Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN KASUS THT OTITIS EKSTERNA

Disusun Oleh : Gabriel klemens Wienanda (030.08.107) Raini (030.08.193) Abdullah (030.08.002) Sofiuddin bin Nordin (030.08.305)

Pembimbing : dr. Faridah nurhayati Sp. THT, KL, Mkes

KEPANITERAAN KLINIK THT RSUD KOTA BEKASI PERIODE 21 JANUARY 2013 23 FEBRUARY 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Studi case dengan judul OTITIS EKSTERNA telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, sebagai syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan klinik ilmu THT di RSUD Kota Bekasi periode 21 January 2012 23 Februari 2013

Bekasi, 9 February 2013

(dr. Farida Nurhayati .THT, KL Mkes)

iii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb. Salam sejahtera bagi kita semua. Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Mahaesa, atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan sehingga pada akhirnya kami dapat menyelesaikan studi case ini dengan sebaik-baiknya. Case ini disusun untuk melengkapi tugas di kepanitraan klinik ilmu penyakit THT di RSUD kota bekasi. Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada dr.Faridah Nurhayati, Sp.THT, KL selaku pembimbing studi case kami di Kepaniteraan Klinik THT RSUD Bekasi yang telah memberikan bimbingan dan kesempatan dalam penyusunan referat ini. Kami sadari betul bahwa case ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun untuk kesempurnaan makalah yang kami buat ini. Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga studi case ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan khususnya bagi mahasiswa kedokteran. Terima kasih. Wassalamualaikumuslam Jakarta, 9 February 2013

Penyusun,

Gabriel klemens Wienanda (030.08.107) Raini (030.08.193) Abdullah (030.08.002) Sofiuddin bin Nordin (030.08.305)
iv

DAFTAR ISI Halaman


LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................ KATA PENGANTAR .................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................... BAB II. PENDAHULUAN............................................................................. 1.1.Latar Belakang ................................................................................ BAB III. TINJAUAN PUSTAKA................................................................. III.1. Anatomi Telinga dan Fisiologi Pendengaran ................................ III.1.1.Telinga Luar .... III.2. Otitis Eksterna III.2.1. Definisi III.2.2. Etiologidan factor resiko..... III 2.3 epidiomiologi III.2.4. Patofisiologi.. III.2.5. Klasifikasi ... III.2.6. diagnosis ..... III.2.7penatalaksanaan .. III.2.8. prognosis .. BAB IV. KESIMPULAN ...................................................... DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... I Ii Iii 11 11 12 12 7-11 11 11 12-13 13 14-15 15-21 21-23 23-25 25 26 27

BAB I PENDAHULUAN Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan oleh bakteri terlokalisir atau difus dengan gejala telinga terasa sakit. Faktor penyebab timbulnya otitis eksterna ini dapat berupa kelembaban,

penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Faktor ini menyebabkan berkurangnya lapisan protektif yang menyebabkan edema dari epitel skuamosa. Keadaan ini menimbulkan trauma lokal yang mengakibatkan bakteri masuk melalui kulit, inflasi dan menimbulkan eksudat. Bakteri patogen pada otitis eksterna akut adalah pseudomonas (41 %),strepokokus (22%), stafilokokus.aureus (15%) dan bakteroides (11%).1 Otitis eksterna ini merupakan suatu infeksi liang telinga bagian luar yang dapat menyebar ke pina, periaurikular, atau ke tulang temporal. Biasanya seluruh liang telinga terlibat, tetapi pada otitis eksterna furunkulosis melibatkan liang telinga sepertiga luar. Otitis eksterna difusa merupakan tipe infeks bakteri patogen yang paling umum disebabkan oleh pseudomonas, stafilokokus dan proteus atau jamur.2 Penyakit ini merupakan penyakit telinga bagian luar yang sering dijumpai, disamping penyakit telinga lainnya. Penyakit ini sering dijumpai pada daerahdaerah yang panas dan lembab dan jarang pada iklim- iklim sejuk dan kering. Umumnya penderita datang ke Rumah Sakit dengan keluhan rasa sakit pada telinga, terutama bila daun telinga disentuh dan waktu mengunyah. Bila peradangan ini tidak diobati secara adekuat, maka keluhan-keluhan seperti rasa sakit, gatal dan mungkin sekret yang berbau akan menetap.5 Dalam upaya menanggulangi Otitis eksterna, sejak dahulu telah dipergunakan larutan Burrowi, yang di kemukakan pertama kali oleh dr.Karl August Von Burrow (1809-1874) seorang ahli bedah Jerman dari Koningsburg. Dia menggunakan larutan Burrowi sebagai obat untuk telinga sejak akhir abad ke-19. Larutan Burrowi (Burrows Solution), berisi larutan aluminium sulfat dan digunakan secara luas sebagai obat kompres yang sekaligus bekerja sebagai anti septik dan adstrigensia dan mempunyai pH 3,2.1
6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1.1 ANATOMI TELINGA Anatomi Telinga

Gambar 1. Anatomi Telinga Secara anatomi, telinga dibagi atas 3 yaitu telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi mengumpulkan dan menghantarkan gelombang bunyi ke struktur struktur telinga tengah. Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna atau aurikel) dan liang telinga sampai membran timpani. Di dalam telinga tengah terdapat tiga tulang pendengaran yaitu maleus, inkus dan stapes. Telinga dalam terdiri dari koklea yang berupa dua setengah lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari tiga buah kanalis semisirkularis.

