Anda di halaman 1dari 44

ASKEP HALUSINASI

I. Pengertian
Persepsi didefinisikan sebagai suatu proses diterimanya rangsang sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh penginderaan atau sensasi: proses penerimaan rangsang (Stuart, 2007). Persepsi merupakan tanggapan indera terhadap rangsangan yang datang dari luar, dimana rangsangan tersebut dapat berupa rangsangan penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapan dan perabaan. Interpretasi (tafsir) terhadap rangsangan yang datang dari luar itu dapat mengalami gangguan sehingga terjadilah salah tafsir (missinterpretation). Salah tafsir tersebut terjadi antara lain karena adanya keadaan afek yang luar biasa, seperti marah, takut, excited (tercengang), sedih dan nafsu yang memuncak sehingga terjadi gangguan atau perubahan persepsi (Triwahono, 2004). Perubahan persepsi adalah ketidakmampuan manusia dalam membedakan antara rangsang yang timbul dari sumber internal seperti pikiran, perasaan, sensasi somatik dengan impuls dan stimulus eksternal. Dengan maksud bahwa manusia masih mempunyai kemampuan dalam membandingkan dan mengenal mana yang merupakan respon dari luar dirinya. Manusia yang mempunyai ego yang sehat dapat membedakan antara fantasi dan kenyataaan. Mereka dalam menggunakan proses pikir yang logis, membedakan dengan pengalaman dan dapat memvalidasikan serta mengevaluasinya secara akurat (Nasution, 2003).

Perubahan persepsi sensori ditandai oleh adanya halusinasi. Beberapa pengertian mengenai halusinasi di bawah ini dikemukakan oleh beberapa ahli:

Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya padahal tidak ada sumber dari suara bisikan itu (Hawari, 2001). Halusinasi adalah persepsi sensorik yang keliru dan melibatkan panca indera (Isaacs, 2002). Halusinasi adalah gangguan penyerapan atau persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat terjadi pada sistem penginderaan dimana terjadi pada saat kesadaran individu itu penuh dan baik. Maksudnya rangsangan tersebut terjadi pada saat klien dapat menerima rangsangan dari luar dan dari dalam diri individu. Dengan kata lain klien berespon terhadap rangsangan yang tidak nyata, yang hanya dirasakan oleh klien dan tidak dapat dibuktikan (Nasution, 2003). Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren: persepsi palsu (Maramis, 2005). Halusinasi adalah sensasi panca indera tanpa adanya rangsangan. Klien merasa melihat, mendengar, membau, ada rasa raba dan rasa kecap meskipun tidak ada sesuatu rangsang yang tertuju pada kelima indera tersebut (Izzudin, 2005). Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah (Stuart, 2007). Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan atau mesin, barang, kejadian alamiah dan musik dalam keadaan sadar tanpa adanya rangsang apapun (Maramis, 2005).

Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara atau bunyi yang berkisar dari suara sederhana sampai suara yang berbicara mengenai klien sehingga klien berespon terhadap suara atau bunyi tersebut (Stuart, 2007).

Dari beberapa pengertian yang dikemukan oleh para ahli mengenai halusinasi di atas, maka peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa halusinasi adalah persepsi klien melalui panca indera terhadap lingkungan tanpa ada stimulus atau rangsangan yang nyata. Sedangkan halusinasi pendengaran adalah kondisi dimana pasien mendengar suara, terutamanya suarasuara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu. II. Etiologi Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah: Faktor predisposisi 1. Biologis Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini ditunjukkan oleh penelitianpenelitian yang berikut: a. Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik. b. Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia. c. Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).

2. Psikologis Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien. 3. Sosial Budaya

Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.

Faktor Presipitasi Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006).

Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah:

1. BiologisGangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan. 2. Stress lingkungan Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku. 3. Sumber koping Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.

III. Gejala Halusinasi Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut:

Bicara sendiri. Senyum sendiri. Ketawa sendiri. Menggerakkan bibir tanpa suara. Pergerakan mata yang cepat Respon verbal yang lambat. Menarik diri dari orang lain. Berusaha untuk menghindari orang lain. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah.

Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori. Sulit berhubungan dengan orang lain.

Ekspresi muka tegang. Mudah tersinggung, jengkel dan marah. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat. Tampak tremor dan berkeringat.

Perilaku panik. Agitasi dan kataton. Curiga dan bermusuhan. Bertindak merusak diri, orang lain dan lingkungan. Ketakutan. Tidak dapat mengurus diri. Biasa terdapat disorientasi waktu, tempat dan orang.

Menurut Stuart dan Sundeen (1998) yang dikutip oleh Nasution (2003), seseorang yang mengalami halusinasi biasanya memperlihatkan gejala-gejala yang khas yaitu:

Menyeringai Menggerakkan bibirnya

atau tanpa

tertawa menimbulkan

yang suara. Gerakan

tidak mata

sesuai. abnormal.

Respon verbal yang lambat. Diam. Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah. Penyempitan kemampuan konsenstrasi.

Dipenuhi dengan pengalaman sensori. Mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya daripada menolaknya. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik.

Berkeringat banyak. Tremor. Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk. Perilaku menyerang teror seperti panik. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain. Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk dan agitasi. Menarik diri atau katatonik. Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks. Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang.

Jenis-Jenis Halusinasi

Menurut Stuart (2007) halusinasi terdiri dari tujuh jenis. Penjelasan secara detail mengenai karakteristik dari setiap jenis halusinasi terdapat pada tabel 1.

