Anda di halaman 1dari 16

Pendidik di Perguruan Tamansiswa Bandung National Certificated Education Teacher Ketua Forum Pamong Penegak Tertib Damai Tamansiswa

Bandung Chief of Insitute For Social,Education and Economic Reform Bandung

0inShare

Sejarah Leluhur Walisongo(01) OPINI | 02 February 2013 | 16:03 Dibaca: 223


http://sejarah.kompasiana.com/2013/02/02/kisah-para-leluhur-walisongo01-530080.html

Walisongo yang berarti sembilan orang wali,merupakan istilah yang sudah begitu akrab dan tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat di Pulau Jawa. Dalam sejarah proses Islamisasi di Pulau Jawa mereka amat dihormati karena mereka adalah perintis dakwah Islam yang tangguh, ulet, penuh dedikasi dan ikhlas dalam pengabdian, kreatif dan inovatif. Mereka sebenarnya adalah para mubaligh atau juru dakwah Islam pada jamannya yang memiliki kecakapan dan keahlian yang luar biasa. Mereka memahami dengan baik corak-corak kebudayaan dan adat istiadat masyarakat tempat mereka akan menyemaikan ajaran Islam. Dapat dimengerti apabila dalam waktu yang relatip singkat mereka mampu mengubah dari masyarakat yang semula penganut agama Hindu Budha,menjadi masyarakat yang sebagian besar memeluk agama Islam yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Pada awalnya para mubaligh itu membentuk suatu forum untuk berkumpul dan berdiskusi guna mencari jalan bagaimana mereka bisa mengembangkan Islam di Asia Tenggara.Forum tempat bertemu dan berdiskusi para mubaligh itu agaknya pertama kali terbentuk di Kerajaan Islam Samudra Pasai(12501524 M), sebuah kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara.Kerajaan Islam Samudra Pasai mencapai puncak kejayaannya pada paruh pertama abad ke14 M. Menurut penelitian Teuku Iskandar dalam bukunya Kesusastraan Melayu Sepanjang Abad(Penerbit Libra,Jakarta, 1996), raja-raja Samudra Pasai berturut-turut adalah Sultan Malikul Saleh(1250-1297 M), Sultan Malikul Dzahir( 1297-1326 M), Sultan Muhammad Dzahir (1326-1354 M), Sultan Ahmad Jamaluddin (1354-1383 M), Sultan Zaenal Abidin (1383- 1405 M) dan Sultanah Bahiah (1405-1428 M). Sementara itu Wikipedia Indonesia menyebutkan susunan raja-raja Samudra Pasai agak lengkap, tapi masih

perlu mendapat penilaian secara kritis. Berikut ini adalah susunan raja-raja Samudra Pasai menurut seorang penulis anonim dalam Wikipedia Indonesia,yaitu: Sultan Malikul as-Saleh(1250-1297 M), Sultan Muhammad Malik az-Zahir(1297-1326 M), Sultan Mahmud Malik az-Zahir( 1326-1345 M), Sultan Abdul Malik az-Zahir (1345-1383 M), Sultan Zain al-Abidin Malik azZahir(1383-1405 M), Sultanah Nahrasiyah(1405 - 1412 M), Sultan Sallah adDin(1405-1412 M), Sultan Abu Zaid Malik az-Zahir(1412-1455 M), Sultan Mahmud Malik az-Zahir II( 1455-1477 M), Sultan Zain al-Abidin II-Ibnu Mahmud Malik az-Zahir(1477-1500 M), Sultan Abdul al-Allah Malik azZahir(1500-1513 M), dan Sultan Zain al-Abidin III (1513-1521 M). Dari kedua susunan raja-raja Pasai itu, sampai tahun 1405, tidak ada perbedaan yang berarti. Perbedaan yang menyolok baru terjadi setelah wafatnya Sultan ke-5 Pasai, Sultan Zaenal Abidin, yang wafat tahun 1405 M. Menurut Prof.Teuku Iskandar, pengganti Sultan Zaenal Abidin adalah Sultanah Bahiah, putrinya. Sedangkan menurut penulis anonim dalam Wikipedia Indonesia, pengganti Sultan Zaenal Abidin adalah Sultanah Nahrasiyah, jandanya, yang kemudian menikah dengan Sultan Sallah ad-Din. Sultanah Nahrasiyah memerintah bersama-sama suaminya sampai tahun 1412 M. Kemudian mereka digantikan oleh Sultan Abu Zaid Malik az-Zahir yang memerintah cukup lama, yaitu 43 tahun (1412-1455 M). Benarkah informasi yang disampaikan oleh penulis anonim dalam Wikipedia Indonesia itu ?. Berdasarkan adat dan tatacara pergantian tahta dalam sistem pemerintahan dengan bentuk kerajaan, adalah tidak lazim seorang janda sultan memerintah menggantikan jabatan suaminya, apalagi kemudian menikah lagi dengan orang lain dan memerintah bersama-sama. Karena itu, pendapat Prof.Teuku Iskandar lebih dapat dijadikan pegangan dari pada pendapat penulis anonim tadi. Kita sebenarnya dapat menggabungkan kedua informasi itu, hingga kita dapat merekontruksi susunan raja-raja Samudra Pasai secara lebih lengkap. Sultanah Nahrasiyah yang disebut-sebut sebagai janda Sultan Zaenal Abidin yang wafat tahun 1405 M itu, tidak lain adalah Sultanah Bahiah berdasarkan informasi Teuku Iskandar. Sultanah Bahiah adalah putri sulung Sultan Zaenal Abidin dan putri ini menikah dengan Sultan Sallah ad-Din. Dengan demikian Sultan Sallah ad-Din adalah menantu Sultan Zaenal Abidin. Rupanya Sultan Zaenal Abidin tidak mempunyai putra mahkota. Tetapi dia memiliki putra dari seorang selir yang bernama Jumadil Kubro yang kelak menjadi ulama besar. Jumadil Kubro lebih tertarik pada dakwah agama Islam dari pada mengendalikan pemerintahan. Namun begitu Jumadil Kubro

