Anda di halaman 1dari 6

Pertukaran sekresi cairan krevikular gingiva pada perokok

Abstrak Tujuan: Merokok berbahaya bagi kesehatan gingiva dan periodontal. Ini telah dilaporkan dapat menyebabkan perubahan pada aliran cairan krevikular gingiva (GCF), tapi efek kumulatif merokok pada GCF belum diteliti hingga saat ini. Penelitian ini dirancang untuk menemukan dan mengevaluasi dinamika transisi, jika, pada aliran GCF segera sebelum dan setelah merokok. Bahan dan Metode: Penelitian terdiri dari 20 subyek laki-laki yang telah disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin. Setengah populasi penelitian merupakan bukan perokok yang terdiri dari kelompok kontrol dan setengah sisanya populasi penelitian adalah perokok kronis yang merupakan kelompok perlakuan. Sampel GCF dikumpulkan

menggunakan mikropipet sebelum merokok, segera setelah, dan 10 menit setelah merokok untuk kelompok perlakuan dan selama waktu yang sama untuk kelompok kontrol. Hasil dan Kesimpulan: Penelitian menunjukkan seluruh volume GCF pada perokok daripada pada bukan perokok. Dan yang lebih menarik, penurunan transisional segera setelah merokok diikuti dengan peningkatan pada volume GCF 10 menit setelah merokok.

PENDAHULUAN Merokok berbahaya untuk jaringan periodontal. Hubungan antara merokok dan penyakit periodontal tetap menunjukkan efek negative dan kemungkinana yang lebih besar untuk mengalami penyakit periodontal pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok. Karena kita melihat lebih dekat ke efeknya, ini telah ditentukan bahwa merokok merupakan faktor resiko signifikan pada permulaan dan perkembangan penyakit periodontal. Subyek yang merokok memiliki resiko lebih besar untuk mengalami kehilangan tulang alveolar yang lebih luas dan lebih parah. Perokok cenderung untuk memiliki jumlah poket periodontal dalam dan rata-rata probing poket depth yang lebih besar.

Beberapa penelitian klinis dan epidemologi menunjukkan bahwa merokok memiliki efek membahayakan pada respon terhadap berbagai prosedur bedah dan non-bedah mencakup pembedahan dengan modified Widman flap, guided tissue regeneration, implant gigi. Dan juga, merokok mempengaruhi neutrofil dan makrofag, dimana penting sebagai sel immunokompeten gingiva. Mekanisme dimana merokok berpengaruh buruk pada periodonsium masih agak tidak jelas walaupun beberapa kemungkinan telah dijelaskan. Baik efek yang ditimbulkan secara lokal dan sistemik pada periodonsium telah dijelaskan. Merokok cenderung untuk menutupi inflamasi gingiva dengan menyebabkan konstriksi pembuluh darah gingiva. Dan sebaliknya, perokok tampak mengalami sedikit perdarahan gingiva daripada bukan perokok dengan banyak plak supragingiva, terdapat sedikit informasi tentang dampak merokok pada aliran cairan krevikular gingiva (GCF). GCF merupakan transudat serta eksudat inflamasi. Pada awal permulaannya, pada gingiva normal yang baik secara histology, cairan krevikular gingiva mengandung konsentrasi rendah protein dimana dapat menggambarkan cairan interstitial yang dihasilkan secara lokal oleh gradient ostmotik. Tapi sebagai hasil dari peningkatan permeabilitas vena gingiva akibat inflamasi, ini dapat berkembang menjadi eksudat inflamasi klasik yang mengandung jumlah total protein yang lebih tinggi. Jumlah cairan gingiva lebih besar bila terdapat inflamasi dan kadang sebanding dengan keparahan inflamasi. Produksi cairan gingiva meningkat akibat pengunyahan makanan keras, menyikat gigi, massage gingiva, ovulasi, kontrasepsi hormonal, dan merokok. Volume GCF merupakan marker nyata kesehatan gingiva dan telah digunakan di banyak penelitian. Merokok memicu respon hiperemi pada jaringan gingiva, mempengaruhi dinamika vaskular, tapi efek kumulatif merokok pada GCF belum diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang untuk menemukan dan mengevaluasi dinamika transisional, jika ada, pada aliran GCF segera setelah merokok.

BAHAN DAN METODE Sampel penelitian mencakup 20 subyek yang sesuai dengan usia. Rentang usia berkisar 23-27 tahun dan semua subyek yang dipilih laki-laki. Setelah persetujuan komite etik didapatkan, semua subyek pada penelitian ini diberikan informasi dan informed consent tertulis didapatkan untuk penelitian. Kelompok penelitian mencakup perokok dan bukan perokok.

Kelompok perlakuan Perokok yang mengatakan merokok setidaknya 6-7 rokok minimal sejak 3 tahun yang lalu merupakan kelompok perlakuan untuk penelitian. Kelompok ini diteliti pada: T8: Nilai (baseline) volume GCF sebelum merokok T1: Nilai volume GCF segera setelah merokok T18: Nilai volume GCF 10 menit setelah merokok

Kelompok kontrol Bukan perokok didefinisikan sebagai orang yang tidak pernah merokok dan merupakan kelompok kontrol untuk penelitian. Untuk memastikan standarisasi lengkap; pemeriksaan klinis, alokasi kelompok, pemilihan tempat pengambilan sampel, dan pengumpulan sampel dilakukan oleh satu pemeriksa. Tempat pengambilan sampel ditentukan sebelumnya pada regio distopalatal premolar kedua kanan maksila. Waktu dan durasi untuk pengumpulan setiap hari volume GCF distandarisasi untuk periode 5 menit antara 10 pagi dan 11 pagi. Sebelum pengumpulan cairan krevikular, semua subyek menjalani pemeriksaan indeks seluruh mulut untuk menghitung rata-rata plak dan skor kesehatan gingiva mereka. Plak supragingiva diskor menggunakan plaque index (PI) oleh Silness dan Loe (1964). Gingival Inflamation (GI) diskor menggunakan gingival index oleh Loe dan Silness (1963). Kriteria inklusi untuk subyek diatur pada PI 0, GI 0.