IV. Jenis Halusinasi a. Pendengaran

Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.

b. Penglihatan Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar kartun, bayangan yang rumit atau kompleks. Bayangan bias yang menyenangkan atau menakutkan seperti melihat monster. c. Penghidu Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses umumnya baubauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia. d. Pengecapan Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses. e. Perabaan Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas. Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain. f. Cenestetik Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri, pencernaan makan atau pembentukan urine. g. Kinistetik Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.

V. Tahapan halusinasi Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase menurut Stuart dan Laraia (2001) dan setiap fase memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu: Fase I : Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik sendiri.

Fase II : Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah), asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realita. Fase III : Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Di sini klien sukar berhubungan dengan orang lain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan orang lain. Fase IV : Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari 1 orang. Kondisi klien sangat membahayakan.

Rentang respon halusinasi.

Menurut Stuart dan Laraia (2001), halusinasi merupakan salah satu respon maladaptif individu yang berada dalam rentang respon neurobiologi. Rentang respon tersebut digambarkan pada gambar 2 di bawah ini.

Rentang respon neurobiologi pada gambar 2 dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pikiran logis: yaitu ide yang berjalan secara logis dan koheren. Persepsi akurat: yaitu proses diterimanya rangsang melalui panca indra yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada di dalam maupun di luar dirinya.

Emosi konsisten: yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar disertai banyak komponen fisiologik dan biasanya berlangsung tidak lama.

Perilaku sesuai: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh norma-norma social dan budaya umum yang berlaku. Hubungan social harmonis: yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar individu dan individu, individu dan kelompok dalam bentuk kerjasama.

Proses pikir kadang terganggu (ilusi): yaitu menifestasi dari persepsi impuls eksternal melalui alat panca indra yang memproduksi gambaran sensorik pada area tertentu di otak kemudian diinterpretasi sesuai dengan kejadian yang telah dialami sebelumnya. Emosi berlebihan atau kurang: yaitu menifestasi perasaan atau afek keluar berlebihan atau kurang. Perilaku tidak sesuai atau biasa: yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalahnya tidak diterima oleh norma norma social atau

budaya umum yang berlaku. Perilaku aneh atau tidak biasa: perilaku individu berupa tindakan nyata dalam menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya umum yang berlaku. Menarik diri: yaitu percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain.

Isolasi sosial: menghindari dan dihindari oleh lingkungan sosial dalam berinteraksi.

Berdasarkan gambar diketahui bahwa halusinasi merupakan respon persepsi paling maladaptif. Jika klien sehat, persepsinya akurat, mampu mengidentifikasi dan menginterpretasikan stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indra (pendengaran, penglihatan, penghidu, pengecapan, dan perabaan), sedangkan klien dengan halusinasi mempersepsikan suatu stimulus panca indra walaupun sebenarnya stimulus itu tidak ada.

Konsep Dasar Keperawatan

Menurut Carpenito (1996) dikutip oleh Keliat (2006), pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang melibatkan hubungan kerjasama antara perawat dengan klien, keluarga atau masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Asuhan keperawatan juga menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian menentukan masalah atau diagnosa, menyusun rencana tindakan keperawatan, implementasi dan evaluasi.

Pengkajian

Menurut Stuart dan Laraia (2001), pengkajian merupakan tahapan awal dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkam menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien.

Berbagai aspek pengkajian sesuai dengan pedoman pengkajian umum, pada formulir pengkajian proses keperawatan. Pengkajian menurut Keliat (2006) meliputi beberapa faktor antara lain:

Identitas klien dan penanggung

Yang perlu dikaji yaitu: nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, status, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.

Alasan masuk rumah sakit

Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga merasa tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal lain, gejala yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Faktor predisposisi 1. Faktor perkembangan terlambat a. Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa aman. b. Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi.c ). Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan. 2. Faktor komunikasi dalam keluarga a. Komunikasi peran ganda. b. Tidak ada komunikasi. c. Tidak ada kehangatan. d. Komunikasi dengan emosi berlebihan. e. Orang tua yang membandingkan anak anaknya, orang tua yang otoritas dan komplik orang tua. 3. Faktor sosial budaya Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan lingkungan yang terlalu tinggi. 4. Faktor psikologis Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri, ideal diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran, gambaran diri negatif dan koping destruktif. 5. Faktor biologis Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran vertikel, perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik.

6. Faktor genetik Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia adalah kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan nomor 4,8,5 dan 22. Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami skizofrenia berpeluang 15% mengalami skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %. Faktor presipitasi Faktor faktor pencetus respon neurobiologis meliputi: 1 Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan memproses informasi di thalamus dan frontal otak. 2 Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu (mekanisme penerimaan abnormal). 3 Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Menurut Stuart (2007), pemicu gejala respon neurobiologis maladaptif adalah kesehatan, lingkungan dan perilaku seperti yang tercantum pada tabel 2 di dibawah ini:

Tabel 2. Faktor pemicu gejala respon neurobiologis halusinasi (Stuart, 2007).

Faktor pemicu Respon neurobiologis Kesehatan Nutrisi dan tidur kurang, ketidaksiembangan irama sirkardian, kelelahan dan infeksi, obat-obatan system syaraf pusat, kurangnya latihan dan hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan. Lingkungan Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga, kehilangan kebebasan hidup dalam melaksanakan pola aktivitas sehari-hari, sukar dalam berhubungan dengan orang lain, isoalsi social, kurangnya dukungan social, tekanan kerja (kurang terampil dalam bekerja), stigmasasi, kemiskinan, kurangnya alat transportasi dan ketidakmamapuan mendapat pekerjaan. Sikap Merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa (tidak percaya diri), merasa gagal (kehilangan motivasi menggunakan keterampilan diri), kehilangan kendali diri (demoralisasi), merasa punya kekuatan berlebihan, merasa malang (tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual), bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya kemampuan sosialisasi, perilaku agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan pengobatan dan ketidak adekuatan penanganan gejala.

