Anda di halaman 1dari 29

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pengamatan Tujuan pembangunan kesehatan yang telah tercantum pada Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu upaya penyelenggaraan kesehatan yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia guna mendapatkan kemampuan hidup sehat bagi setiap masyarakat agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal yang mana dikatakan bahwa peningkatan derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu lingkungan, pelayanan kesehatan, tindakan serta bawaan (congenital). Hidup sehat merupakan hak yang dimiliki oleh setiap manusia yang ada di dunia ini, akan tetapi diperlukan berbagai cara untuk mendapatkannya.1 Sebagai upaya untuk mewujudkan visi Indonesia sehat 2011, pemerintah telah menyusun berbagai program pembangunan dalam bidang kesehatan antara lain kegiatan pemberantasan Penyakit Menular (P2MM) baik yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di semua aspek lingkungan kegiatan pelayanan kesehatan.1 Untuk dapat mengukur derajat kesehatan masyarakat digunakan beberapa indikator, salah satunya adalah angka kesakitan dan kematian balita. Angka kematian balita yang telah berhasil diturunkan dari 45 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2003 menjadi 44 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2007.1 World Health Organization (WHO) memperkirakan insidensi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. Menurut WHO 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di negara berkembang, dimana

pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh 4 juta anak balita setiap tahun (Depkes, 2000 dalam Asrun, 2006). Di Indonesia, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak di rumah sakit. Survei mortalitas yang dilakukan oleh Subdit ISPA tahun 2005 menempatkan ISPA/Pneumonia sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentase 22,37% dari seluruh kematian balita.1 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah proses infeksi akut berlangsung selama 14 hari, yang disebabkan oleh mikroorganisme dan menyerang salah satu bagian, dan atau lebih dari saluran napas, mulai dari hidung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah), termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.1 Gejala awal yang timbul biasanya berupa batuk pilek, yang kemudian diikuti dengan napas cepat dan napas sesak. Pada tingkat yang lebih berat terjadi kesukaran bernapas, tidak dapat minum, kejang, kesadaran menurun dan meninggal bila tidak segera diobati. Usia Balita adalah kelompok yang paling rentan dengan infeksi saluran pernapasan. Kenyataannya bahwa angka morbiditas dan mortalitas akibat ISPA, masih tinggi pada balita di negara berkembang.1 Di wilayah kerja Puskesmas Cililin ISPA merupakan jumlah kasus yang selalu menduduki 10 besar penyakit tersering pada setiap bulannya. ISPA merupakan salah satu penyakit yang sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan. Di wilayah kerja Puskesmas Cililin angka kejadian ISPA yang diterima masih cukup tinggi terutama kunjungan berobat di bagian rawat jalan.

Tabel 1.1 Rekapitulasi Sepuluh Penyakit Terbanyak 2011 NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nama Penyakit ISPA GIGI MYALGIA GASTRITIS HYPERTENSI OBS. FEBRIS KULIT DIARE ASMA VARISELLA Jumlah 7209 4755 1852 2173 2579 1566 1744 905 320 97

Sumber: Laporan Tahunan 2011 Puskesmas Cililin

Atas dasar tersebut diatas penulis berkeinginan untuk melakukan pengamatan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai prevalensi, penyebab ISPA yang timbul di wilayah kerja Puskesmas Cililin, serta program P2M ISPA untuk menanggulanginya.2

1.2 Identifikasi Masalah 1. Bagaimana gambaran masalah ISPA di wilayah kerja Puskesmas Cililin 2. Mengetahui mengenai program P2M ISPA serta faktor faktor apa saja yang dapat mempengaruhi dan menghambat jalannya program P2M ISPA di Puskesmas Cililin

3. Usaha apa yang dilakukan tenaga kesehatan di Puskesmas untuk meningkatkan cakupan program P2M ISPA di wilayah kerja Puskesmas Cililin

1.3 Tujuan Pengamatan 1.3.1 Tujuan Umum 1. Memberikan gambaran tentang program Pemberantasan Penyakit Saluran Pernapasan Akut (P2M ISPA) di wilayah kerja Puskesmas Cililin 2. Mengetahui mengenai program P2M ISPA serta faktor- faktor yang mempengaruhi timbulnya ISPA di wilayah kerja Puskesmas Cililin 3. Mengetahui faktor yang mempengaruhi dan faktor-faktor yang menghambat jalannya program P2M ISPA di wilayah kerja Puskesmas Cililin 4. Mengetahui upaya yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang bemaksud untuk meningkatkan cakupan P2M ISPA diwilayah kerja Puskesmas Cililin. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Cililin untuk meningkatkan cakupan program P2M ISPA

1.4 Manfaat Pengamatan 1.4.1 Bagi Puskesmas Mengetahui gambaran mengenai angka kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Cililin sebagai masukan untuk pihak Puskesmas untuk meningkatkan kegiatan di bidang program P2M ISPA.

