Anda di halaman 1dari 10

BAB XV KERACUNAN

1. Keracunan Akut Keracunan akut merupakan keadaan gawat darurat yang mmerlukan tindakan segera di rumah sakit - rumah sakit. Angka yang cukup tinggi dapat dikurangi dengan tindakan yang tepat dan rasional, didukung oleh adanya alert-alert yang merlon maju seperti alert pernafasan buatan, hdmodialisis, pace jantung dan sebagainya. Keracunan akut sexing disebahkan kecelakaan, percobaan bunuh diri, percobaan pembunuhan dan meracuni diri sendiri untuk menarik perhatian. Kasus keracunan nempunyai insider yang cukup tinggi; dari data yang kami lunpulkan dari 13 rumah sakit di Jakarta tahun 1973 - 1978 didapatkan kasus keracunan 1774 orang (0,24% dari kasus yang dirawat di ke- 13 rumah sakit tersebut) dengan kEmatian 4,6%. Pengobatan yang dilakukan bermacam ragam sehingga efisiensi pengobatan diragukan. Dengan sentralisasi kasus keracunan yang dilakukan di Inggris, ternyata persentase kematian menurun. Penyeragaman dari tindakan pertolongan darurat kasuskasus tersebut sangat men bantu dokter-dokter yang ingin mendapatkan informasi mengenai cara penanggulangan keracunan akut. Danyak faktor nwnrpengaruhi suksesnya pengobatan keracunan akut, yaitu termasuk penegakan diagnosis, pengetahuan da.-,ar-dasar pengobatan, antidot, cara pengobatan khusus dan sel-ngainya. 1.1 Diagnosis Keracunan Akut Beberapa zat racun maTberikan ganbaran klinik yang mempeinudah diagnosis. Bau gas masak Berta kulit dan nxmbran mukosa yang berwrma merah jambe menunjukkan keracunan karbon monoksida, sedangkan pupil Yang sempit, depresi pernafasan dan muntah menunjukkan keracunan mor fin atau derivatnya. Identifikasi zat racer menjadi sulit bila racun penyebab merupakan kcmbinasi. 1.2 Identifikasi Visual Bermacam-rmcam obat sekarang terdapat di pasaran dalam berbagai bentuk dan warner. Pabrik nimberi tanda khusus pada tablet, dan sebagai pengenal kadang-kadang tercetak names dari obat terse-but. Bila ini tidak terdapat, dicari pengenalan di dalan bukubuku seperti D.O.I. (Data Chat di Indonesia). P.D.R. (Physicia an Desk Reference). Tetapi kits

hares ingest bahwa tidak selalu chat yang terdapat di sekitar penderita atau bahkan yang ditangan penderita nr-rupakan penyebab dari keracunan tersebut. 1.3 Identifikasi laboratorium. Identifikasi secara kualitatif dari zat racun dalam cairan aspirat lambung, r1arah dan urin memastikan diagnosis dari keracur, an. Analisis kimia dari kebanyakan zat racun mawrlukan peralat an laboratorium dan teknik yang khusus. Kecenderungan, penderita untuk nenelan bermacam-macam chat dalam usaha bunch diri nxmipersulit diagnosis sehingga memerlukan analisis khusus untuk mengetahui penyebab keracunan.

2. PRINSIP DASAR PENGOBATAN Keracunan akut adalah suatu peristiwa yang biasa terjadi, LU14,-Ta cars penannggulangannya penting diketahui oleh setiap d6kter. 2.1 Pengobatan Intenstif Suportif 2.2 Penaksiran Beratnya Keracunan 3. Pengobatan ini termasuk penaksiran beratnya keracunan, tandakan pada kegawatan, perawat umum dan perawatan khusus. 2.1.1. Penaksiran beratnya keracunan. Bila secrang d6kter melihat penderita untuk pertama kalinya, penting sekali untuk menaksir beratnya keracunan, tidak saja untuk mengetahui keadaan penderita -tetapi jugs untuk nxmVertinbWiqkan tindakan untuk neng atasi kegawatAn dan nrmt=tu fungsi-fungsi vital. Penirurian derajat, kesadaran nerupakan kriteria yang baik dalam penaksiran beratnya keracunan. Ada 4 derajat pamrunan kesadaran : Derajat 1 : mengantuk tetapi bereaksi terhadap perintah, (vokal). Derajat 2 : tak W;;r tetapi bereaksi terhddap rang-sang minimal. Derajat 3 : tak sadar dan bereaksi hanya rangsang sakit yang maksimal. Derajat 4 : tak sadar dan tak bereaksi terhadap rangsangan apapun. tdrhadap

159 Standar rangsang sakit ialah dengan meriggosok buku jari pada stermn penderita. Tidak adanya bising usus menunjukkan derajat 3 atau 4.

