Anda di halaman 1dari 11

Journal Reading

Comparison of performance and safety of i-gel with laryngeal mask airway (classic) for general anaesthesia with controlled ventilation

Pembimbing : dr. Kurnianto Trubus, M.kes, Sp.An Disusun Oleh : Nio Angelado (20070310114)

SMF ILMU ANESTESI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BANTUL UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2012

HALAMAN PENGESAHAN
Comparison of performance and safety of i-gel with laryngeal mask airway (classic) for general anaesthesia with controlled ventilation
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Anestesi Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Disusun Oleh: Nio Angelado 20070310114

Telah disetujui dan diseminarkan pada tanggal November 2012 Oleh : Dosen Pembimbing

dr. Kurnianto Trubus, M.kes, Sp.An

Perbandingan kinerja dan keamanan i-gel dengan laring mask airway(klasik) untuk anestesi umum dengan ventilasiterkontrol
Ali Sarfraz Siddiqui, Umme Sumayyah Raees, Safia Zafar Siddiqui, Saeeda Haider, Syed Amir Raza Department of Anaesthesiology, Surgical Intensive Care Unit and Pain Management, Dow Medical College and Civil Hospital Karachi, Dow University of Health Sciences, Karachi (Pakistan)

ABSTRACT
Objektif : untuk membandingkan kemudahan dalam memasukkan, keefektivitasan dari ventilasi tekanan positif dan komplikasi jalan napas dari i-gel dengan laryngeal mask airway-classic (LMA) untuk anestesi umum dengan ventilasi terkontrol. Tempat, durasi, and desain penelitian : penelitian ini dilakukan di bagian anestesi, unit bedah perawatan intensive dan penatalaksanaan nyeri, rumah sakit pemerintah Karachi, fakultas kedokteran Dow, Fakultas ilmu kesehatan universitas Dow, dari July 2008 sampai Desember 2008. Metodologi : seratus pasien dewasa yang berusia 15 75 tahun, ASA I dan II, Malapati I dan II, terjadwal untuk operasi umum atau operasi ortopedi dengan anestesi umum dengan ventilasi terkontrol yang diambil pada penelitian ini. Pasien tersebut dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok i-gel atau kelompok LMA yang diambil secara acak.Anestesi menggunakan induksi dan pemeliharaan dengan teknik standar gas relaxant-IPPV.Kemudahan dalam memasukkan tercatat pada 3 skala.Setelah memasukkan alat tersebut tanda vital dan saturasi oksigen di monitor secara non-invasif.Keefektivitas dari ventilasi tekanan positif dibandingkan. Angka kesakitan faringolaringeal misalnya sakit tenggorokan, disfagia, disfonia, darah pada alat, nyeri leher dan batuk dicatat segera setelah melepaskan alat tersebut dan pasien harus dievaluasi pada 1 jam dan 24 jam pasca operasi. Hasil : pada penelitian ini kedua alat tersebut baik LMA klasik ataupun i-gel mudah dalam memasukkan dan tidak memerlukan laringoskop untuk memasukannya. Pasien pada kelompok i-gel memiliki morbiditas faringolaringeal relative sedikit (darah pada alat) dibandingkan pasien pada kelompok LMA kalsik (18% pada kelompok LMA sementara ada pada kelompok i-gel). Kesimpulan : kedua alat supraglotik, LMA (klasik) dan i-gel dapat digunakan dengan aman dan efektif pada pasien yang tepat untuk anestesi umum dengan ventilasi terkontrol dengan hampir tidak ada morbiditas. Key words : LMA (klasik), I-gel, Anestesi umum, ventilasi terkontrol.

PENDAHULUAN
Alat jalan napas supraglotik (SGDs) sekarang digunakan untuk operasi dengan anestesi umum dan sebagai alternative dari intubasi trakea.Alat ini diindikasikan untuk mengamankan dan menjaga jalan nafas pada anestesi umum untuk pasien yang berpuasa selama ventilasi spontan atau terkontrol.Ada beberapa kontraindikasi misal pada pasien yang tidak berpuasa, pasien obesitas dan obstruksi atau abnormal lesi pada orofaring. SGDs mempunyai banyak keuntungan jika pada pasien yang tepat, akses ke saluran nafas menjadi cepat , tidak memerlukan laringoskop dan tidak diperlukan relaxant untuk memasukkan, jalan napas akan tetap aman untuk ventilasi spontan dan terkontrol. Manfaat tambahan dari alat ini adalah dapat digunakan sebagai penyelamat saluran nafas jika pemasangan intubasi sulit atau gagal.Dapat digunakan untuk bronkoskopi pada pasien yang sadar ataupun tidak sadarkan diri.Disini VTP yang tinggi tidak dapat digunakan. Laryngeal mask airway (klasik) terdiri dari masker silikon karet dan penghubung tabung (connecting tube).LMA di insersi secara blind ke dalam pharing dan membentuk suatu sekat bertekanan rendah sekeliling pintu masuk laring. I-gel merupakan inovatif alat supraglottic airway yang terbuat dari