Status Mental Pengkajian pada status mental meliputi: 1 Penampilan: tidak rapi, tidak serasi dan cara berpakaian. 2 Pembicaraan: terorganisir atau berbelit-belit. 3 Aktivitas motorik: meningkat atau menurun. 4 Alam perasaan: suasana hati dan emosi. 5 Afek: sesuai atau maladaptif seperti tumpul, datar, labil dan ambivalen 6 Interaksi selama wawancara: respon verbal dan nonverbal. 7 Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus yang ada sesuai dengan informasi. 8 Proses pikir: proses informasi yang diterima tidak berfungsi dengan baik dan dapat mempengaruhi proses pikir. 9 Isi pikir: berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistis. 10 Tingkat kesadaran: orientasi waktu, tempat dan orang. 11 Memori a). Memori jangka panjang: mengingat peristiwa setelah lebih setahun berlalu. b). Memori jangka pendek: mengingat peristiwa seminggu yang lalu dan pada saat dikaji. 12 Kemampuan konsentrasi dan berhitung: kemampuan menyelesaikan tugas dan berhitung sederhana. 13 Kemampuan penilaian: apakah terdapay masalah ringan sampai berat. 14 Daya tilik diri: kemampuan dalam mengambil keputusan tentang diri.

Kebutuhan persiapan pulang: yaitu pola aktifitas sehari-hari termasuk makan dan

minum, BAB dan BAK, istirahat tidur, perawatan diri, pengobatan dan pemeliharaan kesehatan sera aktifitas dalam dan luar ruangan. Mekanisme koping 1). Regresi: menjadi malas beraktifitas sehari-hari. 2). Proyeksi: menjelaskan prubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain. 3). Menarik diri: sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimulus internal. Masalah psikososial dan lingkungan: masalah berkenaan dengan ekonomi, pekerjaan, pendidikan dan perumahan atau pemukiman. Aspek medik: diagnosa medik dan terapi medik. Masalah Keperawatan Menurut Keliat (2006) masalah keperawatan yang sering terjadi pada klien halusinasi adalah: Perubahan Resiko Isolasi Gangguan Intoleransi Defisit perawatan diri. Pohon masalah persepsi mencederai sosial konsep diri diri sensori sendiri : : : orang halusinasi lain dan pendengaran. lingkungan. diri. diri rendah. aktifitas.

menarik harga

Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai pada fase empat, dimana klien mengalami panik dan perilakunya

dikendalikan oleh isi halusinasinya. Masalah yang menyebabkan halusinasi itu adalah harga diri rendah dan isolasi sosial, akibat rendah diri dan kurangnya berhubungan sosial maka klien menjadi menarik diri dari lingkungan (Keliat, 2006).

Berdasarkan masalah-masalah tersebut, maka dapat disusun pohon masalah sebagai berikut:

Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian teknik mengenai respon individu, keluarga, komunitas terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual maupun potensial (NANDA, 2001 dikutip oleh Keliat, 2006).

Rumusan diagnosis menurut Keliat (2006) dapat berupa:

Problem

(masalah):

nama

atau

label

diagnosa.

Etiology (penyebab): alasan yang dicurigai dari respon yang telah diidentifikasi dari pengkajian. Sign dan sympton (tanda dan gejala): manifesitasi yang diidentifikasi dalam pengkajian yang menyokong diagnosa keperawatan.

Ada beberapa diagnosa keperawatan yang sering ditemukan pada klien dengan halusinasi menurut Keliat (2006) yaitu:

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.

Perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik diri.

Isolasi

sosial:

menarik

diri

berhubungan

dengan

harga

diri

rendah.

Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktifitas.

Perencanaan

Perencanaan tindakan keperawatan menurut Keliat (2006 ) terdiri dari tiga aspek yaitu tujuan umum, tujuan khusus dan intervensi keperawatan. Rencana tindakan keperawatan pada klien dengan masalah utama perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran adalah sebagai berikut:

Diagnosa 1: Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran.

Tujuan

umum:

Tidak terjadi perilaku kekerasan yang diarahkan kepada diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Tujuan TUK Klien dapat membina hubungan saling khusus: 1: percaya

Ekspresi wajah bersahabat, klien nampak tenang, mau berjabat tangan, membalas salam, mau Intervensi: 1.1.1Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/ komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah, baik secara verbal maupun non verbal, perkenalkan nama perawat, tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai, duduk dekat perawat.

jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati janji, bersikap empati dan menerima klien apa Rasional: Hubungan 1.1.2 Rasional: Mengetahui 1.1.3 Rasional: Agar TUK Klien dapat mengenal klien merasa diperhatikan. 2: halusinasinya. Dengarkan masalah klien yang dengan dialami penuh perhatian oleh dan klien. empati. saling percaya sebagai klien dasar interaksi perawat dan klien. adanya.

Dorong

mengungkapkan

perasaannya.

2.1Klien dapat membedakan antara nyata dan tidak nyata.

Intervensi: 2.1.1 Rasional: Menghindari waktu kosong yang dapat menyebabkan timbulnya halusinasi. Adakan kontak sering dan singkat.