menjadi penasehat kakaknya, Sultanah Bahiah dalam soal-soal urusan agama Islam. Adapun Sultan Sallah ad-Din,suami Sultanah Bahiah adalah seorang Panglima Perang Kerajaan Islam Samudra Pasai yang cakap. Tetapi ketika mencoba hendak menaklukkan Nuku yang berada di wilayah Aceh, dia gugur di medan perang. Peristiwa ini membuat Sultanah Bahiah amat sedih. Kemudian dia berujar, bila ada perwira yang mampu membalaskan sakit hatinya dengan menaklukkan Nuku, Sultanah Bahiah bersedia menjadi istrinya. Tantangan itu dijawab oleh Abu Zaid Malik az-Zahir dan ternyata berhasil menaklukan Nuku. Dengan sendirinya dia menikahi Sultanah Bahiah dan mendampinginya sampai Sang Ratu wafat pada tahun 1428 M. Makam Sultanah Bahiah, ditemukan berada dalam kompleks makam raja-raja Samudra Pasai.Sepeninggal Sultanah Bahiah, Abu Zaid Malik az-Zahir,naik tahta Kerajaan Islam Samudra Pasai dan memerintah sampai tahun 1455 M. Dari pernikahan Sultanah Bahiah dengan suami pertamanya, mereka dikaruniai seorang putri yang kemudian menikah dengan Sultan Malaka Iskandarsyah(1414-1424 M), pada tahun 1414 M. Agaknya dengan suaminya yang ke dua, Sultanah Bahiah tidak dikarunia keturunan, karena pada tahun 1412 M, tahun perkawinannya dengan Abu Zaid Malik az-Zahir, Sang Ratu sudah berusia antara 42-45 tahun, sehingga kecil kemungkinannya mendapatkan keturunan. Sejak pertengahan abad ke-15 M, Samudra Pasai dipimpin oleh para penguasa yang kurang cakap,sehingga kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara itu mengalami kemunduran. Sekalipun begitu Samudra Pasai masih tetap bertahan dalam posisinya sebagai pusat dakwah dan studi keislaman di Asia Tenggara sampai tahun 1521 M. Pada tahun 1521 M, Samudra Pasai diserang Portugis. Para penguasa Samudra Pasai banyak yang mengungsi ke Aceh yang saat itu mulai muncul sebagai Kerajaan Islam yang terkuat di Asia Tenggara. Akhirnya Portugis berhasil diusir dari Samudra Pasai pada tahun 1524 M. Kemudian Samudra Pasai diintegrasikan kedalam wilayah Kerajaan Islam Aceh. Sejak itu, Kerajaan Islam Samudra Pasai, benar-benar surut dari panggung sejarah. Perannya sebagai pusat dakwah dan studi keislaman di Asia Tenggara, digantikan oleh Kerajaan Islam Aceh.( To be Continue to nex episode).

Sejarah Leluhur Walisongo (02)


OPINI | 03 February 2013 | 05:48 Dibaca: 292 Komentar: 0 1 bermanfaat

http://sejarah.kompasiana.com/2013/02/03/sejarah-leluhur-walisongo02-530294.html

Menurut Hamka, yang mengutip dari Kitab Hikayat Raja-Raja Pasai(HRRP), pendiri Kerajaan Islam Samudra Pasai bernama Marah Silu, seorang kepala suku di situ. Pada suatu ketika dia didatangi seorang pendakwah dari Makkah, Syekh Ismail yang ditemani seorang ahli tasawuf asal Malabar, India. Ahli tasawuf ini pandai bahasa Melayu dan sudah sering melakukan perjalanan bolak balik Malabar - Aceh. Saat itu di sepanjang Pantai Aceh dan Sumatra Timur sudah banyak komunitas yang beragama Islam yang tinggal di kota-kota sepanjang pantai. Marah Silu diajaknya masuk Islam dan membangun sebuah Kerajaan Islam. Ternyata dia bersedia masuk Islam dan hari itu juga dia beserta seluruh penduduk Kampung Pase diislamkan dan berdirilah Kerajaan Islam Samudra Pasai. Marah Silu dinobatkan oleh Syekh Ismail sebagai raja dengan gelar Sultan Malikul Saleh. Sejak itu Samudra Pasai terus berkembang menjadi kerajaan Islam yang makmur. Puncak kejayaannya tercapai pada masa Sultan Malikul Dzahir( 1297-1326 M) dan Sultan Muhammad Dzahir (1326 1354 M). Berdirinya Kerajaan Islam Samudra Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, langsung memperkuat jaringan kota-kota Islam di Asia Selatan dan Asia Tenggara yang di awali dari Kota Baghdad, lalu menyusul Delhi dan Samudra Pasai. Ketika pada tahun 1258 M, Baghdad runtuh akibat serbuan tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan, Kerajaan Islam Delhi (1206 - 1555 M), menjadi semakin kuat, karena banyak cendekiawan Muslim, ulama, ahli tarekat dan tasawuf yang menyingkir dari Baghdad. Banyak di antara mereka di samping yang menyingkir ke arah Asia Barat dan Mesir, juga banyak yang mengungsi ke arah timur menuju Delhi. Akhirnya dari Delhi banyak juga ulama-ulama dari Baghdad yang sampai pula ke Samudra Pasai. Di antara mereka tercatat misalnya, Syekh Abdullah bin Muhammad. Dia adalah piut dari Sultan Al Muntasir Billah, Kalifah Dinasti Abbasiyah terakhir yang dibunuh Panglima Pasukan Mongol yang menjarah Baghdad, Hulagu Khan.Syekh Abdullah adalah cicit dari Pangeran Abdul Azis. Pangeran Abdul Azis adalah satusatunya putra Khalifah Al Muntasir Billah yang berhasil lolos dari maut pembantaian oleh Hulagu yang menewaskan ribuan penduduk Baghdad yang tak berdosa, termasuk ayahnya dan seluruh keluarganya. Syekh Abdullah,

