Anda di halaman 1dari 51

KATA PENGANTAR Assalamualaikum wr. wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat, iman dan Islam sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kepaniteraan klinik dengan judul Wanita 45 tahun dengan Diabetes Melitus Tipe 2, Dislipidemia dan Obesitas dengan fungsi keluarga yang kurang sehat untuk memenuhi sebagian syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik bagian Ilmu Kedokteran Keluarga di Puskesmas Wirobrajan. Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang telah berjuang dengan membawa agama Allah. Banyak hambatan dalam penyusunan makalah ini, namun berkat dukungan dari banyak pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan laporan kepaniteraan klinik kedokteran keluarga ini. Dalam kesempatan ini penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat: 1. dr. AS Williamto, selaku Kepala Puskesmas Wirobrajan Yogyakarta. 2. dr. Nurzammi, sebagai dokter pembimbing klinik di Puskesmas Wirobrajan. 3. dr.Iman Permana, M.Kes, sebagai dokter pembimbing Ilmu Kedokteran Keluarga Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan kepaniteraan klinik kedokteran keluarga ini dan selanjutnya. Semoga laporan kepaniteraan klinik kedokteran keluarga ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membacanya. Wassalamualaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, 11 Desember 2012 Penyusun,

Fatkhur Ruli M Q

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... KATA PENGANTAR ..................................................................................... DAFTAR ISI .................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... A. Latar Belakang Masalah ........................................................... B. Profil Puskesmas Wirobrajan ................................................... C. Tujuan Penulisan ....................................................................... D. Manfaat Penulisan ..................................................................... BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................. A. Diabetes Melitus ........................................................................ 1. Definisi ..................................................................................... 2. Klasifikasi ................................................................................ 3. Diagnosis .................................................................................. B. Dislipidemia............................................................................... 1. Definisi ..................................................................................... 2. Epidemiologi ............................................................................ 3. Klasifikasi ................................................................................ 4. Faktor Resiko ........................................................................... 5. Kriteria Diagnostik ...................................................................

1 2 3 4 7 7 8 11 12 13 13 13 14 15 19 19 20 21 24 25

C. Obesitas ..................................................................................... 1. Definisi ..................................................................................... 2. Pengukuran Antropometri ........................................................ BAB III PRESENTASI KASUS .................................................................. A. Anamnesis ................................................................................ B. Pemeriksaan Fisik ..................................................................... C. Pemeriksaan Penunjang ............................................................ D. Diagnosis Banding ..................................................................... E. Diagnosis .................................................................................. F. Terapi ......................................................................................... BAB IV PEMBAHASAN ............................................................................. A. Analisis Kasus .......................................................................... B. Analisis Kunjungan Rumah ...................................................... C. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Satu Rumah ................ D. Genogram Keluarga................................................................... E. Nilai APGAR Keluarga ............................................................. F. SCREEM Keluarga ................................................................... G. Identifikasi Fungsi Keluarga .................................................... H. Identifikasi PSP (Pengetahuan, Sikap Dan Perilaku) ............... I. Pedoman Umum Gizi Seimbang .............................................. J. Identifikasi Masalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ............ K. Pelaksanaan Program ................................................................ L. Diagnosis Kesehatan Keluarga ..................................................

27 27 29 31 31 32 34 34 34 34 38 38 39 42 43 44 45 45 47 48 49 49 50

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... A. Kesimpulan ............................................................................... B. Saran .........................................................................................

51 51 51 53

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) menurut American Diabetes Association (ADA) 2003, merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Hiperglikemia kronik pada DM berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, syaraf, jantung dan pembuluh darah (Soegondo, 2004). Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Dislipidemia mengacu pada kondisi di mana terjadi abnormalitas profil lipid dalam plasma. Beberapa kelainan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, trigliserida (TG), serta penurunan kolesterol HDL. Berbagai perubahan profil lipid tersebut saling terkait satu dengan lain sehingga tidak dapat dibicarakan sendirisendiri. Dislipidemia merupakan salah satu faktor risiko utama aterosklerosis dan penyakit jantung koroner. Dislipidemia adalah salah satu komponen dalam trias sindrom metabolik selain diabetes dan hipertensi. Kelebihan berat badan adalah suatu kondisi dimana perbandingan berat badan dan tinggi badan melebihi standar yang ditentukan. Sedangkan obesitas adalah kondisi kelebihan lemak, baik diseluruh tubuh atau terlokalisasi pada bagian tertentu. Obesitas merupakan peningkatan total lemak tubuh, yaitu apabila

ditemukan kelebihan berat badan > 20% pada pria dan >25% pada wanita karena lemak (Ganong W.F. 2003). Obesitas merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan daripada yang diperlukan untuk fungsi tubuh ( Mayer, 1973 dalam Pudjiadi, 1990). Obesitas dari segi kesehatan merupakan salah satu penyakit salah gizi, sebagai akibat konsumsi makanan yang jauh melebihi kebutuhannya. Perbandingan normal antara lemak tubuh dengan berat badan adalah sekitar 12 35 % pada wanita dan 18 23 % pada pria. Obesitas merupakan salah satu faktor resiko penyebab terjadinya penyakit degeneratif seperti Diabetes Melitus, penyakit jantung koroner dan hipertensi (Laurentia, 2004) B. Profil Puskesmas Wirobrajan Puskesmas Wirobrajan adalah unit pelaksanaan teknis dinas kesehatan di wilayah kerja Kecamatan Wirobrajan. Unit pelaksanaan teknis dinas kesehatan adalah unit yang melaksanakan tugas teknis operasional di wilayah kerja puskesmas sebagai unit pelaksana tingkat pertama pembangunan kesehatan di Indonesia. Di Kecamatan Wirobrajan terdapat satu puskesmas induk yaitu Puskesmas Wirobrajan dengan Puskesmas Pembantu Tegalmulyo. Puskesmas Wirobrajan terletak di kota Yogyakarta dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: sebelah utara adalah Kecamatan Tegalrejo, sebelah timur adalah Kecamatan Ngampilan dan Kecamatan Matrijeron, sebelah selatan dan barat adalah Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Luas wilayah Kecamatan Wirobrajan 1,78 km2 dengan pembagian kelurahan menjadi 3 kelurahan yang terdiri dari: Kelurahan Pakuncen yang terletak di bagian utara dengan 58 RT dan 12 RW, Kelurahan Wirobrajan terletak di bagian tengah dengan 56 RT dan 12 RW, Kelurahan Patangpuluhan terletak di bagian selatan dengan 51 RT dan 10 RW. Jumlah penduduk Kecamatan Wirobrajan adalah 29.225 jiwa. Dengan jumlah kepala keluarga 8.592 dan terdiri dari 165 RT, 34 RW serta 36 posyandu. Sasaran kesehatan wilayah kerja Puskesmas Wirobrajan yang mengacu pada Indikator Indonesia Sehat 2010 dan SPM seperti derajat kesehatan, keadaan lingkungan, perilaku hidup bersih dan sehat, pelayanan kesehatan, perbaikan gizi masyarakat. Puskesmas Wirobrajan belum dilengkapi dengan fasilitas rawat inap namun sudah terdapat fasilitas ambulans dan UGD yang pada saat jam kerja dapat digunakan. Kegiatan pelayanan umum meliputi balai pengobatan umum (BPU), balai pengobatan gigi (BPG), BKIA/KB, unit farmasi, unit puskesmas keliling, UKS, konseling gizi, kesehatan lingkungan, promosi kesehatan dan poli lansia, konseling PHBS, konseling psikologi, dan konseling berhenti merokok. Untuk mencapai sasaran wilayah kerja Puskesmas Wirobrajan seperti disebut di atas, dokter keluarga juga dapat berperan didalamnya. Pelayanan kedokteran keluarga adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh dan memusatkan pelayanannya pada keluarga sebagai suatu unit. Di mana tanggung jawab dokter terhadap pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin pasien, juga tidak oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu saja.

