Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA KI-3141 PERCOBAAN K-1 VISKOSITAS CAIRAN SEBAGAI FUNGSI SUHU NAMA NIM KELOMPOK

: ARDIAN FIRMANSYAH : 10510057 : 07

TGL PERCOBAAN : 09 November 2012 TGL LAPORAN ASPRAK : 23 November 2012 : Ulfah

LABORATORIUM KIMIA FISIKA PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2012

VISKOSITAS CAIRAN SEBAGAI FUNGSI SUHU I. Tujuan Percobaan Menentukan , E, dan A cairan dengan metode ostwald Teori Dasar Viskositas adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir. Makin besar resistensi suatu zat cair untuk mengalir semakin besar pula viskositasnya. Viskositas suatu zat dipengaruhi oleh suhu. Viskositas gas meningkat dengan bertambah tingginya suhu, sedangkan viskositas zat cair menurun dengan meningginya suhu. Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang dinamakan viskometer. Ada beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan antara lain : 1. Viskometer kapiler / Ostwald Viskositas dari cairan yang ditentukan dengan mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika mengalir karena gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat 2 tanda tersebut. 2. Viskometer Hoppler Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat gaya archimides. Prinsip kerjanya adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca ) melalui tabung gelas yang berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel (Moechtar,1990). 3. Viskometer Cup dan Bob Prinsip kerjanya sampel digeser dalam ruangan antaradinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi di sepanjangkeliling bagian tube sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi. Penurunan konsentras ini menyebabkab bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat. Faktor- faktor yang mempengaruhi viskositas adalah sebagai berikut: a. Tekanan Viskositas cairan naik dengan naiknya tekanan, sedangkan viskositas gas tidak dipengaruhi oleh tekanan. b. Temperatur Viskositas akan turun dengan naiknya suhu, sedangkan viskositas gas naik dengan naiknya suhu. Pemanasan zat cair menyebabkan molekul-molekulnya memperoleh energi. Molekul-molekul cairan bergerak sehingga gaya interaksi antar molekul melemah. Dengan demikian viskositas cairan akan turun dengan kenaikan temperatur. c. Ukuran dan berat molekul Viskositas naik dengan naiknya berat molekul. Misalnya laju aliran alkohol cepat, larutan minyak laju alirannya lambat dan kekentalannya tinggi seta laju aliran lambat sehingga viskositas juga tinggi.

II.

III.

Data Pengamatan Truang = 26 C Wpiknokosong = 19,41 g Wpikno+air = 44,74 g Larutan T (oC)


Air 30 35 40 30 35 40 30 35 40

t1 (s)
5,8 5,6 5,4 4,2 4,0 3,8 5,6 5,6 5,5

t2 (s)
5,9 5,6 5,7 4,2 4,0 3,9 5.6 5,6 5,7

Aseton

Metanol

t3 (s) 5,9 5,5 5,4 4,2 4,0 4,0 5,5 5,5 5,4

trata-rata (s) 5,86 5,56 5,4 4,2 4,0 3,9 5,56 5,56 5,45

Wpikno+larutan (g)
39,02 38,93 38,79 39,70 39,65 39,46

IV.

Pengolahan Data Penentuan Vpikno

air pada 26 C = 0,996787 g/mL


( )

Penentuan larutan

Pada suhu 30 oC Untuk aseton :


( )

Larutan
Aseton

T (oC)
30 35 40 30 35 40

larutan (g/mL)

Metanol

0,771693 0,768152 0,762642 0,798453 0,796485 0,789008

Penentuan larutan Pada suhu 30 oC Untuk aseton :

Larutan
Aseton

T (oC)
30 35 40 30 35 40

Metanol

trata-rata (s) 4,2 4,0 3,9 5,56 5,56 5,45

larutan (kg/m.s)

0,000443 0,000400 0,000362 0,000607 0,000577 0,000524

Penentuan E dan A

Larutan
Aseton

Metanol

1/T (1/K) 0,003300 0,003247 0,003195 0,003300 0,003247 0,003195

ln larutan -7,721277 -7,823349 -7,922512 -7,406675 -7,457824 -7,553885

Untuk aseton :

kurva ln terhadap 1/T


-7.7 0.00318 0.0032 0.00322 0.00324 0.00326 0.00328 0.0033 0.00332 -7.75 -7.8 ln -7.85 -7.9 -7.95 y = 1916.6x - 14.046 R = 1

1/T

Maka :

Untuk metanol :

kurva ln terhadap 1/T


-7.38 0.00318 0.0032 0.00322 0.00324 0.00326 0.00328 0.0033 0.00332 -7.4 -7.42 y = 1400.6x - 12.021 -7.44 R = 0.968 -7.46 -7.48 -7.5 -7.52 -7.54 -7.56 -7.58 1/T

Maka :

ln

V.

