Anda di halaman 1dari 19

KEPERAWATAN GERONTIK ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN GANGGUAN DIMENSIA

Disusun Oleh : LUTFI NUR ANIA DITA INDAH RESTANTY MIFTAHUL ILMA VITRI NUR RAHMA ARSANUL HAKIM HAIRUL UMAM ROUDHUL ILMI YUSRON IRFANI (06600029) (07600032) (07600058) (07600089) (07600019) (07600045) (07600079) (07600090)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA 2010

KATA PENGANTAR Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah swt, karena dengan rahmat dan petunjuk-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tentang Asuhan Keperawatan Pada Lansia dengan Gangguan Dimensia Makalah ini disusun dalam pemenuhan Tugas mata kuliah Keperawatan Gerontik di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dalam kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam memberikan masukan yang bermanfaat demi tersusunnya makalah ini. Kami menyadari bahwa susunan dan materi yang terkandung dalam makalah ini bukanlah sempurna, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Harapan kami semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang membacanya

Surabaya, 01 November 2010

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I : PENDAHULUAN Rumusan masalah Tujuan BAB II : PEMBAHASAN Pengertian dari dimensia? Tanda dan gejala dimensia? Asuhan keperawatan lansia dengan gangguan dimensia? BAB III : PENUTUP KESIMPULAN SARAN DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Demensia adalah nama lain dari penyakit pikun. Penyakit ini muncul seiring bertambahnya usia dan biasanya menimpa pada orang-orang tua yang sering kita sebut kakek/nenek. Secara garis besar keadaan demensia dibagi atas dua golongan, yakni demensia primer dan sekunder. Demensia alzheimer tergolong dalam demensia primer. Sedangkan demensia sekunder antara lain disebabkan karena penyakit stroke, cidera otak berat (pada petinju), infeksi otak, menggunakan narkoba, dan lain sebagainya. Selain faktor usia, faktor keturunan juga disebut-sebut menyebabkan munculnya penyakit ini. Demensian adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penurunan kemapuan daya ingat dan piker tanpa adanya penurunan fungsi kesadaran. Demensia atau kepikunan sering kali dianggap wajar pada lansia karena merupakan bagian dari penuaan yang normal. Faktor ketidaktahuan, baik dari pihak keluarga , masyarakat, maupun oihak kesehatan mengenai tanda gejala demensia, dapat menyebabkan demensia sering tidak terdeteksi dan lambat ditangani. Seiring dengan meningkatnya jumlah lansia, masalah demensia ini semakin sering dijumpai. Pemahaman yang benar tentang penyakit ini petng dimiliki agar penyakit demensia dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin. Laporan Departemen Kesehatan tahun 1998, populasi usia lanjut diatas 60 tahun adalah 7,2 % (populasi usia lanjut kurang lebih 15 juta). peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi . Kira-kira 5 % usia lanjut 65 70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45 % pada usia diatas 85 tahun. Pada negara industri kasus demensia 0.5 1.0 % dan di Amerika jumlah demensia pada usia lanjut 10 15% atau sekitar 3 4 juta orang. Demensia terbagi menjadi dua yakni Demensia Alzheimer dan Demensia Vaskuler. Demensia Alzheimer merupakan kasus demensia terbanyak di negara maju Amerika dan Eropa sekitar 5070%. Demensia vaskuler penyebab kedua sekitar 15-20% sisanya 15- 35% disebabkan demensia lainnya. Di Jepang dan Cina demensia vaskuler 50 60 % dan 30 40 % demensia akibat penyakit Alzheimer. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian dari dimensia? 2. Apa tanda dan gejala dimensia? 3. Bagaimana Asuhan keperawatan lansia dengan gangguan dimensia?

TUJUAN 1. Untuk mengetahui pengertian dari dimensia? 2. Untuk mengetahui tanda dan gejala dimensia? 3. Untuk mengetahui Asuhan keperawatan lansia dengan gangguan dimensia?

