Anda di halaman 1dari 19

BAB I STATUS PENDERITA I.

Identifikasi Penderita Nama Usia Jenis Kelamin Status Perkawinan Suku / Bangsa Pendidikan Pekerjaan Agama Alamat Datang ke RS Cara ke RS : Tn. Z : 56 tahun : Laki-laki : Menikah sudah 30 tahun : Sumatera : Tamat SD : Petani : Islam : Karang Baru, Banyu Asin : Kamis, 8 Januari 2013, pukul 22.00 wib. : Diantar keluarga RS. dr. Ernaldi Bahar Palembang dan di bangsal Merpati RS. dr. Ernaldi Bahar Palembang. II. Riwayat Psikiatri Riwayat psikiatri diperoleh dari:
1. Autoanamesiss a. Kamis, 8 Januari 2013 b. Senin, 9 Januari 2013

Tempat Pemeriksaan : Instalasi Gawat Darurat

c. Rabu, 10 Januari 2013


2. Alloanamnesis ( Tn.S, 27 tahun, adik kandung pasien) a. Kamis, 8 Januari 2013 b. Selasa, 9 Januari 2013. A. Keluhan Utama

Pasien mengamuk dan membawa senjata tajam sejak 4 hari yang lalu.

B. Riwayat Penyakit Sekarang

Sejak 10 tahun yang lalu pasien pernah dirawat di RSJ Erba Palembang, keluarga pasien mengaku pada saat mau dirawat pasien sering mengamuk, menghancurkan piring-piring dirumah, serta ingin membunuh tetangganya, karena pasien sering mengamuk dan tetangga pasien sudah resah dengan perilaku pasien sehingga pasien di bawa oleh keluarganya ke RSJ Erba Palembang untuk dirawat inap. Pasien dirawat dengan diagnosis skizofrenia paranoid Sejak 9 tahun yang lalu pasien pulang dari RSJ Erba Palembang dengan perbaikan, keluarga pasien mengaku pasien tidak lagi mengamuk, pasien sudah mau beraktivitas seperti keluarga yang lain, kegiatan pasien diisi dengan bertani. Keluarga pasien mengaku perilaku pasien sama seperti orang lain. Namun, pasien tidak lagi kontrol ke RS Erba Palembang dan tidak mengkonsumsi obat lagi. Pasien bilang kalau dirinya sudah sembuh jadi pasien tidak mau meminum obat dan kontrol ulang ke RSJ Erba Palembang dan keluarga pun ikut menyetujui permintaan pasien. Sejak 1 bulan yang lalu keluarga pasien mengaku terjadi masalah pertengkaran dengan tetangga pasien, yaitu masalah sengketa tanah. Mulai saat itu pasien sering bericara sendiri dan isi bicara tentang masalah tanahnya yang direbut oleh tetangganya. Pasien juga sering terlihat senyumsenyum sendiri seperti ada orang disampingnya. Pasien mengaku kalau dia akan berusaha untuk mendapatkan tanahnya kembali. Jika tanahnya dijual bisa mendapatkan uang 1 milyar dan akan dibagi-bagikan kepada anakanaknya, padahal anaknya mengaku tanah hanya 1 kapling dan letaknya di dusun bukan dipinggir jalan dan tidak mungkin laku terjual sebanyak itu. Sejak 1 minggu yang lalu keluarga pasien mengaku kalau pasien susah tidur, dan pasien sering gelisah. Pasien diajak keluarganya untuk berobat ke mantri, kemudian pasien dikasih obat penenang. Obat tersebut adalah diazepam, obat diberikan sebanyak 1 tablet, pemberian hanya 1 kali saja. Namun keluarga pasien merasa obat tersebut tidak ampuh untuk pasien, pasien tetap saja gelisah.

