Anda di halaman 1dari 12

TEORI DAN PRAKTEK BIMBINGAN KELOMPOK

RESUME UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Bimbingan dan Konseling Pribadi Sosial yang dibina oleh Ibu Arbin Janu S.

Oleh

Fatkhi Rizkya R.

110111409548

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING Desember 2012

A. TUJUAN BIMBINGAN KELOMPOK

Bimbingan kelompok merupakan salah satu teknik bimbingan yang berusaha membantu individu agar dapat mencapai perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat, minat, serta nilai-nilai yang dianutnya, dan dilaksanakan dalam situasi kelompok. Bimbingan kelompok bersifat pencegahan dan pengembangan dan berorientasi pada pencapaian tujuan. Bentuk kegiatan kelompok yang lebih intensif yang bersifat perbaikan dan penyembuhan yang menekankan pada perubahan perilaku dan kepribadian dikenal dengan nama konseling kelompok dan psikoterapi kelompok. Pengertian bimbingan kelompok tidak sama dengan proses kelompok dan dinamika kelompok; kedua hal ini merupakan alat untuk mencapai tujuan bimbingan kelompok. Perkembangan pribadi individu secara optimal dan utuh tidak hanya menjadi tujuan bimbingan kelompok tetapi merupakan tujuan pendidikan secara keseluruhan. Selanjutnya, bimbingan kelompok tidak hanya berupa pemberian informasi, tetapi menyajikan informasi dan kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dengan kebutuhan individu dan dapat membantu pemecahan masalah serta tercapainya tujuan yang telah dirumuskan. Bimbingan kelompok tidak menggantikan konseling individual tetapi merupakan kegiatan yang saling melengkapi. Bimbingan kelompok tidak menghilangkan individualitas dan kreativitas individu tetapi mendorong tercapainya aktualisasi diri dan sosialisasi individu. Untuk melaksanakan bimbingan kelompok dengan baik perlu adanya latihan khusus dibidang bimbingan dan kualifikasi kepribadian tertentu bagi para pelaksananya. Tujuan bimbingan kelompok yang diuraikan berikut ini berlaku juga bagi teknik-teknik yang lain asal bertujuan untuk membantu individu menemukan dirinya sendiri, mengarahkan diri, dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bennett mengemukakan tujuan bimbingan kelompok sebagai berikut. 1. Memberikan kesempatan-kesempatan kepada pada siswa belajar hal-hal penting yang berguna bagi pengarahan dirinya yang berkaitan dengan

masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan sosial. Tujuan ini dapat dicapai melalui kegiatan-kegiatan: a. Mengadakan orientasi kepada situasi sekolah baru dan menggunakan kesempatan terhadap fasilitas sekolah yang disediakan. b. Mempelajari masalah-masalah hubungan antarpribadi yang terjadi dalam kelompok dan menerapkan metode pemahaman diri mengenai sikap, minat, kemampuan, kepribadian dan kecenderungan sifat, serta

penyesuaian pribadi serta sosial. c. Bantuan untuk mengembangkan patokan-patokan nilai untuk membuat pilihan-pilihan dalam berbagai bidang kehidupan, dan dalam

mengembangkan filsafat hidup. 2. Memberikan layanan-layanan penyembuhan melaui kegiatan kelompok dengan: a. Mempelajari masalah-masalah manusia pada umumnya. b. Menghilangkan ketegangan-ketegangan emosi, menambah pengertian mengenai dinamika kepribadian, dan mengarahkan kembali energi yang terpakai untuk memecahkan masalah-masalah tersebut dalam suasana yang permisif. 3. Untuk mencapai tujuan-tujuan bimbingan secara lebih ekonomis dan efektif daripada melalui kegiatan bimbingan individual. 4. Untuk melaksanakan layanan konseling individual secara lebih efektif.

