Anda di halaman 1dari 29

STATUS PSIKIATRI

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis kelamin Usia Agama Alamat Status pernikahan Pekerjaan Rawat inap : Ny. D : Perempuan : 36 Tahun : Islam : Depok : Menikah : IRT : 3 kali

II.

RIWAYAT PSIKIATRI Berdasarkan : Autoanamnesis Alloanamnesis : Diambil tanggal 14 Februari 2013 : Diambil tanggal 14 Februari 2013, dengan suami pasien A. Keluhan Utama Pasien merasa cemas sejak 2 hari SMRS B. Riwayat Gangguan Sekarang Autoanamnesis : Menurut pasien dirinya dibawa ke RSIJK oleh suami dan kakaknya dengan keluhan cemas semenjak 2 hari SMRS, keluhan juga dirasakan takut, bingung dan pandangan kosong serta jantung berdebar. Sebelumnya pasien tidak bisa tidur sejak 2 hari dikarenakan merasa takut dan gelisah setelah mengikuti pengajian yang bertema hari kiamat. Pasien merasa hari kiamat tidak akan lama lagi tiba dan

pasien merasa dirinya akan menjadi dajjal. Seolah-olah akan tumbuh tanduk di kepala kanan dan kirinya. Gejala seperti ini timbul setelah dia lelah menghafalkan surat-surat Al-Quran sedangkan dirinya sulit untuk tidur malam. Meurut pasien dirinya sering timbul gejala cemas, takut, gelisah, pikiran terus menerus berulang, bicara kacau dan terkadang perilaku yang tidak terkontrol olehnya saat dirinya lelah dan sulit tidur. Bahakan beberapa bulan yang lalu sampai terdengar bisikan-bisikan yang aneh tanpa ada seorangpun disampingnya. Di saat-saat tertentu diriya lebih senang menyendiri. Saat ini pasien menyangkal adanya bisikan-bisikan yang tidak jelas, penglihatan yang aneh, merasa ada yang mengikutinya, kecurigaan yang tinggi pada orang lain, percobaan bunuh diri, merasa dirinya mempunyai keahlian khusus yang orang lain tidak memiliknya, dan bermimpi yang mengerikan atau aneh. Alloanamnesis : Menurut suaminya, pasien mengalamai gangguan sering merasa takut dan cemas ada semenjak kuliah di perguruan tinggi. Pasien sering merasakan hal-hal yang berlebihan ketika mendengar atau menerima informasi yang menakutkan sampai terbawa pikiran terus menerus dan menimbukan gejala-gejala cemas. Saat tahun 2009 pasien pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan akan melompat dari atap rumah. Bahkan pasien merasakan bahwa setiap orang yang berhadapan dengannya bersikap sinis dan selalu memelototinnya sering berbicara sendiri, sulit tidur dan perasaan cemas yang berlebihan. Sempat menggap suaminya itu adalah jin yang menyamar sebagai sebagai suaminya. 2 hari sebelum masuk RSJI pasien mulai sulit tidur dan kelelahan karena kegiatan pengajianya yang menyarankan untuk menghafal beberapa surat Al-Quran. Dan 1 hari kemudian timbullah suasana hati gelisah, takut, cemas dan marahmarah sampai memecahkan gelas. Menurutnya memang akhir-akhir ini pasien jarang minum obat. C. Riwayat Gangguan Sebelumnya

a. Gangguan Psikiatri Pasien mengatakan sebelumnya pernah 3 kali masuk RSJI klender pada tahun 2009 dan 2013 dikarenakan keluhan yang sama dengan penyebab yang berbeda. Pada tahun 2011 pasien dibawa ke RSJI karena masalah pekerjaan sebagai pengawas badan nuklir yang terlalu berat dan lingkungan pekerjaan yang tidak kondusif. Menurutnya beberapa karyawan lain tidak senang dan sering membicarakan dirinya. Pasien beranggapan jika sebagian pekerjaannya itu seharusnya tugas mereka yang ditumpuk kepada dirinya dikarenakan dirinya merupakan karyawan baru. Akibat dari lingkungan pekerjaannya itu pasien merasa depresi, cemas, sulit tidur karena memikirkan keadaan ini, mudah marah dan berperilaku tidak terkontrol. Saat itu pasien juga merasakan adanya bisikan. Dan akhirnya pasien pun resign dari pekerjaannya itu. b. Gangguan Medik Tidak ada keluhan. Pasien tidak memiliki kelainan bawaan sejak lahir dan tidak pernah menderita sakit berat sampai dirawat di RS, juga tidak memiliki riwayat kejang dan trauma kepala. c. Gangguan Zat Psikoaktif Pasien tidak merokok dan tidak minum-minuman beralkohol. Pasien juga tidak pernah menggunakan obat-obatan terlarang dan zat psikotropika lainnya. D. Riwayat Kehidupan Pribadi a. Riwayat prenatal dan perinatal Menurut pasien, selama kehamilan ibu pasien sehat dan ia tidak pernah mengalami sakit atau hal-hal yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin. Pasien dilahirkan cukup bulan, spontan dengan persalinan normal tanpa adanya trauma pada jalan lahir dan kelainan bawaan, ditolong oleh seorang bidan. Kelahiran pasien dikehendaki orangtuanya, tidak ada penggunaan obat atau zat-zat

