Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Lupus eritematosus sistemik adalah suatu sindrom yang melibatkan banyak organ dan mamberikan gejala klinis yang beragam.Perjalanan penyakit ini dapat ringan atau berat,secara terus menerus dengan kekambuhan yang menimbulkan kerusakan jaringan akibat proses radang yang ditimbulkannya.Gejala utama Lupus Eritematosus Sistemik adalah kelemahan umum, anorerksia, rasa mual, demam dan kehilangan berat badan. Sekitar 80% kelainan melibatkan jaringan persendian,kulit, dan darah.30% - 50% menyebabkan kelainan ginjal, jantung dan sistem saraf, serta 10% - 30% menyebabkan trombosis arteri dan vena yang berhubungna dengan antibodi antikardiolipin. Manifestasi klinis LES pada saraf sistem saraf dapat berupa neuropsikiatrik kejadian

psikiosis,kejang,stroke,kelumpuhan

kranial,

maupun

mielopati.Angka

mielopatitransversa pada LES sekitar 1 2%, sedangkan insiden kejadian mielopati transversa pada populasi umum 1,34/satu juta.Prevalensi LES diantara etnik adalah wanita kulit hitam 1:250, wanita kulit putih 1:4300,dan wanita cina 1:1000. 1.2 Rumusan masalah Apa yang dimaksud dengan Lupus Eritematosus sistemik 1.3 Tujuan Penulisan Untuk mengetahui pengertian Lupus Eritematosus Sistemik 1.4 Manfaat Penulisan Sebagai bahan masukan kepada masyarakat tentang penyakit Lupus

Eritematosus Sistemik . Sebagai bahan informasi tentang penyakit Lupus eritematosus sistemik itu sendiri kepada pembaca.

BAB II ISI

2.1 Pengertian Lupus Erythematosus Systemik Penyakit LUPUS adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi penyandang penyakit Lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya. Arti kata lupus sendiri dalam bahasa Latin berarti anjing hutan. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Awalnya, penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Dalam ilmu kedokteran penyakit lupus dikenal sebagai SLE atau sebagai penyakit dengan kekebalan tubuh berlebihan (autoimmune disease),dalam ilmu imunologi tentang kekebalan tubuh penyakit lupus merupakan kebalikan dari penyakit kanker dan AIDS yang disebabkan oleh HIV karena pada penderita lupus ini jaringan dalam tubuh dianggap benda asing.Rangsangan dari jaringan tersebut akan menimbulkan reaksi sistem imunitas dan membentuk antibodi yang berlebihan, dimana antibodi yang berfungsi menyerang sumber penyakit yang akan masuk dalam tubuh justru akan menyerang sel-sel jaringan organ tubuh yang sehat pada berbagai sistem organ tubuh seperti jaringan kulit,otot,tulang,ginjal,sistem saraf, sistem kardiovaskuler,paru-paru,lapisan pada paru-paru,hati,sistem pencernaan,mata,otak,maupun pembuluh darah dan sel-sel darah,kelainan inilah yang disebut autoimunitas dimana antibodi yang berlebihan ini bisa masuk ke seluruh tubuh dengan dua cara yaitu : Antibodi dapat menyerang langsung pada jaringan sel tubuh, seperti pada sel-sel darah merah dan menghancurkan selnya.
2

Antibodi dapat bergabung dengan antigen (zat perangsang pembentukan antibodi) dan membentuk ikatan kompleks imun yang akan bersirkulasi dalam darah hingga akhirnya gabungan antibodi dan antigen tersangkut pada pembuluh darah kapiler akan menimbulkan peradangan. Dalam keadaan normal sel-sel radang (fagosit) dapat membatasi kompleks imun ini namun dalam keadaan abnormal,kompleks imun ini tidak dapat dibatasi dengan baik karena peradangan pada sel-sel semakin bertambah dan mengeluarkan enzim sehingga menimbulkan peradangan di sekitar kompleks yang pada akhirnya proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak organ tubuh dan mengganggu fungsinya. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan suatu penyakit autoimun dimana