Sejak 4 hari yang lalu pasien sering mengamuk, pasien juga sering curiga terhadap orang sekitarnya, curiga kalau orang lain ingin meracuninya lewat makanan. Apapun yang diberikan oleh keluarganya untuk pasien akan dibuangnya, pasien sering mendengar suara-suara ditelinganya, suara tersebut menyuruh pasien untuk keluar rumah karena akan ada orang yang mau membunuhnya jika tetap berada di rumah. Pasien pernah keluar rumah pada malam hari ketika keluarga yang lain sedang tidur dan kembali pada pagi hari karena ditemukan oleh tetangganya. Pasien mengaku keluar rumah pada malam hari lebih aman karena tidak ada yang melihatnya, pasien juga mengaku ada temannya yang mengajak pasien keluar rumah. Teman yang mengajaknya itu adalah roh romi temannya yang sudah meninggal. Pasien juga mengaku bisa melihat masa depan, pasien bercerita tentang keadaan Negara Indonesia yang akan makmur dan sejahtera, namun yang bisa melakukan hal itu hanya dirinya saja, karena dirinya adalah titisan dari dewa. Sejak 1 hari yang lalu keluarga pasien mengaku kalau pasien membawa senjata tajam keluar rumah, pasien mengaku senjata tajam itu untuk membunuh tetangganya yang merebut tanahnya, pasien dibisikkan oleh roh temannya untuk membunuh tetangganya, karena tetangganya akan datang kerumah pasien untuk membunuhnya. Pasien langsung dibawa ke mantri terdekat dan diberi obat diazepam lagi sebanyak 2 tablet kemudian pasien dirante oleh keluarganya. Lalu pasien dibawa ke RSJ Erba Palembang masih dalam keadaan terikat.
C. Riwayat Penyakit Dahulu

- Riwayat trauma kepala (-) - Riwayat kejang/ epilepsi (-) - Riwayat alergi obat (-) - Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif : Riwayat penggunaan Zat Psikoaktif disangkal. - Riwayat Penyakit Sistemik :

Riwayat hipertensi (-). Riwayat tumor otak (-)

Riwayat nyeri kepala (-) Riwayat demam lama (-) Riwayat DM (-) Riwayat asma (-)

D. Riwayat Kehidupan Pribadi 1. Riwayat Prenatal dan Perinatal Selama kehamilan tidak ada gangguan kesehatan, dilahirkan normal saat usia kehamilan 9 bulan, dilahirkan di rumah dukun dan langsung menangis. 2. Masa Kanak-kanak (0-3 tahun) Tumbuh kembang pasien sama dengan anak sebayanya. 3. Masa Pertengahan (3-11 tahun) Pasien anak yang biasa saja, dapat mengikuti pelajaran disekolah, perilakunya tidak terlalu mencolok dengan anak lain dan bermain dengan anak seusianya. 4. Masa Kanak Akhir dan Remaja Pasien tumbuh seperti anak seusianya, namun pasien jarang bergaul dengan teman sebayanya, pasien lebih senang dirumah, pasien juga pendiam jarang mengobrol dengan siapapun, jika ada masalah pasien tidak pernah cerita. 5. Masa Dewasa a. Riwayat pendidikan Pasien tamat SD b. Riwayat pekerjaan Pasien bekerja sebagai petani c. Riwayat pernikahan Pasien menikah pada tahun 1983 dengan perempuan pilihan sendiri. Istri pasien adalah seorang ibu rumah tangga dan sudah meninggal sejak 4 tahun yang lalu, hubungan rumah tangga harmonis. Pasien dikaruniai 5 orang anak. 3 orang anak perempuan dan 2 orang anak laki-laki. d. Agama

Pasien beragama islam, pasien jarang sholat. e. Aktivitas sosial Menurut anak pasien, pasien jarang mengikuti kegiatan sosial, lebih sering dirumah. f. Riwayat keluarga Pasien merupakan anak kedua dari 5 bersaudara, memiliki 1 orang kakak perempuan dan tiga orang adik laki-laki. Terdapat keluarga pasien yang memiliki gangguan jiwa yang sama, yaitu paman pasien.