2.1.2 Observasi segala perilaku klien verbal dan non verbal yang berhubungan dengan halusinasi. Rasional: Halusinasi harus kenal terlebih dahulu agar intervensi efektif

2.1.3 Terima halusinasi klien sebagai hal yang nyata bagi klien, tapi tidak nyata bagi perawat.

Rasional: Meningkatkan realita klien dan rasa percaya klien.

2.2Klien dapat menyebutkan situasi yg dapat menimbulkan dan tidak menimbulkan halusinasi. 2.2.1 Diskusikan dengan klien situasi yang menimbulkan dan tidak menimbulkan situasi. Rasional: Peran serta aktif klien membantu dalam melakukan intervensi keperawatan. 2.2.2Diskusikan Rasional dengan klien faktor predisposisi terjadinya halusinasi. :

Dengan diketahuinya faktor predisposisi membantu dalam mengontrol halusinasi. TUK Klien dapat mengontrol 3: halusinasi.

3.1 Klien dapat menyebutkan tindakan yang dapat dilakukan apabila halusinasinya timbul. Intervensi: Diskusikan dengan klien tentang tindakan yang dilakukan bila halusinasinya timbul. Rasional: Mengetahui tindakan yang dilakukan dalam mengontrol halusinasinya.

3.2 Klien akan dapat menyebutkan cara memutuskan halusinasi yaitu dengan melawan suara itu dengan mengatakan tidak mau mendengar, lakukan kegiatan :

menyapu/mengepel, minum obat secara teratur, dan lapor pada perawat pada saat timbul halusinasi. 3.2.1Diskusikan dengan klien tentang cara memutuskan halusinasinya.

Rasional: Meningkatkan 3.2.2.Dorong Rasional: hasil diskusi sebagai bukti dari perhatian klien atas apa yg dijelaskan. pengetahuan klien klien tentang kembali cara cara memutuskan memutuskan halusinasi. halusinasi.

menyebutkan

3.2.3.Berikan reinforcement positif atas keberhasilan klien menyebutkan kembali cara memutuskan Rasional: Meningkatkan TUK Klien 4.1Klien Intervensi 4.1.1Diskusikan Rasional: Meningkatkan pengetahuan klien tentang fungsi obat yang diminum agar klien mau minum TUK obat secara teratur. 5: dengan klien tentang obat untuk mengontrol dapat memanfaatkan mau obat dalam obat mengontrol dengan harga diri klien. 4: halusinanya. teratur. : halusinasinya. halusinasinya.

minum

Klien mendapat sistem pendukung keluarga dalam mengontrol halusinasinya. 5.1Klien Intervensi: 5.1.1Kaji kemampuan keluarga tentang tindakan yg dilakukan dalam merawat klien bila halusinasinya timbul. mendapat sistem pendukung keluarga.

Rasional Mengetahui tindakan yang dilakukan oleh keluarga dalam merawat

: klien.

5.1.2Diskusikan juga dengan keluarga tentang cara merawat klien yaitu jangan biarkan klien menyendiri, selalu berinteraksi dengan klien, anjurkan kepada klien untuk rajin minum Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien. obat, setelah pulang kontrol 1 x dalam sebulan.

a.Diagnosa 2: perubahan persepsi sensori; halusinasi pendengaran berhubungan dengan menarik 1).Tujuan diri. umum:

Klien dapat berhubungan dengan orang lain untuk mencegah timbulnya halusinasi. Tujuan TUK Klien dapat membina hubungan saling khusus: 1: percaya.

1.1Ekspresi wajah bersahabat, klien nampak tenang, mau berjabat tangan, membalas salam, Intervensi: 1.1.1Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/ komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah, baik secara verbal maupun non verbal, perkenalkan nama perawat, tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai, jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati janji, bersikap empati dan menerima klien apa Rasional: adanya. mau duduk dekat perawat.

Hubungan 1.1.2Dorong Rasional: Mengetahui

saling

percaya klien

sebagai

dasar

interaksi

perawat

dan

klien.

mengungkapkan

perasaannya.

masalah klien

yang dengan penuh

dialami perhatian

oleh dan

klien. empati :

1.1.3Dengarkan Rasional Agar TUK Klien 2.1 Klien dapat dapat

klien

merasa

diperhatikan. 2:

mengenal menyebutkan

penyebab penyebab menarik

menarik diri pada

diri. dirinya.

Intervensi: 2.1.1Kaji Pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri.

Rasional: Untuk mengetahui klien tingkat untuk pengetahuan menyebutkan klien kembali tentang penyebab menarik menarik diri. diri.

2.1.2Dorong Rasional:

Membantu mengetahui penyebab menarik diri sehingga membantu dlm melaksanakan intervensi selanjutnya.

2.1.3Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien dalam mengungkapkan penyebab menarik Rasional: Meningkatkan TUK harga diri klien. 3: diri.

Klien

dapat

mengetahui

manfaat

berhubungan

dengan

orang

lain.

3.1Klien dapat mengungkapkan keuntungan berhubungan dengan orang lain. Intervensi: Diskusikan Rasional: Meningkatkan pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain. 3.1.2 Dorong klien untuk menyebutkan kembali manfaat berhubungan dengan orang lain. Rasional: Mengetahui tingkat pemahaman klien tentang informasi yg diberikan. bersama klien manfaat berhubungan dengan orang lain.

3.1.3 Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menyebutkan kembali manfaat berhubungan Rasional: Meningkatkan TUK Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara harga diri klien. 4: bertahap. dengan orang lain.

