Anda di halaman 1dari 10

TIFUS ABDOMINALIS

A. Definisi Penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada pencernaan dan gangguan kesadaran (Ngastiyah, 1997). B. Etiologi Infeksi kuman Salmonella typhosa kuman negatif, motil dan tidak menghasilkan spora. C. Patofisiologi Dasar kelainan endotoksin dan peradangan pada kelenjar limfoid Salmonella typi masuk melalui mukosa usus halus pembuluh limfe peredaran darah ke organ-organ, terutama hepar dan lien replikasi peredaran darah kelenjar limfoid (plaques peyerii) menimbulkan radang dan ulkus Patogenesis Kuman Salmonella masuk bersama makanan/minuman, setelah berada dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (terutama plak peyer) dan jaringan limfoid mesenterika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis setempat, kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia primer) menuju organ retikuloendotelial system (RES) terutama hati dan limpa. Ditempat ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit RES dan kuman yang tidak difagosit, berkembang biak. Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke darah menyebar ke seluruh tubuh(bakteremia sekunder), dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama limpa, kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut dikeluarkan kembali dari kandung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi di usus. Dalam masa bakteremia ini kuman mengeluarkan endotoksin yang susunan kimianya sama dengan somatik antigen (lipopolisakarida), yang semula diduga bertanggungjawab terhadap terjadinya gejala-gejala dari demam tifoid.

Ami 06-PSIK-UNHAS

Demam tifoid disebabkan karena salmonella typhosa dan endotoksinnya yang merangsang sintese dan pelepasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang meradang. Selanjutnya zat pirogen yang beredar di darah mempengaruhi pusat termoregulator di hipotalamus yang mengakibatkan timbulnya gejala demam. D. Tanda & Gejala 1. Demam > 7 hari (step ladder temperature chart), biasanya dimulai dengan demam yang makin meninggi, pada minggu kedua demam tinggi terus menerus terutama malam hari, siang agak turun tapi tidak pernah mencapai normal (demam intermitten) 2. Nyeri kepala, malaise, mialgia, anoreksia 3. Obstipasi, diare, mual, muntah atau kembung 4. Gangguan saraf sentralis : apatis, kesadaran menurun, mengigau, delirium 5. Hepatomegali ringan 6. Splenomegali 7. Skibala 8. Lidah kotor tepi hiperemis, tremor 9. Nyeri tekan/spontan pada perut di daerah Mc Burney (kanan bawah) 10. Bradikardi relatif 11. Rose spot (dijumpai pada orang kulit putih) E. Pemeriksaan Diagnostik/Penunjang 1. Kultur empedu (darah, sumsum tulang) 2. Tes Widal : titer O160, titer H640 3. Penignkatan titer widal 4 kali dalam 1 minggu dianggap demam tifoid positif 4. Leukopenia, eosinofilia F. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Komplikasi Perdarahan usus Perforasi usus Meningitis Gangguan mental Syok septik Pneumoni Hepatitis Arthritis

Ami 06-PSIK-UNHAS

G.

Penatalaksanaan/Pengobatan (Mubin, 2001) 1. Terapi umum a. Istirahat Berbaring ditempat tidur selama 5 sampai 7 hari apireksi b. Diet Tinggi kalori, cukup cairan Makanan sesuai dengan selera penderita Langsung diberi nasi/makanan padat lainnya asal rendah serat c. Medikamentosa Obat pertama Kloramfenikol 3 x 500 mg sampai 7-10 hari apireksi Obat alternatif Kotrimoksazol 2 x 2 tablet/hari Ampisilin/amoksisilin 3 x 0,5-1 mg/hari Quinolon (Peflacin) 400 mg/hari Seftriakson 2 x 1 gr/hari selama 3-5 hari Dalam keadaan toksis dapat diberikan kortikosteroid dosis tinggi

2.

Terapi komplikasi a. Perdarahan usus Pemberian obat per oral tetapi hati-hati, lebih baik dihentikan Diet halus, sebaiknya diet diberi parenteral Dapat diberikan obat hemostatis seperti asam traneksamat (cyklokapron) b. Perforasi usus Diet dan obat per oral dihentikan Segera konsultasikan ke dokter bedah

H.

