Anda di halaman 1dari 51

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Kualitas manusia antara lain dipengaruhi oleh konsumsi pangan dan gizi. Dengan demikian konsumsi pangan dan gizi yang tidak cukup dapat menurunkan kualitas manusia. Penyakit defisiensi gizi timbul bila energi dan zat gizi tidak dikonsumsi dalam jumlah cukup untuk pertumbuhan dan untuk fungsi lainnya. Kurang Energi Protein (KEP) merupakan penyakit defisiensi gizi yang paling umum dijumpai di dunia pada tingkat sedang dan berat.Di beberapa negera, empat dari lima anak kecil mengalami gizi kurang pada beberapa tingkatan. Pada golongan anak yang berstatus gizi kurang memiliki risiko kematian yang tinggi dari pada anak yang berstatus gizi yang lebih baik. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan konsumsi sesuai dengan umurnya (R. Waba, 2007).

Dampak yang lebih serius dari kekurangan gizi adalah timbulnya kecacatan, tinggi angka kesakitan dan terjadinya percepatan kematian (premature death). Pada usia balita sekitar 7,5 anak (36%) menderita KEP atau mengalami penghambatan pertumbuhan yang ditunjukan oleh berat badan lebih rendah dari standar menurut usia. Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh setiap orang tua. Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh

kembang di usia balita di dasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas ini bersifar irreversible (tidak dapat pulih).

Sebagian besar penyakit-penyakit malnutrisi (salah gizi) seperti obesitas, marasmus, kwashiorkor, gondok dan kekurangan vitamin A yang diderita penduduk Indonesia dan tidak jarang bahkan sampai merenggut nyawa itu ternyata salah satunya disebabkan oleh minimnya pengetahuan akan gizi (Atikah Proverawati,2011).

Menurut KEMENKES berdasarkan hasil Riskesdas 2010 prevalensi gizi kurang pada balita di Indonesia angkanya sebesar 17,9% . Angka ini menunjukkan penurunan sejak 2007 lalu sebesar 18,4%. (Red-Setditjen Bina Gizi dan KIA). Berdasarkan Riskesdas 2010, menemukan bahwa ada 21,5% balita usia 2-4 tahun yang mengonsumsi energi di bawah kebutuhan minimal dan 16% yang mengonsumsi protein di bawah kebutuhan minimal. Dan bila ini berlangsung dalam waktu lama, maka akan mengganggu pertumbuhan berat dan tinggi badan (www.depkes.go.id). Status gizi balita di propinsi Lampung berdasarkan BB/U yaitu gizi baik 79,8 % , gizi lebih 6,8 % , gizi kurang 10,0 % , gizi buruk 3,5 % (Profil Kesehatan Lampung 2010). Banyak faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita antara lain, perilaku, pengetahuan, kepercayaan dan nilai-nilai. Salah satunya

pengetahuan ,orang tua terkadang tidak tahu mengapa anaknya yang sehat

harus ditimbang setiap bulan. Oleh karena itu, pengetahuan orang tua merupakan salah satu faktor yang penting. Karena dengan pengetahuan yang baik, maka orang tua menerima segala informasi dari luar terutama tentang cara pemberian gizi yang baik, bagaimana menjadi kesehatan

anaknya.Pengetahuan ibu sangat berperan penting karena dapat berpengaruh terhadap perkembangan gizi anaknya, karena dengan mengetahui status gizi maka diharapkan ibu-ibu dapat mengetahui pertambahan berat badan/gizi balita setiap bulan (almatsier,2003). Dari data pre survey didapatkan pendidikan ibu-ibu adalah SMP 60% dan SMA 40% juga akses untuk memperoleh pengetahuan kurang karena kurang tersosialisasinya Program Gizi di masyarakat dan belum pernah ada penelitian mengenai pengetahuan tentang gizi pada ibu balita. Hal ini terlihat dari data pre survey yang dilaksanakan di Posyandu Cempaka II di kelurahan segala mider pada tanggal 16 maret 2012 dari hasil wawancara terhadap 10 orang ibu yang membawa balita ke Posyandu di dapatkan hasil gizi anak 30% gizi kurang. Kurangnya pengetahuan ibu tentang pengertian gizi, pengertian status gizi, fungsi zat gizi, golongan zat gizi makro, kebutuhan gizi balita, menu seimbang untuk balita, dan pengaruh status gizi pada balita.

Berdasarkan latar belakang dan fenomena di atas, peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang Hubungan Pengetahuan Ibu tentang gizi dengan Status Gizi pada Balita di Posyandu Cempaka II kelurahan Segala Mider Bandar Lampung.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimanakah hubungan pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi pada balita di Posyandu Cempaka II Kelurahan Segala Mider.

1.3 Tujuan Penelian 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan Ibu tentang gizi dengan status gizi pada Balita di Posyandu Cempaka II kelurahan segala mider.

1.3.2 Tujuan Khusus 1. Diketahuinya pengetahuan ibu tentang gizi pada balita di Posyandu Cempaka II kelurahan segala mider 2. Diketahuinya status gizi pada balita di Posyandu Cempaka II segala mider 3. Diketahuinya apakah terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi pada balita di Posyandu Cempaka II kelurahan segala mider. kelurahan

1.4 Manfaat Penelitian Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi: 1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan Sebagai referensi dalam penelitian dibidang keperawatan dan sebagai bahan masukan dan informasi, sekaligus sebagai data awal untuk melakukan penelitian selanjutnya. 1.4.2 Bagi Petugas Kesehatan Untuk menambah wawasan bagi petugas kesehatan dalam memberikan informasi kepada ibu yang memiliki balita agar dapat memantau status gizi dan berat badan pada balitanya. 1.4.3 Bagi Ibu balita Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan pada ibu-ibu khususnya yang memiliki anak balita dengan status gizi kurang agar dapat mengerti tentang pentingnya memperhatikan status gizi pada balitanya. 1.4.4 Bagi Penulis Sebagai penerapan dalam mata kuliah metode penelitian dan menambah pengetahuan serta pengalaman dalam penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Pengetahuan 2.1.1 Definisi Pengetahuan Berdasarkan bahasa, pengetahuan (knowledge) adalah hasil pengindraan manusia,atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya(mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu pengindraan sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga), dan indra penglihatan (mata). Pengeahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda (Notoatmodjo, 2010). 2.1.2 Tingkat Pengetahuan Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan

(Notoatmodjo,2010), yakni : 1. Tahu (know) : Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dan
6

seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya. 2. Memahami (Comprehention) Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dimana dapat menginterprestasikan secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi terus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap suatu objek yang dipelajari. 3. Aplikasi (Application) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi ataupun kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hokumhukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. 4. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih di dalam

struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain. 5. Sintesis (Syntesis) Sintesis yang dimaksud menunjukkan pada suatu kemampuan untuk melaksanakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada. 6. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentunkan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. 2.1.3 Cara Memperoleh Pengetahuan Beberapa cara memperoleh pengetahuan (A.Wawan dan Dewi M, 2010) adalah sebagai berikut : 1. Cara Kuno untuk memperoleh pengetahuan a. Cara coba salah (Trial and Error) Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan,bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila

kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoba. Kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. b. Cara kekuasaan atau otoritas Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin pimpinan masyrakat baik formal atau informal, ahli agama, pemegang pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang menerima mempunyai yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri. c. Berdasarkan pengalaman pribadi Pengalaman pribadipun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahn yang dihadapi masa lalu. 2. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular atau disebut metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Van Daven. Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan penelitian ilmiah.

