Anda di halaman 1dari 34

NYERI LUTUT

DISUSUN OLEH : MARIA ERLIN (11.2010.090) LIDWINA MARGARETHA (11.2010.072)

PEMBIMBING: dr. Benny Tumbelaka, SpOT

KEPANITERAAN KLINIK BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA RS ESNAWAN ANTARIKSA JAKARTA
1

2012 KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan berkat Nya kami dapat menyelesaikan referat yang berjudul Jarum dan Benang Bedah ini. Referat ini disusun sebagai salah satu tugas kepaniteraan klinik di bagian ilmu bedah di Rumah Sakit Pusat Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa. Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada dr. R. Suhana, SpOT sebagai pembimbing kepaniteraan klinik ilmu bedah yang telah memberikan bimbingan serta masukan dalam penyusunan referat ini. Penulis menyadari bahwa referat ini jauh dari sempurna oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat diharapkan agar referat ini menjadi lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap referat ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.

Jakarta, Januari 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN Lutut adalah salah satu sendi utama pemikul berat badan dan banyak menjadi korban keausan dan regangan pada orang dengan keaktifan tinggi. Resiko aus dan cedera semakin besar bila pekerjaan seseorang banyak melibatkan pelipatan lutut atau berjongkok. Untuk mengetahui berbagai penyebab nyeri lutut, perlu adanya pengetahuan tentang fungsi lutut. Lutut merupakan perhubungan antara tulang paha (femur) dan tulang kering (tibia). Di depan perhubungan itu terdapat tulang yang disebut tempurung lutut (patela), dan sambungan ini dilapisi oleh suatu selaput yang disebut kantung synovial yang menghasilkan cairan synovial sebagai suatu pelumas. Selain itu juga terdapat jaringan lain yang meliputi tulang rawan, otot, tendon, dan ligamen, serta terdapat alat penahan goncangan yang disebut menisci (singular meniskus). Struktur lain yang bersifat melindungi adalah bursa. Sakit lutut adalah hal yang sangat umum. Setiap tahun, berjuta-juta orang mengunjungi dokter untuk masalah ini, dan merupakan alasan yang paling sering mengapa orang mengunjungi seorang ahli bedah tulang. Keluhan nyeri lutut ini paling banyak dikeluhkan oleh orang yang lanjut usia atau terkait dengan pekerjaan yang memerlukan mobilitas yang tinggi pada sendi lutut. Penyebab dari nyeri lutut itu sendiri dapat beragam. Nyeri dapat bersumber dari tulang, otot maupun jaringan disekitarnya. Beberapa contohnya di antara lain karena proses degenerative seperti pada osteoarthritis, peradangan pada rheumatoid artritis, trauma, penumpukan asam urat, proses osteoporosis atau kerusakan pada ligamen sendi lutut. Penyebab yang bervariasi ini juga akan membutuhkan penanganan yang bervariasi. Penanganan yang diberikan dapat meliputi pemberian analgetik maupun terapi pembedahan untuk mengatasi nyeri.

BAB II NYERI LUTUT ANATOMI DAN FISIOLOGI SENDI LUTUT Sendi lutut merupakan sendi yang terbesar pada tubuh manusia. Sendi ini terletak pada kaki yaitu antara tungkai atas dan tungkai bawah. Pada dasarnya sendi lutut ini terdiri dari dua articulatio condylaris diantara condylus femoris medialis, lateralis dan condylus tibiae yang terkait dalam sebuah sendi pelana , diantara patella dan fascies patellaris femoris. 1) Tulang pembentuk sendi lutut Sendi lutut dibentuk dari empat buah tulang yaitu tulang femur, tulang tibia, tulang fibula dan patella. a. Tulang femur Merupakan tulang panjang yang bersendi keatas dengan pelvis dan kebawah dengan tulang tibia. Tulang femur terdiri dari epiphysis proksimal, diaphysis dan epiphysis distalis. Pada tulang femur ini yang berfungsi dalam persendian lutut adalah epiphysis distalis. Epiphysis distalis merupakan bulatan sepanjang yang disebut condylous femoralis lateralis dan medialis. Dibagian proksimal tonjolan tersebut terdapat sebuah bulatan kecil yang disebut epicondilus lateralis dan medialis. Bila dilihat dari depan, terdapat dataran sendi yang melebar ke lateral yang disebut facies patelaris yang nantinya bersendi dengan tulang patella. Dan bila dilihat dari belakang, diantara condylus lateralis dan medialis terdapat cekungan yang disebut fossa intercondyloideal.

Gambar 1a. Tulang Femur tampak depan

Gambar 1b. Tulang Femur tampak belakang

b.

Tulang patella Merupakan tulang sesamoid terbesar dalam tubuh manusia dengan bentuk segitiga dan gepeng dengan apex menghadap kearah distal. Pada permukaan depan atau anterior tulang patella kasar sedangkan permukaan dalam atau dorsal memiliki permukaan sendi yang lebih besar dan facies medial yang lebih kecil.

Gambar 2a. Patella tampak Depan

Gambar 2b. Patella tampak belakang

c.

Tulang tibia Merupakan salah satu tulang tungkai bawah selain tulang fibula, tibia merupakan tulang kuat satu-satunya yang menghubungkan femur dan tumit kaki. Seperti halnya tulang femur, tulang tibia dibagi tiga bagian, bagian ujung proksimal, corpus dan ujung distal bagian dari tulang tibia yang membentuk sendi lutut adalah bagian proksimal, dimana pada bagian ujung proksimal terdapat condillus medialis dan tubercullum inter condiloseum lateral. Didepan dan dibelakang eminentia terdapat fossa intercondilodea anterior dan posterior.

Gambar 3. Tulang Tibia

d.

Tulang fibula Tulang fibula ini berbentuk kecil panjang, terletak di sebelah lateral dari tibia juga terdiri dari tiga bagian : epiphysis proximal, diaphysis dan epiphysis distalis. Epiphysis proximalis membulat disebut capitulum fibula yang ke proximal.

Gambar 4. Fibula

2) a.

Jaringan lunak sekitar sendi lutut Meniscus Meniscus merupakan jaringan lunak, meniscus pada sendi lutut adalah meniscus lateralis. Adapun fungsi meniscus adalah:

Penyebaran pembebanan Peredam kejut (shock absorber) Mempermudah gerakan rotasi Mengurangi gerakan dan stabilisator setiap penekanan akan diserap oleh meniscus dan diteruskan ke sebuah sendi.