4.1Klien dapat menyebutkan cara berhubungan dengan orang lain secara bertahap. Intervensi: 4.1.1 Rasional: Mencegah timbulnya halusinasi. Dorong klien untuk berhubungan dengan orang lain.

4.1.2 Diskusikan dengan klien cara berhubungan dengan orang lain secara bertahap. Rasional: Meningkatkan pengetahuan klien cara yang yg dilakukan dalam berhubungan dengan

orang 4.1.3 Rasional: Meningkatkan TUK harga 5 diri Beri reinforcement atas keberhasilan yg

lain. dilakukan.

klien. :

Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain. 5..1Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain. Intervensi :

5.1.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya berhubungan dengan orang lain. Rasional: Untuk mengetahui perasaan klien setelah berhubungan dengan orang lain.

5.1.2 Diskusikan dengan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain. Rasional: Mengetahui pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain. 5.1.3 Berikan reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat Rasional: Meningkatkan TUK Klien 6.1 dapat Keluarga memberdayakan dapat menjelaskan sistem cara pendukung klien atau yang harga diri klien. 6: keluarga. diri. berhubungan orang lain.

merawat

menarik

Intervensi: 6.1.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga.

Rasional: Agar terbina rasa percaya keluarga kepada perawat.

6.1.2 Diskusikan dengan anggota keluarga perilaku menarik diri, penyebab perilaku menarik Rasional: Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang menarik diri dan cara merawatnya. 6.1.3 Anjurkan kepada keluarga secara rutin dan bergantian datang menjenguk klien (1 x seminggu). Rasional: Agar klien merasa diperhatikan. diri dab cara keluarga menghadapi klien.

b.Diagnosa 3: isolasi sosial; menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

1) Klien 2). TUK Klien dapat membina dapat berhubungan

Tujuan dengan orang lain tanpa merasa

umum: rendah diri.

Tujuan

khusus: 1: hubungan saling percaya.

1.2Ekspresi wajah bersahabat, klien nampak tenang, mau berjabat tangan, membalas salam, Intervensi: 1.2.1Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/ komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah, baik secara verbal maupun non verbal, perkenalkan nama perawat, tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai, mau duduk dekat perawat.

jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati janji, bersikap empati dan menerima klien apa Rasional: Hubungan 1.2.2 Rasional: Mengetahui 1.2.3 Rasional: Agar TUK Klien dapat mengidenfikasi klien 2 kemampuan dan sisi positif yang merasa diperhatikan. : dimiliki. Dengarkan masalah klien yang dengan dialami penuh perhatian oleh dan klien. empati. saling percaya sebagai klien dasar interaksi perawat dan klien. adanya.

Dorong

mengungkapkan

perasaannya.

2.1 Klien dapat menyebutkan cita-cita dan harapan sesuai dengan kemampuannya.

Intervensi: 2.1.1Diskusikan dengan klien tentang ideal dirinya : apa harapan klien bila pulang nanti dan Rasional: Untuk mengetahui sampai dimana realitas dari harapan klien. apa yg menjadi cita-citanya.

2.1.2Bantu klien mengembangkan antara keinginan dengan kemampuan yang dimilikinya. Rasional: Membantu TUK klien membentuk harapan yang realitas. 3:

Klien 3.1

dapat

menyebutkan Klien

keberhasilan dapat

yang

pernah

dialaminya. dirinya.

mengevaluasi

Intervensi: Diskusikan Rasional: Mengingatkan 3.2 Klien dapat klien bahwa tidak selamanya dia gagal. dengan klien keberhasilan yg pernah dialaminya.

menyebutkan kegagalan

yang pernah terjadi

pada dirinya

3.2.1 Diskusikan dengan klien kegagalan yang pernah terjadi pada dirinya. Rasional: Mengetahui sejauh mana kegagalan yg dialami oleh klien.

3.2.2 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien menyebutkan keberhasilan dan kegagalan Rasional: Meningkatkan TUK Klien dapat membuat rencana yang harga diri klien. 4: realistis. yang pernah dialaminya.

4.1 Klien dapat menyebutkan tujuan yang ingin dicapai.

Intervensi: 4.1.1 Rasional: Agar 4.2 4.2.1 klien Klien Motivasi tetap dapat klien realistis membuat untuk dengan kemampuan dalam kegiatan yang dimilikinya. tujuan. dipilih. Bantu klien merumuskan tujuan yang ingin di capai.

keputusan melakukan

mencapai yang telah

Rasional: Menghargai 4.2.2 Rasional: Meningkatkan TUK Klien 5.1 Intervensi: 5.1.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentan cara merawat klien dengan harga diri Rasional: Untuk meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah. 5.1.2 Rasional Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat. : rendah. dapat Keluarga memanfaatkan memberi system dukungan pendukung dan harga diri. 5: keluarga. ujian. Berikan keputusan pujian atas yang dipilih yang oleh telah klien. dilakukan.

keberhasilan

Support system keluarga akan sangat berpengaruh dalam mempercepat penyembuhan klien. 5.2 5.2.1 Rasional: Meningkatkan 5.2.2 Jelaskan peran cara serta keluarga dalam jadwal merawat kegiatan klien klien di di rumah. rumah. Keluarga Bantu memahami keluarga jadwal menyiapkan kegiatan lingkungan harian di klien. rumah.

pelaksanaan

Rasional: Untuk meningkatkan pengetahuan keluarga tentang perawatan klien di rumah. 5.2.3 Rasional: Meningkatkan harga diri klien. Anjurkan memberi pujian pada klien setiap berhasil.

c.Diagnosa 4: defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktifitas. 1). Klien dapat meningkatkan Tujuan motivasi dalam mempertahankan umum: kebersihan diri.

