Anda di halaman 1dari 33

PROPOSAL PENELITIAN

PENGETAHUAN KELUARGA TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI KELURAHAN PAGESANGAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS PAGESANGAN TAHUN 2013
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma III (tiga) Kesehatan Program Studi Keperawatan Mataram Tahun Akademik 2012/2013

Oleh:

YANUAR AGA NUGRAHA NIM. P 071 201 10 096

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MATARAM JURUSAN DIII KEPERAWATAN MATARAM TAHUN 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berkaitan dengan hal itu, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan menyatakan bahwa derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dicapai melalui penyelenggaraan pembangunan

kesehatan. (Kemenkes, 2011) Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior). Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. (Wawan dan Dewi, 2010). Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dalam satu rumah tangga yang berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Zaidin Ali, 2009). Upaya untuk mendukung perilaku masyarakat agar mendukung peningkatan derajat kesehatan dilakukan melalui program pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar

kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat. Dengan demikian, PHBS mencakup beratus-ratus bahkan mungkin beribu-ribu perilaku yang harus dipraktikkan dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Dibidang pencegahan dan penanggulangan penyakit serta penyehatan lingkungan harus dipraktikkan perilaku mencuci tangan dengan sabun, pengelolaan air minum dan makanan yang memenuhi syarat, menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, pengelolaan limbah cair yang memenuhi syarat, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di dalam ruangan dan lain-lain. Di bidang kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana harus dipraktikkan perilaku meminta pertolongan persalinan oleh tenaga

kesehatan, menimbang balita setiap bulan, mengimunisasi lengkap bayi, menjadi akseptor keluarga keberhasilan pembinaan PHBS, praktik PHBS yang diukur adalah yang dijumpai di tatanan rumah tangga. Kesepuluh indikator tersebut merupakan sebagian dari semua perilaku yang harus dipraktikkan di rumah tangga dan dipilih karena dianggap mewakili atau dapat mencerminkan kesulurahan perilaku. (Kemenkes, 2011) Ditanamkannya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sejak dini dalam keluarga dapat menciptakan keluarga yang sehat. Oleh karena itu, keluarga yang sehat adalah investasi suatu bangsa bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif. Keluarga sehat berkaitan dengan PHBS di rumah tangga.Menurut Menkes beberapa permasalahan

kesehatan seperti Diare dapat dicegah bila masyarakatnya dapat menerapkan perilaku sehat dengan cuci tangan pakai sabun, minum air yang dimasak, dan memanfaatkan sarana kesehatan lingkungan dengan baik. Demam Berdarah dapat dicegah dengan melakukan 3M Plus yaitu menguras, menutup, mengubur, plus membasmi sarang nyamuk,

menghindari gigitan nyamuk, dan menciptakan lingkungan sehat bebas dari jentik nyamuk. Penyakit lainnya seperti Malaria dapat dicegah jika anggota keluarga di daerah endemis menggunakan kelambu saat tidur. Begitu juga Gizi Buruk dapat dideteksi dan dicegah sejak dini dengan membawa bayi dan balita ke Posyandu setiap bulan. Dan Kematian Bayi dapat dicegah bila ibu melahirkan ditolong petugas kesehatan di fasilitas kesehatan. Penyakit Jantung dan Hipertensi dapat dicegah bila masyarakat menerapkan gaya hidup sehat yaitu dengan berolahraga teratur, tidak merokok, dan makan makanan tinggi serat. (Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI) Namun dari capaian indikator Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2011 persentase rumah tangga yang melaksanakan PHBS di Indonesia ialah 53,89% sedangkan target yang ingin dicapai Indonesia ialah 55%. Dan pada tahun 2010 persentase rumah tangga yang melakasanakan PHBS mencapai 54,85% dengan target 50%, ini

menunjukan Indonesia mengalami penurunan dalam pelaksanakan PHBS dari tahun 2010 ke 2011. Sedangkan persentase rumah tangga di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) ialah 49,76%, namun persentase di provinsi NTB masih di

bawah rata-rata nasional yaitu 53,89%. (Profil Data Kesehatan Indonesia 2011). Dari hasil rekapitulasi hasil survei PHBS RT di Provinsi NTB tahun 2011 di masing masing kabupaten kota se-NTB diperoleh hasil Kota Bima 64,80%, Kabupaten Lombok Barat 51,90%, Kabupaten Dompu 37,61%, Kabupaten Sumbawa Barat 36,85%, Kabupaten Sumbawa 33,01%, Kota Mataram 25,82%, Kabupaten Lombok Tengah 24,85%, Kabupaten