1.4.2 Bagi Pengamat Untuk menambah pengetahuan kepada pengamat mengenai ISPA, program P2M ISPA dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian ISPA ISPA merupakan singkatan dari infeksi saluran pernapasan akut, istilah ini diadaptasi dari istilah dalam bahasa Inggris Acute Respiratory Infections (ARI). infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak yang berakibat timbul gejala penyakit.3 ISPA sering disalah artikan sebagai Infeksi Saluran Pernapasan Atas. ISPA meliputi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni infeksi, saluran pernafasan dan akut, dengan pengertian sebagai berikut:4 Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura. ISPA secara anatomis mencakup saluran pernafasan bagian atas, saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa saluran pernafasan. Dengan batasan ini, jaringan paru termasuk dalam saluran pernafasan (respiratory tract). Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung lebih dari 14 hari.

2.2 Etiologi Etiologi ISPA terdiri dari lebih 370 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain darin genus Streptococcus, Staphylococcus, Pnemococcus, Haemophyllus, Bordetella dan Corynobacterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Mixovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, Micoplasma, Herpesvirus.5 Sebagian besar dari Infeksi Saluran Pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotik, namun demikian, jika anak menderita pneumonia dan jika infeksi paru ini tidak diobati dengan antibiotik, maka akan dapat mengakibatkan kematian.5,6

2.3 Klasifikasi ISPA menurut Program P2M ISPA7,8 Program Pemberantasan Penyakit (P2M) ISPA membagi penyakit ISPA dalam 2 golongan yaitu pneumonia dan yang bukan pneumonia, namun yang menjadi acuan penilaian angka kejadian ISPA adalah golongan pneumonia. Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa nafas cepat dan sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas nafas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pneumonia.9 Pneumonia dibagi atas derajat beratnya penyakit yaitu pneumonia berat dan pneumonia tidak berat. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada ke dalam (chest indrawing). Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya nafas cepat.

Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa nafas cepat. Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi penyakit

ISPA. Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2 bulan dan untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun. Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu : Pneumonia berat: ditemukan tarikan kuat dinding pada bagian bawah atau nafas cepat. Batas nafas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih. Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau nafas cepat. Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun ada 3 klasifikasi penyakit yaitu : Pneumonia berat: bila disertai nafas sesak yaitu adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas (pada saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tidak menangis atau meronta). Pneumonia: bila disertai nafas cepat. Batas nafas cepat ialah untuk usia 2 -12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1 -4 tahun adalah 40 kali per menit atau lebih. Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada nafas cepat. Penyakit batuk pilek seperti rinitis, faringitis, tonsilitis dan penyakit jalan napas bagian atas lainnya digolongkan sebagai bukan pneumonia.

Epidemiologi Dari data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1992, didapatkan bahwa kejadian kematian ISPA adalah sebesar 74 kejadian dari populasi balita sebesar 23.336. Dengan demikian, angka kematian balita akibat ISPA di Indonesia adalah sebesar 2,7 per 1000 balita atau jika dibulatkan adalah sebesar 3 per 1000 balita.1

Diagnosis Diagnosis pneumonia pada balita didasarkan pada adanya batuk atau kesukaran bernafas disertai adanya peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai dengan umur. Adanya nafas cepat ini ditentukan dengan cara menghitung frekuensi pernafasan. Batas nafas cepat adalah frekuensi pernafasan sebanyak 50x/ menit atau lebih untuk anak usia 2 bulan- < 1 tahun dan 40x/menit atau lebih untuk anak usia 1 tahun-<5 tahun. Pada anak < 2 bulan tidak dikenal diagnosis pneumonia.7 Diagnosis pneumonia berat didasarkan adanya batuk dan atau kesukaran bernafas disertai adanya sesak nafas atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam.7 Gambaran klinis biasanya didahului oleh infeksi saluran nafas akut bagian atas selama beberapa hari, kemudian diikuti dengan demam, menggigil, suhu tubuh kadang-kadang melebihi 40oC, sakit tenggorokan, nyeri otot dan sendi. Juga disertai batuk dengan sputum mukoid atau purulen, kadang-kadang berdarah. Pada pemeriksaan fisik dada, terlihat bagian yang sakit tertinggal waktu bernafas dengan suara nafas bronkial kadang-kadang melemah. Didapatkan ronkhi basah halus, yang kemudian menjadi ronkhi basah kasar pada stadium resolusi. Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan jumlah leukosit, biasanya lebih dari 10.000/l. Jika disebabkan oleh virus atau mikoplasma, jumlah lekosit dapat normal atau menurun dan pada hitung jenis leukosit terdapat pergeseran ke kiri, juga terjadi peningkatan LED. Kultur darah positif pada 20 25 % penderita yang tidak diobati. Kadang-kadang didapatkan peningkatan kadar ureum darah, akan tetapi kreatinin masih dalam batas normal.6 Analisa darah menunjukan hipoksemia dan hipokarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis respiratorik. Foto thorak merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat penting. Foto thorak saja tidak secara khas menentukan penyebab pneumonia, hanya merupakan petunjuk ke arah diagnosis etiologi. Gambaran konsolidasi dengan air bronchogram (pneumonia lobaris), tersering disebabkan oleh S. pneumoniae.6

