Anda di halaman 1dari 33

UNIT III PENAPISAN (SKRINING) FITOKIMIA A. Tujuan Setelah melakukan praktikum, praktikan mampu mengidentifikasi: 1.

Senyawa golongan flavonoida 2. Senyawa golongan antrakinon 3. Senyawa golongan saponin (steroid dan triterpenoid) 4. Senyawa golongan alkaloida 5. Senyawa golongan fenolik dan polifenolik

B. Dasar Teori Pendekatan skrining fitokimia meliputi analisis kualitatif kandungan kimia dalam tumbuhan atau bagian tumbuhan (akar, batang, daun, bunga, buah, biji), terutama kandungan metabolit sekunder yang bioaktif yaitu alkaloida, antrakinon, flavanoida, glikosida jantung, kumarin, saponin (steroid dan hiterpenoid), tannin (polifenolat), minyak atsiri (terpenoid), iridoid, dan sebagainya. Adapun tujuan utama pendekatan skrining fitokimia adalah untuk mensurvei tumbuhan untuk mendapatkan kandungan bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan (Robinson, 1995). Pada proses skrinning fitokimia,dilakukan sortasi basah artinya adalah pemisahan kotorankotoran atau bahanbahan asing lainnya yang terdapat pada simplisia.Contohnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, biasanya seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang sudah rusakdan pengotor lainnya harus

dibuang(Agoes,2007). Senyawa antrakinon yang berupa kristal yang memiliki titik leleh yang tinggi yang larut dalam pelarut organik.Senyawa ini berwarna kuning sampai coklat.Banyaknya antrakinon yang terdapatsebagai glikosida dengan bagian gula terikat pada salah satu gugus hidroksil fenolik (Trevor,1995). Peneliti bahan alam yang bertujuan untuk mencari tumbuhan atau senyawa kandungan melakukan 2 macam pendekatan, yaitu : 1. Pendekatan fitofarmakologi 2. Pendekatan penapisan (skrining) fitokimia Pendekatan fitofarmakologi meliputi uji berbagai efek farmakologi terhadap hewan percobaan dengan ekstrak tumbuhan atau bagian tumbuhan. Percobaan

farmakologi dapat dilakukan secara in vivo dan in vitro. Adapun aktivitas yang diujikan antara lain antineoplastik, antiviral, antimikrobial, anti malaria, insektisida, hipoglikemik, kardiotonik, estrogenik, maupun androgenik (Mursyidi, 1990). Metode yang digunakan atau dipilih untuk melakukan skrining fitokimia harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain : 1. Sederhana 2. Cepat 3. Dapat dilakukan dengan peralatan minimal 4. Selektif terhadap golongan senyawa yang dipelajari 5. Bersifat semikuantitatif, yaitu memiliki batas kepekaan untuk senyawa yang dipelajari 6. Dapat memberikan keterangan tambahan ada/tidaknya senyawa tertentu dari golongan senyawa yang dipelajari (Robinson, 1995). Pada identifikasi suatu kandungan tumbuhan, setelah kandungan itu diisolasi dan dimurnikan, pertama-tama harus ditentukan dahulu golongannya, kemudian barulah ditentukan jenis senyawa dalam golongan tersebut. Identifikasi lengkap dalam golongan senyawa dan pada pengukuran sifat/ciri lain yang kemudian dibandingkan dengan data dalam pustaka. Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan terutama dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 4 teknik kromatografi atau gabungan teknik tersebut. Keempat teknik tersebut adalah Kromatografi Kertas (KKT), Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Kromatografi Gas Cair (KGC), dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat kelarutan dan keatsirian senyawa yang akan dipisah (Harbone, 1987). Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan bentuk kromatografi planar. Fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, plat aluminium, atau plat plastik. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT dalam hal efisiensinya dan resolusinya. Fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan secara menurun (Gandjar, 2009). Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah: bahan baku simplisia, proses pembuatan dan cara penyimpanannya. Pada

umumnya tahapnya sebagai berikut: pengumpulan bahan baku, sortasi basah,pencucian, perajangan, sortasi kering, penyimpanan dan pemeriksaan mutu. Berbagai senyawa, secara tradisional tidak dikelompokkan menjadi satu, tetapi biasanya dikelompokkan ke dalam minyak atsiri, steroid, alkaloida, pigmen, glikosida, dan lain-lain (Robinson, 1995). Kromatografi, adalah metode fisika untuk pemisahan, dimana komponen yang akan dipisahkan didistribusikan antar adua fase, salah satunya adalah lapisan stasioner dan fase yang lain berupa zat alir yang mengalir lambat menembus sepanjang fase stasioner. Pada kromatografi lapis tipis, fase cair berupa lapisan tipis yan terdiri atas bahan padat yang dilapiskan ke permukaan penyangga dasar yang biasanya terbuat dari kaca, tapi dapat pula terbuat dari pelat polimer atau logam (Agoes, 2007). Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan Schaiber pada tahun 1938. Pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan yang seragam pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, plat alumunium atau plat plastik. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari kromatografi kolom (Harbone, 1987). Tanaman kakao mengandung komponen seperti alanin, alkaloid, alpha-sitosterol, amilase, arginin, asam askorbat, asam askorbat oksidase, aspariginase, beta-karoten, kalsium, dopamin, fruktosa, glukosa, asam glutamat, leusin, asam linoleat. Lipase, lisin, niasin, peroksidase, asam fenil asetat, fenilalanin, phosphorus, riboflavin, rutin, tanin, teobromin, tiamin dan masih banyak lagi (Pangkalan Ide, 2008)

C. Alat dan Bahan Alat: Tabung reaksi Waterbath Pipet Pasteur Pipet tetes Corong Corong pisah Kertas saring Pipa kapiler Penangas air Pengaduk Gelas ukur Beaker glass

Bahan: Aquadest Serbuk rimpang lempuyang (Zingiber zerumbet) Larutan hidroksida Asam klorida Pereaksi dragendorff Pereaksi mayer Serbuk natrium karbonat Kloroform Asam cuka Larutan hidrogen peroksida Asam asetat glacial Toluene Kalium hidroksida 0,5 N Pereaksi besi (III) klorida Larutan natrium klorida Larutan gelatin Asam 3,5-dinitro benzoate Kalium hidroksida 1 N dalam metanol Eter Petroleum eter Methanol Silica gel Silica gel GF Etil asetat Benzene FeCl3 Garam fast blue B Vanilin asam sulfat n butanon Asam formiat Alumunium klorida Sitroborat KOH etanolis Selulosa Butanol Larutan rutin Rhei Radix Sapindus rarak Etanol 75 % Rutae Herba Larutan asam tanat Larutan digoksin lanatosida Larutan alkaloida HCl NaHCO3 Sikloheksana Dietilamina Tertier butanol Pereaksi Dragendorff KLT LP