2). Tujuan khusus:

TUK Klien dapat membina hubungan saling

1: percaya.

1.1.Ekspresi wajah bersahabat, klien nampak tenang, mau berjabat tangan, membalas salam, Intervensi: 1.1.1.Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/ komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah, baik secara verbal maupun non verbal, perkenalkan nama perawat, tanyakan nama lengkap klien dan panggilan yang disukai, jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan menepati janji, bersikap empati dan menerima klien apa Rasional: Hubungan 1.1.2 saling percaya sebagai klien dasar interaksi perawat dan klien. adanya. mau duduk dekat perawat.

Dorong

mengungkapkan

perasaannya.

Rasional: Mengetahui 1.1.3 Rasional: Agar TUK Klien dapat mengenal klien 2 pentingnya perawatan merasa diperhatikan. : diri. Dengarkan masalah klien yang dengan dialami penuh perhatian oleh dan klien. empati.

2.1 Klien dapat menyebutkan tanda kebersihan diri yaitu badan tidak bau, rambut rapi, bersih dan tidak bau, gigi bersih dan tidak bau, baju rapi tidak bau, kuku pendek. Intervensi: 2.1.1 Diskusikan bersama klien pentingnya kebersihan diri dengan cara menjelaskan pengertian Rasional: Meningkatkan pemahaman klien tentang kebersihan diri. tentang aarti bersih dan tanda-tanda bersih.

2.1.2 Dorong klien untuk menyebutkan kembali tanda-tanda kebersihan diri. Rasional: Mengetahui pemahaman klien ttg kebersihan diri.

2.1.3 Berikan pujian atas kemampuan klien menyebutkan kembali tanda-tanda kebersihan diri. Rasional: Meningkatkan harga diri klien.

2.2 Klien dapat menyebutkan tentang pentingnya dalam perawatan diri, memberi rasa segar, mencegah penyakit mulut dan memberikan rasa nyaman.

2.2.1 Beri penjelasan kepada klien tentang pentingnya dalam melakukan perawatan diri. Rasional: Meningkatkan pemahaman klien tentang kebersihan diri.

2.2.2 Dorong klien untuk menyebutkan kembali manfaat dalam melakukan perawatan diri. Rasional: Mengetahui pemahaman informasi yang telah diberikan.

2.2.3 Berikan pujian atas keberhasilan klien menyebutkan kembali manfaat perawatan diri. Rasional: Meningkatkan harga diri klien.

2.3 Klien dapat menjelaskan cara merawat diri yaitu mandi 2 x sehari, pakai sabun , gosok gigi minimal 2 x sehari , cuci rambut 2- 3 x sehari dan ganti pakaian 1 x sehari.

TUK

3:

Klien dapat melakukan kebersihan diri secara mandiri maupun bantuan perawat. 3.1 Klien berusaha untuk memelihara kebersihan diri.

Intervensi: 3.1.1 Motivasi dan bimbingan klien untuk memelihara kebersihan diri.

Rasional: Agar 3.1.2 Rasional: Memberikan kesegaran. klien Anjurkan melaksanakan untuk kebersihan mengganti diri. baju.

TUK Klien 4.1 Intervensi: dapat Klien mempertahankan selalu kebersihan rapi diri secara dan

4: mandiri. bersih.

4.1.1 Beri Reinforcement positif jika klien berhasil melakukan kebersihan diri. Rasional: Meningkatkan TUK Klien mendapat dukungan keluarga dalam melakukan kebersihan harga diri sendiri. 5: diri

5.1 Keluarga selalu mengingat hal-hal yang berhubungan dengan kebersihan diri. Intervensi: 5.1.1 Jelaskan pada keluarga tentang penyebab kurang minatnya klien menjaga kebersihan Rasional: Untuk memberi penjelasan kepada keluarga tentang penyebab kurangnya kebersihan pada klien. diri.

5.1.2 Diskusikan bersama keluarga tentang tindakan yang dilakukan klien selama di RS dalam Rasional: Klien dapat mengetahui tentang tindakan perawatan diri yang mampu dilakukan oleh klien. menjaga kebersihan.

Implementasi

Menurut Keliat (2006), implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan dengan memperhatikan dan mengutamakan masalah utama yang aktual dan mengancam integritas klien beserta lingkungannya. Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi apakah rencana tindakan keperawatan masih dibutuhkan dan sesuai dengan kondisi klien pada saat ini (here and now). Hubungan saling percaya antara perawat dengan klien merupakan dasar utama dalam pelaksanaan tindakan keperawatan.

Evaluasi

Evaluasi menurut Keliat (2006) adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan kepada klien. Evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu evaluasi proses atau formatif yang dilakukan tiap selesai melakukan tindakan keperawatan dan evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan respons klien dengan tujuan yang telah ditentukan.

Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP dengan penjelasan sebagai berikut:

S : Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan. Dapat diukur dengan menanyakan pertanyaan sederhana terkait dengan tindakan keperawatan seperti coba bapak sebutkan kembali bagaimana cara mengontrol atau memutuskan halusinasi yang benar?.

O : Respon objektif dari klien terhadap tindakan keperawatan yang telah diberikan. Dapat

diukur

dengan

mengobservasi

perilaku

klien

pada

saat

tindakan

dilakukan.

A : Analisis ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada. Dapat pula membandingkan hasil dengan tujuan.