Sampel cairan krevikular dikumpulkan menggunakan mikropipet dengan metode ekstrakrevikular. Mikropipet dibiarkan in situ selama 5 menit dan kemudian diukur dalam mikroliter. (Mikropipet yang terkontaminasi dengan saliva atau darah dibuang dan, pada kasus gelembung, pengambilan dilakukan dari pembacaan). Data ditampilkan sebagai rata-rata dan standar deviasi. Signifikansi statistic perbedaan antara kelompok diuji berdasarkan analisa non parametric varians (ANOVA; Friedman) dan uji Mann-Whitney. Hipotesa nol adalah ditolak pada P<0,01. Untuk analisa statistic, program SPSS 17,0 digunakan.

HASIL Penelitian ini jelas menunjukkan pengurangan signifikan secara klinis pada volume GCF pada perokok dibandingkan dengan bukan perokok dan menariknya terdapat peningkatan pada volume GCF 10 menit post-merokok. Tabel 1 menunjukkan volume GCF yang dikumpulkan pada kelompok empat: C (nilai GCF pada kelompok kontrol bukan perokok), T8 (nilai sebelum merokok pada perokok). T1 (nilai segera post merokok), dan T18 (nilai 10 menit post merokok) Analisa volumetric menunjukkan penurunan pada nilai rata-rata GCF dari 0,9 menjadi 0,4 l nilai pra-merokok pada perokok dibandingkan dengan pada bukan perokok ( Tabel 1, Gambar 1 dan 2). Kecenderungan ini berlanjut bila volume ratarata GCF terus berkurang dari 0,4 menjadi 0,2 l pada nilai pra merokok pada perokok dibandingkan dengan nilai segera setelah merokok mereka. Dan sebaliknya, nilai rata-rata meningkat dari 0,2 menjadi 0,7 ml pada nilai segera setelah merokok pada perokok dibandingkan dengan nilai 10 menit setelah merokok mereka.

PEMBAHASAN Telah diketahui bahwa GCF dipengaruhi oleh ovulasi dan kontrasepsi hormonal. Dengan pemilihan subyek laki-laki muda bahkan pada kelompok kontrol,

kemungkinan fisiologis tersebut dan perbedaan kerentanan usia dan jenis kelamin antar individu tidak ada. Hubungan peningkatan volume GCF dengan peningkatan keparahan inflamasi sangat didukung oleh bukti dari literature. Kemungkinan ini membentuk dasar untuk kriteria pemilihan laki-laki sehat dengan skor plak dan skor gingiva 0 untuk penelitian. Hal ini mungkin dapat menjelaskan bahwa perubahan pada volume GCF tidak disebabkan apa-apa, tapi hanya merokok. Volume rata-rata GCF adalah lebih rendah pada perokok daripada bukan perokok dengan status kesehatan yang sama. Volume keseluruhan GCF yang lebih rendah pada penelitian ini didukung oleh hasil yang sama yang dilaporkan oleh Morozumi dkk. Volume GCF yang lebih rendah berhubungan dengan penurunan aliran darah gingiva pada perokok. Efek segera peningkatan volume GCF dengan merokok juga telah ditunjukkan oleh McLaughlin dkk. Dan juga, pada penelitian yang dilakukan oleh Barnfather, dia menyimpulkan bahwa kapasitas antioksidan total GCF adalah lebih tinggi pada perokok kronis, dengan demikian meningkatkan pembersihan anti-radikal. Data tersebut menyatakan bahwa mekanisme kompensatori terjadi pada perokok untuk melindungi terhadap radikal dari merokok. Pada penelitian, volume GCF ditemukan berkurang segera setelah merokok dibandingkan dengan nilai baseline dan selanjutnya meningkat sementara setelah 10 menit. Pada penelitian lain, aliran darah gingiva diukur dengan laser Dopler dan peningkatan tingkat aliran darah gingiva ditemukan. Penulis menyebutkan bahwa merokok secara normal menyebabkan vasokonstriksi. Sebagai akibatknya, aliran darah gingiva meningkat setelah merokok. Hal ini dispekulasikan bahwa terjadinya vasokontriksi yang berulang-ulang diakibatkan oleh merokok, dalam jangka waktu lama, berperan terhadap disfungsi vaskular gingiva dan penyakit periodontal.

KESIMPULAN Pola sinusoidal khas pada perokok menggambarkan korelasi terjadinya pertukaran siklus GCF dalam respon terhadap merokok. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa fluktuasi ritmik pada dinamika vaskular terjadi dengan setiap isapan satu rokok. Oleh karena itu, perokok mengalami penekanan inflamasi dan perubahan respon host antibody terhadap infeksi antigenic, menyebabkan hasil klinis yang kurang signifikan daripada bukan perokok. Uji klinis lain dengan sampel penelitian yang berbeda dan rancangan diperlukan untuk diktat hasil selanjutnya.