Anda di halaman 1dari 7

Bahan Viny

Syarat pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan antara lain (3,4,7,15): 1. Alat yang dipakai dapat mengembalikan dan memperbaiki fungsi mastikasi, estetik dan bentuk muka pasien. 2. Alat memiliki kekuatan yang baik untuk mengunyah dan stabil bila digunakan. 3. Tidak mengganggu fungsi bicara. 4. Tidak menghambat pertumbuhan normal lengkung rahang. 5. Dapat mencegah erupsi berlebihan gigi antagonis, migrasi dan kemungkinan terjadinya kebiasaan buruk. 6. Mudah untuk dibersihkan. 7. Disain harus disesuaikan, agar mudah dipasang dan dikeluarkan oleh pasien. 8. Disain harus seimbang, agar dapat diperbaiki untuk penyesuaian erupsi gigi tetap. 9. Alat tidak menyebabkan karies dan tidak mengiritasi jaringan pendukungnya.

Indikasi gigi tiruan sebagian lepasan anak (3,4,6): 1. Secara radiografis, mempunyai gambaran gigi tetap pengganti yang diperkirakan akan erupsi lebih dari enam bulan. 2. Tanggalnya gigi molar sulung secara dini, sehingga memerlukan penahan ruang untuk perbaikan fungsi mastikasi. 3. Gigi penyangga tidak mampu mendukung alat prostodonti cekat, akibat adanya resorpsi akar, trauma atau karies luas yang melibatkan pulpa. 4. Tanggalnya gigi anterior sulung akibat trauma. 5. Pada kasus tidak adanya gigi secara kongenital, misalnya oligodonsia sebagian. Oligodonsia dapat terjadi pada gigi sulung maupun gigi tetap. 6. Adanya celah pada palatum yang harus ditutup dengan protesa. 7. Kehilangan gigi tetap muda akibat trauma. 8. Pasien kooperatif, tidak ada keluhan jika dilakukan perawatan.

9. Usia di atas 2,5 tahun merupakan anjuran dan prasyarat untuk menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan

Kontraindikasi dalam pembuatan gigi tiruan anak diantaranya (1,2): 1. Pasien yang tidak kooperatif, dapat dikatakan termasuk dalam kelompok hysterical mind. 2. Faktor kesehatan secara umum yang tidak mendukung untuk dilakukan perawatan. 3. Keadaan sosial ekonomi dapat menjadi pertimbangan dalam melanjutkan rencana perawatan. 4. Kasus hilangnya semua gigi yang memerlukan pembuatan gigi tiruan penuh. 5. Dalam foto rontgen terlihat gigi pengganti yang akan erupsi. 6. Pasien yang mengalami keterbelakangan mental akan sulit untuk memberikan penjelasan dalam perawatan penggunaan gigi tiruan.

Keuntungan menggunakan gigi tiruan sebagian lepasan anak antara lain (4,15): 1. Mengembalikan fungsi mastikasi dan estetik. 2. Mudah dalam membersihkan. 3. Pasien serta orang tua pasien dapat memasang dan mengeluarkan gigi tiruan. 4. Perawatan gigi tiruan lebih mudah, karena dapat diperbaiki mengikuti perkembangan rahang anak.

Dampak yang merugikan pada pemakaian gigi tiruan lepasan adalah (1,4,15): 1. Perawatan tergantung pada pasien dan orang tua yang kooperatif. 2. Peningkatan akumulasi plak. 3. Penyaluran daya kunyah yang tidak seimbang. 4. Terjadi peradangan mukosa. 5. Resorpsi tulang alveolar, jika terjadi kontak prematur. 6. Halitosis pada pasien yang kurang memperhatikan oral higiene yang baik. 7. Kelainan gigi penyangga dapat berupa gingivitis dan periodontitis.

8. Karies dan kegoyangan pada gigi sandaran.

Perbedaaan Gigi Tiruan Anak dengan Gigi Tiruan Dewasa : Prinsip dan teknik perawatan pembuatan gigi tiruan pada anak sama dengan pembuatan gigi tiruan dewasa. Perbedaan yang harus diperhatikan yaitu mengenai pertumbuhan dan perkembangan terutama gigi dan rahang (14,4). Pembuatan gigi tiruan anak harus memperhatikan perkembangan alveolar akan berjalan ke arah lateral, maka disain landasan dibuat sampai 1/3 forniks atau kurang lebih sejajar dengan puncak alveolar (alveolar crest), dengan tujuan agar tidak menghambat pertumbuhan. Disain landasan dapat dibuat sampai forniks tetapi dengan menggunakan tissue conditioner atau soft acrylic. Pada pembuatan gigi tiruan sebagian lepasan dewasa perluasan sayap landasan dibuat sampai forniks dengan tujuan mendapatkan retensi dan stabilisasi (6). Selama periode pertumbuhan, gigi tiruan memerlukan penyesuaian secara periodik dan terus-menerus. Gigi tiruan yang sudah tidak sesuai lagi dengan pertumbuhan rahang karena terlalu kecil, maka perawatan harus dihentikan. Pembuatan gigi tiruan baru merupakan perawatan yang dilakukan dokter gigi untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan rahang. Perawatan pada pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan dewasa dilakukan pemeriksaan jika ada keluhan dan tidak dilakukan pemeriksaan secara terus-menerus (7). Penggunaan gigi tiruan sebagian lepasan dewasa selamanya dan diganti atau dibuat ulang jika terdapat keluhan pada gigi tiruan tersebut, sedangkan gigi tiruan sebagian lepasan pada anak perlu dibuat ulang mengikuti pola pertumbuhan dan erupsi gigi tetap (6). Prosedur ini dilakukan agar pasien lebih nyaman dalam penggunaan gigi tiruan.