Pelayanan dokter keluarga yang melibatkan dokter keluarga sebagai penapis (goal keeper) di tingkat pelayanan primer, dokter spesialis di tingkat pelayanan sekunder, rumah sakit rujukan, dan sistem jaminan pemeliharaan kesehatan yang berkerja secara bersama-sama menempatkan dokter keluarga pada posisi yang sangat strategis dalam pembangunan kesehatan. Tujuan yang ingin dicapai dalam pelayanan dokter keluarga adalah suatu bentuk pelayanan kesehatan bagi individu, keluarga dan masyarakat yang bermutu namun terkendali biayanya, yang tercermin dalam tata laksana pelayanan kesehatan yang diberikan oleh dokter keluarga. Tabel 1. Rekapitulasi 10 Besar Diagnosis Pasien Puskesmas Wirobrajan Periode Januari Oktober 2012 No. ICD Diagnosis Jumlah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 J.06 I.10 J.00 K.04 E.11 M.791 R.51 E.78 R.50 A.09 Infeksi akut pada saluran pernafasan bagian atas Hipertensi primer Common cold/ Nasopharyngitis acute Penyakit pulpa dan periapikal Diabetes Mellitus tipe 2 (NIDDM) Mialgia Nyeri kepala (headache) Gang. Metabolisme Lipid & Lipoprotein Febris/ demam Diare dan gastroenteritis 3703 3594 2591 1568 1468 1145 1086 855 829 825

10

C. Tujuan Penulisan 1. Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan suatu gambaran, penjelasan yang lebih mendalam mengenai penyakit diabetes melitus, obesitas dan dislipidemia ini. Diharapkan masyarakat dapat melakukan pencegahan dan pengobatan dini dengan cara yang tepat. 2. Penulisan laporan kasus kepaniteraan klinik ilmu kedokteran keluarga ini bertujuan untuk memenuhi sebagian syarat mengikuti ujian kepaniteraan klinik di bagian Ilmu Kedokteran Keluarga, Fakultas Kedokteran Yogyakarta. 3. Memberikan informasi serta pengetahuan mengenai bentuk pelayanan kedokteran dengan pendekatan kedokteran keluarga pada penderita penyakit. Salah satunya dengan menganalisis penyebab, perilaku atau gaya hidup apakah telah mendukung pengobatan farmakologi atau tidak. Selain itu juga penyuluhan dilakukan dengan titik berat agar pasien dan keluarganya menjadi mengetahui lebih banyak tentang diabetes sehingga dapat diminimalisir terjadinya komplikasi yang terjadi. dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah

11

D. Manfaat Penulisan 1. Manfaat untuk puskesmas Sebagai sarana kerjasama yang saling menguntungkan untuk dapat meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat dan

mendapatkan umpan balik dari hasil evaluasi koasisten dalam rangka mengoptimalkan peran puskesmas. 2. Manfaat untuk mahasiswa Sebagai sarana keterampilan dan pengalaman dalam upaya pelayanan kesehatan dengan menerapkan prinsip-prinsip kedokteran keluarga.

12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DIABETES MELITUS 1. DEFINISI Menurut WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes melitus merupakan sesuatu yang tidak dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan gangguan fungsi insulin (PERKENI 2006). Diabetes Melitus (DM) sering juga dikenal dengan nama kencing manis atau penyakit gula. DM memang tidak dapat didefinisikan secara tepat, DM lebih merupakan kumpulan gejala yang timbul pada diri seseorang yang disebabkan oleh adanya peningkatan glukosa darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Suyono, 2006). Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya(Sudoyo,Aru W,2006). Diabetes Melitus adalah suatu penyakit kronik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa didalam darah. Penyakit ini dapat menyerang segala lapisan umur dan sosial ekonomi(Shahab,Alwi, 2006). Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik

13

hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (PERKENI, 2006). 2. KLASIFIKASI Diabetes melitus diklasifikasikan menurut etiologinya seperti yang tertera pada tabel 2. Tabel 2. Klasifikasi diabetes menurut etiologinya. Sumber : PERKENI, 2006

Klasifikasi lainnya membagi diabetes melitus atas empat kelompok yaitu diabetes melitus tipe-1, diabetes melitus tipe-2, diabetes melitus bentuk khusus, dan diabetes melitus gestasional (Adam, John MF, 2000).

American Diabetes Association (ADA) dalam standards of Medical Care in Diabetes (2009) memberikan klasifikasi diabetes melitus menjadi 4 tipe yang disajikan dalam (Dewi, Debhryta Ayu, 2009): 1. Diabetes melitus tipe 1, yaitu diabetes melitus yang dikarenakan oleh adanya destruksi sel pankreas yang secara absolut menyebabkan defisiensi insulin.

14

2. Diabetes melitus tipe 2, yaitu diabetes yang dikarenakan oleh adanya kelainan sekresi insulin yang progresif dan adanya resistensi insulin. 3. Diabetes melitus tipe lain, yaitu diabetes yang disebabkan oleh beberapa faktor lain seperti kelainan genetik pada fungsi sel pankreas, kelainan genetik pada aktivitas insulin, penyakit eksokrin pankreas (cystic fibrosis), dan akibat penggunaan obat atau bahan kimia lainnya (terapi pada penderita AIDS dan terapi setelah transplantasi organ). 4. Diabetes melitus gestasional, yaitu tipe diabetes yang terdiagnosa atau dialami selama masa kehamilan. 3. DIAGNOSIS Diagnosis diabetes melitus harus berdasarkan atas pemeriksaan kadar glukosa darah. Dalam menentukan diagnosis diabetes melitus harus diperhatikan asal bahan darah yang diambil dan cara pemeriksaan yang dipakai. Untuk diagnosis, pemeriksaan yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa dengan cara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Untuk memastikan diagnosis diabetes melitus, pemeriksaan glukosa darah sebaiknya dilakukan di laboratorium klinik yang terpercaya. Walaupun demikian sesuai dengan kondisi setempat dapat juga dipakai bahan darah utuh, vena maupun kapiler dengan memperhatikan angkaangka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan WHO. Untuk pemantauan hasil pengobatan dapat diperiksa glukosa darah kapiler (Sudoyo,Aru W, 2006).