termoplastik elastomer. Alat tersebut lembut, seperti gel dan transparan.I-gel didesain dengan katup tanpa segel sesuai dengan anatomi dari faringeal, laryngeal dan struktur perilaringeal, yang dapat menghindari terjadinya kompresi trauma.Igel didesain bebas dari lateks dan digunakan pada satu pasien.Alat ini lembut menggunakan katup tanpa segel karena mudah untuk diinsersi, memiliki risiko yang minimal pada kerusakan jaringan dan stabil setelah pemasangan alat ini.Saluran lambung memungkinkan untuk suctioning dari isi lambung atau memungkinkan tabung naso-gastric dalam mengosongkan isi perut. Kami melakukan penelitian ini untuk membandingkan kinerja dari dua alat, misalnya kemudahan insersi, kemampuan untuk ventilasi pada pasien paralisis dan komplikasi yang terjadi pada saluran napas.

METODOLOGI
Penelitian ini, studi banding dilakukan di bagian anestesi, bedah perawatan intensif dan manajemen nyeri, fakultas Kedokteran Dow, Rumah Sakit Umum Karachi, Fakultas ilmu kesehatan universitas Dow dari 1 Juli 2008 sampai 30 Desember 2008. Setelah mendapat persetujuan dari Rumah Sakit komite Etik dan bagian perizinan, 100 pasien dewasa yang berusia 15 75 tahun, ASA I dan II, malampati I dan II, tidak mempunyai kontrainsikasi pemasangan SGD, dijadwalkan untuk opeasi elektif dan operasi ortopedi dibawah anestesi umum dengan ventilasi terkontrol secara acak dibagi menjadi dua kelompok; kelompok LMA atau kelompok i-gel masing-masing 50 pasien. Persetujuan tindakan dilakukan anestesi harus diisi oleh keluarga pasien. Semua pasien diperiksa sebelum operasi. Menyiapkan monitor dan memastikan jalur intravena lancar. Setelah dilakukan preoksigenasi, pasien diinduksi dengan nalbuphine 0.1 mg/kg, propofol (2mg/kg) dan atracurium (0.5mg/kg). pasien diberikan ventilasi dengan 50% O2 dan 50% N2O dan 1% isoflurane untuk 3 menit. Sebelum insersi, olesi katup sari SGD tersebut dengan menggunakan gel. Pada kelompok LMA, LMA ukuran 3 digunakan untuk pasien wanita dewasa dan ukuran 4 untuk pasien laki-laki dewasa. LMA dimasukkan dengan menekan cuff dengan jari telunjuk sampai palatum. Pada kelompok i-gel, menggunakan ukuran no.4 untuk semua pasien. Untuk memeriksa apakah benar dalam penempatan alat tersebut dapat dinilai dengan ekspansi dada, adanya kebocoran akan terdengar dan kurangnya insuflasi lambung (dengan auskultasi epigastrium). Gastric tube ukuran 12 juga dimasukkan pada semua pasien di kelompok i-gel.Insersi dari alat tersebut terbukti sangat mudah (tidak diperlukan assitan), mudah (ketika melakukan jaw thrust memerlukan bantuan assistan), sulit (ketika dilakukan jaw thrust dan rotasi dalam atau keduanya digunakan dalam insersi alat).

Semua pasien diventilasi dengan tekanan- ventilasi terkontrol. Volume tidal ditetapkan 8ml/kg dan respiratory rate pada 12 sampai 14 kali per menit. Data yang tercatat sebagai berikut berdasarkan : umur, berat badan, tinggi badan, jumlah kesulitan insersi dan kemudahan insersi. Komplikasi yang terjadi selama insersi, pemeliharaan dan pelepasan alat dicatat pada setiap pasien. Angka kesakitan faringolaringeal dapat dievaluasi di ruang pemulihan dan 24 jam setelah operasi. Tekanan darah, EKG, nadi dan saturasi oksigen dimonitor secara noninvasif. Pada akhir operasi, neuromuscular blockade dikembalikan dan gastric tube segera dilepaskan setelah dilakukan suction pada pasien yang menggunakan i-gel. LMA atau i-gel dilepas dari setiap pasien dan kita lihat reflek napas dan buka mulut dengan perintah. Untuk menganalisis data menggunakan SPSS 10. Rata-rata dan nilai standar deviasi diestimasi untuk usia, berat badan, tinggi badan dan durasi operasi sedangkan frekuensi dan persentase dihitung untuk jenis kelamin, status ASA, malapati, upaya insersi, kemudahan insersi, dan angka kesakitan.Student-test digunakan untuk membandingkan perbedaan rata-rata antara kelompok-kelompok untuk variabel kuantitatif dan chi-square test digunakan untuk pengukuran kualitatif antara kelompok dengan tingkat signifikansi 5%.