: Pasien usia 56 tahun g. Situasi kehidupan sekarang Pasien tinggal dirumah sendiri bersama anak-anaknya. Status ekonomi pasien menengah ke bawah. h. Persepsi pasien tentang diri dan lingkungannya Pasien menggambarkan dirinya sebagai utusan dewa yang dapat melihat masa yang akan datang. Selain itu pasien berharap bisa mengambil tanahnya kembali dari membunuhnya. i. Persepsi keluarga tentang diri pasien Anak pasien menggambarkan pasien sebagai orang yang baik dan ramah terhadap orang disekitarnya, namun memang pasien jarang keluar rumah untuk mengikuti kegiatan sosial. Anak pasien berharap pasien bisa sembuh, sehingga dapat berkumpul lagi dengan keluarga. Sebenarnya anak pasien merasa malu dengan tetangga kalau ayahnya mempunyai gangguan kejiwaan, namun tetangganya. Pasien merasakan kalau orang disekitarnya membecinya dan ingin

anaknya harus bisa menerima ayahnya karena anaknya sadar kalau anak harus berbakti kepada orang tua. j. Riwayat pelanggaran hukum Pasien tidak pernah melakukan tindakan pelanggaran hukum maupun berurusan dengan pihak berwajib. III. Pemeriksaan Status Mental Pemeriksaan di lakukan pada tanggal 8 Januari 2013 A. Gambaran Umum : Penampilan Pasien berjenis kelamin laki-laki berusia 56 tahun dengan penampilan sesuai dengan usia. Pada saat wawancara pasien menggunakan baju kaos berwarna putih dan celana dasar hitam serta menggunakan sandal jepit berwarna biru. Perawatan diri cukup baik. Kaki dan tangan pasien diikat dengan kain. Perilaku dan Akitivitas psikomotor Selama wawancara pasien masih terikat dengan kain pada tangan dan kakinya, pasien sudah diikat dari rumahnya, ikatan kain belum dilepas karena pasien berusaha untuk kabur. Kontak mata pasien dengan pemeriksa baik, emosinya stabil. Sikap terhadap pemeriksa Pasien kooperatif dalam bercerita dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa. Pasien tidak dapat dihentikan jika diajak bicara. Pasien menyangkal bila ia sakit. B. Mood dan afek
Mood : eutimik Afek

: Appropriate : serasi dalam hal pikiran, perasaan, dan perilaku

Keserasian

C. Pembicaraan

Bicara lancar, spontan, jumlah banyak, volume suara stabil, intonasi cukup, artikulasi jelas dan isi pembicaraan kadang tidak dapat dimengerti. D. Gangguan Persepsi Dari hasil wawancara :
-

Halusinasi Auditorik (+) Halusinasi Visual (+) Logore (+)

E. Pikiran Bentuk pikiran 1. Produktivitas : Pikiran yang cepat dan menjawab dengan cepat. 2. Kontinuitas Isi pikiran Ditemukan waham curiga (+) dan waham kebesaran (+) F. Sensorium dan kognitif Taraf kesadaran Compos mentis Orientasi Waktu Tempat Personal Daya ingat Jangka Panjang : Baik pasien dapat mengingat keluarga besarnya dan kisah pernikahannya. : Baik, pasien dapat membedakan waktu saat pagi, siang dan malam. : Baik, pasien mengetahui bahwa dirinya berada di RSJ ERBA Palembang. : Baik, Pasien dapat mengenali dokter pemeriksa, anak dan saudara yang mengantarnya. : asosiasi longgar. 3. Hendaya berbahasa : Tidak ada

Jangka sedang : Baik, pasien dapat mengingat dengan siapa ia datang dan kapan ia datang ke RS ERBA Palembang. Jangka pendek : Baik, pasien dapat mengingat kemana ia pergi sebelum dibawa ke RS ERBA Palembang. Jangka Segera : Baik, pasien tidak mengalami kesulitan untuk mengulang 6 angka maju dan selanjutnya mundur. Konsentrasi dan perhatian Baik, pasien tidak mengalami kesalahan saat melakukan pengurangan 50-10 dan seterusnya serta dapat mengeja kata lampu dari belakang. Kemampuan membaca dan menulis Pasien dapat membaca dan menulis Kemampuan visuospasial Baik, pasien dapat mengambarkan jam dan memperlihatkan arah jarum panjang dan jarum pendek dengan baik. Pikiran abstrak Baik, pasien dapat mengartikan peribahasa sederhana yang diberikan oleh pemeriksa berakit-rakit dahulu berenang-renang kemudian maupun peribahasa lain. Intelegenesia dan kemampuan informasi Baik, pasien dapat menjawab dengan benar nama presiden RI dan nama presiden pertama RI. Kemampuan menolong diri sendiri Baik, pasien masih bisa berpakaian serta masih dapat makan, minum, dan mandi sendiri. G. Pengendalian impuls