organ dan sel mengalami kerusakan yang disebaban oleh tissue-binding autoantibodi dan kompleks imun.Lupus eritematosus sistemik adalah suatu penyakit autoimun menahun yang menimbulkan peradangan dan bisa menyerang berbagai organ tubuh,termasuk kulit,persendian dan organ dalam.SLLE adalah penyakit autoimun yanng terjadi karena produksi antibodi terhadap komponen inti sel tubuh sendiri yang berkaitan dengan manifestasi klinik yang sangat luas pada satu atau beberapa organ tubuh dan ditandai oleh inflamasi luas pada pembuluh darah dan jaringan ikat,bersifat episodik diselangi episode remisi. SLE adalah suatu penyakit autoimun yang kronik dan menyerang berbagai sistem dalam tubuh.Tanda dan gejala dari penyakit ini bisa bermacam-macam, bersifat sementara dan sulit untuk didiagnosis.SLE adalah penyakit radang multisistem yang sebabnya belum diketahui,dengan perjalanan penyakit yang mungkin akut dan fulminan atau kronik remisi dan eksaserbasi, disertai oleh terdapatnya berbagai macam autoantibodi di dalam tubuh. Jenis-jenis penyakit lupus yaitu : Cutaneus lupus Seringkali disebut discoid yang mempengaruhi kulit Sysytemic lupus Erythematosus (SLE) Biasanya menyerang organ tubuh seperti kulit,persendian,paru-paru,darah ,pembuluh darah,jantung,ginjal,hati,otak,dan saraf

Drug Induced Lupus (DIL) Timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu.Setelah pemakaian dihentikan,umumnya gejala akan hilang. Obat yang paling sering menimbulkan reaksi adalah obat hipertensi hydralazine dn obat aritmia jantung procainamide,obat TBC isoniazid,abat jerawat minocycline dan sekitar 400-an obat lain. Lupus neonatal Pada situasi yang jarang terjadi,bayi yang belum lahir dan bayi baru lahir dapat memiliki ruam kulit dan komplikasi lain pada hati dan darahnya karena serangan antibodi dari ibunya.Ruam yang muncul akan memudar dalam enam bulan pertama kehidupan anak.

2.2 Etiologi dan Patogenesis Hingga saat ini penyebab SLE belum diketahui,siapapun dapat menderita penyakit ini tidak dibatasi oleh usia dan jenis kelamin,bersifat genetik namun menurut perkiraan para ilmuwan bahwa hormon wanita (hormon estrogen) mungkin ada hubungannya dengan penyebab penyakit lupus karena sebagian besar dari penderita lupus adalah wanita,beberapa faktor yang dapat memicu penyakit lupus : Lingkungan Infeksi Paparan sinar matahari Stress Obat-obat tertentu

2.2.1 Gejala Penyakit Lupus Gejala yang biasa muncul pada penderita lupus adalah kelainan kulit berupa kemerahan disekitar hidung dan pipi.Bercak-bercak merah dibagian wajah dan lengan,panas dan rasa lelah berkepanjangan,rambutnya rontok,persendian kerap bengkak dan timbul sariawan.Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit,tetapi juga dapat menyeranghampir seluruh organ yang ada didalam tubuh. Eritematosus artinya kemerahan,sedangkan sistemik bermakna menyebar luas ke berbagai organ tubuh.Istilahnya disebut LES atau SLE.Gejala-gejala yang umum dijumpai adalah :

Mudah mengalami gangguan pencernaan dan kulit peka terhadap sinar matahari yang sehingga mudah gosong Badan terasa lemah,dan terasa kelelahan yang berlebihan yang disertai pegal-pegal bahkan demam Pada kulit akan muncul ruam merah yang membentang dikedua pipi,mirip kupukupu,kadang disebut butterfly rash.namun ruam merah menyerupai cakram bisa muncul di kulit seluruh tubuh,menonjol dan kadang-kadang bersisik.Melihat banyaknya gejala penyakit ini,maka wanita yang sudah terserang dua atau lebih gejala saja,harus dicurigai mengidap lupus Anemia yang diakibatkan oleh sel-sel darah merah yang dihancurkan oleh penyakit lupus ini Sering mengalami kerontokan pada rambut Trombosit rendah