B. KAITAN ANTARA PENDEKATAN INDIVIDUAL DENGAN PENDEKATAN KELOMPOK

Program bimbingan dapat dilaksanakan dengan pendekatan individual dan kelompok. Kedua macam pendekatan ini saling melengkapi, yang satu tidak dapat menggantikan yang lain. Faktor-faktor pokok yang sama pada dua macam pendekatan tersebut adalah bahwa konselor dan klien sama-sama belajar dan memperoleh manfaat dari proses tersebut. Tetapi masing-masing pendekatan mempunyai teknik-teknik yang

berbeda dan mempunyai keterbatasan. Seorang konselor yang menggunakan sebagian besar waktunya untuk mewawancarai siswa, akan mempunyai kesempatan yang terbatas mengobservasi klien-kliennya dalam situasi situasi kelompok. Idealnya adalah apabila pembimbing dapat mengkombinasikan kedua kegiatan tersebut dan dapat membuat program yang dapat memenuhi kebutuhan siswa. Melalui kegiatan bimbingan kelompok, konselor dapat membantu siswa untuk memahami masalah manusia pada umumnya, mendorong pemahaman diri dan pemahaman terhadap orang lain, dan mengurangi ketegangan-ketegangan yang dialami. Sebagian besar masalah-masalah penyesuaian pribadi dan perencanaan masa depan berkaitan dengan aspek-aspek pribadi yang tidak dapat ditangani dengan efektif dalam situasi kelompok. Meskipun demikian, konselor dan klien dalam kegiatan konseling individual dapat menghadapi masalah-masalah pribadi tersebut dengan lebih efektif dan dalam waktu yang relatif lebih singkat, karena hambatan-hambatan emosi pada diri klien sudah berkurang. Sebaliknya pemahaman-pemahaman baru mengenai diri klien yang diperoleh konselor selama wawancara dapat membantu memperlancar proses kelompok. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa melalui teknik bimbingan individual dan bimbingan kelompok yang dilaksanakan oleh pembimbing, tujuan bimbingan agar individu dapat memahami diri dan mengarahkan diri dapat lebih cepat dicapai. Traxler (1966) mengemukakan bahwa bimbingan kelompok mempunyai manfaat tertentu, yaitu: 1) menghemat waktu khususnya dalam memberikan layanan-layanan yang berguna untuk para siswa; 2) bimbingan kelompok cocok digunakan untuk melaksanakan beberapa kegiatan terutama kegiatan yang sifatnya intruksional, misalnya pemberian informasi pekerjaan dan informasi tentang program dan fasilitas sekolah yang dapat digunakan untuk menunjang kegiatan-kegiatan belajar bagi siswa baru; 3) bimbingan kelompok menolong individu untuk dapat memahami bahwa orang lain ternyata mempunyai kebutuhan dan masalah yang sama. Dengan demikian, individu tidak merasa sendiri dan menjadi lebih berani mengungkapkan masalahnya dan membuka diri; 4) bimbingan kelompok dapat membantu pelaksanaan konseling individual; 5)

kegiatan kelompok juga mempunyai nilai penyembuhan khususnya untuk kegiatan psikodrama, sosiodrama, dinamika kelompok dan psikoterapi kelompok.

C. TAHAP-TAHAP PERKEMBANGAN KELOMPOK

Untuk menjadi kelompok yang efektif, perlu melalui tahap-tahap tertentu dan setiap tahap mempunyai ciri-ciri tertentu. Tetapi, masing-masing tahap itu tidak berdiri sendiri tetapi merupakan satu kesatuan yang utuh dengan tahap-tahap lainnya. Berikut ini akan dijelaskan tahap-tahap perkembangan kelompok menurut Stanford (1977) dan Corey (1988). 1. Tahap Orientasi/Tahap Inisiasi/Tahap Penciptaan Rasa Aman adalah tahap awal kelompok dimana para anggota kelompok merasa tidak aman, cemas berada dalam situasi baru, dan ingin mengetahui apa yang akan terjadi dalam kelompok. Tujuan utama tahap orientasi adalah untuk saling mengenal dan mengetahui identitas masing-masing anggota anggota kelompok. kelompok, dan

mengembangkan

kepercayaan

Pengembangan

kepercayaan ini merupakan hal yang sangat pokok bagi pengembangan kelompok selanjutnya. Tanpa kepercayaan, interaksi kelompok hanya akan bersifat permukaan saja dan tidak bersifat mendalam, kurang ada pengungkapan diri, tantangan dari anggota yang satu dengan lainnya tidak ada, dan kelompok akan berlangsung dalam suasana kurang bebas. Beberapa latihan terstruktur untuk tahap orientasi Langkah pertama untuk dapat saling mengenal antara anggota kelompok adalah dengan mengenal nama masing-masing. Beberapa latihan tersebut antara lain adalah: 1) tanda nama, 2) mengenalkan diri sendiri, 3) gabungan antara nama dan sifat, dan 4) melengkapi kalimat. 2. Tahap Pembinaan Norma dan Tujuan Kelompok merupakan tahap yang penting dalam pengembangan kelompok, karena akan memberi arah pada pengembangan kelompok menuju kelompok yang produktif. Dalam tahap ini, anggota kelompok belajar bekerja bersama sebagai suatu tim. Individu juga belajar bagaimana akibat perilakunya terhadap anggota lain, belajar memberi

