Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS

1.1

Keterangan Umum Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Alamat : Tn. H.B : 45 tahun : Laki-laki : Kontraktor : Cimahi

Tanggal pemeriksaan : 23 Oktober 2012

1.2

Anamnesa : Keluhan Utama Anamnesa Khusus : Merah pada kedua mata :

Sejak 6 hari yang lalu, pasien mengeluh merah pada mata kanannya. Keluhan disertai rasa sedikit gatal, nyeri yang tidak begitu hebat dan berair terus-menerus, disertai keluarnya kotoran. Keluarnya kotoran berwarna bening. Selain itu, pasien juga mengeluh bengkak pada kelopak mata bagian atas. Keluhan tidak disertai silau. Sejak 1 hari yang lalu, pasien mengeluhkan hal yang sama pada mata kirinya, namun tidak seberat pada mata kanannya. Keluhan mata merah tidak disertai dengan penglihatan pasien yang menjadi buram. Keluhan tidak disertai dengan adanya bruntus-bruntus yang berisi cairan di kelopak mata. Keluhan tidak disertai dengan adanya kotoran mata dalam jumlah banyak yang bersifat kental, kekuningan terutama di pagi hari ketika bangun tidur dan kelopak mata terasa lengket sehingga pasien sulit membuka mata. Keluhan tidak disertai dengan demam yang tinggi dan sakit tenggorokan. Keluhan tidak disertai dengan adanya kelainan kulit yang muncul mendadak berupa bentol-bentol berisi air yang berwarna merah dan menyebar di seluruh tubuh. Riwayat menderita penyakit yang sama sebelumnya tidak ada. Riwayat adanya benturan pada mata sebelumnya tidak ada.

Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama ada, yaitu anak pasien yang mengeluhkan keluhan yang sama pada 1 minggu sebelumnya. Riwayat alergi tidak ada. Pasien belum pernah berobat, karena keluhannya maka pasien datang memeriksakan diri ke Poliklinik Mata RS Dustira.

1.3

Hasil Pemeriksaan

STATUS OFTALMOLOGIS I. PEMERIKSAAN SUBJEKTIF VISUS VOD VOC : 5/15 : 5/15

II. PEMERIKSAAN OBJEKTIF INSPEKSI Muscle Balance Pergerakan Bola Mata Tekanan Intraokular Palpebra Superior OD Orthotropia Normal ke segala arah Palpasi normal Hiperemis (+) Edema (+) Papil (-) Palpebra Inferior App.Lakrimalis Konj.Tarsalis Superior Hiperemis (+) Lakrimasi (+) Hiperemis (+) Sekret serous (+) Konj.Tarsalis Inferior Konj.Bulbi Kornea COA Pupil Hiperemis (+) Injeksi konjungtiva Jernih Sedang Bulat 3 mm, isokor RC + Iris Lensa Tenang Jernih OS Orthotropia Normal ke segala arah Palpasi normal Hiperemis (+) Edema (+) Papil (-) Hiperemis (+) Lakrimasi (+) Hiperemis (+) Sekret serous (+) Hiperemis (+) Injeksi konjungtiva Jernih Sedang Bulat 3 mm, isokor RC + Tenang Jernih

1.4 Resume Seorang pasien, laki-laki berusia 43 tahun mengeluh mata merah pada oculi dextra sejak 6 hari yang lalu. Keluhan disertai rasa sedikit gatal, nyeri yang tidak begitu hebat dan lakrimasi disertai sekret. Keluarnya sekret tidak terlalu banyak dan berwarna bening. Selain itu, pasien juga mengeluh edema pada palpebra superior. Keluhan tidak disertai silau. Sejak 1 hari yang lalu, pasien mengeluhkan hal yang sama pada oculi sinistra, namun tidak seberat pada oculi dextra. Keluhan mata merah tidak disertai dengan penglihatan pasien yang menjadi buram. Keluhan tidak disertai dengan adanya vesikel di palpebra. Keluhan tidak disertai dengan adanya sekret dalam jumlah banyak yang bersifat kental, kekuningan terutama di pagi hari ketika bangun tidur dan kelopak mata terasa lengket sehingga pasien sulit membuka mata. Keluhan tidak disertai dengan demam yang tinggi dan sakit tenggorokan. Keluhan tidak disertai dengan adanya kelainan kulit yang muncul mendadak berupa vesikel yang berwarna merah dan menyebar di seluruh tubuh. Riwayat menderita penyakit yang sama sebelumnya tidak ada. Riwayat adanya benturan pada mata sebelumnya tidak ada. Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama ada, yaitu anak pasien yang mengeluhkan keluhan yang sama pada 1 minggu sebelumnya. Riwayat alergi tidak ada. Pasien belum pernah berobat, karena keluhannya maka pasien datang memeriksakan diri ke Poliklinik Mata RS Dustira.