15

Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti tersebut di bawah ini (PERKENI, 2006) : 1. Keluhan klasik DM berupa : poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. 2. Keluhan lain dapat berupa : lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita. Jika keluhan khas, pemeriksaan glukosa darah sewaktu 200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis diabetes melitus. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa 126 mg/dl juga digunakan untuk acuan diagnosis diabetes melitus. Untuk kelompok tanpa keluhan khas diabetes melitus, hasil pemeriksaan glukosa darah yang baru satu kali saja abnormal, belum cukup kuat untuk menegakkan diagnosis diabetes melitus. Diperlukan pemastian lebih lanjut dengan mendapat sekali lagi angka abnormal, baik kadar glukosa darah puasa 126 mg/dl, kadar glukosa sewaktu 200 mg/dl pada hari yang lain, atau dari hasil tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan kadar glukosa darah pasca pembebanan 200 mg/dl (Sudoyo,Aru W, 2006).

16

Tabel 3. Kriteria diagnosis diabetes melitus. Sumber : PERKENI, 2006

Ada perbedaan antara uji diagnostik diabetes melitus dengan pemeriksaan penyaring. Uji diagnostik diabetes melitus dilakukan pada mereka yang menunjukkan gejala atau tanda diabetes melitus, sedangkan pemeriksaan penyaring bertujuan untuk mengidentifikasikan mereka yang tidak bergejala, yang mempunyai resiko diabetes melitus. Serangkaian uji diagnostik akan dilakukan kemudian pada mereka yang hasil pemeriksaan penyaringnya positif, untuk memastikan diagnosis definitif (Sudoyo,Aru W, 2006). Pemeriksaan penyaring bertujuan untuk menemukan pasien dengan Dibetes melitus, toleransi glukosa terganggu (TGT) maupun glukosa darah puasa terganggu (GDPT), sehingga dapat ditangani lebih dini secara tepat. Pasien dengan TGT dan GDPT juga disebut sebagai intoleransi glukosa, merupakan tahapan sementara menuju diabetes melitus. Kedua keadaan tersebut merupakan faktor risiko untuk terjadinya diabetes melitus dan penyakit kardiovaskular di kemudian hari (PERKENI, 2006).

17

Pemeriksaan penyaring dapat dilakukan melalui pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau kadar glukosa darah puasa, kemudian dapat diikuti dengan tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar (Sudoyo,Ari W, 2006). Tabel 4. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai standar penyaring dan diagnosis diabetes melitus. Sumber : PERKENI, 2006.

Diperlukan anamnesis yang cermat serta pemeriksaan yang baik untuk menentukan diagnosis diabetes melitus, toleransi glukosa terganggu dan glukosa darah puasa tergagnggu. Berikut adalah langkah-langkah penegakkan diagnosis diabetes melitus, TGT, dan GDPT. Gambar 1. Langkah-langkah diagnostik diabetes melitus dan toleransi glukosa terganggu. Sumber : Sudoyo, Aru W, 2006.

18

B. Dislipidemia 1. Definisi Dislipidemia Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang paling utama adalah kenaikan kadar kolesterol total (>240mg/dl), kolesterol LDL(>160 mg/dl), kenaikan kadar trigliserida (>200 mg/dl) serta penurunan kadar HDL (<40 mg/dl). Tabel 5. Klasifikasi kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserid menurut NCEP ATP III 2001 (mg/dl).6

19

2. Epidemiologi Dislipidemia Di Indonesia prevalensi dislipidemia semakin meningkat. Penelitian MONICA di Jakarta 1988 menunjukkan bahwa kadar rata-rata kolesterol total pada wanita adalah 206,6 mg/dl dan pria 199,8 mg/dl, tahun 1993 meningkat menjadi 213,0 mg/dl pada wanita dan 204,8 mg/dl pada pria. Dibeberapa daerah nilai kolesterol yang sama yaitu Surabaya (1985): 195 mg/dl, Ujung Pandang (1990): 219 mg/dl dan Malang (1994): 206 mg/dl. Apabila dipakai batas kadar kolesterol > 250 mg/dl sebagai batasan hiperkolesterolemia maka pada MONICA I terdapatlah hiperkolesterolemia 13,4 % untuk wanita dan 11,4 % untuk pria. Pada MONICA II hiperkolesterolemia terdapat pada 16,2 % untuk wanita dan 14 % pria. Pada penelitian yang dilakukan oleh Sudijanto Kamso dkk. (2004) terhadap 656 responden di 4 kota besar di Indonesia (Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Padang) didapatkan keadaan dislipidemia berat (total kolesterol >240 mg/dL) pada orang berusia diatas 55 tahun didapatkan paling banyak di Padang dan Jakarta (>56%), diikuti oleh mereka yang tinggal di Bandung (52,2%) dan Yogyakarta (27,7%). Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa prevalensi dislipidemia lebih banyak didapatkan pada wanita (56,2%) dibandingkan pada pria (47%). Dari keseluruhan wanita yang mengidap dislipidemia tersebut ditemukan prevalensi dislipidemia terbesar pada rentang usia 55-59 tahun (62,1%) dibandingkan yang berada pada rentang usia 60-69 tahun (52,3%) dan berusia diatas 70 tahun (52,6%).

20

3. Klasifikasi Dislipidemia Dislipidemia dapat diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi fenotipik dan patologik. a. Klasifikasi Fenotipik Klasifikasi fenotipik pada dislipidemia dibagi atas klasifikasi berdasarkan EAS, NCEP, dan WHO. i. Klasifikasi EAS (European Atheroselerosis Society) Pada klasifikasi berdasarkan EAS, dislipidemia dibagi 3 golongan, yaitu hiperkolesterolemia yang merujuk pada peningkatan kolesterol total,

hipertrigliseridemia yang merujuk nilai trigliserida plasma yang meninggi, dan campuran keduanya seperti dapat dilihat pada tabel 6.

ii. Klasifikasi NECP (National Cholesterol Education Program) Kapan disebut lipid normal, sebenarnya sulit dipatok pada suatu angka, oleh karena normal untuk seseorang belum tentu normal untuk orang lain yang disertai faktor risiko koroner multipel. Walaupun demikian, National Cholesterol Education Program Adult Treatment Panel III (NCEP ATP III) 2001 telah membuat satu batasan yang dapat dipakai secara umum tanpa melihat faktor risiko koroner seseorang seperti dapat dilihat pada tabel 7.