Lombok Timur 17,44%, Kabupaten Bima 17,11%, dan Kabupaten Lombok Utara 15,97% (Dikes Provinsi NTB,2011). Dan dari hasil survei PHBS tatanan rumah tangga tingkat puskesmas di kota Mataram tahun 2012 didapatkan hasil Puskesmas Pagesangan 40,48%, Puskesmas Ampenan 37,14%, Puskesmas Dasan Cermen 31,90%, Puskesmas Karang Taliwang 38,10%, Puskesmas Tanjung Karang 29,05%, Puskesmas Karang Pule 7,14%, Puskesmas Selaparang 25,71%, Puskesmas Mataram 12,38%, dan Puskesmas Cakranegara 26,19%. Dari hasil survei tersebut Puskesmas Pagesangan memperoleh persentase tertinggi dan didapatkan hasil tiap kelurahan yaitu kelurahan Mataram Timur 34,69%, Pagesangan Timur 35,7%, Pagesangan Barat 36,7%, Pejanggik 50% dan Pagesangan 50%. Dari data tersebut kelurahan Pagesangan merupakan kelurahan tertinggi dan hasil persentase PHBS 10 indikatornya ialah persalinan 100%, ASI 100%, menimbang bayi atau balita 100%, sumber air bersih 71,4%, cuci tangan 64,3%, jamban keluarga 100%, pemberantasan jentik 50%, melakukan aktifitas fisik dalam rumah

100%, makan sayur dan buah 50%, dan tidak merokok di dalam rumah 50%.(Dikes Kota Mataram,2012). Berdasarkan fakta yang ada maka penulis mengangkat judul tentang Pengetahuan Keluarga Tentang Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di

Kelurahan Pagesangan Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan. B. Rumusan Masalah Bagaimana pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat di kelurahan Pagesanganwilayah kerja Puskesmas Pagesangan? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat di Kelurahan Pagesangan Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasi karakteristik keluarga yang meliputi: usia,

pendidikan, dan pekerjaan.


b. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih

dan sehat dalam mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun.
c. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih

dan sehat dalam menggunakan air bersih.


d. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih

dan sehat dalam menggunakan jamban sehat.


e. Mengidentifikasi pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih

dan sehat dalam tidak merokok di dalam rumah.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi Istitusi Pelayanan Kesehatan Memberikan gambaran tentang pengetahuan keluarga tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)di Kelurahan Pagesangan Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan sebagai bahan masukan dalam penentuan arah kebijakan dalam pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). 2. Bagi Institusi Pendidikan Dapat digunakan sebagai tambahan informasi, kepustakaan serta dapat digunakan sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya. 3. Bagi Profesi Memberi informasi baru kepada rekan seprofesi serta pihak-pihak terkait sehingga dapat disusun komunikasi, informasi dan edukasi tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Kelurahan Pagesangan Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan dengan

peningkatan mutu kesehatan dalam bidang keperawatan komunitas. 4. Bagi Peneliti Lain Dapat menamah informasi, pengetahuan serta wawasan bagi peneliti berikutnya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis 1. Pengertian a. Pengetahuan Pengetahuan adalah pembentukan pemikiran assosiatif yang menghubungkan atau menjalin sebuah pikiran dengan kenyataan atau pikiran lain berdasarkan pengalaman yang berulang-ulang tanpa pemahaman mengenai kausalitas (sebab akibat) (Yasin, 2008 dalam Wawan dan Dewi,2010). Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indera manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Fitriani, 2011). Pengetahaun atau kognitif merupakan domain yang sangat pening untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior)(Fitriani, 2011). b. Keluarga Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, dan adopsi dalam satu rumah tangga yang berinteraksi satu dengan lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (Zaidin Ali, 2009).

Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul serta tinggal disuatu tempat di bawah satu atap dan saling bergantung. (Jhonson dan Lenny,2010). c. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan

masyarakat (Kemenkes RI, 2011). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan cerminan pola hidup keluarga yang senantiasa memperhatikan dan menjaga kesehatan seluruh anggota keluarga (Atikah dan Eni, 2012). PHBS itu jumlahnya banyak sekali, bisa ratusan. Misalnya tentang gizi: makan beraneka ragam makanan, minum Tablet Tambah Darah, mengkonsumsi garam beryodium, memberi bayi dan balita Kapsul Vitamin A. tentang kesehatan lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya, membersihkan lingkungan (Dinas Kesehatan Provinsi NTB, 2011). d. Pengetahuan Keluarga tentang PHBS Pengetahuan keluarga tentang PHBS adalah upaya untuk memperdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu

melaksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta berperan aktif dalam Gerakan Kesehatan di masyarakat.(Dikes Provinsi NTB, 2009). 2. Pengetahuan PHBS Keluarga a. Pengetahuan Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior). Dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. (Wawan dan Dewi, 2010) 1) Faktor yang Pengaruhi Pengetahuan a) Faktor internal (1) Umur Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan, dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja(Wawan dan Dewi, 2010). (2)Pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan

kebahagiaan. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam

pembangunan. Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi (Wawan dan Dewi, 2010). (3)Pekerjaan Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan (Wawan dan Dewi, 2010). a) Faktor eksternal (1)Faktor lingkungan Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok (Wawan dan Dewi, 2010). (2)Sosial budaya Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap (Wawan dan Dewi, 2010). 2) Kriteria Tingkat Pengetahuan Pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu: 1) Baik : Hasil presentase 76%-100%. 2) Cukup : Hasil presentase 56%-75% dalam menerima informasi.

3) Kurang : Hasil presentase < 56% (Arikunto 2006 dalam Wawan dan Dewi 2010). b. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, yang menjadikan seseorang, keluarga, kelompok atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan

masyarakat (Kemenkes RI, 2011). Sekumpulan kegiatan perilaku seseorang dalam kegiatan sehari hari dengan pedoman perilaku sehat meliputi 5 lingkup yaitu PHBS di rumah tangga, PHBS di institusi kesehatan, PHBS di tempat-tempat umum, PHBS di sekolah dan PHBS di tempat kerja (Atikah dan Eni, 2012). Tabel 1.Macam-Macam Tatanan PHBS (Fitriani, 2011) Tatanan PHBS Rumah Tangga Sasaran Primer - Ibu - Anggota keluarga Sasaran Sekunder - Kepala keluarga - Keluarga yang berpengaruh Sasaran Tersier Kader PKK Tokoh masyarak at Tokoh agama LSM Kepala sekolah, dekan Pengelola sekolah Pemilik sekolah Pengelola Program Prioritas KIA KB Kesehatan lingkungan Gaya hidup JPKM

Institusi Seluruh siswa Pendidikan dan mahasiswa

Guru, dosen Karyawan OSIS, senat BP3 Pengelola kantin Pengurus/

- Kesehatan lingkungan - Gaya hidup - Gizi - JPKM - Kesehatan

Tempat

Seluruh

Kerja

karyawan

serikat pekerja

- Pemilik perusahaan

Tempat Umum

- Pengunjung - Pengguna Jasa

- Karyawan - Pengelola

Kepala daerah

lingkungan - Gaya hidup - JPKM - Kesehatan lingkungan - Gaya hidup

Sarana Kesehatan

Petugas kesehatan

- Organisasi Profesi Kesehatan - Kelompok peduli kesehatan

- Pimpinan/ - Kesehatan direktur lingkungan Kepala - Gaya daerah hidup - BAPPEDA - DPRD

1) Pengetahuan PHBS Keluarga Sebelum seseorang mengadopsi perilaku (berperilaku baru), ia harus tahu terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku tersebut bagi dirinya atau keluarganya (Fitirani, 2010). Keluarga ber-PHBS berarti mampu menjaga, meningkatkan, dan melingdungi kesehatan setiap anggota rumah tangga dari gangguan ancaman penyakit dan lingkungan yang kondusif untuk hidup sehat (Dikes Kota Malang, 2012). Manfaat PHBS adalah keluarga yang melaksanakan PHBS maka setiap rumah tangga akan meningkat kesehatannya dan tidak mudah sakit. Rumah tangga yang sehat dapat meningkatkan produktivitas kerja anggota rumah tangga keluarga. Dengan meningkatknya kesehatan anggota rumah tangga maka biaya yang tadinya dialokasikan untuk kesehatan dapat dialihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan dan usaha lain yang dapat meningkatkan kesejahteraan anggota rumah tangga. Salah satu

