Anda di halaman 1dari 34

Kejahatan Seksual dan Perlakuan Kejam pada Anak

Yusta Wetri Handayani NIM : 102008088 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jl.Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 Email: b_yusta@yahoo.com

Pendahuluan
Dewasa ini dalam penyidikan suatu tindak kriminal merupakan suatu keharusan menerapkan pembuktian dan pemeriksaan bukti fisik secara ilmiah. Sehingga diharapkan tujuan dari hukum acara pidana, yang menjadi landasan proses peradilan pidana, dapat tercapai yaitu mencari kebenaran materiil. Tujuan ini yaitu: untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan. Adanya pembuktian ilmiah diharapkan polisi, jaksa, dan hakim tidaklah mengandalkan pengakuan dari tersangka atau saksi hidup dalam penyidikan dan menyelesaikan suatu perkara. Karena saksi hidup dapat berbohong atau disuruh berbohong, maka dengan hanya berdasarkan keterangan saksi dimaksud, tidak dapat dijamin tercapainya tujuan penegakan kebenaran dalam proses perkara pidana dimaksud. Dalam pembuktian dan pemeriksaan secara ilmiah, kita mengenal istilah ilmu forensik dan kriminologi. Secara umum ilmu forensik dapat diartikan sebagai aplikasi atau

pemanfaatan ilmu pengetahuan tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan. Kejahatan terhadap kesusilaan dapat berupa persetubuhan,pencabulan maupun pelecehan seksual. Dewasa ini kejahatan susila atau kejahatan seksual makin marak terjadi, terutama anak-anak di bawah umur sebagai korbannya. Dengan alas an tindak kejahatan yang beraneka ragam, tidak dipungkiri anak-anak merupakan korban yang paling rentan namun juga paling mudah menjadi korban kejahatan susila. Dampak yang diakibatkan pasca kejahatan susila terhadap seorang anak sangatlah berbahya, baik dalam segi fisik maupun psikis. Hal tersebut lah yang menyebabkan rusaknya kepribadian dan terjadinya gangguan perkembangan dari anak tersebut.

Aspek Hukum dan Prosedur Medikolegal


Pasal 284 KUHP (1) Diancam dengan pidana penjara paling lama 9 tahun: a. Seorang pria telah kawin yang melakukan jinah, padahal diketahui, bahawa pasal 27 BW berlaku baginya. b. Seorang wanita telah kawin yang melakukan jinah, padahal diketahui, bahawa pasal 27 BW berlaku baginya. Delik aduan, dalam 3 bulan harus disusul dengan upaya cerai1 Pasal 285 KUHP Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkahwinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.

Pasal 286 KUHP Barangsiapa bersetubuh dengan wanita di luar perkahwinan, pada hal diketahui bahawa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama 9 tahun. Pasal 287 KUHP (1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkahwinan, pada hal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahawa umurnya belum 15 tahun, atau kalau umurnya tidak ternyata, bahawa belum mampu dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama 9 tahun. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umurnya wanita belum sampai 12 tahun atau jika ada salah suatu hal tersebut pasal 291 dan pasal 294. Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut undangundang belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang bersangkutan dengan keadaan itu persetubuhan tersebut merupakan delik aduan, bila tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan. Tetapi keadaan akan berbeda jika: a. Umur korban belum cukup 12 tahun; b. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat perbuatan itu (KUHP ps. 291); atau c. Korban yang belum cukup 15 tahun itu adalah anaknya, anak tirinya, muridnya, anak yang berada dibawah pengawasanya, bujangnya atau bawahannya (ps. 294). Dalam keadaan diatas, penuntutan dapat dilakukan, walaupun tidak ada pengaduan karena merupakan delik aduan.

Pasal 288 KUHP (1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di dalam perkahwinan, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahawa belum mampu dikahwin, diancam, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka dengan pidana penjara paling lama 4 tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka berat, dipidana 8 tahun. (3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama 12 tahun. UU No 1/74 tentang perkahwinan mensyaratkan usia kawin 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki laki1 Pasal 289 KUHP Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara maksimum 9 tahun. Sering digunakan sebagai tuntutan subside pada perkosaan yang persetubuhannya tidak terbukti.1 Pasal 290 KUHP Diancam dengan pidana paling lama 7 tahun: 1. Barangsiapa melakukan perkara cabul dengan seseorang pada hal diketahui, bahawa orang itu pingsan atau tidak berdaya; 2. Barangsiapa melakukan perkara cabul dengan seseorang pada hal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahawa umurnya belum 15 tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahawa belum mampu dikawin; 3. Barangsiapa membujuk seseorang yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahawa umurnya belum 15 tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahawa belum

mampu dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkahwinan dengan orang lain. Pasal 81 UU 23/2002 Tentang Perlindungan Anak Dengan kekerasan atau ancaman memaksa anak ( belum 18 tahun ) bersetubuh dengannya atau orang lain dipidana maksimum 3 hingga 15 tahun dan denda Rp 60 juta hingga Rp 300 juta. Pasal 82 UU 23/2002 Tentang Perlindungan Anak Dengan kekerasan atau ancaman tipuan, kebohongan, bujukan, terhadap anak ( belum 18 tahun ) berbuat cabul dengannya atau orang lain, dipidana maksimum 3 hingga 15 tahun dan denda Rp 60 juta hingga Rp 300 juta.1,2

Prosedur Hukum Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Kalau korban dating sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi, jagn diperiksa, suruh korban kembali kepada polisi. Setiap Visum et Repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan pada tubuh korban pada waktu permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter. Bila dokter telah memeriksa korban yang datag dirumah sakit, atau ditempat praktek atas inisiatif sendiri, bukan atas pemintaan polisi, dan beberapa waktu kemudian polisi mengajukan permintaan dibuatkan Visum et Repertum, maka ia harus menolak, kerana segala sesuatu yang diketahui oleh dokter tentang diri korban sebelum ada permintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum merupakan rahasia kedokteran yang wajib disimpannya ( KUHP Pasal 322 ). Dalam keadaan seperti itu, dokter dapat meminta kepada polisi supaya korban dibawa kembali kepadanya dan Visum et Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan diajukan.

