Anda di halaman 1dari 22

Penyelesaian sengketa HKI

Oleh:

Agus Ferryanto Piliang, S.H.

Kedudukan Pengadilan Niaga


Berdasarkan Pasal 300 UU No.34/2004 jo Pasal 280 ayat (1) UU No.4/1998 dibentuk Pengadilan Niaga Berdasarkan Kepres No.97/1999 dibentuk 5 (lima) Pengadilan Niaga, yaitu di Medan, Jakarta, Semarang, Surabaya dan Makasar (d/h Ujung Pandang), yang masing-masing berada dalam lingkungan pengadilan negeri. Hukum Acara Perdata yang berlaku di Pengadilan Niaga, hukum acara dan hukum pembuktian yang berlaku pada Pengadilan Niaga adalah Hukum Acara Perdata dan pembuktian berdasarkan HIR (Herziene Indonesich Reglement) untuk Pengadilan Niaga di Jawa dan Madura serta Rbg (Reglement Buite Gewesten untuk Pengadilan Niaga di luar Jawa dan Madura.

UU No. 15 Tahun 2001 tentang Peraturan perUUan Merek UU No. 14 tahun 2001 tentang Paten dalam Bidang HKI UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

UU No. 31 Tahun 2000 Industri UU No. 32 Tahun 2000 letak Sirkuit Terpadu UU No. 29 Tahun 2000 Tanaman UU No. 30 Tahun 2000 Dagang

tentang Desain

tentang Desain Tata

tentang Varietas
tentang Rahasia

Secara umum sengketa dalam HKI dibagi dalam 2 Jenis : Pidana Perdata *Didalam ketentuan peraturan perUUan HKI dikenal juga bentuk sengketa dalam hal Permohonan atau Administratif yakni pada saat permohonan pendaftaran ditolak oleh Ditjen HKI atau adanya pihak-pihak yang keberatan dengan permohonan yang diajukan oleh si Pemohon.

Sengketa HKI

Penyelesaian sengketa HKI melalui Pengadilan Niaga diatur dalam Undang Undang sebagai berikut : Paten (Pasal 117, dst). Merek (Pasal 76, dst). Cipta (Pasal 55, dst). Desain Industri (Pasal 46, dst). Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (Pasal 38, dst). Catatan :

Rahasia Dagang masuk kewenangan Pengadilan Negeri (Pasal 11, dst).

WAKTU PENYELESAIAN SENGKETA


Tenggang waktu penyelesaian sengketa mulai dari pendaftaran sampai putusan yaitu 90 (Sembilan puluh) hari dan dapat diperpanjang 30 (tiga puluh) hari untuk Hak Cipta (Pasal 61 Undang-Undang No. 19 Tahun 2002) dan Merek (Pasal 80 ayat (8) Undang-Undang 15 tahun 2001 tentang Merek) dan 180 hari untuk Paten (Pasal 121 ayat (2) Undang-Undang No. 14 tentang Paten). Waktu penyampaian gugatan kepada ketua pengadilan negeri oleh panitera adalah 2 hari (pasal 60 ayat (3) UU hak cipta, pasal 80 ayat (4) UU Merek) Waktu mempelajari gugatan dan penentapan hari sidang yaitu 3 hari setelah gugatan didaftarkan (pasal 60 ayat (4) UU hak cipta dan Pasal 80 ayat (5) UU Merek), sedang 14 hari dalam bidang Paten (Pasal 120 ayat (2) UU Paten).

Waktu mulai pemeriksaan gugatan yaitu paling lama 60 hari sejak gugatan didaftarkan (pasal 60 ayat (5) UU hak cipta, Pasal 120 ayat (3) UU Paten, dan Pasal 80 ayat (6) UU Merek). Jangka waktu pemanggilan para pihak yaitu 7 hari (pasal 61 ayat (1) UU hak cipta dan Pasal 80 ayat (7) UU Merek), sedangkan pada Paten jangka waktu pemanggilan para pihak lebih lama yaitu 14 hari sebelum persidangan pemeriksaan pertama (Pasal 121 ayat (1) UU Paten). Jangka waktu penyampaian putusan kepada para pihak yaitu 14 hari (Pasal 161 ayat (4) UU hak cipta, Pasal 121 ayat (4) UU Paten dan Pasal 80 ayat (10) UU Merek).