Selama wawancara yang pertama pasien dapat mengendalikan diri dan berperilaku baik terhadap pemeriksa. Pasien tidak berhenti ngomong kalau diajak bicara. H. Daya Nilai dan tilikan Daya Nilai Sosial Baik, pasien bersikap sopan terhadap dokter, koas, perawat dan seluruh penghuni bangsal merpati. Penilaian Realita Terganggu, karena pasien kurang mampu membedakan antara hal yang nyata dan tidak nyata. Tilikan Derajat 1, pasien menyangkal menderita penyakit. I. Reliabilitas Secara umum, dapat dipercaya baik alloananmnesis maupun autoanamnesis.
IV.

Pemeriksaan Diagnosa Lebih Lanjut Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 10 januari 2013. A. Status Interna Keadaan Umum Kesadaran Status Gizi Tanda tanda vital
TD Pulse RR Suhu

: Baik : Compos Mentis : terlihat cukup : 120/80 mmHg : 99x/menit : 20x/menit : 36,4 OC : Konjungtiva tidak anemik, Sklera tidak ikterik : NCH (-/-)

Kepala Mata Hidung

Mulut Leher Thorax


: Bibir kering (-), caries (+), stomatitis (-) : Pembesaran KGB(-) : Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-) : Vesikuler kiri dan kanan, wheezing dan rhonki (-) : Tidak ada nyeri tekan, bising usus normal : Akral hangat, capillary refill time <2, edema (-) : dalam batas normal

Cor Pulmo Abdomen Ekstrimitas Kulit

B. Status Neurologis GCS 15


-

E V

: membuka mata spontan (4) : berbicara spontan (5) : Negatif : Tidak ada tremor, bradikinesia (-), dan rigiditas (-). : 5/5/5/5 : Baik : normal : tidak ditemukan refleks patologis

M : gerakan sesuai perintah (6)

Tanda Rangsangan Meningeal Tanda efek ekstrapiramidal Motorik Sensorik Refleks fisiologis Refleks patologis V. Ikhtisar Penemuan Bermakna

Berdasarkan wawancara didapatkan informasi bahwa pasien seorang laki-laki berusia 56 tahun, agama islam, suku Sumatera, pekerjaan petani, status duda. Pasien dirawat dengan keluhan sering mengamuk,sering bicara dan senyum-senyum sendiri serta curiga terhadap orang sekitar. Pada pemeriksaan status mental pada tanggal 8 Januari 2013 didapatkan seseorang laki-laki , penampilan sesuai dengan usia, berbadan kurus, perawatan diri cukup. Perilaku dan aktivitas psikomotorik pasien selama wawancara pasien masih terikat dengan kain pada tangan dan kakinya, pasien sudah diikat dari rumahnya, ikatan kain belum dilepas karena pasien berusaha untuk kabur. Kontak mata pasien dengan pemeriksa

baik, emosinya terkendali. Sikap terhadap pemeriksa, pasien

kooperatif

dalam bercerita dan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemeriksa. Pasien menyangkal bila ia sakit. Mood eutimik, afek appropriate, pembicaraan dengan afek sesuai. Pada gangguan persepsi ditemukan halusinasi visual, halusinasi auditorik dan logore. Bentuk pikiran non realistik, isi pikir waham curiga dan waham kebesaran, dengan proses isi pikir asosiasi longgar, RTA terganggu dengan tilikan derajat satu. Pada pemeriksaan fisik Interna dan pemeriksaan yang lain tidak ditemukan kelainan. VI. Formulasi Diagnosis Aksis I : Berdasarkan anamnesis, riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan, pada pasien ini ditemukan adanya pola perilaku, pikiran, dan perasaan yang secara klinis bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya (disability) dalam fungsi pekerjaan dan sosial. Dengan demikian berdasarkan PPDGJ III dapat disimpulkan bahwa pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa. Selain itu, berdasarkan anamnesis riwayat penyakit medis, pasien tidak pernah mengalami trauma kepala atau penyakit lainnya yang secara fisiologis dapat menimbulkan disfungsi otak sebelum menunjukkan gejala gangguan jiwa. Oleh karenanya, gangguan mental organik dapat disingkirkan (F00-09). Pada pasien tidak didapatkan riwayat penggunaan alkohol atau zat psikoaktif sebelum timbul gejala penyakit yang menyebabkan perubahan fisiologis otak, sehingga kemungkinan adanya gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif disingkirkan (F10-19). Pada pasien terdapat adanya gangguan dalam penilaian realita karena adanya psikopatologi gangguan persepsi yaitu halusinasi auditorik dan visual. Gangguan isi pikir yaitu waham curiga dan waham kebesaran. Juga tidak pernah mengalami perasaan sedih atau senang yang berlebihan dan menetap dalam periode tertentu. Gejala tersebut dialami pasien selama kurang lebih dari 1 bulan dan gejala ini pernah dialami pasien 10 tahun yang dapat