indikator menilai keberhasilan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dibidang kesehatan adalah pelaksanaan PHBS. PHBS juga

bermanfaat untuk meningkatkan citrra pemerintah daerah dibidang kesehatan, sehingga dapat menjadi percontohan rumah tangga sehat bagi daerah lain (Atikah dan Eni, 2012). PHBS dalam keluarga terbagi atas 10 indikator antara lain: a) Menggunakan air bersih. b) Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. c) Menggunakan jamban sehat. d) Tidak merokok dalam rumah. e) Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan. f) Member ASI eksklusif.

g) Menimbang balita setiap bulan. h) Makan sayur dan buah setiap hari. i) Melakukan aktifitas fisik di dalam rumah. (Atikah dan Eni, 2012)

2) Manfaat PHBS bagi Keluarga a) Manfaat PHBS bagi keluarga secara umum: (1) Setiap anggota keluarga menjadi sehat dan tidak mudah sakit. (2) Anak tumbuh sehat dan cerdas. (3) Anggota keluarga giat bekerja. (4) Pengeluaran biaya rumah tangga dapat ditujukan

untuk memenuhi gizi keluarga, pendidikan dan modal

usaha untuk menambah pendapatan keluarga (Depkes RI,2009). b) Manfaat PHBS dari 4 indikator: (1) Manfaat menggunakan air bersih bagi keluarga: (a) Anggota keluarga terhindar dari gangguan penyakit seperti diare, kolera, disentri, thypus, kecacingan, penyakit mata, penyakit kulit atau keracunan. (b) Setiap anggota keluarga terpelihara kebersihan dirinya (Depkes Provinsi NTB,2011). (2) Manfaat mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun bagi keluarga: a) Membunuh kuman penyakit yang ada di tangan b) Mencegah penularan penyakit seperti Diare, Kolera Disentri, Typhus, kecacingan, penyakit kulit, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), flu burung atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). c) Tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman (Depkes Provinsi NTB,2011). (3) Manfaat menggunakan jamban sehat bagi keluarga: a) Menjaga lingkungan bersih, sehat, dan tidak berbau. b) Tidak mencemari sumber air yang ada disekitarnya. c) Tidak mengundang datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penular penyakit Diare, Kolera Disentri, Thypus, kecacingan, penyakit saluran pencernaan,

penyakit

kulit,

dan

keracunan

(Depkes

Provinsi

NTB,2011). (4) Manfaat tidak merokok di dalam rumah bagi keluarga:

3) Kegiatan PHBS pada Keluarga a) Menggunakan air bersih Air adalah kebutuhan dasar yang dipergunakan sehari-hari untuk minum, memasak, mandi, berkumur, membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur, mencuci pakaian, dan sebagainya, agar kita tidak terkena penyakit atau terhindar sakit (Atikah dan Eni,2012). Volume air dalam tubuh manusia rata rata 65% dari total berat badannya, dan volume tersebut sangat bervariasi pada masing masing orang, bahkan juga bervariasi antara bagian bagian tubuh seseorang. Beberapa organ manusia yang mengandung air bnyak antara lain, otak 74%, tulang 22%, ginjal 82,7%, otot 75,6% dan darah 83% (Dr. Budiman, 2007). Sumber air bersih dapat diperoleh dari mata air, air sumur atau air sumur pompa, air ledeng atau perusahaan air minum, air hujan, air dalam kemasan. Air bersih harus dimasak mendidih bila ingin diminum karena meski terlihat bersih, air belum tentu bebas kuman penyakit. Kuman penyakit dalam air mati

pada suhu 100 0C (saat mendidih). Air bersih secara fisik dapat

dibedakan melalui indera kita, antara lain dapat dilihat, dirasa, dicium, dan diraba (Depkes Provinsi NTB,2011). (1) Syarat-syarat air bersih, yaitu: (a) Air tidak berwarna harus bening/jernih. (b) Air tidak keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur, sampah, busa, dan kotoran lainnya. (c) Air tidak berasa, tidak berasa asin, tidak berasa asam, tidak payau, dan tidak pahit harus bebas dari bahan kimia beracun. (d) Air tidak berbau seperti bau amis, anyir, busuk atau belerang (Depkes Provinsi NTB,2011). (2) Cara menjaga kebersihan sumber air bersih (a) Jarak letak sumber air dengan jamban dan tempat pembuangan sampah paling sedikit 10 meter. (b) Sumber mata air harus dilindungi dari bahan