D. Cara Kerja 1) Pembuatan serbuk simpleks (jamak: simplisia) Pengumpulan bahan simpleks (seluruh tumbuhan atau bagian tumbuhan) dilakukan dari daerah tertentu, bulan tertentu, berasal dari tumbuhan tertentu yang berada pada masa tertentu

Bahan dilakukan sortasi basah dan dicuci dengan air mengalir

Dikeringkan dengan cepat (diangin-anginkan, dipanaskan dalam almari pemanas yang dilengkapi dengan kipas angin, dijemur di bawah sinar matahari langsung atau ditutupi kain hitam)

Setelah simpleks cukup kering (mudah dihancurkan), digiling atau dihaluskan dengan cara tertentu

Diayak, hingga diperoleh serbuk simpleks yang kering

2) Uji pendahuluan Serbuk tumbuhan (2 g) ditambah air (10 ml), dipanaskan selama 30 menit diatas air mendidih

Larutan disaring melalui kapas. Suatu larutan berwarna kuning sampai merah, menunjukkan adanya senyawa yang mengandung kromoform (flavonoida, antrakinon, dsb), dengan gugus hidrofilik (gula, asam, fenolat, dsb)

Pada penambahan larutan kalium hidroksida (beberapa tetes), warna larutan menjadi lebih intensif

3) Uji Alkaloida Serbuk tumbuhan 2 g ditambahkan air 10 ml, dipanaskan dalam tabung reaksi besar dengan asam klorida 1% (10 ml) selama 30 menit dalam penangas air mendidih

Suspensi disaring dengan kapas ke dalam tabung reaksi A dan tabung reaksi B sama banyak

Larutan A dibagi 2 sama banyak, lalu ke dalam larutan A-1 ditambah pereaksi Dragendorff (3 tetes) dan larutan A-2 ditambah pereaksi Mayer (3 tetes)

Terbentuknya endapan dengan kedua pereaksi tersebut menunjukkan adanya alkaloida

Keberadaan alkaloida dari basa tertier atau kuarterner dapat ditunjukkan dengan penambahan serbuk natrium karbonat sampai pH 8-9, kemudian dicampurdengan kloroform (4 ml), dan diaduk pelan-pelan

Setelah kloroform memisah, diambil dengan pipet Pasteur dan tambahkan asam cuka 5% sampai pH 5, diaduk lalu dipisahkan lapisan atas dengan pipet

Kemudian ditambahkan pereaksi Dragendorff (5 tetes) untuk lapisan atas. Terbentuknya endapan menunjukkan adanya alkaloida dari basa kuarterner

Kemudian lapisan bawah ditambah asam klorida 1 % ( 10 tetes) diaduk, akan terbentuk 2 lapisan

Lapisan atas diambil serta ditambahkan pereaksi Dragendorff ( 2 tetes), terbentuknya endapan menunjukkan alkaloida dari basa tertier.

4) Uji Antrakinon Serbuk simpleks (300 mg) ditambahkan kalium hidroksida 0,5 N (10 ml) dan larutan hidrogen peroksida (1ml), dan dididihkan selama 2 menit

Setelah dingin suspensi disaring melalui kapas

Filtrat (5ml) ditambah asam asetat glasial (10 tetes) sampai pH 5, lalu ditambahkan toluena (10 ml)

Lapisan atas (5 ml) dipisahkan dengan dipipet dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambah 0,5-1 ml kalium hidroksida 0,5 N

Warna merah yang terjadi pada lapisan air (basa) menunjukkan adanya senyawa antrakinon.

5) Uji Polifenol Serbuk simpleks (2 g) ditambah 10 ml air dan dipanaskan selama 10 menit dalam penangas air mendidih

Dilakukan juga terhadap 2 g serbuk bahan lagi dengan penyari etanol 80% 10 ml Keduanya disaring panas-panas, setelah dingin ditambah 3 tetes pereaksi besi (III) klorida

Terjadinya warna hijau-biru menunjukkan adanya polifenolat.

6) Uji Tanin Serbuk simpleks (2 g) ditambah 10 ml, dan dipanaskan selama 30 menit dalam penangas air mendidih

Disaring, filtrat (5 ml) ditambah larutan natrium klorida 2% (1 ml), bila terjadi suspensi atau endapan disaring melalui kertas saring, kemudian filtrat ditambah larutan gelatin 1% (5ml)

Terbentuknya endapan menunjukkan adanya tanin.

7) Uji Kardenolida Filtrat (2 ml) dari hasil pemanasan serbuk tumbuhan (2 g) dengan air (10 ml) selama 30 menit di atas tangas air tadi dan ditambah asam 3,5-dinitro benzoat (0,4 ml) dan kalium hidroksida 1 N (0,6 ml) dalam methanol

Terjadinya warna biru-ungu menunjukkan adanya kardenolida (glikosida jantung)

Untuk penegasan lebih lanjut, filtrat yang lain (2ml) dicampur dengan kloroform (2 ml)

Lapisan atas diambil dengan pipet, lapisan bawah ditambah asam 3,5-dinitro benzoate (0,5 ml)

Terjadinya warna biru ungu menunjukkan adanya kardenolida

8) Uji Saponin Ditambahkan air (10 ml) ke dalam tabung reaksi yang berisi serbuk tumbuhan (300 mg), ditutup dan dikocok kuat-kuat selama 30 detik

Tabung dibiarkan dalam posisi tegak selama 30 menit Apabila terbentuk buih setinggi 3 cm dari permukaan cairan, maka menunjukkan adanya saponin

Uji lain dilakukan dengan menggunakan pipa kapiler (diameter 1 mm, panjang 12,5 cm)

Larutan hasil pemanasan serbuk tumbuhan (2 g) dengan air (10 ml) selama 30 menit di atas tangas air (point 6), setelah disaring, filtrat dimasukkan ke dalam pipa kapiler penuh-penuh

Kapiler diletakkan dalam posisi tegak (vertikal), kemudian cairan dibiarkan mengalir bebas

Sebagai pembanding, dikerjakan hal serupa untuk air suling

Tinggi cairan tertinggal dibandingkan dengan tinggi air suling (pembanding)

Bila tinggi cairan yang diuji setengah atau kurang dari tinggi air suling, maka adanya saponin akan diperhitungkan.

