Anda di halaman 1dari 2

Keong air tawar termasuk filum Moluska, yakni hewan yang tidak bertulang belakang dan tergolong dalam

kelas Gastropoda. Cirinya bertubuh lunak dan dilindungi oleh cangkang tunggal. Beberapa jenis bertutup cangkang dan digolongkan sebagai operculate, sebagian lagi yang tidak memiliki tutup cangkang digolongkan sebagai pulmonate. Keong yang tidak memiliki cangkang digolongkan sebagai slug atau siput telanjang yang hidup di darat (terrestrial) atau di perairan laut. Keong air tawar umumnya memiliki tutup cangkang atau operculum, hidup di berbagai tipe perairan seperti sungai, danau, rawa, bahkan di saluran irigasi, sawah atau kolam. Habitat yang disukai mulai dari yang berarus deras, tenang, dengan substrat berbatu, pasir berlumpur atau serasah daun, batang atau ranting pohon yang terendam di dalam perairan dangkal maupun dalam (> 10 m). Keong yang tidak bertutup cangkang umumnya lebih rentan terhadap perubahan suhu, perubahan substrat dan arus, seperti halnya jenis Lymnaea, Physastra, Gyraulus, Indoplanorbis, Polypylis, Helicorbis dan jenis jenis yang bertutup cangkangpun beberapa jenis sangat sensitif terhadap kandungan oksigen, arus dan tipe substrat (batuan, pasir, tumbuhan air, dan lainnya). Pulau Jawa memiliki ratusan sungai dan rawa serta danau yang saat ini banyak mengalami perubahan fisik dan kimia. Sebagian lingkngan sektar rawa atau setu telah berubah menjadi kawasan perumahan. Sungai-sungai utama telah tercemar dan mengalami pendangkalan, atau menjadi dalam dan berlumpur akibat penggalian batu dan pasir secara besar-besaran dan terus menerus. Akibatnya perairan tersebut menjadi tempat yang tidak bisa layak lagi bagi beberapa jenis keong air tawar. Menurut catatan terakhir yang dikumpulkan oleh Van Benthem Jutting (1956) tercatat 65 jenis keong air tawar yang dijumpai di berbagai tipe perairan di Pulau Jawa, termasuk 28 jenis tercatat dari sungai Ciliwung dan 19 jenis dari Cisadane. Hasil penelitian Wowor pada tahun 2009, menunjukkan laju penurunan jenis keong sebesar 66,7 % di Ciliwung (dijumpai hanya 10 jenis) dan 35,7 % di Cisadane (dijumpai hanya

12 jenis). Penjelasan Marwoto & Isnaningsih (2006-2010) serta Khler dkk (2009) menyatakan bahwa keong jenis Sulcospira sulcospira dan Sulcospira pisum tidak dijumpai lagi di perairan sungai, rawa, danau di Pulau Jawa, padahal keduanya merupakan jenis endemik Jawa (tidak dijumpai di tempat lain selain Jawa). Tahun 2011, Laboratorium Malakologi, Puslit Biologi LIPI melakukan evaluasi keanekaragaman keong air tawar di Pulau Jawa. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi berapa jenis keong yang masih bertahan dan berapa jenis yang sudah hilang dari habitatnya. Acuannya adalah koleksi ilmiah yang disimpan di MZB dan berbagai pustaka. Data penurunan keanekaragaman jenis keong air tawar menjadi dasar yang penting untuk mempelajari lebih lanjut sejauh mana pencemaran, pendangkalan dan perusakan fisik berbagai tipe perairan dalam mempengaruhi kehidupan biota perairan. Pemanfaatan lebih jauh, menjadi data dasar dalam pengelolaan berbagai tipe perairan seperti sungai, danau dan rawa, khususnya di Pulau Jawa termasuk memperbaiki ekosistem perairan tersebut dan mencegah hilangnya keanekaragaman biota perairan lainnya seperti ikan, moluska, kepiting, udang, dan lainnya. Hasil evaluasi mengindikasikan bahwa keong jenis Wattebledia crosseana (Wattebled, 1884), Wattebledia insularum van Benthem Jutting, 1956, Balonocochlis glandiformis (Schepman, 1896), Gyraulus terraesacrae Rensch, 1934, Polypylis kennardi (Bullen, 1906), Helicorbis caenosus (Benson, 1850), Ferrissia javana (Martens, 1897) yang ukurannya relatif kecil sangat jarang dijumpai. Nampaknya keong keong ini sangat sensitif terhadap perubahan kualitas perairan, baik kualitas kimia, biologi dan fisik. Jumlah jenis koleksi keong air tawar yang tercatat di Pulau Jawa bertambah dua, menjadi 67 jenis. Jenis pertama adalah keong hama Pomacea canaliculata yang masuk ke Indonesia sekitar tahun 1984, dan jenis lannya adalah Sulcospira sp. Jenis yang kedua tersebut berbeda dengan jenis yang telah ada sebelumnya yaitu S. sulcospira, S. pisum, S. testudinaria). Berdasarkan data yang ada, jenis S. testudinaria merupakan jenis yang mampu menyebar luas, dijumpai di berbagai tipe perairan (sungai, rawa, danau) di Pulau Jawa, sedangkan Sulcospira sp. hanya dijumpai di sungai di daerah Tasikmalaya, Jawa Barat.