Anda di halaman 1dari 36

BAB IV

HASIL dan PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di daerah Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul


Provinsi Yogyakarta. Terdapat dua sungai utama yaitu Sungai Opak dan Sungai
Oyo. Studi hidrogeokimia airtanah merupakan inti dari penelitian. Sampel yang
digunakan dalam penelitian ini meliputi 10 sampel airtanah, 11 data pendugaan
geolistrik, dan 172 sampel sumur gali, serta didukung oleh data pendukung
lainnya. Data tersebut merupakan data primer dan sekunder yang didapatkan dari
penelitian terdahulu di satuan wilayah administrasi tersebut.
Pemilihan daerah penelitian ini didasarkan pada kondisi daerah penelitian
yang sangat kompleks. Daerah ini memiliki 2 sistem arah aliran airtanah regional
yang berasal dari Satuan Airtanah Perbukitan Baturagung dan Satuan Airtanah
Merapi. Arah aliran airtanah di daerah ini didominasi dari kedua sistem arah aliran
airtanah ini menuju Sungai Opak maupun Sungai Oyo. Oleh karena itu,
keterdapatan airtanah di wadahnya (akuifer) yang mengalami kontak dengan
mineral batuan mempengaruhi hidrogeokimia airtanah bebas di daerah penelitian.

4.1. Kontur dan Arah Aliran Airtanah Bebas


Analisis ini berdasarkan Model 2 Dimensi yang merupakan suatu hasil
analisa dalam menentukan dan mengetahui kontur dan arah aliran airtanah serta
kegunaannya untuk mengetahui daerah tangkapan dan daerah penurapan airtanah
di suatu wilayah. Metode “three point problem” pada prinsipnya menggunakan
minimal tiga buah sumur yang sudah diketahui ketinggian muka airtanahnya.
Pengolahan data kedalaman muka airtanah dilakukan dengan menginterpolasi
titik-titik dari tiap titik sumur gali di daerah penelitian. Kontur airtanah
(equipotential line) adalah garis yang menunjukkan tempat-tempat yang memiliki
nilai hydraulic head yang sama. Secara dua dimensi, garis ekuipotensial dapat
dipetakan membentuk jaring-jaring aliran airtanah (flownets).
Menurut Todd (1980); Nilai hydraulic head merupakan hasil dari
pengurangan elevasi permukaan sumur dikurangi kedalaman muka airtanah. Arah

68
aliran airtanah dapat didefinisikan dengan cara menarik garis yang memotong
kontur airtanah dari hydraulic head tinggi ke rendah pada sudut 90o seperti
Gambar 2.1. Jika garis kontur dan arah aliran dibuat pada interval-interval tertentu
maka akan terlihat jaring-jaring airtanah atau dikenal sebagai flownets.
Keuntungan flownets ini dapat digunakan untuk menentukan daerah tangkapan
(recharge) dan daerah penurapan airtanah (discharge), menentukan tipe sungai
influent atau effluent, menentukan besarnya debit dinamis, sehingga dapat
diketahui besarnya ketersediaan airtanah, dan menentukan arah pencemaran
airtanah.
Faktor penentu arah aliran airtanah bebas yaitu kondisi topografi di suatu
wilayah. Arah aliran airtanah bebas selalu mengikuti bentuk topografi permukaan
bumi. Berdasarkan topografi di daerah penelitian memiliki kondisi topografi datar
hingga perbukitan. Umumnya airtanah di daerah penelitian mengalir menuju
daerah yang memiliki morfologi datar ke dalam satuan bentuklahan dataran
aluvial, dataran koluvial dan lembah antar perbukitan. Arah aliran yang demikian
menentukan tipe pola aliran sungai effluent, dimana airtanah bergerak menuju
sungai yang mengakibatkan kondisi sungai selalu mengalir sepanjang tahun
(perenial). Pada Gambar 4.1. di bawah menunjukkan bahwa kedudukan muka
airtanah di daerah penelitian lebih tinggi dibandingkan kedudukan muka air
Sungai Opak dan Oyo di daerah penelitian.
Menurut Santosa dan Adji (2006); Sungai di daerah penelitian alirannya
bersifat effluent. Berdasarkan arah aliran airtanah, dan jika dikaitkan dengan
keberadaan sungai-sungainya, maka sungai Opak, Oyo dan anak-anak sungainya
merupakan sungai-sungai yang bersifat perennial (mengalir sepanjang tahun). Hal
ini disebabkan oleh karena kondisi geomorfologi sungai-sungai tersebut berada
pada suatu cekungan dan kedudukan muka air sungai lebih rendah dari muka
airtanah.
Sistem arah aliran airtanah berasal dari sebelah timur-barat dan utara-
selatan. Sistem arah aliran airtanah timur-barat ini termasuk Satuan Airtanah
Perbukitan Baturagung yang berakumulasi pada lembah antar perbukitan dan
satuan bentuklahan dengan morfologi datar. Sistem arah aliran airtanah ini

69
mendominasi arah aliran airtanah di daerah penelitian. Akumulasi airtanah dari
sistem tersebut mengisi cekungan-cekungan pada daerah penelitian yang terlihat
dari pola garis kontur airtanah tertutup. Hal ini menyebabkan daerah-daerah yang
demikian merupakan tempat terkonsentrasinya airtanah. Sistem arah aliran
airtanah lokal juga dijumpai pada lerengkaki dari Perbukitan Baturagung dan
langsung menuju sungai dan anak sungai.
Menurut Suyono (2000); Satuan Airtanah Baturagung berada pada lapisan
batuan tersusun oleh endapan volkanik yang berupa breksi volkanik, batupasir,
serpih tuff, aglomerat, andesit basaltik, batulempung, dan aliran lava yang bersifat
kompak. Aliran airtanah melalui celah-celah batuan, oleh karena itu tingkat
kelulusan airnya kecil. Sifat batuan dan topografinya, maka sebagian besar hujan
menjadi aliran permukaan atau resapan di daerah ini kecil. Airtanah di daerah ini
terdapat setempat-tempat pada lembah-lembah dan kanan kiri sungai. Satuan
Airtanah Gunungapi Merapi dalam Mac Donald (1983) dalam Suyono (2000),
mengemukakan bahwa airtanah di lereng merapi menuju ke arah selatan. Alur-
alur sungai yang lembahnya dalam berpengaruh pada pola aliran, airtanah masuk
ke alur sungai sebagai baseflow, sehingga aliran airtanah di atas dasar lembah
sungai dan aliran airtanah di bawah dasar sungai.
Data lokasi sumur gali didapatkan dari data sekunder, berasal dari laporan
penelitian terdahulu, dan terdapat pula data primer yang dilakukan pada saat
pengambilan sampel airtanah di sekitar sumur gali tersebut. Lampiran 4.
merupakan data lokasi pengambilan sumur gali di daerah penelitian.

70
430000 mT 435000 mT

419958 mT 4299 57 m T 439956 mT

INSET KABUPATE N

KECAMATAN
SLEMAN

9139086 m U
9139 086
55 50
KOTAMADYA
D.I . YOGYAKARTA
PLERET

KECAMATAN

65
70
JETIS

91290 87m U
9129087

75
KABUPATEN
BA NTUL
KABUPATEN
KULON PROGO
60

85
40

9119088 m U
9119 088

40
#D
S
KABU PATEN
GUNU NGKIDUL
SAM
UDR
AH
IND
Da erah Penelitian
WUKIRSARI
IA

419958 4299 57 439956

9125000 mU
9125000

5
10
IMOGIRI

#D
S

1 00
SD
# YC
#

95
KARANGTALUN 110
105

D#
S SD
#

KEBON AGUNG
GIRIREJO KECAMATAN
#D
S 65
60
DLINGO

65
KABUPATEN
15

BANTUL
10

KARANG TENGAH
25
20

D SRIHARJO
S
# 30

15
35
o 45 55
Oy
Sung ai O pak

65
i
ga

20
un
S D
S
#
0
35 3

40
65
20

45 70
15

10
25
30

9120000 mU
9120000

5
23 145
11
5 5
17
5
27
SELOPAMIORO

KECAMATAN
PUNDONG KABUPATEN
GUNUNGKIDUL
75

430000 435000

PETA KONTUR & ARAH ALIRAN AIRTANAH BEBAS


KECAMATAN IMOGIRI, KABUPATEN BANTUL
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
U Proyeksi : Transverse Mercator
Sistem Grid : Unit Transverse Mercator
Datum Horizontal : WGS 84
Zone : 49 M
0 1 2 3 KM

LEGEN DA
C
#
Y Camat Transportasi
D Jalan Kolektor
S
# Desa
Jalan Lokal
Arah Aliran Airtanah Jalan Setapak

Kontur Airtanah

Kontur Topografi

Sungai

Batas Administrasi Sumber :


1. Peta RBI Digital skala 1 : 25.000, Lembar Bantul, Tahun 1999
Desa 2. Peta RBI Digital skala 1 : 25.000, Lembar Imogiri, Tahun 1999
3. Laporan Penelitian Penyelidikan Potensi Airtanah Bantul, 2006
Kecamatan 4. Laporan Penelitian Ketersediaan Airtanah, 2007
5. Survei lapangan, 2008
Kabupaten Dibuat Oleh :
Pandji Riesdiyanto
03/ 167954/ GE/ 05450

Gambar 4.1. Peta Kontur dan Arah Aliran Airtanah Bebas Daerah Penelitian

71
4.2. Hidrostratigrafi Akuifer
Analisis ini didasarkan pada model stratigrafi yang dikorelasikan dengan
kondisi geomorfologi dan geologi wilayah kajian. Pendugaan geolistrik
merupakan suatu cara pendugaan geofisika dari permukaan tanah untuk
mengetahui besarnya tahanan jenis yang diukur dengan mengalirkan arus listrik
ke dalam bumi dan memperlakukan lapisan batuan sebagai media penghantar
arus. Tahanan jenis batuan dapat ditafsirkan sebagai suatu hambatan dalam ohm
meter di antara permukaan yang bertegangan suatu satuan bahan seperti pada
Gambar 4.2.

Gambar 4.2. Prinsip Pendugaan Geolistrik (Todd, 1980)

Penyelidikan pendugaan geolistrik di daerah penelitian mengunakan


metode Schlumberger, dalam pelaksanaan ada beberapa cara pengaturan susunan
elektroda arus C-1 dan C-2 dan elektroda potensial P-1 dan P-2. Perbedaan cara
pengaturan ini secara langsung akan menyangkut teknik perhitungan dalam
interpretasi perlapisan batuan. Cara susunan elektroda menurut Schlumberger,
pada prinsipnya memindahkan elektroda arus setiap kali dilakukan pengukuran
dengan bentangan L/2, dengan tujuan untuk mendapatkan perlapisan secara
vertikal batuan dengan batas bentangan maksimum.
Data hasil dari pendugaan geolistrik selanjutnya diinterpretasi dengan
komputer menggunakan program IP2Win. Hasil analisis ini akan menunjukkan
ketebalan masing-masing akuifer, kondisi perlapisan akuifer, nilai resistivitas
material setiap penyusun lapisan, dan kedalaman lapisan. Dengan bantuan

72
software ini, maka dapat direkonstruksi stratigrafi akuifernya, sehingga dapat
digambarkan susunan atau struktur material atau batuan secara vertikal, baik
kedalaman maupun ketebalan setiap perlapisan batuan. Di samping itu dapat pula
diketahui kedalaman muka airtanah dan keberadaan airtanah tawar, payau maupun
asin di bawah permukaan tanah. Dengan demikian akan dapat diketahui tipe dan
ketebalan akuifer penyusunannya. Klasifikasi besaran nilai tahanan jenis
(resistivity) menggunakan klasifikasi menurut Looke (2000), dapat dilihat pada
Tabel 4.1. berikut.