21

Tabel 7. Klasifikasi kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserid menurut NCEP ATP III 2001 (mg/dl). 4

iii. Klasifikasi WHO (World Health Organization) Klasifikasi WHO didasarkan pada modifikasi kalsifikasi Fredricson, yaitu berdasarkan pada pengukuran kolesterol total, trigliserida, dan subkelas lipoprotein (dapat dilihat pada tabel 8).

22

b. Klasifikasi Patogenik Sedangkan berdasarkan patologinya, dislipidemia 2, yaitu dislipidemia primer dan sekunder. i. Dislipidemia Primer Dislipidemia primer berkaitan dengan gen yang mengatur enzim dan apoprotein yang terlibat dalam metabolism lipoprotein maupun reseptornya. Kelainan ini biasanya disebabkan oleh mutasi genetik. Dislipidemia primer meliputi: Hiperkolesterolemia poligenik Hiperkolesterolemia familial Dislipidemia remnant Hyperlipidemia kombinasi familial Sindroma Chylomicron Hypertrriglyceridemia familial Peningkatan Cholesterol HDL Peningkatan Apolipoprotein B

ii. Dislipidemia Sekunder Dislipidemia sekunder disebabkan oleh penyakit atau keadaan yang mendasari. Hal ini dapat bersifat spesifik untuk setiap bentuk dislipidemia seperti diperlihatkan oleh tabel 9 dibawah ini.

23

Tabel 9 Penyebab Umum Dislipidemia Sekunder

4. Faktor Risiko Dislipidemia Kadar lipoprotein, terutama kolesterol LDL, meningkat sejalan dengan bertambahnya usia. Dalam keadaan normal, pria memiliki kadar yang lebih tinggi, tetapi setelah menopause kadarnya pada wanita mulai meningkat. Faktor lain yang menyebabkan tingginya kadar lemak tertentu (misalnya VLDL dan LDL) adalah: Riwayat keluarga dengan dislipidemia Obesitas Diet kaya lemak Kurang melakukan olahraga Penggunaan alkohol Merokok Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik Kelenjar tiroid yang kurang aktif

Sebagian besar kasus peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol total bersifat sementara dan tidak berat, dan terutama merupakan akibat dari makan lemak. Pembuangan lemak dari darah pada setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda. Seseorang bisa makan sejumlah besar lemak hewani dan tidak pernah

24

memiliki kadar kolesterol total lebih dari 200 mg/dL, sedangkan yang lainnya menjalani diet rendah lemak yang ketat dan tidak pernah memiliki kadar kolesterol total dibawah 260 mg/dL. Perbedaan ini tampaknya bersifat genetik dan secara luas berhubungan dengan perbedaan kecepatan masuk dan keluarnya lipoprotein dari aliran darah.

5. Kriteria Diagnostik dan Pemeriksaan Laboratorium Dislipidemia i. Pedoman Klinis Kadar Lipid Sehubungan Dengan Resiko PKV Angka patokan kadar lipid yang memerlukan pengelolaan, penting dikaitkan dengan terjadinya komplikasi kardiovaskuler. Dari berbagai penelitian jangka panjang di negara-negara barat, yang dikaitkan dengan besarnya resiko untuk terjadinya PKV (tabel 10), dikenal patokan kadar kolesterol total sbb: a) Kadar yang diinginkan dan diharapkan masih aman (desirable) adalah < 200 mg/dl b) Kadar yang sudah mulai meningkat dan harus diwaspadai untuk mulai dikendalikan (bordeline high) adalah 200-239 mg/dl c) Kadar yang tinggi dan berbahaya bagi pasien (high) adalah > 240 mg/dl Untuk trigliserida besamya pengaruh terhadap kemungkinan terjadinya komplikasi kardiovaskuler belum disepakati benar. NECP (National Cholesterol Education Program) tidak memasukkan kadar trigliserida dalam anjuran pengelolaan lipid mereka. Sebaliknya kelompok kontinental memasukkan juga faktor trigliserida dalam algoritma yang mereka anjurkan, dilandasi oleh penelitian mereka di Eropa (studi Procam dan studi Paris).

25

Di Indonesia data epidemiologis mengenai lipid masih langka, apalagi longitudinal yang berkaitan dengan angka kesakitan atau angka kematian penyakit kardiovaskuler. Tabel 10 Pedoman Klinis untuk Menghubungkan Profil Lipid Dengan Risiko Terjadinya PKV

Secara klinis digunakanlah kadar kolesterol total sebagai tolak ukur, walaupun berdasarkan patofisiologi, yang berperan sebagai faktor risiko adalah kolesterol LDL. Namun demikian, kadar kolesterol total dapat juga

menggambarkan kadar kolesterol LDL seperti dapat dilihat pada tabel 11.

26

Tabel 11 Kadar Kolesterol Total Dihubungkan dengan Kadar LDL

C. Obesitas 1. Definisi Obesitas Kelebihan berat badan adalah suatu kondisi dimana perbandingan berat badan dan tinggi badan melebihi standar yang ditentukan. Sedangkan obesitas adalah kondisi kelebihan lemak, baik di seluruh tubuh atau terlokalisasi pada bagian bagian tertentu. Obesitas merupakan peningkatan total lemak tubuh, yaitu apabila ditemukan kelebihan berat badan >20% pada pria dan >25% pada wanita karena lemak (Ganong W.F, 2003). Faktor-faktor penyebab obesitas masih terus diteliti. Baik faktor lingkungan maupun genetik berperan dalam terjadinya obesitas. Faktor lingkungan antara lain pengaruh psikologi dan budaya. Dahulu status sosial dan ekonomi juga dikaitkan dengan obesitas. Individu yang berasal dari keluarga sosial ekonomi rendah biasanya mengalami malnutrisi. Sebaliknya, individu dari keluarga dengan status sosial ekonomi lebih tinggi biasanya menderita obesitas. Kini diketahui bahwa sejak tiga dekade terakhir, hubungan antara status sosial ekonomi dengan obesitas melemah karena prevalensi obesitas

27

meningkat secara dramatis pada setiap kelompok status sosial ekonomi (Zhang, 2004). Meningkatnya obesitas tak lepas dari berubahnya gaya hidup, seperti menurunnya aktivitas fisik, dan kebiasaan menonton televisi berjam-jam. Faktor genetik menentukan mekanisme pengaturan berat badan normal melalui pengaruh hormon dan neural. Selain itu, faktor genetik juga menentukan banyak dan ukuran sel adiposa serta distribusi regional lemak tubuh. Obesitas berhubungan erat dengan distribusi lemak tubuh. Tipe obesitas menurut pola distribusi lemak tubuh dapat dibedakan menjadi obesitas tubuh bagian atas (upper body obesity) dan obesitas tubuh bagian bawah (lower body obesity). Obesitas tubuh bagian atas merupakan dominansi penimbunan lemak tubuh di trunkal . Terdapat beberapa kompartemen jaringan lemak pada trunkal, yaitu trunkal subkutaneus yang merupakan kompartemen paling umum, intraperitoneal (abdominal), dan retroperitoneal. Obesitas tubuh bagian atas lebih banyak didapatkan pada pria, oleh karena itu tipe obesitas ini lebih dikenal sebagai android obesity. Tipe obesitas ini berhubungan lebih kuat dengan diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskuler daripada obesitas tubuh bagian bawah. Obesitas tubuh bagian bawah merupakan suatu keadaan tingginya akumulasi lemak tubuh pada regio gluteofemoral. Tipe obesitas ini lebih banyak terjadi pada wanita sehingga sering disebut gynoid obesity. Tipe obesitas ini berhubungan erat dengan gangguan menstruasi pada wanita (David., 2004).