Daun telinga merupakan struktur tulang rawan yang berlekuk lekuk dan dibungkus oleh kulit tipis. Lekukan lekukan ini dibentuk oleh heliks, antiheliks, tragus, antitragus, fossa skafoidea, fosa triangularis, konkha dan lobulus. Permukaan lateral daun telinga mempunyai tonjolan dan daerah yang datar. Tepi daun telinga yang melengkung disebut heliks. Pada bagian postero-superiornya terdapat tonjolan kecil yang disebut tuberkulum telinga (Darwin tubercle). Pada bagian anterior heliks terdapat lengkungan yang disebut antiheliks. Bagian superior antiheliks membentuk dua buah krura antiheliks dan bagian dikedua krura ini disebut fosa triangulari. Di atas kedua krura ini terdapat fosa skafoid. Di depan anteheliks terdapat konka. Di bawah krus heliks terdapat tonjolan kecil berbentuk segitiga tumpul yang disebut tragus. Bagian di seberang tragus dan terletak pada batas bawah anteheliks disebut antitragus.1 Jaringan subkutan daun telinga bagian superior sangat tipis, terutama di permukaan anterior, sehingga kulit langsung menempel pada tulang rawan. Makin ke bawah lapisan subkutan bertambah dan berakhir di lobulus yang tidak mempunyai rangka tulang rawan. Perdarahan daun telinga bagian posterior berasal dari cabang posterior A.karotis eksterna yang mendarahi juga sebagian kecil permukaan depan daun telinga. Sebagian permukaan belakang daun telinga juga diperdarahi oleh A. oksipitalis. Permukaan depan daun telinga terutama diperdarahi oleh cabang anterior A. Temporalis superfisialis anterior. Persarafan daun telinga disuplai oleh cabang cabang aurikularis magnus dan oksipitalis
8

minor dari pleksus servikalis, juga dari cabang aurikulotemporal saraf trigeminal serta cabang auricular N. vagus. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan bagian tulang rawan pada sepertiga luar dan bagian tulang pada dua pertiga dalam. Panjang liang telinga kira kira 2,5 cm 3 cm. Bentuk liang telinga seperti huruf S akibat perbedaan sudut bagian tulang rawan dan bagian tulang karena itu membran timpani biasanya tidak dapat terlihat langsung dari luar. Diameter liang telinga dari luar ke dalam tidak selalu sama, yang paling sempit di bagian isthmus yang terletak sedikit di medial batas bagian tulang dan bagian tulang rawan. Berbatasan dengan membran timpani, bidang liang telinga tidak datar, di bagian anteriorinferiornya membentuk sudut tajam (acute anterior tympanic angle), sehingga bagian tepi anteriorinferior membran timpani sukar dilihat langsung dari luar. Lekukan ini juga menyebabkan diameter membran timpani paling panjang pada bagian obliq anteroinferior ke posterosuperior. Sedikit di lateral bagian yang bersudut tajam ini liang telinga menonjol bertepatan dengan sendi temporomandibula. Kulit liang telinga bagian tulang rawan mempunyai struktur menyerupai kulit di bagian tubuh lain, mengandung folikel rambut dan kelenjar kelenjar, sedangkan kulit di bagian tulang merupakan kulit yang tipis sekali dan berlanjut ke kulit membran timpani, tidak mempunyai folikel rambut dan kelenjar kelenjar. Hubungan antara liang telinga dengan struktur sekelilingnya juga mempunyai arti klinis yang penting. Dinding anterior liang telinga ke arah medial berdekatan dengan sendi temporomandibular dan ke lateral dengan kelenjar parotis. Dinding inferior liang telinga juga berhubungan erat dengan kelenjar parotis. Dehisensis pada liang telinga bagian tulang rawan ( fissure of Santorini) memungkinkan infeksi meluas dari liang telinga luar ke dalam parotis dan sebaliknya pada ujung medial dinding superior liang telinga bagian tulang membentuk lempengan tulang berbentuk baji yang disebut tepi timpani dari tulang temporal, yang mana memisahkan lumen liang telinga dari epitimpani. Dinding superior liang telinga bagian tulang, di sebelah medial terpisah dari epitimpani oleh lempengan tulang baji ke arah lateral suatu lempengan tulang lebih tebal memisahkan liang telinga dari fossa krani medial. Dinding posterior liang telinga bagian tulang terpisah dari sel udara mastoid oleh suatu tulang tipis.
9

