Anda di halaman 1dari 21

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012

Kata Pengantar

Puji Syukur kami haturkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas referat tentang Stress Pasca Trauma yang telah diberikan oleh tutor. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sehingga dapat memberi informasi kepada para pembaca. Kami juga ingin berterimakasih kepada tutor yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan. Kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak sehingga lebih baik pada penyusunan makalah berikutnya. Terima kasih.

Jakarta, Juli 2012

Penyusun

Page 1

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012

Daftar Isi

Kata pengantar Daftar isi Pendahuluan Tinjauan Pustaka Kesimpulan Daftar pustaka

1 2 3 4 20 21

Page 2

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012

BAB I PENDAHULUAN

Gangguan stress pasca trauma adalah suatu gangguan kecemasan yangtimbul setelah mengalami atau menyaksikan suatu ancaman kehidupan atau peristiwa-peristiwa trauma, seperti perang militer, serangan dengan kekerasanatau suatu kecelakaan yang serius. Peristiwa trauma ini menyebabkan seseorang memberikan reaksi dalam keadaan ketakutan, tak berdaya dan mengerikan. Gejala-gejala umum tersebut antara lain kenangan yang muncul kembali dalam ingatan dan berulang-ulang, sangat mendalam dan mengganggu akibat peristiwa tersebut, berusaha menghindari keadaan-keadaan yang mengingatkan seseorang pada peristiwa tersebut, menjadi mati rasa secara emosional dan suka menyendiri, Sulit tidur dan konsentrasi, ketakutan atas keselamatan pribadi. Bila gejala-gejala gangguan stres pasca trauma menjadi parah, gangguan tersebut menimbulkan ketidakmampuan. Apakah sebabnya beberapa orang dari mereka akan berkembang menjadi gangguan stres pasca trauma setelah mengalami peristiwa yang sama adalah tidak jelas. Resiko akan mengalami gangguan stres pasca trauma meningkat oleh karena banyak faktor, termasukintensitas beratnya peristiwa yang dialami, sejauh mana seseorang terlibat didalamnya, dan seberapa hebatnya seseorang bereaksi. Sementara itu penyebab sebenarnya dari gangguan stres pasca trauma tidak diketahui. Seseorang beresiko tinggi menderita gangguan stres pasca trauma jika seseorang mempunyai riwayat keluarga yang mengalami depresi. Kemungkinan lain adalah dilepaskannya hormon-hormon tertentu oleh otak (misalnya kortisol ) dan zat-zat kimia lainnya sebagai respons terhadap rasa takut. Hormonhormon dan zat-zat kimia ini juga akan membangkitkan kenangan-kenangan tersebut. Orangorang dengan ketidakseimbangan zat kimia tertentu dalam otaknya mungkin resiko terjadinya gangguan stres pasca trauma akan meningkat.

Page 3

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Gangguan stress pasca trauma adalah reaksi kuat,memanjang dantertunda terhadap suatu peristiwa yang luar biasa sehingga seseorangmenderita stress atau kehilangan yang berat (Hibbert,godwin & Dear,2009).

2.2 Epidemiologi Insidensi Post Trauma Stress Disorder (PTSD) diperkirakan 9 sampai 15 persen. Sedangkan prevalensinya di populasi umum adalah 8 persen. Pada populasi yang mengalami resiko besar menghadapi pengalaman traumatis prevalensinya dapat mencapai 75%. Wanita lebih sering mengalami PTSD dibanding pria. PTSD bisa timbul pada usia kapan saja namun lebih sering pada usia dewasa muda. Pada umumnya, trauma pada pria berhubungandengan peperangan sedangkan pada wanita sering disebabkan oleh tindakan pemerkosaan.Gangguan ini lebih sering terjadi pada oreng yang masih lajang, telah bercerai, orang yang menarikdiri secara sosial atau oramg dengan kelas sosioekonomi yang rendah. Pasien PTSD umumnya memiliki tingkat komorbiditas yang tinggi. Sekitar 2/3 pasien memiliki paling tidak 2 gangguan lainnya bersamaan.