28

Gambar 2 Data survei obesiti mengikut umur

2. Pengukuran Antropometri sebagai Skreening Obesitas Obesitas dapat dinilai dengan berbagai cara, metode yang lazim digunakan saat ini antara lain pengukuran IMT (Index Massa Tubuh), lingkar pinggang, serta perbandingan lingkar pinggang dan panggul. Sebuah studi menyatakan bahwa pengukuran lingkar leher juga dapat digunakan sebagai screening obesitas. Berikut ini penjelasan masing-masing metode pengukuran antropometri tubuh:

A. IMT Metode yang sering digunakan adalah dengan cara menghitung IMT, yaitu BB/TB2 dimana BB adalah berat badan dalam kilogram dan TB adalah tinggi badan dalam meter (Caballero B., 2005). Klasifikasi IMT dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

29

Table 12 Klasifikasi IMT (PERKENI, 2006). Klasifikasi IMT Berat Badan Kurang < 18.5 Berat Badan Normal 18.5 22.9 Berat Badan Lebih 23 BB dengan Resiko 23 24.9 Obesitas I 25 29.9 Obesitas II 30 B. Lingkar Pinggang

(kg/m2)

IMT memiliki korelasi positif dengan total lemak tubuh, tetapi IMT bukan merupakan indikator terbaik untuk obesitas Selain IMT, metode lain untuk pengukuran antropometri tubuh adalah dengan cara mengukur lingkar pinggang. Parameter penentuan obesitas merupakan hal yang paling sulit dilakukan karena perbedaan cutt of point setiap etnis terhadap IMT maupun lingkar pinggang. Tabel 13 Kriteria ukuran pinggang berrdasarkan etnis

30

BAB III PRESENTASI KASUS

A. Anamnesis I. Identitas Pasien a. Nama b. TTL c. Umur : Ny, A S : Pekalongan , 10 April 1967 : 45 tahun

d. Jenis Kelamin : Perempuan e. Agama f. Pekerjaan g. Alamat : Islam : Ibu Rumah Tangga : Sindurejan WB III No 65 RT 44 RW 09 Kelurahan

Patangpuluhan Kecamatan Wirobrajan Yogyakarta h. Asuransi : Jamkesos (Jaminan Kesehatan Sosial)

i. Tanggal kunjungan puskesmas : 4 Desember 2012 j. Tanggal kunjungan rumah I : 5 Desember 2012 k. Tanggal kunjungan rumah II : 8 Desember 2012

II.

Keluhan Utama Pasien datang ke puskesmas Wirobrajan dengan keluhan badan sering terasa lemas setiap bangun tidur sejak 2 minggu terakhir.

31

III.

Riwayat Penyakit Sekarang Saat ini pasien mengaku mudah merasa lelah tiap pagi hari setiap bangun tidur, selain itu pasien merasa mudah haus, banyak minum, nafsu makan berkurang dan sering buang air kecil.

IV.

Riwayat Penyakit Dahulu Berdasarkan pernyataan pasien, pasien sebelumnya tidak mengetahui kondisi penyakit Diabetes yang diderita, baru mengetahui saat kunjungan ke puskesmas. Pasien juga menyatakan pernah didiagnosis terjadi pembesaran liver pada September 2012.

V.

Riwayat Penyakit Keluarga Suami pasien sedang dalam perawatan CRF, dengan penanganan hemodialisa rutin 2 x seminggu, terdiagnosis sejak 8 bulan yang lalu. Riwayat DM, dan Penyakit Jantung pada keluarga disangkal. Riwayat Hipertensi pada ayah dari pasien.

B. Pemeriksaan Fisik I. II. III. IV. Keadaan Umum Tinggi badan Berat Badan Status Gizi : Baik, CM : 151 cm : 68 kg : BMI = 29.82 (Obesitas I)

32

V.

VS : TD : 120/80 mmHg N : 80 x/menit (reguler dan kuat angkat) RR : 20 x/menit T: 36.20 C

Kepala/Leher : normocephal, simetris, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, lensa mata jernih, JVP meningkat (-), tiroid tidak teraba, limfadenopati leher (-), deformitas (-), hidung dan telinga dalam batas normal.

Thorax : Pulmo: Inspeksi : simetris,pergerakan seimbang,retraksi (-),bentuk normal Palpasi : VF ka=ki,tak ada ketinggalan gerak Perkusi : sonor +/+ Auskultasi : vesikuler +/+,whezing -/-,ronkhi -/Cor : S1-2 murni, bising (-), konfigurasi dbn.

Abdomen Inspeksi : flat, DP<DD, Auskultasi : peristaltik (+) Palpasi : nyeri tekn epigastrium (-),organomegali (-) Perkusi : timpani (+), ascites (-)

33

Ekstremitas Superior Inferior kekuatan 5 5 5 5 : akral hangat,tonus baik,capilary refill < 2s : akral hangat,tonus baik,capilary refill < 2s

C. Pemeriksaan Penunjang Tanggal 4 Desember 2012 GDP GD2PP Chol Tot TG : 230 mg/dl ( 70 120 ) : 487 mg/dl ( 90 150 ) : 197 mg/dl ( < 200 ) : 370 mg/dl ( < 150 )

D. Diagnosis Banding Diabetes Melitus Tipe 1 Diabetes Melitus Tipe 2 E. Diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2, obesitas dan dislipidemia F. Terapi Farmakologi Terapi dari Puskesmas Metformin Gemfibrozil Aspilet Vit B 12 mg500 2 x 1/2 tablet mg300 1 x 1 tablet mg100 1 x 1 tablet 2 x 1 tablet Metformin Usulan Terapi mg500 2 x 1 tablet

Gemfibrozil mg300 1 x 1 tablet Vit B 12 Konsul Sp.Pd 2 x 1 tablet

34

Non-Farmakologi 1. Kebutuhan kalori BB = 68 Kg TB = 151 cm BMI Obesitas I (29.82) BB ideal = 0.9 x (151-100) = 45.9 kg Kebutuhan kalori basal = 25 kcal x 45.9 = 1147 kcal Koreksi = Usia karna lebih dari 40 tahun, maka dikoreksi dengan -5% dari kalori basal : 5 % X 1147 = 57,35 kalori Aktivitas sedang sebagai Ibu Rumah Tangga, maka dikoreksi dengan +20% dari kalori basal : 20% X 1147 = 229,4 kalori Karna tergolong gemuk, maka dikoreksi dengan -20% dari kalori basal : 20% X 1147 = 229,4 kalori