Gambaran radiologis pada pneumonia yang disebabkan oleh kuman Klebsiella sering menunjukan adanya konsolidasi yang terjadi pada lobus atas kanan, kadang-kadang dapat mengenai penderita beberapa lobus. Gambaran lainnya dapat berupa bercak-bercak kavitas. Kelainan radiologis lainnya yang khas yaitu penebalan (bulging) fisura interlobaris. Penatalaksanaan penderita:1,4,6 1. Penderita yang tidak dirawat Istirahat ditempat tidur, bila panas tinggi dikompres. Minum banyak Obat-obat penurun panas, mukolitik dan ekspektoran Antibiotika Bila pneumonia berat : kirim segera atau rujuk ke rumah sakit, beri antibiotika bila jarak ke rumah sakit jauh Bila bukan pneumonia : Berikan nasihat cara perawatan di rumah : jaga bayi agar tidak kedinginan, teruskan pemberian ASI lebih sering, bersihkan hidung bila tersumbat. 2. Perawatan di rumah sakit. Indikasi rawat penderita pneumonia adalah penderita dengan keadaan klinis berat, adanya penyakit lain yang mendasarinya, adanya komplikasi, maupun tidak adanya respon terhadap pengobatan yang diberikan. a. Penatalaksanaan umum Pemberian oksigen. Pemasangan oksigen untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit. Mukolitik dan ekspektoran, bila perlu dilakukan pembersihan jalan nafas. Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu lebih dari 40OC, takikardi atau terjadi kelainan jantung. Bila nyeri pleura hebat dapat diberikan obat anti nyeri. Obat-obatan khusus pada keadaan tertentu.

10

Prognosis pneumonia secara umum baik, tergantung dari kuman penyebab dan penggunaan antibiotik yang tepat serta adekuat. Perawatan yang baik dan intensif sangat mempengaruhi prognosis penyakit pada penderita yang dirawat.

11

BAB III PERENCANAAN PROGRAM

Pelaksanaan Program P2M ISPA ditujukan pada kelompok usia balita, yaitu bayi (0 s/d <1 tahun ) dan balita (1 s/d <5 tahun) dalam bentuk upaya penanggulangan penyakit pneumonia.1 Pemilihan kelompok ini sebagai target populasi program didasarkan pada kenyataan bahwa angka mortalitas dan morbiditas ISPA pada kelompok umur balita masih tinggi di Indonesia, di samping itu keberhasilan upaya program P2M ISPA dapat mempunyai daya ungkit dalam penurunan angka kematian bayi di Indonesia.7 P2M atau program pemberantasan dan pencegahan penyakit menular merupakan bagian dari program basic six yang mencakup banyak subprogram. Tujuan program P2M ISPA adalah menurunkan angka kematian balita akibat pneumonia dan menurunkan angka kesakitan balita akibat pneumonia. Upaya penurunan angka kematian merupakan prioritas upaya karena dirasakan mendesak mengingat tingginya angka kematian pneumonia pada balita di Indonesia. Di samping itu upaya penurunan kematian diharapkan memberikan dampak yang lebih cepat dibandingkan dengan upaya penurunan kesakitan.9 Upaya penurunan angka kematian pneumonia pada balita dilakukan dengan melaksanakan kegiatan penemuan dan tatalaksana penderita. Menurut perkiraan yang dibuat WHO, pelaksanaan tatalaksana standar pada penderita pneumonia di sarana kesehatan tingkat pertama dan di sarana kesehatan rujukan dapat mencegah kematian pada balita sebesar 60-80%. Prioritas kegiatan pada Pelita VI adalah : 1. Penemuan dan tatalaksana penderita 2. Penyediaan dan distribusi logistik untuk mendukung tatalaksana penderita 3. Pelatihan dan penyebaran informasi tentang program P2M ISPA pada tenaga kesehatan