Pada kulit yang normal di liang telinga, ada bakteri flora seperti Micrococcus dan Corynebacterium sp. Infeksi pada liang telinga oleh bakteri patogen dipengaruhi kondisi host misalnya adanya trauma lokal, adanya perubahan sifat serumen, dermatitis, dan perubahan pH di liang telinga. Kulit yang melapisi bagian kartilaginosa lebih tebal daripada kulit bagian tulang, selain itu juga mengandung folikel rambut yang banyaknya bervariasi antar individu namun ikut membantu menciptakan suatu sawar dalam liang telinga. Anatomi liang telinga bagian tulang sangat unik karena merupakan satu satunya tempat dalam tubuh di mana kulit langsung terletak di atas tulang tanpa adanya jaringan subkutan. Dengan demikian daerah ini sangat peka, dan tiap pembengkakan akan sangat nyeri karena tidak terdapat ruang untuk ekspansi. Ada tiga makroskopik mekanisme pertahanan dari liang telinga dan permukaan lateral membran timpani yaitu tragus dan antitragus, kulit dengan lapisan serumen dan isthmus. Salah satu cara perlindungan yang diberikan telinga luar adalah dengan pembentukkan serumen atau kotoran telinga. Sebagian besar struktur kelenjar sebasea dan apokrin yang menghasilkan serumen terletak pada bagian kartilaginosa. Eksfoliasi sel sel stratum korneum ikut pula berperan dalam pembentukkan materi yang membentuk suatu lapisan pelindung penolak air pada dinding kanalis ini. pH gabungan berbagai bahan tersebut adalah sekitar 6, suatu faktor tambahan yang berfungsi mencegah infeksi. Serumen diketahui memiliki fungsi sebagai proteksi. Dapat berfungsi sebagai sarana pengangkut debris epitel dan kontaminan untuk dikeluarkan dari membran timpani. Serumen juga berfungsi sebagai pelumas dan dapat mencegah kekeringan dan pembentukan fisura pada epidermis. Saluran limfatik merupakan bagian yang penting dalam penyebaran infeksi. Bagian anterior dan superior dari meatus akustikus eksternus, disalurkan ke pembuluh limfe preaurikuler di kelenjar parotis dan kelenjar limfe servikal bagian superior. Bagian inferior, disalurkan ke infraaurikuler dekat angulus mandibula. Bagian posterior disalurkan ke kelenjar limfe postaurikuler dan kelenjar limfe servikal bagian superior. Rangsangan pada aurikel dan meatus akustikus eksternus berasal dari saraf perifer dan kranial, yaitu dari saraf trigeminus (V), fasial (VII), glossopharingeal (IX) dan nervus vagus (X).
10

Suara yang ditangkap oleh daun telinga diteruskan melalui saluran telinga ke membran timpani. Membran timpani berbentuk hampir lonjong, terletak obliq di liang telinga, membatasi liang telinga dengan kavum timpani. Diameter membran timpani rata rata sekitar 1 cm, paling panjang pada arah anterior inferior ke superior posterior. Membran timpani terdiri dari 3 lapis yaitu lapisan luar, lapisan tengah dan lapisan dalam. Lapisan luar merupakan kulit terusan dari kulit yang melapisi dinding liang telinga. Lapisan tengah merupakan jaringan ikat yang terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan radier yang serabut serabutnya berpusat di manubrium maleus, lapisan sirkuler yang serat seratnya lebih padat di lingkaran luar dan makin jarang ke arah sentral. Lapisan dalam merupakan bagian dari lapisan mukosa kavum timpani. Membran timpani dibagi menjadi dua bagian yaitu pars flaksida di bagian atas dan pars tensa di bagian bawah

2.1 DEFINISI Otitis eksterna, juga dikenal sebagai telinga perenang atau swimmers ear, adalah radang telinga luar baik akut maupun kronis. Kulit yang melapisi saluran telinga luar menjadi merah dan bengkak karena infeksi oleh bakteri atau jamur dengan tanda-tanda khas yaitu rasa tidak enak di liang telinga, deskuamasi, sekret di liang telinga, dan kecenderungan untuk kambuh kembali. Pengobatan amat sederhana tetapi membutuhkan kepatuhan penderita terutama dalam menjaga kebersihan liang telinga. Infeksi ini sangat umum dan mempengaruhi semua kelompok umur. Saluran telinga luar adalah sebuah terowongan pendek yang berjalan dari lubang telinga hingga gendang telinga yang berada di dalam telinga. Secara normal bagian ini dilapisi kulit yang mengandung rambut dan kelenjar yang memproduksi lilin.

