Anda di halaman 1dari 18

HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

PENGERTIAN Schmitthoff mendefinisikan hukum perdagangan internasional sebagai berikut : ... the body of rules governing commercial relationship of a private law nature involving different nations. Dari definisi tersebut dapat tampak unsur-unsur berikut : 1. Hukum perdagangan internasional adalah sekumpulan aturan yang mengatur hubungan-hubungan komersial yang sifatnya hukum perdata. 2. Aturan-aturan hukum tersebut mengatur transaksi-transaksi yang berbeda negara.

ALASAN MELAKUKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL a. b. c. Kemampuan suatu negara dalam memproduksi barang atau jasa terbatas, Adanya manfaat yang diperoleh dari adanya perbedaan harga, Adanya perbedaan faktor produksi yang dimiliki masing-masing negara, misal Indonesia memiliki banyak sumber minyak bumi tetapi memerlukan tenaga ahli yang handal untuk mengambilnya, d. e. f. Perbedaan sosial budaya, Perbedaan selera masyarakat, Adanya sarana komunikasi dan transportasi.

PRINSIP DASAR HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL 1. Prinsip Dasar Kebebasan Berkontrak Kebebasan berkontrak, sebenarnya adalah prinsip universal dalam hukum perdagangan internasional. Setiap sistem hukum pada bidang hukum dagang mengakui kebebasan para pihak ini untuk membuat kontrak-kontrak dagang (internasional). Kebebasan tersebut mencakup bidang hukum yang cukup luas. Ia meliputi kebebasan untuk melakukan jenis-jenis kontrak yang para pihak sepakati. Ia termasuk pula kebebasan untuk memilih forum penyelesaian sengketa

dagangnya. Ia mencakup pula kebebasan untuk memilih hukum yang akan berlaku terhadap kontrak, dll. Kebebasan ini tidak boleh bertentangan dengan UU, kepentingan umum, kesusilaan, kesopanan, dll sesuai masing-masing sistem hukum. 2. Prinsip Dasar Pacta Sunt Servanda Pacta sunt servanda adalah prinsip yang mensyaratkan bahwa kesepakatan atau kontrak yang telah ditandatangani harus dilaksanakan dengan sebaikbaiknya (dengan itikad baik). Prinsip ini pun sifatnya universal. Setiap sistem hukum di dunia menghormati prinsip ini. 3. Prinsip Dasar Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase Arbitrase dalam perdagangan internasional adalah forum penyelesaian sengketa yang semakin umum digunakan. Klausul arbitrase sudah semakin banyak dicantumkan dalam kontrak-kontrak dagang.Oleh karena itulah, prinsip ketiga ini memang relevan. 4. Prinsip Dasar Kebebasan Komunikasi (Navigasi) Komunikasi atau navigasi adalah kebebasan para pihak untuk

berkomunikasi untuk keperluan dagang dengan siapa pun juga dengan melalui berbagai sarana navigasi atau komunikasi, baik darat, laut, udara, atau melalui sarana elektronik. Kebebasan ini sangat esensial bagi terlaksananya perdagangan internasional. Aturan-aturan hukum (internasional) memfasilitasi kebebasan ini.

TUJUAN HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL Mencapai perdagangan internasional yang stabil dan menghindari kebijakan dan praktik perdagangan nasional yang merugikan negara lainnya, Meningkatkan volume perdagangan dunia dengan menciptakan

perdagangan yang menguntungkan pembangunan ekonomi semua negara, Meningkatkan standar hidup manusia, Meningkatkan lapangan tenaga kerja,

Mengembangkan Meningkatkan

sistem

perdagangan

multilateral

yang

akan

mengimplementasikan kebijakan perdagangan terbuka dan adil, pemanfaatan sumber-sumber kekayaan dunia,

meningkatkan produk dan transaksi jual beli barang.