12

4. Penyuluhan dan pelaksanaan kegiatan komunikasi dengan khalayak sasaran ibu balita Kegiatan pokok program P2M ISPA terdiri atas 8 kegiatan pokok, yaitu:7 a. b. c. d. e. f. Penemuan dan tatalaksana penderita Pelatihan tenaga kesehatan Pengadaan, distribusi dan pengelolaan logistik Pemantauan dan evaluasi Komunikasi dan penyebaran informasi Kerjasama lintas program dan lintas sektor serta peningkatan peran serta masyarakat g. h. Peningkatan manajemen program Penelitian, pengembangan dan penyelidikan9

3.1 Target Target penemuan penderita pneumonia balita bagi suatu puskesmas didasarkan pada angka insidens pneumonia pada balita dan jumlah balita di wilayah kerja puskesmas yang bersangkutan. Target cakupan penderita penemuan penderita pneumonia di Puskesmas Cililin mengacu pada target yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat. Untuk tahun 2011 ini, target SPM yang ditetapkan adalah 10 %.10

3.2 Proses A. Planning Puskesmas Cililin menentukan beberapa rencana aktivitas dalam

melaksanakan subprogram P2M ISPA , diantaranya ialah : 1. Penyusunan target : 10% dari jumlah balita yang ada = 446 balita/ tahun (Asumsi jumlah balita adalah 10% jumlah penduduk) 2. Penyusunan kebutuhan logistik rutin berupa penyediaan parasetamol 500 mg,

13

sirup parasetamol 120 mg/5ml dan cotrimoksazole 480 mg setiap waktu di Puskesmas. 3. Kegiatan pemeriksaan dan pengobatan penderita ISPA Dilaksanakan di dalam gedung puskesmas poklinik umum atau MTBS jam 08.00 sampai 13.00 WIB Dilaksanakan pada setiap kegiatan posyandu, dimana posyandu

dilaksanakan setiap 1 kali setiap bulan di setiap RW, dari pukul 08.00 sampai 12.00 WIB. Dilaksanakan oleh dokter atau bidan swasta setiap hari kerja (tergantung jam praktek dokter atau bidan swasta). 4. Kegiatan penyuluhan ISPA masyarakat 5. Pembinaan peran aktif masyarakat melalui kader 6. Kunjungan rumah penderita pneumonia 5. Kerjasama lintas sektoral dengan aparat pemerintahan dan tokoh masyarakat 6. Pencatatan dan Pelaporan

B. Organizing Untuk melaksanakan subprogram ini, dilakukan koordinasi pihak Puskesmas Cililin dengan para dokter atau bidan swata dalam hal pemeriksaan, pengobatan, dan pendataan jumlah penderita ISPA. Pihak puskesmas juga melakukan koordinasi melalui pertemuan berkala satu bulan satu kali dengan para kader, serta melakukan kerjasama lintas sektoral dengan aparat pemerintahan dan tokoh masyarakat di wilayah kerja puskesmas. Pemegang program P2M ISPA bekerjasama dengan program Kesehatan Lingkungan, Gizi, dan KIA.

C. Actuating Aktifitas yang dilaksanakan Puskesmas Cililin untuk mencapai cakupan program ini selama bulan Oktober - Desember 2011 adalah:

14

1. Kegiatan pemeriksaan dan pengobatan penderita ISPA Dilaksanakan di dalam gedung puskesmas poklinik umum atau MTBS jam 08.00 sampai 13.00 WIB Dilaksanakan pada setiap kegiatan posyandu, dimana posyandu

dilaksanakan setiap 1 kali setiap bulan di setiap RW, dari pukul 08.00 sampai 12.00 WIB. Dilaksanakan oleh dokter atau bidan swasta setiap hari kerja (tergantung jam praktek dokter atau bidan swasta). 2. 3. 4. Kegiatan penyuluhan ISPA masyarakat Pembinaan peran aktif masyarakat melalui kader Kerjasama lintas sektoral dengan aparat pemerintahan dan tokoh masyarakat setempat 5. Pencatatan dan Pelaporan

D. Controlling Sistem pengawasan yang dilaksanakan Puskesmas Cililin untuk subprogram ini adalah pengawasan langsung oleh kepala puskesmas dan koordinator program P2M ISPA kepada dokter atau bidan swasta, serta kader yang melaksanakan program ini melalui laporan tertulis setiap bulannya. Pelaporan dan rapat bulanan antar penanggung jawab program dengan Kepala Puskesmas merupakan suatu langkah yang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan secara rutin. Melalui rapat inilah, Kepala Puskesmas dan perangkatnya dapat menilai cakupan penemuan kasus terhadap target dalam bulan sebelumnya, kendala atau permasalahan apa yang dihadapi pada saat itu dan membicarakan modifikasi metode pendekatan yang dapat dilakukan untuk program bulan selanjutnya. Pada tahap ini, program telah berjalan, maka evaluasi terhadap hasil akumulasi terhadap sisa target perlu diperhatikan. Sebab dengan tidak tercapainya targeet bulan lalu, itu merupakan beban yang perlu diakumulasikan pada program bulan selanjutnya.