11

2.2 ETIOLOGI DAN FAKTOR RISIKO 2.2.1 Etiologi Swimmers ear (otitis eksterna) sering dijumpai. Terdiri dari inflamasi, iritasi atau infeksi pada telinga bagian luar. Dijumpai riwayat pemaparan terhadap air, trauma mekanik dan goresan atau benda asing dalam liang telinga. Berenang dalam air yang tercemar merupakan salah satu cara terjadinya otitis eksterna (swimmers ear).3 Kebanyakan disebabkan alergi pemakaian topikal obat tetes telinga. Alergen yang paling sering adalah antibiotik, contohnya: neomycin, framycetyn, gentamicin, polimixin, dan anti histamin. Sensitifitas poten lainnya adalah metal dan khususnya nikel yang sering muncul pada kertas dan klip rambut yang mungkin digunakan untuk mengorek telinga.2 2.2.2 Faktor Risiko Suka membersihkan atau mengorek-ngorek telinga dengan cotton buds, ujung jari atau alat lainnya Kelembaban merupakan foktor yang eksterna. Sering berenang, air kolam renang menyebabkan maserasi kulit dan merupakan sumber kontaminasi yang sering dari bakteri Penggunaan bahan kimia seperti hairsprays, shampoo dan pewarna rambut yang bisa membuat iritasi dan mematahkan kulit rapuh, yang memungkinkan bakteri dan jamur untuk masuk kondisi kulit seperti eksema atau dermatitis di mana kulit terkelupas atau pecah, dan tidak bertindak sebagai penghalang atau pelindung dari kuman atau jamur kanal telinga sempit infeksi telinga tengah
12

penting untuk terjadinya otitis

diabetes.

2.3 EPIDEMIOLOGI Setiap tahun, otitis eksterna terjadi pada 4 dari setiap 1000 orang di Amerika Serikat. Kejadian lebih tinggi selama musim panas, mungkin karena partisipasi dalam kegiatan air lebih tinggi. Otitis eksterna akut, kronis, dan eczematous merupakan otitits yang umum di Amerika Serikat, namun otitis necrotizing jarang terjadi. Secara umum di dunia frekuensi otitis eksterna tidak diketahui, namun insidennya meningkat di Negara tropis seperti Indonesia. Tidak ada ras ataupun jenis kelamin yang berpengaruh terhadap angka kejadian otitis eksterna. Umumnya, tidak ada hubungan antara perkembangan otitis eksterna dan usia. Sebuah studi epidemiologi tunggal di Inggris menemukan prevalensi selama 12-bulan yang sama untuk individu yang berusia 5-64 tahun dan prevalensinya meningkat pada usia lebih dari 65 tahun.3,5 DI indonesia, penyakit ini merupakan penyakit telinga bagian luar yang sering dijumpai, disamping penyakit telinga lainnya. Berdasarkan data yang dikumpulkan mulai tanggal Januari 2000 s/d Desember 2000 di Poliklinik THT RS H.Adam Malik Medan didapati 10746 kunjungan baru dimana, dijumpai 867 kasus (8,07 %) otitis eksterna, 282 kasus (2,62 %) otitis eksterna difusa dan 585 kasus (5,44 %) otitis eksterna sirkumskripta. Penyakit ini sering diumpai pada daerahdaerah yang panas dan lembab dan jarang pada iklim- iklim sejuk dan kering.5-9 Nan Sati CN dalam penelitiannya di RS.Sumber Waras / FK UNTAR Jakarta mulai 1 Januari 1980 sampai dengan 30 Desember 1980 mendapatkan 1.370 penderita baru dengan diagnosis otitis eksterna yang terdiri dari 633 pria dan 737 wanita.

13

2.4 PATOFISIOLOGI Serumen bersifat asam (pH 4-5) untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur dan juga mencegah kerusakan kulit.Biasanya trauma lokal mendahului terjadinya otitis eksterna.Terkena air yangg berlebihan bias mengurangi jumlah serumen yang akan membuat kanal kering dan pruritus. Membersihkan saluran telinga dengan cotton bud terlalu sering bisa mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang telinga sehingga kotoran menumpuk disana. Penimbunan air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang Kulit yang basah dan lembut pada saluran telinga mudah terinfeksi oleh bakteri atau jamur Kandungan air pada permukaan luar kulit diduga memegang peranan yg nyata didalam mudahnya terjadinya infeksi telinga luar Stratum korneum menyerap kelembaban dari lingkungan suhu yang tinggi ,kelembaban yang tinggi (berenang) Peningkatan kelembaban dari keratin didalam serta disekitar unit-unit apopilo sebasea menunjang pembengkakan & penyumbatan folikel menganggu aliran serumen kepermukan kulit Serumen bersifat asam (pH 4-5) untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur serta mencegah kerusakan kulit
14

Gatal Garuk/cedera invasi organisme eksogen melalui permukaan superficial epidermis yang biasanya resisten terhadap bakteri

Organisme yang paling umum dijumpai pada OE adalah P aeruginosa (50%), S aureus (23%), anaerob dan organisme gram negatif (12,5%), dan jamur seperti Aspergillus dan Candida spesies (12,5%). Otomikosis adalah infeksi di saluran pendengaran eksternal yang disebabkan oleh spesies Aspergillus sebanyak 80-90% dari kasus. Kondisi ini ditandai oleh adanya hifa yang panjang, putih, berbentuk benang yang tumbuh dari permukaan kulit. Dalam sebuah penelitian, 91% dari kasus otitis eksternal disebabkan oleh bakteri.