9) Uji Minyak Atsiri Sebanyak 10 g serbuk simplisia ditambah 20 ml eter, dikocok, dan disaring. Filtrat dikeringuapkan

Bila sedikit berbau aromatik, dilarutkan dalam residu dengan sedikit etanol,dan diuapkan lagi sampai kering. Bila terjadi bau aromatik spesifik, menunjukkan adanya minyak atsiri.

Uji kualitatif secara KLT untuk Glikosida Skema pembuatan larutan percobaan untuk KLT Serbuk simpleks (2-3 gram) Disari dengan petroleum eter 10ml, 50C selama 5 menit

Sisa

fraksi petroleum eter (disingkirkan)

Disari dengan kloroform-asam asetat (99:1), 10 ml, 50C selama 5 menit Sisa fraksi CHCl3-HOAc (larutan I) Disari dengan metanol-kloroform-asam asetat (49,5:49,5:1), 10 ml, 50C selama 5 menit

Sisa

fraksi MeOH-CHCl3-HOAc (larutan II) Disari dengan metanol-air (1:1), 10 ml, 50C selama 5 menit

Sisa (dibuang)

fraksi metanol-air (larutan III)

Kemungkinan golongan senyawa yang tersari: 1. Larutan I 2. Larutan II 3. Larutan III : antrakinon, fenolat, flavonoida, kumarin, steroida : glikosida antrakinon, glikosida kumarin, saponin, tannin : kardenolida, saponin, glikosida antrakinon, glikosida flavonoida

Sistem KLT yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Larutan I Fase diam : silica gel GF254 Fase gerak : etil asetat- benzene (9:1), atau etil asetat-toluena (9:1) Pembanding : antrakinon, flavonoida, kumarin, steroid Deteksi : FeCl3, garam fast blue B atau vanilin asam sulfat (panaskan 120C 1-2 menit) 2. Larutan II Fase diam : a. silika gel GF 254 b. silika gel GF 254 c. selulosa Fase gerak : a. n-butanol-asam asetat-air (5:1:4) v/v fase atas b. etil asetat-asam formiat-asam asetat-air (100:11:11:27) v/v c. etil asetat-metanol-air (100:13,5:10) v/v Pembanding : a. Tanin b. kumarin c. antrakinon Deteksi : a. besi (III) klorida, alumunium klorida b. sitroborat c. KOH etanolis 3. Larutan III Fase diam : a. silica gel GF 254 b. silica gel GF 254 c. selulosa Fase gerak : a. butanon-asam asetat-air (5:1:4) v/v fase atas b. kloroform-metanol-air (64:50:10) v/v c. t-butanol-asam asetat-air (4:1:5) v/v fase atas Pembanding : a. Saponin, kardenolida

b. Saponin, kardenolida, antrakinon c. glikosida, flavonoid Deteksi : a. Liebermann-Burchard b. vanilin asam sulfat c. uap ammonia, UV 365 nm, alumunium klorida

Larutan pembanding yang digunakan : a. Glikosida flavonoida : larutan rutin 0,05 % dalam metanol b. Flavonoida c. Antrakinon : larutan kuersetin 0,1% dalam metanol : larutan Rhei Radix (0,5 g) dipanaskan 5 menit dalam methanol ( 5 ml ), saring, filtat diuapkan sampai 0,5 ml. Totolkan 20 L d. Saponin : larutan daging buah Sapindus rarak (2 g), direfluks dengan etanol 75 % (10 ml) selama 10 menit e. Kumarin : larutan Rutae Herba (0,5 g) dipanaskan dalammetanol (5 ml) sambil diaduk selama 30 menit, saring, filtrate diuapkan sampai 0,5 ml. Totolkan 20 uL. Rutae Herba berasal dari tanaman Ruta graveolens. f. Tanin g. Kardenolida : larutan asam tanat 0,05 %dalam etanol 70 % (10 (1) : larutan digoksin lanatosida C 5 mg dalam 2 ml methanol pada 60 C h. Alkaloida : Larutan alkaloida 1% dalam etanol. Totolkan 10 L. Alkaloida digunakan tergantung dari suku tumbuhan tersebut.

Uji kualitatif secara KLT untuk Antrakinon Skema penyarian alkalioda Serbuk simplisia 2-3 gram Disari dengan petroleum eter 10 ml selama 5 menit

Sisa

fraksi petroleum eter (dibuang)

Disari dengan HCl 1% 10 ml 50C selama 5 menit

Sisa (dibuang)

fraksi asam klorida

Diuji dengan Dragendorff, bila positif + NaHCO3 1 M sampai pH 8-9, disari dengan kloroform 10 ml

lapisan atas dinetralkan dengan asam asetat

lapisan bawah disari dengan HCl 1% (10ml)

larutan I

lapisan bawah (dibuang)

lapisan atas (laruatan II)

Larutan I : untuk uji alkaloida tertier Larutan II : untuk uji alkaloida kuartener Sistem KLT yang digunakan : Fase diam : silika gel GF 254 Fase gerak : sikloheksana-dietilamina (9:1) v/v atau tertier butanol-kloroform-dietil amina (2:7:1) v/v Deteksi : pereaksi Dragendorff larutan NaNO2 5% KLT LP, setelah kering dapat disemprot dengan

E. Data Pengamatan Uji Kualitatif Secara Kimiawi 1. Uji Pendahuluan Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Barat zat = 0,44 gram = 2,45 gram = 0,44 gram = 2,01 gram

Setelah ditambah KOH menjadi lebih tua warna ungu, merah-keorangen, hasil (+). Gambar 1. Uji Pendahuluan

2. Uji Alkaloida Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Berat zat = 0,43 gram = 2,45 gram = 0,44 gram = 2,01 gram Gambar 2. Uji Alkaloida Serbuk simpleks (2 g) Ditambahkan HCl 1% 10 ml dan dipanaskan selama 30 menit

Larutan A

Larutan B

A-1

A-2

Natrium karbonat pH 8-9 Kloroform 4 ml, diaduk pelan-pelan Setelah kloroform memisah, ditambah HCl 5% pH 5

Ditambah 3 tetes Dragendorff

Ditambah 3 tetes Mayer

Kemudian diaduk Ditambah Dragendorff 5 tetes Terbentuk endapan kuartener alkaloid basa

Lapisan bawah ditambah HCl 1% (10 tetes) Terbentuk 2 lapisan Ditambah 2 tetes Dragendorff

3. Uji Antrakinon Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Berat zat = 0,42 gram = 0,73 gram = 0,43 gram = 0,3 gram

Hasil negatif (-), tidak terbentuk warna merah pada lapisan air. Gambar 3. Uji Antrakinon

4. Uji Polifenol Air Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Berat zat = 0,45 gram = 2,45 gram = 0,45 gram = 2,00 gram

Hasil positif (+), terbentuk warna hijau tua Gambar 4. Uji Polifenol Air Etanol Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Berat zat = 0,42 gram = 2,44 gram = 0,43 gram = 2,01 gram

Hasil positif (+), terbentuk warna hijau tua

Gambar 5. Uji Polifenol Etanol 5. Uji tanin (zat zamak) Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Berat zat = 0,44 gram = 2,45 gram = 0,44 gram = 2,01 gram

Hasil negatif (-), tidak terbentuk endapan.

