Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sendi temporomandibula atau Temporomandibular Joint (TMJ) adalah suatu persendian yang sangat kompleks di dalam tubuh manusia. Selain gerakan membuka dan menutup mulut, sendi temporomandibula juga bergerak meluncur pada suatu permukaan (ginglimoathrodial). Selama proses pengunyahan sendi temporomandibula menopang tekanan yang cukup besar. Oleh karena itu, sendi temporomandibula mempunyai diskus artikularis untuk menjaga agar kranium dan mandibula tidak bergesekan. Sendi tempromandibula mempunyai peranan penting dalam fungsi fisiologis dalam tubuh manusia. Identifikasi anatomi maupun radioanatomi dari struktur persendian ini merupakan suatu hal yang sebaiknya dapat dipahami secara baik. Pemahaman struktur sendi temporomandibula dapat berguna bagi dasar diagnosis dan perawatan dalam upaya penanganan keluhan pasien, terutama masalah yang menyangkut oklusi dan fungsi fisiologis pengunyahan. Dalam sistem stomatognati, fungsi fisiologis dari pergerakan rahang ditunjang oleh keharmonisan oklusi gigi. Oklusi yang baik dibentuk oleh susunan gigi dan lengkung rahang yang seimbang dalam posisi oklusi sentrik. Perubahan oklusi dapat disebabkan berbagai hal, antara lain karena hilangnya gigi karena proses pencabutan. Kehilangan gigi yang dibiarkan tanpa segera disertai pembuatan protesa, dapat menyebabkan terjadinya perubahan pola oklusi karena terputusnya integritas atau kesinambungan susunan gigi. Pergeseran atau perubahan inklinasi serta posisi gigi, disertai ekstrusi karena hilangya posisi gigi dalam arah berlawanan akan menyebabkan pola oklusi akan berubah, dan selanjutnya dapat menyebabkan tarjadinya hambatan atau interference pada proses pergerakkan rahang.

Gambaran radiografi panoramik memberikan gambaran kondilus, ramus, dan badan mandibula dalam satu foto. Gambaran ini biasanya penting untuk mengevaluasi kondilus yang mengalami erosi tulang yang luas, pertumbuhan atau patahan dari fraktur. Selain itu, di dalam foto panoramik terlihat regio prossessus kondilaris dan subkondilaris pada kedua sisi sehingga bisa langsung dilakukan perbandingan antara kondilus kanan dan kiri. Hal ini sangat bermanfaat untuk mendiagnosa fraktur kondilus. Sedangkan perbandingan sendi penting dalam hubungannya dengan pertumbuhan yang abnormal, seperti yang diperlihatkan pada agenesis kondilaris, hyperplasia, atau hipoplasia serta ankilosis 1.2 Tujuan Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah: a. Memahami kelainan TMJ b. Mengetahui sifat nyeri kronik pada gangguan TMJ sehingga dapat mendiagnosis gangguan nyeri kronik pada TMJ c. Mengetahui terapi yang efektif untuk gangguan TMJ d. Mengetahui tatalaksana secara terpadu dan menyeluruh dalam penanganan kasus gangguan TMJ

BAB II PEMBAHASAN
2.1.

Defenisi Dan Epidemiologi TMJ TMJ atau sendi rahang adalah sendi yang menghubungkan temporal dan

mandibula yang terdiri dari: 1. Tulang mandibula dengan kondilusnya (ujung membulat) 2. Diskus yaitu jaringan penyambung antara kondilus dengan soketnya pada tulang temporal
3. Sistem neurovaskuler

Persendian ini di lapisi oleh lapisan tipis dari kartilago dan dipisahkan oleh diskus. Persendian ini secara konstan terpakai saat makan, berbicara dan menelan.