Pembahasan Pada percobaan kali ini, dilakukan penentuan viskositas aseton dan metanol sebagai fungsi dari suhu. Variasi suhu yang digunakan yaitu 30, 35, dan 40 oC. Variasi suhu tersebut digunakan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap viskositas zat cair. Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan nilai viskositas suatu larutan dipengaruhi oleh suhu dan rapat massa. Nilai viskositas berbanding terbalik dengan suhu, jika suhu dinaikkan nilai viskositas akan turun. Hal ini disebabkan semakin besar suhu, jarak antar partikel semakin meregang, akibatnya gaya tarik kohesi antar partikel pun menurun sehingga viskositas semakin menurun. Rapat massa menunjukkan hubungan sebanding dengan nilai viskositas. Rapat massa dapat mempengaruhi viskositas karena semakin besar rapat massa, jumlah molekul zat terlarut dalam sejumlah pelarut akan semakin besar akibatnya tahanan larutan akan semakin besar dan viskosias zat cair juga akan meningkat. Dalam percobaan ini, metanol memiliki nilai viskositas yang lebih besar dari aseton. Penentuan viskositas ini dilakukan dalam kondisi pengukuran yang sama. Perbedaan nilai viskositas ini disebabkan oleh perbedaan rapat massa dan massa molekul relatif. Hal ini terbukti dari hasil penentuan densitas cairan yang menunjukkan nilai rapat massa metanol lebih besar dari rapat massa aseton. Dari percobaan di atas, didapatkan nilai E atau nilai energi ambang per mol yaitu energi minimum yang diperlukan untuk proses awal aliran untuk aseton lebih besar dari pada metanol. Padahal secara teoritis, jika nilai E membesar maka energi yang dibutuhkan cairan untuk mengalir akan semakin besar sehingga cairan akan semakin sulit mengalir, akibatnya tahanan akan semakin besar dan viskositas pun meningkat. Hal ini karena kuva yang diperoleh untuk metanol tidak sebaik kurva untuk aseton yang terlihat dari nilai R2 nya. Sehingga ketika dilakukan regresi, perbedaan kemiringan kurva dapat mempengaruhi nilai persamaan garisnya dan juga nilai energi ambang. Selain itu, kesalahan pengamatan pun dapat terjadi karena semakin tinggi suhu maka kecepatan aliran pun semakin tinggi sehingga semakin sulit untuk menentukan waktu alir larutan. Kesalahan lain yang mungkin terjadi yaitu tidak samanya waktu untuk setiap larutan ketika dipanaskan pada suhu tertentu dalam termostat. Hal ini mempengaruhi perbedaan laju penurunan massa jenis larutan. Selain menentukan viskositas, kita juga dapat menentukan fluiditas. Dimana fluiditas berbanding terbalik dengan viskositas, semakin tinggi nilai viskositas cairan, maka fluiditasnya akan semakin kecil begitu juga sebaliknya. Semakin kecil viskositas cairan, maka fluiditasnya akan semakin besar pula. Hal ini karena fluiditas merupakan ukuran kemudahan mengalir suatu cairan. Pada percobaan ini digunakan viskometer ostwald untuk menentukan viskositas cairan. Pada metode Ostwald yang diukur yaitu waktu yang diperlukan oleh sejumlah tertentu cairan untuk mengalir melalui pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri. Disini juga dapat ditentukan hubungan waktu alir terhadap viskositas. Semakin lama waktu alir maka viskositas semakin kecil. Jadi dapat dikatakan bahwa semakin encer suatu zat cair maka waktu alirnya akan semakin lama. Pada percobaan, akuades digunakan sebagai pembanding karena akuades sudah diketahui nilai viskositasnya pada berbagai suhu.

VI.

Kesimpulan Dari percobaan, diperoleh hasil bahwa nilai , E, dan A untuk larutan yang digunakan yaitu: Larutan T (oC) larutan (kg/m.s) E (J/mol) A 30 0,000443 Aseton 35 0,000400 15934,6124 1 x 10-6 40 0,000362 30 0,000607 Metanol 35 0,000577 11644,5884 6 x 10-6 40 0,000524 Daftar Pustaka Atkins, PW., Physical Chemistry, 8th ed., Oxford University Press., hal. 682684. S. Glasstone, texbook of physical chemistry, ed. 2, 1946, hal. 496-500. J. M. Wilson et al, Experimental in Physical Chemistry, ed. 2, 1968, hal. 8-9.

VII.

VIII.