yang berbahaya pada kehamilannya. Ibu pasien tidak ingat BB maupun TB pasien saat lahir. b. Masa kanak-kanak dini (0-3 tahun) Pasien diasuh oleh orangtuanya dan diberi ASI. Pasien tidak pernah mengalami kejang ataupun trauma pada kepalanya. Pasien juga tidak pernah mengalami kesulitan makan dan tidak ada gangguan pada pola tidurnya. Pasien tumbuh dan kembang secara normal seperti anak seusianya (belajar berdiri, berjalan, berbicara dan mengontrol BAB dan BAK), pasien aktif berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman sebayanya, lebih suka bermain dengan teman sebayanya atau saudarsaudaranya. Pasien juga tidak mempunyai gangguan perilaku seperi sering ketakutan, maupun mimpi-mimpi buruk. c. Masa kanak-kanak dini (3-11 tahun) Secara fisik, pasien tumbuh seperti anak-anak seusianya. Pasien tidak ada kesulitan dan masalah dengan lingkungan sekitarnya dan pendidikan formalnya. Sehari-hari pasien bersifat pendiam tapi mudah bergaul dan dekat dengan keluarganya. Pasien mengaku mendapat pendidikan agama dari sekolah dan orang tuanya. d. Masa pubertas dan remaja Hubungan Sosial

Pasien mengaku mempunyai banyak teman akan tetapi pasien sedikit sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru karena sifat pendiamnya. Pasien juga mengaku dapat dekat dengan orang tua, kakak serta adik pasien dan juga dapat dekat teman-temannya, baik yang berada di lingkungan rumah ataupun di lingkungan sekolahnya. Riwayat pendidikan formal Selama bersekolah pasien tidak pernah tinggal kelas, pasien lumayan anak yang pintar. Pasien tidak pernah dihukum dan selalu mematuhi peraturan disekolahnya. Setelah lulus SMA, pasien berusaha mencari dan melamar pekerjaan dan pada akhirnya pasien diterima disebuah perusahaan swasta. Perkembangan motorik dan kognitif

Dalam perkembangan fisik, pasien terlihat sesuai dengan usianya dan dalam perkembangan kognitifnya tidak terlihat adanya gangguan (dalam batas normal). Pasien juga tidak mengalami kesulitan dalam belajar. Gangguan emosi dan fisik Pasien tidak pernah terlibat dalam masalah kenakalan remaja. Pasien tidak pernah berkelahi dengan teman maupun saudara-saudaranya dan pasien tidak pernah marah pada kedua orang tuanya. Riwayat psikoseksual Pasien tidak mempunyai riwayat gangguan psikoseksual. Pasien mangaku hanya 1 kali menjalin hubungan khusus dengan laki-laki yang sekang menjadi suaminya. E. Masa Dewasa Riwayat pekerjaan Setelah lulus kuliah pasien melanjutkan untuk bekerja. Pada tahun 2009 mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil dibidang badan pengawasan teknologi nuklir. Riwayat sosial Pasien mengaku mempunyai banyak teman khususnya ibu-ibu pengajian dilingkungan rumahnya.

F. Riwayat Keluarga SKEMA KELUARGA

Keterangan Gambar : Laki-laki Perempuan Meninggal dunia

Pasien Pasien adalah anak ke 4 dari 6 bersaudara, ibu pasien meninggal pada tahun 1981 waktu melahirkan anak terakhir, saat itu pasien berumur 10 tahun, kemudian 3 tahun kemudian ayah pasien meninggal karena di bunuh oleh perampok. Kakak pertama perempuan telah menikah dan memiliki 2 orang anak tinggal di daerah Cakung Kakak kedua laki-laki, Meninggal pada tahun 2006 karena menderita penyakit Liver Kakak ketiga laki-laki, menikah, punya 3 orang Anak ke 4 adalah pasien. Adik pasien pertama, anak ke 5 telah meninggal pada tahun 1986

Adik pasien kedua, anak ke 6, menikah, punya 3 orang anak dan tinggal berdekatan dengan kakak pertama. III. STATUS MENTAL. A. 1. Deskripsi Umum Penampilan