BAB II PEMBAHASAN PENGERTIAN Demensia adalah suatu keadaan respon kognitif maladaptive yang ditandai dengan hilangnya fungsi intelektual (kognitif) yang berat, penilaian, dan berfikir abstrak. Fungsi kognitif yang dimaksud adalah kehilangan daya mengingat (kerusakan memori), daya nilai judgement intelektual, ketrampilan social (berbahasa, merawat diri, kecakapan khusus, dsb) dan reaksi emosi yang normal. Orang dengan demensia dapat tampak sehat-sehat saja akan tetapi fungsi otaknya tidak lagi bekerja dengan baik. Penyandang demensia umumnya masih nerinteraksi social namun mengalami banyak kesulitan dalam menjalankan fungsi kehidupannya sehari-hari activity of daily living. Penyandang demensia juga dapat mengalami perubahan perilaku seperti mudah curiga, apatis, hiperaktif, mengacak-acak isi lemari, marah-marah, bicara melantur atau otot dengan pendapatnya yang tidak realistis, keadaan seperti ini sering membuat stress anggota keluarga jika merasa tidak paham bahwa itu adalah problem prilaku yang timbul akibat demensia. TANDA DAN GEJALA DIMENSIA Gejala penderita demensia adalah adanya perubahan kepribadian dan tingkah laku sehingga mempengaruhi aktivitas sehari-hari. Lansia dengan usia 65 tahun keatas. Lansia penderita demensia tidak memperlihatkan gejala yang menonjol pada tahap awal, mereka sebagaimana Lansia pada umumnya mengalami proses penuaan dan degeneratif. Kejanggalan awal dirasakan oleh penderita itu sendiri. Mereka sulit mengingat nama cucu mereka atau lupa meletakkan suatu barang. Tanda-tanda demensia alzheimer antara lain: 1. Lupa akan kejadian yang baru dialami 2. Kesulitan dalam berbahasa 3. Kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari 4. Sering salah menaruh barang-barang 5. Tidak dapat membuat keputusan 6. Serta kesulitan dalam hitung-menghitung sederhana. 7. Sering mengulang kata-kata 8. Tremor 9. Kurang koordinasi gerakan

10. Risiko kecelakaan 11. Kurang konsentrasi Gejala gangguan perilaku lain yang sering dialami penderita penyakit ini adalah mereka jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur, dan sebagainya. Lansia sering kali menutup-nutupi hal tersebut dan meyakinkan diri sendiri bahwa itu adalah hal yang biasa pada usia mereka. Kejanggalan berikutnya mulai dirasakan oleh orang-orang terdekat yang tinggal bersama, mereka merasa khawatir terhadap penurunan daya ingat yang semakin menjadi, namun sekali lagi keluarga merasa bahwa mungkin Lansia kelelahan dan perlu lebih banyak istirahat. Mereka belum mencurigai adanya sebuah masalah besar di balik penurunan daya ingat yang dialami oleh orang tua mereka. Gejala demensia berikutnya yang muncul biasanya berupa depresi pada Lansia, mereka menjaga jarak dengan lingkungan dan lebih sensitif. Kondisi seperti ini dapat saja diikuti oleh munculnya penyakit lain dan biasanya akan memperparah kondisi Lansia. Pada saat ini mungkin saja Lansia menjadi sangat ketakutan bahkan sampai berhalusinasi. Di sinilah keluarga membawa Lansia penderita demensia ke rumah sakit di mana demensia bukanlah menjadi hal utama fokus pemeriksaan. MANIFESTASI KLINIS Terjadi perlahan-lahan Biasanya lama dan progresif Terjadi pada lansia ( umur 65 tahun) Gangguan memori Perubahan kepribadian Gangguan aktifitas motorik (gelisah, susah) Tingkat kesadaran normal Gangguan penilaian, pemahaman, dan disorientasi Menolak perubahan Afek labil Demensia yang paling terkenal dan sering dijumpai adalah dimensia tipe Alzheimer (50-70%). Alzheimer atau kepikunan merupakan jenis penyakit penurunan fungsi saraf otak yang kompleks dan progresif. Penyakit Alzheimer adalah keadaan dimana daya ingatan