Tabel 4.1. Kisaran Nilai Tahanan Jenis Berbagai Macam Batuan

Sumber: Looke (2000)

Pendugaan geolistrik pada penelitian ini dilakukan sebanyak 11 titik


pengukuran yang diperoleh dengan data sekunder penelitian terdahulu, hal yang
diperhatikan dalam pengukuran adalah memperhatikan lokasi titik pengukuran
jarak penetrasi kedalaman, kondisi daerah pengukuran relatif datar, penggunaan
lahan, di daerah penelitian. Pembuatan jalur pendugaan geolistrik (cross-section)
memperhatikan aspek geologi dan geomorfologi, tujuan tersebut agar jalur
pendugaan tidak memotong lereng dan kondisi geologi yang berbeda. Secara rinci

73
lokasi dan letak jalur pendugan geolistrik tersaji dalam Tabel 4.2. dan Gambar
4.3.

Tabel 4.2. Lokasi Pendugaan Geolistrik Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul


No. Koordinat UTM Penetrasi Lokasi
Orientasi
Sounding X Y (m) ( Desa, Kecamatan)
G-1 0433002 9120892 Timur - Barat 150 Selopamioro, Imogiri
G-2 0431159 9121091 Utara - Selatan 150 Sriharjo, Imogiri
G-3 0431843 9123623 Utara - Selatan 150 Girirejo, Imogiri
G-4 0431772 9124868 Utara - Selatan 150 Imogiri, Imogiri
G-5 0433526 9125451 Timur - Barat 150 Wukirsari, Imogiri
G-6 0430547 9121592 Utara-Selatan 150 Sriharjo, Imogiri
G-7 0430528 9123956 Utara - Selatan 150 Karangtalun, Imogiri
G-8 0430537 9122645 Utara - Selatan 150 Kebonagung, Imogiri
G-9 0431423 9122381 Utara - Selatan 150 Karangtengah, Imogiri
G-10 0431664 9125994 Utara - Selatan 150 Wukirsari, Imogiri
G-11 0432636 9124159 Barat-Timur 150 Imogiri, Imogiri
Sumber:
1. Laporan Penelitian Penyelidikan Potensi Airtanah: Cekungan Airtanah Sleman-Yogyakarta di
Kabupaten Bantul, 2006
2. Skripsi Ketersediaan Airtanah Bebas untuk Kebutuhan Domestik dan Irigasi di Dataran Kaki
Volkan Merapi Muda dan Lerengkaki Perbukitan Baturagung Kecamatan Imogiri, Kabupaten
Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 2007

74
430000 mT 435000 mT

419958 mT 429957 m T 4 39956 mT

INSET KA BUPATEN
SLEMAN

913908 6 m U
KECAMATAN

9139086
KOT AMADY A
D.I. YOGYA KAR TA
PLERET S3b
D
U

D
U S20

91 29087 mU
9 129087

KABU PATEN
KECAMATAN
KABU PATEN
BAN TUL
JETIS
KULONPROGO
S17
F1 S3b
# G - 10

9119088 m U
9119088

S17 SD
#
KABUPATEN
GUNUNGKI DUL
WUKIRSARI
# G - 5 S17
SAM
U DR
AHI
ND
Da er ah Penelit ian
IA

419958 429957 4 39956

S15 S3b

9125000 mU
9125000

IMOGIRI
U
# D
G-4 S3b
#D
S
#D
S YC
#
G - 11
KARANGTALUN # S3b
#G - 7 F1
D#S G-3 #D
S
# S15
GIRIREJO
KEBON AGUNG
KECAMATAN

D #D
S DLINGO
U
S3a
KABUPATEN S3b
#G - 8 KECAMATAN
BANTUL IMOGIRI

G-9# KARANG TENGAH


F1
S15
SRIHARJO
S3a
D F1
S
# S3a
#G - 6
o
Oy
S ung a i O pak

S3a
S3b
i
ga

n
# Su
G-2 SD
#
#
G-1 S3b

F1

9120000 mU
9120000

S3b S3b

S3b

S17 SELOPAMIORO
S3b

KECAMATAN
PUNDONG KABUPATEN
S17
GUNUNGKIDUL

430000 435000

PETA JALUR PENDUGAAN GEOLISTRIK


KECAMATAN IMOGIRI, KABUPATEN BANTUL
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
U Proyeksi : Transverse Mercator
Sistem Grid : Unit Transverse Mercator
Datum Horizontal : WGS 84
Zone : 49 M
0 1 2 3 KM

LEGENDA
G- 1
# Lokasi Pendugaan Geolistrik Transportasi Lembah Antar Perbukitan Baturagung
S17
Jalan Kolektor Tmse & Tmn : perselingan antara breksi - tuff, tuff dasit, tuff andesit,
Jalur Pendugaan Geolistrik serta batulempung tuffan, breksi gunungapi, breksi aliran, aglomerat,
Jalan Lokal lava dan tuff
C
#
Y Camat S3a Lerengkaki Perbukitan Baturagung
Jalan Setapak Tmn : breksi gunungapi, breksi aliran, aglomerat, lava dan tuff
D
S
# Desa
S3b
Perbukitan Struktural Baturagung
Tmn, Tmse & Tmwl : breksi gunungapi, breksi aliran, aglomerat, lava, tuff,
perselingan antara breksi - tuff, tuff dasit, tuff andesit, batulempung tuffan,
Kontur Topografi batugamping terumbu, kalkarenit, dan kalkarenit tuffan

U
Sesar (U, bagian yang naik; D, bagian yang turun)
D
Sesar yang Direka, berdasarkan data gaya berat
Sungai
F1
Dataran Aluvial
Batas Administrasi Qa & Qmi : Pasir, lempung, kerikil, kerakal, breksi, aglomerat, dan
leleran lava tak terpisahkan. Sumber :
1. Peta RBI Digital skala 1 : 25.000, Lembar Bantul, Tahun 1999
Desa Dataran Koluvial 2. Peta RBI Digital skala 1 : 25.000, Lembar Imogiri, Tahun 1999
S20 Tmse : perselingan antara breksi - tuff, tuff dasit, tuff andesit, serta 3. Laporan Penelitian Penyelidikan Potensi Airtanah Bantul, 2006
Kecamatan batulempung tuffan 4. Laporan Penelitian Ketersediaan Airtanah, 2007
5. Survei lapangan, 2008
Kabupaten S15 Kipas Koluvial Dibuat Oleh :
Tmn : breksi gunungapi, breksi aliran, aglomerat, lava dan tuff
Pandji Riesdiyanto
03/ 167954/ GE/ 05450

Gambar 4.3. Peta Jalur Pendugaan Geolistrik Daerah Penelitian

75
430000 mT 435000 mT

419958 mT 429957 m T 4 39956 mT

INSET KA BUPATEN
SLEMAN

913908 6m U
KECAMATAN

9139086
KOT AMADYA
D.I. YOGYA KARTA
PLERET
3

1
KECAMATAN

91 29087 mU
9 129087

JETIS
KABU PATEN
KABUPATEN
BAN TUL 2
KU LONPR OGO

2
2

9119088 m U
9119088

#D
S
KABUPA TEN
GUNUN GKI DUL
SAM
U DR
AHI
ND
IA
Da er ah Penelit ian 1
WUKIRSARI
419958 429957 4 39956

3
1

9125000 mU
9125000

IMOGIRI 2

#D
S
SD
# YC
#
KARANGTALUN 2
3

D#
S #D
S
1

KEBON AGUNG 1
GIRIREJO 3
KECAMATAN
#D
S DLINGO

KABUPATEN KECAMATAN
BANTUL 1 IMOGIRI 2
KARANG TENGAH
3
D SRIHARJO
S
#
1
3

1 o
Oy
Sung a i Opak

i
ga

n
Su D
S
# 3

1 2 1
2
1

9120000 mU
9120000

2
3

3
1

SELOPAMIORO

2
KECAMATAN
PUNDONG 1 KABUPATEN
GUNUNGKIDUL

430000 435000

PETA ZONASI KEDALAMAN MUKA FREATIK


KECAMATAN IMOGIRI, KABUPATEN BANTUL
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
U Proyeksi : Transverse Mercator
Sistem Grid : Unit Transverse Mercator
Datum Horizontal : WGS 84
Zone : 49 M
0 1 2 3 KM

LEGENDA Kedalaman Muka Airtanah


C
#
Y Camat 1 Airtanah Dangkal ( < 7,0 meter )
D
S
# Desa
2 Airtanah Sedang ( 7,0 - 15,0 meter )
Kontur Topografi
3 Airtanah Dalam ( > 15 meter )
Sungai
Batas Administrasi
Desa
Kecamatan
Kabupaten
Transportasi Sumber :
Jalan Kolektor 1. Peta RBI Digital skala 1 : 25.000, Lembar Bantul, Tahun 1999
2. Peta RBI Digital skala 1 : 25.000, Lembar Imogiri, Tahun 1999
Jalan Lokal 3. Laporan Penelitian Penyelidikan Potensi Airtanah Bantul, 2006
4. Laporan Penelitian Ketersediaan Airtanah, 2007
Jalan Setapak 5. Survei lapangan, 2008
Dibuat Oleh :
Pandji Riesdiyanto
03/ 167954/ GE/ 05450

Gambar 4.4. Peta Zonasi Kedalaman Muka Freatik Daerah Penelitian

76
4.2.1. Model Penampang Hidrostratigrafi
Hasil kondisi hidrostratigrafi di daerah penelitian dilakukan berdasarkan
model hidrostatigrafi dalam bentuk 2 dimensi, yang bertujuan untuk mengetahui
kondisi akuifer, tebal akuifer, material penyusun berdasarkan interpretasi nilai
tahanan jenis batuan, dan deskriptif potensi airtanah di daerah penelitian. Analisis
model hidrostratigrafi yang telah dilakukan pembuatan cross-section berdasarkan
kondisi geomorfologi dan geologi daerah penelitian. Interpretasi material
penyusun ditentukan dengan menggunakan Tabel 4.1. dan menggunakan data bor
pada satuan bentuklahan yang sama. Ketebalan rerata ditentukan dengan
interpretasi menggunakan peta zonasi kedalaman muka freatik daerah penelitian
yang tersaji pada Gambar 4.4. Secara detil penampang model hidrostratigrafi
disajikan sebagai berikut:

a. Model Penampang Hidrostratigrafi G10-G7-G8-G6


Jalur pertama pendugaan geolistrik G10-G7-G8-G6 melewati Desa Imogiri,
Karang Talun, Kebon Agung, dan Sriharjo. Proses aliran sungai berupa endapan
Sungai Opak terlihat pada lapisan material penyusun bagian atas. Kondisi
hidrostratigrafi pada Gambar 4.5. memiliki 3 perlapisan batuan. Lapisan pertama
merupakan endapan fluvial mengandung material lempung yang memiliki kondisi
miskin airtanah, dan termasuk akuitard. Menurut Todd (1980); Akuiklud atau
lapisan kedap air adalah suatu lapisan jenuh air yang mengandung air tetapi tidak
mampu melepaskannya dalam jumlah berarti, sedangkan akuitard atau lapisan
lambat air adalah suatu lapisan sedikit lulus air yang tidak mampu melepaskan air
dalam arah mendatar, tetapi melepaskan air cukup berarti ke arah vertikal.
Ketebalan relatif akuitard pada bagian atas ini pada titik pendugaan
geolistrik G10 dan G6 adalah 2-5 meter. Lapisan kedua merupakan akuifer yang
mengandung airtanah potensial, memiliki material penyusun berupa pasir, kerikil,
kerakal, breksi dan aluvium. Material penyusun tersebut merupakan formasi
batuan dari Endapan Gunung Merapi Muda (Qmi). Ketebalan rerata lapisan ini
memiliki ketebalan akuifer rerata + 48 meter. Perlapisan batuan ketiga merupakan
batuan dasar yang sulit meluluskan airtanah, dimana material penyusun terdiri dari

77
material lempung, gamping tufan, dan batugamping, sehingga lapisan ini disebut
sebagai akuiklud.