Sumber : http://ajp.psychiatryonline.org/article.aspx?articleID=175021
Page 4

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 Survei Replikasi Komorbiditas Nasional/The National Comorbidity Survey Replication (NCS-R), yang dilakukan antara Februari 2001 dan April 2003, terdiri wawancara dari sampel perwakilan nasional dari 9.282 orang Amerika berusia 18 tahun dan lebih tua. PTSD dinilai antara 5.692 peserta, dengan menggunakan kriteria DSM-IV. NCS-R memperkirakan prevalensi seumur hidup PTSD di antara orang dewasa Amerika menjadi 6,8%. Prevalensi seumur hidup PTSD di kalangan pria adalah 3,6% dan pada wanita sebesar 9,7%. Prevalensi dua belas bulan adalah 1,8% di antara pria dan 5,2% pada wanita. Temuan ini sangat mirip dengan Survei komorbiditas Nasional pertama. Survei asli dilakukan pada wawancara awal 1990-an dan terdiri dari sampel nasional mewakili 8.098 orang Amerika berusia 15 sampai 54 tahun. Dalam contoh sebelumnya, estimasi prevalensi seumur hidup PTSD adalah 7,8% pada populasi umum. Wanita (10,4%) lebih dari dua kali lebih mungkin sebagai laki-laki (5%) untuk memiliki PTSD. PTSD pada anak dan remaja Sampai saat ini, tidak ada studi berbasis populasi epidemiologi telah meneliti prevalensi PTSD pada anak-anak. Namun, penelitian telah meneliti prevalensi PTSD antara berisiko tinggi anak-anak yang mengalami peristiwa traumatis yang spesifik, seperti penyalahgunaan atau bencana alam. Prevalensi perkiraan dari studi jenis ini sangat bervariasi, namun penelitian menunjukkan bahwa anak-anak terkena peristiwa traumatis mungkin memiliki prevalensi yang lebih tinggi PTSD daripada orang dewasa pada populasi umum PTSD di negara lain Pada akhir 1990-an Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai mengumpulkan informasi epidemiologis pada gangguan kesehatan mental di seluruh dunia. Pada 2008, konsorsium penelitian telah mengumpulkan data dari hampir 200.000 responden di 27 negara. Secara umum, perkiraan untuk berbagai prevalensi PTSD seumur hidup dari yang rendah 0,3% di China menjadi 6,1% di Selandia Baru. Namun, statistik yang dilaporkan dari berbagai negara tidak langsung dibandingkan karena perbedaan metodologi dalam administrasi survei dan strategi sampling. Studi Nasional Veteran Vietnam The National Vietnam Veterans Readjustment Study (NVVRS) yang dilakukan antara November 1986 dan Februari 1988, terdiri dari 3.016 wawancara Veteran Amerika dipilih untuk
Page 5

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 menyediakan sampel yang representatif dari mereka yang bertugas di angkatan bersenjata selama era Vietnam. Prevalensi seumur hidup diperkirakan PTSD di antara Veteran adalah 30,9% untuk pria dan 26,9% untuk perempuan. Veteran Vietnam teater, 15,2% laki-laki dan 8,1% perempuan yang saat ini didiagnosis dengan PTSD pada saat penelitian dilakukan. 2.3 Etiologi Seseorang dapat mengalami PTSD adalah akibat respon terhadap suatu trauma yang ekstrem atau sebuah kejadian yang mengerikan yang seseorang alami, saksikan, atau dipelajari, terutama yang mengancam hidup atau yang menyebabkan penderitaan fisik. Pengalaman tersebut menyebabkan seseorang merasakan takut yang sangat kuat, atau perasaan tidak berdaya 1. Stressor Stressor yang menyebabkan stress akut dan PTSD cukup hebat untuk mempengaruhi setiap orang. Stressor tersebut dapat timbul dari pengalaman perang, penyiksaan, bencana alam, penyerangan, perkosaan, dan kecelakaan serius. Meskipun demikian, tidak semua orang mengalami gangguan ini setelah peristiwa traumatik. Klinisi harus

mempertimbangkan faktor psikososial dan biologis yang sebelumnya ada dan peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudah trauma. Contohnya, seorang anggota suatu kelompok yang bertahan hidup pada bencana kadang-kadang dapat menangani trauma karena anggota yang lainnya juga mengalami pengalaman yang sama. Arti subjektif suatu stressor pada seseorang juga penting. Contohnya, orang yang selamat dari bencana dapat mengalami rasa bersalah yang dapat menjadi predisposisi atau memperberat PTSD.

2. Faktor Risiko Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahkan ketika mengalami trauma yang hebat, sebagian besar orang tidak mengalami gejala PTSD. National Comorbidity Study menemukan bahwa 60% laki-laki dan 50% perempuan mengalami sejumlah trauma yang signifikan tetapi prevalensi PTSD yang dilaporkan hanya 6,7%. Demikian juga peristiwa yang mungkin tampak biasa atau kurang dianggap sebagai bencana besar bagi sebagian orang dapat menimbulkan PTSD pada sejumlah orang lainnya.

Page 6

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 Adapun faktor risiko yang berperan antara lain : o Biologis Kerentanan genetik. Kepribadian borderline, paranoid,dependent atau antisosial. Perempuan

o Psikososial Kejadian traumatis sebelumnya (terutama saat anak-anak). Perubahan hidup penuh stress yang baruterjadi. Sistem pendukung yang tidak adekuat(Dukungan keluarga atau kelompok yang kurang). Konsumsi alkohol yang berlebihan.

