Anda di halaman 1dari 23

ILMU BAHAN MAKANAN

BUAH DAN SAYURAN SIRSAK

DISUSUN OLEH : GABRIELLE NINDYA KIRANA PRADIPTA 22030111130059

FAKULTAS KEDOKTERAN PROGRAM STUDI ILMU GIZI UNIVERSITAS DIPONEGORO 2011

Sekilas tentang Sirsak Tanaman sirsak atau yang dikenal dengan nama kantong asam memiliki nama ilmiah Annona muricata Linn., merupakan salah satu tanaman yang berasal dari kelas Dicotyledone, keluarga Annonaceae, dan genus Annona5. Sirsak merupakan tanaman buah tropis yang diperkenalkan pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada abad ke-19, tetapi buah ini bukan tanaman asli kawasan Eropa. Tanaman ini berasal dari daerah tropis di Benua Amerika, yaitu Hutan Amazon (Amerika Selatan), Karibia, dan Amerika Tengah5. Walaupun pesona sirsak belum terlalu dikenal di Indonesia, tetapi buah ini sangat penting dan bergengsi di tempat asalnya2. Sirsak memiliki banyak sebutan yang berbeda-beda di berbagai belahan dunia, antara lain : soursop di Inggris graviola di Portugal paw paw di Brazil guanabana di Spanyol ang mo lau di leen Cina durian belanda di Malaysia aathakka pazham di India

Sedangkan untuk kawasan dalam negeri, sirsak memiliki julukan : nangka sebrang atau nangka landa di Jawa nangka walanda di Sunda nangka buris di Madura srikaya jawa di Bali deureuyan belanda di Aceh durio ulondro di Nias durian betawi di Minangkabau jambu landa di Lampung

Bermacam-macam sebutan sirsak tersebut menunjukkan bahwa tanaman yang tergolong buni berganda ini sudah mendunia. Hal ini dapat dibuktikan pada peta penyebaran tumbuhnya pohon sirsak di berbagai belahan dunia, terutama di wilayah yang beriklim tropis.
2

Jenis-jenis Sirsak Sirsak yang sering kita temukan di pasar ternyata terdiri dari berbagai jenis sirsak yang telah tercampur2. Pada dasarnya tanaman berduri mirip durian ini dibedakan menjadi empat jenis, yaitu : a. Sirsak Ratu Disebut sirsak ratu karena daerah penyebaran sirsak ini adalah di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Sirsak ratu memiliki ukuran yang bermacam-macam, mulai dari yang kecil hingga besar. Kulitnya licin dan memiliki bertepung duri, daging dan

buahnya

kering

manis. Sirsak ini cocok dikonsumsi dalam keadaan segar atau dalam bentuk minuman. Contoh sirsak ratu

b. Sirsak Biasa Dapat ditemukan di seluruh pelosok Indonesia dengan ciri-ciri bentuk buah hampir mirip dengan sirsak ratu, tetapi tekstur buahnya yang bertepung memiliki kadar air yang lebih tinggi dan rasanya asam sirsak manis ratu.

dibandingkan

dengan

Sirsak jenis ini dapat dikonsumsi dengan terlebih dahulu diolah menjadi minuman, wajik, dodol, selai, jelly, dan sirup. Contoh sirsak biasa

c. Sirsak Bali Sirsak yang sering ditemukan di daerah Pulau Dewata, Bali, ini biasa disebut sirsak gundul, sirsak sabun, sirsak mentega, atau sirsak irian. Sirsak bali memiliki ukuran yang lebih kecil dari sirsak pada

umumnya dengan berat sekitar 200-300 gram per buah. Memiliki ciri kulit buah yang licin, tidak berduri, dan daging buahnya

manis. Cocok dikonsumsi dalam keadaan segar atau diolah menjadi minuman. Contoh sirsak bali

d. Sirsak Mandalika Daerah penyebaran sirsak mandalika adalah seluruh wilayah nusantara. Penampilan fisik sirsak jenis ini mirip dengan buah nona yakni berbentuk bulat, memiliki daging buah berwarna kuning, berbiji banyak, rasa yang manis, dan duri yang terdapat pada kulit lebih jarang. Sirsak ini cocok dikonsumsi apabila diolah menjadi makanan dahulu. Contoh sirsak mandalika atau minuman terlebih