Gambar 4.5. Interpretasi Model Penampang Hidrostratigrafi G10-G7-G8-G6

b. Model Penampang Hidrostratigrafi G5-G4


Jalur kedua pendugaan geolistrik G5-G4 berada pada suatu lembah antar
perbukitan atau Cekungan Wukirsari, sehingga dapat diketahui bahwa terjadi
akumulasi airtanah menuju suatu cekungan/lembah antar perbukitan tersebut.
Airtanah terkonsentrasi pada suatu wilayah lembah antar perbukitan atau
cekungan atau, dimana arah aliran airtanah terakumulasi menuju cekungan
tersebut (Santosa dan Adji, 2006). Berdasarkan Gambar 4.6. material penyusun
terdiri dari material rombakan perbukitan di sekitarnya, material penyusun terdiri
dari material lempung, gamping tufan, aluvium, sehingga kondisi airtanah miskin,
memiliki fluktuasi yang besar pada musim kemarau dan penghujan. Lapisan ini
memiliki ketebalan rerata + 40 meter. Sebelah barat dari jalur pendugaan
geolistrik pada G4 terdapat bidang patahan minor, sebelah utara terjadi
pengangkatan dan sebelah selatan terjadi pengangkatan, seperti terlihat pada
Gambar 4.6. dan Gambar 4.3.
Ketebalan lapisan antara jalur pendugaan geolistrik G5 dan G4 memiliki
ketebalan rerata + 43 meter, dimana material penyusun terdiri dari material
lempung, aluvium, gamping tufan, dan pasir, sehingga akuifer ini mengandung
cukup airtanah. Lapisan sebelah barat atau pendugaan geolistrik G4 memiliki
airtanah potensial yang merupakan Endapan Gunungapi Merapi Muda. Ketebalan

78
rerata lapisan ini + 58 meter, lapisan tersebut cukup potensial dalam memiliki
ketersediaan airtanah.

Gambar 4.6. Interpretasi Model Penampang Hidrostratigrafi G5-G4

c. Model Penampang Hidrostratigrafi G11-G3-G9-G2


Berdasarkan Gambar 4.7. terdapat dua proses dominan dari jalur
pendugaan geolistrik terhadap material penyusun, dimana proses volkanik dari
Endapan Gunungapi Merapi Muda dan Proses Fluvial dari Sungai Opak yang
berada di sebalah Barat daerah penelitian. Proses Fluvial mengandung material
lempung, sehingga airtanah yang tersimpan sulit meluluskan airtanah dalam
jumlah yang berarti. Kondisi fluktuasi airtanah cukup besar pada musim
penghujan dan musim kemarau. Graben Bantul banyak dijumpai lensa-lensa tipis
lempung yang membentuk lapisan akuitard. Lapisan lempung ini menyisip di
antara lapisan aluvium penyusun akuifer. Diperkirakan lapisan lempung ini
terbentuk akibat pengendapan sedimen fluvial lempungan oleh sungai-sungai
yang mengalir di wilayah ini (Santosa dan Adji, 2006).
Ketebalan rerata lapisan akuitard dari proses fluvial + 5-27 meter pada G11
dan G2, lapisan ini semakin menipis kearah Selatan pada G11 dan dijumpai
kembali pada G2. Lapisan atas memiliki kandungan airtanah yang cukup dengan
ketebalan rerata + 25 meter. Ketebalan dari perlapisan yang berada di bawahnya
memiliki ketebalan rerata + 72 meter dan lapisan paling bawah memiliki tebal +
67 meter.

79
Koluvial

Gambar 4.7. Interpretasi Model Penampang Hidrostratigrafi G11-G3-G9-G2

d. Model Penampang Hidrostratigrafi G1-G2


Model penampang hidrostratigrafi dari jalur pendugaan geolistrik Gambar
4.8. berada pada Desa Selopamioro dan Desa Sriharjo, dimana Desa Sriharjo pada
titik pengukuran memiliki kondisi airtanah payau-asin. Jika dilihat dari hasil
material penyusun pada titik pengukuran G1, maka lensa airtanah dengan material
penyusun lempung dominan mempengaruhi kualitas airtanah di daerah tersebut.
Lapisan akuifer memiliki ketebalan rerata + 79 meter dengan material penyusun
lempung, aluvium, dan pasir, sehingga memiliki kondisi cukup airtanah.
Lapisan paling bawah pada model penampang hidrostratigrafi merupakan
batuan dasar dengan material penyusun berasal dari gunungapi, dimana material
penyusun berasal dari Endapan Merapi Muda dan Formasi Nglanggeran. Lapisan
ini memiliki ketebalan rerata + 93 meter. Kedua material penyusun batuan dasar
pada G1 berasal dari Formasi Nglanggeran, sedangkan G2 berasal dari Endapan
Gunungapi Merapi Muda, sehingga pada interpretasi model penampang
hidrostratigrafi sulit membedakan antara kedua material penyusun gunungapi
tersebut.

80
Gambar 4.8. Interpretasi Model Penampang Hidrostratigrafi G1-G2

Hasil perumusan karakteristik akuifer dari jalur pendugaan geolistrik yang


disajikan dalam berbagai model penampang hidrostratigrafi di daerah penelitian,
maka dapat disajikan dalam Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Karakterisik Akuifer Berdasarkan Model Penampang Hidrostratigrafi


Daerah Penelitian
Jalur Tebal
Jenis Tipe Satuan
No Pendugaan Stratum Akuifer
Akuifer Akuifer Bentuklahan
Geolistrik (meter)
2m
Stratum 1
(utara) dan Dataran
(utara) dan Akuitard Melayang
5m aluvial
(selatan)
(selatan)
G10 – G7 – G8 –
1. Dataran
G6 Stratum 2 Akuifer Bebas 48 meter
aluvial
Semi
Dataran
Stratum 3 Akuitard tertekan, > 85 meter
aluvial
Tertekan
Lembah antar
Stratum 1 Semi
Akuitard 40 meter Perbukitan
(timur) tertekan
Baturagung
Lerengkaki
2. G 5 – G4
Stratum 2 Akuifer Bebas 43 meter Perbukitan
Baturagung
Stratum 3 Dataran
Akuifer Bebas 58 meter
(barat) aluvial
5m
Stratum 1 Melayang, Kipas Koluvial
(selatan)
(selatan) Akuitard Semi dan Dataran
dan 27 m
G11 – G3 – G9 – dan (utara) tertekan aluvial
3. (utara)
G2
Dataran
Stratum 2 Akuifer Bebas 25 meter aluvial dan
Kipas koluvial
Sumber: Hasil Analisis dan Perumusan, 2008

81
Lanjutan Tabel 4.3.
Jalur Tebal
Jenis Tipe Satuan
No Pendugaan Stratum Akuifer
Akuifer Akuifer Bentuklahan
Geolistrik (meter)
Dataran
Stratum 3 Akuifer Bebas 72 meter aluvial dan
G11 – G3 – G9 – Kipas koluvial
3.
G2 Kipas koluvial
Stratum 4 Akuifer Bebas 67 meter dan Dataran
aluvial
15 m
Stratum 1
(timur) Dataran
(timur) dan Akuitard Melayang
dan 3 m aluvial
(barat)
(barat)
4. G 1 – G2 Dataran
Stratum 2 Akuifer Bebas 79 meter
aluvial
Semi
Dataran
Stratum 3 Akuifug tertekan, 93 meter
aluvial
Tertekan
Sumber: Hasil Analisis dan Perumusan, 2008

4.2.2. Sistem Akuifer


Merujuk pada hasil model penampang hidrostratigrafi, maka sistem
akuifer di daerah penelitian memiliki 2 sistem akuifer, yaitu Sistem Perbukitan
Baturagung dan Sistem Akuifer Merapi secara umum, yang merupakan bagian
dari sistem akuifer di Provinsi D. I. Yogyakarta. Menurut Suyono (2000), bahwa
airtanah di Lereng Merapi bagian Selatan di Wilayah D. I. Yogyakarta disebut
sebagai akuifer merapi, akuifernya terdiri dari Formasi Sleman dan Yogyakarta.
Formasi Sleman berada di bawah Formasi Yogyakarta dengan material lebih kasar
dengan ketebalan 38 meter dan di selatan kota Yogyakarta 120 meter, sedangkan
Formasi Yogyakarta memiliki tebal lebih dari 45 meter.
Pembagian sistem akuifer juga didasarkan kepada satuan unit bentuklahan,
dimana sistem akuifer yang terdapat di daerah penelitian adalah sistem akuifer
dataran aluvial, sistem akuifer lembah antar perbukitan, dan sistem akuifer
lerengkaki antar perbukitan. Sistem akuifer tersebut memiliki ketersediaan
airtanah yang potensial, dimana keterdapatan perlapisan akuifer relatif cukup tebal
dari berbagai material penyusun pembentuk akuifer (pasir, kerikil, kerakal, dan
aluvium). Material penyusun tersebut dipengaruhi adanya proses geomorfologi
yang bekerja pada setiap satuan bentuklahan.