HASIL
Demografik data diperlihatkan pada table 1. Rata-rata berat badan, tinggi badan, durasi operasi tidak berbeda nyata antara kedua kelompok, sementara ratarata usia pasien lebih tinggi pada kelompok i-gel daripada kelompok LMA (p=0.004) tetapi tidak terlalu bermakna secara klinis. Jenis kelamin dan status fisik ASA dari pasien secara statistic sama antara kelompok. Skor malampati, status ASA dan durasi operasi dipelihatkan pada table 2.

Pada penelitian ini, kedua alat LMA (klasik) dan i-gel mudah untuk diinsersi dan tidak memerlukan laringoskop untuk insersi seperti terlihat pada gambar 1. Insersi sulit ditemukan dua pasien pada kelompok i-gel dan satu pasien pada kelompok LMA dimana kesuksesan insersi diperlukan usaha kedua dan

stabilisasi rahang oleh assistan. Kesuksesan insersi dicapai dalam satu usaha yaitu 90% dan 86% dari pasien i-gel dan LMA dari masing-masing kelompok, tetapi secara statistic tidak bermakna/tidak signifikan (p=0.54) (table 3).

Kemampuan untuk ventilasi pada kedua kelompok ini sebanding, tetapi parameter ventilasi seperti tekanan saluran udara dan tekanan puncak kebocoran tidak tercatat. Angka kesakitan Pharyngolaryngeal seperti sakit tenggorokan, disfonia, disfagia atau sakit leher tidak diobservasi pada setiap pasien dari dua kelompok tersebut. Darah pada alat ditemukan 18% pada pasien dengan LMAklasik dan itu tidak ada pada pasien kelompok i-gel(p =0,003) seperti yang ditunjukkan pada Tabel4. Insersi gastric tube ukuran 12 melalui saluran lambung dari i-gel ukuran 4 tetap berhasil pada semua pasien.

DISKUSI
Alat jalan napas supraglotik telah memberikan perubahan besar dalam praktek anestesi dan pengelolaan jalan napas selama anesetesi elektif.LMA menjadi gold standard sebagai alternatif yang aman dan sederhana untuk penggunaan face mask dan intubasi pada praktek anestesi sehari-hari, untuk pasien dewasa dan anak-anak. Kelebihan LMA yaitu tidak menimbulkan tekanan pada saat insersi dan terhindar dari relaksasi otot.Penggunaan single use i-gel sebagai alternatif SGD selain LMA. Pada penelitian ini i-gel dan LMA klasik mudah untuk diinsersi, tidak perlu menggunakan laringoskop untuk insersi, karena angka kesakitan faringolaringeal sangat sedikit dan system kardiovaskular stabil dalam melakukan insersi.Insersi i-gel ditemukan relative lebih mudah dan dibutuhkan skill yang cukup dibandingkan dengan LMA, tapi hasilnya tidak signifikan secara statistic. Singh l, Gupta M dan Tandom M mengemukakan bahwa insersi i-gel lebih mudah dibandingkan dengan LMA Proseal. Dalam penelitian lain, ditemukan darah pada alat setelah dilepas yang diobservasi sebanyak 18% pada pasien kelompok LMA, sementara pada kelompok i-gel tidak ditemukan darah dan secara statistic hasilnya signifikan ini

dimungkinkan inflatable masker memiliki potensi untuk menyebabkan distorsi jaringan, kompresi vena dan cedera nervus. Kedua alat tersebut mempunyai efektivitas yang sama dalam pencegahan terjadi aspirasi dan pembentukan katup yang adekuat juga dikemukakan oleh peneliti yang berbeda. Dalam penelitian lain, insersi gastric tube ditemukan sangat mudah pada semua pasien yang menggunakan i-gel melalui penghubung saluran lambung. Tidak ada trauma lidah, bibir dan trauma gigi jika dilihat pada setiap pasien dari kedua kelompok.

KESIMPULAN
Kita dapat menyimpulkan bahwa kedua alat tersebut aman untuk digunakan dan efektif digunakan dalam anestesi umum dan pemberian VTP pada pasien tertentu.Kedua alat mudah digunakan.Dibandingkan dengan LMA, I-gel mempunyai angka kesakitan faringolaringeal lebih rendah.