DIMENSIA TIPE ALZHEIMER

seseorang merosot dengan parahnya sehingga pengidapnya tidak mampu mengurus diri sendiri. Penyakit Alzheimer bukan kekanak-kanakan karena factor usia tua yang sekedar suatu proses penuaan. Sebaliknya, adalah sejenis masalah kesehatan yang sangat menyiksa dan perlu diberikan perhatian. Klien dimensia tipe Alzheimer menunjukkan perburukan rangkaian gejala klinis yang tak kentara, tapi progresif. Gejala yang ada menunjukkan kehilangan kemampuan intelektual, seperti memori, kemampuan penilaian, kognitif, ditandai dengan depresi, agitasi dan kebingungan. Yang jelas adalah perubahan perilaku yang dimanifestasikan dengan berkeluyuran, mondar-mandir, floccillation, (menarik-narik sprei tanpa tujuan seakan-akan menganmbil potongan benang) tingkah laku yang tidak terkendali dan gangguan tidur. Kondisi ini semakin lama semakin memburuk dan mengganggu fungsi pribadi, social, pekerjaan dan pemanfaatan waktu luang. Pada akhirnya, kemampuan melakukan aktifitas perawatan diri hilang. Gangguan ini terjadi p-ada pria maupun wanita. Awitan muncul tipe ini terjadi pada usia 65 tahun atau lebih awal dan awitan tipe lanjut terjadi setelah usia 65 tahun. Riset menunjukkan bahwa penyakit Alzheimer terkait dengan kesalahan genetis pada kromosom 14,19, dan 21. Penurunan fungsi dikategorikan dalam tiga tahap gejala yang berbeda yaitu tahap awal atau amnestik, tahap sedang atau dimensia, dan tahap akhir atau vegetative. Stadium demensia Alzheimer terbagi atas 3 stadium, yaitu : Stadium I Berlangsung 2-4 tahun disebut stadium amnestik dengan gejala gangguan memori, berhitung dan aktifitas spontan menurun. Fungsi memori yang terganggu adalah memori baru atau lupa hal baru yang dialami Stadium II Berlangsung selama 2-10 tahun, dan disebutr stadium demensia. Gejalanya antara lain,

Disorientasi gangguan bahasa (afasia) penderita mudah bingung penurunan fungsi memori lebih berat sehingga penderita tak dapat melakukan kegiatan sampai selesai, tidak mengenal anggota keluarganya tidak ingat sudah melakukan suatu tindakan sehingga mengulanginya lagi.

Dan ada gangguan visuospasial, menyebabkan penderita mudah tersesat di lingkungannya, depresi berat prevalensinya 15-20%,

Stadium III Stadium ini dicapai setelah penyakit berlangsung 6-12 tahun.Gejala klinisnya antara lain:

Penderita menjadi vegetatif tidak bergerak dan membisu daya intelektual serta memori memburuk sehingga tidak mengenal keluarganya sendiri tidak bisa mengendalikan buang air besar/ kecil kegiatan sehari-hari membutuhkan bantuan ornag lain kematian terjadi akibat infeksi atau trauma

2. Demensia Vaskuler Untuk gejala klinis demensia tipe Vaskuler, disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah di otak. Dan setiap penyebab atau faktor resiko stroke dapat berakibat terjadinya demensia,. Depresi bisa disebabkan karena lesi tertentu di otak akibat gangguan sirkulasi darah otak, sehingga depresi itu dapat didiuga sebagai demensia vaskuler. Gejala depresi lebih sering dijumpai pada demensia vaskuler daripada Alzheimer. Hal ini disebabkan karena kemampuan penilaian terhadap diri sendiri dan respos emosi tetap stabil pada demensia vaskuler. Dibawah ini merupakan klasifikasi penyebab demensia vaskuker, diantaranya: 1. Kelainan sebagai penyebab Demensia :

penyakit degenaratif penyakit serebrovaskuler keadaan anoksi/ cardiac arrest, gagal jantung, intioksi CO trauma otak infeksi (Aids, ensefalitis, sifilis) Hidrosefaulus normotensif Tumor primer atau metastasis Autoimun, vaskulitif Multiple sclerosis Toksik kelainan lain : Epilepsi, stress mental, heat stroke, whipple disease

2. Kelainan/ keadaan yang dapat menampilkan demensi 1. Gangguan psiatrik : Depresi

Anxietas
Psikosis

2. Obat-obatan : Psikofarmaka Antiaritmia Antihipertensi 3. Antikonvulsan Digitalis 4. Gangguan nutrisi : Defisiensi B6 (Pelagra) Defisiensi B12 Defisiensi asam folat Marchiava-bignami disease 5. Gangguan metabolisme : Hiper/hipotiroidi Hiperkalsemia Hiper/hiponatremia Hiopoglikemia Hiperlipidemia Hipercapnia Gagal ginjal
Sindrom Cushing