82
Sistem akuifer pada daerah dengan topografi dataran memiliki lapisan
akuitard sebagai lensa airtanah, dimana material penyusun ini terpengaruh dari
proses fluvial, akibat proses aliran sungai di sekitar derah penelitian. Lensa
airtanah atau akuifer melayang tersisipkan diantara akuifer bebas, hal ini dapat
terlihat dari model penampang hidrostratigrafi daerah penelitian. Sistem akuifer
perbukitan tidak dapat dikatakan sebagai akuifer, karena material penyusun
bersifat akuifer sekunder, dan kondisi material penyusunnya yang relatif tidak
mampu menyimpan airtanah dengan baik, sehingga airtanah terdapat pada sistem
percelahan atau retakan.
Satuan akuifer perbukitan relatif miskin airtanah dan akan mengalami
kekeringan pada musim kemarau. Selama musim penghujan, airtanah akan
mengalir melalui sistem percelahan atau perlapisan batuan, yang keluar berupa
rembesan (seepage). Pada struktur patahan yang terdapat pada suatu tekuk lereng
perbukitan, kemungkinan dapat dijumpai pemunculan mata air, yang merupakan
konsentrasi aliran airtanah yang muncul ke permukaan bumi. Pada umumnya
airtanah berasa tawar, jernih, dan berkualitas baik sebagai sumber air minum,
khusunya pada satuan Perbukitan Baturagung. Hal ini dikarenakan batuan
penyusunnya berupa batuan-batuan volkan tua, seperti: breksi, batupasir, dan
andesitis (Santosa dan Adji, 2006).
Pada daerah penelitian terdapat sub sistem akuifer lembah antar perbukitan
atau cekungan, hal ini terlihat dari model penampang hidrostratigrafi di atas pada
Gambar 4.6. sistem akuifer ini terlihat pada bentuk kontur topografi di sebelah
utara daerah penelitian, dimana terjadi akumulasi airtanah pada daerah tersebut.
Sistem akuifer ini terjadi bersifat lokal dengan material penyusun berasala dari
rombakan material perbukitan di sekitarnya, sehingga sistem akuifer ini memiliki
lapisan akuitard pada titik pengukuran G5 dan akuifer pada titik pengukuran G4.
Lapisan sistem akufer merapi memiliki airtanah potensial dengan ketebalan
rerata akuifer yang cukup tebal dalam menyimpan airtanah, begitupula pada
sistem akuifer perbukitan semakin tebal, akan tetapi pada sistem akuifer ini
bersifat akuifer sekunder. Kondisi keberadaan airtanah pada lapisan akuifer, salah
satunya dipengaruhi oleh tenaga endogen yang bekerja pada saat ini dan masa

83
lampau. Secara struktur daerah penelitian merupakan bagian dari bidang patahan
yang berada di sebelah timur dari Graben Bantul. Perbedaan sistem akuifer di
setiap bentuklahan, mempengaruhi karakteristik airtanah bebas daerah penelitian.
Karakteristik airtanah bebas dalam sistem akuifer di daerah penelitian disajikan
pada Tabel 4.4. berikut.

Tabel 4.4. Karakteristik Airtanah Bebas di Satuan Bentuklahan Daerah Penelitian


Satuan
No Karakteristik Akuifer Karakteristik Airtanah Bebas
Bentuklahan
• Jenis akuifer: akuifer ƒ Kualitas airtanah tawar, DHL rendah
melayang, akuitard ƒ Lapisan akuifer relatif tebal
• Tipe akuifer: bebas, ƒ Berdasarkan materialnya memiliki
semi tertekan nilai K (permeabilitas) baik.
1. Dataran aluvial • Memiliki lapisan ƒ Airtanah potensial tinggi untuk diturap
akuifer yang tebal ƒ Sifat fisik airtanah (rasa,warna, dan
• Material penyusun bau) dominan baik
akuifer: pasir, kerikil, ƒ Faktor penghambat: lensa airtanah
kerakal, aluvium menyebabkan airtanah payau-asin
• Jenis akuifer: akuifer ƒ Kualitas airtanah tawar, DHL rendah
melayang, akuitard ƒ Lapisan akuifer relatif cukup tebal
• Tipe akuifer: semi ƒ Berdasarkan materialnya memiliki
tertekan, tertekan nilai K (permeabilitas) yang baik-
• Memiliki ketebalan sedang.
Dataran
2. lapisan akuifer sedang ƒ Airtanah potensial cukup untuk
koluvial
• Material penyusun: diturap
breksi tuff, tuff dasit, ƒ Sifat fisik airtanah (rasa,warna, dan
tuff andesit, dan bau) dominan baik
batulempung tufan ƒ Faktor penghambat: lensa airtanah
menyebabkan airtanah payau-asin
• Jenis akuifer: akuitard ƒ Kualitas airtanah tawar, DHL rendah-
akuifer melayang, sedang
akuifer ƒ Lapisan akuifer cukup tebal
• Tipe akuifer: semi ƒ Berdasarkan materialnya memiliki
Lembah antar tertekan, bebas nilai K (permeabilitas) sedang-buruk.
3. Perbukitan • Memiliki ketebalan ƒ Airtanah potensial sedang untuk
Baturagung lapisan akuifer sedang diturap
• Material penyusun: ƒ Sifat fisik airtanah (rasa,warna, dan
pasir, lempung, breksi, bau) dominan baik
tuff, aglomerat, ƒ Faktor penghambat: lensa airtanah
batugamping menyebabkan airtanah payau-asin
Sumber: Hasil Analisis dan Perumusan, 2008

84
Lanjutan Tabel 4.4.
Sistem Karakteristik
No Karakteristik Airtanah Bebas
Akuifer Akuifer
• Jenis akuifer: akuifer, ƒ Kualitas airtanah tawar, DHL rendah-
akuitard sedang
• Tipe akuifer: bebas, ƒ Lapisan akuifer cukup tebal
semi tertekan ƒ Berdasarkan materialnya memiliki
• Memiliki ketebalan nilai K (permeabilitas) sedang-buruk.
4. Kipas koluvial lapisan akuifer sedang ƒ Airtanah potensial cukup untuk
• Material penyusun: diturap
pasir, lempung, breksi, ƒ Sifat fisik airtanah (rasa,warna, dan
gamping tufan bau) dominan baik
ƒ Faktor penghambat: lensa airtanah
menyebabkan airtanah payau-asin
• Jenis akuifer: akuifer, ƒ Kualitas airtanah tawar, DHL rendah
akuitard ƒ Lapisan akuifer cukup tebal
• Tipe akuifer: bebas, ƒ Berdasarkan materialnya memiliki
semi tertekan nilai K (permeabilitas) yang sedang-
• Memiliki ketebalan buruk.
lapisan akuifer sedang ƒ Airtanah potensial sedang untuk
Lerengkaki
• Material penyusun: diturap
5. Perbukitan
pasir, lempung, breksi, ƒ Sifat fisik airtanah (rasa,warna, dan
Baturagung
gamping tufan, bau) dominan baik
batugamping ƒ Faktor penghambat: lensa airtanah
menyebabkan airtanah payau-asin,
keterdapatan material penyusun
porositas sekunder yang bersifat
melarutkan airtanah.
• Jenis akuifer: Akuitard, ƒ Kualitas airtanah tawar, DHL rendah
akuifug ƒ Lapisan non akuifer tebal
• Tipe akuifer: non ƒ Berdasarkan materialnya memiliki
akuifer nilai K (permeabilitas) yang buruk.
• Memiliki ketebalan ƒ Airtanah tidak potensial untuk diturap
Perbukitan ƒ Sifat fisik airtanah (rasa,warna, dan
6. Struktural lapisan akuifer rendah
(non akuifer) bau) dominan baik
Baturagung ƒ Faktor penghambat: keterdapatan
• Material penyusun:
batugamping, tuff material penyusun porositas sekunder
napalan, breksi yang bersifat melarutkan airtanah.
gunungapi, gamping
tufan
Sumber: Hasil Analisis dan Perumusan, 2008

85
4.3. Hidrogeokimia Airtanah
4.3.1 Kualitas Airtanah
Kualitas air sangat penting artinya bagi kehidupan saat ini karena makhluk
hidup tidak akan dapat hidup tanpa adanya air. Kualitas air dalam hal ini
mencakup keadaan fisik, kimia, dan biologi yang dapat mempengaruhi
ketersediaan air untuk kebutuhan manusia, pertanian, industri rekreasi, dan
pemanfaatan lainnya (Asdak, 1995). Paramater kualitas airtanah dalam penentuan
analisis kimia airtanah daerah penelitian berupa BOD, COD, DO, Nitrat (NO3),
Nitrit (NO2), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Potasium (K), Natrium (Na), Besi
(Fe), Sianida (SiO2), Sulfat (SO4), Klorida (Cl), HCO3, CO3, dan Coliform.
Menurut Hem (1971); Siklus hidrologi yang terjadi di alam mempengaruhi
konsentrasi asal-usul usur kimia air terhadap evaluasi analisis kualitas air. (Hem,
1971).
Komposisi kimia airtanah tidak dibahas secara lanjut karena digunakan
sebagai perhitungan indeks kejenuhan airtanah dan tipe kimia airtanah, kualitas air
daerah penelitian menekankan pada daya hantar listrik airtanah. Sifat fisik dan
kimia airtanah dapat diukur secara kuantitatif dengan menggunakan alat ukur
tersendiri dan dilakukan pada tubuh air (sumur gali), sehingga data yang didapat
belum mengalami perubahan. Kualitas airtanah di daerah penelitian banyak
digunakan sebagai sumber air minum, dimana daya hantar listrik merupakan
tingkatan akumulasi ion-ion terlarut yang terdapat dalam suatu wadah akuifer
yang dinyatakan dalam satuan μmhos/cm atau μS/cm, semakin tinggi konsentrasi
jumlah ion-ion terlarut, maka kadar nilai konduktivitas untuk menentukan sifat
fisik airtanah (tawar, payau, dan asin) dari daya hantar listrik airtanah tersebut.
Akumulasi ion-ion terlarut tersebut disajikan pada Gambar 4.9.
Dusun Siluk I, Desa Selopamioro terdapat nilai daya hantar listrik sedang,
dengan tipe/kondisi kualitas airtanah payau-asin dengan skala lokal. Hal ini dapat
dilihat dari material penyusun batuan berupa material lempung seperti jalur
pendugaan geolistrik pada Gambar 4.8. diatas. Material tersebut merupakan hasil
dari sedimentasi sungai serta akumulasi ion terlarut dari perbukitan yang terbawa
oleh aliran airtanah menuju ke daerah tersebut. Lempung yang padat dan serpihan

86
batuan (shales) dapat menjadi lapisan yang semi kedap air, dimana molekul-
molekul air akan mengalir meninggalkan ion-ion kimia, sehingga hal ini
meningkatkan konsentrasi garam pada suatu lapisan formasi geologi (Kodoatie,
1996).
Profil penampang sampel airtanah di daerah penelitian pada berbagai
kedalaman akuifer disajikan dalam bentuk grafik plot kedalaman dengan bantuan
perangkat lunak aquachem 4.0, sehingga dapat diketahui gambaran nilai
konduktivitas airtanah daerah penelitian. Kekurangan dari model tersebut adalah
minimalnya informasi secara detil, dikarenakan minimalnya pengambilan jumlah
sampel airtanah. Profil sampel airtanah dari akumulasi ion terlarut atau daya
hantar listrik terhadap kedalaman sumur gali daerah penelitian disajikan pada
Gambar 4.10. dan persebaran pengambilan lokasi sampel airtanah pada Tabel 4.5.

