Anda di halaman 1dari 15

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NEONATUS/ BAYI BARU LAHIR DENGAN RESIKO TINGGI RESPIRASY DISSTRESS SYNDROME

Di Susun Oleh 1. 2. 3. Rendtya Anggana Luthfi Al-Habsyi Lailiatul Fitria

PRODI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHTAN INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG 2001

BAB I PENDAHULUAN 1.1.1 Latar belakang Penyakit saluran pernapasan merupakan salah satu penyebab kesakitan dan kematian yang paling sering dan penting pada anak, terutama pada bayi, karena saluran pernafasannya masih sempit dan daya tahan tubuhnya masih rendah. Disamping faktor organ pernafasan , keadaan pernafasan bayi dan anak juga dipengaruhi oleh beberapa hal lain, seperti suhu tubuh yang tinggi, terdapatnya sakit perut, atau lambung yang penuh. Penilaian keadaan pernafasan dapat dilaksanakan dengan mengamati gerakan dada dan atau perut. Neonatus normal biasanya mempunyai pola pernafasan abdominal. Bila anak sudah dapat berjalan pernafasannya menjadi thorakoabdominal. Pola pernafasan normal adalah teratur dengan waktu ekspirasi lebih panjang daripada waktu inspirasi, karena pada inspirasi otot pernafasan bekerja aktif, sedangkan pada waktu ekspirasi otot pernapasan bekerja secara pasif. Ganguan pernafasan pada bayi dan anak dapat disebabkan oleh berbagai kelainan organic, trauma, alergi, insfeksi dan lain-lain. Gangguan dapat terjadi sejak bayi baru lahir. Gangguan pernapasan yang sering ditemukan pada bayi baru lahir (BBL) termasuk respiratory distress syndrome (RDS) atau idiopatic respiratory distress syndrome (IRDS) yang terdapat pada bayi premature. RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan, karena produksi surfaktan, yang dimulai sejak kehamilan minggu ke 22, makin muda usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadi RDS dan kelainan ini merupakan penyebab utama kematian bayi prematur. 1.1.2 Tujuan 1. 2. 3. 4. Mengetahui pengertian Respirasi Disstress syndrome Mengetahui etiologi dari Respirasi Disstress syndrome pada Neonatus/ bayi baru lahir Mengetahui patofisologi dari Respirasi Disstress syndrome pada Neonatus/ bayi baru lahir Mengetahui manifestasi dari Respirasi Disstress syndrome pada Neonatus/ bayi baru lahir

5. 6. 7.

Mengetahui komplikasi dari Respirasi Disstress syndrome pada Neonatus/ bayi baru lahir Mengetahui Penatalaksanaa dari Respirasi Disstress syndrome pada Neonatus/ bayi baru lahir Mengetahui pemberikan asuhan keperawatan yang tepat pada Neonatus/ bayi baru lahir dengan resiko tinggi Respirasi Disstress syndrome

1.1.3

Manfaat Teoristis: Berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama dalam mempelajari tentang asuhan keperawatan pada neonatus/bayi baru lahir dengan resiko tinggi Respirasi Disstres Syndrome. Praktis : a. Manfaat Bagi institusi Agar dapat dijadikan bahan referensi untuk menambah pengetahuan bagi mahasiswa b. Manfaaat bagi mahasiswa Mahasiswa dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang Respirasi Disstress Syndrom. c. Bagi petugas kesehatan Sebagai bahan informasi tim petugas kesehatan lain sebagai penyuluhan tentang Respirasi Disstress Syndrom.