Addisons disesse Hippotituitaria Efek remote penyakit kanker FAKTOR PREDISPOSISI 1. Gangguan fungsi central nervous system (CNS) 2. Aging Gangguan pengiriman nutrisi Vascular abnormalitas, stroke, cerebral hemorraghe, infark akibat kronik hipertensi

Penumpukan sel-sel degenerasi Toksik/ racun pada otak Pada Alzheimer disease: atrophy cortex, hippocampus (pusat memori dan emosi) Neurotransmitter: defisiensi acetylcholine Gangguan metabolic: chronic liver disease, CKD, CRF, dan defisiensi vitamin Abnormalitas gen dapat menjadi penyebab sehingga seseorang yang memiliki riwayat keluarga akan lebih beresiko tinggi.

3. Neurobilogical

4. Genetic

FAKTOR PRESIPITASI 1. Hipoksia Anemic hypoxia (kehilangan darah) Hitotoxic hypoxia (dehidrasi, hyperthermia, hypothermia) Hypoxemic hypoxia (PPOK/COPD, asma, ISPA) Ischemic (CHF, atherosclerosis), dll Hypothyroidism (malas, menurunnya kemampuan berfikir) Hyperthyroidism (agitasi) Hypoglycemia Hipopotuitarisme Penyakit adrenal Racun, virus, bakteri yang masuk ke dalam tubuh sampai ke otak dan menyebabkan gangguan fungsi otak Contoh: sivilis, dan HIV ( AIDS dementia complete) 4. Perubahan struktur otak Trauma otak (kecelakaan/pembedahan) Tumor (tergantung dari lokasi)

2. Gangguan metabolic

3. Toksisitas dan infeksi

5. Sensori stimulasi

Stimulasi yang kurang atau berlebih dapat menyebabkan gangguan fungsi otak. Stimulasi yang kurang cenderung menyebabkan halusinasi dan yang berlebihan cenderung bingung, waham, disorientasi, serta halusinasi (kondisi pasien d ICU). ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DIMENSIA I. PENGKAJIAN 1. Factor predisposisi Kaji apa yang melatar belakangi terjadinya gangguan dimensia yang di alami klien, apakah hal tersebut terjadi karena penuaan, gangguan susunan saraf pusat, gangguan pada neuron, atau kelainan genetic. 2. Factor presipitasi Kaji apakah klien mengalami hipoksia, gangguan metabolisme, toksisitas dan infeksi, perubahan struktur otak, atau mengalami gangguan stimulasi sensori. 3. Mekanisme koping Kaji bagaimana koping (tergantung koping masa lalunya), regresi, denial, dan kompensasi. 4. Perilaku Kaji perilaku curiga, bermusuhan, mencela, depresi, menarik diri, gelisah, hipersomnolen, merusak diri, insomnia, tremor, depresi, hiperaktifitas. Masalah keperawatan
1. Gangguan kognitif

2. Gangguan proses berfikir 3. Koping individu inefektif 4. Koping keluarga inefektif 5. Perubahan sensori 6. Deficit perawatan diri 7. Perubahan fungsi peran Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan Proses Pikir 2. Risiko Cedera: jatuh
3. Gangguan kognitif

Intervensi Diagnosa I Lansia depresi dengan gangguan proses pikir; pikun/pelupa.

Tindakan keperawatan untuk pasien: Tujuan agar pasien mampu:


a.