Gambar 5. Meniscus

Meniscus medialis Meniscus medialis berbentuk semi sirkulasi dan bersatu dengan ligament collateral medial.

Meniscus lateralis Meniscus lateralis berbentuk hampir sirkuler, tempat-tempat perlengketannya dekat satu sama lain. Meniscus lateralis tidak bersatu dengan kapsula atau ligament collateral dan maka dari itu meniscus lateral lebih mobile daripada meniscus medialis.

b.

Bursa Bursa merupakan kantong yang berisi cairan yang memudahkan terjadinya gesekan dan gerakan, berdinding tipis dan dibatasi oleh membrane synovial. Ada beberapa bursa yang terdapat pada sendi lutut antara lain :

c.

bursa popliteus bursa supra patellaris bursa infra patellaris bursa subcutan prapatelaris bursa sub patellaris Ligamen-ligamen Sendi Lutut Ligamen mempunyai sifat yang cukup lentur dan jaringannya cukup kuat yang berfungsi sebagai pembatas gerakan dan stabilitas sendi. Ada beberapa ligamen sendi lutut yaitu :

1)

Ligamentum cruciatum anterior Berjalan dari depan fossa intercondyloidea anterior ke permukaan medial condilus lateralis femoris yang berfungsi menahan hiperekstensi dan menahan bergesernya tibia ke depan.

2)

Ligamentum cruciatum posterior Berjalan dari facies lateralis condylus medialis femoris menuju ke fossa intercondylodea tibia yang berfungsi menahan bergesernya tibia ke arah belakang.

3)

Ligamentum collateral lateral Berjalan dari epicondylus lateralis ke capitulum fibula yang berfungsi menahan gerakan varus atau samping luar.

4)

Ligamentum collateral mediale Berjalan dari epicondylus medial ke permukaan medial tibia (epicondylus medialis tibia) yang berfungsi menahan gerakan valgus atau samping dalam eksorotasi. Namun secara bersamaan fungsi fungsi ligament collateralle menahan bergesernya tibia ke depan pada lutut 90.

5)

Ligamentum patella

Yang merupakan lanjutan dari tendon M. Quadriceps Femoris yang berjalan dari patella ke tuberositas tibia. 6) Ligamentum retinacullum patella lateral dan medial Ligament ini berada disebelah lateral dari tendon M. Quadricep Femoris dan berjalan menuju tibia, dimana ligamen-ligamen ini melekat dengan tuberositas tibia. 7) Ligamentum popliteum articuatum Terletak pada daerah condylus lateralis femoris erat hubungannya dengan M. Popliteum. 8) Ligamentum popliteum oblicum Berjalan dari condylus lateralis femoris kemudian turun menyilang menuju fascia popliteum yang berfungsi mencegah hyperekstensi lutut. 3) Vascularisasi dan persarafan sendi lutut Regio femoralis anterior (A. femoralis) Di regio femoralis anterior dibungkus oleh selubung yang merupakan lanjutan dari jaringan ikat ektraperitonial dan dinamakan femoral sheat yang dibungkus oleh fascia latae sedangkan dasarnya merupakan lekukan yang dibentuk oleh mm.iliopsoas dan pectineus. Regio femoralis posterior Di regio femoralis posterior terdapat a. perforantes yang dipercabangkan dari a. profunda femoris. Regio genu anterior Di regio genu anterior tidak terdapat saraf dan pembuluh darah yang besar. Pada sisi medial kira-kira selebar tangan, di sebelah dorsal patella terdapat v. saphena magna. Regio posterior Arteri genu superior lateralis berjalan ke lateral proksimal terhadap condylus lateralis femoris tertutup oleh tendon M. biceps femoris menuju M. vastus lateralis. DEFINISI NYERI LUTUT Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan jaringan yang rusak atau jaringan yang cenderung rusak. Nyeri lutut adalah rasa nyeri yang timbul pada sendi lutut dan dapat menandakan adanya kecenderungan kerusakan atau sudah terjadinya kerusakan pada sendi lutut.
10

PEMERIKSAAN NYERI LUTUT Umum : Anamnesis Awal anamnesis pasien nyeri sendi serupa dengan semua anamnesis yang lain, yaitu berupa identitas penderita, nama, alamat, umur, perkawinan, anak (jumlah, jenis kelamin dan berapa yang masih tinggal bersama penderita), pekerjaan, keadaan sosial ekonomi. Menanyakan keluhan utama mengapa penderita datang ke dokter dan keluhan tambahan yang di derita pasien. Intepretasi gejala dan tanda-tanda nyeri lutut serta pengelompokannya kedalam suatu sindrom membutuhkan pengumpulan/pencarian informasi yang seksama dan merupakan dasar untuk mengetahui/mengerti lebih mendalam mengenai penyakit rematik. Pasien yang datang dengan keluhan nyeri pada lutut bisa diajukan beberapa pertanyaan seperti: pernahkah penderita mengalami pembengkakan sendi maupun otot sebelumnya? Pernahkah penderita mengalami nyeri pada lutut (sendi/otot)? Apakah penderita mengalami kesulitan dalam berjalan? Adakah nyeri? Kapan rasa nyeri itu biasanya timbul? Dimana? Adakah kaku? Adakah tanda sistemik: penurunan berat badan atau gejala anemia? Adakah sistem lain yang terkena? Adakah gejala-gejala lain yang menyertai keluhan? Kemudian pertanyaan-pertanyaan berikutnya dilakukan dengan lebih terperinci dan terarah, seperti: Menanyakan riwayat penyakit dahulu; bagaimana aktifitas peradangan? Adakah organ lain yang terkena? Pengobatan apa yang didapat pasien? Pernahkah pasien menjalani bedah pergantian sendi, mendapat obat-obatan, fisioterapi atau bantuan lain? Menanyakan obat-obatan; Obat apa yang saat ini dimakan pasien dan apa efek sampingnya? Apakah pasien memiliki alergi? Menanyakan riwayat keluarga dan sosial; adakah riwayat penyakit autoimun dalam keluarga? Bagaimana pengaruh penyakit pada pekerjaan, keluarga, pasangan dan anak? Sayangnya pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak mengungkapkan penyakit reumatik nonartikular lainnya ataupun kelainan-kelainan jarang lainnya. Pertanyaan tambahan kadang perlu ditambahkan mengenai kelemahan yang disebabkan oleh menurunnya kekuatan otot. Untuk lebih memastikan anamnesis, perlu dilakukannya pemeriksaan fisik.

