Anda di halaman 1dari 12

TINJAUAN KASUS INDIVIDU BIDANG KERUMAHSAKITAN RUMAH SAKIT HEWAN JAKARTA (RSHJ)

FELINE PANLEUKOPENIA dan DERMATOFITOSIS

Disusun oleh : Sri Ardhiani, S.KH B94114150

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

KASUS 1 Feline Panleucopenia Pemeriksaan fisik hewan (Physical examination) ANAMNESA Kucing tidak mau makan, keluar busa dari mulutnya, lemas sudah dua hari, muntah dan belum pernah divaksin. SIGNALEMENT Nama Jenis hewan Ras Warna rambut dan kulit Jenis kelamin Umur Berat badan Tanda Khusus STATUS PRESENT 1. Keadaan Umum Perawatan Habitus/tingkah laku Gizi Pertumbuhan badan Sikap berdiri Suhu tubuh 2. Adaptasi Lingkungan : Pasif 3. Kulit dan Bulu Aspek bulu Kerontokan Kebotakan Turgor kulit Permukaan kulit Bau kulit 4. Pemeriksaan mukosa 5. Kepala dan leher : Choco : Kucing : Persia : Coklat putih : Jantan :: 2.5 kg : Tidak ada

: Baik : Tulang punggung lurus/ lemas : Baik : Baik : Tegak pada keempat kaki : 41.8 C

: Tidak kusam : Tidak ada : Tidak ada : Buruk (> 2 detik) : Bersih : Tidak ada perubahan : Anemis

Ekspresi wajah : Tenang Pertulangan kepala : Kompak, tegas Posisi tegak telinga : Keduanya tegak ke atas Posisi kepala : Tegak Pemeriksaan mata : Tidak ada kelainan, tidak ada discharge Pemeriksaan hidung : Bentuk simetris, tidak ada discharge dan sinus-sinus Pemeriksaan rongga mulut : Tidak ada kelainan - Rusak/luka bibir : Tidak ada Mukosa : Licin, basah, tidak ada luka, anemis Lidah : Tidak ada luka Pemeriksaan telinga : terdapat discharge Pemeriksaan leher - Perototan : Kompak, simetris - Trachea : Teraba, tidak ada refleks batuk Gejala klinis Kucing terlihat lemas, muntah, dan tidak mau makan Pemeriksaan lanjutan Tabel 1 Hasil pemeriksaan darah Choco tanggal 30 Oktober 2012 Parameter WBC RBC Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Platelet Limfosit Granulosit RDW PCT MPV PDW Diagnosa Feline Panleucopenia Virus Hasil 0.9 103/L 7.25 106//L 11.5 g/dL 33.8 % 43.1 fl 14.6 pg 34 g/dL 140 103/L 22.2 % 77.8 % 15.3 % 0.09 % 6.3 fl 17 % Kisaran normal 5.5 19.5 5 10 8 15 24 45 39 55 12.5 17.5 30 38 300 800 20 55 35 78 13 17 0 2.9 12 17 0 50 Keterangan Dibawah normal (signifikan) Normal Normal Normal Normal Normal Normal Dibawah normal (signifikan) Normal Normal Normal Normal Dibawah normal (signifikan) Normal

Prognosa Dubius Terapi Amcillin 0.5 cc IV Kanamycin 0.25 cc IM Biodin 0.5 cc IM Infus NaCl 200 cc IV Tabel 2 Terapi dan observasi harian selama di rawat inap Tanggal 30 Oktober 2012 Kondisi Umum dan Temuan Klinis Terapi Pagi Sore Lemas, tidak mau Sore: makan Infus NaCl 200 cc IV T/ Amcillin 0.5 cc IV T/ Kanamycin 0.25 cc IM Biodin 0.5 cc IM Lemas, makan Lemas, sudah Infus NaCl 200 cc IV hanya setengah mau makan T/ Amcillin 0.5 cc IV porsi. BID T/ Kanamycin 0.25 cc IM BID Biodin 0.5 cc IM SID Batuk, ada Nafsu makan baik Infus NaCl 200 cc IV refleks sperti T/ Amcillin 0.5 cc IV mau muntah, BID sudah mau T/ Kanamycin 0.25 cc makan IM BID Biodin 0.5 cc IM SID Sudah aktif, Sudah boleh Infus NaCl 200 cc IV nafsu makan pulang, lepas T/ Amcillin 0.5 cc IV baik. infus BID T/ Kanamycin 0.25 cc IM BID Biodin 0.5 cc IM SID Resep pulang: Amoxicillin syr 2 cc PO BID Becombion lysine 0.5 cc PO SID