Mengenal/berorientasi terhadap waktu orang dan temapat Tindakan 1. Beri kesempatan bagi pasien untuk mengenal barang milik pribadinya misalnya tempat tidur, lemari, pakaian dll. 2. Beri kesempatan kepada pasien untuk mengenal waktu dengan menggunakan jam besar, kalender yang mempunyai lembar perhari dengan tulisan besar. 3. Beri kesempatan kepada pasien untuk menyebutkan namanya dan anggota keluarga terdekat 4. Beri kesempatan kepada klien untuk mengenal dimana dia berada. 5. Berikan pujian jika pasien bila pasien dapat menjawab dengan benar. 6. Observasi kemampuan pasien untuk melakukan aktifitas sehari-hari 7. Beri kesempatan kepada pasien untuk memilih aktifitas yang dapat dilakukannya. 8. Bantu pasien untuk melakukan kegiatan yang telah dipilihnya 9. Beri pujian jika pasien dapat melakukan kegiatannya. 10. Tanyakan perasaan pasien jika mampu melakukan kegiatannya. 11. Bersama pasien membuat jadwal kegiatan sehari-hari.

b. Melakukan aktiftas sehari-hari secara optimal.

Tindakan untuk keluarga Tujuan Keluarga mampu mengorientasikan pasien terhadap waktu, orang dan tempat Menyediakan saran yang dibutuhkan pasien untuk melakukan orientasi realitas Membantu pasien dalam melakukan aktiftas sehari-hari. Tindakan 1. Diskusikan dengan keluarga cara-cara mengorientasikan waktu, orang dan tempat pada pasien 2. Anjurkan keluarga untuk menyediakan jam besar, kalender dengan tulisan besar 3. Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang pernah dimiliki pasien 4. Bantu keluarga memilih kemampuan yang dilakukan pasien saat ini.

5. Anjurkan kepada keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan terhadap kemampauan yang masih dimiliki oleh pasien 6. Anjurkan keluarga untuk memantu lansia melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki 7. Anjurkan keluarga untuk memantau kegiatan sehari-hari pasien sesuai dengan jadwal yang telah dibuat. 8. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap kemampuan yang masih dimiliki pasien 9. Anjurkan keluarga untuk membantu pasien melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki 10. Anjurkan keluarga memberikan pujian jika pasien melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal kegiatan yang sudah dibuat. Diagnosa II Lansia demensia dengan risiko cedera

Tindakan pada pasien. Tujuan 1. Pasien terhindar dari cedera 2. Pasien mampu mengontrol aktifitas yang dapat mencegah cedera. Tindakan 1. Jelaskan faktor-faktor risiko yang dapa menimbulkan cedera dengan bahasa yang sederhana 2. Ajarkan cara-cara untuk mencegah cedera: bila jatuh jangan panik tetapi berteriak minta tolong 3. Berikan pujian terhadap kemampuan pasien menyebutkan cara-cara mencegah cedera.

Tindakan untuk keluarga Tujuan: Keluarga mampu: 1. Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien 2. Keluarga mampu menyediakan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera Tindakan 1. Diskusikan dengan keluarga faktor-faktor yang dapat menyebabkan cedera pada pasien

2. Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang aman seperti: lantai rumah tidak licin, jauhkan benda-benda tajam dari jangkauan pasien, berikan penerangan yang cukup, lampu tetap menyala di siang hari, beri alat pegangan dan awasi jika pasien merokok, tutup steker dan alat listrik lainnya dengan plester, hindarkan alatalat listrik lainnya dari jangkauan klien, sediakan tempat tidur yang rendah 3. Menganjurkan keluarga agar selalu menemani pasien di rumah serta memantau aktivitas harian yang dilakukan Diagnosa III Lansia dimensia dengan gangguan fungsi kognitif Intervensi: Tujuan umum: 1. Pada dasarnya ditunjukkan untuk perbaikan fungsi kognitif 2. Diusahakan seoptimal mungkin sesuai kemampuan klien yang ada Tujuan khusus: 1. Sulit ditetapkan karena sukar mengetahui kerusakan yang terjadi 2. Lebih di arahkan pada pemenuhan tujuan jangka pendek yaitu pemenuhan kebutuhan dasar klien antara lain: 1. Orientasi: Tujuan: membantu klien berfungsi d lingkungannya Pada kamar klien: tulis nama petugas yang jelas, besar, dan dapat di baca untuk membantu klien yang sukar mengingat nama orang lain Barang milik pribadi di orientasi, misalnya tempat tidur, lemari, pakaian, dll. Perhatikan penerangan terutama malam hari untuk membantu orientasi jika klien terbangun dan mencegah agitasi. Beri Koran untuk membantu orientasi pada situasi saat ini dan meningkatkan kesadaran lingkungan. Memelihara perawatan diri Meningkatkan orientasi Memenuhi kebutuhan tidur Memelihara status nutrisi Mendukung fungsi kognitif yang optimal Memelihara pola eliminasi yang optimal