Pasien seorang wanita, 36 tahun, tinggi badan 160 cm, berbadan proporsional, penampilan sesuai dengan usianya, berkulit sawo matang. Pasien berpakaian rapi dan bersih disetiap harinya selalu menggunakan jilbab yang tidak pernah dilepas, kuku tangan dan kakinya terlihat rapi, bersih dan pendek-pendek. 2. Aktivitas dan Perilaku Psikomotor Aktivitas motorik pasien bagus, kooperatif, sopan dan menjawab semua pertanyaan dengan baik. Gaya berjalan pada pasien ini baik. Selama wawancara, pasien duduk dengan tenang dan tidak ada gerakan isyarat atau kedutan. Perilaku pasien baik. 3. Pembicaraan Pasien berbicara dengan pelan, sopan dan teratur serta menjawab pertanyaan dengan baik. Kecepatan Volume Irama Kelancaran 4. : Sedang : Sedang : Teratur : Lancar, tidak gagap dan spontan

Sikap terhadap pemeriksaan

Pasien kooperatif, sopan, kontak mata baik, menjawab pertanyaan dengan baik, perhatian cukup dan bersahabat.

B. Keadaan afektif Suasana perasaan / mood Afek / ekspresi afektif Emosi Keserasian : Ketakutan : Datar

: Tidak sesuai : Tidak serasi dengan yang dibicarakan

Dapat diraba atau dirasakan oleh pemeriksa : Tidak dapat dirasakan 7

C. Gangguan persepsi Halusinasi - Auditorik - Visual - Taktil : Ada : Tidak ada : Tidak ada. :

- Olfaktorik : Tidak ada. - Gustatorik : Tidak ada. (sekarang, 14 februari 2008, pasien tidak pernah mendengar bisikan) Ilusi Derealisasi Depersonalisasi D. : tidak ada. : tidak ada. : tidak ada.

Gangguan pikir Proses pikir : Cukup ide. : - Blocking - Inkoherensi - Word salad - Neologisme - Flight of ideas : tidak ada. : tidak ada. : tidak ada. : tidak ada. : tidak ada. - Assosiasi longgar : tidak ada.

- Produktifitas - Kontinuitas

Isi pikir Preokupasi : Keinginan untuk pulang a. waham b. idea of reference c. thought echo e. thought withdrawal f. thought insertion : waham curiga dan bizzare : tidak ada. : ada. : ada. : tidak ada. Gangguan isi pikiran

d. thought broadcasting : tidak ada.

E. Fungsi kognitif dan penginderaan

Kesadaran Orientasi o Waktu

: Compos Mentis

: Kurang baik (pasien tidak tahu hari, tanggal wawancara).

o Tempat: Baik (pasien tahu bahwa ia berada di RSIJ Klender). o Orang : Baik (pasien mengetahui bahwa ia diwawancarai dokter muda). Konsentrasi Daya ingat : Baik :

o Jangka panjang : Baik (pasien dapat mengingat saat masa kecilnya) o Jangka pendek : Baik (pasien dapat mengingat jam berapa dia tidur semalam) o Segera merawatnya) Pemikiran abstrak Visuospasial : Baik (pasien dapat membedakan bentuk jeruk dan apel) : Baik (pasien dapat menghitung pengurangani). Intelegensi dan pengetahuan umum : Baik (pasien dapat mengetahui nama presiden dan wakil presiden RI sekarang). F. Daya nilai Penilaian social : Baik ( pasien dapat menyelamatkan dirinya apabila dalam keadaan berbahaya ) Uji daya nilai : Baik ( pasien akan mengembalikan dompet bila tidak sengaja menemukannya dijalan ). G. Tilikan Derajat IV H. : Pasien mengatakan kalau dirinya sakit. : Baik (pasien dapat mengingat nama dokter yang

Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya. I. Hubungan antara anak dan orang tua : 9

Komunikasi antara pasien dengan orang tuanya terjalin baik. IV. STATUS FISIK 1. Status internus Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Suhu Nadi Pernapasan 2. Status neurologis Gangguan rangsang meningeal : tidak ada Mata Gerakan Persepsi Bentuk pupil Rangsang cahaya Motorik Tonus Turgor Kekuatan Koordinasi Refleksi Keahlian khusus 1. Kesadaran 2. Mood 3. Ekspresi afek 4. Emosi 5. Gangguan persepsi 7. Gangguan isi pikir : baik : baik : baik : baik : baik : tidak ada : Compos Mentis : ketakutan : Datar : Tidak serasi dengan yang dibicarakan : : : baik ke segala arah : baik : bulat, isokor : +/+ : Baik : Compos Mentis : 100/70 mmHg : 36,3 0C : 80x/menit : 20x/menit

3. Ikhtisar penemuan bermakna

6. Gangguan proses pikir :

10

8. Tilikan 10. Faktor stressor

: Derajat IV :

