Anda di halaman 1dari 35

KONTRASEPSI

Definisi Berasal dari kata KONTRA dan KONSEPSI yang berarti mencegah atau melawan terjadinya pertemuan antara SPERMA dan OVUM untuk terjadinya PEMBUAHAN atau FERTILISASI. Kontrasepsi digunakan untuk MENCEGAH terjadinya KEHAMILAN sebagai akibat pertemuan sel sperma dan sel ovum dari hubungan seksual yang dijalin antara seorang pria dan wanita. Anatomi dan Histologi Untuk terjadinya suatu KONSEPSI yang akan menyebabkan terjadinya kehamilan, sangat berhubungan erat dengan keadaan dari sistem reproduksi, baik pria maupun wanita. Sistem reproduksi wanita lebih kompleks dari pria, karena memiliki fungsi yang jauh lebih banyak dibandingkan wanita. Organ pada sistem reproduksi manusia, terbagi dalam 2 kelompok menurut fungsinya, menjadi kelompok organ sex PRIMER dan SEKUNDER. Organ sex PRIMER atau GONAD adalah organ yang memproduksi GAMET, sedangkan organ sex SEKUNDER adalah organ reproduksi selain gonad, yang memiliki fungsi penting dalam sistem reproduksi. Organ sex sekunder merupakan organ yang membedakan jenis kelamin pada manusia. Karakteristik dari organ seks sekunder adalah berkembang pada remaja, untuk memperjelas kelamin seseorang, dan untuk menarik perhatian kaum jenis kelamin berlawanan. Organ pada sistem reproduksi manusia, terbagi juga dalam 2 kelompok menurut letaknya, menjadi kelompok organ genitalia INTERNA dan EKSTERNA. Organ genitalia INTERNA adalah organ reproduksi yang terdapat di dalam tubuh, sedangkan organ genitalia EKSTERNA adalah organ reproduksi yang terdapat di luar tubuh. SISTEM REPRODUKSI PRIA Merupakan sistem organ yang menghasilkan sperma. Organ sex PRIMER atau GONAD pada pria yang berfungsi sebagai organ yang memproduksi GAMET, yaitu TESTIS. Sedangkan organ sex SEKUNDER adalah organ reproduksi selain gonad, yang memiliki fungsi penting dalam sistem reproduksi, yaitu saluran, kelenjar, dan penis yang memiliki fungsi untuk penyimpanan, pematangan, dan penyaluran sperma. GENITALIA INTERNA : TESTIS, EPIDIDIMIS, DUCTUS DEFFERENS, VESICULA SEMINALIS, KELENJAR PROSTAT, KELENJAR BULBOURETRALIS COWPERII. GENITALIA EKSTERNA : PENIS dan SKROTUM.

Testis merupakan organ gonad pria yang berfungsi sebagai kelenjar endokrin dan eksokrin yang akan memproduksi hormon seks dan sperma. Testis pada pria, terbagi dalam LOBULUS2 oleh septum jaringan ikat yang berjalan ke parenkim. Setiap lobulus dari testis, memiliki 1-3 tubulus seminiferus yang berfungsi untuk memproduksi sperma. Di dalam tub. seminiferus terdapat SEL INTERSTISIAL atau Sel LEYDIG yang berfungsi untuk menghasilkan HORMON TESTOSTERON. Testis diperdarahi oleh A.Testicularis dan vena testicularis. Dipersarafi oleh N.Testicularis yang mengandung persarafan SIMPATIS dan PARASIMPATIS. Scrotum merupakan kantung tempat testis. Secara anatomis, scrotum kiri akan lebih rendah dibandingkan dengan skrotum kanan, agar tidak tertekan diantara kedua paha dan mencegah terjadinya gesekan antara keduanya. Scrotum terbagi kedalam 2 ruangan yang dibatasi oleh SEPTUM MEDIANA, dan pada bagian luar, septum mediana akan membentuk RAPHE PERINEAL. Fungsi utama dari testis adalah untuk menjaga suhu testis pada suhu 360C untuk MEMPRODUKSI SPERMA. Untuk menjaga suhu tersebut, terdapat 3 mekanisme pengaturan suhu pada testis, yaitu : o M. Cremaster (lanjutan M.Obliquus Abdominis Internus) Dingin : Kontraksi untuk menarik testis ke tubuh. Panas : Relaksasi untuk menjauhi testis dari tubuh. o Tunika Dartos (merupakan otot polos) Pada suhu DINGIN akan berkontraksi untuk merubah scrotum menjadi tegang dan mengkerut dengan tujuan agar menahan panas pada testis. o Pleksus Pampiniformis Merupakan anyaman dari vena testicularis yang mengelilingi arteri testicularis dalam funiculus spermaticus. Ductus Spermaticus merupakan saluran keluar sperma setelah meninggalkan testis, terdiri dari DUCTUS EFFERENS (membawa keluar dari testis), EPIDIDIMYS (di dalamnya terdapat ductus epididimys), DUCTUS DEFFERENS, ampula ducus deferens, dan DUCTUS EJACULATORIUS (dari ampula sampai prostat). Ductus epididimys merupakan tempat pematangan dan penyimpanan sperma. Untuk pematangan terjadi pada CAPUT DAN CORPUS epididimys, sedangkan untuk penyimpanan terjadi pada CAUDA epididimis dan DUCTUS DEFFERENS. Kelenjar accesorius pada pria, antara lain : o Vesicula Seminalis akan bermuara pada ductus ejaculatorius yang sekresinya berwarna kekuningan dan merupakan 60% pembentuk SEMEN. Berwarna kekuningan. o Glandula Prostat berada tepat dibawah vesica urinaria yang bermuara pada uretra. Sekretnya menyerupai susu dan 30% membentuk semen. Berwarna putih susu. o Glandula Bulbouretralis Cowperii akan berfungsi untuk memproduksi cairan pelicin yang melumasi glans penis dan untuk melindungi sperma dengan menetralisir keasaman sisa urin pada uretra. Semen tersusun dari 10% Sperma dan cairan ductus spermaticus, 30% glandula prostat, dan 60% Vesicula seminalis. Jumlah normal Sperma dalam semen adalah 50120 Juta/ml.

Penis terdiri dari 3 bagian, yaitu Radix, corpus, dan glans penis. Penis diselubungi oleh kulit, dan pada bagian corpus, kulit cenderung lebih longgar untuk keperluan ereksi. Pada penis terdapat FUNICULUS SPERMATICUS yang merupakan saluran pada penis yang terdapat banyak organ didalamnya, seperti Ductus deferens, Arteri dan vena testicularis, pembuluh limfe, dan nervus. SISTEM REPRODUKSI WANITA Merupakan sistem organ yang memproduksi ovum, dan menerima sperma untuk terjadinya penyatuan sel sex, hingga menjadi tempat berkembangnya fetus. Organ seks Primer pada wanita yang berfungsi untuk memproduksi gamet adalah OVARIUM, sedangkan organ seks sekunder pada wanita adalah UTERUS, TUBA UTERINA, dan VAGINA yang merupakan organ yang berhubungan dengan pembuahan atau fertilisasi dan tempat berkembangnya fetus. GENITALIA INTERNA : OVARIUM, TUBA UTERINA, UTERUS, VAGINA GENITALIA EKSTERNA : MONS PUBIS, LABIA MAYOR & MINOR, KLITORIS, ORIFICIUM VAGINA, VESTIBULUM VAGINA, KELENJAR VESTIBULARIS MAJOR BARTHOLINI, KELENJAR PARAURETHRALIS. Ovarium merupakan organ pada wanita yang berfungsi untuk memproduksi ovum 1X/bulan pada usia reproduktif (15-50 tahun). Ovarium berjumlah sepasang. Terdapat beberapa ligamentum yang menjaga posisi ovarium agar tetap pada tempatnya, antara lain Ligamentum Suspensorium ovarii, ligamentum teres uteri, ligamentum ovarii propium, dan mesovarium. Perdarahan ovarium oleh A ovarica dan A. Uterina. Ovarium dipersarafi oleh saraf simpatis T12-L2 dan terdapat afferen visceral pada ligamentum suspensorium ovarii untuk rasa nyeri. Ovarium Sebelum memasuki masa pubertas, pada lapisan luar terdapat sejumlah ovum yang belum matang atau sel germinal/sel oosit primer dan pada lapisan dalam terdapat jaringan fibrosa otot dan pembuluh darah. Sedangkan pada ovarium setelah pubertas hingga menopause, akan terdapat folikel ovarium yang matang (folikel gravida) yang berisikan ovum matang dan cairan yang dikelilingi lapisan sel yang mengandung estrogen. Setiap bulan folikel gravida akan pecah dan mengeluarkan 1 ovum dalam cavum peritoneum melalui mekanisme ovulasi. Ciri2 ovulasi, antara lain terjadi 14 hari sebelum menstruasi, DAN terjadi peningkatan suhu tubuh, lendir, dan nyeri pada perut bagian bawah. Secara HISTOLOGI, ovarium terbagi dalam bagian KORTEKS dan MEDULLA. Korteks merupakan bagian parenkim dari ovum yang berisikan folikel primordial hingga folikel graf, sedangkan bagian medulla dari ovum berisikan stroma dan pembuluh darah. Pada permukaan ovarium, terdapat epitel germinal yang membungkus ovarium dan tersusun dari epitel selapis kubis. Epitel germinal berfungsi untuk proteksi bagi ovarium. Dibawah epitel germinal, terdapat tunika albuginea dan stroma korteks. Pada usia 5 bulan, terdapat 5-7 juta oogonia pada folikel primordial, dan pada saat menarche hanya terdapat 300-400 ribu folikel dan sisanya atresia. Sebelum pubertas, semua folikel dalam stadium primordial, karena belum ada pengaruh FSH. Semua stadium folikel terdapat dalam korteks, antara lain