Hasil pemeriksaan yang lalu tidak diberikan dalam bentuk Visum et Repertum, tapi dalam bentuk surat keterangan. Hasil pemeriksaan sebelum diterimanya surat permintaan pemeriksaan dan bukan sebagai corpus dilicti ( benda bukti ).1 Ijin tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta pada korban sendiri atau jika korban adalah seorang anak, dari oaring tua atau walinya. Jelaskan terlebih dahulu tindakan tindakan apa yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampai ke pengadilan. Hal ini perlu diketahui walaupun pemeriksaan dilakukan atas permintaan polisi, belum tentu korban akan menyetujui pemeriksaan itu dan tidak menolaknya. Selain itu bagian yang akan diperiksa merupakan the most private part dari tubuh seorang wanita. Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter ketika pemeriksaan korban. Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin jangan ditunda terlampau lama. Hindarkan korban dari menunggu dengan perasaan was-was dan cemas dia kamar pemeriksaan. Apalagi bila korban adalah seorang anak. Semua yang ditemukan harus dicatat, jangan tergantung pada ingatan semata. Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin. Dengan adanya visum et Repertum, perkaea cepat dapat diselesaikan. Seorang terdakwa dapat cepat dibebaskan dari tahanan, bila ternyata ia tidak bersalah. Kadang-kadang dokter yang sedang berpraktek pribadi diminta oleh ibu atau bapa untuk memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi apakah anaknya masih perawan, atau karena curiga jika atas diri anaknya baru terjadi persetubuhan. Dalam hal ini, perlu ditanyakan dahulu maksud pemeriksaan, apakah sekadar ingin mengetahui sahaja, atau ada maksud untuk melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan akan melakukan penuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Katakana bahawa pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan biasanya dilakukan di rumah sakit. Ada baiknya jika dokter memberikan penerangan pada ibu atau bapa itu, bahawa jika umur anaknya sudah 15 tahun, dan jika terjadinya persetubuhan tidak dengan paksaan maka menurut undang-undang, lelaki bersangkutan tidak dapat dituntut. Pengaduan mungkin hanya akan merugikan anaknya saja. Lebih baik jika orang tua itu dianjurkan untuk meminta nasehat dari seorang pengacara.

Jika orang tua hanya sekadar ingin mengetahui saja maka dokter dapat melakukan pemeriksaan. Tetapi jelaskan lebih dahulu bahawa hasil pemeriksaan tidak akan dibuat dalam bentuk surat keterangan, karena kita tidak mengetahui untuk apa surat keterangan itu. Mungkin untuk melakukan penuntutan atau untuk menuduh seseorang yang tidak bersalah. Dalam keadaan demikian umumnya anak tidak mau diperiksa. Sebaliknya orang tua malah mendesaknya. Sebaiknya dokter meminta izin tertulis untuk memeriksa dan memberitahukan hasil pemeriksaan kepada orang tuanya1.

Prosedur Medikolegal
Prosedur medikolegal adalah tata-cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran. Pasal 133 KUHAP (1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. (2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. (3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuatkan identitas mayat, dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.1

Penjelasan pasal 133 KUHAP (2) keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan. Keputusan Menkeh No. M.01PW.07-03tahun 1982 Tentang Pedoman Pelaksanaan KUHAP Dari penjelasan Pasal 133 ayat (2) menimbulkan beberapa masalah antara lain sebagai berikut: a. Keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran kehakiman itu alat bukti sah atau tidak. Sebab apabila bukan alat bukti yang sah tentunya penyidikan mengusahakan alat bukti lain yang sah dan ini berarti bagi daerah-daerah yang belum ada dokter ahli kedokteran kehakiman akan mengalami kesulitan dan penyidikan dapat terhambat. Hal ini tidak menjadi masalah walaupun keterangan dari dokter bukan ahli kedokteran kehakiman itu bukan sebagai keterangna ahli, tetapi keterangan itu sendiri dapat merupakan petunjuk dan petunjuk itu adalah alat bukti yang sah, walaupun nilainya agak rendah, tetapi diserahkan saja pada hakim yang menilainnya dalam sidang1. Pasal 183 KUHAP Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurangkurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melalukannya. Pasal 216 KUHAP (1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk

mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak Sembilan ribu rupiah. (2) Disamakan dengan pejabat tersebut diatas, setiap orang yang menurut ketentuan undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas menjalankan jabatan umum. (3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka pidananya dapat ditambah sepertiga1. Pasal 222 KUHAP Barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan

pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.1 Pasal 48 KUHP Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana MA 117/K/Kr/1968 2 juli 1969 Dalam :noodtoestand: harus dilihat adanya: 1. Pertentangan anatara dua kepentingan hukum 2. Pertenttangan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum 3. Pertentangan antara dua kewajiban hukum Pasal 49 KUHP (1) Tidak dipidana, barang siapa melakukan perbuatan pembelaan terpaksa untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, kehormatan kesusilaan atau harta benda sendii

maupun orang lain, karena ada serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat pada saat itu yang melawan hukum (2) Pembelaan terpaksa yang melampui batas, yang langsung disebabkan keguncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana. Pasal 50 KUHP Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana.

Bioetik Kedokteran
Peraturan pemerintah No. 10 tahun 1966 yang mengatur tentang kewajiban simpan rahasia kedokteran mewajibkan seluruh tenaga kesehatan untuk menyimpan segala sesuatu yang diketahuinya selama melakukan pekerjaan dibidang kedokteran sebagai rahasia. Namun PP tersebut memberikan pengecualian sebagaimana terdapat dalam pasal 2, yaitu apabila terdapat peraturan perundang-undangan yang sederajat (PP) atau yang lebih tinggi (UU) yang mengatur lain.8 Baik UU kesehatan maupun UU praktik kedokteran juga mewajibkan tenaga kesehatan untuk menyimpan rahasia peluang pengungkapan informasi kesehatan secara terbatas, yaitu dalam pasal 48 ayat (2): a. Untuk kepentingan kesehatan pasien b. Untuk memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakan hukum. c. Permintaan pasien sendiri. d. Berdasarkan ketentuan undang-undang. Ketentuan pasal 50 KUHP yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan dipidana oleh karena melakukan suatu perbuatan untuk menjalankan undang-undang memperkuat

