Legitimasi Hukum Aliran Kepercayaan

Para penganut aliran/penghayat kepercayaan kini semakin mendapat ruang di mata hukum. Belum lama ini Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menerbitkan Peraturan Menteri (Permendagri) No. 12 Tahun 2010 yang antara lain memungkinkan penghayat aliran kepercayaan mencacatkan dan melaporkan perkawinan mereka ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil sekalipun perkawinan mereka dilangsungkan di luar negeri. Bagi penghayat kepercayaan WNA juga dimungkinkan mencatatkan perkawinan dengan menyertakan surat keterangan terjadinya perkawinan dari pemuka penghayat kepercayaan. Permendagri itu bukan satu-satunya regulasi yang memberi legitimasi hukum aliran/penghayat kepercayaan. Tahun lalu, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) telah menandatangani Peraturan Bersama Menteri No. 43/41 Tahun 2009 tentang Pedoman Pelayanan Kepada Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Peraturan administrasi kependudukan yang lebih tinggi tingkatannya seperti Perpres No. 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran dan Pencatatan Sipil, Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2007 dan UU yang menjadi payungnya, yakni UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (UU Adminduk), juga memberikan legitimasi bagi penghayat kepercayaan. Legitimasi hukum ini berbeda sekali dengan perlakuan yang diterima para penghayat kepercayaan selama Orde Baru. Lembar sejarah hukum Indonesia mencatat kasus sengketa pencatatan perkawinan penghayat kepercayaan yang bermuara hingga ke Mahkamah Agung. Direktur Eksekutif Indonesian Legal Resource Center (ILRC), Uli Parulian Sihombing, memberikan apresiasi atas pengakuan hukum terhadap para penghayat kepercayaan, khususnya dalam administrasi kependudukan. Namun penulis buku “Menggugat Bakor Pakem, Kajian Hukum Terhadap Pengawasan Agama dan Kepercayaan di Indonesia” (2009) ini menilai pengakuan hukum tersebut belum benar-benar dilakukan. Dalam praktik, status agama para penghayar dalam KTP masih belum diisi sebagai konsekuensi hanya enam agama yang diakui resmi oleh negara. Demikian pula soal pencatatan perkawinan. Peraturan perundang-undangan memang memberi ruang bagi penganut aliran/penghayat kepercayaan untuk mencatatan perkawinan mereka di Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil. Tetapi seringkali penghayat kesulitan karena perkawinan mereka harus lebih dahulu dicatatkan pemimpin penghayat kepercayaan. Dan pemimpin yang diakui adalah yang yang sudah tercatat di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Menurut Uli Parulian, para penghayat kepercayaan banyak ditemukan pada masyarakat adat yang belum terbiasa dengan dokumentasi peristiwa kependudukan. Karena itu, legitimasi hukum penghayat kepercayaan belum bisa diartikan sebagai pengakuan penuh terhadap eksistensi mereka.

Penjelasan Pasal 1 UU tersebut memang hanya mengakui enam agama di Indonesia. yakni UU No. Hakim Konstitusi M Alim juga memiliki pertanyaan yang sama. Ia menilai tak ada hubungannya UU Penodaan Agama dengan tidak dicatatnya perkawinan penghayat kepercayaan. Zarazustrian. 1/PNPS/1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.” tuturnya. Bukan dipersoalkan ke MK. Menurutnya. Katolik. Kristen. karena keduanya berada di ranah hukum yang berbeda.” tegas Yunianti. bila memang ada perkawinan penghayat kepercayaan yang tidak dicatat oleh para pejabat pemerintah maka telah terjadi pelanggaran UU Adminduk. . Budha dan Khong Hu Cu. Munarman dari Front Pembela Islam (FPI) mempertanyakan tidak dicatatnya perkawinan para penghayat kepercayaan memang karena UU Penodaan Agama atau karena birokrasi yang salah memahami. “Banyak perkawinan perempuan penganut penghayat kepercayaan yang tidak dicatat gara-gara UU ini. Islam. Hindu. “Ini jelas merugikan perempuan. Namun.” jelas Yunianti dalam pengujian UU Penodaan Agama di Mahkamah Konstitusi.Penodaan Agama Di tempat terpisah.tidak dilarang beredar di Indonesia sepanjang pelaksanaannya tidak melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketua Komnas Perempuan Yunianti Chuzaifah mengakui jaminan terhadap penghayat kepercayaan dalam UU Adminduk sudah lebih maju dibanding sebelumnya. ia mencatat masih ada UU yang tidak ramah terhadap penghayat kepercayaan. Shinto dan Thaoism. “Seharusnya tindakan seperti itu digugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara. Sedangkan empat agama lain -Yahudi. akhir pekan lalu. Para penghayat kepercayaan pun tak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berakibat sulitnya para penghayat kepercayaan itu mencatat perkawinannya. Ketentuan ini yang sering digunakan para birokrat di Indonesia untuk tidak mencatat warga negara penganut penghayat kepercayaan.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhsr dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tontang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019). Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 124. Tambahan Lembaran Negara Repubiik Indonesia Nomor 4674). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UndangUndang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 124. Pemerintahan Daerah Provinsi. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916).PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENCATATAN PERKAWINAN DAN PELAPORAN AKTA YANG DITERBITKAN OLEH NEGARA LAIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82. Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata . 8. 6.Mengingat : 1. Pasal 34 ayat (1). 2. dan Pasal 35 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentangPeraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1975 Nomor 12. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844). 5. perlu menetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Pencatatan Perkawinan dan Pelaporan Akta yang Diterbitkan oleh Negara Lain. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3050). Menimbang : bahwa untuk melaksanakan tertib administrasi kependudukan terhadap pelaporan dan pencatatan peristiwa penting sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Pasal 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. 7. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4674).

