Anda di halaman 1dari 38

MESIN PENDINGIN

1.1

LATAR BELAKANG

Dewasa ini energi merupakan kebutuhan manusia yang paling pokok. Kebutuhan manusia terhadap ketersediaan energi listrik sangatlah besar, sehingga pemakaiannya haruslah bijaksana, produktif dan efisien. Kita semua menyadari bahwa sumber energi yang kita pakai cadangannya terbatas, bahkan untuk sumber energi dari minyak bumi dan gas alam, disamping cadangannya terbatas juga tidak dapat diperbaharui. Refrigerasi merupakan suatu kebutuhan dalam kehidupan saat ini teruma bagi masyarakat perkotaan. Karena itu kita perlu mempelajari sistem kerja refrigerasi dan sekaligus mengenal komponen-komponen refrigerasi. Refrigerasi dapat berupa lemari es pada rumah tangga, mesin pembeku (freezer), endingin sayur dan buah buahan pada supermarket dan sebagainya. Peralatan ini dapat dijumpai mulai dari skala kecil pada rumah tangga hingga skala besar pada aplikasi di industri. Sistem refrigerasi kompressi uap juga digunakan pada aplikasi tata udara (air conditioner). Aplikasi tata udara untuk hunian manusia, mesin yang digunakan dapat ditemui mulai dari skala kecil seperti AC window dan AC spilit dan skala besar sepertiair cooled chiller.

1.2

TUJUAN

Dalam pembahasan mengenai system pendingin dan tata udara ini memiliki beberapa tujuan yaitu:
1. Dapat mengetahui pengertian dari system pendingin dan tata udara yang

meliputi AC, refrigerator, dan freezer


2. Dapat mengetahui bagian-bagian dari sistem pendingin itu

3. Dapat mengetahui cara perawatannya


1

4. Dapat mengetahui pengoperasian dari AC, refrigerator, dan freezer

DASAR TEORI

2.1

SEJARAH MESIN PENDINGIN

Pada tanggal 7 desember 1926, sebuah paten dikeluarkan bagi Baltzar carl von platen dan Carl georg munters dari stockholm swedia. Untuk rancangan mesin pendingin (refrigerator) keduanya adalah mahasiswa royal institute of technology, stockhlom. teknologi tersebut kemudian dikomersilkan oleh produsen peranti rumah tangga Electrolux dan meraih sukses internasional. Sebelum mesin pendingin ditemukan, pengawetan dengan cara penyimpanan pada suhu rendah dilakukan didalam sebuah rumah es. pendinginan buatan pertama kali dipertunjukkan oleh william cullen dari universitas glasgow, skotlandia, pada tahun 1748. penemu as oliver evans, kemudian di juluki bapak mesin pendingin berkat temuan vapor-compression refrigeration pada tahun 1805. Sejumlah rancangan lain masih kembangkan sebelum akhirnya rancangan von platen dan munters yang dioperasikan dengan gas berhasil menjadi mesin pendingin pertama yang praktis dan dapat di aplikasikan secara komersil. mesin pendingin

electrolux-servel memasuki pasar Amerika Serikat pada tahun 1826 dan sejak 1827 menjadi penjual tunggal di pasar AS hingga tahun 1950-an.

2.2.

JENIS DAN TIPE MESIN PENDINGIN

Jenis dan tipe mesin pendingin disesuaikan dengan kegunaan dan daya yang dimilikinya. Misalnya AC untuk kantor-kantor besar berbeda dengan AC untuk rumah tangga. Begitu juga untuk jenis kulkas.Karena di pasaran sudah tersedia berbagai jenis dan tipe mesin pendingin.

2.3.

JENIS-JENIS MESIN PENDINGIN

Dari berbagai mesin pendingin yang ada, serta ditinjau dari segi kegunaan dan fungsinya dikenal empat macam jenis mesin pendingin

2.3.1. REFRIGERANT Jenis ini lebih dikenal dengan sebutan kulkas atau lemari es. Tipe dan kapasitasnya bermacam-macam, dan umumnya di gunakan untuk rumah tang-ga. Fungsinya tidak lain adalah untuk mendinginkan minuman, mengawetkan bahan makanan seperti sayur-sayuran, daging, ikan laut dan lain-lain. Untuk kapasitas besar dapat digunakan untuk es batu

2.3.2. FREEZER

Jenis yang satu ini tidak berbeda dengan kulkas atau lemari es, hanya saja kapasitasnya jauh lebih besar. Sebab umumnya digunakan oleh perusaha-anperusahaan pembuat es maupun untuk menyimpan bahan makanan dalam jumlah banyak.