Kandungan Zat Gizi pada Buah Sirsak Buah sirsak terdiri atas 67% daging sirsak yang dapat dikonsumsi, 20% kulit, 8,5% biji, dan 4,5% poros tengah buah5. Sirsak memiliki kandungan gula yang cukup tinggi yaitu sebesar 68% dari seluruh bagian padat daging buah. Daging buah sirsak yang berwarna putih dan lunak memiliki banyak serat dan vitamin. Kandungan gizi yang terdapat pada buah sirsak dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 1. Kandungan Zat Gizi pada Buah Sirsak (setiap 100 gram) Komponen Zat Gizi Energi Protein Lemak Karbohidrat Kalsium Fosfor Serat Besi Vitamin A Vitamin B1 Vitamin B2 Vitamin C Niasin Sumber : Departemen Kesehatan RI, 1996 Jumlah 65 Kcal 1 gram 0,3 gram 16,3 gram 14 mg 27 mg 2 gr 0,6 mg 1 RE 0,07 mg 0,04 mg 20 mg 0,7 mg

Selain mengandung beraneka ragam zat gizi penting, daging buah sirsak juga mengandung senyawa sitotoksin yaitu acetogenins. Senyawa acetogenins adalah senyawa bioaktif yang mampu berperan sebagai sitotoksin dalam tubuh manusia. Senyawa sitotoksik adalah senyawa yang dapat bersifat toksik maupun sebagai obat.

Syarat Umum Tanaman Sirsak Secara umum, tanaman sirsak memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Pohon sirsak memiliki ketinggian kurang lebih 3 hingga 10 meter, memiliki cabang rendah dan ranting pada batangnya tergolong ranting yang mudah rapuh. 2. Daun sirsak berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing pendek, permukaan atas daun berwarna hijau tua, dan permukaan bawah daun berwarna hijau muda. 3. Buah sirsak memiliki duri lunak. Dalam kondisi muda, duri ini berwarna hijau dan berjarak rapat. Tetapi apabila sudah tua, buah sirsak berwarna agak kehitaman dan durinya merenggang. 4. Daging buah sirsak berwarna putih gading dengan tekstur lunak dan memiliki biji yang banyak. 5. Bunga sirsak berwarna kuning dan berbentuk kerucut tidak beraturan.

Daun sirsak

Pohon sirsak

Bunga sirsak

Hasil Olahan Sirsak Sirsak merupakan buah yang mudah diperoleh di pasaran karena merupakan salah satu komoditas buah-buahan yang selalu ada di sepanjang tahun. Namun, kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keawetan sirsak belum tinggi sehingga sering ditemui banyak sirsak busuk di saat masa panen. Hal tersebut tentu saja sangat disayangkan mengingat betapa banyaknya manfaat yang dapat diambil dari kantong asam ini. Berikut ini adalah hasil olahan sirsak sehingga konsumen dapat mengonsumsi buah tropis dengan berbagai variasi dan tanpa bosan. 1. Jus Buah atau Sari Buah Jus buah merupakan produk olahan sirsak yang paling digemari di berbagai kalangan. Selain menyegarkan dan mudah dibuat, jus sirsak memiliki berbagai khasiat bagi kesehatan tubuh. Mengonsumsi merupakan jus salah atau satu sari cara buah untuk

membersihkan pencernaan dalam tubuh sehingga tubuh dapat lebih mudah

mencerna sari sirsak. Jus atau sari buah sirsak dapat dinikmati melalui proses penggilingan buah menggunakan alat mekanis sehingga tebentuk cairan kental putih yang kasar dan harus disaring terlebih dahulu agar diperoleh cairan agak kental dengan partikel halus. Tahap pembuatan sari buah atau jus buah : a. Daging buah sirsak yang masih segar dikupas dan dibersihkan dulu dari kulit dan kotoran yang menempel. b. Daging buah yang sudah bersih dihancurkan dan dipres. c. Daging buah sirsak yang sudah dihancurkan diberi air supaya encer dengan perbandingan air dan sari buah adalah 3:1. d. Campuran air dan sirsak tersebut kemudian diendapkan.

e. Dilakukan penambahan natrium benzoat 0,05% (0,5 gram per liter), asam sitrat 0,1% (1 gram per liter), CMC 0,3% (3 gram per liter), dan gula pasir 13% (130 gram per liter). f. Larutan sirsak tersebut dipanaskan pada suhu 85o C selama 5 menit. g. Larutan yang telah dipanaskan tersebut dimasukkan ke dalam botol untuk dilakukan exhausting dan sterilisasi hingga terbentuklah sari buah dalam botol.

2. Dodol Sirsak Bahan baku pembuatan dodol sirsak adalah buah sirsak matang yang masih segar dan sudah dibersihkan dari biji serta kulitnya. Tahapan membuat dodol sirsak : a. Campurkan daging buah

yang sudah dibersihkan dengan santan, tepung, dan gula aren, kemudian aduk rata. b. Masak adonan sambil terus diaduk hingga matang, tambahkan asam benzoat sambil terus diaduk. c. Angkat adonan setelah setengah jam lalu dinginkan di loyang. d. Kemas adonan yang telah dingin ke dalam plastik, dodol sirsak siap disantap.