folikel primordial, folikel primer, folikel sekunder, folikel tersier, dan folikel graf. Insisasi pubertas dilakukan oleh GONADOTROPIN dari FSH dan LH yang akan mempengaruhi proses folikulogenesis. Sedangkan untuk folikel yang tidak mencapai kematangan, akan mengalami ATRESIA dan MATI setelah ovulasi terjadi pada setiap siklusnya, dan pada saat keadaan menopause, folikel hanya akan tersisa sedikit, tetapi akan banyak terdapat SCAR TISSUE (folikel ATETRIKS). Folikulogenesis akan terjadi setelah menarche pertama. Folikulogenesis merupakan proses perkembangan folikel hingga tingkat yang lebih tua, dan terjadi saat estrogen meningkat, hingga terbentuknya corpus luteum yang akan berfungsi untuk membentuk progesteron. Estrogen yang tinggi akan menyebabkan penebalan dari stratum fungsionales uterus dan terjadinya pematang ovum hingga terjadinya ovulasi. Saat terjadi ovulasi, akan terjadi robekan dari ovarium akibat pecahnya foliker graf untuk mengeluarkan ovum, sehingga akan dirasakan NYERI pada OVULASI. Bila tidak terjadi PEMBUAHAN, maka corpus luteum akan berdegenerasi menjadi corpus albicans, sehingga terjadilah menstruasi. Korpus luteum tersusun dari 80% SEL LUTEIN GRANULOSA yang akan mensekresi progesteron dan merubah androgen yang diproduksi oleh sel theca menjadi estrogen, dan 20% SEL LUTEIN THECA yang akan memproduksi progesteron dan androgen. Korpus luteum akan berfungsi mempertahankan kadar progesteron setelah terjadi ovulasi. Peningkatan progesteron terjadi pada fase sekretorik pada dinding endometrium, sehingga kelenjar2 pada lapisan fungsional akan terisi oleh sekret untuk persiapan nidasi. Jika tidak terjadi nidasi dari zygot, makan akan terjadi withdrawl bleeding dan menstruasi akibat penurunan estrogen dan progesteron yang drastis akibat hilangnya corpus luteum. Usia corpus luteum hanya 14 hari untuk pertahankan hormon estrogen dan progesteron. Tuba Uterina merupakan tuba bersilia yang berjalan dari sudut lateral ovarium menuju uterus. Tuba uterina disokong oleh MESOSALPINX. Bagian-bagian dari tuba uterina, antara lain : o Ostium abdominalis tuba uterina Merupakan lubang pada tuba dengan tepi FIMBRIAE. o Fimbriae tuba uterina Menghubungkan cavum uteri dengan rongga peritoneum, dan fimbriae akan berfungsi untuk mengarahkan ovum untuk masuk kedalam cavum uterus. o Infundibulum Ostium internus tuba uterina o Ampula Saluran terlebar dari tuba uterina sebagai tempat terjadinya PEMBUAHAN. o Isthmus Bagian sempit dari tuba. o Pars intramuralis Muara tuba pada lumen uterus. Penyaluran ovum dan sperma dapat terjadi, karena : o Kontraksi otot tuba uterina o Pergerakan silia dalam lumen tuba uterina o Sekresi dan absorbsi cairan.

Ovum dapat hidup dalam tuba selama 5 hari, dan fimbriae akan berfungsi sebagai penyapu dari permukaan ovarium, agar ovum dapat mengarah ke ostium tuba uterina. Tuba uterina dipersarafi oleh saraf simpatis : Nervi spinalis T11-L2 dan saraf parasimpatis : N.vagus dan N.Splanichus pelvicus. Tuba uterina diperdarahi oleh A.Ovarica untuk bagian lateral tuba dan A.Uterina untuk bagian medial tuba. Tuba uterina akan membawa ovum dari ovarium menuju uterus dan akan transport spermatozoa dari uterus ke ovarium. Secara histologi, terdapat 3 lapisan yang membentuk tuba uterina, yaitu mukosa, muskularis, dan adventisia. Terdapat KINOSILIA pada epitel dari tuba uterina yang akan bekerja untuk mengarahkan ovum untuk masuk ke uterus. Pergerakan dari KINOSILIA terjadi dari DISTAL ke PROKSIMAL untuk arahkan ovum atau zygot masuk ke dalam uterus. UTERUS atau rahim terbagi dalam beberapa bagian, yaitu : o FUNDUS Merupakan bagian yang paling banyak mengembang dan membentuk segmen atas uterus selama kehamilan. o Cornu Tempat masuknya tuba uterina j o Corpus o Cavum Uteri Merupakan tempat bersarangnya ovum setelah dibuahi dan dibesarkan selam 40 minggu. Cavum uteri pada sudut lateral menuju ke tuba uterina, sedangkan sudut distal akan mengarah pada canalis cervicis uteri yang akan berhubungan dengan cervix. o Cervix uteri Merupakan bagian inferior uterus yang sempit dan tersusun dari fibromuskular. Cervix terbagi dalam 2 bagian, yaitu PORTIO VAGINALIS CERVICIS yang merupakan bagian cervix yang menonjol ke lumen vagina dan terdapat pintu cervix yang akan membuka kedalam vagina, yaitu ostium uteri eksternum dan PORTIO SUPRA VAGINALIS, merupakan bagian cervix pada proksimal lumen vagina dan sebagai titik temu cavum uteri dengan canalis cervicis dan membentuk ostium uteri internum. Saluran pada cervix terbagi dalam 3 bagian, yaitu ostium uteri internum, canalis cervicis uteri, dan ostium uteri eksternum. Struktur uterus tersusun dari : o ENDOmetrium : Selaput Lendir o MIOmetrium : Otot Polos o PERImetrium : Peritoneum Visceralis Lipatan peritoneum pada uterus : o Excavatio uterovesicalis : memisahkan uterus dengan V.U. o Excavatio Recto-urinaria : Memisahkan uterus dengan rectum, dan pada arah caudal akan membentuk septum rectouterina douglasii. Penyangga Uterus : o Ligamentum Cardinale Mackenrodt

o Ligamentum Uterosacralis o Ligamentum Latum o Ligamentum Teres uteri Perdarahan uterus oleh ramus descendens dan asecendens arteri uterina. Persarafan uterus, untuk simpatis oleh POST GANGLION T12-L3, dan parasimpatis oleh S2-4. Sedangkan terdapat N.Uterina yang akan mempersarafi Pembuluh darah dan otot dari uterus. Kontraksi pada uterus bukan dibawah pengaruh saraf, melainkan dibawah pengaruh hormon. Histologi uterus, dimana endometrium merupakan lapisan penting untuk pelepasan uterus saat menstruasi dan nidasi pada masa gestasi. Endometrium tersusun dari epitel selapis kolumnar yang terdiri dari sel sekretorik dan sel bersilia. Endometrium terbagi dalam 2 bagian, yaitu stratum basale dan stratum fungsionale. Stratum basale merupakan tempat nidasi saat gestasi dan tidak akan meluruh saat menstruasi, sedangkan stratum fungsionale merupakan lapisan dari endometrium yang akan luruh dan mengalami penebalan saat haid dan selama fase proliferasi. Miometrium merupakan lapisan otot polos yang sangat kokoh yang tersusun dari 3 lapisan, yaitu inner, middlem dan buter layer. Perimetrium merupakan lapisan yang tersusun dari mesotelium yang didalamnya terdapat ganglion simpatis dan serabut saraf. Otot pada miometrium tersusun beranyaman, sehingga tidak mudah ruptur, walaupun membesar saat kehamilan. Terdapat A.Spiralis pada uterus yang akan membentuk perdarahan menuju placenta. Fase2 Endometrium o PROLIFERASI Fase dimana estrogen menstimulasi mitosis epitel dan stroma sehingga terjadi penebalan endometrium dan pemanjangan kelenjar. o LUTEAL/SEKRETORIK Dipengaruhi oleh progesteron dari corpus luteum yang menyebabkan sekresi kelenjar endometrium, sehingga saluran kelenjar mulai terisi dan mengalami perluasan permukaan kelenjar. Perubahan endometrium saat fertilisasi o Zygot sampai di uterus, +/- 3 hari setelah ovulasi o Sel perifer blastosis akan berdiferensiasi menjadi trofoblast untuk produksi HCG, untuk menstimulasi korpus luteum untuk terus sekresi progesteron dan menekan ovulasi. Cerviks secara histologi tersusun dari 2 jenis epitel, yaitu epitel selapis gepeng dan epitel berlapis. Pada peralihan dari kedua jenis epitel tersebut, terdapat locus minoris junction yaitu columnar stratified junction sebagai predileksi dari infeksi HPV Virus yang menyebabkan terjadinya CA Cerviks. Vagina merupakan tabung muskular yang akan menjadi tempat kopulasi atau masuknya penis sebagai organ genitalia pria dalam melakukan hubungan seksual. Vagina pada bagian bawah akan terdapat orificium vagina pada vestibulum vagina yang terdapat diantara 2 labium minor. Vagina tidak mempunyai kelenjar, tetapi dilumasi oleh transudasi dari cairan serosa untuk dindingnya dan oleh mucus dari kelenjar cervical diatasnya. Mucosa dari vagina yang melipat kedalam dan akan

membentuk suatu membran, yaitu HYMEN. Perdarahan vagina oleh A.Vaginalis, A.Uterina ramus inferior, dan A.Rectalis media. Sedangkan untuk persarafannya, 2/3 proksimal oleh simpatis dan parasimpatis dari pelxus pelvicus lateralis, dan sensoris dari afferen visceralis 2/3 proksimal vaginal vagina via simpatis. Epitel atau Mukosa dari vagina akan membentuk MUCOSAL FOLD atau RUGAE untuk melakukan KAPASITAS DISTENSI saat bayi melalui vagina. Glandula vestibularis major bartholini homolog dengan glandula bulbouretralis cowperii ; Glandula para uretralis homolog dengan glandula prostat ; labia major homolog dengan scrotum ; clitoris homolog dengan penis. ANATOMI PANGGUL WANITA 1. Perbedaan anatomi wanita dan pria 1. Thorax bagian bawah lebih lebar 2. Pelvis yng lebih gynecoid 3. Illiaca lebih lebar dan cekung 4. Promontorium kurang menonjol ke profunda 5. Simfisis lebih pendek 6. Lumbal lordosis lebih prominen 7. Inklinasi panggul lebih jelas 2. Lapisan 1. Kulit 2. Subkutis 3. Otot 4. Peritoinum 3. Otot 1. M. rectus abdominis 2. M. transversus abdominis 3. M. obliquus abdominis internus 4. M. obliquus abdominis eksternus 5. Aponeurosis= definisi= A thin fibrous sheet that replaces a tendon in a thin and sheet like muscel(suatu membran yang terdiri dari serat jaringan ikat yang berfungsi seperti tendon di otot yang pipih) linea alba adalah suatu aponeurosis. Bagian superficial M rectus tertutup oleh aponeurosis m. obliquus eksternus, lateral dari m. rectus adalah m. obliquus internus dimana aponeurosisnya berikatan dengan bagian lateral m. rectus. M tansversus

abdominis (otot paling dalam) bergabung dengan aponeurosis m obliq internus. 6. Ligamen: dibawah m. rectus tedapat 3 ligamen sisa chorda, 2 di lateral adalah bekas a. umbilicus lateralis 7. Pendarahan dinding inferior panggul. i. A. femoralisa. epigastrica superficialis, a. pudenda eksterna ii. A. illiaca eksterna dan a. epigastrica inferior 8. Dasar panggul i. Diafragma pelvis: m. levator ani, m. koksigeus ii. Diafragma urogenital: m. transverses perinea profundus, m. transfersus superficialis(aponeurosis kedua otot tersebut membentuk m. rhabdo sfingter urethrae iii. Otot eksterna: m. bulbocavernous, m. perinea trasfersus superficialis, m. ischiocavernosus, m. sfingter ani eksterna.