Gambar 2.1 Freezer

2.3.3. AIR CONDITIONER (AC) Pada waktu yang lalu peralatan penghasil ruangan sejuk yang dinamakan AC ini masih tergolong barang mewah dan hanya gedung-gedung tinggi saja yang mempergunakanya seperti kantor-kantor, gedung-gedung pemerintahan, hotel-hotel maupun restaurant-restaurant besar. Tetapi sejak pabrik-pabrik penghasil AC mulai berlomba dengan produknya, dan mengeluarkan berbagai tipe untuk berbagai keperluan, seperti untuk mobil, untuk ruangan, kamar rumah dan sebagainya dan dengan harga yang bersaing, sejak itu AC menjadi barang umum dan kian memasyarakat. Sehingga tidak hanya gedung-gedung saja melainkan ruangan dalam kamar.

2.3.4. KIPAS ANGIN Walaupun pada dasarnya peralatan yang satu ini tidak menghasilkan udara atau suhu yang dingin sebagaimanan kilkas atau AC, tetapi karena putaran kipas dan system kerjanya mirip dengan kerja dari kedua peralatan di atas, maka kipas angin merupakan salah satu dari bagian mesin pendingin.

2.4. KOMPONEN UTAMA MESIN PENDINGIN


Sistem refrigerasi sangat menunjang peningkatan kualitas hidup manusia. Kemajuan dalam bidang refrigerasi akhir-akhir ini adalah akibat dari perkembangan sistem kontrol yang menunjang kinerja dari sistem refrigerasi. Apalikasi dari sistem refrigerasi tidak terbatas, tetapi yang paling banyak digunakan adalah untuk pengawetan makanan dan pendingin suhu, misalnya lemasi es gambar 1 freezer, cold strorage, air conditioner/AC Window, AC split gambar 2 dan AC mobil. Dengan perkembangan teknologi saat ini, refrigeran (bahan pendingin) yang di pasarkan dituntut untuk ramah lingkungan, disamping aspek teknis lainnya yang diperlukan. Apapun refrigeran yang dipakai, semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing oleh karena itu, diperlukan kebijakan dalam memilih refrigerant yang paling aman berdasarkan kepentingan saat ini dan masa yang akan datang. Selain itu, tak kalah pentingnya adalah kemampuan dan ketrampilan dari para teknisi untuk mengaplikasikan refrigeran tersebut, baik dalam hal mekanisme kerja sistem, pengontrolan maupun keselamatan kerja dalam pemakaiannya.

2.4.1. KOMPRESOR
5

Kompresor memompa bahan pendingin ke seluruh sistem. Gunanya adalah untuk menghisap gas tekanan rendah dan suhu terendah dari evaporator dan kemudian menekan/memampatkan gas tersebut, sehingga menjadi gas dengan tekanan dan suhu tinggi, lalu dialirkan ke kondensor. Jadi kerja kompresor adalah untuk :

Gambar 2.1 Kompresor

1. Menurunkan tekanan di evaporator, sehingga bahan pendingin cair di evaporator dapat menguap pada suhu yang lebih rendah dan menyerap lebih banyak panas dari sekitarnya.

2. Menghisap gas bahan pendingin dari evaporator, lalu menaikkan tekanan dan suhu gas bahan pendingin tersebut, dan mengalirkannya ke kondensor sehingga gas tersebut dapat mengembun dan memberikan panasnya pada medium yang mendinginkan kondensor.

Ada tiga macam kompresor yang banyak dipakai pada mesin-mesin pendingin yaitu:

1. Kompresor Torak, kompresinya dikerjakan oleh torak. 2. Kompresor Rotasi, kompresinya dikerjakan oleh blade atau vane dan roller 3. Kompresor Centrifugal, kompresor centrifugal tidak mempunyai alatalat tersebut kompresi timbul akibat gaya centrifugal yang terjadi karena gas diputar oleh putaran yang tinggi kecepatannya dan impeller.

Ketiga macam kompresor mempunyai keunggulan masing-masing. Pemakaiannya ditentukan oleh besarnya kapasitas, penggunaannya, instalasinya dan jenis bahan pendingin yang dipakai.