piut Khalifah Dinasti Abbasiyah terahir itu, wafat pada tahun 1407 M, dan makamnya ditemukan di Pasai. Ibnu Batutah(1304-1378 M), seorang penulis dan pengelana Muslim asal Tangier, Maroko sempat mengunjungi Samudra Pasai pada tahun 1345 dan 1346 M. Dia menjadi utusan Sultan Delhi Muhammad Syah II (1325 -1351 M). Kesan-kesan serta pengalamannya saat mengunjungi Samudra Pasai itu dituliskannya dalam buku catatan hariannya. Dikisahannya, bahwa Samudra Pasai adalah sebuah Kerajaan Islam yang makmur dan kaya, banyak ulama dan cendekiawan Islam dari Baghdad, Isfahan dan Shiraz yang berkumpul di sana. Bahkan ada dua orang ulama, masing-masing dari Isfahan dan Shiraz diangkat oleh Sultan Pasai menjadi Kadi atau Penghulu. Perdana Meneteri Samudra Pasai, Dawlasa, bahkan sudah lebih dulu dikenal Ibnu Batutah karena mereka berdua sempat bertemu di Istana Kerajaan Islam Delhi. Yaitu pada saat Dawlasa berkunjung ke sana untuk menemui Sultan Delhi selaku utusan Sultan Samudra Pasai. Akibat dari tulisan Ibnu Batutah dalam kisah perjalanannya,Tuhfah an-Nazzar, itulah Kerajaan Islam Samudra Pasai menjadi terkenal di seluruh dunia, khususnya dunia Muslim. Pulau tempat Kerajaan Samudra Pasai berada itu, kemudian dikenal sebagai Pulau Samudra. Lama kelamaan kata Samudra itu berubah menjadi Sumatra. Arti Samudra sendiri menurut Hikayat Raja-Raja Pasai, adalah semut besar. Sayang ketika Samudra Pasai tengah berada di puncak kejayaannya, Kerajaan Hindu Majapahit sedang muncul menjadi kekuatan yang besar dengan program Sumpah Palapa Gajah Mada untuk menaklukan Nusantara. Pada tahun 1357 M, Samudra Pasai diserbu ribuan tentara dari Jawa Timur. Setelah dikepung beberapa hari, akhirnya Samudra Pasai jatuh. Tetapi Sultan Ahmad Jamaluddin ( 1354 - 1383 M ), dengan segenap keluarganya berhasil menyelamatkan diri ke luar kota sejauh 15 km. Hikayat Raja-Raja Pasai menceriterakan bahwa tentara Majapahit banyak sekali membawa harta rampasan dari Kerajaan Islam Samudra Pasai yang kaya raya, sehingga ketika Armada Majapahit itu pulang, kapal-kapalnya sarat muatan barang rampasan. Kapal-kapal itu persis itik-itik yang tengah berenang di atas air. Disamping barang rampasan, sejumlah orang Pasai sebagai tawanan juga diangkut ke Majapahit. Bukan hanya sejumlah orang laki-laki, tetapi termasuk juga di dalamnya perempuan-perempuan Pasai. Tetapi setelah tiba di Majapahit, Raja Hayam Wuruk ( 1351 - 1389 M), memberi perintah, Sekalian tawanan orang Pasai itu lepaskanlah. Dan biarkan mereka tetap tinggal di Jawa di manapun mereka suka. Dan biarkan mereka tetap memeluk keyakinan dan kepercayaan mereka. Sejak saat itu di

daerah Gresik banyak ditemukan pemukim beragama Islam asal Pasai. Dan jumlah makam muslim pun mulai banyak bermunculan di Gresik sejak tahun 1391 M. 1.Sultan Zaenal Abidin ( 1383 - 1405 M). Sejak penaklukan oleh Kerajaan Majapahit, Kerajaan Islam Samudra Pasai berstatus sebagai vazal atau negeri bawahan Majapahit. Sekalipun begitu Majapahit memberikan otonomi yang seluas-luasnya untuk mengatur pemerintahannya. Bahkan Sultan Ahmad Jamaluddin diampuni dan boleh tetap menduduki singgasananya. Hanya saja setiap tahun harus mengirim utusan dan upeti ke Majapahit sebagai tanda takluk. Beruntung bahwa dari Kerajaan Islam Samudra Pasai, muncul seorang sultan yang cakap, yaitu Sultan Zaenal Abidin. Dari dia lah diturunkan tiga ulama besar dan legendaris, yaitu Syekh Jumadil Kubro, Syekh Maulana Ishak dan Syekh Makhdum Ibrahim Asmara. Dalam Kitab Tapel Adam, sebuah naskah dalam bahasa Jawa yang terbit di Pasai, disebutkan bahwa Syekh Jumadil Kubro adalah putra Sultan Pasai ke5, Sultan Zaenal Abidin. Syekh Jumadil Kubro mempunyai dua orang putra yang kelak juga menjadi ulama besar, yaitu Syekh Maulana Ishak dan adiknya Syekh Makhdum Ibrahim Asmara.Dalam tradisi kronik Jawa, nama Sultan Zaenal Abidin ini, sering dikacaukan dengan Imam Zaenal Abidin ( wafat 716 M), putra dari Imam Husein (wafat 683 M), cucu Rasulullah saw, lewat Siti Fatimah. Akibat dari kekacauan ini, dalam hampir semua kronik Jawa, nama Syekh Jumadil Kubro sering dianggap seorang ulama besar dari Makkah atau Madinah, keturunan langsung dari Nabi saw. Demikian pula Syekh Makhdum Ibrahim Asmara, sering pula dianggap ulama dari Samarkand, hanya karena adanya kemiripan bunyi antara kata Asmara dengan Samarkand. Padahal keempat tokoh sejarah yang kelak menjadi leluhur sejumlah tokoh Walisongo di Pulau Jawa itu, adalah putra-putra dari Kerajaan Islam Samudra Pasai. Bukan tokoh-tokoh yang berasal dari Jazirah Arab. Apalagi dari Samarkand.(To be continue to nex episode).