Gambar 6. Uji Tanin

6. Uji kardenolida Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Berat zat = 0,43 gram = 2,45 gram = 0,44 gram = 2,01 gram Gambar 7. Uji Kardenolida

Hasil negatif (-) , terbentuk warna coklat kehitaman

7. Uji saponin a. Penimbangan Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Berat zat Hasil negatif (-) = 0,45 gram = 0,75 gram = 0,45 gram = 0,30 gram

b. Pipa kapiler zat uji

Gambar 8. Uji Saponin

2,5 cm

c. Pipa kapiler air

1,1 cm

8. Uji minyak atsiri Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Berat zat = 0,46 gram =10,47 gram = 0,46 gram =10,01 gram

Uji Kualitatif Secara KLT 1. Larutan 1 Larutan I Quonsetin Panjang 10 cm Jarak elusi sampel= 8,5 cm Jarak elusi pembanding= 5,8 cm Rk sampel= = 0,85 HRF= 0,85 X 100% = 85% HRF pembanding = 0,58 % X 100% = 58 %

8,5 cm

5,8 cm

Quasetin

Sampel 2 cm

Fase diam Fase gerak

= silika gel GK 254 = etil asetat-toluena (9:1)

Larutan I Antrakinon Panjang 10 cm Jarak elusi sampel= 8,2 cm Rk sampel= = 0,82 HRF= 0,82 X 100% = 82 %

HRF pembanding = 0,58 % X 100% = 58 %

8,2 cm

Antrakinon

Sampel 2 cm

Fase diam Fase gerak

= silika gel GK 254 = etil asetat-toluena (9:1)

2.

Larutan 2 Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Berat zat Berat kertas saring = 0,88 gram = 3,02 gram = 0,90 gram = 2,12 gram = 0,97 gram

KLT larutan II Fase diam Fase gerak = silika gel GF 254 : a. n-butanol-asam asetat-air (5:1:4) v/v fase atas b. etil asetat-metanol-air (100:13,5:10) v/v Pembanding : a. Tanin

b. antrakinon Deteksi : a. besi (III) klorida, alumunium klorida b. KOH etanolis

7,7 cm

6,6 cm

Standar antrakinon

Standar tanin

3. Larutan III Saponin dan sampel Tailing

4,6 cm

2,8 cm

Fase diam Fase gerak Pembanding Deteksi Sampel Rf1 =

= Silika Gel GF 254 = Butanol-asam asetat-air (5:1:4) v/v fase atas = saponin = Liebermann-Burchard

= 0,28

HRF= 0,28 X 100% = 28 %

Rf 2 =

= 0,46

HRF= 0,46 X 100% = 46 %

Kardenolida dan sampel

9,6 cm

9,8 cm

Standar

Sampel

Fase diam Fase gerak Pembanding Deteksi

= Silika Gel GF 254 = Klorofom-metanol-air (64 : 50 : 10) v/v = Kardenolida = Vanilin asam sulfat

Jarak elusi sampel= 9,8 cm

Rf sampel =

= 0,98

HRF= 0,98 X 100% = 98 %

Rf standar =

= 0,96

HRF= 0,96 X 100% = 96 %

Selulosa

7,5 cm

8,1 cm

Jarak elusi sampel= 8,2 cm Rf sampel= = 0,81 HRF= 0,81 X 100% = 81 % Rf standar = = 0,75 HRF= 0,75 X 100% = 75 %

Uji Kualitatif Secara KLT Untuk Alkaloida Berat kertas Berat kertas + zat Berat kertas + sisa zat Berat zat Hasil pengamatan: Larutan I= uji alkaloida tersier (-) Larutan I= uji alkaloida kuartener (-) = 0,4388 gram = 3,4426 gram = 0,4388 gram = 3,0038 gram

F. PEMBAHASAN Tujuan dilakukan pendekatan skrining fitokimia yaitu untuk melakukan survei tumbuhan yang mengandung senyawa bioaktif atau kandungan yang berguna untuk pengobatan.Setelah melakukan praktikum,mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi : 1. Senyawa halogen flavanoida 2. Senyawa golongan antrakinon 3. Senyawa golongan saponin (steroid dan triterpenoid) 4. Senyawa golongan alkaloida 5. Senyawa golongan fenolik dan polifenolik. Skrining fitokimia merupakan suatu analisa kualitatif kandungan kimia tumbuhan atau bagian tumbuhan. Metode yang digunakan dalam melakukan skrining fitokimia harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu sederhana,cepat,dapat dilakukan dengan peralatan yang minimal, selektif terhadap golongan suatu senyawa, bersifat semikumulatif,dapat memberikan keterangan tambahan ada atau tidaknya senyawa tertentu dari suatu senyawa. Tanaman yang dilakukan uji kualitatif dalam percobaan ini adalah tanaman kakao. Tingkat taksonomi tanaman klakao adalah sebagai berikut: Divisi Subdivisi Clas Subklas Ordo Famili Genus Spesies : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledoneae : Dialypetalae : Malvaes : Sterculiaceae :Theobroma : Theobroma cacao(Siregar, dkk.,2010).