2.4.2. KONDENSOR Kondensor adalah suatu alat untuk merubah bahan pendingin dari bentuk gas menjadi cair. Bahan pendingin dari kompresor dengan suhu dan tekanan tinggi, panasnya keluar melalui permukaan rusuk-rusuk kondensor ke udara. Sebagai akibat dari kehilangan panas, bahan pendingin gas mula-mula didinginkan menjadi gas jenuh, kemudian mengembun berubah menjadi cair.

Gambar 2.1 Kondensor

2.4.3. EVAPORATOR Evaporator adalah suatu alat dimana bahan pendingin menguap dari cair menjadi gas. Melalui perpindahan panas dari dinding-dindingnya, mengambil panas dari ruangan disekitarnya ke dalam sistem, panas tersebut lalu di bawa ke kompresor dan dikeluarkan lagi oleh kondensor.

Gambar 2.2 Evaporator

2.4.4. EXPANSION VALVE Pipa kapiler gunanya adalah untuk: 1. Menurunkan tekanan bahan pendingin cair yang mengalir di dalam pipa tersebut. 2. Mengontrol atau mengatur jumlah bahan pendingin cair yang mengalir dari sisi tekanan tinggi ke sisi tekanan rendah.

2.4.5. KATUP EKSPANSI Katup ekspansi ada 2 macam yaitu : 1. 2. Automatic Expansion Valve Thermostatic Expansion Valve

Thermostatic Exspansion Valve lebih baik dan lebih banyak dipakai, tetapi pada AC hanya dipakai automatic expansion valve, maka disini kita hanya akan membicarakan automatic expansion valve saja. Gunanya untuk menu-runkan cairan dan tekanan tekanan evaporator dalam batas-batas yang telah di tentukan dengan mengalirkan cairan bahan pendingin dalam jumlah yang tertentu ke dalam evaporator.

Gambar 2.3 Expansion Valve

2.4.6. MEDIA PENDINGIN (REFRIGERANT) Refrigerant adalah suatu zat yang mudah menguap dan berfungsi sebagai penghantar panas dalam sirkulasi pada saluran instalasi mesin pendingin. Bahan pendingin (refrigerant) adalah, suatu zat yang mudah berubah wujud dari gas menjadi cair atau sebaliknya. Dapat mengambil panas dari evaporator dan membuangnya di kondensor.
10

Untuk instalasi Refrigerator/kulkas, AC dipakai freon R-12 atau R-22 sebagai refrigerant.

Gambar 2.4 Refrigerant

2.5.

ANALISA THERMODINAMIKA MESIN PENDINGIN

Ada dua jenis diagram yang digunakan untuk menganalisis siklus thermodinamika sistim pendinginan, yaitu diagram tekanan Enthalpy (ph) dan temperatur entropi (Ts) diagram ph digunakan uiit.uk menentukan harga-harga yang diperlukan dalam perhitungan thermodinamika. sedangkan diagram Ts digunakan untuk menganalisis persoalan-persoalan thermodinamika dari sistim pendinginan. Dari diagram Ph dengan menggunakan label refrigerant yang dipilih, maka dapat ditentukan harga-harga tekanan enthalpy untuk masing-masing titik. Harga ini diperlukan dalam perhitungan thermodinamika seperti berikut ini:

2.5.1. EVAPORASI (PENGUAPAN) Dalam evaporator, uap refrigerant menguap dan menyerap panas dari ruangan atau produk yang diinginkan. Besarnya panas yang discrap tersebut dapat ditentukan dengan persamaan berikut ini:

11

qevap = hC' - hB (Btu/hr) Besarnya 1 evap ini disebut juga efek pendinginan.