HAMBATAN HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL Perbedaan mata uang antar negara Kualitas sumber daya yang rendah Pembayaran antar negara sulit dan risikonya besar Adanya kebijaksanaan impor dari suatu negara Terjadinya perang Adanya organisasi-organisasi ekonomi regional

SUBJEK HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL Yang dimaksud subjek hukum disini adalah: 1. Para pelaku dalam perdagangan internasional yang mampu

mempertahankan hak dan kewajibannya di hadapan badan peradilan, dan 2. Para pelaku dalam perdagangan internasional yang mampu dan berwenang untuk merumuskan aturan-aturan hukum di bidang hukum perdagangan internasional. Subjek hukum dalam hukum perdagangan internasional, meliputi : 1. Negara Negara merupakan subjek hukum terpenting di dalam hukum perdagangan internasional (dikenal sebagai subjek hukum yang paling sempurna). Pertama, negara adalah satu-satunya subjek hukum yang memiliki kedaulatan. Kedua, negara juga berperan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam pembentukan organisasi-organisasi (perdagangan) internasional di dunia, misalnya WTO, UNCTAD, UNCITRAL. Ketiga, negara juga bersama-sama dengan negara lain mengadakan perjanjian internasional guna mengatur transaksi perdagangan di antara mereka, misalnya perjanjian penghindaran pajak berganda, perjanjian penanaman modal bilateral. Keempat, negara

berperan juga sebagai subjek hukum dalam posisinya sebagai pedagang. Dalam posisinya ini, negara adalah salah satu pelaku utama dalam perdagangan internasional. Ketika negara bertransaksi dagang dengan negara lain,

kemungkinan hukum yang akan mengaturnya adalah hukum internasional. Ketika negara bertransaksi dengan subjek hukum lainnya, hukum yang mengaturnya adalah hukum nasional (dari salah satu pihak). 2. Organisasi Internasional
Organisasi internasional dibentuk oleh dua atau lebih negara guna mencapai

tujuan bersama. Untuk mendirikan suatu organisasi internasional, perlu dibentuk suatu dasar hukum yang biasanya adalah perjanjian internasional. Dalam perjanjian inilah termuat tujuan, fungsi dan struktur organisasi perdagangan internasional yang bersangkutan. 3. Individu
Individu atau perusahaan adalah pelaku utama dalam perdagangan

internasional. Individulah yang pada akhirnya akan terikat oleh aturan-aturan hukum perdagangan internasional. Biasanya, individu dipandang sebagai subjek hukum dengan sifat hukum perdata (legal persons of a private law nature). Individu hanya terikat oleh ketentuan-ketentuan hukum nasional yang negaranya buat, individu tidak tunduk pada aturan hukum perdagangan internasional. Oleh karena itu, negara jarang sekali membuat kesepakatan yang mengikat individu. Umumnya, kesepakatan negara-negara hanya mengikat mereka. Apabila individu merasa haknya terganggu atau dirugikan, yang dapat dilakukan adalah meminta bantuan negaranya untuk memajukan klaim terhadap negara yang merugikannya ke hadapan badan peradilan internasional. Hanya dalam keadaan tertentu saja individu dapat mempertahankan haknya berdasarkan suatu perjanjian internasional, misalnya Konvensi ICSID. 4. Bank
Faktor-faktor yang membuat bank penting dalam hukum perdagangan

internasional, adalah :

a.

Peran bank dalam perdagangan internasional sebagai pemain kunci. Tanpa bank, perdagangan internasional mungkin tidak dapat berjalan,

b. c.

Bank memfasilitasi pembayaran antara penjual dan pembeli, Bank berperan penting dalam menciptakan aturan-aturan hukum perdagangan intenasional khususnya dalam mengembangkan hukum perbankan internasional.

SUMBER HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL 1. Perjanjian Internasional Perjanjian internasional terbagi ke dalam tiga bentuk, yaitu : Perjanjian multilateral, adalah kesepakatan tertulis yang mengikat lebih dari dua pihak (Negara) dan tunduk pada aturan hukum internasional. Perjanjian regional, adalah kesepakatan-kesepakatan di bidang