3. Selai Sirsak Selai sirsak dibuat dari daging buah sirsak yang sudah dibersihkan bijinya. Tahapan membuat selai sirsak : a. Daging buah sirsak yang sudah dibersihkan dihancurkan sampai halus. b. Panaskan daging buah sirsak yang sudah hancur sambil

ditambahkan gula dan pektin. c. Aduk campuran tersebut lalu tambahkan asam sitrat.

d. Masak larutan tersebut hingga mendidih, tambahkan asam benzoat, lalu masak hingga terbentuklah gel. e. Buang busa yang muncul pada permukaan selai. f. Selai sirsak telah matang dan siap untuk dikemas.

4. Sirup Sirsak Sirup sirsak merupakan hasil olahan sirsak yang berasal dari sari buah dengan beberapa

tambahan. Tahapan membuat sirup sirsak : a. Buah sirsak yang telah matang

diambil daging buahnya kemudian dihancurkan lalu disaring hingga terbentuklah sari buah sirsak. Tambahkan putih telur pada sari buah tersebut. b. Campuran putih telur dan sari buah tersebut kemudian direbus hingga mendidih. c. Hasil rebusan tadi disaring dan diisikan ke dalam botol. d. Botol yang berisi sirup tadi kemudian dipasteurisasi, sirup sirsak siap disajikan.

Manfaat Buah Sirsak Sirsak memang buah yang berbeda dengan buah lain karena hampir semua bagian dari sirsak dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna 3. Berikut ini akan dibahas mengenai bagian-bagian sirsak yang bermanfaat bagi tubuh manusia. 1. Buah Secara fisiologi buah sirsak tidak memiliki bentuk yang tetap. Ada yang bulat, lonjong, bahkan ada yang berbentuk mirip ginjal. Buah sirsak yang sudah matang sering dikomersialkan orang-orang dalam bentuk jus sirsak. Jus sirsak yang memiliki kadar antioksidan tinggi dipercaya dapat membuang racun dalam tubuh serta menambah stamina. Selain itu buah

sirsak juga menjadi obat awet muda yang ampuh karena kandungan antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas sebagai salah satu faktor penyebab penuaaan. Daging buah sirsak yang berwarna putih gading juga dipercaya dapat mengobati dan mencegah penyakit batu empedu, asam urat, disentri, batu ginjal, osteoporosis, anti sembelit, dapat meningkatkan nafsu makan, dan dapat merangsang produksi ASI pada mamalia. Sirsak juga sering digunakan sebagai obat demam di Haiti dan diabetes melitus di daerah Peru.

2. Daun Hingga saat ini belum banyak masyarakat yang mengetahui manfaat dari daun sirsak yang memiliki bau menyengat ini. Padahal daun sirsak memiliki banyak manfaat yang berguna bagi kesehatan, seperti untuk menyembuhkan penyakit hati (lever), kejang (obat antispasme atau antikejang), batuk dan radang (anti-inflamasi), serta beberapa penyakit lain, yaitu radang sendi, rematik, dan neuralgia (rasa nyeri pada satu atau lebih sel saraf). Bahkan daun sirsak telah digunakan secara tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit di penjuru dunia. Daun sirsak memiliki kandungan acetogenins yang dapat berperan sebagai pengganti kemoterapi bagi penderita kanker. Kandungan acetogenins tertinggi terdapat dalam daun yang berumur sedang. Pada daun muda acetogenins belum terbentuk sempurna sedangkan pada daun yang tua, kadar acetogenins sudah mulai berkurang karena mengalami kerusakan. Jika digunakan sebagai tanaman obat, sebaiknya ambil daun sirsak dari pekarangan rumah atau kebun yang cenderung memiliki tingkat polusi atau timbal lebih rendah daripada pohon sirsak yang ditanam di pinggir jalan.

10

3. Biji Biji buah sirsak merupakan biji tunggal yang saling berhimpitan dan dipisahkan oleh daging buah. Dalam satu buah sirsak terdapat sekitar 20 hingga 200 biji. Biji sirsak yang berwarna hitam mengkilap ini ternyata mengandung senyawa bioaktif yang dapat berfungsi sebagai pestisida alami yaitu untuk membunuh ngengat dan kecoa. Selain sebagai pestisida, ternyata biji sirsak juga bermanfaat bagi kesehatan.