2.2.2 Penyebab SLE Lupus masih merupakan penyakit misterius dikalangan medis.Kecuali lupus yang disebabkan oleh obat,penyebab pasti penyakit ini tidak diketahui.Perdebatan bahkan masih berlangsung mengenai apakah lupus adalah suatu penyakit atau kombinasi dari beberapa penyakit yang berhubungan. Sekitar 90% penderita lupus adalah permpuan,yang mengindikasikan bahwa penyakit ini mungkin terkait hormon-hormon perempuan.Menstruasi,menopause dan melahirkan dapat memicu timbulnya lupus.Sekitar 80% penderita lupus menngembangkan penyakit ini di usia antara 15-45 tahun. Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan autoantibody yamg berlebihan.Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik,hormonal(sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi selama usia reproduksi) dan lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal).Obat-obat tertentu seperti hidralazin,prokainamid,isoniazid,klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan disamping makanan seperti kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE akibat senyawankimia atau obat-obatan.Pada SLE peningkatan produksi autoantibody

diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan.Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya serang sarang antibody tambahan dan siklus tersebut berulang kembali. 2.3 Manifestasi Klinis Perjalanan penyakit SLE sangat bervariasi.Penyakit dapat timbul mendadak disertai dengan tanda-tanda terkenanya berbagai sistem dalam tubuh,dapat juga menahun dengan gejala pada satu sistem yang lambat laun diikuti oleh gejala yang terkenanya sistem imun.Pada tipe menahun terdapat remisi dan eksasrebasi.Remisinya mungkin berlangsung bertahuntahun.Onset penyakit dapat spontan atau didahului oleh faktor presipitasi seperti kontak dengan sinar matahari, infeksi virus/bakteri,obat.Setiap serangan biasanya disertai gejala umum yang jelas seperti demam,nafsu makan berkurang,kelemahan,berat badan menurun,dan iritabilitasi.Yang paling menonjol ialah demam,kadang-kadang disertai menggigil. Gejala muskuloskeletal Gejala yang paling sering pada SLE adalah gejala muskuloskeletal,berupa artritis (93%).Yang paling sering terkena ialah sendi interfalangeal proksimal di ikuti oleh lutut,pergelangan menyebabkan tangan,metakarpofalangeal,siku deformitas,kontraktur atau dan pergelangan kaki.Selain terdapat pembengkakan dan nyeri mungkin juga terdapat efusi sendi.Artritis biasanya simetris,tanpa ankilosis.Adakala nodulreumatoid.Nekrosis vaskular dapat terjadi pada berbagai tempat,dan ditemukan pada penderita yang mendapatkan pengobatan dengan steroid dosis tinggi.Tempat yang paling sering terkena ialah kaput femoris. Gejala mukokutan Kelainan kulit,rambut atau selaput lendir ditemukan pada 85% kasus SLE.Lesi kulit yang paling sering ditemukan pada SLE ialah lesi kulit akut,subakut,diskoid,danlivido retikularis.Ruam kulit berbentuk kupu-kupu berupa eritema yang agak edamatus pada hidung dan kedua pipi.Dengan pengobatan yang tepat,kelainan ini dapat sembuh tanpa bekas luka.Pada bagian tubuh yang terkena sinar matahari dapat timbul ruam kulit yang terjadi karena hipersensitivitas.Lesi ini termasuk lasi kulit akut,lesi kulit subakut yang khas berbentuk anular.Lesi diskoid berkembang melalui 3 tahap yaitu eritema,hiperkeratosis dan

atrofi.Biasanya tampak sebagai bercak etitematosa yang meninggi, tertutup oleh sisik keratin disertai adanya penyumbatan folikel.Kalau sudah berlangsung lama akan berbentuk silikatriks.Vaskulitis kulit dapat menyebabkan ulserasi dari yang berbentuk kecil sampai yang besar.Sering juga tampak perdarahan dan eritema periungual.Livido retikularis suatu bentuk vaskulitis ringan,sangat sering ditemui pad SLE. Ginjal Kelainan ginjal ditemukan pada 68% kasus SLE.manifestasi paling sering ialah proteinuria atau hematuria.Hipertensi,sindrom nefrotik kegagalan ginjal jarang terjadi,hanya terdapat pada 25% kasus SLE yang urinnya menunjukkan kelainan.Ada 2 macam kelainan patologis pada ginjal,yaitu : Nefritis Lupus Difus Nefritis lupus merupakan kelainan yang paling berat.Klinis biasanya tampak sebagai sindrom nefrotik,hipertensi serta gangguan fungsi ginjal sedang sampai berat. Nefritis Lupus Membranosa Nefritis lupus membranosa lebih jarang ditemukan.Ditandai dengan sindrom nefrotik,gangguan fungsi ginjal ringan serta perjalanan penyakit yang mungkin berlangsung cepat atau lambat tapi progresif. Kelainan ginjal yanng lain yang mungkin ditemukan pad SLE ialah pielonefritis kronik,tuberkulosism ginjal.Gagal ginjal merupakan salah satu penyebab kematian SLE kronik. Susunan saraf pusat Gangguan susunan saraf pusat terdiri atas 2 kelainan utama yaitu : Psikosis organik Kejang-kejang