3. Faktor Psikodinamik Model psikoanalitik gangguan ini menghipotesiskan bahwa trauma mengaktifkan kembali konflik psikologis yang sebelumnya tenang tetapi tidak terselesaikan. Penghidupan kembali trauma masa kanak-kanak dapat menimbulkan regresi,

penyangkalan, reaction formation, dan undoing. Konflik yang sebelumnya telah ada secara simbolis dibangkitkan kembali oleh traumatik yang baru.

4. Faktor Perilaku Kognitif Model kognitif PTSD menyatakan bahwa orang yang mengalaminya tidak mampu memproses dan merasionalisasikan trauma yang mencetuskan gangguan ini. Mereka terus mengalami stress dan berupaya menghindari hal tersebut dengan teknik penghindaran. Model perilaku PTSD menekankan ada 2 fase, yang pertama adalah trauma yang menimbulkan respon takut dengan stimulus yang dipelajari. Yang kedua adalah melalui pembelajaran instrumental melalui stimulus yang tidak dipelajari.

5. Faktor Biologis 1. Sistem Noradrenergik Pada PTSD menunjukkan gejala gugup, peingkatan tekanan darah, dan denyut jantung, palpitasi, berkeringat, rona merah diwajah, dan tremor. Gejala-gejala
Page 7

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 tersebut berkaitan dengan gejala adrenergik. Sejumlah studi menemukan peningkatan konsentrasi epinefrin urin 24 jam pada tetara veteran dengan PTSD dan peningkatan konsentrasi katekolamin urin pada anak perempuan yang mengalami penyiksaan seksual. 2. Sistem Opioid Pada PTSD ditemukan adanya abnormalitas sistem opioid yaitu penurunan konsentrasi -endorfin plasma. 3. Faktor Pelepas Kortikotropin dan Aksis Hipotalamus-Hipofisis-Adrenal (HPA) Sejumlah studi menunjukkan konsentrasi kortisol bebas yang rendah di dalam plasma dan urin pada PTSD. Terdapat peningkatan reseptor glukokortikoid pada limfosit dan faktor pelepas kortikotropin eksogen yang menunjukkan respon hormon adreno-kortikotropin yang tumpul. Selain itu, supresi kortisol meningkat pada PTSD, hal ini menunjukkan hiper regulasi aksis HPA pada PTSD. Sejumlah studi juga telah menemukan terjadinya hipersupresi kortisol pada pasien yang terpajan trauma dan mengalami PTSD dibandingkan pasien yang terpajan trauma tapi tidak mengalami PTSD sehinggga mungkin hipersupresi ini secara spesifik berkaitan dengan PTSD bukan hanya dengan trauma. (Kaplan,Sadock,& Grebb,2007).

2.4 Patofisiologis Fisiologi respon stress Setiap makhluk hidup pernah mengalami stres dalam hidupnya. Stimulus yang diberikan olehstres ikut berperan dalam perubahan dan pertumbuhan individu. Manusia

merupakanmakhluk yang selalu berespon dan beradaptasi terhadap stres. Respon stres bersifat adaptifdan protektif. Respon stres yang melibatkan respon anatomi dan fisiologi perlu dipelajarilebih mendalam karena pada saat memberikan asuhan keperawatan seorang perawat tidakhanya memandang stres sebagai bagian dari respon psikologis, sosial, dan spiritual namunjuga respon biologis, yaitu mencakup respon anatomi dan fisiologi.

Page 8

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 Peristiwa fisiologis yang terjadi pada individu saat terjadi stres pertama kali dikembangkanoleh Hans Selye. Seyle mengidentifikasikan dua respon fisiologis terhadap stres, yaitu localadaptation syndrome (LAS) dan general adaptation syndrome (GAS) (Potter & Perry, 2005). LAS adalah respon dari jaringan, organ, atau bagian tubuh lainnya terhadap stres karena trauma, penyakit, atau perubahan fisiologis lainnya. Sedangkan GAS adalah responpertahanan dari keseluruhan tubuh terhadap stres. Berikut penjelasan lebih mendetailmengenai LAS dan GAS:

- Local adaptation syndrome (LAS) Local adaptation syndrome (LAS) memiliki karakter yaitu hanya terjadi setempat,adaptif. Diperlukan stresor untuk menstimulasi, berjangka pendek, serta restoratif/membantu memulihkan homeostasis region. Contoh LAS yang banyak ditemui dalam lingkungan kesehatan yaitu respon refleks nyeri dan respon inflamasi. Respon refleks nyeri adalah respon setempat dari sistem saraf pusat terhadap nyeri (Potter & Perry, 2005). Respon ini bersifat adaptif dan melindungi jaringan dari kerusakan lebih lanjut. Respon ini melibatkan reseptor sensoris, saraf sensoris yang menjalar ke medulla spinalis, neuron penghubungdalam medulla spinalis, saraf motorik yang menjalar dari medulla spinalis, serta otot efektor. Contoh respon refleks nyeri yaitu refleks tangan dari permukaan panas dan keram otot. Contoh lain dari LAS yaitu respon inflamasi. Respon inflamasi distimulasi oleh trauma dan infeksi dimana respon ini menghambat penyebaran inflamasi dan meningkatkanpenyembuhan dengan tanda-tanda calor, tumor, rubor, dan dolor. Respon inflamasi terjadi dalam tiga fase yaitu perubahan dalam sel dan sitem sirkulasi, pelepasan eksudat dari luka,dan perbaikan jaringan oleh regenerasi dan pembentukan jaringan parut.

- General adaptation syndrome (GAS) General adaptation syndrome (GAS) melibatkan sistem tubuh seperti sistem saraf otonom dan sistem endokrin. GAS dikenal sebagai respon neuroendokrin. GAS terdiri dari tiga tahap yaitu: 1. Reaksi alarm/ reaksi peringatan Reaksi alarm melibatkan pengerahan mekanisme pertahanan dari tubuh dan pikiran untuk menghadapi stresor. Secara fisiologi, respons stres adalah pola reaksi saraf dan hormon yang

Page 9

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 bersifat menyeluruh dan tidak spesifik terhadap setiap situasi apapun yang mengancam homeostasis (Sherwood, 2001). Berikut adalah gambar efek stresor pada tubuh

STRESSOR

RESPON SPESIFIK YANG KHAS UNTUK JENIS STRESSOR

TUBUH

RESPON MENYELURUH UNTUK APAPUN JENIS STRESSOR

Tabel perubahan hormone utama selama respon stress (Sherwood) HORMON Epinefrin PERUBAHAN Naik TUJUAN Memperkuat sistem saraf simpatis untuk mempersiapakan tubuh fight on flight Memobilisasi simpanan karbohidrat dan lemak; meningkatkan kadar glukosa dan asam lemak darah

CRH-ACTH-kortisol

Naik

Memobilsasi simpanan energi dan bahanpembangun metabolik untuk digunakan jikadiperlukan;

meningkatkan glukosa, asam aminodarah, dan asam lemak darah ACTHmempermudah proses belajar dan perilaku

Glukagon Insulin Renin Aldosteron

Naik Turun Angiotensin Naik

Bekerja bersama untuk mengatur kadar glukosa darah Menahan Garam dan plasma; darah jika H2O untuk membantu terjadi

meningkatkanvolume mempertahankantekanan pengeluaran akut plasma

Page 10

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 Vasopressin Naik Vasopresin dan angiostensin II menyebabkan vasokontriksi arteriol untuk meningkatkan tekanan darah.

Terjadi peningkatan hormonal yang luas dalam reaksi ini sehingga cenderung pada respon melawan dan menghindar, seperti curah jantung, ambilan oksigen, dan frekuensi pernapasan meningkat; pupil mata berdilatasi untuk menghasilkan bidang visual yang lebih besar; dan frekuensi jantung meningkat untuk menghasilkan energy lebih banyak. Namun, jika stresor terus menetap setelah reaksi alarm maka individu tersebut akan masuk pada tahap resisten 2. Tahap resisten Dalam tahap ini tubuh kembali stabil, kadar hormon, frekuensi jantung, tekanan darah, dan curah jantung kembali ke tingkat normal. Individu terus berupaya untuk menghadapi stresor dan memperbaiki kerusakan. Akan tetapi jika stresor terus menetap seperti pada kehilangan darah terus menerus, penyakit melumpuhkan, penyakit mental parah jangka panjang, dan ketidakberhasilan mengadaptasi maka invidu masuk ke tahap kehabisan energi. 3. Tahap kehabisan tenaga Tahap kehabisan tenaga terjadi ketika tubuh tidak dapat lagi melawan stres dan ketika energi yang diperlukan untuk mempertahankan adaptasi sudah habis (Potter & Perry,2005). Jika tubuh tidak mampu untuk mempertahankan dirinya terhadap dampak stresor, regulasi fisiologis menghilang, dan stres tetap berlanjut, maka akan terjadi kematian.

Beberapa penelitian menunjukan bahwa bagian otak amigdala adalah kunci dari PTSD, ditunjukan bahwa pengalaman yang traumatik dapat merangsang bagian tersebut untuk menimbulkan rasa takut yang dalam terhadap kondisi-kondisi yang mungkin menyebabkan kembalinya pengalaman traumatic tersebut. Amigdala dan berbagai struktur lainnya seperti hipotalamus, bagian abu-abu otak dan nucleus, mengaktifkan neurotransmitter dan endokrin untuk menghasilkan hormone-hormon yang berperan dari berbagai gejala PTSD. Bagian otak depan (frontal) sebenarnya berfungsi untuk menghambat aktivasi rangkaian ini, walaupun begitu

Page 11

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 pada penelitian terhadap orang-orang yang mengalami PTSD, bagian ini mengalami kesulitan untuk menghambat aktivasi system amigdala. Aktivasi neurotransmiter otonom dan aktivitas endokrin menghasilkan banyak gejala PTSD. Hippocampus juga mungkin memiliki efek modulasi di amigdala. Korteks orbitoprefrontal sebenarnya dapat menambah efek inhibisi pada aktivasi PTSD. Namun, pada orang yang

menderita PTSD, korteks orbitoprefrontal kurang mampu menghambat aktivasi ini, mungkin karena stres akibat atrofi pada daerah hipocampus. Dalam kasus PTSD, ingatan terus-menerus akan peristiwa traumatik yang terjadi telah mengganggu proses akuisisi informasi baru dan mengingat informasi yang tidak ada kaitannya dengan trauma yang dialami. Yang menjadi persoalan adalah terjadinya stres serius yang terusmenerus ini mendorong diproduksinya hormon kortisol, yang pada akhirnya merusak struktur otak yang penting bagi ingatan, yaitu pada hipokampus dan sistem limbik.

2.5 Manifestasi Klinis Gangguan-gangguan ini dapat dianggap sebagai respon maladaptive terhadap stress berat atau stress berkelanjutan dimana mekanismepenyesuaian tidak berhasil mengatasi sehingga menimbulkan masalah dalamfungsi sosialnya.Gangguan ini terjadi berminggu-minggu/berbulanbulansetelah kejadian,awitan biasanya dalam 6 bulan. 3 kelompok utama gejala (tidak ada sebelum pajanan): 1. Hyperarousal (rangsangan yang berlebihan) a. Ansietas yang menetap b. Kewaspadaan yang berlebihan c. Konsentrasi buruk d. Insomnia 2. Intrusions( pengacauan) a. Kilasan balik b. Mimpi buruk c. Ingatan yang hidup 3. Avoidance (penghindaran) a. Menghindari hal-hal yang mengingatkan
Page 12

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 b. Ketidakmampuan mengingat beberapa bagian dari kejadian c. Minat yang rendah terhadap kehidupan sehari-hari

2.5 Diagnosis Gangguan ini tidak boleh secara umum didiagnosis kecuali ada bukti bahwa timbulnya dalam waktu 6 bulan dari suatu peristiwa traumatik yang luar biasa berat. Kemungkinan diagnosis masih dapat ditegakkan apabila tertundanya waktu antara terjadinya peristiwa dan onset melebihi waktu lebih dari 6 bulan, asalkan manifestasi klinisnya khas dan tidak didapatkan alternative lain yang memungkinkan dari gangguan ini. Sebagai tambahan, bukti adanya trauma, harus selalu ada dalam ingatan, bayangan atau mimpi mengenai peristiwa tersebut secara berulang-ulang. Seringkali terjadi penarikan diri secara emosional, penumpulan perasaan, dan penghindaran terhadap stimulus yang mungkin akan mengingatkan kembali akan traumanya, akan tetapi hal ini tidak esensial untuk diagnosis. Gangguan otonomik, gangguan suasana perasaan dan kelainan perilaku semuanya ,mempengaruhi diagnosis tapi bukan merupakan hal yang terlalu penting.

Pedoman diagnostik menurut PPDGJ III: a. Diagnosis baru ditegakkan bilamana gangguan ini timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatik berat (masa laten yang berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa bulan, jangan sampai melampaui 6 bulan).Kemungkinan diagnosis masih dapat ditegakkan apabila tertundanya waktu mulai saat kejadian dan onset gangguan melebihi waktu 6 bulan, asal saja manifestasi klinisnya adalah khas dan tidak terdapat alternative kategori gangguan lainnya. b. Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus dibedakan baying-bayang atau mimpi-mimpi dari kejadian traumatik tersebut secara berulang-ulang kembali (flashbacks) c. Gangguan otonomik, gangguan afek dan kelainan tingkah laku semuanya dapat mewarnai diagnosis tetapi tidak khas. d. Suatu sequelae manahun yang terjadi lambat setelah stress yang luar biasa, misalnya saja beberapa puluh tahun setelah trauma, diklasifikasikan dalam kategori F62.0 (perubahan kepribadian yang berlangsung lama setelah mengalami katastrofa).

Page 13

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Stress Pascatraumatik (Tabel dari DSM-IV,Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder,ed 4): A. Orang yang telah terpapar dengan suatu kejadian traumatik di mana kedua dari berikut ini terdapat: 1. Orang mengalami,menyaksikan,atau dihadapkan dengan suatu kejadian atau kejadiankejadian yang berupa ancaman kematianatau kematian yang sesungguhnya atau cedera yang serius atau ancaman kepada integritas fisik diri sendiri atau orang lain. 2. respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat,rasa tidak berdaya atau horror. B. Kejadian traumatik secara menetap dialami kembali dalam satu (atau lebih) cara berikut: 1. 1.rekoleksi yang menderitakan,rekuren,dan mengganggu tentang kejadian,termasuk bayangan,pikiran,atau persepsi. 2. mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian. 3. berkelakuan atau merasa seakan-akan kejadian traumatik terjadi kembali. 4. penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik. 5. reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda internal ataueksternal yang menyimbolkan atau menyerupai suatu aspek kejadian traumatik. C. Penghindaran stimulus yang persisten yang berhubungan dengan traumadan kaku karena responsivitas umum (tidak ditemukan sebelum trauma),seperti yang ditunjukan oleh tiga (atau lebih) berikut ini: 1. usaha untuk menghindari pikiran,perasaan,atau percakapan yang berhubungan dengan trauma. 2. usaha untuk menghindari aktivitas,tempat,atau orang yang menyadarkan rekoleksi dengan trauma. 3. tidak mampu untuk mengingat aspek penting dari trauma 4. hilangnya minat atau peran serta yang jelas dalam aktivitas yangbermakna. 5. perasaan terlepas atau asing dari orang lain. 6. rentang aspek yang terbatas. 7. perasaan bahwa masa depan menjadi pendek. D. Gejala menetap adanya peningkatan kesadaran (tidak ditemukan sebelum trauma),seperti yang ditunjukkan oleh dua (atau lebih) berikut:
Page 14

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 1. kesulitan untuk tertidur atau tetap tertidur. 2. iritabilitas atau ledakan kemarahan. 3. sulit berkonsentrasi. 4. kewaspadaan berlebihan. 5. respon kejut yang berlebihan. E. Lama gangguan (gejala dalam kriteria B,C,D ) lebih dari satu bulan. F. Gangguan menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,pekerjaan,atau fungsi penting lain.(Kaplan,Sadock,& Grebb,2007)

2.6 Diagnosis banding Pertimbangan utama dalam diagnosis PTSD adalah kemungkinan bahwa pasien juga menderita cedera kepala selama trauma. Pertimbangan organik yang dapat menyebabkan dan memperberat gejala adalah epilepsi, gangguan pengguanaan alkohol, dan gangguan terkait zat lain. Intoksikasi akut atau putus zat juga dapat menunjukkan gambaran klinis yang sulit dibedakan dengan gangguan ini sampai efek zat hilang. Klinisi harus mempertimbangkan diagnosis PTSD pada pasien yang memiliki gangguan nyeri, penyalahgunaan zat, gangguan anxietas lain, dan gangguan mood. Pada umumnya PTSD dapat dibedakan dengan wawancara pasien mengenai pengalaman traumatik sebelumnya, dan dengan sifat gejala saat ini. Gangguan kepribadian ambang, gangguan disosiatif, gangguan buatan, dan malingering juga harus dipertimbangkan. Gangguan kepribadian ambang sulit dibedakan dengan PTSD karena dapat muncul bersamaan atau bahkan penyebabnya dapat berkaitan. Pasien dengan gangguan disosiatif biasanya tidak memiliki derajat perilaku menghindar hyperaurosal otonom atau riwayat trauma yang dimiliki gangguan PTSD. Sebagian karena publisitas yang didapat dari PTSD klinisi juga harus mempertimbangkan gangguan buatan atau malingering. Gejala PTSD dapat sulit dibedakan juga dengan gejala gangguan panik danGangguan Cemas Menyeluruh. Hal ini dikarenakan ketiganya berhubungandengan kecemasan dan aktivasi gejala autonomik. .Kunci untuk membedakan PTSD adalah relasi waktu antara kejadian traumatik dan gejala. Depresimayor juga sering terjadi bersamaan dengan PTSD. Hal ini perlu dicatat karena akan mempengaruhi terapi PTSD.

Page 15

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 2. 7 Penatalaksanaan Pendekatan terapi pada PTSD adalah dukungan, dorongan untuk mendiskusikan peristiwa tersebut, dan edukasi mengenai mekanisme koping (contohnya relaksasi). Penggunaan obat hipnotik-sedatif juga dapat membantu. Ketika pasien mengalami peristiwa traumatik masa lalu dan sekarang memiliki PTSD, penekanan harus pada edukasi mengenai gangguan dan terapinya baik farmakologis maupun psikoterapinya. 1. Farmakoterapi Obat yang biasanya digunakan untuk membantu penderita PTSD meliputi serotonergik antidepresan (SSRI), seperti fluoxetine (Prozac), sertraline (Zoloft), dan paroxetine (Paxil), dan obat-obatan yang membantu mengurangi gejala fisik yang terkait dengan penyakit, seperti prazosin (Minipress) , clonidine (Catapres), guanfacine (TENEX), dan propranolol . Individu dengan PTSD sangat kecil kemungkinannya untuk mengalami kambuh penyakit mereka jika pengobatan antidepresan dilanjutkan setidaknya selama setahun. SSRI adalah kelompok pertama dari obat-obat yang telah menerima persetujuan oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk pengobatan PTSD. SSRI cenderung membantu penderita PTSD mengubah informasi yang diambil dari lingkungan (rangsangan) dan untuk mengurangi rasa takut. Penelitian juga menunjukkan bahwa kelompok obat-obatan cenderung mengurangi kecemasan, depresi, dan panik. SSRI juga dapat membantu mengurangi agresi, impulsif, dan pikiran bunuh diri yang dapat dikaitkan dengan gangguan ini. Untuk PTSD yang terkait dengan perkelahian, ada semakin banyak bukti bahwa prazosin dapat sangat membantu. Meskipun obat lain seperti duloxetine (Cymbalta), bupropion (Wellbutrin), dan venlafaxine (Effexor) kadangkadang digunakan untuk mengobati PTSD, ada sedikit penelitian yang telah mempelajari efektivitas mereka dalam mengobati penyakit ini. Obat kurang efektif secara langsung tapi tetap berpotensi bermanfaat lainnya untuk mengelola PTSD termasuk mood stabilizer seperti lamotrigin (Lamictal), tiagabine (Gabitril), natrium divalproex (Depakote), serta sebagai mood stabilizer yang juga antipsikotik, seperti risperidone (Risperdal), olanzapine ( Zyprexa), dan quetiapine (Seroquel). Obat-obatan antipsikotik

tampaknya paling berguna dalam pengobatan PTSD pada mereka yang menderita agitasi, disosiasi, hypervigilance, kecurigaan intens (paranoia), atau istirahat singkat dalam menjadi
Page 16

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 berhubungan dengan realitas (reaksi psikotik singkat). Obat-obat antipsikotik juga sedang

semakin ditemukan menjadi pilihan pengobatan membantu untuk mengelola PTSD bila digunakan dalam kombinasi dengan SSRI. Benzodiazepin (obat penenang) seperti diazepam (Valium) dan alprazolam (Xanax) sayangnya telah dikaitkan dengan sejumlah masalah efek samping, termasuk gejala withdrawal dan risiko overdosis, dan belum ditemukan secara signifikan efektif untuk membantu individu dengan PTSD. Selektif Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI) seperti Sertraline dan Paroxetine dipertimbangkan sebagai terapi lini pertama untuk PTSD karena efektivitas dan tingkat keamanannya. SSRI mengurangi gejala PTSD dan efektif memperbaiki gejala PTSD yang khas. Efektivitas Imipramine dan Amitriptilin untuk terapi PTSD secara klinis terkontrol baik. Dosis Imipramine dan Amitriptilin harus sama dengan dosis yang digunakan untuk mengobati gangguan depresif dan lama minum untuk pengobatan adalah 8 minggu. Pasien yang memberikan respon baik, mungkin harus melanjutkan farmakoterapi sedikitnya 1 tahun sebelum dicoba penghentian obat. Obat lain yang dapat berguna dalam terapi PTSD adalah Monoamine Oksidase Inhibitor (MAOI) contohnya Fenelzine, Trazodon, dan Antikonvulsan contohnya Karbamazepine dan Valproat. Hampir tidak ada data positif mengenai penggunaan antipsikotik sehingga penggunaan obat ini, contohnya Haloperidol harus dicadangkan untuk mengatasi agresi dan agitasi berat.

2. Psikoterapi Intevensi psikoterapi PTSD mencakup terapi perilaku, terapi kognitif, dan hipnosis. Banyak klinisi menyarankan psikoterapi dengan waktu terbatas pada korban trauma. Terapi seperti ini memerlukan pendekatan kognitif, memberikan dukungan, dan rasa aman. Sifat psikoterapi jangka pendek dapat meminimalkan resiko ketergantungan dan menjadi kronis. Terapis harus menghadapi penyangkalan pasien mengenai peristiwa traumatik sehingga terapis menyarankan mereka bersantai dan menjauhkan mereka dari sumber stress. Pasien harus disarankan tidur,
Page 17