Masyarakat sering menggunakan biji sirsak sebagai obat anticacing (vermifuge) terhadap parasit internal dan eksternal. Minyak hasil ekstrasi dari biji sirsak dapat dipakai sebagai pembunuh kutu kepala dan dapat menjadi racun penangkap ikan secara tradisional. Bahkan minyak biji sirsak ini juga dapat digunakan sebagai kosmetik, yaitu sebagai pembersih permukaan kulit yang kotor.

4. Akar Akar tunggang yang dimiliki sirsak juga merupakan akar yang bermanfaat bagi kesehatan. Akar sirsak sipercaya dapat digunakan sebagai obat penenang yaitu untuk menenangkan fungsi syaraf, sebagai antikejang, dan penurun tekanan darah. Masyarakat biasa mengonsumsi akar sirsak dalam bentuk teh. Akan tetapi secara tradisional, akar sirsak sering dipergunakan sebagai racun penangkap ikan. Berbeda halnya dengan masyarakat Amazonia Peru yang menggunakan akar buah ini sebagai obat antidiabetes melitus, pembasmi kutu kulit, dan penangkal racun. Dewasa ini akar sirsak sudah jarang diolah karena dapat mematikan tanaman dan sulit unttuk diperoleh.

5. Kulit Batang Kulit batang sirsak yang berkayu keras dan bercabang sedikit ternyata juga memiliki kandungan acetogenins yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh, bahkan telah menjadi obat tradisional yang sudah mendunia. Akan tetapi pengobatan menggunakan kulit batang sirsak umumnya tidak lazim karena tidak praktis. Di daerah Amazzonia Peru, kulit batang

11

sirsak biasa dipakai untuk menyembuhkan atau melawan diabetes, sebagai penenang, dan antikejang. Sedangkan Suku Asli Guyana mempergunakan kulit batang sirsak sebagai tonik, obat penenang, dan obat jantung. Lain halnya di Jamaika yang menggunakan kulit batang sirsak sebagai obat asma dan hipertensi. Rebusan kulit batang sirsak diyakini oleh masyarakat Haiti dapat menyembuhkan dan memperbaiki kerja jantung. Di berbagaai negara lain biasa mempergunakan kulit

batang sirsak untuk menghangatkan tubuh, mengobati flu, mengatasi kesulitan persalinan, dan sebagai antiparasit. Kulit batang sirsak biasa dikonsumsi dalam bentuk teh atau direbus.

6. Bunga Bunga sirsak yang memiliki aroma tidak enak ini telah digunakan oleh suku asli Brazil untuk mengobati saluran pernafasan (mengobati bronchitis) dan mengombinasikan daun serta bunga sirsak sebagai obat untuk menyembuhkan sakit di dada.

Sekilas Tentang Acetogenins Senyawa bermanfaat pada tanaman sirsak tidak hanya terdapat dalam buahnya, melainkan terletak hampir di seluruh bagian tanaman sirsak. Hampir seluruh bagian sirsak memiliki khasiat yang luar biasa. Bagian paling banyak terdapat dalam daun sirsak. Daun sirsak mengandung senyawa bioaktif yaitu sitotoksin yang bersifat racun terhadap penyakit. Senyawa sitotoksin tersebut biasa disebut dengan annonaceous acetogenins5. Senyawa annonaceous acetogenins hanya dapat ditemukan pada keluarga annonaceae yang awalnya dikenal sebagai pestisida dan antiparasit. Senyawa sitotoksin adalah senyawa yang dapat bersifat toksik maupun sebagai obat untuk menghambat dan menghentikan pertumbuhan sel kanker dan sel tumor yang ada di dalam tubuh. Acetogenins adalah senyawa poliketida dengan struktur C-34 atau C-37 rantai karbon tidak bercabang yang terikat pada gugus 2-propanol pada C-2