11

Pemeriksaan Fisik Anamnesis yang baik sangat membantu memberikan pengarahan pada saat pemeriksaan fisik, dan diharapkan akan ditemukan kelainan-kelainan mengenai sistem muskuloskeletal dan sistem saraf. Perlu diperhatikan pula keadaan kulit, deformitas sendi dengan pertimbangan apakah kelainan itu tergolong idiopatik, kongenital, neurologis ataukah oleh penyakit reumatik. Setelah dilakukan inspeksi, dilakukan palpasi dan perkusi untuk mencari kemungkinan adanya rasa nyeri. Perlu juga diperhatikan adanya krepitasi, perubahan-perubahan gerakan, adanya nyeri tekan, pembengkakan dan penilaian kekuatan pada daerah sendi lutut. Sendi-sendi ekstremitas bawah diperiksa pada posisi berbaring, dinilai kemampuan ruang gerak sendi serta keadaan hipermobilitas yang dapat menjadi penyebab gangguan sendi, serta dilihat adanya spastisitas/kaku kaki. Kekuatan masing-masing kelompok otot utama juga diperiksa untuk memastikan rasa nyeri itu berasal, karena rasa nyeri tidak selalu menunjukan arthtritis tapi juga dapat berasal dari tempat lain misalnya tendinitis tanpa arthritis, bursitis, miositis, atau pada saraf maupun tulang. Tes Lachman Pasien posisi terlentang dengan pemeriksa menahan lutut pada posisi fleksi 15. Tulang paha ditopang dengan satu tangan dan diberikan tekanan pada tibia bagian proksimal dan posterior untuk mengubahnya menjadi anterior. Hasil positif terjadi jika terdapat perubahan anterior secara berlebihan pada tibia dengan titik akhir yang lembut. Tes Drawer Posterior Pasien dalam posisi terlentang dengan pinggul fleksi 45, lutut fleksi 90, dankaki berada pada posisi netral pada meja. Pemeriksa menstabilkan kaki dengan cara duduk diatasnya dan meletakkan kedua tangan dibelakang proksimal tibia dan jempol pada tibia. Tekanan posterior diberikan pada tibia proksimal. Dengan adanya robekan pada ligamen, peningkatan pergeseran tibia posterior dapat dirasakan. Tes Valgus dan Varuss Stress Pasien dalam posisi telentang di atas meja periksa. Pada tes Valgus, pemeriksa mengambil kaki, dan meletakkan satu tangan pada lateral lutut dan menahan pergelangan kaki dengan tangan
12

lainnya. Tekanan Valgus diberikan pada posisi lutut fleksi 30. Sedangkan pada tes Varus, satu tangan pada lutut bagian medial dengan pergelangan kaki dipegang dengan tangan lainnya. Lutut kemudian ditekan secara penjajaran varus dengan lutut fleksi 30. Gerakan berlebihan atau kurangnya ketegasan ujung akhir memberi kesan adanya robekan ligamen medial dan kolateral. Tes Patellofemoral Grind Pasien dalam posisi terlentang dengan lutut ekstensi. Pemeriksa meletakkan jari jempol pada patela bagian superior. Pasien disuruh untuk mengontraksikan otot kuadrisep, sambil pemeriksa menekan patela kearah bawah. Timbulnya nyeri lutut anterior memberi kesan disfungsi patelofemoral. Tes ini seringkali dirasakan tidak nyaman dan penggunaannya harus benar-benar jika diperlukan. Tes McMurray Dengan posisi pasien berbaring telentang, lutut difleksikan dan di stabilkandengan tangan pemeriksa, dimana diletakkan sepanjang garis sendi medial danlateral. Dengan tangan lainnya, pemeriksa menahan kaki pada tumit dan memutar kaki pada paha dengan lutut tetap dalam keadaan fleksi. Rotasi eksternal dilakukanuntuk memeriksa kartilago medial, dan rotasi internal untuk kartilago lateral. Denganmengubah derajat dari fleksi lutut, berbagai aspek dari kartilago dapat dinilai. Jikatedengar bunyi klik dan timbul nyeri, ini memberi kesan robeknya meniskus.

13

Gambar 6. McMurray Test Tes Drawer Anterior Pasien duduk pada pinggir meja pemeriksaan dan pergelangan kaki diposisikan 90, pergelangan kaki ditahan pada sisi tibia dengan satu tangan. Jari telunjuk tangan tersebut diletakkan pada talus dengan jari tengah pada maleolus tibia.Tumit ditarik secara anterior dengan tangan lainnya. Adanya pergerakan relatif anteroposterior antara talus dan tibia dapat dipalpasi atau dilihat. Tes ini dilakukan untuk menilai integritas ligamen pergelangan kaki lateral Penunjang Laboratorium Ada banyak pemeriksaan laboratorium penunjang untuk penyakit reumatik, antara lain Laju Endap Darah (LED), protein C-reaktif, dan lain-lain yang tidak spesifik.yang paling sering diperiksa adalah faktor reumatoid, antibodi antinuklear, dan asam urat darah.

Kadang-kadang hasilnya positif, tapi tidak selalu ditemukan penyakitnya. Oleh karena itu,
14

sebaiknya uji ini hanya dilakukan untuk membantu memperkuat diagnosis dan menilai keberhasilan pengobatan penyakit. Radiologi Pada pemeriksaan radiologik, dilakukan rontgen pada sendi yang terasa nyeri. Dengan rontgen kita dapat mengetahui dengan jelas kerusakan atau perubahan-perubahan yang terjadi pada tulang rawan atau tulang yang diindikasikan mengalami kelainan. Gambar sinar X pada engsel akan menunjukkan perubahan yang terjadi pada tulang seperti pecahnya tulang rawan. Selain itu, kita dapat melihat kelainan-kelainan yang terjadi pada tulang rawan atau tulang dengan MRI. Pemeriksaan ini lebih baik dibanding dengan rontgen. Khusus Pada kasus nyeri pada sendi, perlu adanya pemeriksaan khusus yaitu pemeriksaan cairan sendi. Evaluasi cairan sendi secara seksama merupakan langkah yang paling penting pada diagnosa banding arthritis. Pemeriksaan secara menyeluruh dapat membedakan empat kelompok kelianan yang berbeda dalam patofisiologinya yaitu : 1. Gangguan tanpa radang 2. Gangguan dengan peradangan 3. Infeksi septik (infeksi bakterial) 4. Hemoragik Pada pemeriksaan cairan sendi, pengambilan cairan sendi dan teknik aspirasi harus disesuaikan menurut lokasi, anatomi dan ukuran sendi. Tes yang dilakukan pada cairan sendi antara lain : Tes Makroskopi Warna dan kejernihan * tidak berwarna dan jernih: Normal * kuning jernih : artritis reumatoid ringan, osteoartritis * kuning keruh : inflamasi spesifik dan nonspesifik * seperti susu : gout dan artritis reumatoid dengan efusi kronik * seperti nanah : artritis septik lanjut
15

