akibat tekanan yang besar.

Maka, dari berbagai kromatografi diatas, penggunaan untuk kualitatif dapat digunakan KKt dan KLT serta KGC dan KCKT. Untuk penggunaan kuantitatif dan untuk pemurnian (isolasi) maka dapat dipertimbangkan penggunaan beberapa metode berikut, yaitu : KLT preparatif, kromatografi kolom (termasuk kromatografi gas dan kromatografi cair kinerja tinggi). Kromatografi Kolom Kromatografi kolom merupakan metode kromatografi klasik yang masih banyak digunakan. Kromatografi kolom digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa dalam jumlah yang banyak berdasarkan adsorpsi dan partisi. Kemasan adsorben yang sering digunakan adalah silika gel G-60, kieselgur, Al2O3, dan Diaion. Cara pembuatannya ada dua macam : Cara kering yaitu silika gel dimasukkan ke dalam kolom yang telah diberi kapas kemudian ditambahkan cairan pengelusi. Cara basah yaitu silika gel terlebih dahulu disuspensikan dengan cairan pengelusi yang akan digunakan kemudian dimasukkan ke dalam kolom melalui dinding kolom secara kontinyu sedikit demi sedikit hingga masuk semua, sambil kran kolom dibuka. Eluen dialirkan hingga silika gel mapat, setelah silika gel mapat eluen dibiarkan mengalir sampai batas adsorben kemudian kran ditutup dan sampel dimasukkan yang terlebih dahulu dilarutkan dalam eluen sampai diperoleh kelarutan yang spesifik. Kemudian sampel dipipet dan dimasukkan ke dalam kolom melalui dinding kolom sedikit demi sedikit hingga masuk semua, dan kran dibuka dan diatur tetesannya, serta cairan pengelusi ditambahkan. Tetesan yang keluar ditampung sebagai fraksi-fraksi. Kromatografi Kolom Isap Suction Colomn Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang banyak, berdasarkan absorpsi dan partisi, dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. Rapid-Sigel Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang sedikit berdasarkan absorpsi dan partisi, dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. Press Colomn Kromatografi kolom sederhana di mana fase gerak bergerak dengan cepat karena penggunaan tekanan positif dari tabung nitrogren. Udara yang ditekan mengandung O2 dan uap air yang dapat menyebabkan peruraian produk dari ekstrak dan berubah saat pemisahan kromatografi. Keterbatasan kromatografi kolom-terbuka klasik ialah sebagai berikut : a. Pemisahan lambat b. Penjerapan linarut yang tidak bolak-balik c. Tidak dapat dipakai jika partikel terlalu kecil. Kombinasi antara kromatografi kolom kering dan kromatografi cair vakum memiliki kelebihan dimana laju pengelusian lebih tinggi dan memperpendek waktu kontak linarut dengan penjerap. Untuk kolom gaya tarik bumi yang memakai penjerap berukuran 60-230 mesh (63-250 m), umumnya laju aliran sekitar 10-20 mL/cm2 penampang kolom/jam. Untuk partikel yang lebih kecil dari 200 mesh diperlukan semacam pemompaan atau sistem

bertekanan. Kemudian laju dapat ditingkatkan sampai 2 mL atau lebih setiap menitnya, atau sampai batas sistem tekanan. Kromatografi Vakum Cair mempunyai keuntungan yang utama dibandingkan dengan kolom konvensional yaitu : 1. Konsumsi fase gerak KCV hanya 80% atau lebih kecil disbanding dengan kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10100l/menit) 2. Adanya aliran fase gerak lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika digabung dengan spectrometer massa 3. Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solute lebih pekat karenanya jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas missal sampel klinis Kerugian KCV (Kromatogravi Vakum Cair) : 1. Membutuhkan waktu yang cukup lama 2. Sampel yang dapat digunakan terbatas Gambar Kromatografi Kolom Vakum ;

Gambar Kromatografi Kolom Konvensional :

Multi Eluen dan Eluasin Dua Dimensi Multi eluen adalah penggunaan eluen atau fase gerak yang berbeda yang memungkinkan pemisahan analit dengan berdasarkan tingkat polaritas yang berbeda. KLT 2 arah atau 2 dimensi ini bertujuan untuk meningkatkan resolusi sampel ketika komponenkomponen solute mempunyai karakteristik kimia yang hampir sama, karenanya nilai Rf juga hampir sama sebagaimana dalam asam-asam amino. Selain itu, 2 sistem fase gerak yang sangat berbeda dapat digunakan secara berurutan sehingga memungkinkan untuk melakukan pemisahan analit yang mempunyai tingkat polaritas yang berbeda. Sampel ditotolkan pada lempeng lalu dikembangkan dengan satu system fase gerak sehingga campuran terpisah menurut jalur yang sejajar dengan salah satu sisi. Lempeng diangkat, dikeringkan dan diputar 90, dan diletakkan dalam bejana kromatografi yang berisi fase gerak kedua, sehingga bercak yang terpisah pada pengembangan pertama terletak dibagian bawah sepanjang lempeng, lalu dikromatografi lagi. Metode isolasi yang dapat digunakan untuk senyawa yang terkandung dalam bahan alam adalah : KLT preparative Kromatografi Kolom KGC KCKT

Kromatografi kolom konvensional memiliki berbagai keterbatasan dalam penggunannya, kromatografi kolom vakum dapat meningkatkan laju pengelusian dan mempersingkat waktu kontak linarut dengan penjerap. Penggunaan multi eluan dan KLT 2 dimensi digunakan untuk pemisahan beberapa senyawa dengan karakteristik kimia dengan nilai Rf yang hampir sama dengan pemisahan analit berdasarkan perbedaan polaritasnya masing-masing.