Dalam melakukan uji kualitatif terhadap tanaman kakao, ada beberapa langkah yang dilakukan, yaitu: 1. Uji Kualitatif Secara Kimiawi a. Pembuatan serbuk simpleks Pembuatan serbuk simpleks bertujuan untuk menghancurkan dinding sel yang sifatnya kaku sehingga senyawa target (metabolit sekunder) yang berada dalam vakuola mudah diambil. Bahanbahan yang akan digunakan harus dari tanaman yang sejenis dan dari asal yang sama, karena kandungan disetiap daerah bisa berbeda meskipun tanamannya sama.Daun sebelum digunakan dilakukan pencucian dengan air mengalir untuk memisahkan daun dengan pengotorpengotor yang menempel pada daun. Apabila daun tidak bersih, ditakutkan akan membahayakan pengguna simplisia tersebut. Setelah itu diangin-anginkandan dimasukkan dalam almari

pemanas.Simpleks yang kering ditandai dengan kerapuhan daun tersebut (mudah dihancurkan),kemudian digiling dan diayak. b. Uji Pendahuluan Tujuan dilakukan uji pendahuluanadalah untuk mengetahui kandungan suatu senyawa apakah memiliki senyawa kromofor dan gugus hidrofilik.Serbuk ditimbang 2 g ditambah air 10 ml dipanaskan selama 30 menit diatas air yang mendidih. Pemanasan bertujuan untuk memisahkan senyawa yang mengandung kromofor dan gugus hidrofilik dari simpleks yang diuji. Setelah itu larutan disaring dengan kapas atau kertas saring,tujuannya untuk memisahkan larutan dan serbuk. Apabila larutan berwarna kuning sampai merah menandakan adanya kromofor (flavonoida, antrakinon,dsb) dengan gugus hodrofilik (gula, asam, fenolat, dan sebagainya). Dilakukan penambahan KOH LP supaya warna akan lebih jelas. Dari percobaan ini, praktikan mendapatkan hasil positif (+), warna larutan menjadi lebih jelas warnanya lebih tua warna ungu,merah-keorangen, c. Uji Alkaloida Serbuk ditimbang 2 g dimasukkan dalam tabung reaksi ditambah dengan asam klorida 1% (10ml). Fungsi penambahan asam klorida untuk menarik kandungan alkaloid didalam simplisia dan dipanaskan selama 30 menit. Pemanasan dilakukan bertujuan untuk memecah ikatan antara alkaloid dengan asam klorida sehingga diperoleh alkaloid.Suspensi disaring dengan kapas ke dalam tabung reaksi A dan B

sama banyak untuk memisahkan sampel dengan pengotornya. Kemudian larutan A dibagi lagi menjadi A-1 dan A-2, larutan A-1 ditetesi dengan pereaksi Dragendorff yang berfungsi sebagai pembanding apakah senyawa yang terkandung merupakan alkaloid atau tidak, karena alkaloid tidak memberikan endapan dengan reagen Dragendorff. Larutan A-2 ditetesi dengan pereaksi Mayer, yang fungsinya untuk mendeteksi alkaloid, dimana pereaksi ini berikatan dengan alkaloid melalui ikatan koordinasi antara atom N alkaloid dan Hg pereaksi Mayer sehingga menghasilkan senyawa kompleks merkuri yang non polar mengendap berwana putih.Reaksi pada uji alkaloid ini dengan pereaksi Meyer adalah N + KHgI4 Hg-N putih. Atom N

menyumbangkan pasangan elektron bebas dan atom Hg sehingga membentuk senyawa kompleks yang mengandung atom N sebagai ligannya. Berdasakan hasil percobaan yang dilakukan, praktikan memperoleh hasil bahwa setelah larutan A-1 ditambahkan 3 tetes Dragendorff menghasilkan warna coklat tua menunjukkan adanya alkaloid

primer hasil positif (+). Sedangkan, pada larutan A-2 ditambahkan pereaksi Mayer terbentuknya warna orange kecoklatan, hasil negatif (-). Ditambahkan serbuk natrium karbonat untuk menjadikan sampel dalam suasana basa sampai pH 8-9 lalu dicampur dengan kloroform dan diaduk perlahan-lahan, kloroform bertujuan untuk memutuskan ikatan antara asam tannin dan alkaloid yang terikat secara ionik dimana atom N dari alkaloid berikatan saling stabil dengan gugus hidroksil genolik dari asam tannin. Dengan terputusnya ikatan ini, alkaloid akan bebas sedangkan asam tannin akan terikat oleh kloroform. Pengadukan secara perlahan bertujuan untuk memperbanyak kontak yang terjadi antara kloroform dengan senyawa, sehingga memungkinkan alkaloid bebas semakin banyak yang terekstrasi.Setelah kloroformmemisah diambil dengan pipet pasteur ditambah asam cuka untuk mencapai pH asam yaitu 5.Penambahan asam cuka ini berfungsi untuk mengikat kembali alkaloid menjadi garam alkaloid agar dapat bereaksi dengan pereaksi-pereaksi logam berat yaitu spesifik untuk alkaloid yang menghasilkan kompleks garam anorganik yang tidak larut sehingga terpisah dengan metabolit sekundernya. Penambahan asam cuka mengakibatkan larutan terbentuk menjadi dua fase karena adanya perbedaan tingkat kepolaran antara fase aqueous yang polar dan kloroform yang relative kurang polar. Garam alkaloid akan larut pada lapisan atas, sedangkan lapisan kloroform berada pada lapisan paling bawah karena memiliki massa jenis yang lebih besar, dan dipisahkan dengan pipet. Ditambah dengan pereaksi Dragendorff 5 tetes untuk lapisan

atas. Pereaksi Dragendorff ini untuk menguji keberadaan alkaloid. Dengan terbentuknya endapan adanya alkaloida dari basa kuarterner. Kemudian lapisan bawah ditambah dengan asam klorida 1% 10 tetes, diaduk bertujuan untuk melarutkan senyawa-senyawa pada tiap-tiap lapisan secara tepat dan sempurna. Terbentuk dua lapisan, lapisan atas diambil dan ditambah pereaksi Dragendorff, terbentuknya endapan menunjukkan adanya alkaloida dari basa tertier.Berdasarkan percobaan yang dilakukan praktikan, hasil yang diperoleh adalah tidak terbentuknya endapan berwarna hitam, sehingga diperoleh alkaloid primer.Fungsi alkaloiddalam bidangkesehatan tergantung dari jenis tanaman, seperti morfin sebagai anestesi lokal, dan quinine sebagai antimalaria, dan sebagainya. d. Uji Antrakinon Ekstrak 300 mg ditambah dengan kalium hidroksida 1 ml.Fungsi penambahan kalium hidroksida untuk untuk melarutkan senyawa antrakinon yang ada didalam simpleks. Kemudian didihkan selama 2 menit, pendidihan bertujuan untuk

memisahkasn senyawa antrakinon dari simpleks yang akan diuji.Setelah dingin suspensi disaring untuk memisahkan dari zatzat pengotornya.Filtrat diambil 5 ml ditambah dengan asam asetat glasial supaya bersifat asam sebanyak 10 tetes sampai pH 5 dan ditambah toluena 10 ml,tujuanya supaya senyawa yang mengandung antrakinon larut didalam toluena.Dilakukan pemisahan lapisan atas 5 ml dan ditambahkan dengan kalium hidroksida 0,5 N. Kalium hidroksida berfungsi sebagai pemberi suasana basa dan berfungsi untuk menghidrolisis glikosida dan mengoksidasi antron atau antranol menjadi antrakinon.Warna merah yang terjadi pada lapisan air (basa) menunjukkan adanya senyawa antrakinon. Dari hasil percobaan ini, hasil yang diperoleh praktikan adalah tidak terbentuk warna merah pada lapisan air, sehingga hasil negatif (-). Fungsi antrakinon dalam bidang kesehatan sebagai antiseptik. e. Uji Polifenol Senyawa polifenol merupakan senyawa yang berasal dari tumbuhan, dimana salah satu cirinya adalah mengandung cincin aromatik yang tersubstitusi oleh dua atau lebih gugus fenol. Fungsi dalam bidang farmasi sebagai anti-virus dan