15

Pemantauan kegiatan yang meliputi : Pencatatan medik penderita Pencatatan medik penderita dilakukan di poliklinik umum atau MTBS (manajemen terpadu balita sakit). Logistik Logistik yang diperlukan dipantau oleh pemegang program, namun untuk ketersediaan obat-obatan masih digabungkan dengan pengobatan penyakit yang lain di bagian apotek. Pencatatan dan Pelaporan penderita Pencatatan dan pelaporan jumlah penderita dilakukan setiap bulan pada rapat bulanan pemegang program.

3.3 Sumber Daya Sumber daya yang direncanakan Puskesmas Cililin untuk tercapainya target subprogram P2M ISPA oleh tenaga kesehatan meliputi 7M, yaitu : a. Ketenagaan (Man) Jumlah : 1 orang Lama bekerja : 20 tahun Pendidikan tenaga : 15 tahun Pendidikan terakhir : DIII Akademi Keperawatan b. Pembiayaan (Money) Dana untuk pembiayaan berasal dari dinas kesehatan untuk program P2M ISPA digabungkan dengan program P2MM lainnya, namun jumlah untuk P2M ISPA sendiri tidak menentu karena digunakan bersama dengan program lainnya. Sejak tahun 2011 dana didapatkan dari dana BOK, namun pada tahun 2011 dana bantuan operasioanal ini belum cair. c. Bahan (Material) Bantuan dari dinas kesehatan berupa obat parasetamol 500 mg, sirup parasetamol 120mg/5ml, dan cotrimoksazole 480 mg.

16

d. Peralatan (Machine) Terdapat bantuan alat dari dinas kesehatan berupa 3 (lima) buah sound timer yang terdapat di Puskesmas. Saat ini, semua alat yang sudah tidak berfungsi dengan baik. Dahulu alat tersebut tidak selalu digunakan karena tidak semua tenaga kesehatan dapat menggunakan alat tersebut. e. Teknik Yang dikuasai (Method) : Teknik penentuan diagnosa, penanganan pertama dan perujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan. Selain itu juga dilakukan teknik penjaringan dan penilain faktor resiko dengan melakukan kunjungan rumah penderita pneumonia. f. Sasaran (Market) a. Langsung : balita (2 bulan s/d <5 tahun). b. Tidak langsung : ibu yang mempunyai balita yang sakit pneumonia. g. Waktu (Minute) Dilaksanakan di dalam gedung puskesmas poklinik umum atau MTBS jam 08.00 sampai 13.00 WIB Dilaksanakan pada setiap kegiatan posyandu, dimana posyandu

dilaksanakan setiap 1 kali setiap bulan di setiap RW, dari pukul 08.00 sampai 12.00 WIB. Dilaksanakan oleh dokter atau bidan swasta setiap hari kerja (tergantung jam praktek dokter atau bidan swasta).

17

BAB IV HASIL KEGIATAN PROGRAM

ISPA merupakan penyakit dengan jumlah kasus yang selalu menduduki peringkat 10 besar penyakit di Puskesmas Cililin. Dari hasil wawancara dengan pemegang program P2M ISPA diketahui bahwa:. Kegiatan penemuan dan pelaporan penderita dilaksanakan oleh petugas kesehatan, khususnya pemegang program, dokter atau bidan swasta, posyandu, kader kesehatan dan masyarakat. Waktu pelaksanaan dilaksanakan saat dilaksanakannya kegiatan posyandu atau disesuaikan dengan anggaran yang diberikan Dinkes atau dilakukan di tempat rawat jalan setiap hari kerja. Kegiatan yang dilaksanakan biasanya adalah pemantauan penderita ISPA, terutama ISPA sedang (pneumonia) dan ISPA berat (pneumonia berat). Petugas harus mampu melaksanakan penatalaksanaan penderita termasuk rujukannya, petugas mampu melakukan penyuluhan dan penggerakan partisipasi masyarakat dan petugas mampu melakukan pencatatan dan pelaporan. Sumber pendanaan program berasal dari Dinas Kesehatan baik secara dana maupun bantuan peralatan berupa sound timer (alat bantu hitung pernafasan) dan obat-obatan. Alat hitung pernafasan digunakan untuk membantu petugas mengklasifikasi penderita ISPA secara tepat melalui perhitungan frekuensi nafas dalam 1 menit. Obat yang digunakan (bila demam) adalah paracetamol 500 mg, sirup parasetamol 120mg/5ml, dan antibiotoka kotrimoksazol 480 mg. Jika keluhan disertai batuk maka dapat diberikan OBH (obat batuk hitam). Sebagian besar dari infeksi saluran pernafasan bersifat ringan seperti batuk dan pilek tidak memerlukan pengobatan antibiotika, namun jika dibiarkan atau tidak diobati, keadaan tersebut dapat berkembang menjadi