P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien yang terdiri dari tindak lanjut klien dan tindak lanjut perawat. Rencana tindak lanjut dapat berupa:

a.Rencana

diteruskan,

jika

masalah

tidak

berubah.

b.Rencana dimodifikasi jika masalah tetap, semua tindakan sudah dijalankan tetapi hasil belum memuaskan.

c.Rencana dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan masalah yang ada serta diagnosa lama diberikan.

Hasil yang diharapkan pada asuhan keperawatan klien dengan halusinasi adalah:

a.Klien mampu memutuskan halusinasi dengan berbagai cara yang telah diajarkan. b.Klien c.Meminta d.Mampu e.Menggunakan f.Keluarga mampu mampu bantuan berhubungan obat mengidentifikasi mengetahui atau dengan dengan gejala tentang partisipasi orang halusinasinya. keluarga. lain. benar. halusinasi.

g.Keluarga mampu merawat klien di rumah dan mengetahui tentang cara mengatasi halusinasi serta dapat mendukung kegiatan-kegiatan klien.

Sumber: 1.Hamid, Achir Yani. (2000). Buku Pedoman Askep Jiwa-1 Keperawatan Jiwa Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

2.Hawari, Dadang. (2001). Pendekatan Holistik pada gangguan Jiwa Skizofrenia. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

3.Isaacs, Ann. (2005). Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

4.Keliat, Budi Anna. (2006) Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

5.Maramis, W. F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9. Surabaya: Airlangga University Press. 6.Townsend, Mary. C. (2000). Psychiatric Mental Health Nursing Concepts Of Care. Edisi 3. Philadelphia: F. A. Davis Company

7.Stuart dan Laraia. (2001). Principle and Practice Of Psychiatric Nursing. edisi 6. St. Louis: Mosby Year Book. Gangguan Psikologis dan Perilaku Pada Demensia Kategori Oleh : Drs. H. Lanjut Zainuddin Sri Kuntjoro, Usia MPsi.

Jakarta, 6/17/2002

Berdasarkan sejumlah hasil penelitian diperoleh data bahwa dimensia seringkali terjadi pada usia lanjut yang telah berumur kurang lebih 60 tahun. Dimensia tersebut dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu: 1) Dimensia Senilis (60 tahun); 2) Demensia Pra Senilis

(60 tahun). Sekitar 56,8% lansia mengalami demensia dalam bentuk Demensia Alzheimer (4% dialami lansia yang telah berusia 75 tahun, 16% pada usia 85 tahun, dan 32% pada usia 90 tahun). Sampai saat ini diperkirakan +/- 30 juta penduduk dunia mengalami Demensia dengan berbagai sebab (Oelly Mardi Santoso, 2002).

Pertambahan jumlah lansia Indonesia, dalam kurun waktu tahun 1990 - 2025, tergolong tercepat di dunia (Kompas, 25 Maret 2002:10). Jumlah sekarang 16 juta dan akan menjadi 25,5 juta pada tahun 2020 atau sebesar 11,37 % penduduk dan ini merupakan peringkat ke empat dunia, dibawah Cina, India dan Amerika Serikat. Sedangkan umur harapan hidup berdasarkan sensus BPS 1998 adalah 63 tahun untuk pria dan 67 tahun untuk perempuan. (Meski menurut kajian WHO (1999), usia harapan hidup orang Indonesia rata-rata adalah 59,7 tahun dan menempati urutan ke 103 dunia, dan nomor satu adalah Jepang dengan usia harapan hidup rata-rata 74,5 tahun).

Kondisi ini tentu saja menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan masalah demensia. Betapa besar beban yang harus ditanggung oleh negara atau keluarga jika masalah demensia tidak disikapi secara tepat dan serius, sehubungan dengan dampak yang ditimbulkannya. Mengingat bahwa masalah demensia merupakan masalah masa depan yang mau tidak mau akan dihadapi orang Indonesia dan memerlukan pendekatan holistik karena umumnya lanjut usia (lansia) mengalami gangguan berbagai fungsi organ dan mental, maka masalah demensia memerlukan penanganan lintas profesi yang melibatkan: Internist, Neurologist, Psikiater, Spesialist Gizi, Spesialis Rehabilitasi Medis dan Psikolog Klinis

Gangguan

Demensia adalah keadaan dimana seseorang mengalami penurunan kemampuan daya ingat dan daya pikir, dan penurunan kemampuan tersebut menimbulkan gangguan terhadap fungsi kehidupan sehari-hari. Bentuk gangguan yang sangat menyolok adalah penurunan perilaku yang secara lengkap disebut perilaku sosial (social skill) dan perilaku ini dapat dirinci lebih lanjut menjadi:

ADL (Activity of Daily Living yaitu kemampuan seseorang untuk mengurus dirinya sendiri) dimulai dari bangun tidur, mandi, berpakaian dan seterusnya sampai pergi tidur kembali, pokoknya segala kegiatan orang untuk mengurus kebutuhannya sendiri.

Perilaku Okupasional yaitu perilaku yang dilaksanakan seseorang untuk menjalankan kehidupannya untuk bekerja dan mencari nafkah, yaitu sekolah, bekerja, berorganisasi, menjalankan ibadah, mengisi waktu luang.

Partisipasi sosial yaitu perilaku seseorang untuk hidup bermasyarakat seperti mematuhi kewajiban sebagai warga masyarakat, misalnya mengurus KTP, SIM, Kerja Bakti, berorganisasi sosial, menghadiri undangan dan sebagainya.

Pada umumnya gejala yang tampak pada demensia adalah:

Terganggunya fungsi daya ingat yang makin lama makin berat terutama daya ingat jangka pendek. Ingatan masa lalu masih tetap baik dan bertahan.