31 Oktober 2012

01 November 2012

02 November 2012

PEMBAHASAN Kucing Choco merupakan kucing Persia milik Ibu Aster yang dibawa ke Rumah Sakit Hewan Jakarta pada tanggal 30 Oktober 2012 dengan anamnesa kucing tidak mau makan, lemas selama dua hari, muntah, keluar busa dari mulutnya serta tidak pernah divaksin sebelumnya. Hasil pemeriksaan klinis diketahui berat badan 2.5 kg. temperatur 41.8 C, mukosa anemis, turgor kulit buruk, dan terdapat discharge pada telinga. Berdasarkan pemerikasaan suhu Choco mengalami demam. Menurut Widodo et al. (2011) suhu normal untuk kucing berkisar antara 38.0 C- 39.3 C. Temperatur yang tinggi menandakan adanya infeksi dalam tubuh kucing, infeksi ini bisa dikarenakan oleh virus ataupun bakteri sehingga menyebabkan nafsu makan dan minum menurun. Pemeriksaan darah menunjukkan adanya penurunan WBC yang signifikan yakni 0.9 103/L sedangkan kisaran normal pada kucing adalah 5.5 19.5 103/L. Selain penurunan pada WBC, nilai platelet dan MPV juga mengalami penurunan yang signifikan. Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium mengindikasikan bahwa Choco mengalami infeksi Feline Panleucopenia Virus. Feline Panleukopenia merupakan penyakit menular pada kucing dengan nama lain Feline distemper, Infectious enteritis, Cat fever, Cat typhoid yang disebabkan oleh virus Feline Panleukopenia Virus (FPV) yang termasuk dalam family Parvoviridae. Virus ini sangat resisten terhadap disinfektan seperti chloroform, asam, alkohol, dan panas (56'C, or 132.8'F, selama 30 menit) tetapi virus ini suseptibel terhadap Clorox bleach. Virus ini menyerang jaringan pembentuk darah dan limfe, dan juga mukosa organ gastrointestinal sehingga menyebabkan penurunan jumlah leukosit dan mengalami enteritis. Menurut Tiley dan Smith (2007) FPV akan menyerang sistem imun, gastrointestinal, reproduksi dan sistem syaraf. Infeksi pada sistem imun akan menyebabkan terjadinya atropi timus sehingga produksi sel darah putih menurun. Infeksi pada gastrointestinal akan mengakibatkan kerusakan sel kripta pada jejunum dan ileum, enteritis akut dengan disertai muntah dan diare. Sedangkan infeksi pada sistem reproduktif

mengakibatkan kematian fetus. Infeksi FPV umumnya menyerang anak kucing umur 2-6 bulan serta kucing yang tidak divaksin sedangkan pada kucing dewasa umumnya infeksi terjadi secara subklinis. Gejala klinis yang ditunjukkan pada kucing yang terserang FPV antara lain: Demam, anoreksia, diare, muntah, nafsu makan berkurang, dehidrasi, dan lethargy (Morgan 2008). Prognosis untuk penyakit ini pada kucing muda sangat buruk sedangkan kucing yang berumur tua dapat bertahan lebih baik jika pemberian terapi tepat pada waktunya. Terapi yang dapat diberikan hanya bersifat suportif untuk membantu sistem imun tubuh dalam melawan virus. Pada kasus ini diberikan cairan elektrolit selama tiga hari karena kondisi kucing tidak mau makan dan minum. Pengobatan yang diberikan adalah Amcillin secara IV yang mengandung Ampicillin sebanyak 0.5 cc dua kali sehari, Kanamycin secara IM sebanyak 0.25 cc dua kali sehari dan Biodin secara Im yang mengandung Vitamin B kompleks sebanyak 0.5 cc sekali sehari. Menurut Morgan (2007) terapi yang dapat diberikan pada kucing yang terkena FPV berupa antibiotik secara perenteral untuk mencegah terjadinya septicaemia. Pilihan antibiotik yang dapat digunakan adalah Ampicillin dengan dosis 11-22 mg/kg BB secara IV atau IM sebanyak tiga kali sampai empat kali sehari, amikacin dengan dosis 6 -8 mg/kg BB secara IV sekali sehari, atau enrofloxacin dengan dosis 2.5 5 mg/kg BB secara IV atau IM sebanyak dua kali sehari. Jika kucing mengalami vomit, dapat diberikan obat antiemetik, antara lain: Prochorperazine, metoclopramide, chlorpromazine, atau dolasetron. Pada kasus ini, Choco dimasukkan ke dalam ruang isolasi untuk penyakit digesti untuk mencegah penularan kepada kucing yang lain. Area isolasi harus hangat, bebas dari kotoran dan harus sangat bersih serta hewan lainnya yang dekat dengan kucing penderita sebaiknya diperiksakan. Choco dirawat selama empat hari di ruang perawatan isolasi khusu penyakit digesti. Pada hari keempat, Choco diperbolehkan pulang karena kondisi tubuhnya sudah membaik ditandai dengan nafsu makan yang baik, tidak mengalami muntah, dan sudah bergerak aktif.