Penduduk adalah Warga Negara Indonesia dan Orang Asing yang bertempat tinggal di Indonesia. adalah satuan kerja di tingkat kecamatan yang melaksanakan pelayanan Pencatatan Sipil dengan kewenangan menerbitkan akta.Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil. MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN PENCATATAN PERKAWINAN DAN PELAPORAN AKTA YANG DITERBITKAN OLEH NEGARA LAIN. 3. 2. 4. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Ruang Lingkup pencatatan perkawinan dan pelaporan akta pencatatan sipil yang diterbitkan oleh negara lain meliputi: a. Pencatatan Sipil adalah Pencatatan Peristiwa Penting yang dialami oleh seseorang dalam register Pencatatan Sipil pada Instansi Pelaksana. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. 5. perkawinan yang ditetapkan pengadilan. . dan d. 6. perkawinan yang melampaui batas waktu. perkawinan Warga Negara Asing. yang dimaksud dengan: 1. akta yang diterbitkan oleh negara lain. c. Administrasi Kependudukan adalah rangkaian kegiatan penataan dan penertiban dalam penerbitan dokumen dan Data Kependudukan melalui Pendaftaran Penduduk Pencatatan Sipil. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini. Unit Pelaksana Teknis Dinas Instansi Pelaksana. selanjutnya disingkat UPTD Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan serta pendayagunaan hasilnya untuk pelayanan publik dan pembangunan sektor lain. Pelaporan Perkawinan Melampaui Batas Waktu adalah pelaporan perkawinan yang sah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang melampaui 60 (enam puluh) hari sejak tanggal perkawinan. b.

Pasal 5 Pencatatan atas pelaporan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a. Pasal 4 (1) Persyaratan pencatatan atas pelaporan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Surat Keterangan telah terjadinya perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 pada ayat (2) dan ayat (3). Kutipan Akta kelahiran Suami dan Isteri. dan d. Surat Keterangan telah terjadinya perkawinan dari pemuka agama/pendeta atau SuratPerkawinan Penghayat Kepercayaan yang ditandatangani oleh Pemuka Penghayat Kepercayaan. c. KTP Suami dan Isteri. bagi orang asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap. Kartu Keluarga. d. izin kedutaan bagi suami atau isteri orang asing. Surat Keterangan Tempat Tinggal. ukuran 4x6 sebanyak 5 lembar. izin dari Kedutaan Besar. dilaporkan oleh penduduk kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat terjadinya perkawinan. d. paspor bagi suami atau isteri orang asing. (3) Legalisasi atas Surat Keterangan telah terjadinya perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berlaku paling lama 1 (satu) minggu. Akta Perceraian bagi yang telah bercerai atau Akta Kematian atau Surat Keterangan kematian bagi yang pasangannya telah meninggal dunia. Kutipan Akta kelahiran Suami dan Isteri. Pas Photo Suami dan Isteri.BAB III PELAPORAN DAN PENCATATAN PERKAWINAN MELAMPAUI BATAS WAKTU Pasal 3 Pelaporan dan pencatatan perkawinan yang melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a. . b. dokumen keimigrasian. Pas Photo Suami dan Isteri berdampingan. bagi orang asing yang memiliki Izin Tinggal Terbatas dilakukan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. e. Pasal 6 Pencatatan atas pelaporan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf a. c. dilengkapi dengan: a. dan f. selain persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. bagi Penduduk Warga Negara Indonesia dilakukan dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut: a. b. (2) Surat Keterangan telah terjadinya perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a harus mendapatkan legalisasi dari pemuka agama/pendeta atau penghayat kepercayaan di tempat terjadinya perkawinan. b. c.