Sejarah Leluhur Walisongo(03)


OPINI | 04 February 2013 | 11:14

http://sejarah.kompasiana.com/2013/02/04/sejarah-leluhur-walisongo03530432.html

Lambang Kerajaan Islam Samudra Pasai (1250-1524 M) yang mirip sekali dengan Lambang Garuda Pancasila,Lambang NKRI. Konon Lambang Kerajaan Islam Samudra Pasai ini di ciptakan oleh Sultan Pasai Ke-5, Sulatan Zaenal Abidin (1383-1405 M).Sultan Zaenal Abidin telah menunurunkan Sultanah Nahrasyiah atau Sultanah Bahiah(1405-1428 M) dan Ulama Besar Syek Jumadil Kubro, yang pada tahun 1420 M, berlayar ke Jawa Timur dan tinggal di Trowulan.Perhatikan kaligrafi Kalimat Syahadat yg membentuk sayap burung Garuda Lambang Kerajaan IslamSamudra Pasai Pasai. (Sumber Gambar didownload dari Mr.Google). Penulis sejarah Walisongo yang pertama kali berspekulasi bahwa kata Asmara dibelakang nama Ibrahim, berasal dari kata As-Samarkand adalah Solichin Salam dalam bukunya Sekitar Walisongo (Penerbit Menara Kudus; 1960). Karena itu Solichin Salam mengambil kesimpulan bahwa Ibrahim Asmara itu adalah ulama berasal dari Samarkand, sebuah kota di Asia Tengah. Pendapat ini kemudian diikuti oleh penulis-penulis lainnya, seperti Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo (Penerbit Mizan;2012). Bahkan di pinggiran Kota Tuban, Jawa Timur, ada sebuah makam yang disebut-sebut sebagai makam Ibrahim Asmara, tertulis pada papan namanya dalam bahasa Jawa : Makam Ibrahim Asmoro Qondi. Maksudnya adalah makam Ibrahim Asmarakandi, tapi diucapkan dalam lidah Jawa. Tujuannya untuk lebih meyakinkan kepada para peziarah makam tersebut. Walaupun demikian pendapat Solichin Salam itu masih bersifat spekulasi, sehingga masih terbuka peluang untuk dilakukan revisi.

Bisa jadi kata Asmara itu memang berasal dari kata as-Samarkand yang mengalami perubahan pengucapan. Tetapi bisa jadi tidak. Perubahan akhiran kand atau kandi menjadi ra, melemahkan spekulasi ini. Sebab bisa saja, kalau hanya soal perubahan pengucapan, kata as-Samudra, yang kemudian berubah jadi as-Sumatra, bisa jadi lama-lama berubah jadi Asmara. Kelemahan lain dari spekulasi Solichin Salam adalah dari sudut fakta sejarah. Ulama-ulama Samarkand adalah ulama-ulama bermashab Syiah, sedang Ibrahim Asmara adalah seorang ulama bermashab Suni, suatu mashab yang juga dianut Kerajaan Islam Samudra Pasai. Asal usul kata Asmara dibelakang nama Ibrahim yang lebih mendekati kenyataan adalah berasal dari nama Dewi Candrawulan, istri Makhdum Ibrahim Asmara yang Putri Campa. Namannya yang sebenarnya adalah Dewi Asmara Candrawati. Diberi nama demikian karena dia memiliki kecantikan yang luar biasa melebihi kakaknya Dyah Dwarawati. Banyak pangeran yang berminat meminangnya. Tetapi Makhdum Ibrahimlah yang berhasil menyuntingnya. Sejak itu masyarakat Kerajaan Campa menjulukinya sebagai Ibrahim Asmara, yang berarti Ibrahim yang berhasil menyunting Dewi Asmara Candrawati. Demikianlah salah satu versi asal-usul nama Ibrahim Asmara. Tetapi lepas dari mana yang benar, keterangan dalam Kitab Tapel Adam, lebih dapat dipercaya, yaitu bahwa Ibrahim Asmara bukan orang Samarkand. Dia adalah putra Pasai asli, seperti juga Jumadil Kubro, ayahnya, dan Maulana Ishak, kakaknya Asal usul Makhdum Ibrahim Asmara dan kakaknya Maolana Ishak sangatlah penting diketahui, terutama jika orang ingin menelusuri sejarah Walisongo di Jawa. Karena kedua orang ulama besar itu, telah menurunkan sejumlah wali penting anggota Dewan Walisongo, yaitu Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Giri, Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Akan kita lihat nanti, bahwa dari sembilan orang wali yang kemudian terkenal sebagai Walisongo, hanya Sunan Gresik Malik Ibrahim, Sunan Kalijaga dan Sunan Muria Umar Said, yang tidak memiliki hubungan langsung dengan ulamaulama dari Pasai. Karena itu, kita akan menyelidiki dan membuat kontruksi tahun kelahiran Syekh Maolana Ishak dan adiknya Syekh Makhdum Ibrahim Asmara. Ibnu Batutah, sang ulama pengembara, menceriterakan dalam kitabnya yang terkenal itu, bahwa pada saat beliau mengunjungi Samudra Pasai yang kedua kalinga dalam perjalannya pulang dari China kembali ke Delhi tahun 1346 M, dia sempat menyaksikan hajat Sultan Muhammad Dzahir menikahkan putranya. Dapat dipastikan bahwa putranya itu adalah Putra Mahkota Ahmad