Kadar zest racun dalam darah dapat digunakan sebagai penaksiran beratnya keracunan, tetapi kadar dalam darah tidak selalu paralel dengan keadaan klinis penderi ta, hal ini disebabkan karma adanya toleransi, misalnya bila kadar fenobarbital dalam darah 10 mg%, penderita biasanya dalam keadaan kcma, tetapi pada, penderita epilepsi yang telah met-idapatkan fenobarbital selama bertahun-tahun, ternyata dengan kadar ini masih sadar. 2.1.2. Tindakan pada kegawatan. Pada bab ini akan dibicarakan mengenai kegagalan pernafasan, syok dan pencegahan absorpsi racun lebih lanjut 2.1.2.1. Kegagalan pernafasan Keadaan ini merupakan kcraplikasi yang biases terjadi pada, dosis berlebih dengan obat sedatif, dan tindakan segera/resusitasi kardiopulmcner harus segera, dilakukan bila terjadi henti nafas. Pada transportasi ke rumah sakit sebaiknya di pasang pipes endotracheal dan sonde 1wtung untuk mencegah aspirasi. Kalau situasi tak me mungkinkan makes sebaiknya posisi penderita miring. Di rumah sakit dengan pmeriksaan gas darah dapat dinilai apakah pernafasan harus diambil-alih/dibantu dengan respirator. Kadang-kadang pada keadaan yang ekstrim,mm-igkin perlu diberikan 2 cc niketamid (Coramin) untuk merangsang pernafasan, sementara alatalat untuk pertolongan selanjutnya dipersiapkan. Trakeostani sangat jarang diperlukan,dan tidak pernah dilakukan kecuali terjadi cbstruksi jalan nafas dan endotrakeal diperlukan lebih Bari 24 jam. penderita

160 2.1.2.2. Syok Defenisi syok sarnpai sekarang masih banyak di perdebatkan, tetapi dapat disimpulkaa sebagai tekanan rinrah karang dari 90 mmHg, atau kurang dari 80 mmHg pada orang yang lebih muda, dengan disertai tanda-tanda kulit pucat dan. dingin, berkeringat, kesadaran menurun, Wadi lemah dan cepat, jantung berdebar, dan kadang seperti kejang. Syok pada keracunan terjadi karena cairan intravaskular banyak yang keluar ke ekstravasku lar, sehingga pada pauberian infus sebaiknya tensi tak melebihi 100 mmHg. Deegan adanya perbaikan klinas dari syok, cairan yang keluar tali akan masuk kembali kedalam pembuluh darah sehingga akan meningkatkan tekanan darah lagi, dan bila peniberian cairan mlalui infus tt-rlalu banyak makes akan nimbebani jantung karena "over loading". Tindakan