Terganggunya fungsi berfikir antara lain : aphasia, apraxia, agnosia, atau gangguan fungsi eksekutif.

Penurunan fungsi daya ingat dan daya pikir ini menimbulkan gangguan fungsi kehidupan sehari-hari (mandi, berpakaian, kebersihan diri, buang air besar/kecil, dll)

Makin lama gangguan yang terjadi semakin berat.

Gangguan Psikologis dan Perilaku

Gangguan psikologis dan perilaku pada penderita demensia adalah sebagai berikut:

Gangguan Gangguan Perilaku Psikologis Jenis Bentuk Jenis Bentuk Mondar-mandir

Isi pikiran yang salah kebenarannya 1. Wahana (Delusi) Tidak dpt melalui 1. Wandering diyakini

Mencari-cari/

membututi pengasuh/keluarga/ orang lain kemana pun pergi.

dikoreksi

Berjalan

bukti-bukti yang ada

mengelilingi rumah

Keluar rumah /kabur /keluyuran

Halusinasi dengar Sangat gelisah sehingga 2. Halusinasi penglihatan sejenak Halusinasi Haptic Merasa bukan Aktivitas dirinya (bicara) Merasa bahwa motorik maupun (fisik) yang verbal Halusinasi 2. Restlessness tidak bisa diam barang

3. Misidentifikasi / istri/suami bukan lagi 3. Agitasi Mispersepsi pasangan hidupnya

berlebihan dan tidak selaras. Misalnya

marah-marah, ngamuk Tidak dapat ngamuk, ngomel terus, mengidentifikasi dsb. kejadian Murung, sedih, Agresivitas : fisik

seperti

memukul,

menangis

menendang, mendorong, mencakar, 4. Agresivitas menggigit orang atau menggerayangi barang

Ingin mengakhiri 4. Depresi hidupnya

Uring-uringan dan mudah tersinggung

orang lain

Agresivitas Verbal

seperti berteriak, suara

menjerit, membuat marah

gaduh,

meledak-ledak. Tak ada minat terhadap hal-hal yang biasanya termasuk sehari-hari. 5. Apatis Perawatan diri diri. terganggu. menjadi kurang sopan, Interaksi sosial sangat kurang memalukan sebagainya. terpuji, dan Perilakunya 5. Disinhibisi disukai, kegiatan Kelakuan yang tidak sesuai budaya dan sosial karena

norma-norma yang berlaku

terganggunya/hilangnya fungsi pengendalian

menjadi berkurang.

Menanyakan hal yang sama berulangulang

6. Cemas

tangan

Meremas-remas

Tidak dapat duduk diam

Adapun penyebab kedua gangguan tersebut diatas adalah:


Perubahan zat-zat kimia di otak (neurotransmitter) Pengkerutan volume otak akibat kerusakan/kematian sel otak. Kepribadian pasien Pra Morbid Ketahanan (Resiliance) pasien terhadap perubahan hidup yang terjadi. Faktor lingkungan termasuk pengasuh.

Menghadapi Pasien Dimensia

Tindakan-tindakan yang sebaiknya dilakukan jika menghadapi pasien demensia adalah sebagai berikut:

1. Terapi Obat dengan pengawasan dokter

2. Terapi non obat, berupa:


Intervensi Lingkungan Intervensi Perilaku Intervensi Psikologis

3. Terapi Lainnya:

Aktivitas keagamaan Mengembangkan hobby yang ada seperti melukis, memasak, main musik, berkebun, fotografi

Intervensi Lingkungan:

Penyesuaian fisik (bentuk ruangan, warna, alat yang tersedia) Penyesuaian waktu (membuat jadwal rutin) Penyesuaian lingkungan malam hari (mandi air hangat, tidur teratur) Penyesuaian indera (mata, telinga) penyesuaian nutrisi (makan makanan dgn gizi seimbang)

Intervensi Perilaku:

1. Wandering:

Yakinkan dimana keberadaan pasien Berikan keleluasaan bergerak di dalam dan di luar ruangan Gelang pengenal " Hendaya Memory".

2. Agitasi dan Agresivitas:


Hindari situasi yang memprovokasi Hindari argumentasi Sikap kita tenang dan mantap Alihkan perhatian ke hal lain.

3. Sikap dan pertanyaan yang berulang:

Tenang, dengarkan dengan baik, jawab dengan penuh pengertian. Bila masih berulang, acuhkan dan usahakan alihkan perhatian ke hal yang menarik pasien.

4. Perilaku seksual yang tidak sesuai/wajar:

Tenang dan bimbing pasien keruang pribadinya. Alihkan ke hal yang menarik perhatiannya. Bila didapatkan dalam keadaan telanjang, berilah baju / selimut untuk menutupi badannya. Bantu mengenakan baju kembali.

Intervensi Perilaku:

1. Intervensi psikologis dapat berupa psikoterapi untuk mengurangi kecemasan, memberi rasa aman dan ketenangan, dalam bentuk :

Psikoterapi individual

Psikoterapi kelompok Psikoterapi keluarga

2. Untuk caregiver (pengasuh) diperlukan :


Dukungan mental Pengembangan kemampuan adaptasi dan peningkatan kemandirian. Kemampuan menerima kenyataan (realistik).

3. Mengatasi mudah "Lupa", lakukan:


Latihan terus-menerus, berulang-ulang Tingkatkan perhatian Asosiasikan hal yang diingat dengan hal yang sudah ada dalam otak.(jp)