Gangguan temporomandibular adalah istilah yang dipakai untuk sekelompok gangguan yang mengganggu sendi temporomandibular, otot pengunyah, dan struktur terkait yang mengakibatkan gejala umum berupa nyeri dan keterbatasan membuka mulut. Biasanya pada praktek umum (general practitioner) pasien dengan gangguan ini mengeluhkan gejala yang eprsisten atau nyeri wajah yang kronik. Biasanya nyeri pada gangguan temporomandibular disertai suara click pada sendi rahang dan keterbatasan membuka mulut. Sekitar 60-70% populasi umum mempunyai setidaknya satu gejala gangguan temporomadibualr. Tetapi, hanya seperempatnya yang menyadari adanya gangguan tersebut. Lebih jauh lagi, hanya 5% dari kelompok orang dengan satu atau dua gejala gangguan temporomandibular yang pergi ke dokter Kelainan ini paling banyak dialami perempuan (1:4), dan sering terjadi pada awal masa dewasa. 2.2. Etiologi Gangguan Temporomandibular Nyeri yang dirasakan pada persendian ini dapat dikarenakan oleh beberapa faktor seperti, penggunaan yang berlebihan pada daerah yang bersangkutan, contohnya adalah pada individu yang mempunyai kebiasaan buruk mengerat gigi (bruxism), sering menguap, mengunyah cenderung pada satu sisi. Hal ini menyebabkan pemberian beban yang terus menerus pada daerah persendian. Faktor lain yang terlibat adalah faktor maloklusi gigi terutama pertumbuhan gigi geraham belakang yang tidak normal dapat menyebabkan desakan yang terus menerus serta adanya kelainan anatomi rahang dapat berakibat menimbulkan rasa nyeri pada TMJ. Penggunaan berlebih pada diskus dan ligament-ligamen yang berhubungan dengan TMJ dapat menyebabkan fleksibilitas pada discus dan ligament tersebut menurun, dan bila tidak ditanggulangi dan terus berlanjut akan menyebabkan inflamasi yang berakhir pada rupture discus dan ligament yang akan menimbulkan sensasi nyeri pada individu. Selain terjadinya inflamasi pada discus, dapat pula terjadi inflamasi dari otot akibat hiperfungsi dari system musculoskeletal yang akan menimbulkan nyeri juga.
4

Sensasi nyeri juga dapat timbul oleh karena adanya iskemi lokal yang disebabkan karena hiperfungsi dari kontraksi otot yang mengakibatkan mikrosirkulasi tidak adekuat. Hal ini akan menyebabkan nutrisi pada jaringan akan berkurang sehingga menyebabkan iskemik pada jaringan tersebut yang akan menimbulkan sensasi nyeri. Persendian pada temperomandibular ini sama seperti persendian di daerah tubuh lainnya, dimana dapat juga terjadi hal-hal seperti osteoarthritis, rheumatoid arthritis dan jenis-jenis inflamasi lainnya didaerah persendian ini yang akan menimbulkan sensasi nyeri juga. Osteoartritis adalah kondisi dimana sendi terasa nyeri akibat inflamasi yang diakibatkan gesekan ujung-ujung tulang penyusun sendi. Osteoartritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Sedangkan rheumatoid arthritis (RA) merupakan suatu penyakit autoimun dengan karakteristik sinovitis erosif simetris sebagian besar pasien menunjukkan gejala penyakit kronik hilang timbul dan apabila tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan persendian dan deformitas sendi progresif yang berakhir pada disabilitas. 2.3. Gambaran Radiografi Anatomi TMJ yang dapat terlihat secara radiografi meliputi komponen dasar dari sendi temporomandibula yaitu : Komponen mandibula, termasuk kepala kondilus Potongan Sendi Temporomandibular Komponen tulang temporal termasuk Fossa Glenoidalis dan Eminensia Kapsul di sekitar persendian

Artikularis

Gb.4.Komponen tulang pada persendian dilihat dari samping B.Kepala kondilus dilihat dari aspek anterior C.Basis rahang dilihat dari bawah. Fossa glenoidalis (yang ditunjukkan oleh anak panah) dan angulasinya terhadap bidang koronal.