87
430000 mT 435000 mT

419958 m T 42 9957 mT 439956 m T

I N SET KABUPA TEN


KECAMATAN

91 39086 mU
SLEMA N

9 139086
KOTAMADYA
PLERET
D.I. YOGYAKARTA

KECAMATAN
JETIS

912908 7m U
9129087

KABUPATE N
B ANTUL
KABUPATEN
KULONPROGO

91 19088 mU
SD
#
9 119088

KABUPATEN
GUNUNGKIDU L
SAMU
DR Daerah Penelitian
WUKIRSARI
A HIN
DIA

419958 42 9957 439956

9125000 mU
9125000

IMOGIRI

#D
S
#D
S YC
#
KARANGTALUN

D#
S #D
S

KEBON AGUNG
GIRIREJO KECAMATAN
#D
S DLINGO

KABUPATEN
BANTUL

KARANG TENGAH

D SRIHARJO
S
#

o
Oy
Sung a i Opak

i
ga

n
Su D
S
#

9120000 mU
9120000

SELOPAMIORO

KECAMATAN
PUNDONG KABUPATEN
GUNUNGKIDUL

430000 435000

PETA ZONASI DAYA HANTAR LISTRIK AIRTANAH


KECAMATAN IMOGIRI, KABUPATEN BANTUL
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
U Proyeksi : Transverse Mercator
Sistem Grid : Unit Transverse Mercator
Datum Horizontal : WGS 84
Zone : 49 M
0 1 2 3 KM

LEGENDA
C Zonasi Daya Hantar Listrik
#
Y Camat
D Airtanah Tawar ( < 1250 mmhos/cm)
S
# Desa
Airtanah Payau ( 1250 - 2500 mmhos/cm )
Kontur Topografi

Sungai
Batas Administrasi
Desa
Kecamatan
Kabupaten
Transportasi
Sumber :
Jalan Kolektor 1. Peta RBI Digital skala 1 : 25.000, Lembar Bantul, Tahun 1999
2. Peta RBI Digital skala 1 : 25.000, Lembar Imogiri,Tahun 1999
Jalan Lokal 3. Data Sekunder Survei Lapangan, 2006
4. Survei Lapangan, 2008
Jalan Setapak Dibuat Oleh :
Pandji Riesdiyanto
03/ 167954/ GE/ 05450

Gambar 4.9. Peta Zonasi Daya Hantar Listrik Daerah Penelitian

88
Gambar 4.10. Model Profil Plot Sampel Airtanah vs Kedalaman Sumur Gali Daerah Penelitian
(Sumber: Hasil Perhitungan dan Pemodelan, 2008)

Tabel 4.5. Persebaran Lokasi Sampel Airtanah di Daerah Penelitian


Koordinat Kedalaman
Kode Elavasi TMA Dasar Fluktuasi Eh DHL Suhu
No Muka Airtanah pH Lokasi
Sampel X Y (mdpal) (mdpal) (m) (m) (mV) (μmhos/cm) (oC)
(mdpal)
1 SAI - 1 432690 9120906 25,00 3,25 21,75 11,8 2,1 6,33 + 37 3280 25 Siluk I, Selopamioro, Imogiri
2 SAI - 2 429932 9120385 28,79 2,76 26,03 4,12 0,79 6,73 + 49 672 25 Putat, Selopamioro, Imogiri
3 SAI - 3 433720 9121738 25,00 6,12 18,88 7,43 5,07 6,6 + 42 472 25 Pengkol, Sriharjo, Imogiri
4 SAI - 4 430882 9121649 24,21 5,24 18,97 7,23 3,09 6,63 -44 428 25 Mojohuro, Sriharjo, Imogiri
5 SAI - 5 431424 9122115 32,88 5,43 27,45 5,93 3,27 6,74 -50 517 25 Srunggan, Karang Tengah, Imogiri
6 SAI - 6 433117 9123104 76,91 4,17 72,74 7,5 4,67 6,72 -49 695 25 Payaman Selatan, Girirejo, Imogiri
7 SAI - 7 431924 9123858 28,11 1,45 26,66 4,69 0,78 6,43 -34 615 25 Kruduk, Karang Talun, Imogiri
8 SAI - 8 430803 9123802 25,00 2,14 22,86 7,84 1,75 6,56 -40 812 25 Mandingan, Kebon Agung, Imogiri
9 SAI - 9 433068 9125732 37,50 2,19 35,31 4,05 1,5 6,69 -47 452 25 Giriloyo, Wukirsari, Imogiri
10 SAI - 10 435477 9126604 59,03 5,78 53,25 6,56 2,13 6,85 -55 675 25 Dengkeng, Wukirsari, Imogiri
Sumber: Hasil Pengukuran, Juni 2008

89
4.3.2 Variasi Indeks Kejenuhan Airtanah dan Tipe Kimia Airtanah
Kondisi pH (aktivitas ion hidrogen) dan Eh (potensial redoks) airtanah
daerah penelitian tersajikan pada Tabel 4.5. kondisi pH airtanah di daerah
penelitian berkisar 6,33-6,85 bersifat asam dengan kondisi pH airtanah normal.
Air yang bersifat asam (pH < 7) terdapat pada daerah-daerah dengan endapan
vulkanik, sedangkan air yang bersifat basa (pH > 7) terdapat pada daerah-daerah
dengan batuan ultramafik (Hem, 1971). Kisaran nilai Eh di daerah penelitian
berkisar antara (-) 55 - (+) 49, nilai negatif dan positif menunujukkan terjadinya
reaksi kimia antara anion dan kation yang dilepas dan elektron yang diikat.
Potensial redoks dinyatakan dalam satuan milivolt (mV). Nilai potensial hidrogen
dianggap sebagai nilai nol (baseline). Jika nilai Eh air lebih besar dari nilai Eh
hidrogen, maka potensial redoksnya positif. Potensial redoks yang positif
menunjukkan kondisi oksidasi, sedangkan nilai negatif menunjukkan kondisi
reduksi.
Parameter-paramater penentu komposisi kimia airtanah ditentukan
berdasarkan kondisi satuan bentuklahan dan salah satu sumber airtanah adalah air
hujan. Komposisi kimia di dalam air hujan umumnya terdiri atas: SiO2, Ca, Mg,
Na, K, NH4, HCO3, Cl, NO3, sedangkan Fe berasal dari batuan beku gunungapi
(Hem, 1971). Menurut Toth (1984), dalam Kodoatie (1996), proses reaksi kimia
dibagi menjadi dua, yaitu proses reaksi kimia primer dan proses reaksi kimia
sekunder. Proses reaksi kimia primer merupakan proses yang menyebabkan
bertambahnya unusur-unsur mineral yang larut dalam airtanah akibat kontak
langsung antara air dan batuan, sedangkan proses reaksi kimia sekunder
merupakan proses modifikasi dan perubahan-perubahan sifat-sifat kimia airtanah
pada waktu air melakukan kontak dengan bahan mineral padat.
Penentuan variasi indeks kejenuhan airtanah diambil dari sampel kualitas
airtanah sumur gali daerah penelitian dengan jumlah 10 sampel airtanah.
Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling, dimana pengambilan
sampel berdasarkan satuan bentuklahan dan penggunaan lahan yang berada di
daerah penelitian dengan bantuan perangkat lunak aquachem 4.0. Penggunaan
perangkat lunak tersebut bertujuan untuk mempermudah dalam melakukan

90
perhitungan, sehingga proses indeks kejenuhan reaksi kimia airtanah menuju
kesetimbangan di daerah penelitian dapat diketahui.
Hasil uji kualitas air sampel airtanah dikoreksi tingkat penyimpangan
kesalahan (charge balance error) dari hasil analisis laboratorium. Tingkat
persentase penyimpangan yang masih bisa diterima adalah 5 %, proses indeks
kejenuhan yang terjadi dalam airtanah SI = 1 kondisi setimbang/stabil, SI > 1
terjadi pengendapan, dan SI < 1 terjadi disolusi/pelarutan (Jankowski, 2001).
Komposisi kimia airtanah daerah penelitian yang telah dilakukan analisis
laboratorium menunjukkan bahwa tingkat penyimpangan kesalahan masih di
bawah 5 %, sehingga dapat dilakukan perhitungan nilai indeks kejenuhan airtanah
yang disajikan dalam Tabel 4.6.

Tabel 4.6. Nilai Indeks Kejenuhan Airtanah di Daerah Penelitian


Koordinat Indeks Kejenuhan Airtanah
No Kode Sampel
X Y Kalsit Dolomit Gipsum Kuarsit
1 SAI - 1 432690 9120906 -0,38 -2,09 -0,78 0,48
2 SAI - 2 429932 9120385 -1,59 -3,12 0,45
3 SAI - 3 433720 9121738 -1,26 -2,32
4 SAI - 4 430882 9121649 -1,37 -2,29 -3,06 0,48
5 SAI - 5 431424 9122115 -1,23 -2,51 -2,76 0,54
6 SAI - 6 433117 9123104 -1,24 -2,27 -2,84 0,68
7 SAI - 7 431924 9123858 -1,08 -2,55 -2,38 0,71
8 SAI - 8 430803 9123802 -1,03 -2,08 -2,62 0,61
9 SAI - 9 433068 9125732 -1,21 -2,54 -2,25 0,71
10 SAI - 10 435477 9126604 -1,32 -2,67 2,53 0,69
Sumber: Hasil Perhitungan dan Pemodelan, 2008

Pengeplotan konsentrasi unsur kimia hasil analisis laboratorium adalah


sebagai berikut:
1. Kation yang sejajar dengan sumbu X (Na+ + K+ dan Ca2+ + Mg2+)

Ca + Mg
2. Ca + Mg (%) = × 100%
( Na + K ) + (Ca + Mg )

3. Anion yang sejajar dengan sumbu Y (Cl- + SO42- dan CO3- + HCO32-)

91
Cl + SO4
4. Cl + SO4 (%) = − 2−
× 100%
(Cl + SO4 ) + (CO3 + HCO3 )

5. Konsentrasi unsur-unsur di atas dinyatakan dalam satuan mili-ekuivalen


per liter (meq/l) atau ekuivalen per miligram (epm).

Berdasarkan Tabel 4.7. rata-rata tipe kimia airtanah di daerah penelitian


merupakan airtanah dengan kelompok Va, walaupun terdapat kelompok airtanah I
dan II. Menurut Suwantinawati (1997); Kelompok airtanah ini merupakan
komposisi hidrokimianya diatur oleh proses pertukaran kation dan percampuran
dengan air konat asin, kualitas airtanahnya baik, dapat dikonsumsi untuk
keperluan sehari-hari. Tingkatan kualitas rasa airtanah pada kelompok V dengan
sub kelompok Va, Vb, Vc adalah tawar, payau, asin yang dapat terlihat pada
Gambar 4.12. Terdapat dua titik acuan dalam Gambar 4.12. yang ditandai simbol
segitiga yang menunjukkan komposisi kimia air laut, sedangkan segiempat kecil
merupakan komposisi kimia air sungai.
Penentu tipe kimia airtanah dalam akuifer ditentukan oleh mineral batuan
penyusun akuifer, dimana kelompok airtanah Va didominasi adanya pelapukan
batuan karbonat dari mineral gamping, dolomit, gipsum, kuarsit dan kalsit. Hal ini
dipengaruhi oleh gerakan aliran airtanah perbukitan menuju daerah yang relatif
datar di daerah penelitian dan terjadinya proses pelarutan. Daerah peneltian yang
didominasi banyaknya sungai bersifat perenial menyebabkan terjadinya proses
pertukaran kation, sehingga membentuk airtanah karbonat (I) dan airtanah
bikarbonat (II). Mineral-mineral dari hasil endapan gunungapi seperti mineral
silika, albite, plagioklas, dan besi relatif sedikit berpengaruh dan bersifat lokal
terhadap penentu tipe kimia airtanah daerah penelitian.