Asuhan Keperawatan (Hidayat, 2006) 1. Pengkajian Pada pengkajian dapat ditemukan : a. Demam yang khas yang berlangsung selama kurang lebih 3 minggu dan menurun pada pagi hari serta meningkat pada sore dan malam hari b. Nafsu makan menurun c. Bibir kering dan pecah-pecah d. Lidah kotor, ujung dan tepi kemerahan

Ami 06-PSIK-UNHAS

e. Adanya meteorismus f. Terjadi pembesaran hati dan limfa g. Adanya konstipasi dan bahkan bisa terjadi gangguan kesadaran (apatis, samnolen) h. Ada bradikardia i. Kemungkinan terjadi komplikasi j. Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya leukopenia dengan limfositosis relatif k. Pada kultur empedu ditemukan kuman pada darah, urine, feses dan uji serologis widal menunjukkan kenaikan titer antibodi O lebih besar atau sama dengan 1/200 dan H : 1/200 2. Diagnosa Keperawatan a. Kurang nutrisi (kurang dari kebutuhan) Dapat disebabkan adanya asupan yang tidak adekuat oleh karena menurunnya nafsu makan akibat proses patologis. Tujuan keperawatan : Terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada anak Tindakan : Berikan diet TKTP, cukup cairan, rendah serat dan tidak mengandung gas Berikan ekstra susu atau makanan dalam keadaan hangat Berikan makanan mulai dari sedikit tetapi sering hingga jumlah asupan terpenuhi Berikan nutrisi dalam bentuk makanan lunak untuk membantu nafsu makan Monitor perubahan berat badan, adanya bisisng usus, status gizi b. Hipertermia Dapat disebabkan oleh adanya reaksi kuman Salmonella tyhposa yang masuk kedalam tubuh. Tujuan keperawatan : Mempertahankan kondisi suhu tubuh dalam batas normal Tindakan : Monitor perubahan suhu tubuh, denyutan nadi

Ami 06-PSIK-UNHAS

Lakukan tindakan yang dapat menurunkan suhu tubuh seperti lakukan kompres, berikan pakaian tipis untuk memudahkan proses penguapan Berikan antipiretik dan antibiotik sesuai dengan ketentuan Libatkan keluarga dalam perawatan serta ajari cara menurunkan suhu dan mengevaluasi perubahan suhu tubuh c. Risiko terjadi komplikasi Adanya komplikasi lebih lanjut seperti adanya perdarahan, perforasi, tukak daerah mukosa yang dapat mengganggu sistem tubuh oleh karena kemampuan kuman dalam merusak sistem serta adanya penurunan daya tahan tubuh. Tujuan keperawatan : Mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut Tindakan : Berikan istirahat yang cukup selama demam, dan lakukan mobilisasi setelah 2 minggu bebas panas mulai dari duduk Monitorlah adanya tanda komplikasi Berikan antibiotik sesuai dengan ketentuan

DAFTAR PUSTAKA Hidayat. (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 2, Edisi 1, Jakarta: Salemba Medika. Mirzanie dan Leksana. (2006). Buku Saku Anak, Edisi 2, Jakarta: Tosca Enterprise. Mubin. (2001). Panduan Praktis Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta: EGC. Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak Sakit, Jakarta: EGC.

Ami 06-PSIK-UNHAS

Rampengan. (1993). Penyakit Infeksi Tropik pada Anak, Jakarta: EGC.

CA. OVARIUM
Pengertian
Kanker ovarium adalah kanker yang berasal dari epitel sel pada ovarium yang berkaitan dengan pajanan estrogen seumur hidup (Corwin, 2000). Pada anak atau dewasa muda, kanker ovarium dapat berkembang di sel-sel germinativum (ova), yang mungkin berkaitan dengan predisposisi genetik. Berdasarkan konsistensi tumor, carsinoma ovarii dibagi dalam 2 golongan, yaitu : Carsinoma ovarii yang solid dan Carsinoma ovarii yang kistik (FK-Unpad, 1981). Carsinoma Ovarii Primer yang Solid

Ami 06-PSIK-UNHAS

Adenocarcinoma Carcinoma Mesonephroma dari Ovarium Carsinoma Kistik Primer Ovarium Cystadenocarcinoma mucinosum Cystadenocarcinoma serosum Carcinoma sekunder pada kista dermoid

Penyebab
Belum ada faktor penyebab definitif yang ditetapkan, tetapi kontrasepsi oral memberikan efek protektif (Baughman & Hackley, 2000). Kanker ovarium paling tinggi terjadi pada wanita yang keluarganya dekat (first-degree relatives) mengidap kanker ovarium. Diit tinggi lemak, kegemukan dan tidak pernah mengandung meningkatkan risiko kanker ovarium (Corwin, 2000). Nuliparitas, infertilitas dan anovulasi adalah risiko tambahan (Baughman & Hackley, 2000). Faktor-faktor risiko tinggi adalah adanya riwayat kanker ovarium dalam keluarga, khususnya ibu atau saudara perempuan; ovulasi yang lebih dari 40 tahun dan menopause yang lambat; usia lebih dari 45 tahun dan nulipara atau kehamilan pertama setelah berusia lebih dari 30 tahun dan perineum terus menerus terpapar oleh talk (Price & Wilson, 1995).