2.5 KLASIFIKASI Otitis Eksterna akut a. Bakteri Otitis Eksterna Sirkumskripta Otitis Eksterna Difus b. Virus Herpes Zoster c. Jamur Otomikosis Infeksi Kronis Liang Telinga. a. Otitis Eksterna Maligna
15

b. Keratosis Obturans dan Kolesteatom Eksterna Menurut MM. Carr secara klinik otitis eksterna terbagi : 1 Otitis Eksterna Ringan : Kulit liang telinga hiperemis dan eksudat Liang telinga menyempit 2. Otitis Eksterna Sedang : Liang telinga sempit, bengkak, kulit hiperemis dan eksudat positif 3. Otitis Eksterna Komplikasi : Pina/Periaurikuler eritema dan bengkak 4. Otitis Eksterna Kronik : Kulit liang telinga/pina menebal, keriput. Eritema positif. Secara umum otitis eksterna akut ada 2, yaitu otitis eksterna sirkumskripta dan otitis eksterna difus. Otitis eksterna sirkumskripta Oleh karena kulit di sepanjang sepertiga luar liang telinga mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar serumen, maka di tempat itu bisa terjadi infeksi pada pilosebaseus, sehingga membentuk furunkel. Kuman penyebab biasanya Staphyloccoccus aureus atau Staphylococcus albus. Gejalanya ialah rasa nyeri yang hebat, tidak sesuai dengan besar bisul. Hal ini disebabkan karena kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar di bawahnya, sehingga rasa nyeri timbul pada penekanan perikondrium. Rasa nyeri dapat juga timbul spontan waktu membuka mulut (sendi temporomandibula). Selain itu terdapat juga gangguan pendengaran, bila furunkel besar dan menyumbat liang telinga. Terapi tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses, diaspirasi secara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal bisa diberikan salep
16

atau tetes antibiotika. Jika dinding furunkel tebal, dilakukan insisi kemudian dipasang drainage untuk mengalirkan nanahnya. Biasanya tidak perlu diberikan antibiotik sistemik, hanya diberikan obat simptomatik seperti analgetik dan obat penenang. Otitis eksterna difus Sering mengenai kulit liang telinga duapertiga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema yang tidak jelas batasnya. Kuman penyebab biasanya golongan Pseudomonas. Kuman lain yang dapat sebagai penyebab ialah Staphylococcus albus, Escherichia coli dan sebagainya. Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang kelenjar getah bening regional membesar dan nyeri tekan, terdapat sekret yang berbau. Sekret ini tidak mengandung lendir (musin) seperti secret yang keluar dari kavum timpani pada otitis media. Pengobatannya dengan membersihkan liang telinga, memasukkan tampon yang mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara kulit yang meradang dengan obatnya. Kadangkadang diperlukan obat antibiotika sidiliang teling mur stemik.

Otomikosis

Infeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di daerah tersebut yang tersering ialah aspergillus. Kadang-kadang ditemukan juga candidia albikans atau jamur yang lain.

Gejalanya biasanya berupa rasa gatal atau rasa penuh ditelinga, tetapi sering tanpa keluhan.Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga dengan larutan asam asetat 2,5% dan alkohol yang diteteskan ke liang telinga biasanya dapat menyembuhkan. Kadang-kadang diperlukan juga obat anti jamur ( sebagai salep ) yang diberikan secara topikal.

17

Herpes Zoster

Herpes zoster oticus adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster. Virus yang menyerang satu atau lebih dermatom saraf cranial. Dapat mengenai saraf tergeminus, ganglion genikulatum dan radikal seriviks bagian atas. Keadaan ini disebut juga sindroma Ramsey Hunt. Tampak lesi kulit yang vaskuler pada kulit daerah muka sekitar liang telinga, otalgia dan terkadang disertai paralisis otot wajah. Pada keadaan yang berat ditemukan gangguan pendengaran berupa tuli sensineural. Pengobatan sesuai dengan tatalaksana Herpes Zoster.

Keratosis obliterans dan kolesteatom eksterna

Dulu keratosis obturan dan kolesatetoma eksterna dianggap satu penyakit yang sama proses oleh kerana itu sering tertukar. Pada keratosis obturan ditemukan gumpalan epidermis diliang telinga yang disebabkan oleh terbentukmnya epitel yang berlebihan akibat tidak bermigrasi kea rah liang telinga luar.