10

2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan Menurut (A.Wawan dan Dewi M, 2010). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang , yaitu : a. Faktor Internal 1. Pendidikan Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan dalam pembangunan. Pada umunya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi. 2. Pekerjaan Pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan.

Sedangkan bekerja umunya merupakan kegiatan yang menyita waktu.

11

Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh rterhadap kehidupan keluarga. 3. Umur Usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang lebih dewasa dipercaya dari orang-orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai dari pengalaman dan kematangan jiwa. b. Faktor Eksternal 1. Faktor Lingkungan Menurut Ann.Mariner yang dikutip dari Nursalam 3 lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok. 2. Sosial Budaya Sistem social budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi. 2.1.5 Kriteria Tingkat Pengetahuan Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif, yaitu :

12

1. 2. 3. 2.2 Balita

Baik : Hasil presentase 76% - 100 % Cukup : Hasil presentase 56% - 75% Kurang : Hasil presentase > 55%

Pengertian Balita Balita atau bawah lima tahun adalah semua anak termasuk bayi yang baru lahir, yang berusia 0 sampai menjelang tepat 5 tahun (4 tahun,11 bulan, 29 hari ). Pada umunya ditulis dengan notasi 0-4 tahun (www.balita.com). Secara harfiah, balita atau anak bawah lima tahun adalah anak usia kurang dari lima tahun sehingga bayi usia di bawah satu tahun juga termasuk dalam golongan ini. Namun, karena faal (kerja alat tubuh semestinya) bayi usia di bawah satu tahun berbeda dengan anak usia di atas satu tahun (Atikah Proverawati, 2011). 2.2.1 Status Gizi Status gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu ( Atikah Proverawati,2011) 2.2.2 Penilaian Status Gizi (Benny Soegianto,2007) Penilaian status gizi (Nutritional Assesment), menurut Rosalind S.Gibson didefinisikan sebagai interprestasi dari informasi yang diperoleh dari studi diet, biokimia, antropometri dan klinis (The Interpretation of Information Obtained from Dietary, Biochemical, Anthropometric and Clinical Studies).

13

Informasi tersebut digunakan untuk menetapkan status gizi individu atau kelompok populasi yang dipengaruhi asupan dan penggunaan zat gizi. 2.2.3 Metode Penilaian Status Gizi ( Atikah Proverawati,2011 ) Penilaian Status Gizi secara Langsung : 1. Antropometri Ditinjau dari sudut pandang gizi, antropometri gizi berhubungan

dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan gizi. Antropometri digunakan untuk melihat ketidakseimbangan asupan protein dan energi, yang terlihat pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh. 2. Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratories yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh seperti darah, urine, tinja dan berbagai jaringan tubuh seperti hati dan otot. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik, maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan kekurangan gizi yang spesifik. 3. Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode untuk melihat status gizi masyarakat berdasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid

14

4. Biofisik Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemic. Cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap. Pengukuran Status Gizi secara Tidak Langsung : 1. Survei Konsumsi Makanan Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi. Data yang dikumpulkan dapat memberikan gambaran tentang konsumsi berbagai zat gizi masyarakat, keluarga, dan individu. 2. Statistik Vital Pengukuran gizi dengan statistic vital adalah dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian serta data-data lainnya yang berhubungan dengan gizi. 3. Faktor Ekologi Bengoa mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat tergantung dari keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi dan lain-lain. Pengukuran faktor ekologi dipandang sangat penting untuk mengetahui penyebab

15

malnutrisi di suatu masyarakat sebagai dasar untuk melakukan program intervensi gizi. 2.2.4 Klasifikasi Status Gizi ( Benny Soegianto, 2007) Dalam menentukan klasifikasi status gizi harus ada ukuran baku yang sering disebut reference. Baku antropometri yang sekarang digunakan di Indonesia adalah WHO-NCHS. Direktorat Bina Gizi Masyarakat, Depkes dalam pemantauan status gizi (PSG) anak balita tahun 1999 menggunakan baku rujukan World Health Organization-National Centre For Health Statistics (WHO-NCHS). Pada Loka Karya Antropometri tahun 1975 telah di perkenalkan buku Harvard. Berdasarkan Semi Loka Antropometri, Ciloto,1991 telah direkomendasikan penggunaan baku rujukan WHONCHS (Gizi Indonesia, Vol.XV No 2 tahun 1990). Berdasarkan baku Harvard status gizi dapat dibagi menjadi empat yaitu : a. Gizi lebih untuk over weight, termasuk kegemukan dan obesitas. b. Gizi baik untuk well nourished c. Gizi kurang untuk under weight yang mencakup mild dan moderate PCM (Protein Calori Malnutrition) d. Gizi buruk untuk serve PCM, termasuk marasmus, marasmik-kwasiorkor dan kwashiorkor. Untuk menentukan klasifikasi status gizi diperlukan ada batasan-batasan yang disebut dengan ambang batas. Batasan ini di setiap negara relatife berbeda , hal ini tergantung dari kesepakatan para ahli gizi di Negara

16

tersebut, berdasarkan hasil penelitian dan keadaan klinis. Di bawah ini akan diuraikan beberapa klasifikasi yang umum digunakan adalah sebagai berikut : 1. Klasifikasi Gomez (1956) Baku yang digunakan oleh Gomez adalah baku rujukan Harvard. Indeks yang digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U). Sebagai baku patokan digunakan persentil 50. Gomez

mengklasifikasikan status gizi atau KEP yaitu normal, ringan, sedang dan berat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Klasifikasi KEP Menurut Gomez ( Sumber. Gibson Rosalind. S,1990. Principles of Nutritional Assesment, Oxford University Press, New York.hlm.255). Kategori ( Derajat KEP ) 0 = Normal 1 = Ringan 2 = Sedang 3 = Berat *) Baku = persentil 50 Harvard 2. Klasifikasi Kualitatif Menurut Wellcome Trust Pemeriksaan ini tidak memerlukan waktu klinis maupun laboratorium. Penentuan dapat dilakukan oleh tenaga paramedic setelah diberi latihan yang cukup. Baku yang digunakan adalah baku Harvard. Klasifikasi status gizi menurut Wellcome Trust : BB/U (%) *) >90 % 89-75 % 74-60 % < 60 %