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 KONSEP TEORI 2.1.1 Definisi RDS ( Respiratory Distress Syndrome ) adalah perkembangan yang imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai Hyaline Membrane Disesae (Suryadi, 2001). Respiratory Distress Syndrome atau RDS adalah suatu keadaan dimana bayi mengalami kegawatan pernafasan yang diakibatkan kurang atau tidak adanya surfaktan dalam paru-paru (Nelson, 2000) RDS adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda takipnea (>60 x/menit), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik. (Stark, 1986) Sindrom gawat nafas pada neonatus (SGNN) atau respiratory distress syndrome (RDS), merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperapnea. 2.1.2 Etiologi RDS terjadi pada bayi prematur atau kurang bulan karena berbagai sebab yaitu: 1. kurangnya produksi surfaktan. suatu zat aktif pada alveoli yang mencegah kolaps paru. Produksi surfaktan ini dimulai sejak kehamilan minggu ke-22, makin muda usia kehamilan, makin besar pula kemungkinan terjadi RDS. Unsur utama surfaktan adalah dipalmitilfosfatidilkolin (lesitin), fosfatidilgliserol,apoprotein (protein surfaktan = ps A, B, C, D) dan kholesterol. 2. Kelainan bawaan/kongenital jantung atau paru-paru. Bila bayi mengalami sesak napas begitu lahir atau 1-2 hari kemudian, biasanya disebabkan adanya kelainan jantung atau paru-paru. Hal ini bisa terjadi pada bayi dengan riwayat kelahiran normal atau bermasalah, semisal karena ketuban pecah dini atau lahir

prematur. Pada bayi prematur, sesak napas bisa terjadi karena adanya kekurangmatangan dari organ paru-paru. Paru-paru harusnya berfungsi saat bayi pertama kali menangis, sebab saat ia menangis, saat itu pulalah bayi mulai bernapas. Tapi pada bayi lahir prematur, karena saat itu organnya tidak siap, misalnya gelembung paru-paru tak bisa mekar atau membuka, sehingga udara tidak masuk. Itu sebabnya ia tak bisa menangis. Ini yang namanya penyakit respiratory distress syndrome (RDS). Tidak membukanya gelembung paru-paru tersebut karena ada suatu zat, surfactan, yang tak cukup sehingga gelembung paru-paru atau unit paru-paru yang terkecil yang seperti balon tidak membuka. Ibaratnya, seperti balon kempis. 3. Kelainan pada jalan napas/trakea. Kelainan bawaan/kongenital ini pun paling banyak ditemui pada bayi. Gejalanya, napas sesak dan napas berbunyi grok-grok. Kelainan ini terjadi karena adanya hubungan antara jalan napas dengan jalan makanan/esophagus. Kelainan ini dinamakan dengan trackeo esophageal fistula. Akibat kelainan itu,ada cairan lambung yang bisa masuk ke paru-paru. Tentunya ini berbahaya sekali. Sehingga pada usia berapa pun diketahuinya, harus segera dilakukan tindakan operasi. Tak mungkin bisa menunggu lama karena banyak cairan lambung bisa masuk ke paru-paru. Sebelum operasi pun dilakukan tindakan yang bisa menolong jiwanya, misal dengan dimasukkan selang ke jalan napas sehingga cairan dari lambung tak bisa masuk. Biasanya sesak napasnya tampak begitu waktu berjalan 1-3 jam setelah bayi lahir. Nah, bila ada sesak napas seperti ini, prosedur yang harus dilakukan adalah dilakukan foto rontgen segera untuk menganalisanya. 4. Tersedak air ketuban. Ada juga penyakit-penyakit kelainan perinatologi yang didapat saat kelahiran. Karena suatu hal, misalnya stres pada janin, ketuban jadi keruh dan air ketuban ini masuk ke paru-paru bayi. Hal ini akan mengakibatkan kala lahir ia langsung tersedak. Bayi tersedak air ketuban akan ketahuan dari foto rontgen, yaitu ada bayangan kotor. Biasanya ini diketahui pada bayi baru lahir yang ada riwayat tersedak, batuk, kemudian sesak napasnya makin lama makin berat. Itulah mengapa, pada bayi baru lahir kita harus intensif sekali menyedot lendir dari mulut, hidung atau tenggorokannya. Bahkan jika tersedak air ketubannya banyak atau massive, harus disedot dari paru-paru atau paruparunya dicuci dengan alat bronchowash. Lain halnya kalau air ketubannya jernih dan tak banyak, tak jadi masalah. Namun kalau air ketubannya hijau dan berbau, harus disedot dan dicuci paru-parunya. Sebab, karena tersedak ini, ada sebagian paru-parunya yang tak bisa diisi udara/atelektasis atau tersumbat, sehingga menyebabkan udara tak bisa masuk.