18

pneumonia (radang paru) yang apabila tidak diobati dengan antibiotika dapat menyebabkan kematian. Cakupan penentuan penderita ISPA ditujukan pada 2 kelompok usia. Kedua kelompok yang dimaksud adalah kelompok bayi (<1 tahun) dan anak balita (1-5 tahun) dengan fokus penanggulangan pada penyakit pneumonia. Pemilihan kelompok ini sebagai target populasi program didasarkan data epidemik bahwa angka morbiditas dan mortalitas ISPA pada kelompok umur ini masih cukup tinggi. Jumlah target penemuan ISPA adalah sebesar 10% dari total populasi dibagi dengan target cakupan penemuan penderita pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Cililin, yang berarti 10% dari populasi balita dalam 1 tahun. Populasi balita di wilayah kerja adalah 446 bayi (sebanyak 10 % dari jumlah penduduk yang berjumlah 44.679 jiwa). Untuk target perbulannya yaitu 446 : 12 bulan = 37 orang perbulan. Jumlah target dalam 1 tahun yaitu 37 balita x 12 bulan = 444 balita. Perhitungan target perbulan Cililin adalah sebagai berikut : Target penemuan = 10% x Total Populasi Balita = 10% x 44.679 = 446 Target perbulan = Target Penemuan : 12 bulan = 446 : 12 = 37 Nilai 10% dari populasi balita merupakan target penemuan kasus yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat yang mengacu pada target populasi. Perhitungan berdasarkan pada nilai rata-rata insidensi kejadian ISPA balita di propinsi Jawa Barat.
19

P2M ISPA di wilayah kerja Puskesmas

Cakupan yang diperoleh tiap bulannya selama Oktober - Desember 2011 yaitu : Bulan Oktober 2011 : Hasil Cakupan = Target 14 = 37 X 100%

X 100%

= 46,67%

Kesenjangan =

Selisih Hasil Target

X 100%

16 37

X 100%

= 53,33%

Bulan November 2011: 16 Cakupan = 37 X 100% = 53,33%

14 Kesenjangan = Bulan Desember 2011 : Cakupan = 23 37 17 Kesenjangan = 37 37

X 100%

= 46,67%

X 100%

= 76,67%

X 100%

= 23,23%

20

Jumlah cakupan dalam 3 bulan (tahun 2011) = 53 balita Persentase(%) cakupan dalam 3 bulan (tahun 2011)

53 = 90

X 100%

= 58.89%

37 Persentase (%) kesenjangan = 90

X 100%

= 41,11%

Berdasarkan hasil perhitungan diatas, maka cakupan penemuan penderita pneumonia selama bulan Oktober - Desember 2011 sebesar 58,89%. Angka ini hanya diperoleh dari kegiatan program yang dilakukan di poliklinik (balai pengobatan) dan saat dilakukannya kegiatan posyandu yang sasarannya adalah populasi balita, baik yang ditemukan oleh petugas kesehatan, khususnya pemegang program, dokter atau bidan swasta, kader ataupun yang dilaporkan oleh masyarakatnya sendiri.

21

Grafik 4.1 Rekapitulasi Pelaporan P2M ISPA Puskesmas Cililin Kurun Waktu Oktober - Desember 2011
35 30 25

PERSENTASE

20 15 10 5 0 Oktober November Desember

Target Cakupan Kesenjangan

Grafik 4.2 Rekapitulasi Persentase P2M ISPA Puskesmas Cililin Kurun Waktu Oktober - Desember 2011

100 90 80

JUMLAH KASUS

70 60 50 40 30 20 10 0 Oktober November Desember

TARGET (%) CAKUPAN (%) KESENJANGAN (%)