Total Kebutuhan Kalori = 1147 57,35 + 229,4 229,4 = 1089,65 kcal ( dibulatkan 1100 kcal)

Kebutuhan Karbohidrat Kebutuhan Protein Kebutuhan Lemak

: 660 (60%) : 220 (20%) : 220 (20%)

35

2. Diet Total Kalori 1100 kcalori. Waktu Makan Menu Nasi 3/4 gelas (100gr) Tempe 2 potong (50gr) Pagi Tahu 1 biji besar (110gr) Sayur 1/2 gelas (50gr) Selingan Pepaya 1 potong besar (190gr) Nasi 1 gelas (130gr) Tempe 2 potong (50gr) Siang Tahu 1,5 biji besar (165gr) Sayur 1/2 gelas (50gr) Apel 1 buah (85gr) Selingan Pepaya 1 potong besar (190gr) Nasi 1/2 gelas (65gr) Malam Ikan 1 potong sedang (40gr) Sayur 1/2 gelas (50gr) Total 3. Monitoring Kontrol rutin Kadar Gula Darah, baik Gula Darah Sementara atau Gula Darah Puasa. 75 12.5 50 230 75 112.5 12.5 50 50 115 50 12.5 1095 Kcalori 180 75

36

4. Edukasi Edukasi dilakukan kepada pasien dan keluarga, edukasi yang diberikan meliputi tentang: 1. Gaya hidup sehat: menjaga makan, olahraga atau aktifitas fisik tiap hari. 2. Ketaatan pengobatan. 3. Komplikasi-komplikasi yang dapat timbul. 4. Pentingnya peran keluarga dalam mencapai tujuan pengobatan pasien.

37

BAB IV PEMBAHASAN

A. Analisis Kasus Kunjungan rumah pada pasien dilakukan pada tanggal 5 dan 8 Desember 2012, dari hasil anamnesis pada pasien ini, didapatkan keterangan bahwa pasien baru mengetahui menderita diabetes pertama kali saat kunjungan ke puskesmas tanggal 4 Desember. Beberapa hari sebelumnya, ketika datang ke puskesmas dengan keluhan yang sama, dokter puskesmas menyarankan untuk datang lagi dengan kondisi puasa sebelumnya untuk dicek kadar gula darah. Pada bulan September 2012, pasien juga pernah didiagnosis oleh dokter spesialis penyakit dalam, mengalami pembesaran hati (Hepatomegali), kemudian berdasarkan pemaparan pasien, dilakukan pengobatan dan pada akhir September juga, dilakukan pemeriksaan USG, hasil dari pemeriksaan hepar, tidak tampak pembesaran organ hati. Pada bulan april 2012, suami pasien didiagnosis mengalami gagal ginjal, yang harus mendapatkan perawatan cuci darah sebanyak 2 kali dalam satu minggu. Saat ini sudah berlangsung selama 8 bulan. Saat ini pasien melakukan kontrol di Puskesmas Wirobrajan untuk mendapatkan pengobatan Diabetes dan dislipidemia agar kondisi kesehatan selalu terkontrol. Biaya terapi pada pasien telah ditangani oleh jamkesos, yaitu jaminan kesehatan sosial. Sedangkan untuk pengobatan suami pasien, selain dari dana jamkessos, pasien dan keluarga juga mendapat bantuan dari dompet dhuafa.

38

Pendekatan yang dilakukan adalah penatalaksaan dengan merencanakan asupan makanan sehari-harinya, menyarankan untuk melakukan aktifitas jasmani secara teratur. Hal tersebut bertujuan untuk mengontrol kadar gula darah, sedangkan bagi anggota keluarga lainnya untuk lebih memperhatikan pola hidup yang sehat pada pasien. B. Analisis Kunjungan Rumah. 1. Kondisi pasien. Saat kunjungan rumah pertama, keluhan pasien sudah semakin berkurang, badan terasa segar, dari pemeriksaan fisik yang dilakukan juga tidak didapatkan kelainan yang memperburuk kondisi pasien dan pasien dapat beraktifitas secara normal sesuai dengan umurnya. 2. Keadaan rumah. o Letak : Rumah yang dihuni pasien terletak di pemukiman padat penduduk, beralamat Sindurejan WB III No 65 RT 44 RW 09 Kelurahan Patangpuluhan Kecamatan Wirobrajan Yogyakarta.

SMP Mualimin

Toko Safira

Rumah Pasien

39

o Kondisi : Kokoh, dinding rumah tembok, tidak bertingkat, lantai dari keramik, atap rumah dari genteng, sebagian genteng terbuat dari kaca, tidak mempunyai halaman. Dengan luas rumah 6 x 6 meter, dihuni 7 orang. o Pembagian ruang : di dalam rumah terdapat 1 kamar tidur, 1 ruang tengah, 1 ruang depan, 1 kamar mandi dan dapur 6M Kasur
Papan Pembatas
Almari

Kasur

Almari

Rak

6 M

Meja Kecil

Dapur

Rumah Tetangga

Kasur

U Rumah Tetangga

o Ventilasi : Terdapat jendela pada ruang depan dan kamar mandi, terdapat pula lubang ventilasi pada atas jendela. Akan tetapi diruangan lainnya, tidak terdapat ventilasi, serta jarak antar rumah berdempetan,

menyebabkan kesan ventilasi kurang baik.

TV Rak

BM

Skala = 1 : 150
Ventilasi Ventilasi

Meja Kecil

40

o Pencahayaan : Pencahayaan di dalam rumah cukup, sehingga dapat membaca di siang hari tanpa bantuan listrik. Daya listrik pada rumah kos tersebut sebesar 900 watt, dan dirasa cukup untuk keperluan sehari-hari seluruh keluarga. o Kebersihan : kebersihan di dalam rumah kurang, dengan tata letak barangbarang yang berantakan. o Sanitasi dasar : Sumber air bersih : Sumber air dari PAM. Jamban keluarga : Terdapat 1 buah kamar mandi dengan 1 jamban jongkok dengan model leher angsa dan bak mandi terbuat dari semen dan sudah dilapisi porselen. Kesan kamar mandi bersih, tidak bau dan terawat. Berukuran sekitar 1,5 m x 2 m. Air dalam bak mandi bersih tidak ada jentik nyamuk. Saluran Pembuangan Air Limbah : Limbah rumah tangga dialirkan ke peresapan, tidak ditemukan genangan limbah disekitar rumah. Saluran pembuangan air limbah digunakan bersama dengan warga lainnya. Tempat pembuangan sampah : sampah dikumpulkan di keranjang sampah, yang setiap dipindah ke depan rumah untuk diambil oleh petugas sampah. Pembayaran sampah ditanggung bersama oleh warga sekitar. Halaman : halaman depan tidak ada. Langsung jalan gang rumah yang terbuat dari tanah, dan digunakan sebagai tempat bermain anak-anak tetangga.