perdagangan internasional yang dibuat oleh negara-negara yang berada dalam suatu regional tertentu. Di Asia Tenggara misalnya, pembentukan AFTA (Asean Free Trade Area) yang dibentuk pada saat KTT di Singapura pada tahun 1992. Perjanjian bilateral, adalah perjanjian yang hanya mengikat dua subjek hukum internasional (negara atau organisasi internasional). Misalnya, perjanjian penghindaran pajak berganda. * Perjanjian Internasional (International Convention) Merupakan kesepakatan yang telah, sedang atau akan diratifikasi oleh banyak negara di dunia. Perjanjian Internasional ini berlaku bagi negara yang menjadi peserta konvensi sehingga menjadi bagian dari hukum nasionalnya. Tetapi kadang kala ada negara yang tidak ikut dalam perjanjian Internasional, sehingga secara diam-diam negara tersebut tunduk kepada perjanjian Internasional tersebut. 2. Hukum Kebiasaan Internasional Merupakan sumber hukum yang dapat dianggap sebagai sumber hukum yang pertama lahir dalam hukum perdagangan internasional. Hukum perdagangan

internasional justru lahir karena adanya praktik-praktik para pedagang yang dilakukan berulang-ulang sehingga kebiasaan yang berulang-ulang dengan waktu yang relatif lama menjadi mengikat. * Hukum Kebiasaan ( Custom Law ) Disebut juga Lex mercatoria atau hukum para pedagang (the law of the merchant), Suatu kebiasaan tidak selamanya menjadi mengikat dan karenanya menjadi hukum, Suatu praktik kebiasaan untuk menjadi mengikat harus memenuhi syaratsyarat berikut : a. Suatu praktik berulang-ulang dilakukan dan diikuti oleh lebih dari dua pihak (praktik negara), b. 3. Praktik ini diterima sebagai mengikat (opnio iuris sive necessitatis)

Prinsip Hukum Umum Sumber hukum ini akan mulai berfungsi ketika hukum perjanjian dan hukum kebiasaan internasional tidak memberi jawaban atas suatu persoalan. Beberapa contoh dari prinsip-prinsip hukum umum adalah prinsip itikad baik, pacta sunt servanda. *Prinsip-Prinsip Hukum Umum ( General Contract Law ) Dalam KUHPerdata juga merupakan salah satu dasar hukum bagi suatu kontrak yang bersifat umum (general contract law), artinya banyak ketentuan Buku III KUHPerdata yang mengatur secara umum yaitu berlaku bagi seluruh macam perjanjian. Apabila terhadap pedagang internasional berlaku hukum Indonesia.

4.

Putusan-Putusan Pengadilan (Yurispridensi ) Terkadang apa yang terdapat dalam praktek dagang sehari-hari kemudian dikukuhkan dalam suatu yurisprudensi yakni diputuskan oleh Pengadilan yang kemudian keputusan tersebut memperoleh kekuatan hukum tetap. Sehingga dapat dijadikan sebagai dasar hukum dalam perdagangan internasional, terutama dalam hal yang belum diatur dalam undang-undang atau yang memerlukan penafsiran-penafsiran terhadap suatu Undang-undang.

5.

Kontrak Sumber hukum perdagangan internasional yang sebenarnya merupakan sumber utama dan terpenting adalah kontrak yang dibuat oleh para pedagang sendiri. Kontrak tersebut adalah undang-undang bagi para pihak yang membuatnya.

6.

Hukum Nasional Peran hukum nasional ini antara lain akan mulai lahir ketika timbul sengketa sebagai pelaksanaan dari kontrak. Dalam hal ini, pengadilan (badan arbitrase) pertama-tama akan melihat klausul pilihan hukum dalam kontrak untuk menentukan hukum yang akan digunakan untuk menyelesaikan sengketanya.

DAMPAK

PERDAGANGAN

INTERNASIONAL

TERHADAP

PEREKONOMIAN INDONESIA 1. DAMPAK POSITIF a. Saling membantu memenuhi kebutuhan antar negara Terjalinnya hubungan di antara negara-negara yang melakukan

perdagangan dapat memudahkan suatu negara memenuhi barang-barang kebutuhan yang belum mampu diproduksi sendiri. Mereka dapat saling membantu mengisi kekurangan dari setiap negara, sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi. b. Meningkatkan produktivitas usaha Dengan adanya perdagangan internasional, kemajuan teknologi yang digunakan dalam proses produksi akan meningkat. Meningkatnya teknologi yang lebih modern dapat meningkatkan produktivitas

perusahaan dalam menghasilkan barang-barang. c. Mengurangi pengangguran Perdagangan internasional dapat membuka kesempatan kerja baru, sehingga hal ini menjadi peluang bagi tenaga kerja baru untuk memasuki dunia kerja. Semakin banyak tenaga kerja yang digunakan oleh perusahaan, maka pengangguran dapat berkurang.