lalu sampai pasien dirawat di RSJ Erba Palembang,

sehingga dapat

digolongkan kedalam gangguan psikotik kelompok skizofrenia (F20), maka berdasarkan PPDGJ III ditegakkan diagnosis untuk aksis I adalah Skizofrenia Paranoid Berulang (F20.x3). Aksis II Pada pasien ini didapatkan informasi yang bermakna dari riwayat premorbid, riwayat kehidupan pribadi pada masa kanak, remaja, dan dewasa yaitu pasien jarang bergaul dengan teman sebayanya, pasien lebih senang dirumah, pasien juga pendiam jarang mengobrol dengan siapapun, jika ada masalah pasien tidak pernah cerita. Sehingga untuk aksis II F 60.1 Gangguan Kepribadian Skizoid. Aksis III Pada kelainan. Aksis IV Pada pasien ini memiliki masalah sengketa tanah Aksis V GAF pada saat ini adalah 60-51 gejala sedang (moderate), disabilitas sedang VII. Diagnosis Multiaksial Aksis I Aksis II Aksis III Aksis IV Aksis V : F20.x3 Skizofrenia paranoid episodik berulang : F60.1 Gangguan Kepribadian Skizoid : Tidak ada diagnosis : Masalah sengketa tanah : GAF Scale 60 - 51 pasien ini berdasarkan pemeriksaan fisik tidak ditemukan

VIII. Daftar Masalah A. Organobiologik Ada faktor genetik gangguan kejiwaan (Paman pasien) B. Psikologik

Mood
Afek

: Irritable : Eutimik : Sesuai logore (+)

Keserasian

Gangguan Persepsi : Halusinasi auditorik (+) , halusinasi visual (+), dan Isi pikir RTA Tilikan

: waham curiga (+) dan waham kebesaran (+) : Terganggu : Derajat 1

C. Lingkungan dan Sosioekonomi Pasien tinggal bersama 3 orang anaknya, 2 anaknya yang lain sudah berkeluarga dan tinggal dirumahnya sendiri, pasien bekerja sebagai petani yang mengurus sawahnya sendiri. Hubungan pasien dengan tetangga sebelum keadaan pasien seperti ini baik-baik saja, namun karena keadaan pasien yang seperti ini pasien dijauhi oleh tetangga karena tetangga takut kalau pasien nanti mengamuk. Status ekonomi pasien menengah ke bawah. IX. Prognosis Ad vitam
Ad Sanationam Ad Fungsionam

: dubia ad bonam : dubia ad malam : dubia ad malam

X.

Rencana Terapi A. Psikofarmaka Anti Agitasi Injeksi Haloperidol (IM) 2x1 amp, diberikan selama 3 hari Anti Psikotik Risperidon 2x2mg Anti Anxietas Lorazepam 1x1mg Anti Parkinson Trihexyphenidyl 2x2mg

B. Psikoterapi Supportif Memberikan dukungan kepada penderita untuk meningkatkan rasa percaya diri individu, perbaikan fungsi sosial dan pencapaian kualitas hidup yang baik sehingga memotivasi penderita agar dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik. Psikoedukasi
o

Diberikan informasi kepada keluarga mengenai penyebab penyakit yang dialami penderita serta pengobatannya sehingga keluarga dapat memahami dan menerima kondisi penderita untuk minum obat dan kontrol secara teratur serta mengenali gejala-gejala kekambuhan secara dini.