Gambar-gambar lain yang terkait Kromatografi Kertas

Kromatografi Kolom

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

PEMISAHAN SENYAWA CAMPURAN


Sebagian besar senyawa kimia ditemukan di alam dalam keadaan yang tidak murni. Biasanya, suatu senyawa kimia berada dalam keadaan tercampur dengan senyawa lain. Untuk beberapa keperluan seperti sintesis senyawa kimia yang memerlukan bahan baku senyawa kimia dalam keadaan murni atau proses produksi suatu senyawa kimia dengan kemurnian tinggi, proses pemisahan perlu dilakukan. Proses pemisahan sangat penting dalam bidang teknik kimia. Suatu contoh pentingnya proses pemisahan adalah pada proses pengolahan minyak bumi. Minyak bumi merupakan campuran berbagai jenis hidrokarbon. Pemanfaatan hidrokarbon-hidrokarbon penyusun minyak bumi akan lebih berharga bila memiliki kemurnian yang tinggi. Proses pemisahan minyak bumi menjadi komponen-komponennya akan menghasilkan produk LPG, solar, avtur, pelumas, dan aspal. Secara umum materi dapat dibagi atas zat murni (tunggal) dan campuran (majemuk). Zat murni ada dua, yaitu unsur dan senyawa, senyawa terbentuk dari dua unsur atau lebih dengan komposisi tertentu sedangkan campuran adalah gabungan dua zat murni dengan komposisi sembarangan dan masih memiliki sifat-sifat asalnya. Campuran dibagi menjadi 2 macam, yaitu : Campuran Heterogen Campuran heterogen adalah campuran yang tidak serba sama, membentuk dua fasa atau lebih dan terdapat batas yang jelas diantara fasa-fasa. Adapun empat proses pemisahan campuranheterogen,yaitu : 1.sedimentasi 2.flotasi 3.sentrifugasi 4.filtrasi contohnya : Campuran tepung beras dengan air, campuran kapur dengan pasir,dll Campuran Homogen Campuran homogen adalah campuran homogen antara zat terlarut (solute) dan zat pelarut (solvent) dan dapat berwujud cair, padat, dan gas. Adapun beberapa metode yang digunakan untuk terjadinya suatu fasa baru sehingga dapat dipisahkan adalah : 1.Absorpsi 2.Adsorpsi 3.Destilasi 4.Kromatografi 5.kristalisasi 6.ekstraksi, dl

Secara mendasar, proses pemisahan dapat diterangkan sebagai proses perpindahan massa. Proses pemisahan sendiri dapat diklasifikasikan menjadi proses pemisahan secara mekanis atau kimiawi. Pemilihan jenis proses pemisahan yang digunakan bergantung pada kondisi yang dihadapi. Pemisahan secara mekanis dilakukan kapanpun memungkinkan karena biaya operasinya lebih murah dari pemisahan secara kimiawi. Untuk campuran yang tidak dapat dipisahkan melalui proses pemisahan mekanis (seperti pemisahan minyak bumi), proses pemisahan kimiawi harus dilakukan. Proses pemisahan suatu campuran dapat dilakukan dengan berbagai metode. Metode pemisahan yang dipilih bergantung pada fasa komponen penyusun campuran. Suatu campuran dapat berupa campuran homogen (satu fasa) atau campuran heterogen (lebih dari satu fasa). Suatu campuran heterogen dapat mengandung dua atau lebih fasa: padat-padat, padat-cair, padat-gas, cair-cair, cair-gas, gas-gas, campuran padat-cair-gas, dan sebagainya. Pada berbagai kasus, dua atau lebih proses pemisahan harus dikombinasikan untuk mendapatkan hasil pemisahan yang diinginkan. metode pemisahan merupakan aspek penting dalam bidang kimia, karena kebanyakan materi yang terdapat di alam berupa campuran. Contohnya, tanah yang terdiri dari berbagai senyawa dan unsur baik dalam wujud padat, cair maupun gas. Udara yang kita hirup, mengandung oksigen, nitrogen, dan sebagainya. Melalui teknik pemisahan, ternyata menghasilkan materi yang lebih penting dan lebih mahal harganya (BBM) campuran dapat dipisahkan melalui peristiwa fisika dan kimia. Pemisahan secara fisika tidak mengubah zat selama pemisahan, sedangkan secara kimia satu komponen atai lebih direaksikan dengan zat lain sehingga dapat dipisahkan.Cara atau teknik pemisahan campuran bergantung pada jenis, wujud dan sifat komponen yang terkandung di dalamnya. Adapun cara pemisahan campuran antara lain :

Destilasi

Pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan titik didih campuran atau lebih. Jika campuran dipanaskan, maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Contohnya memisahkan air dengan alkohol. Titik didih air dan alkohol masingmasing 100o C dan 78o C jika campuran dipanaskan dalam labu destilasi pada suhu 78o C, maka alkohol akan menguap sedikit demi sedikit, uap itu akan mengembun dalam pendingin dan akhirnya didapat alkohol murni. Rekristalisasi

Pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan titik beku komponen. Perbedaan itu harus cukup besar dan sebaliknya komponen yang akan dipisahkan berwujud padat dan yang lainnya cair pada suhu kamar. Contohnya garam dapat dipisahkan dari air

karena garam berupa padatan. Air garam bila dipanaskan perlahan dalam bejana terbuka, maka air akan menguap sedikit demi sedikit. Pemanasan dihentikan saat larutan tepat jenuh. Jika dibiarkan akhirnya terbentuk kristal garam. Ekstraksi

Pemisahan campuran yang didasarkan pada perbadaan kelaruran komponen dalam pelarutyang berbeda. Contohnya campuran dua komponen (misalkan A dan B) dimasukkan dalam pelarut X dan Y. Syaratnya kedua pelarut ini tidak dapat bercampur seperti air dan minyak. Semuanya dimasukkan kedalam corong pisah dan dikocok supaya bercampur sempurna dan kemudian didiamkan sampai X dan Y memisah kembali. Kini zat A dan B berada dalam kedua pelarut X dan Y, tetapi perbandingannya tidak sama. Misal A lebih banyak dari X sedangkan B lebih banyak dari Y. Akhirnya A dan B telah terpisah meski tidak sempurna. Kedua pelarut dapat dipisahkan dengan membuka kran corong perlahan-lahan dan ditampung dalam bejana bersih. Kromatografi

Pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan distribusi molekul-molekul komponen diantara dua fasa (fasa gerak dan fasa diam) yang kepolarannya berbeda. Cara ini dipakai jika campuran tidak dapat dipisahkan dengan cara lain. Keberhasilan pemisahan kromatografi bergantung pada daya interaksi komponen-komponen campuran dengan fasa diam dan fasa gerak. Apabila dua atau lebih komponen memiliki daya interaksi dengan fasa diam atau fasa gerak yang hampir sama maka komponen-komponen tersebut sulit dipisahkan. Berdasarkan jenis eluen (fasa gerak) dan adsorbennya (fasa diam), kromatografi dapat dibagi menjadi 4 cara : 1)Kromatografi kolom Adalah kromatografi yang adsorbennya (berupa padatan dalam bentuk tepung) 2)Kromatografi kertas Adalah kromatografi yang menggunakan kertas sebagai adsorbennya dan zat cair sebagai eluennya. 3)Kromatografi lempeng tipis (KLT) Adalah kromatografi menggunakan lempeng tipis (seperti kaca atau lempengan logam) yang dilumuri padatan sebagai adsorben 4)Kromatografi Gas Adalah kromatografi yang menggunakan gas sebagai eluennya, sedangkan komponen didalam alat akan diubah menjadi gas dan mengalir bersama eluen.

