Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH TASAWWUF SYARIAT, TAREKAT, HAKIKAT, DAN HUBUNGAN ANTARA KETIGANYA Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Tasawwuf Dosen pembimbing: Ahmad Barizi, M.A

Disusun oleh: Junik Rahayu Nita Sugiarti Khisnil Inayah Irma Yuni Lestari Kamaliyah (09610095) (09610096) (09610097) (09610098) (09610099)

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2010

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas Tasawuf, dalam makalah ini membahas mengenai Syariat, Tarekat, dan Hakikat yang masingmasing memiliki pengertian, dan pengertian dari ketiganya akan di bahas satu persatu oleh kelompok kami. Syariat merupakan peraturan Allah yang telah di tetapkan melalui wahyu berupa perintah dan larangan. Tarekat merupakan pelaksanaan dari peraturan dan hukum Allah (syariat). Sedangkan Hakikat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syariat, sebagai tugas menjalankan firman Allah. Syariat, Tarekat, dan Hakikat memiliki hubungan satu sama lain. Syariat tanpa Hakikat adalah sifat orang yang beramal hanya untuk memperoleh surga. Hakikat tanpa Syariat menjadi batal, dan Syariat tanpa Hakikat adalah kosong.1 Jadi pada dasarnya hubungan antara ketiganya sangatlah erat sebagai jalan manusia untuk menuju ke akhirat dan ketiganya merupakan jalan yang secara bersama-sama menjadi sarana bagi orang-orang beriman menuju akhirat tanpa boleh meninggalkan salah satu dari tiga jalan ini.

Moh. Toriqqudin, Sekularisme Tasawuf. ( Malang : UIN Press, 2008), h. 99.

1.2 Rumusan Masalah Adapun Rumusan masalah adalah sebagai berikut: 1. Apa pengertian dari Syariat? 2. Apa pengertian dari Tarekat? 3. Apa pengertian dari Hakikat? 4. 1.3 Tujuan Adapun Tujuannya adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengertian Syariat. 2. Untuk mengetahui pengertian Tarekat. 3. Untuk mengetahui pengertian Hakikat. 4. Untuk mengetahui hubungan antara Syariat, Tarekat, dan Hakikat.

Bagaimana hubungan antara Syariat, Tarekat, dan Hakikat ?

BAB II PEMBAHASAN
4.1 Syariat

Syariat merupakan undang-undang atau garis-garis yang telah ditentukan berdasarkan nash Al-Quran dan Al-Hadits yang mana di dalamnya termasuk hukum-hukum halal dan haram, yang wajib, yang sunnah, yang makruh, maupun yang mubah. Menurut pandangan kaum sufi, syariah merupakan ajaran Islam yang bersifat lahir. Artinya, syariat masih cenderung pada ajaran-ajaran yang masih melibatkan anggota badan, seperti shalat, zakat, puasa, haji, berjihad di jalan Allah, menuntut ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Contoh-contoh syariat bisa dikatakan sebagai garis-garis yang sudah terangkum dalam rukun Islam. Menurut mereka syariat bukan hanya undang-undang yang berhubungan antara manusia dengan Tuhannya akan tetapi juga antara manusia dengan manusia, yang biasanya disebut dengan muamalah. Prof. Dr. Hamka mengatakan, maka meluaslah syariat itu mengenai segenap mata perjuangan hidup, menurut garis syariat itu mengenai segenap mata perjuangan hidup, menurut syariat yang telah ditinggalkan contoh teladannya oleh nabi Muhammad SAW sendiri. Amal syariat itu dibaginya menjadi dua bagian, yaitu taabbudi dan taaqquli. Yang taabbudi artinya yang bersifat ibadat semata-mata. Misalnya sembahyang dzuhur empat rakaat, wukuf di Arafah, melempar jumrah di Mina, dan lain-lain. Semuanya itu wajib dikerjakan dan tidak boleh diubah-ubah serta tidak perlu ditanya lagi. Sedangkan yang taaqquli ialah yang dapat ditimbang, yang selanjutnya dapat berubah.2 Dari perkataan tersebut, dapat dipaparkan bahwa adanya syariat itu bermula dari peraturan-peraturan agama yang telah diturunkan Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW. Dalam hal ini, yang dimaksud adalah Al-Quran
2

Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 96

(kalamullah) serta segala sesuatu baik berupa perkataan, perbuatan, dan taqrir (ketetapan) Nabi Muhammad SAW atau yang disebut dengan sunnah. Amal syariat juga terbagi menjadi dua, yaitu taabbudi dan taaqquli. Taabbudi merupakan amal syariat yang sifatnya hanya berfungsi sebagai ibadah, yang mana amal syariah ini wajib dikerjakan serta tidak bisa diubah-ubah lagi hukumnya karena sudah termaktub dalam Al-Quran, misalnya ibadah solat, zakat, puasa, dan lain sebagainya. Sedangkan taaqquli merupakan suatu amal syariat yang hukum pelaksanaannya dapat ditimbang dan dipikirkan serta bisa berubah misalnya suatu hukum hasil ijtihad para Ulama. Selain bersumber pada Al-Quran, syariat juga bersumber pada Al-Hadits. Pernyataan ini didukung dengan argumen salah seorang tokoh sufi yang bernama Imam Al-Hasan As-Syadzali RA yang mengatakan: Orang yang berdakwah kepada Allah SWT dengan cara yang tidak pernah dipakai oleh rasulullah SAW adalah bidah.3 Sahal At Tasatari juga pernah berkata tentang pokok-pokok ajaran tasawuf, yaitu: Berpegang teguh pada Al Kitab, menguti sunnah, hanya memakan segala sesuatu yang halal, selalu mengenyampingkan hal-hal yang dapat menyakitkan, menghindari maksiat, selalu bertobat, dan selalu menunaikan hak-hak.4 Adapun Imam Al-junaid berpendapat: Setiap jalan makhluk itu buntu, kecuali yang mengikuti Rasulullah SAW dan selalu berada dalam jalannya.5 Tokoh lain yang mendukung adanya syariat adalah Imam Al Ghazali. Dalam prilaku dan perkataan, hidup kala sendiri dan ketika bersama banyak orang, ia selalu berpegang teguh pada syariat.6
3

Fauzi Muhammad 2006), h. 32. 4 Fauzi Muhammad 2006), h. 34. 5 Fauzi Muhammad 2006), h. 34. 6 Fauzi Muhammad 2006), h. 35.

Abu Zaid, Tasawuf dan Aliran Sufi,(Jakarta: Cendikia, Abu Zaid, Tasawuf dan Aliran Sufi,(Jakarta: Cendikia, Abu Zaid, Tasawuf dan Aliran Sufi,(Jakarta: Cendikia, Abu Zaid, Tasawuf dan Aliran Sufi,(Jakarta: Cendikia,

Segala bentuk perbuatan yang dilakukan oleh manusia khususnya umat muslim tidak bisa terlepas dari garis suatu hukum, setidaknya hukum mubah atau yang diperbolehkan mengerjakan, seperti tidur, makan, minum, dan lain sebagainya. Menurut pandangan ahli tasawuf bahwa syariat merupakan tingkat pertama dalam jalan menuju Tuhan. Hal ini disebabkan karena syariat merupakan dasar awal, yang mana seseorang belum bisa dikatakan dekat dengan Tuhan jika ia belum melaksanakan syariat agama, misalnya menjalankan shalat. Shalat diibaratkan sebagai tiang agama, jika shalat saja tidak dilaksanakan pastilah sebuah agama dalam diri seseorang akan runtuh atau hancur. Sehingga syariat juga disebut sebagai pondasi Islam karena tanpa adanya syariat agama Islam tidak akan berjalan dengan baik. Pandangan kaum sufi terhadap syariat dikelompokkan menjadi dua. Pertama, kaum sufi yang moderat (yang masih berpegang pada syariat). Menurut ke;lompok ini, syariat dalam artian aturan-aturan lahiriyah menjadi perhatian para ahli fiqih. Kedua, pandangan kaum sufi yang ekstrim. Menurut kelompok ini, syariat hanya ditujukan pada masyarakat awam. Ini karena keterbatasan daya pikir dan hati mereka untuk memahami makna yang tersimpan dibalik syariat itu. Karena itu, kepada orang awam hanya dituntut untuk mengerjakan sholat lima waktu sehari semalam dengan tata cara yang telah ditentukan.7 Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa makna dari syariat itu adalah undang-undang atau petunjuk yang telah digariskan dalam Al-Quran dan Al-Hadits, yang mana syariat merupakan dasar awal dari suatu jalan untuk menuju kedekatan seseorang kepada Allah SWT. 2.2 Hakikat Secara etimologi, Hakikat berarti sesuatu, puncak atau sumber asal dari sesuatu. Dalam dunia sufi, haqiqah diartikan sebagai aspek lain dari syariah yang bersifat lahiriah, yaitu aspek batiniah. Dengan demikian, dapat diartikan sebagai
7