o Dilakukan pendekatan pada keluarga dan lingkungan melalui edukasi bahwa pada dasarnya gangguan jiwa adalah sama dengan penyakit yang lain. Diharapkan stigma yang selama ini menganggap penderita gangguan jiwa merupakan aib dan harus diasingkan dapat segera dihilangkan. Keluarga dan lingkungan sekitar diharapkan mampu membantu dan mendukung proses penyembuhan pasien dan tetangga-tetangga di lingkungan sekitar mengikutsertakan pasien dalam kegiatan rutin warga (untuk mengatasi rasa rendah diri pasien sebagai pasien gangguan jiwa). o Keluarga pasien diinformasikan dan diajarkan cara merawat, memperlakukan pasien dengan benar karena pasien gangguan jiwa memerlukan perhatian khusus. Keluarga dianjurkan untuk mengawasi pasien saat minum obat dan memastikan pasien meminum obat dengan rutin di rumah (untuk mengatasi ketidakdisiplinan minum obat keluarga juga dianjurkan untuk menghargai pasien seperti orang sehat, memberikan pasien

kesibukan agar pasien tidak melamun dan keluarga diharapkan dapat membesarkan hati pasien serta tetap berusaha untuk terus berkomunikasi dan memberikan perhatian yang lebih terhadap pasien. XI. Pandangan Islam Faktor pemicu terjadinya gangguan jiwa sering terjadi pada orang yang imannya rapuh, dalam Al-Quran Allah swt berfirman yang artinya : Demi jiwa dan kesempurnaan (ciptaan)-Nya. Allah menghilangkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaa. Sesungguhnya beruntunglah orang yang melakukan proses tazkiyah (pembinaan takwa) dalam dirinya, sebaliknya merugilah orang-orang yang mengotori jiwa (mengikuti hawa dalam pembinaan jiwanya) atau tadsiyat al nafs. (Q.S. Asy-Syamsy : 7-10). Berdasarkan ayat tersebut, Allah menekankan kepada kaum muslim agar mengisi jiwa dengan iman dan takwa. Karena dalam islam, pembinan dan pengembangan jiwa yang baik. Jika yang bersih dari hawa nafsu sejatinya akan terisi oleh iman dan takwa yang akan berubah kesehatan secara mental. Iman dan takwa memiliki relevansi yang sangat erat dengan masalah kejiwaan.

BAB II DISKUSI Diagnosis skizofrenia paranoid episodik berulang ditegakkan atas dasar adanya gangguan persepsi halusinasi auditorik dan visual serta gangguan isi pikir berupa waham kejar dan waham kebesaran, hal ini telah berlangsung sekitar 4 bulan yang lalu dan hal ini pernah terjadi sebelumnya 10 tahun yang lalu. Pada penderita dengan kondisi ini dipilih terapi menggunakan antiagitasi berupa injeksi Haloperidol 2x1amp (IM), antipsikotik berupa risperidone 2x2mg, antianxietas berupa lorazepam 1x1mg, dan juga mengingat efek samping yang diakibatkan oleh antipsikotik sehingga diberikan Trihexyphenidyl 2x2mg. Indikasi pemberian risperidone adalah terapi pada skizofrenia akut dan kronik serta pada kondisi psikosis yang lain, dengan gejala-gejala tambahan (seperti; halusinasi, delusi, gangguan pola pikir, kecurigaan dan rasa permusuhan) dan atau dengan gejala-gejala negatif yang terlihat nyata (seperti; blunted affect, menarik diri dari lingkungan sosial dan emosional, sulit berbicara). Juga mengurangi gejala afektif (seperti; depresi, perasaan bersalah dan cemas) yang berhubungan dengan skizofrenia. Aktivitas antipsikosis diperkirakan melalui hambatan terhadap reseptor serotonin dan dopamine. Trihexylphenidil diberikan apabila terjadi efek samping ekstrapiramidal. Semua antagonis reseptor dopamin berkaitan dengan efek samping ekstra piramidal. Hal ini disebabkan karena berkurangnya aktivitas dopamin pada ganglia basalis, yang diakibatkan karena afinitasnya terhadap reseptor D2. Pada penderita ini juga diberikan terapi lain berupa psikoterapi. Dalam hal ini diberikan edukasi terhadap penderita agar memahami gangguannya lebih lanjut, cara pengobatan dan penanganannya, efek samping yang dapat muncul, serta pentingnya kepatuhan dan keteraturan dalam minum obat. Intervensi langsung dan dukungan terhadap penderita untuk meningkatkan rasa percaya diri