Penatalaksanaan :

Teknik pembuatan gigi tiruan pada anak sama dengan pembuatan gigi tiruan dewasa. Dokter gigi dapat memberikan informasi dan instruksi-instruksi khusus pada pasien maupun orang tua, yaitu (3,4,5,7): 1. Instruksi pada anak Anak diberi penjelasan dengan bahasa yang sederhana, sehingga anak dapat memberikan kerjasama yang baik, selain itu anak dianjurkan untuk memberitahukan kepada orang tuanya jika ada keluhan pada pemakaian gigi tiruan. Memberikan motivasi terutama pada anak usia 2 5 tahun agar gigi tiruan tidak dilepas dari dalam mulut tanpa sepengetahuan orang tua. Pemasangan gigi tiruan pertama kali dilakukan oleh dokter dengan menggunakan cermin untuk melihat cara memasang dan melepas gigi tiruan, setelah itu anak dapat mencoba sendiri. Gigi tiruan sebagian lepasan sebaiknya dilepas pada saat berolah raga dan pada saat malam hari, gigi tiruan direndam dalam air dan dibersihkan setiap hari dengan bantuan orang tua.

2. Instruksi orang tua Orang tua diharapkan ikut melihat pada saat anak memasang dan melepas gigi tiruan, selain itu jika anak tidak memakai gigi tiruan karena ada keluhan rasa sakit pada gusi maka orang tua diharapkan segera untuk menghubungi dokter gigi untuk mengatasi masalah yang dikhawatirkan mengganggu pemakaian gigi tiruan tersebut. Pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan dapat mengakibatkan perubahan patologis, jika tidak mengikuti instruksi mengenai pemeliharaan kebersihan mulut (1). Dampak yang timbul antara lain bertambahnya akumulasi plak, meningkatnya frekuensi karies, terjadi denture stomatitis dan menyebabkan gigi tetangga menjadi goyang.

Perawatan

yang

dilakukan

untuk

mengurangi

faktor-faktor

yang

mengakibatkan keluhan pada pasien yaitu (1) : 1. Pasien dianjurkan untuk menyikat gigi setiap hari terutama sebelum tidur.

2. Gigi tiruan pada waktu tidur dilepas dan disimpan dalam gelas yang berisi air, setiap hari harus dibersihkan. 3. Denture stomatitis terjadi karena pemakaian gigi tiruan yang diakibatkan trauma pada mukosa. Perawatan yang diperhatikan antara lain posisi cangkolan agar tidak melukai jaringan sekitar. 4. Pengurangan bagian oklusal dari gigi tiruan dilakukan jika terjadi kontak prematur antara gigi antagonisnya. 5. Cangkolan dan sayap landasan yang merupakan retensi dari gigi tiruan harus sesuai dengan disain, agar gigi tiruan tidak mudah lepas.

Setelah gigi tiruan sebagian lepasan digunakan anak, untuk tahap berikutnya dilakukan pengontrolan secara berkala kurang lebih 4 6 minggu, jika tidak ada keluhan dan perkembangan normal, soft acrylic yang digunakan sebagai sayap landasan akan keluar dan dilakukan penyesuaian dengan cara mengurangi akrilik tersebut. Bertambahnya usia anak, maka suatu gigi tiruan sebagian lepasan memerlukan penyesuaian secara periodik untuk mengikuti pola pertumbuhan dan perkembangan rahang, serta erupsi gigi tetap anak (7).

DAFTAR PUSTAKA 1. Gunadi, H.A. 1995. Buku Ajar Ilmu Geligi Tiruan Sebagian Lepasan. Jilid 1. Hal 12, 30-50, 108-111 Jakarta: Hipokrates 2. Andlaw, R.J. and W.P. Rock. 1993. A Manual of Paedodontics. 3rd ed. London: Churchill Livingstone. 3. Lindahl, R.L. 1964. Removable Denture Prosthetis. 4th ed. Hal: 271-285. McGraw-Hill Book Company Inc.

4. Finn, S.B. 2003. Clinical Pedodontics. 4th ed. Hal 309-31, 360-3. Philadelphia: W.B Saunders Company inc. 5. Goodarce, C.J dan Brown, T.D, 1994. Prosthodontic Treatment of the Adolescent Patient Care. Editor: Sthephen H.Y.Wei. Philadelphia: Lea and Febiger. 6. McDonald, R.E. and D.R. Avery, 2000. Dentistry forThe Child and Adolescent. 7th ed. Saint Louis: Mosby 7. Andajani, T. 1993. Penanggulangan Kerusakan Gigi yang Parah dengan Gigi Tiruan Tumpang. Volume 2. Hal 571-580. Jakarta: Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi Usakti. 8. Heartwell, C.M. and Rahn, A.O. 1986. Glossary of Prosthodontics. Fourth edition. Philadelphia: Lea and Febriger. 9. McCrackens. 1995. Removable Partial Prosthodontics. 9th ed. St. Louis: C.V. Mosby Company. 10. Dykema, E.W, Cunningham, D.M, and Johnston, J.F. 1978. Modern practice in removable partial prosthodontics. Philadelphia- London- Toronto: W.B Saunders Company. 11. Blakesslee, R.W., et al. 1980. Dental Technology Theory and Practice. Hal: 1135, 120-1, 313-15. St. Louis-Toronto-London: C.V. Mosby Company 12. Dyson, J.E. 1988. Prosthodontic for Children. Hal: 259-68. Philadelphia: Lea and Febriger.

13. Herman, W. 1980. Majalah Kedokteran Gigi. Volume 1. Bandung: Yabina.

14. Mathewson, R.J and Primosch, R.E. 1995. Fundamentals of Pediatric Dentistry. 3rd ed. Hal: 356-9. Chicago: Quintessence Books.