2.5.2. KOMPRESI Kompresor akan segera menghisap uap refrigerant dari evaporator, lalu

dikompresikan hingga tekanan dan temperaturnya naik jumlah panas yang ditimbulkan akibat kompresi dapat dihitung dengan rumus : Wcomp = hD- hC (Btu/hr)

2.5.3. KONDENSASI Setelah uap refrigerant meninggalkan kompresor dalam bentuk super heated, panas yang dikeluarkan oleh kondensor dapat ditulis dengan rumus : qcond= hD' - hA' (Btu/hr)

2.5.4. KESEIMBANGAN PANAS (HEAT BALANCE) Untuk proses idial adibatis, kerja ekspansi sama dengan nol. Keseimbangan panas dalam sistim akan dicapai dengan menggunakan persamaan sebagai berikut : Qevap + Wcomp = qcond (Btu/hr)

2.5.5. JUMLAH ALIRAN REFRIGERANT Bila G adalah berat refrigerant yang bersikulasi tiap ton per menit, dan 1 ton refrigerant yang bersikulasi = 200 Btu/nr maka jumlah aliran refrigerant dapat dihitung dengan rumus : G= 200 = (Btu/hr) q evap
12

Dimana G adalah jumlah aliran refrigerant.

2.5.6.

DAYA (HORSE POWER)

Daya yang diperlukan untuk menggerakkan kompresor per ton refrigerant :

Hp = 200
Dimana :

(hD 'hC ' ) (J ) = (hC 'hB ' ) (33 .000 )

J = Panas mekanik equivalen

2.5.7. COEFFICIENT OF PERFORMANCE (CP) Coefficient of performance dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut Cop = Panas yang diserap dalam evaporator Panas equivalent dari kerja bersih yang dihasilkan Efek pendingin ( q evap ) Kerja kompresor ( Wcomp )

Cop =

2.6.

BEBAN PENDINGIN

Perhitungan beban pendinginan pada dasarnya adalah bertujuan untuk menentukan besarnya kapasitas equipment yang akan diinstal. Beban pendinginan diukur dalam satuan Btu/hr atau ton refrigerant. Ada beberapa istilah dalam perhitungan beban pendinginan seperti berikut ini:

2.6.1. HEAT GAIN (BEBAN PANAS) Heat gain didefinisikan sebagai banyaknya panas yang masuk atau yang timbul dalam suatu ruangan yang akan dikondisikan. Beban panas ini berasal dan pancaran radiasi sinar
13

matahari, lampu, orang, perpindahan panas transmisi melalui dinding, atap dan ditambah dengan adanya infiltrasi serta peralatan lain yang terdapat pada ruangan yang berfungsi sebagai penyumbang panas.

2.6.2. COOLING LOAD Cooling load didefinisikan sebagai banyaknya panas yang harus dikeluarkan dari dalam ruangan untuk mempertahankan kondisi udara dalam ruangan pada harga tertentu. Cooling load sesaat tidak sama dengan beban panas, hal ini disebabkan karena panas radiasi yang timbul diserap oleh permukaan material yang melingkupi ruangan (dinding, lantai, langitlangit). Setelah beberapa saat material tersebut akan lebih panas dari udara dalam ruangan sehingga akan terjadi perpindahan panas konveksi dari permukaan material ke udara dalam ruangan, panas inilah yang menjadi Cooling load. Dalam perhitungan beban pendinginan dapat diklasiflkasi seperti berikut ini:

2.6.2.1. BEBAN PANAS KONDUKSI Beban panas konduksi adalah jumlah panas yang merambat akibat adanya

perbedaan temperatur ruangan yang didinginkan dengan sekelilingnya, beban panas ini biasanya terjadi melalui dinding permukaan ruang pendingin. Besarnya beban panas konduksi dapat dihitung dengan rumus : Qk = U x A x At (Btu/hr) Dimana: Qk U A At = = = = Jumlah beban panas konduksi (Btu /hr) Koefisien perpindahan panas (Btu /hr.sq.ft) Luas dinding (sq. ft) Perbedaan antara kedua sisi dinding (Btu/hr.sq.ft.F)

Jumlah beban panas ini sangat tergantung pada konstruksi ruangan pendingin yang direncanakan.
14

2.6.2.2. BEBAN PANAS INFILTRASI Beban panas infiltrasi terjadi akibat udara yang menyusup masuk kedalam ruangan pendinginan melalui pintu dan sejenisnya, beban panas infiltrasi dapat dihitung dengan rumus: Qs = 1,08 x Cfm x (to - trm) Btu/hr Dimana: to trm QL Wd = = = Temperatur udara luar ruangan F Temperatur udara dalam ruangan F. 0,68 x Cfm x (Wd - Wrm) Btu/hr Kandungan uap air udaar luar F gram/lb dry air. Kandungan uap air udara dalam ruangan F gram/lh dry air.