pertama adalah nimbebaskan jalan nafas dan Wngkai dinaikkan (posisi "Trendelenburg") sehingga darah lebih banyak mengalir ke otak. Bila ini tidak menolong dapat diberikan mtaraminol (Aramin) 5 mg dengan interval setiap 20 nienit. Plasma ekspander seperti dekstran diberikan bila tekanan darah masih bertahan dan 1-tidak dapat naik. Aritmia diperbaiki dengan pemberi an digitalis . Digitalis dan diuretik diberikan bila terjadi payah jantung kongestif. 2.1.2.3. Pencegahan absorpsi lebih lanjut. ini merupakan tindakan ketiga dalam mengatasi keracunan adalah menginduksi muntah dengan me rangsang dinding atas facings, dengan jari atau ujung sendok. Penderita hauls diletakkan 161 miring pada sisi tubuh. Obat-obat emetik dapat diberikan, misalnya Apamorfin,tetapi obat ud dapat menimbulkan muntah yang terus-menerus sampai sy6k, sehingga kites harus rrerryediakan nalorfin/nalokscn sebagai antidotnya. Sirop Ipecac juga dapat dipergunakan, tetapi bila muntah tidak timbal maka emetin yang didalam ipecac akan diabsorpsi dan dapat menimbulkan, efek toksis. CuSO 4 juga dapat dipergunakan untuk merangsang muntah. Di rweh sakit dilakakan pencucian lambung bi la ratan tertelan kurang dari 4 jam, kecuali pada keracunan salisilat. Cairan lambung sebaiknya dianalisis secara kimia. Norit dapat diberikan pada akhir pencucian lambung. 2.1.3. Perawatan uraLn. Termasuk dalam perawatan ini harus diperhatikan keseird3angan cairan, elektrolit dan asam biases. 2.1.3.1. Perawatan. Keberhasilan pengobatan terutama tergantung pada perawatan yang intensif dan keterampilan yang tinggi. Disini perawatan ditujukan, seta in untuk pencegahan dekubitus, tetapi terutama pada kesadaran, pernafasan dan kardiovasku ler. Pada penderita tak radar harus dicegah terjadinya sumbatan jalan nafas dan pneumonia ortostatik. 2.1.3.2. Keseimbangan air dan elektrolit. Dehidrasi ditanggulangi seperti pada kecelaka an kehilangan cairan dan elektrolit. Bila penderita dapat minum dan tidak muntah, maka rehidrasi culcip dengan cairan "per oral". Bila ini tidak mungkin makes diberikan infus cairan : 162 1000 ml laevulose 5% 500 ml NaC1 0,9%.

Secara bergiliran,' dengan kecepatan yang tergantung pada kcndisi penderita. Perbaikan gangguan asam dan baser tergantung pada hasil perreriksaan Astrup - gas dadar. 2.1.3.3. Hipotermia. Secrang penderita dianggap dalam keadaan hipotermia, bila didapatkan suhu rektal kurang dari 369C, penderita dikatakan mengalami hipotermia. Untuk penanggulangan pemanasan secara aktif pada umumnya tidak dianjurkan tapi cukup dengan meletakkan penderita dalam ruang an yang hangat (269C). Bila hipotainia berlangsung lama diberikan hidrokortison 100 mg I.V. tiap 6 jam. Pada suhu rektal kurang dari 29.59C dilabAm pananasan aktif dengan merendam dalam air hangat 430C dan diharapkan peningkatan mAm 40C tiap jam. Bila masih kurang maker dilakukan dialisit peritoneal dengan larutan--.dialisis yang hangat. 2.2. Kesalahan yang biasa dilala k . 2.2.1. Pengcbatan dengan analeptik. Benegrid dan chat analeptik yang lain wring diberikan. Benegrid bukan antagonis barbiturat yang spesifik. Satu-satunya analeptik yang boleti digunakan adalah niketamid, dalam kegawatan untuk rrerangsang pernafasan se-lama alert yang dibutuhkan untuk membantu pernafasan di persiapkan. Kcmplikasi pengcbatan dengan analeptik ialah terjadinya aritnia jantung dan kejangkejarq- yang dapat menyebabkan iskemia serebri dan depresi. Efekanaleptik dari chat ini hanya bersifat saTentara dan tidak efektif pada keracunan berat. 163 2.2.2. 1 n f u s Bila tidak ada dehidrasi, tidak perlu diberikan infus cairan dan elektrolit dalam 12 jam pertarre juga pada penderita dengan koala yang dalam. 2.2.3. Kateterisasi buli-buli Kateterisasi merupakan tindakan berbaya yang tidak diperlukan kecuali bila buli-buli penuh atau akan dilakukan diuresis paksa. Infeksi dan "false route" selalu dapat terjadi. 2.2.4. Antibiotik profilaksis. Dengan perawatan dan fisioterapi yang baik, pemberian antibiotik secara rutin untuk mencegah infeksi saluran nafas tidak diperlukan. Pada prinsipnya, pemberian antibiotik untuk profilaksis tidak diperbolehkan, kecuali bila jelas ada infeksi maker dapat diberikan anti biotik yang tepat. 2.3. Keracunan karena gas. Pada keracunan gas perlu tindakan yang segera Bawer penderita ke udara segar. Pernafasan dibantu tetapi ingat tak boleh dilakukan pernafasan clari niulut ke mulut. Niketamid 2 ml IX kadarkg-kadang diperlukan pada kegawatan. Spasme bronkus diatasi dengan penberian aminofilin I.V.(240- rng) . Pada edema barn diberikan

furosemid 40 mg I.V. Irit-Asi diatasi dengan marberikan hidrokortison 100 mg I.V. tiap 6 jam selama 24 jam pertama. Pada kasus yang berat diberikan oksigen serta dilakukan analisa darah. 3. PENGOBATAN KHUSUS UNTUK RACUN YANG DITELAN. Pengobatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan eliminasi zat racun yang ditelan. 3.1. Diuresis paksa. Makin banyak zat racun yang diekskresi ginjal dalam bentuk aktif, tindakan ini nzkin dirasakan hasilnya.