17

Tabel 2 Klasifikasi status gizi menurut Wellcome Trust (Sumber: Solihin Pudijadi,1997.Ilmu Gizi Klinis pada Anak, FK UI. Jakarta,Hlm.98) Berat badan % dari baku *) 60- 80 % < 60 % *) Baku = Persentil 50 Harvard 3. Klasifikasi Jellife Indeks yang digunakan olej Jellife adalah berat badan menurut umur. Pengkategoriannya adalah kategori I,II,III dan IV. Untuk lebih jelasnya klasifikasi Jellife dapat dilihat pada Tabel 1.2. Tabel 3 klasifikasi KEP menurut Jellife (Sumber: Rekso Present Kwashiorkor Marasmic kwashiorkor Edema Absent Underweight Marasmic

Dikusumo,dkk. 1998/1989. Penilaian Status Gizi Secara Antopometri. Bagian Proyek Pendidikan Akademi Gizi Jakarta,hlm.14 ). Kategori KEP I KEP II KEP III KEP IV BB/U (% baku) 90-60 80-70 70-60 < 60

18

4. Klasifikasi Menurut Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI Tahun 1999. Dalam buku petunjuk Teknis Pemantauan Status Gizi (PSG). Anak balita tahun 1999, klasifikasi status gizi dapat diklasifikasikan menjadi 5 yaitu : Gizi Lebih, Gizi Sedang, Gizi Kurang, Gizi Buruk. Buku rujukan yang digunakan adalah WHO-NCHS, dengan indeks berat badan menurut umur. Klasifikasi status gizi menurutDirektorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI tahun 1999 dapat dilihat pada tabel 1.3. Tabel 4 Klasifikasi Status Gizi Masyarakat Direktorat Bina Gizi Masyarakat Depkes RI tahun 1999. Kategori Cut of Point *)

Gizi lebih Gizi Baik Gizi Sedang Gizi Kurang Gizi Buruk

>120 % Median BB/U baku WHO-NCHS,1983 80 % - 120 % Median BB/U baku WHONCHS,1983 70 % - 79,9 % Median BB/U baku WHONCHS,1983 60 % - 69,9 % Median BB/U baku WHONCHS,1983 < 60 % Median BB/U baku WHO-NCHS,1983

*) Laki-laki dan perempuan sama. 5. Klasifikasi Harvard Standard Keuntungan dari cara tersebut ialah mudah dilakukan. Bila umur tidak diketahui dengan pasti, digunakan ukuran BB atau LLA menurut TB.

19

Kelemahannya ialah tidak membedakan jenis kelamin sampai umur 5 tahun. Tabel 5 Klasifikasi Status Gizi menurut Harvard Standard Indikator 1. BB/U 2. TB/U 3. BB/TB 4. LLA/U 5. LLA/TB Gizi Baik >80 % >85 % >90% >85% >85 % Gizi Kurang >60% - 80% >70% - 85% >80% - 90% >70% - 85 % >75% - 85% Gizi Buruk < 60% < 70% < 80% < 70% < 75%

Sumber : DEPKES RI, Deswari et all (1990) 2.2.5 Pengaruh Status Gizi pada Balita Status gizi pada masa balita perlu mendapatkan perhatian yang serius dari para orang tua, karena kekurangan gizi pada masa ini akan menyebabkan kerusakan yang irreversible (tidak dapat dipulihkan). Ukuran tubuh yang pendek merupakan salah satu indikator kekurangan gizi yang

berkepanjangan pada balita. Kekurangan gizi yang lebih fatal akan berdampak pada perkembangan otak. Fase perkembangan otak pesat pada usia 30 minggu-18 bulan. Status gizi balita dapat diketahui dengan cara mencocokkan umur anak dengan berat badan standar dengan menggunakan pedoman WHO-NCHS (Atikah Proverawati,2011) 2.2.6 Faktor-faktor dalam pemilihan metode penilaian Status Gizi Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih dan menggunakan metode adalah sebagai berikut :

20

1. Tujuan 2. Unit sampel yang akan diukur 3. Jenis informasi yang dibutuhkan 4. Tingkat realibilitas dan akurasi yang dibutuhkan 5. Tersedianya fasilitas dan peralatan 6. Tenaga 7. Waktu 2.2.7 Beberapa Istilah Dalam Penilaian Status Gizi (Beny Soegianto, 2007) Beberapa pengertian menurut Buku Pedoman Penanggulangan Kurang Energi Protein (KEP) yang disusun oleh proyek perbaikan gizi masyarakat Dinkes Jatim (2010), sebagai berikut : 1. Kurang Energi Protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG). 2. Klasifikasi KEP : KEP Ringan, adalah jika berat badan menurut umur ( BB/U) 70% 80 % baku median WHO-NCHS dan atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) 80% - 90% baku median WHO-NCHS

21

KEP Sedang, adalah jika berat badan menurut umur (BB/U) 60%-70% baku median WHO-NCHS dan atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) 70%-80% baku median WHO-NCHS KEP Berat, adalah jika berat badan menurut umur (BB/U) < 70% baku median WHO-NCHS dan atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) < 70% baku median WHO-NCHS 3. KEP Nyata adalah istilah yang digunakan pengelola program gizi di lapangan, meliputi : KEP tingkat sedang dan KEP tingkat berat atau gizi buruk. 4. KEP Total adalah istilah yang digunakan pengelola program gizi di lapangan, yang meliputi: KEP tingkat ringan, sedang dan berat atau BB/U baku median WHO-NCHS. 5. 6. 7. 8. 9. Kwashiorkor Marasmus Marasmus- Kwashiorkor BGM (Bawah Garis Merah) Kejadian Luar Biasa (KLB) Gizi Buruk

10. Pelacakan KLB Gizi.

22

2.2.8 Antropometri Antropometri adalah hasil pengukuran yang spesifik mengenai ukuran dan perubahan proporsi tubuh merupakan indikator penting bagi status gizi (Mary E.Barasi, 2009). Antropometri berasal dari kata Anthropo (manusia) dan metric (ukuran), yaitu ukuran tubuh manusia. Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Pengukuran variasi dimensi fisik, proporsi dan komposisi kasar tubuh manusia pada umur dan status gizi berbeda. Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter ( Atikah Proverawati, 2011). Indeks Antropometri berat badan menurut umur (BB/U) merupakan salah satu indeks antopometri yang memberikan gambaran tentang masa tubuh. Untuk mengetahui pertumbuhan berat badan anak mulai lahir sampai usia lima tahun dapat menggunakan Kartu Menuju Sehat (KMS) (Beny Soegianto, 2007). 2.2.9 Indikator Antropometri (Beny Soegianto,2007) Pengertian indikator adalah suatu benda yang bisa memberikan indikasi tentang suatu keadaan. Suatu keadaan dikatakan sebagai indikator yang baik jika tanda tersebut dapat memberikan indikasi yang sensitife dari suatu keadaan.