FISIOLOGI SISTEM REPRODUKSI 1. Oogenesis a. Oogonium (mitosis selama di kandungan) b. Oogonia (oosit primer) pada 5 bulan kehamilan terbentuk max sampai 7 juta sel oogonia, setelah lahir, tidak dihasilkan lagi. c. Saat puber mulai mensturasi tetapi fase anovulatoar atau fase tidak ada telur yang dihasilkan d. Fase ovulasi ditandai dengan dihasilkan ovum (oosit sekunder) e. Oogonium MITOSIS Oosit primer (2n)meosis 1 oosit sekunder(1n) meosis 2 ootid differeinsiasi sel 1 oosit matang dan 3 badan polar f. Akan terbentuk 3 badan polar yang semuanya akan berdegenerasi dan 1 ovum. Tujuan dari terbentuknya badan polar adalah untuk membuang kromosom sehingga terbentuk haploid pada OVUM. g. Spermatogenesis : Spermatogonium MITOSIS Spermatosis PRIMER MEIOSIS 1 Spermatosit SEKUNDER Meiosis 2 4 SPERMATID Differensiasi sel 4 buah SPERMA MATANG. h. Bedanya dengan spermatogenesis

i. Spermatogonium aktif seumur hidup ii. Menghasilkan 4 spermatozoa iii. Tidak berhenti walaupun sudah tua untuk menghasilkan sperma 2. Siklus menstruasi Merupakan siklus yang terbentuk untuk fungsi pengeluaran atau pematangan ovum dibawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron terhadap ovarium, yang terjadi secara intermitten setiap bulan. Siklus ini terjadi sejak menarkhe hingga menopause, dengan rangsangan gonadotropin pada saat menarkhe. a. Pembagian berdasarkan pada : i. Fase folikel/ovulasi,/proliferasi Estrogen akan menyebabkan penebalan endometrium, pembessaran kelenjar dan peningkatan vaskularisasi dari arteri spiralis, sedangkan progesteron akan mengencerkna sekret cerviks ii. Fase sekretorik/lutheal Dibawah pengaruh progesteron dari korpus luteum, terjadi persiapan pada endometrium untuk implantasi embrio, sehingga kelenjar akan membesar dan sekret serviks akan pekat. iii. Fase iskemik Korpus luteum telah regresi akibat tidak terjadinya kehamilan, sehingga kada estrogen dan progesteron tidak dapat dipertahankan. Terjadi peningkatan kadar enzim proteolitik akibat pembentukan oleh prostaglandin dari fosfolipid, yang menyebabkan terjadinya vasospasme dari A.spiralis nekrosis jaringan & ruptur pembuluh darah. iv. Fase menstruasi Akibat pembuluh darah yang vasospastik, maka akan terjadi rupturnya pembuluh darah yang disertai dengan jaringan nekrotik, sehingga jaringan fungsional endometrium luruh perdarahan. Pada awalnya, hipothalamus akan mensekresi GnRh yang akan mempengaruhi hipofisis anterior untuk terjadinya produksi hormon FSH dan LH. LH menstimulasi pembentukan hormone androgen di sel techa, dan FSH akan menstimulasi pembentukan enzim aromatase di sel granulosa yang mengubah androgen menjadi estrogen (estradiol). Estrogen menghambat pelepasan GnRH sehingga menghambat sekresi FSH dan LH, serta secara langsung menghambat sekresi FSH di hipofisis

(yang juga dihambat inhibin yang dihasilkan sel folikel) sehingga FSH mulai turun tetapi LH tetap meningkat secara perlahan karena kurang terpengaruh. Estrogen penting untuk menebalkan endometrium dan miometrium serta mencairkan secret serviks untuk mempermudah masuknya sperma. Pembentukan estrogen tidak terpengaruh oleh penurunan FSH, karena FSH hanya dibutuhkan sedikit sehingga lebih dominan LH dalam mempertahankan kadar estrogen selama fase folikuler. Pada saat estrogen mencapai kadar yang cukup tinggi, estrogen yang tadinya menginhibisi GnRH sekarang menstimulasi GnRH sehingga terjadi LH surge (peningkatan LH yang cepat) dan FSH juga meningkat secara cepat tetapi tidak setinggi LH karena pengaruh inhibisi dan peran FSH yang masih tidak jelas dalam timbulnya feedback negatif. LH surge tersebut menyebabkan pelepasan prostaglandin dan enzim protease local di sekitar ovum yang menyebabkan terlepasnya corona radiate dari folikel (ovulasi) dari sini mulailah fase luteal. INTINYA, pada fase ovulasi, FSH dan LH akan merangsang ovarium, sehingga terjadi ovulasi, dimana pada keadaan ini akan terjadi stimulasi pertumbuhan sel folikel hingga terjadinya ovulasi dari folikel yang telah matang. Fase luteal ditandai dengan ovulasi dan pembentukan korpus luteum, korpus luteum berarti benda kuning, kuning karena korpus luteum berisi kolesterol yang akan digunakan untuk membentuk hormon-hormon yang penting untuk mempertahankan keadaan endometrium yang siap menerima hasil konsepsi. LH surge pada akhir fase ovulasi memiliki fungsi lain berupa menghentikan sintesis estrogen, merangsang meosis 1 pada ovum dan diferensiasi sel folikel menjadi luteal untuk persiapan siklus berikutnya. Korpus luteum yang menghasilkan estrogen dan progesterone dipertahankan oleh LH. Progesterone mempertahankan keadaan endometrium dalam penerimaan hasil konsepsi. Progesteron juga menyebabkan maturasi dari kelenjar dan vaskularisasi endometrium sehingga kelenjar tersebut mengsekresikan estrogen ke dalam lumen endometrium. Progesterone juga menekan sekresi FSH dan LH untuk menghindari maturasi folikel saat fase luteum. Namun, karena LH tersupresi maka dalam 2 minggu korpus luteum akan berdegenerasi bila tidak ada HCG, dimana KORPUS LUTEUM DAPAT DIPERTAHANKAN PADA AWALNYA OLEH LH. Tanpa korpus luteum maka progesterone dan estrogen akan habis, sehingga support vaskuler endometrium akan kurang dan sekresi prostaglandin local menyebabkan vasokonstriksi dan iskemi endometrium yang menyebabkan infark pada endometrium dan pada akhirnya meluruh, sehingga menghasilkan darah menstruasi. Prostaglandin

juga

menyebabkan

kontraksi

uterus

untuk

membantu

pengeluaran

darah,

prostaglandin juga menyebabkan secret serviks menjadi encer. Fibrinolisin juga dihasilkan untuk menjaga supaya darah tidak membeku tetapi bisa juga membeku karena darah banyak yang keluar Setelah estrogen dan prostaglandin hilang maka supresi FSH dan LH akan menghilang sehingga FSH dan LH akan naik lagi, untuk memulai siklus menstruasi yang baru. Pada saat kehamilan, hasil konsepsi atau zygot yang berimplantasi pada endometrium akan segera memproduksi HCG untuk mempertahankan kadar progesteron untuk menjaga agar kondisi endometrium tetap terjaga. Siklus menstruasi merupakan pola ritmis dari perubahan ovarium dan organ-organ seksual dan perubahan kecepatan hormon wanita. Durasi siklus +/- 28 hari dengan hasil ovum matang yang di ovulasi dari ovarium perbulan, dan endometrium uterus siap menerima ovum yang sudah matang dan jika terjadi kehamilanm siap untuk implantasi zygot. Peran hormone estrogen yang lain o Feminisasi tidak membutuhkan estrogen, tidak seperti genitalia pria yang perlu testosterone. o Estrogen pada awal pubertas merangsang pertumbuhan sistem reproduksi. Lambat laun tapi juga akan menutup lempeng epifisis o Deposisi lemak pada panggul, paha dan dada o Estrogen tidak mempengaruhi pertumbuhan rambut puber dan libido. Yang mempengaruhi adalah hormone androgen adrenal yang juga merangsang growthspurt 3. Menopause Teori tradisional adalah karena kehabisan ovum. Teori sekarang adalah bahwa hipofisis terprogram dari gen hasil evolusi untuk berhenti menghasilkan LH untuk mencegah kehamilan di usia yang lanjut dimana tidak akan kuat Perimenopause => climacterium ditandai dengan waktu sebelum menopause dimana ada ciri seperti kadar estrogen yang rendah dan siklus yang semakin irregular karena kegagalan ovulasi (estrogen<300mg) Pada laki-laki tidak terjadi karena spermatogenesis tidak pernah berhenti dan hormone reproduksi tidak tergantung gametogenesis

Walaupun ovarium tidak akan menghasilkan estrogen lagi, estrogen masih ada di darah sampai meninggal karena jaringan lain (adipose, korteks adrenal dan hati) masih dapat memproduksi estrogen dengan kadar minimal, yaitu 20mg Perubahan yang dapat terjadi saat menopause o perdarahan flek o genital athrophy o osteoporosis o Hotflush karena estrogen berperan dalam regulasi epinephrine (simpatic neurotransmitter) dan norepinephrin maka terjadi disfungsi vasomotor, saat vasa di muka dilatasi berlebihan dan sulit konstriksi terjadilah hotflush karena sirkulasi darah yang berlebihan pada wajah. 4. Fertilisasi saat ovulasi, mucus servix akan dalam keadaan encer akibat pengaruh tingginya progesteron yang terbentuk pada fase proliferasi, sehingga keadaan tersebut akan membuat sperma bisa masuk dan sampai di ovum dalam 30 menit. Pertemuan sperma dan ovum dibantu oleh kontraksi uterus yang mendorong sperma ke tuba uterina. Pada tuba uterina, ovum mengeluarkan sitokin alurin yang merangsang pelepasan calcium di microtubule sperma yang menyebabkan microtubule berkontraksi menggerakan sperma menuju ovum. Reseptor pada sperma disebut HON7-4 yang sebenarnya adalah resptor olfaktoris. Selain itu, pergerakan sperma menuju ovum juga dibantu oleh kontraksi uterus dan tuba akibat rangsangan prostagalndin yang terdapat dalam semen. Sedangkan pada ovum, ovum yang sudah dikelilingi oleh ribuan sperma, akan berusaha masuk menembus ovum. Tetapi, dari ribuan sperma yang terdapat disekelilingnya, hanya akan terdapat 1 sperma yang dapat masuk menembus ovum. Alasan mengapa perlu begitu banyak sperma yang mengelilingi ovum adalah karena untuk terjadinya fertilisasi membutuhkan banyak enzim acrosome untuk sperma menembus korona radiata dan zona pelusida dari ovum. Setelah menembus korona radiata, kepala sperma akan berikatan dengan ZP3 reseptor (reseptor integrin) pada zona pelusida. Ikatan sperma dengan ZP3 reseptor akan menjadi triger untuk terjadinya ACROSOME REACTION, sehigga terbentuk hydrolic enzim yang akan membantu sperma menembus zona pelusida, hingga terjadinya pertemuan antara sperma dan ovum, maka terjadilah penyatuan inti sel sperma dan ovum, terbentuklah zygot. Blocker