Ekstrak sinambung Ekstraksi adalah proses penarikan komponen/zat aktif suatu simplisia dengan menggunakan pelarut tertentu. Pemikiran metode ekstraksi senyawa bukan atom dipergunakan oleh beberapa faktor, yaitu sifat jaringan tanaman, sifat kandungan zat aktif serta kelarutan dalam pelarut yang digunakan. Prinsip ekstraksi adalah melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar dan senyawa non polar dalam senyawa non polar. Secara umum ekstraksi dilakukan secara berturut-turut mulai dengan pelarut non polar ( n-hexana) lalu yang kepolarannnya menengah (diklormetan dan etilasetat) kemudian yang bersifat polar ( metanol dan etanol). Ekstrasksi sinambung dilakukan dengan menggunakan alat Soxhlet. Pelarut penyair yang ditempatkan di dalam labu akan menguap ketika dipanaskan, melewati pipa samping alat Soxhlet dan mengalami pendinginan saat melewati kondensor. Pelarut yang telah berkondensasi tersebut akan jatuh pada bagian dalam alat Soxhlet yang bersimplisia dibungkus kertas saring dan menyisiknya hingga mencapai bagian atas tabung sifon. Seharusnya seluruh bagian linarut tersebut akan tertarik dan ditampung pada labu tempat pelarut awal. Proses ini berlangsung terus menerus sampai diperloleh hasil ekstraksi yang dikehendaki. Keuntungan ekstraksi sinambung adalah pelarut yang digunakan lebih sedikit dan pelarut murni sehingga dapat menyaring senyawa dalam simplisia lebih banyak dalam waktu lebih singkat dibandingkan dengan maserasi atau perkolasi. Kerugian cara ini adalah tidak dapat digunakan untuk senyawa-senyawa termolabil (10). Metode yang dijelaskan oleh Soxhlet pada tahun 1879 adalah contoh yang paling umum digunakan metode semi-kontinu diterapkan untuk ekstraksi lipid dari makanan. Menurut prosedur Soxhlet itu, minyak dan lemak dari materi padat yang diekstraksi dengan mengulangi mencuci (perkolasi) dengan pelarut organik, biasanya heksana atau petroleum eter, refluks pada sebuah gelas khusus. Yang dijelaskan metode Soxhlet pada tahun 1879 adalah contoh umum yang digunakan metode semi-kontinu diterapkan untuk ekstraksi lemak makanan. Menurut prosedur s 'Soxhlet, minyak lemak dan materi padat diekstraksi dengan mengulangi mencuci (perkolasi) pelarut organik, biasanya minyak eter heksana, refluks. Pada metode ini sampel dikeringkan, ditumbuk menjadi partikel kecil dan ditempatkan dalam tudung jari selulosa berpori. sampel dikeringkan ditumbuk, menjadi partikel Kecil dan ditempatkan dalam tudung Jari selulosa berpori. tudung jari ini ditempatkan di sebuah kamar ekstraksi (2), yang tergantung di atas sebuah termos berisi pelarut (1) dan di bawah kondensor (4). tudung Jari ditempatkan di Kamar ekstraksi (2), tergantung yang di atas termos berisi pelarut (1) dan di arus bawah kondensor (4). Termosnya dipanaskan dan pelarut menguap dan bergerak naik ke kondensor di mana diubah menjadi cairan yang menetes ke ruang ekstraksi mengandung sampel. Termosnya dipanaskan dan pelarut menguap dan bergerak naik ke kondensor dimana diubah menjadi cairan menetes yang mengandung ekstraksi. Ruang ekstraksi dirancang sedemikian rupa sehingga ketika pelarut sekitar sampel melebihi tingkat tertentu itu menetes dan meluap mendidih dalam termos pada akhir proses ekstraksi, yang berlangsung beberapa jam, botol berisi pelarut dan lemak akan dibuang. Akhir transovarial ekstraksi, yang berlangsung beberapa jam, botol

berisi pelarut dan beraneka ragam lemak akan dibuang. Pada beberapa perangkat corong (3) memungkinkan untuk memulihkan pelarut pada akhir ekstraksi setelah penutupan sebuah kunci pipa antara saluran dan ruang ekstraksi. Pelarut dalam labu (1) kemudian diuapkan dan massa dari sisa lipid diukur. Asithi beberapa perangkat corong (3) memungkinkan untuk ekstraksi pelarut pada akhir yang menutup pipa saluran ekstraksi antar ruang. pelarut dalam labu (1) diuapkan kemudian berat sisa lipid yang digunakan di ukur. Persentase lemak dalam sampel awal kemudian dapat dihitung. Batas lemak dalam sampel dapat dihitung Mutasi meskipun kelemahan dari prosedur (ekstraksi lipid polar lemah, lama terlibat, volume besar pelarut, bahaya mendidih pelarut), beberapa metode yang melibatkan ekstraksi pelarut otomatis digambarkan. Meskipun kelemahan prosedur (ekstraksi polar lipid lemah , terlibat lama, volume pelarut Besar, bahaya pelarut mendidih), beberapa metode ekstraksi pelarut Yang melibatkan digambarkan otomatis. Instrumen yang berbeda-beda ekstraksi otomatis atau semi-otomatis dapat ditemukan di pasaran.

EKSTRAKSI
Ekstraksi adalah isolasi senyawa yang terdapat dalam campuran larutan atau campuran padatan dengan menggunakan pelarut yang cocok. Ekstraksi merupakan teknik yang sering digunakan bila senyawa organik (sebagian besar hidrofob) dilarutkan atau didispersikan dalam air. Pelarut yang tepat (cukup untuk melarutkan senyawa organik; seharusnya tidak hidrofob) ditambahkan pada fasa larutan dalam airnya, campuran kemudian diaduk dengan baik sehingga senyawa organik diekstraksi dengan baik. Lapisan organik dan air akan dapat dipisahkan dengan corong pisah, dan senyawa organik dapat diambil ulang dari lapisan organik dengan menyingkirkan pelarutnya. Pelarut yang paling sering digunakan adalah dietil eter C2H5OC2H5, yang memiliki titik didih rendah (sehingga mudah disingkirkan) dan dapat melarutkan berbagai senyawa organik. Ekstraksi bermanfaat untuk memisahkan campuran senyawa dengan berbagai sifat kimia yang berbeda. Contoh yang baik adalah campuran fenol C6H5OH, anilin C6H5NH2 dan toluen C6H5CH3, yang semuanya larut dalam dietil eter. Pertama anilin diekstraksi dengan asam encer. Kemudian fenol diekstraksi dengan basa encer. Toluen dapat dipisahkan dengan menguapkan pelarutnya. Asam yang digunakan untuk mengekstrak anilin ditambahi basa untuk mendaptkan kembali anilinnya, dan alkali yang digunakan mengekstrak fenol diasamkan untuk mendapatkan kembali fenolnya.