10

peluang bagi tenaga kesehatan dalam keadaan dan situasi tertentu dapat membuka rahasia kedokteran tanpa diancam pidana. Hal ini mengakibatkan bebasnya para dokter dan tenaga administrasi kesehatan dalam membuat visum et repertum (kewajiban dalam KUHAP) dan dalam menyampaikan pelaporan tentang statistic kesehatan, penyakit wabah dan karantina (diatur dalam UU terkait). Alasan lain yang memperbolehkan membuka rahasia kedokteran adalah adanya ijin atau persetujuan atatu kuasa dari pasien itu sendiri, perintah jabatan (pasal 51 KUHP), daya paksa (pasal 48 KUHP), dan dalam rangka membela diri (pasal 49 KUHP). Selain itu etika kedokteran membenarkan pembukaan rahasia kedokteran secara terbatas untuk kepentingan konsultasi profesional, pendidikan dan penelitian. Permenkes No.749a peluang bagi penggunaan rekam medis untuk pendidikan dan penelitian.8 Dalam kaitannya dengan yang memaksa dikenal dua keadaan, yaitu pengaruh daya paksa yang memadai (overmacht) dan keadaan yang memaksa (noodtoestand). Noodstoestand dapat diakibatkan oleh tiga keadaan, yaitu adanya pertentangan antara dua kepentingan hukum, pertentangan antara kepentingan hukum dengan kewajiban hukum, pertentangan antara dua kewajiban hukum. Dalam menggunakan alasan-alasan yang bersifat hukum di atas haruslah dilakukan dengan pertimbangan yang matang, dan sebaiknya hanya dilakukan oleh dokter yang bersangkutan dan atau pimpinan saran kesehatan tersebut. Salah satu contoh dari noodstoestan diatas adalah apabila seorang dokter menemui kasus korban child abuse yang berat atau patut diduga akan terjadi pengulangan yang lebih berat dikemudian hari. Dalam hal ini, menjaga rahasia kedokteran adalah kewajiban hukum bagi dokter, namun memberitahukan peristiwa ini kepada pihak yang berwenang adalah demi membela kepentingan hukum pasien (si anak). Lebih jauh dapat dikatakan bahwa apabila ia tidak memberitahukan kepada pihak yang berwenang maka keadlian akan tidak tercapai dan si anak mungkin akan diperburuk keadaannya (bertentangan dengan prinsip etika kedokteran beneficence dan non-malefance).8 juga memberi

11

Pemeriksaan Medis
Pemeriksaan dilakukan untuk melihat apakah terdapat tanda-tanda kekerasan, tanda persetubuhan dan juga untuk melihat apakah terdapat trace evidence pada korban. Pakaian korban sewaktu terjadi persetubuhan harus diperlakukan sebagai bahan bukti dan dikirim ke laboratorium forensik di kepolisian atau bagian ilmu Kedokteran Forensik, dibungkus, segel serta membuat berita acara pembungkusan dan penyegelan. Rambut dan barang bukti lain yang ditemukan juga diperlakukan serupa. Anamnesis

Sewaktu melakukan anamnesis terhadap korban kejahatan seksual, harus diingatkan bahwa keterangan yang diberikan korban tidak selalu benar karena sering kali terdorong oleh berbagai maksud dan perasaan. Anamnesis seharusnya dipisahkan dari Visum et Repertum dan dimasukkan ke dalam lampiran dengan judul keterangan yang diperoleh dari korban. Anamnesis korban kejahatan seksual terdiri dari bagian bersifat umum dan khusus3.

Anamnesis umum Identitas pasien seperti nama, umur, tanggal lahir dan tempat lahir, status perkawinan, dll Siklus haid Penyakit lain terutama penyakit kandungan dan penyakit kelamin Riwayat persetubuhan meliputi pernah bersetubuh atau tidak, persetubuhan yang terakhir dan apakah menggunakan kondom.

Anamnesis khusus Waktu kejadian : tanggal dan jam apabila selang waktu kejadian and waktu pelaporan beberapa hari/minggu, dapat diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan. Ditanyakan tempat kejadian : sebagai petunjuk pencarian trace evidence. Ditanyakan apakah korban melawan.
12

Ditanyakan apakah korban pingsan. Ditanyakan apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi, apakah setelah kejadian korban mencuci, mandi dan mengganti pakaian3. Pemeriksaan Luar PEMERIKSAAN PADA KORBAN

Pakaian Pakaian ditentukan helai demi helai dan dilihat apakah terdapat robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian, kancing terputus akibat tatikan, bercak darah, air mani, lumpur dan lain-lain yang mungkin berasal dari tempat kejadian. Dicatat juga apakah pakaian rapi atau tidak, benda yang melekat dan pakaian yang mengandung trace evidence dikirim ke laboratorium2.

Pemeriksaan Tubuh 1) Dijelaskan penampilan, keadaan emosional dan tanda-tanda bekas hilang kesedaran atau diberikan obat seperti needle marks. Pada kasus yang diduga terjadi kehilangan kesadaran hendaklah dilakukan pemeriksaan urin dan darah. 2) Dilihat adanya atau tidak tanda-tanda kekerasan, memer atau luka lecet pada daerah mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam dan pinggang. 3) Dicatat perkembangan alat kelamin\ sekunder, pemeriksaan refleks cahaya pupil, tinggi dan berat badan, tekanan darah, keadaan jantung dan abdomen. 4) Dilihat juga apakah terdapat trace evidence yang melekat pada tubuh korban dan sekiranya ada, diambil dan diperlakukan seperti bahan bukti. Pemeriksaan Khusus (Bagian Genitalia)2 Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan speculum hanya apabila pemeriksaan mengijinkan dan sebaiknya dilakukan oleh dokter spesialis obstetrik dan ginekologi.

13

1) Rambut kemaluan Ada atau tidaknya rambut melekat karena air mani mengering. Rambut digunting untuk pemeriksaan laboratorium dan untuk perbandingan dengan rambut kemaluan pria tersangka. 2) Cari bercak air mani sekitar alat kelamin, kerok dengan sisi tumpul skalpel atau swab dengan kapas lidi dibasahi garam fisiologis 3) Vulva Tanda-tanda kekerasan seperti hiperemi,edema, memar dan luka lecet akibat goresan kuku. Introitus vagina dilihat apakah ada tanda-tanda kekerasan. Bahan sampel dari vestibulum diambil untuk pemeriksaan sperma.

4) Selaput dara Apakah ruptur atau tidak, Tentukan apakah ruptur baru atau lama. Pada ruptur lama, robekan menjalar sampai insertion disertai adanya jaringan parut di bawahnya. Catat lokasi ruptur dan apakah sampai insertion atau tidak. Ukur lingkaran orifisium dengan cara memasukkan ujung kelingking atau telunjuk perlahan-lahan sehingga teraba selaput dara menjepit ujung jari. Ukur lingkaran ujung jari pada batas ini. Ukuran pada seorang perawan kira-kira 2,5cm dan lingkaran yang memungkinkan persetubuhan adalah 9cm. Harus ingat bahwa persetubuhan tidak selalu terjadi deflorasi.