individu, perbaikan fungsi spenderitaial, dan pencapaian kualitas hidup yang baik. Memotivasi penderita agar tidak merasa putus asa dan semangat dalam menjalani hidup. Prognosis penderita ini adalah dubia dan gejala ini bisa berulang karena adanya riwayat gangguan psikiatri dalam keluarga. Bila pasien taat menjalani terapi, adanya motivasi penderita untuk sembuh, serta adanya dukungan dari keluarga yang cukup maka akan membantu perbaikan pasien.

TABEL FOLLOW UP KU baik, os tampak gelisah, pasien tidak bisa tidur, kontak (+), pasien dapat makan, minum dan mandi. Waham (+), Halusinasi (+), logore (+). TD = 120/70 mmHg. Emosi : stabil Th/ : Inj. Haloperidol 2 x 1 ampul Risperidon 2x2mg Lorazepam 1x1 mg Trihexipenidil 2x 2mg Kamis, 9 Januari KU baik, os sering berjalan mondar-mandir, kontak (+), 2013 os bisa makan, minum, mandi dan tidur. Waham (+), Halusinasi (+),logore (+) TD = 110/70 mmHg. Emosi : stabil Th/ : Inj. Haloperidol 2 x 1 ampul Risperidon 2x2mg Lorazepam 1x1 mg Trihexipenidil 2x 2mg Jumat, 10 Januari KU baik, os tampak tenang, kontak (+), os bisa makan, 2013 minum, mandi dan tidur. Halusinasi (+), waham (+) TD = 110/70 mmHg.mmHg. Emosi : stabil Th/ : Inj. Haloperidol 2 x 1 ampul Risperidon 2x2mg Lorazepam 1x1 mg Trihexipenidil 2x 2mg Sabtu, 11 Januari KU baik, os tampak tenang, kontak (+), os bisa makan, 2013 minum, mandi dan tidur. Halusinasi (+), waham (+). TD = 150/80 mmHg. Emosi : stabil Th/ : Risperidon 2x2mg Lorazepam 1x1 mg Trihexipenidil 2x 2mg Senin, 12 Januari KU, os tampak tenang, kontak (+), os bisa mengurus diri 2013 dan tidak bisa tidur, Waham (+) Halusinasi (+). TD = 110/70 mmHg. Emosi : stabil Rabu, 8 Januari 2013

Th/ : Risperidon 2x2mg Lorazepam 1x1 mg Trihexipenidil 2x 2mg

DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock BJ and Sadock VA. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, Lippincott Williams & Wilkins 10th Edition. 2007. 2. Tim Psikiatri FKUI. 2005. Buku Ajar: Psikiatri. Jakarta: FK UI Press. 3. Dadang Hawari. Alquran Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Jiwa. Jogjakarta: PT Dhana Bhakti Prima Yasa. 2004. 4. Irwan,M, dkk. Penatalaksanaan Skizofrenia (http://yayanakhyar.files.wordpress.com/2008/06/penatalaksanaanskizofrenia_files-of-drsmedpdp.pdf, Diakses 11 Januari 2013) 5. Jager M, Hintermayr M, Bottlender R, Strauss A, Mller HJ, Course and outcome of first-admitted patients with acute and transient psychotic disorders (ICD-10:F23) Focus on relapses and social adjustment, Eur Arch Psychiatry Clin Neurosci. 2003. 6. Marneros A, Pillmann F, Haring A, Balzuweit S, Blink R, Features of acute and transient psychotic disorders, Eur Arch Psychiatry Clin Neurosci. 2003. 7. Maslim Rusdi. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik edisi ketiga. Penerbit bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK- Atma Jaya. Jakarta, 2007. 8. Simanjuntak, Y. Faktor Resiko Terjadinya Relaps Pada Pasien Skizofrenia Paranoid (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6360/1/08E00835.pdf, Diakses 11 Januari 2013)