M Jamil, Cakrawala Tasawuf, (Jawa Barat : Gaung Persada Pers, 2004), h. 164

rahasia yang paling dalam dari segala amal, inti dari syariat dan akhir dari perjalanan yang ditempuh oleh seorang sufi.8 Hakikat adalah keadaan Salik sampai pada tujuan yaitu marifat billah dan musyahadati nurit tajali atau terbukanya nur cahaya yang ghaib bagi hati seseorang. Hakikat juga berarti kebenaran sejati dan mutlaq, sebagai akhir dari semua perjalanan, tujuan segala jalan( tarekat). Tarekat dan hakikat tak dapat dipisahkan, bahkan sambung menyambung satu sama lain. Oleh karena itu, pelaksanaan agama Islam tidak sempurna, jika tidak dikerjakan dengan keempatempatnya, yakni syariat, tarekat, hakikat, dan marifat. Maka apabila syariat merupakan peraturan, tarekat merupakan pelaksanaan, hakikat merupakan keadaan, maka marifat merupakan tujuan pokok, yakni pengenalan Tuhan dengan sebenar-benarnya.9 Dapat dicontohkan di sini, semisal bersesuci. Menurut syariat, bersih diri dengan air. Menurut tarekat, bersih diri lahir batin dari hawa nafsu. Menurut tarekat, bersih hati dari selain Allah. Semua itu untuk mencapai marifat kepada Allah. Begitu pula dalam hal mengerjakan shalat. Menurut syariat, bila seseorang akan bersembahyang, wajib menghadap kiblat, karena Al-Quran menyebutkan: Hadapkanlah mukamu ke Masjidil Haram( Kabah) di Makkah. Menurut tarekat, hati wajib menghadap Allah berdasarkan Al-Quran: Sembahlah Aku , menurut hakikat, kita menyembah Tuhan seolah-olah Tuhan itu Nampak, berdasarkan hadits Nabi: Sembahlah Tuhanmu, seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihat engkau . Selanjutnya menurut marifat ialah mengenal Allah yang disembah, dimana dengan khusyu seorang hamba dalam sembahyangnya merasa berhadapan dengan Allah. Tetapi apabila seorang yang sedang shalat, tidak ada
8

Asmaran As, Pengantar Studi Tasawuf. (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 101 9 Moh. Saifulloh Al Aziz S. 1998. Risalah Memahami Ilmu Tasawuf. Terbit Terang: Surabaya. H. 81

sama sekali kehadiran di hatinya kepada Allah, maka oleh ahli-ahli tarekat/tasawuf dianggap shalatnya tidak sah.10 Dari sini jelaslah bahwa syariat, tarekat dan hakikat itu sesuatu tiga menjadi satu, seperti tali berpilin tiga, yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Yang demikian itu perkataanku, tarekat itu perbuatanku dan hakikat itu ialah kelakuanku . Pada intinya, hakikat itu adalah keadaan si Salik pada tujuan utama tasawuf, yaitu marifat billah dan musyahadah nurit tajalli( melihat nur yang nyata) . Tajalli disini adalah terbukanya nur cahaya yang ghoib bagi hati seseorang. Dan sangat mungkin bahwa yang dimaksud tajalli disini adalah yang Mutajalli yaitu Allah. Demikian keterangan Imam Al Ghazali. Sebab beliau telah membedakan antara syariat dengan hakikat seperti berikut: Syariat adalah menyembah kepada Allah sedangkan hakikat adalah melihat kepada-Nya . Pendapat Al Ghazali ini sejalan dengan pendapat Imam al Qusyairi yang disitir oleh Sayyid Abu Bakar Al Makky dimana Syaikh Abdul Karim Al Qusyairi berkata: Syariat adalah urusan tentang kewajiban-kewajiban sedangkan, hakikat adalah melihat ketuhanan .11 Adapula sebagian ulama tasawuf mengatakan bahwa yang dimaksud dengan hakikat itu ialah segala macam penjelasan mengenai kebenaran sesuatu seperti syuhud asma dan shiffat demikan juga syuhud dzat dan memahami rahasiarahasia yang terkandung dalam Al-Quran dan rahasia-rahasia yang terkandung dalam larangan dan kebolehan disamping itu juga memahami ilmu-ilmu ghoib yang tidak diperoleh dari seorang guru. Dalam keterangan lain, syariat diartikan dengan, engkau menyembah Allah dan hakikat engkau pandang dengan musyahadah hatimu kepadaNya. Abu Ali Daqaq berkata: Firman Allah iyyakanabudu memerintahkan agar kita
10