Pemeriksaan Dari pemeriksaan didapatkan:

Visus VOD : 5/15 VOC : 5/15

INSPEKSI Palpebra Superior

OD Hiperemis (+) Edema (+)

OS Hiperemis (+) Edema (+) Hiperemis (+) Lakrimasi (+) Hiperemis (+) Sekret serous (+) Hiperemis (+) Injeksi konjungtiva

Palpebra Inferior App.Lakrimalis Konj.Tarsalis Superior

Hiperemis (+) Lakrimasi (+) Hiperemis (+) Sekret serous (+)

Konj.Tarsalis Inferior Konj.Bulbi

Hiperemis (+) Injeksi konjungtiva

Diagnosis Banding: Konjungtivitis Adenoviral ODS Konjungtivitas Alergika ODS

Diagnosis Kerja: Konjungtivitis Adenoviral ODS

Pemeriksaan Penunjang: Pemeriksaan Mikrobiologis

Penatalaksanaan Umum : a. Tidak menggosok-gosok mata yang sakit b. Pasien tidak boleh berbagi handuk, bantal atau barang-barang yang sering dipakai bersama c. Mencuci tangan setelah memegang mata yang sakit d. Edukasi kepada keluarga pasien tentang penyakit ini dan penularannya. Khusus : a. Kompres dingin OD b. Dekongestan : Tetes mata Naphazoline 1% 3-4x/hari c. Artifisial tears 6 tetes per hari ODS

Prognosis Quo ad vitam : ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

PEMBAHASAN

Diagnosis pada pasien dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, dan pemeriksaan fisik oftalmologi. 1. Pasien berjenis kelamin laki-laki berusia 43 tahun dan seorang kontraktor.

Konjungtivitis biasanya menyerang semua usia baik laki-laki maupun perempuan. Tapi pada orang dewasa biasanya terbatas di bagian luar mata, tetapi pada anak-anak dapat disertai gejala sistemik infeksi seperti demam, sakit tenggorokan, dan otitis media.

2.

Pasien mengeluh merah pada mata kanannya sejak 6 hari yang lalu Mata merah merupakan keluhan yang sering ditemukan. Keluhan ini timbul akibat

terjadinya perubahan warna bola mata yang sebelumnya berwarna bening menjadi merah. Pada mata normal sklera terlihat berwarna bening karena sklera dapat terlihat melalui bagian konjungtiva dan kapsul Tenon yang tipis dan tembus sinar. Hiperemia konjungtiva terjadi akibat bertambahnya asupan pembuluh darah ataupun berkurangnya pengeluaran darah seperti pada pembendungan pembuluh darah. Bila terjadi pelebaran pembuluh darah konjungtiva atau episklera atau perdarahan antara konjungtiva dan sklera maka akan terlihat warna merah pada mata yang sebelumnya berwarna bening. Mata terlihat merah akibat melebarnya pembuluh darah konjungtiva yang terjadi pada peradangan mata akut, misalnya pada keratitis, iritis, dan glaukoma akut. Keluhan dirasakan sejak 6 hari yang lalu. Hal ini menandakan onset terjadinya tergolong fase akut yaitu menurut kepustakaan fase akut terjadi < 2 minggu, sedangkan untuk fase kronik terjadi > 2 minggu.

3.

Pasien mengeluh merah pada mata kanannya. Keluhan disertai rasa sedikit gatal, nyeri yang tidak begitu hebat dan berair terus-menerus. Kemerahan pada mata merupakan tanda dari berbagai penyakit mata, sehingga untuk

membedakannya perlu dilihat gejala lainnya.