23

Pertumbuhan merupakan indikator dari perkembangan status gizi anak, dengan demikian penilaian pencapaian pertumbuhan (growth achievement) atau ukuran fisik atau antropometri pada saat tertentu dapat memberikan indikasi tentang status gizi seorang anak pada saat pengukuran, dengan demikian antropometri dapat digunakan sebagai salah satu indikator status gizi. Beberapa keuntungan menggunakan antropometri untuk penilaian status gizi antara lain : 1. Caranya mudah, sederhana, aman dan tekhnisnya tidak terlalu banyak intruksi. 2. Dapat digunakan pada posisi tidur, duduk atau berdiri. 3. Sesuai untuk sampel besar 4. Peralatan yang digunakan relatife murah. 5. Bersifat portable (bisa dibawa kemana-mana) 6. Bisa dibuat atau dibeli oleh masyarakat setempat atau instansi 7. Tidak memerlukan keahlian khusus dalam menggunakannya. 8. Dapat memberikan hasil yang akurat 9. Bisa dipakai untuk mengevaluasi perubahan status gizi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

24

2.2.10 Indeks Antropometri (Beny Soegianto, 2007) Indikator status gizi biasanya didasarkan pada parameter berat badan atau tinggi badan dan disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan umur atau kombinasi antar keduanya. Indeks antropometriyang sering digunakan adalah berat badan menurut umur (BB/U)an berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) atau berat badan menurut panjang badan (BB/PB). 1. Indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U) Berat badan berhubungan linear dengan tinggi badan, maka indikator BB/U dapat memberikan gambaran masalah gizi masa lalu atau kronis (menahun). Selain itu berat badan juga labil terhadap perubahan yang terjadi, maka BB/U juga memberikan gambaran masalah gizi akut (saat kini). Akan tetapi kemampuan ini sangat tergantung dari keadaan sosial ekonomi masyarakat yang dinilai. Keuntungan Indeks BB/U : 1. Indikator yang baik untuk Kekurangan Energi Protein (KEP) akut dan kronis dan untuk memonitor program yang sedang berjalan. 2. Sensitif terhadap perubahan keadaan gizi yang kecil 3. Pengukuran objektif dan bila diulang memberikan hasil yang sama. 4. Peralatan dapat dibawa kemana-mana dan relatife murah 5. Pengukuran mudah dilaksanakan dan teliti 6. Pengukuran tidak memakan waktu lama.

25

Kekurangan BB/U 1. Tidak sensitif terhadap anak yang stunded (pendek) atau anak yang terlalu tinggi tetapi kurang gizi. 2. Data umur kadang-kadang kurang dapat dipercaya, umur anak kurang dari 2 (dua) tahun biasanya teliti dan bila ada kesalahan mudah dikoreksi, sebaliknya sulit memperkirakan umur lebih dari dua tahun. 3. Ibu-ibu di daerah tertentu mungkin kurang bisa menerima anaknya ditimbang dengan dacin, karena menggantung. 2. Indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) Masalah gangguan pertumbuhan pada tinggi badan anak berlangsung pada kurun waktu yang cukup lama, dari beberapa bulan sampai beberapa tahun. Sehingga indikator TB/U ini memberikan indikasi adanya masalah gizi kronis. Banyaknya jumlah anakyang tinggi badannya pendek memberikan indikasi bahwa di masyarakat bersangkutan ada masalah yang sudah berlangsung lama. Oleh karena itu, maka perlu dipelajari apa masalah dasar dari gangguan pertumbuhan ini, sebelum dilakukan program perbaikan gizi secara menyeluruh. Keuntungan TB/U 1. Merupakan indikator yang baik untuk mengetahui kekurangan gizi pada waktu lampau. 2. Pengukuran objektif bila diulang memberikan hasil yang sama.

26

3. Peralatan dapat di bawa kemana-mana. 4. Ibu-ibu jarang merasa keberatan bila anaknya diukur. 5. Paling baik untuk anak berumur diatas 2 (dua) tahun. Kekurangan TB/U 1. Dalam menilai hasil intervensi harus disertai indikator lain,seperti BB/U, karena perubahan Panjang badan (PB) tidak banyak terjadi pada waktu yang singkat. 2. Membutuhkan beberapa tekhnik pengukuran seperti alat ukur panjang badan untuk anak umur lebih 2 (dua) tahun. 3. Lebih sulit dilakukan secara teliti oleh kader atau petugas yang belum berpengalaman. 4. Memerlukan dua orang untuk mengukur anak 5. Umur kadang-kadang sulit disapat secara pasti 3. Indeks Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) Dalam kondisi normal, berat badan anak akan berbanding lurus dengan tinggi badannya, duhengan kata lain berat badan akan seimbang dengan tinggi badannya. Namun, bila terjadi kondisi yang memburuk dalam waktu singkat, berat badan akan berubah karena sifatnya yang labil, sedangkan tinggi badan tidak banyak berpengaruh. Akibatnya berat badan dalam waktu singkat akan menjadi tidak seimbang dengan tinggi badannya. Oleh

27

karena itu indeks BB/TB merupakan indeks yang sensitif untuk memberikan indikasi tentang masalah gizi saat kini atau masalah gizi akut. Keuntungan BB/TB : 1. Lebih baik untuk anak umur lebih dari dua tahun 2. Merupakan indikator yang baik untuk mengetahui proporsi tubuh yang normal dan untuk membedakan anak kurus dan gemuk 3. Pengukuran objektif dan dapat memberi hasil yang sama bila pengukurannya diulang. Kekurangan BB/TB : 1. Menyebabkan estimasi yang rendah tentang Kekurangan Energi Protein (KEP) 2. Memerlukan dua atau tiga alat pengukuran, lebih mahal dan lebih sulit membawanya. 3. Memerlukan waktu lebih banyak dan petugas terlatih lebih lama 4. Memerlukan lebih sedikit dua orang untuk mengukur anak 2.3 Gizi 2.3.1 Definisi Gizi Gizi berasal dari bahasa Arab yaituGhidza. Gizi adalah suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal oleh suatu organisme melalui proses digesti,absorbs,transportasi,penyimpanan,metabolism dan