Jalaluddin yang akan naik tahta pada tahun 1354 M, menggantikan ayahandanya yang wafat. Jika kita anggap kelahiran putra pertama Sultan Ahmad Jamaluddin adalah selang satu tahun setelah pernikahannya pada tahun 1346 M, maka kita dapat memperkirakan tahun kelahiran putra mahkota Zaenal Abidin, yaitu tahun 1347 M. Bila kita anggap Zaenal Abidin menikah pada usia 20 tahun, karena rata-rata para pangeran di Asia Tenggara menikah pada usia antara 18-25 tahun, berarti Zaenal Abidin akan menikah pada tahun 1367 M. Sultanah Bahiah, putri sulung Zaenal Abidin yang menggantikannya dengan naik tahta pada tahun 1405 M, diperkirakan lahir pada tahun 1368 M, yakni satu tahun setelah pernikahan Zaenal Abidin. Sultanah Bahiah adalah seorang putri, dengan demikian Sultan Zaenal Abidin tak memiliki putra mahkota. Tetapi dari seorang selir, Zaenal Abidin memiliki seorang putra, yakni Jumadil Kubro.Kita bisa menduga jarak usia antara tahun kelahiran Jumadil Kubro dengan kakak tirinya itu tak terlalu jauh, katakanlah tiga tahun. Dengan demikian Jumadil Kubro diperkirakan lahir pada tahun 1371 M. Mengikuti jejak ayahnya, Jumadil Kubro sebagai pangeran Pasai juga menikah pada usia 20 tahun, yakni sekitar tahun 1391 M. Maulana Ishak, putra sulungnya akan lahir pada tahun 1392 M, setahun setelah pernikahan Jumadil Kubro. Sedang putra keduanya Makhdum Ibrahim Asmarakandi, diperkirakan lahir tahun 1395 M, yakni tiga tahun setelah kelahiran putra pertama, suatu selang waktu kelahiran anak-anak yang lazim pada keluargakeluarga orang Melayu. Demikianlah kita telah melakukan rekonstruksi sejarah tahun kelahiran dua ulama besar Syekh Maulana Ishak dan Syekh Makhdum Ibrahim Asmara, dengan menetapkan tahun kelahiran keduanya, yakni tahun 1392 M untuk Syekh Maulana Ishak dan tahun 1395 untuk adiknya Syekh Makhdum Ibrahim Asmara. Menetapkan tahun kelahiran seorang tokoh sejarah amatlah penting. Sebab, tokoh sejarah adalah seorang manusia juga yang senantiasa terikat pada dimensi ruang dan waktu. Tanpa mengetahui kapan seorang tokoh sejarah dilahirkan, maka tokoh sejarah itu akan berubah menjadi tokoh mitos dan legenda yang memang tidak terikat pada dimensi ruang dan waktu. Bagi manusia pada umumnya, tidak terkecuali bagi tokoh-tokoh sejarah, peristiwa kelahiran, perkawinan dan kematian, merupakan peristiwa bersejarah yang amat penting. Karena itu sesungguhnya, pengetahuan kita tentang siklus hidup manusia yang meliputi kelahiran, perkawinan dan kematian, dapat dijadikan salah satu metode untuk merekonstruksi masa hidup seorang tokoh sejarah, jika sumber-sumber yang lebih valid seperti prasasti tidak tersedia