Apabila dalam hal para pihak keberatan dengan putusan Pengadilan Niaga hanya dapat diajukan upaya kasasi ke Mahkamah Agung Pasal (Pasal 62 ayat (1) UU hak cipta, Pasal 122 UU Paten dan Pasal 82 UU Merek. Jangka waktu permohonan kasasi adalah 14 hari sejak penerimaan putusan (Pasal 62 ayat (2) UU Hak Cipta, Pasal 123 ayat (1) UU Paten, dan Pasal 83 ayat (1) UU Merek). Jangka waktu penyampaian memori kasasi oleh pemohona dalah 14 hari untuk hak cipta (pasal 63 ayat 1 UU hak cipta), 7 hari untuk Paten (pasal 123 ayat (3) UU Paten) dan Merek (Pasal 83 ayat 3).

Jangka waktu permohonan pengiriman permohonan kasasi dan memori kasasi kepada pemohon yaitu 7 hari untuk gugatan hak cipta (pasal 63 ayat (2), 2 hari untuk Paten (Pasal 123 ayat (4) UU Paten) dan Merek (Pasal 83 ayat (4) UU Merek). Jangka waktu pengajuan memori kasasi oleh termohon adalah 14 hari sejak diterimanya memori kasasi untuk hak cipta(Pasal 63 ayat (3) UU Hak Cipta), 7 hari untuk paten (Pasal 123 ayat (5) UU Paten) dan Merek (Pasal 83 ayat (5) UU Merek). Jangka waktu pengiriman berkas perkara kasasi oleh panitera ke Mahkamah Agung yaitu 14 hari untuk hak cipta (Pasal 63 ayat (4) UU Hak Cipta), 7 hari untuk paten ( Pasal 123 ayat (6) UU paten) dan Merek (Pasal 83 ayat (6) UU Merek).

Jangka waktu penetapan hari sidang di Mahkamah Agung yaitu 14 hari untuk hak cipta(pasal 64 ayat (1) UU Hak Cipta), 2 hari untuk Paten (pasal 123 ayat (7) UU Paten) dan Merek (Pasal 83 ayat (7) UU Merek). Jangka waktu pemeriksaan atas permohonan kasasi adalah paling lama 60 hari sejak permohonan kasasi diterima oleh Mahkamah Agung (pasal 64 ayat (2) UU Hak Cipta, Pasal 123 ayat (8) UU Paten dan Pasal 83 ayat (8) UU Merek). Jangka waktu pengucapan putusan permohonan kasasi paling lama 90 hari sejak kasasi diterima oleh Mahkamah Agung untuk Hak Cipta dan Merek (Pasal 64 ayat (3) UU Hak Cipta dan Pasal 83 ayat (9) UU Merek), sedang untuk Paten 180 hari (pasal 183 ayat (9) UU Paten).

Jangka waktu penyampaian salinan putusan oleh Mahkamah Agung ke Panitera adalah paling lama 7 hari setelah permohonan kasasi diucapkan untuk hak cipta (Pasal 64 ayat (5) UU Hak Cipta), 3 hari untuk Paten dan Merek (pasal 123 ayat (11) UU Paten dan Pasal 83 ayat (11) UU Merek). Jangka waktu penyampaian salinan putsan kasasi oleh panitera ke para pihak yaitu 7 hari setelah putusan kasasi diterima oleh panitera untuk hak cipta (pasal 64 ayat (6) UU Hak Cipta), 2 hari untuk Paten dan Merek (psal 123 ayat (12) UU Paten dan Pasal 83 ayat (12) UU Merek.

TINDAK PIDANA DALAM BIDANG HKI

Berdasarkan peraturan perundang-undangan di atas, Pihak Kepolisian berwenang melakukan tindakan kepolisian baik yang bersifat pre-emtif, preventif dan represif terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan tindak pidana HaKI, khususnya bidang Paten dan Merek. Namun demikian, dengan diundangkannya UU khusus mengenai HKI, maka tindak pidana HKI termasuk dalam lingkup delik aduan, dan Pihak Kepolisian tidak dapat proaktif melakukan tindakan Pihak Kepolisian tanpa adanya pelaporan ataupun pengaduan pihakpihak yang merasa dirugikan. Pihak Kepolisian memerlukan penyesuain dalam berbagai hal yang terkait dengan tindakan polisional atau represif pro justitia, dari semula bersifat proaktif menjadi reaktif.