28

pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi ( Atikah Proverawati,2011 ). Kebutuhan makanan pada setiap individu berbeda, karena adanya variasi genetik yang akan mengakibatkan perbedaan dalam proses metabolisme. Akan tetapi sasaran yang di harapkan pada setiap anak serupa, yaitu pertumbuhan yang optimal tanpa disertai oleh keadaan defisiensi gizi. Status gizi yang baik akan turut berperan dalam pencegahan terjadinya berbagai penyakit, khususnya penyakit infeksi dan dalam tercapainya tumbuh kembang anak yang optimal. Selain ditentukan oleh kualitas dan kuantitas jenis makanan, status gizi ditentukan pula oleh cara pengolahan bahan makanan, cara penyajian makanan, cara pemberian dan kebiasaan makan( A.H Markum 1991 ). 2.3.2 Pengelompokkan Zat Gizi Zat gizi digolongkan ke dalam 6 (enam) kelompok utama, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, menjadi mineral zat gizi dan air. Penggolongan dan mikro(( lain Atikah

mengelompokkan

makro

Proverawati,2011 ) . Zat gizi juga dapat digolongkan menjadi esensial dan tidak esensial. Fungsi umum zat gizi di dalam tubuh adalah : 1. Sumber energi 2. Pertumbuhan dan mempertahankan jaringan tubuh 3. Mengatur proses metabolisme di dalam tubuh.

29

Zat Gizi Makro A. Karbohidrat Secara umum definisi karbohidrat adalah senyawa organic yang mengandung unsur Karbon, Hidrogen dan Oksigen, dan pada umumnya unsur Hidrogen dan Oksigen dalam komposisi menghasilkan H2O. Sebagian besar karbohidrat diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi sehari-hari, terutama bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hati, serta karbohidrat dalam bentuk laktosa hanya dapat dijumpai dalam produk susu. Fungsi Karbohidrat di dalam tubuh adalah : 1. Sebagai sumber energi 2. Melindungi protein agar tidak dibakar sebagai penghasil energy 3. Membantu metabolism lemak dan protein 4. Di dalam hepar berfungsi untuk detoksifikasi zat-zat toksik tertentu. B. Lemak Lemak disebut juga lipid, adalah suatu zat yang kaya akan energi, berfungsi sebagai sumber energi yang utama untuk proses metabolisme tubuh. Berdasarkan bentuknya lemak digolongkan ke dalam lemak padat (misalnya mentega dan lemak hewan) dan lemak cair atau minyak (misalnya minyak sawit dan minyak kelapa). Sedangkan berdasarkan penampakan, lemak digolongkan ke dalam lemak kentara (misalnya

30

mentega dan lemak pada daging sapi) dan lemak tak kentara ( misalnya lemak pada telur, lemak pada advokat, dan lemak pada susu). Fungsi Lemak di dalam tubuh berfungsi sebagai sumber energi, bahan baku hormon, membantu transport vitamin yang larut lemak, sebagai bahan insulasi terhadap perubahan suhu, serta pelindung organ-organ tubuh bagian dalam. C. Protein Protein adalah bagian dari semua sel hidup dan hidup merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Protein dibedakan menjadi protein hewani dan protein nabati. Protein yang berasal dari hewani seperti daging, ikan, telur, susu, dan lain-lain disebut protein hewani,sedangkan protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan seperti kacang-kacangan, tempe, tahu disebut protein nabati. Fungsi protein secara umum : 1. Sebagai pertumbuhan dan mempertahankan jaringan, membentuk senyawa-senyawa esensial tubuh, mengatur keseimbangan air, mempertahankan kenetralan (asam-basa) tubuh, membentuk

antibody, dan mentranspor zat gizi. 2. 3. 4. Alat pengukur dan penyimpan Pengatur pergerakan Pengendalian pertumbuhan

31

D. Vitamin Vitamin terbagi menjadi dua golongan, yaitu vitamin larut lemak dan vitamin larut air. Vitamin yang larut lemak adalah vitamin A,D,E,dan K. Sedangkan vitamin yang larut air adalah vitamin B (thiamin, riboflavin, niacin, piridoksin, asam pantothenat, biotin, sianokobalamin, chocline, inositol) dan vitamin C. Fungsi vitamin yang spesifik sesuai dengan fungsi spesifik sebagai biokatalisator atau sebagai koenzim. Oleh karena itu, kekurangan vitamin yang dikenal dengan avitaminosis akan berdampak buruk pada kesehatan dan gangguan fungsi biologis organ atau sistem. E. Mineral Mineral esensial diklasifikasikan ke dalam mineral makro dan mineral mikro. Termasuk mineral makro adalah kalsium, fosfor, kalium, sulfur, natrium, khlor, dan magnesium. Sedangkan yang termasuk mineral mikro adalah besi, seng, selenium, mangan, tembaga, iodium, molybdenum, cobalt, chromium, silicon, vanadium, nikel, arsen, dan fluor. Fungsi Mineral terdapat tiga fungsi : 1. Sebagai komponen utama tubuh atau penyusun kerangka tulang, gigi , dan otot-otot. 2. Merupakan unsur dalam cairan tubuh atau jaringan, sebagai elektrolit yang mengatur tekanan osmosis, mengatur keseimbangan asam basa dan permeabilitas membran.

32

3. Sebagai activator atau terkait dalam peranan enzim dan hormon. F. Air Air merupakan komponen kimia utama dalam tubuh. Ada tiga sumber air bagi tubuh, yaitu air yang berasal dari minuman, air yang terdapat dalam makanan yang kita makan, serta air yang berasal dari hasil metabolisme sumber air tersebut. Fungsi Air bagi tubuh adalah sebagai berikut : 1. Pelarut zat gizi 2. Fasilitator pertumbuhan 3. Sebagai katalis reaksi biologis 4. Sebagai pelumas 5. Sebagai pengatur suhu tubuh 6. Sebagai sumber mineral bagi tubuh 2.3.3 Angka Kebutuhan Gizi Angka Kebutuhan Gizi (Dietary Requirement) adalah banyaknya zat-zat gizi yang dibutuhkan seseorang (individu) untuk mencapai dan mempertahankan status gizi adekuat. Kebutuhan gizi ditetapkan

berdasarkan umur, gender, aktivitas fisik, dan kondisi fisik khusus, dalam keadaan sakit, perubahan kebutuhan karena infeksi, gangguan metabolic, penyakit kronik, dan kondisi abnormal lainnya.