Penyakit otak organik biasanya ditemukan bersamaan dengan gejala aktif SLE pada sistem lain-lainnya.Penderita menunjukkan gejala halusinasi disamping gejala khas organik otak seperti sukar menghitung dan tidak sanggup mengingat kembali gambar-gambar yang pernah dilihat.Psikosis steroid juga termasuk sindrom otak yang secara klinis tak dapat dibedakan dengan menurunkan atau menaikkan dosis steroid yang dipakai.Psikosis lupus

membaik jika dosis steroid dinaikkan dan sebaliknya.Kejang-kejang yang timbul biasanya termasuk tipe grandmal.Kelainan lain yang mungkin ditemukan ialah afasia,hemiplegia. Mata Kelainan mata dapat berupa konjungtivitis,perdarahan subkonjungtival dan adanya badan sitoid di retina. Jantung Peradangan berbagai bagian jantung bisa terjadi,seperti perikarditis,endokarditis maupun miokarditis.Nyeri dada dan aritmia bisa terjadi sebagai akibat keadaan tersebut. Paru-paru Pada lupus bisa terjadi pleuritis (peradangan selaput paru) dan efusi pleura (penimbunan cairan antara paru dan pembungkusnya).Akibat dari kejadian tersebbut sering timbul nyeri dada dan sesak nafas. Saluran pencernaan Nyeri abdomen terdapat pad 25% kasus SLE,mungkin disertai mual dan diare.Gejalanya menghilang dengan cepat jika gangguan sistemiknya mendapat pengobatan adekuat.Nyeri yang timbul mungkin disebabkan oleh peritonitis steril atau arteritis pembuluh darah kecil mesenterium dan usus yang mengakibatkan ulserasi usus.Arteritis dapat juga menimbulkan pankreatitis. Hemik limfatik Kelenjar getah bening yang sering terkena adalah aksila dan servikal,dengan karakteristik tidak nyeri tekan dan lunak.Organ limfoid lain adalah splenomegali yang biasanya disertai oleh pembesaran hati.kerusakan lien berupa infark atau trombosis berkaitan dengan adanya lupus antikoagulan.Anemia dapat dijumpai pada periode perkembangan penyakit SLE,yang diperantai oleh proses imun dan non-imun.

2.4 Diagnosis Manifestasi lupus dapat meniru penyakit autoimun lain,seperti multiple sceloris dan rheumatoid arthritis (rematik),sehingga sulit untuk didiagnosis.Saat ini tidak ada tes tunggal yang dapt memastikan apakah seseorang terkena penyakit lupus.Diagnosis dapat ditegakkan melalui pemeriksaaankomprrehensif yang mempertimbangkan semua gejala dan riwayat penyakit. American College of Rheumatology menetapkan sebelas kriteria lupus untuk membantu dokter mendiagnosis lupus.Empat atau lebih dari kriteria berikut harus hadir untuk membuat diagnosis lupus sistemik : 1. Ruam malar Ruam berbentuk kupu-kupu dipipi dan hidung

2. Ruam kulit Bercak merah yang menonjol

10

3. Photosensitivity Ruam kulit akibat reaksi terhadap sinar matahari yang tidak biasa

4. Borok mulut atau hidung Biasanya tanpa rasa sakit 5. Artritis non-erosif Pada dua atau lebih sendi,sehingga terasa bengkak atau lunak 6. Gangguan paru dan jantung Peradangan pada selaput sekitar jantung (perikarditis) dan/atau paru-paru (pleuritis) 7. Gangguan neurologis Kejang-kejang dan/atau psikosis 8. Gangguan ginjal Protein atau darah yang berlebihan dalam urine (proteinuria/hematuria) 9. Gangguan hematologi (darah) Anemia hemolitik,jumlah sel darah putih atau trombosit rendah 10. Gangguan imunologi Antibody terhadap DNA rantai ganda,antibody terhadap Sm,atau antibody terhadap cardiolipin 11. Antinuclear antibody (ANA) Hasil tes positif meskipun tidak memakai obat yang dikenal menyebabkan hal itu.Sekitar 95% dari penderita lupus memiliki hasil tes ANA positif.