12

untuk membentuk suatu lakton. Senyawa ini memiliki 350 senyawa turunan yang ditemukan pada keluarga Annonacea5. Ada b2 senyawa turunan acetogenins yang terdapat dalam buah sirsak. Banyak sekali hasil penelitian ilmiah yang mengatakan bahwa kandungan sitotoksin terdapat dalam berbagai jenis tanaman. Fakta lain yang mencengangkan adalah bahwa senyawa ini dapat membunuh penyakit ganas seperti tumor dan kanker serta penyakit lain yang disebabkan oleh toksik atau racun. Hingga saat ini senyawa acetogenins telah terbukti sebagai senyawa sitotoksin terbesar dalam membunuh sel kanker. Bahkan annonaceous acetogenins sering disebut sebagai inhibitor I atau penghambat pertumbuhan sel kanker yang paling kuat. Kekuatan sitotoksin (LC50) pada suatu bahan dihitung dalam aktivitas sitotoksin yang dihitung dalam satuan g/ml. Kemampuan sitotoksin diartikan sebagai kemampuan menghambat pengangkutan ATP di dalam sel kanker. Alhasil, sel kanker tidak mendapat sumber energi yang cukup untuk tumbuh dan berkembang biak sehingga akan mati5. Perlu diketahui bahwa nilai LC50 yang rendah justru memiliki kemampuan sitotoksin yang tinggi karena ekstrak yang digunakan untuk membunuh sel kanker dan menjadi menjadi bersifat toksik jumlahnya sedikit. Tabel 2. Kekuatan Sitotoksik dari Beberapa Tanaman Keluarga Annonaceae Nama Spesies Annona muricata Desmopsis panamensis Daun Daun Bagian Pohon Sitotoksin (LC50 g/ml) 7,8 0,3 111,0 7,3 196,0 9,8 39,0 2,0 170,5 7,0 56,5 2,1 81,5 2,1 14,5 1,3 115,5 6,7 100,0 6,4

Pseudimalniea boyacana Batang Rollinia exsucca Rollinia pittieri Rollinia pittieri Rollinia pittieri Rollinia pittieri Rollinia pittieri Xylopia aromatic Batang Daun Daun Daun Batang Batang Daun

Sumber : Journal of Ethnopharmacology Volume 111

13

Berdasarkan tabel di atas dketahui bahwa kandungan ekstrak daun sirsak memiliki aktivitas sitotoksik terbesar dan paling kuat saat ini. Nilai LC 50 pada daun sirsak yang rendah menunjukkan kekuatan sitotoksik acetogenins yang tinggi sudah tidak diragukan lagi dalam menyerap radikal bebas di dalam tubuh dengan cepat. Karena itu, acetogenins sangat berkhasiat sebagai racun yang menghambat pertumbuhan sel abnormal penyebab berbagai penyakit. Kandungan acetogenins di setiap daerah dirasa tidak sama. Hal ini tergantung pada ketinggian wilayah yang menyebabkan perbedaan intensitas paparan sinar matahari. Di daerah rendah memiliki paparan sinar matahari yang lebih tinggi dibandingkan dengan dataran tinggi. Karena itu, pohon sirsak yang mendapatkan sinar matahari dalam jumlah cukup dapat melakukan proses fotosintesis sempurna dan lebih banyak zat aktif yang akan terbentuk.

Fungsi acetogenins antara lain adalah : Acetogenins hanya akan membunuh sel kanker yang ada dalam tubuh, sedangkan sel normal tidak akan diserang dan akan tetap hidup. Acetogenins dalam daun sirsak dapat membunuh sel kanker 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan adriamcyn (obat kemoterapi). Kemoterapi dapat menyebabkan dan menimbulkan efek samping berupa rasa mual, bobot atau berat badan turun, dan rambut rontok. Sebaliknya, acetogenins tidak menimbulkan efek samping tersebut. Acetogenins dapat melindungi sistem kekebalan tubuh dan mencegah infeksi yang mematikan. Pasien yang melakukan pengobatan menggunakan acetogenins akan merasa lebih kuat dan lebih sehat selama proses perawatan dan penyembuhan, serta memiliki penampilan fisik yang baik.

Ketika sel kanker tahan terhadap kemoterapi, keadaan ini menjelaskan bahwa sel kanker semakin kuat untuk mengembangkan sifat resisten atau kebal terhadap obat-obatan kemoterapi. Fenomena ini disebut dengan multidrug resistans (MDR) atau tahan obat kemoterapi.

14

Peneliti Purdue melaporkan bahwa acetogenins dipersiapkan untuk membunuh sel kanker yang tahan terhadap obat dengan menghalangi transfer ATP. Sebuah sel tumor membutuhkan energi untuk tumbuh dan berkembang biak, menjalankan pompa dan mengusir agen penyerang dalam jumlah yang lebih banyak. Saat acetogenins memblokir atau menghancurkan ATP, sumber energi sel tumor tidak cukup untuk mempertahankan diri dari waktu ke waktu. Pada akhirnya sel kanker tidak lagi memiliki energi yang cukup untuk mengoperasikan proses mempertahankan diri dan akan mati.