9. Obat-obat yang dipakai : 11. Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya V. EVALUASI MULTIAKSIS * Aksis I * Aksis II * Aksis III * Aksis IV * Aksis V : Skizofrenia residual : Ciri kepribadian cemas : : : GAF 55 IRT meskipun kualitasnya menurun. - fungsi merawat diri : pasien masih mampu untuk mengurus dirinya sendiri. VI. DIFFERENTIAL DIAGNOSIS Gangguan cemas menyuluruh VII. DAFTAR PROBLEM : tidak ada : audotorik (ada) visual (tidak ada) olfaktorik (tidak ada) - waham VIII. RENCANA TERAPI 1. Psikofarmakologi Luftein 2 x 25 mg Ridperidon 2 x 2 mg Aprazolam 2 x 1 mg : kebesaran (tidak ada)

- fungsi pekerjaan : pasien masih dapat melakukan pekerjaannya sebagai

1. Problem organobiologik - Halusinasi

2. Problem patologis dan perilaku:

11

2. Psikoterapi Suportif Memberikan dukungan dan perhatian kepada pasien dalam menghadapi masalah serta memberikan dorongan agar pasien lebih terbuka bila mempunyai masalah dan jangan memperberat pikiran dalam menanggapi sebuah masalah terlalu serius dan berlebihan. Kognitif Menerangkan tentang gejala penyakit pasien yangn timbul akibat cara berpikir yang salah, mengatasi perasaan dan sikapnya terhadap masalah yang dihadapi. Keluarga Memberikan penyuluhan bersama-sama dengan pasien yang diharapkan keluarga dapat membantu dan mendukung kesembuhan pasien. 3. Religius Bimbingan agar pasien selalu menjalankan ibadah sesuai ajaran agama. Dan tidak baik jika menangapi sesuatu yang berlebihan. IX. PROGNOSIS Ad vitam : Bonam Ad Functionam : Bonam Ad Sanationam : Dubia ad bonam

12

SKIZOFRENIA

A. Pengertian Skizofrenia merupakan gangguan mental yang kompleks dan banyak aspek tentang skizofrenia sampai saat ini belum dapat dipahami sepenuhnya. Sebagai suatu sindrom, pendekatan skizofrenia harus dilakukan secara holistik dengan melibatkan aspek psikososiai, psikodinamik, genetik, farmakologi, dan lain-lain. Mengingat kompleksnya gangguan skizofrenia, untuk mendapatkan hasil terapi yang optimal, klinikus perlu memperhatikan beberapa fase simptom gangguan skizofrenia, yaitu : fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Hasil akhir yang ingin dicapai adalah penderita skizofrenia dapat kembali berfungsi dalam bidang pekerjaan, sosial dan keluarga. Skizofrenia adalah suatu sindrom klinis dengan variasi psikopatologi, biasanya berat, berlangsung lama dan ditandai oleh penyimpangan dari pikiran, persepsi serta emosi. B. Epidemiologi Prevalensi skizofrenia di Amerika Serikat dilaporkan bervariasi terentang dari 1 sampai 1,5 persen dengan angka insidens 1 per 10.000 orang per tahun. Berdasarkan jenis kelamin prevalensi skizofrenia adalah sama, perbedaannya terlihat dalam onset dan perjalanan penyakit. Onset untuk laki laki 15 sampai 25 tahun sedangkan wanita 25-35 tahun. Prognosisnya adalah lebih buruk pada laki laki dibandingkan wanita. Beberapa penelitian menemukan bahwa 80% semua pasien skizofrenia menderita penyakit fisik dan 50% nya tidak terdiagnosis. Bunuh diri adalah penyebab umum kematian diantara penderita skizofrenia, 50% penderita skizofrenia pernah mencoba bunuh diri 1 kali seumur hidupnya dan 10% berhasil melakukannya. Faktor risiko bunuh diri adalah adanya gejala depresif, usia muda dan tingkat fungsi premorbid yang tinggi. Komorbiditas Skizofrenia dengan penyalahgunaan alkohol kira-kira 30% sampai 50%, kanabis 15% sampal 25% dan kokain 5%-10%. Sebagian besar

