Anda di halaman 1dari 5

Komplikasi Fraktur Oleh Gita Pamela, 1006672491 Komplikasi fraktur dapat diklasifikasikan sebagai komplikasi cepat, awal, dan

lambat. Komplikasi cepat terdiri dari perdarahan, kerusakan arteri dan saraf, dan kerusakan pada jaringan sekitar. Komplikasi awal meliputi infeksi luka, emboli lemak, masalah imobilisasi umum, dan sindrom kompartemen. Sedangkan, komplikasi lambat terdiri dari penyatuan terlambat, penyatuan yang salah, tidak ada penyatuan, deformitas, osteomyelitis, serta nekrosis asepsis dan/atau avaskular. (Brooker, 2008) Komplikasi cepat atau segera biasanya terjadi dalam beberapa jam pertama atau sesaat setelah terjadinya fraktur. Komplikasi cepat, meliputi: 1. Perdarahan Perdarahan dapat berupa kehilangan darah dari tulang yang mengalami fraktu ditambah kehilangan darah dari jaringan disekitar fraktur tersebut (Brooker, 2008). Syok dapat terjadi setelah perdarahan yang terusmenerus dan beberapa jam setelah edema. (Suratun, 2008) 2. Kerusakan arteri dan saraf Cedera vaskular dapat terjadi pada klien fraktur, terutama pada cedera yang terbuka. Arteri dibawah lutut merupakan arteri yang sering mengalami cedera dengan fraktur di bagian distal femur atau proksimal tibia atau dislokasi lutut. Lokasi tersering selanjutnya ialah superficial femoral arteri di adduktor kanal. Lokasi lainnya yang sering mengalami cedera vaskular ialah arteri brakialis pada fraktur supracondylar dari humerus atau dislokasi pada siku, arkus aorta pada fraktur sternal, arteri iliaka pada fraktur panggul, dan arteri aksila pada dislokasi bahu atau fraktur rusuk bagian atas. (Yochum & Rowe, 2005) 3. Kerusakan pada jaringan sekitar Ketika terjadi fraktur, jaringan sekitar juga mengalami kerusakan. Contohnya, kerusakan medula spinalis pada fraktur tulang belakang. (Brooker, 2005) Komplikasi awal terjadi dalam beberapa minggu pertama setelah fraktur. Komplikasi awal, meliputi:

1. Infeksi luka Infeksi luka umumnya terjadi pada fraktur terbuka yang terkontaminasi bakteri sekitar. Maka dari itu, penangannan yang tepat untuk mengurangi risiko infeksi sangatlah penting. 2. Sindrom Emboli lemak Emboli lemak merupakan keadaan pulmonari akut dan dapat menyebabkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung-gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak. Gelembung lemak ini akan melewati sirkulasi dan dapat menyebabkan oklusi pada pembuluh-pembuluh darah pulmonar yang menyebabkan sulit bernafas. Gejala dari sindrom emboli lemak mencakup dyspnea, perubahan dalam status mental (gaduh, gelisah, marah, bingung, stupor), takikardi, demam, dan ruam kulit peteki. Lebih dari 50% dari klien dengan sindrom emboli lemak mengalami fraktur multiple dan termasuk femur, 30% hanya fraktur pada femur, 10% fraktur tibia, 5% fraktur panggul, dan sisanya mengalami fraktur pada tulang-tulang yang lebih kecil. (Yochum & Rowe, 2005) 3. Masalah imobilisasi umum Masalah imobilisasi dapat berupa ulkus dekubitus, thrombosis, serta infeksi dada. Ulkus dekubitus pada klien fraktur dapat terjadi karena penurunan sensitivitas nyeri yang disebabkan rusaknya jaringan-jaringan saraf disekitar fraktur sehingga klien tersebut imobillisasi dan mengalami ulkus dekubitus. (Corwi, 2007) Selain itu, ulkus dekubitus dapat mengalami perparahan seperti gas gangren. Gas gangren berasal dari infeksi yang disebabkan oleh bakterium saprofistik gram-positif anaerob yaitu antara lain Clostridium welchii atau Clostridium perfringens. Clostridium biasanya akan tumbuh pada luka dalam yang mengalami penurunan suplai oksigen karena trauma otot. Jika kondisi ini terus terjadi, maka akan terdapat edema, gelembung-gelembung gas pada tempat luka. Tanpa perawatan, infeksi toksin tersebut dapat berakibat fatal. (Yochum & Rowe, 2005) Cedera yang menyebabkan imobilisasi dan bed rest dapat menyebabkan thrombosis vena, yang nantinya berpotensi sebagai penyebab kematian pada emboli pulmonal. Beberapa lokasi fraktur yang dapat