Pada pasien dengan keratosis obturans terdapat tuli konduktif akut, nyeri yang hebat, liang telinga yang lebih lebar, membrane timpani yang utuh tapi lebih tebal dan jarang ditemukan sekresi telinga. Gangguan pendengaran dan adanya rasa nyeri yang hebat disebabkan oleh desakan gumpalan epitel berkeratin di liang telinga. Keratosis obturan bilateral sering ditemukan pada usia muda. Sering dikaitkan dengan sinusistis dan bronkoektasis.

Erosi tulang liang telinga ditemukan pada keratosis obturan dan pada kolestetoma eksterna. Hanya saja pada keratosis obturan erosi tulang yang menyeluruh sebingga tampak liang telinga menjadi lebih luas. Sementara pada kolestetomna eksterna erosi tulang terjadi hanya didaerah posteroinferior.

Otore dan nyeri tumpul menahun ditemukan pada kolestetoma eksterna. Hali ini disebabnkan oleh kerana invasi kolestetoma ke tulang yang menimbulkan
18

periostetitis. Pendengaran dan membrane timpani biasanya normal. Kolesteotoma ekstrena ditemukan hanya pada satu sisi telingan dan lebih sering pada usia tua.

Oleh keranan keraosis obtuiran disebabkan oleh proses radang yang kromnis serta sudah terjadi gangguan migrasi epitel maka gumpalan keratin dikeluarkan, debris akibat radang harus dibersihkan berkala. Pada kolestetoma eksterna perlu dilakukan operasi agar kolestetoma dan tulang yang nekrotik bias diangkat sempurna . tujuan operasi mencegah berlanjutnya penyakit yang mengerosi tulang. Indikasi operasi bila destruksi tulang sudah meluas ke telinga tengah, erosi tulang pendengaran, kelumpuhan saraf fasialis, terjadi labirin atau otore yang berkepanjangan. Pada operasi liang telinga bagian luar diperluaskan agar mudah dibersihkan.

Bila kolestetoma masih kecil dan terbatas dapat dilakukan tindakan konseratif . kolestetoma dan jaringan nekrotik diangkat sampai bersih diikuti pemberian antibniotik topical berkala. Pemberian obat tetes telinga dari campuran alcohol atau gleserin dalam H2O2 3% tiga kali seminggu sering dapat menolong.

Perbedaan keratosis obturan dan kolesteotoma

Kerotosis obturan

kolestetoma

Umur

Dewasa muda

Tua

Penyakit terkait

Sinusitis & bronkoektasis

Tidak ada

Nyeri

Akut/berat

Kronis/ Nyeri tumpul

19

Gangguan pendengaran

Konduktif/sedang

Tidak ada/ ringan

Sisi telinga

bilaeral

Unilateral

Erosi tulang

sirkumferesial

Terlokalisis

Kulit telinga

utuh

Ulserasi

Osteonekrosis

Tidak ada

Bisa ada

Otorea

jarang

sering

Otitis eksterna maligna

Otitis eksterna maligna merupakan infeksi yang menyerang meatus akustikus eksternus dan tulang temporal. Organisme penyebabnya

adalah Pseudomonas aeruginosa, dan paling sering menyerang pasien diabetik usia lanjut. Pada penderita diabetes, pH serumennya lebih tinggi dibanding pH serumen non diabetes. Kondisi ini menyebabkan penderita diabetes lebih mudah terjadi otitis eksterna. Akibat adanya faktor immunocompromize dan mikroangiopati, otitis eksterna berlanjut menjadi otitis eksterna maligna. Infeksi dimulai dengan otitis eksterna yang progresif dan berlanjut menjadi osteomielitis pada tulang temporal. Penyebaran penyakit ini keluar dari liang telinga luar melalui Fisura Santorini dan osseocartilaginous junction.3 Otitis eksterna maligna menyebar melalui Fisura Santorini untuk sampai ke dasar tulang tengkorak. Data histopatologi menunjukkan bahwa infeksi menyebar sepanjang vaskuler. Di bagian anterior dapat mempengaruhi fossa mandibula dan kelenjar parotis. Di sebelah anteromedial infeksi, dapat menyebar ke
20

arteri karotis. Selain itu juga dapat menyebar melalui Tuba Eustachius untuk sampai ke fossa infratemporal dan nasofaring. Hipestesia ipsilateral dapat terjadi jika saraf kelima dilibatkan. Penyebaran ke intrakranial dapat menyebabkan meningitis, abses otak, kejang dan kematian. Bagian posteroinferior dapat menyebabkan flebitis dan trombosis supuratif bulbus juguler dan sinus sigmoid. Ini dapat menyebabkan mastoiditis dan kelumpuhan saraf fasial. Penyebaran secara inferior dapat menyebabkan paralisis saraf glosofaringeal (IX), vagus (X), hipoglosus (XI), dan aksesorius (XII), menyebabkan disfagia, aspirasi dan suara serak