KESIMPULAN Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan, kucing Choco menderita penyakit Feline Panleukopenia Virus. Terapi yang diberikan berupa antibiotik berupa Ampicillin serta vitamin B kompleks untuk menjaga ketahanan tubuh.

DAFTAR PUSTAKA Morgan RV. 2008. Handbook of Small Animal Practice 5th Edition. Elsevier Saunders: Missouri. Tilley LD, Smith FWK Jr. 1997. The 5 Minutes Veterinary Consult Canine and Feline. Baltimore: Maryland USA. Widodo S et al.2011. Diagnostik Klinik Hewan Kecil. IPB Press: Bogor.

Kasus 2 Dermatofitosis Pemeriksaan fisik hewan (Physical examination) ANAMNESA Anjing mengalami alopecia simetris pada daerah pelvis serta diantara jari kaki. SIGNALEMENT Nama Jenis hewan Ras Warna rambut dan kulit Jenis kelamin Umur Berat badan Tanda Khusus STATUS PRESENT 1. Keadaan Umum Perawatan Habitus/tingkah laku Gizi Pertumbuhan badan Sikap berdiri Suhu tubuh 2. Adaptasi Lingkungan : Baik 3. Kulit dan Bulu Aspek bulu Kerontokan Kebotakan Turgor kulit Permukaan kulit Bau kulit 4. Pemeriksaan mukosa : Peggy : Anjing : Labrador : Hitam : Betina : 2 tahun : 27.8 kg : Tidak ada

: Baik : Tulang punggung lurus/ lemas : Baik : Baik : Tegak pada keempat kaki : 38.9 C

: Tidak kusam : Ada : Ada pada bagian pelvis dan diantara jari kaki : Baik : Bersih : Tidak ada perubahan : Rose

5. Kepala dan leher Ekspresi wajah : Tenang Pertulangan kepala : Kompak, tegas Posisi tegak telinga : Keduanya tegak ke atas Posisi kepala : Tegak Pemeriksaan mata : Tidak ada kelainan, tidak ada discharge Pemeriksaan hidung : Bentuk simetris, tidak ada discharge dan sinus-sinus Pemeriksaan rongga mulut : Tidak ada kelainan - Rusak/luka bibir : Tidak ada Mukosa : Licin, basah, tidak ada luka, anemis Lidah : Tidak ada luka Pemeriksaan telinga : Tidak ada kelainan, tidak ada discharge Pemeriksaan leher - Perototan : Kompak, simetris - Trachea : Teraba, tidak ada refleks batuk Gejala klinis Anjing mengalami alopecia simetris pada daerah pelvis dan diantara jari kaki serta mengalami kerontokan rambut. Pemeriksaan lanjutan Pemeriksaan lanjutan yang dilakukan adalah dengan skin scrapping dan scotch tape. Diagnosa Dermatofitosis Prognosa Fausta Terapi Sebazole topikal Griseofulvin 1 tab BID selama 5 hari Minyak ikan topical

Tabel 1 Terapi dan observasi harian selama di rawat inap Tanggal 17 Oktober 2012 Kondisi Umum dan Temuan Klinis BB: 27.8 kg T: 38.9 C Skin scrap dan scoth tape Hasil : positif Microsporum BB: 33.6 kg T: 39.1 C Alopecia BB: 32.5 kg T: 38.2 C Gatal- gatal BB: 32.7 kg BB: 32.1 kg, alopecia masih ada namun sudah mulai berkurang. Terapi
Sebazole topikal

19 Oktober 2012 20 Oktober 2012 22 Oktober 2012 24 Oktober 2012

T/ Griseofulvin 1 tab PO BID 5 hari Minyak ikan topikal Sebazole topical Minyak ikan topikal
Sebazole topikal

Minyak ikan topikal


Sebazole topikal

29 Oktober 2012

BB: 35.5 kg T: 38.7 C PEMBAHASAN

Minyak ikan topikal Sebazole topikal T/ Griseofulvin 1 tab PO BID 5 hari Minyak ikan topikal Sebazole topikal Minyak ikan topikal