pencemaran. (c) Sumur gali, sumur pompa, kran umum dan mata air harus dijaga bangunannya agar tidak rusak seperti lantai sumur tidak boleh retak, bibir sumur harus diplester dan sumur sebaiknya diberi penutup. (d) Harus dijaga kebersihannya seperti tidak ada genangan air di sekitar sumber air, tidak ada bercak-bercak kotoran, tidak berlumut pada lantai/dinding sumur. Ember/gayung pengambil air harus tetap bersih dan tidak diletakkan dii

lantai (ember/gayung digantung di tiang sumur) (Depkes Provinsi NTB,2011). b) Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun Cuci tangan pakai sabun (CTPS) merupakan cara mudah dan tidak perlu biaya mahal. Karena itu, membiasakan CTPS sama dengan mengajarkan anak anak dan seluruh angota keluarga hidup sehat sejak dini. Dengan demikian, pola hidup bersih dan sehat (PHBS) tertanam kuat pada diri pribadi anak anak dan anggota keluarga lainnya. Kedua tangan kita adalah salah satu jalur utama masuknya kuman penyakit ke dalam tubuh. Sebab tangan adalah anggota tubuh yang paling sering berhubungan langsung dengan mulut dan hidung. Penyakit penyakit yang umum timbul karena tangan yang berkuman,

antara lain: diare, kolera, ISPA, cacingan, flu, dan Hepatitis A (Atikah dan Eni,2012). Kebiasaan mencuci tangan sebelum makan memakai air dan sabun mempunyai peranan penting dalam kaitannya dengan pencegahan infeksi cacingan, karena dengan mencuci tangan dengan air dan sabun data lebih efektif menghilangkan kotoran dan debu secara mekanis jumlah mikroorganisme penyebab pennyakit seperti virus, bakteri dan parasit lainnya pada kedua tangan. Oleh karenanya, mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun dapat lebih efektif membersihkan kotoran dan telur

cacing yang menempel pada kulit, kuku dan jari jari pada kedua tangan (atikah dan Eni, 2012). Waktu yang diharuskan untuk cuci tangan adalah setiap kali tangan kita kotor (setelah memegang uang, memegang binatang, berkebun, dll), setelah buang air besar, setelah menceboki bayi atau anak, sebelum makan dan menyuapi anak, sebelum memegang makanan, setelah makan, sebelum

menyusui bayi (Depkes Provinsi NTB,2011). Air yang tidak bersih banyak mengandung kuman dan bakteri penyebab penyakit. Bila digunakan, kuman berpindah ke tangan. Pada saat makan, kuman dengan cepat masuk ke dalam tubuh, yang bisa menimbulkan penyakit. Sabun dapat

membersihkan kotoran dan membunuh kuman, karena tanpa sabun kotoran dan kuman masih tertinggal di tangan (Depkes Provinsi NTB,2011). Cara mencuci tangan yang benar adalah sebagai berikut : (1) Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun. Tidak perlu sabun khusus antibakteri, namun leih disarankan sabun berbentuk cair. (2) Gosok tangan setidaknya selama 15-20 detik. (3) Bersihkan bagian pergelangan tangan, punggung tangan, sela-sela jari dan kuku. (4) Basuh tangan sampai bersih dengan air yang mengalir. (5) Keringkan dengan handuk bersih atau alat pengering lain.