(2) Pencatatan perkawinan bagi orang asing yang memiliki Izin Tinggal Tetap dan Izin Tinggal Terbatas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6. Pasal 9 Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Perkawinan. pasangan suami dan isteri mengisi formulir pencatatan perkawinan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan melampirkan persyaratan. c. dilakukan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil dengan tata cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Perkawinan dan menerbitkan Kutipan Akta Perkawinan. Pasal 7 (1) Pelaporan dan pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. dilakukan dengan tata cara: a. suami atau istri berkewajiban melaporkan hasil pencatatan perkawinan kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tempat domisilinya. dilaporkan oleh penduduk kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil tempat diterbitkannya penetapan pengadilan. Kutipan Akta Perkawinan sebagaimana dimaksud pada huruf b diberikan kepada masing-masing suami dan isteri.e. e. dilakukan dengan memenuhi syarat berupa: . (2) Pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Izin kedutaan bagi Suami atau Isteri orang asing atau Akta Perceraian bagi yang telah bercerai atau Akta Kematian atau Surat Keterangan kematian bagi yang pasangannya telah meninggal dunia. pencatatan perkawinan dilakukan setelah adanya penetapan pengadilan. dan f. d. Paspor bagi Suami atau Isteri orang asing. Pasal 8 Penduduk yang telah melaporkan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasa! 3 harus mengajukan perubahan dokumen kependudukan di tempat domisili. BAB IV PENCATATAN PERKAWINAN YANG DITETAPKAN PENGADILAN Pasal 10 (1) Pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melakukan verifikasi dan validasi kebenaran data.

b. Salinan Penetapan Pengadilan yang dilegalisir. d. Pasal 11 Tata cara pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10. Pasal 13 Tata cara pencatatan perkawinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12. (2) Pencatatan perkawinan Warga Negara Asing sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. Pejabat Pencatatan Sipil melakukan verifikasi dan validasi kebenaran data. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Perkawinan dan menerbitkan Kutipan Akta Perkawinan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal dipenuhinya semua persyaratan. b.a. pasangan suami dan isteri mengisi formulir pencatatan perkawinan dengan melampirkan persyaratan. Kutipan Akta Kelahiran suami dan isteri. BAB V PENCATATAN PERKAWINAN WARGA NEGARA ASING Pasal 12 (1) Perkawinan Warga Negara Asing yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat dicatatkan pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. c. Pejabat Pencatatan Sipil mencatat pada Register Akta Perkawinan dan menerbitkan Kutipan Akta Perkawinan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak . dilakukan sebagai berikut: a. c. b. Pejabat Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau UPTD Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melakukan verifikasi dan validasi kebenaran data. dan f. b. dilakukan dengan memenuhi persyaratan: a. izin dari Perwakilan Negara yang bersangkutan bagi suami dan isteri. Paspor bagi suami atau isteri Orang Asing. dilakukan sebagai berikut: a. d. pasangan suami dan isteri mengisi formulir pencatatan perkawinan dengan melampirkan persyaratan. Kutipan Akta Perkawinan sebagaimana dimaksud pada huruf c diberikan kepada masing-masing suami dan isteri. Kutipan Akta Kelahiran suami dan isteri. e. d. Pas foto suami dan isteri. KK dan KTP bagi Warga Negara Asing yang telah menjadi penduduk. Surat Keterangan Tempat Tinggal untuk Warga Negara Asing pemegang KITAS. Surat Keterangan telah terjadinya perkawinan dari pemuka agama/pendeta atau SuratPerkawinan Penghayat Kepercayaan yang ditandatangani oleh Pemuka PenghayatKepercayaan. dan e. KTP suami dan isteri. Paspor bagi suami dan isteri. c.

Ttd GAMAWAN FAUZI . Kutipan Akta Pencatatan Sipil. digunakan sebagai dasar pemutakhiran data kependudukan. (3) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Kutipan Akta Pencatatan Sipil sebagaimana dimaksud daiam Pasal 14 ayat (2) huruf c. tidak dilakukan penambahan catatan. BAB VI PELAPORAN AKTA PENCATATAN SIPIL YANG DITERBITKAN OLEH NEGARA LAIN Pasal 14 (1) Penduduk WNI yang mempunyai Akta Pencatatan Sipil yang diterbitkan oleh Negara lain. Kutipan Akta Perkawinan sebagaimana dimaksud pada huruf c diberikan kepada masing-masingsuami dan isteri. dilakukan dengan memenuhi persyaratan: a. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Januari 2010 MENTERI DALAM NEGERI. dan c. Bukti pelaporan dari Perwakilan Rl setempat. (2) Pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d.tanggal dipenuhinya semua persyaratan. KK dan KTP. setelah kembali ke Indonesia melaporkan kepada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di tempat domisili yang bersangkutan. Pasal 15 (1) Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil menerbitkan Surat Keterangan Pelaporan berdasarkan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 paling lambat 14 (empat belas) hari sejak tanggal dipenuhinya semua persyaratan. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 16 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful