Anda di halaman 1dari 21

1

I.

JUDUL

PENINGKATAN KADAR RENDEMEN MINYAK DAUN CENGKEH DENGAN TEKNIK DESTILASI MELALUI FERMENTASI II. LATAR BELAKANG Cengkeh (Eugenia aromatica) adalah salah satu komoditi perkebunan yang memiliki peranan penting dalam dunia perdagangan saat ini. Tidak kurang dari industri kecil sampai besar yang meliputi industri pabrik rokok, kosmetika, parfum, maupun rempah-rempah sangat membutuhkan komoditas ini. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang semakin meningkat, komoditas cengkeh dari Indonesia juga ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri. Minyak daun cengkeh merupakan salah satu komoditi ekspor Indonesia dan memegang peranan penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat produsen minyak daun cengkeh. Minyak cengkeh mengandung beberapa komponen, tetapi yang paling penting adalah eugenol. Eugenol inilah yang memberikan aroma khas yang banyak dibutuhkan oleh berbagai industri, antara lain industry kosmetika, farmasi, dan pestisida nabati ( Agus kardinan, 2005 : 14). Daun-daun cengkeh yang telah tua dan menguning, akan berjatuhan dan kemudian membusuk atau mengering di bawah tajuk tanaman dan sepertinya tak berguna selain untuk humus tumbuhan cengkeh itu sendiri. Akan tetapi ternyata daun-daun cengkeh tersebut bisa termanfaatkan menjadi komoditas ekspor salah satunya dengan cara disuling sehingga didapatkan minyak daun cengkeh. Sebuah bisnis yang tampak sangat remeh tetapi ternyata menguntungkan.

Hampir seluruh produk minyak daun cengkeh (clove leaf oil) dapat diekspor (Trubus) selain itu dalam Trubus harga minyak daun cengkeh selalu stabil, karena patokannya US $. Indonesia, sampai dengan saat ini masih merupakan pemasok terbesar kebutuhan minyak daun cengkeh dunia. Sementara pemasok minyak bunga cengkeh (clove oil) adalah India

(http://foragri.blogsome.com/prospek-penyulingan-daun-cengkeh/). Minyak daun cengkeh sebenarnya masih merupakan bahan seperempat jadi untuk diisolasi eugenolnya. Eugenol sendiri adalah bahan setengah jadi untuk berbagai kegunaan yang sangat luas. Mulai dari untuk parfum, vanili sintetis, farmasi, minuman, makanan sampai ke campuran bahan peledak (bom) dan bahan bakar pesawat ulang-alik. Semua itu berawal dari sampah daun kering yang dikumpulkan anak-anak lalu dipasok ke pengusaha penyulingan. Harga daun cengkeh kering itu Rp 300,- sd. Rp 400,- per kg. Rendemen daun cengkeh kering hanya sekitar 1,5 %

(http://foragri.blogsome.com/prospek-penyulingan-daun-cengkeh./ Pada musim hujan, suplai daun cengkeh akan menurun tajam. Sebab daun tidak banyak yang rontok. Sementara satu dua daun yang rontok pun, akan segera membusuk tersiram air hujan. Hingga praktis selama musim penghujan kegiatan penyulingan daun cengkeh akan terhenti. Padahal, kalau dalam satu tahun ketel hanya beroperasi kurang dari 200 hari, maka penyuling akan rugi. Itulah sebabnya banyak penyuling daun cengkeh yang pada musim penghujan menyuling nilam. Sebab pada musim ini tanaman nilam justru memproduksi daun yang bisa

dipanen. Sementara pada musim kemarau, tanaman nilam yang tidak diairi akan berhenti berproduksi. Melihat hasil rendemen daun cengkeh yang sedikit tak sedikit penyuling yang peduli pada daun cengkeh sehingga beralih pada penyulingan yang lain seperti pala, nilam. Perlu suatu upaya agar para penyuling tetap peduli terhadap penyulingan daun cengkeh untuk menjaga stabilitas pemenuhan kebutuhan terhadap minyak daun cengkeh. Salah satunya dengan meningkatkan rendemen minyak daun cengkeh. Terinspirasi dari teknik pembuatan virgin coconut oil, pembuatan virgin coconut oil biasanya menggunakan teknik fermentasi. Kenapa tidak dilakukan penelitian penyulingan minyak daun cengkeh dengan teknik fermentasi sehingga dapat meningkatkan rendemen minak daun cengkeh? Kenapa? Alasannya dengan teknik fermentasi setidaknya membran sel daun akan rusak sehingga semua minyak akan keluar sebab minyak menurut Trubus Volume 507 tahun 2012 ada di dalam sel dan akan keluar bila dinding selnya rusak. Apabila benar setidaknya rendemen minyak daun cengkeh akan meningkat sehingga banyak pihak yang diuntungkan seperti petani, penyuling, pengusaha, industri, dan pemerintah. Sehingga penelitian untuk meningkatkan kadar rendemen minyak daun cengkeh menggunakan teknik destilasi melalui fermentasi perlu diupayakan.

III.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Adakah pengaruh fermentasi terhadap peningkatan rendemen minyak daun cengkeh yang disuling menggunakan teknik destilasi

IV.

TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk menegetahui adanya pengaruh fermentasi terhadap peningkatan kadar rendemen minyak daun cengkeh yang disuling menggunakan teknik destilasi. V. MANFAAT PENELITIAN

1. Pengembangan Ilmu Membantu pengembangan IPTEK misalnya untuk biologi dapat mengetahui cara meningkatkan kadar rendemen minyak daun cengkeh dengan menggunakan teknik destilasi melslui fermentasi. 2. Manfaat Praktis Dapat dijadikan dasar bagi penyuling untuk meningkatkan hasil rendemen minyak daun cengkehnya, sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan daya saing produk minyak daun cengkeh Indonesia yang pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan para petani cengkeh, menambah pendapatan daerah serta dapat meningkatkan devisa negara. 3. Manfaat di Bidang Pendidikan Penelitian ini dapat di aplikasikan dalam bidang pendidikan yaitu pada pelajaran Biologi kelas X Sub Bab Bioteknologi yaitu tentang fermentasi.

VI. 1.

TINJAUAN TEORITIS Tinjauan Umum Minyak Atsiri Minyak yang terdapat di alam dibagi menjadi tiga golongan besar, yaitu:

minyak mineral (mineral oil), minyak yang dapat dimakan (edible fat) dan minyak atsiri (essential oil). (Guenther,1987) Minyak atsiri dikenal juga dengan nama minyak teris atau minyak terbang (volatile oil) yang dihasilkan oleh tanaman. Minyak tersebut mudah menguap pada suhu kamar tanpa mengalami dekomposisi, mempunyai rasa getir (pungent teste), berbau wangi sesuai dengan bau tanaman penghasilnya. Umumnya larut dalam pelarut organik dan tidak larut air. Minyak atsiri ini merupakan salah satu dalam hasil sisa dari proses metabolisme dalam tanaman yang terbentuk karena reaksi antara berbagai persenyawaan kimia dengan adanya air. Minyak tersebut disintesa dalam sel glandular pada jaringan tanaman dan ada juga yang terbentuk dalam pembuluh resin, misalnya minyak terpentin dari pohon pinus. (Ketaren, 1981). Tanaman penghasil minyak atsiri diperkirakan berjumlah 150-200 spesies tanaman yang termasuk dalam famili Pinaceae, Labiatae, Compositae, Lauraceae, Myrtaceae dan Umbelliferaceae. Minyak atsiri dapat bersumber pada setiap bagian tanaman, yaitu, dari daun, bunga, buah, biji, batang atau kulit dan akar atau rizhome. Minyak atsiri selain dihasilkan oleh tanaman, dapat juga bentuk dari hasil degradasi oleh enzim atau terdapat dibuat secara sintetis. (Richards, 1944). Di Indonesia banyak dibuat jenis-jenis minyak atsiri, seperti minyak nilam, minyak cengkeh, minyak pala, minyak lada, minyak sereh dan lain-lain.

2.

Minyak Cengkeh Minyak daun cengkeh merupakan salah satu minyak atsiri yang cukup

banyak dihasilkan di Indonesia dengan cara penyulingan air dan uap. Minyak daun cengkeh berupa cairan berwarna bening sampai kekuning-kuningan, mempunyai rasa yang pedas, keras, dan berbau aroma cengkeh. Warnanya akan berubah menjadi coklat atau berwarna ungu jika terjadi kontak dengan besi atau akibat penyimpanan. Pohon cengkeh merupakan tanaman tahunan yang dapat tumbuh dengan tinggi 10-20 m, mempunyai daun berbentuk lonjong yang berbunga pada pucukpucuknya. Tangkai buah pada awalnya berwarna hijau, dan berwarna merah jika bunga sudah mekar. Cengkeh akan dipanen jika sudah mencapai panjang 1,5-2 cm. Cengkeh dikenal dengan nama latin Syzygium aromaticum atau Eugenia aromaticum. Tanaman asli Indonesia ini tergolong ke dalam keluarga tanaman Myrtaceae pada ordo Myrtales. Sampai saat ini, sebagian besar kebutuhan cengkeh dunia (80%) masih dipasok oleh Indonesia, disusul oleh Madagaskar dan Tanzania. Ada 3 tipe cengkeh yang dibudidayakan di Indonesia yaitu siputih, sikotok dan zanzibar, yang dibedakan dari ciri-ciri pada pucuk, cabang muda, daun, ranting, bunga, percabangan atau bentuk mahkota pohon. Dalam perdagangan internasional, minyak cengkeh dibagi menjadi 3 bagian berdasarkan sumbernya, yaitu minyak daun cengkeh (clove leaf oil), minyak tangkai cengkeh (clove stem oil), minyak bunga cengkeh (clove bud oil). Dari ketiga bagian tersebut yang

paling ekonomis adalah ekstrak bagian daunnya. Oleh karena itu jenis minyak cengkeh yang umum diperjualbelikan adalah minyak daun cengkeh ( clove leaf oil ). Minyak daun cengkeh hasil penyulingan dari petani mempunyai kadar eugenol berkisar antara 70-80%. Komponen utama minyak cengkeh adalah terpena dan turunannya. Komponen inilah yang penting dalam kegiatan industri seperti dalam parfum, flavor , obat-obatan, cat, plastik dan lain-lain. Terpena yang ada dalam minyak cengkeh adalah eugenol, eugenol asetat dan caryophylene. Ketiga senyawa tersebut merupakan komponen utama penyusun minyak cengkeh dengan kandungan total mencapai 99% dari minyak atsiri yang dikandungnya. Eugenol memiliki sifat antiseptik dan anestetik (bius). Selain eugenol, minyak atsiri cengkeh juga mengandung tanin, asam galotanat, metil salisilat (suatu zat penghilang nyeri), asam krategolat, beragam senyawa flavonoid (yaitu eugenin, kaemferol, rhamnetin, dan eugenitin), berbagai senyawa triterpenoid (yaitu asam oleanolat, stigmasterol, dan kampesterol), serta mengandung berbagai senyawa seskuiterpen. Minyak daun cengkeh Indonesia sudah dikenal di pasar dunia sejak tahun 1970, sedangkan minyak tangkai/gagang cengkeh mulai tahun 1992 memasuki pasaran dunia. Sebagai bahan obat, cengkeh telah lama digunakan terutama untuk kesehatan gigi dalam bentuk produk obat kumur, pasta dan bahan penambal gigi. Produk kesehatan lainnya adalah balsam cengkeh yang menggunakan minyak cengkeh sebagai komponen formulanya. Eugenol yang terdapat dalam minyak cengkeh merupakan bahan baku yang banyak dipakai dalam industri kesehatan gigi (obat kumur, pasta dan formulasi bahan penambal gigi).

3.

Destilasi

Sejarah Distilasi pertama kali ditemukan oleh kimiawan Yunani sekitar abad pertama masehi yang akhirnya perkembangannya dipicu terutama oleh tingginya permintaan akan spritus. Hypathia dari Alexandria dipercaya telah menemukan rangkaian alat untuk distilasi dan Zosimus dari Alexandria-lah yang telah berhasil menggambarkan secara akurat tentang proses distilasi pada sekitar abad ke-4 Bentuk modern distilasi pertama kali ditemukan oleh ahli-ahli kimia Islam pada masa kekhalifahan Abbasiah, terutama oleh Al-Razi pada pemisahan alkohol menjadi senyawa yang relatif murni melalui alat alembik, bahkan desain ini menjadi semacam inspirasi yang memungkinkan rancangan distilasi skala mikro, The Hickman Stillhead dapat terwujud. Tulisan oleh Jabir Ibnu Hayyan (721-815) yang lebih dikenal dengan Ibnu Jabir menyebutkan tentang uap anggur yang dapat terbakar, ia juga telah menemukan banyak peralatan dan proses kimia yang bahkan masih banyak dipakai sampai saat kini. Kemudian teknik penyulingan diuraikan dengan jelas oleh Al-Kindi (801-873). (Stephanie, dkk : 2009). Definisi

Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan atau didefinisikan juga teknik pemisahan kimia yang berdasarkan perbedaan titik didih. Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik

didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Metode ini merupakan termasuk unit operasi kimia jenis perpindahan massa. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton (Stephanie, dkk : 2009).

Aplikasi Salah satu penerapan terpenting dari metode distilasi adalah pemisahan minyak mentah menjadi bagian-bagian untuk penggunaan khusus seperti untuk transportasi, pembangkit listrik, pemanas, dll. Udara didistilasi menjadi komponen-komponen seperti oksigen untuk penggunaan medis dan helium untuk pengisi balon. Distilasi juga telah digunakan sejak lama untuk pemekatan alkohol dengan penerapan panas terhadap larutan hasil fermentasi untuk menghasilkan minuman suling (Stephanie, dkk : 2009). Untuk mendapatkan minyak dari fermentasi daun cengkeh, mestilah dilakukan destilasi setelahnya, karena hasil fermentasi daun cengkeh tentunya masih bercampur secara homogen dengan air. Untuk itu, dilakukan destilasi sehingga atas dasar perbedaan titik didih air dan titik didih minyak, minyak akan menguap terlebih dahulu. Dengan menjaga destilasi maka hanya komponen minak saja yang akan menguap. Uap tersebut akan melalui pendingin dan akan kembali cair. Sehingga didapat minyak daun cengkeh dengan kualitas yang baik. 4. Pengertian Fermentasi

10

Fermentasi merupakan proses produksi energi didalam sel pada kondisi anaerobic (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi merupakan bentuk dari respirasi anaerobic, akan tetapi terdapat definisi yang jelas yang menjelaskan fermentasi sebagai respirasi dalam keadaan anaerobic, tanpa adanya eksternal acceptor electron, gula merupakan bahan yang biasa ada dalam fermentasi. Beberapa contoh dari hasil fermentasi adalah ethanol, lactic acid, dan hydrogen. Tetapi, beberapa senyawa dapat dihasilkan melalui fermentasi, seperti butyric acid dan acetone. Ragi merupakan bahan yang biasa digunakan untuk menghasilkan ethanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobic pada binatang mamalia pada saat mereka bekerja keras (yang tidak mempunyai eksternal acceptor electron). Karena cara fermentasi cukup sederhana dan banyak keuntungannya maka perlu dikembangkan dan dimasyarakatkan. Untuk ditetapkan di masyarakat biakan murni khamir atau bakteri sebagai inokulum dapat diganti dengan sumber khamir yang mudah didapat dipasaran, yaitu ragi roti (gist). Fermentasi santan dengan menggunakan inokulum ragi roti dapat menghasilakan pemisahan yang sangat baik (Sukmadi, B 1987). Pemanfaatan mikroorganisme pada proses fermentasi dimaksudkan agar terjadi koagulasi protein penstabil emulsi santan. Proses koagulasi fermentasi protein ini mengakibatkan membran tipis pelapis emulsi pecah dan minyak dapat diperoleh. Disamping itu mikroba juga menghasilakan enzim yang dapat menghidrolisis makromolekul protein. Prinsip pemecahan lapisan tipis (membran) protein pada glokoba minyak dapat terjadi dengan tiga (3) cara, yaitu :

11

Menaikkan temperatur sehingga proteinnya rusak Memberikan enzim yang dapat menghidrolisis protein Menambah asam untuk menurunkan pH sehingga protein terkoagulasi Beberapa penelitian telah dilakukan dengan menggunakan berbagai jenis

mikroorganisme berbeda untuk memecahkan membran pada globula minyak. Steinkraus (1970) menggunakan Lactobacillus plantarum dan Lactobacillus delbrueckii untuk fermentasi santan guna mendapatkan minyak kelapa dengan kualitas baik. Arbianto (1976) telah melakukan fermentasi santan dengan 4 (empat) jenis mikroorganisme berbeda yaitu : Lactobacillus sp, Acetobacter sp, Saccaromyces cereveceae dan Candida sp. Peneliti melaporkan dapat memperoleh hampir 100% dari jumlah minyak yang terkandung dalam krim santan selama fermentasi 48 jam. Hartanti (1989) menyatakan fermentasi krim santan dengan starter bibit ragi selama 24 jam pada suhu kamar memberikan perolehan minyak kelapa sekitar 48,50% Sukmadi, B.et al (2002) melaporkan perolehan 796 ml dan 780 minyak kelapa ml per masing-masing per 2100 ml substrat krim santan dengan menggunakan inokulum Saccaromyces cereveceae dan ragi roti, dengan perbandingan volume krim santan dan air bibit 5 : 1 Dapat dikategorikan dalam bentuk minyak kelapa fermentasi merupakan keuntungan dalam hal jangka waktu, cepat berbau tengik dan hampir tidak mengandung kolesterol. Sementara dalam daun cengkeh, proses fermentasi dimaksudkan agar membran sel dapat pecah sehingga minyak dapat keluar dari sel

12

sebab minyak menurut Trubus Volume 507 tahun 2012 ada di dalam sel dan akan keluar bila dinding selnya rusak. VII. KERANGKA BERFIKIR Daun cengkeh semakin, banyak berguguran di daerah perkebunan cengkeh terutama pada musim kemarau. Menurut Mukhlason dalam

(mukhlason.wordpress.com) dalam sehari, seorang pengumpul daun cengkeh kering dapat mengumpulkan hingga dua karung besar berbobot hingga 30 kg. Proses yang biasa dilakukan dalam masyarakat adalah menjemur kembali daun-daun cengkeh yang telah terkumpul untuk selanjutnya dilakukan destilasi. Dalam sekali proses destilasi yang memakan waktu hingga delapan jam, rendemen minyak daun yang dihasilkan berada di kisaran 1.5 hingga 2.5 persen berat. Artinya, dari 100 kg daun kering, dapat dihasilkan 1.5 hingga 2.5 kg minyak daun cengkeh dengan harga jual di kisaran Rp.50 ribu/kg (Mukhlason, 2012). Kalau dalam satu tahun ketel hanya beroperasi kurang dari 200 hari, maka penyuling akan rugi. Melihat hasil rendemen daun cengkeh yang sedikit perlu dilakukan penelitian untuk meningkatkan kadar rendemen minyak daun cengkeh yaitu dengan cara fermentasi, proses fermentasi dimaksudkan agar membran sel dapat pecah sehingga minyak dapat keluar dari sel sebab minyak menurut Trubus Volume 507 tahun 2012 ada di dalam sel dan akan keluar bila dinding selnya rusak.

13

Adanya perbedaan perlakuan yang dilakukan pada daun cengkeh ini akan menghasilkan minyak daun cengkeh yang berbeda pula. Secara skematis, kerangka pemikiran penelitian dapat dilihat pada bagan sebagai berikut:

Dilakukan Fermentasi

Daun Cengkeh

Tanpa Fermentasi

Destilasi

Hasil rendemen minyak daun cengkeh yang berbeda

VIII. HIPOTESIS Atas dasar kerangka pemikiran di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut Fermentasi dapat mempengaruhi peningkatan rendemen minyak daun cengkeh yang disuling menggunakan teknik destilasi

IX. 1.

METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian 1.1 Waktu Penelitian Penelitian direncanakan akan dilaksanakan selama satu bulan yaitu pada bulan Januari 2013. 1.2 Lokasi penelitian

14

Penelitian direncanakan akan dilaksanakan di tempat penyulingan minyak daun cengkeh di daerah Kalipucang Kabupaten Ciamis. 2. Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Kantong plastik 2) Timbangan 3) Gelas ukur 4) Alat destilasi sederhana kapasitas 1lt 5) Saringan minyak 6) Pengaduk 7) Alat tulis menulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) Daun cengkeh kering sebanyak 36kg 2) Bakteri untuk proses fermentasi 3) Air 3. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah daun cengkeh kering yang telah berjatuhan dari perkebunan cengkeh di daerah Kalipucang Kabupaten Ciamis sebanyak 36 kg. 4. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Eksperimen menggunakan Rancangan Faktorial dalam pola Acak Lengkap (Factorial in Complete Randomized Design). Dengan faktor sebagai berikut :

15

Faktor A A1 (Cengkeh = Eugenia aromatica)

Faktor B B1 (dilakukan fermentasi), B2 (tanpa dilakukan fermentasi),

Dalam penelitian ini, rancangan factorial yang digunakan adalah rancangan factorial 1x2. Ini berarti perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini adalah 2 perlakuan. Untuk menentukan jumlah ulangan yang harus dilakukan, maka formula yang digunakan adalah: r (t-1) 15 2 (t-1) 15 2t 2 15 2t 2t t t 15 + 2 17 17/2 8,5 jumlah ulangan yang dilakukan adalah sebanyak 9 kali

Keterangan: r = jumlah perlakuan t = jumlah ulangan Berdasarkan perhitungan di atas, maka banyaknya pengulangan dalam penelitian ini adalah 9 kali. Dengan demikian jumlah unit penelitian sebanyak 18 unit. 5. Parameter Penelitian Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah hasil rendemen minyak daun cengkeh dengan dan tanpa teknik fermentasi

16

6. Prosedur Penelitian Prosedur dalam penelitian ini adalah: 1) Pengumpulan daun cengkeh kering sebanyak 36 kg dari perkebunan cengkeh di daerah Kalipucang Kabupaten Ciamis 2) Daun kering yang telah terkumpul, sebanyak 18kg dijemur dibawah terik matahari sampai benar-benar kering. Sementara sisanya sebanyak 18kg lagi dibiarkan tanpa proses penjemuran. 3) Daun yang tanpa penjemuran ditimbang masing-masing sebanyak 2kg untuk 9 unit. Sedangkan daun cengkeh yang dilakukan penjemuran, sebelumnya telah terlebih dahulu ditimbang masing-masing 2kg untuk 9 unit juga. 4) Setiap unit daun kering tanpa penjemuran dilakukan ferementasi 5) Dilakukan destilasi untuk setiap unit dari dua perlakuan beda di atas selama masing- masing 7 jam. Dapat dilakukan sehari satu kali sehingga untuk delapan belas unit dapat dilakukan selama delapan belas hari. 6) Dari setiap hasil penyulingan, minyak yang tertuang dihitung dengan cara diukur dalam gelas ukur. 7. Metode Analisis Data Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Eksperimen menggunakan Rancangan Faktorial dalam pola Acak Lengkap (Factorial in Complete Randomized Design). Hasil penelitian akan dianalisis menggunakan sidik ragam (analisis varian = Anava) dengan bantuan software microstat. Jika hasil sidik ragam menunjukkan perbedaan yang signifikan atau sangat signifikan, maka pengujian akan dilanjutkan menggunakan uji lanjut. Jenis uji lanjut akan

17

disesuaikan dengan besar kecilnya koefisien keragaman dengan ketentuan Hanafiah (2003:33-86) sebagai berikut: 1. Jika koefisien keragaman (kk) besar pada kondisi homogen atau homogen minimal 20% pada kondisi heterogen yaitu dilanjutkan dengan Uji Duncan 2. Jika koefisien keragaman (kk) 5-10% pada kondisi homogen atau 10-20% pada kondisi heterogen yaitu dilanjutkan dengan Uji BNT 3. Jika koefisien keragaman (kk) kecil maksimal 5% pada kondisi homogen atau maksimal 10% pada kondisi heterogen yaitu dengan Uji BNJ X. DAFTAR PUSTAKA

Anonym (2012). Prospek Penyulingan Daun Cengkeh. From http://foragri.blogsome.com/prospek-penyulingan-daun-cengkeh/, 17 Mei 2012 Anonym. (2012). Pendahulan Minyak Cengkeh. From http://www.scribd.com/doc/55744718/27649829-PENDAHULUANMinyak-Cengkeh-Adalah-Salah-Satu-Jenis#download, 17 Mei 2012 Arsyad, Akbar (2011). Bagaimana Membuat Minyak Kelapa dengan Metode Fermentasi. From http://coconutmic.com/id/berita-industri/111-how-tomake-coconut-oil-from-fermentation-method, 17 Mei 2012 Aswanto, Edi (2012). Pemucatan Minyak Daun Cengkeh dengan Khelasi menggunakan Assam Sitrat. From http://pustakagampong.blogspot.com/2012/01/pemucatan-minyak-daun-cengkehdengan.html, 17 Mei 2012 Aswanto, Edi (2012). Ekstraksi Cair-cair Pemurnian Euglenol. http://pustaka-gampong.blogspot.com/2012/01/ekstraksi-cair-cairpemurnian-eugenol.html, 17 Mei 2012 Hermani, Ibrahim (2010). Fermentasi Minyak Kelaspa. http://hermanibrahim.blogspot.com/2010/11/fermentasi-minyakkelapa.html, 17 Mei 2012 From

From

Hernani dan Tri Marwati. Peningkatan Mutu Minyak Atsiri melalui Pemurnian. From http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com/teknologi-pengolahanatsiri/hernani-dan-tri-marwati/, 17 Mei 2012

18

Kadarohman, Asep (2012). Minyak Atsiri sebagai Teaching Material dalam Pembelajaran Kimia. From http://www.scribd.com/doc/69977386/MinyakAtsiri-Sebagai-Teaching-Material-Dalam-Pembelajaran-Kimia#download, 17 Mei 2012 Mukhlason (2012). Minyak Cengkeh- Keajaiban dari Dunia Tropis. From http://kesehatan.kompasiana.com/medis/2012/02/17/minyak-cengkeh%E2%80%93-keajaiban-dari-dunia-tropis/, 17 Mei 2012 Nurmaelani, Melan . 2012. Dekomposisi Serasah Daun Pepohonan Penyusun Hutan Rakyat Menggunakan Aktivator Em4.Proposal Skripsi Program Studi Biologi pada Universitas Galuh. Ciamis:Tidak Diterbitkan. Rahardi, Alfi dkk. 2009. Destilasi Sederhana. Makalah Program Studi Kimia pada Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta:Tidak Diterbitkan. Sugiyono. 2011. Metode Bandung:Alfabeta XI. LAMPIRAN Menurut Nurgana, E (1985) Perhitungan yang dapat dilakukan untuk menganalisis perlakuan adalah: 1. Menentukan derajat bebas (d.b) a. db umum = (r)(t) 1 b. db perlakuan = t 1 c. db galat = db umum db perlakuan 2. Menentukan Faktor Korelasi (FK) Penelitian Kuantitatif Kulitatif dan R&D.

3. Menghitung Jumlah Kuadrat a. Menghitung Jumlah Kuadrat Umum b. Menghitung Jumlah Kuadrat Perlakuan

19

c. Menghitung Jumlah Kuadrat Galat JKG = JKU JKP 4. Menghitung Kuadrat Tengah a. KT Perlakuan

b. KT Galat

Atau

5.

Menghitung Nilai F hitung

6.

Menghitung Koefisien Keragaman (kk)

7.

Membandinngkan F Hitung dengan F Daftar Kriteria: a. Jika Fhitung > Fdaftar pada taraf nyata 1 %, perbedaan perlakuan dikatakan berbeda sangat nyata. Ditunjukkan dengan dua bintang pada nilai F Hitung dalam sidik ragam.

20

b. Jika Fhitung > Fdaftar pada taraf nyata 5 % tetapi lebih kecil daripada atau sama dengan nilai F daftar pada taraf nyata 1 %, perbedaan perlakuan dikatakan berbeda nyata. Ditunjukkan dengan

menempatkan satu bintang pada nilai F Hitung dalam sidik ragam. c. Jika Fhitung Fdaftar pada taraf nyata 5 % perbedaan perlakuan dikatakan tidak berbeda nyata. Ditunjukkan dengan menempatkan tn pada nilai F Hitung dalam sidik ragam. 8. Membuat tabel ringkasan Sidik Ragam Sumber Db Keragaman Perlakuan Galat Umum 9. Uji Lanjut Uji lanjut akan dilakukan apabila hasil sidik ragam menunjukkan hasil yang nyata. Untuk menentukan uji lanjut tersebut akan didasarkan pada koefisien keragaman dengan ketentuan Hanafiah (2003) sebagai berikut: 4. Jika koefisien keragaman (kk) besar pada kondisi homogen atau homogen minimal 20% pada kondisi heterogen yaitu dilanjutkan dengan Uji Duncan 5. Jika koefisien keragaman (kk) 5-10% pada kondisi homogen atau 10-20% pada kondisi heterogen yaitu dilanjutkan dengan Uji BNT 6. Jika koefisien keragaman (kk) kecil maksimal 5% pada kondisi homogen atau maksimal 10% pada kondisi heterogen yaitu dengan Uji BNJ db P db G db U JKP JKG JKU KTP KTG KTU JK KT Hitung 5% 1% F F Daftar

21

PENINGKATAN KADAR RENDEMEN MINYAK DAUN CENGKEH DENGAN TEKNIK DESTILASI MELALUI FERMENTASI
PROPOSAL PENELITIAN Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Disusun Oleh: SUSI SULASTRI NIM 2119090201

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS GALUH CIAMIS 2012