11

2.5 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan laboratorium mencakup pemeriksaan : 1. Hematologi.ditemukan anemia,leukopenia,trombositopenia 2. Kelainan Histopatologi Umum; lesi yang dianggap karakteristik untuk SLE ialah badan hematoksilin,lesi onion-skin pada pembuluh darah limpa dan endokarditis verukosa libman-sacks Ginjal ; 2 bentuk utama ialah glomerulus proliferatif difus dan nefritis lupus membranosa. Kulit pemeriksaan imunofluoresensi direk menunjukkan deposit IgG granular pada dermo-epidermal junction,baik pada kulit yang aktif (90%) maupun pada kulit yang tak terkena (70%).Yang paling karakteristik untuk SLE ialah jika ditemukan pada kulit yang tidak terkena dan terpajan. 2.5 Penanganan Perawatan penyakit lupus bertujuan untuk mengurangi dan menekan sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif.Obat-obatan yang paling umum digunakan untuk lupus adalah NSAID (obat anti inflamasi non-steroid),obat antimalaria dan steroid.Obat-obatan tersebut dapat diberikan sendiri-sendiri atau dalam kombinasi.Dalam kasus yang parah,obat penekan imun seperti cytoxan,azathioprine dan methotrexate mungkin digunakan. Jenis penatalaksanaan ditentukan oleh beratnya penyakit.Luas dan jenis gangguan organ harus ditentukan secara hati-hati.dasar terapi adalah kelainan organ yang sudah terjadi.Adanya infeksi dan proses penyakit bisa dipantau dari pemeriksaan serologis.Monitoring dan evaluasi bisa dilakukan dengan parameter laboratorium yang dihubungkan dengan aktivitas penyakit. a. Pendidikan terhadap pasien imunologis,ditemukan sel LE,antibodi antinuklir,komplemen serum menurun,anti DNA,faktor reumatoid,krioglobulin,dan uji lues yang positif semu -

12

Pasien penyakit.

diberikan

penjelasan

mengenai

penyakit

yang

dideritanya

(perjalanan

penyakit,komplikasi,prognosis),sehingga dapat bersikap positif terhadap penanggulangan b. Beberapa prinsip dasar tindakan pencegahan pada SLE 1. Monitoring yang teratur 2. Penghematan energi.pada kebanyakan pasien kelelahan merupakan keluhan yang menonjol.Diperlukan waktu istirahat yang terjadwal setiap hari dan perlu ditekankan pentingnya tidur yang cukup. 3. Fotoprotesik.Kontak dengan sinar matahari harus dikurangi atau dihindari.Dapat juga digunakan lotion tertentu untuk mengurangi kontak dengan sinar matahari langsung. 4. Mengatasi infeksi.Pasien SLE rentan terhadap infeksi.jika ada demam yang tak jelas sebabnya,pasien harus memeriksanya. 5. Merencanakan kehamilan.Kehamilan harus dihindarkan jika penyakit aktif atau jika pasien sedang mendapatkan pengobatan dengan obat imunosupresif. c. Pengobatannya Lupus diskoid Terapi standar adalah fotoproteksi,antimalaria dan steroid topikal.Krim luocinonid 5% lebih efektif dibandingkan krim hidrokortison 1%.terapi dengan hidrosiklorokuin efektif pada 48% pasien dan acitrenin efektif terhadap 50% pasien. Serosis lupus (pleuritis,perikarditis) Standar terapi adalah NSAIDs (dengan pengawasan ketat terhadap gangguan ginjal),antimalaria dan kadang-kadang diperlukan steroid dosis rendah. Arthritis lupus Untuk keluhan muskuloskeletal,standar terapi adalah NSAIDs dengan pengawasan ketat terhadap gangguan ginjal dan anti malaria,sedangkan untuk keluhan myalgia dan gejala depresi diberikan serotonin reuptake inhibitor antidepresan (amitriptilin) Miositis lupus Standar terapi adalah kortikosteroid dosis tinggi (dimulai dengan prednison dosis 1-2 mg/kg/hr dalam dosis terbagi),bila kadar komplemen meningkat mencapai dosis efektif terendah.Metode lain yang digunakan untuk mencegah efek samping pemberian harian adalah dengan cara pemberian prednison dosis alternate yang lebih tinggi (5