Gambaran Klinis
Perkembangan penyakit ini sangat perlahan-lahan. Tanda pertama ialah adanya tumor massa di perut bagian bawah, namun pada saat ini bagian-bagian tubuh lainnya sudah dikenai (FK-Unpad, 1981). Kanker ovarium biasanya asimptomatik sampai penyakit berada dalam tahap lanjut. Gejala-gejala lanjut adalah pembengkakan abdomen dan nyeri. Obstruksi saluran cerna dapat menyebabkan muntah, konstipasi, atau diare dengan volume sedikit (Corwin, 2000).

Ami 06-PSIK-UNHAS

Menses tak teratur, peningkatan ketegangan premenstruasi, menoragi dan nyeri tekan pada payudara, menopause dini, rasa tak nyaman pada abdomen, dispepsia, tekanan pada pelvis dan sering berkemih (Baughman & Hackley, 2000). Banyak flatus, rasa begah setelah makan dalam jumlah kecil & peningkatan lingkar abdomen merupakan gejala-gejala yang signifikan (Baughman & Hackley, 2000). Sedangkan menurut Price & Wilson (1995), mengemukakan bahwa gejala-gejalanya tidak jelas, dapat berupa rasa berat pada panggul, sering berkemih dan perubahan fungsi saluran cerna yang disertai rasa penuh pada abdomen. Beberapa wanita mengalami perdarahan vagina abnormal, sekunder dari hiperplasia endometrium jika tumornya menghasilkan estrogen.

Stadium-stadium Wilson, 1995).


Stadium I Stadium II Stadium III : : :

Karsinoma

Ovarium

(FIGO)

(Price

&

Pertumbuhan terbatas pada ovarium Pertumbuhan melibatkan satu atau kedua ovarium dengan perluasan ke rongga panggul Pertumbuhan melibatkan satu atau kedua ovarium dengan metastasis intraperitoneal ke luar rongga panggul dan/atau kelenjar-kelenjar peritoneal positif; tumor terbatas pada rongga panggil sejati

Ami 06-PSIK-UNHAS

dan secara histologik terbukti adanya perluasan keganasan ke usus halus dan omentum Stadium IV : Pertumbuhan melibatkan satu atau kedua ovarium dengan penyebaran jauh, metastasis ke parenkim hati

Komplikasi
Kanker ovarium lebih sering menyebabkan kematian, dibandingkan dengan kanker reproduktif wanita lainnya. Angka bertahan hidup terendah (25-30%) pada kanker ovarium (Corwin, 2000). Kanker ovarium dapat bermetastasis dengan invasi langsung ke strukturstruktur yang berdekatan pada abdomen dan panggul dan melalui penyebaan benih tumor melalui cairan peritoneal ke rongga abdomen dan rongga panggul ; acites dapat terjadi dan cairan yang mengandung sel-sel ganas melalui saluran limfe menuju pleura dan akhirnya menyebabkan efusi pleura (Price & Wilson, 1995).

Perangkat Diagnostik
Kanker ovarium dapat diidentifikasi dengan ultrasonografi bedah atau untuk magnetic resonance imaging. Diperlukan tindakan

menentukan stadium penyakit dan mencari metastasis. Peningkatan kadar antigen sel tumor ovarium, CA125, pada wanita simtomatik atau wanita 2000). dengan riwayat kanker ovarium atau payudara pada keluarganya, dapat merupakan tanda awal adanya penyakit (Corwin,

Penatalaksanaan
Pembedahan, dengan atau tanpa kemoterapi adalah pengobatan pilihan bagi semua kanker saluran reproduksi (Corwin, 2000).

Ami 06-PSIK-UNHAS

Semua tipe karsinoma ovarium ditangani dengan pembedahan. Proses standarnya adalah dengan histerektomi abdominal totalis dan salpingooofarektomi bilateral. Kemoterapi susulan biasanya diberikan, terutama jika penyakit telah menyebar ke bawah ovarium. Terapi yang paling efektif adalah doksoribisin dan sisplatin yang dikombinasi dengan siklofosfamid dan heksametilmelamin (Price & Wilson, 1995).

Penatalaksanaan Keperawatan
Tindakan keperawatan yang dilakukan mencakup tindakan yang berhubungan dengan pembedahan, radiasi, kemoterapi dan paliasi. Dukungan emosional diberikan dengan cara melakukan tindakan yang nyaman, memperlihatkan perhatian dan kasih sayang. Biarkan pasien mengungkapkan perasaan tentang kondisi dan kematian (Baughman & Hackley, 2000).

Asuhan Keperawatan
Terlampir .....

Ami 06-PSIK-UNHAS