sama sekali. Memang hasilnya tidak tepat benar, tetapi cukup mendekati fakta sejarah. Dan hasilnya cukup memuaskan ketimbang melakukan spekulasi tanpa dasar. Kita akan melanjutkan dengan metode yang sama untuk merekonstruksi tahun-tahun pernikahan kedua ulama besar itu. Hasil penelusuran Drs.Widji Saksono dalam bukunya Mengislamkan Tanah Jawa (Penerbit Mizan; 1995), yang bersumber dari Serat Walisana, menyebutkan bahwa Syekh Maolana Ishak punya enam orang putra. Tiga dari putranya yang tertua berturut-turut adalah Sayyid Es, Syekh Yakub dan Syekh Kusen. Dengan menggunakan metode yang sama kita bisa merekonstruksi tahun-tahun kelahiran ketiga putra Syekh Maulana Ishak. Syekh Maulana Ishak pada tahun 1412 M, sudah berusia 20 tahun dan menikah pada tahun itu juga. Setahun setelah pernikahannya, lahirlah anak pertamanya, yaitu Sayyid Es. Jadi Sayyid Es ini lahir kira-kira pada tahun 1413 M. Tiga tahun kemudian lahirlah putra keduanya, Syekh Yakub. Dengan demikian Syekh Yakub lahir sekitar tahun 1416 M. Akhirnya, putra ketiganya, Syekh Kusen, lahir tiga tahun setelah Syekh Yakub lahir. Jadi Syekh Kusen, putra ketiga Syekh Maolana Ishak, lahir pada tahun 1419 M. Ketiga putra Syekh Maulana Ishak itu pada sekitar tahun 1450 M, ketika usianya antara 30 - 37 tahun merantau ke Jawa dalam rangka melaksanakan dakwah Islam. Kemungkina besar mereka berangkat ke Jawa atas perintah ayah mereka Syekh Maolana Ishak. Tapi sampai di Jawa mereka berbagi tugas. Sayyid Es menuju Cirebon, untuk berdakwah di wilayah Kerajaan Hindu Pajajaran. Syekh Yakub menetap di Gresik karena hendak berdakwah ke wilayah Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Sedangkan Syekh Kusen, menuju Jepara, agar dapat berdakwah di wilayah Jawa Tengah, yang saat itu, juga masuk wilayah Kerajaan Majapahit. Pada masa itu, Gresik, Tuban, Jepara, Cirebon dan Sunda Kelapa, sudah berkembang menjadi pelabuhan yang ramai di Pantai Utara Pulau Jawa. Kelak Sayyid Es di Cirebon mempunyai seorang putra yang bernama Sayyid Zen atau Raden Abdul Qodir, pendiri Pesantren Gunung Jati. Dalam kronik tradisi Cirebon dan Tanah Pasundan, Sayyid Es ini dikenal sebagai Syarif Hidayatullah. Syekh Yakub menurunkan putra yang bernama Raden Paku, kelak menjadi Sunan Giri. Sedang Syekh Kusen, menurunkan putra, Sunan Ngudung Rahmatullah,ayah dari Sunan Kudus Jafar Sodiq. Bagaimana dengan Syekh Makhdum Ibrahim Asmara, putra ke dua Syekh Jumadil Kubro dan adik Syekh Maolana Ishak ?. Syekh Makhdum Ibrahim ini mendapat tugas menemani ayahnya berdakwah ke Kerajaan Campa di wilayah Indochina. Di sana Syekh Jumadil Kubro berhasil mengislamkan Raja

Campa beserta segenap keluarganya. Bahkan putranya akhirnya bisa menikah dengan Dewi Candrawulan, putri ke dua Raja Campa Jaya Simhawarman III yang dalam Serat Walisana disebut sebagai Raja Kiyan. Putri pertama Raja Kiyan, Dyah Dwarawati yang dalam Babad Tanah Jawi disebut sebagai Putri Campa, menikah dengan Sri Kertawijaya yang saat itu masih berstatus salah satu calon putra mahkota Kerajaan Majapahit. Mereka menikah pada tahun 1415 M. Syekh Makhdum Ibrahim Asmara, baru menikah dengan Dewi Candrawulan pada tahun 1416 M. Putra pertamanya Raden Santri lahir tahun 1417 M. Sedang putra keduanya Raden Rahmat baru lahir tahun 1420 M.(To be continu to nex episode)

Sejarah Leluhur Walisongo (04-The End)


OPINI | 07 February 2013 | 09:46 Dibaca: 216 Komentar: 0 2 menarik

http://sejarah.kompasiana.com/2013/02/07/sejarah-leluhur-walisongo04-531258.html

Pada mulanya adalah Walisana, yang berarti delapan wali yang mulia,bukan Walisongo. Tapi pada jaman kebangkitan kesusastraan Jawa di Kraton Surakarta pada abad ke-18 M, berubah jadi Walisongo, yang berarti sembilan wali yang mulia. 2.Dewan Walisana Angkatan Pertama Pada tahun 1400 M, Parameswara berhasil mendirikan sebuah Kerajaan Malaka. Dia sendiri adalah salah seorang bangsawan kerabat penguasa Kerajaan Tumasik yang pada tahun 1378 M, melarikan diri ke Semenanjung Malaka karena Tumasik diserbu tentara Majapahit. Setelah berjuang dua puluh tahun lebih akhirnya Parameswara berhasil mendirikan Kerajaan Malaka. Pada awalnya Kerajaan Malaka ini bercorak Hindu, bukan Islam. Kerajaan Tumasik sebenarnya kerajaan yang merupakan vasal Majapahit. Tetapi karena ada gejal-gejala hendak menentang pemerintah pusat , maka Majapahit cepat bertindak dengan menyerbu Tumasik. Berdirinya Kerajaan Malaka yang berada di sisi barat semenanjung Malaka dan lebih mendekati Kerajaan Samudra Pasai yang berada di sisi timur Pantai Sumatra Utara itu, membuat prihatin Sultan Pasai Zaenal Abidin.Dia tentu masih ingat saat Samudra Pasai di serang Majapahit tahun 1357 M, yang membuat dia dan ayah bundanya mengungsi ke luar kota. Dia tidak ingin peristiwa itu terjadi lagi, jika kelak Kerajaan Malaka itu berkembang jadi Kerajaan Hindu yang kuat. Untunglah pada saat itu datang ke Samudra Pasai, dua orang ulama dari Maroko dan Jeddah. Ulama yang datang dari Maroko adalah Syekh Maghribi atau Syekh Maolana Malik Ibrahim. Sedangkan ulama yang datang dari Jeddah adalah Syekh Abdul Azis. Ke duanya bermaksud berdakwah ke Asia Tenggara.Tentu saja kehadiran dua ulama itu amat menggembirakan Sultan Zaenal Abidin dan putranya Syekh Jumadil Kubro yang saat itu sudah berusia diatas 30 tahun.Terjadi diskusi diantara keempat tokoh itu, Zaenal Abidin, Jumadil Kubro, Malik Ibrahim dan Abdul Azis. Malik Ibrahim diperkirakan lahir tahun 1360 M,sehingga usinya sepuluh tahun lebih tua dari Jumadil Kubro.