terjadinya polyspermia terjadi dengan stimulasi Ca2+ untuk ditimbun dalam granula cortical ovum, sehingga terjadi inaktivasi ZP3 reseptor. Fertilisasi biasa terjadi pada ampula tuba uterina atau pada 1/3 lateral tuba, dan implantasi akan terjadi 1 minggu setelah fertilisasi. Sperma bisa bertahan selama 5 hari dan ovum bisa selama 12-24 jam. Jadi menghitung masa subur adalah 5+1 hari +1 hari untuk jaga2, jadi seminggu sebelum ovulasi dilarang untuk berhubungan. Artinya karena minggu pertama adalah masa menstruasi, minggu pertama tidak bisa berhubungan juga minggu kedua, yang boleh adalah minggu ke 3 dan 4, untuk hitungan secara alami untuk KB alami. Zygote morula 3-4 hari di tuba falopi prostaglandin menyebabkan lumen melebar dan gerakan peristaltic 3-4 hari mengapung di cavum uteri akhirnya endometrium siap menerima yang sekarang sudah menjadi blastocyt (50 sel dengan iner sel mass) dengan lapisan terluar adalah trofoblasttrophoblast berubah menjadi sinsitiotrophoblast yang merupakan beberapa sel trophoblast yang menyatu dan memiliki banyak inti sel, dia mulai mencerna dinding endometrium untuk mendapatkan nutrisi sampai merusak dinding pembuluh darah, sampai pada akhirnya, dia masuk segitu dalamnya sehingga terkubur oleh epitel endometrium. Nidasi juga menyebabkan pengeluaran prostaglandin local supaya daerah nidasinya menjadi edema dan penuh elektrolit sehingga menjadi nutrisi yang baik untuk embrio. Sistim imun dikalahkan oleh: 1. FAS-ligand 2. IDA(indoleamin 2,3 Dioxygenase) 3. Regulator T-cell meningkat 4. Semuanya menghalangi sel T cytotoxyc Setelah 12 hari konsepsi, chorion sudah terbentuk yang terdiri dari selapis sel amnion dan selapis sel mesoderm. Villi placenta juga terbentuk setelah darah kapiler keluar, placenta akan terbentuk lengkap setelah 5 minggu. Hormon yang dibentuk placenta, antara lain : H-CG, Estrogen, Progesterone. Ketiga hormon tersebut adalah hormon utama dan kadar sekresinya tidak diatur oleh apapun kecuali stadium kehamilan, contoh : progesterone semakin meningkat saat kehamilan, HCG akan turun setelah 3 bulan. HCG : Hormone peptide

o Berfungsi mempertahankan corpus luteum (sampai 10minggu)supaya kadar estrogen dan progesterone dapat dipertahankan sampai placenta cukup matang untuk mengambil alih, setelah itu corpus luteum akan mulai mengecil tetapi baru hilang setelah kehamilan selesai o Pada fetus laki-laki, merangsang sel leydig untuk membentuk testosterone yang akan berperan penting dalam maskulinisasi atau perkembangan traktus genitalia o Diekskresikan di urin tes kehamilan o Menyebabkan mual karena merangsang reseptor di batang otak o Produksi estrogen placenta yang dihasilkan saat tidak hamil adalah estradiol, sedangkan yang dihasilkan placenta adalah estriol. Sintesis : Korteks adrenal fetusDHEAdiubah enzim placenta (aromatase) menjadi estrioldiekskersikan di urin, bisa digunakan untuk mengecek viabilitas fetus karena kadar estriol dipengaruhi oleh besar placenta dan terutama besar adrenal fetus Progesterone tidak dapat sepenuhnya dibentuk oleh placenta sendirian, tetapi harus mengambil bahan dari darah si ibu untuk membentuk progesterone dalam jumlah yang cukup. Fungsi progesterone yaitu Menghindari abortus spontan dengan mencegah kontraksi uterus, Menghasilkan mucus serviks yang kental bernama mucus plug yang mencegah mikroba masuk ke kavum uteri, dan Maturasi dari kelenjar mamae Perubahan pada tubuh ibu selama kehamilan o Volume darah meningkat 20-30% o Uterus beratnya menjadi 20x lipat o Respirasi meningkat 20% o HCS (Human chorionic somatoMAMMOtropin) menyebabkan resistensi insulin dan menghambat penggunaan FFA oleh tubuh ibu, memiliki fungsi dan struktur yang mirip dengan somatotropin dan prolactin. Juga menghambat deaminasi asam amino dan meningkatkan penyerapan asam amino di usus o Placental PTH (paratiroid hormone) mempertahankan kadar calcium yang tinggi untuk pertumbuhan bayi o CRH dari placenta menghasilkan cortisone yang merangsang pemecahan lemak subkutis ibu

Persiapan partus o Placenta dan korpus luteum menghasilkan hormone relaxin yang menyebabkan disasosiasi kolagen = servix yang padat berisi jaringan kolagen menjadi lentur dan simfisis pubis serta ligament panggul juga melemah o Mulai trimester 3, terdapat Braxton-Hicks contraction yang semakin lama semakin intens dan semakin sering sampai kadang false parturition Saat partus o Ketuban pecah o Mulai kontraksi yang ada sekitar setiap 30 menit selama 30 detik dan tidak sakit sampai kontraksi yang terjadi setiap 2-3 menit selama 60-90 detik yang sakit Pemicu partus o Estrogen merangsang pertumbuhan conexon dan oxytocin reseptor o CRH (corticotrophin relising hormone) yang dihasilkan plasenta merangsang pembentukan kortikosteroid oleh adrenal bayi untuk membentuk cortisone dan juga adrenal ibu o Inflamasi prostaglandinmeningkatkan sensifitifitas oxytocin dan pematangan serviks o Oxytocin contraksi uterus Mekanisme inflamasi dalam partus o Pemicu inflamasi: regangan uterus, infeksi/allergen, dan protein surfactant(SP-A) o SP-A Merangsang migrasi macrofag yang kemudian menghasilkanIL-1 beta menjalankan reseptor intrasel NF-kB IL-8dan kawanprostaglandin dan secara independen juga merangsang pertumbuhan reseptor oxytocin o Infeksi dan allergen bisa merangsang NF-kB melalui cytocyin lain Positife feedback saat partus

o Ketika kontraksi kepala fetus menekan serviks neuroendokrine reflex


hipotalamusoxytocin, prostaglandinkontraksi semakin kuatkepala

semakin menekan serviks dan seterusnya sampai partus

Tahap partus o KALA I : Dilatasi cervix 10cm (20-24 jam) o KALA II : Bayi keluar 30-90 menit (ibunya bisa membantu dengan mengkontraksikan otot bersamaan dengan kontraksi uterus, kontraksi uterus adalah saat terasa sakit tajam) o KALA III: Buang placenta15-30 menit, setelah itu uterus kontraksi lagi untuk mengkonstriksi pembuluh darah o KALA IV : masa recovery dan menunggu berhentinya perdarahan. Post partum o Involusi= proses pengecilan uterus ke ukuran normal setela partus(4-6 minggu) o Bisa dipercepat dengan member asi karena merangsang pelepasan oxytocin Laktasi Hormone i. Estrogen: perkembangan duktus ii. Progesterone: perkembangan kelenjar iii. Oxytocin: merangsang mioepitel kelenjar supaya kontraksi dan menekan asi keluar iv. Prolactin: menghasilkan enzim untuk pembentukan asi v. HCS : juga merangsang enzim saat hamil vi. Perah hormone GH, Insulin, Cortison, PTH juga ada Stimulus : Saat papilla tersentuh merangsang reflex neuro endokrin untuk melepaskan oxytocin dan prolactin Mengapa hamil tidak ada ASI? i. Estrogen dan progesterone mencegah terbentuknya reseptor prolactin ii. Prolactin diatur oleh hipotalamus melalui hormone PRH(tidak diketahui, dicurigai Oxytocin) dan PIH(dopamine)

iii. Stress dapat mempengaruhi hipotalamus tidak bisa lactase Keuntungan lactase i. Terdapat sel imun macrofag, neutrofil dan limfosit ii. IgA iii. Mucusmencegah bakteri bergerak iv. Lactoferin menurunkan kadar Fe sehingga menekan pertumbuhn bakteri v. Bifidus factor merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus vi. Factors for digestion vii. Factors for immune system viii. KB ix. Involusi

FERTILITAS Pasangan yang fertil akan segera memperoleh keturunan bila melakukan hubungan seksual secara normal dalam waktu kurang dari 1 tahun. Untuk melakukan hubungan seksual, harus dilakukan pemasukan penis kedalam vagina dan penis harus dalam keadaan ereksi. PRIA FERTIL o Volume ejakulat minimal 2cc o pH ejakulat : 7,2-7,8 o Jumlah sperma total per ejakulat : minimal 40 juta/ejakulat o Motilitas : >50% bergerak maju ; >25% bergerak maju dengan cepat dalam 60 menit setelah ditampung dalam gelas kaca o Morfologi : Minimal 50% dalam keadaan normal o Viabilitas : Minimal 50% hidup dan tidak bewarna dengan pewarnaan supravital. o Uji Mixed Antiglobulin Test (MAR) <10% IgG melekat pada sperma. Jika >10%, makan sperma akan dianggap sebagai antigen, sehingga sperma tidak bisa bergerak dan tidak akan terjadi fertilisasi. o Uji butir imun <10% IgA dan IgG melekat pada sperma. INFERTILITAS Pasangan yang tidak memperoleh keturunan setelah melakukan hubungan seksual secara normal minimal 1 tahun. Masalah infertilitas dapat terjadi pada reproduksi pria, wanita, atau keduanya. JENIS KONTRASEPSI

1. HORMONAL Pil, Suntikan, Implan 2. BARIER MEKANIK AKDR/IUD, KONDOM, SPERMISIDA, DIAFRAGMA 3. MANTAP Tubektomi (wanita), Vasektomi (pria) 4. ALAMIAH Laktasi, Koitus Interuptus, Metode suhu basal, Kalender, Metode Lendir cerviks KONTRASEPSI YANG IDEAL Efektifitas Tinggi Efek samping minimal Mudah dalam penggunaan Proteksi terhadap seksual transmited disease Reversible Dapat diterima oleh masyarakat

TUJUAN KONTRASEPSI MENUNDA Kehamilan MENCEGAH Kehamilan MENGATUR / MENJARANGKAN Kehamilan MENGHENTIKAN atau MENGAKHIRI Kehamilan/Kesuburan

Fase Menunda Kehamilan o Masa Menunda kehamilan pertama sebaiknya dilakukan oleh pasangan saat istrinya belum mencapai usia 20 Tahun. o Pada fase ini, kontrasepsi yang diperlukan adalah kontrasepsi dengan pulihnya kesuburan yang tinggi, yaitu kembalinya kesuburan hingga 100%. Hal ini penting karena pada fase ini, pasangan belum mempunyai anak. o Dibutuhkan efektifitas yang tinggi, contoh : PIL KB, IUD, IMPLAN, SUNTIKAN, dan cara sederhana KONDOM, KOITUS INTERUPTUS, KB ALAMI, DIAFRAGMA, KONTRASEPSI KIMIAWI. Fase Menjarangkan atau Mengatur Kehamilan: Pada Usia 20-35 tahun o Kriteria kontrasepsi yang diperlukan : o EFEKTIFITAS TINGGI o REVERSIBLE TINGGI karena pasangan masih mengharapkan anak kembali o Dapat digunakan 3-4 TAHUN sesuai jarak yang direncanakan

o Tidak menghambat PRODUKSI ASI untuk anak sebelumnya o Pilihan kontrasepsi yang dapat digunakan, antara lain : IUD, KB SUNTIK, PIL mini, PIL KB, dan IMPLAN.