* seperti darah : trauma, hemofilia * kuning coklat : pendarahan lama Pada keadaan normal tidak terdapat bekuan. Bekuan menunjukan terjadinya proses peradangan. Viskositas yang normal panjangnya tanpa putus 4-6cm disebut viskositas tinggi. Penurunan viskositas (< 4 cm) menunjukan adanya peradangan. Tes mucin, normal terlihat satu bekuan kenyal dalam cairan jernih. Mucin sedang jika bekuan kurang kuat dan tidak ada batas tegas dalam cairan jernih terjadi pada reumatoid artritis. Mucin jelek bekuan terjadi berkeping-keping pada infeksi. Tes Mikroskopik Jumlah leukosit *Keadaan normal jumlah leukosit <200/mm3 *Jumlah leukosit 200-500/mm3---penyakit non inflamatorik *Jumlah leukosit 2000-100000/mm3---inflamatorik akut seperti artritis gout, artritis rematoid *Jumlah leukosit 20000-200000/mm3---septik(infeksi) seperti artritis gonore *Jumlah leukosit 200-10000/mm3---kelompok hemoragik Hitung Jenis * Normal jumlah netrofil <25% * Jumlah netrofil pada akut inflamatorik; artritis gout akut rata-rata 83%, faktor rematoid rata-rata 46%, artritis rematoid rata-rata 65% * Jumlah netrofil pada kelompok septik (infeksi); artritis tuberkulosa rata-rata 67%, artritis gonore rata-rata 64%, artritis septik rata-rata 95% *Jumlah netrofil pada kelompok hemoragik <50% Kristal-kristal Pada keadaan normal tidak ditemukan pada cairan sendi. Artritis gout ditemukan kristal monosodium urat, artritis rematoid ditemukan kristal kolesterol. Tes Kimia Tes Glukosa *Tes glukosa cairan sendi dilakukan bersamaan dengan tes glukosa darah.
16

*Normal; perbedaan antara glukosa serum dan glukosa cairan sendi <10mg% *Kelompok non inflamatorik perbedaan <10mg% *Kelompok inflamatorik; pada artritis gout perbedaan rata-rata 12mg%, faktor rematoid perbedaan 6mg% *Kelompok septik; artritis tuberkulosa perbedaan rata-rata 57mg%, artritis gonore perbedaan rata-rata 26mg% Laktat dehidrogenase (LDH) *Normal : 100-190 U/L *Meningkat pada rematoid artritis, gout, artritis terkena infeksi Tes Serologi Tes Faktor Rematoid *Pada artritis rematoid >60%RF+ *Hasil positif palsu dapat di temukan pada SLE, hepatitis, limfoma, penyakit karena infeksi Tes C-Reactive Protein Kadar CRP meningkat pada; 70-80% penderita rematoid artritis, demam rematik, keganasan, infeksi virus, tuberkulosis, kerusakan jaringan. Tes Antinuclear Antibodies(ANA) Kadar ANA meningkat pada; >70% cairan sendi penderita SLE, >20% penderita RA Tes Mikrobiologi Tes ini dilakukan bila ada dugaan kelainan sendi disebabkan infeksi. Dengan pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam. Uji laboratoris harus dilakukan untuk memastikan kelompok pengelompokan tersebut sehingga lebih mudah menegakkan diagnosis khususnya, karena nyeri lutut bisa mengacu pada berbagai penyakit. Sakit Lutut bisa merupakan suatu gejala dari banyak kondisi dan penyakit, tekanan lutut, osteoarthritis, luka-luka, encok, infeksi/peradangan, dan sebagainya. PENYEBAB UMUM NYERI LUTUT Osteoartritis

17

Gambar 7. Osteoartritis Osteoarthritis adalah proses degeneratif pada sendi yang disebabkan karena proses penuaan yang menyebabkan kerusakan rawan sendi. Sendi yang terkena adalah sendi yang biasanya sering digerakan dan sering mendapatkan beban seperti pergelangan tangan, siku, pinggang, lutut dan engkel pada tumit. OA terjadi akibat berkurangnya cairan sinovial pada sendi, peningkatan enzim penghancur matrix rawan sendi, penurunan pembentukan proteoglikan, mulai pecahnya atau ausnya rawan sendi yang membungkus ujung tulang, terjadinya osteofit(Pengapuran sendi) Osteoartritis dikelompokkan menjadi: Osteoarthritis primer adalah degeneratif artikular sendi yang terjadi pada sendi tanpa adanya abnormalitas lain pada tubuh. Penyakit ini sering menyerang sendi penahan beban tubuh (weight bearing joint), atau tekanan yang normal pada sendi dan kerusakan akibat proses penuaan. Paling sering terjadi pada sendi lutut dan sendi panggul, tapi ini juga ditemukan pada sendi lumbal, sendi jari tangan, dan jari I pada kaki. Osteoarthritis sekunder adalah paling sering terjadi pada trauma atau terjadi akibat dari suatu pekerjaan, atau dapat pula terjadi kongenital dan adanya penyakit sistemik. Osteoarthritis sekunder biasanya terjadi pada umur yang lebih awal dari osteoarthritis primer, dan bisa juga disebabkan oleh penyakit lain (misalnya penyakit Paget atau ineksi, kelainan bentuk, cedera atau penggunaan sendi yang berlebihan). Pada osteoartritis terjadi perubahan-perubahan metabolisme tulang rawan sendi. Perubahan tersebut berupa peningkatan aktivitas enzim-enzim yang merusak makromolekul matriks tulang rawan sendi, disertai penurunan sintesis proteoglikan dan kolagen. Hal ini menyebabkan
18

penurunan kadar proteoglikan, perubahan sifat-sifat kolagen dan berkurangnya kadar air tulang rawan sendi. Pada proses degenerasi dari kartilago artikular menghasilkan suatu subtansi atau zat yang dapat menimbulkan suatu reaksi inflamasi yang merangsang makrofag untuk menghasilkan IL-1 yang akan meningkatkan enzim proteolitik untuk degradasi matriks ekstraseluler.