balikan dan menerima balikan. Norma-norma yang dikembangkan dalam tahap ini adalah: a) tanggung jawab kelompok: setiap anggota menyumbang terhadap tugas kelompok; b) responsif terhadap anggota kelompok yang lain mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakan anggota lain, dan berusaha menghubungkan ide tersebut untuk kepentingan produktivitas kelompok; b) responsif terhadap anggota kelompok yang lain; c) saling ketergantungan; d) pengambilan keputusan berdasarkan konsensus; e) masalah yang timbul harus dihadapi dan dipecahkan. Masing-masing norma kelompok tersebut dikembangkan melalui latihan-latihan dalam kegiatan kelompok. Beberapa latihan dalam pengembangan norma Latihan-latihan yang mewakili norma-norma yang dikembangkan dalam tahap ini, misalnya: tanggung jawab kelompok, responsif terhadap anggota kelompok lain, dan kerjasama. (1) Tanggung jawab kelompok, tujuannya adalah menanamkan pengertian bahwa setiap anggota mempunyai kewajiban untuk menyumbang kelompok. (2) Membuat cerita kelompok, tujuannya adalah melatih anggota agar mendengarkan dengan sungguh-sungguh apa yang dikatakan anggota lain dan berusaha menghubung-hubungkannya sehingga dapat mencapai tujuan kelompok. (3) Menyusun segi empat, tujuannya adalah melatih kerjasama antara anggota kelompok untuk menyelesaikan tugas kelompok. 3. Tahap Mengatasi Pertentangan-pertentangan dalam Kelompok Tahap ketiga dalam perkembangan kelompok merupakan tahap mulai timbulnya pertentangan-pertentangan dalam kelompok, yaitu pertentangan antara sesama anggota kelompok karena perbedaan pendapat dan adanya usaha untuk menentang pemimpin kelompok. Memang agak sulit dipahami bahwa setelah tingkat kohesivitas dan produktivitas kelompok bertambah, malah timbul pertentangan dalam kelompok. Tetapi dalam kenyataannya dalam perkembangan kelompok situasi seperti itu terjadi.

Apabila

membandingkan

antara

perkembangan

kelompok

dengan

perkembangan individu dari masa bayi menuju masa dewasa maka tahap ketiga ini dapat disamakan dengan masa adolesensi. Dalam masa adolesensi, individu merasa sudah lebih mampu menghadapi hidup, dan merasa tidak bergantung dan bebeas dari pengawasan orang tua. Beberapa latihan untuk mengatasi pertentangan dalam kelompok (1) Mengirim pesan Saya. Suatu pesan Saya adalah suatu pernyataan mengenai bagaimana perasaan kita terhadap sesuatu yang dilakukan oleh seseorang. Pesan ini memberikan informasi yang tepat mengenai apa akibat perbuatan seseorang kepada orang lain. Sebaliknya, pesan Kamu adalah suatu pernyataan yang menyalahkan atau memberi cap seseorang karena perbuatannya. (2) Pendekatan Menang-menang, disebut juga pendekatan tidak ada yang kalah, berarti bahwa pemecahan yang dikemukakan dapat memenuhi kebutuhan dua belah pihak. 4. Tahap Produktivitas Tahap produktivitas dalam perkembangan kelompok adalah tahap dimana kelompok tumbuh menjadi suatu tim yang produktif dan telah

mempraktikkan keterampilan-keterampilan dan sikap-sikap yang diperlukan untuk dapat berinteraksi secara efektif dengan orang lain. Beberapa latihan dalam tahap produktivitas (1) Diskusi kelompok kecil (2) Simulasi 5. Tahap Mengakhiri Kelompok disebut juga tahap terminasi adalah tahap dimana para anggota kelompok akan meninggalkan kelompok karena kegiatan kelompok sudah berakhir atau mereka sudah tidak memerlukan bantuan lagi. Beberapa latihan terstruktur dalam tahap terminasi (1) Rangkuman pengalaman-pengalaman penting Anggota kelompok didorong untuk membagi persepsinya dengan anggota lain dalam kelompok (2) Pengalaman yang berkesan