Fase Menghentikan masa kesuburan : Pada Usia > 35 Tahun o Sebaiknya keluarga minimal telah memiliki 2 anak dan usia istri > 30 TAHUN, yang secara medis lebih baik untuk tidak mengalami kehamilan kembali. o Diharuskan kesepakatan yang bulat antara pasangan suami dan istri sebelum menentukan pilihan terhadap keputusan akan tindakan kontrasepsi yang akan digunakan. Sebaiknya seluruh tindakan yang diputuskan harus sudah diketahui resikonya secara menyeluruh oleh sang pasien. o Tindakan yang dapat dilakukan : STERILISASI (Vasektomi atau Tubektomi), IUD, implan, suntik KB, dan PIL KB. METODE KONTRASEPSI A. Metode Kontrasepsi SEDERHANA KONDOM, KOITUS INTERUPTUS, SPERMISIDA/KONTRASEPSI KIMIAWI. KOITUS INTERUPTUS Merupakan metode kontrasepsi PALING TUA dan telah dikenal sejak abad 18. Koitus interuptus atau senggama terputus adalah menghentikan senggama dengan MENCABUT PENIS DARI LIANG VAGINA pada saat menjelang ejakulasi. Kelebihan dari cara ini adalah TIDAK MEMERLUKAN ALAT ATAU OBAT SAMA SEKALI, sehingga RELATIF SEHAT untuk digunakan atau dilaksanakan, TETAPI MEMILIKI RESIKO KEGAGALAN TINGGI. KB ALAMI Merupakan bentuk metode kontrasepsi yang didasarkan pada SIKLUS MASA SUBUR DAN TIDAK SUBUR seorang wanita. DASAR UTAMANYA ADALAH SAAT OVULASI. Sperma dapat hidup 3-5 hari setelah ejakulasi, maka ovulasi harus sudah dapat diramalkan sebelumnya. Untuk menentukan saat ovulasi, ada 3 METODE YANG DAPAT DIGUNAKAN, yaitu : METODE KALENDER, SUHU BASAL, DAN METODE LENDIR SERVIKS. Metode kalender, pada prinsipnya adalah pasangan tidak melakukan senggama saat istrinya memasuki masa subur, yaitu masa ketika terjadinya ovulasi pada 14 hari sebelum haid yang akan datang, atau hari ke 12-16, karena sperma masih dapat hidup 3-5 hari setelah ejakulasi, maka hari ke 17,18, dan hari ke 11 merupakan waktu hidupnya ovum, maka masa subur

KB

ALAMI,

DIAFRAGMA,

menjadi 8 hari. Karena siklus menstruasi pada umumnya 28 hari, maka hari ke 11-18 dinyatakan sebagai hari subur. Dalam metode kalender, perlu diperhatikan siklus haid selama 6-12 bulan, untuk menentukan masa subur. Untuk menentukan masa PRE-Ovulasi, ditentukan dengan cara mengurangi 18 hari dari siklus terpendek. Sedangkan untuk mengetahui masa aman POST-OVULASI, dilakukan AMAN adalah SEBELUM HARI KE 7 dan SESUDAH HARI KE 21 METODE SUHU BASAL, didasarkan pada KENAIKAN SUHU BASAL YANG TERJADI PADA MASA OVULASI AKIBAT PENINGKATAN PROGESTERON DENGAN KENAIKAN ANTARA 0,30-0,50C. Peningkatan suhu dapat terjadi segera, berangsur-angsur, ataupun terus-menerus. Suhu basal diukur dengan menggunakan termometer khusus dan dicatat pada kartu grafik untuk mengetahui perubahan suhu. Pengukuran dilakukan SETIAP PAGI SEBELUM MAKAN dan MINUM, karena bila sudah makan dan minum, dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan suhu, terutama pengukuran secara oral. Kekurangan metode ini adalah tidak dapat menentukan masa aman PRE OVULASI, sehingga metode ini dapat dikombinasi dengan metode kalender. Sedangkan masa aman POST OVULASI dapat ditentukan 3 hari setelah kenaikan suhu. METODE LENDIR CERVIKS, didasarkan pada perubahan KUALITATIF dan KUANTITATIF dari lendir cerviks yang dipengaruhi oleh hormon reproduksi. 5 FASE PERUBAHAN yang dapat terjadi, antara lain FASE KERING, FASE PRE OVULASI DINI, FASE BASAH, FASE POST OVULASI, dan FASE MENSTRUASI. Fase 1/Masa kering terjadi segera setelah menstruasi karena kadar estrogen yang menurun, sehingga kurang merangsang sekresi. Fase 2/pre ovulasi dini, terjadi karena kadar estrogen meningkat dan akibatnya sekresi lendir menjadi keruh dan liat. Fase 3/Hari basah, yaitu beberapa hari sebelum dan sesudah ovulasi, dimana kadar estrogen meningkat, sehingga lendir berubah menjadi jernih dan licin. Fase 4/masa POST OVULASI, yaitu kadar progesteron meningkat, sehingga lendir berkurang sama sekali dan menjadi keruh dan liat. Fase 5/masa Pre menstruasi dimana lendir kadang-kadang menjadi jernih kembali dan sangat cair. MASA SUBUR TERJADI PADA HARI I ADANYA LENDIR SERVIKS PASCA HAID, YAITU 4 HARI SETELAH KELUARNYA LENDIR YANG JERNIH DAN LICIN. KONDOM Merupakan selubung karet tipis yang dipasang pada PENIS sebagai tempat penampungan dari sperma yang dikeluarkan oleh pria saat bersenggama, sehingga sperma tersebut tidak tercurah kedalam vagina. Merupakan salah satu bentuk kontrasepsi dengan metode barier mekanik yang digunakan pada laki-laki.

Terdapat 2 macam bentuk kondom, yaitu polos dan berputing. Kelebihan dari bentuk berputing adalah, dimana terdapat space/tempat untuk menampung sperma hasil ejakulasi. CARA KERJA : Mencegah terjadinya pertemuan antara SPERMA dan ovum melalui pencegahan masuknya sperma kedalam saluran genital wanita. Kondom terbuat dari KARET LATEKS HALUS dengan bentuk SILINDER BULAT, dengan ukuran panjang 15-20 cm, ketebalan 0,03-0,08 mm, dan diameter 3-3,5 cm. Kondom merupakan alat kontrasepsi dengan efektifitas rendah dan RAWAN TERHADAP ALERGI untuk pasangan dengan alergi karet/latex, oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut, saat ini tersedia kondom anti alergi yang terbuat dari karet latex dengan residu rendah dan tidak di pralubrikasi. Terdapat kondom dengan ketebalan yang lebih melebihi ketebalan standart, yang digunakan untuk pasangan yang melakukan hubungan intim per anus (HOMOSEX) untuk mencegah terjadinya penularan STD. Kondom dapat menjadi indikasi sebagai alat kontrasepsi bagi semua pasangan usia subur yang ingin berhubungan seksual dan belum menginginkan kehamilan. Kondom merupakan alat kontrasepsi sederhana yang sifatnya murah dan mudah untuk mendapatkannya serta dalam penggunaannya, tanpa perlu didahului maupun diawasii oleh tenaga kesehatan dalam penggunaannya. Selain itu, kondom juga merupakan salah satu bentuk alat kontrasepsi dengan tingkat proteksi tinggi terhadap penularan dari STD. Kondom akan menjadi suatu alat kontrasepsi yang efektif, apabila digunakan secara benar dan konsisten. Tetapi kondom akan menjadi tidak efektif dalam penggunannya, apabila secara psikologis, pasangan tidak dapat menerima metode tersebut, adanya salah satu dari pasangan yang alergi terhadap karet lateks, dan terjadinya kebocoran dari karet lateks tersebut. Kondom digunakan atau dipasangkan pada penis dari laki-laki sebelum melakukan senggama/koitus, yaitu saat penis dari pria mengalami ereksi total. Dalam penggunaannya, setelah mengalami EJAKULASI, penis harus segera dikeluarkan dari liang vagina, agar penis tidak mengecil selagi didalam vagina dan menyebabkan cairan sperma yang telah ditampung tumpah kembali. KONDOM WANITA Kondom untuk WANITA adalah suatu SARUNG POLIURETAN dengan panjang 15 cm dan garis tengah 7 cm, yang ujungnya terbuka melekat ke suatu cincin poliuretan lentur. CINCIN POLIURETAN tersebut akan berfungsi sebagai alat memasang dan melekatkan kondom pada VAGINA. Kondom ini memiliki PELUMAS dengan bahan dasar SILIKON dan tidak memerlukan pelumas spermisida. Efektifitas penggunaan kondom pada wanita, sama halnya dengan penggunaan diafragma.