13

penelitian menghubungkan hal ini sebagai suatu indikator prognosis yang buruk karena penyalahgunaan zat menurunkan efektivitas dan kepatuhan pengobatan. Hal yang biasa kita temukan pada penderita skizofrenia adalah adiksi nikotin, dikatakan 3 kali populasi umum (75%-90% vs 25%-30%). Penderita skizofrenia yang merokok membutuhkan anti psikotik dosis tinggi karena rokok meningkatkan kecepatan metabolisme obat tetapi juga menurunkan parkinsonisme. Beberapa laporan mengatakan skizofrenia lebih banyak dijumpai pada orang orang yang tidak menikah tetapi penelitian tidak dapat membuktikan bahwa menikah memberikan proteksi terhadap Skizofrenia. C. Etiologi Model diatesis-stress, menurut teori ini skizofrenia timbul akibat faktor psikososial dan lingkungan. Model ini berpendapat bahwa seseorang yang memiliki kerentanan (diatesis) jika dikenai stresor akan lebih mudah menjadi skizofrenia. Secara somatogenik, etiologi penyebab skizofrenia antara lain: Faktor Biologi 1. Komplikasi kelahiran Bayi laki laki yang mengalami komplikasi saat dilahirkan sering mengalami skizofrenia, hipoksia perinatal akan meningkatkan kerentanan seseorang terhadap skizofrenia. 2. Infeksi Perubahan anatomi pada susunan syaraf pusat akibat infeksi virus pernah dilaporkan pada orang-orang dengan skizofrenia. Penelitian mengatakan bahwa terpapar infeksi virus pada trimester kedua kehamilan akan meningkatkan seseorang menjadi skizofrenia. Faktor Neurotransmitter 1. Dopamin Hyperactivity Dopamin merupakan neurotransmiter pertama yang berkontribusi terhadap gejala skizofrenia. Hampir semua obat antipsikotik baik tipikal maupun antipikal menyekat reseptor dopamin D2, dengan terhalangnya transmisi sinyal di sistem dopaminergik maka gejala psikotik diredakan. Berdasarkan pengamatan diatas dikemukakan bahwa gejala gejala skizofrenia disebabkan oleh hiperaktivitas sistem dopaminergik. 2. Hipotesis Serotonin 14

Gaddum, Wooley dan Show tahun 1954 mengobservasi efek lysergic acid diethylamide (LSD) yaitu suatu zat yang bersifat campuran agonis/antagonis reseptor 5-HT. Temyata zatini menyebabkan keadaan psikosis berat pada orang normal. Kemungkinan serotonin berperan pada skizofrenia kembali mengemuka karena penetitian obat antipsikotik atipikal clozapine yang temyata mempunyai afinitas terhadap reseptor serotonin 5-HT lebih tinggi dibandingkan reseptordopamin D2.57. Struktur Otak Daerah otak yang mendapatkan banyak perhatian adalah sistem limbik dan ganglia basalis. Otak pada pendenta skizofrenia terlihat sedikit berbeda dengan orang normal, ventrikel terlihat melebar, penurunan massa abu-abu dan beberapa area terjadi peningkatan maupun penurunan aktifitas metabolik. Pemeriksaan mikroskopis dari jaringan otak ditemukan sedikit perubahan dalam distribusi sel otak yang timbul pada masa prenatal karena tidak ditemukannya sel glia, biasa timbul pada trauma otak setelah lahir. Genetika Para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa skizofrenia diturunkan, 1% dari populasi umum tetapi 10% pada masyarakat yang mempunyai hubungan derajat pertama seperti orang tua, kakak laki laki ataupun perempuan dengan skizofrenia. Masyarakat yang mempunyai hubungan derajat kedua seperti paman, bibi, kakek / nenek dan sepupu dikatakan lebih sering dibandingkan populasi umum. Kembar identik 40% sampai 65% berpeluang menderita skizofrenia sedangkan kembar dizigotik 12%. Anak dan kedua orang tua yang skizofrenia berpeluang 40%, satu orang tua 12%. D. Gambaran klinis Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi: hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta 15

membuat resah keluarga dan teman, mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti yang dulu. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya. Pada fase aktif gejala positif/psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejalagejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dimana gejala-gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif/psikotiknya sudah berkurang. Disamping gejala-gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas, penderita skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial). Diagnosis: Pedoman Diagnostik PPDGJ-lll

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas): a. Waham bizarre, yaitu isi pikir yang salah yang berlangsung lama dan tidak dapat dikoreksi. Waham bizarre berupa thought echo, yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda. thought insertion or withdrawal, yaitu isi yang asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (withdrawal). thought broadcasting= isi pikiranya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya. delusion of control, yaitu waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar. delusion of passivitiy, yaitu waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar (tentang dirinya = secara jelas merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus).

16

delusional perception, yaitu pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasnya bersifatmistik atau mukjizat. b.

Halusinasi auditorik: suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien, atau

mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu bagian tubuh. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya

c.

setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain). d.

Inkoherensi, yaitu kata-kata yang diucapkan sudah tidak memiliki hubungan dan tidak lagi memberikan makna.

Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas: a. halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus. b. arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme. c. perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor. d. gejala-gejala negative, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya

17

kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi oleh depresi atau medikasi neuroleptika.