Akibatnya, jadi sesak napas. Biasanya kalau di-rontgen,bayangannya akan terlihat putih. Selain itu, karena tersumbat dan begitu hebat sesak napasnya,ada bagian paru-paru yang pecah/kempes/pneumotoraks. 5. Pneumothoraks/pneumomediastinum 6. Aspirasi 2.1.3 Manifestasi Klinis Menurut Martin, 1999 manifestasi klinis antara lain : 1. Kesulitan dalam memulai respirasi normal 2. Dengkingan (grunting) pada saat ekspirasi, diamati pada saat bayi tidak dalam keadaan menangis (disebabkan oleh penutupan glotis) merupakan tanda/indikasi awal penyakit, berkurangnya dengkingan mungkin merupakan tanda pertama perbaikan. 3. Refraksi sternum dan interkosta 4. Nafas cuping hidung 5. Sianosis pada udara kamar 6. Respiarasi cepat atau kadang lambat jika sakit parah 7. Auskultasi; udara yang masuk berkurang 8. Edema ekstremitas 9. Pada foto rontgen ditemukan retikulogranular, gambaran bulat-bulat kecil dengan corakan bronkogram udara. Kelainan-kelainan fisiologis: Daya kembang paru-paru berkurang hingga mencapai seperlima sampai sepersepuluh nilai normal. Daerah paru-paru yang tidak mengalami perfusi luas mencapai 50-60% Aliran darah kapiler pulmonal kurang Ventilasi alveolus berkurang dan usaha nafas meningkat Volume paru-paru berkurang Perubahan-perubahan ini menyebabkan hipoksemia, seringkali hiperkarbia dan jika mengalami hipoksemia berat menimbulakan asidosis.

2.1.4 Woc Kehamilan mggu ke 22 KPD/ prematur Stress pada janin Kelainan kongenital jalan nafas

Produksi surfaktan kurang

Belum matangNya organ janin

Ketuban keruh dan masuk paru- paru janin

Trackeo Esophageal Fistula

Kelainan kongenital paru

Tersedak air ketuban

Cairan lambung masuk ke paru paru

Respiration distress syndrome

Bayi tidak menangis saat lahir Kerusakan pertukaran gas

Kesulitan memulai respirasi normal

Penutupan glotis

Retraksi sternum dan interkosta

Dengkingan saat ekspirasi

Pola nafas tidak efektif sianosis Suhu tbuh bayi turun Hipotermi

takipnea

Resiko Infeksi

Nafas Cuping hidung

2.1.5 Komplikasi Menurut Nelson, 2000 komplikasi yang dapat terjadi adalah : 1. Acidosis, baik respiratorik atau metabolik 2. Displasia bronchopulmonal 3. Apnoe 4. Merupakan penyabab kematian utama BBL dengan angka 30 % dari semua kematian neonatus oleh RDS atau komplikasinya. 5. Ruptur alveoli Bila dicurigai terjadi kebocoran udara ( pneumothorak, pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel ), pada bayi dengan RDS yang tiba2 memburuk dengan gejala klinis hipotensi, apnea, atau bradikardi.

2.1.6 Penatalaksanaan Perawatan suportif awal bayi terutama penanganan hipoksia, hipotermia, sangat mengurangi tingkat keparahan RDS : 1. Bayi ditempatkan didalam inkubator dengan suhu didalamnya dipertahankan 35-36 C. 2. Pemberian antibiotic. bayi dengan PMH perlu mendapat antibiotic untuk mencegah infeksi sekunder. dapat diberikan penisilin dengan dosis 50.000-100.000 U/kgBB/hari atau ampisilin 100 mg/kgBB/hari, dengan atau tanpa gentamisin 3-5 mg/kgBB/hari. 3. Oksigen yang hangat dan dilembabkan dengan kadar yang cukup 4. Bayi dengan RDS yang berat dan apnoe memerlukan bantuan ventilasi mekanis (pH arteri <7,20; pCO2 60 mmHg atau lebih; pO2 darah arteri 50 mmHg atau kurang pada kadar O2 70-100 %) 5. Pemasukan surfaktan eksogen kedalam endotrakea bayi dan ventilasi mekanis untuk pengobatan (rescue terapi) dapat memperbaiki ketahanan hidup dan mengurangi incidens kebocoran udara paru (Survanta adalah surfaktan eksogen yang dpersiapkan dari paru sapi yang dicincang halus dengan ekstra lipid ditambahkan fosfatidilkolin, asam palmitat dan trigliserida; sedangkan eksosurf adalah surfaktan sintesis yang mengandung dipalmitiodilfosfatidilkolin, heksadekanol dan tiloksapol)