Saat itulah rupanya mulai terbentuk semacam forum diskusi para ulama dengan anggota yang amat terbatas diantara mereka dengan pimpinan Sultan Zaenal Abidin yang saat itu usianya sudah di atas lima puluh tahun. Mereka sepakat untuk melancarkan dakwah Islam kepada raja-raja Kerajaan Hindu yang mengepung Samudra Pasai, seperti Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, Kerajaan Pajajaran di Jawa Barat dan sejumlah kerajaan bawahan yang ada di Semenanjung Malaka. Saat itu wilayah di Semenanjung Malaka berada di dalam pengaruh dua kerajaan besar, yakni Majapahit yang menguasai Tumasik, Pahang, Patani, Campa dan Kerajaan Budha Siam yang menguasai Kedah dan Malaka. Dakwah Islam kepada Raja Majapahit dan wilayah Jawa lainnya diserahkan kepada Malik Ibrahim. Dakwah ke wilayah Semenanjung Malaka dan Indochina yang merupakan vasal Majapahit seperti Pahang, Patani dan Campa, diserahkan kepada Jumadil Kubro. Sedangkan dakwah ke wilayah Semenanjung Malaka yang berada di bawah pengaruh Kerajaan Budha Siam, seperti Malaka dan Kedah, diserahkan kepada Abdul Azis. Malik Ibrahim segera berangkat ke Jawa, dan tiba di Gresik awal tahun 1405 M. Tapi Malik Ibrahim gagal mengislamkan Raja Majapahit Wikramawardhana(1389-1429 M), karena Sang Raja tak bersedia memeluk Islam. Walaupun begitu, dengan bantuan orang-orang Pasai yang tinggal di Gresik, Malik Ibrahim berhasil membangun pesantren yang pertama di Jawa dan sukses pula memperoleh pengikut dari kalangan rakyat jelata yang berbondong-bondong menjadi muslim. Sementara itu, Syekh Jumadil Kubro dengan dibantu putranya Makhdum Ibrahim Asmara, berhasil mengislamkan Raja Campa dengan seluruh keluarganya. Demikian pula Syekh Abdul Azis, pada tahun 1405 M, berhasil mengislamkan Parameswara dan memberinya gelar Sultan Muhammad Syah (1400 -1414 M). Sejak itu Kerajaan Malaka menjadi Kerajaan Islam yang pertama di Semenanjung Malaka. Bahkan kelak pada tahun 1414 M, Sultan Malaka itu berbesanan dengan Sultanah Bahiah dari Samudra Pasai. Putri Sultanah Bahiah pada tahun 1414 M, dipersunting Putra Mahkota Kerajaan Islam Malaka Iskandar. Sayang pada tahun 1405 M, Sultan Zaenal Abidin wafat dalam usia 58 tahun. Penggantinya adalah putri sulungnya, Sultanah Bahiah. Syekh Jumadil Kubro menggantikan posisi Zaenal Abidin menjadi Ketua Forum Ulama merangkap menjadi Kadi Kerajaan Islam Samudra Pasai. Karena itu Jumadil Kubro memiliki banyak peluang untuk memanfaatkan posisinya guna melanjutkan dakwah Islam ke wilayah-wilayah lain di luar Samudra Pasai.