92
430000 mT 435000 mT

ù(ù ù ù(ù (

ù(ù ù ù (ù ù ù ù( ù ù(
41 99 58 mT 42 99 57 m T 4 39 95 6 mT

ùù (ù ù (ù ù(ù (ù
INSET KA BUPATEN
SLEMAN

91 39 08 6m U
KECAMATAN
91 390 86

KOT AMADY A
D.I. YOGYA KAR TA
PLERET S3b
D
U
ù

(ù ù (ù ù ù(ù ù ù ù( ù ù (ù ù ù ù ù(ù ù ù (ù ù ù ù ù ù (ù ù ù ù(ù ù(


D
U S20 #

(ù ù ù ù (ù ù ù ù ù(ù ù ù ù(ù ùù(ù (ù ù ù ù ((ù ù ù ù


91 290 87 mU
9 12 908 7

KECAMATAN SAI - 10
KABU PATEN
KABU PATEN
BAN TUL
JETIS

ù ù(ù
KU LON PR OGO
S17 ù ù ù(ù ù ù (ù ù ù(ù(
F1 S3b

SAI - 9

9 119 08 8 m U
911 90 88

S17 SD#
#
KABUPA TEN
GUNUN GKI DUL
SAM
U DR
AHI
ND
IA
Da er ah Penelit ian S17
WUKIRSARI

ù ù(ù ù ù ù(ù ù ù ù(ù ù ù ù(ù ù ù (ù ù ù ù ù(ù ù ù

ù (ù ù ù (ù ù ù
41 99 58 42 99 57 4 39 95 6

S15 S3b

9125000 mU
9125000

U
IMOGIRI
D

ù(ù ù
S3b
#D
S

(ù ù ù (ù ù
#D
S YC
#
S3b

(ù ù ù(ù ù
KARANGTALUN

SAI - 8 F1 #
S#
D#
SAI - 7 #D
S
S15

KEBON AGUNG
GIRIREJO KECAMATAN
#
D #D
S SAI - 6 DLINGO
U
S3a
KECAMATAN S3b
KABUPATEN
IMOGIRI
ù ù (ù ù ù ù (ù ù
(ù ù ù ù ù(ù ù ù ù(ù ù (ù ù ù(
BANTUL

ù ù (ù ù ù (ù ù(
ù ù ù (ù ù ù ù (ù ù ù ù (ù ù ù ù(ù (ù ù (ù ù ù

ù ù (ù
ù ù ù(ù ù ù (ù ù ù (ù ù ù ù ù(ù ù ù (ù ù
F1 KARANG TENGAH
S15
#
ù ù ù(ù ù (ù ù ù(ù ù ù ù(ù ù (

ù ù(
SAI - 5 S3a

ù ù(
D SRIHARJO F1
S
# S3a SAI - 3

ù ù ù ù ù(ù ù ((ù ù (ù (ù (ù ù (ù(ù ù ( ù ù (ù ù(ù (ù ù ù(ù


#
ù ù (ù ù ù ù(ù ù ù
ùù ( ù(ù ù ù(ù ù ù(ù ù(ù ù ù ù(ù ù ù ù(ù ù ù ù(((ù ù ù ù ù ù(
# SAI - 4
o
Oy
Sung a i Opak

ù ù (ù ù ù(ù ù ù(ù ù ù(ù ù ù ù( ù(ù (


S3a
S3b
i
ga

ù (ù ù ù(ù ù ù (ù ù
n
Su ù ù(
ù (ù
SD
#
#
ù ù ù (ù
ù(ù ù ù ù(ù ù ù (ù ù ù (ù ù ù ù(ù ù(ù ù ù ù(ù (

SAI - 1 S3b
ù
#
ù ù ù ù( (ù ù ù ù

ù( ù ù(ù ù ù ù( ù(
SAI - 2 F1
ù ù (ù

9120000 mU
9120000

ù
S3b S3b
ù ù(ù

ù ù(
S3b

S17 SELOPAMIORO
S3b

KECAMATAN
PUNDONG KABUPATEN
S17
GUNUNGKIDUL

430000 435000

PETA PERSEBARAN LOKASI SAMPEL AIRTANAH


KECAMATAN IMOGIRI, KABUPATEN BANTUL
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
U Proyeksi : Transverse Mercator
Sistem Grid : Unit Transverse Mercator
Datum Horizontal : WGS 84
Zone : 49 M
0 1 2 3 KM

LEGENDA
SAI 1 Transportasi Lembah Antar Perbukitan Baturagung
# Sampel Airtanah Jalan Kolektor
S17
Tmse & Tmn : perselingan antara breksi - tuff, tuff dasit, tuff andesit,
serta batulempung tuffan, breksi gunungapi, breksi aliran, aglomerat,
C
#
Y Camat Jalan Lokal lava dan tuff

D S3a Lerengkaki Perbukitan Baturagung


S
# Desa Jalan Setapak Tmn : breksi gunungapi, breksi aliran, aglomerat, lava dan tuff

Perbukitan Struktural Baturagung


S3b Tmn, Tmse & Tmwl : breksi gunungapi, breksi aliran, aglomerat, lava, tuff,
Kontur Topografi perselingan antara breksi - tuff, tuff dasit, tuff andesit, batulempung tuffan,
batugamping terumbu, kalkarenit, dan kalkarenit tuffan
U
Sesar (U, bagian yang naik; D, bagian yang turun)
D
Sesar yang Direka, berdasarkan data gaya berat
Sungai Dataran Aluvial
F1 Qa & Qmi : Pasir, lempung, kerikil, kerakal, breksi, aglomerat, dan
Batas Administrasi leleran lava tak terpisahkan. Sumber :
1. Peta RBI Digital skala 1 : 25.000, Lembar Bantul, Tahun 1999
Desa S20 Dataran Koluvial 2. Peta RBI Digital skala 1 : 25.000, Lembar Imogiri, Tahun 1999
Tmse : perselingan antara breksi - tuff, tuff dasit, tuff andesit, serta 3. Interpretasi Peta Geologi skala 1 : 100.000 Lembar Yogyakarta,
Kecamatan batulempung tuffan
Tahun 1995
Kabupaten S15 Kipas Koluvial 4. Interpretasi Citra Satelit Landsat ETM Band 457, Tahun 2002
Tmn : breksi gunungapi, breksi aliran, aglomerat, lava dan tuff 5. Survei Lapangan, 2008
Dibuat Oleh :
Pandji Riesdiyanto
03/ 167954/ GE/ 05450

Gambar 4.11. Peta Persebaran Lokasi Sampel Airtanah Daerah Penelitian

93
Tabel 4.7. Penentuan Tipe Kimia Airtanah Daerah Penelitian
Kode Sampel SAI 1 Kode Sampel SAI 2
Unsur mg/L BA mmol/L meq/L % Unsur mg/L BA mmol/L meq/L %
2+ 2+
Ca 283,00 40,08 7,06 14,12 76,35 Ca 25,60 40,08 0,64 1,28 22,84
Mg2+ 6,01 24,31 0,25 0,49 2,67 Mg2+ 13,48 24,31 0,55 1,11 19,83
Na+ 85,00 22,99 3,70 3,70 19,99 Na+ 72,10 22,99 3,14 3,14 56,06
K+ 7,10 39,10 0,18 0,18 0,98 K +
2,80 39,10 0,07 0,07 1,28
18,50 100,00 5,59 100,00
Cl- 16,40 35,45 0,46 0,46 2,61 Cl- 16,40 35,45 0,46 0,46 8,95
SO42- 314,00 96,06 3,27 6,54 36,86 SO42- 0,10 96,06 0,00 0,00 0,04
CO32- 0,00 60,00 0,00 0,00 0,00 CO32- 0,00 60,00 0,00 0,00 0,00
HCO3- 655,00 61,02 10,73 10,73 60,53 HCO3- 287,00 61,02 4,70 4,70 91,01
17,73 100,00 5,17 100,00
Kelompok Airtanah = II Kelompok Airtanah = Va
Tipe = Ca - (HCO3)²¯ - SO4 CBE 2,10 Tipe = Na - Ca - (HCO3)²¯ CBE 3,96

Kode Sampel SAI 3 Kode Sampel SAI 4


Unsur mg/L BA mmol/L meq/L % Unsur mg/L BA mmol/L meq/L %
Ca2+ 48,88 40,08 1,22 2,44 37,82 Ca2+ 37,00 40,08 0,92 1,85 26,08
Mg2+ 34,50 24,31 1,42 2,84 44,02 Mg2+ 46,90 24,31 1,93 3,86 54,51
Na+ 24,80 22,99 1,08 1,08 16,73 Na+ 18,20 22,99 0,79 0,79 11,18
K+ 3,60 39,10 0,09 0,09 1,43 K+ 22,80 39,10 0,58 0,58 8,24
6,45 100,00 7,08 100,00
Cl- 16,40 35,45 0,46 0,46 7,77 Cl- 20,50 35,45 0,58 0,58 8,92
SO42- 0,10 96,06 0,00 0,00 0,03 SO42- 7,30 96,06 0,08 0,15 2,34
CO32- 0,00 60,00 0,00 0,00 0,00 CO32- 0,00 60,00 0,00 0,00 0,00
HCO3- 335,00 61,02 5,49 5,49 92,20 HCO3- 351,00 61,02 5,75 5,75 88,74
5,95 100,00 6,48 100,00
Kelompok Airtanah = Va Kelompok Airtanah = Va
Tipe = Mg - Ca - (HCO3)²¯ CBE 3,99 Tipe = Mg - Ca - (HCO3)²¯ CBE 4,41

Kode Sampel SAI 5 Kode Sampel SAI 6


Unsur mg/L BA mmol/L meq/L % Unsur mg/L BA mmol/L meq/L %
Ca2+ 60,90 40,08 1,52 3,04 48,91 Ca2+ 52,70 40,08 1,31 2,63 39,97
Mg2+ 24,85 24,31 1,02 2,04 32,91 Mg2+ 37,40 24,31 1,54 3,08 46,77
Na+ 24,80 22,99 1,08 1,08 17,36 Na+ 16,70 22,99 0,73 0,73 11,04
+ +
K 2,00 39,10 0,05 0,05 0,82 K 5,70 39,10 0,15 0,15 2,22
6,21 100,00 6,58 100,00
Cl- 30,80 35,45 0,87 0,87 15,13 Cl- 18,50 35,45 0,52 0,52 8,55
SO42- 8,10 96,06 0,08 0,17 2,94 SO42- 8,40 96,06 0,09 0,17 2,86
CO32- 0,00 60,00 0,00 0,00 0,00 CO32- 0,00 60,00 0,00 0,00 0,00
HCO3- 287,00 61,02 4,70 4,70 81,93 HCO3- 330,00 61,02 5,41 5,41 88,59
5,74 100,00 6,10 100,00
Kelompok Airtanah = Va Kelompok Airtanah = I
Tipe = Ca - Mg - (HCO3)²¯ CBE 3,96 Tipe = Mg - Ca - (HCO3)²¯ CBE 3,74