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 menggunakan obat jika perlu. Dukungan dari orang sekitar harus diberikan. Pasien harus diminta mengingat kembali dan melakukan abreaksi (mengalami emosi yang berkaitan dengan suatu peristiwa yang dapat membantu pasien) perasaan emosional yang berkaitan dengan peristiwa traumatik dan merencanakan pemulihan masa mendatang. Ketika timbul PTSD, ada 2 pendekatan psikoterapik utama, yang pertama adalah teknik membayangkan terhadap peristiwa tersebut. Pajanan ini bertahap seperti pada desensitisasi sistematik. Pendekatan kedua adalah mengajari pasien metode penatalaksaanaan stress termasuk teknik relaksasi dan pendekatan kognitif untuk menghadapi strss. Sejumlah data menunjukkan bahwa penatalaksanaan stress lebih cepat daripada teknik pemajanan. Akan tetapi, hasil teknik pemajanan lebih bertahan lama. Terapi psikoterapi yang relatif baru dan kontroversial adalah Eye Movement Desensitization and Reprocessing disini pasien berfokus pada gerakan lateral jari klinisi sambil mempertahankan bayangan mental tentang pengalaman trauma. Keyakinan umum adalah bahwa gejala dapat dipulihkan jika pasien mengingat peristiwa traumatik sambil berada dalam keadaan relaksasi dalam.Disamping teknik terapi individu, terapi kelompok dan keluarga sering dilaporkan efektif pada kasus PTSD. Eye-movement desensitization and reprocessing (EMDR) adalah bentuk terapi kognitif di mana panduan praktisi orang dengan PTSD dalam berbicara tentang trauma yang diderita dan perasaan negatif yang terkait dengan peristiwa, sambil memfokuskan pada jari profesional bergerak cepat. Sementara beberapa penelitian menunjukkan pengobatan ini mungkin efektif, tidak jelas apakah ini adalah setiap lebih efektif daripada terapi kognitif yang dilakukan tanpa menggunakan gerakan mata yang cepat. Keluarga individu PTSD, serta penderita, dapat mengambil manfaat dari konseling keluarga, konseling pasangan, orang tua kelas, dan resolusi konflik pendidikan. Anggota keluarga juga mungkin dapat memberikan sejarah yang relevan tentang dicintai mereka satu (misalnya, tentang emosi dan perilaku, penyalahgunaan narkoba , kebiasaan tidur, dan sosialisasi) bahwa orang dengan penyakit tidak mampu atau tidak ingin berbagi. Langsung menangani masalah tidur yang dapat menjadi bagian dari PTSD telah ditemukan tidak hanya membantu meringankan masalah tersebut tetapi dengan demikian membantu mengurangi
Page 18

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 gejala PTSD pada umumnya. Secara khusus, melatih cara-cara adaptif mengatasi mimpi buruk (citra terapi latihan), pelatihan dalam teknik relaksasi, self-talk positif, dan skrining untuk masalah tidur lainnya telah ditemukan untuk menjadi sangat membantu dalam mengurangi masalah tidur yang terkait dengan PTSD. 2.8 Prognosis Kira-kira 30% pasien pulih dengan sempurna,40% terus menderita gejala ringan,20% terus menderita gejala sedang,dan 10% tidak berubah atau memburuk.Umumnya orang yang sangat muda atau sangat tua lebih mengalami kesulitan. Prognosis yang baik dapat dicapai bila kondisi PTSD muncul dalam waktu singkat, durasinya singkat, fungsi premorbid yang baik, dukungan social yang baik dan tidak adanya kondisi komorbid atau penyalahgunaan zat.

Page 19

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 BAB III KESIMPULAN

Gangguan stress pasca trauma adalah suatu gangguan kecemasan yangtimbul setelah mengalami atau menyaksikan suatu ancaman kehidupan atauperistiwa-peristiwa trauma, seperti perang militer, serangan dengan kekerasanatau suatu kecelakaan yang serius. Peristiwa trauma ini menyebabkan seseorang memberikan reaksi dalam keadaan ketakutan, tak berdaya dan mengerikan. Bila gejala-gejala gangguan stres pasca trauma menjadi parah, gangguan tersebut menimbulkan ketidakmampuan. Stressor adalah penyebab utama terjadinya Gangguan Stress Pasca Trauma. Stressor berupa kejadian yang traumatis misalnya akibat perkosaan, kecelakaan yang parah, kekerasan pada anak atau pasangan, bencana alam, perang, atau dipenjara. Penatalaksaan gangguan stress pasca trauma dapat dilakukan dengan psikoterapi dengan dilakukannya terapi individu maupun terapi kolompok. Dapat juga ditambah dengan menggunakan farmakoterapi.

Page 20

[POST-TRAUMA STRESS DISORDER] July 27, 2012 DAFTAR PUSTAKA Hibbert A,Godwin A & Dear F.2009.Rujukan Cepat Psikiatri. Alih Bahasa:Rini

Cendika.EGC:Jakarta Kaplan H,Sadock B & Grebb J.2007.Sinopsis Psikiatri,Jilid 2.AlihBahasa:Widjaja

Kusuma.Binarupa Aksara:Tanggerang Mansjoer, Arif, dkk. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius: Jakarta Tomb, David A. 2004. Buku Saku Psikiatri edisi 6. EGC : Jakarta PPDGJ III

Page 21