peribadatan,

Moh. Saifulloh Al Aziz S. 1998. Risalah Memahami Ilmu Tasawuf. Terbit Terang: Surabaya. H. 82 11 Moh. Saifulloh Al Aziz S. 1998. Risalah Memahami Ilmu Tasawuf. Terbit Terang: Surabaya. H. 82

mengenal hakikat dan Abu Yahya Zakaria Ansari berkata, syariat ialah pengetahuan tentang jalan-jalan menuju Tuhan, hakikat adalah pandangan yang terus-menerus kepadaNya, tarekat ialahberjalan menurut ketantuan-ketentuan syariat yakni berbuat sesuai dengan yang diatur oleh syariat. Dengan demikian jelaslah bahwa hakikat itu tidak bias lepas dari syariat, bertalian erat dengan tarekat dan juga terdapat dalam marifah. Oleh karena itu, sering ditemukan pengertian yang tumpang tindih antara hakikat dan marifah, karena masing-masing mengandung arti puncak dari segala amal dan perjalanan, inti dari segala ilmu dan pengalaman. Tetapi yang jelas, hakikat itu diperoleh sebagai nikmat dan anugerah Tuhan berkat riyadah dan mujabadah, sehingga ia tergolong abwal.12 Menurut keyakinan orang sufi, hakikat itu baru dapat dicapai seorang setelah seseorang memperoleh marifat yag sesungguhnya. Oleh karena itu haqq al yaqin hanya dapat dicapai orang yang dalam keadaan fana, yaitu setelah melalu dua tingkat keadaan, yaitu ain al yaqin dan ilm al yaqin. Selanjutnya hanya orang yang dalam keadaan fana, dapat memperoleh marifah, mengenal Tuhan dengan matahatinya; dapat memperolehnya secara haqq al yaqin, karena hanya dalam keadaan yang demikian itulah terbuka baginya apa yang tertutup, tersingkap tirai yang merintangi seorang hamba dengan Tuhannya.13

2.3 Tarekat Tarekat timbul karena adanya pengalaman-pengalaman dan pandangan tokoh-tokoh shufi yang bermacam-macam, namun sebenarnya memiliki tujuan yang sama, hanya cara menempuh tujuan-tujuan mereka yang berbeda. Misalnya, orang-orang salaf yang ilmunya berdasarkan kitab dan sunnah, sedangkan orangorang ahli kalam yang ilmunya berdasarkan dengan tafaquh yaitu berusaha untuk
12

Moh. Saifulloh Al Aziz S. 1998. Risalah Memahami Ilmu Tasawuf. Terbit Terang: Surabaya. Hlm. 83 13 Asmaran As. 2002. Pengantar Studi Tasawuf. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. Hlm. 103

mengerti dan mengetahui tentang ilmunya kepada Tuhan secara logika tanpa mengesampingkan nas agama. Setelah mengenal cara-cara memasuki lapangan tasawuf, langkah selanjutnya adalah menempuh jalan tasawuf, sebagaimana yang dilakukan para kaum shufi, hal ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan utama tasawuf yaitu marifat billah dan insan kamil. Dan untuk mencapai tujuan tersebut, maka harus menempuh langkah-langkah dalam bertasawuf, salah satunya yaitu tarekat. Tarekat diambil dari bahasa Arab al-thariqah yang berarti jalan. Jalan yang dimaksud disini adalah jalan yang ditempuh oleh para shufi untuk dapat marifat kepada Allah. Definisi thariqah menurut Al-Syekh Muhammad Amin Kurdi adalah pengamalan syariat, menghayati hakikat ibadah, dan tidak mempermudah dalam ibadah, menjauhi segala yang dilarang baik yang zahir maupun yang bathin, menjunjung tinggi seluruh perintah-perintah Tuhan dengan kadar kemampuan, menghindari yang haram, makruh dan berlebihan dalam hal yang mubah, menunaikan segala yang fardhu, dan melaksanakan amalan-amalan sunnah sebatas kemampuan dibawah bimbingan seorang yang arif dari ahli nihayah.14 Pada mulanya tarekat merupakan tata cara untuk marifat kepada Allah dan digunakan untuk sekelompok yang menjadi pengikut bagi seorang syaikh. Kelompok tersebut kemudian menjadi lembaga-lembaga yang mengumpul dan mengikat sejumlah pengikut dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh seorang syaikh yang menganut suatu aliran thariqah tertentu. Dan hubungannya dengan tasawuf adalah tasawuf merupakan usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menurut Al-Ghazali ada tiga langkah jalan untuk marifat billlah, yaitu penyucian hati, konsentrasi dalam berdzikir pada Allah dan fana fillah.