UU Merek diatur dalam Pasal 90 s.d Pasal 95; UU Paten diatur dalam Pasal 130 s.d Pasal 135; UU Hak Cipta diatur dalam Pasal 72 s.d Pasal 73; dan UU Desain Industri diatur dalam Pasal 54;

Ketentuan Pidana dalam PerUUan HKI

Pidana Merek

(Pasal 90) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Merek yang sama pada keseluruhannya dengan Merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (Pasal 91) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan Merek yang sama pada pokoknya dengan Merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan/atau jasa sejenis yang diproduksi dan/atau diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah). (Pasal 92) (1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan tanda yang sama pada keseluruhan dengan indikasigeografis milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang yang terdaftar, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (2) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan tanda yang sama pada pokoknya dengan indikasigeografis milik pihak lain untuk barang yang sama atau sejenis dengan barang yang terdaftar, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah). (3) Terhadap pencantuman asal sebenarnya pada barang yang merupakan hasil pelanggaran ataupun pencantuman kata yang menunjukkan bahwa barang tersebut merupakan tiruan dari barang yang terdaftar dan dilindungi berdasarkan indikasigeografis, diberlakukan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

(Pasal 93) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan tanda yang dilindungi berdasarkan indikasi-asal pada barang atau jasa sehingga dapat memperdaya atau menyesatkan masyarakat mengenai asal barang atau asal jasa tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah)

(Pasal 94) (1) Barangsiapa memperdagangkan barang dan/atau jasa yang diketahui atau patut diketahui bahwa barang dan/atau jasa tersebut merupakan hasil pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90, Pasal 91, Pasal 92, dan Pasal 93 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).(2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.
(Pasal 95) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90, Pasal 91, Pasal 92, Pasal 93, dan Pasal 94 merupakan delik aduan.

Tindak Pidana Paten

(Pasal 130) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak Pemegang Paten dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (Pasal 131) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak Pemegang Paten Sederhana dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). (Pasal 132)Barangsiapa dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (3), Pasal 40, dan Pasal 41 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun. (Pasal 133) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 130, Pasal 131, dan Pasal 132 merupakan delik aduan. (Pasal 134) Dalam hal terbukti adanya pelanggaran Paten, hakim dapat memerintahkan agar barang-barang hasil pelanggaran Paten tersebut disita oleh Negara untuk dimusnahkan. (Pasal 135) Dikecualikan dari ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini adalah: a. mengimpor suatu produk farmasi yang dilindungi Paten di Indonesia dan produk tersebut telah dimasukkan ke pasar di suatu negara oleh Pemegang Paten yang sah dengan syarat produk itu diimpor sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku; b. memproduksi produk farmasi yang dilindungi Paten di Indonesia dalam jangka waktu 2 (dua) tahun sebelum berakhirnya perlindungan Paten dengan tujuan untuk proses perizinan kemudian melakukan pemasaran setelah perlindungan Paten tersebut berakhir.

Pasal 72 (1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). (2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rup iah). (4) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 17 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Tindak Pidana Hak Cipta

(5) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 19, Pasal 20, atau Pasal 49 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). (6) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 24 atau Pasal 55 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). (7) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 25 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). (8) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melanggar Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah). (9) Barangsiapa dengan sengaja melanggar Pasal 28 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

Pasal 73 (1) Ciptaan atau barang yang merupakan hasil tindak pidana Hak Cipta atau Hak Terkait serta alat-alat yang digunakan untuk melakukan tindak pidana tersebut dirampas oleh Negara untuk dimusnahkan. (2) Ciptaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di bidang seni dan bersifat unik, dapat dipertimbangkan untuk tidak dimusnahkan.

Pasal 54 (1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

Tindak Pidana Desain Industri

(2) Barangsiapa dengan sengaja melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 23 atau Pasal 32 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 45.000.000,00 (empat puluh lima juta rupiah).
(3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) merupakan delik aduan.

Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, Pejabat Pegawai Negeri Sipil PPNS berada di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi Hak Kekayaan Intelektual diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang untuk melakukan penyidikan

Penyidik

TERIMA KASIH

AVIF Intellectual Property Office


IS Plaza Building 8th floor suite 804A Jl. Pramuka Raya Kav. 151 Jakarta 13120 No. Telp. +6221-8199011 No.Fax. +6221-85912659 E-mail. Ipr_avif@yahoo.com