Gejala dapat dimulai dengan rasa gatal di liang telinga yang dengan cepat diikuti dengan rasa nyeri yang hebat dan sekret yang banyak serta pembengkakan liang telinga. Biasanya unilateral. Rasa nyeri akan semakin hebat dan bila tumbuh jaringan granulasi yang banyak akan menyebabkan liang telinga akan tertutup. Saraf fasialis dapat terkena sehingga menimbulkan paralisis fasial. Kelainan patologik yang penting adalah osteomielitis yang progresif, yang disebabkan oleh infeksi kuman Pseudomonas aeruginosa. Penebalan endotel yang mengiringi diabetes mellitus berat, kadar gula darah yang tinggi yang diakibatkan oleh infeksi yang sedang aktif, menimbulkan kesulitan pengobatan yang adekuat. Pada beberapa kasus pernah dilaporkan terdapat gejala pusing, sakit kepala dan trismus

2.6 DIAGNOSIS Untuk menegakkan diagnosis dari otitis eksterna dapat diperoleh dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang meliputi: 2.6.1 ANAMNESIS Pasien mungkin melaporkan gejala berikut: Otalgia Rasa penuh ditelinga
21

Gatal Discharge (Awalnya, debit mungkin tidak jelas dan tidak berbau, tetapi dengan cepat menjadi bernanah dan berbau busuk) penurunan pendengaran tinnitus Demam (jarang) Gejala bilateral (jarang) Rasa sakit di dalam telinga (otalgia) bisa bervariasi dari yang hanya berupa rasa tidak enak sedikit, perasaan penuh didalam telinga, perasaan seperti terbakar hingga rasa sakit yang hebat serta berdenyut. Meskipun rasa sakit sering merupakan gejala yang dominan, keluhan ini juga sering merupakan gejala mengelirukan. Rasa sakit bisa tidak sebanding dengan derajat peradangan yang ada. Ini diterangkan dengan kenyataan bahwa kulit dari liang telinga luar langsung berhubungan dengan periosteum dan perikondrium, sehingga edema dermis menekan serabut saraf yang mengakibatkan rasa sakit yang hebat. Lagi pula, kulit dan tulang rawan 1/3 luar liang telinga bersambung dengan kulit dan tulang rawan daun telinga sehingga gerakan yang sedikit saja dari daun telinga akan dihantarkan ke kulit dan tulang rawan dari liang telinga luar dan mengkibatkan rasa sakit yang hebat dirasakan oleh penderita otitis eksterna.7 Rasa penuh pada telinga merupakan keluhan yang umum pada tahap awal dari otitis eksterna difusa dan sering mendahului terjadinya rasa sakit dan nyeri tekan daun telinga. Gatal merupakan gejala klinik yang sangat sering dan merupakan pendahulu rasa sakit yang berkaitan dengan otitis eksterna akut. Pada kebanyakan penderita rasa gatal disertai rasa penuh dan rasa tidak enak merupakan tanda permulaan peradangan suatu otitis eksterna akuta.7 Kurang pendengaran mungkin terjadi pada akut dan kronik dari otitis eksterna. Edema kulit liang telinga, sekret yang serous atau purulen, penebalan kulit yang progresif pada otitis eksterna yang lama sering menyumbat lumen kanalis dan menyebabkan timbulnya tuli konduktif. Keratin yang deskuamasi, rambut, serumen,
22

debris, dan obat -obatan yang digunakan kedalam telinga bisa menutup lumen yang mengakibatkan peredaman hantaran suara.5,7 2.6.2 PEMERIKSAAN FISIK Temuan pemeriksaan fisik dapat mencakup sebagai berikut: Nyeri tekan tragus Eritematosa dan edema saluran auditori eksternal Discharge purulen Eczema dari daun telinga Adenopati Periauricular dan servikal Demam (jarang) Pada kasus yang berat, infeksi dapat menyebar ke jaringan lunak sekitarnya, termasuk kelenjar parotis. Ekstensi tulang juga dapat terjadi ke dalam tulang mastoid, sendi temporomandibular, dan dasar tengkorak, dalam hal saraf kranial VII (wajah), IX (glossopharingeus), X (vagus), XI (aksesori), atau XII (hypoglossal) dapat terpengaruh.

2.7 PENATALAKSANAAN Terapi utama dari otitis eksterna melibatkan manajemen rasa sakit, pembuangan debris dari kanalis auditorius eksternal, penggunaan obat topikal untuk mengontrol edema dan infeksi, dan menghindari faktor pencetus. Dengan lembut membersihkan debris dari kanalis auditorius eksternal dengan irigasi atau dengan menggunakan kuret plastik lembut atau kapas di bawah visualisasi langsung. Pembersihan kanal meningkatkan efektivitas dari obat topikal. Obat topikal aural biasanya termasuk asam ringan (untuk mengubah pH dan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme), kortikosteroid (untuk mengurangi peradangan), agen antibiotik, dan / atau agen antijamur.