Pemeriksaan diagnostic 1. Pemeriksaan AGD didapat adanya hipoksemia kemudian hiperkapni dengan asidosis respiratorik. 2. Pemeriksaan radiologis, mula-mula tidak ada kelainan jelas pada foto dada, setelah 12-24 jam akan tampak infiltrate alveolar tanpa batas yang tegas diseluruh paru 3. Biopsi paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal dalam parenkim paru

2.2 KONSEP ASKEP 2.2.1 Pengkajian 1) Identitas : lengkap, termasuk orang tua bayi 2) Riwayat kesehatan : a. Keluahan utama, terutama sistem pernafasan : cyanosis, grunting , RR, cuping hidung b. Riwayat kesehatan : terutama umur kehamilan dan proses persalinan

2.2.2

Pengkajian Fisik

1. Refleks a. Refleks moro Refleks moro adalah reflek memeluk pada saat bayi dikejutkan dengan tangan. Pada By. C reflek moro (+) ditandai dengan ketika dikejutkan oleh bunyi yang keras dan tiba tiba bayi beraksi dengan mengulurkan tangan dan tungkainya serta memanjangkan lehernya. b. Refleks menggenggam Reflek menggenggam pada By. C (+) tapi lemah, ditandai dengan membelai telapak tangan,bayimenggenggam tangan gerakan tangan lemah. c. Refleks menghisap Reflek menghisap (+) ditandai dengan meletakan tangan pada mulut bayi, bayi menghisap jari, hisapan lemah.

d. Refleks rooting Reflek rooting (-) ditandai dengan bayi tidak menoleh saat tangan ditempelkan di pipi bayi. e. Refleks babynsky Reflek babynsky (+) ditandai dengan menggerakan ujung hammer pada bilateral telapak kaki. 2. Tonus otot Gerakan bayi sangat lemah tetapi pergerakan bayi aktif ditandai dengan bayi sering menggerek-gerakan tangan dan kakinya. 3. Keadaan umum dan TTV Keadaan umum : Lemah Kesadaran : Letargi Lingkar kepala : 33 Cm Lingkar dada : 30 Cm Panjang badan : 45 Cm Berat badan : 2400 Gram Suhu : 37,1 oC Respiratory : 78 x/menit Nadi : 154 x/menit 4. Kepala Bentuk kepala Normochepal, lingkar kepala 33 cm, pertumbuhan rambut merata, tidak ada lesi, tidak ada benjolan, fontanel anterior masih lunak, sutura sagital datar dan teraba, gambaran wajah simetris terdapat larugo disekitar wajah dan badan. 5. Mata Mata simetris, tidak ada pembengkakan pada kelopak mata, mata bersih tidak terdapat sekret, mata bisa mengedip, bulu mata tumbuh, reflek kornea (+) reflek terhadap sentuhan, reflek pupil (+) respon terhadap cahaya, replek kedip (+) 6. Telinga Letak telinga kanan dan kiri simetris, lubang telinga bersih, tidak terdapat serumen, tidak ada lesi, bentuk telinga baik, lunak dan mudah membalik, ( Cartilago car ) baik, terdapat rambut larugo.

7.

Hidung Hidung bentuk simetris, terpasang O2 binasal 2 liter/menit, keadaan hidung bersih tidak terdapat peradangan atau pembengkakan hidung, pernafasan cuping hidung (PCH) (+).

8.

Mulut Bentuk bibir simetris, bibir terdapat bercak putih pada membran mukosa, Stomatitis (-), refleks hisap (+),reflek rooting (-).

9.