Bila senyawa organik tidak larut sama sekali dalam air, pemisahannya akan lengkap. Namun, nyatanya, banyak senyawa organik, khususnya asam dan basa organik dalam derajat tertentu larut juga dalam air. Hal ini merupakan masalah dalam ekstraksi. Untuk memperkecil kehilangan yang disebabkan gejala pelarutan ini, dapat dilakukan ekstraksi berulang Daripada menggunakan keseluruhan pelarut untuk satu kali ekstraksi, lebih baik menggunakan sebagian-sebagian pelarut untuk beberapa kali ekstraksi. Kemudian akhirnya menggabungkan bagian-bagian pelarut tadi. Dengan cara ini senyawa akan terekstraksi dengan lebih baik. Alasannya dapat diberikan di bawah ini dengan menggunakan hukum partisi. Perhatikan senyawa organik yang larut baik dalam air dan dalam dietil eter ditambahkan pada campuran dua pelarut yang tak saling campur ini. Rasio senyawa organik yang larut dalam masingmasing pelarut adalah konstan. Jadi, ceter / cair = k (konstan) (12.1) ceter dan cair adalah konsentrasi zat terlarut dalam dietil eter dan di air. k adalah sejenis konstanta kesetimbangan dan disebut koefisien partisi. Nilai k bergantung pada suhu. Prinsip metode ini adalah pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur. Selain itu prinsip dasar ekstraksi itu sendiri adalah : Melarutkan komponen yang berada dalam campuran senyawa secara selektif dengan pelarut yang sesuai. Pelarut polar untuk melarutkan senyawa polar, pelarut non polar untuk melarutkan senyawa non polar, dan pelarut semi polar untuk melarutkan senyawa semi polar. Asosiasi pelarut dengan zat terlarut disebut solvatasi, dan ini terjadi bila ada analogi structural.Kelarutan terjadi bila energy solvatasi lebih besar daripada energy kisi kristal. Kepolaran suatu senyawa merupakan jumlah vektorial seluruh momen dipole yang ada. Kaidah distribusi atau partisi.

Beberapa pengertian atau istilah dalam ekstraksi adalah : Ekstraktan : Pelarut yang digunakan untuk mengekstraksi.

Rafinat

: Larutan senyawa atau bahan yang akan diekstraksi.

Linarut (solute) : Senyawa atau zat yang diinginkan terlarut dalam rafinat.

Hal-hal yang harus diperhatikan oada saat akan melakukan ekstraksi adalah : Pelarut yang digunakan harus di destilasi terlebih dahulu. Dihindarkan kemungkinan terbentuk atau terisolasinya artefak. Dalam ekstraksi cair-cair masing-masing fase harus dijenuhkan dengan fase lainnya. Penggolongan ekstraksi berdasarkan bentuk fasenya dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : Ekstraksi Cair Padat. Ekstraksi Cair Cair.

Sedangkan berdasarkan waktu kontak, dibagi menjadi 3 : Ekstraksi sederhana. Ekstraksi bertahap Ekstraksi sinambung.

Ekstraksi Padat - Cair Ekstraksi ini bertujuan untuk melarutkan senyawa yang berada dalam suatu padatan. Ekstraksi padat cair ini merupakan tahapan penting dalam preparasi sampel maupun penyediaan obat seperti tintura. Secara sederhana ekstraksi jenis ini dilakukan dengan melarutkan langsung sampel padat dalam pelarut tertentu lalu disaring. Filtratnya diuapkan hingga kering lalu jika perlu residunya dilarutkan dalam pelarut yang sesuai dan digunakan sebagai larutan uji. Teknik pemisahan yang populer adalah ekstraksi menggunakan ekstraktor Soxhlet atau ekstraktor Kumagawa, dimana digunakan ekstraktan yang mudah menguap pada pemanasan dan terkondensasi sehingga ekstraksi berjalan secara sinambung. Perlu diperhatikan ketahanan sampel dalam suasana panas.

Kedua ekstraktor mempunyai cara kerja yang sama. Peralatan terdiri dari labu ekstraktan 1, Ruang ekstraksi 4, sistem sifon 6, tabung penghubung dengan kondensor 8 dan sistem pendingin 9. Sampel dimasukkan atau dibungkus dalam kertas saring Whatman lalu disimpan dalam 5. Labu 1 diisi dengan pelarut ekstraktan dan dihubungkan dengan E yang dilengkapi dengan 6 dan 3 yang tersambung ke pendingin kondensor 9. Labu 1 dipanaskan dan pelarut ekstraktan akan menguap melalui 2 masuk ke 3 dan ke kondensor 9 , terjadi pendinginan dan pelarut menetes diatas kantong 5 (sampel) dan akan merendamnya sampai pelarut mencapai batas sifon 6. Jika level cairan menaik dan melewati batas 6 maka cairan pada 4 akan mengalir secara otomatis ke labu 1.

Gambar : ekstraksi soxhlet.

Ekstraksi Cair Cair Dalam proses ekstraksi cair-cair atau sering disebut juga sebagai ekstraksi pelarut, solut dipindahkan dari pelarut satu ke pelarut yang lain dan tidak bercampur dengan cara pengocokan yang berulang. Di laboratorium ekstraksi pelarut dilakukan dalam suatu corong pemisah (separation funnel). Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara destilasi tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau karena kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padatcair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaltu pencampuran secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna mungkin Prosedur umum: Dalam corong pemisah, siapkan larutan solut dalam suatu pelarut. Kalau perlu atur pH larutan atau tambahkan suatu pereaksi tertentu. Masukkan pelarut kedua yang tidak bercampur dengan pelarut pertama dan kocok. Setelah pengocokan sempurna, campuran dibiarkan memisah dalam dua lapisan (fase air dan fase organik). Salah satu lapisan/fase diambil, sedangkan lapisan kedua dibuang atau diekstraksi kembali dengan cara yang sama.

Gambar : corong pemisahan pada ekstraksi.

Jenis jenis pelarut yang sering di gunakan dalam ekstraksi hendaknya tidak bercampur satu sama lainnya (immiscible). Selain itu syarat syarat pelarut ekstraksi adalah : Mempunyai kapasitas yang besar Bersifat selektif Volabilitas cukup rendah Harus dapat diregenerasi Relatif tidak mahal Non toksik, non korosif dan tidak memberikan kontaminasi serius dalam keadaan uap. Viskositas cukup rendah.

Adapun macam macam pelarut dalam ekstraksi itu antara lain :

Pelarut berair (aqueous): a. air suling b. larutan dapar pH tertentu c. larutan elektrolit dalam air d. larutan pembentuk kompleks dalam air e. larutan asam atau basa dalam air f. kombinasi larutan-larutan tersebut di atas.