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik (prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial. Prognosis Walaupun remisi penuh atau sembuh pada skizofrenia itu ada, kebanyakan orang mempunyai gejala sisa dengan keparahan yang bervariasi. Secara umum 25% individu sembuh sempurna, 40% mengalami kekambuhan dan 35% mengalami perburukan. Sampai saat ini belum ada metode yang dapat memprediksi siapa yang akan menjadi sembuh siapa yang tidak, tetapi ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya seperti: usia tua, faktor pencetus jelas, onset akut, riwayat sosial/pekerjaan pramorbid baik, gejala depresi, menikah, riwayat keluarga gangguan mood, sistem pendukung baik dan gejala positif ini akan memberikan prognosis yang baik sedangkan onset muda, tidak ada faktor pencetus, onset tidak jelas, riwayat sosial buruk, autistik, tidak menikah/janda/duda, riwayat keluarga skizofrenia, sistem pendukung buruk, gejala negatif, riwayat trauma prenatal, tidak remisi dalam 3 tahun, sering relaps dan riwayat agresif akan memberikan prognosis yang buruk. E. Klasifikasi Skizofrenia menurut PPDGJ-III F20.0 Skizofrenia Paranoid F20.1 Skizofrenia Hebefrenik F20.2 Skizofrenia Katatonik F20.3 Skizofrenia Tak Terinci F20.4 Depresi Pasca-Skizofrenia F20.5 Skizofrenia Residual F20.6 Skizofrenia Simpleks F20.8 Skizofrenia Lainnya F20.9 Skizofrenia YTT 18

F. Skizofrenia Residual Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus dipenuhi semua : Gejala negatif dari skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan psikomotorik, aktivitas menurun, sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan, komunikasi non verbal yang buruk seperti ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara dan posisi tubuh, perawatan didri dan kinerja sosial yang buruk. Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia. Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah sindrm negatif dari skizofrenia. Tidak terdapat dementia atau penyakit/gangguan otak organik lain, depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif tersebut. PSIKOFISIOLOGI 1. Tahapan halusinasi dan delusi yang biasa menyertai gangguan jiwa. a. Tahap Comforting Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepian, perasaan berdosa, klien biasanya mengkompensasikan stresornya dengan koping imajinasi sehingga merasa senang dan terhindar dari ancaman. b. Tahap Condeming Timbul kecemasan moderat, cemas biasanya makin meninggi selanjutnya klien merasa mendengarkan sesuatu, klien merasa takut apabila orang lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia rasakan sehingga timbul perilaku menarik diri ( withdrawal ). a. Tahap Controling Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul tetapi suara tersebut terus menerus mengikuti, sehingga menyebabkan klien susah berhubungan dengan orang lain. Apabila suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian atau sedih.

19

e. Tahap Conquering Klien merasa panik, suara atau ide yang datang mengancam apabila diikuti perilaku klien dapat bersifat merusak atau dapat timbul perilaku suicide.1 2. Waham Kelompok ini ditandai secara khas oleh berkembangnya waham yg umumnya menetap dan kadang-kadang bertahan seumur hidup. Waham dapat berupa waham kejaran, hipokondrik, kebesaran, cemburu, tubuhnya dibentuk secara abnormal,merasa dirinya bau dan homoseks. Tidak dijumpai gangguan lain, hanya depresi bisa terjadi secara intermitten. Onset biasanya pada usia pertengahan, tetapi kadang-kadang yang berkaitan dengan bentuk tubuh yang salah dijumpai pada usia muda. Isi waham dan waktu timbulnya sering dihubungkan dengan situasi kehidupan individu, misalnya waham kejaran pada kelompok minoritas. Terlepas dari perbuatan dan sikapnya yang berhubungan dengan wahamnya, afek dan pembicaraan dan perilaku orang tersebut adalah normal.Waham ini minimal telah menetap selama 3 bulan.2 G. Diagnosis Skizofrenia Hebefrenik Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia berdasarkan PPDGJ III: Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun). Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas : pemalu dan senang menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk menentukan diagnosis. Untuk diagnosis hebefrenia yang menyakinkan umumnya diperlukan pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan : Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan, serta mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri (solitary), dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan;

20

Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum sendiri (self-absorbed smiling), atau oleh sikap tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai (grimaces), mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated phrases) Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu (rambling) serta inkoheren. Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien. Menurut DSM-IV skizofrenia disebut sebagai skizofrenia tipe terdisorganisasi.2,6,7 H. Penatalaksanaan Terapi Somatik (Medikamentosa) Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola fikir yang terjadi pada Skizofrenia Terdapat 2 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu : antipsikotik konvensional dan newer atypical antipsycotics.1 a. Antipsikotik Konvensional ---Obat antipsikotik yang paling lama penggunannya disebut antipsikotik konvensional.Walaupun sangat efektif, antipsikotik konvensional sering menimbulkan efek samping yang serius. Contoh obat antipsikotik konvensional antara lain : 1. Haldol (haloperidol) 5. Stelazine (trifluoperazine)