Gb.5. Diagram potongan sagital kanan TMJ yang menunjukkan komponen-komponennya Klinisi juga perlu mengetahui jenis dan luasnya pergerakan sendi dan bagaimana gambaran dari sendi yang berubah karena berbagai gerakan tersebut. Untuk mendapatkan gambaran radiografi dapat dilakukan dalam beberapa teknik pemotretan yaitu : transkranial, transfaringeal, panoramik, tomografi, computed tomography (CT) 2.4. Jenis dan Gejala Gangguan Temporomandibular Ada tiga gangguan tempotomandibular yang tesering, yaitu nyeri miofasial, internal dearrangement, dan osteoartrosis. Nyeri miofasial adalah

gangguan yang tersering ditemukan. Adapun gejala lain yang dapat terjadi adalah sebagai berikut:

Nyeri pada telinga Kekakuan atau nyeri pada otot rahang Nyeri pada daerah pipi Bunyi pada rahang Keterbatasan pergerakan pada rahang Lock jaw Nyeri kepala yang sering Kekakuan pada otot wajah dan leher, daerah preaurikuler Asimetris dari wajah Maloklusi Kronik postural head tilting DIAGNOSA TMJ Anamnesis Meliputi personal data, keluhan utama, riwayat penyakit, riwayat kesehatan dan riwayat kesehatan gigi dan mulutnya. Tidak menutup kemungkinan bahwa gejala dari kelainan temporomandibular dapat berasal dari gigi dan jaringan periodontal, maka harus dilakukan pemeriksaan secara seksama pada gigi dan jaringan periodontal. Selain itu, perlu ditanyakantentang perawatan gigi yang pernah didapatkan, riwayat penggunaan gigi palsu dan gigi kawat. Keluhan utama, diantaranya :

2.5.

Diagnosis dapat ditegakkan secara berurutan berdasarkan: a.

Pasien akan merasakan nyeri pada darah TMJ, rahang atau wajah Nyeri dirasakan pada saat membuka mulut Keluhan adanya clicking sounds pada saat menggerakan rahang Kesulitan untuk membuka mulut secara sempurna Sakit kepala Nyeri pada daerah leher dan pungggung

b. Pemeriksaan klinis 1. Inspeksi Untuk melihat adanya kelainan sendi temporomandibular perlu diperhatikan gigi, sendi rahang dan otot pada wajah serta kepala dan wajah. Apakah pasien menggerakan mulutnya dengan nyaman selama berbicara atau pasien seperti menjaga gerakan dari rahang bawahnya. Terkadang pasien memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik selama interview seperti bruxism.

2. Palpasi

Masticatory muscle examination: Pemeriksaan dengan cara palpasi sisi kanan dan kiri pada dilakukan pada sendi dan otot pada wajah dan daerah kepala. Muscular Resistance Testing: Tes ini penting dalam membantu mencari lokasi nyeri dan tes terbagi atas 5, yaitu :

Resistive opening (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada ruang inferior m.pterigoideus lateral) Resistive closing (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. temporalis, m. masseter, dan m. pterigoideus medial)

Resistive lateral movement (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. pterigoideus lateral dan medial yang kontralateral)

Resistive protrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada m. pterigoideus lateral) Resistive retrusion (sensitive untuk mendeteksi rasa nyeri pada bagian posterior m. temporalis)

Pemeriksaan tulang belakang dan cervical : Dornan dkk memperkirakan bahwa pasien dengan masalah TMJ juga memperlihatkan gejala pada cervikal. Pada kecelakaan kendaraan

bermotor kenyataannya menunjukkan kelainan pada cervikal maupun TMJ. 3. Auskultasi Bunyi sendi TMJ terdiri dari clicking dan krepitus. Clicking adalah bunyi singkat yang terjadi pada saat membuka atau menutup mulut, bahkan keduanya. Krepitus adalah bersifat difus, yang biasanya berupa suara yang dirasakan menyeluruh pada saat membuka atau menutup mulut bahkan keduanya. Krepitus menandakan perubahan dari kontur tulang seperti pada osteoartrosis. Clicking dapat terjadi pada awal, pertengahan, dan akhir membuka dan menutup mulut. Bunyi click yang terjadi pada akhir membuka mulut menandakan adanya suatu pergeseran yang berat. TMJ clicking sulit didengar karena bunyinya halus, maka dapat didengar dengan menggunakan stetoskop. 4. Range of motion Pemeriksaan pergerakan Range of Motion dilakukan dengan

pembukaan mulut secara maksimal, pergerakan dari TMJ normalnya lembut tanpa bunyi atau nyeri. c. Pemeriksaan lain (penunjang)