Gejala khas konjungtivitis adenoviral pada awalnya, terdapat injeksi konjungtiva, nyeri sedang, dan berair mata.

4.

Keluarnya kotoran tidak terlalu banyak dan berwarna bening. Selain itu, pasien juga mengeluh bengkak pada kelopak mata bagian atas. Keluhan tidak disertai dengan adanya kotoran mata dalam jumlah banyak yang bersifat kental, kekuningan terutama di pagi hari ketika bangun tidur dan kelopak mata terasa lengket sehingga pasien sulit membuka mata. Pada pasien ini terdapat kotoran berwarna bening yang keluar terus menerus, hal ini

mengarah ke penyakit konjungtivitis. Keluarnya kotoran dari mata disebabkan adanya peradangan pada bagian konjungtiva dari mata, dimana pada konjungtiva terdapat banyak kelenjar. Infeksi konjungtiva menyebabkan terjadi hipersekresi dai kelenjar tersebut. Untuk penyebab dari infeksi tersebut, pada pasien ini lebih mengarah ke konjungtivitis adenoviral dilihat dari warna kotoran yang bening. Pada konjungtivitis bakteri, sekret biasanya berwarna kuning, kental dan biasa keluar dalam jumlah besar sehingga mata agak sulit dibuka. Sedangkan konjungtivitis alergi, biasanya pasien memiliki riwayat atopi atau aleri pada keluarga, serta ada pajanan terhadap alergen sebelum muncul gejala.

Klinik Gatal Hiperemia Air mata Eksudasi Sakit tenggorok, panas yang menyertai

Viral Minim Umum Profuse Minim Kadang-kadang

Bakteri Minim Umum Sedang Mengucur Kadang-kadang

Atopik (Alergi) Hebat Umum Sedang Minim Tak pernah

Bengkak pada kelopak mata menandai fase akut.

5. Keluhan penglihatan kabur pada mata kanan disangkal pasien. Untuk menyingkirkan diagnosis banding mata merah yaitu mata merah seperti keratitis, uveitis, dan galukoma akut. Pada keratitis, pasien biasanya mengeluhkan mata silau, mata kabur, nyeri serta su;it untuk membuka mata. Gejala tersebut tidak terdapat pada pasien ini. Pada uveitis terdapat keluhan nyeri pada mata, mata merah, dan mata silau. Dan pada

glaukoma, pasien mengeluhkan nyeri hebat pada mata disertai mual muntah, dan penurunan penglihatan.

Gejala Subyektif Visus Rasa nyeri Fotofobia Gatal Demam Eksudat

Mata Merah Glaukoma akut Uveitis akut +++ +/++ ++/+++ ++ + +++ -

Keratitis +++ ++ +++ -/+

. 6. Keluhan tidak disertai dengan adanya bruntus-bruntus yang berisi cairan di kelopak mata.
Tanda klinis dari konjungtivitis herpes simpleks, yaitu terdapatnya vesikel-vesikel yang terkadang muncul di palpebra dan tepian palpebra, disertai edema palpebra hebat.

7.

Keluhan tidak disertai dengan demam yang tinggi dan sakit tenggorokan. Merupakan tanda klinis dari demam faringokonjungtival yaitu demam 38,3 40 C, sakit

tenggorokan, konjungtivitis folikular pada satu atau kedua mata.

8.

Keluhan tidak disertai dengan adanya kelainan kulit yang muncul mendadak berupa

bentol-bentol berisi air yang berwarna merah dan menyebar di seluruh tubuh. Tanda klinis dari blefarokonjungtivitis varisela zoster berupa erupsi vesikular yang khas disepanjang penyebaran dermatom trigeminus cabang oftalmika adalah khas herpes zoster. Lesi vesikel menyebar diseluruh tubuh adalah khas dari varisela.

9.

Riwayat menderita penyakit yang sama sebelumnya tidak ada. Tidak menunjukkan adanya rekurensi penyakit pada pasien ini.

10. Riwayat adanya benturan pada mata sebelumnya tidak ada. Untuk menyingkirkan mata merah yang disebabkan karena trauma benturan atau adanya benda asing di dalam mata.