14

M. Jamil. 2004. Cakrawala Tasawuf. Gaung Persada Pers: Jawa Barat. H. 119

Penyucian hati atau tahrir al-qalbi merupakan langkah pertama thariqah. Hal ini terdiri dari dua bagian yaitu, yang pertama mawas diri dan pengusaan serta pengendalian nafsu-nafsu, dan yang kedua adalah membersihkan diri dari ikatan pengaruh keduniaan. Penyucian hati ini berhubungan dengan ajaran tasawuf yang dipercayai mempunyai kemampuan rohani dan menjadi alat untuk marifat kepada Dzat Tuhan dan untuk mengenal semua rahasia alam ghaib. Konsentrasi dalam dzikir pada Allah atau istighraq al qalb bidzikrillah, jika berhasil dilakukan, maka akan dapat mengantarkan pada pengalaman atau penghayatan fana fillah, yaitu beralihnya kesadaran dari alam indrawi ke alam kejiwaan atau alam batin dan marifat kepada Allah.15 Pada hakikatnya tujuan utama tarekat adalah agar seorang hamba dapat mengenal Allah atau marifat billah dan selalu dekat dengan Allah. Dan seorang hamba akan dapat bermarifat billah dan selalu dekan dengan Allah, jika sudah berhasil menyingkap hijab yang menghalangi dirinya untuk dekat dengan Allah. Hijab yang menghalangi tersebut adalah hawa nafsu dan kemewahan duniawi.16

2.4 Hubungan antara Syariat, Hakikat, dan Tarekat Untuk menuju akhirat manusia harus melewati tiga tahapan, yakni melalui syariat, tarekat dan hakikat. Melalui jalan ini seseorang akan mudah mengawasi ketaqwaannya dan menjauhi hawa nafsunya. Tiga jalan ini secara bersama-sama menjadi sarana bagi orang-orang beriman menuju akhirat tanpa boleh meninggalkan salah satu dari tiga jalan ini.17 Sebagian Ulama menerangkan tiga jalan menuju akhirat tersebut, ibarat buah pala atau buah kelapa. Syariat ibarat kulitnya, tarekat ibarat isinya dan hakikat ibarat minyaknya. Pengertiannya ialah minyak tidak akan diperoleh tanpa memeras isinya, dan isi tidak akan diperoleh sebelum menguliti kulitnya. Kita
15 16

M. Jamil. 2004. Cakrawala Tasawuf. Gaung Persada Pers: Jawa Barat. H. 122 M. Jamil. 2004. Cakrawala Tasawuf. Gaung Persada Pers: Jawa Barat. H. 79 17 Moh. Toriqqudin. 2008. Sekularisme Tasawuf. UIN Malang Press: Malang. H. 99