antioksidan.Serbuk simpleks (2g) ditambahkan 10 ml air dan dipanaskan selama 10 menit, pemanasan bertujuan untuk melarutkan polifenol agar terpisah dari bagian

tubuh tumbuhan sampel kemudian disaring, dan dibuat lagi 2 g serbuk bahan lagi dengan penyari etanol 80% dalam 10 ml air, setelah disaring dan dingin, masingmasing ditambah 3 tetes pereaksi FeCl3 yang berfungsi untuk memberikan warna pada daun sampel tumbuhan yang sehingga dapat membuktikan bahwa sampel terdapat polifenol atau tidak. Terjadinya warna hijau-biru menunjukkan adanya

polifenolat.Dari percobaan ini, hasil yang diperoleh praktikan adalah terbentuknya warna hijau tua pada serbuk yang ditambah air, begitu pun dengan serbuk yang ditambah etanol. Hasil yang diperoleh praktikan positif (+).Fungsi polifenol dalam bidang kesehatan adalah sebagai antioksidan. f. Uji tanin (zat samak) Tanin merupakan senyawa polifenol yang berarti termasuk dalam senyawa fenolik. Tanindapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tidak larut dalam air. Tanin secara kimia merupakan ester yang dapat dihidrolisis oleh pemanasan dengan larutan asam sampai menghasilkan senyawa fenol, biasanya merupakan derivat atau turunan dari asam garlik dan gula. Serbuk 2 g ditambah dengan 10 ml air dipanaskan 30 menit dalam penangas air mendidih, tujuannya untuk memisahkan tanin dari simpleks yang akan diuji.Diambil 5 ml,tetapi dalam percobaan hanya diambil 3 ml karena hanya menghasilkan filtrat sebanyak 3 ml. Didapatkan hanya 3 ml, kemungkinan sampel menguap karena pemanasan. Dilakukan penyaringan untuk memisahkan larutan dengan pengotornya. Ditambahkan natrium klorida 2% (1 ml),apabila masih ada endapan disaring lagi dan ditambah dengan gelatin 1% (5ml). Jika terjadi endapan putih menunjukkan adanya tanin. Hal tersebut terjadi karena gelatin maupun dengan reagen garam-gelatin merupakan indikasi adanya tanin. Prinsip untuk reaksi ini adalah terbentuknya endapan antara protein atau gelatin dan tanin, dimana reaksi menjadi lebih sensitif dengan penambahan NaCl untuk meningkatkan salting out dari kompleks protein-tanin.Pada percobaan ini, hasil yang diperoleh praktikan adalah negatif (-) tidak ada endapan warnanya merah tua,apabila hasilnya positif menghasilkan endapan dengan warna gelap. Tanin berfungsi sebagai adstringent dan memiliki kemampuan untuk menyamak kulit dan memberikan rasa kelat.

g.

Uji Kardenolida

Pada uji ini seharusnya menggunakan filtrat pada uji tanin, tetapi pada uji tanin hanya menghasilkan filtrat 3 ml jadi tidak cukup untuk percobaan kardenolida. Sehingga dilakukan penimbangan kembali 2 g serbuk ditambah dengan air 10 ml selama 30 menit diatas penangas air. Pemanasan ini bertujuan untuk memisahkan senyawa kardenolida dengan simpleks. Setelah itu dilakukan penyaringan dan diambil filtratnya 2 ml. Proses penyaringan ini untuk memisahkan sampel dengan pengotornya. Kemudian ditambahkan 3,5-dinitro benzoat o,4 ml dan 0,6 ml kalium hidroksida 1 N metanol. Apabila terbentuk warna biruungu menunjukkan adanya kardenolida (glikosida jantung). Dalam percobaan ini tidak dilakukan penegasan karena filtrat yang didapat hanya 2 ml, dikarenakan sudah menguap waktu pemanasan dan tidak tersaring sempurna filtratnya. Dari percobaan ini, hasil yang diperoleh praktikan adalah terbentuknya warna coklat kehitaman, hasil negatif (-). Fungsi kardenolida dalam bidang kesehatan adalah sebagai antioksidan. h. Uji Saponin Saponin atau glikosida sapogenin yang merupakan glikosida yang tersebar dalam tanaman. Tiap saponin terdiri dari sapogenin yang merupakan molekul aglikon (bukan gula) dan glikon (gula).Keduanya dihubungkan oleh suatu bentuk ikatan berupa jembatan oksigen (O glikosida, dioscin), jembatan nitrogen (N-glikosida, adenosine), jembatan sulfur (S-glikosida, sinigrin), maupun jembatan karbon (Cglikosida, barbaloin). Bagian gula biasa disebut glikon sedangkan bagian bukan gula disebut sebagai aglikon atau genin. Apabila glikon dan aglikon saling terikat maka senyawa ini disebut sebagai glikosida.Adanya saponin ditandai dengan adanya buih jika dikocok dalam air. 300 mg serbuk diletakkan didalam tabung reaksi, ditambah 10 ml air,tutup dan kocok kuat selama 30 detik.Tabung dibiarkan pada posisi tegak selama 30 menit,supaya mudah untuk diamati dengan jelas apabila terdapat buih. Pendiaman ini untuk melihat ada atau tidaknya buih, jadi yang diamati itu buih karena adanya kandungan saponin bukan karena kocokkan yang kuat yang timbul gelembung seperti buih.Hasil dari percobaan tidak didapatkan adanya kandungan saponin dalam sampel yang berwarna kecoklatan tetapi tidak berbentuk buih.Fungsi saponin dalam bidang kesehatan sebagai antiseptik (zat ditambah dalam sabun dan disinfektan), sebagai peningkatan diuretika dan merangsang kerja ginjal. Filtrat zat uji dimasukkan dalam pipa kapiler dan dilakukan yang sama sebagai pembanding dengan air. Bila tinggi cairan yang diuji setengah atau kurang dari tinggi air suling, maka adanya saponin akan diperhitungkan. Hasil yang diperoleh praktikan adalah ketinggiannya lebih tinggi larutan zat uji selisih 1,5 cm dibanding air. Hal menandakan bahwa zat uji tidak perlu diperhitungkan lagi kandungan saponinnya, hasilnya negatif (-). Uji Minyak Atsiri

i.