5) Frenulum labiorum pudenda dan commisura labiorum posterior diperiksa untuk melihat utuh atau tidak. 6) Perlu juga dilakukan pemeriksaan untuk melihat apakah ada atau tidak penyakit kelamin2,3.

14

PEMERIKSAAN PADA PRIA TERSANGKA

Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi: 1) Pakaian 2) Rambut kemaluan Diambil sebagai bahan pembanding sekiranya terdapat rambut yang ditemukan di kemaluan korban. 3) Bercak semen Dicatat apakah adanya bercak semen. Tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak perlu ditentukan

4) Darah Kemungkinan darah dari deflorasi. Dilakukan pemeriksaan golongan darah yang ditemukan.

5) Tanda bekas kekerasan Akibat perlawanan oleh korban

6) Pemeriksaan sel epitel vagina pada glans penis Untuk menentukan apakah pria baru melakukan persetubuhan. Dilakukan dengan menekan kaca objek pada glans penis, daerah corona atau frenulum. Kemudian diletakkan terbalik di atas cawan berisi lugol sehingga uap yodium mewarnai lapisan kaca objek tersebut. Sitoplasma sel epitel vgina akan berwarna coklat tua karena mengandungi glikogen. 7) Dilakukan pemeriksaan secret urethra untuk menetukan apakah ada atau tidak penyakit kelamin2,3.

Pemeriksaan Laboratorium
Lakukan pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium. Untuk pemeriksaan cairan mani dan sel mani dalam lendir vagina, lakukan dengan mengambil lendir vagina

15

menggunakan pipet pasteur atau diambil dengan ose batang gelas, atau swab. Bahan diambil dari forniks posterior, bila mungkin dengan spekulum.

Pada anak-anak atau bila selaput dara utuh, pengambilan bahan sebaiknya dibatasi dari vestibulum saja. Pemeriksaan terhadap kuman N. Gonorrhoea : dari sekret urether (urut dengan jari) dan dipulas dengan Pewarnaan Gram. Pemeriksaan dilakukan pada hari ke-I, III, V dan VII. Jika pada pemeriksaan didapatkan N. Gonorrhoea berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seseorang penderita, bila pada pria tertuduh juga ditemukan N. Gonorrhoea, ini merupakan petunjuk yang cukup kuat. Jika terdapat ulkus, sekret perlu diambil untuk pemeriksaan serologik dan bakteriologik. Pemeriksaan kehamilan dan pemeriksaan toksikologik terhadap urin dan darah juga dilakukan bila ada indikasi.

Pemeriksaan pria tersangka dapat dilakukan terhadap pakaian, catat adanya bercak semen, darah dan sebagainya. Bercak semen tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak perlu ditentukan. Darah mempunyai nilai karena kemungkinan berasal dari darah deflorasi. Disini penentuan golongan darah penting untuk dilakukan. Mungkin dapat ditemukan tanda kekerasan akibat perlawanan oleh korban. Untuk mengetahui apakah seorang pria baru melakukan persetubuhan, dapat dilakukan pemeriksaan ada tidaknya epitel vagna pada glans penis.

Pemeriksaan terhadap sel epitel vagina pada glans penis dapat dilakukan dengan menekan kaca obyek pada glans penis, daerah korona atau frenulum, kemudian diletakkan terbalik di atas cawan yang berisi larutan lugol. Uap yodium akan mewarnai lapisan pada kaca obyek tersebut. Sitoplasma epitel vagina akan berwarna coklat tua karena mengandung glikogen. Warna coklat tadi cepat hilang namun dengan meletakkan kembali sediaan di atas cairan lugol maka warna coklat akan kembali lagi. Pada sediaan ini dapat pula ditemukan adanya spermatozoa tetapi tidak mempunyai arti apa-apa3,4.

16

PEMERIKSAAN CAIRAN MANI

Cairan mani merupakan cairan agak kental, bewarna putih kekuningan, keruh, dan berbau khas. Cairan mani pada saat ejakulasi kental kemudia akibat enzim proteolitik menjadi cair dalam waktu yang singkat (10-20menit). Dalam keadaan normal, volume cairan mani 3-5 ml pada satu kali ejakulasi dengan pH 7.2-7.6. cairan mani mengandung spermatozoa, sel-sel epitel dan sel-sel lain yang tersuspensi dalam cairan yang disebut plasma seminal yang mengandung spermin dan beberapa enzim seperti Fofastase asam. Spermatozoa mempunyai bentuk khas untuk spesies tertentu dengan jumlah yang bervariasi, biasanya antara 60 samapi 120 juta per ml. Untuk menentukan adanya cairan mani dalam vagina guna membuktikan adanya suatu persetubuhan, perlu diambil bahan forniks posterior vagina dan dilakukan pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium sebagai berikut2:

Penentuan spermatozoa (mikroskopis) Tujuan : Menentukan adanya sperma - Bahan pemeriksaan : cairan vagina - Metode pemeriksaan :

1. Tanpa pewarnaan Untuk melihat motilitas spermatozoa. Pemeriksaan ini paling bermakna untuk memperkirakan saat terjadinya persetubuhan Cara pemeriksaan : Letakkan satu tetes cairan vagina pada kaca objek kemudian ditutup. Periksa dibawah mikroskop dengan pembesaran 500 kali. Perhatikan pergerakkan spermatozoa. Hasil : Umumnya disepakati dalam 2 3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan spermatozoa yang bergerak dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini sampai 3 4 jam. Berdasarkan beberapa penelitian, dapat disimpulkan bahwa spermatozoa masih

17

dapat ditemukan 3 hari, kadang kadang sampai 6 hari pasca persetubuhan. Pada orang mati, spermatozoa masih dapat ditemukan hingga 2 minggu pasca persetubuhan, bahkan mungkin lebih lama lagi2.