Gambaran utama pada osteoarthritis adalah: 1. Destruksi kartilago yang progresif 2. terbentuknya kista subartikular 3. Sklerosis yang mengelilingi tulang 4. terbentuknya osteofit 5. adanya fibrosis kapsul Perubahan dari proteoglikan menyebabkan tingginya resistensi dari tulang rawan untuk menahan kekuatan tekanan dari sendi dan pengaruh-pengaruh yang lain yang merupakan efek dari tekanan. Penurunan kekuatan dari tulang rawan disertai oleh perubahan yang tidak sesuai dari kolagen. Pada level teratas dari tempat degradasi kolagen, memberikan tekanan yang berlebihan pada serabut saraf dan tentu saja menimbulkan kerusakan mekanik. Kondrosit sendiri akan mengalami kerusakan. Selanjutnya akan terjadi perubahan komposisi molekuler dan matriks rawan sendi, yang diikuti oleh kelainan fungsi matriks rawan sendi. Melalui mikroskop terlihat permukaan tulang rawan mengalami fibrilasi dan berlapislapis. Hilangnya tulang rawan akan menyebabkan penyempitan rongga sendi. Pada tepi sendi akan timbul respons terhadap tulang rawan yang rusak dengan pembentukan osteofit. Pembentukan tulang baru (osteofit) dianggap suatu usaha untuk memperbaiki dan membentuk kembali persendian. Dengan menambah luas permukaan sendi yang dapat menerima beban, osteofit diharapkan dapat memperbaiki perubahan-perubahan awal tulang rawan sendi pada osteoartritis. Lesi akan meluas dari pinggir sendi sepanjang garis permukaan sendi. Adanya pengikisan yang progresif menyebabkan tulang dibawahnya juga ikut terlibat. Hilangnya tulang-tulang tersebut merupakan usaha untuk melindungi permukaan yang tidak terkena. Namun ternyata peningkatan tekanan yang terjadi melebihi kekuatan biomekanik tulang.

19

Sehingga tulang subkondral merespon dengan meningkatkan selularitas dan invasi vaskular, akibatnya tulang menjadi tebal dan padat (eburnasi). Pada akhirnya rawan sendi menjadi aus, rusak dan menimbulkan gejala-gejala osteoartritis seperti nyeri sendi, kaku dan deformitas. Melihat adanya proses kerusakan dan proses perbaikan yang sekaligus terjadi, maka osteoartritis dapat dianggap sebagai kegagalan sendi yang progressif. Gejala biasanya timbul secara bertahap dan pada awalnya hanya mengenai satu atau sedikit sendi. Yang sering terkena adalah sendi jari tangan, pangkal ibu jari, leher, punggung sebelah bawah, jari kaki yang besar, panggul dan lutut. Nyeri yang biasanya akan bertambah buruk jika melakukan olah raga, merupakan gejala pertama. Beberapa penderita merasakan kekakuan pada sendinya ketika bangun tidur atau pada kegiatan non-aktif lainnya, tetapi kekakuan ini biasanya menghilang dalam waktu 30 menit setelah mereka kembali menggerakkan sendinya. Kerusakan karena orteoartritis semakin memburuk, sehingga sendi menjadi sukar digerakkan dan pada akhirnya akan terhenti pada posisi tertekuk. Pertumbuhan baru dari tulang, tulang rawan dan jaringan lainnya bisa menyebabkan membesarnya sendi, dan tulang rawan yang kasar menyebabkan terdengarnya suara gemeretak pada saat sendi digerakkan. Pada beberapa sendi (misalnya sendi lutut), ligamen (yang mengelilingi dan menyokong sendi) teregang sehingga sendi menjadi tidak stabil. Menyentuh atau menggerakkan sendi ini bisa menyebabkan nyeri yang hebat. Pengobatan OA merupakan hal yang sangat penting karena bila dilakukan dengan benar dan tekun, maka hasil yang dicapai terbaik dibandingkan pengobatan arthritis lainnya. Tujuan pengobatan adalah untuk menghilangkan rasa sakit, memperkecil ketidak-mampuan (diability), memperbaiki fungsi organ yang terkena dan menghambat progesivitas penyebabnya. Pengobatan OA dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

Medika Mentosa
Obat hanya bagian dari rencana pengobatan seluruhnya. Obat-obat yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit dan meningkatkan mobilitas. Biasanya sebagai
20

analgetik dan atau anti inflamasi. Pada OA selain terdapat proses degenerasi, juga terdapat inflamasi (meskipun tidak seberat pada arthritis rematoid) oleh karena itu, obat analgetikantiinflamasi lebih efektif dari obat analgetik saja. Obat-obatan yang biasa diberikan adalah :

Obat peredam nyeri (misalnya acetaminofen) Obat anti inflamasi non-steroid (misalnya aspirin atau ibuprofen) bisa diberikan untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan (sinovitis).

Untuk topikal terapi dengan topikal NSAID, salisilat cream efektif pada beberapa penderita ostearthritis.

Obat untuk memperbaiki rawan sendi: golongan glukosamin sulfat dan kondroitin sulfat Obat untuk memberi pelumasan sendi ke lutut seperti suntikan hialuronat ke ruang sendi Jika sendi secara tiba-tiba mengalami peradangan, membengkak atau terasa nyeri, bisa diberikan pengobatan lokal dengan injeksi intra-articular steroid (disuntikkan kortikosteroid langsung ke dalam sendi).

Non Medika Mentosa


Untuk terapi non medika mentosa, Usia, Genetik, gender tidak dapat dicegah, yang bisa dilakukan adalah menghindari cidera, benturan berulang, gemuk dikurangi, menghentikan rokok, menghindari berjalan lebih dari 2 mil/hari, berlari, berdiri terlalu lama, dan mengangkat beban > 25 kg yang dilakukan rutin. Mengkonsumsi Vit C, E, Beta Karoten, dan terapi sulih hormon juga dapat mencegah OA. Terapi latihan/exercise theraphy merupakan salah satu usaha pengobatan dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaanya menggunakan latihan-latihan gerakan tubuh baik secara aktif maupun pasif. Olah raga yang tepat (termasuk peregangan dan penguatan) akan membantu mempertahankan kesehatan tulang rawan, meningkatkan daya gerak sendi dan kekuatan otot-otot di sekitarnya sehingga otot menyerap benturan dengan lebih baik.