Dimana: =

Wrm =

2.6.2.3. BEBAN PANAS DARI LUAR RUANGAN Beban panas yang berasal dari luar ruangan adalah beban panas yang sumber panasnya berasal dari luar ruangan itu sendiri, beban panas ini terdiri dari beberapa komponen antara lain: A. BEBAN PANAS RADIASI MATAHARI MELALUI DINDING Beberapa beban panas karena radiasi dihitung dengan menggunakan persamaan sebagai berikut: Qw = U. A. t (btu/hr) Dimana: Qw U A = = = Beban panas akibat radiasi matahari melalui dinding (Btu/hr). Koefisien perpindahan panas total melalui dinding (Btu/hr. sq. ft). Luas dinding (sq ft)

15

Equivalen temperatur differen yang mana perbedaan temperatur yang

menghasilkan total panas yang menembus dinding luar yang disebabkan oleh banyaknya radiasi sinar matahari dan temperatur luar. Besarnya beban panas untuk atap dan pintu dapat dicari dengan persamaan seperti di atas.

B. BEBAN PANAS DARI DALAM RUANGAN Beban panas yang berasal dan dalam ruangan adalah beban panas yang sumber panasnya berasal dari dalam ruangan itu sendiri, beban panas ini terdiri dari beberapa komponen antara lain :

a.

BEBAN PANAS DARI MANUSIA

Untuk menentukan beban panas yang berasal dari manusia maka terlebih dahulu harus ditentukan jumlah manusia yang ada pada suatu ruangan yang dikondisikan pada jam perencanaan. Besarnya beban panas sensible dan beban panas laten yang dilepas oleh manusia tergantung dari jenis aktifitas yang dilakukan serta suhu ruangan yang dikondisikan.

b.

BEBAN PANAS DARI LAMPU

Jumlah perolehan kalor dari dalam ruangan yang disebabkan oleh penerangan tergantung pada daya / watt lampu - lampu dan jenis lampu. Bila digunakan lampu pelepas harus electron (fluerescent) energi yang dipancarkan oleh balas harus dihitung juga, dimasukkan sebagai beban internal. Besamya Panas yang berasal dari lampu dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut: q = Total light, watt x 1,25 x 3,4 Dimana : Q = = Perolehan kalor dari lampu (Btu/hr) Faktor penggunaan atau fraksi penggunaan lampu yang terpasang
16

Faktor balast untuk lampu - lampu fluerescent = 1,2 untuk fluerescent biasa

c. BEBAN PANAS PRODUK Beban panas yang terjadi akibat proses panas yang berlangsung dalam ruangan panas merupakan beban panas yang secara langsung mempengaruhi temperatur ruangan didinginkan. Rumus umum yang digunakan untuk menghitung beban panas ini adalah : Qp = m . C . (ti t2) (Btu/hr) Dimana: Qp = m = c ti = = Beban panas dari produk (Btu/hr) Berat produk (LB) Panas jenis produk Btu/Lb F Temperatur produk pada saat dimasukkan kedalam ruangan pendinginan, F t2 = Temperatur akhir produk F

2.7.

KESIMPULAN

Dapat kita ketahui bahwa mesin pendingin ada berbagai macam,dan tipe ,maka dari itulah dapat kita simpulkan bahwa mesin pendingin banyak sekali terdapat di kalangan masyarakat yang kita ketahui seperti ac, kulkas, kipas angin ataupun

sejenisnya. Dalam hal ini mesin pendingin merupakan alat yang banyak sekali di pakai dalam rumah tangga atupun di instansi-instansi lainnya.mesin pendingin tersebut merupakan proses dari perpindahan daya listrik menjadi suhu dingin.

17

2.8.

DAFTAR PUSTAKA

Ilyas, Sofyan. 1983. Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan. Teknik Pendinginan Ikan. Jilid I. CV. Paripurna, Jakarta. Ilyas, Sofyan. 1983. Teknologi Refrigerasi Hasil Perikanan. Teknik Pembekuan Ikan. Jilid II. CV. Paripurna, Jakarta. K, Handoko. 1981. Teknik memilih, memakai, memperbaiki Lemari Es. PT. Ichtiar Baru, Jakarta. Sunarman dkk. 1977. Mesin Pendingin Petunjuk Untuk Operator di Kapal Ikan. Priga - Jakarta

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

2.4.

38

Anda mungkin juga menyukai