Sumber: Hasil Perhitungan, 2008

94
Lanjutan Tabel 4.7.
Kode Sampel SAI 7 Kode Sampel SAI 8
Unsur mg/L BA mmol/L meq/L % Unsur mg/L BA mmol/L meq/L %
Ca2+ 74,90 40,08 1,87 3,74 54,04 Ca2+ 75,10 40,08 1,87 3,75 47,82
Mg2+ 14,41 24,31 0,59 1,19 17,15 Mg2+ 32,43 24,31 1,33 2,67 34,05
Na+ 23,70 22,99 1,03 1,03 14,91 Na+ 21,30 22,99 0,93 0,93 11,82
K+ 37,60 39,10 0,96 0,96 13,91 K+ 19,30 39,10 0,49 0,49 6,30
6,92 100,00 7,84 100,00
Cl- 20,50 35,45 0,58 0,58 9,10 Cl- 22,60 35,45 0,64 0,64 8,90
SO42- 16,20 96,06 0,17 0,34 5,31 SO42- 10,33 96,06 0,11 0,22 3,00
CO32- 0,00 60,00 0,00 0,00 0,00 CO32- 0,00 60,00 0,00 0,00 0,00

HCO3- 332,00 61,02 5,44 5,44 85,60 HCO3- 385,00 61,02 6,31 6,31 88,10
6,36 100,00 7,16 100,00
Kelompok Airtanah = Va Kelompok Airtanah = Va
Tipe = Ca - (HCO3)²¯ CBE 4,22 Tipe = Ca - Mg - (HCO3)²¯ CBE 4,50

Kode Sampel SAI 9 Kode Sampel SAI 10


Unsur mg/L BA mmol/L meq/L % Unsur mg/L BA mmol/L meq/L %
Ca2+ 65,20 40,08 1,63 3,25 50,00 Ca2+ 53,20 40,08 1,33 2,65 43,10
Mg2+ 22,82 24,31 0,94 1,88 28,86 Mg2+ 22,43 24,31 0,92 1,85 29,96
Na+ 20,10 22,99 0,87 0,87 13,44 Na+ 22,10 22,99 0,96 0,96 15,61
+
K 19,60 39,10 0,50 0,50 7,70 K+ 27,30 39,10 0,70 0,70 11,34
6,51 100,00 6,16 100,00
Cl- 28,50 35,45 0,80 0,80 13,62 Cl- 28,50 35,45 0,80 0,80 14,22
SO42- 24,40 96,06 0,25 0,51 8,61 SO42- 16,40 96,06 0,17 0,34 6,04
CO32- 0,00 60,00 0,00 0,00 0,00 CO32- 0,00 60,00 0,00 0,00 0,00

HCO3- 280,00 61,02 4,59 4,59 77,77 HCO3- 275,00 61,02 4,51 4,51 79,74
5,90 100,00 5,65 100,00
Kelompok Airtanah = II Kelompok Airtanah = Va
Tipe = Ca - Mg - (HCO3)²¯ CBE 4,89 Tipe = Ca - Mg - (HCO3)²¯ CBE 4,30

Sumber: Hasil Perhitungan, 2008

Gambar 4.12. Penentuan Tipe Kimia Airtanah Daerah Penelitian


(Sumber: Hasil Perhitungan, 2008)
95
Proses reaksi kimia alam di dalam suatu siklus, akan menuju suatu
kesetimbangan yang dipengaruhi oleh berbagai proses-proses geomorfologi.
Proses menuju kesetimbangan dari suatu unsur atau senyawa kimia membutuhkan
waktu yang cukup lama yang tidak sesuai dengan umur manusia. Faktor indeks
kejenuhan airtanah menentukan tipe hidrogeokimia airtanah yang diketahui
dengan reaksi proses indeks kejenuhan airtanah di dalam akuifer. Keberadaan
airtanah di dalam wadahnya (akuifer) akan mengalami kontak dengan batuan.
Airtanah yang kontak dengan batuan mengalami kejadian dari serangkaian proses
kimia. Karakteristik hidrogeokimia airtanah daerah penelitian disajikan dalam
Tabel 4.8.

Tabel 4.8. Karakteristik Hidrogeokimia Airtanah di Setiap Satuan Bentuklahan


di Daerah Penelitian
Satuan Karakteristik Karakteristik Karakteristik
No
Bentuklahan Akuifer Airtanah Bebas Hidrogeokimia
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah tawar, ™ Tipe kimia airtanah
akuifer melayang, DHL rendah Va dan tipe kimia
akuitard ƒ Lapisan akuifer relatif tebal airtanah I dan II
• Tipe akuifer: ƒ Berdasarkan materialnya lokal
bebas, semi memiliki nilai K ™ Terjadi proses
tertekan (permeabilitas) baik. pelarutan mineral
Dataran • Memiliki lapisan ƒ Airtanah potensial tinggi kalsit dan dolomit
1.
aluvial akuifer yang tebal untuk diturap ™ Terjadi proses redoks
• Material penyusun ƒ Sifat fisik airtanah dan pertukaran
akuifer: pasir, (rasa,warna, dan bau) kation
kerikil, kerakal, dominan baik
aluvium ƒ Faktor penghambat: lensa
airtanah menyebabkan
airtanah payau-asin
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah tawar, ™ Tipe kimia airtanah
akuifer melayang, DHL rendah Va
akuitard ƒ Lapisan akuifer relatif ™ Terjadi proses
• Tipe akuifer: semi cukup tebal pelarutan mineral
tertekan, tertekan ƒ Berdasarkan materialnya kalsit, dolomit,
• Memiliki lapisan memiliki nilai K gipsum, dan dolomit
akuifer sedang (permeabilitas) yang baik- ™ Terjadi proses redoks
Dataran Material sedang.
2.
koluvial penyusun: breksi ƒ Airtanah potensial cukup
tuff, tuff dasit, tuff untuk diturap
andesit, dan ƒ Sifat fisik airtanah
batulempung tufan (rasa,warna, dan bau)
dominan baik
ƒ Faktor penghambat: lensa
airtanah menyebabkan
airtanah payau-asin
Sumber: Hasil Analisis dan Perumusan, 2008

96
Lanjutan Tabel 4.8.
Satuan Karakteristik Karakteristik Karakteristik
No
Bentuklahan Akuifer Airtanah Bebas Hidrogeokimia
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah tawar, ™ Tipe kimia airtanah
akuitard akuifer DHL rendah-sedang II
melayang, akuifer ƒ Lapisan akuifer cukup tebal ™ Terjadi proses
• Tipe akuifer: semi ƒ Berdasarkan materialnya pelarutan mineral
tertekan, bebas memiliki nilai K kalsit, dolomit,
• Memiliki lapisan (permeabilitas) sedang- gipsum, dan dolomit
Lembah antar akuifer sedang buruk. ™ Terjadi proses redoks
3. Perbukitan Material ƒ Airtanah potensial sedang
Baturagung penyusun: pasir, untuk diturap
lempung, breksi, ƒ Sifat fisik airtanah
tuff, aglomerat, (rasa,warna, dan bau)
batugamping dominan baik
ƒ Faktor penghambat: lensa
airtanah menyebabkan
airtanah payau-asin
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah tawar, ™ Tipe kimia airtanah
akuifer, akuitard DHL rendah-sedang Va
• Tipe akuifer: ƒ Lapisan akuifer cukup tebal ™ Terjadi proses
bebas, semi ƒ Berdasarkan materialnya pelarutan mineral
tertekan memiliki nilai K kalsit, dolomit,
• Memiliki lapisan (permeabilitas) sedang- gipsum, dan dolomit
akuifer sedang buruk. ™ Terjadi proses redoks
4. Kipas koluvial Material penyusun: ƒ Airtanah potensial cukup dan pertukaran
pasir, lempung, untuk diturap kation
breksi, gamping tufan ƒ Sifat fisik airtanah
(rasa,warna, dan bau)
dominan baik
ƒ Faktor penghambat: lensa
airtanah menyebabkan
airtanah payau-asin
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah tawar, ™ Tipe kimia airtanah I
akuifer, akuitard DHL rendah ™ Terjadi proses
• Tipe akuifer: ƒ Lapisan akuifer cukup tebal pelarutan mineral
bebas, semi ƒ Berdasarkan materialnya kalsit dan dolomit
tertekan memiliki nilai K ™ Terjadi proses redoks
• Memiliki lapisan (permeabilitas) yang
akuifer sedang sedang-buruk.
• Material ƒ Airtanah potensial sedang
Lerengkaki penyusun: pasir, untuk diturap
5. Perbukitan lempung, breksi, ƒ Sifat fisik airtanah
Baturagung gamping tufan, (rasa,warna, dan bau)
batugamping dominan baik
ƒ Faktor penghambat: lensa
airtanah menyebabkan
airtanah payau-asin,
keterdapatan material
penyusun porositas
sekunder yang bersifat
melarutkan airtanah.
Sumber: Hasil Analisis dan Perumusan, 2008

97
Lanjutan Tabel 4.8.
Satuan Karakteristik Karakteristik Karakteristik
No
Bentuklahan Akuifer Airtanah Bebas Hidrogeokimia
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah tawar, ™ Tipe kimia airtanah
Akuitard, akuifug DHL rendah Va
• Tipe akuifer: non ƒ Lapisan non akuifer tebal ™ Terjadi proses
akuifer ƒ Berdasarkan materialnya pelarutan mineral
• Memiliki lapisan memiliki nilai K kalsit, dolomit,
akuifer rendah (permeabilitas) yang buruk. gipsum, dan dolomit
(non akuifer) ƒ Airtanah tidak potensial ™ Terjadi proses redoks
Perbukitan
• Material untuk diturap dan pertukaran
6. Struktural
penyusun: ƒ Sifat fisik airtanah kation
Baturagung
batugamping, tuff (rasa,warna, dan bau)
napalan, breksi dominan baik
gunungapi, ƒ Faktor penghambat:
gamping tufan keterdapatan material
penyusun porositas
sekunder yang bersifat
melarutkan airtanah.
Sumber: Hasil Analisis dan Perumusan, 2008