11. Riwayat alergi disangkal. Untuk menyingkirkan diagnosis banding konjungtivitis alergi, dimana pada penyakit ini penderita memiliki riwayat atopi atau alergi pada keluarga.

12.

Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama ada, yaitu anak pasien yang mengeluhkan keluhan yang sama pada 1 minggu sebelumnya.
Konjungtivitis viral akut merupakan penyakit yang menular dari satu orang ke orang yang

lainnya. Penularan bisa melalui tangan penderita yang tekena secret dari mata.

13.

Status Ophthamologis

Palpebra Superior

Hiperemis (+) Edema (+)

Hiperemis (+) Edema (+) Hiperemis (+) Lakrimasi (+) Hiperemis (+) Sekret serous (+) Hiperemis (+) Inj. konjungtiva

Palpebra Inferior App.Lakrimalis Konj.Tarsalis Superior

Hiperemis (+) Lakrimasi (+) Hiperemis (+) Sekret serous (+)

Konj.Tarsalis Inferior Konj.Bulbi

Hiperemis (+) Inj. konjungtiva

Pada pemeriksaan didapatkan hiperemis, edema dan injeksi konjungtiva yang merupakan tandatanda reaksi inflamasi.

Hiperemis merupakan tanda klinik yang paling mencolok pada konjungtivitis akut. Kemerahan paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus disebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior. Dilatasi perilimbus atau kemerahan siliaris mengesankan adanya radang kornea atau struktur yang lebih dalam.

Lakrimasi

sering mencolok pada konjungtivitis. Sekresi air mata diakibatkan oleh adanya

sensasi benda asing, senasasi terbakar atau gatal. Transudasi ringan juga timbul dari pembuluh yang hiperemis dan menambah jumlah air mata itu. Air mata mengandung enzim lisozim dan antibody yang berfungsi untuk mencegah masuknya bakteri ke dalam mata.

14. Pemeriksaan Penunjang : Pemeriksaan mikrobiologi

Hal ini dilakukan untuk memastikan penyebab dari konjungtivitis tersebut sehingga dapat membantu pemilihan terapi yang adekuat.

15.

Rencana Therapi

Umum : a. Tidak menggosok-gosok mata yang sakit b. Pasien tidak boleh berbagi handuk, bantal atau barang-barang yang sering dipakai bersama c. d. Mencuci tangan setelah memegang mata yang sakit Edukasi kepada keluarga pasien tentang penyakit ini dan

penularannya. Khusus : a. Kompres dingin b. Dekongestan : Tetes mata Naphazoline 1% 3-4x/hari c. Artifisial tears 6 tetes per hari ODS

Terapi umum dilakukan agar tidak terjadi penyebaran ke mata kiri atau ke orang lain. Tidak ada terapi yang spesifik untuk konjungtivitis viral akut karena penyakit ini dapat sembuh sendiri umumnya dalam waktu 10 hari. Pengobatannya ditujukan untuk suportif dan simptomatik. Pengobatan ditujukan untuk mengurangi gejala-gejala, infeksi sekunder dari bakteri, dan pencegahan penularannya. Kompres dingin diberikan untuk mengurangi rasa ketidaknyamanan pasien. Dekongestan diberikan untuk mengurangi hiperemi pada konjungtiva. Artifisial tears digunakan untuk membilas kotoran pada mata dan memberikan kenyamanan.

14.Prognosis Quo ad vitam Quo ad functionam : ad bonam : ad bonam

Prognosis quo ad vitam dan quo ad functionam pada psien ini baik, didukung oleh kepustakaaan yang mengatakan bahwa kebanyakan kasus konjungtivitis viral dapat sembuh sendiri tanpa diberikan terapi. Komplikasi dari penyakit ini jarang terjadi. Namun perlu diperhatikan pencegahan agar tidak menular kepada orang lain mengingat angka penularannya cukup tinggi.

LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata; edisi 4. Balai Pustaka Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta : 2011. 2. Tabbara F Khalid, Hyundiuck R. A,. Infection of The Eye, Ed 2nd. 2000.

3. Lang Gerhard K., Ophtalmology. Thieme Stuttgart. New York 2000. 4. Voughan, Daniel G. Et al General Oftalmology, Edisi 16. Lange. London : 2004.