Kendala Budidaya Tanaman Sirsak Produksi sirsak di Indonesia tergolong rendah bila dibandingkan dengan tanaman buah lain seperti jeruk, mangga, pisang, durian, dan manggis. Hingga saat ini penyebab utamanya adalah para petani belum tertarik untuk membudidayakan tanaman sirsak. Alasan utama petani adalah hasil panen yang belum dapat diprediksi dan masa simpan buah yang relatif singkat. Di sisi lain para pedagang juga mengeluhkan hal yang sama yakni sulitnya menyimpan sirsak karena waktu penyimpanan sirsak sulit diprediksi. Bahkan sejak tahun 207, produksi sirsak di Indonesia mengalami penurunan. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya peremajaan pohon sirsak yang sudah berusia tua. Akibatnya produksi tanaman sirsak mengalami penurunan lagi di tahun 2008. Secara geografis, sirsak dapat tumbuh dengan baik di dataran Indonesia karena negara Indonesia merupakan negara ynag subur dan beriklim tropis sehingga sesuai dengan kondisi iklim yang dibutuhkan untuk menanam sirsak. Namun sangat disayangkan, pada kenyataannya produksi sirsak di Indonesia masih hanya sebatas kalangan regional saja dan belum dapat memenuhi kebutuhan ekspor karena berbagai kondisi, seperti jumlah produksi yang belum memenuhi permintaan ekspor serta teknologi untuk mengatasi kendala waktu simpan buah yang sangat singkat belum dapat dikembangkan di Indonesia.

15

Selain kesadaran dari petani, ternyata juga terdapat hama yang mengganggu tumbuhnya tanaman sirsak3. Hama yang mengganggu tanaman sirsak antara lain : 1. Kutu Perisai Kutu perisai merupakan salah satu hama yang paling sering menyerang sirsak. Hama ini hidup menggerombol dalam jumlah banyak. Cara membasmi perkembangbiakkan hama ini adalah dengan memangkas atau memotong bagian tanaman yang terkena kutu perisai yang sudah dalam kondisi berat. Kutu ini dapat musnah pada musim penghujan. Namun apabila melampaui ambang batas, kutu perisai dapat menyebabkam kerugian secara ekonomi. Maka untuk mengendalikan hama ini diperlukan penyemprotan menggunakan insektisida Perfhektion 400 EC dengan konsentrasi 0,2 %.

2. Lalat Buah (Bractocera dorsalis) Lalat buah adalah hama yang cukup ganas karena dapat melubangi atau memakan buah sirsak. Untuk mengendalikan hama ini dilakukan dengan cara membungkus buah sirsak yang hampir matang dengan kertas semen. Selain itu juga dapat dilakukan dengan menjaga sanitasi lingkungan dan menyemprotkan pestisida dari ekstrak daun sirsak.

3. Ulat Penggerek Buah (Phiralidae) Perubahan iklim atau perbedaan wilayah merupakan salah satu faktor yang menyebabkan munculnya hama yang menyebabkan buah

berlubang hitam dan busuk. Ulat penggerek buah menimbulkan alur-alur hitam pada permukaan buah sehingga permukaan buah menjadi berlubang dan lubang tersebut dipenuhi oleh kotoran larva berwarna hitam. Hama ini dapat dikendalikan dengan menjaga sanitasi lingkungan yang baik, pembungkusan buah, pengasapan kebun, dan penggunaan perangkap sex pheromone (netil eugenol). Jika sudah melampaui

16

ambang batas ekonomi, disarankan untuk melakukan penyemprotan insektisida Perfhektion 400 konsentrasi 0,2 %.

4. Ulat Penggerek Batang (Indarbela disciplaya) Hama yang menyerang tanaman sirsak ini harus diberantas karena bersifat mematikan. Larva ulat ini akan menyerang tanaman sirsak dengan cara melubangi batangnya. Pada kasus yang sangat parah, tanaman sirsak dapat berlubang-lubang dan mengering atau bahkan mati. Hama ulat penggerek batang dapat dibasmi dengan cara membersihkan kotoran yang menutupi lubang gerekan, memotong dan memusnahkan batang yang telah mengalami kerusakan parah, melakukan dan menjaga sanitasi kebun, dan menyumbatkan kapas yang telah diberi atau direndam menggunakan insektisida Diazinon atau Bayrusil ke dalam lubang batang yang digerek. Penyemprotan Curacron 500 EC

konsentrasi 0,2 % pada batang yang terserang dapat dilakukan apabila sudah melebihi batas ambang ekonomi.

5. Ulat Daun Bercula Satu Hama ini berasal dari kupu-kupu Meganotron rufrscens dan Papilo

agamemnon dan sering dijumpai memakan daun sirsak. Ulat ini berukuran cukup besar dan panjang serta memiliki tanduk dan cula berwarna hijau. Untuk memberantas hama ini dapat dilakukan dengan menjaga sanitasi yang baik. Hama ulat daun ini juga dapat diberantas dengan menyemprotkan insektisida Decis 0,2 % atau Bayrusil 250 EC 0,2 %.