d. Menambah devisa bagi pendapatan negara Dalam kegiatan perdagangan internasional, setiap negara akan

memperoleh devisa. Semakin banyak barang yang dijual di negara lain, perolehan devisa bagi negara akan semakin banyak. 2. DAMPAK NEGATIF a. Adanya ketergantungan dengan negara-negara pengimpor Untuk memenuhi kebutuhan barang-barang yang tidak diproduksi dalam negeri, pemerintah akan mengimpor dari negara lain. Kegiatan mengimpor ini dapat mengakibatkan ketergantungan dengan negara pengimpor. b. Masyarakat menjadi konsumtif Banyaknya barang-barang impor yang masuk ke dalam negeri

menyebabkan semakin banyak barang yang ada di pasar baik dari jumlah, jenis, dan bentuknya. Akibatnya akan mendorong seseorang untuk lebih konsumtif, karena semakin banyak barang-barang yang dapat menjadi pilihan untuk dikonsumsi. c. Mematikan usaha-usaha kecil Perdagangan internasional dapat menimbulkan persaingan industri dengan negara-negara lain. Industri yang tidak mampu bersaing tentu akan mengalami kerugian, sehingga akan mematikan usaha produksinya. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan pengangguran.

KEBIJAKAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL Kebijakan yang diberlakukan pada perdagangan internasional, bertujuan untuk melindungi industri dalam negeri. Kebijakan untuk melindungi barang-barang dalam negeri dari persaingan barang-barang impor disebut proteksi. Proteksi dalam perdagangan internasional terdiri atas kebijakan : 1.Tarif Tarif adalah hambatan perdagangan berupa penetapan pajak atas barangbarang impor. Apabila suatu barang impor dikenakan tarif, maka harga jual barang tersebut di dalam negeri menjadi mahal. Hal ini menyebabkan

masyarakat enggan untuk membeli barang tersebut, sehingga barang-barang hasil produksi dalam negeri lebih banyak dinikmati oleh masyarakat. 2. Kuota Kuota adalah bentuk hambatan perdagangan yang menentukan jumlah maksimum suatu jenis barang yang dapat diimpor dalam suatu periode tertentu. Sama halnya tarif, pengaruh diberlakukannya kuota mengakibatkan harga-harga barang impor menjadi tinggi karena jumlah barangnya terbatas. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya pembatasan jumlah barang impor sehingga menyebabkan biaya rata-rata untuk masing-masing barang meningkat. Dengan demikian, diberlakukannya kuota dapat melindungi barang-barang dalam negeri dari persaingan barang luar negeri. 3. Larangan Impor Larangan impor adalah kebijakan pemerintah yang melarang masuknya barang-barang tertentu ke dalam negeri. Kebijakan larangan impor dilakukan untuk menghindari barang-barang yang dapat merugikan masyarakat. Misalnya melarang impor daging sapi yang mengandung penyakit Anthrax. 4. Subsidi Subsidi adalah kebijakan pemerintah dengan memberikan bantuan kepada produk dalam negeri. Subsidi yang dilakukan pemerintah dapat berupa keringanan pajak, pemberian fasilitas, pemberian kredit bank yang murah ataupun pemberian hadiah atau insentif dari pemerintah. Adanya subsidi, harga barang dalam negeri menjadi murah, sehingga barang-barang hasil produksi dalam negeri mampu bersaing dengan barang-barang impor. 5. Dumping Dumping adalah kebijakan yang dilakukan oleh suatu negara dengan cara menjual barang ke luar negeri lebih murah daripada dijual di dalam negeri.

METODE PEMBAYARAN Ada dua metode pembayaran, yaitu : 1. Non Letter of Credit : Advance Payment Advance Payment atau pembayaran dimuka dimana pembayaran dilakukan oleh pembeli/buyer kepada seller sebelum barang dikapalkan. Cara pembayaran seperti ini dapat terjadi apabila pasar

dikuasai oleh penjual (seller Market) atau penjual tidak yakin akan buyer atau Negara si buyer. Kelemahan dari jenis pembayaran ini barang tidak dikirim oleh seller atau kualitas barang tidak sesuai dengan yang diperjanjikan atau pengiriman barang terlambat atau barang yang dikirim tidak sesuai dengan perjanjiannya. Open Account Merupakan kebalikan dari Advance Payment, yaitu Eksportir mengirimkan barang beserta dokumen langsung kepada importer, dan selanjutnya menunggu importer melakukan pembayaran. Hal ini dapat terjadi apabila buyer memiliki posisi tawar yang tinggi. Kelemahan cara pembayaran ini adalah adanya ketidakpastian pembayaran seperti pembayaran terlambat atau melewati batas waktu pembayaran atau jumlah nominal yang dibayarkan tidak sesuai dengan perjanjian. Consignment Seller hanya menitipkan barang kepada buyer (buyer bukanlah pembeli akhir) dan pembayaran dilakukan oleh buyer apabila barang telah terjual. Kelemahan cara pembayaran seperti ini adalah tidak ada kepastian kapan pembayaran dilakukan. Collection Pembayaran dilakukan dengan cara seller mengirimkan dokumen kepada buyer dengan menggunakan jasa bank untuk menagih pembayaran, baik dengan menggunakan draft atau promissory note. Dalam hal ini seller meminta kepada banknya untuk menyerahkan dokumen kepada buyer atas dasar : Yang pertama adalah Documents against Payment (D/P). Dimana dokumen beserta draft dikirim kepada buyer dan pembayaran dilakukan oleh buyer pada saat buyer menerima dokumen. Yang kedua adalah Documents agains Acceptance (D/A). Dokumen dan draft dikirim kepada buyer dan pada saat buyer menerima

dokumen ia melakukan akseptasi sedangkan pembayaran dilakukan oleh buyer pada saat jatuh tempo. Kelemahan dari jenis pembayaran ini adalah kurang pastinya pembayaran dan potensi kerugian apabila buyer menolak menebus dokumen. Counter Trade Adalah pembayaran dilakukan dengan cara tukar menukar barang dengan barang. Counter Trade atau perdagangan timbal balik ini sampai saat ini masih ada biasanya dilakukan atas dasar perjanjian 2 negara dalam bentuk Memorandum of Understanding (MOU). 2. Letter of Credit ( L/C ) Menurut UCP (Pasal 2 UCP 500), L/C adalah janji membayar dari bank penerbit kepada penerima yang pembayarannya hanya dapat dilakukan oleh bank penerbit jika penerima menyerahkan kepada bank penerbit dokumen-dokumen yang sesuai dengan persyaratan L/C. Untuk menjembatani kepentingan pihak Ekportir agar barang dikirim setelah harga dibayar, sementara pihak importir punya kepentingan agar harga dibayar setelah barang diterima, maka dipakailah suatu pembayaran dengan documentary credit (L/C), Alasan utama para pedagang menyukai sistem ini adalah karena adanya unsur janji bayar yang ada pada sistem ini. Penerima yang menjual barang kepada pemohon merasa aman dibayar dengan cara L/C karena adanya janji pembayaran dari bank penerbit kepadanya. Sebaliknya, pemohon juga merasa aman membelibarang dengan cara L/C karena akan menerima dokumen-dokumen yang dikehendakinya sebab pemenuhannya merupakan syarat pembayaran langsung.

JENIS LETTER OF CREDIT 1. Revocable L/C Adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan oleh penerbit secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak penerima.