Pelarut organik yang tidak bercampur dengan air: a. benzen, toluen, heksan, xilen b. diklormetan, kloroform, tetraklormetan c. dietil eter

d. metil iso butil keton e. hidrokarbon alifatik

Pelarut organik yang bercampur dengan air: alkohol alifatik, asam karboksilat, aldehida, keton, asetonitril, dimetilsulfoksida, dan

dioksan, tidak sesuai digunakan sebagai ekstraktan dari larutan berair, tetapi dapat digunakan sebagai ekstraktan dari larutan organik yang tidak bercampur.

IDENTIFIKASI HASIL ISOLAT


Akar Lobak (Raphanus sativus L. Var, Hortensis Back.) sebagai Penangkap Radikal Bebas Telah ditelaah kandungan akar lobak sebagai penangkap radikal bebas berdasarkan metode reduksi larutan 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Ekstrak dibuat dari akar segar dan serbuk kering, menggunakan metanol dan/atau air dengan dan tanpa pemanasan. Hasil menunjukkan bahwa penangkap radikal bebas paling besar (EC50 0,898 mg/ml) jika ekstraksi dilakukan dari bahan segar menggunakan metanol dengan pemanasan. Dari ekstrak metanol 95% akar segar telah diisolasi satu senyawa penangkap radikal DPPH dengan EC50 0,701 mg/ml yang diduga sebagai turunan isotiosianat. Isolasi Bahan diekstraksi dengan beberapa cara yaitu (a) ekstraksi akar segar lobak menggunakan metanol 95% tanpa pemanasan dan (b) dengan pemanasan, (c) ekstraksi akar segar dan (d) serbuk kering akar lobak menggunakan air dengan pemanasan dan (e) maserasiperkolasi serbuk kering akar lobak pada suhu kamar menggunakan metanol 95% dan (f) 70%. Masing-masing ekstrak mengandung metanol dipekatkan dengan penguap putar vakum dan dikeringkan dengan pengering beku. Pemeriksaan kandungan ekstrak secara KLT dengan fasa diam silika gel GF254 , masing-masing ekstrak dilarutkan dalam sedikit metanol dan dikembangkan dengan sistem pengembang n-heksana-etil asetat (7:3), metilen klorida-etil asetat (3:1), dan kloroform-metanol (8:2). Penampak bercak digunakan pereaksi asalm sulfat 10% dalam metanol dan sinar UV 254. Ekstrak metanol akar segar tanpa pemanasan dipisahkan secara KCV dengan pelarut landaian n-heksana-metilen klorida-etil asetat-metanol sampai diperoleh 7 fraksi. Setiap fraksi di KLT, pola kromatogram sama digabung, diperoleh 4 fraksi. Pemisahan fraksi F4 dan F6 karena ada bercak penangkap radikal bebas terpisah dengan pengembang n-heksana-etil asetat (7:3). Fraksi F4 di KLT preparatif dengan pengembang n-heksana-etil asetat (7:3), penampak bercak UV 254 nm, diperoleh pita 1 (C1),isolat 3 (I-3), dan isolat 4 (1-4). Isolat 3 dimurnikan dengan KLT preparatif dengan pengembang n-heksana-etil asetat (7:3), dikarakterisasi dengan spektrofotometri UV, IR, spektroskopi RMI dan MS.

Pita C1 dipisahkan dengan KLT pengembang kloroform-metanol (1:1), dan dipisahkan lebih lanjut. Isolat dikarakterisasi secara KLT dengan berbagai macam pengembang, KLT dua dimensi, penentuan titik lebur, spektrofotometri UV dan IR, kromatografi cair-spektrometri massa dan spektroskopi RMI proton dan karbon-13. Hasil determinasi menunjukkan tumbuhan yang digunakan adalah Raphanus sativus L. Var, Hortensis Back Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia yaitu kadar abu total 14,2%; kadar abu larut air 8,2%; kadar abu tidak larut asam 0,2%, kadar sari larut air 34,6%; kadar sari larut etanol 7,8%; kadar air 8,5% dan susut pengeringan 13,6%. Kandungan logam yaitu kalium 0,91%, natrium 0,19%, magnesium 0,11%, besi 0,06%, kalsium 0,48%.Hasil penapisan fitokimia mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, steroid-triterpenoid dan polisakarida. Hasil ekstraksi yaitu M1 (maserat metanol 95% serbuk kering), M2 (maserat metanol 70% serbuk kering), D (ekstrak air 10% b/v serbuk kering, FS1 (filtrat ekstrak metanol 95% akar segar). ES1 (endapan ekstrak metanol 95% akar segar, FS2 (filtrat ekstrak metanol 95% akar segar dengan pemanasan), ES2 (endapan ekstrak metanol 95% akar segar dipanaskan), FD (filtrat ekstrak air akar segar dengan pemanasan), ED (endapan ekstrak air akar segar dengan pemanasan). Isolat I-3 berwarna kuning jingga, diduga merupakan turunan isotiosianat rantai alkana bercabang dengan rumus molekul C8H17NS2. Isolat I-4 berupa serbuk berwarna jingga, tidak dianalisis lebih lanjut karena kadarnya yang kecil. Isolasi Flavonoid dari Fraksi Etil Asetat Kaliks Rosel (Hibiscus sabdariffa L.) Kaliks rosel (Hibiscus sabdariffa L.) secara tradisional dimanfaatkan sebagai bahan minuman yang diduga berkhasiat menurunkan tekanan darah. Mengingat golongan senyawa flavonoid memiliki berbagai aktivitas farmakologi, maka dalam penelitian ini diisolasi dan diidentifikasi salah satu senyawa flavonoid dari kaliks. Serbuk simplisia diekstraksi sinambung dengan alat Soxhlet menggunakan n-heksana, etil asetat dan methanol. Ekstrak etil asetat difraksinasi secara kromatografi cair vakum dan kromatografi kolom, kemudian dipisahkan secara kromatografi kertas preparatif. Isolat dikarakterisasi dengan penampak bercak aluminium klorida 5% pada pelat kromatografi lapis tiis dan kromatografi kertas, serta secara spektofotometri ultraviolet-sinar tampak. Penapisan fitokimia menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, tanin galat dan steroid/triterpenoid. Suatu senyawa flavonoid diisolasi dari ekstrak etil asetat secara kromatografi kertas preparatif. Isolat diduga merupakan senyawa glikosida flavonoid golongan flavon, yang mempunyai gugus hidroksil pada posisi 5, 7 dan 4. Kandungan Kimia Hasil: Isolat diduga merupakan senyawa glikosida flavonoid golongan flavon, yang mempunyai gugus hidroksil pada posisi 5, 7 dan 4. Isolasi Senyawa flavonoid diisolasi dari kaliks rosel dengan melalui beberapa tahapan yaitu penyiapan bahan, karakterisasi serbuk simplisia, penapisan fitokimia, ekstraksi, fraksinasi, pemurnian, karakterisasi dan identifikasi isolat. Penyiapan meliputi pengumpulan bahan,

determinasi

tanaman,

dan

pengolahan

bahan

menjadi

serbuk

simplisia.