Transcranial radiografi : Menggunakan sinar X, untuk dapat menilai kelainan. Panoramik Radiografi : Menggunakan sinar X, dapat digunakan untuk melihat hampir seluruh regio maxilomandibular dan TMJ. CT Scan : Menggunakan sinar X, merupakan pemeriksaan yang akurat untuk melihat kelainan tulang pada TMJ. Nyeri Kronik Pada Gangguan Temporomandibular Nyeri yang ditimbulkan oleh kelainan temporomandibular umumnya

2.6.

berupa nyeri miofasial. Karena patogenesis dan patofisiologi nyeri miofasial masih perlu diteliti lebih lanjut, tata laksana nyeri yang mengarah pada penyebab
9

tunggal tidak dapat diberikan. Dengan demikian, terapi multimodal merupakan modalitas terapi yang lebih efektif dalam menangani nyeri kronik yang ditimbulkan oleh nyeri miofasial.Prinsip terapi multimodal nyeri kronik sampai saat ini hanya didasarkan pada prognosis pasien secara umum dan pengertian bahwa belum ada studi yang berhasil membandingkan kelebihan dan keamanan masing-masing modalitas terapi yang direkomendasikan saat ini.Oleh karena itu, terapi yang lebih mudah diperoleh, tidak terhalang oleh biaya, keamanan dan bersifat reversibel akan diutamakan dalam terapi nyeri kronik. Terapi yang memiliki karakteristik seperti itu antara lain edukasi, self-care, terapi fisik, terapi intraoral, farmakoterapi jangka pendek, terapi perilaku, dan teknik relaksasi. 1. Edukasi dan informasi Ansietas pada pasien turut berperan dalam progresifitas penyakit yang akan mengarah kepada nyeri yang hebat dan kehilangan fungsi.Menjelaskan darimana rasa sakit berasal dan karakteristik dari gejala yang dirasakan pasien akan mengurangi ansietas pada pasien. Edukasi menjadi dasar dari aktivitas perawatan diri yang pasien dapat lakukan untuk mengontrol gejala. Edukasi dan informasi ini harus dilakukan secara bertahap dan tidak terburu-buru. Edukasi dan informasi ini juga akan membantu pasien untuk mengetahui penggunaan rahangnya secara tepat dan benar. Pasien harus turut ikut berperan dalam melawan stress dan penyakit yang dideritanya.
2. Self-care dan perubahan kebiasaan pasien

Pasien harus mulai menghentikan kebiasaan penggunaan rahangnya yang tidak berguna dalam kehidupan sehari-hari (seperti menggertakkan gigi, posisi rahang, ketegangan otot rahang, berpangku tangan pada rahang, dan lain-lain). Kebiasaan-kebiasaan tersebut akan memberikan beban pada rahang sehingga memperberat penyakit. Perubahan pada kebiasaan tersebut akan mengurangi nyeri yang diderita pasien dan progresifitas penyakit. Pasien disarankan untuk mengalihkan perhatiannya ke kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik (tidak memberi beban pada rahang). Pasien juga dianjurkan untuk mengistirahatkan rahangnya bila sakit, mengompres dingin rahang pasien selama 10 menit setiap 2 jam pada serangan akut.

10

3. Fisioterapi Berdasarkan penilitian, fisioterapi terbukti lebih baik daripada placebo walaupun tidak ditemukan perbedaan dari berbagai fisioterapi yang dilakukan. Baik terapi pasif maupun aktif umumnya terdapat pada fisioterapi. Terapi postur direkomendasikan untuk menghindari posisi yang dapat mempengaruhi posisi mandibula dan otot mastikasi (seperti kepala maju ke depan).Modalitas pasif seperti ultrasound, laser dan transcutaneus electrical nerve stimulation (TENS) biasa digunakan untuk memulai fisioterapi dengan tujuan mengurangi nyeri dan membantu penyembuhan pasien.TENS menggunakan tegangan listrik rendah bifasik dalam berbagai frekuensi yang mempunyai efek counterstimulation dari saraf sensorik untuk mengontrol nyeri.Terapi ultrasound dapat menghasilkan panas yang ditransmisikan ke dalam jaringan sehingga lebih efektif daripada penghangatan dari luar. Latihan gerak dilakukan adalah latihan gerak peningkatan jangkauan gerak rahang, penarikan pasif untuk meningkatkan gerakan mandibula dan pelatihan isotonik dan isotmetrik. Latihan membuka dan menutup mulut dalam satu garis lurus di depan kaca atau lidah menempel pada palatum merupakan latihan membuka mulut yang umum dilakukan pada fisioterapi. Pilihan dari terapi ini bersifat individual dan ilmu fisioterapi ini masih belum begitu berkembang.
4. Penggunaan alat-alat intraoral