23

Infeksi ringan: otitis eksterna ringan biasanya merespon dengan penggunaan agen acidifying dan kortikosteroid. Sebagai alternatif, campuran perbandingan (2:1) antara alkohol isopropil 70% dan asam asetat dapat digunakan.

Infeksi sedang: Pertimbangkan penambahan antibiotik dan antijamur ke agen acidifying dan kortikosteroid.

Antibiotik oral digunakan pada pasien dengan demam, imunosupresi, diabetes, adenopati, atau pada individu-individu dengan ekstensi infeksi di luar saluran telinga.

Dalam beberapa kasus, kasa (dengan panjang 1/4 inci) dapat dimasukkan ke dalam kanal, dan obat ototopic dapat diterapkan secara langsung ke kasa (2-4 kali sehari tergantung pada frekuensi dosis yang dianjurkan dokter). Setelah kasa digunakan, harus dicabut kembali 24-72 jam setelah insersi.

Dalam kasus pasien dengan tympanostomy atau diketahui adanya perforasi, persiapan non-ototoxic topical (misalnya, fluorokuinolon, dengan atau tanpa steroid).

Dalam kasus otitis kronis, tidak menular, resisten terhadap terapi, krim tacrolimus 0,1% (melalui kasa yang diganti setiap saat hingga hari ketiga) mengakibatkan tingginya tingkat resolusi setelah 9-12 hari terapi.

24

OTITIS EKSTERNA

Pertimbangkan mengambil sampel

TERAPI Edukasi+ analgetika+ tetes telinga topical+/menghilangkan debris

Evaluasi secara rutin dalam 5-7 hari jika imunocompromized atau diabetes, gejala memburuk, gejala tidak hilang dalam 1 minggu

Rujuk ke THT jika: Terapi gagal Gejala dan tanda yang berat Kemungkinan adanya otitis eksternal necrotizing

Gambar 2: Skema terapi otitis eksterna

2.8 PROGNOSIS Umumnya otitis eksterna dapat sembuh jika segera diobati dan faktor pencetusnya dapat dihindari. Akan tetapi otitis eksterna sering kambuh jika kebersihan telinga tidak dijaga, adanya riwayat penyakit tertentu seperti diabetes yang menyulitkan penyembuhan otitis sendiri, dan tidak menghindari faktor pencetus dengan baik.

25

BAB IV KESIMPULAN Otitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan oleh bakteri terlokalisir atau difus dengan gejala telinga terasa sakit. Faktor penyebab timbulnya otitis eksterna ini dapat berupa kelembaban, penyumbatan liang telinga, trauma lokal dan alergi. Otitis eksterna bias dibagi kan kepada akut yaitu diakibatkan oleh bakteri jamur maupun virus dan kronis. Keluhan pasien yang datang dengan otitis eksterna antaranya mengeluh nyeri telinga, Rasa penuh ditelinga, Gatal adanya discharge bias mengakibatkan penurunan pendengaran, tinnitus, dan demam (jarang). Pada otitis eksterna maligna bias dikeluhkan kelainan saraf akibat penyakit tersebut. Penanganan pada otitis eksterna pada umumnya melibatkan manajemen rasa sakit, pembuangan debris dari kanalis auditorius eksternal, penggunaan obat topikal untuk mengontrol edema dan infeksi, dan menghindari faktor pencetus. Umumnya otitis eksterna dapat sembuh jika segera diobati dan faktor pencetusnya dapat dihindari

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Sosialisma, Helmi. Kelainan telinga luar. Dalam: Soepardi EA. Iskandar N, editor. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Ed.5. Jakarta: FKUI; 2003. Hal.44-8. 2. Vernick DM. Malignant externa otitis. In Nadol JB, Schuknecht HF,editors. Surgery of the ear and temporal bone. New York: Raven Press; 1993. p.199 - 203. 3. Linstrom CJ, Lucente FE, Joseph EM. Infections of the external ear. In Bailey BJ, Calhoun KH, Deskin RW, editors. Head and neck surgeryotolaryngology. Ed.2nd. Vol 2nd. New York : Lippincott-Raven;1998. p. 1965-79. 4. External ear anatomy. [Online]. 2008 [cited 2008 July 26]; [1 screen]. Available from:http://www.utdol.com/online/content/image.do?imageKey=prim_pix/ extern3.htm 5. Helmi. Bagian bagian tulang temporal dan organ di dalamnya, Otitis media supuratif kronis. Jakarta: Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia;2005. p. 7-27. 6. Wright A. Anatomy and ultrastructure of the human ear. In Kerr AG Editor. Scott-Browns Otolaryngology. Ed.6th. London: Butworth;1997. p. 1/1/1 1/1/15. 7. Chon AM. Malignant otitis externa. In Gates GA, editor. Current therapy in otolaryngology-head and neck surgery-3. Toronto: B.C. Decker Inc; 1987. p. 8-11. 8. Boies LR. BOIES Buku ajar penyakit THT. Ed.6. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran; 1997.

27