(6) Gunakan tisu/handuk sebagai penghalang ketika mematikan keran air (Atikah dan Eni, 2012). c) Menggunakan jamban sehat Jamban adalah suatu ruangan yang mempunyai fasilitas pembuangan kotoran manusia yang terdiri atas tempat jongkok atau tempat duduk dengan leher angsa (cemplung) yang dilengkapi dengan unit penampungan kotoran dan air untuk membersihkanya (Atikah dan Eni,2012). Setiap anggota rumjah tangga harus menggunakan jamban untuk buang air besar/buang air kecil (Depkes Provinsi NTB,2011). (1) Syarat-syarat jamban sehat, yaitu: a) Tidak mencemari sumber air minum (jarak antara

sumber air minum dengan lubang penampungan minimal 10 meter). b) Tidak berbau. c) Kotoran tidak dapat dijamah oleh serangga dan tikus. d) Tidak mencemari tanah sekitarnya. e) Mudah dibersihkan dan aman digunakan. f) Dilengkapi dinding dan atap pelindung.

g) Penerangan dan ventilasi yang cukup. h) Lantai kedap air dan luas ruangan memadai. i) Tersedia air, sabun, dan alat pembersih (Depkes Provinsi NTB, 2011).

(2) Cara memilih jenis jamban, yaitu: (a) Jamban cemplung digunakan untuk daerah yang sulit air. (b) Jamban tangki septik/leher angsa digunakan untuk: Daerah yang cukup air Daerah yang padat penduduk, karena dapat

menggunakan multiple latrine yaitu satu lubang penampungan tinja/tangki septik digunakan oleh beberapa jamban (satu lubang dapat menampung kotoran/tinja dari 3-5 jamban) Daerah pasang surut, tempat penampungan

kotoran/tinja hendaknya ditinggikan kurang lebih 60 cm dari permukaan air pasang (Atikah dan Eni, 2012). d) Tidak merokok di dalam rumah Rumah adalah tempat berlindung, termasuk dari asap rokok. Setiap anggota keluarga tidak boleh merokok di dalam rumah (Depkes Provinsi NTB,2011). Rokok ibarat pabrik bahan kimia. Dalam satu batang rokok yang diisap akan dikeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia berbahaya, di antaranya yang paling berbahaya adalah Nikotin, Tar, dan Carbon Monoksida (CO). (1) Nikotin menyebabkan ketagihan dan merusak jantung dan aliran darah. (2) Tar menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan kanker

(3) CO

menyebabkan

berkurangnya

kemampuan

darah

membawa oksigen, sehingga sel-sel tubuh akan mati. Bahaya perokok aktif dan perokok pasif antara lain: (1) Menyebabkan kerontokan rambut. (2) Gangguan pada mata, seperti katarak. (3) Kehilangan perokok. (4) Menyebabkan penyakit paru-paru kronis. (5) Merusak gigi dan menyebabkan bau mulut yang tidak sedap. (6) Menyebabkan stoke dan serangan jantung. (7) Tulang lebih mudah patah. (8) Menyebabkan kanker kulit. (9) Menyebabkan kemandulan dan impotensi. (10) Menyebabkan kanker rahim dan keguguran (Dikes Provinsi NTB, 2011). pendengaran lebih awal dibanding bukan

B. Kerangka Konsep Domain Perilaku a. Pengetahuan keluarga 1. PengetahuanPerilaku Hidup keluarga tentang tentang Perilaku Bersih dan Sehat : Hidup Bersih dan Sehat: a. Menggunakan air bersih Menggunakan air bersih b. Mencuci tangan dengan b. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. air bersih dan sabun. c. Tidak merokok c. Menggunakan dijamban dalam sehat rumah d. Tidak merokok dijamban dalam d. Menggunakan rumah sehat e. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan f. Memberi bayi ASI eksklusif g. Menimbang bayi dan balita h. Memberantas jentik nyamuk i. Melakukan aktivitas fisik setiap hari j. 10.Makan sayur dan buah setiap k. hari. 2. Sikap 3. Tindakan Gambar 1. Kerangka Konsep Pengetahuan Keluarga Tentang PHBS Di Kelurahan Pagesangan Di Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan. Modifikasi teori Dikes Provinsi NTB (2011) dalam bukuRumah Tangga Sehat Dengan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat, dan teori Atikah dan Eni (2012) dalam buku Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

Faktor Internal 1. Usia 2. Pendidikan 3. Pekerjaan Faktor Eksternal 1. Lingkungan 2. Budaya

Kriteria tingkat pengetahuan 1. Baik 2. Cukup 3. Kurang

Sumber:

Keterangan :