21

Diet untuk menurunkan berat badan pada pasien osteoarthritis yang gemuk harus menjadi program utama pengobatan osteoarthritis. Penurunan berat badan seringkali dapat mengurangi timbulnya keluhan dan peradangan Tetap melakukan kegiatan dan pekerjaan sehari-hari, sangatlah penting. Terapi fisik yang sering dilakukan adalah dengan pemanasan seperti mandi dengan air hangat. Jika pengobatan lainnya gagal, bisa dilakukan pembedahan. Selain itu, tindakan operasi juga dapat dilakukan sebagai pertimbangan pada pasien dengan osteoartritis dengan kerusakan sendi yang nyata, dengan nyeri yang menetap dan kelemahan fungsi. Tindakan yang dapat dilakukan antara lain : Osteotomi, untuk mengoreksi ketidaklurusan atau ketidak sesuaian Debrideman sendi, Pembersihan osteofit, Artroplasti total, dilakukan bila seluruh bagian sendi rusak. Prosedur ini sering dilakukan pada kaki dan artrodesis, dilakukan pada orang muda pada sendi yang tidak stabil. Operasi Arthroplasty total merupakan perawatan yang pasti untuk kasus osteoartritis yang berat. Beberapa sendi (terutama sendi panggul dan lutut) bisa diganti dengan sendi buatan. Tindakan ini biasanya berhasil dan hampir selalu bisa memperbaiki fungsi dan pergerakan sendi, serta mengurangi nyeri. Fisioterapi.

Rheumatoid Artritis

22

Gambar 8. Rheumatoid Artritis Rhematoid Artritis merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh. Artritis Rematoid adalah suatu penyakit autoimun dimana persendian (biasanya sendi tangan dan kaki) secara simetris mengalami peradangan, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi. Hingga kini penyebab Rhematoid Artritis (RA) tidak diketahui, tetapi beberapa hipotesa menunjukan bahwa RA dipengaruhi oleh faktor-faktor :

a. Mekanisme IMUN ( Antigen-Antibody) seperti interaksi antara IGC dan faktor Rematoid b. Gangguan Metabolisme c. Genetik d. Faktor lain : nutrisi dan faktor lingkungan (pekerjaan dan psikososial) Pasien-pasien dengan RA akan menunjukan tanda dan gejala seperti : a. Nyeri persendian b. Bengkak (Rheumatoid nodule)
23

c. Kekakuan pada sendi terutama setelah bangun tidur pada pagi hari d. Terbatasnya pergerakan e. Sendi-sendi terasa panas f. Demam (pireksia) g. Anemia h. Berat badan menurun i. Kekuatan berkurang j. Tampak warna kemerahan di sekitar sendi k. Perubahan ukuran pada sendi dari ukuran normal l. Pasien tampak anemik Pada tahap yang lanjut akan ditemukan tanda dan gejala seperti : a. Gerakan menjadi terbatas b. Adanya nyeri tekan c. Deformitas bertambah pembengkakan d. Kelemahan e. Depresi Kriteria Artritis rematoid menurut American Reumatism Association ( ARA ) adalah: 1. Kekakuan sendi jari-jari tangan pada pagi hari ( Morning Stiffness ). 2. Nyeri pada pergerakan sendi atau nyeri tekan sekurang-kurangnya pada satu sendi. 3. Pembengkakan ( oleh penebalan jaringan lunak atau oleh efusi cairan ) pada salah satu sendi secara terus-menerus sekurang-kurangnya selama 6 minggu. 4. Pembengkakan pada sekurang-kurangnya salah satu sendi lain. 5. Pembengkakan sendi yanmg bersifat simetris. 6. Nodul subcutan pada daerah tonjolan tulang didaerah ekstensor. 7. Gambaran foto rontgen yang khas pada arthritis rheumatoid 8. Uji aglutinnasi faktor rheumatoid 9. Pengendapan cairan musin yang jelek

24

10. Perubahan karakteristik histologik lapisan sinovia 11. gambaran histologik yang khas pada nodul. Berdasarkan kriteria ini maka disebut : Klasik : bila terdapat 7 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu Definitif : bila terdapat 5 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 6 minggu. Kemungkinan rheumatoid : bila terdapat 3 kriteria dan berlangsung sekurang-kurangnya selama 4 minggu. Penatalaksanaan Medik Penatalaksanaan medik pada pasien RA diantaranya : a) Pendidikan : meliputi tentang pengertian, patofisiologi, penyebab, dan prognosis penyakit ini b) Istirahat : karena pada RA ini disertai rasa lelah yang hebat c) Latihan : pada saat pasien tidak merasa lelah atau inflamasi berkurang, ini bertujuan untuk mempertahankan fungsi sendi pasien d) Termoterapi e) Gizi yaitu dengan memberikan gizi yang tepat f) Pemberian Obat-obatan : Anti Inflamasi non steroid (NSAID) contoh:aspirin yang diberikan pada dosis yang telah ditentukan. Obat-obat untuk Reumatoid Artitis : Acetyl salicylic acid, Cholyn salicylate (Analgetik, Antipyretik, Anty Inflamatory) Indomethacin/Indocin(Analgetik, Anti Inflamatori) Ibufropen/motrin (Analgetik, Anti Inflamatori) Tolmetin sodium/Tolectin(Analgetik Anti Inflamatori) Naproxsen/naprosin (Analgetik, Anti Inflamatori) Sulindac/Clinoril (Analgetik, Anti Inflamatori) Piroxicam/Feldene (Analgetik, Anti Inflamatori)

Artritis Gout
25

Gout atau orang awam bilang asam urat adalah suatu kondisi dimana tubuh tidak dapat mengontrol asam urat, sehingga kristal asam urat yang berlebihan akan menumpuk di jaringan tubuh. Gout ditandai dengan peningkatan kadar asam urat dalam tubuh dan menyebabkan inflamasi (radang) pada persendian (artritis). Gout kronik (jangka panjang) dapat menyebabkan penumpukan asam urat didalam dan sekitar persendian, menurunkan fungsi ginjal dan membentuk batu ginjal. Gejala dan Tanda Gejala awal dari artritis gout adalah panas, kemerahan dan pembengkakan pada sendi yang tipikal dan tiba-tiba. Persendian yang sering terkena adalah persendian kecil pada basis dari ibu jari kaki. Beberapa sendi lain yang dapat terkena ialah pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan, jari tangan, dan siku. Pada serangan akut penderita gout dapat menimbulkan gejala demam dan nyeri hebat yang biasanya bertahan berjam-jam sampai seharian, dengan atau tanpa pengobatan. Seiring berjalannya waktu serangan artritis gout akan timbul lebih sering dan lebih lama. Pasien dengan gout meningkatkan kemungkinan terbentuknya batu ginjal. Kristal-kristal asam urat dapat membentuk tophi (benjolan keras tidak nyeri disekitar sendi) di luar persendian. Tophi sering ditemukan di sekitar jari tangan, di ujung siku dan sekitar ibu jari kaki, selain itu dapat ditemukan juga pada daun telinga, tendon achiles (daerah belakang pergelangan kaki) dan pita suara (sangat jarang terjadi).