13

mg/kg/hr,tak lebih 150-250 mg) metrotreksat atau azathioprine terenbdah nitrat,misalnya isosorbid mononitrat. Lupus nefritis Lupus nefritis kelas II mempunyai prognosis yang baik dan membutuhkan terapi minimal.Peningkatan proteinuria harus diwaspadai karena menggambarkan perubahan status penyakit menjadi lebih parah. Lupus nefritis III memerlukan terapi yang sama agresifnya dengan DPGN.Pada lupus nefritis IV kombinasi kortikosteroid dengan siklofosfamid intravena.Siklofosfamid intravena diberikan setiap bulan,setelah 10-14 hr pemberian,diperiksa kadar leukositnya.Dosis siklofosfamid selanjutnya akan dinaikkan atau diturunkan tergantung pada jumlah leukositnya (normalnya 3.000-4.000/ml).Pada lupus nefritis V regimen terapi yang diberikan adalah : 1. Monoterapi dengan kortikosteroid 2. Terapi kombinasi kortikosteroid dengan siklosporin A 3. Sikofosfamid,azathioprine atau klorambusil. Pada nefritis V tahap lanjut,pilihan terapinya adalah dialisis dan transplantasi renal. Gangguan hematologis Untuk trobositopeni,terapi yang dipertimbangkan pada kelainan ini adalah kortikosteroid,imunoglobulin intravena.Sedangkan untuk anemia hemolitik,terapi yang dipertimbangkan adalah kortikosteroid,danazol dan spelenektomi. Pneumonitis intersititialis lupus Obat yang digunakan pada kasus inimadalah kortikosteroid dan siklofosfamid intravena Vaskulitis lupus dengan keterlibatan organ penting Obat yang digunakan pada kasus ini adalah kortikosteroid dan siklofosfamid intravena.

14

2.6 Komplikasi Komplikasi SLE meliputi : Hipertensi (41%) Gangguan pertumbuhan (38%) Gangguan paru-paru kronik (31%) Abnormalitas mata (31%) Kerusakan ginjal permanen (25%) Gejala neuropsikiatri (22%) Kerusakan muskuloskeletal (9%) Gangguan fungsi gonad (3%)

15

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Lupus eritematosus sistemik adalah suatu sindrom yang melibatkan banyak organ dan memberika gejala klinis yang beragam.Perjalanan penyakit ini dapat ringan atau berat,secara terus-menerus dengan kekambuhan yang menimbulkan kerusakan jaringan akibat proses radang yang ditimbulkannya. Gejala utama SLE adalah kelemahan umum,anoreksia,rasa mual,demam dan kehilangan berat badan.Penyebab dari penyakit lupus genetik,lingkungan dan hormonal terhadap respons imun. Penatalaksanaan ditentukan oleh beratnya penyakit.Luas dan jenis gangguan organ harus ditentukan secara hati-hati.Dasar terapi adalah kelainan organ yang sudah terjadi.Adanya infeksi dan proses penyakit bisa dipantau dari pemeriksaan serologis. 3.2 Saran Perawat bisa mengenal dengan cepat ciri-ciri dari SLE Perawat bisa menangani pasien dengan penyakit SLE dengan cepat,teliti dan terampil. Perawat dapat bekerjasam dengan baik dengan tim kesehatan lain maupun pasien dalam tahap pengobatan. meliputi pengaruh faktor

16

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif, dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Jakarta : FKUIPrice, Sylvia. A dan Wilson, lorraince. M. 2004. Patofisiologi . Edisi 4. Volume 2. Jakarta:EGCPrice, Sylvia. A dan Wilson, lorraince. M. 2006. Patofisiologi Edisi 6. Volume 2 Jakarta :EGC Albar, Zuljasri. 2004 Ilmu Penyakit dalam. Edisi 3. Jakarta : FKUIDongoes, Marilynn E, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: BukuKedokteran EGC. http://doktersehat.com/lupus-apa-itu-penyakit-lupus/#ixzz28omz698g http://id.scribd.com/doc/86535489/MAKALAH-SLE http://www.metris-community.com/wp-content/uploads/gambar-penyakit-lupus.jpg

17