Penggunaan alat intraoral seperti splints, orthotics, orthopedic appliances, bite guards, nightguards atau bruxing guards biasa digunakan dalam terapi kelainan temporomandibular. Alat-alat ini biasa digunakan dokter gigi untuk melakukan terapi pada pasien mereka. Alat-alat ini memiliki banyak desain dan terbuat dari berbagai material, namun yang paling sering digunakan adalah splint yang berbentuk flat-plane yang terbuat dari acrylic keras. Splint ini digunakan untuk meningkatkan stabilitas sendi, melindungi gigi, meratakan tekanan, merelaksasi otot elevator dan mengurangi bruxism.Splint ini juga didesain untuk menghindari perubahan posisi rahang. Penggunaan alat-alat medis ini harus dievaluasi seiring dengan kemungkinan terjadinya perubahan postur mandibula. Pada awal terapi, alat ini harus digunakan saat

11

tidur dan saat bekerja, hal ini harus dimonitor untuk menentukan saat-saat paling efektif dari penggunaan alat ini. Untuk menghindari perubahan oklusi, alat ini tidak boleh digunakan terus menerus. 5. Farmakoterapi Analgesik ringan, nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), antiansietas, antidepresan trisiklik dan pelemas otot adalah obat-obat yang biasa digunakan untuk mengobati kelainan temporomandibular.Di dalam penelitian, penggunaan benzodiazepine kerja panjang seperti klonazepam akan mengurangi nyeri pada kelainan temporomandibular. Opiod dicadangkan untuk nyeri kronik yang kompleks. Terapi medikasi pada kelainan kelainan temporomandibular mengikuti prinsip umum terapi analgesik untuk nyeri dan diberikan dengan metode fixed-dose. AINS (antiinflamasi nonsteroid) lazim digunakan untuk mengendalikan nyeri pada terapi kelainan temporomandibular. Golongan AINS yang dapat digunakan antara lain penghambat enzim siklooksigenase-2 seperti celecoxib dan rofecoxib (efek analgesic sama dengan golongan penghambat COX nonspesifik, tetapi efek samping gastrointestinal berkurang); ibuprofen (400 mg 4 kali sehari); naproxen; diklofenak dan nabumetone. Penghambat COX-2 harus diberikan selama 2 minggu dengan metode fixed-dose untuk menilai efektivitas terapi. Selain itu, dapat juga digunakan secara topical, seperti diklofenak yang telah dikemas dalam bentuk jel atau krim capsaicin (0.025%0.075%) yang digunakan empat kali sehari. Namun, capsaicin memiliki efek samping rasa terbakar sehingga membatasi kegunaannya. Anti ansietas berguna terutama saat eksaserbasi akut nyeri otot, obat ini digunakan pada malam hari untuk menghindari efek sedasinya dan potensi ketergantungan menghambat penggunaan obat ini dalam jangka panjang. Penggunaan obat pelemas otot seperti carisoprodol, methocarbamol, derivat trisiklik cyclobenzaprine terbukti efektif mengurangi nyeri dengan cara menginhibisi interneuron dan kerja sistem saraf pusat. Karena efek sedasinya, pelemas otot juga digunakan pada malam hari.

12

Antidepresan trisiklik, terutama amitriptilin, telah terbukti efektif dalam mengatasi nyeri orofasial kronik. Pada dosis rendah, amitriptilin memiliki efek analgesik, efek sedasi dan merangsang tidur nyenyak; semua efek ini dapat berguna bagi pasien. Namun, efek antikolinergik yang dimiliki obat ini (mulut kering, peningkatan berat badan, sedasi dan euphoria) menyebabkan obat ini tidak disukai. Dosis dapat dimulai dari 10 mg pada malam hari dan dapat ditingkatkan sampai 75-100 mg, tergantung dari toleransi pasien.