164 Diuresis paksa hanya dilakukan bila : Racun diekskresi rtelalui ginjal dalam bentuk aktif. Tidak ada syck. Tidak terdapat payah jantung. Ru-sgsi ginjal tidak terganggu. Racun tidak nriifinWlkan edema paru. Terdapat fasilitas untuk memonitcr kadar elektrolit plasma, kecuali pada keracunan salisitat. 3.1.1. Diuresis paksa alkali. Teknik Pasang kateter vesika urinaria. Infus cairan : 500 ml 1.26% natrium. bikarbonat 500 ml 5% levulosa 500 ml 0,9% NaCl fisiologis 500 ml 5% levulosa 500 ml 5% manitol diberikan berurutan dalam rotasi 10 ml 10% kalsium levulosa diberikan tiap 8 jam. Airan ini diberikan dengan kecepatan 1 L pada 1 jar, pertama dan 500 ml pads tiAp jam berikutnya. pH urin diukur tiap jam dan bila di bawah 7.5 1,26% 1,26% natrium bicarbonat diberikan untuk menggantikar. 0,9% NaCl fisiologis. Diuresis ini diteruskan sarq)a:. penderita sadar penuh. 3.1.2. Diuresis paksa asam. Teknik : Pasang kateter vesika urinaria.

Infus cairan : 500 ml 5% levulosa. + 1.5 g amonium. klorida. 500 ml 5% levulosa 500 ml 0,9% NaCl fisiologis, diberikan berurutan dalam rotasi. Cairan ini harus diberikan dengan kecepatan 1 L pac= jam pertama dan 500 ml pada tiap jam berikutnya. 165 Elektrolit harus dimonitor dengan baik dan bila ter dapat gangguan keseimbangan harus segera diperbaiki. Bila pH urin yang diukur tiap jam menunjukkan di atas 7 maker ditambahkan 1.5 g amonium klorida pada botol kedua 5% levulosa. Diuresis ini diteruskan sampai keadaan penderita memuaskan . 3.2. Dialisis peritoneal. Dialisis peritoneal tidak memerlukan alert-alert yang kanpleks (tidak seperti hemodialisis). Untuk dialisis rutin pada 2 liter hirutan dialisat standar ditambahkan3 ml 20% KC1 (5. ml he-,risi 1 g KC1) Heparin 1000 unit. 2 ml 1% prokain. Bila penderita nrzqalami hidrasi yang berlebihan,ditambahkan glukose 50% sebanyak 50 ml. Pasang kateter vesika urinaria, kemd1an dipasang kateter pada garis tengah abdame, 2 - 3 jari di bawa- umbilikus. cAiran dibiarkan turun dengan gravitasi bumf, b.i;q.sanya 2 L selesai dalam 10 rwzdt, dibiarkan h jam kenudian dikeluarkan. Bila cairan berwarna merah, kawngkinan kanula t-prsum-bat cmentn, reposisi kanula akan menperbaiki hat itu.Pertukaran cairan diteruskan sampai penderita sadar. 3.3. Hemodialisis. Cara ini adalah yang paling efisien bila racun di dialisis dalam bentuk aktif, tetapi teknik agak sulit sehingga perlu penanganan oleh tenaga ahli MANFAAT DIALISIS DAN DIURESIS PAKSA PADA KERACUNAN (Lihat tabel I) GEJALA KERACUNAN DENGAN TINDAKAN TERAPINYA (Lihat tabel II). 1

versibel, ser-ta- ins.:=isier-si bra rena paTberian antigen pada penderita Marc Patogenesis : Anafilaksis karena efek autakoid pada otot polos rl--7 perrw,'-17 darah