41

Kandang : Tidak memiliki kandang untuk hewan hewan peliharaan atau ternak. 3. Kepemilikan barang. Rumah yang di tempati merupakan rumah kontrakan. Keluarga tersebut memiliki televisi, lemari, tempat tidur, lemari pakaian, peralatan dapur, alat alat servis alat elektronik. 4. Keadaan lingkungan sekitar rumah. Limbah rumah tangga dialirkan melalui saluran limbah, tanpa tempat sampah diluar rumah. Kesan kebersihan di lingkungan tersebut cukup baik. C. Daftar anggota keluarga yang tinggal satu rumah Kedudukan L/ Nama dalam Umur Pendidikan P keluarga Bp. A Y Suami L 47 th Tamat SD elektronik Ibu Rumah Ny. A S Istri P 45 th Tamat SD Tangga Sdr. A P Sdr. R B Anak 1 Menantu P L 24 th 28 th Tamat SMA Tamat SMA Pramu Niaga Wiraswasta Mahasiswa, Sdr. A R Anak 2 L 21 th Tamat SMA Guru Bimbel An. R A An. R S Anak 3 Anak 4 L L 16 th 12 th Tamat SMP SD Pelajar Pelajar

Pekerjaan

Pasien KDK

Ket

Teknisi alat -

42

D. Genogram Keluarga Genogram Keluarga A.Y dibuat Tanggal 5 12 - 2012

D
CRF

B AY 47 th AS 45 th

DM, Dislipidemia

RB 28 th

AP 24 th

AR 21 th

RA 16 th

RS 12 th

Keterangan: : : : Laki-laki Perempuan : Meninggal : Pasien

B :Breadwinner : yang mencari nafkah

Tinggal 1 rumah D : Decision Maker : Pengambil Keputusan

43

E. Nilai Apgar Keluarga. Apgar keluarga adalah suatu penentu sehat / tidaknya keluarga dikembangkan oleh Rosen, Geymon, dan Leyton dengan menilai 5 fungsi pokok keluarga / tingkat kesehatan keluarga yaitu : TABEL NILAI APGAR Respons KRITERIA PERTANYAAN Apakah pasien puas dengan keluarga karena masing-masing anggota keluarga sudah menjalankan kewajiban sesuai dengan seharusnya Apakah pasien puas dengan keluarga karena dapat membantu memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi Apakah pasien puas dengan kebebasan yang diberikan keluarga untuk mengembangkan kemampuan yang pasien miliki Apakah pasien puas dengan kehangatan / kasih sayang yang diberikan keluarga Apakah pasien puas dengan waktu yang disediakan keluarga untuk menjalin kebersamaan Hampir selalu Kadang Hampir tidak pernah

Adaptasi

Kemitraan

Pertumbuhan

Kasih Sayang

Kebersamaan

TOTAL Skoring : Hampir selalu=2 , kadang-kadang=1 , hampir tidak pernah=0 Total skor 8-10 = fungsi keluarga sehat 4-7 = fungsi keluarga kurang sehat 0-3 = fungsi keluarga sakit Dari tabel APGAR keluarga diatas total nilai skoringnya adalah 7, ini menunjukan fungsi keluarga kurang sehat.

44

F. SCREEM Keluarga SCREEM adalah alat yang digunakan untuk menilai sumber daya dalam keluarga. Aspek Sosial Sumber Daya Pasien dapat beriteraksi dengan baik dengan tetangga sekitarnya Pasien dan keluarga tidak mempercayai mitos-mitos yang tidak jelas kebenarannya Pasien dan keluarga mengajarkan moral-moral agama dan menunaikan ibadah sesuai dengan ajaran agama dengan rajin dan baik Patologi

Kultural

Religius

Ekonomi

Pasien sebagai ibu rumah tangga, tidak berjualan nasi sejak 8 bulan yang lalu ketika suami mulai melakukan cuci darah. Pendidikan keluarga cukup, pasien dan suami lulusan SMA, anak anak mendapatkan pendidikan yang cukup, bahkan ada yang sampai Perguruan tinggi. Masalah kesehatan cukup bagus, dekat dengan akses yankes dan memiliki jaminan jamkessos

Pendidikan

Kesehatan

Kesadaran dari pasien tentang kondisi kesehatan kurang.

G.IDENTIFIKASI FUNGSI KELUARGA 1. Fungsi Biologis Suami pasien sedang dalam kondisi menderita gagal ginjal dalam stadium lanjut, yang harus dilakukan cuci darah sebanyak 2 x dalam seminggu. Pasien dan

45

suami pasien, belum mengerti secara pasti penyebab kondisi gagal ginjal yang dialami suami pasien. 2. Fungsi Afektif Hubungan antara pasien dengan suami Hubungan antara pasien dengan anak Meskipun sering berbeda pendapat dengan anak kedua. Hubungan antara pasien dengan saudara Hubungan antar saudara 3. Fungsi Sosial dan Budaya Kedudukan pasien di lingkungan tempat tinggalnya biasa saja, pasien ramah dan selalu menyapa bila bertemu dengan tetangga, dan respon tetanggapun sangat baik. Pasien tidak sungkan-sungkan untuk berbincang-bincang dengan tetangga. Pasien tidak percaya terhadap mitos-mitos yang ada di masyarakat. 4. Fungsi Pendidikan Pendidikan terakhir pasien adalah SMA, suami pasien juga merupakan lulusan SMA, anak pertama pasien lulusan SMA, menantu pasien lulusan SMA, anak kedua sedang menjalani kuliah S1 dengan beasiswa, anak ketiga sedang menjalani pendidikan SMK dan anak keempat sedang menjalani pendidikan kelas 6 SD. 5. Fungsi Ekonomi Penghasilan yang didapatkan oleh keluarga disokong penuh dari penghasilan suami pasien yang bekerja sebagai teknisi servis alat elektronik : baik : baik : baik : baik

46

dirumah. Meskipun anak pertama dan menantu juga bekerja, tapi penyokong utama adalah suami pasien. 6. Fungsi Religius Fungsi religius pasien dan keluarganya cukup baik. Pasien sering ke masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah. H. IDENTIFIKASI PSP (Pengetahuan, Sikap dan Perilaku) 1. PSP keluarga tentang kesehatan dasar a. Pencegahan penyakit Pasien dan keluarga pasien kurang rajin membersihkan rumah meskipun tidak membiarkan ada air tergenang didalam rumah atau sekitarnya. b. Gizi keluarga Untuk pola konsumsi gizi pasien, frekuensi makan rata-rata 3 kali sehari dengan menu nasi, lauk pauk (telur, daging, tempe, tahu), sayuran, buahbuahan. Status gizi pasien obesitas. c. Higiene dan sanitasi lingkungan 2. Halaman rumah dan jalan cukup bersih karena sering disapu Lingkungan dalam rumah kurang bersih Kondisi pencahayaan di rumah cukup