6. Terapi perilaku dan teknik relaksasi

Mengabungkan terapi perilaku dan teknik relaksasi telah terbukti efektif dalam mengatasi nyeri kronik. Teknik-teknik yang telah digunakan pada pasien dengan kelainan temporomandibular antara lain teknik relaksasi, biofeedback, hipnosis dan terapi perilaku-kognitif. Teknik relaksasi secara umum menurunkan aktivitas simpatis dan (mungkin) kesadaran. Metode relaksasi dalam meliputi autogenic training, meditasi dan relaksasi otot progresif. Teknik-teknik ini ditujukan untuk menghasilkan sensasi menyamankan tubuh, menenangkan pikiran dan menurunakan tonus otot. Metode singkat untuk relaksasi menggunakan relaksasi swa-kontrol, teknik pengendalian frekuensi pernafasan (paced breathing), dan pernafasan dalam. Hipnosis menghasilkan keadaan fokus pikiran yang terseleksi atau difus sehingga dapat memicu relaksasi. Hipnosis sangat tergantung dari pasien dan tidak berkaitan dengan peningkatan produksi endorfin, sementara pengaruhnya terhadap produksi katekolamin belum diketahui. Terapi perilaku-kognitif, yang seringkali meliputi teknik relaksasi, mengubah pola pikir yang negatif. Hipnosis dan terapi perilaku-kognitif diperkirakan bekerja dengan menghambat nyeri untuk memasuki alam sadar dengan mengaktifkan sistem atensi limbic frontal yang menghambat transmisi impul listrik dari thalamus ke korteks serebri. Biofeedback adalah metode terapi yang menyediakan umpan balik secara bersinambung, umumnya dengan memantau aktivitas listrik otot dengan elektroda permukaan atau memantau

13

suhu perifer. Alat pemantau ini memberikan informasi fisiologis kepada pasien, sehingga pasien dapat mengubah fungsi fisiologis untuk menghasilkan respons yang serupa dengan terapi relaksasi. Dengan kata lain, pasien melakukan terapi relaksasi yang ditujukan untuk menurunkan aktivitas listrik otot atau meningkatkan suhu perifer. Hambatan yang seringkali ditemui dalam pelaksanaan modalitas ini adalah protokol standar pelayanan medis yang seringkali mengabaikan isu psikososial dan hal-hal yang dialami pasien selama sakit. Selain itu, terapi ini seringkali time-intensive dan tidak dicakup dalam asuransi kesehatan. 7. Trigger point therapy Trigger point therapy menggunakan dua modalitas, yaitu mendinginkan kulit di atas otot yang terlibat dan kemudian merentangkannya; dan suntikan anestesi lokal langsung ke dalam otot. Terapi semprot dan regang (spray and stretch) dilakukan dengan mendinginkan kulit dengan fluoromethane (spray pendingin) dan dengan lembut meregangkan otot yang sakit. Tindakan pendinginan ini dilakukan dengan tujuan memungkinkan peregangan dil;akukan tanpa rasa sakit, yang akan memicu reaksi kontraksi atau strain. Pasien yang merespons modalitas ini dapat menggunakan variasi lain seperti menghangatkan otot tersebut, kemudian dengan cepat medinginkannya dan setelah itu dengan lembut meregangkan otot yang sakit. Injeksi titik picu (trigger point) intramuskular dilakukan dengan menyuntikkan zat anestesi lokal, cairan fisiologis, atau air steril atau dry needling tanpa memasukkan cairan atau obat. Metode yang dianjurkan untuk injeksi titik picu intramuskular adalah prokain yang diencerkan sampai 0.5% dengan cairan fisiologis karena toksisitas terhadap otot rendah. Selain itu, dapat pula digunakan lidokain 2% (tanpa vasokonstriktor). Sampai saat ini belum ada protokol yang mengatur pemberian injeksi titik picu ini, tetapi umumnya suntikan diberikan pada sekelompok otot setiap minggu selama 3-5 minggu. Jika respons terhadap terapi tidak adekuat, terapi ini harus segera dihentikan.

14

2.7.

PENATALAKSANAAN Dalam penatalaksaan TMD di lakukan secara bedah dan non bedah, sesuai dengan indikasi.