33

AKG yang sudah ditetapkan untuk orang Indonesia meliputi energy, protein, vitamin A, vitamin D, vitamin E, vitamin K, vitamin C, tiamin, riboflavin, niacin, pirodiksin, vitamin B12, asam folat, kalsium, fosfor, magnesium, besi, seng, iodium, mangan, selenium, dan fluor. 2.3.4 Faktor-faktor yang mempengarui kecukupan gizi antara lain : 1. Tahap pertumbuhan dan perkembangan tubuh. 2. Ukuran dan Komposisi tubuh. 3. Jenis Kelamin 4. Keadaan kesehatan tubuh. 5. Kegiatan fisik. 6. Lingkungan. 7. Keadaan fisiologis tubuh. 8. Mutu makanan. 9. Gaya hidup 2.3.5 Gizi Seimbang Bagi Balita 1. Prinsip Gizi bagi Balita Secara harfiah, balita atau anak bawah lima tahun adalah anak usia kurang dari lima tahun. Balita usia 1-5 tahun dapat dibedakan menjadi dua, yaitu anak usia lebih dari satu tahun sampai tiga tahun yang dikenal denganbatita dan anak usia lenih dari tiga tahun yang dikenal dengan

34

usia prasekolah. Balita sering disebut konsumen pasif, sedangkan usia prasekolah disebut konsumen aktif. Anak dibawah lima tahun merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan yang pesat namun kelompok ini merupakan kelompok tersering yang menderita kekurangan gizi. Bila gizi buruk maka perkembangan otaknya pun kurang dan itu akan berpengaruh pada kehidupannya di usia sekolah dan prasekolah. 2. Karakteristik Balita Anak usia 1-3 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Dengan kondisi demikian, sebaiknya anak batita diperkenalkan dengan berbagai bahan makanan. Oleh karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan frekuensi sering. Sedangkan pada usia prasekolah, anak menjadi konsumen aktif yaitu mereka sudah dapat memilih makanan yang disukainya. Oleh karena itu, keadaan lingkungan dan sikap keluarga merupakan hal yang sangat penting dalam pemberian makan pada anak agar anak tidak cemas dan khawatir terhadap makanannya. 3. Kebutuhan Gizi Balita Kebutuhan gizi seseorang adalah jumlah yang diperkirakan cukup untuk memelihara kesehatan pada umumnya. Secara garis besar, kebutuhan gizi ditentukan oleh usia, jenis kelamin, aktivitas, berat badan, dan tinggi badan. Antara asupan zat gizi dan pengeluarannya harus ada keseimbangan sehingga diperoleh status gizi yang baik. Status gizi balita dapat dipantau dengan menimbang anak setiap bulan dan dicocokkan dengan Kartu

35

Menuju Sehat (KMS). Kebutuhan gizi balita terdiri dari kebutuhan energi, kebutuhan zat perkembangan dan kebutuhan zat pengatur. 2.3.6 Menu Seimbang untuk Balita Menu seimbang yaitu gizi yang harus terpenuhi untuk menjaga keseimbangan gizi tubuh,yaitu : a. Karbohidrat seperti nasi, roti, sereal, kentang, atau mie. Selain sebagai menu utama, karbohidrat bisa diolah sebagai makanan selingan atau bekal sekolah seperti pudding roti atau donat kentang yang lezat. b. Buah dan sayur seperti pisang, papaya, jeruk, tomat, dan wortel. Jenis sayuran beragam mengandung zat gizi berbeda. Berikan setiap hari baik dalam bentuk segar atau diolah menjadi jus. c. Susu dan produk olahan susu. Pastikan balita mendapatkan asupan kalsium yang cukup dari konsumsi susunya. d. Protein seperti ikan, susu, daging, telur, kacang-kacangan. Tunda pemberiannya apabila timbul alergi atau dapat diganti dengan sumber protein lain. e. Lemak dan gula seperti yang terdapat dalam minyak , santan, dan mentega, roti, dan kue juga mengandung omega 3 dan 6 yang penting untuk perkembangan otak. Pastikan balita mendapatkan kadar lemak esensial dan gula yang cukup bagi pertumbuhannya. Namun perlu diperhatikan bahwa lemak dan gula tidak digunakan sebagai pengganti jenis makanan lainnya (seperti karbohidrat).

36

2.3.7

Beberapa Masalah Gizi yang timbul pada anak Balita ( Marry E.Barasi,2009) 1. Penolakan terhadap makanan, sulit makan, hanya sedikit jenis makanan yang dimakan dapat diatasi pengasuh perlu memberi dengan cara orang tua atau makan bersama

contoh,

keluarga,memperkenalkan makanan secara bertahap,terus mencoba makanan baru,jangan menawarkan berbagai macam alternatif untuk makanan yang tidak disukai. 2. Kebiasaan makan camilan di antara waktu makan utama-mengurangi nafsu makan pada waktu makan dapat diatasi dengan cara batasi ketersediaan makanan di antara waktu makan utama; makan adalah suatu kegiatan dan bukan sekedar pelengkap untuk aktivitas lain. 3. Tingginya konsumsi jus buah dan minuman ringan dapat diatasi dengan cara memberikan hanya air, jus buah yang diencerkan, minuman ringan hanya sesekali saja. 4. Diet rendah lemak/tinggi serat,yang di anggap sehat oleh orangtua yaitu dengan cara pastikan anak cukup makan untuk memenuhi kebutuhannya; pola pertumbuhan sangatlah penting, produk rendah lemak tidak cocok untuk anak berusia di bawah 2 tahun. Perbanyak makanan utuh secara bertahap selama periode ini, sesuai nafsu makannya. 5. Tingginya konsumsi kudapan-kue, biscuit, keripik, kudapan manis, permen dapat diatasi dengan cara memberikan pilihan kudapan yang

37

lain buah, scone (sejenis roti), yoghurt, roti bakar yang dioles, berondong jagung tanpa tambahan rasa, sereal sarapan kering. 2.3.8 Promosi Gizi Secara medis, kekurangan gizi yang terjadi berkepanjangan akan mengakibatkan kerusakan permanen pada beberapa organ, meski telah dilakukan upaya penyelamatan. Penderita gizi buruk juga rentan terhadap infeksi dan mengalami gangguan fungsi seperti pembengkakan hati, pengecilan otot, dan peradangan kulit. Tentu saja jika tidak ditangani dengan baik, risiko kematian menjadi sangat besar. Dampak gizi buruk yang bersifat permanen sangat dimungkinkan terjadi pada anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Kekurangan gizi pada masa ini, terlebih masa golden period (0-3 tahun), tidak hanya menyebabkan terjadinya gangguan perkembangan fisik, tetapi juga perkembangan mental dan intelektual sang anak akan mengalami gangguan serius. Efeknya terlihat dari rendahnya tingkat kecerdasan, rentan terhadap penyakit, gangguan dalam pemusatan perhatian, lambatnya perkembangan kemampuan kognitif, dan berbagai gangguan lain yang berdampak pada rendahnya kualitas manusia secara umum. Dampak menakutkan dari gizi buruk ini sebenarnya sudah dipahami sejak lama. Tak mengherankan jika berpuluh tahun lalu upaya pengentasan gizi buruk ini sudah dilakukan. Pembentukan Lembaga Makanan Rakyat (LMR) yang digagas Bapak Gizi Indonesia Dr Poorwo Soedarmo pada tahun 1950 adalah salah satu tonggak upaya perbaikan gizi masyarakat secara nasional.