: diteliti : tidak diteliti

BAB III METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di kelurahan Pagesangan, wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan, dengan alasan: a. Kelurahan Pagesangan adalah kelurahan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pagesangan, dimana Puskesmas Pagesangan merupakan Puskesmas yang peringkat persentase PHBS rumah tangganya yang tertinggi dibandingkan Puskesmas lainnya

berdasarkan data dari Dikes Kota Mataram tahun 2012. b. Kelurahan Pagesangan adalah salah satu kelurahan yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pagesangan dengan persentase PHBS rumah tangganya tertinggi pada tahun 2012 dari kelurahan yang ada berdasarkan data dari Dikes Kota Mataram tahun 2012 2. Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Februari Mei 2013. B. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian yang bertujuan untuk

mendeskripsikan (memaparkan) peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa kini. Deskripsi peristiwa dilakukan secara sistematis dan lebih menekankan pada data faktual daripada penyimpulan. Fenomena disajikan apa adanya tanpa manipulasi dan peneliti tidak boleh menganalisis

bagaimana dan mengapa fenomena tersebut bisa terjadi, oleh karena itu penelitian jenis ini tidak memerlukan suatu hipotesis (Nursalam, 2011). Dimana variabel yang akan diteliti pada penelitian kali ini adalah pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat di kelurahan Pagesangan Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti (Notoatmodjo, 2010), sedangkan menurut Nursalam (2011), populasi adalah subjek (manusia; klien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan. Sedangkan menurut Ety Rochaety (2007), populasi adalah sekelompok orang, kejadian, atau segala sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu.Sehingga dapat disimpulkan bahwa populasi dalam penelitian ini adalah semua keluarga yang tinggal di kelurahan Pagesangan yang telah dibina tentang PHBS sejumlah 1696 KK. 2. Sampel Sampel adalah objek yang diteliti dan mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010), bagian dari populasi yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling (Nursalam, 2011). Besar kecilnya jumlah sampel sangat dipengaruhi oleh rancangan dan ketersediaan subjek dari penelitian itu sendiri. Semakin besar sampel yang dipergunakan semakin baik dan representative hasil yang diperoleh. Dengan kata lain semakin besar sampel, semakin

mengurangi angka kesalahan, prinsip umum yang berlaku adalah

sebaiknya dalam penelitian digunakan jumlah sampel sebanyak mungkin (Nursalam, 2011).Sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel dalam penelitian ini adalah keluarga yang tinggal di kelurahan Pagesangan, bisa membaca dan menulis, serta bersedia menjadi responden, dan telah mendapatkan pembinaan PHBS sebelumnya di kelurahan Pagesanan Wilayah Kerja Puskesmas Pagesangan. Dalam penelitian ini untuk menentukan ukuran sampel dari suatu populasi mengacu pada table Krejcie (terlampir) dengan perhitungan sampell didasarkan atas tingkat kesalahan 5 %, dan mempunyai kepercayaan 95 % terhadap populasi yaitu untuk populasi sebanyak 1696 KK maka besar sampel yaitu 310 responden. a. Kriteria Sampel 1) Kriteria Inklusi Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2010). Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: a) Keluarga yang bersedia diteliti. b) Keluarga yang tinggal di Kelurahan Pagesangan, c) Keluraga yang telah mendapatkan pembinaan PHBS. d) Keluarga yang bisa membaca dan menulis. 2) Kriteria Eksklusi Kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil sebagai sampel (Notoatmodjo, 2010).

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah: a) Keluarga yang tidak bersedia diteliti. b. Cara Pengambilan Sampel (Sampling) Sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi untuk dapat mewakili populasi atau cara-cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel, agar memperoleh sampel yang benar-benar sesuai dengan keseluruhan subjek penelitian (Nursalam, 2011). Sampling adalah sebuah prosedur/cara untuk memilih sampel dari sebagian unit yang ada dalam populasi (Ety Rochaety, 2007). Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan cara proporsional random sampling, yaitu suatu teknik penetapan sampel berdasarkan perbandingan, pengambilan subjek dari setiap strata atau wilayah ditentukan seimbang atau sebanding dengan

banyaknya subjek dalam masing-masing strata atau wilayah tersebut (Arikunto, 2010), dengan menggunakan rumus:

Keterangan: n1 : Besar sampel untuk masing-masing wilayah N1 : Total sub populasi N : Total populasi n : Besar sampel Menurut Usman dan Akbar (2008)

Tabel 2. Jumlah Sampel Masing-Masing Lingkungan No 1 2 3 4 5 6 7 Lingkungan Pagesangan Baru Pagesangan Selatan Pagesangan Barat Pagesangan Utara Pagesangan Timur Pagesangan Indah Bidas Total Jumlah Populasi 317 187 211 206 177 237 361 1696 Sampel 58 34 39 38 32 43 66 310

D. Data yang dikumpulkan Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Data Primer a. Data karakteristik responden yang meliputi: umur, pendidikan, dan pekerjaan. b. Data tingkat pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun. c. Data tingkat pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam menggunakan air bersih. d. Data tingkat pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam menggunakan jamban sehat. e. Data tingkat pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam tidak merokok di dalam rumah.