Penapisan fiktokimia meliputi pemeriksaan golongan flavonoid, alkaloid, kuinon, tanin, steroid/triterpenoid, dan saponin. Simplisia diekstraksi menggunakan metode ekstraksi sinambung dengan alat Soxhlet. Ekstraksi dilakukan dalam tiga tahapan menggunakan pelarut dengan kepolaran meningkat. Ekstrak yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan penguap hampa udara berputar. Ekstrak dipantau menggunakan kromatografi lapis tipis. Fraksinasi ekstrak dilakukan dengan kromatografi cair vakum silika gel, kemudian difraksinasi lebih lanjut dengan kromatografi kolom selulosa. Fraksi yang terpilih diisolasi secara kromatografi kertas preparatif. Kemurnian isolat diuji dengan kromatografi kertas dua dimensi. Isolat murni dikarakterisasi secara spektrofotometri ultraviolet-sinar tampak dengan penambahan pereaksi geser. Pemeriksaan identitas botani menunjukkan bahwa bahan penelitian adalah Hibiscus sabdariffa L. Kaliks rosel digiling dan diolah menjadi serbuk simplisia. Dari hasil karakterisasi simplisia didapatkan kadar air 5,2%, kadar abu total 7,3%, kadar sari larut air 34,8%, kadar sari larut etanol 18,9%. Suatu senyawa flavonoid telah diisolasi dari ekstrak etil asetat kaliks rosel. Ekstrak difraksinasi secara kromatografi cair vakum silika gel dan kromatografi kolom selulosa serta dimurnikan secara kromatografi kertas. Isolat diidentifikasi menggunakan spektrofotometri ultraviolet dengan penambahan beberapa pereaksi geser. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa isolat adalah senyawa glikosida flavonoid golongan flavon yang mempunyai gugus hidroksi pada posisi karbon 5, 7dan 4. Isolat perlu dihidrolisi untuk mengetahui struktur lebih lanjut aglikon dari senyawa glikosida flavonoid tersebut. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Kuinon dari Simlisia Umbi Bawang Sabrang (Eleutherine americana Merr.) Telah dilakukan isolasi dan identifikasi senyawa kuinon dari simplisia umbi bawang sabrang (Eleutherine americana Merr.). Metode penelitian dimulai dari proses ekstraksi secara refluks dengan menggunakan metanol, difraksinasi dan diisolasi secara kromatografi cair vakum dan kromatografi kolom menghasilkan satu isolat berbentuk kristal berwarna kuning (II-31). Identifikasi isolat dilakukan dengan spektrofotometri ultraviolet dan inframerah. Dari hasil penelitian diperoleh spektrum ultraviolet isolat II-31 terjadi pada serapan maksimum 224, 246, dan 394nm. Hasil tersebut merupakan spektrum khas flavonoid (pita I flavonoid terletak pada 300-400nm dan pita II terletak pada 204-285nm). Spektrum inframerah isolat II-31 menunjukkan serapan pada bilangan gelombang 3427,51cm-1, 2927,94-2858,51cm-1, 736,81-1000cm-1, yang memiliki gugus fungsi OH, C-H alifatik, gugus aromatik dan alkena. Isolat diduga merupakan senyawa kuinon. Identifikasi Kandungan Kimia dan Aktivitas Antijamur Daun dan Biji Nimba (Azadirachta indica A.Juss) Telah ditelaah kandungan kimia dan aktivitas antijamur daun dan biji nimba. Hasil penapisan fitokimia menunjukkan biji mengandung steroid dan daun mengandung flavonoid, saponin, tanin, dan steroid. Ekstraksi menggunakan pelarut dengan polaritas meningkat secara maserasi-perkolasi menghasilkan ekstrak n-heksana, etil asetat, dan metanol. Hasil uji

aktivitas antijamur menunjukkan bahwa hanya ekstrak n-heksana daun nimba yang aktif terhadap jamur Fusarium oxysporum, penyebab penyakit layu pada tanaman tomat. Dari ekstrak tersebut diisolasi senyawa yang diidentifikasi sebagai sterol dengan berat molekul 414 yang ternyata tidak aktif terhadap jamur Fusarium oxysporum. Kandungan Kimia Hasil: Isolat adalah suatu sterol dengan berat molekul 414. Isolasi Penelitian meliputi penyiapan bahan, karakterisasi simplisia, penapisan fitokimia, pembuatan ekstrak, uji aktivitas antijamur, pemisahan ekstrak aktif, pemunian isolat, dan karakterisasi isolat. Ekstraksi secara sinambung menggunakan alat maserator diawali dengan pelarut nheksana, etil asetat, kemudian metanol. Pelarut diuapkan dengan penguap vakum putar. Ekstrak n-heksana daun nimba yang mempunyai aktivitas antijamur diperiksa secara KLT menggunakan fasa diam silika gel GF 254 dengan pengembang n-heksana-etil asetat (8:2). Penampak bercak sinar UV dan pereaksi larutan asam sulfat pekat 10% dalam metanol. Fraksinasi dengan kromatografi cair vakum (KCV) dengan fasa diam silika gel 60H dan pengelusi sistem pelarut landaian n-heksana-etil asetat dengan perbandingan 10:0; 9:1; 8:2; 7:3; 6:4; 5:5; 4:6; 3:7; 2:8; 1:9; 0:10, dan metanol 100%. Diperoleh 12 fraksi yaitu fraksi AL, kemudian di KLT dengan pengembang n-heksana-etil asetat (8:2).Hasil kromatografi kolom dari fraksi C dan D diperoleh kristal jarum berwarna putih dengan titik leleh 1281300C. Isolat dikarakterisasi secara KLT, spektrofotometri UV dan IR, spektrometri RMI dan MS. Hasil determinasi menunjukkan tumbuhan yang digunakan adalah Azadirachta indica A.Juss. Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia biji dan daun berturut-turut yaitu kadar abu total 3,23% dan 6,80%; kadar abu larut air 2,60% dan 4,40%; kadar abu tidak larut asam 0,59% dan 1,20%, kadar sari larut air 9,00% dan 20,90%; kadar sari larut etanol 13,50% dan 5,80%; kadar air 12% dan 9%. Kandungan logam biji dan daun berturut-turut yaitu kalium 20,730% dan 15,460%, natrium 1,274% dan 1,402%, magnesium 3,819% dan 5,302%, besi 0,917% dan 0,924%, kalsium 0,318% dan 0,759%, tembaga 0,019% dan 0,015%, timbal keduanya 0%.Hasil penapisan fitokimia menunjukkan biji mengandung steroid dan daun mengandung flavonoid, saponin, tanin, dan steroid. Isolat berupa kristal jarum berwarna putih dengan titik leleh 128-1300C. Isolat adalah suatu sterol dengan berat molekul 414.