2. Irrevocable L/C Adalah L/C yang tidak dapat dibatalkan atau diubah secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi L/C yaitu penerima dan bank penerbit. 3. Irrevocable Confirmed L/C Jenis L/C adalah Irrevocable apabila L/C tersebut mendapatkan konfirmasi sebuah bank pengonfirmasi (Confirming Bank). 4. Sight (Payment) L/C Adalah L/C yang pembayarannya dilakukan secara tunai segera setelah dokumen-dokumen yang disyaratkan diajukan atau diserahkan. 5. Acceptance L/C Adalah L/C yang pembayarannya dilakukan pada suatu jangka waktu tertentu setelah wesel diunjukan atau setelah barang dikapalkan. PERAN LETTER OF CREDIT DALAM PERDAGANG INTERNASIONAL Memudahkan pelunasan pembayaran transaksi ekspor; Mengamankan dana yang disediakan importir untuk membayar barang impor; Menjamin kelengkapan dokumen pengapalan.

PEMBUKAAN LETTER OF CREDIT pembukaan L/C merupakan jaminan pula bagi importir untuk memperoleh pengapalan barang secara utuh sesuai dengan kontrak. Sedangkan dana L/C tersebut tidak akan dicairkan tanpa penyerahan dokumen pengapalan. Dengan demikian L/C tampak sebagai suatu instrumen yang ditawarkan bank devisa untuk memudahkan lalu lintas pembiayaan dalam transaksi dagang internasional, tampak bahwa sangatlah wajar bila L/C kemudian menjadi lebih banyak disukai oleh para pihak, khususnya penjual dan pembeli dalam bertransaksi dagang secara lintas batas. Alasan utama para pedagang menyukai sistem ini, adalah karena adanya unsur janji bayar yang ada pada sistem ini.

HUBUNGAN HUKUM ANTARA PARA PIHAK DALAM TRANSAKSI LETTER OF CREDIT Applicant (buyer atau pembeli) adalah pihak yang meminta kepada sebuah bank untuk membuka L/C atas namanya (sebagai pembeli). Penerima (Beneficiary) adalah pihak yang disebutkan dalam L/C sebagai penjual). Bank penerbit (Opening Bank atau issuing bank) adalah bank yang membuka atau menerbitkan L/C (Bank pembeli). Bank penerus atau Advising Bank adalah Bank yang meneruskan L/C yang diterima dari opening bank kepada beneficiary (bisa Bank penjual).

KEUNGGULAN TRANSAKSI LETTER OF CREDIT cara pembayaran dalam suatu transaksi perdagangan internasional atau transaksi ekspor - impor yang paling aman bagi seller/eksportir maupun bagi buyer/importer, sebagai sarana pembayaran, sifat L/C yang independen atau terlepas dari kontrak penjualan. Sehingga ketidakabsahan suatu kontrak penjualan tidak mengakibatkan tidak sahnya pembayaran yang dilakukan melalui L/C, instrumen atau alat yang dapat melindungi eksportir dan importir dari tidak dipatuhinya kewajiban-kewajiban yang dipersyaratkan kedua-belah pihak.

KELEMAHAN TRANSAKSI LETTER OF CREDIT Bagi eksportir Jika dokumen mengandung penyimpangan, maka meskipun barang telah dikapalkan/dikirim sesuai dengan pesanan, eksportir berpotensi tidak memperoleh pembayaran (karena bank hanya berurusan dengan dokumen) atau bila dibayarkan dipotong biaya discrepancy. Bagi Importir Biaya-biaya yang sehubungan dengan transaksi L/C, pembukaan L/C, Akseptasi, dll.

PENYELESAIAN INTERNASIONAL

SENGKETA

DALAM

PERDAGANGAN

1. Umumnya sengketa-sengketa dagang didahului oleh penyelesaian dengan cara negosiasi. Jika cara penyelesaian ini gagal atau tidak berhasil, barulah ditempuh cara-cara lainnya seperti penyelesaian melalui pengadilan atau arbitrase. 2. Penyerahan sengketa, baik kepada pengadilan maupun ke arbitrase, kerap kali didasarkan pada suatu perjanjian di antara para pihak. 3. Dasar hukum bagi forum atau badan penyelesaian sengketa yang akan menangani sengketa adalah kesepakatan para pihak.