PSP keluarga tentang kesehatan lain a. Penggunaan pelayanan kesehatan Bila sakit, pasien dibawa ke puskesmas. b. Perencanaan dan pemanfaatan fasilitas pembiayaan kesehatan Pasien menggunakan jaminan kesehatan social

47

c. Hal-hal lain yang berhubungan dengan keadaan kesehatan keluarga dan anggota keluarga Pasien baru terdiagnosis pertama kali dengan Diabetes saat kontrol ke puskesmas Wirobrajan. Suami pasien terdiagnosis CRF sejak 8 bulan yang lalu dan rutin melakukan hemodialisa 2 x dala satu minggu. I. PEDOMAN UMUM GIZI SEIMBANG PUGS Keluarga makan beraneka ragam makanan Keluarga makan makanan untuk memenuhi Ya kecukupan energi Keluarga makan makanan karbohidrat 3 Ya setengah dari kebutuhan energi sehari Keluarga membatasi konsumsi lemak dam 4 minyak seperempat dari kebutuhan energi sehari Keluarga menggunakan garam beryodium 5 Ya Keluarga makan makanan sumber zat besi 6 Ya Ibu memberikan ASI sampai bayi umur 6 7 bulan Keluarga membiasakan makan pagi 8 Keluarga minum air bersih dan aman yang 9 Ya cukup Keluarga melakukan aktivitas fisik dan 10 olahraga secara teratur Keluarga menghindari minum minuman 11 Ya beralkohol Keluarga makan makanan yang aman bagi 12 Ya kesehatan Keluarga terbiasa membaca label pada 13 makanan yang dikemas Kesimpulan 1. Nilai PUGS keluarga <60% 2. Keluarga tidak menerapkan pedoman umum gizi seimbang NO 1 2

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

Tidak

48

J. IDENTIFIKASI MASALAH PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT No. Kriteria yang dinilai Jawaban Skor 1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan. 2. Memberi ASI ekslusif. 3. Menimbang balita setiap bulan. 4. Menggunakan air bersih. Ya 1 5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. Tidak 0 6. Menggunakan jamban sehat. Ya 1 7. Memberantas jentik di rumah sekali seminggu. Tidak 0 8. Makan buah dan sayur setiap hari. Tidak 0 9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari. Tidak 0 10. Tidak merokok di dalam rumah. Ya 1 Total jawaban ya 3 Interpretasi: Total skor adalah 3 yang berarti keluarga Ny. A S tidak menerapkan PHBS dengan baik.

K. PELAKSANAAN PROGRAM NO 1 WAKTU 4 Desember 2012 KEGIATAN HASIL

Anamnesa, dan pemeriksaan Pada saat anamnesa , pasien fisik Identifikasi masalah cukup kooperatif dan saat dilakukan pemeriksaan fisik ditemukan: - Gizi obesitas - Keluhan pasien, badan lemas, banyak minum, sering BAK dan nafsu makan berkurang. - Pengetahuan pasien terhadap penyakitnya kurang

49

5 Desember 2012

Follow up anamnesa dan Pasien pemeriksaan fisik.

dan

keluarga

lebih

paham mengenai penyakitnya akan mengikuti saran

Konseling pasien mengenai dan penyakitnya.

untuk mencegah naiknya Gula

Edukasi tentang penyakit dan Darah Pasien gaya hidup. Menjelaskan konsultasi kesehatan. 3 8 Desember 2012 Follow up anamnesa dan Pasien sudah mengerti dan pemeriksaan fisik sudah bisa menerapkan pola hidup sehat, menu diet yang akan berhubungan dengan ke Pasien akan rutin kontrol ke pentingnya puskesmas untuk memantau pelayanan gula darah pasien.

penyakitnya.

L. DIAGNOSIS KESEHATAN KELUARGA Bentuk Keluarga Fungsi yang terganggu : Keluarga Besar ( Extended Family ) : Ekonomi dan Kesehatan

Faktor yang mempengaruhi : Pekerjaan pasien dan anggota keluarga yang sakit

Faktor yang dipengaruhi serta kesehatan

: Jumlah dan macam asupan gizi yang tersedia

Diagnosis Holistik

: Wanita 45 tahun dengan

Diabetes Melitus

Tipe 2, Dislipidemia dan Obesitas dengan fungsi keluarga yang kurang sehat dan sumber daya keluarga yang kurang dibidang ekonomi dan kesehatan.

50

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Dari hasil kunjungan rumah pasien penderita diabetes melitus yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Wirobrajan Kota Yogyakarta dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Diabetes, dislipidemia dan overweight dapat mengganggu fungsi seseorang dalam keluarga. 2. Dokter keluarga melalui institusi Puskesmas dapat menjadi salah satu sektor yang berperan dalam menangani kasus diabetes dan dislipidemia yang mencakup promotif, preventif, kuratif sampai rehabilitative dan merujuk ke pusat pelayanan kesehatan yang berkompeten dalam menangani kasus. 3. Kerjasama antara petugas kesehatan, pasien dan keluarga menentukan keberhasilan terapi. B. Saran 1. Bagi mahasiswa Berusaha lebih mendalami, aktif, kreatif, dan variatif dalam menganalisa permasalahan kesehatan, baik pada keluarga maupun lingkungannya Meningkatkan profesionalisme sebelum terjun ke masyarakat

51

2. Bagi Puskesmas Hendaknya terus melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan usaha promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif

52

DAFTAR PUSTAKA Gandha, Nicho. (2009) FK UI. Diakses pada tanggal 6 Desember 2012, dari http://digital_122845-S09038fk-Hubungan perilaku-Literatur.pdf Rahmawati, N. (2009). FKM UI. Diakses pada tanggal 6 Desember 2012, dari http://digilib.ui.ac.id/126590-S-5633-Aktifitasfisik-Literatur.pdf Shahab, Alwi (2006). Buku Ajar : Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4, jilid III. Hal : 1916-1919. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia Soegondo, S. (2004). Diagnosis dan Klasifikasi Diabetes Melitus Terkini. Jakarta: Sagung Seto Suyono, Slamet (2006). Buku Ajar : Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4, jilid III. Hal : 1874-1878. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia USU University. (n.d). Diakses pada tanggal 6 Desember 2012, dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21688/4/Chapter%20II.pdf W.Sudoyo Aru, S. B. (2007). Buku Ajar: Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4, Jilid III.Hal : 1902-1904. Jakarta: Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia

53