21

2. Mellaril (thioridazine) 3. Navane (thiothixene) 4. Prolixin (fluphenazine)

6. Thorazine (chlorpromazine) 7. Trilafon (perphenazine)

Akibat berbagai efek samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan penggunaan newer atypical antipsycotic.3 Ada 2 pengecualian (harus dengan antipsikotik konvensional). Pertama, pada pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan untuk meneruskan pemakaian antipskotik konvensional. Kedua, bila pasien mengalami kesulitan minum pil secara reguler. Prolixin dan Haldol injeksi dapat diberikan dalam jangka waktu yang lama (long acting) dengan interval 2-4 minggu (disebut juga depot formulations). Dengan depot formulation, obat dapat disimpan terlebih dahulu di dalam tubuh lalu dilepaskan secara perlahan-lahan. b. Newer Atypcal Antipsycotic4 Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip kerjanya tidak spesifik bekerja pada reseptor Dopamine dan juga bekerja pada neurotransmitter lain, serta sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan antipsikotik konvensional. Beberapa contoh newer atypical antipsycotic yang tersedia, antara lain Risperdal (risperidone) Seroquel (quetiapine) Zyprexa (olanzopine) Para ahli banyak merekomendasikan obat-obat ini untuk menangani pasien-pasien dengan Skizofrenia.1,4 c. Clozaril ---Clozaril mulai diperkenalkan tahun 1990, merupakan antipsikotik atipikal yang pertama. Sangat disayangkan, Clozaril memiliki efek samping yang jarang tapi sangat serius dimana pada kasus-kasus yang jarang (1%), Clozaril dapat menurunkan jumlah sel

22

darah putih yang berguna untuk melawan infeksi. Ini artinya, pasien yang mendapat Clozaril harus memeriksakan kadar sel darah putihnya tiap bulan. Para ahli merekomendaskan penggunaan Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil.4 Cara Penggunaan Pada dasarnya semua obat anti psikosis mempunyai efek primer (efek klinis) yang sama pada dosis ekuivalen, perbedaan terutama pada efek samping sekunder. Pemilihan jenis obat anti psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Pergantian obat disesuaikan dengan dosis ekuivalen. Apabila obat anti psikosis tertentu tidak memberikan respon klinis dalam dosis yang sudah optimal setelah jangka waktu yang memadai, dapat diganti dengan obat psikosis lain (sebaiknya dari golongan yang tidak sama), dengan dosis ekivalennya dimana profil efek samping belum tentu sama. Apabila dalam riwayat penggunaan obat anti psikosis sebelumnya jenis obat antipsikosis tertentu yang sudah terbukti efektif dan ditolerir dengan baik efek sampingnya, dapat dipilih kembali untuk pemakaian sekarang Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan: o Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2-4 minggu o Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2-6 jam o Waktu paruh 12-24 jam (pemberian 1-2 kali perhari) o Dosis pagi dan malam dapat berbeda untuk mengurangi dampak efek samping(dosis pagi kecil, dosis malam lebih besar) sehingga tidak begitu mengganggu kualitas hidup pasien.1,4 --- Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama ----Newer atypical antipsychotic merupakan terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia episode pertama karena efek samping yang

23

ditimbulkan minimal dan resiko untuk terkena tardive dyskinesia lebih rendah. ----Biasanya obat antipsikotik membutuhkan waktu beberapa saat untuk mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu obat gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril) Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh) Biasanya timbul bila penderita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat. Terkadang penderita berhenti minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat menurunkan dosis menambah obat untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya lebih rendah. --Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4 minggu. Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya. --Terkadang pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat obatan yang lain, misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer atypical antipsychotic atau diganti dengan antipsikotik atipikal lainnya. Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan diatas gagal.4 Pengobatan Selama fase Penyembuhan ----Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 pasien yang berhenti minum obat setelah episode petama Skizofrenia dapat kambuh. Para ahli merekomendasikan pasien-pasien Skizofrenia episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama 12-24 bulan sebelum mencoba menurunkan dosisnya. Pasien yang menderita