Penggunaan kondom pada wanita dapat dilakukan dengan indikasi apabila pasangan menghendaki pihak wanita yang menggunakan metode barier reversible sebagai alat kontrasepsi, dan untuk perlindungan maksimum terhadap PMS. Kondom pada wanita bersifat lebih kuat jika dibandingkan dengan kondom pria, Tetapi bagi pasangan pria, penurunan kenikmatan seksual akan lebih kecil jika dibandingkan dengan kondom pria. Kondom wanita juga dapat dipasang jauh sebelum hubungan intim dan dapat dibiarkan beberapa waktu setelah ejakulasi, sehingga proses hubungan intim dapat tidak terganggu. Kekurangan dari kondom wanita adalah dimana kenikmatan hubungan seksual dapat terganggu karena timbulnya suara gemerisik saat berhubungan intim, dan proses pemasangannya yang sulit, bahkan terkadang kondom dapat terdorong seluruhnya kedalam vagina apabila pemasangan tidak sesuai. Dalam pemasangannya, wanita harus dapat menentukan posisi dalam pemasangannya. Dapat dilakukan dengan berbaring, jongkok, atau dengan satu kaki diatas kursi. Setelah mendapatkan posisi, tekan cincin bagian dalam yang ditutupi oleh sarung diantara jempol dan jari lain, dan masukkan kondom kedalam vagina, seperti memasukkan tampon. Setelah kondom berada didalam vagina, dorong cincin bagian dalam setinggi mungkin, hingga cincin terfiksasi dengan baik pada posisinya, dan cincin luar harus melekat erat pada vulva. Setelah hubungan selesai, pegang cincin luar dan terik kondom secara hati2. DIAFRAGMA Merupakan suatu alat yang berfungsi untuk MENUTUP CERVIKS DARI BAWAH, sehingga sperma tidak dapat memasuki serviks, dan biasanya digunakan spermisida. Diafragma terbuat dari KARET dengan bentuk SETENGAH BOLA yang tepinya mengandung PER DATAR atau SPIRAL, dengan diameter 45105mm. Jenis ukuran yang sering digunakan adalah 70,75,80,85mm. Diafragma akan berfungsi sebagai penghalang fisik selama hubungan seksual, untuk mencegah sperma mencapai serviks, sehingga sperma tidak memperoleh akses menuju saluran reproduksi bagian atas dari wanita, sehingga tidak akan terjadi fertilisasi. Syarat penggunaan dari diafragma adalah, tidak adanya prolaps uteri yang berat, tonus vagina dalam keadaan baik, dan akseptor harus dapat meraba serviksnya. Bila digunakan dengan baik dan benar, serta dilakukan kombinasi dengan spermatisida, maka angka kegagalan dari diafragma adalah hanya 6-8% kehamilan. Kegagalan dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti motivasi yang kurang dari pasangan, pemasangan dan pelepasan yang tidak tepat, atau adanya cacat pada diafragma yang tidak diketahui. Yang menjadi nilai negatik dari penggunaan diafragma adalah penggunannya yang sulit, dapat menyebabkan terjadinya infeksi, dapat terjadinya sensitifitas

dari karet maupun spermisida, dan diperlukannya penyuluhan secara berkala oleh tenaga kesehatan. Dalam pemasangan diafragma, kebersihan tangan dari akseptro sangat menjadi penting untuk pencegahan terjadinya infeksi pada saluran genitalia wanita. Sebelum dilakukan pemasangan, pastikan terlebih dahulu keadaan diafragma, dan ukuran dari diafragma yang harus sesuai dengan jarak antara FORNIKS ANTERIOR DAN SIMFISIS PUBIS. Dahului pemasangan dengan pengolesan spermatisida, dan tentukan posisi pemasangan dari diafragma. Diafragma akan dipasang dengan bentuk kubah/ bola yang menghadap ke atas. Pinggir diafragma ditekan dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan, sehingga berbentuk panjang, kemudian tangan kiri membuka labia, diafragma dimasukkan kedalam vagina, ke arah bawah dan belakang mnuju FORNIKS. Setelah itu, tepi ANTERIOR didorong kebelakang simfisis pubis, lalu posisi serviks diperiks, dan pastikan diafragma sudah terpasang dengan tepat. Dalam pengaplikasian diafragma, saat wanita mengejan, tepi anterior dari diafragma tidak boleh MENONJOL atau TERLEPAS. Diafragma dipasang 10 menit sebelum berhubungan intim, dan jika pemasangan dilakukan telah > 6 jam, perlu ditambahkan spermisida ke dalam vagina. Spermisida dioleskan pada permukaan karet yang menghadap serviks dan dipinggir dari diafragma. Tidak boleh melakukan pencucian vagina saat dalam pengguaaan diafragma. Dalam mengeluarkan diafragma, tangan kiri akan bertindak untuk membuka labia, lalu dengan menggunakan tangan kanan, masukkan ibu jari dan telunjuk dengan menyusuri belakang vagina sejauh mungkin, kemudian tekan diafragma. Dengan menggait pinggir diafragma dibelakang simfisis, diafragma ditarik ke arah bawah dan dikeluarkan.

SPERMISIDA Merupakan SUATU ZAT atau BAHAN KIMIA YANG DAPAT MEMATIKAN DAN MENGHENTIKAN GERAK atau MELUMPUHKAN SPERMATOZOA DALAM VAGINA, sehingga TIDAK TERJADI PEMBUAHAN. Gerakan-gerakan senggama akan mengubah spermisida menjadi BUSA yang akan MELIPUTI SERVIKS, sehingga secara MEKANIS akan MENUTUPI OSTIUM UTERI EKSTERNUM dan MENCEGAH MASUKNYA SPERMA ke kanalis servikalis. Spermisida akan dapat dipakai sebagai usaha tunggal untuk kontrasepsi, tetapi akan lebih efektif apabila dipakai bersamaan dengan diafragma atau pemakaian kondom pada suami. Spermatisida dapat berbentuk TABLET VAGINA, KRIM, JELLY, AEROSOL, atau TISSUE KB yang harus ditempatkan dalam vagina, sedekat mungkin dengan serviks. TABLET VAGINA. Tablet ini berbentuk CAIRAN PIL atau TABLET yang akan membentuk BUSA apabila kontak dengan mukosa vagina dengan bantuan gerakan-gerakan senggama. Sebelum digunakan, tablet harus dibasahi

dengan air bersih, dan masukkan tablet tersebut sedalam-dalamnya melalui vagina. Persetubuhan baru boleh dilaksanakan 5-15 menit setelahnya, tetapi jika telah 1 jam belum terlaksana, perlu ditambahkan 1 tablet lagi. Pasca senggama, vagina tidak boleh dibersihkan selama minimal 8 jam. KRIM dan JELLY. Merupakan bahan kimia yang mudah mencair pada suhu tubuh dan mudah menyebar ke seluruh liang vagina. Dibutuhkan alat untuk memasukkan krim atau jelly ke dalam vagina, yaitu APLIKATOR. Maka krim atau jelly akan ditempatkan di ujung aplikator. Pada penggunaan krim atau jelly, aplikator yang telah dibubuhi krim atau jelly dapat dimasukkan sedalamdalamnya ke dalam vagina. Pencucian terhadap vagina pasca persetubuhan hanya boleh dilakukan minimal 8 jam pasca senggama. AEROSOL. Dikemas dalam kaleng bersama dengan aplikatornya. Cara pemakaian dan prinsip pemakaian sama, hanya berbeda wujud dari obatnya. Penggunaan spermisida dengan preparat kream, jelly, maupun aerosol memiliki resiko untuk terjadinya reaksi alergi dan iritasi pada saluran genitalia wanita. TISSUE KB, merupakan alat kontrasepsi wanita yang digunakan dalam vagina sebelum bersenggama yang berbentuk KERTAS TIPIS DAN MENGANDUNG OBAT SPERMATISIDA. Tissue ini mengandung ALKIL FENOKSI POLITOKSI ETHANOL yang bekerja sebagai spermatisida, yang umumnya akan menyebabkan kematian pada sperma setelah 2 jam pasca senggama. Memiliki efektifitas selama 4 jam dalam vagina setelah senggama. Diutamakan untuk digunakan pada masa subur dan dianjurkan pada pasangan yang baru menikah dan ingin menunda kehamilan. Efek samping yang dapat timbul dari tissue ini adalah gatal2, perubahan siklus menstruasi, hipersekresi vagina, dan iritasi dinding vagina. B. Metode Kontrasepsi Efektif Merupakan metode yang dalam penggunaannya mempunyai efektifitas atau tingkat kelangsungan pemakaian yang tinggi, serta angka kegagalan yang rendah, bila dibandingkan dengan metode kontrasepsi sederhana. Untuk metode ini, terdiri dari PIL KB, SUNTIK KB, DAN IMPLAN KB (HORMONAL) SERTA AKDR/IUD. KONTRASEPSI HORMONAL Semua obat/alat yang digunakan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang mengandung hormon atau turunan dari estrogen dan atau progesteron, dimana pada dasarnya, estrogen dan progesteron dihasilkan oleh ovarium dibawah pengaruh SSP untuk terjadinya ovulasi dan pertumbuhan endometrium secara fisiologis. Cara Kerja Hormon Estrogen o Mencegah terjadinya Ovulasi o Mengambat terjadinya implantasi

o Memperkecil kemungkinan untuk terjadinya fertilisasi dengan mempercepat perjalanan ovum o Mempercepat LUTEOLISIS Proses degenerasi corpus luteum Efek Samping Estrogen o Mual o Edema atau bengkak, akibat efek menarik cairan Gemuk cairan o Hipertensi o Deposisi lemak berlebih o Penekanan LAKTASI o Keputihan Cara Kerja Progesteron o Lendir cervix yang lebih kental untuk menghambat penetrasi dari spermatozoa menuju uterus o Menghambat kapasitasi atau aktivasi sperma o Hambat perjalanan ovum o Hambat Implantasi o Cegah terjadinya ovulasi Efek samping progesteron o Nafsu Makan meningkat o Berat badan meningkat o Libido menurun o Jerawat dan kerontokan rambut (alopesia) o Haid dengan siklus yang lebih cepat Preparat Kontrasepsi hormonal sebagai metode kontrasepsi EFEKTIF o PIL KB o SUNTIKAN KB o IMPLAN KB

PIL KB Merupakan Cara kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk PIL atau tablet yang berisi gabungan hormon estrogen dan progesteron, maupun progesteron saja. Efektifitas dari metode ini sangat tinggi, apabila kedisiplinan pemakai tinggi. Jenis2 Tablet o TABLET dosis tinggi Merupakan tablet kombinasi yang mengandung 50-150mcg Estrogen dan 1-10mcg Progesteron. Contoh dari tablet golongan ini adalah Tablet KB noriday dan ovostat. o PIL dosis rendah Merupakan PIL kombinasi yang mengandung 3050mcg estrogen dan <1mcg progesteron. Contoh dari pil golongan ini adalah PIL KB Microgynon 30 dan Marvelon. o PIL Mini Pil yang hanya mengandung <1mg PROGESTERON. Merupakan kontrasepsi progestin. Contoh dari pil golongan ini adalah KB Exluton.