Serbuk 10 g ditambah eter 20 ml, dikocok, disaring dan dikering uapkan karena eter sifatnya mudah menguap. Fungsi penambahan eter ini untuk melarutkan minyak atsiri dan minyak atsiri yang terkandung dalam simpleks ikut menguap bersama eter,sehingga baunya tercium. Dan ditambahkan dengan etanol, etanol ini sifatnya juga mudah menguap jadi apa bila ada kandungan minyak atsiri akan tercium juga baunya. Berdasarkan prinsip like dissolve like, minyak atsiri merupakan suatu senyawa yang non polar dan dapat melarut dalam pelarut organik non polar, kelarutan menurun seiring dilarutkan dengan pelarut semipolar dan polar. Filtrat yang telah disaring kemudian dikering uapkan sesuai dengan sifat minyak atsiri yang mudah menguap pada suhu kamar,agar dapat tercium aroma khas dari minyak atsiri. Pada percobaan ini tidak didapatkan kandungan minyak atsiri yang tercium hanya bau daun yang khas. Berdasarkan uji-uji yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa tanaman kakao mengandung kromoform, polifenol, dan alkaloid, tetapi tidak mengandung tanin. Hasil ini tidak sesuai teori, sebab berdasarkan teori, tanaman kakao mengandung komponen seperti alanin, alkaloid, alpha-sitosterol, amilase, arginin, asam askorbat, asam askorbat oksidase, aspariginase, beta-karoten, kalsium, dopamin, fruktosa, glukosa, asam glutamat, leusin, asam linoleat. Lipase, lisin, niasin, peroksidase, asam fenil asetat, fenilalanin, phosphorus, riboflavin, rutin, tanin, teobromin, tiamin. 2. Uji Kualitatif Secara KLT KLT (Kromatografi Lempeng Tipis) bertujuan untuk memisahkan senyawa dari campuran, sedangkan prinsip dari KLT adalah memisahkan senyawa berdasarkan kepolaran terhadap afinitasnya antara fase diam dan fase gerak. Penotolan dilakukan 3 kali dan harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum kepenotolan berikutnya. Sebab, jika tidak dikeringkan terlebih dahulu, maka lingkaran akan bertambah besar dan akan mempengaruhi lingkaran lainnya.Dilakukan penotolan 3 kali untuk memperjelas fase gerak dari sampel maupun standar. Prosedur kerja yang dilakukan bervariasi pada perbandingan Rf dan pada ketampakkan warna dari pergerakkan totolan standar terhadap totolan sampel. Rf merupakan faktor retensi sampel atau standar berupa perbandingan jarak tempuh dari sampel terhadap jarak pengembangan. Jarak pengembangan yang digunakan adalah 10 cm. Chamber adalah wadah tempat pengisi fase gerak dan kertas saring untuk menjenuhkan atmosfer fase gerak chamber karena dalam percobaan chamber perlu

ditutup. Chamber dalam keadaan jenuh agar sampel dan standar dapat terelusi sempurna. Chamber perlu ditutup agar ruang yang ada di dalam chamber benar-benar dipengaruhi oleh fase gerak yang ada di dalam chamber. Chamber tidak boleh digerakkan sebab jika digerakkan fase gerak ikut bergerak sehingga naiknya akan terpengaruh, yakni naiknya bisa miring. Deteksi mula-mula dilakukan secara fisik yakni deteksi di bawah sinar UV dengan panjang gelombang 256 nm dan 356 nm untuk mengidentifikasi totolan yang berfosforesensi.Namun, jika hasil yang ditampakkan kurang begitu jelas, atau nihil, maka identifikasi dilanjutkan dengan deteksi kimia lewat penyemprotan. Fungsi dari penyemprotan kimia adalah untuk mempertegas bercak dan mengidentifikasi kandungan-kandungan lain. Sistem KLT termasuk fase gerak, fase diam, dan deteksi. Deteksi yang digunakan berbeda-beda untuk tiap jenis golongan yang dipelajari. Metode yang digunakan adalah menaikkan satu jurusan yang merupakan metode paling lazim digunakan, dimana fase geraknya naik terhadap fase diamnya. Pelarut sampel yang digunakan dalam analisis bersifat volatil dan sebelum digunakan dan dimasukkan chamber perlu ditunggu kering agar pelarut tidak ikut dalam fase gerak, sebab fase gerak adalah tertentu yang perlu great analysis. Silika Gel GF 254 dapat berfluoresensi hijau-kuning pada panjang gelombang 254 nm sehingga bila totolan berupa senyawa ikatan konjugasi mampu menyerap sinar UV, namun tidak terjadi fluoresensi pada fase diam. Standar yang digunakan untuk menduga dan menyimpulkan apakah dalam ekstrak terdapat senyawa yang sama dengan kandungan standar.Pada fase gerak terdapat campuran karena ingin mencari senyawa tertentu yang ada dalam sampel.Pada percobaan ini digunakan standar sebagai pembanding. Bercak pemisahan pada KLT umumnya merupakan bercak yang tidak berwarna.Untuk penentuannya dapat dilakukan secara kimia, fisika, maupun biologi. Cara kimia yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan bercak dengan suatu pereaksi melalui cara penyemprotan sehingga bercak menjadi jelas. Cara fisika yang dapat digunakan untuk menampakkan bercak adalah dengan pencacahan radioaktif dan fluoresensi sinar ultraviolet. Fluoresensi sinar ultraviolet terutama untuk senyawa yang dapat berfluoresensi maka bercak akan terlihat jelas. Jika senyawa tidak dapat berfluoresensi maka bahan penyerapnya akan diberi indikator yang berfluoresensi, dengan demikian bercak akan kelihatan hitam sedang latar belakangnya akan kelihatan berfluoresensi. Berikut adalah cara-cara kimiawi untuk mendeteksi bercak :