Gambar 9. Artritis Gout Tata Laksana Gout tidak dapat disembuhkan, namun dapat diobati dan dikontrol. Gejala-gejala dalam 24 jam
26

biasanya akan hilang setelah mulai pengobatan. Gout secara umum diobati dengan obat anti inflamasi. Yang termasuk didalamnya adalah:

NSAIDs, seperti ibuprofen atau naproxen, secara umum diberikan untuk mengobati serangan berat dan mendadak, obat ini bisasanya menurunkan peradangan dan nyeri dalam beberapa jam.

Kortikosteroid, dapat diberikan pada orang yang tidak dapat menggunakan NSAIDs. Steroid bekerja menurunkan peradangan. Steroid dapat di suntik (injeksi) langsung pada sendi yang terkena atau diminum dalam bentuk pil.

Colchicine sering juga digunakan untuk mengobati peradangan pada penyakit gout. Allupurinol dapat menurunkan kadar asam urat dengan cara menekan produksi asam urat. Obat ini bekerja pada metabolisme asam urat dengan mencegah perubahan zat purine dalam makanan menjadi asam urat. Pengobatan ini tidak dianjurkan untuk orang dengan fungsi ginjal yang kurang, selain itu dapat menimbulkan efek samping seperti kemerahan dan kerusakan hati.

Pencegahan Makanan yang mengandung tinggi purin dan tinggi protein sudah lama diketahui dapat menyebabkan dan meningkatkan risiko terkena gout.

Pembatasan purin

Apabila telah terjadi pembengkakan sendi maka penderita gangguan asam urat harus melakukan diet bebas purin. Namun karena hampir semua bahan makanan sumber protein mengandung nukleoprotein maka hal ini hampir tidak mungkin dilakukan. Maka yang harus dilakukan adalah membatasi asupan purin menjadi 100-150 mg purin per hari (diet normal biasanya mengandung 600-1.000 mg purin per hari). Makan-makanan yang mengandung purin antara lain;
o o o o

Jeroan (jantung, hati, lidah ginjal, usus) Sarden Kerang Ikan herring
27

o o o o

Kacang-kacangan Bayam Udang Daun melinjo

Kalori sesuai kebutuhan

Jumlah asupan kalori harus benar disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan pada tinggi dan berat badan. Penderita gangguan asam urat yang kelebihan berat badan, berat badannya harus diturunkan dengan tetap memperhatikan jumlah konsumsi kalori. Asupan kalori yang terlalu sedikit juga bisa meningkatkan kadar asam urat karena adanya badan keton yang akan mengurangi pengeluaran asam urat melalui urin

Tinggi karbohidrat

Karbohidrat kompleks seperti nasi, singkong, roti dan ubi sangat baik dikonsumsi oleh penderita gangguan asam urat karena akan meningkatkan pengeluaran asam urat melalui urin. Konsumsi karbohidrat kompleks ini sebaiknya tidak kurang dari 100 gram per hari. Karbohidrat sederhana jenis fruktosa seperti gula, permen, arum manis, gulali, dan sirop sebaiknya dihindari karena fruktosa akan meningkatkan kadar asam urat dalam darah.

Rendah protein

Protein terutama yang berasal dari hewan dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Sumber makanan yang mengandung protein hewani dalam jumlah yang tinggi, misalnya hati, ginjal, otak, paru dan limpa. Asupan protein yang dianjurkan bagi penderita gangguan asam urat adalah sebesar 50-70 gram/hari atau 0,8-1 gram/kg berat badan/hari. Sumber protein yang disarankan adalah protein nabati yang berasal dari susu, keju dan telur.

Rendah lemak
28

Lemak dapat menghambat ekskresi asam urat melalui urin. Makanan yang digoreng, bersantan, serta margarine dan mentega sebaiknya dihindari. Konsumsi lemak sebaiknya sebanyak 15 persen dari total kalori.

Tinggi cairan

Konsumsi cairan yang tinggi dapat membantu membuang asam urat melalui urin. Karena itu, Anda disarankan untuk menghabiskan minum minimal sebanyak 2,5 liter atau 10 gelas sehari. Air minum ini bisa berupa air putih masak, teh, atau kopi. Selain dari minuman, cairan bisa diperoleh melalui buah-buahan segar yang mengandung banyak air. Buah-buahan yang disarankan adalah semangka, melon, blewah, nanas, belimbing manis, dan jambu air. Selain buah-buahan tersebut, buah-buahan yang lain juga boleh dikonsumsi karena buah-buahan sangat sedikit mengandung purin. Buah-buahan yang sebaiknya dihindari adalah alpukat dan durian, karena keduanya mempunyai kandungan lemak yang tinggi.

Tanpa alkohol

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kadar asam urat mereka yang mengonsumsi alkohol lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsi alkohol. Hal ini adalah karena alkohol akan meningkatkan asam laktat plasma. Asam laktat ini akan menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh.
ANTERIOR CRUCIATUM LIGAMENT RUPTUR

Gambar 10-. Anterior Cruciate Ligamen Anterior cruciate ligamen, atau ACL, adalah satu dari empat major ligamen pada lutut. ACL adalah kritikal untuk stabilitasi pada lutut, dan seseorang yang mengalami cedera pada
29

ACLnya sering mengeluh tanda-tanda lututnya seperti akan keluar darinya tempatnya. Oleh sebab itu, banyak pasien yang mengalami robekan pada ACL memilih operasi sebagai perawatan untuk cedera tersebut.Pasien yang menderita robekan ACL biasanya mengalami cedera pada lutut. Cederanya biasanya berhubungan dengan olahraga. Mereka merasakan bunyi pop pada lutut mereka, dan biasanya tidak stabil. Robekan pada ACL mengakibatkan pembengkakan pada lutut dan rasa sakit. Serta didapatkan tanda-tanda ketidakstabilan pada lutut. Spesial test tersebut adalah dengan memberikan tekanan pada ACL dan akan mendeteksi robekan ligament. MRI juga digunakan untuk memastikan robeknya ligament dan juga untuk melihat apakah ada bagian lain yang rusak. Banyak pasien dengan robekan ACL mulai merasa baikan dalam masa beberapa minggu dari tanggal kejadian. Mereka akan merasakan lututnya kembali seperti normal tetapi masalah dengan ketidakstabilan mungkin masih dirasakan. Biasa operasi robeknya ACL dinamakan Rekonstruksi ACL atau juga disebut dengan ACL Reconstruction. Perbaikan ligamen mungkin dilakukan, yaitu dengan merekonstruksi dengan menggunakan urat atau ligament yang lain untuk disambungkan pada ligament yang putus. Ada beberapa pilihan untuk bagaimana melakukan operasi ACL. Ada juga variasi dalam prosedur, seperti rekonstruksi ACL baru double-bundel.Rehabilitasi adalah salah satu aspek yang paling penting, tapi terlalu sering diabaikan setelah rekonstruksi bedah ACL. Rehabilitasi setelah operasi ACL berfokus pada gerakan kembali dan kekuatan, dan meningkatkan stabilitas sendi untuk mencegah cedera masa depan. ROBEKAN MENISKUS