PRINSIP-PRINSIP PENYELESAIAN SENGKETA 1. Prinsip Kesepakatan Para Pihak (Konsensus) Prinsip ini merupakan prinsip fundamental dalam penyelesaian sengketa perdagangan internasional. Prinsip inilah yang menjadi dasar untuk dilaksanakan atau tidaknya suatu proses penyelesaian sengketa. Prinsip ini pula dapat menjadi dasar apakah suatu proses penyelesaian sengketa yang sudah berlangsung diakhiri. Badan-badan peradilan (termasuk arbitrase) harus menghormati apa yang para pihak sepakati. 2. Prinsip Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian Sengketa Prinsip di mana para pihak memiliki kebebasan penuh untuk menentukan dan memilih cara atau mekanisme bagaimana sengketanya diselesaikan (principle of free choice of means). Penyerahan sengketa kepada arbitrase merupakan kesepakatan atau perjanjian para pihak, artinya penyerahan suatu sengketa ke badan arbitrase haruslah berdasarkan pada kebebasan para pihak untuk memilihnya. 3. Prinsip Kebebasan Memilih Hukum Prinsip kebebasan para pihak untuk menentukan sendiri hukum apa yang akan diterapkan (bila sengketanya diselesaikan) oleh badan peradilan (arbitrase) terhadap pokok sengketa.

Kebebasan para pihak untuk menentukan hukum ini termasuk kebebasan untuk memilih kepatutan dan kelayakan (ex aequo et bono).

Prinsip ini adalah sumber dimana pengadilan akan memutus sengketa berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, kepatutan atau kelayakan suatu penyelesaian sengketa. 4. Prinsip Itikad Baik (Good Faith) Prinsip ini mensyaratkan dan mewajibkan adanya itikad baik dari para pihak dalam menyelesaikan sengketanya. Dalam penyelesaian sengketa, prinsip ini tercermin dalam dua tahap : 1. Prinsip itikad baik disyaratkan untuk mencegah timbulnya sengketa yang dapat mempengaruhi hubungan-hubungan baik di antara negara, 2. Prinsip ini disyaratkan harus ada ketika para pihak menyelesaikan sengketanya melalui cara-cara penyelesaian sengketa yang dikenal dalam hukum (perdagangan) internasional, yakni negosiasi, mediasi, konsiliasi, arbitrase, pengadilan atau cara-cara pilihan pihak lainnya. 5. Prinsip Exhaustion of Local Remedies Prinsip ini lahir dari prinsip hukum kebiasaan internasional. Menurut prinsip ini, hukum kebiasaan internasional menetapkan bahwa sebelum para pihak mengajukan sengketanya ke pengadilan internasional, langkah-langkah penyelesaian sengketa yang tersedia atau diberikan oleh hukum nasional suatu Negara harus terlebih dahulu ditempuh (exhausted).

FORUM PENYELESAIAN SENGKETA 1. Negosiasi Penyelesaian sengketa melalui negosiasi merupakan cara yang paling penting. Alasan utamanya adalah karena dengan cara ini, para pihak dapat mengawasi prosedur penyelesaian sengketanya. Setiap penyelesaiannya pun didasarkan pada kesepakatan atau konsensus para pihak.

Kelemahan

dalam

negosiasi,

yang

pertama

ketika

para

pihak

berkedudukan tidak seimbang, dalam keadaan ini salah satu pihak kuat berada dalam posisi untuk menekan pihak lainnya. Kelemahan kedua adalah proses berlangsungnya negosiasi sering lambat dan memakan waktu yang lama. Kelemahan ketiga adalah ketika suatu pihak terlalu keras dengan pendiriannya, maka dapat mengakibatkan proses negosiasi ini menjadi tidak produktif. 2. Mediasi Mediasi adalah suatu cara penyelesaian melalui pihak ketiga. Pihak ketiga ini bisa individu (pengusaha) atau lembaga atau organisasi profesi atau dagang. Mediator ikut serta aktif dalam proses negosiasi. Mediator dengan kapasitasnya sebagai pihak yang netral, berupaya mendamaikan para pihak dengan memberikan saran penyelesaian sengketa. Usulan-usulan penyelesaian sengketa melalui mediasi dibuat agak tidak resmi (informal). Usulan ini dibuat berdasarkan informasi-informasi yang diberikan oleh para pihak, bukan atas penyelidikannya. Tidak ada prosedur khusus yang harus ditempuh dalam proses mediasi. Para pihak bebas menentukan prosedurnya. 3. Konsiliasi Konsiliasi memiliki kesamaan dengan mediasi. Kedua cara ini adalah melibatkan pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketanya secara damai. Konsiliasi dan mediasi sulit untuk dibedakan. Namun menurut Behrens, ada perbedaan antara kedua istilah ini, yaitu konsiliasi lebih formal daripada mediasi. Konsiliasi bisa juga diselesaikan oleh seorang individu atau suatu badan yang disebut dengan badan atau komisi konsiliasi. Komisi konsiliasi bisa sudah terlembaga atau ad hoc (sementara) yang berfungsi untuk menetapkan persyaratan-persyaratan penyelesaian yang diterima oleh para pihak. Namun, putusannya tidak mengikat para pihak.