2. Dengan Pewarnaan Cara pemeriksaan : Buat sediaan apus dan fiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala api. Pulas dengan HE, biru metilen atau hijau malakit. Cara pewarnaan yang mudah dan baik untuk kepentingan forensik adalah pulasan dengan hijau malakit dengan prosedur sebagian berikut : Buat sediaan apus dari cairan vaginal pada gelas objek, keringkan diudara, dan fiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala api, warnai dengan Malachitegreen 1% dalam air, tunggu 10-15 menit, cuci dengan air, warnai dengan larutan Eosin Yellowish 1 %dalam air, tunggu selama 1 menit, cuci lagi dengan air, keringkan dan periksa dibawah mikroskop. Hasil : Keuntungan dengan pulasan ini adalah inti sel epitel dan leukosit tidak terdiferensiasi, sel epitel berwarna merah muda merata dan leukosit tidak terwarnai. Kepala spermatozoa tampak merah dan lehernya merah muda, ekornya berwarna hijau Bila persetubuhan tidak ditemukan, belum tentu dalam vagina tidak ada ejakulat karena kemungkinan azoosperma atau pascavasektomi. Bila hal ini terjadi, maka perlu dilakukan penentuan cairan mani dalam cairan vagina2. Penentuan Cairan Mani (kimiawi)

Untuk membuktikan terjadinya ejakulasi pada persetubuhan dari ditemukan cairan mani dalam sekret vagina, perlu dideteksi adanya zat-zat yang banyak terdapat dalam cairan mani, yaitu dengan pemeriksaan laboratorium :

18

a. Reaksi Fosfatase Asam Merupakan tes penyaring adanya cairan mani, menentukan apakah bercak tersebut adalah bercak mani atau bukan, sehingga harus selalu dilakukan pada setiap sampel yang diduga cairan mani sebelum dilakukan pemeriksaan lain. Reaksi fosfatase asam dilakukan bila pada pemeriksaan tidak ditemukan sel spermatozoa. Tes ini tidak spesifik, hasil positif semu dapat terjadi pada feses, air teh, kontrasepsi, sari buah dan tumbuh-tumbuhan2.

Dasar reaksi (prinsip) :

Adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan oleh kelenjar prostat. Enzim fosfatase asam menghidrolisis natrium alfa naftil fosfat. Alfa naftol yang telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamin menghasilkan zat warna azo yang berwarna biru ungu. Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah cairan vaginal. Reagen :

Larutan A a. Brentamin Fast Blue B 1 g (1) b. Natrium asetat trihidrat 20 g (2) c. Asam asetat glasial 10 ml (3) d. Askuades 100 ml (4)

(2) dan (3) dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan penyangga dengan pH 5, kemudian (1) dilarutkan dalam larutan peyangga tersebut.

Larutan B Natrium alfa naftil fosfat 800 mg + aquades 10 ml. 89 ml Larutan A ditambah 1 ml larutan B, lalu saring cepat ke dalam botol yang berwarna gelap. Jika disimpan dilemari es, reagen ini dapat bertahan berminggu-minggu dan adanya endapan tidak akan mengganggu reaksi2.

19

Cara pemeriksaan : Bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang terlebih dahulu dibasahi dengan aquades selama beberapa menit. Kemudian kertas saring diangkat dan disemprotkan / diteteskan dengan reagen. Ditentukan waktu reaksi dari saat penyemprotan sampai timbul warna ungu, karena intensitas warna maksimal tercapai secara berangsur-angsur. Hasil : Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase memberikan warna serentak dengan intensitas tetap, sedangkan bercak yang mengandung enzim tersebut memberikan intensitas warna secara berangsur-angsur. Waktu reaksi 30 detik merupakan indikasi kuat adanya cairan mani. Bila 30 65 detik, masih perlu dikuatkan dengan pemeriksaan elektroforesis. Waktu reaksi > 65 detik, belum dapat menyatakan sepenuhnya tidak terdapat cairan mani karena pernah ditemukan waktu reaksi > 65 detik tetapi spermatozoa positif. Enzim fosfatase asam yang terdapat di dalam vagina memberikan waktu reaksi rata-rata 90 100 detik. Kehamilan, adanya bakteri-bakteri dan jamur, dapat mempercepat waktu reaksi.

b. Reaksi Florence Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermia/tidak ditemukan spermatozoa atau cara lain untuk menentukan semen tidak dapat dilakukan. Dasar : Menentukan adanya kolin. Reagen (larutan lugol) dapat dibuat dari : Kalium yodida 1,5 g Yodium 2,5 g Akuades 30 ml Cara pemeriksaan : Cairan vaginal ditetesi larutan reagen, kemudian lihat dibawah mikroskop. Hasil : Bila terdapat mani, tampak kristal kolin periodida coklat berbentuk jarum dengan ujung sering terbelah.

20

Test ini tidak khas untuk cairan mani karena bahan yang berasal dari tumbuhan atau binatang akan memperlihatkan kristal yang serupa tetapi hasil postif pada test ini dapat menentukan kemungkinan terdapat cairan mani dan hasil negative menentukan kemungkinan lain selain cairan mani2,4.

c. Reaksi Berberio

Reaksi ini dilakukan dan mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan spermatozoa. Dasar reaksi :

Menentukan adanya spermin dalam semen.

Reagen :

Larutan asam pikrat jenuh.

Cara pemeriksaan (sama seperti pada reaksi Florence) :

Bercak diekstraksi dengan sedikit akuades. Ekstrak diletakkan pada kaca objek, biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen dialirkan dengan pipet dibawah kaca penutup.

Hasil :

Hasil positif bila, didapatkan kristal spermin pikrat kekuningan berbentuk jarum dengan ujung tumpul. Kadang-kadang terdapat garis refraksi yang terletak longitudinal. Kristal mungkin pula berbentuk ovoid2,4. Penentuan Golongan Darah ABO Pada Cairan Mani

Pada individu yang termasuk golongan sekretor (85% dari populasi), substansi golongan darah dapat dideteksi dalam cairan tubuhnya seperti air liur, sekret vagina, cairan mani, dan lain-lain. Substansi golongan darah dalam cairan mani jauh lebih banyak dari pada air liur

21

(2 100 kali). Hanya golongan sekretor saja yang golongan darahnya dapat ditentukan dalam semen yaitu dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi2.

Golongan Darah Wanita O Substansi sendiri dalam sekret vagina Substansi asing berasal dari semen A B A+B H A A+H B B+H A B AB

A+B

B H*

A H*

H* A+H

Table.1 Gambaran substansi golongan darah dalam bahan pemeriksaan yang berasal dari forniks posterior vagina.

Hasil : Adanya substansi asing menunjukkan di dalam vagina wanita tersebut terdapat cairan mani. Pemeriksaan Bercak Mani Pada Pakaian

1) Secara visual Bercak mani berbatas tegas dan warnanya lebih gelap daripada sekitarnya. Bercak yang sudah agak tua berwarna kekuningan. Pada bahan sutera / nilon, batas sering tidak jelas, tetapi selalu lebih gelap daripada sekitarnya.

22

Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak segar menunjukkan permukaan mengkilat dan translusen kemudian mengering. Dalam waktu kira-kira 1 bulan akan berwarna kuning sampai coklat.