EKSTRAKSI SINAMBUNG
Ekstrasksi sinambung dilakukan dengan menggunakan alat Soxhlet. Pelarut penyair yang ditempatkan di dalam labu akan menguap ketika dipanaskan, melewati pipa samping alat Soxhlet dan mengalami pendinginan saat melewati kondensor. Pelarut yang telah berkondensasi tersebut akan jatuh pada bagian dalam alat Soxhlet yang bersimplisia

dibungkus kertas saring dan menyisiknya hingga mencapai bagian atas tabung sifon. Seharusnya seluruh bagian linarut tersebut akan tertarik dan ditampung pada labu tempat pelarut awal. Proses ini berlangsung terus menerus sampai diperloleh hasil ekstraksi yang dikehendaki. Keuntungan ekstraksi sinambung adalah pelarut yang digunakan lebih sedikit dan pelarut murni sehingga dapat menyaring senyawa dalam simplisia lebih banyak dalam waktu lebih singkat dibandingkan dengan maserasi atau perkolasi. Kerugian cara ini adalah tidak dapat digunakan untuk senyawa-senyawa termolabil. Ada dua jenis ekstraktor yang lazim digunakan pada skala laboratorium, yaitu ekstraktor Soxhlet dan ekstraktor Butt. Pada ekstraktor Soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam fasa cair. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan menggejorok masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan efek sifon. Metode yang dijelaskan oleh Soxhlet pada tahun 1879 adalah umum digunakan contoh yang paling dari-kontinu metode semi diterapkan untuk ekstraksi lipid dari makanan. Menurut prosedur Soxhlet , minyak dan lemak dari materi padat yang diekstraksi dengan mengulangi mencuci (perkolasi) dengan organik pelarut, biasanya heksana atau petroleum eter, refluks pada sebuah gelas khusus. Pada metode ini sampel dikeringkan, ditumbuk menjadi partikel kecil dan ditempatkan dalam tudung jari selulosa berpori. tudung jari ini ditempatkan di sebuah kamar ekstraksi (2), yang tergantung di atas sebuah termos berisi pelarut (1) dan di bawah kondensor (4). Termosnya dipanaskan dan pelarut menguap dan bergerak naik ke kondensor di mana diubah menjadi cairan yang menetes ke ruang ekstraksi mengandung sampel. Ruang ekstraksi dirancang sedemikian rupa sehingga ketika pelarut sekitar sampel melebihi tingkat tertentu itu meluap dan menetes kembali ke dalam

termos mendidih. Pada akhir proses ekstraksi, yang berlangsung beberapa jam, botol berisi pelarut dan lemak akan dihapus. Pada beberapa perangkat corong (3) memungkinkan untuk memulihkan pelarut pada akhir ekstraksi setelah menutup kunci pipa antara saluran dan ruang ekstraksi. The pelarut dalam labu (1) kemudian diuapkan dan massa dari sisa lipid diukur. Persentase lemak dalam sampel awal kemudian dapat dihitung.Meskipun kelemahan dari prosedur (ekstraksi miskin lipid polar, lama terlibat, volume besar pelarut, bahaya mendidih pelarut), beberapa metode yang melibatkan ekstraksi pelarut otomatis digambarkan. Berbeda semi-otomatis atau otomatis ekstraksi instrumen dapat ditemukan di pasaran. Beberapa sistem ekstraksi pelarut didasarkan pada perangkat Soxhlet berada di pasar untuk memungkinkan cepat dan aman penentuan lipid total dalam makanan, tanah, Sebagai contoh, FOSS telah meluncurkan beberapa jenis " Soxtec Sistem "termasuk atau semi-otomatis analisator otomatis, ekstrak lipid yang cepat dan akurat. Demikian pula, Soxtherm extractors dari Gerhardt GmbH dikembangkan untuk mengurangi waktu ekstraksi. sampel yang akan dianalisis ditimbang ke bidal selulosa dan dimasukkan ke dalam perangkat ekstraksi. Kecuali dietil eter, semua pelarut dapat digunakan (sekitar 15 ml per sampel), dengan 75% pemulihan pelarut ekstraksi yang setelah selesai dalam 30-60 menit, tergantung pada aplikasi. Perangkat lain dengan ViscoALPHA memungkinkan pengguna untuk memiliki 2, 4 atau 6 tempat sistem dalam 2 versi (mikro atau makro). Unit elektronik dapat mengontrol dan memonitor hingga 4 unit ekstraksi secara individual. Kompak dan sistem sederhana dengan 1-6 sampel yang dijual oleh Behr Ketenagakerjaan-Teknik GmbH .

Sistem buklet Ekstraksi B-811 adalah sistem otomatis yang dapat digunakan untuk melakukan ekstraksi sesuai dengan prinsip Soxhlet asli. Empat metode ekstraksi yang berbeda yang mungkin tanpa membuat perubahan pada unit: standar Soxhlet, Soxhlet hangat, panas dan ekstraksi ekstraksi terus menerus. Sistem ini memiliki pasokan gas inert untuk menghindari oksidasi selama ekstraksi dan untuk mempercepat penguapan dan proses pengeringan pelarut bahkan dengan tinggi titik didih (sampai dengan 150 C). Perbandingan metode ekstraksi yang berbeda untuk kuantifikasi lemak total pada daging dan produk daging telah dilaporkan (Perez-Palacios T et al., Makanan Chem 2008, 110, 1025). Metode Soxhlet dengan hidrolisis asam sebelumnya memiliki efisiensi yang sama dengan metode yang dijelaskan oleh Folch.