Menyemprot lempeng KLT dengan reagen kromogenik yang akan bereaksi secara kimia dengan seluruh solut yang mengandung gugus fungsional tertentu sehingga bercak menjadi berwarna. Kadang-kadang lempeng dipanaskan terlebih dahulu untuk mempercepat reaksi pembentukan warna dan intensitas warna bercak. 1. Mengamati lempeng di bawah lampu ultra violet yang dipasang panjang gelombang emisi 254 atau 366 untuk menampakkan solut sebagai bercak yang gelap atau bercak yang berfluoresesnsi terang pada dasar yang berfluoresensi seragam. Lempeng yang diperdagangkan dapat dibeli dalam bentuk lempeng yang sudah diberi dengan senyawa fluorosensi yang tidak larut yang dimasukkan ke dalam fase diam untuk memberikan dasar fluoresensi atau dapat pula dengan menyemprot lempeng dengan reagen fluoresensi setelah dilakukan pengembangan. 2. Menyemprot lempeng dengan asam sulfat pekat atau asam nitrat pekat lalu dipanaskan untuk mengoksidasi solut-solut organik yang akan nampak sebagai bercak hitam sampai kecoklat-kecoklatan. 3. Memaparkan lempeng dengan uap iodium dalam chamber tertutup. 4. Melakukan scanning pada permukaan lempeng dengan densitometer, suatu instrumen yang dapat mengukur intensitas radiasi yang direfleksikan dari permukaan lempeng ketika disinari dengan lampu UV atau lampu sinar tampak. Solut-solut yang mampu menyerap sinar akan dicatat sebagai puncak (peak) dalam pencatat (recorder). Pemisahan pada kromatografi lapis tipis yang optimal akan diperoleh hanya jika menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin. Sebagaimana dalam prosedur kromatografi yang lain, jika sampel yang digunakan terlalu banyak maka akan menurunkan resolusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penotolan sampel secara otomatis lebih dipilih daripada penotolan secara manual terutama jika sampel yang akan ditotolkan lebih dari 15 l. Penotolan sampel yang tidak tepat akan menyebabkan bercak yang menyebar dan puncak ganda. Pada KLT (Kromatografi Lapis Tipis), jarak tempuh senyawadinyatakan sebagai nilai Rf (Retardation Factor).Nilai Rf = Jarak yang ditempuh senyawa/ Jarak fase gerak. Harga Rf berfungsi untuk menunjukan polaritas relatif suatu bercak pada fase gerak dimana bisa saja fase gerak polar atau non polar atau semipolar sehingga merupakan sifat polaritas relatif dari fase gerak.

Metode KLT tergolong cepat dan tepat tetapi bersifat kualitatif tapi bisa ke arah semikuantitatif karena bisa mengolah data dari besarnya bercak yang dihasilkan. Dibandingkan dengan sampel bisa menyatakan kasaran kandungan kadar yang ada dalam simplisia uji. Kelebihan KLT dibanding teknik lainnya ialah : 1. KLT memberikan fleksibilitas yang lebih besar, dalam hal memilih fase gerak. 2. Berbagai macam teknik untuk optimasi pemisahan seperti pengembangan 2 dimensi, pengembangan bertingkat, dan pembaceman penjerap dapat dilakukan pada KLT. 3. Proses kromatografi dapat diikuti dengan mudah dan dapat dihentikan kapan saja. 4. Semua komponen dalam sampel dapat dideteksi. Sedangkan kekurangannya adalah hanya merupakan langkah awal untuk menentukan pelarut yang cocok dengan pada kromatografi kolom dan noda yang terbetuk belum tentu senyawa murni. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai Rf dari KLT (KromatografiLapis Tipis): 1. Strukturkimia darisenyawayangakan dipisahkan 2. Tebal dan kerataan lapisan penyerap, ketidakrataan akanmenyebabkan aliran pelarut menjadi tidak rata. 3. Pelarut dan kemurniannya 4. Jumlah cuplikan yang digunakan 5. Panjang lempeng migrasi Pada percobaan ini, praktikan memperoleh hasil pada uji kualitatif secara KLT larutan I (sampel dan Quasetin) HRF sampel yang diperoleh 85% dan HRF quasetin (pembanding) 58%, sedangkan (sampel dan antrakinon) HRF sampel 82% dan antrakinon (pembanding) 0%. Larutan II diperoleh (sampel dan tanin) HRF sampel 77% dan tanin (pembanding) 0% (tailing), sedangkan (sampel dan antrakinon) HRF sampel 66% dan antrakinon (pembanding) 0% (tailing). Pada percobaan larutan III (sampel dan saponin) terdapat 2 buah bercak pada sampel sehingga diperoleh HRF 1 (bercak 1) sampel 28% dan 2 (bercak 2) 46% dan saponin (pembanding) 0% (tailing) sedangkan pada (sampel dan kardenolida) HRF sampel 98% dan kardenolida (pembanding) 96%. Pada selulosa diperoleh HRF sampel 81% sedangkan HRF rutin

(pembanding) 75%. Pada uji kualitatif KLT untuk alkaloida tidak diperoleh alkaloida tersier dan kuartener. Dari hasil yang diperoleh dengan membandingkan nilai RF sampel dengan pembanding tidak memiliki nilai yang sama sehingga dapat disimpulkan bahwa tanaman tersebut tidak mengandung senyawa-senyawa yang diuji, antara lain kerdenolida, saponin, rutin, quasetin, antrakinon, tanin. Hasil yang tidak diperoleh tidak sesuai dengan teori. G. Kesimpulan Tanaman kakao (Theobroma cacao) mengandung kromoform, polifenol, dan alkaloid. Nilai RF sampel dengan pembanding tidak memiliki nilai yang sama sehingga dapat disimpulkan bahwa tanaman tersebut tidak mengandung senyawa-senyawa yang diuji, antara lain kerdenolida, saponin, rutin, quasetin, antrakinon, tanin.

H. Daftar Pustaka Agoes,G., 2007, Teknologi Bahan Alam, ITB Press, Bandung, pp. 38-39. Gandjar, I.G., 2009, Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, pp. 353, 355-359. Harbone, 1987, Metode Fitokimia, ITB Press, Bandung, pp. 256. Mursyidi, A., 1990, Analisis Metabolit Sekunder, Edisi I, UGM Press, Yogyakarta, pp. 23. Pangkalan Ide, 2008, Dark Chocolate Healing : Mengungkapkan Khasiat Coklat Terhadap Sirkulasi Darah dan Imunitas Tubuh, Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta, pp. 10. Robinson, 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, ITB Press, Bandung, pp. 165,169. Siregar, dkk.,2010, Budi Daya Coklat,Penebar Swadaya, Jakarta, pp. 25. Trevor, R., 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi, ITB Press, Bandung, pp. 2022.

Yogyakarta, 16 Oktober 2012 Praktikan

Handika Immanuel (118114083)

Irvan S. G. Balrianan (118114084)

Briand G. Hukom (118114085)

Chatarina Danik Wijayanti (118114086)

Anisetus Ratnasari Jebarus (118114087)