Anda di halaman 1dari 3

Beton adalah suatu material yang tahan terhadap tekanan, akan tetapi tidak tahan terhadap tarikan.

Sedangkan baja adalah suatu material yang sangat tahan terhadap tarikan. Dengan mengkombinasikan beton dan baja sebagai bahan struktur maka tegangan tekan dipikulkan kepada beton sementara tegangan tarik dipikulkan kepada baja, dan inilah yang disebut dengan Beton Prategang. Beton prategang pada dasarnya adalah beton dimana tegangan tegangan internal dengan besar serta distribuisi yang sesuai diberikan sedemikian rupa sehingga tegangan tegangan yang diakibatkan oleh beban beban diluar lawan sampai satu tingkat yang diinginkan. Beton Prategang adalah beton bertulang yang telah diberikan tegangan tekan dalam untuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam beton akibat beban kerja. Beton prategang merupakan struktur komposit antara dua bahan, yaitu beton dan baja mutu tinggi. Baja yang dipakai disebut tendon yang dikelompokan dan membentuk kabel. Penerapan sistem beton prategang sudah mulai digunakan pada tahun 1886 saat PH. Jackson dari California, Amerika Serikat membuat konstruksi pelat atap. Kemudian pada tahun 1888, CEW Doehring mendapatkan hak paten untuk penegangan pelat beton dengan kawat baja. Tetapi gaya prategang yang diterapkan dalam waktu yang singkat menjadi hilang, karena rendahnya mutu dan kekuatan baja.

Struktur Beton (Jackson, 1886)

Prategang

Pertama

Untuk mengatasi hal ini oleh G.R. Steiner pada tahun 1908, diusulkan dilakukannya penegangan kembali (USA). Sedangkan J. Mandl dan M. Koenen dari Jerman, menyelidiki identitas dan besar kehilangan gaya prategang. Pada tahun 1928, Eugene Freyssinet seorang Insinyur dari Perancis berhasil menemukan pentingnya kehilangan gaya prategang dan usaha untuk mengatasinya. Dan ia berhasil memberikan pratekan

terhadap struktur beton sehingga dimungkinkan untuk membuat desain dengan penampang yang lebih kecil untuk bentang yang relatif panjang. Kesulitan kemudian timbul dalam perhitungan struktur statis tak tentu, karena pemberian pratekan menimbulkan gaya tambahan yang sulit diperhitungkan. Pada 1951 Yves Guyon berhasil memberikan solusi atas masalah tersebut. Perkembangan beton pratekan berlanjut dengan dikemukakannya Load Balancing Theory oleh Tung

Yen Lin pada 1963. Teori tersebut telah mendorong perkembangan penggunaan beton pratekan yang sangat pesat. P.W. Abeles dari Inggris kemudian memperkenalkan penggunaan partial prestressing yang mengijinkan tegangan tarik terbatas pada beton. Bangunan pertama yang dibangun dengan sistem beton prategang adalah jembatan Walnut Lane Bridge di Philadelphia dengan bentang 47 m, pada tahun 1940/1950.

Sekarang telah banyak dikembangkan sistem dan teknik prategang. Dan beton prategang sekarang telah diterima dan banyak dipakai, setelah melalui banyak penyempurnaan hampir pada setiap elemen struktur ataupun sistem bangunan. Dengan beton prategang dapat dibuat bentang yang besar tetapi langsing.

Beton prategang dan beton bertulang tidak dapat dianggap saling bersaingan, karena keduanya saling melengkapi dalam fungsi penerapannya. Sejak beton prategang dibuat di pabrik dan dapat dipakai untuk bentang yang lebih besar, maka beton prategang lebih bersaing terhadap baja daripada terhadap beton bertulang. Ini dikarenakan beton lebih mempunyai keuntungan, seperti tahan kebakaran, sifat isolator yang tinggi, pemeliharaan rendah dan sebagainya. Maka dari itu, struktur beton prategang mempunyai beberapa keuntungan bila dibandingkan beton bertulang, diantaranya : a. Terhindarnya retak terbuka di daerah tarik, jadi lebih tahan terhadap keadaan korosif. b. Karena terbentuknya lawan lendut sebelum beban rencana bekerja, maka lendutan akhirnya akan lebih kecil dibandingkan dengan pada beton bertulang. c. Penampang struktur lebih kecil/langsing, sebab seluruh luas penampang dipakai secara efektif. d. e. Ketahanan geser dan ketahanan puntirnya bertambah dengan adanya penegangan. Jumlah berat baja prategang jauh lebih kecil daripada jumlah berat besi beton biasa.

f. Pada penampang yang diberi penegangan, tegangan tarik dapat dieliminasi karena besarnya gaya tekan disesuaikan dengan beban yang akan diterima