4.4. Arahan Pemanfaatan Airtanah


Pemanfaatan airtanah di daerah penelitian mengacu pada karakteristik
akuifer, karakteristik airtanah bebas, dan karakteristik hidrogeokimia aitanah.
Hasil rekonstruksi pendugaan geolistrik mengenai karakteristik dan keterdapatan
akuifer daerah penelitian, terbagi menjadi sistem akuifer pada setiap satuan
bentuklahan. Karakteristik sistem akuifer dalam satuan bentuklahan daerah
penelitian termasuk dalam Sistem Akuifer Merapi dan Sistem Akuifer Perbukitan
Baturagung secara regional yang berada pada wilayah Provinsi D. I. Yogyakarta.
Ketersediaan airtanah dalam satuan sistem akuifer dataran aluvial, lembah antar
perbukitan atau cekungan, kipas koluvial dan lerengkaki perbukitan mempunyai
ketersediaan airtanah yang berlebih per tahunnya, sedangkan sistem akuifer
perbukitan struktural ketersediaan airtanah tidak dapat diketahui karena bersifat
non akuifer.
Ketersediaan airtanah dataran aluvial memiliki airtanah yang potensial
tinggi, akan tetapi keberadaan lensa airtanah menjadi faktor penghambat penentu
kualitas aitanah. Berdasarkan kualitas airtanah yang termasuk dalam karakteristik
airtanah bebas, daerah penelitian secara keseluruhan memiliki kualitas airtanah
relatif tawar. Daya hantar listrik airtanah pada di daerah Siluk I, Selopamioro
memiliki kualitas airtanah yang buruk dengan akumulasi ion terlarut tinggi dan

98
terjadi proses oksidasi dari material penyusun sebagai reduktor. Material tersebut
berasal dari proses fluvial dan rombakan material perbukitan sekitar, mengandung
airtanah bikarbonat dengan tipe kimia II. Indeks kejenuhan airtanah daerah ini
terjadi pelarutan mineral kalsit, dolomit, gipsum dan kuarsit.
Kualitas airtanah di dalam akuifer sebagai sumber air minum banyak
memiliki keunggulan daripada air permukaan, sehingga upaya pemeliharaan
airtanah sesuai pemanfaatannya harus tetap terjaga dengan baik, untuk menjamin
kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air. Pemanfaatan airtanah di daerah
resapan dan penurapan airtanah dikontrol oleh adanya kebijakan dari suatu
lembaga pemerintah. Secara umum tata lingkungan airtanah daerah penelitian
masih berada jauh dalam batas baku mutu air kelas I, hal ini diketahui dari
kualitas airtanah dan tipe kimia airtanah yang didominasi oleh tipe kimia air
kelompok Va, sedangkan I dan II secara lokal.
Pemanfaatan atau penurapan airtanah untuk memenuhi kebutuhan air
minum, seharusnya mengacu pada ketersediaan airtanah dan hidrogeokimia
airtanah, sehingga arahan pemanfaatan airtanah sesuai dengan rencana
pendayagunan airtanah. Mutu kualitas airtanah yang bersifat tawar dari nilai daya
hantar listrik airtanahnya dapat menjadi salah satu acuan dalam penyusunan
pendayagunaan airtanah untuk kebutuhan air minum di daerah pemukiman.
Akumulasi ion-ion terlarut airtanah yang bersifat payau di daerah penelitian dapat
digunakan sebagai pengairan sawah, perkebunan, dan tegalan.
Menurut Santosa dan Adji (2006); Arahan dan zonasi tataguna airtanah
daerah penelitian termasuk daerah zona penurapan I (daerah dengan penurapan
tinggi), zona penurapan airtanah III (daerah dengan penurapan airtanah rendah),
dan zona daerah tangkapan hujan dan resapan. Pertimbangan ini berdasarkan
potensi airtanah bebas serta faktor pembatas airtanah, seperti material penyusun
akuifer, kualitas airtanah, penyebaran akuifer, dan ketersediaan airtanah yang
terdapat di daerah penelitian. Kenampakan penggunaan dari pemanfaatan airtanah
di daerah penelitian disajikan pada Gambar 4.13.

99
Gambar 4.13. Penggunaan Pemanfaatan Airtanah Daerah Penelitian
(Sumber: Foto Lapangan, 2008)

Hal yang menjadi dasar untuk pemenuhan kebutuhan segala macam air
adalah baku mutu air kelas I (air minum), sehingga batas baku mutu toleransi
yang diperbolehkan dalam pemanfaatan airtanah lainnya seperti irigasi lebih
rendah, terkecuali airtanah fosil. Arahan pemanfaatan airtanah untuk air minum
daerah penelitian yang mengacu kepada karakteristik akuifer, karakteristik
airtanah bebas, dan karakteristik hidrogeokimia airtanah disajikan pada Tabel 4.9.

100
Tabel 4.9. Arahan Pemanfaatan Airtanah di Setiap Satuan Bentuklahan di Daerah Penelitian
Arahan
Satuan Karakteristik Karakteristik Karakteristik
No Pemanfaatan
Bentuklahan Akuifer Airtanah Bebas Hidrogeokimia
Airtanah
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah ™Tipe kimia ¾ Daerah
akuifer tawar, DHL rendah airtanah Va dan penurapan
melayang, ƒ Lapisan akuifer tipe kimia airtanah tinggi
akuitard relatif tebal airtanah I dan II ¾ Peruntukan
• Tipe akuifer: ƒ Berdasarkan lokal airtanah untuk
bebas, semi materialnya ™Terjadi proses air minum
tertekan memiliki nilai K pelarutan mineral ¾ Lokasi
• Memiliki lapisan (permeabilitas) baik. kalsit dan dolomit permukiman
1. Dataran aluvial akuifer yang ƒ Airtanah potensial ™Terjadi proses
tebal tinggi untuk diturap redoks dan
• Material ƒ Sifat fisik airtanah pertukaran kation
penyusun (rasa,warna, dan
akuifer: pasir, bau) dominan baik
kerikil, kerakal, ƒ Faktor penghambat:
aluvium lensa airtanah
menyebabkan
airtanah payau-asin
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah ™Tipe kimia ¾ Daerah
akuifer tawar, DHL airtanah Va penurapan
melayang, rendah ™Terjadi proses airtanah sedang
akuitard ƒ Lapisan akuifer pelarutan mineral ¾ Peruntukan
• Tipe akuifer: relatif cukup tebal kalsit, dolomit, airtanah untuk
semi tertekan, ƒ Berdasarkan gipsum, dan air minum
tertekan materialnya dolomit ¾ Lokasi
• Memiliki lapisan memiliki nilai K ™Terjadi proses permukiman
akuifer sedang (permeabilitas) yang redoks
2. Dataran koluvial • Material baik-sedang.
penyusun: breksi ƒ Airtanah potensial
tuff, tuff dasit, cukup untuk diturap
tuff andesit, dan ƒ Sifat fisik airtanah
batulempung (rasa,warna, dan
tufan bau) dominan baik
ƒ Faktor penghambat:
lensa airtanah
menyebabkan
airtanah payau-asin
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah ™Tipe kimia ¾ Daerah
akuitard akuifer tawar, DHL rendah- airtanah II penurapan
melayang, sedang ™Terjadi proses airtanah sedang
akuifer ƒ Lapisan akuifer pelarutan mineral ¾ Peruntukan
• Tipe akuifer: cukup tebal kalsit, dolomit, airtanah untuk
semi tertekan, ƒ Berdasarkan gipsum, dan air minum
bebas materialnya dolomit ¾ Lokasi
• Memiliki lapisan memiliki nilai K ™Terjadi proses permukiman
Lembah antar akuifer sedang (permeabilitas) redoks
3. Perbukitan • Material sedang-buruk.
Baturagung penyusun: pasir, ƒ Airtanah potensial
lempung, breksi, sedang untuk diturap
tuff, aglomerat, ƒ Sifat fisik airtanah
batugamping (rasa,warna, dan
bau) dominan baik
ƒ Faktor penghambat:
lensa airtanah
menyebabkan
airtanah payau-asin
Sumber: Hasil Analisis dan Perumusan, 2008
101
Lanjutan Tabel 4.9.
Arahan
Satuan Karakteristik Karakteristik Karakteristik
No Pemanfaatan
Bentuklahan Akuifer Airtanah Bebas Hidrogeokimia
Airtanah
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah ™Tipe kimia ¾ Daerah
akuifer, akuitard tawar, DHL rendah- airtanah Va penurapan
• Tipe akuifer: sedang ™Terjadi proses airtanah sedang
bebas, semi ƒ Lapisan akuifer pelarutan mineral dan resapan
tertekan cukup tebal kalsit, dolomit, airtanah
• Memiliki lapisan ƒ Berdasarkan gipsum, dan ¾ Peruntukan
akuifer sedang materialnya dolomit airtanah untuk
• Material memiliki nilai K ™Terjadi proses air minum
penyusun: pasir, (permeabilitas) redoks dan ¾ Lokasi
4. Kipas koluvial lempung, breksi, sedang-buruk. pertukaran kation permukiman
gamping tufan ƒ Airtanah potensial
cukup untuk diturap
ƒ Sifat fisik airtanah
(rasa,warna, dan
bau) dominan baik
ƒ Faktor penghambat:
lensa airtanah
menyebabkan
airtanah payau-asin
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah ™Tipe kimia ¾ Daerah
akuifer, akuitard tawar, DHL rendah airtanah I penurapan
• Tipe akuifer: ƒ Lapisan akuifer ™Terjadi proses airtanah sedang-
bebas, semi cukup tebal pelarutan mineral tinggi
tertekan ƒ Berdasarkan kalsit dan dolomit ¾ Peruntukan
• Memiliki lapisan materialnya ™Terjadi proses airtanah untuk
akuifer sedang memiliki nilai K redoks air minum
• Material (permeabilitas) yang ¾ Lokasi
penyusun: pasir, sedang-buruk. permukiman
lempung, breksi, ƒ Airtanah potensial
Lerengkaki gamping tufan, sedang untuk diturap
5. Perbukitan batugamping ƒ Sifat fisik airtanah
Baturagung (rasa,warna, dan
bau) dominan baik
ƒ Faktor penghambat:
lensa airtanah
menyebabkan
airtanah payau-asin,
keterdapatan
material penyusun
porositas sekunder
yang bersifat
melarutkan airtanah.
Sumber: Hasil Analisis dan Perumusan, 2008

102
Lanjutan Tabel 4.9.
Arahan
Satuan Karakteristik Karakteristik Karakteristik
No Pemanfaatan
Bentuklahan Akuifer Airtanah Bebas Hidrogeokimia
Airtanah
• Jenis akuifer: ƒ Kualitas airtanah ™Tipe kimia ¾ Daerah resapan
Akuitard, tawar, DHL rendah airtanah Va airtanah dan
akuifug ƒ Lapisan non akuifer ™Terjadi proses tangkapan hujan
• Tipe akuifer: non tebal pelarutan mineral ¾ Peruntukan
akuifer ƒ Berdasarkan kalsit, dolomit, airtanah untuk
• Memiliki lapisan materialnya gipsum, dan air minum dan
akuifer rendah memiliki nilai K dolomit koservasi
(non akuifer) (permeabilitas) yang ™Terjadi proses sumberdaya
• Material buruk. redoks dan airtanah
Perbukitan penyusun: ƒ Airtanah tidak pertukaran kation
6. Struktural batugamping, potensial untuk
Baturagung tuff napalan, diturap
breksi ƒ Sifat fisik airtanah
gunungapi, (rasa,warna, dan
gamping tufan bau) dominan baik
ƒ Faktor penghambat:
keterdapatan
material penyusun
porositas sekunder
yang bersifat
melarutkan airtanah.
Sumber: Hasil Analisis dan Perumusan, 2008

103

Beri Nilai