6. Ulat Atlas (Attacus atlas) Hama yang sering disebut ulat keket atau ulat badori ini memiliki ukuran yang sangat besar, mempunyai duri-duri lemas pada punggungnya, dan berwarna hijau keputihan. Ulat atlas menyerang daun sirsak dan dapat menghabiskan daun sirsak hanya dalam waktu semalam.

17

Untuk membasmi hama ini dilakukan penyemprotan insektisida biologis (bakteri pemangsa) berupa Bacillus thuringiensis (Bayrusil) dengan konsentrasi 0,2 %.

7. Rayap (Ceptoternus curvignatus) Hama rayap sangat merusak batang pohon sirsak. Untuk menanggulangi hama ini dapat dilakukan dengan menebang kemudian membakar batang pohon yang sudah terkena rayap serta menyiram sekeliling batang sirsak menggunakan larutan insektisida Curacron 500 EC konsentrasi 0,1 %.

8. Kutu Sisik Putih (Pseudococcus lilacinus) Kutu sisik putih merupakan hama yang sering menggerombol di ranting, daun, pucuk, bunga, dan buah. Mereka menggerombol untuk menghisap cairan sel tanaman. Hama ini mengeluarkan cairan atau air madu yang nantinya mengundang semut sehingga mengakibatkan pohon yang diserang oleh hama ini akan menjadi berkerut, menggulung, abnormal, dan rontok. Hama kutu sisik putih dapat ditanggulangi dan disegah dengan cara memangkas bagian tanaman sirsak yang terserang dalam kondisi berat atau menyemprot dengan insektisida Perfhektion 400 EC konsentrasi 0,2%.

Selain hama-hama yang telah disebutkan tadi, populasi sirsak yang menurun juga diakibatkan oleh kondisi fisik sirsak itu sendiri. Sirsak yang terkena penyakit akan mengalami penurunan kemampuan untuk menghasilkan buah4. Berikut ini adalah penyakit-penyakit yang biasa menyerang tanaman sirsak. 1. Mati Cabang Ranting Penyakit ini dapat ditanggulangi dengan cara menjaga sanitasi lingkungan kebun dengan baik, memangkas bagian tanaman yang

18

sudah terkena berat, perlakuan dan penanganan pasca panen yang baik dan tepat.

2. Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides) Penyakit antraknosa merupakan penyakit utama dan yang paling sering menyerang pohon sirsak yang hidup di daerah lembap. Antraknosa menyerang bunga dan buah sirsak hingga busuk atau keriput. Selain itu antraknosa juga menyerang buah, daun, batang, dan pematangan buah. Tak jarang tanaman sirsak yang terkena penyakit ini akan mengalami penyusutan produksi panen. Tindakan pengendalian dapat dilakukan dengan memperbaiki drainase tanah, penjagaan sanitasi lingkungan kebun, atau penyemprotan fungisida Cobox konsentrasi 0,2 %.

3. Bercak Daun Bercak daun yang menyerang daun pohon sirsak disebabkan oleh kelembapan yang tinggi sehingga menyebabkan timbulnya bercak atau jamur. Untuk mengurangi bercak daun dapat dilakukan dengan mengurangi kelembapan yang berasal dari tanaman pelindung. Tanaman pelindung dipangkas pada bagian yang menghalangi paparan sinar matahari pada pohon sirsak., memangkas daun yang terserang dan menjaga sanitasi kebun.

4. Karat Daun Penyakit karat daun menyerang daun pohon sirsak. Untuk

menanggulanginya dapat dilakukan dengan pemangkasan bagian daun yang terserang berat serta menjaga sanitasi lingkungan kebun.

5. Busuk Akar Akar tanaman sirsak yang terkena penyakit busuk akar akan membusuk dan berwarna coklat. Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah

19

timbulnya penyakit ini adalah dengan memperbaiki drainase tanah, membongkar tanaman yang terserang berat dengan memangkas akar yang busuk (biasanya busuk akar terjadi pada awal tanam), serta menjaga sanitasi lingkungan kebun.

6. Busuk Batang (Corticium sp.) Busuk batang merupakan penyakit yang paling sering mematikan tanaman. Penyakit ini menyerang batang dan dahan pada saat suhu terlalu dingin dan lembap. Kulit batang berwarna abu-abu kehitaman hingga merah jambu dan kecoklatan serta tampak basah merupakan gejala tanaman terkena penyakit ini. Tanaman yang terkena busuk batang akan cepat mengering dan mati. Penyakit busuk batang akan cepat menular pada waktu siang hari dan ketika keadaan kering sehingga spora tertiup angin. Penanggulangan penyakit ini dengan membersihkan lahan menjelang akhir tahun kemarau dan membakar bagian pohon yang terkena penyakit busuk batang. Tindakan tersebut dapat membantu mengurangi penyebaran penyakit pada musim berikutnya.