Orientasikan tentang realita secara teratur Kontak personal dan fisik sesering mungkin Libatkan dalam kegiatan terapi aktivitas kelompok Dengan mengorientasi klien dengan terus menerus akan memberi dampak positif pada kesadaran. 2. Komunikasi Membina hubungan saling percaya Komunikasi verbal Pelajari kehidupan masa lampau klien Topic percakapan dipilih oleh klien sendiri Topic buat spesifik Waktu cukup untuk pasien Pertanyaan tertutup Pelan dan diplomatis Empati Gunakan teknik klarifikasi Hangat, perhatian 3. Pengaturan koping Kaji sumber kecemasan Koping yang selama ini di pakai yang positif dimaksimalkan dan yang negative di minimalkan Ajarkan koping adaptive 4. Kurangi agitasi Kenalkan aktifitas baru dengan penjelasan sebelumnya Buat jadwal harian (membantu klien menyiapkan diri) dan beri pilihan kegiatan Berikan kegiatan yang dapat menyalurkan energy, melalui: Perawatan diri Menggunakan kekuatan dan kemampuan dengan tepat, misalnya berolahraga Saat agitasi: Tetap senyum Tunjukkan sikap bersahabat

empati 5. Keluarga dan masyarakat Siapkan keluarga untuk menerima kadaan klien Siapkan fasilitas dalam berinteraksi dengan masyarakat Perlu bantuan dalam 24 jam di rumah, yang diprogrankan melalui puskesmas. 6. Farmakologi Takrin (cognex) dan donepezil (Aricept) menghalangi penguraian asetilkolin dan berguna dalam memperlambat progresi gejala pada klien yang memiliki penyakit Alzheimer tahap awal atau sedang. IMPLEMENTASI

Memasang nama klien dengan jelas pada pintu atau tempat tidur Menganjurkan klien menyiapkan barang barang dalam kamar Menggunakan lampu malam Menyediakan jam dan kalender Menyediakan buku bacaan dan bahasa bersama klien Mengorientasikan tentang realita secara terarur Mengenalkan diri perawat Menunjukkan rasa penghargaan pada klien dengan tulus Menggunakan komunikasi verbal dengan jelas dan singkat Meminta klien untuk melakukan aktifitas sederhana Mempelajari kehidupan masa lampau klien Menyarankan penggunaan koping yang konstruktif Mengurangi agitasi dengan member rasa aman Menawarkan pilihan jika klien mampu dan jadwalkan kegiatan Menghindari perebutan kekuatan

BAB III PENUTUP 1. KESIMPULAN Demensia adalah suatu keadaan respon kognitif maladaptive yang ditandai dengan hilangnya fungsi intelektual (kognitif) yang berat, penilaian, dan berfikir abstrak. Fungsi kognitif yang dimaksud adalah kehilangan daya mengingat (kerusakan memori), daya nilai judgement intelektual, ketrampilan social (berbahasa, merawat diri, kecakapan khusus, dsb) dan reaksi emosi yang normal. Orang dengan demensia dapat tampak sehat-sehat saja akan tetapi fungsi otaknya tidak lagi bekerja dengan baik. 2. SARAN 1. Diharapkan kepada kita semua tenega kesehatan apabila merasakan dan mengetahui gejala seperti yang telah di jelaskan / dituliskan oleh pembuat makalah ini agar segera menanganinya dengan cepat jangan di tunda karena dapat menimbulkan resiko tinggi. 2. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

DAFTAR PUSTAKA Nugroho,Wahjudi. Keperawatan Gerontik.Edisi2.Buku Kedokteran EGC.Jakarta;1999 Stanley,Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik.Edisi2. EGC. Jakarta;2002 www.perawatblogger.com./asuhan_keperawatan_gerontik_dimensia.html ( di akses 31 Oktober 2010 ). www.medica store.com/Dimensia, /page:1-4 ( di akses 31 Oktober 2010 ). www.medica store.com/dimensia pada lansia/page:1-4 ( di akses 31 Oktober 2010 ).