22

Tahap evaluasi bertujuan untuk menilai apakah angka pencapaian kegiatan telah memenuhi angka target yang diharapkan atau tidak. Selain itu, tahap ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi masalah serta hambatan yang dihadapi sehingga dapat ditentukan langkah-langkah perbaikan selanjutnya termasuk perencanaan penganggaran. Proses ini dapat dilakukan dengan melaksanakan survey data perkembangan morbiditas dan mortalitas akibat ISPA serta perkembangan lain yang mencakup kinerja program dan dampak program seperti pengetahuan, sikap dan perilaku ibu balita yang berkaitan dengan ISPA, tatalaksana standar penderita pneumonia, keadaan logistik ISPA di unit pelayanan kesehatan dan sebagainya. Berdasarkan perhitungan diatas, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan penemuan penderita pneumonia tidak sesuai dengan perencanaan. Dalam 3 bulan ini penemuan kasus masih fluktuatif . Dalam pelaksanaan program P2M ISPA yang menjadi target penemuan penderita adalah penderita pneumonia saja, sedangkan penderita ISPA non pneumonia tidak merupakan target program namun diberikan tatalaksana atau pengobatan sesuai dengan pola yang berlaku di sarana kesehatan. Dari keluaran program P2M ISPA ini dapat kita nilai beberapa hal, yaitu: Continuity Kegiatan penyuluhan rutin tentang pentingnya pemeriksaan penyakit pada penderita oleh orang tuanya tidak berkesinambungan, hal ini mungkin disebabkan oleh kurangnya sumber daya manusianya (tenaga kesehatan) dan faktor pengetahuan dan pendidikan orang tua penderita serta faktor sosio ekonomi, serta melakukan kegiatan pembinaan dan pengetahuan kepada kaderkader yang tidak rutin/terus menerus dalam rangka menciptakan kualitas penyuluhan bagi orang tua penderita ISPA (pneumonia). Care Tingkat kepedulian masyarakat dan petugas kesehatan (dokter atau bidan praktek swasta) mengenai kasus ISPA di wilayah kerja Puskesmas Cililin masih kurang,

23

Comprehensibility Program P2M ISPA ini sudah direncanakan secara komprehensif, namun dalam pelaksanannya terhambat banyak kendala yang menyebabkan target tidak tercapai. Pada masyarakat juga masih terdapat asumsi yang salah mengenai penyakit ISPA, sehingga menjadi dasar dari kurangnya peran aktif masyarakat dalam pelaporan kasus ISPA di lingkungannya. Masyarakat cenderung beranggapan bahwa bilamana sakitnya tidak berat atau parah maka tidak perlu dibawa ke Posyandu atau Puskesmas.

Analisis SWOT STRENGTH Berdasarkan hasil pengamatan, hal yang menjadi kekuatan Puskesmas Cililin dalam pelaksanaan program P2M ISPA adalah : Tersedianya sumber daya manusia (pemegang program dan dokter) Tersedianya peralatan dan obat-obatan

Tersedianya poliklinik umum dan MTBS di gedung puskesmas tiap hari kerja dari jam 08.00-13.00 WIB dan di luar gedung oleh dokter atau bidan praktek swasta dan di setiap kegiatan posyandu dari pukul 08.00 sampai 12.00 WIB. Adanya pertemuan berkala pemegang program P2M ISPA dengan Dinas Kesehatan setiap 3 bulan sekali.

WEAKNESS Berdasarkan hasil pengamatan, hal yang menjadi kelemahan Puskesmas Cililin dalam pelaksanaan program P2M ISPA adalah : Motivasi sumber daya manusia untuk pelaksanaan program P2M ISPA dirasakan kurang, karena pemegang program juga memegang beberapa program lainnya, sehingga kurang dapat fokus dalam menjalankan program ini.

24

Untuk wilayah kerja yang cukup luas, perbandingan antara jumlah karyawan puskesmas maupun jumlah kader masih sangat kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada

Kurangnya kesadaran dari petugas kesehatan (dokter atau bidan swasta) untuk melaksanakan pencatatan dan pelaporan yang teratur dan sistematis

Kurangnya dana yang memadai untuk pelaksanaan dan sosialisasi program ini kepada masyarakat. Kurangnya sosialisasi dan media soasialisasi seperti poster yang dapat ditempel di stiap posyandu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya pneumonia.

OPPORTUNITY Berdasarkan hasil pengamatan, hal yang menjadi kesempatan Puskesmas Cililin dalam pelaksanaan program P2M ISPA adalah : Adanya dukungan dari aparat pemerintah setempat melalui dana BOK (Biaya Operasional Kesehatan) terutama untuk bidang promotif dan preventif. Jika dana ini dapat dicairkan dan dialokasikan untuk pengembangan program P2M ISPA, diharapkan dapat meningkatkan cakupan dan menurunkan nilai kesenjangan dalam target program.

THREATH Berdasarkan hasil pengamatan, hal yang menjadi kendala bagi Puskesmas Cililin dalam pelaksanaan program P2M ISPA adalah : Adanya banyak praktek dokter atau bidan swasta sebagai alternatif masyarakat berobat, sehingga mengurangi angka cakupan program P2M ISPA yang terdata. Tidak adanya sistem yang mengharuskan dokter atau bidan praktek swasta untuk membuat laporan bulanan mengenai angka kejadian ISPA, sehingga menyulitkan pendataan kasus yang sebenarnya terjadi di masyarakat.