Jaw Rest (Istirahat Rahang): Sangat menguntungkan jika membiarkan gigi-gigi terpisah sebanyak mungkin. Adalah juga sangat penting mengenali jika kertak gigi (grinding) terjadi dan menggunakan metodemetode untuk mengakhiri aktivitas-aktivitas ini. Pasien dianjurkan untuk menghindari mengunyah permen karet atau makan makanan yang keras, kenyal (chewy) dan garing (crunchy), seperti sayuran mentah, permenpermen atau kacang-kacangan. Makanan-makanan yang memerlukan pembukaan mulut yang lebar, seperti hamburger, tidak dianjurkan.

Terapi Panas dan Dingin: Terapi ini membantu mengurangi tegangan dan spasme otot-otot. Bagaimanapun, segera setelah suatu luka pada sendi rahang, perawatan dengan penggunaan dingin adalah yang terbaik. Bungkusan dingin (cold packs) dapat membantu meringankan sakit.

Obat-obatan: Obat-obatan anti peradangan seperti aspirin, ibuprofen (Advil dan lainnya), naproxen (Aleve dan lainnya), atau steroids dapat membantu mengontrol peradangan. Perelaksasi otot seperti diazepam (Valium), membantu dalam mengurangi spasme-spasme otot.

Terapi Fisik: Pembukaan dan penutupan rahang secara pasiv, urut (massage) dan stimulasi listrik membantu mengurangi sakit dan meningkatkan batasan pergerakan dan kekuatan dari rahang.

15

Managemen stres: Kelompok-kelompok penunjang stres, konsultasi psikologi, dan obat-obatan juga dapat membantu mengurangi tegangan otot. Umpanbalikbio (biofeedback) membantu pasien mengenali waktuwaktu dari aktivitas otot yang meningkat dan spasme dan menyediakan metode-metode untuk membantu mengontrol mereka.

Terapi Occlusal: Pada umumnya suatu alat acrylic yang dibuat sesuai pesanan dipasang pada gigi-gigi, ditetapkan untuk malam hari namun mungkin diperlukan sepanjang hari. Ia bertindak untuk mengimbangi gigitan dan mengurangi atau mengeliminasi kertakan gigi (grinding) atau bruxism.

Koreksi Kelainan Gigitan: Terapi koreksi gigi, seperti orthodontics, mungkin diperlukan untuk mengkoreksi gigitan yang abnormal. Restorasi gigi membantu menciptakan suatu gigitan yang lebih stabil. Penyesuaian dari bridges atau crowns bertindak untuk memastikan kesejajaran yang tepat dari gigi-gigi.

Operasi: Operasi diindikasikan pada kasus-kasus dimana terapi medis gagal. Ini dilakukan sebagai jalan terakhir. TMJ arthroscopy, ligament tightening, restrukturisasi rahang (joint restructuring), dan penggantian rahang (joint replacement) dipertimbangkan pada kebanyakan kasus yang berat dari kerusakan rahang atau perburukan rahang.

16

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Temporomandibular joint (TMJ) adalah persendiaan dari kondilus mandibula dengan fossa gleinodalis dari tulang temporal. Temporomandibular merupakan satu-satunya sendi yang ada di kepala yang bertanggung jawab terhadap pergerakan membuka dan menutup rahang, mengunyah serta berbicara yang letaknya dibawah depan telinga Apabila terjadi sesuatu kelainan pada salah satu sendi ini, maka seseorang akan mengalami masalah yang serius yaitu terasa nyeri saat membuka mulut, menutup mulut, makan, mengunyah, berbicara, bahkan dapat menyebabkan mulut terkunci. Kelainan temporomandiblar joint disebut juga dengan disfungsi/penyakit temporomandibular joint. Penanganan terhadap

17

disfungsi atau penyakit temporomandibular joint sangat tergantung dari gambaran klinis dan diagnosis. 3.2 Saran Demikianlah makalah kami ini kami buat untuk melengkapi tugas akhir semester. Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, Kami mohon saran dan kritik dari pembaca.

Daftar Pustaka
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Master-13678-Chapter1-77703.pdf

http://www.google.co.id/Diagnosa_Kelainan_Sendi_TMJ

http://www.stronghealth.com/services/surgical/ENT/tmj.cfm. http://www.ctds.info/tmj.html http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/temporomandibularjointdysfunction.html

18

http://www.healthscout.com/ency/1/130/main.html#TreatmentofTemperomandibu larJoint(TMJ)Disorder

19