Sebuah dibantu ekstraksi Soxhlet-microwave minyak biji (bunga matahari, kedelai, perkosaan) digambarkan menggunakan kartrid selulosa ditempatkan dalam kapal ekstraksi kuarsa dimasukkan ke dalam perangkat 301 Microdigest diubah (Prolabo). Prosedur ini sedikit berbeda dari yang dijelaskan untuk ekstraksi bahan kering . Meskipun analisis h 3, pengurangan waktu dan kurangnya kebutuhan benih grinding membuat prosedur ini cocok pesaing yang dijelaskan metode sebelumnya (Garcia-Ayuso LE et al., Anal Chem 1998, 70, 2626; Garcia-Ayuso LE et al., Chromatographia 2000, 52, 103) eksperimen Perbandingan. telah menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara ekstrak yang diperoleh dengan metode referensi Folch tanpa perubahan yang gemuk dan yang dibantu ekstraksi Soxhlet-microwave terdeteksi. Hasil ini menunjukkan bahwa metode penerapan untuk langkah ekstraksi dalam analisis rutin dalam jumlah besar dari sampel makanan (RuizJimenez J et al., Anal chim Acta 2004, 525, 159). Teknik ekstraksi, disebut microwave-dibantu ekstraksi Soxhlet, menggunakan dua sumber energi, yaitu microwave, diterapkan pada ruang ekstraksi Soxhlet yang dimodifikasi, dan pemanas listrik diterapkan pada labu distilasi. Sistem ini telah digunakan untuk penentuan kadar minyak dan komposisi asam lemak dari bahan biologis dan berbagai bahan makanan. Untuk mengatasi beberapa keterbatasan dari proses analisis (kadar air), dan nyaman proses baru dirancang dan dikembangkan ( Virot M et al. , J Chromatogr A 2007, 1174, 138; Virot M et al. , J Chromatogr A 2008, 1196 -1.197, 57). Sebuah modifikasi prosedur ekstraksi yang diusulkan dengan mempertimbangkan penggunaan hijau "pelarut", limonene, bukannya heksana ( Virot M et al. , J Chromatogr A 2008, 1196-1197, 147). Metode yang diusulkan adalah efektif dan berharga karena tidak ada perbedaan yang signifikan diperoleh bila menggunakan heksana atau limonene untuk ekstraksi biji berminyak.** Dalam buklet app A-level, referensi sedikit atau tidak diberikan untuk ekstraksi terus menerus. Namun mereka telah diberikan satu SAQ bagi kita untuk memecahkan. Berikut harus memberikan konsep dasar teknik ini : Dalam ekstraksi terus menerus, volume kecil pelarut berulang kali didaur ulang dengan prosedur penyulingan-kondensasi melalui solusi yang diambil. Desain untuk extractors yang dapat digunakan untuk ekstraksi zat organik dari larutan dengan pelarut kurang atau lebih padat dari larutan

Gambar Gambar

ditunjukkan dalam Gambar. 1 and 2, respectively. 1 dan 2, masing-masing. Dalam kasus yang khas, suatu larutan yang mengandung zat organik yang akan diekstraksi ditempatkan dalam termos A (Gbr. 1; termos bulat-rangkap dapat digunakan di sini) dan ditutup dengan saling larut pelarut seperti eter. Sebuah botol kedua (B) hanya mengandung pelarut organik dan chip mendidih dipanaskan sampai mendidih dan pelarut menguap, cair oleh kondensor, dan terpaksa melewati fase air dengan menggunakan tabung C. Hal ini menyebabkan pelarut organik di atas fase air mengalir di atas ke dalam labu B dan mempertahankan tingkat pelarut dalam botol B dengan nilai konstan. Karena proses terus, konsentrasi solut dalam fasa aqueous secara bertahap habis karena berkonsentrasi dalam botol kaca outlet B. A berpori di bawah C tabung menguntungkan karena hal ini berfungsi untuk membubarkan pelarut organik menjadi gelembung-gelembung kecil, sehingga sangat meningkatkan luas permukaan kontak antara fase cair dan organik sebagai pelarut organik lewat melalui lapisan air; ini mengurangi waktu yang diperlukan untuk ekstraksi menyeluruh dengan faktor signifikan. 2 digunakan sama dengan pelarut lebih padat daripada air.

Prinsip kerja ekstraktor Butt mirip dengan ekstraktor Soxhlet. Namun pada ekstraktor Butt, uap pelarut naik ke kondensor melalui annulus di antara selongsong dan dinding dalam tabung Butt. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong langsung lalu keluar dan masuk kembali ke dalam labu didih tanpa efek sifon. Hal ini menyebabkan ekstraksi Butt berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan (rapid). Selain itu ekstraksinya juga lebih merata. Ekstraktor Butt dinilai lebih efektif daripada ekstraktor Soxhlet. Hal ini didasari oleh faktor berikut:

Pada ekstraktor Soxhlet cairan akan menggejorok ke dalam labu setelah tinggi pelarut dalam selongsong sama dengan pipa sifon. Hal ini menyebabkan ada bagian sampel yang berkontak lebih lama dengan cairan daripada bagian lainnya. Sehingga sampel yang berada di bawah akan terekstraksi lebih banyak daripada bagian atas. Akibatnya ekstraksi menjadi tidak merata. Sementara pada ekstraktor Butt, pelarut langsung keluar menuju labu didih. Sampel berkontak dengan pelarut dalam waktu yang sama.

Pada ekstraktor Soxhlet terdapat pipa sifon yang berkontak langsung dengan udara ruangan. Maka akan terjadi perpindahan panas dari pelarut panas di dalam pipa ke ruangan. Akibatnya suhu di dalam Soxhlet tidak merata. Sedangkan pada ekstraktor

Butt, pelarut seluruhnya dilindungi oleh jaket uap yang mencegah perpindahan panas pelarut ke udara dalam ruangan.

DAFTAR PUSTAKA
Roy J. Gritter, James M. Bobbit, Arthur E. S., 1991. Pengantar Kromatografi. Penerbit ITB. Bandung. J. B. Harbone. 1987. Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Penerbit ITB. Bandung. K. Hostettmann, M. Hostettmann, A. Marston. 1995. CaraKromatografi Preparatif. Penerbit ITB. Bandung. Ibnu Gholib Gandjar. Abdul Rahman. 2008. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. Conners.A.K. Pharmaceutical Analysis Solvent Extraction. Kisman .Dr. Sastro ,ddk .1994. Analisis Farmasi Cet. 2 , Gadjah Mada University Press, Yogyakarta Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan MAkanan, Farmakope Indonesia Edisi III 1979, Departemen Kesehatan R.I Jakarta Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan MAkanan, Farmakope Indonesia Edisi IV 1995, Departemen Kesehatan R.I Jakarta Johnson, E. L. and Steven son, R (1978). Basic liquid chromatography. Varian, California http://asyharstf08.wordpress.com/2010/02/25/kromatografi-kolom-dan-lapis-tipis/ http://rgmaisyah.files.wordpress.com/2009/10/makalah-fito-ii.pdf
http://ull.chemistry.uakron.edu/chemsep/slide.php? Chapter=/chemsep/extraction/&Last=55&Slide=43 http://www.amtechuk.com/files/TN0912.COUNTER%20CURRENT.pdf

http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/