Masing-masing anggota kelompok diminta untuk mengemukakan pengalaman-pengalaman yang paling berkesan selama bersama kelompok (3) Saling bertukar kesan Anggota kelompok diminta untuk mendiskusikan bagaimana kesan mereka terhadap masing-masing anggota pada waktu mereka pertama kali bertemu, dan bagaimana kesan itu berubah setelah mereka bekerjasama dalam kelompok. (4) Pesan-pesan positif Anggota kelompok diminta menuliskan pesan singkat yang membuat orang yang menerimanya menjadi senang.

D. KETERAMPILAN-KETERAMPILAN HUBUNGAN ANTAR PRIBADI

Untuk dapat bergaul dengan orang lain dengan baik, seseorang harus dapat mengerti dirinya sendiri dan orang lain. Pengertian mengenai diri sendiri dan orang lain merupakan proses yang timbal balik karena yang satu membantu yang lain. Sehingga dalam hal ini, pendekatan kelompok mempunyai manfaat yang besar mengenai diri dan perkembangan diri sebagian besar ditentukan oleh hubungan individu dengan orang lain. Salah satu cara untuk membantu anggota kelompok untuk saling dapat mengembangkan pengertian terhadap diri sendiri adalah dengan saling memberikan balikan dalam proses kelompok. Pengertian terhadap diri sendiri merupakan hal yang sangat penting, tidak saja untuk dapat bergaul dengan orang lain tetapi lebih luas daripada itu. Bennett (1963) mengemukakan tiga alasan mengenai pentingnya mengerti diri sendiri. Pertama, untuk dapat membuat perencanaan pendidikan, pekerjaan, hal-hal pribadi dan sosial secara lebih realistis, serta untuk mengarahkan diri dalam mencapai tujuan-tujuan itu. Pengertian terhadap diri sendiri tak dapat dicapai hanya dengan beberapa kali wawancara, tetapi memerlukan program yang terkoordinasi antara kegiatan kelompok dan konseling individual. Kedua, untuk dapat menyesuaikan diri dan mengadakan adaptasi secara berkelanjutan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan. Teknik-teknik untuk

melakukan hal itu harus diajarkan, dipelajari, dan dipraktikkan. Ketiga, individuindividu dalam segala umur mempunyai keinginan untuk mengerti dirinya sendiri dan mengerti orang lain dengan tingkat kematangan mereka, dalam situasi dimana mereka ingin saling diterima dan saling dihargai. Mengerti diri sendiri merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Proses kelompok dapat membantu mempercepat pengertian terhadap diri sendiri, tetapi karena proses itu berlangsung dalam waktu yang terbatas maka hasil yang dicapai juga terbatas, yaitu hanya sebagian dari keseluruhan kepribadian yang dapat dipahami. Namun, hal penting yang dapat dicapai dengan proses kelompok adalah bertambahnya pengertian terhadap kepribadian manusia dan bertambahnya keterampilan dalam menggunakan pengertian ini untuk membuat rencana masa depan dan bergaul dengan orang lain. 1. Syarat-syarat untuk dapat memahami diri dan orang lain melalui proses kelompok Untuk dapat memahami diri dan orang lain, ada beberapa kondisi penting yang perlu diperhatikan. Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan, yang disarikan dari pendapat Bennett (1963) dan Johnson (1963) adalah sebagai berikut: a. Ada suasana hangat dan penuh persahabatan antar pemimpin kelompok dengan anggota kelompok, dan antara anggota yang satu dengan anggota yang lain. b. Ada kepercayaan dan keterbukaan antara sesama anggota kelompok dan antara anggota dengan pemimpin kelompok. c. Kepribadian pemimpin kelompok juga merupakan faktor yang penting dalam menciptakan suasana kelompok. d. Ada program latihan keterampilan hubungan antarpribadi yang kontinyu dan terarah. 2. Cara-cara untuk menguasai keterampilan-keterampilan hubungan antarpribadi Pentingnya penguasaan keterampilan-keterampilan hubungan antarpribadi dalam kehidupan manusia kiranya tidak perlu dipersoalkan lagi. Pemenuhan kebutuhan manusia baik yang fisik maupun psikologis sebagian besar