Penanganan Panen pada Tanaman Sirsak Buah sirsak dapat dipanen setelah berumur lebih dari tiga tahun. Musim berbunga pohon sirsak paling banyak terjadi selama bulan Oktober sampai November dan musim buahnya jatuh pada bulan Januari serta Februari. Dari satu pohon sirsak dapat diperoleh sekitar 2-30 buah sirsak dengan bobot kira-kira 200-1200 gram. Namun produksi sirsak akan mengalami penurunan setelah usia pohon mencapai 8-10 tahun sehingga dibutuhkan peremajaan3. Buah sirsak paling baik dipanen setelah benar-benar matang tetapi masih keras. Ciri-ciri buah sirsak yang matang antara lain memiliki jarak duri yang telah merenggang pada kulit buah, melebar, dan ujungnya tumpul, tangkai buah telah menguning. Dan warna kulit yang tadinya hijau mengilat telah

20

berubah menjadi hijau kusam atau hijau kekuning-kuningan. Jika ditepuk-tepuk akan terdengar suara seperti berongga dan tercium bau khas sirsak. Buah sirsak yang matang memiliki daging buah yang lembek, berwarna putih, dan berserat. Berdasarkan umurnya, buah sirsak dapat dipanen kurang lebih setelah berumur 2,5 bulan sejak keluarnya bunga. Apabila sirsak yang dipetik belum cukup matang, maka dapat dipercepat pematangannya dengan cara mencuci buah sirsak dengan air bersih kemudian diletakkan di tempat yang lembap selama 3-5 hari hingga buah benar-benar matang. Buah sirsak dapat ditemukan sepanjang tahun pada daerah yang beriklim tidak mengenal musim. Normalnya sirsak memiliki masa panen 1-3 kali masa panen dengan puncak pada musim utama. Buah sirsak harus dipetik dengan hati-hati dan selektif, pemotongan tangkai harus menggunakan pisau yang benar-benar tajam atau gunting setek. Setelah itu buah sirsak disimpan dalam keranjang bambu yang telah dialasi bahan yang empuk seperti jerami. Sirsak merupakan buah yang mudah rusak dan tidak tahan terhadap proses penyimpanan dalam jangka waktu lama. Meski sirsak dapat diperam, tetapi hasil peraman tidak akan sama dengan sirsak yang matang dari pohonnya. Mutu, rasa, dan aroma sirsak hasil peraman kurang memenuhi syarat untuk dijual di pasaran. Buah sirsak tidak dapat dipanen sekaligus karena memiliki tingkat kematangan yang berbeda-beda. Karena itu diperlukan metode pemetikan petik pilih yang dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan kerusakan. Buah yang telah dipanen harus diletakkan secara strategis agar memudahkan proses pengangkutan. Buah sirsak yang telah matang harus diangkut menggunakan peti atau kotak karton yang kuat. Duri kulit yang lemas dapat dijadikan alat peredam goncangan. Penumpukan karton tidak boleh terlalu tinggi, maksimal dua lapis. Penumpukan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan memar yang dapat mempercepat pembusukan, kecuali bila pembungkusan menggunakan peti

yang kuat dan berventilasi. Buah sirsak biasa dibeli pemborong dalam keadaan matang 75 % dan digunakan sebagai bahan baku pembuatan jus, minuman segar, dan

21

pembuatan dodol. Buah sirsak juga digunakan oleh pabrik industri sebagai bahan baku untuk membuak pure (bubur kental). Pure tersebut akan diekspor ke berbagai negara besar. Namun, Indonesia belum memiliki nilai ekspor yang cukup baik.

22

DAFTAR PUSTAKA

1. Ashari, Prof. Ir. Sumeru. 2006. Meningkatkan Keunggulan Bebuahan Tropis Indonesia. Yogyakarta : C.V. Andi Offset 2. Santoso, Hieronymus Budi. 2008. Ragam dan Khasiat Tanaman Obat. Jakarta : PT Agromedia Pustaka 3. Sunarjono, Drs. Hendro. 1987. Ilmu Produksi Tanaman Buah-buahan. Bandung : C.V. Sinar Baru 4. Widyastuti,Yustina Erna. 1993. Mengenal Buah Unggul Indonesia. Jakarta : PT Penebar Swadaya 5. Zuhud, Prof. Dr. Ervival AM. 2011. Bukti Kedahsyatan Sirsak Menumpas Kanker. Jakarta Selatan : PT Agromedia Pustaka

23