Pernikahan putri Sultanah Bahiah dengan Putra Mahkota Kerajaan Islam Malaka Iskandar tahun 1414 M, dijadikan momentum yang tepat untuk membentuk suatu forum ulama yang lebih luas yang jumlah anggotanya delapan orang. Inilah cikal bakal dari Dewan Walisana yang bisa disebut sebagai Dewan Walisana Angkatan Pertama. Mereka adalah : Syekh Jumadil Kubro, Syekh Malik Ibrahim, Syekh Abdul Azis, Syekh Muhammad Al Akbar, Syek Subakir, Syekh Malik Israil, Maolana Ishak dan Makhdum Ibrahim Asmara. Dua yang terakhir adalah anggota muda Dewan Walisana Angkatan Pertama. Tetapi pada tahun 1419 M, Syekh Malik Ibrahim, satu-satunya anggota Dewan Walisana yang berada di Jawa wafat. Akibatnya di Jawa tidak ada satupun ulama anggota Dewan Walisana. Padahal posisi Jawa sangat strategis, karena di Jawa saat itu ada dua Kerajaan Hindu yang cukup besar, yaitu Majapahit di Jawa Timur dan Pajajaran di Jawa Barat. Sementara itu ulama-ulama anggota Dewan Walisana menumpuk di Samudra Pasai.Di Malaka sudah ada Syekh Abdul Aziz yang terus mendampingi Kerajaan Malaka, hingga Kerajaan Malaka menjadi Kerajaan Islam yang besar. Di Campa sudah ada Syekh Ibrahim Asmara. Untuk mengatasi kekosongan ulama anggota Dewan Walisana di Jawa, maka pada tahun 1420 M, Syekh Jumadil Kubro menyerahkan semua tugas-tugasnya di Samudra Pasai kepada putra sulungnya Syekh Maolana Ishak. Syekh Jumadil Kubro sendiri langsung berlayar ke Jawa menuju Jawa Timur dan menetap di Trowulan, Mojokerto yang merupakan jantung pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit. Kehadiran Syekh Jumadil Kubro di Trowulan menunjukkan bahwa dia punya hubungan dekat dengan kalangan Istana Kerajaan Majapahit. Memang di Trowulan lah tinggal Dyah Dwarawati, Putri Campa yang menjadi istri Kertawijaya, putra Raja Majapahit Wikramawardhana(1389-1429 M). Mereka berdua menikah pada tahun 1415 M, dan orang yang berjasa mempertemukan keduanya adalah Syekh Jumadil Kubro. Hubungan Jumadil Kubro dengan Dyah Dwarawati atau Putri Campa juga cukup dekat. Jumadil Kubro adalah besan dari ayahnya Raja Kerajaan Campa Kiyan, lewat pernikahan Ibrahim Asmara putra Jumadil Kubro dengan Dyah Candrawulan adik Dyah Dwarawati. Kedekatan Syekh Jumadil Kubro dengan kalangan Istana Majapahit, sangat memudahkan tugas-tugasnya melaksanakan dakwah Islam di kalangan rakyat Majaphit tanpa gangguan yang berarti dari kalangan istana. Sikap toleran yang diperlihatkan kalangan istana terhadap perkembangan Islam yang makin menguat di kalangan rakyat jelata, antara lain disebabkan oleh peran Syekh Jumadil Kubro juga. Ketika tiba di Majapahit, Syekh Jumadil Kubro sudah berusia menjelang 50 tahun. Kapan Syekh Jumadil Kubro wafat, tidak dapat ditetapkan dengan pasti. Tetapi dia wafat disitu dan makamnya ditemukan di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Pada tahun 1420 M, selain Syekh Jumadil Kubro yang bertolak dari Samudra Pasai menuju Jawa, ada juga rombongan ulama lain yang mengikuti jejak Syekh Jumadil Kubro. Rombongan ulama ini tidak ke Jawa Timur, tetapi ke Jawa Barat. Mereka mendarat di Cirebon yang saat itu merupakan wilayah Kerajaan Pajajaran. Para ulama yang mendarat di Cirebon itu antara lain Syekh Datuk Kahfi, Syekh Abdurahman dan adiknya Syekh Abdurahim, serta Syekh Baghdad. Di situ Syekh Datuk Kahfi dan kawan-kawannya berhasil mendirikan pesantren yang dikenal sebagai Pesantren Syekh Datuk Kahfi. Pesantren Syekh Datuk Kahfi adalah pesantren pertama yang didirikan di wilayah Jawa Jawa Barat. Namun demikian Syekh Datuk Kahfi tidak termasuk leluhur Walisongo, karena tidak menurunkan seorang wali pun yang sempat menjadi anggota Dewan Walisana. Adapun yang tercatat sebagai leluhur dari Walisongo hanyalah Sultan Samudra Pasai Zaenal Abidin (1383-1405 M), Syekh Jumadil Kubro(1371-..),Syekh Maolana Ishak (1392.), dan Syekh Makhdum Ibrahim Asmara( 1395- 1443 M).Sultan Zaenal Abidin dan cucunya, Syekh Maolana Ishak wafat di Pasai. Syekh Makhdum Ibrahim Asmara, wafat di Campa. Syekh Makhdum Ibrahim Asmara adalah ayah Sunan Ampel (1420 - 1481 M). Sedang Syekh Jumadil Kubro, wafat di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Pesantren Syekh Datuk Kahfi ini, adalah pesantren pertama di Jawa yang mengajarkan Islam berdasar ajaran Mistik atau Tassawuf, tetapi yang mengabaikan ajaran Syariat Islam. Sedangkan para ulama Dewan Walisana, mengajarkan Islam berbasis ajaran Syariat, tetapi yang tidak mengabaikan ajaran hakekat dan makrifat. Akibatnya terjadilah dualisme dalam pola ajaran Islam yang disebarkan di Jawa, dan sejak itu sebenarnya mulailah terjadi rivalitas di antara keduanya. Kelak rivalitas semakin meruncing, saat dari Pesantren Syekh Datuk Kahfi muncul seorang tokoh mistikus besar dari Jawa, Syekh Siti Jenar yang melakukan oposisi dan menantang secara terbuka Islam Syariat yang diajarkan ulama-ulama anggota Dewan Walisana. H.Kraemer, seorang orientalis Belanda sempat menjuluki Syekh Siti Jenar sebagai Al Hallaj van Java. Pada masa Sunan Ampel, Dewan Walisana direorganisasi kembali, hingga muncul Dewan Walisana Angkatan Kedua. Anggotanya juga terdiri dari hanya delapan orang ulama. Bukan sembilan ulama. Karena menurut Drs.Widji Saksono, kata sana berasal dari kata tsana yang mengandung arti delapan atau juga berarti mulia. Karena itu arti Dewan Walisana adalah Dewan Wali atau Dewan Ulama yang terdiri dari delapan ulama atau wali mulia. Arti wali sendiri adalah wakil atau penerus dan pewaris ajaran Nabi saw dan identik dengan pengertian ulama. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, pada masa

kebangkitan kesusastraan Jawa di Kraton Surarakarta pada abad ke -18 M, istilah Walisana berubah menjadi Walisongo yang berarti sembilan orang wali mulia yang amat di hormati. Mereka itu adalah Sunan Gresik Malik Ibrahim, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria. Sunan Bonang Makhdum Ibrahim, Sunan Drajat, Sunan Giri dan Sunan Ampel.(The End).

(Makam Syekh Jumadil Kubro, Leluhur Walisongo,di Trowulan, Mojokerto,Gbr:Pinjam dari buku Atlas Walisongo,Karangan: Agus Sunyoto,Penerbit Mizan,2012).

(Papan Nama pada Makam Syekh Jumadil Kubro,Sumber Gambar Ibid)