Dada dan Paru-paru Dada simetris ( Sama antara kiri dan kanan ), bentuk dada menonjol, PX terlihat jelas, bentuk dada burung ( pektus karinatum) pergerakan dada sama antara dada kiri dan kanan, retraksi dinding dada (+), retraksi dinding epigastrium (+), frekuensi nafas 78 x/menit, mamae bentuk datar, suara nafas rales (+)

10. Jantung Nadi apikal 154 x/menit, bunyi jantung reguler BT1 + BT2, palapasi nadi brakhialis (+) lemah, radialis (+) lemah, femoralis lemah dan nadi karotis (+) 11. Abdoment Bentuk abdomen dan cekung pada bagian px, bising usus dapat terdengar 4x/menit, tali pusay belum putus, keadaan kering, tidak terdapat kemerahan, tidak terdapat haluaran nanah, perut diraba lunak, lingkar perut 38 cm tidak ada pembengkakan hepar. 12. Genitalia Lubang penis terdapat di gland penis, kedua testis dapat teraba pada scrorum. 13. Anus Anus paten, ditandai dengan bayi sudah BAB, mekonium sudah keluar berwarna hitam dan lembek 14. Punggung Terdapat banyak rambut larugo, bentuk simetris, tidak terdapat ruam kemerahan atau rush. 15. Ekstrimitas Ekstrimitas dapat bergerak bebas, ujung jari merah muda/tidak sianosis, CRT dalam waktu 2 detik, jumlah jari komplit, kaki sama panjang, lipatan paha kanan dan kiri simetris, pergerakan aktif 16. Kulit Warna kulit merah seluruh tubuh, sianosis (-), tidak terdapat tanda lahir, Skin Rush (-), Ikterik (-), turgor kulit jelek, kulit longgar disebabkan karena lemak subkutan berkurang, terdapat larugo.

17. Eliminasi Eliminasi BAK 6-8 x/hari, BAB 2-4 x/hari 18. Suhu Suhu tubuh 37,1 oC, Setting Inkubator 32 oC 2.2.3 Diagnosa dan ketidakstabilan alveolar. 2) Hipotermia berhubungan dengan berada di lingkungan yang dingin 3) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran kapiler-alveolar 4) Resiko infeksi 3 2.2.4
No 1

1) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas neurologis (defisiensi surfaktan

Rencana Keperawatan
Diagnose Tujuan Intervensi

Keperawatan Kerusakan pertukaranSetelah dilakukan asuhanMonitor Respirasi (3350) : gas b.d perubahankeperawatan selama 5x 24 Monitor rata-rata irama, kedalaman dan usaha untuk mem-bran kapiler-jam, pertukaran gas pasienbernafas. alveoli menjadi efektif, dengan Catat gerakan dada, lihat kesimetrisan, penggunaan kriteria : otot bantu dan retraksi dinding dada. Monitor suara nafas, saturasi oksigen, sianosis Batasan karakteristik : Status Respirasi : Monitor kelemahan otot diafragma Catat onset, karakteristik dan durasi batuk Takikardia Ventilasi (0403) : Hiperkapnea Pasien menunjukkan Catat hasil foto rontgen Iritabilitas peningkatan ventilasai dan Dispnea oksigenasi adequatTerapi Oksigen (3320) : Sianosis berdasarkan nilai AGD Kelola humidifikasi oksigen sesuai peralatan Hipoksemia sesuai parameter normel Siapkan peralatan oksigenasi Hiperkarbia pasien Kelola O2 sesuai indikasi Abnormal frek, irama, Menunjukkan fungsi paru Monitor terapi O2 dan observasi tanda keracunan O2 kedalaman nafas yang normal dan bebas dari Nafas cuping hidung tanda-tanda distresManajemen Jalan Nafas (3140) : pernafasan Bersihkan saluran nafas dan pastikan airway paten Monitor perilaku dan status mental pasien, kelemahan , agitasi dan konfusi Posisikan klien dgn elevasi tempat tidur Bila klien mengalami unilateral penyakit paru, berikan posisi semi fowlers dengan posisi lateral 10-15 derajat / sesuai tole-ransi Monitor efek sedasi dan analgetik pada pola nafas klien Manajemen Asam Basa (1910) : Kelola pemeriksaan laboratorium Monitor nilai AGD dan saturasi oksigen dalam batas normal