tahu bahwa syariat adalah peraturan Allah yang telah ditetapkan melalui wahyu, yang berupa perintah dan larangan, perintah dan larangan-Nya dijalankan untuk kesejahteraan seluruh manusia.18 Dan telah dijelaskan bahwa kata tarekat berasal dari bahasa Arab yaitu thariiqotun yang berarti jalan, sehingga tarekat dapat diartikan sebagai perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan secara ruhani. Tarekat adalah pelaksanaan dari peraturan dan hukum Allah (syariat). Sedangkan hakikat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syariat, sebagai tugas menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mendalami syariat sebagai peraturan dan hukum Allah menjadi kewajiban umat Islam, terutama yang berkaitan dengan ibadah madhlah (ibadah murni), ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah SWT. Sebagian Ulama Tasawuf berpendapat bahwa sesungguhnya hakikat tanpa syariat adalah batal, syariat tanpa hakikat adalah tiada berarti. Hakikat tanpa syariat jelas batalnya, kembali pada definisi syariat dan hakikat itu sendiri. Dan syariat tanpa hakikat menjadi tidak berarti,sebagai contoh seseorang yang berzakat semata-mata untuk mendapat pujian dari orang lain. Sudah jelas bahwa Allah memerintahkan kita untuk menunaikan zakat (ini sebagai syariatnya), akan tetapi Allah memerintahkan kita untuk berzakat adalah agar kita lebih mensyukuri nikmat-Nya dan rizki yang kita peroleh menjadi berkah dan manfaat, bukan karena ingin mendapat pujian. Syariat terpenuhi tetapi hakikat tidak terpenuhi,maka syariat itu menjadi tidak berarti.19 Untuk lebih memperjelas hubungan antara syariat, tarekat dan hakikat, kita berikan contoh shalat. Kita diperintah untuk melaksanakan shalat, ini merupakan syariat, kemudian kita melaksanakan gerakan-gerakan shalat, memenuhi rukunrukunnya serta syarat-syaratnya, ini adalah tarekatnya. Sedangkan hadirnya hati bersama Allah dalam shalat merupakan sisi dari hakikat. Ibaratnya gerakan18

jelas dan

Moh. Toriqqudin. 2008. Sekularisme Tasawuf. UIN Malang Press: Malang. H. 102 19 Moh. Toriqqudin. 2008. Sekularisme Tasawuf. UIN Malang Press: Malang. H. 109

gerakan shalat itu adalah jasad, kemudian hadirnya hati bersama Allah adalah rohnya, maka jasad dan roh tidak dapat dipisahkan. Jasad membutuhkan roh yang dengannya dia berdiri dan roh membutuhkan jasad sebagai tempat berdiri. Jadi, syariat, tarekat dan hakikat adalah tiga jalan yang tidak mungkin bisa dipisahkan, dan tidak mungkin ketiganya saling bertentangan.20

20

Moh. Toriqqudin. 2008. Sekularisme Tasawuf. UIN Malang Press: Malang.. H. 99

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan


1.

Syariat merupakan undang-undang atau garis-garis yang telah ditentukan berdasarkan nash Al-quran dan Al-hadist yang mana di dalamnya termasuk hukum-hukum halal dan haram, yang wajib, yang sunnah, yang makruh, maupun yang mubah.

2.

Hakikat adalah keadaan Salik sampai pada tujuan yaitu marifat billah dan musyahadati nurit tajali atau terbukanya nur cahaya yang ghaib bagi hati seseorang. Hakikat juga berarti kebenaran sejati dan mutlaq, sebagai akhir dari semua perjalanan, tujuan segala jalan( tarekat).

3.

Tarekat diambil dari bahasa Arab al-thariqah yang berarti jalan. Jalan yang dimaksud disini adalah jalan yang ditempuh oleh para shufi untuk dapat marifat kepada Allah. Dan tarekat juga merupakan pelaksanaan dari peraturan dan hukum Allah (syariat).

4.

Syariat, tarekat, dan hakikat memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Syariat merupakan peraturan dan hukum Allah menjadi kewajiban umat Islam, terutama yang berkaitan dengan ibadah madhlah (ibadah murni), ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah SWT. Tarekat adalah pelaksanaan dari peraturan dari hukum Allah (syariat), hakikat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syariat, sebagai tugas menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

3.2 Saran Dalam penulisan makalah ini kami merasa telah sempurna tapi mungkin bagi kelompok lain pastinya kurang satau bahkan tidak sempurna. Jadi kelompok kami mmengharapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi

sempurnanya makalh ini kedepannya. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi kelompok pembuat khususnya dan bagi kelompok lain pada umumnya. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada bapak Ahmad Barizi selaku pembimbing dalam pembuatan makalah ini dan seluruh teman-teman yang mendukung pembuatan makalah ini sehingga makalah ini dapat selesai tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA

As, Asmaran. 1994. Pengantar Studi Tasawuf. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta Jamil, H. M. 2004. Cakrawala Tasawuf. Gaung Persada Press: Jawa Barat S, Moh. Saifulloh Al Aziz. 1998. Risalah Memahami Ilmu Tasawuf. Terbit Terang: Surabaya Toriqqudin, Moh. 2008. Sekularisme Tasawuf. UIN Malang Press: Malang