Pada tekstil yang menyerap, bercak segar tidak berwarna atau bertepi kelabu yang berangsur-angsurmenguning sampai coklat dalam waktu 1 bulan. Dibawah sinar ultraviolet, bercak semen menunjukkan flouresensi putih. Bercak pada sutera buatan atau nilon mungkin tidak berflouresensi. Flouresensi terlihat jelas pada bercak mani pada bahan yang terbuat dari serabut katun. Bahan makanan, urin, sekret vagina, dan serbuk deterjen yang tersisa pada pakaian sering berflouresensi juga2.

2) Secara taktil (perabaan) Bercak mani teraba kaku seperti kanji. Pada tekstil yang tidak menyerap, bila tidak teraba kaku, masih dapat dikenali dari permukaan bercak yang teraba kasar.

3) Skrining awal (dengan Reagen fosfatase asam) Cara pemeriksaan :

Sehelai kertas saring yang telah dibasahi akuades ditempelkan pada bercak yang dicurigai selama 5 10 menit. Keringkan lalu semprotkan / teteskan dengan reagen. Bila terlihat bercak ungu, kertas saring diletakkan kembali pada pakaian sesuai dengan letaknya semula untuk mengetahui letak bercak pada kain.

4) Uji pewarnaan Baecchi Reagen dapat dibuat dari : Asam fukhsin 1 % 1 ml Biru metilen 1 % 1 ml Asam klorida 1 % 40 ml

23

Cara Pemeriksaan : Gunting bercak yang dicurigai sebesar 5 mm x 5 mm pada bagian pusat bercak.

Bahan dipulas dengan reagen Baecchi selama 2 5 menit, dicuci dalam HCL 1 % dan dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alkohol 70 %, 80 % dan 95 100 % (absolut). Lalu dijernihkan dalam xylol (2x)dan keringkan di antara kertas saring. Ambillah 1 2 helai benang dengan jarum.Letakkan pada gelas objek dan uraikan sampai serabut-serabut saling terpisah. Tutup dengan kaca penutup dan balsem Kanada. Periksa dengan mikroskop pembesaran 400 x2.

Hasil :

Serabut pakaian tidak berwarna, spermatozoa dengan kepala berwarna merah dan ekor berwarna merah muda terlihat banyak menempel pada serabut benang. Pemeriksaan Pria Tersangka

Untuk membuktikan bahwa seorang pria baru saja melakukan persetubuhan dengan seseorang wanita. Cara lugol Kaca objek ditempelkan dan ditekan pada glans penis, terutama pada bagian kolum, korona serta frenulum, kemudian letakkan dengan spesimen menghadap kebawah diatas tempat yang berisi larutan ligol dengan tujuan agar uap yodium akan mewarnai sediaan tersebut. Hasil akan menunjukkan sel-sel epitel vagina dengan sitoplasma berwarna coklat karena mengandung banyak glikogen. Untuk memastikan bahwa sel epitel berasal dari seorang wanita, perlu ditentukan adanya kromatin seks (barr bodies) pada inti. Dengan pembesaran besar, perhatikan inti sel epitel yang ditemukan dan cari barr bodies. Ciricirinya adalah menempel erat pada permukaan membran inti dengan diameter kira-kira 1 yang berbatas jelas dengan tepi tajam dan terletak pada satu dataran fokus dengan inti.

24

Kelemahan pemeriksaan ini adalah bila persetubuhan tersebut telah berlangsung lama atau telah dilakukan pencucian pada alat kelamin pria, maka pemeriksaan ini tidak akan berguna lagi. Pada dasarnya pemeriksaan laboratorium forensik pada korban wanita dewasa dan anak-anak adalah sama, yang membedakan adalah pendekatan terhadap korban Pengumpulan barang bukti harus dilakukan jika hubungan seksual terjadi dalam 72 jam sebelum pemeriksaan fisik2. Pemeriksaan Toksikologi Untuk menentukan barbiturat dalam organ tubuh perlu dilakukan ekstraksi terlebih dahulu. Ada 5 macam metode ekstraksi, dan yang memberikan hasil terbaik ialah ekstraksi langsung dengan kloroform. Bila kadar dalam darah sangat rendah maka metode yang dipakai adalah metode asam tungstat. Pemeriksaan kualitatif dapat menggunakan penentuan titik cair misal veronal murni mencair pada suhu 191C. Uji kristal dilakukan terhadap sisa obat yang ditemukan dalam isi lambung. Masing-masing barbiturat mempunyai kristal yang khas bila dilihat dengan mikroskop. Metoda Kopanyi (reaksi warna kobalt) dengan modifikasinya.

Metoda Kopanyi Dilakukan dengan memasukkan 50 ml urin atau isi lambung dalam sebuah corong. Periksa dengan kertas lakmus, jika bersifat alkali tambahkan HCl sampai bersifat asam. Tambahkan 100 ml eter, kocok selama beberapa menit. Diamkan sebentar, tampak air terpisah dari eter, lapisan air dibuang, barbiturat terdapat dalam lapisan eter. Saring eter ke dalam beaker glass dan uapkan sampai kering di atas penangas air. Tambahkan 10 tetes kloroform untuk melarutkan sisa barbiturat yang mengering. Ambil beberapa tetes larutan dan letakkan pada white pocelain spot plate. Tambahkan 1 tetes kobalt asetat (1 % dalam metil alkohol absolut) dan 2 tetes

25

isopropilamin (5% dalam metil-alkohol absolut), Barbiturat akan memberi warna merah muda sampai ungu. Pemeriksaan kuantitatif dan kuantitatif dapat dilakukan dengan kromatografi lapis tipis (TLC), kromatografi gas cair (GLC), spektrofotometri ultra-violet dan

spektrofotofluorimetri. Pemeriksaan semikuantitatif dan kuantitatif dapat dilakukan dengan kromatografi lapis tipis untuk penentuan barbiturat memerlukan reagen sebagai berikut : Larutan difenilkarbazon : 0,2 g% dalam etanol 96% Larutan Hg(NO3)2 : 0,02 g% dalam 0,04 N HNO3 Larutan KMNO4: 0,05 g% dalam akuades Solven untuk kromatografi terdiri dari kloroform, butanol dan amonia 25% dengan perbandingan 14:8:1. Diperlukan pula larutan pembanding barbiturat.