24

Skizofrenia lebih dari satu episode, atau balum sembuh total pada episode pertama membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian pengobatan merupakan penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya penyakit.4 Efek Samping Obat-obat Antipsikotik ---Karena penderita Skizofrenia memakan obat dalam jangka waktu yang lama, sangat penting untuk menghindari dan mengatur efek samping yang timbul. Mungkin masalah terbesar dan tersering bagi penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional yaitu gangguan (kekakuan) pergerakan otot-otot yang disebut juga Efek samping Ekstra Piramidal (EEP). Dalam hal ini pergerakan menjadi lebih lambat dan kaku, sehingga agar tidak kaku penderita harus bergerak (berjalan) setiap waktu, dan akhirnya mereka tidak dapat beristirahat. Efek samping lain yang dapat timbul adalah tremor pada tangan dan kaki. Kadang-kadang dokter dapat memberikan obat antikolinergik (biasanya sulfas atropin) bersamaan dengan obat antipsikotik untuk mencegah atau mengobati efek samping ini.5 ---Efek samping lain yang dapat timbul adalah tardive dyskinesia dimana terjadi pergerakan mulut yang tidak dapat dikontrol, protruding tongue, dan facial grimace. Kemungkinan terjadinya efek samping ini dapat dikurangi dengan menggunakan dosis efektif terendah dari obat antipsikotik. Apabila penderita yang menggunakan antipsikotik konvensional mengalami tardive dyskinesia, dokter biasanya akan mengganti antipsikotik konvensional dengan antipsikotik atipikal. Obat-obat untuk Skizofrenia juga dapat menyebabkan gangguan fungsi seksual, sehingga banyak penderita yang menghentikan sendiri pemakaian obat-obatan tersebut. Untuk mengatasinya biasanya dokter akan menggunakan dosis efektif terendah atau mengganti dengan newer atypical antipsycotic yang efek sampingnya lebih sedikit.5 Peningkatan berat badan juga sering terjadi pada penderita Skizofrenia yang memakan obat. Hal ini sering terjadi pada penderita

25

yang menggunakan antipsikotik atipikal. Diet dan olah raga dapat membantu mengatasi masalah ini.1 Efek samping lain yang jarang terjadi adalah neuroleptic malignant syndrome, dimana timbul derajat kaku dan termor yang sangat berat yang juga dapat menimbulkan komplikasi berupa demam, penyakit-penyakit lain. Gejala-gejala ini membutuhkan penanganan yang segera. Terapi Psikososial Terapi perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri, latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti hak istimewa. Dengan demikian, frekuensi perilaku maladaptif atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di masyarakat, dan postur tubuh aneh dapat diturunkan. b. Terapi berorientasi-keluarga ---Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan dalam keadaan remisi parsial, dimana pasien skizofrenia kembali seringkali mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari). Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam terapi keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali, anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofrenia dan dari penyangkalan tentang keparahan penyakitnya.-Ahli terapi harus membantu keluarga dan pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. Sejumlah penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan relaps.

a. Terapi perilaku

26

c. Terapi kelompok Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi pasien skizofrenia. d. Psikoterapi individual Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi akan membantu dan menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi pasien skizofrenia adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami pasien. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli terapi, jarak emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti yang diinterpretasikan oleh pasien. Hubungan antara dokter dan pasien adalah berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik. Menegakkan hubungan seringkali sulit dilakukan, pasien skizofrenia seringkali kesepian dan menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas, bermusuhan, atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.1,2 V. PROGNOSIS Prognosis untuk skizofrenia hebefrenik sama dengan skizofrenia tipe lainnya, prognosisnya pada umumnya kurang begitu menggembirakan. 27

Sekitar 25% pasien dapat kembali pulih dari episode awal dan fungsinya dapat kembali pada tingkat prodromal (sebelum munculnya gangguan tersebut). Sekitar 25% tidak akan pernah pulih dan perjalanan penyakitnya cenderung memburuk. Sekitar 50% berada diantaranya, ditandai dengan kekambuhan periodik dan ketidakmampuan berfungsi dengan efektif kecuali untuk waktu yang singkat. Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis skizofrenia 1. Keluarga Pasien membutuhkan perhatian dari masyarakat, terutama dari keluarganya. jangan membeda-bedakan antara orang yang mengalami Skizofrenia dengan orang yang normal, karena orang yang mengalami gangguan Skizofrenia mudah tersinggung. 2. Inteligensi Pada umumnya pasien Skizofrenia yang mempunyai Inteligensi yang tinggi akan lebih mudah sembuh dibandingkan dengan orang yang inteligensinya rendah. 3. Pengobatan Obat memiliki dua kekurangan utama. Pertama hanya sebagian kecil pasien (kemungkinan 25%) cukup tertolong untuk mendapatkan kembali jumlah fungsi mental yang cukup normal. Kedua antagonis reseptor dopamine disertai dengan efek merugikan yang mengganggu dan serius. Namun pasien skkizofrenia perlu di beri obat Risperidone serta Clozapine. 4. Reaksi Pengobatan Dalam proses penyembuhan skizofrenia, orang yang bereaksi terhadap obat lebih bagus perkembangan kesembuhan daripada orang yang tidak bereaksi terhadap pemberian obat.

28

DAFTAR PUSTAKA

Maslim. R: Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia, edisi 3,Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan RI, Jakarta, 2002. Kaplan & Sadock: Skizofrenia dalam Sinopsis Psikiatri Jilid 1, edisi 7, Penerbit Bina Rupa Aksara, Jakarta, 1997. Maslim. R: Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik, edisi 3, Penerbit Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa, FK Unika Atma Jaya, Jakarta, 2003. http://www.medicastore.com

29