menyebabkan hal in terjadi ialah panggul dan ekstrimitas bawah. (Yochum & Rowe, 2005) 4. Sindrom kompartemen Komplikasi ini terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang tertutup di otot, tetapi fasia fibrosa tidak dapat mengembang sehingga edema dan tekanan meningkat sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan berikutnya menyebabkan kerusakan pada otot atau iskemia. Hal ini dapat menyebabkan nekrosis permanen. Penyebab sindrom kompartemen antara lain balutan atau gips terlalu ketat, perdarahan, trauma, luka bakar, dan pembedahan. Pengobatan yang sering dilakukan adalah fasiotomi, dan dilakukan dalam 25 sampai 30 jam setelah awitan prognosisnya baik. Fasiotomi meliputi pembukaan kulit, jaringan subkutis, dan fasia yang membungkus kompartemen. Otot yang bengkak mungkin menonjol melalui insisi sehingga terjadi dekompresi kompartemen dan pulihnya perfusi jaringan. (Gruendemann & Fernsebner, 2005) Gejala-gejalanya mencakup rasa sakit karena ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit yang berhubungan dengan tekanan yang berlebihan pada kompartemen, rasa sakit dengan perenggangan pasif pada otot yang terlibat, dan paresthesia. Komplikasi ini terjadi lebih sering pada fraktur tulang kering (tibia) dan tulang hasta (radius atau ulna). (Muscari, 2005) Komplikasi lambat biasanya terjadi dalam beberapa bulan sampai beberapa tahun kemudian. Komplikasi lambat ini juga dapat berupa komplikasi dari tindakan terhadap fraktur yang terjadi sebelumnya. Komplikasi ambat, meliputi: 1. Penyatuan terlambat (Delayed Union) Penyatuan fraktur terlamat ialah saat fraktur tidak menyatu pada waktu yang diperkirakan. (Brooker, 2008) Penyatuan terlambat ini disebabkan oleh tersebarnya jaringan yang mengalami cedera, supply darah yang membawa O2 tidak adekuat, infeksi, fragmen tulang mati, dan traksi yang terlalu banyak. 2. Penyatuan yang salah (Malunion) Hal ini terjadi saat tulang yang fraktur sudah menyatu sepenuhnya tetapi pada posisi yang salah dan mungkin memerlukan pembedahan

tergantung pada disabilitas dan hasil potensial. (Brooker, 2008) 3. Tidak ada penyatuan (Non Union) Non union merupakan dampak terakhir dari delayed union. Faktor faktor yang dapat menyebabkan non union adalah tidak adanya imobilisasi, interposisi jaringan lunak, pemisahan lebar dari fragmen contohnya patella dan fraktur yang bersifat patologis. Bukan masalah yang serius pada tulang yang tidak menyangga bagian tubuh yang berat, tetapi mungkin perlu dilakukan fiksasi internal atau transplan tulang. (Brooker, 2008) 4. Deformitas Deformitas umumnya terjadi pada cedera tulang belakang. Akan tetapi ada juga deformitas ekuinus pada kaki yang biasanya bersamaan dengan deformitas varus dan valgus. Penyebab utama deformitas ini adalah ketidakseimbangan otot dan pengaruh gaya gravitasi. Jika otot-otot ekstensor kaku mengalami paralisis, maka otot fleksor, terutama otot trisep surae akan mengkerut. Paralisis ekstensor juga menyebabkan drop foot, di mana suatu saat akan mengakibatkan deformitas ekuinus yang terfiksasi. Dengan demukian klien akan berjalan dengan menggunakan jari-jari kakinya. (WHO, 1996) 5. Osteomyelitis Osteomyelitis merupakan infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum dan korteks tulang dapat berupa exogenous (infeksi masuk dari luar tubuh) atau hematogenous (infeksi yang berasal dari dalam tubuh). Patogen dapat masuk melalui luka fraktur terbuka, luka tembus, atau selama operasi. Luka tembak, fraktur tulang panjang, fraktur terbuka yang terlihat tulangnya, luka amputasi karena trauma dan fraktur-fraktur dengan sindrom kompartemen atau luka vaskular memiliki risiko osteomyelitis yang lebih besar. 6. Nekrosis asepsis dan/atau avascular Nekrosis avaskular dapat terjadi saat suplai darah ke tulang kurang baik. Hal ini paling sering mengenai fraktur intrascapular femur (yaitu kepala dan leher), saat kepala femur berputar atau keluar dari sendi dan menghalangi suplai darah. Karena nekrosis avaskular mencakup proses yang

terjadi dalam periode waktu yang lama, klien mungkin tidak akan merasakan gejalanya sampai dia keluar dari rumah sakit. Oleh karena itu, edukasi pada klien merupakan hal yang penting. Perawat harus menyuruh klien supaya melaporkan nyeri yang bersifat intermiten atau nyeri yang menetap pada saat menahan beban. Komplikasi pada klien fraktur dapat terjadi karena beberapa hal seperti yang telah disebutkan di atas. Komplikasi yang terjadi juga berdasarkan waktu terjadinya fraktur, dapat terjadi secara cepat, awal, dan lambat. Suatu komplikasi juga dapat menyebabkan komlikasi yang lainnya. Daftar Pustaka: Brooker, C. (2008). Ensiklopedia Keperawatan; Terj. Andry Hartono. Jakarta: EGC. Corwin, E. J. (2009). Patofisiologi: Buku Saku Ed. 3; Terj. Nike Budhi Subekti. Jakarta: EGC. Gruendemann, B. J., Fernsebner, B. (2005). Buku Ajar Keperawatan Perioperatif, Vol. 2 Praktik; Terj. Brahm U. Pendit. Jakarta: EGC. Muscari, M. E. (2005). Panduan Belajar: Keperawatan Pediatrik Ed. 3; Terj. Esty Wahyuningsih. Jakarta: EGC. Suratun, et al. (2008). Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal: Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC. World Health Organization. (1996). Poliomielitis dan Dasar-dasar Pembedahan Rehabilitasi: Teknik-teknik untuk Rumah Sakit Daerah; Terj. Hadyanto. Jakarta: EGC. Yochum, T. R., Rowe, L. J. (2005). Yochum and Rowes Essentials of Skeletal Radiology 3rd Ed. 1st Vol. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.