Gambar 11. Robekan Meniskus


30

Robekan meniscus itu dapat didiagnosa melalui anamnesis lengkap dan pemeriksaan fisik. Rasa sakit, pops, atau clicks selama test ini dapat disimpulkan sebagai robekan di meniscus. MRI juga dapat dilakukan untuk melihat sejauh mana robekannya. Pengobatan bervariasi tergantung pada luas dan lokasi meniskus yang robek. Jika robekannya kecil, seorang pasien biasanya melakukan pengobatan terapi fisik. Jika robekan meniskusnya besar, pembedahan arthroscopic diperlukan untuk memperbaiki robekannya.

Gambar 12. Artroskopi

KISTA BAKER Kista Baker adalah pembengkakan yang disebabkan oleh cairan dari sendi lutut menonjol di bagian belakang lutut. Bagian belakang lutut juga disebut sebagai daerah poplitea lutut. Kista Baker kadang-kadang disebut kista poplitea. Ketika cairan berlebihan cairan membentuk kantung berisi cairan dari kista Baker. Pemberian nama ini untuk diilhami dari ahli bedah Inggris William Morrant Baker (1839-1896). Dokter inilah yang pertama kali meneliti kista dibelakang lutut.

31

Gambar 13. Kista Baker Gejala sangat mudah dikenali yakni terdapat Tonjolan halus di belakang sendi lutut atau di atas betis. Kista Baker biasanya tidak menimbulkan rasa sakit sebelum pecah. Hal ini dapat menyebabkan sakit ringan atau tidak nyaman di belakang lutut, terutama ketika berolahraga. Jika kista pecah, bisa menyebabkan pembengkakan yang menyakitkan. Gejala-gejala kista pecah serupa dengan thrombophlebitis dari tungkai bawah. Pengobatan kista biasanya menyesuaikan dengan penyakit yang menjadi penyebabnya. Suntikan obat anti-radang ke dalam kista dapat mengurangi ukuran kista dan peradangan yang terjadi. Jika kista besar dan menyebabkan rasa sakit dianjurkan untuk dibedah.

32

BAB III KESIMPULAN

Lutut adalah salah satu sendi utama pemikul berat badan dan banyak menjadi korban keausan dan regangan pada orang dengan keaktifan tinggi. Lutut terdiri atas 4 tulang penyusunnya yaitu tulang patella, fibula,tibia dan femur. Selain itu juga terdapat jaringan lain yang meliputi tulang rawan, otot, tendon, dan ligamen, serta terdapat alat penahan goncangan yang disebut menisci (singular meniskus). Struktur lain yang bersifat melindungi adalah bursa. Penyebab dari nyeri lutut itu sendiri dapat beragam. Nyeri dapat bersumber dari tulang, otot maupun jaringan disekitarnya. Beberapa contohnya diantaranya karena proses degenerative seperti pada osteoarthritis, peradangan pada rheumatoid artritis, penumpukan asam urat, atau kerusakan pada ligamen sendi lutut. Penyebab yang bervariasi ini juga akan membutuhkan penanganan yang bervariasi. Penanganan yang diberikan dapat meliputi pemberian analgetik maupun terapi pembedahan untuk mengatasi nyeri. Pada osteoatritis kelainan terjadi pada tulang rawan dan diperlukan pengobatan untuk memberikan nutrisi pada tulang rawan atau merangsang pembentukan matriks rawan dengan glukosamin dan chondroitin atau asam hyaluronat. Pada peradangan yang disebabkan rheumatoid artritis perlu diberikan antiinflamasi. Pada penanganan artritis gout yang terpenting adalah diet rendah purin untuk mencegah semakin tingginya kadar asama urat dalam tubuh. Sedangkan pada nyeri lutut yang disebabkan oleh trauma diperlukan pemberian analgetik dan kadang perlu dilakukan tindakan pembedahan untuk memulihkan fungsi dari sendi lutut. Terapi yang tak kalah penting yaitu dengan melakukan latihan fisik. Sehingga sendi lutut terhindar dari kekakuan dan mempercepat proses pemulihan.

33

DAFTAR PUSTAKA 1. Soeparman. Ilmu penyakit dalam: Ilmu penyakit sendi. Jilid I. Edisi ke-2. Jakarta; Balai Penerbit FKUI; 1991.h.660-68. 2. Osteoartritis. Diunduh dari http://artikel-kesehatanonline.blogspot.com/2008/01/osteoarthritis.html. Januari 2008. 3. Carlos J Lozada, MD, Director of Rheumatology Fellowship Program, Associate Professor, Department of Medicine, Division of Rheumatology and Immunology, Jackson Memorial Medical Center, University of Miami School of Medicine. Osteoarthritis. Diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/330487diagnosis. 2 Oktober 2008. 4. Price, S.A, Wilson L.M. Patofisiologi, konsep klinis proses-proses penyakit: Osteoartritis. Volume 2. Edisi ke-6. Jakarta; EGC; 2006.h.1380-83. 5. Santoso M. Standar pelayanan medis penyakit dalam: Rheumatologi. Jakarta; Yayasan Diabetes Indonesia; 2004.h.60-62. 6. Bahan kuliah muskuloskeletal 2: Patologi klinik. blok 14. Jakarta; Universitas Kristen Krida Wacana; 2009. 7. Osteoarthritis. Diunduh dari http://medicastore.com/index. 8. Operasi pergantian sendi terbaik untuk pangapuran sendi. Diunduh dari http://www.klikdokter.com. 31 Juli 2008. 9. Lutut nyeri dan kaku? Perkapuran? Mungkin. Diunduh dari http://www.wikimu.com. 22 September 2008.

34