25

Masih kurangnya peran aktif dan pengetahuan masyarakat untuk membawa anak atau balita ke tenaga kesehatan apabila terkena penyakit, terutama mengenai cara membedakan ISPA pneumonia dengan ISPA biasa sehingga pelaporan datangnya penderita ISPA pneumonia ke sarana kesehatan masih jarang ditemukan.

Belum turunnya dana operasional sejak bulan Januari sehingga program penyuluhan dan kunjungan ke rumah penderita masih sulit dijalankan.

26

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis dapat diambil kesimpulan, antara lain sebagai berikut: Penyakit ISPA adalah salah suatu penyakit yang banyak diderita bayi dan anak-anak, penyebab kematian dari ISPA yang terbanyak karena pneumonia. Penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA diperlukan kerjasama semua pihak, yaitu peran serta masyarakat terutama ibu-ibu, dokter, para medis dan kader kesehatan untuk menunjang keberhasilan menurunkan angka kematian dan angka kesakitan sesuai harapan pembangunan nasional. Angka cakupan penemuan penderita pneumonia balita di Puskesmas Cililin bulan Oktober - Desember 2011 hanya yaitu 53 orang (58,89%), tetapi masih kurang dari target yang ditetapkan yaitu 90 orang (41,11%). Faktor-faktor yang mungkin dapat mempengaruhi angka kejadian ISPA serta cakupan program P2M ISPA di wilayah kerja Puskesmas Cililin, yaitu : Tidak masuknya semua data dari dokter atau bidan swasta yang

melakukan pelayanan pengobatan ke Puskesmas Cililin, sehingga cakupan terhadap kasus pneumonia tidak tercapai. Pelaporan kasus yang kurang akurat, baik dari kader kesehatan maupun dari petugas Puskesmas sendiri Kurangnya dana yang memadai dan jumlah kader kesehatan untuk mensosialisasikan mengenai program penanganan ISPA. Perilaku penduduk yang masih menganggap ringan bila mengalami batuk pilek, sehingga masyarakat berobat setelah dalam keadaan yang sudah berat.

27

Kurangnya penyuluhan atau sosialisasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat.

5.2. Saran Dengan angka kejadian ISPA yang masih cukup tinggi di wilayah kerja Puskesmas Cililin, pengamat mencoba memberi masukan berupa saran yang semoga dapat ikut membantu meningkatkan kegiatan P2MP ISPA, yang dimana penyebab kematian dari ISPA adalah karena pneumonia, maka diharapkan penyakit saluran pernapasan penanganannya dapat diprioritaskan. Di samping itu dapat dilakukan beberapa hal seperti: Penyuluhan kepada ibu-ibu tentang PHBS dan penyakit ISPA ditingkatkan dan dilaksanakan. Penyediaan media sosialisasi seperti poster di setiap posyandu, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam perlu

penanggulangan ISPA. Pelatihan kader ISPA dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kader untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat. Hal ini dapat dilakukan kepada kader disetiap RW di wilayah kerja puskesmas. Penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA yang sudah dilaksanakan sekarang ini, diharapkan lebih ditingkatkan lagi.

28

DAFTAR PUSTAKA

1. Syair, Abdul. 2008. Faktor Resiko Kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut Pada Balita. (Available with update at

www.wordpress.com/faktorresikoispabalita) 2. Puskesmas Cililin. 2011. Laporan Tahunan 2011. Cimahi. 3. Sudoyo AW, dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 4. Jilid 2. Pneumonitis dan Penyakit Paru Lingkungan. FK UI. Jakarta. 4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1990. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Untuk Petugas Kesehatan. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 5. Garna, Herry, dkk. 2000. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi kedua. Bagian SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unpad RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. 6. Yunus F, dkk. 1992. Pulmonologi Klinik. Edisi 1. FK UI. Jakarta. (hal. 87-94) 7. Praptiningsih CY, dkk. 2005. BUKU PEDOMAN P2MP ISPA. 2005. Departemen Kesehatan RI. 8. Silalahi, L. 2006. ISPA pada Balita. (Available with updates at http://www.temporoaktif.com/hg/narasi/2004/03/26/nrs,20040326-07.id.html) 9. Tim Revisi Buku Pedoman Kerja Puskesmas. 1990. Pedoman Kerja Puskesmas Jilid II. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. 10. Tim Pemegang Program P2M ISPA. 2011. Rekapitulasi Laporan P2M ISPA di Puskesmas Cililin Bulan Januari sampai dengan Maret 2011. Puskesmas Cililin.

29