38

Sejak saat itu pula semboyan "empat sehat lima sempurna" begitu akrab di telinga masyarakat. Penanganan gizi buruk haruslah menjadi prioritas yang tidak dapat ditawartawar lagi. Penanganannya tidak hanya sebatas menyediakan sumber makanan yang memenuhi unsur kecukupan gizi, tapi lebih dari itu, upaya peningkatan pengetahuan masyarakat menjadi poin penting yang juga harus dipenuhi. Penyebab gizi buruk di masyarakat tidak semata-mata disebabkan oleh keterbatasan akses masyarakat terhadap produk pangan yang berkualitas sebagai akibat dari kemiskinan. Faktor rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap masalah gizi dan kesehatan, pola konsumsi yang tidak tepat, adanya adat dan kebiasaan yang kurang baik, serta gangguan organ tertentu yang membuat serapan terhadap zat-zat gizi tidak bisa optimal juga dapat menjadi penyebab.Kondisi ini mendorong upaya penyelesaian kasus gizi buruk harus digarap secara multisektoral. Kegiatan promosi dan edukasi terhadap masyarakat tentang gizi harus mendapat perhatian serius. Promosi masalah pengelolaan gizi harus dilakukan secara masif, sehingga informasi tentang bahan makanan bergizi, pengolahan yang tepat, pola konsumsi yang baik serta hal-hal yang berkaitan dengan penanggulangan gizi buruk bisa diperoleh dengan mudah oleh masyarakat, tersebar secara luas dan dilakukan secara terus-menerus. Untuk peningkatan pengetahuan tentang gizi khususnya gizi selama ini telah dijalankan dan diterapkan pada ibu-ibu yang mempunyai bayi dan balita terutama di Posyandu oleh petugas kesehatan masyrakat.

39

2.4 Gizi dan Status gizi balita Menurut data UNICEF kekurangan gizi pada balita menuruti urutan keempat setelah campak, diare, dan infeksi saluran pernafasan. Kekurangan gizi ini timbul karena tidak adanya sumber makanan, pasokan makanan terhambat, dan wabah diare yang dapat mengganggu fungsi saluran pencernaan sehingga menurunkan nafsu makan. Upaya untuk memperbaiki kekurangan gizi pada balita dapat dilakukan dengan terapi, program pemberian makanan, pemeriksaan dan penyuluhan tentang gizi. Kekurangan gizi pada balita dapat menyebabkan beberapa infeksi, lemahnya daya tahan tubuh dan daya tangkap, menghambat perkembangan tubuh dan otak, hingga mengakibatkan kematian. Untuk mengetahui kondisi gizi balita, ada formula tertentu yang bisa dijadikan acuan. Formula tersebut dikeluarkan oleh beberapa ahli dan juga WHO yaitu dengan menggunakan acuan status gizi balita menurut WHO. Status gizi balita menurut WHO adalah mencocokan umur anak (dalam bulan) dengan berat atau tinggi badan standar tabel WHO-NCHS. Jika hasil berat badan anak setelah dicocokan dengan tabel WHO-NCHS masih kurang maka status gizi balita tersebut dinyatakan kurang. Begitu pula dengan tinggi badan, apabila setelah dicocokan tinggi badan masih kurang maka termasuk pendek (stunded). Parameter yang biasa digunakan untuk menentukan status gizi balita adalah dengan menimbang berat badan, mengukur tinggi badan dan lingkar kepala balita. Ciri-ciri balita yang mengalami kondisi gizi kurang dapat dilihat dari kondisi tubuhnya yaitu bertubuh kurus, warna rambut pirang (kemerahan), perut tampak buncit, wajah berbentuk moon face (yang

40

disebabkan oedema atau bengkak), monkey face (wajah keriput), rewel atau cengeng dan kurang posesif (www.anneahira.com).

41

Gambar 2.1 Kerangka Teori

Faktor Predisposisi : -

Pendidikan Pengetahuan Perilaku Kepercayaan Status gizi balita

Faktor pendukung Pendapatan keluarga Makanan bergizi

Faktor pendorong Sikap dan perilaku petugas Media promosi

Sumber : ( Lawrence, Green dalam Notoatmodjo,201

42

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian Rancangan penelitian adalah bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian ( Aziz, 2007). Rancangan penelitian ini dengan menggunakan studi korelasi. Studi korelasi pada hakikatnya merupakan penelitian atau penelahaan hubungan antara dua variabel pada suatu situasi atau sekelompok subjek. Hal ini dilakukan untuk melihat

hubungan antara gejala satu dengan gejala yang lain, atau variabel satu dengan variabel yang lain. Untuk mengetahui korelasi antara suatu variabel dengan variabel lain tersebut diusahakan dengan mengidentifikasi variabel yang ada pada suatu objek, kemudian diidentifikasi pula variabel lain yang ada pada objek yang sama dan dilihat apakah ada hubungan antara keduanya( Notoatmodjo,2010). Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui Hubungan Pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi pada balita di Posyandu Cempaka II Kelurahan Segala Mider Bandar Lampung. 3.2 Kerangka Kerja Penelitian Kerangka kerja penelitian ini adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainnya dari masalah yang ingin diteliti ( Notoatmodjo,2010).

42

Dalam kerangka kerja penelitian dibawah ini menggambarkan bahwa peneliti ingin meneliti hubungan pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi pada balita di Posyandu Cempaka II Kelurahan Segala Mider. Gambar 3.1 Kerangka Kerja Penelitian

Pengetahuan ibu tentang gizi Gambar 3.2 Kerangka Kerja Penelitian 3.3 Hipotesa

Status Gizi pada Balita

Hipotesa pada hakikatnya adalah dugaan sementara terhadap terjadinya hubungan variabel yang akan diteliti ( Notoatmdojo,2010). Adapun hipotesa yang terbukti pada penelitian ini adalah : Ha : Adanya hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan Status Gizi pada Balita di Posyandu Cempaka II Kelurahan Segala Mider. 3.4 Variabel Penelitian Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat, atau ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang suatu konsep pengertian tertentu ( Notoatmodjo,2010 3.4.1 Variabel Independen Variabel Independen merupakan variabel yang mempengaruhi variabel lain, artinya apabila variabel independen berubah maka akan