4. Arbitrase Arbitrase adalah penyerahan sengketa secara suka rela kepada pihak ketiga yang netral. Pihak ketiga ini bisa individu, arbitrase terlembaga atau arbitrase sementara (ad hoc). Dengan arbitrase, penyelesaian sengketa relatif lebih cepat daripada melalui pengadilan. Putusan arbitrase sifatnya final dan mengikat. Arbitrase juga dapat dijamin kerahasiaannya. Para pihak memiliki kebebasan untuk memilih arbiter yang netral dan ahli mengenai pokok sengketa yang mereka hadapi. Bahwa klausul arbitrase melahirkan yurisdiksi arbitrase, artinya klausul tersebut memberi kewenangan kepada arbitrator untuk menyelesaikan sengketa. Apabila pengadilan menerima suatu sengketa yang di dalam kontraknya terdapat klausul arbitrase, pengadilan harus menolak untuk menangani sengketa. 5. Pengadilan (Nasional & Internasional) Penggunaan cara ini biasanya ditempuh apabila cara-cara penyelesaian yang ada ternyata tidak berhasil. Penyelesaian sengketa dagang melalui badan peradilan biasanya hanya dimungkinkan ketika para pihak sepakat. Kesepakatan ini tertuang dalam klausul penyelesaian sengketa dalam kontrak dagang para pihak. Dalam klausul tersebut hubungan dagang mereka, mereka sepakat untuk menyerahkan sengketanya kepada suatu pengadilan (negeri) suatu negara tertentu. Kemungkinan kedua, para pihak dapat menyerahkan sengketanya kepada badan pengadilan internasional, misalnya WTO.

KASUS HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Philip Morris Asia Ajukan Gugatan Terhadap Pemerintah Australia Terkait Kemasan Polos

Philip Morris Asia Limited (PMA), Hong Kong, pemilik afiliasi di Australia, Philip Morris Limited (PML), hari ini mengumumkan telah memulai proses hukum terhadap Pemerintah Australia dengan mengumumkan Pemberitahuan Arbitrase menurut Perjanjian Investasi Bilateral Australia dengan Hong Kong. Pemberitahuan Arbitrase ini diberikan kepada Pemerintah sesegera mungkin setelah pengesahan undang-undang kemasan polos/tanpa merek untuk produk tembakau oleh Parlemen Australia.

Mengomentari pengumuman hari ini, juru bicara PMA, Anne Edwards berujar: Kami melakukan ini tanpa adanya pilihan lain. Pemerintah telah mengeluarkan undang-undang ini meskipun tidak mampu menunjukkan bahwa hal tersebut akan efektif untuk mengurangi rokok dan telah mengabaikan kekhawatiran yang meningkat di Australia dan internasional mengenai masalah hukum yang serius terkait dengan kemasan polos."

PMA tengah mencari penangguhan undang-undang dan kompensasi penting atas hilangnya merek dagang yang bernilai dari perusahaan dan investasi di Australia yang disebabkan oleh kemasan polos. Perusahaan ini menimbulkan kerugian bernilai miliaran dolar dan proses hukumnya akan berlangsung dalam 2 hingga 3 tahun.

"Kami yakin bahwa argumen hukum kami amat kuat dan kami pada akhirnya akan memenangkan kasus ini," tambah Anne Edwards.

PML juga ingin memperoleh klaim menurut hukum dalam negeri sebelum Pengadilan Tinggi Australia.