2. Data Sekunder Data tentang jumlah KK di Kelurahan Pagesangan yang diperoleh dari daftar hasil pendataan 2012 dan data tentang gambaran umum lokasi penelitian, yaitu kelurahan Pagesangan yang diperoleh dari kantor Lurah Pagesangan. E. Cara Pengumpulan Data 1. Data Primer a. Data karakteristik responden yang meliputi: umur, pendidikan, dan pekerjaan yang dikumpulkan menggunakan kuesioner. b. Data tingkat pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun yang dikumpulkan menggunakan kuesioner. c. Data tingkat pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam menggunakan air bersih yang dikumpulkan

menggunakan kuesioner. d. Data tingkat pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam menggunakan jamban sehat yang dikumpulkan

menggunakan kuesioner. e. Data tingkat pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehat dalam tidak merokok di dalam rumahyang dikumpulkan menggunakan kuesioner. 2. Data Sekunder Data ini tentang gambaran umum tentang kelurahan Pagesangan.

F. Cara Pengolahan dan Analisa Data 1. Data tentang karakteristik responden diolah secara deskriptif dan dikelompokkan berdasarkan umur, pendidikan, dan pekerjaan yang disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi. 2. Data tentang pengetahuan keluarga tentang perilaku hidup bersih dan sehatmeliputi menggunakan air bersih, menggunakan jamban sehat, mencuci tangan menggunakan air bersih dan sabun, dan tidak merokok di dalam rumah diolah secara deskriptif dengan pemberian skor seperti yang sudah dijelaskan di atas. Setelah data terkumpul kemudian data tersebut dikelompokkan dan diolah menggunakan rumus sebagai berikut : P = n/N x 100% Keterangan : P = persentase n = jumlah pertanyaan yang dijawab benar N = jumlah seluruh pertanyaan Kemudian setelah diperoleh hasil, dimasukkan ke dalam kategori pengetahuan yaitu: a) Baik : Hasil presentase 76%-100%. b) Cukup : Hasil presentase 56%-75% c) Kurang : Hasil presentase <56% (Arikunto 2006 dalam Wawan dan Dewi 2010). G. Definisi Operasional Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang dapat

diamati (diukur) itulah yang merupakan kunci definisi operasional. Dapat diamati artinya memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena yang kemudian dapat diulangi lagi oleh orang lain (Nursalam, 2011).

Tabel 3. No 1

Definisi Operasional Variabel Definisi Operasional Parameter Alat Cara Ukur Pengukuran Pernyataan Kuisioner positif No. 1, 2, 3, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 13, 14, 15, 17, 18, dan 19. Jawaban Betul = 1 Salah = 0 Pernyataan negatif No. 4, 8, 12, 16, dan 20. Jawaban Betul = 0 Salah = 1 Skala Ukur Ordinal Hasil Ukur Persentase 76-100% : Baik 56-75% : Cukup 55% : Kurang

Pengetahuan Segala sesuatu yang Indikator PHBS PHBS diketahui keluarga meliputi keluarga tentang PHBS meliputi a. Menggunakan air a. Menggunakan air bersih bersih meliputi, pengertian air bersih, manfaat air bersih dan syarat air bersih. b. Mencuci tangan b. Mencuci tangan dengan air bersih dengan air bersih dan sabun. dan sabun meliputi pengertian mencuci tangan, manfaat mencuci tangan, dan cara mencuci tangan. c. Menggunakan c. Menggunakan jamban sehat jamban sehat meliputi

pengertian jamban sehat, syarat jamban sehat, dan manfaat jamban sehat. d. Tidak merokok di d. Tidak merokok di dalam rumah dalam rumah meliputi pengertian dan bahaya merokok.