Kromatografi lapis-tipis (TLC) Pemeriksaan ini digunakan secara meluas untuk pemeriksaan penapisan toksikologi terhadap darah dan urin. Pada metode ini molekul-molekul kecil diangkut sepanjang suatu lapisan penopang oleh suatu larutan yang bergerak searah berdasarkan gaya tarik kapiler melintasi lempeng keseluruhan. Saat ujung pelarut mencapai titik tertentu, lempeng TLC diperiksa dengan memajankannya ke beberapa pewarna standar dan ke sinar ultra ultraviolet. Pada identifikasi barbiturat dengan TLC, lapisan silika gel dikeringkan dan ditambahkan larutan difenilkarbazon, dengan larutan Hg(NO3)2. Barbiturat akan terlihat sebagai bercak kuning kemerahan di atas latar belakang ungu. Semua jenis barbiturat memperlihatkan reaksi ini. Khusus untuk barbiturat tidak jenuh seperti seconal, aprobarbital, silikagel disemprot dengan larutan KMNO4. Hasil positif bila terlihat bercak kuning muda berlatar belakang ungu. Dengan membandingkan jarak migrasi barbiturat dalam ekstrak serum dengan jarak migrasi barbiturat dalam larutan pembanding dapatlah diketahui jenis barbiturat dalam serum.

26

Interpretasi hasil
Dari hasil anamnesis, didapatkan informasi bahwa korban berusia 11 tahun.yang telah diberikan makanan ringan oleh pacar ibunya beberapa kali untuk mengikuti perintah dari pacar ibu anak tersebut. Setelah beberapa kali hal tersebut terjadi, sang anak baru mengeluh pada ibunya bahwa ketika hendak BAK anak tersebut merasa sakit. Pada korban, interpretasi hasil yang dapat diperoleh dari hasil pemeriksaan medis antara lain adalah : Pada pemeriksaan himen tampak bentuk hymen rupture, ukuran lubang hymen 9,5 cm, tampak 1. adanya robekan baru, dan lokasi robekan pada pukul 7. 2. Pada pemeriksaan vagina dan cervix dengan speculum tampak adanya lecet pada daerah labia mayor 3. Pada pemeriksaan dalam / colok dubur tidak ditemukan rahim yang membesar

Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan pula : Spermatozoa sudah tidak bergerak, menandakan persetubuhan telah terjadi lebih dari 5 jam. Bercak semen dan cairan mani pada celana dalam menandakan terjadinya ejakulasi oleh pelaku. Korban aman dari kehamilan setelah tes kehamilan menunjukkan hasil negatif. Ditemukan adanya barbiturat dalam darah dengan menggunakan metode penentuan titik cair dan kromatografi gas cair (Gas Liquid Chromatography)

Berdasarkan pemeriksaan-pemeriksaan di atas, telah dapat disimpulkan korban ini masih di bawah umur, telah diperkosa, terjadi ejakulasi dan penetrasi.

27

Aspek Psikososial
Kekerasan atau kejahatan terhadap wanita, khususnya kasus perkosaan semakin hari semakin meningkat. Sulit sebenarnya untuk menjawab persoalan ini karena banyak faktor yang melatarbelakangi kasusnya terutama dari sudut aspek psikososial yang mencakup sikap korban serta pandangan masyarakat terhadap korban perkosaan ini. Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai pengaruh timbal balik. Kekerasan seksual adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap orang lain dalam lingkup msyarakat dengan menggunakan anggota tubuhnya atau alat bantu lainnya/benda yang berakibat penderitaan secara fisik,seksual atau psikologis bahkan kematian. Dampak psikologis bagi korban sangat besar, korban depresi dan juga bisa berakhir bunuh diri akibat beban mental yang dialami4. Penyebab Determinan sosial Frustasi Provokasi langsung dari orang lain Terpapar dengan bentuk-bentuk kekerasan yang dipertontonkan oleh media masa Laki-laki pelaku kekerasan : mungkin berasal dari keluarga yang penuh kekerasan keperibadiannya imatur, tidak mandiri, tidak asertif dan memiliki perasaan tidak adekuat yang kuat Reaksi-reaksi yang terjadi setelah perkosaan : Korban mengalami trauma psikis yang intensif dan berat setelah kejadian dan sulit dipulihkan. Ketakutan akan reaksi keluarga maupun teman-temannya, orang lain tidal akan mempercayai keterangannya,diperiksa dokter peria, melaporkan kejadian yang

28

menimpa dirinya, dan kalau si pemerkosa melakukan balas dendam apabila ia melaporkannya Reaksi-reaksi emosional lainnya seperti rasa tidak percaya,marah malu,menyalahkan diri sendiri,kacau bingung dan histeris Saat itu yang sangat dibutuhkan korban adalah : dukungan emosional dalam bentuk penerimaan dirinya oleh lingkungan, kepercayaan orang lain terhadap dirinya dan sentuhan-sentuhan psikis yang dapat menemteramkan hatinya.

Pada minggu atau bulan berikutnya, korban akan dihinggapi ketakutan yang cukup hebat,yaitu : takut kalau ia menjadi hamil atau terkena penyakit kelamin, takut pada kekerasan fisik ataupun kematian, takut pada orang banyak, takut kalau didekati dari belakang, takut pada hubungan seksual ; meskipun dengan suami sendiri, takut pada sesuatu yang sukar diduga.

Secara fisik korban dapat mengalami : gangguan perut,memjadi mual-mual atau kehilangan nafsu makan. Setelah rasa sakit dan memar dibadannya mulai hilang, ia akan menglami sakit kepala sebagai akibat dari ketegangan emosional yang berkaitan dengan perkosaan.

Emosi yang menonjol : pengingkaran dan penolakan untuk mempunyai bahwa perkosaan benar-benar telah terjadi atas dirinya, kehilangan perasaan aman.

29

dikejar-kejar mimpi buruk atau juga dapat menangis dalam tidurnya. merasa diselimuti penghinaan,rasa malu,menyalahkan diri sendiri dan ada keinginan untuk membalas dendam menjadi takut akan hal-hal yang berbau seksual dan akan mengalami kekacauan dalam kehidupannya3,4

Biasanya korban akan menunjukkan perilaku : tidak mampu memusatkan perhatian,atau mengalihkan tatapan mata sering salah ucap dalam barbicara penampilan tidak rapi/tidak terurus banyak melamun dan sulit bicara cemas,sikapnya grogi atau serba canggung tegang,nampak serba bingung dan panik,mata melihat kesana kemari memperlihatkan amarah dan kebencian depresif,sedih dan putus asa,perasaan menjadi sensitif dan mudah salah sangka cenderung merasa bersalah mudah curiga pada orang lain 2,3

Peran Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)