Mediator penyebab ialah : histamin serotonin plasmakinin SRS-A ("slow reacting substance an----rn- . lax is"). Histamin dapat menimbulkan edema angioneurotik, hipotensi dan eri tem. Pemberian antihistamin untuk meancegah reaksi anafilaksis -idak berguna, karena selain histamin hanya merupakan antagonis k--r petitif, juga tidak hanya histamin yang bekerja meninbulkan reaksi anafilaksis ini, sehingga autakoid yang lain masih dapat bekerja. Gejala-gejala : Pada kulit : pruritus, urtikaria dan edema angioneurotik. Paru : spasme dqri bronkus dan obstruksi saluran nafas bagian ata-, yang disertai sekresi kelenjar bronkus. Saluran cerna. : enek, immtah, kolik dan diare. Pembuluh da- : hipotensi karena vasodilatasi. rah Jantung : takikardia dan denyut jantung rrelemah. an,nafas Pemeriksaan : kematian yang Menunjukkan adanya cbstruksi salurpostmortem bagian atas, emfisema. Edema epiglotis, hipofarings, lacings. Penyebab : Reaksi anafilaksis disebabkan karena, pemberian antigen. Penyebab ini diklasifikasi sebagai berikut : 4: 175 Antigen protein serum, insulin dan lain-lain. Polisakarida : dekstrin. Hapten : cbat untuk diagnostik : bransulsoftalein dan lain-lain. obat : penisi-lin, salisilat, aminopirin. Hapten adalah suatu m1ekul kecil yang bertindak sebagai antigen sesudah berikatan dengan protein. Pencegahan : Azk-mesis mengenai adanya alergi pada penderita, dermatitis atopik, Keadaan alergi terhadap obat. Substitusi :

Beberapa obat terkenal banyak. menimbulkan alergi dan bila mingkin penggunaan obat ini dihindarkan dengan mengganti abort lain yang mirip efeknya tapi jarang menhubulkan alergi misalnya Salisilat disubstitusi dengan asetaminofen propoksifen. Penisilin di substitusi dengan sefalosporin sefalotin. Prokain disubstitusi dengan.silokain. Pewriksaan tes alergi dilakukan pada penderita yang dicurigai "Scratch test" : dengan menggores.di kulit dan dioleskan obat yang akan diberikan yang sudah diencerkan. Hasil positip : terlihat kemerahan, rasa gatal gatal. "Skin test" dengan penyuntikan intradermal obat yang sudah diencerkan, tes ini kadang-kadang masih dapat bereaksi fatal, perlu perhatian khusus. Reaksi positip : timbal kemrahan, gatal, edema yangxym:9pakan respon trigs dAri Lewis. Desensitisasi dapat dilakukan bila obat tersebut sangat dibutuhkan, bila tidak sebaiknya dihindarkan karena kadang-kadang dapat bereaksi fatal. Sebaiknya dipersiapkan obat-bbat untuk penaggulangan anafilaksis: Adrenalin 1 : 1000 Aminofilin 176 Hidrokortison NaC1 0,9% untuk infus. dan alat yang diperlukan untuk intubasi dan trakeostomi. Reaksi alergi dapat terjadi mskipun pemeriksaan "skin test" negatip. Pengobatan : Reaksi anafilaksis sexing bereaksi fatal. Biasanya makin lama jarak antara reaksi dan penberian obat, reaksi tersebut makin ringan. Perhatian terutama pada.pernafasan dan tekanan darah. Pada syok anafilaksis akut perlu tindakan segera : Penderita dibaringkan dengan posisi Trendelenburg, bebaskan jalan nafas, kowdian bila tak bernafas, segera lakukan nafas buatan dan nilai sirkulasi. Kalau terjadi hehti jantung makes lakukan ipasase jantung liar. Kalau bernafas dan jantung berdenyut Toaka penderita diobservasi ketat dan beri suntikan adrenalin 0,3 ml IM dengan segera dan bila belum ada reaksi dapat diulang 5 merit lagi. Biasanya reaksi yang baik terlihat sesudah 1 atau 2 kali suntikan.

Untuk nxmiperbaiki saluran pernafasan beri : Hidrokortison 100 mg IV dan aminofilin 250 mg IV. Pada keadaan yang berat dengan sianosis dapat diberikan oksigen Berta dilakukan pemeriksaan kimia darah. Dekstrose 5% dapat diberikan per infus untuk mmipertahankan -tekanan darah yang normal, bila masih terlihat penurunan tekanan darah yang terns menerus. Pertinbangan trakeostomi bila terlihat hipoksia yang progresif.