tergantung pada manusia lain. Yang penting bukan interaksi itu sendiri, melainkan cara kita berinteraksi dengan memperhatikan, membantu, mengasihi, dan mereaksi secara tepat kepada orang lain itulah yang membuat kita menjadi manusia. hubungan Untuk kita mempelajari, dengan orang mengembangkan lain, perlu dan

meningkatkan

dipelajari

keterampilan-keterampilan itu secara umum mencakup empat bidang, yaitu: a. Mengenal dan mempercayai satu sama lain b. Memahami dengan tepat satu sama lain c. Saling mempengaruhi dan saling membantu d. Mengatasi masalah-masalah dan konflik-konflik dalam hubungan antarpribadi secara konstruktif. 3. Beberapa latihan keterampilan-keterampilan hubungan antarpribadi Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa untuk mengerti orang lain harus dimulai dengan mengerti diri sendiri lebih dahulu. Cara-cara untuk membantu individu agar dapat memahami dirinya berbeda-beda sesuai dengan tingkat perkembangannya. 1. Latihan menguji konsep diri Yang dimaksud dengan konsep diri (self concept) adalah bagaiman orang memandang dirinya sendiri. Bagaimana orang itu memandang dirinya, mempengaruhi, dan menemukan perilakunya. Konsep diri seseorang dibentuk dan dipengaruhi oleh cara bagaimana lingkungan

memperlakukannya. Untuk dapat mengetahui konsep diri dapat dimulai dengan menggunakan teknik tidak terstruktur yang berupa pertanyaanpertanyaan terbuka, yang bertujuan untuk membantu individu

mendapatkan gambaran umum bagaimana pendapat tentang dirinya. 2. Latihan membina kepercayaan Tujuan latihan ini adalah agar anggota kelompok dapat saling membuka diri khususnya mengenai persepsinya tentang rasa saling mempercayai antara sesama anggota kelompok. Mereka diminta untuk mendiskusikan bagaimana cara-cara untuk meningkatkan kepercayaan dalam hubungan antarpribadi.

3. Latihan membina kepercayaan secara non verbal Setiap anggota kelompok memilih anggota lain sebagai pasangannya. Seorang berperan sebagai penunjuk jalan dan yang lain sebagai orang buta. Yang berperan sebagai orang buta harus menutup matanya dan penunjuk jalan menuntunnya mengelilingi ruangan. Penunjuk jalan menutup pasangannya untuk memperoleh berbagai pengalaman seperti meraba dinding dan benda lain yang ada di dalam ruangan, mengenalkan pada seseorang, dan sebagainya. Setelah 15 menit, mereka bertukar peran. Setelah keduanya mengalami pengalaman yang sama, mereka diminta untuk mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut: a. Bagaimana rasanya menjadi orang buta? b. Apakah pengalaman terbaik yang diberikan penunjuk jalan anda? c. Apa yang anda pelajari mengenai penunjuk jalan anda? d. Apa yang ada pelajari mengenai orang yang buta? e. Bagaimana rasanya menjadi penunjuk jalan? f. Bagaimana perasaan anda terhadap pasangan anda? 4. Latihan konfrontasi Konfrontasi diartikan sebagai usaha untuk menolong orang lain menilai konsekuensi dari beberapa aspek perilakunya. Konfrontasi ini didasarkan pada hasil observasi perilaku dan pengaruh perilaku orang lain kepada anda, atau penyampaian hasil observasi anda terhadap perilaku orang lain dan pengaruh perilakunya serta interpretasi terhadap perilaku tersebut. Keterampilan-keterampilan konfrontasi mencakup: observasi terhadap perilaku orang lain, reaksi terhadap perilaku itu, interpretasi serta keinginan untuk membantu orang lain meningkat pengertian terhadap perilakunya, dan meningkatkan hubungan antar pribadi dengan orang lain itu agar ia menjadi kurang defensif.

DAFTAR RUJUKAN

Romlah, Tatiek. 2006. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Malang: Penerbit Universitas Negeri Malang