Lampiran Jawaban Pertanyaan 1. Bilangan Reynolds adalah rasio antara gaya inersia (vs) terhadap gaya viskositas (/L) yang mengkuantifikasikan hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran tertentu. Dan hubungannya dengan aliran laminer yaitu aliran laminer memiliki bilangan Re < 2100. 2. Viskometer Hoppler Mengukur viskositas berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat gaya archimides. Prinsip kerjanya adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca ) melalui tabung gelas yang berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga resiprok sampel. Viskometer Cup dan Bob Prinsip kerjanya sampel digeser dalam ruangan antaradinding luar dari bob dan dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi di sepanjangkeliling bagian tube sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi. Penurunan konsentrasi ini menyebabkan bagian tengah zat yang ditekan keluar memadat. Hal ini disebut aliran sumbat.

Viskositas air pada berbagai suhu


Temperature Pressure C 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 9.00 10.00 11.00 12.00 13.00 14.00 15.00 16.00 17.00 18.00 19.00 20.00 21.00 22.00 23.00 24.00 25.00 26.00 27.00 28.00 29.00 30.00 31.00 32.00 33.00 34.00 35.00 36.00 37.00 38.00 39.00 40.00 41.00 42.00 43.00 44.00 45.00 46.00 Pa 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 101325 Saturation vapor Density pressure Pa 611 657 705 757 813 872 935 1001 1072 1147 1227 1312 1402 1497 1597 1704 1817 1936 2063 2196 2337 2486 2642 2808 2982 3166 3360 3564 3779 4004 4242 4491 4754 5029 5318 5622 5940 6274 6624 6991 7375 7777 8198 8639 9100 9582 10085 kg/m3 999.82 999.89 999.94 999.98 1000.00 1000.00 999.99 999.96 999.91 999.85 999.77 999.68 999.58 999.46 999.33 999.19 999.03 998.86 998.68 998.49 998.29 998.08 997.86 997.62 997.38 997.13 996.86 996.59 996.31 996.02 995.71 995.41 995.09 994.76 994.43 994.08 993.73 993.37 993.00 992.63 992.25 991.86 991.46 991.05 990.64 990.22 989.80 Specific enthalpy of liquid water kj/kg 0.06 4.28 8.49 12.70 16.90 21.11 25.31 29.51 33.70 37.90 42.09 46.28 50.47 54.66 58.85 63.04 67.22 71.41 75.59 79.77 83.95 88.14 92.32 96.50 100.68 104.86 109.04 113.22 117.39 121.57 125.75 129.93 134.11 138.29 142.47 146.64 150.82 155.00 159.18 163.36 167.54 171.71 175.89 180.07 184.25 188.43 192.61 kcal/kg 0.01 1.02 2.03 3.03 4.04 5.04 6.04 7.05 8.05 9.05 10.05 11.05 12.06 13.06 14.06 15.06 16.06 17.06 18.05 19.05 20.05 21.05 22.05 23.05 24.05 25.04 26.04 27.04 28.04 29.04 30.04 31.03 32.03 33.03 34.03 35.03 36.02 37.02 38.02 39.02 40.02 41.01 42.01 43.01 44.01 45.01 46.00 Specific heat Volume Dynamic heat viscosity capacity

kj/kg kcal/kg kj/m3 kg/m.s 4.217 1.007 4216.10 0.001792 4.213 1.006 4213.03 0.001731 4.210 1.006 4210.12 0.001674 4.207 1.005 4207.36 0.001620 4.205 1.004 4204.74 0.001569 4.202 4.200 4.198 4.196 4.194 4.192 4.191 4.189 4.188 4.187 4.186 4.185 4.184 4.183 4.182 4.182 4.181 4.181 4.180 4.180 4.180 4.179 4.179 4.179 4.179 4.178 4.178 4.178 4.178 4.178 4.178 4.178 4.178 4.178 4.179 4.179 4.179 4.179 4.179 4.179 4.180 4.180 1.004 1.003 1.003 1.002 1.002 1.001 1.001 1.001 1.000 1.000 1.000 1.000 0.999 0.999 0.999 0.999 0.999 0.999 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 0.998 4202.26 4199.89 4197.63 4195.47 4193.40 4191.42 4189.51 4187.67 4185.89 4184.16 4182.49 4180.86 4179.27 4177.72 4176.20 4174.70 4173.23 4171.78 4170.34 4168.92 4167.51 4166.11 4164.71 4163.31 4161.92 4160.53 4159.13 4157.73 4156.33 4154.92 4153.51 4152.08 4150.65 4149.20 4147.74 4146.28 4144.80 4143.30 4141.80 4140.28 4138.75 4137.20 0.001520 0.001473 0.001429 0.001386 0.001346 0.001308 0.001271 0.001236 0.001202 0.001170 0.001139 0.001109 0.001081 0.001054 0.001028 0.001003 0.000979 0.000955 0.000933 0.000911 0.000891 0.000871 0.000852 0.000833 0.000815 0.000798 0.000781 0.000765 0.000749 0.000734 0.000720 0.000705 0.000692 0.000678 0.000666 0.000653 0.000641 0.000629 0.000618 0.000607 0.000596 0.000586

Massa jenis air pada berbagai suhu