Pola nafas tidak efektifSetelah dilakukan tindakanManajemen Jalan Nafas (3140) : b.d imaturitaskeperawatan selama ..x Bebaskan jalan nafas dengan posisi leher ektensi jika (defisiensi surfaktan24 jam diharapkan polamemungkinkan.

dan ketidak-stabilannafas efektif denga kriteria Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi dan alveolar). hasil : mengurangi dispnea Auskultasi suara nafas Monitor respirasi dan status oksigen Batasan karakteristikStatus Respirasi : : Ventilasi (0403) : Bernafas menggunaMonitor Respirasi (3350) : kan otot pernafasan Pernapasan pasien 30- Monitoring kecepatan, irama, kedalaman dan upaya tambahan nafas. 60X/menit. Dispnea Monitor pergerakan, kesimetrisan dada, retraksi dada Pengembangan dadadan alat bantu pernafasan Nafas pendek Pernafasan rata-rata < Monitor adanya cuping hidung simetris. 25 atau > 60 kali Monitor pola nafas : bradipnea, takipnea, Irama pernapasan teratur hiperventilasi, respirasi kusmaul, apnea permenit Monitor adanya lelemahan otot diafragma Tidak ada retraksi dada Auskultasi suara nafas, catat area penurunan dan saat bernapas ketidak adanya ventilasi dan bunyi nafas Inspirasi ditemukan Saat memakai tambahan Bernapas mudah Tidak ada suara napas tambahan 3 Hipotermia b.d beradaSetelah dilakukan tindakanPengobatan Hipotermi (3800) : di lingkungan yangkeperawatan selama ..x Pindahkan bayi dari lingkungan yang dingin ke dalam dingin 24 jam hipotermia tidaklingkungan / tempat yang hangat (didalam inkubator terjadi dengan kriteria : atau lampu sorot) Segera ganti pakaian bayi yang dingin dan basah Batasan karakteristik : Termoregulasi Neonatusdengan pakaian yang hangat dan kering, berikan selimut. Penurunan suhu tu(0801) : Monitor gejala dari hopotermia : fatigue, lemah, apatis, buh di bawah ren-tang perubahan warna kulit normal Suhu axila 36-37 C Monitor status pernafasan Pucat RR : 30-60 X/menit Monitor intake dan output Menggigil Kulit dingin Warna kulit merah muda Dasar kuku sianosis Tidak ada distress respirasi Ppengisian kapiler lambat Tidak menggigil Bayi tidak gelisah Bayi tidak letargi bernapas otot tidak napas dalam tidak

1. BAB III PENUTUP 3.1.1 Kesimpulan

Respiratory Distress Syndrome (RDS) disebut juga Hyaline Membrane Disease (HMD), merupakan sindrom gawat napas yang disebabkan defisiensi surfaktan terutama pada bayi yang lahir dengan masa gestasi kurang. (Malloy & Freeman 2000). RDS adalah gangguan pernafasan yang sering terjadi pada bayi premature dengan tanda-tanda takipnue (>60 x/mnt), retraksi dada, sianosis pada udara kamar, yang menetap atau memburuk pada 48-96 jam kehidupan dengan x-ray thorak yang spesifik (Stark,1986). RDS adalah perkembangan yang imatur pada sistem pernafasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai Hyaline Membrane Disesae (Suryadi, 2001). 3.1.2 Saran 1) Bagi para pembaca, diharapkan dapat memetik pemahaman dari uraian yang dipaparkan diatas, dan dapat mengaplikasikannya dalam lingkungan masyarkat sehingga dapat mencegah terjadinya RDS 2) Bagi mahasiswa, diharapkan agar terus menambah wawasan khususnya dalam bidang keperawatan. 3) Bagi dosen pembimbing, diharapkan dapat memberi masukan, baik dalam proses penyusunan maupun dalam pemenuhan referensi untuk membantu kelancaran dan kesempurnaan pembuatan makalah kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3 . Jakarta : EGC Mansjoer Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. FKUI : Jakarta. Betz, Cecily lyn, dan linda A. sowden 2009. Keperawatan pediatric, edisi 5. Jakarta :EGC http// Respirasi Distress Syndrom.com www.google.com

Anda mungkin juga menyukai