44

mengakibatkan perubahan variabel lain ( Riyanto,2011). Variabel independen dalam penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang gizi. 3.4.2 Variabel Dependen Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain, artinya variabel dependen berubah akibat perubahan pada variabel bebas ( Riyanto,2011 ). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah status gizi pada balita. 3.5 Definisi Operasional Variabel Agar Variabel dapat diukur dengan menggunakan instrument atau alat ukur , maka variabel harus diberi batasan ( Notoatmodjo,2010). Tabel 1. Definisi Operasional Hubungan pengetahuan ibu tentang Gizi dengan Status Gizi pada Balita di Posyandu Cempaka II Kelurahan Segala Mider Bandar Lampung Tahun 2012. No Variabel Definisi Operasional 1 Penge tahuan ibu tentang gizi Alat Ukur Cara ukur Hasil Ukur Skala ukur

Pengetahuan Kuesioner Mengisi 1. Baik bila Ordinal adalah hasil lembar jawaban dari tahu kuesioner 76-100 % manusia, yang 2. cukup bila meliputi tahu jawaban (pengertian 60-75 % gizi dan status gizi), (fungsi 3. Kurang zat bila gizi),(golongan jawaban zat gizi <60 % makro),(kebutu (Arikunto, han gizi

45

balita),(menu seimbang untuk balita),(pengar uh status gizi pada balita). 2 Status Gizi balita Status Gizi adalah ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutiriture dalam bentuk variabel tertentu.

2006)

Antropom menimban Gizi bailk bila Ordinal etri g BB >80 %, gizi Indeks sedang bila BB/U , 71-80 %, gizi kurang bila 61-70%

3.6 Populasi dan Sampel Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti sedangkan sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi ( Notoatmodjo, 2010). Populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai balita berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan yang rutin mengunjungi Posyandu Cempaka II Kelurahan Segala Mider Bandar Lampung selama 3 bulan terakhir ini. Tekhnik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan total populasi yaitu semua ibu yang memiliki anak usia balita yang berkunjung ke Posyandu Cempaka II kelurahan Segala Mider Bandar Lampung tahun 2012 sebanyak 30 orang. 3.7 Lokasi dan Waktu Penelitian

46

Penelitian ini dilakukan di Posyandu Cempaka II Kelurahan Segala Mider Bandar Lampung pada bulan Juni 2012. 3.8 Pengumpulan Data 3.8.1 Tekhnik Pengumpulan Data Tekhnik pengumpulan data yaitu semua bentuk penerimaan data yang dilakukan dengan cara merekam kejadian, menghitungnya, mengukurnya dan mencatatnya ( Arikunto,2006). Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan alat timbangan dacin. Kuesioner dibagikan kepada semua ibu balita yang berada di Posyandu Cempaka II, kemudian ibu mengisi lembar kuesioner. Sementara para Balita ditimbang menggunakan dacin dengan indeks BB/U , kemudian hasilnya dicatat oleh peneliti. Setelah selesai, lembar kuesioner dikumpulkan kembali kepada peneliti dan hasilnya disesuaikan dengan BB/U dari para balita . 3.8.2 Uji Validitas Instrumen Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrument yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrument kurang valid berarti memiliki validitas rendah. Sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Arikunto, 2006). Untuk mengetahui apakah instrument test yang kita susun tersebut mampu mengukur apa yang tidak kita maka perlu dilakukan uji validitas kuesioner. Uji validitas instrument dalam penelitian ini menggunakan komputer. Soal

47

instrument test berjumlah 20 soal. Item soal dalam instrument test dikatakan valid apabila r hitung > r tabel pada alpha 5 % yang didapatkan nilai signifikansi < 5 %. Pada penelitian ini, peneliti akan menguji kevalidan instrumen test kepada ibu yang mempunyai anak balita yang berkunjung ke Posyandu Cempaka kelurahan Segala Mider Bandar Lampung tahun2012. 3.8.3 Alat Pengumpulan Data Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah timbangan balita berupa timbangan dacin dengan kapasitas 25 kg dengan tingkat ketelitian 0,1 untuk mengetahui berat badan balita dan kuesioner. Pengumpulan data dengan lembar kuesioner tertutup yang meliputi pertanyaan tertulis untuk memperoleh informasi dari responden dalam hal-hal yang dilakukan (Arikunto,2006). 3.9 Pengolahan Data Dalam penelitian ada ungkapan yang mengatakan GIGO (garbage in garbage out). Apabila data yang diolah kualitasnya jelek, maka hasilnya juga jelek. Meskipun menggunakan program komputer secanggih apapun ( Notoatmodjo,2010). Oleh sebab itu untuk mencegah GIGO ini proses pengolahan data ini melalui tahap-tahap sebagai berikut :

48

1. Editing Merupakan kegiatan untuk melakukan pengecekan isian formulir atau kuesioner, jawaban yang ada di kuesioner sudah lengkap, jelas, relevan dan konsisten. 2. Coding Koding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka/bilangan. 1) Jenis kelamin Kode 1 : Laki-laki Kode 2 : Perempuan 2) Pengetahuan ibu tentang gizi Kode 1 : Tinggi (jika skor 76-100% dari jawaban benar) Kode 2 : Sedang (jika skor 60-75% dari jawaban benar) Kode 3 : Rendah (jika skor <60% dari jawaban benar) 3) Status gizi dengan indikator BB/U Kode 1 : Gizi baik Kode 2 : Gizi sedang Kode 3 :Gizi Kurang

49

3. Scoring Pemberian skor pada atribut kuesioner penelitian ini untukmemudahkan dalam entri dan analisa data. Skor 0 = Jika salah Skor 1 = Jika benar 4. Processing Setelah semua lembar observasi diisi oleh peneliti, serta telah melewati pengkodean maka langkah selanjutnya adalah memproses data agar data yang sudah di-entry dapat di analisis, pemprosesan data dilakukan dengan cara meng-entry data dari kuesioner ke paket program komputer. 5. Cleaning Cleaning (membersihkan data) merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di-entry. 3.10 Analisa data 3.10.1 Analisa Univariat Analisa univariat bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo,2010). Pada umumnya, dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. Dalam penelitian ini analisis univariat

50

digunakan untuk menganalisis proporsi paritas tiap variabel dengan menggunakan rumus : P = a x 100 % B Keterangan : P a b : Presentase variabel penelitian : Frekuensi kejadian tiap variabel : Jumlah sampel

3.10.2 Analisa Bevariat Analisis bevariat merupakan analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan atau berkorelasi (Notoatmodjo,2010). Dalam penelitian ini analisis bevariat digunakan untuk menganalisis pengetahuan ibu diduga berhubungan atau berkorelasi dengan status gizi balita. Analisis ini menggunakan uji Chi Square dengan komputerisasi program. Chi Square digunakan untuk menguji perbedaan proporsi atau persentase antara beberapa kelompok data. Pembuktian uji Chi Square dengan menggunakan formula : X2 = ( O-E)2 E (Hastono,Sutanto, 2007) Keterangan : X2 = Chi Square O = Nilai Obeservasi

51

E = Nilai yang diharapkan 3.11 Jadwal Penelitian Jadwal penelitian terlampir