Cara kerja o Menekan Ovulasi yang akan mencegah lepasnya sel telur wanita dari indung telur o Mengendalikan lendir cerviks menjadi lebih kental, sehingga sperma akan sukar menembus hingga uterus o Menipiskan lapisan endometrium untuk mempersulit terjadinya implantasi Cara menggunakan o Konsumsi Pil sesuai dengan panah pada kemasan pil pada setiap harinya diwaktu yang sama o Ikuti petunjuk pengkonsumsian PIL KB. Terdapat pil KB yang harus dikonsumsi pada hari pertama haid (28 PIL) atau dikonsumsi pada hari ke lima haid (21 PIL) o Untuk progestin, digunakan pada ibu-ibu menyusui, agar ASI tidak mengalami penurunan produksi. o Jika lupa mengkonsumsi pil, konsumsilah 2 pil sehari hingga saatnya pil tersebut dikonsumsi secara benar. Indikasi o Siklus haid tidak teratur o Usia subur o Telah mempunyai anak (mengatur kehamilan) atau belum mempunyai anak (menunda kehamilan) o Anemia karena haid berlebihan o Nyeri haid yang hebat Kontra indikasi o Hamil dan ASI Eksklusif, KECUALI untuk konsumsi pil mini (progestin) Menyebabkan ASI kering o Riwayat Penyakit jantung, stroke, hipertensi, dan DM o Cancer Payudara/riwayat keganasan o Perdarahan pervaginam o Perokok dan usia >35 tahun Keuntungan o Reversibilitas tinggi o Mengurangi rasa nyeri saat menstruasi o Mencegah terjadinya anemia defisiensi besi akibat haid o Mengurangi resiko CA Ovarium o Mengurangi kemungkinan infeksi panggul dan kehamilan ektopik o Tidak mengganggu hubungan seksual o Dapat dikonsumsi untuk ibu hamil dan menyusui (PIL MINI) Kerugian o Memerlukan kedisiplinan tingkat tinggi pada pemakai o Dapat mengurangi ASI pada pil yang mengandung ESTROGEN

o Resiko klamidia meningkat karena sekresi lendir cerviks meningkat dan kelembaban meningkat. o Nyeri payudara o Berhenti haid o Mual o Hipertensi dan takhikardi o Usia > 35 tahun Mempengaruhi keseimbangan metabolisme tubuh. Efek samping o Perdarahan pervaginam (spotting) o Hipertensi o Perubahan berat badan timbul dari efek samping obat o Kloasma Hiperpigmentasi berwarna coklat pada dahi dan pipi o ASI Berkurang Terjadi akibat konsumsi kontrasepsi hormonal yang mengandung estrogen. o Alopesia (rambut rontok) sementara o Varises Pelebaran pembuluh darah vena Gunakan perban pada tungkai dan bila istirahat/ tidur, dapat dilakukan peninggian tungkai. o Perubahan Libido Dapat dicetuskan oleh faktor psikis dan hanya sementara. o Depresi o Pusing dan sakit kepala

SUNTIKAN KB Terdapat 2 jenis kntrasepsi suntikan KB, yaitu Suntikan yang hanya mengandung progesteron dan suntikan kombinasi. Progesteron : 1. Depo Provero 150mg 2. Depo Progestin 150 mg 3. Depo Geston 150 mg 4. Noristerat 200 mg Kombinasi 25mg Medroxy progesteron acetat + 5mg estradiol (CYCLOFEM) ATAU 5mg Norentindron Enantat dan 5mg Estradio Valerat. Cara Kerja o Menekan Ovulasi yang akan mencegah lepasnya sel telur wanita dari indung telur o Mengendalikan lendir cerviks menjadi lebih kental, sehingga sperma akan sukar menembus hingga uterus o Menipiskan lapisan endometrium untuk mempersulit terjadinya implantasi Keuntungan suntik KB o Praktis, efektif dan aman o Dapat menurunkan kemungkinan anemia Kontra indikasi KOMBINASI

o Menyusui < 6 bulan o Usia > 35 tahun dan perokok o Riwayat penyakit jantung, hipertensi, stroke o Perdarahan pervaginam o Ca mammae Kontra indikasi PROGESTERON (Progestin) o Diduga HAMIL o Perdarahan pervaginam o Ca payudara o Riwayat penyakit sebelumnya CVD, PJK, Hipertensi o Konsumsi Fenitoin, rifampicin dan barbiturat sama-sama dimetabolisme dengan CYP 3A4 pada hepar, dapat terjadi kegagalan. Cara penyuntikan o Kombinasi : Diberikan setiap 4 minggu secara Intra Muskular. Pemberian dilakukan pada 7 hari pertama haid ATAU 6 bulan pasca persalinan o DEPO Provera, progestin, geston : Disuntikan secara IM setiap 12 minggu, dengan kelonggaran batas suntik +/- 1 minggu. Diberikan pada hari 1-7 haid o Noristerat : Bagi pengguna pertama, disuntikan secara IM setiap 8 minggu untuk 4 kali suntikan pertama dan untuk suntikan ke 5 dan selanjutnya, dilakukan penyuntikan setiap 12 minggu. Efek samping o Gangguan Haid Amenorea : Tidak datangnya haid selama mengikuti suntikan KB selama 3 bulan berturut2 atau lebih ; Spotting : Bercak perdarahan diluar haid yang terjadi selama menggunakan KB Metrorhagia : Perdarahan berlebihan diluar siklus menstruasi Menometrorhagia : datangnya darah haid yang berlebihan dalam siklus haid * Atasi dengan pemberian preparat estrogen Lynoral 2X1 hingga perdarahan berhenti DAN Tappering off 1X1 o Depresi Lesu dan tidak bersemangat o Keputihan Cairang putih yang keluar dari vagina dan terasa mengganggu. Tidak berbahaya jika tidak gatal, tidak berbau dan tidak panas o Jerawat o Perubahan Libido Dapat terjadi peningkatan dan penurunan libido (subjektif) o Perubahan berat badan o Pusing dan sakit kepala o Hematoma Terjadi pada daerah sekitar suntikan akibat perdarahan dibawah kulitr

o Infeksi atau Abses Dapat terjadi akibat pemakaian jarum suntik yang tidak steril. Dapat mengakibatkan bengkak didaerah suntikan dan demam. IMPLAN KB (ALAT KONTRASEPSI DALAM KULIT) Merupakan alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit. Preparat yang terdapat saat ini adalah NORPLANT, IMPLANON, dan INDOPLANT. Implant dapat terdiri dari 6 batang, 4batang, dan1 batang kapsul silastik. Setiap batang berisi LEVONORGESTREL sebanyak 36mg (NORPLANT), KETODESOGESTREL sebanyak 68 mg (IMPLANON), dan LEVONOGESTREL sebanyak 75 mg (INDOPLANT) Cara Kerja o Dengan disusupkannya kapsul silastik implant dibawah kulit, maka setiap hari akan dilepaskan secara tetap sejumlah LEVONOGESTREL atau KETODESOGESTREL ke dalam darah melalui proses DIFUSI dari kapsul yang terbuat dari bahan silasik. Setiap satu sel implant terdiri dari 2, 4, 6 kapsul silastik yang dapat bekerja secara efektif selama 5 tahun untuk NORPLANT dan 3 tahun untuk IMPLANON & INDOPLANT. o Dengan dilepaskannya hormon levonogestrel atau ketodesogestrel secara konstan dan kontinue, maka cara kerja dari implant dalam mencegah kehamilan pada dasarnya adalah sama dengan pil KB atau suntik KB dengan komposisi hormon progesteron, dengan mekanisme dasar : 1. Menghambat terjadinya ovulasi 2. Menyebabkan endometrium tidak siap untuk nidasi 3. Mempertebal lendir serviks 4. Menipiskan lapisan endometrium Keuntungan o Tidak menekan produksi ASI o Praktis dan efektif o Tidak ada faktor lupa o Masa pakai JANGKA PANJANG Kerugian o Implant harus dipasang dan diangkat oleh petugas kesehatan yang terlatih o Implant lebih mahal o Sering mengubah pola HAID o Tidak dapat menghentikan sendiri dalam pemakaiannya o Susuk dapat terlihat dibawah kulit ESTETIKA Cara Pemasangan o Pemasangan pada waktu mesntruasi atau 1-2 hari setelah mesntruasi

o Pemasangan dilakukan pada lengan KIRI karena merupakan anggota ekstremitas yang jarang bergerak dan sirkulasi cepat menuju jantung. o Letakkan lengan kiri lurus setinggi pundak, lalu tentukan daerah pemasangan sekitar 8-10cm diatas lipat siku. Gunakan anestesi lokal pada tempat insersi dengan arah seperti kipas, sepanjang 4-4,5cm. Lakukan sayatan melintang selebar 2-3mm ditempat suntikan, agar luka tidak dijahit dan mengurangi kemungknan infeksi. o Tusukkan trokar melalui sayatan ke bawah kulit, dan tusukkan trokar hingga tanda batas dekat pangkal trokar. Keluarkan batang trokar melalui sayatan bawah kulit dengan pinset anatomis, lalu dorong perlahan dengan batang pendorong sampai ada batas tahanan. Pertahankan posisi batang pendorong, lalu tarik trokar perlahan sepanjang pendorong sampai batas paling ujung. Implan akan terlepas dari trokar kalau ada tanda batas paling ujung terlihat luka insisi dan pastikan hal tersebut dengan meraba ujung trokar dengan jari. o Raba implant yang terpasang dengan telunjuk kiri, dan dorong trokar pada posisi sebelahnya tanpa terlebih dahulu mengeluarkan ujungujungnya dari sayatan. PASANG SELURUH IMPLANT DENGAN POSISI MENYERUPAI KIPAS, sehingga keenam kapsul terpasang dengan baik. Cara Pencabutan o Tentukan posisi dari implant dengan palpasi. Setelah ditemukan posisi, lakukan strelisasi dan anestesi lokal pada tempat insersi dengan bentuk seperti kipas. o Lakukan sayatan 2-3 mili agar luka tidak perlu dijait dan mengurangi kemungkinan infeksi. Jika implant telah ditemukan tekan implant dengan jari ke arah sayatan dan setelah ujung implant tampak jepit implant dengan pen lalu tarik keluar. Bersihkan implant dari jaringan yang menutupi ujungnya dengan skatel. o Jepit ujung implant yang sudah bersih tadi dengan pen yang lain lalu tarik keluar implant perlahan sampai terlepas seluruhnya. Lakukan hal yang sama sampai seluruh implant keluar. Rapatkan luka dan tutup dengan plester Kontraindikasi o Hamil atau diduga hamil o Perdarahan melalui vagina yang tidak diketahui sebabnya o Tumor atau cancer o Riwayat penyakit jantung, hipertensi, stroke, diabet, dan kelainan haid Efek samping o Gangguan haid o Depresi o Keputihan o Jerawat o Perubahan libido dengan subyektif

o Perubahan berat badan o Hematoma o infeksi Komplikasi o Infeksi dan abses pada daerah implant

ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (IUD) Merupakan alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam uterus dengan bentuk dan bahan yang bermacam-macam. Terdiri dari plastik, ada pula yang dililit dengan tembaga atau pun yang dililit dengan tembaga bercampur perak. Selain itu ada pula yang dibatangnya diberikan hormon progesteron atau biasa disebut mirena. Pada mirena progesteron yang digunakan adalah levonogestrat yang merupakan progesteron lokalis dalam endometrium yang bersifat lepas lambat. Jenis-jenis IUD 1. Generasi pertama: LIPPESLOOP berbentuk spiral dan terbuat dari plastik 2. Generasi kedua: CuT200B, Cu7, dan MLCu250. CuT200B berbentuk B dililit tembaga. Cu7 berbentuk angka 7 dililit tembaga. MLCu250 berbentuk lingkaran elips 3/3 dengan dinding bergerigi yang dililit tembaga. 3. Generasi ketiga: CuT380A, MICu375, dan NovaTCu200A. CuT380A berbentuk huruf T dengan lilitan tembaga yang lebih banyak dan dikombinasikan dengan perak begitu juga dengan MICu375. NovaTCu200A berbentuk batang dengan lengan yang dililit tembaga. 4. Generasi keempat: Ginefix terdiri dari benang polipropilen monofilamen dengan 6 butir tembaga. Cara kerja IUD 1. Menimbulkan reaksi mikroinfeksi yang menyebabkan terjadinya penumpukan sel darah putih yang nantinya akan melarutkan blastokista. 2. Lilitan logam akan menyebabkan reaksi anti vertilitas 3. Menurunkan motilitas sperma dalam melalui cavum uterus 4. Mengentalkan mokus serviks 5. Merubah jalur endometrial 6. Meninggikan tegangan saluran telur sehingga mobilisasi zigot lebih cepat sehingga waktu blastokista sampai ke uterus, endometrium belum siap untuk menerimasi midasi. Efektivitas AKDR memiliki angka kegagalan hanya 1%. Untuk LIPESLOOP dapat digunakan selama diinginkan sedangkan untuk IUD generasi kedua hanya dapat digunakan selama 3-4 tahun dan untuk IUD generasi ketiga dapat digunakan hingga 10 tahun Keuntungan 1. Praktis 2. Ekonomis 3. Mudah dikontrol 4. Aman untuk jangka panjang

5. Kembalinya masa kesuburan cukup tinggi Indikasi pemasangan IUD sangat diprioritaskan pada ibu dalam fase menjalankan kehamilan dan mengakhiri kesuburan. Kontraindikasi 1. Kehamilan 2. Perdarahan 3. Peradangan 4. Kecurigaan cancer 5. Tumor jinak rahim 6. Kelainan bawaan pada rahim Cara pemasangan 1. Pasien dalam posisi litotomi untuk mempermudah pemasangan. Lalu lakukan pemeriksaan untuk menentukan besar dan bentuk rahim. 2. Masukan spekulum dengan tujuan untuk bersihkan dinding vagina dan serviks dengan kapas disinfektan dan lakukan inspeksi terhadap keadaan anatomis dari alat genitalia tersebut 3. Lanjutkan dengan permbersihan portio. Kaitkan dengan bibir depan portio seviks dengan tentakulum dari IUD tepat pada sebelah atas portio. Masukkan sonde sesuai arah rahim untuk menentukan dalamnya rahim. 4. Siapkan IUD steril lalu masukkan IUD sesuai arah dan dalamnya sonde. Terdapat 2 cara dalam melepaskan IUD dari tabungnya, pertama dengan mendorong flunger (IUD tipe 1) dan kedua dengan menahan flunger penahan lalu menarik tabung kearah pemasang IUD (IUD generasi kedua dan tiga) 5. Potong benang secara lege artis agar tidak menyebabkan sakit pada waktu senggama. Pengeluaran IUD 1. Pengeluaran IUD dapat dilakukan kapan saja tapi sebaiknya pada saat menstruasi. Lakukan pelepasan dengan steril. Dahulukan dengan pembersihan dinding dan bibir vagina serta ostium uteri eksternum dengan menggunakan kapas yang telah dibasahi dengan cairan antiseptik. Dahului dengan penentuan ukuran bentuk dan posisi uterus, lalu masukkan spekulum ke dalam vagina dan posisikan sedemikian rupa hingga OUE terlihat dengan baik. Lanjutkan dengan pembersihan serviks lalu lanjutkan dengan identifikasi benang AKDR. Jika benang terlihat jepit benang dengan forsep lalu tarik benang IUD perlahan ke arah bawah hingga IUD keluar dari vagina. Jika terasa penahanan coba lakukan manuver dengan menarik secara halus benang tersebut. Jika benang tidak ditemukan masukkan sonde sesuai dengan posisi uterus pada pemeriksaan dalam lalu ukur bagian dalam rahim dan putar gagang sonde 360 derajat untuk mencari IUD. Jika telah ditemukan tarik keluar dengan menggunakan IUD removal atau pengait IUD. Jika IUD telah keluar, lepaskan spekulum lalu lakukan disinfeksi pada daerah vagina untuk mecegah inveksi. Komplikasi 1. Perasaan Mulas dan adanya bercak perdarahan setelah pencabutan

2. Nyeri terjadi pada saat pemasangan IUD,saat haid, saat koitus. Nyeri dapat terjadi akibat kontraksi berlebihan rahim dan bersifat sementara. Lakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan inspekulo dengan pemeriksaan dalam untuk melihat apakah adanya tanda infeksi atau pun peradangan. 3. Tidak mengalami menstruasi 4. Keputihan 5. Ekspulsi terasa adanya IUD dalam vagina yang menyebabkan rasa tidak enak pada pasien 6. Infeksi 7. Translokasi pindahnya IUD dari tempat seharusnya C. Metode Kontrasepsi MANTAP Kontrasepsi mantap adalah metode kontrasepsi dengan tindakan pembedahan atau setiap tindakan pembedahan pada saluran reproduksi wanita maupun pria yang mengakibatkan yang bersangkutan tidak akan memperoleh keturunan lagi. Pada wanita TUBEKTOMI dan pada PRIA VASEKTOMI. VASEKTOMI Merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk menghalangi keluarnya sperma dengan cara MENGIKAT DAN MEMOTONG VAS DEFFERENT sehingga sel sperma tidak dapat keluar saat bersenggama. KEUNTUNGAN o Tidak ada mortalitas o Pasien tidak perlu rawat INAP o EFEKTIF dan dapat diperiksa untuk tingkat efektifitasnya pada LAB. o TIDAK MENGGANGGU HUBUNGAN SEKS SELANJUTNYA o ANESTESI LOKAL KERUGIAN o Tindakan Pembedahan o Adanya kemungkinan PERDARAHAN dan INFEKSI o Tidak dapat dilakukan pada seseorang yang masih menginginkan anak o Harus menunggu hasil LAB yang menunjang keberadaan sperma yang (-) dalam ejakulat untuk kepastian keberhasilan. INDIKASI o Mendapat persetujuan ISTRI o USIA CALON > 30 Tahun o Mengetahui SEBAB vasektomi o Pasangan suami istri telah mempunyai minimal 2 anak dan yang paling kecil harus berusia minimal > 2 tahun. KONTRAINDIKASI o Perdangan kulit ataupun infeksi pada scrotum o Epididimis atau orchitis

o DM tidak terkontrol o Kelainan pembekuan darah Komplikasi o Perdarahan Setiap ditemukannya pembengkakan pada scrotum, harus dapat dicurigai sebagai tanda terjadinya perdarahan. Segera pergi ke dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut apabila hal tersebut terjadi o Hematoma Biasa terjadi pada daerah SCROTUM jika diberi beban terlalu berat seperti naik sepeda, duduk terlalu lama, atau naik kendaraan di jalan yang rusak. Disarankan untuk menggunakan celana khusus pasca operasi untuk menyangga scrotum o Infeksi Bisa terjadi pada kulit, epididimis atau orchitis. o Granuloma sperma Dapat terjadi 1-2 minggu setelah vasektomi dengan dirasakannya BENJOLAN KENYAL dan AGAK NYERI yang terjadi pada ujung proksimal VAS Defferent atau pada EPIDIDIMIS. o Kegagalan masih dapat dijumpai Vasektomi dapat dianggap gagal, apabila : 5. Pada analisa sperma setelah 3 bulan pasca vasektomi ATAU 10-15 kali ejakulasi, masih dijumpai SPERMATOZOA dalam ejakulat 6. Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya AZOSPERMA 7. Istri atau pasangan HAMIL TUBEKTOMI Merupakan salah satu bentuk kontrasepsi untuk mencegah keluarnya OVUM dengan cara tindakan MENGIKAT dan atau MEMOTONG pada saluran keluar, yaitu TUBA FALOPII. Dengan demikian, ovum matang tidak akan bertemu dengan sperma, karena adanya hambatan pada TUBA. Tubektomi bisa dilakukan kapan saja asalkan wanita tersebut tidak sedang hamil, seperti pada saat SETELAH MELAHIRKAN atau ABORTUS, SEDANG HAID, GANTI CARA KONTRASEPSI dari pil, suntik, maupun IUD. Beberapa Teknik tubektomi, yaitu TEKNIK LAPAROSKOPIK, KULDOSKOPIK, KOLPOTOMI POSTERIOR, DAN MINILAPAROTOMI atau lebih dikenal dengan sterilisasi MINILAP karena sayatannya pada dinding perut lebih kecil. Waktu Tubektomi o Pasca Persalinan 48 Jam pasca persalinan o Pasca Abortus Dapat dilakukan pada hari yang sama dengan evakuasi rahim, atau dilakukan esok harinya untuk tubektomi

o Dalam masa interval atau tidak hamil Dilakukan dalam 2 minggu pertama dari siklus haid ataupun setelahnya. Keuntungan Tubektomi o Teknik Mudah o Dapat dilakukan di RS atau puskesmas o Dapat dilakukan kapan saja (pasca persalinan, pasa abortus, dan dalam masa interval) o Cukup dengan anestesi lokal o Keberhasilan hampir 100% o Waktu singkat, biaya murah dan tanpa perlu rawat INAP o Waktu pemulihan cepat. Komplikasi Tubektomi o Perdarahan Tuba o Perdarahan karena perlukaan PD besar o Perforasi usus o Emboli o Perforasi Rahim Hal yang perlu diperhatikan dalam tindakan o Tanda vital o Rasa Nyeri yang timbul o Perdarahan dari luka dan vagina o Suhu tubuh