Lembaga Swadaya Masyarakat (disingkat LSM) adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh perorangan ataupun sekelompok orang yang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya. Organisasi ini dalam terjemahan harfiahnya dari Bahasa Inggris dikenal juga sebagai Organisasi non pemerintah (disingkat ornop atau ONP (Bahasa Inggris: non-governmental organization; NGO). Organisasi tersebut bukan menjadi bagiandari pemerintah, birokrasi ataupun negara.Maka secara garis besar organisasi non pemerintah dapat di lihat dengan ciri sebab :

30

1) Organisasi ini bukan bagian dari pemerintah, birokrasi ataupun negara 2) Dalam melakukan kegiatan tidak bertujuan untuk memperoleh keuntungan (nirlaba) 3) Kegiatan dilakukan untuk kepentingan masyarakat umum, tidak hanya untuk kepentingan para anggota seperti yang di lakukan koperasi ataupun organisasi profesi

Berdasarkan Undang-undang No.16 tahun 2001 tentang Yayasan, maka secara umum organisasi non pemerintah di indonesia berbentuk yayasan. Peran LSM dalam penanganan masalah kejahatan seksual Dibentuk berdasarkan amanat Kepres No.77 Tahun 2003 pasal 74 tentang perlindungan anak. Pada pasal 75 UU perlindungan anak dicantumkan bahwa tugas pokok Komisi Perlindungan Anak Indonesia ada dua yaitu: Melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan evaluasi dan pengawasan terhadap pelanggaran perlindungan anak. Memberikan laporan, saran, masukan dan pertimbangan kepada Presiden

KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) Peran (Pasal 76) : Melakukan sosialisasi Perundangan, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan, pemantauan, evaluasi dan pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.Memberikan laporan, saran, masukan dan pertimbangan kepada presiden dalam rangka perlindungan anak.7

31

KOMNAS ( Komisi Nasional Perlindungan Anak)

Prinsip organisasi :Memiliki prinsip sebagai organisasi yang independen dan memegang teguh prinsip pertanggungjawaban publik serta mengedepankan peluang dan kesempatan pada anak dan partisipasi anak serta menghargai dan memihak pada prinsip dasar anak. Menjamin hak anak untuk menyatakan pendapatnya secara bebas dalam semua hal yang menyangkut dirinya dan pandangan anak selalu dipertimbangkan sesuai kematangan anak. Secara khusus akan mengupayakan dan membela hak untuk berpartisipasi dan didengar pendapatnya dalam setiap kegiatan, proses peradilan dan administrasi yang mempengaruhi hidup anak. Peran dan Fungsi (Pasal 5)

Komisi Nasional Perlindungan Anak memiliki peran : a. Pemantauan Pengembangan Perlindungan Anak. b. Advokasi dan Pendampingan pelaksanaan Hak-hak Anak. c. Kajian strategis terhadap berbagai kebijakan yang menyangkutKepentingan Terbaik Anak. d. Koordinasi antar Lembaga baik tingkat regional, nasional maupun internasional.

Komisi Nasional Perlindungan Anak memiliki fungsi :

a. Melakukan pengumpulan data, informasi dan investigasi terhadap pelanggaran hakhak anak di Indonesia. b. Melakukan kajian hukum dan Kebijakan Regional dan Nasional yang tidak memihak pada kepentingan terbaik anak. c. Memberikan penilaian dan pendapat kepada pemerintah dalam rangka

mengintegrasikan hak-hak anak dalam setiap kebijakan.

32

d. Memberikan pendapat dan laporan independen tentang hukum dan kebijakan berkaitan dengan anak. e. Menyebarluaskan, publikasi dan sosialisasi informasi tentang hak-hak anak dan situasi anak di Indonesia. f. Menyampaikan pendapat dan usulan tentang pemantauan, (pemajuan atau kemajuan), dan perlindungan hak-hak anak kepada parlemen, pemerintah dan lembaga terkait. g. Mempunyai mandat untuk membuat laporan alternatif kemajuan perlindungan anak di tingkat nasional. h. Melakukan perlindungan khusus

Kesimpulan
Untuk menyelesaikan permasalahan kasus kejahatan seksual, tidak hanya membutuhkan intervensi medis semata-mata tapi, menuntut diambilnya langkah penanganan yang holistik dan komprehensif termasuk dukungan psikososial yang secara otomatis membutuhkan dukungan optimal dari keluarga dan masyarakat. Tugas dokter tidak hanya menjalankan fungsi maksimal dalam bidang kesehatan, namun dokter tersebut dituntut untuk

memanfaatkan ilmu pengetahuan kedokteran seoptimal mungkin dan mematuhi tuntutan undang-undang terhadapnya terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan proses hukum. Tindakan perkosaan membawa dampak emosional dan fisik kepada korbannya. Secara emosional, korban perkosaan bisa mengalami stress, depresi, goncangan jiwa, menyalahkan diri sendiri, rasa takut berhubungan intim dengan lawan jenis, dan kehamilan yang tidak diinginkan.

33

Daftar Pustaka
1. Slamet P, Djaja SA, Yuli B et al. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 1994, Jakarta, h33-6 2. Budiyanto A, Wibisana W, Siswandi S et al. Ilmu Kedokteran Forensik.: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia: 1997, Jakarta, h147-64 3. Saanin S. Aspek-Aspek Fisik/ Medis Serta Peran Pusat Krisis dan Trauma dalam Penanganan Korban Tindak Kekerasan: 2010. Diunduh dari : http://www.angelfire.com/nc/neurosurgery/kekerasan.htm. tanggal 7 januari 2013 4. Stark MM. Medical Forensic Medicine A Physicians Guide. 2nd Edition. New Jersey: Humana Press Inc. 2005. Forensic science. Diunduh dari : http://www.forensicsciencesfoundation.org/career_paths/criminalistics.htm tanggal 7 januari 2013. 5. Winardi AM, Swasti H, Budi S et al. Teknik autopsi forensik. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2000. 6. Peranan Forensik Klinik Dalam Kasus Kekerasan Terhadap Anak Dan Perempuan Authors : Yayan Akhyar Israr, S.Ked, Yance Warman, S.Ked, Rizki Kurniati, S.Ked, Apriani Dewi, S.Ked. Fakultas Kedokteran Universitas Riau. 2001 Diunduh dari http://forensik-upnxx.webs.com/chapterxii.htm tanggal 7 januari 2013. 7. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) 2010. Diunduh Dari : http://www.ireyogya.org/. Tanggal 7 januari 2013. 8. S. Budi, S. Zulhasmar, D.S. Tjetjep : Bioetik dan Hukum Kedokteran, rahasia kedookteran, Cetakan Kedua, Juli 2007, Jakarta : hal 56-8

34