Anjing peggy merupakan anjing milik Ditpol Satwa Polri dengan ras Labrador yang dibawa ke klinik oleh pawangnya pada tanggal 17 Oktober 2012 dengan anamnesa anjing mengalmai kebotakan (alopecia) simetris pada bagian pelvis dan diantara jari kaki. Hasil pemeriksaan klinis diketahui berat badan 27.8 kg, temperatur 38.9 C, dan terlihat adanya alopecia simetris di bagian pelvis serta diantara jari kaki. Berdasarkan pemeriksaan klinis maka dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa skin scrap test dan scoth tape test. Skin scrap test dilakukan dengan melakukan pengerokan kulit di bagian yang mengalami kebotakan kemudian diamati menggunakan mikroskop. Sedangkan scoth tape test dilakukan dengan menempelkan isolasi pada daerah yang mengalami kebotakan kemudian ditempelkan pada gelas objek yang sudah ditetesi methylen blue. Hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan adanya Microsporum. Berdasarkan ananmnesa, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan lanjutan mengindikan bahwa Peggy mengalami infeksi dermatofitosis.

Dermatofitosis atau ringworm merupakan infeksi oleh cendawan pada bagian kutan/ superfisial atau bagian dari jaringan lain yang mengandung keratin (bulu, kuku, rambut dan tanduk). Dermatofitosis pada anjing disebabkan oleh Microsporum canis yang bersifat zoonosis antropozoonosis dan dapat terjadi secara lokal, multifocal, atau general. Pada anjing sering terjadi kerusakan bulu di seluruh muka, hidung dan telinga, perubahan yang tampak pada kulit berupa lingkaran atau cincin dengan batas jelas dan umumnya dijumpai di daerah leher muka terutama sekitar mulut, pada kaki dan perut bagian bawah. Selanjutnya terjadi keropeng, lepuh dan kerak, dan dibagian keropeng biasanya bagian tengahnya kurang aktif, sedangkan pertumbuhan aktif terdapat pada bulu berupa kekusutan, rapuh dan akhirnya patah, ditemukan pula kegatalan (Medleu &Hnilica 2006). Pada kasus ini, gejala klinis yaangterlihat adalah terjadinya kebotakan pada daerah pelvis dan sekitar kaki disertai kerontokan rambut dan kegatalan. Terapi yang dilakukan adalah dengan menggosok keropeng menggunakan Sebazole yang mengandung Econazole nitrate (10 mg/mL), Sulphur atau Sodium thiosulphate 75 mg, sodium salicylate (35 mg/mL) serta chloroxylenol (5 mg/mL) dengan fungsi masing- masing bahan kandungan sebagai agen keratolik, keratoplastik, antiseptik, antifungi dan antibakterial spectrum luas (Plumb 2008). Sebazole yang diberikan harud didiamkan selama 10-15 menit, kemudian dibersihkan atau di lap menggunakan handuk kering, setelah kering dapat diberikan minyak ikan. Selain pengobatan secara topikal, diberikan pula antifungi berupa Griseofulvin sebanyak 1 tablet sebanyak dua kali sehari selama 5 hari. Menurut Medleu dan Hnilica (2006) terapi yang dapat dilakukan pada hewan yang terkena dermatofitosis antara lain dengan pengobatan topikal menggunakan antifungi. Antifungi yang dapat diberikan antara lain terbinafine 1% krim, Clotrimazole 1% krim, lotion, atau cairan, enilconazole 2% krim, ketoconazole 2% krim, miconazole 1% - 2% krim, spray, atau lotion, atau Thiabendazole 4% krim. Jika terapi secara local tidak memberikan perubahan, maka dapat dilakukan terapi secara general dengan cara melakukan dipping selama satu hingga dua kali dalam seminggu selam empat hingga 6 minggu. Pengobatan secara per oral yang dapat diberikan antara lain griseofulvin 50 mg/kg

BB/hari, itraconazole 5-10 mg/kg BB sekali sehari, terbinafine 30- 40 mg/kg BB sekali sehari, Ketoconazole 10 mg/kg BB sekali sehari. KESIMPULAN Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan lanjutan dapat disimpulkan bahwa Peggy terinfeksi Microsporum canis. Terapi yang dilakukan adalah dengan memberikan minyak ikan dan antifungi secara topikal (Sebazole ), serta griseofulvin secara per oral. DAFTAR PUSTAKA Plumb.DC. 2008. Veterinary Drug Handbook Sixth edition. Blackwell Publishing:Iowa Medleu L, Hnilica KA. 2006. Small Animal Dermatology a Color Atlas and Therapeutic Guide Second Edition. Saunders Elsevier: Missouri.